Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjalar Kepada Orang Percaya
    Dalam Roma 5:10-11 tertulis: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya! Dan bukan hanya itu saja! Kita malah bermegah dalam Allah oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, sebab oleh Dia kita telah menerima pendamaian itu.” Bermegah dalam Allah oleh Yesus artinya merasa berharga, bangga, dan hidup berkelimpahan dalam Yesus Kristus, walau secara lahiriah berkekurangan, bahkan hidup dalam penganiayaan. Karena hal ini, jemaat Roma rela menanggung segala penderitaan dan rela kehilangan segala sesuatu demi imannya kepada Kristus.
    Kalau jemaat Roma tidak setia kepada Kristus—artinya tidak bersedia hidup dalam kesucian dan tidak rela menderita bagi Kristus—maka perdamaian dengan Allah tidak akan terwujud atau tidak berlangsung dengan benar. Terkait dengan ini, Paulus dalam Roma 6:1-6 menulis: “Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu?Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.”
    Kalimat “diselamatkan oleh hidup-Nya” bisa berarti bahwa kualitas hidup Yesus yang taat kepada Bapa atau hidup dalam kesucian “menjalar” dalam kehidupan orang percaya. Sebagaimana “dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa” maka melalui hidup Yesus, kehidupan yang benar dapat “menjalar” dalam kehidupan orang percaya, yang memberi diri diperdamaikan dengan Allah. Meneguhkan pengertian terhadap kebenaran di atas ini, kita harus memerhatikan Roma 5:19-21, yaitu: “Jadi sama seperti oleh ketidaktaatan satu orang semua orang telah menjadi orang berdosa, demikian pula oleh ketaatan satu orang semua orang menjadi orang benar. Tetapi hukum Taurat ditambahkan, supaya pelanggaran menjadi semakin banyak; dan di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia menjadi berlimpah-limpah, supaya, sama seperti dosa berkuasa dalam alam maut, demikian kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal, oleh Yesus Kristus, Tuhan kita.”
    Oleh sebab itu, pengertian kasih karunia tidak boleh hanya diisi sebagai suatu pemberian cuma-cuma yang di dalamnya manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga. Tetapi, di dalam kasih karunia terdapat kemungkinan untuk memiliki kualitas hidup seperti yang dimiliki oleh Yesus. Jadi, kalau kasih karunia hanya dipahami sebagai pemberian cuma-cuma terkait dengan diperkenankannya manusia masuk surga—tanpa terkait dengan kualitas hidup seperti Yesus—maka itu bukan kasih karunia dalam arti utuh atau lengkap. Justru kasih karunia berporos pada kehidupan yang dikembalikan ke rancangan semula. Yesuslah model manusia yang dikehendaki oleh Allah.
    Kasih karunia yang dipahami sekadar suatu pemberian cuma-cuma yang di dalamnya manusia terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga, adalah kasih karunia tanpa tanggung jawab. Akhirnya, kasih karunia seperti ini sia-sia. Hal ini sama dengan keselamatan yang begitu berharga menjadi sia-sia tanpa dikerjakan dengan takut dan gentar. Itulah sebabnya, menjadi sesuatu yang mutlak dimana orang percaya harus hidup d...
    0 min
  • Diselamatkan Oleh Hidup-Nya
    Dalam Roma 5:10 firman Tuhan mengatakan, “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Apa yang dimaksud dengan kalimat “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!”? Untuk memahami ayat ini, kita harus membaca seluruh pasal 5 dan pasal berikutnya (pasal 6). Kalimat “lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” dalam teks aslinya adalah pollo mallon katallagentes sothesometha en te zoe autou (πολλῷ μᾶλλον καταλλαγέντες σωθησόμεθα ἐν τῇ ζωῇ αὐτοῦ). Pollo artinya much, many (banyak). Pallon artinya more, rather (lebih). Katallagentes artinya to be reconciled (diperdamaikan). Sothesometha artinya diselamatkan (to be saved). En te zoe autou berarti by His life (oleh hidup-Nya).
    Dalam Vulgata yaitu Alkitab bahasa Latin, diterjemahkan: salvi erimus in vita ipsius. Apa arti kalimat “kita diselamatkan oleh hidup-Nya?” Kalimat “diselamatkan oleh hidup-Nya” berarti oleh kebangkitan Yesus, orang percaya dapat memeroleh kehidupan. “Kehidupan” di sini artinya kehidupan yang sesuai dengan maksud kehidupan itu dirancang oleh Allah. Kita “diselamatkan oleh hidup Yesus” mengandung pengertian bahwa oleh kesalehan, ketaatan, atau kesucian Yesus, kita dapat memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Dia. Untuk ini, perlu dijelaskan bahwa kebangkitan Yesus terjadi karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Kalau Yesus tidak taat sampai mati, Ia tidak akan pernah mengalami kebangkitan, artinya Ia tetap dalam kubur kematian, berarti tidak hidup. Karena kesalehan, kesucian, atau ketaatan-Nya kepada Allah, Ia memperoleh kebangkitan-Nya (Ibr. 5:7-9). Kebangkitan-Nya adalah kemenangan yang menyediakan fasilitas keselamatan, agar orang yang percaya kepada-Nya memiliki kuasa agar dapat memiliki kehidupan yang sempurna seperti Dia.
    Yesus harus memperjuangkan kebangkitan-Nya atau hidup-Nya. Ini bukan sesuatu yang mudah, karena Allah tidak menskenario perjuangan Yesus sampai kepada kemenangan secara otomatis berdasarkan skrip atau naskah drama. Dalam hal ini, kehidupan Yesus adalah kehidupan yang penuh perjuangan, bukan sandiwara. Hal ini sejajar dengan proses kehidupan keselamatan kita, bukan diskenario oleh Allah, melainkan perjuangan yang harus kita jalani—yaitu mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Maksud penjelasan ini adalah bahwa kehidupan Yesus yang menjadi penyebab kita memiliki keselamatan, harus menjadi kehidupan kita juga. Jadi, orang percaya bukan hanya diperdamaikan secara status, melainkan juga benar-benar dalam perdamaian yang harmoni dengan Allah. Itulah sebabnya, kita harus memiliki perjuangan untuk memiliki keadaan yang benar-benar bisa berdamai dengan Allah.
