Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengubah Diri
    Dengan anggapan bahwa dengan percaya kepada status Yesus sebagai Juruselamat dan menerima karya-Nya di kayu salib berarti sudah diperdamaikan dengan Allah, maka tidak usaha untuk mengubah diri secara proporsional, dan dampaknya adalah banyak orang Kristen terkunci dalam pasivitas. Pasivitas di sini maksudnya adalah tidak ada usaha yang memadai dalam perjuangan mengubah diri untuk dikembalikan ke rancangan Allah semula. Dalam pasivitas, tidak ada usaha untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Biasanya, mereka merasa sudah memiliki damai sejahtera, padahal itu palsu. Mereka datang ke gereja mengikuti liturgi gereja, memuji, menyembah Allah, dan mengagungkan nama Tuhan karena keselamatan yang Dia telah berikan. Ironisnya, mereka tidak memiliki kehidupan yang benar-benar diperdamaikan dengan Allah. Sebenarnya mereka belum memiliki keselamatan.
     
    Pertanyaan yang harus ditujukan kepada diri sendiri adalah: apakah dalam kehidupan setiap hari kita sudah memiliki persekutuan yang benar dengan Allah sebagai bukti dari perdamaian dengan Allah secara konkret? Itulah sebabnya kita harus jujur mengakui, apakah kita sudah menjadi manusia yang berkeberadaan bisa memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah atau belum. Jika belum, maka kita harus mengalami perubahan kodrat. Perubahan kodrat di sini maksudnya memiliki pikiran dan perasaan Kristus dimana segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah. Sebenarnya ini adalah satu-satunya isi dari perjalanan hidup orang Kristen yang normal. Orang percaya harus mengubah diri untuk bisa mengimbangi Allah, guna sebuah rekonsiliasi yang harmoni. Hanya kalau seseorang berkodrat ilahi, barulah ia dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah secara benar.
     
    Sebagai perbandingan dan ilustrasi, kalau seseorang berdamai dengan sesamanya yang sebelumnya bermusuhan, maka harus mulai memiliki hubungan yang baru. Hubungan yang baru dapat terealisasi kalau kedua belah pihak atau salah satu pihak mengubah diri. Sebagai ilustrasi juga, kalau ada sepasang suami istri berkonflik kemudian diperdamaikan atau mengadakan rekonsiliasi, maka karakter dan kebiasaan hidup yang menjadi perbedaan antara keduanya harus dihilangkan. Masing-masing harus berubah atau salah satunya mau berubah. Jika tidak, maka hidup bersama dalam satu keluarga hanya sandiwara saja dan bisa terulang lagi konflik-konflik yang lebih tajam sehingga lebih saling menyakitkan.
     
    Di dalam 1 Petrus 1:16 firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Rekonsiliasi sejati dapat terwujud kalau orang percaya memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah. Hal ini sama dengan orang percaya harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Jadi, kalau kita tidak hidup kudus sesuai dengan hakikat Allah, kita tidak bisa rekonsiliasi dengan Allah secara benar. Dalam Ibrani 12:5-10, firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Untuk itu, orang percaya yang benar pasti menerima didikan dari Bapa, supaya dari berkeadaan sebagai anak yang tidak sah atau anak gampang (Yun. nothos) menjadi anak yang sah (Yun. huios) agar mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak.
     
    Itulah sebabnya, dalam 2 Korintus 6:17-18 firman Tuhan mengatakan, “Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa.” Orang percaya harus memiliki standar kekudusan Allah agar dapat bersekutu dengan Allah. Maka dalam di 1 Tesalonika 4:7-8 firman Tuhan mengatakan, “Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Ny...
    0 min
  • Perjuangan Untuk Rekonsiliasi
    Banyak orang Kristen yang berpandangan bahwa kematian Yesus di kayu salib secara otomatis telah memperdamaikan dirinya dengan Allah. Ini sebenarnya sama dengan pandangan bahwa mengakui “Yesus mati di kayu salib menebus dosa manusia, maka secara otomatis mereka sudah berdamai dengan Allah. Ini berarti semua orang Kristen yang merasa sudah percaya kepada Yesus sudah memiliki keselamatan.” Padahal, penebusan yang dilakukan oleh Yesus harus diterima dengan iman. Dan “iman” itu tidak sama dengan keyakinan dalam nalar dan pengakuan terhadap status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Iman itu tindakan. Iman bukan hanya aktivitas nalar atau pikiran, melainkan tindakan. Ini berarti kalau seseorang mengaku percaya kepada Yesus, maka harus ada tindakan untuk menunjukkan percayanya.
     
    Oleh karena kesalahan pengertian tersebut, banyak orang Kristen yang sebenarnya belum diselamatkan atau belum benar-benar diperdamaikan dengan Allah. Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “berilah dirimu diperdamaikan.” Kalau sampai Paulus mengatakan demikian, berarti harus ada usaha dari pihak manusia juga untuk menciptakan atau membangun perdamaian tersebut. Hal ini sama dengan nasihat Paulus agar orang percaya mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar (Flp. 2:5-13). Mengerjakan keselamatan artinya berjuang mengubah diri untuk menjadi serupa dengan Yesus (Flp. 2:5-7) agar dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah dan berinteraksi dengan Dia sebagai anak bagi Allah, Bapa kita. Untuk ini, kita harus mengerti apa sebenarnya yang dimaksud dengan “perdamaian” dengan Allah itu.
     
