Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Karir Kekal
    Dunia yang semakin fasik ini sangat kuat mencenderungkan manusia untuk lebih mudah menjadi rusak daripada menjadi baik. Terkait dengan hal ini, Firman Tuhan mengatakan: “Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu. Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:14-17). Melakukan kehendak Allah adalah karier yang menghasilkan kekekalan yang indah dan mulia.
    Betapa tidak seimbangnya cara berpikir—atau betapa bodohnya—manusia yang menjadikan sesuatu sebagai segalanya, sementara sesuatu yang dijadikan segala tersebut bersifat temporal atau sementara atau fana; sementara kesadaran seseorang bersifat kekal. Inilah yang disebut sebagai manusia yang tidak berakal. Kepada manusia seperti ini, Yesus berkata, “Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah” (Luk. 12:20-21). Dalam kenyataannya, orang-orang seperti “orang kaya” dalam Lukas 12 ini dipandang cerdas oleh dunia, tetapi di mata Allah adalah bodoh. Kebodohan di kekekalan artinya dalam kebinasaan abadi.
    Kata “bodoh” dalam teks ini adalah aphron (ἄφρων) yang artinya selain foolish, senseless, silly (bodoh, tolol), tetapi kata ini juga berarti ceroboh (careless), tidak menyadari (ignorant). Konteks dalam Injil Lukas 12:20 adalah mengenai orang kaya yang terus-menerus mengumpulkan harta di bumi tetapi “neglect” (mengabaikan) terhadap kekekalan (Luk. 12:15-21). Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15-17).
    Yesus tidak memberi peluang sedikit pun untuk kita memikirkan hal-hal yang fana. Kalaupun kita berkarier, hal itu hanya sebagai jembatan atau sarana untuk mengabdi kepada “Tuhan” yang menjadi segalanya dalam hidup kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan bahwa kita harus mengikat persahabatan dengan mempergunakan mamon (Luk. 16:9). Mamon bukanlah sahabat, tetapi sarana untuk membangun hubungan dengan Allah yang benar. Banyak orang Kristen bersikap terbalik, mereka bersahabat dengan dunia dan menggunakan Tuhan sebagai alat untuk meraihnya. Persahabatan dengan dunia adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4). Kata “persahabatan” dalam teks aslinya adalah philos (φίλος). Kata yang sama yang digunakan dalam Lukas 16:9. Oleh sebab itu, kita harus berani menanggalkan segala keinginan untuk menikmati dunia ini. Jangan menjadi orang seperti yang dilakukan anak-anak dunia yang tidak berjuang menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Bagi mereka, karier adalah segalanya dalam hidup ini. Bagi orang percaya, Tuhan adalah segalanya dalam hidup ini. Hanya orang yang menjadikan Tuhan segalanya dapat hidup dalam perdamaian dengan Dia.
    Ketika seseorang menjadi umat pilihan, maka ia harus terus belajar menempatkan Tuhan sebagai pusat. Pusat di sini sama artinya dengan tujuan, arti atau makna ,dan nilai. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan sama artinya menjadikan sebagai tujuan, arti atau makna dan nilai kehidupan ini, bukan harta. Tanpa Tuhan, berarti hidup ini tidak mempunyai tujuan, tidak berarti, dan tidak bermakna, serta tidak bernilai sama sekali. Menempatkan Tuhan sebagai pusat kehidupan, artinya bahwa hidup ini hanya untuk memuaskan hati Tuhan dan melakukan kehendak-Nya semata-mata. Tidak ada sesuatu apa pun yang menjadi pusat kehidupan...
    0 min
  • Tidak Menyentuh yang Najis
    Keberkenanan di hadapan Allah adalah sesuatu yang bersifat progresif. Seiring dengan bertambahnya usia biologis atau perjalanan hidup kekristenan, seseorang harus semakin berkenan kepada Allah atau yang sama dengan semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Oleh karena merasa sudah diperdamaikan dengan Allah berdasarkan pengertian mengenai doktrin keselamatan, banyak orang Kristen tidak berusaha untuk mengalami perubahan hidup yang semakin berkenan kepada Allah. Mereka tidak mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar (Flp. 2:12-13). Sementara itu, pengaruh dunia yang fasik membelenggu hidup mereka, sehingga mereka semakin berkeadaan tidak pernah berkenan kepada Allah. Sejujurnya, banyak rohaniwan Kristen atau teolog Kristen dan jemaat berkeadaan seperti ini. Kalau tidak diingatkan, mereka tidak pernah menjadi anggota keluarga Kerajaan, tidak menjadi anggota masyarakat Kerajaan Surga, bahkan bukan tidak mungkin meluncur menuju api kekal.
