Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Salah Asuh
    Dewasa ini, sering kali dikesankan oleh pembicara di mimbar bahwa karena Allah baik maka Allah pasti membawa orang percaya ke surga tanpa tatanan. Seperti seorang ayah yang ingin anaknya tidak celaka, maka ia mengusahakan bagaimana anaknya tidak mengalami kesulitan. Dicukupi kebutuhannya, bahagiakan hidupnya, dan kadang-kadang orangtua sampai memiliki beberapa pembantu untuk mengurus anak, memberikan mobil dan supir khusus, dan seterusnya. Allah digambarkan seperti itu. Ya, kalau anak-anak Allah tersebut masih belum dewasa, masih bisa dimaklumi. Tetapi ada saat dimana anak-anak harus menjadi dewasa, tidak lagi dimanja oleh orangtua. Anak-anak harus mulai memiliki kecerdasan rohani seperti Allah, pikiran dan perasaan seperti Allah, dan berkorban apa pun demi pekerjaan Bapanya.
    Kalau dikesankan bahwa Allah selalu memperlakukan orang Kristen atau anak-anak Allah seperti seorang ayah di dunia ini yang memperlakukan anaknya dengan dimanja tersebut, itu menyesatkan. Banyak orangtua yang salah didik, overprotective atau terlalu berlebihan melindungi anak, sampai akhirnya anak tersebut tidak mandiri, malas, tidak memiliki drive perjuangan, dan itu mencelakai anak tersebut. Bapa di surga tidak akan melakukan hal ini karena Ia memiliki tatanan di dalam diri-Nya: apa yang kamu tabur, itu juga yang harus kamu tuai. Karena tatanan ini, maka Bapa di surga akan mulai ‘menghajar’ orang yang disebut-Nya sebagai anak-anak Allah.
    Alkitab mengatakan jelas dalam Ibrani 12:7, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Kalau ada orangtua di dunia ini yang salah asuh terhadap anak dan akhirnya merusak karakter dan kepribadian maupun watak anak, Bapa di Surga tidak mungkin melakukan hal tersebut. Yang merusak itu adalah ketika seorang pembicara atau pengkhotbah mengajarkan seakan-akan Allah selalu bersikap seperti ayah di dunia ini yang selalu memanjakan anak. Siapa yang tidak mau?  Jemaat pasti senang punya Allah seperti itu. Dia baik, “tatkala aku lemah, dikuatkan; sakit, disembuhkan; kebutuhanku dipenuhi. Allah mengerti, Allah peduli.” Ini sebenarnya “membodohi” orang Kristen. Kalimat-kalimat lagu itu sendiri tidak salah, jika ditinjau dari umur rohani orang Kristen itu dan ditinjau dari isi kepeduliannya. “Allah mengerti, Allah peduli,” mengerti dan peduli dalam hal apa? Tentu Allah sangat peduli dengan kebutuhan jasmani kita—makan, minum, kesehatan, dll—tetapi Allah lebih peduli dengan keselamatan kekal kita.
    Ketika diajarkan dengan penggambaran Allah yang salah—seperti orangtua yang selalu memanjakan anak-anaknya—maka orang Kristen tidak menjadi dewasa. Selalu berbicara mengenai berkat yang berlimpah, pemulihan ekonomi, mukjizat, dan sebagainya. Saya tidak katakan salah adanya mukjizat dan berkat jasmani, tetapi itu bukanlah inti dari hidup kekristenan. Inti dari hidup kekristenan adalah menjadi anak-anak Allah yang berkarakter seperti Bapa di surga. Ini yang benar. Dan untuk berkarakter seperti Bapa di surga, perlu belajar. Kita harus benar-benar kerja keras mempertaruhkan segenap hidup untuk memperoleh karakter seperti Bapa yang diperagakan oleh Tuhan Yesus Kristus.
    Selanjutnya, kita harus berani menjadi anggur tercurah, roti yang terpecah seperti Tuhan Yesus, bukan hanya memberi perpuluhan lalu berharap dikembalikan berlipat kali ganda—tetapi bagaimana memiliki kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah, dimana sampai titik tertentu, kita merasa tidak memiliki kepentingan apa-apa lagi. “Kepentinganku hanya diri-Mu, ya Allah, melayani perasaan Bapa.” Akhirnya bisa sampai taraf atau tingkat itu.  Jadi, kekristenan itu memang harus progresif dan bertumbuh. Waktu baru menjadi Kristen, yang dipikirkan mukjizat, kesaksian-kesaksian, sampai hal-hal kecil pun disaksikan. Tetapi begitu kita bertumbuh dewasa, kita tidak lagi mempersoalkan apa penilaian orang lain terhadap kita, yang kita persoalkan adalah bagaimana penilaian Allah t...
    0 min
  • Sepadan Dengan Perjuangan
    Betapa kekanak-kanakan dan bodohnya banyak orang yang berharap dan yakin masuk surge, tetapi tidak memiliki perjuangan sama sekali untuk memeroleh hal tersebut. Jadi, karena Allah itu baik, memberikan kasih karunia, maka ia yakin nanti kalau mati pasti masuk surga. Selama di dunia, ia hidup seperti manusia lain hidup, hidup dalam kewajaran anak dunia yang menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmati dunia, lalu ketika mati bisa masuk surga dengan yakin. Tuhan hanya ‘disuap’ dengan pujian, penyembahan waktu kebakitan di gereja, dengan memberikan kolekte atau perpuluhan. Terkadang memberikan persembahan pun dengan tujuan supaya bisa dikembalikan berlipat kali ganda, seperti layaknya orang “memancing.” Memberikan perpuluhan supaya mendapat kembali 30, 60, 100 kali lipat. Hal ini adalah sebuah kebodohan. Tidak mungkin Allah memberikan sesuatu kepada seseorang yang tidak sepadan dengan perjuangan orang itu.