    Perdamaian dengan Allah sama artinya dengan rekonsiliasi dengan Allah. Rekonsiliasi artinya tindakan untuk memulihkan hubungan yang sudah putus atau rusak atau retak dari dua pihak. Kemudian, agar terjalin hubungan seperti semula atau sesuai dengan maksud hubungan atau relasi itu diadakan dua pihak harus aktif. Dalam rekonsiliasi, ada usaha untuk menyesuaikan satu sama lain atau menyamakan persepsi dan menghilangkan perbedaan demi harmonisasi hubungan kedua belah pihak. Tentu dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri terhadap kita, melainkan kita yang menyesuaikan diri terhadap Allah. Dalam rekonsiliasi akhirnya terjadi persekutuan untuk memperjuangkan satu kepentingan. Tentu dalam hal ini kita memperjuangkan kepentingan Allah, karena Allah telah memperjuangkan kepentingan kita melalui Tuhan Yesus Kristus.
     
    Inilah sesungguhnya keselamatan itu, yaitu sebuah proses dari usaha Allah untuk mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah semula. Maksud dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula adalah agar manusia berkeadaan seperti yang dirancang pada awal penciptaan, dimana manusia berpotensi memiliki persekutuan dengan Allah. Potensi untuk dapat bersekutu dengan Allah tidak dimiliki manusia, sehingga manusia dikatakan sebagai kehilangan kemuliaan Allah, dan hidup dalam bayang-bayang maut terpisah dari Allah selama-lamanya di api kekal. Keselamatan adalah inisiatif dari pihak Allah. Ia mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus, untuk memikul dosa-dosa manusia sehingga manusia bisa dibenarkan di hadapan Allah. Tetapi hal ini bukan berarti secara otomatis terjadi perdamaian atau rekonsiliasi dengan Allah.
     
    Jadi, kedatangan Tuhan Yesus membuat orang percaya dibenarkan di hadapan Allah atau dianggap benar dulu di mata Allah, walaupun sebenarnya belum sungguh-sungguh berkeadaan benar. Selanjutnya, orang percaya harus mengubah diri untuk bisa berkonsiliasi dengan Allah. Dalam rekonsiliasi dengan Allah, yang harus melakukan perubahan adalah manusia, karena manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang telah berkhianat kepada Allah. Allah tidak kehilangan kemuliaan-Nya, manusialah yang kehilangan kemuliaan Allah. Itulah sebabnya, dalam proses keselamatan, orang percaya harus mengenal hakikat Allah dengan benar dan harus berusaha dengan segala perjuangan untuk memiliki kodrat-Nya (2Ptr.
    0 min
  • Harus Bertindak
    Banyak orang Kristen yang disesatkan oleh pikirannya yang tidak mengerti kebenaran Alkitab secara tepat. Mereka merasa kalau sudah percaya bahwa Yesus adalah Juruselamat yang mati di kayu salib, mengangkut dosa, dan menjadi Pendamai antara Allah dan manusia, maka mereka secara otomatis sudah berkeadaan diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya mereka belum berdamai dengan Allah. Memang Yesus membawa pendamaian, namun banyak orang Kristen yang belum memberi dirinya diperdamaikan dengan Allah. Secara nalar, mereka merasa sudah diperdamaikan dengan Allah, tetapi kenyataannya, dari perilaku hidupnya menunjukkan bahwa mereka adalah seteru atau musuh Allah.
     
    Dalam Filipi 3:18-19 tertulis, Karena, seperti yang telah kerap kali kukatakan kepadamu, dan yang kunyatakan pula sekarang sambil menangis, banyak orang yang hidup sebagai seteru salib Kristus. Kesudahan mereka ialah kebinasaan, Tuhan mereka ialah perut mereka, kemuliaan mereka ialah aib mereka, pikiran mereka semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Walaupun sudah menjadi orang Kristen, tetapi kalau masih duniawi, maka mereka berkeadaan sebagai musuh Allah, karena orang yang mengasihi dunia ini menjadikan dirinya musuh Allah (Yak. 4:4). Mengasihi dunia artinya orang yang hidupnya masih bisa dibahagiakan oleh dunia ini, sehingga terikat dengan materi dunia dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah.
     
    Banyak orang Kristen tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya belum berdamai dengan Allah, sebab mereka masih mencintai dunia dan tidak hidup dalam kekudusan Allah. Itulah sebabnya, tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk membangun perdamaian dengan Allah. Pada waktu merayakan Natal pada bulan Desember, semua orang Kristen mengatakan bahwa Yesus telah datang ke dunia, kedatangan-Nya menyelamatkan manusia. Semua mengucap syukur, dalam suasana euforia merayakan kedatangan Sang Juruselamat. Dari kehebohan dan hingar bingar serta kemeriahan Natal yang dirayakan, dikesankan bahwa semua mereka telah memiliki keselamatan atau diperdamaikan dengan Allah. Padahal, faktanya banyak dari mereka yang belum berdamai dengan Allah atau tidak memberi diri untuk diselamatkan.
     
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa keselamatan diterima secara otomatis ketika seseorang mengakui bahwa Yesus adalah Juruselamat. Kemudian mereka merasa sudah berdamai dengan Allah karena mengakui Yesus adalah sarana pendamaian antara Allah dengan manusia. Doktrin dalam sistematika teologi pada umumnya memformat demikian, sehingga jemaat terformat dalam pikirannya bahwa mengakui Yesus sebagai sarana pendamaian antara Allah dengan manusia berarti sudah berkeadaan berdamai dengan Allah. Ini sebuah pengajaran yang menyesatkan. Banyak teolog dan jemaat yang mendengar ajarannya berpandangan demikian. Keadaan ini menempatkan mereka menjadi orang yang beragama Kristen tanpa perdamaian dengan Allah atau tanpa keselamatan. Keadaan ini mengondisi mereka tidak mengerjakan keselamatan, sehingga kehidupan mereka tidak dikembalikan ke rancangan Allah semula. Sangat mengerikan, seolah-olah Allah sendiri diam atau senyap. Jadi, kalau seseorang tidak bertindak sungguh-sungguh untuk memeriksa diri dan bertobat, maka ia tidak menyadari keadaan tersebut.
     