    Dari pihak Allah, perdamaian itu harus dibayar, yaitu Allah memberikan Putra Tunggal-Nya sebagai sarana pendamaian dengan memikul dosa manusia di kayu salib (2Kor. 5:18). Dan Allah telah melakukannya. Yesus mengatakan sudah selesai (Yun. tetelestai; τετέλεσται; it’s finished). Adapun dari pihak manusia, harus mau memberi diri diperdamaikan dengan berusaha untuk hidup berkenan kepada Allah (2Kor. 5:9-10). Orang percaya harus mau didewasakan untuk menjadi anak-anak Allah yang sah (huios), yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Proses pendidikan ini tidak bisa tidak harus dialami oleh setiap orang percaya demi terwujudnya perdamaian dengan Allah.
    Dulu, sebelum menerima pendamaian dengan Allah oleh kurban Kristus, kita bukan saja berstatus bermusuhan dengan Allah, melainkan juga berkeadaan bermusuhan dengan Allah karena karakter atau keadaan kita yang jahat. Pendamaian dengan darah Yesus oleh pihak Allah mengubah status kita, dimana kita dibenarkan di hadapan Allah. Dibenarkan artinya dianggap benar, walau keadaan kita belum benar. Dengan keadaan yang belum berubah menjadi benar atau belum berkenan kepada Allah, berarti perdamaian dengan Allah belum lengkap atau utuh. Sekarang, setelah status kita diubah, kita bertanggung jawab untuk mengubah keadaan kita dengan belajar hidup sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:5-9).
    Status dibenarkan di hadapan Allah walaupun keadaan kita belum benar karena Allah memandang Putra Tunggal-Nya yang menggantikan tempat kita di kayu salib. Perubahan status ini sudah membuat kita diperdamaikan dengan Allah, tetapi belumlah perdamaian yang lengkap atau utuh. Ini barulah perdamaian dimensi pertama. Keadaan ini tidak boleh berlangsung terus-menerus sampai orang Kristen meninggal dunia. Oleh karenanya, orang percaya harus berusaha untuk mengalami perubahan guna memiliki perdamaian yang lengkap dan utuh. Ini perdamaian dimensi kedua. Itulah sebabnya, Paulus mengatakan: “berilah dirimu diperdamaikan.” “Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami.” Mengapa harus menasihati? Nasihat tersebut adalah nasihat Firman Tuhan yang mengubah keadaan perilaku mereka (2Kor. 5:19-20). Selanjutnya, dalam 2 Korintus 6:1-18 Paulus memberi nasihat, di antaranya adalah agar orang percaya memisahkan diri dari dosa dan tidak menyentuh apa yang najis.
    Kekristenan hari ini, bagi banyak orang Kristen, hanyalah sekadar keberagamaan, bukan jalan hidup-Nya Yesus yang harus dikenakan. Mereka kehilangan esensi kekristenan yang sejati. Esensi kekristenan yang sejati adalah perubahan perilaku agar menjadi semakin sesuai dengan rancangan Allah semula, dimana Yesus menjadi role model. Rancangan Allah semula adalah manusia yang berkenan kepada Allah, yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan manusia seperti ini barulah dapat mengimbangi Allah,
    0 min
  • Seirama dengan Roh
    Dalam 2 Korintus 5:19-20 tertulis: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.”
    Berdamai dengan Allah sama artinya dengan hidup dalam persekutuan yang seimbang dengan Allah. Standar perdamaian dengan Allah tidak cukup dengan memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah dengan keadaan standar demikian, padahal mereka belum berdamai secara benar. Mereka belum berdamai secara lengkap atau utuh karena mereka tidak ada keseimbangan dengan Allah, padahal sudah waktunya seseorang memiliki level kekudusan yang memadai untuk bisa memiliki perdamaian dengan Allah.
    Allah berfirman dalam 1 Petrus 1:13-17 agar orang percaya hidup dalam kekudusan. Di balik firman tersebut, Allah menghendaki keseimbangan antara diri-Nya dengan umat. Hal ini paralel dengan 2 Korintus 6:17-18 agar orang percaya keluar dari pergaulan yang jahat dan tidak menyentuh apa yang najis. Dalam hal ini, bukan Allah yang menyesuaikan diri dengan kita, melainkan kita yang harus menyesuaikan diri terhadap Allah. Itulah sebabnya, dalam Galatia 5:25 dikatakan bahwa kalau kita telah hidup oleh roh, hendaknya kita dipimpin oleh Roh. Dalam teks aslinya tertulis: ei zomen pneumati, pneumatic kai stoikomen (Εἰ ζῶμεν πνεύματι, πνεύματι καὶ στοιχῶμεν). Dalam teks KJV diterjemahkan: if we live in The Spirit, let us also walk in The Spirit. Dalam teks Vulgata: si vivimus spiritu spiritu et ambulemus. Stoikhomen berarti “berjalan seirama.” Kita yang harus menyesuaikan diri dengan Allah, bukan sebaliknya.