    Untuk memiliki keadaan yang benar-benar berdamai dengan Allah, orang percaya harus memiliki hidup seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya dikatakan dalam firman Tuhan bahwa kita diselamatkan oleh hidup-Nya. Kalau Yesus tidak berhasil memiliki kehidupan yang sempurna, Ia tidak dapat menjadi pokok keselamatan; artinya tidak dapat menggubah dan menjadi teladan hidup yang sesuai dengan rancangan Allah (Ibr. 5:7-9). Dengan keberhasilan Yesus mencapai kehidupan sesuai rancangan Allah, maka Ia dapat menjadi “Yang Sulung di antara banyak saudara.” Adam pertama gagal menjadi pokok keselamatan, tetapi Yesuslah yang menjadi pokok keselamatan bagi mereka yang taat kepada-Nya. Kalimat “yang taat kepada-Nya” menunjukkan hanya orang-orang yang meneladani hidup-Nya yang dapat mencapai kesempurnaan seperti Dia, sehingga bisa berdamai dengan Allah secara ideal.
    Supaya pengertian mengenai kebenaran ini menjadi lebih kokoh dan teguh, maka kita harus memerhatikan seluruh pasal Roma 5. Dalam Roma 5:1-5 tertulis: “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman,
    0 min
  • Menyesuaikan Diri
    Sejatinya, standar bisa berdamai dengan Allah secara ideal adalah menjadi seperti Yesus. Kalau kita makin seperti Yesus, maka kita semakin bisa berdamai dengan Allah. Untuk itu, kita harus mematikan segala keinginan daging, sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah. Orang yang sedikit-sedikit marah, bertindak hendak menyakiti orang lain, apalagi merasa kuat dan bisa mengancam orang lain, mau memenjarakan orang dan bangga bisa menyakiti orang lain, adalah orang-orang yang tidak berdamai dengan Allah. Jadi, ironis sekali kalau dalam lingkungan gereja, di antara para majelis dan pendeta ada konflik seperti itu.
    Oleh sebab itu, kita harus belajar memiliki karakter yang lemah lembut dan tenteram. Pada waktu kita disakiti, kita diam saja; kita difitnah, kita diam saja; kita di-bully, kita diam saja. Kenapa kita begitu? Sebab kita mau berdamai dengan Allah. Kalau kita terpancing marah, balas dendam, kita menjadikan diri kita musuh Allah. Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat Efesus, “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.” (Ef. 4:17-18). Maksud Firman ini adalah agar kita tidak lagi hidup seperti dulu. Dulu kita adalah musuh Allah, tapi sekarang kita telah diterima, dibenarkan oleh darah Yesus atau dianggap benar. Oleh sebab itu, kita tidak boleh lagi hidup dan bersikap serta berperilaku seperti dulu, sebelum kita bertobat atau sebelum kita bersungguh-sungguh mau meneladani hidup Yesus.
    Firman Tuhan mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,” (Ef. 19-21). Untuk menjadi orang percaya yang berdamai dengan Allah, kita harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak patut. Itulah manusia lama kita. Jadi, kalau kita belum menanggalkan manusia lama, berarti kita masih menjadikan diri kita musuh Allah. Oleh sebab itu, kalau kita sudah dibenarkan oleh darah Yesus, hendaknya kita tidak boleh hanya cukup dianggap benar. Allah kita jahat, kalau kita hanya dianggap benar supaya masuk surga dengan keadaan tidak benar. Tetapi sesungguhnya, Allah kita Mahabaik. Dia membenarkan kita, supaya kita diubah agar bisa benar-benar berkeadaan menjadi benar.
    Dalam Efesus 4:23-24 tertulis: “… supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, tapi sebenarnya masih dalam keadaan bermusuhan. Kalau seseorang adalah Kristen baru, Tuhan sering menolerir ketika ia masih memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Tetapi kalau terus-menerus berbuat salah, itu berarti ia tidak mau berdamai dengan Allah. Ia harus belajar untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Untuk bisa menemukan perdamaian dengan Allah, seseorang harus dikembalikan ke rancangan Allah semula. Orang yang dalam proses dikembalikan ke rancangan semula pasti mulai tidak mencintai dunia, pasti tidak lagi hidup dalam keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah.
    Itulah sebabnya dalam 1 Yohanes 2:15-17 firman Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidu...
    0 min
  • Menjaga Perasaan Allah
    Betapa mengerikan, kalau kita meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara merasa sudah dikenal oleh Allah dan dalam perdamaian dengan Allah. Oleh sebab itu, Allah yang kita pahami, haruslah Allah yang kita alami. Allah tidak boleh hanya dinalar. Seharusnya kita bukan hanya menalar Allah. Allah yang hidup dan nyata haruslah dialami secara riil. Allah yang hanya dinalar dalam pikiran adalah Allah dalam fantasi, yang ditemukan dalam buku perpustakaan atau karya jurnal ilmiah saja dalam lingkup teologi. Kebanyakan orang mendengar khotbah dari para teolog yang hanya mengisi pikiran dengan ilmu teologi, tetapi tidak hidup dalam perdamaian dengan Allah dalam pengalaman konkret. Pada faktanya, banyak teolog hanya menalar Allah. Orang yang hanya menalar Allah tanpa mengalami-Nya pasti tidak pernah memiliki kehidupan yang berdamai dengan Allah. Hal ini harus dipersoalkan, sebab jemaat yang menjadi korbannya.
    Orang-orang Kristen yang ber-Tuhan secara fantasi, tidak merasakan atau tidak mengenal perasaan Allah secara riil, tetapi merasakan perasaan Allah secara fantasi. Pasti itu allah yang mati, bukan Allah yang benar. Kita mengerti hal ini, sebab kita juga itu sudah pernah terjebak dalam lingkaran itu. Orang-orang seperti ini cakap berteologi, tetapi tidak memiliki kerendahan hati seperti Yesus dan roh yang lemah lembut dan tenteram. Biasanya, mereka memiliki kecenderungan menyalahkan orang lain, bahkan menuding orang lain sebagai sesat atau bidat. Dengan cara demikian, mereka mau menunjukkan bahwa mereka yang paling benar. Tentu biasanya, orang-orang seperti ini suka berdebat hanya untuk membela doktrin, sekaligus mengangkat diri. Mereka bukan orang yang sudah berdamai dengan Allah, bahkan belum berdamai dengan diri sendiri.
    Orang yang rendah hati dan sudah “berisi” biasanya tidak mengangkat diri. Jangan sampai kita terjebak di situ. Kalau seorang teolog terjebak di situ, maka jemaat yang mendengar khotbahnya, membaca tulisannya—baik di buku atau media sosial—akan ikut “terpenjara” dalam nuansa Allah dalam fantasi itu. Allah dalam fantasi adalah allah yang mati dan tidak nyata, sehingga perasaan-Nya tidak benar-benar dirasakan. Mereka menghidupnyatakan Allah dalam fantasi mereka, seakan-akan Allah yang mereka nalar adalah Allah yang benar. Dengan uraian yang tampak argumentatif dan sistematis, mereka merasa telah menemukan dan sedang berperkara dengan Allah yang benar. Padahal, semua serba fantasi.
