Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kebutuhan Akan Tuhan
    Kalau kita membutuhkan seseorang, kita pasti membutuhkan sesuatu yang ada atau dimiliki orang tersebut. Kalau kita membutuhkan dokter, itu karena kita membutuhkan perawatan dan pengobatan; Kalau kita membutuhkan Tuhan, kira-kira kita membutuhkan apa dari-Nya? Kalau kita mencari Tuhan, sebenarnya kita butuh apanya? Kalau kita membutuhkan Tuhan karena kita membutuhkan segalanya dari Dia. Banyak orang membutuhkan Tuhan hanya karena mukjizat, berkat jasmani, dan itu sudah menjadi budaya di banyak gereja. Itu menyesatkan, karena dengan cara berpikir dan bersikap itu, seseorang tidak memperlakukan Tuhan secara pantas. Mestinya, kalau kita berurusan dengan Tuhan, kita membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri yang kita butuhkan. I need You, Lord, You, Yourself; aku membutuhkan-Mu, Tuhan, diri-Mu sendiri yang kubutuhkan. Karena memang kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. Dialah kehidupan kita.
    Kehidupan di luar persekutuan dengan Allah, bukanlah kehidupan. Itulah sebabnya di Ibrani 12:10, firman Tuhan mengatakan: “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Mestinya kita membutuhkan Tuhan karena Tuhan sendiri. “Aku mau bersekutu dengan Engkau, Tuhan.” Dan itulah kehidupan kita. Di luar itu, tidak ada kehidupan. Faktanya, kita melihat begitu banyak orang yang bersekutu dengan dunia, yang diwakili oleh mobil, rumah, uang, hiburan-hiburan, angkat, gelar, kedudukan, dan lain sebagainya. Mestinya segala sesuatu yang kita miliki harus digunakan sebagai sarana bersahabat dengan Allah. Dalam hal ini firman Allah mengatakan “ikatlah persahabatan dengan mempergunakan mamon yang tidak jujur.” Mamon yang tidak jujur itu artinya harta kekayaan. Ikatlah persahabatan “dengan mempergunakan,” bukan ikatlah persahabatan “dengan mamon.” Persahabatan haruslah dengan Tuhan, dengan “menggunakan” mamon sebagai sarananya.
    Banyak orang yang bersahabat dengan dunia ini, akhirnya menjadi mempelai dunia. Kita membutuhkan Allah karena Allah sendiri kehidupan kita. Entah kita sakit atau sehat, miskin atau kaya, berpendidikan atau tidak, terhormat atau terhina di mata manusia, tidak masalah. Yang penting, kita memiliki presekutuan dengan Allah. Jadi, kalau kita membutuhkan Tuhan, yang utama karena kita membutuhkan Firman dan nasihat-Nya. “Firman” di situ seperti Matius 4:4, “manusia bukan hanya hidup dari roti, tapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah,” artinya perkataan Allah.
    Kalau bicara mengenai “perkataan Allah,” yang keluar dari hati-Nya pasti terkait dengan kehidupan kita setiap hari dalam konteks pengalaman dan pergumulan hidup yang kita alami. Sebenarnya yang kita butuhkan ialah nasihat-nasihat-Nya yang mengubah karakter. Pembentukan watak atau karakter kita bertujuan agar kita memiliki kekudusan atau kesucian yang bisa membuat kita mengimbangi Allah, artinya bisa membuat kita bersekutu dengan Dia. Firman Tuhan mengatakan, “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Jadi, tidak bisa tidak, kita harus memiliki kekudusan seperti Allah agar bisa bersekutu dengan Dia. (Ibr. 12:10)
    Betapa sedihnya, hari ini orang ke gereja hanya karena mau seremonial, yang namanya “liturgi.” Apalagi kalau pemberitaan Firman-Nya tidak jelas, bukan tertuang dari hati Tuhan. Tidak sedikit yang tidak menangkap Firman, karena Firmannya tidak jelas, yang mendengar juga mengantuk dan tidak konsentrasi. Sehingga, ke gereja hanya sebuah legalitas sebagai orang Kristen, yang tidak memiliki jiwa atau nafas Kristen yang sejati. Ada lagi yang ke gereja karena mau berkat-berkat jasmani. Hal ini menyesatkan sebab fokus jemaat tidak tertuju kepada Tuhan secara pribadi melainkan pemenuhan kebutuhan jasmani.
    Tetapi harus diingat, bahwa Tuhan tidak bisa memercayakan berkat jasmani kepada kita kalau akhirnya berkat itu membuat kita membelakangi Allah, atau membuat kita jadi rusak, menjadi sombong, menjadi tidak rohani.
    0 min
  • Kehausan Akan Allah
    Tubuh kita membutuhkan makanan, yang karenanya kita harus makan setiap hari, harus ada asupan setiap hari. Demikian pula, jiwa kita juga membutuhkan makanan. Tentu saja makanan jiwa kita adalah kebenaran firman Tuhan, sesuai dengan yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di Matius 4:4, bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, melainkan dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Namun demikian, yang harus kita sadari dan pahami bahwa kehausan terdalam di dalam jiwa kita itu sebenarnya tertuju pada Tuhan sendiri. Inilah dasar utamanya. Karena kita haus akan Allah, maka kita mencari: yang pertama, Firman-Nya. Yang kedua, suasana persekutuan dengan Dia. Hendaknya kita tidak membaca Alkitab tanpa kehausan akan Allah. Ini berarti bukan hanya membaca Alkitab, memiliki pengetahuan tentang Alkitab, apalagi hanya sekadar supaya dapat memiliki argumentasi untuk berdebat tanpa kehausan akan Allah.