    Kita harus melihat bahwa perdamaian dengan Allah memiliki dua aspek. Pertama, ketika kita masih belum mengenal Yesus, Yesus sudah mati bagi kita. Ini pendamaian aspek secara pasif. Kedua, ada tanggung jawab dari pihak kita untuk memberi diri didamaikan dengan Allah dengan usaha mengubah diri, yaitu tidak mencintai dunia dan hidup dalam kekudusan Allah. Ini adalah aspek aktif. Kenyataan yang kita saksikan dalam kehidupan banyak orang Kristen, mereka tidak mengerti adanya tanggung jawab ini. Banyak orang Kristen merasa sudah diperdamaikan dengan Allah, sehingga tidak ada usaha yang sungguh-sungguh di dalam mengisi hidup kekristenannya untuk melakukan perdamaian dengan Allah. Padahal,
    0 min
  • Katallaso
    Pada umumnya, orang takut menghadapi kematian. Tetapi, mereka tidak sungguh-sungguh digentarkan oleh kematian tersebut sehingga mereka tidak melakukan upaya untuk mempersiapkan diri menghadap pengadilan Allah. Seharusnya, realitas kematian yang bisa menjemput orang setiap waktu menjadi realitas yang mestinya sangat menggetarkan jiwa. Kalau seseorang sudah tidak pernah tergetarkan oleh realitas ini, maka ia tidak pernah takut akan Allah secara patut. Kenyataannya, banyak orang lebih digentarkan oleh banyak perkara di dalam dunia ini—seperti kemiskinan, kegagalan karier, khawatir kurang terhormat, dan lain sebagainya. Sikap hati seperti ini membuat seseorang tidak mengasihi sesama dengan benar. Orang-orang seperti ini pasti tidak memiliki sikap hormat yang patut kepada Allah. Mereka tidak layak menjadi anggota keluarga Allah, bahkan tidak layak hidup di langit baru dan bumi yang baru. Percuma mereka percaya bahwa Allah itu ada. Kepercayaan terhadap Allah tidak ada artinya. Allah pun tidak menyukai dipercayai oleh orang-orang seperti itu. Kalau mereka ke gereja, menjadi aktivis bahkan menjadi pendeta, status dan kegiatan rohani mereka menjadi kejijikan di hadapan Allah.
     
    Seharusnya, seseorang tergetarkan oleh realitas kematian dan kekekalan, sehingga ia memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah dan berusaha untuk hidup kudus seperti Allah. Orang rajin ke gereja sebagai jemaat, aktivis, bahkan pendeta, belum tentu memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah. Orang yang benar-benar memiliki kegentaran terhadap Allah pasti berusaha hidup dalam perdamaian dengan Allah. Perdamaian dengan Allah artinya berusaha untuk memiliki kehidupan yang tidak melukai hati Allah sama sekali. Penyesatan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen dewasa ini adalah kalau sudah merasa percaya kepada Tuhan Yesus berarti sudah berdamai dengan Allah. Padahal, mereka tidak tahu bagaimana percaya itu.
     
    Dalam Roma 5:10 tertulis: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Ayat ini menunjukkan bahwa ketika kita belum mengenal Yesus, kita masih belum bertobat atau seperti Paulus masih menganiaya orang-orang Kristen. Sekarang, kita semua telah diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak Allah, yaitu Tuhan kita, Yesus Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus mati untuk semua orang, bukan untuk hanya sebagian orang. Alkitab jelas mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya,” yang mengucapkan atau menulis ini adalah Rasul Paulus, yang sebelum bertobat bernama Saulus, sebagai penganiaya orang-orang Kristen. Ia menyatakan demikian oleh ilham Roh, sehingga kebenaran ini tidak dapat dibantah.
     
    Hal ini senada dengan yang dikatakan dalam 2 Korintus 5:19-20, “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Inilah Injil yang harus diketahui oleh semua bangsa, yang oleh karenanya, Paulus mengatakan bahwa dirinya dan orang-orang yang dipanggil seperti dirinya, mendapat kepercayaan untuk menyampaikan berita tersebut. Paulus dan orang-orang yang terpanggil untuk memberitakan Injil adalah utusan-utusan Kristus. Paulus menyediakan diri untuk itu dengan segala pengorbanan yang dipertaruhkan.
     
    Perdamaian dengan Allah tidak bisa terjadi secara otomatis hanya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Harus ada usaha dari setiap orang untuk berdamai dengan Allah, yang oleh karenanya Paulus mengatakan kepada orang percaya agar memberi diri “diperdamaikan.
    0 min
  • Lautan Kematian
    Berbicara mengenai kedahsyatan Allah, biasanya orang hanya menghubungkan dengan keberadaan kuasa-Nya yang melampaui segala sesuatu, tetapi tidak menghubungkan dengan kesucian-Nya. Di dalam kesucian-Nya, Allah menghendaki umat pilihan untuk berkeadaan kudus seperti diri-Nya. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sama seperti Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Kalau seseorang benar-benar menyadari hal ini, maka ia memiliki perasaan takut yang sepatutnya akan Allah (1Ptr. 1:17). Kata “takut” dalam teks aslinya di dalam 1 Petrus 1:17 adalah fobos (φόβος), yang selain artinya perasaan takut, juga perasaan diteror. Mestinya kegentaran akan Allah menyelimuti hidup kita, seperti sebuah teror. Tentu saja perasaan “diteror” atau diintimidasi bukan seperti menghadapi orang jahat yang mengancam keselamatan kita, melainkan menghadapi Allah yang Mahabaik yang juga Mahakudus. Kekudusan Allah seperti “mengintimidasi” agar kita juga memiliki kekudusan seperti Dia.
     