    Orang yang tidak berjalan seirama dengan Roh Kudus pasti hidup dalam daging. Orang yang hidup menurut daging berarti tidak hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, ia tidak dapat disebut sebagai anak Allah (Rm. 8:14). Cara berpikir manusia yang tidak dipimpin Roh tidak bisa sinkron dengan cara berpikir Allah. Dalam hal ini, manusia tidak bisa mencapai kesucian Allah, artinya tidak mampu bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Bisa dipahami, jika seseorang ada dalam keinginan daging, maka segala sesuatu yang dilakukan bertentangan dengan pikiran dan perasaan Roh Kudus. Walaupun tindakan atau perilakunya baik dan tidak melanggar norma umum di mata manusia, tetapi tidak mencapai standar kesucian Allah. Allah tidak berkenan kepada mereka yang hidup menurut daging.
    Orang yang hidup dalam daging adalah orang yang tidak hidup sesuai dengan kehendak Allah. Di zaman Perjanjian Baru, perkenanan Allah diukur dengan hidup atau berperilaku selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, artinya harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Memiliki pikiran dan peasaan Kristus sama artinya memiliki roh Kristus. Hal ini sama dengan hidup menurut roh. Inilah yang diusahakan Paulus bahwa dengan sungguh-sungguh ia menaklukkan akal budinya kepada hukum Allah, sekalipun ia masih mengenakan tubuh yang terikat dengan kodrat dosa (Rm. 7:25). Hukum Allah di sini merupakan kebalikan dari hukum dosa (hamartia). Jadi, hukum dosa (hamartia) menunjuk kepada kodrat dosa, sedangkan hukum Allah dalam konteks ini menunjuk kepada kodrat ilahi atau standar kesucian Allah.
    Jadi kalau dikatakan hidup menurut roh, maksudnya bukan hidup menurut Roh Kudus, melainkan hidup menurut hasrat atau gairah yang telah terbangun dari hasil perjuangan hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hasrat atau gairah tersebut menjadi milik atau bagian yang tidak pernah lepas dalam kehidupan seseorang. Dalam hal ini jelas sekali bahwa Allah hendak mengubah kita secara permanen melalui pimpina...
    0 min
  • Layak Hidup dalam Perdamaian dengan Allah
    Dalam Roma 14:17 tertulis: “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.” Kalimat “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman,” tidak dapat diartikan bahwa berarti di dalam Kerajaan Surga tidak ada makan dan minum. Yesus sendiri mengatakan bahwa di dalam Kerajaan Surga, kita akan makan dan minum bersama Dia (Luk. 22:30). Maksud firman Tuhan ini adalah bahwa Kerajaan Allah tidak menekankan masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi masalah bagaimana orang percaya memiliki kehidupan sebagai warga Kerajaan Surga yang hidup dalam perkenanan Tuhan dengan melakukan kehendak Tuhan, yaitu kebenaran-Nya, dan damai sejahteranya tidak tergantung oleh suasana dunia ini. Orang yang suasana hatinya masih tergantung pada dunia sekitar, tidak akan dapat berdamai dengan Allah secara benar. Orang yang suasana jiwanya tergantung pada Tuhan adalah orang yang bisa hidup dalam perdamaian dengan Tuhan.
    Orang percaya yang benar menunda semua kenikmatan hidup, dan memindahkannya ke dalam Kerajaan Surga nanti, di langit baru dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, pengetahuan kita mengenai surga harus benar dan jelas agar kita mengerti apa yang disediakan Allah Bapa kepada kita. Allah tidak menghilangkan kemanusiaan kita. Kemanusiaan kita tetap abadi sebagai ciptaan Allah. Untuk itu, Allah menyediakan semua kenikmatan hidup bagi kemanusiaan kita di dalam dunia yang akan datang. Harus diingat, bahwa manusia tetaplah manusia yang membutuhkan kenikmatan hidup. Tentu saja Tuhan mengetahui kebutuhan manusia tersebut, dan Tuhan menyediakannya di langit baru dan bumi yang baru. Oleh sebab itu, adalah bijaksana kalau orang percaya menunda semua kesenangan di dunia. Nanti di Kerajaan Tuhan Yesus, kita baru menikmatinya. Kita harus memercayai fakta mengenai Kerajaan Surga tersebut dan sabar menantikan penyataan dari Kerajaan Surga tersebut.
    Oleh sebab itu, kita harus menaruh pengharapan di dalam Kerajaan Surga, seperti yang dikatakan Petrus dalam 1 Petrus 1:3-4, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Inilah yang dimaksud oleh Yesus sebagai “harta di surga,” yaitu kehidupan bersama dengan Tuhan di Kerajaan Surga. Keindahannya bukan karena pijakannya dari emas, pintunya berhiaskan mutiara, dan lain-lain, melainkan tempat di mana ada kehadiran Allah dan perjumpaan dengan Tuhan Yesus. Tempat di mana tidak ada dosa dan kejahatan. Tempat di mana perdamaian dengan Allah dapat terbangun abadi tanpa ada gangguan sama sekali.