    Kalau kita memerhatikan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan dalam Filipi 2:5-7, jelas sekali Yesus mengosongkan diri. Ia mengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia. Lalu di ayat 8, “dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati bahkan sampai mati di kayu salib.” Di ayat 9, “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama”. Jadi, harus ada perjuangan dan pengorbanan, baru bisa memeroleh kemuliaan. Hal ini sepadan dengan pengorbanan dan perjuangan yang Yesus lakukan.
    Demikian pula dengan Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Ingat ini: jika kita menderita bersama-sama dengan Dia. Berarti ini bersyarat. Untuk memperoleh kemuliaan itu bersyarat, bukan gratis. Kerajaan Surga itu diberikan gratis, tetapi untuk bisa menikmati dan masuk Kerajaan itu ada perjuangan, yaitu perjuangan merubah diri kita masing-masing.
    Demikian pula dengan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Tidak mungkin seseorang menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus tanpa dia sendiri berjuang. Harus ada perjuangan. Seimbang atau setimpal dengan perjuangannya, maka ia memperoleh apa yang patut diterimanya. Di dalam 2 Korintus 5:10 dikatakan bahwa “setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Betapa bodohnya orang yang merasa berhak memeroleh sesuatu tanpa perjuangan. Ironisnya, hal ini terjadi dalam banyak kehidupan orang Kristen. Mereka mengagungkan Tuhan yang baik, yang menebus dosa, menyediakan Surga, tetapi tidak berjuang untuk memiliki kehidupan yang sepadan dengan anugerah Kerajaan Allah yang disediakan itu.
    Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, semua pintu tertutup. Orang tidak akan bisa masuk Kerajaan Allah, orang tidak akan pernah memiliki keselamatan. Mutlak tertutup. Tetapi, Yesus yang membukanya. Itu tidak otomatis, lalu Kerajaan Surga datang, lalu dimiliki, dan orang bisa menikmati Kerajaan Surga tersebut. Orang harus datang kepada Tuhan untuk menerima didikan-Nya atau dimuridkan oleh Tuhan guna mengalami perubahan untuk bisa menikmati Kerajaan Allah tersebut. Kalau orang-orang Kristen (tentu tidak semua) merasa bahwa dirinya sudah selamat karena mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sekarang hanya menantikan saja kedatangan-Nya. Selama menantikan kedatangan-Nya dia hidup seperti anak-anak dunia, tidak mengalami perubahan kodrat, dari kodrat dosa ke kodrat ilahi. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen seperti ini, dan lebih menyedihkan kalau sampai khotbah di mimbar gereja juga mengesankan demikian: kalau sudah percaya kepada Tuhan Yesus, pasti sudah selamat. Cukup, titik. Padahal, harus ada perjuangan yang sepadan dengan mahkota yang kita peroleh nanti.
    0 min
  • Serba Gratis
    Firman Tuhan mengatakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya” (Gal. 6:7). Banyak orang Kristen yang salah memahami pengertian “anugerah” dan “kasih karunia.” Mendengar kata “anugerah” dan “kasih karunia,” asumsinya adalah gratis. Itu saja. Sehingga, peta hidup banyak orang Kristen menjadi rusak karena ‘gratis’ tersebut. Benar, Yesus mati di kayu salib bukan karena perbuatan baik kita. Tidak ada amal, jasa kita yang membuat Allah memberikan Putra Tunggal-Nya. Allah Bapa memberikan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, menderita bagi kita, memikul dosa-dosa kita bukan karena perbuatan baik kita, melainkan karena kasih Allah. Allah yang berinisiatif melakukan tindakan penyelamatan bagi manusia.
    Tetapi, bukan berarti lalu “hukum tabur tuai” bisa digagalkan atau dibatalkan karena kata ‘gratis’ itu. Yesus mati memikul dosa-dosa kita, bahkan dosa seluruh dunia. Baik yang mengenal Dia, maupun yang tidak. Itu fair atau adil. Karena, kita terlahir sebagai orang berdosa, hidup di bawah bayang-bayang maut, juga bukan karena kemauan kita, tapi karena Adam. Adam jatuh dalam dosa, sehingga seluruh keturunannya ikut memikul kesalahannya. Oleh karena sosok satu orang (dalam konteks ini adalah Adam), yang kita tahu atau pun tidak tahu, telah melakukan kesalahan yang membuat anak cucunya harus memikul akibat kesalahan tersebut. Sebaliknya, oleh karena sosok satu orang (dalam konteks ini adalah Yesus), yang kita tahu atau pun tidak tahu, semua dosa kita dipikul oleh Dia.
    Tetapi setelah itu manusia tidak otomatis orang masuk surga. Orang-orang yang tidak mendengar Injil harus dihakimi menurut perbuatan mereka. Kalau mereka mengasihi orang lain seperti mengasihi diri sendiri sesuai dengan apa yang dikatakan dalam Matius 22:37-40 mengenai hukum yang terutama itu, mereka bisa masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Namun bagi orang percaya, ini yang berat. Mengapa? Karena orang percaya diproyeksikan dimuliakan bersama dengan Yesus, untuk mewarisi Kerajaan Surga dan menerima janji-janji Allah, yang menerimanya bersama-sama dengan Yesus.  Tetapi banyak orang Kristen berpikir bahwa yang namanya kasih karunia itu gratis. Setelah gratis, masuk surga juga gratis, menjadi anak Allah juga gratis, dimuliakan bersama dengan Yesus juga gratis. Ini sesat, salah, keliru sekali.