    Kita harus membayangkan, seandainya saat ini kita berhadapan dengan Allah yang dapat meneropong ke dalam hati kita serta mengetahui segala sesuatu yang kita lakukan, pasti ada kegentaran yang hebat sekaligus ketakutan yang tidak dapat dibayangkan, yaitu kalau kita masih berkeadaan belum memiliki kesucian atau keberadaan moral seperti yang Dia kehendaki. Oleh sebab itu, kesempatan dimana kita masih dapat membenahi diri sekarang ini harus kita gunakan sebaik-baiknya, sebab kalau kita sudah menutup mata untuk selamanya, berarti kesempatan itu tidak ada lagi. Pastilah akan ada penyesalan yang tidak terlukiskan, kecuali ratap tangis dan kertak gigi.
     
    Suatu hari nanti kita pasti menghadap takhta pengadilan Tuhan. Tuhan yang memercayakan kehidupan ini untuk kita jalani sesuai dengan kehendak-Nya. Karena kehidupan diberikan oleh Tuhan bukan sesuatu yang gratis, kita harus mempertanggungjawabkan segala sesuatu yang kita kerjakan selama hidup di dalam dunia. Ini adalah realitas dahsyat yang tidak bisa kita hindari. Perjalanan waktu hidup kita membawa manusia kepada realitas ini. Setiap detak jantung dan denyut nadi kita seperti detik arloji yang memang sekarang masih terdengar, tetapi yang suatu saat akan berhenti. Pasti. Semua ini mengisyaratkan bahwa kita seperti terbawa oleh arus air yang sangat kuat yang tidak bisa dibendung menuju lautan; lautan kematian. Saat panggilan untuk menghadap Tuhan bisa terjadi setiap saat, tanpa dapat kita duga.
     
    Pada umumnya, orang tidak tahu kapan giliran masuk ke dalam peti mati. Realita kepastiannya pasti tahu, tetapi ironis, banyak orang tidak memedulikan hal tersebut. Hal ini nyata dalam perilakunya yang tidak sungguh-sungguh takut akan Allah. Mereka tidak sungguh-sungguh memperkarakan bagaimana penilaian Allah terhadap dirinya, dan perasaan Allah terhadap dirinya. Hal ini juga menunjukkan bahwa memang mereka tidak menghormati Allah secara patut dan tidak berlindung kepada-Nya dari kedahsyatan kekekalan. Kalau seseorang berlindung kepada-Nya dengan sungguh-sungguh, pasti ada perjuangan untuk hidup berkenan kepada-Nya dengan segala usaha.
     