    Perlu ditambahkan catatan penting di sini, bahwa janji ini bukan untuk semua orang Kristen, melainkan untuk mereka yang sudah teruji dan yang sudah mencapai keselamatan jiwanya, seperti yang dikatakan oleh Petrus: “Yaitu kamu, yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya. Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan, karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu” (1Ptr. 1:5-9).
    Dari ayat-ayat di atas, dapat diperoleh kebenaran. Pertama,
    0 min
  • Meninggalkan Kesenangan Dunia
    Pada kenyataannya, sebagian besar orang Kristen telah tertawan oleh dunia ini dalam percintaan dunia sehingga tidak merindukan pulang ke tanah air (homeland). Hati mereka telah tertawan oleh kenikmatan hidup di bumi. Hal ini terjadi khususnya di dalam kehidupan mereka yang sukses dalam bisnis, karier, studi, keluarga, dan memiliki berbagai fasilitas hidup untuk dinikmati. Sejatinya, mereka yang diizinkan Tuhan memiliki keberhasilan seperti ini harus sadar atau siuman agar keberhasilan hidup duniawinya tidak membinasakan.
    Dalam hal ini, sebenarnya kita sudah bisa mengukur diri sendiri, apakah kita layak masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan atau tidak. Orang yang memiliki kerinduan bertemu dengan Tuhan dan menikmati Kerajaan Surga adalah orang yang layak dan pantas menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Orang yang tidak merindukan Kerajaan Surga adalah orang yang sedang berkhianat kepada Tuhan, sebab hatinya melekat dengan dunia ini. Ini berarti menyia-nyiakan keselamatan yang begitu besar. Ia tidak memiliki isi dan maksud perdamaian dengan Allah. Firman Tuhan mengatakan orang yang bersahabat dengan dunia ini adalah permusuhan dengan Allah (Yak. 4:4).
    Bagi mereka yang memiliki atau mengalami kegagalan hidup dalam bisnis, karier, studi, keluarga, dan tidak memiliki berbagai fasilitas hidup untuk dinikmati, hendaknya jangan merasa gagal. Kenyataan yang tidak bisa dibantah, ternyata orang-orang seperti ini adalah yang berpotensi besar mengalami “patah hati” terhadap dunia. Orang-orang yang patah hati terhadap dunia sangat berpotensi memindahkan hati ke Kerajaan Surga. Namun demikian, hendaknya kita tidak harus mengalami patah hati terhadap dunia baru memindahkan hati ke Kerajaan Surga. Orang yang tidak memindahkan hatinya ke Kerajaan Surga, tidak akan pernah bisa berdamai dengan Allah.
    Lazarus yang dikisahkan dalam Lukas 16:19-31 bisa termasuk orang yang patah hati terhadap dunia, yaitu orang yang tidak berkesempatan menikmati kenyamanan hidup di bumi. Terhadap orang-orang seperti ini, Tuhan menaruh belas kasihan. Itulah sebabnya, dalam Lukas 16:25, Abraham berkata kepada orang kaya: “Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.” Hal ini seirama dengan apa yang dinyatakan pemazmur dalam Mazmur 34:18, yaitu: “TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” Keadaan dimana seseorang patah hati terhadap dunia membuat dirinya akan lebih mudah untuk meninggalkan dunia ini dengan segala kesenangannya.
    Orang yang bisa menghayati bahwa dirinya warga negara surga dapat memahami bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang percaya yang benar bukan berasal dari dunia ini (Yoh. 17:16). Kalau orang Kristen tidak menghayati keberadaannya sebagai bukan berasal dari atas, berarti belum menjadi orang percaya yang benar. Bertahun-tahun kita hidup sebagai orang Kristen yang tidak mampu menghayati bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, atau kita bukan bagian dari dunia ini.
    Untuk dapat menghayati bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, kita harus memindahkan hati ke surga (Mat. 6:21). Memindahkan hati ke surga dimulai dari tekad kita untuk tidak mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini. Bersedia tidak memiliki kesenangan dari kenikmatan daging; yaitu seks dan kuliner, serta kenyamanan fisik lainnya. Petrus dalam suratnya menasihati jemaat: “Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa” (1Ptr. 2:11). Kita sendiri yang menjauhkan diri dari keinginan-keinginan duniawi. Tuhan tidak memaksa kita. Kita sendiri yang harus berniat kuat untuk itu.
    Orang yang memindahkan hati ke surga harus rela tidak bermilik. Kalaupun kita memiliki sesuatu,
    0 min
  • Melayani Perasaan Allah
    Kesukaan Allah Bapa adalah kehendak-Nya dilakukan atau dipenuhi dalam kehidupan setiap individu. Kehidupan ini diadakan memang hanya untuk kesenangan dan kepuasan hati Allah Bapa. Jika tidak demikian, berarti sebuah kesesatan, dan seseorang di pihak Iblis atau sedang tertawan dalam kuasa kegelapan. Oleh sebab itu, kekristenan adalah hubungan dengan Allah Bapa yang benar-benar dialami, untuk dapat menyukakan hati-Nya atau melayani perasaan-Nya. Orang yang tidak hidup dalam pelayanan terhadap perasaan Allah atau tidak hidup untuk kesukaan hati Allah, tidak akan pernah berdamai dengan Allah. Kalau seseorang baru menjadi Kristen atau belum dewasa, bisa dimengerti kalau hidup hanya untuk kesenangan sendiri. Tetapi kalau mestinya sudah dewasa tetapi tidak hidup menyukakan hati Allah, maka ia akan tidak bisa berdamai dengan Allah untuk selamanya.