    Yesus mati di kayu salib memang gratis. Ingat, semua dosa kita dipikul oleh Dia. Bahkan, semua dosa dunia. Baik seseorang tahu atau pun tidak tahu, dosanya telah dipikul. Sama seperti Adam jatuh dalam dosa. Oleh seorang Adam, baik semua orang yang tahu ataupun yang tidak tahu harus memikul dosa Adam. Tapi tidak otomatis semua masuk surga. Ingat, orang yang di luar Kristen harus menggelar kehidupan yang harus mengasihi sesama seperti diri sendiri, baru boleh masuk dunia yang akan datang. Kalau orang Kristen, lebih berat, yaitu menjadi serupa dengan Yesus. Yesus inilah model manusia yang dikehendaki oleh Allah.  Karena gratis tadi, semua serba gratis, tidak ada perjuangan untuk bertumbuh, sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, maka tidak sedikit orang Kristen yang moral dan karakternya sama dengan anak-anak dunia yang tidak mengenal keselamatan dalam Yesus Kristus, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang karakternya lebih buruk daripada orang-orang non-Kristen. Padahal, Tuhan Yesus mengatakan kepada kita di Matius 5:20 bahwa hidup keagamaan orang percaya atau kebenaran orang percaya, yang dalam bahasa aslinya dikaiosune yang berarti harus melebihi para ahli Taurat dan orang Farisi.
    Para ahli Taurat dan orang Farisi pada jamannya adalah sosok-sosok manusia yang dianggap sebagai rohaniwan yang memiliki standar moral dan karakter lebih dari manusia pada umumnya. Namun Yesus berkata bahwa orang percaya harus melebihi mereka. Berarti orang percaya memiliki standar karakter dan moral lebih dari tokoh-tokoh agama mana pun.
    0 min
  • Layak Dimahkotai
    Menjadi keharusan—tetapi juga sekaligus keniscayaan—untuk memiliki kehidupan yang serupa dengan Yesus, artinya hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Sebab, hanya dengan kehidupan serupa dengan Yesus, kehidupan yang tidak bercacat dan bercela, kita diperkenan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Inilah agenda satu-satunya hidup kita. Inilah isi hidup kita satu-satunya. Inilah hidup yang membuat kita benar-benar bermakna. Dalam mengusahakan keselamatan, tidak boleh dipandang sebagai suatu beban. Tetapi harus dipandang sebagai suatu kesukaan. Bukan sebagai suatu kewajiban, melainkan sebagai suatu kebutuhan. Menjadi serupa dengan Yesus, hidup tidak bercacat dan bercela adalah suatu kebutuhan. Dan untuk itu, orang percaya dipanggil menjadi umat pilihan. Sama seperti seorang atlet yang berjuang untuk mencapai prestasi, ia berlatih bukan sebagai suatu kewajiban, melainkan kebutuhan maka dia bisa menikmati latihan tersebut sebagai suatu kesukaan. Misalnya, seorang atlet bulutangkis yang merindukan menjadi juara—bisa memperoleh piala Thomas Cup atau Uber Cup—maka dia harus bangun pagi, harus berlatih. Ia tidak menganggap hal itu sebagai beban, tetapi sebagai suatu kebutuhan dan dia menikmati latihan itu.
    Kalau untuk sebuah mahkota juara fana—seperti sebuah piala Thomas Cup atau Uber Cup yang hari ini bisa diraih dan besok harus dilepas—orang berjuang begitu rupa, mengapa untuk mahkota abadi kita tidak berjuang lebih dari itu? Kalau demi menjadi juara, seseorang harus berjuang—dimana juara yang kita miliki dan nikmati hanya sesaat di bumi, setelah itu lenyap seperti uap—seseorang bisa mempertaruhkan waktu, tenaga, uang, dan pikiran, tapi mengapa untuk mahkota abadi kita tidak berjuang lebih keras?
    Dalam 2 Timotius 2:5 dikatakan “Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara, apabila ia bertanding menurut peraturan-peraturan olahraga.” Dan seorang olahragawan yang sungguh-sungguh ingin mendapatkan juara, dia berjuang dengan sungguh-sungguh. Kenapa untuk sebuah mahkota abadi yang akan kita nikmati dalam kekekalan, kita tidak berjuang lebih sungguh-sungguh? Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 9:25 tertulis: “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” Ini sama dengan yang dikatakan Roma 8:17, “kemuliaan bersama-sama dengan Yesus.”
    Tidak ada mahkota tanpa salib. Tetapi apakah kita sudah memikul salib demi mahkota tersebut? Faktanya, banyak orang Kristen yang menikmati hidup sama seperti anak-anak dunia menikmati hidup. Jelas, mereka bukan orang yang terpilih sebagai umat pilihan yang berpotensi memiliki mahkota yang abadi ini. Jadi, jangan kita menyamakan diri dengan mereka. Orang-orang beragama pada umumnya tidak mengenal hal ini. Berbeda dengan kekristenan yang adalah jalan hidup, dimana kita harus menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Tuhan Yesus dengan segala perjuangan dan pengorbanan-Nya, sehingga Ia dipermuliakan oleh Allah Bapa. Demikian pula kita, sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita harus menjalani hidup seperti yang Yesus jalani. Hanya dengan menjalani hidup seperti yang Yesus jalani, kita akan mendapat kemuliaan bersama-sama dengan Dia di dalam Kerajaan-Nya.
    Keselamatan memang gratis disediakan Allah dengan cuma-cuma. Tanpa perbuatan baik dan jasa kita, Allah sudah mempersiapkan kemuliaan itu. Tetapi, kemuliaan itu tidak dapat kita peroleh secara otomatis. Sebab, kita harus memiliki keadaan yang layak untuk dimahkotai. Tidak mungkin seorang yang tidak berlatih sungguh-sungguh bisa mendapatkan piala atau menjadi juara. Harus ada perjuangan untuk menjadi seorang yang bisa mengangkat piala. Kalau tidak berlatih namun bisa mendapat piala, pasti telah terjadi sebuah ketidakadilan. Tatanan Tuhan sangat jelas dan pasti Allah akan menegakkan bahwa apa yang ditabur seseorang itu juga yang akan dituainya.