    Banyak orang berpikir bahwa saat kematiannya masih jauh, sehingga mereka kurang peduli terhadap realitas pengadilan Allah untuk mempertanggungjawabkan hidupnya dalam kekekalan. Bila hal ini berlarut-larut, maka mereka tidak pernah memiliki kesadaran bahwa kematian adalah sebuah realitas, sampai mereka mati. Tidak sedikit mereka yang sudah berumur sangat tuapun berpikir kalau dirinya masih bisa memperpanjang umurnya, apalagi kalau memiliki kekayaan yang berlimpah. Ia berpikir seakan-akan bisa menunda kematian. Memang, kadang-kadang tindakan medis bisa memperpanjang usia. Tetapi tidak akan bisa membatalkan kematian.
    Tuhan sendiri yang telah mengatakan bahwa masa hidup manusia tujuh puluh tahun dan jika kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru,
    0 min
  • Melepaskan Semuanya, Memiliki Segalanya
    Penyertaan Tuhan tentu bukan kita jadikan sekadar sarana untuk mendapat pertolongan Tuhan atas masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi menjadi sarana kita untuk belajar bagaimana memiliki kehidupan seperti Yesus. Kalau kita terus bertumbuh menjadi seperti Yesus, mengenakan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela, lalu kita bertumbuh lagi menjadi seorang yang bisa menjadi seperti anggur yang tercurah dan roti yang terpecah seperti Yesus, penyertaan Tuhan merupakan kesempatan kita berdekat dengan Dia dan untuk melayani-Nya.
    Pelayanan yang sesungguhnya pada intinya adalah memuaskan perasaan Allah. Jadi, pelayanan sebenarnya bukan berangkat dari lulus sekolah tinggi teologi atau disahkan sinode sebagai pejabatnya. Pelayanan harus dimulai dari kehidupan kita yang semakin seperti Yesus, dan dalam segala hal yang kita lakukan, kita menyukakan hati Allah Bapa. Di sini terjadi proses “pengurasan.” Segala sesuatu yang kita rasa masih kita miliki, akan dikuras oleh Allah, akan dihabisi. Dari merasa memiliki harta, harga diri, kehormatan, kebanggaan, harus dikuras habis. Dengan pengurasan itulah kita baru bisa mengabdi kepada Tuhan secara penuh. Sehingga kita tidak memiliki bagian apa pun dalam hidup ini. Bagian kita hanya memuaskan perasaan Allah. Dan ini yang Allah kehendaki harus kita lakukan.
    Penyertaan Tuhan merupakan sarana kita untuk melayani Dia. Dan untuk melayani Tuhan, kita harus bisa memiliki keadaan hidup yang dikuras habis tadi. Sehingga kita bisa berkata, “aku tidak memiliki apa-apa dan siapa-siapa. Yang kumiliki hanyalah kesempatan untuk memuaskan hati Bapa.” Jika demikian, kita akan rela mengurbankan apa pun yang kita miliki. Kita rela mengurbankan hidup kita tanpa batas, dan kita tidak merasa memberi, tetapi kita merasa memperoleh kehormatan. Sebab, kalau kita bisa berbuat sesuatu kepada satu Pribadi Agung yang kita hormati, kita tidak memperhitungkan jumlah yang kita pertaruhkan itu.
    Kalau di dunia ini, dalam kehidupan bermasyarakat, seseorang bisa berbuat sesuatu untuk pejabat tinggi, katakanlah untuk walikota/gubernur/menteri, apalagi untuk presiden, dia tidak menghitung. Mungkin dia berbuat sesuatu bukan karena mau mendapatkan tender atau keuntungan. Mungkin hanya karena kebanggaan, bisa memberi sesuatu untuk satu sosok yang terhormat. Itu pun sudah merupakan kehormatan. Apalagi kalau kita bisa melakukan sesuatu itu untuk Tuhan. Tuhan semesta alam yang memperhitungkan segala sesuatu yang kita lakukan bagi Dia.
    Adalah luar biasa kalau kita bisa mempertaruhkan segenap hidup kita tanpa batas untuk Dia yang memperhitungkan segala sesuatu di kekekalan. Dan apa yang kita lakukan tidak hilang, akan diingat Allah terus. Itulah standar pelayanan yang benar bagi Allah. Seperti yang dilakukan Tuhan Yesus, “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa,” artinya memuaskan hati-Nya, “dan menyelesaikan pekerjaan-Nya,” menunaikan tugas yang dipercayakan Bapa kepada-Nya. Demikian pula dalam hidup kita. Kita harus menyelesaikan apa yang menjadi bagian hidup kita.
    Untuk bisa menyelesaikan dan menjadi bagian hidup kita, kita tidak boleh punya bagian sendiri. Allah memberikan kita tugas sampai titik dimana kita tidak memiliki bagian kita sendiri. Memang kalau kita belum dewasa, Allah memberikan kita tugas dimana kita masih bisa menyisakan apa yang kita miliki. Kalau milik kita 100, Tuhan memberikan kita tugas dimana kita harus menyerahkan 40% dari bagian kita. Lalu kita bertumbuh dewasa, Allah memercayakan tugas dimana kita harus menunaikan tugas itu dengan menyerahkan 70% dari bagian kita. Tapi terus, semakin kita bertumbuh, kita harus menyerahkan segenap hidup kita. Dan kehormatan, kalau sampai kita pada tingkat, level, stadium, periode, masa dimana kita bisa menyerahkan segenap hidup kita tanpa batas. Jika Tuhan berkenan membawa kita kepada tingkat di mana kita harus menyerahkan segenap hidup kita bagi Dia, dengan tugas yang tidak bisa tidak, pertaruhannya adalah segenap hidup,
    0 min
  • Sertai Aku, Tuhan…