    Tentu menyukakan hati Allah Bapa adalah dengan kehidupan yang hanya melakukan apa saja yang Dia kehendaki. Bukan sekadar kehendak kita yang dipimpin oleh Dia, melainkan kehendak-Nya yang kita lakukan. Jadi, kehendak kita adalah mengerti apa yang Allah ingini dan melakukannya. Inilah yang dimaksud dengan isi Doa Bapa Kami: “Datanglah Kerajaan-Mu. Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Inilah isi dan maksud perdamaian dengan Allah. Tentu hal ini menciptakan kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Kehidupan seseorang yang tidak melukai dan merugikan orang lain. Kehidupan yang tidak memiliki kebencian terhadap orang lain.
    Sebagai sekutu Allah, hidupnya tidak akan dikuasai oleh percintaan dunia. Dan akhirnya, kehendak Allah adalah keselamatan jiwa-jiwa, agar tidak seorang pun binasa (1Tim. 2:4; 2Ptr. 3:9). Orang percaya yang benar-benar peduli terhadap keselamatan jiwa orang lain akan berusaha bagaimana dirinya menjadi manusia yang berkenan kepada Allah dan mengusahakan orang lain juga dapat hidup berkenan kepada Allah. Usaha yang dilakukan adalah mempertaruhkan segenap hidupnya tanpa batas. Usaha ini merupakan satu-satunya agenda hidupnya. Inilah yang dimaksud Paulus bahwa baginya hidup adalah Kristus (Flp. 1:21).
    Betapa besar jebakan bagi seorang pendeta yang merasa ada di dalam pelayanan, tetapi sebenarnya mencari nafkah kehidupan. Betapa besar jumlah korbannya. Biasanya, salah satu cirinya adalah ia masih mengingini kehidupan wajar seperti manusia lain, mengumpulkan kekayaan dalam bentuk aset yayasan atau gereja yang pada akhirnya diwariskan kepada keluarganya. Menimbun uang untuk hari esoknya di bumi, padahal semua itu bisa digunakan untuk pekerjaan Tuhan di waktu yang sisa dan singkat sekarang ini. Orang yang beruntung adalah orang yang menggunakan “mamon” sebagai sarana untuk bersahabat dengan Allah atau mengabdi kepada-Nya.
    Mereka yang tidak mengerti isi dan maksud perdamaian dengan Allah, hanya sibuk menyusun deskripsi mengenai perdamaian tanpa mengalami perdamaian secara konkret. Mereka sering berkutat dengan masalah doktrin dengan menyerang secara langsung sesama orang Kristen dengan menyesat-nyesatkan orang lain. Mereka merasa sedang membela kebenaran padahal membuat gaduh terhadap sesama orang Kristen dan merusak pekerjaan Tuhan. Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah warga Kerajaan Surga, pasti dapat menghormati Allah sebagai Bapa dengan patut, dan menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Raja serta hidup dalam perjuangan untuk menjadi utusan Tuhan Yesus demi keselamatan manusia.
    Rasul Paulus oleh ilham Roh menyatakan: Karena kewargaan kita adalah di dalam surga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat (Flp. 3:20). Kata “kewargaan” dalam teks aslinya adalah politeuma (πολίτευμα), yang bisa berarti homeland, commonwealth, state, citizenship (tanah air, persemakmuran, negara bagian, kewarganegaraan). Filipi 3:20 dalam terjemahan sehari-hari diterjemahkan: Tetapi kita adalah warga negara surga. Dari situlah juga Raja Penyelamat kita, Tuhan Yesus Kristus, akan datang.
    0 min
  • Hidup Sebagai Warga Kerajaan
    Sarana perdamaian dengan Allah adalah Yesus Kristus. Tidak ada jalan perdamaian dengan Allah kecuali melalui Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah satu-satunya anugerah bagi keselamatan semua manusia, diberikan dengan cuma-cuma, bukan karena perbuatan baik. Itulah sebabnya Paulus menyatakan agar kita tidak memegahkan diri (Ef. 2:8-9). Tetapi, terwujudnya perdamaian dengan Allah secara ideal atau benar—sesuai dengan isi dan maksud perdamaian tersebut—tidaklah cuma-cuma, artinya tidak bisa dialami dan dimiliki secara otomatis. Harus ada perjuangan yang dilakukan untuk mewujudkannya.