    Banyak teolog dan jemaat yang diajar memiliki Allah model tersebut. Tentu orang-orang ini cakap berbicara mengenai Allah, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan keagungan pribadi Allah. Dari pernyataan-pernyataan mereka, tampak ketidakagungan watak, karakter, dan kepribadian mereka. Kita jangan sampai tergarami, terkena ragi, dan spirit seperti yang mereka pancarkan. Kita harus belajar memiliki roh yang lemah lembut. Sebab, apa pun yang kita lakukan ini menyangkut perasaan Allah. Kita harus menjaga perasaan Allah. Orang yang benar-benar berdamai dengan Allah, pasti memahami perasaan-Nya. Dalam segala hal yang ia lakukan, ia menjaga perasaan Allah.
    Kita tahu bagaimana melewati tahun-tahun dimana kita tidak menjaga perasaan Allah. Sejujurnya, kita pernah hidup semena-mena terhadap perasaan Tuhan. Tanpa kita sadari, kita menganiaya perasaan Tuhan. Ironisnya, kita tidak menyadari keadaan diri kita dan tidak merasa bersalah. Seorang pendeta atau dosen sekolah tinggi teologi berpotensi lebih besar tidak menyadari keadaan salah tersebut. Mereka bisa berkhotbah, adu argumentasi, merasa diri benar, tetapi sebenarnya tidak diperhitungkan Tuhan. Kita harus sadar bahwa kita tidak hidup di daerah netral yang tidak bertuan. Kita hidup di semesta, dimana ada host, yaitu Tuan Rumah yang harus kita jaga perasaan-Nya; yaitu perasaan Allah. Kalau orang mau berdamai dengan Allah, prinsipnya “kepentinganku hanya diri-Mu, melayani perasaan-Mu.”
    Banyak orang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya k...
    0 min
  • Menunda Berarti Menolak
    Orang yang masih mencari kebahagiaan dari dunia ini tidak akan bisa setia kepada Allah, mereka menjadikan dirinya musuh Allah. Dengan demikian, mereka tidak mungkin dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Orang percaya yang berhenti mencari kebahagiaan dari dunia ini akan sangat giat mencari kebahagiaan hanya dari Tuhan. Orang yang berhenti mencari kesenangan dari dunia pasti mengarahkan hidupnya untuk menyenangkan hati Allah. Ia akan berusaha agar segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Langkah hidup seperti itu juga akan sangat membahagiakan dirinya sendiri. Menjadi kesukaan hati Allah berdamai dengan orang-orang seperti ini. Memang manusia diciptakan hanya untuk Allah, yaitu untuk kesukaan dan kesenangan hati-Nya. Suka tidak suka, memang kita diciptakan untuk itu. Dan menjadi kesukaan hati Allah harus menjadi satu-satunya kebahagiaan yang kita miliki. Dengan hidup demikian, tidak mungkin orang percaya bisa hidup wajar, sebab kita harus teosentris, sementara manusia pada umumya adalah egosentris.
    Dalam Roma 5:10 yang tertulis demikian: “Sebab jikalau kita, ketika masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya, lebih-lebih kita, yang sekarang telah diperdamaikan, pasti akan diselamatkan oleh hidup-Nya!” Dengan darah Yesus, kita dibenarkan di hadapan Allah. Ia menerima kita, tanpa melihat keadaan kita. Tetapi tidak berhenti di situ. Allah mau mengubah kita, itulah sebabnya Ia memberikan Roh Kudus yang menuntun kita kepada segala kebenaran. Ia mengerjakan segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi kita dan menggarap kita, mengerjakan kesempurnaan di dalam hidup kita. Oleh sebab itu, kita harus memenuhi firman Tuhan yang mengatakan: “berilah dirimu diperdamaikan oleh Allah;” be reconciled to God. Kita harus melihat dua aspek atau dua pihak, yaitu: Pertama, dari pihak Allah, yang menyediakan rekonsiliasi atau sarana rekonsiliasi itu yaitu darah Tuhan Yesus yang ditumpahkan dan penggarapan-Nya. Kedua, dari pihak kita, harus bersedia hidup dalam penggarapan Allah agar kita dapat berkeadaan bisa berdamai dengan Allah.
    Ada banyak orang berpikir bahwa darah Yesus sudah menudungi, sehingga Allah menerima kita dan terus membiarkan apa pun keadaan kita sampai nanti ke surga, yang penting darah Yesus telah membungkus. Ini pandangan yang salah. Itulah sebabnya, Tuhan berkata, “jadikan semua bangsa murid-Ku.” Di dalamnya terdapat proses supaya batiniah kita diubah. Dengan batiniah kita diubah, kita bisa berekonsiliasi dengan Allah, bisa tune, ‘klop,’ atau ‘krek’ dengan Allah. Sebagai ilustrasi, karena orangtua sangat sayang kepada anak-anaknya, sewaktu anak-anaknya masih kecil, biarpun anak tersebut mengompol atau nakal, orangtua tidak akan memperhitungkannya. Tetapi orangtua tidak ingin anaknya terus-menerus kekanak-kanakan. Anak harus bertumbuh dewasa, memiliki kedewasaan seperti orangtua, dan bisa “klop” dengan orangtua. Oleh sebab itu, agenda hidup kita satu-satunya hanya bergumul untuk dapat semakin sempurna, serupa dengan Yesus. Sebab hanya dengan keadaan itu, kita bisa berdamai dengan Allah.
    Pertanyaan penting yang harus kita perkarakan saat ini adalah: Apakah kita telah sungguh-sungguh diperdamaikan dengan Allah? Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah, padahal sebenarnya belum. Betapa mengerikan kalau seseorang meninggal dunia dalam keadaan belum diperdamaikan dengan Allah, sementara dia merasa sudah berdamai dengan Allah. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa selalu masih ada waktu untuk berdamai dengan Allah, sehingga ada kecenderungan menunda proses berdamai dengan Allah. Kita harus berpikir bahwa tidak akan ada waktu lagi untuk berdamai dengan Allah. Menunda itu bisa berarti menolak. Men-delay bisa menjadi meng-cancel.
    Allah pasti memberi peringatan untuk berdamai dengan Dia, tetapi kenyataannya banyak orang tidak mau mendengar peringatan-Nya. Pandemi COVID-19 bisa menjadi peringatan,
    0 min
  • Menemukan Diri Sendiri
    Untuk memiliki perdamaian dengan Allah, seseorang harus berkeberadaan moral seperti yang Allah kehendaki. Pertanyaannya, apakah kita sudah berkeberadaan moral manusia batiniah seperti yang Allah kehendaki sehingga bisa berekonsiliasi dengan Allah? Jadi, bukan hanya merasa sudah berstatus dibenarkan, lalu merasa sudah bisa berekonsiliasi dengan Allah. Rekonsiliasi atau hidup berdamai dengan Allah dibangun bukan hanya oleh penebusan darah Yesus yang membenarkan kita, melainkan juga keadaan batiniah atau moral kita yang bisa bersekutu dengan Allah. Itulah sebabnya, menjadi tanggung jawab setiap individu untuk memperbaharui diri guna memiliki moral atau manusia batiniah seperti yang Allah kehendaki.
     