    Kehausan akan Allah adalah hal utama dalam batin kita. Kita harus memiliki kehausan akan Allah dan merindukan akan Allah. Dengan demikian barulah kita akan benar-benar merindukan Firman-Nya dan suasana persekutuan dengan Dia.  Masalahnya, mengapa banyak orang tidak memiliki kehausan akan Allah walaupun belajar Firman Tuhan? Ada beberapa alasan antara lain: pertama, mereka hanya mau memiliki pengetahuan tentang Alkitab; kedua, ada juga yang membaca atau belajar Alkitab dengan tekun hanya supaya bisa berkhotbah dan berdebat, dan hal itu merupakan sarana mengaktualisasi diri. Nantinya orang-orang seperti ini akan menjadi seperti ahli Taurat, yang cakap berbicara tapi hidup dalam pemberontakan kepada Allah.
    Kenapa seseorang tidak memiliki kehausan akan Allah? Karena jiwanya ditujukan kepada yang lain, karena minatnya juga ditujukan kepada yang lain. Seperti yang telah dikemukakan, orang belajar Alkitab hanya supaya memiliki pengetahuan tentang Alkitab, bisa berdebat, bisa berbicara mengenai Tuhan. Itu semua sebenarnya adalah usaha untuk mencari kehormatan atau nilai diri di depan manusia. Itulah minatnya. Banyak orang yang minatnya ditujukan kepada banyak hal, terutama materi, kekayaan dunia, gelar, pangkat, dan sebagainya. Bukan tidak boleh memiliki harta dunia atau kekayaan, gelar, pangkat, kekuasaan. Memang idealnya, kita memaksimalkan potensi, sukses dalam karier, bisnis, kegiatan hidup di bidang kita masing-masing, dan dengan keberhasilan tersebut, kita melayani Tuhan. Tetapi hendaknya kita tidak melakukan semua kegiatan tersebut karena kehausan terhadap dunia ini. Kita harus berani meninggalkan atau melepaskan kehausan kita terhadap yang lain. Kita harus berani melepaskan minat kita terhadap sesuatu. Minat kita harus hanya ditujukan bagi Tuhan.
    Memang, pada waktu memulainya, kita seperti tidak merasakan apa-apa, bahkan bisa juga mengalami kejenuhan. Tetapi lambat laun, kita bisa merasakan adanya rongga kosong dalam jiwa kita yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Kita harus memilih dulu, “Tuhan, aku memilih Engkau. Engkaulah satu-satunya yang membahagiakan hidupku.” Pada langkah atau pengalaman awal, kita seperti bercumbu dengan bayang-bayang. Tetapi, lambat laun kita tidak bercumbu dengan bayang-bayang melainkan mengalami Tuhan yang hidup dan nyata. Bukan bayang-bayang atau fantasi. Dia Allah yang hidup dan nyata, bisa dirasakan.
    Ketika seseorang sampai pada pengalaman ini, baru dia bisa seperti “kecanduan” madu surgawi, yaitu Tuhan sendiri. Minat kita harus Tuhan saja, baru setelah itu haus dan lapar kita akan firman Tuhan benar. Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Kata “firman” dalam teks ini adalah rhema tou Christou. Rhema, bukan logos. Rhema ini lebih menunjuk kepada perkataan atau ucapan. Kalau “firman yang keluar dari mulut Allah” berarti sesuatu yang tertuang dari hati Allah sendiri. sejatinya yang kita butuhkan itu bukan sekadar ilmu teolog melainkan perkataan Allah yang terkait dengan hidup kita. Perkataan dari hati-Nya yang terkait dengan pergumulan ...
    0 min
  • Di Sana, Ada Tuhan
    Kita percaya bahwa neraka itu ada, dan surga itu ada. Tetapi seberapa dalam sebenarnya kita memercayai realitas itu? Faktanya, banyak orang mengatakan “percaya Allah itu ada, neraka itu ada, surga itu ada,” tetapi tidak menunjukkan kepercayaan itu. Hal itu nampak dalam dua ciri antara lain: yang pertama, kegentarannya terhadap Tuhan dan realitas neraka. Yang kedua, tidak menunjukkan keinginannya untuk datang dan masuk surga. Kita tidak harus mendapatkan pengelihatan tentang surga atau neraka baru takut akan Allah. Tidak harus mengalami kematian lalu bangkit, dan di dalam pengalaman alam maut melihat alam neraka, baru takut akan Allah dan takut masuk neraka. Mestinya, kalau kita benar-benar memercayai Allah, kita meyakini memang ada neraka, kita memiliki langkah-langkah konkret untuk terhindar dari neraka tersebut. Langkah itu harus kita lakukan sejak dini dan setiap saat, karena kita tidak tahu kapan kita meninggal dunia.
    Kalau kita yakin ada surga, kita sudah harus melangkah sejak kita hidup sekarang ini menuju surga itu. Jadi, kita sudah memindahkan hati kita ke surga, seperti yang dikatakan Tuhan Yesus di Matius 6:21, “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Mestinya kita sudah memindahkannya, dan geliat hidup kita tampak bahwa kita sedang menuju Kerajaan Surga itu. Kalau seandainya seseorang melihat neraka hari ini, maka dia akan bersedia melakukan apa pun demi supaya terhindar dari neraka itu. Kalau orang melihat neraka, dia akan berusaha untuk terhindar dari api kekal itu. Dia akan rela berbuat apa pun demi tidak masuk neraka.