    Dari pihak Allah, Ia menyediakan fasilitas, yaitu kurban Yesus, Roh Kudus, dan Injil, serta penggarapan Allah dalam segala peristiwa hidup. Dari pihak kita, harus ada perhatian dan tindakan untuk menerima penggarapan atau didikan Allah sebagai Bapa, agar kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Tanpa kekudusan, tidak ada perdamaian yang benar. Dalam hal ini, kita bukan hanya dikuduskan dari perbuatan dosa kita, melainkan juga menjadi berkeadaan kudus dalam karakter kita; bukan hanya dibenarkan, tetapi benar-benar berkeadaan benar.
    Hal ini paralel dengan pemberian Kerajaan Surga. Kerajaan Surga diberikan dengan cuma-cuma tanpa harus berbuat baik, tetapi untuk hidup dalam Kerajaan Surga, harus memiliki perjuangan. Sebab seseorang tidak bisa memiliki dan menikmati Kerajaan Surga tanpa mengalami pembaharuan hidup atau perubahan kodrat. Harus ada perubahan dari kodrat dosa ke kodrat ilahi, atau perubahan karakter menjadi seperti Yesus. Ikan air laut tidak bisa hidup di air tawar kecuali kodrat ikan tersebut diubah. Memang mustahil bagi manusia, tetapi tidak mustahil bagi Allah.
    Untuk itu, dituntut pengorbanan segenap hidup guna mengalami perubahan (Luk. 14:33). Harga Kerajaan Surga bagi Yesus adalah segenap hidup-Nya. Ia mengurbankan diri agar Kerajaan Surga bisa disediakan bagi orang percaya. Demikian juga bagi orang percaya, harga Kerajaan Surga adalah segenap hidup kita, bukan hanya meyakini bahwa Yesus sudah menyediakan Kerajaan Surga bagi kita. Orang yang menjadi anggota Kerajaan Surga, sejak di bumi harus sudah meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Kalau seorang Kristen tidak meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, ia tidak akan pernah mewarisi Kerajaan Allah.
    Jadi, sejatinya harga Kerajaan Surga bagi kita adalah segenap hidup kita. Dengan demikian, pada intinya, yang gratis adalah kesempatan atau potensi memiliki dan mengalami Kerajaan Surga itu. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, Kerajaan Surga tertutup rapat; tidak ada yang dapat membuka selain Yesus. Tetapi kalau kita tidak bersedia berjuang dengan segenap hidup sebagai harga yang harus dibayar, kita tidak akan pernah memiliki Kerajaan Surga. Yesus berkata: “Tetapi carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan juga kepadamu.Janganlah takut, hai kamu kawanan kecil! Karena Bapamu telah berkenan memberikan kamu Kerajaan itu.Juallah segala milikmu dan berikanlah sedekah! Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada” (Luk. 12:31-34).
    Demikian pula dengan perdamaian dengan Allah. Tanpa pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak ada pintu sama sekali untuk melakukan perdamaian dengan Allah. Tetapi isi dan maksud perdamaian tersebut bisa dialami dan dimiliki melalui perjuangan. Sama dengan kalau seseorang berdamai dengan musuhnya. Harus ada isi dan maksud perdamaian itu diadakan. Kalau hanya berdamai secara status tetapi tidak ada implikasinya, percuma mengadakan perdamaian. Demikian pula dengan Allah. Perdamaian bukan hanya membuat kita berstatus sebagai telah berdamai dengan Allah, melainkan dengan perdamaian tersebut, seseorang menjadi warga Kerajaan Surga yang juga menjadi sekutu Allah.
    Seseorang tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah kalau tida...
    0 min
  • Karunia Sulung Roh
    Dulu, sebelum menerima pendamaian dari Allah oleh kurban Kristus, kita bukan saja berstatus bermusuhan dengan Allah, melainkan juga benar-benar berkeadaan bermusuhan dengan Allah karena karakter atau keadaan kita yang jahat. Pendamaian dengan darah Yesus oleh pihak Allah, maka status kita diubah. Dari pemberontak, menjadi orang yang tidak berstatus pemberontak. Keadaan kita adalah keadaan manusia yang telah dibenarkan di hadapan Allah. Tetapi, keadaan kita tidak atau belum berubah secara otomatis, ini berarti perdamaian dengan Allah belum lengkap atau utuh. Sekarang, setelah status kita diubah, kita bertanggung jawab untuk mengubah keadaan kita dengan belajar hidup sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:5-9). Dalam hal tersebut, bukan hanya status kita yang diubah, melainkan juga keadaan kita diubah. Kesalahan banyak orang Kristen berpikir bahwa perubahan status berarti juga sudah otomatis perubahan segala aspek. Seharusnya, kita memahami bahwa perubahan secara hukum (de jure), belum tentu juga perubahan secara status.