    Ada pula orang-orang Kristen yang merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat. Padahal, ia belum mengerti bagaimana pertobatan sejati itu. Pertobatan bukan saja berhenti dari perbuatan yang melanggar hukum, kemudian aktif dalam kegiatan rohani. Pertobatan yang benar adalah kesediaan terus-menerus meninggalkan cara hidup yang Tuhan tidak kehendaki dalam segala aspeknya demi mengenakan kehidupan Yesus. Pertobatan bukan hanya satu kali, melainkan setiap hari, yaitu ketika cara berpikir kita diubah. Jadi, bertobat selain artinya berbalik (strepho; στρέφω) juga berarti perubahan pikiran (metanoia; μετάνοια). Pertobatan adalah as a change of mind leading to change of behavior repentance (sebagai perubahan pikiran yang mengarah pada perubahan perilaku pertobatan). Pertobatan setiap hari sama dengan pembaharuan pikiran setiap hari. Ini berarti proses pendewasaan atau penyempurnaan yang tidak pernah berhenti.
     
    Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah hanya karena merasa sudah bertobat, artinya sudah meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan moral secara umum, kemudian rajin dalam kegiatan rohani. Tadinya melakukan pelanggaran moral, sekarang berhenti dari pelanggaran tersebut, dan mengaku menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Padahal, pertobatan itu langkah hidup setiap hari. Cara berpikir yang berubah akan mengubah gaya dan cara hidup. Gaya dan cara hidup yang berubah akan terus sampai pada perubahan kodrat, sehingga dari seorang yang berkodrat manusia yaitu berkodrat dosa, menjadi seorang yang berkodrat ilahi, yaitu hidup dalam kesucian. Orang yang tidak semakin berkodrat ilahi, tidak semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah, tidak makin serupa dengan Yesus, dan tidak akan makin sempurna seperti Bapa, tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah.
     