    Kalau seseorang hari ini melihat keindahan dan kemuliaan surga, maka ia akan berusaha, rela mempertaruhkan apa pun yang dia miliki, demi bisa masuk Kerajaan Surga itu. Tetapi, faktanya banyak orang yang sebenarnya tidak memercayai mulut atau perkataan Allah. Karena tidak atau kurang memercayai, maka orang tidak berusaha untuk hidup suci, meninggalkan percintaan dunia. Tidak ada usaha yang proporsional untuk terhindar dari api neraka. Jelas, di surga tidak ada sesuatu yang najis seperti yang firman Tuhan katakan dalam Kitab Wahyu bahwa Kerajaan Allah atau kota yang kudus itu hanya dihuni oleh orang-orang saleh. Wahyu 21:8 mengatakan, “orang-orang penakut—ini pasti orang yang tidak memercayai Allah hidup dan hadir—orang-orang yang tidak percaya, orang-orang keji, pembunuh, orang-orang sundal, tukang-tukang sihir, penyembah berhala, dan pendusta, akan mendapat bagian mereka dalam lautan yang menyala-nyala oleh api dan belerang.”  Yang dikatakan Alkitab “inilah kematian yang kedua.” Kita harus menghidupkan atau membangkitkan keyakinan itu secara benar dalam hidup kita, agar memiliki kegentaran yang benar dan yang patut kepada Allah, yang di dalamnya termuat kegentaran kita terpisah dari hadirat Allah. Juga ada kegentaran masuk neraka, sehingga kita benar-benar mau hidup seturut dengan kehendak Allah.
    Tentu saja kalau kita mau hidup berkenan di hadapan Allah, menyukakan hati Allah, berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta meninggalkan percintaan dunia, dasarnya bukan karena kita takut masuk neraka. Mestinya, dasarnya karena kita mengasihi Allah, kita memang mau menyukakan hati Allah. Dasarnya memang begitulah seharusnya makhluk ciptaan, dan kita, anak-anak Allah harus menjalani hidup. Walaupun demikian, realitas neraka harus menjadi bagian dari pertimbangan kita. Realitas surga juga menjadi pertimbangan bagi kita.
    Kalau kita mau masuk surga, sebenarnya masalahnya bukan terletak pada keindahan surga itu sendiri, melainkan karena di sana ada Tuhan yang kita cintai dan mencintai kita. Bagi kita, keindahan surga bukan terletak pada kegemerlapannya, bukan karena bentuk fisik atau keadaan fisiknya, melainkan karena ada Tuhan yang menjadi Kekasih kita. Suasana dalam persekutuan dengan Tuhan itulah yang kita rindukan. Bukan karena di surga jalannya terbuat dari emas, ada bunga-bunga yang mekar, indah, dan wangi, serta segala keindahan lainnya.
    0 min
  • Kegentaran Yang Patut
    Pengalaman seseorang di ujung maut adalah pengalaman yang tidak bisa dibayangkan, atau tidak mudah dibayangkan. Orang harus benar-benar ada dalam situasi itu, baru bisa mengerti kritis dan krisisnya keadaan ketika ada di ujung maut. Saya pernah mengalami itu, ketika saya tenggelam ditarik ombak di Laut Selatan. Perasaan ngeri di ujung maut, ketika saya masuk ke dalam laut dan saya sudah tidak memiliki daya atau kekuatan untuk berenang lagi, sementara kaki saya diikat oleh alat selancar yang juga tertarik oleh ombak.
    Perasaan krisis dan kritis seperti ini tidak bisa dibagikan kepada orang lain. Puji Tuhan, Ia masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Ada orang yang memerhatikan saya ketika mulai berenang di atas selancar menuju laut luas yang makin dalam atau makin ke tengah. Dan ketika saya hilang dari pemandangan, orang itu yang berteriak dan menunjukkan bahwa saya hilang. Dan anak laut (istilah orang yang bekerja di sekitar laut), beramai-ramai berenang menolong saya.
    Situasi krisis dan kritis itu membuka pengertian kita terhadap realitas betapa dahsyatnya kematian itu. Betapa dahsyatnya situasi dimana seseorang mau melepas nyawa dan memasuki kekekalan. Banyak orang tidak mengerti karena memang belum atau tidak mengalami, dan tidak mempersiapkan diri dengan benar untuk menghadapi situasi seperti itu. Padahal, situasi itu pasti kita alami cepat atau lambat. Apalagi, di situasi wabah COVID ini, dimana kita bisa terpapar COVID setiap saat tanpa kita ketahui, terutama orang-orang tua dan yang memiliki kelemahan fisik atau penyakit menahun. Kita pasti akan menghadapi situasi itu. Dan yang mengerikan adalah situasi di hadapan takhta pengadilan Allah.
    Kita tidak diajar untuk menjadi seperti pengecut, tetapi untuk hal ini, kita harus benar-benar kecut. Dalam menghadapi kematian, kita harus merasa kecut. Firman Tuhan mengatakan, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membuang jiwa ke dalam neraka. Takutlah kepada Allah yang berkuasa bukan saja membunuh tubuh, tetapi juga membuangnya ke neraka.” Takutlah akan Allah.
    Di alam hal ini kita harus benar-benar menjadi kecut dan takut. Mestinya, satu-satunya yang kita takuti adalah terpisah dari hadapan Allah. Satu-satunya yang membuat kita gentar dalam hidup ini adalah terpisah dari Allah. Jika kita tidak memiliki kegentaran yang patut ini, kita jadi sembrono dan sembarangan dalam hidup. Tetapi kalau kita benar-benar takut dan gentar terhadap realitas “terpisah dari Allah” ini maka kita akan berusaha menghampiri Allah. Berusaha membangun hubungan yang harmoni dengan Allah. Kita tidak takut terhadap hal lain, tapi hanya takut terhadap keadaan “terpisah dari hadirat Allah”.
    Kita berurusan dengan Allah bukan karena kita mau disembuhkan dari sakit, bukan karena kita mencari jalan keluar dari masalah ini dan itu, melainkan hanya karena satu hal: supaya kita tidak terpisah dari Dia. Bisa saja kita membawa persoalan-persoalan kita, karena Allah adalah Bapa kita. Kalau kita mengalami kesulitan ekonomi, kesehatan, masalah bisnis dan usaha, kita mempercakapkannya dengan Allah. Tetapi kalau kita berurusan cengan Allah, intinya bukan pada penyelesaian masalah itu sendiri. Melainkan bagaimana persoalan-persoalan hidup kita tidak mengganggu pertumbuhan rohani kita untuk bisa memiliki hubungan atau relasi yang ideal dan harmoni dengan Allah.