    0 min
  • Berjuanglah!
    Tidak mungkin Tuhan memberikan kemuliaan tubuh kebangkitan seperti yang dimiliki oleh Yesus atas orang Kristen yang tidak memiliki ketaatan seperti Dia. Dikatakan dalam Galatia 6:8 tertulis: “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Hanya orang-orang yang memiliki kehidupan seperti Yesus yang akan dibangkitkan seperti Yesus dan memeroleh kemuliaan bersama dengan Dia. Inilah orang-orang yang menabur dalam Roh.
    Banyak orang Kristen berpikir, bahwa asal mereka sudah menjadi Kristen, mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, setelah mati pasti masuk Surga. Padahal, kualitas hidup mereka hari ini tidak bedanya dengan anak-anak dunia. Ini sebuah kebodohan akibat penyesatan. Di dalam seluruh Alkitab Perjanjian Baru, jelas sekali pernyataan dan ajaran Tuhan, serta tulisan para rasul yang mengarahkan agar kita hidup tidak bercacat dan tidak bercela, menjalani hidup sebagai anak-anak Allah yang istimewa dan tidak sama dengan anak-anak dunia ini. Itu jelas.
    Menjadi Kristen memang berat, yang oleh karenanya, Yesus berkata “berjuanglah untuk masuk jalan sempit. Karena banyak orang berusaha, tapi tidak masuk.” Kenapa bisa tidak masuk? Karena sulit dan sukar. Maka, “berjuanglah” dalam bahasa aslinya agonizeste; bertarung; strive, struggle. Hal ini benar-benar membutuhkan perjuangan yang tidak mudah dan berat. Tidak banyak orang Kristen yang mengalami beratnya perjuangan tersebut. Karena didasari oleh kalimat “keselamatan bukan karena perbuatan baik” dengan penafsiran yang salah, sehingga tidak pernah ada perjuangan. Kebanyakan orang senang dengan teologi atau ajaran yang mengajarkan bahwa anugerah membuat kita tidak perlu berjuang. Anugerah membuat kita tidak perlu membayar apa-apa. Dan itu penyesatan. Justru, anugerah keselamatan dalam Yesus Kristus membawa kita kepada perjuangan yang lebih berat dari orang-orang yang tidak memiliki anugerah. Sebab, dengan memiliki anugerah dalam Yesus Kristus, kita harus menjalani hidup seperti hidup yang dijalani oleh Tuhan Yesus. Dengan perjuangan hidup yang berat seperti hidup yang dijalani oleh Yesus, kita akan menerima kemuliaan bersama-sama dengan Dia.
    Jadi, kalau kita menyatakan diri sebagai orang percaya, kita harus masuk dalam pergumulan ini, yaitu pergumulan hidup untuk memperoleh kualitas tubuh kebangkitan dan kemuliaan seperti yang dimiliki oleh Yesus. Karenanya, sejak di dunia ini, kita harus berjuang untuk memiliki hidup seperti hidup yang dimiliki Tuhan. Harus berkualitas hidup seperti kualitas hidup yang dimiliki oleh Tuhan Yesus. Ini yang Tuhan kehendaki atau inginkan dalam hidup kita. Banyak orang tidak suka itu atau tidak mau memiliki kehidupan seperti Yesus. Tidak mau karena berat dan sulit, yang diinginkan oleh kebanyakan orang adalah kehidupan yang mudah dijalani, nyaman seperti manusia lain, tetapi kalau mati masuk surga. Tanpa disadari, ada satu pemikiran bahwa orang Kristen itu memang anak-anak Allah yang istimewa. Istimewanya adalah mendapatkan Kerajaan Surga dengan gratis. Memang Kerajaan Surga diberikan gratis, tetapi untuk hidup di dalam Kerajaan itu harus berjuang. Sebenarnya, yang gratis itu adalah kesempatan dan potensi untuk memiliki Kerajaan itu. Sama seperti jika seseorang mendapatkan mobil secara gratis. Ia tidak akan bisa menikmati mobil atau memilikinya, kalau ia tidak bisa mengendarainya.
    Kerajaan Surga diberikan gratis, tetapi untuk bisa memiliki dan menikmati Kerajaan Surga, seseorang harus mengalami perubahan. Itulah harga yang harus dibayar. Bagaimana Kerajaan Surga yang kudus dimasuki orang-orang yang tidak terlatih untuk menjadi anak-anak Allah atau orang-orang yang bermartabat bangsawan surgawi? Bagaimana Kerajaan Allah dimasuki orang yang karakternya berantakan? Sangatlah mustahil. Jadi, Rumah Bapa itu hanya dihuni oleh orang-orang yang serupa dengan Yesus. Orang yang tidak serupa dengan Yesus tidak aka...