    Jadi, tidak cukup mengatakan sudah bertobat tahun sekian, lalu sekolah teologi, dan jadi pendeta. Inilah yang membuat kekristenan mengalami kemunduran, sehingga kurang, bahkan tidak mempersiapkan umat menjadi mempelai Kristus. Kalau seseorang belum berkarakter ilahi, maka ia tidak bisa ‘klop’ untuk berekonsiliasi dengan Allah. Keadaan orang itu dalam stadium tertentu masih meleset (Yun. Hamartia) sehingga belum bisa menyenangkan hati Tuhan. Tuhan tidak bisa bersekutu dengan orang tersebut. Oleh sebab itu, idealnya, semakin tua kita harus makin tidak meleset. Segala sesuatu yang kita pikirkan dan ucapkan harus semakin selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jika tidak demikian, berarti tidak akan pernah ada rekonsiliasi dengan benar; tidak ada perdamaian dengan Allah.
     
    Memang kalau ada orang Kristen baru dengan keberadaannya yang masih sering meleset atau bahkan melakukan pelanggaran moral, Tuhan masih bisa toleransi. Tetapi kalau seorang Kristen sudah belasan atau puluhan tahun menjadi Kristen, tidak boleh terus-menerus berkeadaan seperti manusia pada umumnya. Ia harus mengalami perubahan kodrat. Pada umumnya, orang masih mencari kesenangan sendiri dan dia tidak memikirkan perasaan Allah. Orang yang masih mencari kesenangan sendiri adalah orang yang mendukakan hati Allah. Sebaliknya, orang yang berusaha menyukakan hati Allah,
    0 min
  • Standar Kerajaan Allah (SKA)
    Untuk memahami lebih lengkap mengenai hal “berdamai dengan Allah,” kita harus memahami pengertian kata “damai.” Kata “damai” bisa memiliki banyak arti. Pertama, sebuah keadaan tenang, biasanya menunjuk tempat yang tidak ada kegaduhan, tempat di mana tidak ada keributan, tidak ada perang, tidak ada perselisihan; keadaan aman, tidak ada ancaman. Kedua, damai juga sering menggambarkan atau menunjuk keadaan emosi yang tidak bergejolak negatif dalam diri seseorang. Karenanya, kata “damai” selalu berkoresponden dengan kata “kebahagiaan” dan “kesejahteraan hidup.” Apa yang dimaksud dengan “perdamaian?” Perdamaian biasanya digunakan untuk menunjuk kepada usaha untuk mengakhiri sebuah perselisihan, mengakhiri sebuah perang, mengakhiri sebuah persaingan untuk saling menjatuhkan, mengakhiri konflik, mengakhiri satu kepentingan, dan mengakhiri sebuah perdebatan atau adu argumentasi.
     
    Di dalam perdamaian, ada langkah kompromi untuk mengakhiri sebuah permasalahan antara dua atau lebih dari pihak yang sedang berselisih atau tidak rukun, yaitu pihak-pihak yang sebelumnya saling merugikan atau menyakiti. Dalam perdamaian, ada usaha untuk meniadakan atau paling tidak mengurangi tuntutan atas pihak tertentu, sehingga tidak ada pihak yang merasa tertekan atau disakiti. Definisi yang dikemukakan di atas adalah definisi “perdamaian” secara umum. Lalu, bagaimana dengan perdamaian dalam konteks hubungan antara Allah dan manusia?
     