    Membangun relasi yang ideal dengan Allah juga bukan sesuatu yang mudah, sebab kita harus memiliki karakter Yesus. Hanya kalau seseorang memiliki karakter Yesus, maka baru dapat memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Orang yang memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah, berani atau bisa mengorbankan apa pun demi hubungannya dengan Allah. Ia tidak akan menyakiti, melukai hati Allah. Ia akan berusaha bagaimana menemukan apa yang Allah ingini, memuaskan dan menyenangkan hati-Nya. Ia akan berusaha bagaimana menjadi seorang yang berkenan kepada Allah.  Sebenarnya,
    0 min
  • Keberanian Menghadapi Kematian
    Kalau kita percaya bahwa Allah itu hidup dan ada, memiliki segala kuasa yang tidak terbatas, memiliki segala kekayaan, kita bisa merasa benar-benar teduh dan tenang menghadapi segala keadaan. Tetapi kenyataannya, banyak orang Kristen yang hidup dalam kekhawatiran dan kecemasan, walaupun mulutnya mengaku percaya kepada Allah. Mengapa demikian? Sejatinya, mereka kurang atau tidak percaya kepada Allah. Kalau seseorang benar-benar percaya Allah itu ada, memiliki kekuatan dan kekuasaan yang tidak terbatas, mestinya ia bisa teduh dan tenang menghadapi segala keadaannya. Persoalannya, mengapa bisa begitu?
    Sebenarnya, keteduhan dan ketenangan kita juga bisa terkait dengan hidup persekutuan kita dengan Allah. Dan hidup persekutuan kita dengan Allah ditentukan oleh sejauh mana kita benar-benar hidup dalam kesucian dan kekudusan, serta sikap kita terhadap dunia ini. Kalau seseorang hidupnya tidak bersih (tidak hidup suci) dan masih mengharapkan sukacita kebahagiaan dari dunia ini, tidak mungkin bisa hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar. Allah tidak mungkin bersekutu dengan orang-orang yang hidupnya tidak bersih dan masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Memang kita membutuhkan fasilitas dunia, tetapi kebutuhan terhadap fasilitas dunia ini bukan untuk kebahagiaan hati kita melainkan untuk menopang, menunjang kegiatan hidup kita dalam bertumbuh untuk mencapai kekudusan, kesucian seperti yang Allah kehendaki.
    Jadi, kalau kita bekerja, berkarier, studi, semua itu menjadi sarana kita untuk mengabdi kepada Tuhan dengan mengalami pertumbuhan iman, kehidupan kesucian seperti yang Allah kehendaki. Dan tentu selanjutnya, kita bisa melayani Tuhan, artinya menolong orang lain untuk juga bisa bertumbuh di dalam kesucian. Dan harta serta fasilitas hidup yang kita miliki menjadi sarana untuk itu.  Orang yang hidup dalam kekudusan atau kesucian dan hatinya tidak melekat dengan dunia, bisa bersekutu dengan Allah. Persekutuan dengan Allah, yang pertama, akan melahirkan damai sejahtera, sukacita. Damai sejahtera dan sukacita ini akan bertumbuh dan berkembang terus sampai menjadi candu yang mengikat kita. Kita mau lebih besar, lebih banyak lagi, dan kita makin rela meninggalkan segala sesuatu, baik itu percintaan dunia maupun keinginan dosa. Yang kedua, persekutuan itu juga akan melahirkan bukan saja keyakinan, melainkan juga kesadaran penghayatan bahwa dirinya pasti diterima di Kemah Abadi.
    Selanjutnya, yang ketiga, kita akan yakin bahwa Allah sebagai Bapa memelihara kita. Sebab, seiring dengan perjalanan waktu, kehidupan yang suci, terlepasnya dari percintaan dunia, membuat persekutuan dengan Tuhan semakin harmonis, maka kita bisa benar-benar menghayati keberadaan atau Allah yang hidup di dalam diri kita. Dia bukan Allah dalam fantasi, melainkan Allah yang nyata. Bisa dirasakan dan dialami secara konkret. Dan hal ini membuat kita tidak takut menghadapi segala keadaan; tidak gentar mengahdapi segala kesulitan dan kesukaran hidup.
    Kita tahu bahwa Allah mengontrol dan mengendalikan segala sesuatu. Bahkan Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Kalau seseoranag meyakini hal ini maka sulit bersungut-sungut, bahkan tidak akan bersungut-sungut sama sekali menghadapi segal keadaan. Dalam menghadapi segala keadaan, dia meyakini bahwa semua dalam monitor Allah. Allah mengetahui semuanya itu, persoalan yang dihadapi, kesulitan yang kita hadapi tidak mungkin melampaui kekuatan kita dan tidak mungkin tidak mendatangkan kebaikan bagi kita.
    Kalau seseorang hidupnya tidak bersih dan masih terikat dengan dunia sehingga tidak memiliki persekutuan yang baik dan harmoni dengan Allah, tidak mungkin bisa memiliki keteduhan dan ketenangan dalam menghadapi segala situasi hidup. Karena, ia tidak mampu menghayati kehadiran Allah di dalam hidupnya. Ia tidak mampu menghayati keberadaan Allah. Allah hanya dalam fantasi dan pikirannya. Itu tidak akan cukup membuat dirinya kuat menghadapi segala situasi atau keadaan.