    0 min
  • Kuasa Kebangkitan-Nya
    Tuhan Yesus mengatakan di dalam Injil Yohanes, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat” (Yoh. 20:29). Ayat ini muncul dalam konteks ketika Thomas tidak yakin bahwa Yesus telah benar-benar bangkit, sehingga ia mengatakan, “aku tidak akan percaya sebelum aku mencucukkan jariku ke bekas paku di tangan Tuhan dan ke dalam lambung-Nya.” Mengapa demikian? Karena memang belum pernah ada kejadian orang mati dalam keadaan yang begitu parah seperti disalib, lalu mengalami kebangkitan. Kalau Yesus membangkitkan orang mati, mereka bisa memercayainya. Tetapi kalau Yesus sendiri bangkit, lalu siapa yang membangkitkan? Lalu, dalam keadaan tubuh yang terkoyak, artinya dengan luka yang sangat parah dan tangan yang dipaku, bagaimana bisa bangkit? Jadi, ketidakpercayaan Thomas sebenarnya cukup beralasan, karena memang sulit untuk memercayai adanya kebangkitan atas kasus Yesus ini. Tetapi Yesus bangkit, dan Yesus berkata, “berbahagialah orang yang tidak melihat namun percaya.” Kita tidak pernah melihat kebangkitan Yesus secara fisik. Kita tidak melihat kubur kosong pada waktu itu. Tetapi kita percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit.
    Rasul Paulus mengatakan, “yang kukehendaki ialah mengenal kuasa kebangkitan-Nya,” artinya mengalami Yesus yang benar-benar bangkit itu. Dan karena memercayai Yesus yang benar-benar bangkit, maka dia mengenal kuasa kebangkitan-Nya. Inilah yang harus kita miliki, walaupun kita tidak pernah bertemu muka dengan muka dengan Yesus, tidak pernah melihat kebangkitan Yesus, tapi kita percaya bahwa Dia benar-benar bangkit. Inilah yang melandasi kita dalam menghayati kehadiran Tuhan dalam hidup kita dan kuasa yang membangkitkan Yesus, kita alami dalam hidup kita hari ini.
    Memang tidak banyak orang yang mengalami kuasa kebangkitan Tuhan, karena mereka tidak meyakini sungguh-sungguh bahwa Ia bangkit. Memercayai Tuhan yang bangkit, bukan hal sederhana. Tidak mudah, karena kita tidak pernah lihat dengan mata kepala sendiri. Tetapi kita memercayai-Nya dan kita meyakini bahwa Dia yang bangkit itu berjanji menyertai kita senantiasa sampai akhir zaman. Dan kalau kita memercayai Dia, bahwa Dia hadir dalam seluruh perjalanan hidup kita ini, maka kita bisa menaruh pengharapan kepada-Nya dalam segala keadaan. Artinya, ketika kita menghadapi keadaan-keadaan sulit, kita percaya bahwa Tuhan ada bersama dengan kita dan mendampingi kita.
    Ketika Tuhan berkata, “percayalah, aku mendampingi kamu senantiasa sampai kesudahan zaman,” itu konteksnya adalah ketika Tuhan Yesus berkata “jadikan semua bangsa murid-Ku.” Tuhan Yesus hidup dan hadir untuk melatih, mendidik, dan menjadi Guru bagi kita. Dalam keadaan sulit, kita harus percaya bahwa pendampingan-Nya ada dalam keadaan itu, Dia tidak pernah berhenti mengajar dan mendidik kita. Jadi, dengan pengertian ini, ketika kita menghadapi keadaan yang sulit, kita tidak mencari jalan keluar terlebih dahulu, tetapi kita mau menemukan apa maksud Tuhan di balik masalah tersebut. Tanpa merasa takut bahwa masalah itu akan menenggelamkan atau mencelakai kita. Sebab, dalam kamus kehidupan orang percaya, tidak ada kata “kecelakaan.” Semua di dalam kontrol dan monitor Allah. Semua mendatangkan kebaikan, bukan kecelakaan.
    Ketika kita mengalami sesuatu yang buruk, kita berkata, “celaka ini!” Tidak demikian, kita harus menggantinya dengan “ini kebaikan!” Sebab, Dia bukan Tuhan yang mati. Ia Tuhan yang hidup, hadir, dan menyertai kita. Kuasa kebangkitan-Nya itulah yang bisa kita rasakan, yaitu dengan kehadiran Tuhan yang memberikan kita bimbingan, tuntunan, dan nasihat, agar kita bisa belajar dari Yesus dan hidup seperti hidup yang Dia jalani. Dengan hidup seperti hidup yang Dia jalani, maka kita akan mencapai ketaatan seperti ketaatan-Nya. Dan karena ketaatan itu, Ia dibangkitkan (Ibr. 5:7-9). Dia dibangkitkan bukan karena Ia Anak Allah, lalu Allah nepotisme, melainkan karena Dia saleh. Karena kesalehan-Nya, Dia didengar.
    Kuasa kebangkitan Tuhan Yesus adalah pendampingan-Nya...
    0 min
  • Manusia Hari Esok
    Orang-orang Kristen yang benar hidupnya seperti tidak menginjak tanah, tidak down to earth. Perkataan-perkataannya, pokok pembicaraannya bisa tidak down to earth di telinga orang-orang yang masih duniawi, atau “tidak nyambung.” Mengapa? Sebab, orang percaya yang benar memang orientasi berpikirnya selalu kekekalan. Segala sesuatu yang dia lakukan dalam hidup ini selama di dunia, hanya terfokus kepada kekekalan. Sehingga, kehidupan di dunia ini sebenarnya hanya persiapan untuk kekekalan saja. Memang, kalau hanya dilihat sekilas, orang percaya yang benar sama seperti yang lain. Tetapi, kita harus bersikap sebaik-baiknya sehingga bisa hidup di tengah masyarakat dalam sosialisasi yang baik. Tetapi kalau orang mengamati hidup kita secara dekat, menyentuh hidup kita dalam percakapan-percakapan, baru mereka tahu bahwa kita memang seperti orang-orang yang “tidak menginjak tanah”.