    Hubungan Allah dan manusia telah rusak, disebabkan karena manusia tidak melakukan apa yang patut, sehingga manusia merusak keadaannya. Fragmen dari pemberontakan manusia ialah ketika manusia tidak menuruti apa yang dinasihatkan oleh Allah kepada mereka: “jangan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat ini.” Ketidaktaatan manusia kepada Allah merupakan pemberontakan manusia kepada Allah, sehingga menempatkan manusia sebagai musuh Allah. Hal itu menyakitkan hati Allah. Keadaan manusia menyakiti hati Allah, karena manusia tidak berkeadaan sesuai dengan rancangan Allah semula yang membuat manusia tidak bisa bersekutu dengan Allah.
     
    Sebagai ilustrasi, ada orangtua yang gagal membesarkan anak, atau karena memang anak tidak mau dididik. Hati orangtua didukakan, bukan saja ketika melihat kelakuan salah dari anak tersebut, melainkan juga melihat seluruh keberadaan dari anak itu. Keadaan anak tersebut tidak membuat orangtua bisa bersekutu atau berdamai dengan anak. Ilustrasi yang lain, ada seorang pimpinan yang berharap orang kepercayaannya bisa dipercayai untuk melakukan suatu tugas, tapi ternyata ia tidak melakukannya dan tidak mampu melakukannya. Hal itu menghilangkan kesempatan untuk bisa bekerja sama dengan orang kepercayaan tersebut. Keadaan ini menyakiti hati pimpinan. Apalagi kalau orang kepercayaan pimpinan tersebut adalah anak kandung atau saudara, maka akan lebih menyakitkan hati atau mendukakannya.
     
    Keadaan manusia yang telah rusak, dikatakan oleh Paulus dalam Roma 3:23 sebagai “kehilangan kemuliaan Allah.” Manusia berkeadaan tidak sesuai dengan rancangan Allah semula. Manusia telah menjadi manusia yang tidak lagi sesuai standar Allah. Kalau ada SNI (Standar Nasional Indonesia), maka ada pula ada SKA (Standar Kerajaan Allah). Dengan keadaan manusia yang tidak sesuai dengan SKA atau standar yang Allah rancang—karena manusia tidak taat kepada Allah yang pada mulanya dimulai oleh Adam—manusia bukan saja memosisikan diri sebagai musuh Allah, melainkan juga berkeadaan tidak dapat berdamai dengan Allah dalam persekutuan yang ideal. Allah yang baik, Allah mau mengadakan rekonsiliasi dengan manusia. Allah yang memprakarsai ini dengan memberi jalan pendamaian. Jalan itu adalah pengurbanan Putra Tunggal-Nya dan penggarapan atas manusia, agar manusia bisa berkeadaan dapat bersekutu dengan Allah.
    Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “jangan membanggakan atau memegahkan diri, kamu diselamatkan bukan karena perbuatan melainkan karena iman.
    0 min
  • Allah Merasa Nyaman
    Tidak bisa tidak, dengan berusaha hidup dalam perdamaian dengan Allah—dimana kita berusaha untuk sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus—maka kita memiliki kualitas hidup yang luar biasa. Oleh karenanya Yesus berkata, “hidup keagamaanmu harus lebih dari hidup keagamaan ahli Taurat dan orang Farisi” (Mat. 5:20). Jika tidak, maka tidak masuk surga, yang sama dengan tidak memiliki hidup dalam perdamaian dengan Allah. Orang percaya harus memiliki moral yang lebih daripada orang beragama pada umumnya, bahkan lebih dari tokoh-tokoh agama mana pun. Itulah sebabnya, di Matius 5:48 dikatakan bahwa kita harus sempurna seperti Bapa di surga. Sempurna seperti Bapa artinya orang percaya harus bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, yang sama dengan mengenakan kodrat ilahi, mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
     
    Sempurna seperti Bapa bukan berarti kita menyamai Bapa. Kapasitas Allah sempurna, sedangkan kapasitas kita tidak sebesar Allah. Tetapi di dalam atau terkait dengan moral, kita bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, orang percaya dalam karakter atau moralnya seperti miniatur karakter atau moral Allah. Dan inilah sebenarnya inti Injil. Hal ini sama dengan kalau dikatakan kita harus serupa seperti Yesus, bukan berarti kita sempurna sekelas Yesus. Yesus, Tuhan kita, memiliki kapasitas besar dalam segala pergumulan-Nya. Kita memiliki kapasitas yang berbeda, tentu lebih kecil. Tetapi, di dalam kapasitas yang terbatas itu, kita selalu melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Sesungguhnya, inilah inti dari Injil. Sebagai ilustrasi, kalau seseorang memiliki anak yang mirip dengan dirinya, orang bisa berkata bahwa anak itu “mirip bapaknya.” Anak tersebut memang tidak sekapasitas bapaknya, tetapi dia jadi miniatur bapaknya. Dalam hubungan kita dengan Allah sebagai Bapa kita, kita bisa menjadi miniatur-Nya.
     