    Kekristenan hari ini telah menjadi hidup keberagamaan bagi banyak orang Kristen. Mereka kehilangan esensi kekristenan yang sejati. Esensi kekristenan yang sejati adalah perubahan keadaan manusia batiniah, yang dengan demikian, perilaku kita akan berubah secara fundamental sehingga menjadi semakin sesuai dengan rancangan Allah semula. Rancangan Allah semula adalah manusia yang berkenan kepada Allah, yang dalam segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Keadaan manusia seperti ini barulah dapat mengimbangi Allah, sehingga dapat hidup dalam persekutuan dengan Allah secara ideal.
    Kita harus menyadari bahwa kesempatan untuk mengalami perubahan guna bisa mengimbangi Allah sangat terbatas. Kalau momentum kesempatan ini berlalu, maka tidak ada lagi kesempatan kedua, sebab hidup ini hanya satu kali. Dalam satu kali kesempatan hidup ini, seseorang harus memilih, yaitu bersekutu dengan Allah atau yang sama dengan berdamai dengan Allah, atau di pihak lain bersekutu dengan musuh Allah atau dunia. Allah tidak memaksa orang Kristen untuk memilih bersekutu atau berdamai dengan Allah, Allah tidak mendesain secara sepihak seseorang memilih bersekutu atau berdamai dengan Allah. Kalau Allah secara sepihak membuat seseorang berdamai dengan Allah, maka perdamaian semacam itu bukanlah perdamaian yang tulus, benar, dan natural. Perdamaian bukanlah sesuatu yang dipaksakan. Itulah sebabnya, Paulus sebagai utusan Kristus menyerukan: “berilah dirimu diperdamaikan” (2Kor. 5:19-20).
    Orang percaya adalah orang-orang yang mendapat hak istimewa sebagai memiliki karunia sulung Roh (Rm. 8:23). Karunia sulung Roh ini adalah potensi untuk menjadi pewaris Kerajaan Allah bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Tetapi kalau seseorang tidak berkarakter berkenan kepada Allah—karena tidak mengusahakannya dengan sungguh-sungguh—maka ia berkeadaan seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan (Ibr. 12:16-17). Hal ini sama dengan kalau orang percaya tidak mengubah diri untuk berkeadaan bisa berdamai dengan Allah, berarti ia menolak anugerah memiliki karunia sulung Roh. Berarti ia gagal sebagai anak-anak Allah. Orang yang memiliki karunia sulung Roh adalah pribadi-pribadi seperti Yesus yang melakukan kehendak Bapa. Harus diingat, bahwa orang yang dikenal Tuhan adalah orang yang melakukan kehendak Bapa (Mat. 7:21-23). Tidak melakukan kehendak Bapa berarti tidak diterima di dalam Kerajaan Surga.
    Banyak orang Kristen berkeadaan seperti Esau yang hidup dalam kesenangan dunia, tidak berusaha bertumbuh untuk dapat mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10), sehingga mereka menyia-nyiakan kesempatan yang berharga untuk bisa berdamai dengan Allah dalam standar yang Allah kehendaki. Betapa Allah menginginkan umat pilihan-Nya yang mengenal Yesus untuk bisa bertumbuh dalam kekudusan agar bisa bersekutu dengan Allah seb...
    0 min
  • Mengimbangi Kekudusan-Nya
    Dalam 2 Korintus 5:19-20 tertulis: “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah.” Kalimat “berilah dirimu didamaikan” adalah kalimat perintah yang, tidak bisa tidak, harus dituruti sebagaimana dengan perintah Tuhan yang lain.
    Berdamai dengan Allah sama artinya dengan hidup dalam persekutuan yang seimbang dengan Allah. Standar perdamaian dengan Allah tidak cukup dengan memiliki keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, serta menjadi orang Kristen yang pergi ke gereja. Banyak orang Kristen merasa sudah berdamai dengan Allah dengan keadaan demikian, padahal mereka belum berdamai secara benar. Mengapa demikian? Sebab tidak ada keseimbangan dalam persekutuan dengan Allah, sedangkan sudah seharusnya seseorang memiliki level kekudusan yang memadai untuk bisa memiliki perdamaian dengan Allah.
    Ketika seorang anak belum dewasa, orangtua yang berusaha mengimbangi anak dalam ketidakdewasaannya dan pengertian. Orang percaya yang belum dewasa tersebut sering melakukan perbuatan yang salah, tetapi Tuhan menolerirnya. Tetapi suatu saat, sebagaimana orangtua di dunia ini menghendaki anak-anaknya menjadi dewasa dan bisa mendampingi orangtuanya, demikian pula Tuhan menghendaki orang percaya menjadi dewasa agar dapat bersekutu dengan Dia secara benar. Inilah yang dikatakan sebagai perdamaian yang benar dan ideal.
    Perdamaian dengan Allah tidak cukup dibangun di atas dasar pengertian teologi mengenai pokok ajaran mengenai perdamaian atau pendamaian. Tetapi, perdamaian dengan Allah dibangun dalam kehidupan yang berkenan kepada Allah. Hal ini didasarkan pada 2 Korintus 5:9-10 yang tertulis: “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.”