    Inilah yang dilakukan oleh Abraham. Ketika meninggalkan kampung halamannya atau negerinya, dari Ur-Kasdim ke Haran, dari Haran terus, tidak pernah kembali lagi ke negeri asalnya. Itu dilakukan oleh Abraham hanya demi menemukan negeri yang Tuhan tunjukkan. Sedangkan, dia juga tidak tahu negeri itu bagaimana bentuknya. Ternyata negeri itu bukan di dunia. Itu Kanaan surgawi. Abraham luar biasa, walaupun dia memiliki kesempatan untuk kembali ke kampung halamannya, dia tidak kembali. Dia mencari kota yang dibangun dan direncanakan oleh Allah sendiri (Ibr. 11:10). Ia mencari negeri yang memiliki dasar, yang dibangun dan direncanakan oleh Allah. Dan negeri itu ternyata bukan di dunia. Ternyata itu tanah air surgawi (Ibr. 11:16).
    Abraham tidak pernah surut dalam mengarahkan diri pada negeri itu, walaupun dia tidak tahu di mana negeri itu. Kita sebagai umat Perjanjian Baru mengetahui negeri itu, yaitu langit baru dan bumi baru. Orientasi hidup kita sepenuhnya harus selalu diarahkan ke situ, walaupun kita belum pernah ke sana. Dan memang tidak perlu harus ke sana dulu, mendapat mimpi, atau penglihatan baru percaya. Jangan kita merasa kecil hati karena tidak memiliki penglihatan seperti orang-orang tertentu yang katanya pernah diangkat atau naik ke surga, atau melihat surga lewat mimpi dan ditulis dalam buku. Jelas, surga itu riil, tidak perlu harus mendapat penglihatan atau mimpi diangkat ke surga, baru percaya adanya surga. Kita percaya, dan itu adalah tujuan akhir kita. Dan kita benar-benar mempertaruhkan hidup kita untuk tujuan akhir perjalanan itu. Jangan mengaku pernah meliat surga melalui penglihatan, mimpi, atau diangkat Tuhan, tetapi kehidupan di bumi tidak menunjukkan sedang mengarahkan diri kepada kekekalan itu.
    Walau kita tidak pernah diangkat ke surga, tidak pernah mendapatkan mimpi, penglihatan ke surga, tetapi hidup kita jelas kita arahkan hanya untuk Kerajaan Allah. Itu membuat orang melihat surga. Orang sudah bisa “melihat surga” melalui hidup kita. Ini yang dikatakan Tuhan Yesus di Matius 5:14-15, “Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi. Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.” Kota di atas bukit itu Yerusalem, yang pada malam hari, lampu-lampunya akan menunjukkan itulah kota Yerusalem. Kalau tidak, benar-benar gelap gulita. Karena saya pernah ada di wilayah itu, kalau tidak ada lampu, kita tidak tahu mana kota Yerusalem.
    Ketika Yesus berkata, “melihat perbuatanmu, mereka melihat kota yang terletak di atas bukit,” artinya perbuatan ini bukan hanya perbuatan secara moral umum, melainkan seluruh gaya hidupnya menunjukkan bahwa kita tidak fokus kepada kesenangan dan perkara dunia. Kita fokus hanya untuk hidup kekekalan. Dan itu akan tampak sekali. Tentu dari kesucian hidup, dari suasana jiwanya yang tidak ditentukan hiburan dunia, dan kesediaannya untuk mengorbankan apa pun yang ia miliki untuk kepentingan Kerajaan Allah. Ditandai lagi dengan kekokohan dan keteguhannya m...
    0 min
  • Bentuk Pembelaan Bapa
    Tuhan Yesus mengajarkan kebenaran yang tidak sama dengan apa yang agama Yahudi atau pun agama samawi ajarkan. Yang diajarkan Tuhan Yesus adalah kehidupan yang menuruti keinginan Allah, bukan kehidupan yang sekadar menuruti hukum. Ini prinsip penting. Yang membawa orientasi berpikir umat pilihan Perjanjian Baru bukan pada kehidupan di bumi ini. Kalau orang masih pada tataran hukum, maka masih ada dalam area “jika taat mendapatkan berkat, jika tidak taat mendapatkan kutuk atau laknat” (Ul. 28). Tuhan Yesus mengajarkan kita pada tataran manusia batiniah. Jadi, kehidupan yang menuruti kehendak Allah sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan fokus atau berkat yang ia terima bukanlah di bumi ini, melainkan di kekakalan.
    Kalau dalam hukum Taurat, taat memperoleh berkat; tidak taat, akan mendapat laknat. Tetapi dalam kekristenan, melakukan keinginan atau kehendak Allah, belum tentu diberkati secara finansial. Kalau bangsa Israel taat, maka Tuhan memberkati ternak, ladang, pekerjaan mereka. Mereka bisa banyak berkat jasmani. Tetapi kalau orang percaya, umat pilihan Perjanjian Baru, melakukan apa yang diingini oleh Allah Bapa bukan berarti langsung secara finansial berlimpah. Malah sering sebaliknya, Allah membiarkan orang-orang yang hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah atau hidup sesuai pikiran dan perasaan Allah tetap teraniaya, tetap dalam kemiskinan, tidak memiliki kenyamanan hidup sama sekali sampai mati. Itu yang dialami gereja mula-mula, yang jelas menjadi peta kehidupan kekristenan yang harus dijalani oleh orang percaya.
