Tuhan Yesus mengatakan di dalam Injil Yohanes, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat” (Yoh. 20:29). Ayat ini muncul dalam konteks ketika Thomas tidak yakin bahwa Yesus telah benar-benar bangkit, sehingga ia mengatakan, “aku tidak akan percaya sebelum aku mencucukkan jariku ke bekas paku di tangan Tuhan dan ke dalam lambung-Nya.” Mengapa demikian? Karena memang belum pernah ada kejadian orang mati dalam keadaan yang begitu parah seperti disalib, lalu mengalami kebangkitan. Kalau Yesus membangkitkan orang mati, mereka bisa memercayainya. Tetapi kalau Yesus sendiri bangkit, lalu siapa yang membangkitkan? Lalu, dalam keadaan tubuh yang terkoyak, artinya dengan luka yang sangat parah dan tangan yang dipaku, bagaimana bisa bangkit? Jadi, ketidakpercayaan Thomas sebenarnya cukup beralasan, karena memang sulit untuk memercayai adanya kebangkitan atas kasus Yesus ini. Tetapi Yesus bangkit, dan Yesus berkata, “berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.” Kita tidak pernah melihat kebangkitan Yesus secara fisik. Kita tidak melihat kubur kosong pada waktu itu. Tetapi kita percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit.
Rasul Paulus mengatakan, “yang kukehendaki ialah mengenal kuasa kebangkitan-Nya,” artinya mengalami Yesus yang benar-benar bangkit itu. Dan karena memercayai Yesus yang benar-benar bangkit, maka dia mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Inilah yang harus kita miliki, walaupun kita tidak pernah bertemu muka dengan muka dengan Yesus, tidak pernah melihat kebangkitan Yesus, tapi kita percaya bahwa Dia benar-benar bangkit. Inilah yang melandasi kita dalam menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan kuasa yang membangkitkan Yesus, kita alami dalam hidup kita hari ini.
Memang tidak banyak orang yang mengalami kuasa kebangkitan Tuhan, karena mereka tidak meyakini sungguh-sungguh bahwa Ia bangkit. Memercayai Tuhan yang bangkit, bukan hal sederhana. Tidak mudah, karena kita tidak pernah lihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi kita memercayai-Nya dan kita meyakini bahwa Dia yang bangkit itu berjanji menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman. Dan kalau kita memercayai Dia, bahwa Dia hadir dalam seluruh perjalanan hidup kita ini, maka kita bisa menaruh pengharapan kepada-Nya dalam segala keadaan. Artinya, ketika kita menghadapi keadaan-keadaan sulit, kita percaya bahwa Tuhan ada bersama dengan kita dan mendampingi kita.
Ketika Tuhan berkata, “percayalah, aku mendampingi kamu senantiasa sampai kesudahan zaman,” itu konteksnya adalah ketika Tuhan Yesus berkata “jadikan semua bangsa murid-Ku.” Tuhan Yesus hidup dan hadir untuk melatih, mendidik, dan menjadi Guru bagi kita. Dalam keadaan sulit, kita harus percaya bahwa pendampingan-Nya ada dalam keadaan itu, Dia tidak pernah berhenti mengajar dan mendidik kita. Jadi, dengan pengertian ini, ketika kita menghadapi keadaan yang sulit, kita tidak mencari jalan keluar terlebih dahulu, tetapi kita mau menemukan apa maksud Tuhan di balik masalah tersebut. Tanpa merasa takut bahwa masalah itu akan menenggelamkan atau mencelakai kita. Sebab, dalam kamus kehidupan orang percaya, tidak ada kata “kecelakaan.” Semua di dalam kontrol dan monitor Allah. Semua mendatangkan kebaikan, bukan kecelakaan.
Ketika kita mengalami sesuatu yang buruk, kita berkata, “celaka ini!” Tidak demikian, kita harus menggantinya dengan “ini kebaikan!” Sebab, Dia bukan Tuhan yang mati. Ia Tuhan yang hidup, hadir, dan menyertai kita. Kuasa kebangkitan-Nya itulah yang bisa kita rasakan, yaitu dengan kehadiran Tuhan yang memberikan kita bimbingan, tuntunan, dan nasihat, agar kita bisa belajar dari Yesus dan hidup seperti hidup yang Dia jalani. Dengan hidup seperti hidup yang Dia jalani, maka kita akan mencapai ketaatan seperti ketaatan-Nya. Dan karena ketaatan itu, Ia dibangkitkan (Ibr. 5:7-9). Dia dibangkitkan bukan karena Ia Anak Allah, lalu Allah nepotisme, melainkan karena Dia saleh. Karena kesalehan-Nya, Dia didengar.
Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus adalah pendampingan-Nya...