    Keberkenanan kepada Allah—jika didasarkan pada 2 Korintus 5—dapat kita temukan sebagai berikut: pertama, tentu saja kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela (ay. 9-10). Kedua, kehidupan yang merindukan perjumpaan dengan Tuhan (ay. 1-7). Ketiga, kehidupan yang dipersembahkan kepada Allah sepenuhnya sebagai utusan Kristus untuk memberitakan berita perdamaian. Tentu saja orang yang memberitakan berita perdamaian harus mengalami perdamaian dengan Allah (ay. 14-15, 17-18). Kehidupan orang Kristen seperti ini adalah kehidupan orang Kristen yang benar-benar mengalami keadaan sebagai ciptaan baru (ay. 17). Dalam hal ini, kehidupan Paulus adalah model orang percaya yang benar-benar telah mengalami perdamaian dengan Allah.
    Banyak orang Kristen—termasuk para teolog—yang merasa sudah memiliki perdamaian dengan Allah karena memiliki bangunan berpikir atau penalaran mengenai hal perdamaian dengan Allah. Padahal, perdamaian dengan Allah harus dibangun di atas dasar perilaku atau keadaan moral dan batiniah yang berkenan kepada Allah, sesuai dengan ciri-ciri di atas. Bertahun-tahun mereka hidup dalam keadaan tidak berdamai dengan Allah secara proporsional. Hal ini disebabkan pula karena mereka tidak mengalami pertumbuhan kehidupan yang semakin berkenan kepada Allah.
    Keberkenanan di hadapan Allah adalah sesuatu yang bersifat progresif. Seiring dengan bertambahnya usia biologis atau perjalanan hidup kekristenan, seseorang harus semakin berkenan kepada Allah atau yang sama dengan semakin mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Oleh karena merasa sudah diperdamaikan dengan Allah berdasarkan pengertian mengenai doktrin keselamatan, banyak orang Kristen tidak terpacu untuk mengalami perubahan kehidupan semakin berkena...
    0 min
  • Menjadi Anak Allah
    Kalimat “kasih karunia akan berkuasa oleh kebenaran untuk hidup yang kekal,” maksudnya adalah di dalam kasih karunia ada kehidupan yang sesuai kehendak Allah, guna hidup kekal nanti di langit baru dan bumi yang baru. Kita tidak boleh merasa cukup hanya memiliki keyakinan terhadap kurban Kristus, kemudian yakin sudah memiliki kasih karunia serta merasa sudah dibenarkan (dianggap benar). Tetapi orang Kristen harus berjuang mengisi kasih karunia yang ia terima dengan mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar; yaitu menghidupi kehidupan Yesus di dalam hidupnya. Itulah sebabnya dalam Roma 6:6 tertulis: “… agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.” Dan dalam Roma 6:11, 13 tertulis: “Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. …Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.”
    Kalau Paulus mengatakan, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran” (Rm. 6:18), itu bukan berarti bahwa secara otomatis seseorang bebas dari dosa, melainkan harus melalui perjuangan dengan tidak menyerahkan anggota-anggota tubuh kepada dosa. Itulah juga sebabnya di Roma 6:19 Paulus mengatakan: “…Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan”. Jika hal ini kita lalukan maka kita akan memeroleh “buah yang membawa kita kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal.”
    Dengan demikian, adalah sesuatu yang mutlak bahwa orang percaya harus hidup menurut Roh, artinya hidup dalam keberkenanan di hadapan Allah seperti “hidup Yesus.” Maka dalam Roma 8:6-7 Paulus menasihati jemaat sebagai berikut: “Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Hidup menurut Roh atau dipimpin oleh Roh adalah kemutlakan, sebab hanya orang yang dipimpin Roh adalah anak-anak Allah. Dengan demikian, orang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Tidak mungkin Tuhan berjalan dan berdamai dengan orang yang tidak hidup dalam pimpinan Roh-Nya.
    Penjelasan di atas ini menunjukkan dengan jelas bahwa orang yang hidup dalam daging atau tidak mengenakan hidup Yesus, tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah, sebab “Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah” (Rm. 8:8). Dalam hal ini, kita bisa mengerti mengapa Paulus mengatakan bahwa kita adalah orang-orang yang berutang, bukan kepada daging untuk hidup menurut daging, melainkan untuk hidup di dalam Roh, artinya harus hidup seperti hidup yang Yesus kenakan. Dengan demikian, panggilan kita kepada Allah sebagai Bapa menjadi sah atau benar, sebab mereka yang dipimpin Roh Allah adalah anak-anak Allah, dan layak memanggil Allah sebagai Bapa (Rm. 8:12-15). Dengan demikian, dari pihak Allah, Allah menyediakan sarana pendamaian
    Hal tersebut sinkron dengan pernyataan Petrus dalam 1 Petrus 1:14-17 yang tertulis: “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia i...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…