    Jadi, kalau seseorang menuruti keinginan Allah atau melakukan kehendak-Nya, itu upah atau berkatnya nanti di kekekalan, bukan di bumi ini. Di bumi, jangan harap mendapat sesuatu secara finansial atau pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi kalau kita sungguh-sungguh hidup seturut dengan keinginan atau kehendak Allah, maka yang akan kita peroleh nanti itu kekekalan. Dalam Galatia 6:8 firman Tuhan mengatakan, “Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.” Jangan berharap dengan ikut Tuhan Yesus, hidup dalam kekudusan dan kesucian, kita bisa menikmati kenyamanan di bumi. Belum tentu. Kadang-kadang, keadaan kita tetap sulit. Dan ternyata, kesulitan dan ketidaknyamanan hidup di bumi merupakan cara atau bentuk perlindungan Allah; bentuk pembelaan Allah atas kita supaya kita tidak binasa. Dengan ketidaknyamanan yang kita jalani dalam hidup ini, justru kita memiliki kehidupan rohani yang makin murni dan benar. Kita diajar untuk menabur di dalam roh supaya kita menuai kemuliaan nanti, di balik kubur kita.
    Ketika seseorang hidup menuruti kehendak Allah, keadaannya tidak menjadi baik menurut versi manusia, sehingga banyak orang tidak ingin memilih jalan ini. Untuk apa hidup dalam kesucian, jika keadaannya tidak berbeda dengan orang-orang dunia yang hidup dalam dosa? Bahkan kenyataannya, malah lebih sulit. Kalau tidak jujur, subur; jujur malah hancur. Akhirnya, orang tidak mau mengambil pilihan untuk hidup dalam kehendak Allah atau hidup suci, artinya, hidup dalam daging, dan ini akan menuai kebinasaan. Barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan.
    Sesuatu yang menyedihkan, kalau gereja mengajarkan seakan-akan ketaatan pada Tuhan akan selalu membuahkan kehidupan yang nyaman di bumi, berkat, kemakmuran, pemenuhan kebutuhan jasmani. Itu tidak tepat. Gereja mula-mula itu gereja yang teraniaya, dan tidak sedikit orang Kristen yang sejak lahir sampai mati terus teraniaya. Yesus sendiri juga menunjukkan warna hidup dan gaya hidup seperti ini. Ketaatan-Nya kepada Bapa tidak membuat Dia dimuliakan manusia, terhormat di mata manusia, bahkan yang Dia alami adalah caci maki, hinaan, ludah, dan sampai pada penyaliban. Tetapi justru keadaan itulah yang membuat Yesus memuliakan Allah Bapa. Ia menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.
    0 min
  • Sulit Mengerti
    Sejatinya, apa yang diajarkan Tuhan Yesus hanya bisa dimengerti oleh mereka yang sungguh-sungguh bersedia tidak hidup wajar seperti manusia lain. Selama seseorang masih mau hidup wajar seperti manusia lain, ia tidak bisa mengikuti ajaran Tuhan Yesus. Orang yang masih mau hidup wajar, tidak akan bisa mengerti apa yang dikatakan Paulus dalam surat-suratnya, karena Paulus hidupnya tidak wajar seperti Gurunya. Yesus ini manusia yang hidup-Nya tidak wajar, tidak seperti manusia lain. Filipi 2:5-7 mengatakan bahwa Dia mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba padahal Dia seorang yang memiliki kemuliaan. Bayangkan, mengapa bisa demikian? Orang biasanya malah mencari kemuliaan bagi dirinya, tetapi Yesus menanggalkan kemuliaan. Biasanya orang hidup hanya untuk kepentingan dan kesenangannya sendiri, tetapi Yesus berprinsip dalam pengakuan-Nya: “Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Sungguh tidak wajar. Sejujurnya, itulah sebabnya sulit mengerti apa yang dikatakan Tuhan Yesus kalau kita masih mau hidup wajar seperti manusia lain. Kita juga tidak akan bisa mengerti apa yang ditulis oleh Paulus, kalau kita masih hidup wajar seperti manusia lain, tidak hidup seperti hidup yang dijalani oleh Paulus.
    Bagaimana kita bisa mengerti ucapan Tuhan Yesus yang mengatakan, “jangan kumpulkan harta di bumi, tapi kumpulkan harta di surga. Sebab, di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Umumnya, orang mau mengumpulkan harta di bumi. Bagaimana mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya, membangun rumah sebesar-besarnya, memiliki barang semewah-mewahnya. Ini bertentangan dengan gaya hidup manusia pada umumnya. Itulah seperti yang Yesus katakan, “Kalau kamu ditampar pipi kanan, berikan pipi kirimu.” Biasanya orang ditampar, membalas menampar. Dan banyak lagi apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yang tidak akan bisa dimengerti oleh pikiran manusia yang masih mau hidup wajar seperti manusia lain. Juga tulisan Paulus, seperti misalnya “asal ada makanan, pakaian, cukup.” Ini tidak mudah untuk bisa dimengerti. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Apa itu? Belum lagi di Kolose 1:1-3, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Dan banyak lagi. Oleh sebab itu, bisa dimengerti mengapa Yesus berkata, “jika mau ikut Aku, kamu harus melepaskan segala sesuatu” (Luk. 14:33).
    Jadi, begitu kita berprinsip mau ikut Yesus berarti kita harus meninggalkan segala sesuatu. Murid-murid Yesus pada mulanya seakan-akan bisa meninggalkan segala sesuatu, walaupun belum. Karena memang mereka menginginkan sebuah perubahan nasib secara duniawi. Mereka mengharapkan Yesus menjadi Raja dunia, dan mereka bisa menikmati kemuliaan sebagai pegawai dan hulubalang dari Raja itu. Pada mulanya, mereka ikut Yesus dengan motivasi demikian. Sebenarnya, mereka masih mau hidup wajar. Hanya saja, caranya berbeda. Kalau orang-orang Yahudi yang lain dengan caranya, sedangkan murid-murid Yesus dengan cara ikut Yesus. Tetapi sebenarnya sama, masih hidup wajar seperti manusia lain.