    0 min
  • Menghayati Keberadaan-Nya
    Kita sering mengatakan “aku percaya kepada-Mu, Tuhan” baik dalam pengakuan maupun dalam syair lagu. Tetapi persoalannya, apakah kita benar-benar memiliki percaya yang diakui oleh Allah? Banyak orang merasa sudah percaya kepada Allah, tetapi tidak mempersoalkan dengan sungguh-sungguh apakah percayanya itu benar-benar percaya yang benar? Apakah Allah merasa dipercayai oleh kita? Apakah Allah mengakui percaya kita terhadap Dia sudah benar? Oleh sebab itu, kita harus mempersoalkannya dengan sungguh-sungguh. Kita harus berperkara dengan Tuhan dan mempertanyakan apakah percaya kita kepada-Nya sudah benar. Bukan hanya dari pihak kita sudah merasa percaya kepada Allah, tetapi justru harus dari pihak Allah. Percaya yang benar kepada Allah bukan sesuatu yang mudah dan sederhana. Ironis, banyak orang berpikir memercayai Allah itu mudah dan sederhana, karenanya mereka tidak pernah menggumulinya dengan sungguh-sungguh.
    Memercayai Allah yang tidak kelihatan harus diperjuangkan, sebab memercayai Allah yang tidak kelihatan bukan hanya meyakini bahwa Allah itu ada, bukan hanya menyetujui dalam pikiran bahwa Allah itu ada, melainkan kita harus menghayati keberadaan-Nya. Dengan penghayatan yang benar terhadap keberadaan Allah tersebut, maka perilaku kita pasti bukan saja menjadi baik melainkan juga sesuai dengan apa yang Allah inginkan dan kehendaki. Itu sulitnya. Kalau orang hanya meyakini Allah itu ada, itu mudah dan sederhana. Tetapi kalau memercayai Allah dengan benar, berarti kita harus selalu mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan di dalam hidup ini. Memercayai Allah berarti menghentikan semua keinginan diri sendiri, cita-cita dari diri sendiri yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Memercayai Allah berarti hidup hanya untuk melakukan apa yang Allah inginkan, sama seperti yang diteladankan Abraham kepada kita, yang mengaku Abraham sebagai bapa orang percaya. Perhatikan pola dan gaya hidup Abraham. Hidupnya benar-benar disita hanya untuk melakukan kehendak Allah Bapa di surga.
    Di dunia kita yang sudah rusak dan fana ini—artinya pasti akan berakhir dan yang kita jalani tidak lebih dari 100 tahun—ketika kita membuka diri terhadap keinginan-keinginan yang bukan berasal dari Allah, hal itu membahayakan bagi kehidupan kekal kita. Sekarang ini sangatlah aman kalau kita melepaskan segala keinginan diri sendiri, dan hidup hanya untukmelakukan kehendak-Nya. Suatu saat, kalau sudah ada di surga, tidak ada kuasa gelap lagi, Allah akan mengizinkan dan membiarkan kita memiliki hasrat atau keinginan apa pun. Tentu saja, pada waktu itu, tidak mungkin ada lagi hasrat yang bertentangan dengan Allah. Sekarang ini, kita harus sudah berani untuk melepaskan semua keinginan, semua cita-cita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan hidup hanya melakukan apa yang Allah ingini.
    Kehidupan Abraham disita oleh percayanya kepada Allah. Ia meninggalkan negerinya, kampung halamannya, dan tidak pernah kembali hanya demi menemukan negeri yang Allah tunjukkan. Mengapa kita tidak mengikuti langkah hidup bapa orang percaya ini, bahwa kita hidup di dunia hanya untuk menemukan negeri yang Tuhan akan membawa kita. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Aku pergi menyediakan tempat bagimu, setelah Aku pergi menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu, supaya di mana Aku ada kamu ada.” (Yoh. 14:1-3). Mengapa kita tidak berani mengambil keputusan untuk memancangkan perhatian dan tujuan hidup kita untuk menemukan satu-satunya negeri itu saja? Dengan memancangkan tujuan dan perhatian kita kepada negeri itu, maka kita terpacu untuk berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela, kita berusaha untuk tidak terikat dengan kesenangan dunia. Dengan demikian, kita mengisi percaya kita dengan benar. Dengan demikian, kita memiliki percaya yang benar terhadap Tuhan. Pasti Tuhan merasa bahwa Dia benar-benar kita percayai karena percaya kita kepada-Nya benar.
    Seorang yang hidupnya tidak ditujukan untuk Kerajaan Allah dan ...
    0 min
  • Keniscayaan
    Satu hal yang kita harus mengerti dan terima, bahwa yang sebagai anak-anak Allah, kita harus seperti Bapa kita, Bapa di surga. Kita tidak bisa mengaku sebagai anak-anak Allah jika kita berkarakter lain. Itulah sebabnya mengapa dalam 1 Petrus 1:17 dikatakan “kalau kamu menyebut atau memanggil Allah itu ‘Bapa,’ hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Dan ayat sebelumnya dikatakan, “kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Kalau kita menyebut Allah itu “Bapa” maka kita harus memiliki karakter seperti karakter-Nya, dan itu adalah satu kemutlakan, tetapi juga satu keniscayaan. Kita tidak bisa mengaku anak Allah tetapi berkarakter anak orang lain.
    Memang, waktu kita baru menjadi Kristen, kita masih kanak-kanak rohani, karakter Bapa belum tampak dalam hidup kita, karena kita belkum bisa mengenakannya. Sama seperti anak usia 3-7 tahun, masih belum tampak karakter bapaknya. Anak masih childish; kekanak-kanakan. Tetapi seirama dengan berjalannya waktu, ketika seorang anak hidup dalam penurutan terhadap orangtuanya, pasti ia bertumbuh semakin dewasa seperti orangtuanya. Selama anak itu bersama dengan orangtuanya, pasti ada impartasi, penularan karakter orangtua kepada anak. Demikian pula kita dengan Bapa di surga.