    Itulah sebabnya Yesus mengatakan, “Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di surga” (Mat. 5:16). Apa yang dimaksud oleh Yesus dengan kalimat “melihat perbuatanmu, memuliakan Bapa?” Kalau bangsa-bangsa melihat kehidupan bangsa Israel, maka mereka melihat kedahsyatan kuasa Allah; tetapi kalau mereka melihat kehidupan orang percaya, mereka melihat karakter Allah. Jadi kalau dipertanyakan siapakah Allah yang benar, maka jawabannya adalah “lihatlah kehidupan bangsa Israel.” Tetapi kalau dipertanyakan bagaimana Allah yang benar? Jawabnya adalah “lihatlah kelakuan orang percaya.” Inilah kehidupan orang percaya yang telah berdamai dengan Allah.
     
    Kalau seorang wanita hidup bersama dengan seorang pria, dan pria ini selalu mengucapkan sumpah serapah, kasar, sedangkan wanitanya lembut, pasti wanita tersiksa dalam hidup dengan pria seperti itu. Keduanya tidak bisa hidup dalam perdamaian. Oleh sebab itulah, Injil dikatakan sebagai kuasa Allah yang menyelamatkan, artinya kebenaran Injil dapat mengubah cara berpikir dan membuat orang percaya mengalami perubahan seluruh perilakunya. Bila hal ini terus berlangsung, maka orang percaya tersebut dalam kondisi berjalan dengan Allah, dan Allah merasa nyaman berjalan dengan orang tersebut. Kehidupan orang percaya seperti itu akan semakin menunjukkan bagaimana Allah yang benar itu.
     
    Jadi, kalau seseorang masih hidup tidak sesuai dengan kesucian Allah, berarti percaya atau iman orang tersebut belum benar. Kesimpulannya, standar hidup yang harus kita capai sebagai orang percaya adalah berkodrat ilahi untuk dapat memiliki keadaan berekonsiliasi dengan Allah. Dan ini harus menjadi pergumulan yang tidak pernah berhenti sampai kita menutup mata. Untuk ini, orang percaya harus rela meninggalkan dunia dan segala kesenangannya, serta berkomitmen untuk hidup dalam kesucian sesuai dengan standar kesucian Allah.
    0 min
  • De Facto
    Secara de jure atau secara hukum, salib Kristus telah membebaskan kita dari segala dosa yang kita lakukan. Hal ini memberi peluang bagi orang percaya untuk diperdamaikan dengan Allah. Tetapi kenyataannya—secara de facto—manusia harus berjuang mengubah diri dengan fasilitas keselamatan yang Allah berikan, yaitu Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran (Yoh. 16:13), Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17), dan proses pembentukan Allah melalui setiap peristiwa yang kita alami (Rm. 8:28). Fasilitas keselamatan ini disediakan agar orang percaya bisa mencapai kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah. Semua ini dimulai dari pihak Allah, bukan inisiatif kita, melainkan inisiatif Allah. Tetapi fasilitas keselamatan tidak bekerja sendiri mengubah orang percaya. Harus ada usaha dari pihak orang percaya untuk mewujudkan perdamaian itu. Orang percaya harus merespons anugerah Allah dengan tindakan.
     
    Kalau orang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai jalan pendamaian tetapi tidak berusaha mengubah diri untuk mengenakan kodrat ilahi, maka ia tidak menemukan kehidupan yang diperdamaikan Allah itu. Ia tidak menjadi manusia sesuai rancangan Allah. Hanya manusia yang sesuai dengan rancangan Allah yang dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Karena manusia yang dikehendaki Allah itu segambar dan serupa dengan Dia. Jadi, sebenarnya orang yang tidak diperdamaikan itu menjauh dari Allah, orang itu bisa hilang sampai tidak menemukan dirinya sendiri. Sebab, dia tidak menjadi manusia orisinil seperti yang Allah kehendaki. Jadi, ketika seseorang berusaha untuk memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki, ia sedang menemukan manusia yang Allah inginkan itu. Kalau tidak, maka ia tidak pernah menemukan dirinya sendiri.
     
    Satu aspek, Yesus menjadi jalan, artinya melalui salib Ia memikul semua dosa untuk mendamaikan kita dengan Allah. Ini dimensi pasif dari keselamatan yang kita peroleh. Tetapi aspek lain, Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Menjadi murid berarti belajar, dididik supaya mengalami perubahan—bukan hanya secara moral umum, melainkan menjadi serupa dengan Yesus—untuk bisa berkodrat ilahi. Perubahan kodrat inilah yang dapat membangun persekutuan dengan Allah, yang adalah maksud pendamaian itu. Keadaan hidup kita yang berkodrat ilahi dapat memiliki hubungan yang harmoni dengan Allah. Kalau kita tidak mencapai kesucian yang Allah kehendaki, kita tidak akan bisa harmoni dengan Allah. Suci bukan hanya berarti tidak berbuat dosa, melainkan kehidupan yang dalam seluruh tindakannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
     
    Oleh sebab itu, kata “jalan” dalam ucapan Yesus “Akulah jalan,” harus dilihat dari dimensi yang lengkap. Di luar jasa kita, Yesus menyediakan jalan untuk berdamai dengan Allah. Tetapi untuk mewujudkan perdamaian di dalam hidup kita, kita harus aktif. Jalan yang Yesus katakan adalah diri-Nya sendiri sebagai “jalan itu,” yang kita harus “jalani” bukan hanya dipercayai. Jadi, agar orang percaya sungguh-sungguh memiliki perdamaian dengan Allah, ia harus menginvestasikan seluruh hidupnya tanpa batas. Menjalani jalan itu, yaitu memiliki kehidupan seperti yang Yesus jalani. Ini bukan sesuatu yang mudah. Tetapi anugerah Allah tidak berhenti sampai bukit Golgota, Allah berkenan menggarap kita agar kita bisa mengenakan kodrat ilahi.
     