    Banyak orang berdoa, “sertai aku, Tuhan,” dasarnya karena dalam hidup ini banyak masalah, banyak bahaya, dan sebagainya, tetapi, mestinya ketika kita berdoa “sertai aku, Tuhan” dasarnya “supaya aku bisa berjalan sesuai dengan kehendak-Mu. Supaya aku bisa menyukakan hati-Mu, supaya aku bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela.” Mestinya itu, bukan karena yang lain.  Demikian pula kalau dalam lingkungan pelayanan, kita sering berkata “Tuhan, sertai pelayananku.” Tapi di balik doa itu, kita berharap pelayanan kita sukses. Dan kalau sukses, nama kita terangkat, dan mungkin juga bisa dapat uang. Atau mungkin waktu kita mau berkhotbah, kita berkata “Tuhan, sertai dan urapi aku.” Agar khotbah kita bagus, orang memuji kita, dan itu nilai diri kita. Itulah kelicikan manusia. Kelicikan-kelicikan yang ada pada kita. Kalau dulu, tidak kita sadari. Sebab, di balik kalimat “sertai aku, Tuhan” ada agenda-agenda pribadi kita. Kita mau memanfaatkan Tuhan di balik pengakuan atau doa tersebut.
    Tetapi sekarang, kalau kita berkata “sertai aku, Tuhan,” maksudnya adalah supaya setiap langkah, tindakan, keputusan kita selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, dan kita benar-benar membahagiakan hati-Nya. Jadi, kalau kita berkata “sertai aku, Tuhan,” itu karena kita mau membahagiakan hati-Nya. Bukan membahagiakan hidup kita, melainkan perasaan-Nya. Tentu Tuhan akan menuntun kita bagaimana kita bisa membahagiakan perasaan-Nya. Jadi, entah kita sehat atau sakit, kaya atau miskin, masalah kita sudah selesai atau belum, kita tidak mau tenggelam dalam masalah-masalah tersebut. Kita tidak akan memberhalakan masalah-masalah tersebut. Tetapi, bagaimana dalam setiap keputusan, tindakan, dan pilihan kita benar-benar menyukakan hati-Nya. Ini yang harus menjadi motivasi kita. Jadi, kalau kita memandang hal ini penting, maka penyertaan Tuhan supaya kita bisa menyukakan hati-Nya, kita bisa melihat bahwa menyukakan hati Allah, hidup suci, tidak bercacat dan tidak bercela jauh lebih berat dan sukar daripada mencari uang dan berkarier.
    Jangan berpikir sebaliknya, bahwa mencari uang atau berkarier lebih berat dari mencari Tuhan atau menemukan hati-Nya. Menemukan hati Allah itu benar-benar sesuatu yang tidak mudah, harus kita perjuangkan dengan sungguh-sungguh. Jadi, kalau kita berkata “Tuhan, sertai aku,” maksudnya adalah “Aku mau menemukan hati-Mu, Tuhan. Aku mau menemukan isi hati-Mu dan melakukan kehendak-Mu. Supaya aku bisa menyukakan hati-Mu, ya Allah.” Itu maksudnya. Orang-orang Kristen yang seperti ini, orang-orang yang merdeka dari dirinya sendiri dan orang lain. Dia tidak terbelenggu oleh masalahnya sendiri, apa pun masalah yang dia hadapi. Dan tidak terbelenggu oleh pandangan mata manusia terhadap dirinya. Ini sangat luar biasa. Jadi, kita disertai Tuhan supaya kita bisa menyukakan hati-Nya, yang akhirnya kita bisa sampai Rumah Bapa.
    Adapun masalah-masalah lain dalam hidup kita, kita selesaikan dengan tanggung jawab. Kita memang harus bertanggung jawab atas segala sesuatu yang kita lakukan. Ketika gereja mengesankan bahwa masalah-masalah hidup itu berat, maka lihat bagaimana jemaat awam mulai tidak sungguh-sungguh, karena mengesankan mencari uang lebih berat, berkarier itu lebih berat, sehingga jemaat tidak sungguh-sungguh berurusan dengan Tuhan untuk menjadi seorang yang berkenan. Berurusan dengan Tuhan hanya untuk menyelesaikan masalah-masalah keuangan, pemenuhan kebutuhan jasmani, dll.
    Dan tidak jarang, justru pendeta yang mengisyaratkan itu. Dalam doa syafaat, pendeta akan berkata, “Apa masalah Saudara? Kalau kau datang dengan masalah ekonomi, rumah tangga, kesehatan…” Tantangannya seperti itu terus setiap minggu. Kadang-kadang malah dijanjikan bahwa “ketika engkau pulang, engkau tidak akan sama seperti waktu engkau datang. Masalahmu telah selesai. Engkau telah sembuh.” Jemaat juga berkata “amin… amin…” Padahal itu salah, keliru. Maksud saya, belum tentu mereka benar-benar mendapat jalan keluar dari m...
    0 min
  • Janji Penyertaan-Nya
    Di dalam Injil, kita tidak menemukan janji Tuhan bahwa Ia akan memberikan kita kelimpahan materi. Sebab, ketika ada orang bertanya dan menyatakan kesediaannya mengikut Yesus ke mana pun Ia pergi, dimana ia berkata, “Tuhan, aku mau ikut Engkau ke mana pun Engkau pergi.” Tapi jawab Yesus, “Serigala mempunyai liang, burung mempunya sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Begitu dikatakan dalam Lukas 9:58. Di balik pernyataan ini, Yesus mau menyatakan bahwa “kalau kamu mau ikut Aku, kamu akan berkeadaan seperti Aku: miskin secara materi.” Dan Alkitab memang mengatakan “Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Orang-orang Kristen juga akan bisa dibuat berkeadaan seperti ini.
    Tuhan mengajar kita untuk mengalami penderitaan seperti yang Ia alami. Tuhan tidak menjanjikan kelimpahan materi, tetapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya yang pasti. Tuhan berkata, “Aku menyertai kamu senantiasa, sampai kepada akhir zaman.” Jangan ini membuat kita kecil hati dan berkata, “kalau begini, kapan kita menjadi kaya?” Bisa saja, seseorang dipercaya Tuhan dengan kekayaan. Tetapi kekayaan itu pun semua milik Tuhan. Karena firman Tuhan mengatakan bahwa “kamu bukan milikmu sendiri.” Dan di dalam penyertaan-Nya itu, segala sesuatu yang terjadi pasti baik adanya.