    Kalau Yesus berkata, “jadikan semua bangsa murid-ku,” itu sebenarnya artinya sama dengan “jadikan semua orang menjadi sama seperti diri-Ku yang adalah Anak Allah”.  Yesus adalah model dari Anak Allah yang benar.” Banyak orang Kristen tidak mengerti hal ini sehingga mereka tidak semakin menjadi seperti Yesus. Kalau kekristenan menjadi sekadar agama, dimana orang cukup puas hanya pergi ke gereja, dan tidak semakin menjadi seperti Yesus ini adalah sebuah penyesatan. Dan banyak orang Kristen yang sebenarnya tersesat di sini, tapi mereka tidak menyadari kesesatan itu.
    Apalagi kalau mereka merasa sudah berkarakter baik di mata manusia, santun, lalu menjadi aktivis atau majelis gereja, apalagi menjadi pendeta. Mereka tidak menyadari keadaan yang sebenarnya. Kalau hanya menjadi orang yang santun dan baik, yang kelihatan rohani, agama lain juga memiliki aset manusia seperti itu. Tetapi di dalam kekristenan, orang percaya harus mengenakan kodrat Allah. Menjadi anak Allah itu berarti seperti Bapanya, dan Yesus itulah modelnya. Yang menyedihkan, kadang-kadang orang belajar teologi, makin tinggi ilmu teologinya, makin pintar bicara dan cakap berkhotbah, malah makin tidak menjadi seperti Yesus. Memang mereka menjadi cakap bicara, mengajar dan berdebat, tetapi sebenarnya yang dikehendaki Allah bukan sekadar bisa bicara tentang Tuhan, melainkan mengenakan Tuhan dalam hidup kita.
    Orang percaya hendaknya tidak hanya bisa bicara dan mengakui bahwa Yesus adalah jalan, kebenaran, dan hidup, melainkan menjalani jalan itu, mengenakan kebenaran itu, dan memiliki hidup-Nya dalam hidupnya. Jadi, kalau Yesus berkata, “Akulah jalan, kebenaran, dan hidup,” bukan hanya diyakini, melainkan dijalani, dipahami kebenaran tersebut, dan dihidupi di dalam hidup kita. Kita harus jujur melihat diri kita sendiri. Roh Kudus pasti akan pimpin kita. Sebab ketika kita sungguh-sungguh belajar untuk menjadi anak-anak Allah, Roh Allah pasti menuntun kita. Pada waktu kita berpikir sesuatu yang salah, Roh Kudus pasti tegur. Waktu kita mengucapkan kata-kata yang salah, Roh Kudus pasti mengingatkan. Waktu kita melakukan perbuatan yang salah, Roh Kudus pasti berbicara. Dan dari hal itu, kita terbimbing untuk menjadi anak Allah.
    Kita harus mulai punya komitmen dari sekarang, bukan hanya meyakini Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, lalu punya status sebagai anak Allah, tetapi mau berkeadaan seperti diri Yesus, yaitui berkodrat Ilahi. Kalau kita mengenakan kodrat ilahi, berkarakter seperti Bapa, kita pulang ke surga akan dikenal sebagai anak. Kita harus waspada, kuasa dunia berusaha mengkloning untuk menjadi anak dunia, serupa dengan dunia ini. Dan kuasa gelap dengan manufernya yang luar biasa,
    0 min
  • Menjadi Terhormat di Kekekalan
    Allah itu Bapa kita. Di dalam Ibrani 12:5-7 disebutkan bahwa Bapa mendidik kita. Kalau bapak di dunia tahu bagaimana mendidik anak-anaknya dalam waktu pendek sesuai apa yang dianggapnya baik (Ibr. 12:9-10), Bapa di surga mendidik kita agar kita mengambil bagian di dalam kekudusan-Nya. Seperti seorang pelatih yang melatih seorang atlit lompat tinggi. Ia akan melatih atlit dengan melompat 1 meter, lalu naik ke 1,2 meter, bertambah lagi sampai 1,3 meter, dan seterusnya. Pasti Allah Bapa juga melakukan hal itu kepada kita. Tidak langsung kita dituntut untuk menjadi sempurna. Oleh sebab itu, latihan demi latihan yang Allah izinkan kita alami, harus kita perhatikan dengan serius. Kita percaya, bahwa Tuhan akan menolong ketika kita berkata, “Tuhan, aku mau memiliki kesabaran dan kekudusan seperti Engkau.” Tuhan berkata, “mari, Aku latih kamu.” Tapi masalahnya, ketika kita memberi diri dilatih oleh Tuhan, kita tidak boleh memiliki interest terhadap apa pun, kecuali kepada Tuhan. Interest kita kepada Tuhan bukan pada berkat-Nya, melainkan pada karakter-Nya. Banyak orang memiliki interest kepada Tuhan karena Ia baik. Baik-Nya diukur dengan apa? Kesuksesan dalam berkarier, studi, berkat jasmani.
    Tuhan tidak bisa mendidik kita kalau kita masih gaduh dengan masalah pribadi, dengan cita-cita dan keinginan pribadi. Kita pasti pernah dengar ketika orang berkata “berdoa, maka Tuhan akan memberkati hidupmu. Berdoa, maka Tuhan akan membuat kamu sukses.” Semua diukur dengan nilai materi, uang, gelar, pangkat. Mestinya, kalau kita menjadi anak-anak Allah yang mau menyenangkan hati Bapa di surga, kita berkomitmen menjadi seseorang yang hanya melakukan apa yang Dia kehendaki dalam hidup kita. Pikiran kita harus menjadi bejana yang terbuka untuk diisi oleh pikiran-Nya, hati kita harus terbuka menjadi bejana yang diisi oleh perasaan-Nya. Bagaimana pikiran dan perasaan kita itu menampung apa yang Allah pikirkan dan rasakan? Tuhan pasti melatih kita.