    Keaktifan orang percaya dalam menerima penggarapan Allah melalui Roh Kudus di dalam hidupnya guna perubahan kodrat, sangat penting. Sejatinya, itulah yang harus menjadi satu-satunya isi hidup kita. Jadi, kalau kita menjadi orang percaya, isi hidup kita memang hanya untuk itu. Kita harus berani berkomitmen terlebih dahulu, walaupun kita belum mencapai keadaan ideal yang Allah kehendaki. Kita harus berani berkomitmen untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela, serta meninggalkan percintaan dunia. Komitmen ini langkah awal yang akan mengawali proses perubahan untuk mengenakan kodrat...
    0 min
  • Erchomai
    Betapa jahatnya ajaran yang mengesankan bahwa tanpa usaha atau proses pendewasaan yang benar, atau tanpa usaha untuk mengalami perubahan kodrat, seseorang bisa memiliki pendamaian yang ideal dengan Allah. Yesus memang mati untuk semua orang, tetapi tidak semua orang memiliki kesempatan untuk diperdamaikan dengan Allah dalam harmonisasi hubungan yang eksklusif antara Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak, sesuai rancangan Allah semula. Harus ada perjuangan untuk mengalami perubahan yang memadai guna mencapai kehidupan yang diperdamaikan dengan Allah. Alkitab juga mengatakan, hanya orang yang suci yang akan melihat Allah, artinya yang diperdamaikan dengan Allah. Keselamatan yang di dalamnya ada pendamaian dengan Allah disediakan gratis tanpa usaha dan jasa manusia sama sekali. Tetapi, memiliki dan mengenakan keselamatan—sehingga memiliki perdamaian dan persekutuan yang benar dengan Allah—bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus ada perjuangan yang mempertaruhkan segenap hidup.
     
    Perdamaian adalah persekutuan dengan Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Itulah sebabnya Yesus berdoa yang ditulis di dalam Yohanes 17:20-21, sebagai berikut: “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Bisa ada di dalam persekutuan dengan Bapa. Dalam pendamaian itu, orang percaya bisa tinggal di dalam Bapa. Ini adalah suatu hal yang sangat luar biasa.
     
    Sesungguhnya, inilah yang dimaksud oleh Yesus dalam pernyataan-Nya: “Tidak seorang pun sampai kepada Bapa, kecuali melalui Aku” (Yoh. 14:6). “Sampai kepada Bapa,” dalam bahasa aslinya erchomai (ἔρχομαι) yang artinya to come into or unto; datang untuk masuk. Banyak orang Kristen memahami pernyataan Yesus tersebut sekadar bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan. Kalau hanya untuk menjelaskan bahwa di luar Kristus tidak ada keselamatan, Kisah Rasul 4:12 menyatakan bahwa di bawah kolong langit ini tidak ada nama yang di dalamnya manusia beroleh keselamatan. Dalam hal ini, Yesus memikul semua dosa manusia. Tetapi di dalam Yohanes 14:6, ayat ini menunjuk hubungan yang khusus dengan Allah. Kalau ibarat sebuah visa, orang asing bisa mendapat visa untuk masuk ke Indonesia, tapi bukan atau belum tentu bisa masuk istana guna bertemu dengan presiden. Kalau masuk istana, tidak cukup hanya visa, tapi ia harus menjadi keluarga presiden atau orang penting presiden, atau yang bertalian dengan pekerjaan istana.
     
    Memang benar di luar Kristus tidak ada keselamatan, tetapi Yohanes 14:6 tidak cukup hanya dipahami sekadar bahwa di luar Yesus tidak ada keselamatan. Ayat ini juga menunjuk adanya hubungan atau persekutuan yang eksklusif antara Bapa, Anak, dan orang percaya (Yoh. 17:20-21). Inilah maksud pendamaian yang disediakan Allah melalui kurban Putra-Nya. Sejatinya, orang percaya bukan hanya mendapat “visa” untuk dapat langit baru dan bumi yang baru atau masuk masuk surga, tetapi juga masuk Rumah Bapa sebagai anggota keluarga Kerajaan dan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Dengan demikian, Rumah Bapa bisa tidak sama dengan sekadar diperkenan hidup di langit baru dan bumi yang baru. Rumah Bapa bisa menunjukkan tempat khusus atau eksklusif untuk mereka yang telah mengalami perdamaian dengan Allah.
     
    Perlu ditambahkan di sini, bahwa orang yang berbuat baik—yaitu mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri—bisa masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat. Tetapi kalau masuk istana atau Rumah Bapa menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, itu hal yang berbeda dari sekadar diperkenan masuk dunia yang akan datang. “Sampai kepada Bapa” (to come into) adalah persekutuan yang eksklusif. Persekutuan dengan Allah adalah inti hidup kekristenan yang benar.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…