    Sebenarnya, seseorang ingin memiliki kelimpahan materi untuk apa? Untuk kebahagiaan dan kesenangan, bukan? Bagi kita, yang penting adalah memiliki kesenangan walaupun tidak atau bukan ditopang oleh materi. Tuhan mengatakan dalam Yohanes 14:27, “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu.” Ia menjanjikan damai sejahtera itu. Damai sejahtera-Nya sendiri, yang Yesus rasakan, yang memenuhi penduduk surga. Itu diberikan kepada kita. Di dalam damai sejahtera itulah kita bisa menikmati ketenangan dan keteduhan yang tidak kita peroleh dari mana pun juga. Tetapi yang bisa mengalami ini sangat sedikit, hanya orang-orang yang hidupnya benar-benar bersih atau berjuang untuk hidup bersih. Orang-orang yang tidak ditopang oleh kesenangan dunia.
    Kebahagiaan dalam Tuhan ini akan mendorong seseorang untuk terus menjaga kehidupan yang tidak melukai orang lain, tidak menyakiti sesama, malah menjadi berkat. Damai sejahtera yang melampaui segala akal yang diberikan Tuhan membuat seseorang akan rela berjuang, berkurban apa pun demi keselamatan jiwa orang lain. Dan kalau satu orang diselamatkan, artinya dia bisa membimbing orang untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, itu kebahagiaan. Itu kesukaan. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, ada sukacita di surga ketika ada seseorang bertobat di Lukas 15:10, “Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.”
    Sukacita seperti ini yang bisa kita nikmati. Dan sukacita seperti itu kita perjuangkan. Kita mempertaruhkan apa pun yang kita miliki demi kita bisa menyenangkan hati Tuhan, dengan membawa jiwa-jiwa yang dibaharui, yang berubah kodrat, yang lahir baru, dan kita menikmati sukacita-Nya. Jadi, kalau hanya membuat orang non-Kristen menjadi Kristen, belum tentu membuat Tuhan sukacita. Yang membuat Tuhan dan malaikat di surga bersukacita adalah ketika kita bisa membawa orang bertobat dalam arti yang benar.  Bertobat, berbalik kepada Tuhan dalam arti yang benar. Tuhan tidak menjanjikan pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi Ia menjanjikan penyertaan-Nya. Artinya, Tuhan akan memimpin kita, melindungi kita agar perjalanan kita bisa sampai ke surga. Tuhan menjagai kita untuk bisa tetap setia di bumi ini kepada Tuhan, sampai kita menutup mata dan bertemu dengan-Nya.
    Jadi, pernyataan Tuhan jangan diartikan naik pangkat, dapat gelar banyak, punya kekuasaan, materi yang berlimpah dan cukup. Kalau hanya itu, dunia pun memilikinya dan bisa memberikannya. Keberhasilan dan sukses menurut manusia,
    0 min
  • Jaminan Kebahagiaan
    Bicara mengenai transformasi, bukan bicara mengenai ekonomi membaik, bukan pula mengenai keadaan menjadi lebih nyaman, dan tidak berbicara mengenai kejahatan berkurang secara umum atau dalam masyarakat. Tetapi transformasi itu bicara mengenai perubahan pikiran. Dalam Roma 12:2 ditulis dalam bahasa aslinya metamorphoste, yang artinya perubahan pikiran. Yang dalam bahasa Indonesia populer menjadi “metamorfosa,” sebuah perubahan yang sangat fundamental, dari ulat menjadi kepompong, dari kepompong menjadi kupu-kupu. Itu baru namanya transformasi.
    Kalau transformasi diajarkan hanya sebagai perubahan ekonomi, artinya menjadi lebih baik, lalu kejahatan berkurang, dunia akan menghadapi kenyamanan, itu adalah ajaran nabi palsu. Di zaman Yeremia juga begitu, nabi-nabi palsu menubuatkan keadaan akan membaik, tapi Yeremia berkata “Tidak! Yerusalem akan runtuh, penduduk dan bangsawannya akan ditawan.” Jelas, nubuat Yeremia ini bertentangan dengan nubuat nabi-nabi palsu yang meramalkan hari baik dan kehidupan yang membaik. Memang akhirnya Yeremia terasingkan atau tersingkirkan. Namun faktanya kemudian, memang Yerusalem akhirnya direbut oleh tentara Nebukadnezar.
    Jangan kita berani coba-coba mengajarkan apa yang bertentangan dengan Alkitab. Dunia ini jelas akan menjadi tidak membaik. Kalau kita membaca 2 Timotius 3:1-4, “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar. Manusia akan mencintai dirinya sendiri …” Jelas, pasti dunia tidak makin membaik. Demikian pula dengan Matius 24:12, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin.” Kita harus sadar bahwa ajaran yang tidak benar harus ditinggalkan. Dunia akan bertambah buruk. Bukan better, melainkan worse. Memburuk, menjadi buruk. Ketika dinubuatkan bahwa dunia akan bertambah baik—bahkan pernah dinubuatkan di Indonesia ini akan ada domba-domba baru—banyak orang pindah agama menjadi orang Kristen. Sampai-sampai seorang pendeta menghubungi saya dan mengatakan agar saya bersiap-siap, sebab sekolah tinggi teologi akan dibanjiri orang-orang non-Kristen yang masuk Kristen. Seingat saya, itu sebelum tahun 2005. Saya masih menjadi rektor di sekolah itu.
    Ternyata di tahun 2005, yang tadinya dipikirkan, diramalkan, dinubuatkan akan terjadi transformasi ternyata tidak terjadi apa-apa. Malahan yang ada mengamuknya tsunami dan bencana-bencana lainnya. Ini jelas sebuah kekeliruan. Saya tidak bermaksud membangkitkan kesalahan orang dan saya tidak berhak menghakiminya. Kalau bisa, saya malah memperbaikinya. Tetapi supaya kita tahu bahwa kita menghadapi dunia yang tidak bertambah baik, tetapi dunia yang bertambah buruk. Jika kita menghadapi dunia yang semakin buruk ini, kita harus semakin berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh.  Tidak ada waktu lagi untuk dunia, kesenangan daging kita, menikmati kenyamanan hidup. Kita harus sepenuhnya bergumul untuk memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Kita harus berjuang dengan sungguh-sungguh, benar-benar memfokuskan hidup kita untuk mempersiapkan diri menghadapi dunia yang makin buruk atau bisa juga menghadapi kematian kita sendiri.