    Mungkin kita berkata, “itu mustahil.” Ya benar, tapi bagi Allah tidak ada yang mustahil. Yesus berkata, “kamu harus sempurna seperti Bapa,” maka berarti pasti kita bisa mencapainya. Kalau kita mengatakan “tidak mungkin,” berarti kita menganggap Tuhan Yesus berbohong. Dalam Alkitab kita menemukan, Paulus bisa berkata dalam Galatia 2:19-20, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Ini berarti kita bisa mengenakan hidup Kristus.
    Bapa akan melatih kita agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Mengambil bagian dalam kekudusan-Nya itu sama seperti berkarakter seperti Dia, cerdas rohani seperti Bapa. Supaya segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau hal ini benar-benar kita alami, kita mengalami proses untuk mengenakan pikiran, perasaan Tuhan, memiliki kecerdasan rohani sehingga segala sesuatu yang kita putuskan, pilih, lakukan, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Waktu kita pulang ke surga kita akan disambut sebagai anak dengan suara Bapa “Anak-Ku pulang,”. Begitulah kira-kira Bapa di surga menyambut kita. Itu adalah sebuah kehormatan. Kita harus merindukan untuk menjadi orang terhormat di kekekalan, bukan di mata manusia hari ini.
    Kenyataan yang kita temui hari ini, tidak sajadi kalangan para politisi, di kalangan pendeta dan majelis pun terjadi kekisruhan, konflik, perebutan kedudukan. Dari kedudukan ketua majelis, ketua wilayah, sampai ketua sinode. Kalau seseorang sungguh-sungguh anak Allah, tidak akan melakukan hal tersebut. Mereka adalah orang-orang yang masih mencari hormat bagi dirinya sendiri dari manusia. Mereka menjadi orang yang tidak terhormat di hadapan tuhan. Seharusnya, kita mencari hormat hanya dari Allah. Oleh sebab itu, didikan yang Allah berikan kita responi dengan kesediaan dimana kita tidak memiliki interest untuk yang lain.
    Interest kita hanyalah memiliki kehidupan yang diubah sempurna seperti Bapa, diubah untuk memiliki kecerdasan rohani seperti Bapa,
    0 min
  • Jangan Tinggalkan Dia
    Setelah Yesus dibaptis, Ia memilih murid-murid-Nya. Mereka adalah orang-orang biasa seperti kita, dengan segala kekurangan dan kelemahannya. Mereka bukan orang-orang hebat atau memiliki keistimewaan. Mereka adalah rakyat jelata yang berpendidikan tidak tinggi, bukan kalangan bangsawan, melainkan hanya nelayan. Murid-murid Yesus pun pada mulanya mengikut Yesus hanya karena mau mengubah nasib. Mereka berharap Yesus menjadi Raja seperti Herodes dan mereka akan memeroleh bagian jabatan, harta, kemuliaan, dan sebagainya. Bisa dibayangkan, jadi apa orang-orang ini? Tetapi, Yesus dengan kesabaran dan hikmat-Nya, dan juga dengan kebesaran pribadi-Nya menuntun dan membimbing mereka. Kebenaran ini harus kita tangkap, bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk mengalami perubahan. Sampai Yesus sudah bangkit saja, murid-murid-Nya masih menuntut kapan Israel dipulihkan, kapan mereka bisa melihat Yesus menjadi Raja dunia, raja versi mereka. Yesus berkata, “mengenai waktunya, kamu tidak perlu tahu,” bukan tidak ada. Ada, tapi tidak perlu tahu. “Jadi saksi-Ku dulu sampai ke ujung bumi,” baru nanti mereka akan melihat pemulihan segala sesuatu (Kis. 1:6-8).
    Satu hal yang penting di sini adalah kita harus seperti murid-murid, tetap bersama Tuhan dalam keadaan apa pun. Hendaknya kita tidak memiliki agenda sendiri yang sampai membuat kita kehilangan kesempatan mengalami keselamatan, seperti Yudas yang menyia-nyiakan kesempatan yang sangat berharga. Yudas tidak berbuat salah dalam satu hari. Firman Tuhan mengatakan bahwa memang dia suka mencuri uang perbendaharaan (Yoh. 12:6). Jadi, bukan hanya satu kali Yudas berbuat salah. Ini masalahnya. Karena kebiasaan mencuri ini, membuat Yudas terikat dengan uang atau harta, sampai ia menjual Gurunya.
    Kalau Petrus menyangkal Yesus tapi akhirnya bisa bertobat, berbeda dengan Yudas. Yudas sudah terlalu terikat dengan kekayaan, sampai tidak bisa lagi diperbaiki. Sampai rusak total. Sampai tingkat namanya “menghujat Roh Kudus.” Tentu ini prosesnya tidak terjadi dalam satu hari. Oleh sebab itu, kalau kita berbuat salah, kita tidak boleh menyimpan kesalahan itu. Kita harus segera membereskannya di hadapan Tuhan. Kalau kita tidak segera membereskannya di hadapan Tuhan, nanti akan menjadi akumulasi pemberontakan dan kebiasaan melakukan kesalahan yang lebih besar.  Yudas memulai dari mencuri uang kas yang dipercayakan Tuhan kepadanya, sampai dia berani menjual Yesus kepada imam-imam kepala. Jadi, dosa tidak terjadi dalam satu hari, dimana tiba-tiba orang melakukan kesalahan fatal. Tetapi melalui sebuah proses yang bertahap. Demikian pula dengan kesucian. Kesucian juga harus melalui proses yang bertahap, dari sederhana sampai kepada kesucian yang berstandar Allah, artinya ketepatan bertindak seperti Tuhan.