    Ini sama dengan orang-orang Kristen yang ikut Yesus—tetapi dasarnya bukan karena mau meninggalkan dunia dan mau ikuti cara hidup Yesus—melainkan supaya dapat menjalani hidup di bumi ini dengan jaminan pertolongan Tuhan. Ini sama seperti orang yang berurusan dengan dukun karena mau mendapat jalan keluar dari masalah hidupnya. Karena mau mendapat penyelesaian, mereka berurusan dengan dukun itu. Setelah masalahnya selesai, maka selesai pula urusannya dengan dukun itu. Hendaknya kita tidak berurusan dengan Tuhan hanya karena membutuhkan pertolongan-Nya dan jalan keluar dari masalah-masalah hidup, sehingga datang ke gereja. Setelah itu, sudah selesai. Tetapi mestinya Yesus adalah Tuhan dakam segenap hidup kita ...
    0 min
  • Yesus, Cukup Bagiku
    Allah tersanjung jika kita berurusan dengan Dia, karena Dia Pribadi, bukan karena berkat jasmani. Berurusan dengan Allah bukan karena sedang membutuhkan sesuatu yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi karena kita membutuhkan Dia. Itulah yang sering dikatakan sebagai “Tuhan segalanya; You are my everything.” Dengan demikian, seseorang bisa memiliki prinsip “Yesus cukup bagiku.” Dan logikanya, kalau kita percaya Allah itu Bapa yang Mahabesar, memiliki segala kekayaan jagat raya yang tidak terbatas ini, menjadi anak Allah itu sudah cukup. Tidak memerlukan apapun lagi. jika kita merasa masih memerlukan sesuatu yang lain, berarti kita tidak menganggap Dia besar, kita tidak memercayai bahwa Dia kaya dan memiliki segala kemuliaan.
    Kalau kita bisa menjadi orang percaya, menjadi utusan Kristus, pelayan Tuhan Yesus, itu cukup. Karena Yesus menjadi Raja di atas segala raja, Raja atas jagat raya ini. Menjadi hulubalang, pelayan Tuhan Yesus, lebih besar dari presiden di dunia ini, bahkan lebih dari presiden suatu negara adikuasa di dunia ini. Jadi, kalau kita mengatakan “Yesus cukup bagiku” dengan sikap yang benar berarti kita menyanjung Allah. Jadi, kalau kita membutuhkan Tuhan Yesus, karena memang hanya Dia satu-satunya yang butuhkan, bukan yang lain—bukan melirik kuasa-Nya, berkat-Nya, atau mukjizat-Nya. Sikap ini baru benar-benar menyanjung Tuhan.
    Hendaknya kita tidak berkata “Yesus sungguh baik, Allah sungguh baik” lalu setelah itu berkata: “Tuhan, nyatakan mukjizat-Mu.” Itu sebenarnya kurang patut dan kurang pantas. Sama seperti kalau seorang pria berkata kepada seorang wanita “I love you, I need you” hanya karena melihat wajahnya yang cantik, atau orangtuanya yang kaya, supaya kalau menikah dengan gadis itu, ikut mewarisi harta kekayaan orangtuanya. Itu licik dan jahat, bukan cinta yang murni dan tulus.  Dengan berprinsip “Yesus cukup bagiku,” seseorang tidak akan terikat dengan dunia. Dengan hal ini dia tidak akan memuaskan dagingnya dengan nafsu-nafsu rendahnya. Dengan hal ini berarti pula dia hanya mau menyukakan, menyenangkan hati Allah, dan melayani Tuhan Yesus. Orang yang memiliki prinsip “Yesus cukup bagiku” akan melakukan segala sesuatu bagi Tuhan. Kalau kita mengatakan “Yesus cukup bagiku,” maka hidup kita ditujukan sepenuhnya hanya untuk mengabdi dan melayani Dia.
    Faktanya, banyak orang berkata, “Kau segalanya bagiku, Tuhan”, padahal yang mereka butuhkan adalah bagaimana sukses dalam karier, studi, bagaimana meraih dunia ini. Sebenarnya mereka tidak menjadikan Yesus segalanya karena masih ada ruangan dalam hatinya untuk yang lain. Orang-orang seperti ini biasanya memanfaatkan Tuhan, bukan “bagaimana memberi diri untuk dimanfaatkan oleh Tuhan.” Mestinya, kita yang telah ditebus oleh Tuhan Yesus menjadi milik-Nya, dan hidup kita bermanfaat bagi pekerjaan Tuhan. Bagaimana kita bermanfaat bagi Tuhan, bukan bagaimana memanfaatkan Tuhan. Orang yang masih memanfaatkan Tuhan, kalau dia orang Kristen baru, masih bisa dimaklumi sebab dia belum mengerti. Tetapi ketika anak sudah mulai dewasa, dia harus membalas kebaikan orangtua dan mengabdi kepada orangtua, demikian pula orang percaya. Mestinya kita sampai pada satu tahap dimana kita hidup untuk bermanfaat bagi Tuhan.
    Orang yang sungguh-sungguh berprinsip “Yesus cukup bagiku,” bisa menghayati yang dikatakan Paulus, “asal ada makanan dan pakaian, cukup.” Baru bisa menghayati hal itu. “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Baru bisa mengerti dan menghayati itu dengan benar. Baru bisa mengerti yang dikatakan Paulus dalam 2 Korintus 5:14-15, kalau Yesus telah mati untuk kita, kita semua telah mati. Kalau kita hidup, kita hidup bagi Dia yang telah mati bagi kita. Orang yang berkata “Yesus cukup bagiku,” pasti hidupnya ringan, artinya tidak terikat dengan ikatan dunia. Untuk bisa mencapai kehidupan seperti ini, harus bergumul dan belajar dengan seungguh-sungguh. Tuhan pasti pimpin kita. Hidup akan terasa ringan,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…