    Oleh sebab itu, tentu gereja harus bicara dengan jujur dan mengerti kebenaran Tuhan. Kita harus sadar dan siuman, jangan tergiur oleh nubuatan-nubuatan, jangan terkesima oleh besarnya gedung dan kekayaan aset gereja. Kita harus hanya terpesona terhadap Tuhan. Bagi kita, Tuhan adalah segalanya. Dialah harta dan kekayaan kita, Dia segalanya bagi kita. Memiliki Allah sebagai Bapa, sudah cukup. Memiliki Tuhan Yesus sebagai Raja, dimana kita mengabdi kepada-Nya, sudah cukup. Sehingga kita bisa menerapkan firman “asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Kita bisa menjalani hidup hari ini dengan memaksimalkan potensi bekerja, tetapi di atas semuanya, kita mempersembahkan untuk kemuliaan dan kebesaran nama Tuhan.
    Ini yang Tuhan kehendaki harus kita pahami dengan benar. Kita tidak boleh lagi disesatkan oleh ajaran-ajaran yang tidak membawa kita k...
    0 min
  • Mempersiapkan Diri Pulang ke Surga
    Kita melihat kenyataan, dunia tidak bertambah menjadi baik. Wabah, pandemi COVID-19 ini menjadi isyarat yang sudah sangat jelas bahwa dunia di mana kita hidup ini sangat tidak menjanjikan. Dan banyak pakar yang mengatakan bahwa dunia tidak akan menjadi sama lagi setelah COVID-19 ini. Para ahli berusaha keras untuk menemukan vaksinnya. Kalaupun sudah ditemukan vaksinnya, belum tentu keadaan menjadi seperti semula, seperti sebelum terjadi pandemi COVID-19. Dari apa yang kita baca melalui media, bahwa virus ini bisa bermutasi, berubah, atau berkembang. Belum lagi nanti muncul virus lainnya. Manusia dikepung oleh berbagai persoalan. Belum lagi fenomena alam, anomali musim, ketegangan politik, mulai berkurangnya sumber daya alam untuk kebutuhan manusia. Yang jelas, manusia makin jahat. Dan kalau pelaku kehidupan makin jahat, dunia pasti tidak menjadi aman dan nyaman lagi. Perang di beberapa tempat permanen, tidak pernah surut. Jadi, memang dunia kita ke depan tidak bertambah menjadi baik.
    Kalau gereja tidak mengajarkan kebenaran yang murni, yang mempersiapkan jemaat pulang ke surga menghadap Allah, betapa jahatnya. Kita harus mengingatkan jemaat dengan melihat tanda-tanda zaman seperti ini. Kita juga tidak bisa menikmati hidup dengan nyaman di dunia ini. Orang-orang kaya dengan rumah mewah dan uang berlimpah ikut terpukul oleh COVID-19 karena tidak bisa keluar rumah, dan tidak sedikit di antara mereka justru jauh lebih takut dari orang miskin. Kalau orang miskin berpikir daripada mati di rumah, lebih baik mati di luar. Tapi, kalau mereka sudah cukup makan, sudah cukup segala sesuatu. Mereka sangat menjaga diri. Sehingga tidak nyaman. Kita bersyukur, kalau bagaimana pun dalam situasi yang begitu sulit, Tuhan masih memelihara bangsa kita. Walaupun keadaan sulit, tapi ekonomi masih bergulir juga, dan kita mengakui bahwa ini semua karena kemurahan Tuhan atas bangsa Indonesia. Kita sebagai orang percaya yang harus terus mengingatkan jemaat untuk memiliki visi yang jelas sebagai anak-anak Allah, yaitu mempersiapkan diri untuk masuk dalam pesta perkawinan Anak Domba, perjumpaan dengan Tuhan kita, Yesus Kristus.
    Sesuatu yang menyedihkan, ada gereja-gereja yang menjanjikan bahwa ke depan dunia akan menjadi lebih baik. Seperti beberapa waktu yang lalu, ada gereja dan pendeta-pendeta yang menjanjikan bahwa ke depan dunia dan ekonomi akan membaik, kejahatan akan berkurang. Faktanya, kejahatan tidak berkurang, ekonomi tidak membaik, transformasi yang dijanjikan oleh orang-orang tertentu ternyata bohong. Kejahatan bukan berkurang, malah bertambah. Sekarang ini, kalau di negara kita, sampai menterinya masuk penjara, anggota DPR masuk penjara, bahkan yang kita baca di koran, seluruh anggota DPR di satu kota bisa masuk penjara. Karena luar biasa kejahatan manusia sekarang ini.
    Kita melihat fenomena riil dan nyata dari kehidupan manusia yang tidak adil ini. Bagaikan binatang yang kuat memakan binatang yang lemah, demikian pula manusia yang kuat ‘menelan’ manusia yang lemah. Seperti kalimat dalam bahasa latin memento mori; ingatlah hari kematian. Manusia bisa mati setiap saat, karena homo homini lupus; manusia menjadi serigala bagi sesamanya. Mematikan ekonomi orang, masa depan orang, sampai nyawa orang lain. Tetapi manusia tidak sadar. Pelaku kejahatan tidak sadar bahwa setiap saat dia akan mati. Gereja harus berperan dengan jelas dan berbicara dengan lantang, bagaimana mempersiapkan jemaat untuk pulang ke surga. Masalahnya, kalau pembicara sendiri tidak menghayati bahwa rumahnya bukan di bumi, akhirnya hidup wajar saja. Yang diucapkan dan dipercakapkan hanya doktrin-doktrin saja, dan merasa dengan doktrin-doktrin itu mereka telah membela Tuhan dengan memiliki standar hidup yang baik. Padahal, yang dikehendaki oleh Allah adalah kehidupan yang serupa dengan Yesus.
    Janji-janji bahwa dunia akan membaik adalah penipuan dan pembodohan. Memang sebagai masyarakat Timur, kita sering tidak mau terus terang,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…