    Yesus dalam kesabaran-Nya membimbing murid-murid-Nya yang sering berbuat salah. Walaupun motif hati murid-murid pada mulanya masih salah, Yesus membimbing mereka dalam kesabaran. Dalam hal ini yang penting, tetap dekat dengan Tuhan. Barangkali kita sedang kecewa terhadap gereja, pendeta, atau siapapun, tetapi hendaknya kita tidak melepaskana genggaman kita dari tangan Tuhan. Kita harus tetap dekat dengan tuhan. Jam doa setiap hari, harus tetap dilakukan. Kita mungkin kecewa, tidak bergereja karena satu dan lain hal, tapi kita bisa mencari khotbah lewat YouTube, membaca buku rohani, duduk diam di kaki Tuhan. Hendaknya kita tidak meninggalkan Tuhan. Tuhan pun tetap dengan sabar menuntun kita untuk mengalami proses perubahan. Tapi kalau kita mulai kecewa, tidak mau ke gereja lagi, lalu hari-hari hanya diisi dengan menonton film seri, bergaul dengan orang yang tidak takut akan Allah, dan melakukan segala hal yang tidak berguna menumbuhkan iman, maka kita bisa binasa.
    Kalau Yudas sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya (Yoh. 12:6) sampai bisa menjual Guru dan Tuhannya; sebaliknya, dari hal-hal sederhana kita mengasihi Tuhan sampai kita menyerahkan nyawa kita untuk Tuhan.
    0 min
  • Harus Dimulai Hari Ini
    Banyak orang takut mendengar kata “sempurna.” Mereka kemudian menafsirkan atau memandang bahwa kesempurnaan adalah sesuatu yang tidak akan dialami di bumi. Mereka berpikir bahwa kesempurnaan hanya ada di surga. Padahal, Tuhan Yesus sendiri berkata dalam Matius 5:48 bahwa kita harus sempurna. Tentu sekarang ini. Itu jelas, sempurna harus dimulai sejak hari ini. Sebelum Yesus berkata “kamu harus sempurna seperti Bapa,” Yesus sudah menyampaikan khotbah-khotbah yang dikenal sebagai Khotbah Di Bukit.  Jadi, kalau seseorang belajar mengenai kebenaran yang dikhotbahkan Yesus, maka ia bisa mencapai kesempurnaan itu. Sempurna seperti Bapa bukan berarti kita menyamai Allah Bapa. Kita tidak mungkin bisa menyamai Allah Bapa. Tetapi, kita bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah Bapa. Tuhan melatih kita untuk bisa sempurna seperti Bapa. Tuhan memberikan kepada kita pengalaman-pengalaman hidup, ujian-ujian—dari ujian yang sederhana sampai yang berat.
    Bagaimana kita dapat menyelesaikan ujian tersebut? Kita harus membaca Alkitab. Di Perjanjian Lama, kita menemukan tindakan Allah dan tokoh-tokoh iman yang diperkenan oleh Allah. Dari hal itu kita bisa mengenal bagaimana Bapa di surga bersikap, atau kita bisa mengenal hakikat Allah kita. Dalam Perjanjian Baru kita menemukan kebenaran-kebenaran yang diajarkan Tuhan Yesus. Kita bisa memiliki kecerdasan rohani untuk bisa mengerti bagaimana memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi. Tuhan memberikan kita masalah-masalah sederhana, ibarat orang belajar Matematika, dari angka 3 ditambah 3, kemudian 30 kali 30 dan seterusnya. Tuhan pasti membuat semacam kurikulum atau program untuk setiap individu agar mengalami proses pertumbuhan. Allah cakap sekali, karena Ia adalah Arsitek jiwa yang mampu mengubah jiwa dengan sangat sempurna. Oleh sebab itu, kita percaya bahwa kesempurnaan bisa kita capai sekarang di bumi. Tentu kesempurnaan setiap orang berbeda. Itulah sebabnya, firman Tuhan mengatakan ada yang diberi banyak, ada yang diberi sedikit; “Yang diberi banyak dituntut banyak, yang diberi sedikit dituntut sedikit.”
    Sempurnanya si A dengan sempurnanya si B itu berbeda. Jadi, kalau misalnya ada anak kelas 3 SMP menyelesaikan soal Matematika mendapat nilai 9, juga ada anak kelas 3 SMA menyelesaikan soal Matematika dengan nilai 9. Nilai 9 anak kelas 3 SMP dengan nilai 9 anak SMA itu berbeda. Jadi, kita harus mengerti dan memahami bahwa setiap orang memiliki porsi yang berbeda-beda. Ada yang bertobat sejak usia 10 tahun, ada juga yang baru mengenal Tuhan atau menjadi Kristen setelah usia 60 tahun. Belum lagi soal situasi atau keadaan lingkungan. Semua itu juga terkait.  Intinya adalah bagaimana dalam menghadapi setiap persoalan, seseorang bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginan Allah.
    Yesus adalah model dari manusia yang bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ketika Yesus selesai dibaptis lalu ada suara “ini Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan,” cara Allah menilai Putra Tunggal-Nya ini bukan hanya ketika Ia memberi diri-Nya dibaptis, seakan-akan Ia sama seperti orang berdosa. Tentu juga ditinjau dari masa kanak-kanak-Nya. Ketika usia 12 tahun, Ia sudah di Bait Allah, dan menyatakan Ia harus ada di Rumah Bapa-Nya serta bersoal jawab dengan para ahli Taurat. Para ahli Taurat ini adalah orang-orang hebat. Tetapi, Yesus yang berusia 12 tahun sudah bisa mengimbangi kecerdasan imam ahli Taurat itu.
    Kalau kita membaca Alkitab, kita tidak pernah menemukan kehadiran Yusuf setelah perisitiwa kembalinya mereka dari Yerusalem. Pada waktu Yesus dianggap gila, hanya Maria yang datang bersama saudaranya. Waktu Yesus disalib, hanya Maria yang menengok Yesus. Menurut para ahli, kemungkinan Yusuf meninggal di usia muda. Dan ada beberapa alasan lainnya. Tetapi, ini belum pasti. Seandainya itu benar bahwa Yusuf meninggal di usia muda, berarti Yesus sejak masa muda-Nya harus bekerja keras memikul beban keluar...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…