Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kesediaan dan Tekad
    Dengan memahami kalimat “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran,” maka pengertian doa—yaitu ibadah, dalam konteks umat Perjanjian Baru—menjadi benar pula. Harus selalu diingat bahwa dalam berdoa, yang penting adalah hubungan dengan Allah setiap saat. Bagi umat pilihan, tentu liturgi tidak lagi menjadi media utama untuk bersekutu dengan Allah. Tetapi melalui setiap kejadian yang kita alami di sepanjang jalan hidup kita, kita membangun relasi dengan Allah. Itulah sebabnya, kita benar-benar harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Dengan demikian, api yang menggerakkan kita untuk menjalani hidup ini—yaitu setiap tarikan nafas—adalah karena kita mau menyenangkan hati Allah.
     
    Betapa beruntungnya kalau kita memiliki api atau gairah seperti itu. Terlepas dari apa pun pengertian atau doktrin teologi kita mengenai Allah, yang penting adalah apakah hidup kita benar-benar digerakkan oleh gairah yang hanya mau menyukakan hati Allah. Oleh sebab itu, memang doa sangat dipengaruhi oleh pengertian kita mengenai siapa dan bagaimana Allah, serta bagaimana seharusnya kita menempatkan diri di hadapan Dia dan membangun relasi tersebut.
     
    Adapun pengertian mengenai Allah tentu bisa relatif, ditinjau dari masing-masing individu. Karena teologi bisa begitu relatif, seperti karet yang bisa ditarik ke sana ke mari. Tetapi yang penting di sini adalah seseorang harus memiliki perjumpaan pribadi dengan Allah. Orang bisa belajar teologi dari perspektif linguistik, aspek historis, transmisi tekstual, dan lain sebagainya, serta seseorang dapat mengklaim bahwa apa yang diajarkan itu benar dan menganggap orang lain sesat, tetapi kembali kepada masing-masing individu, bagaimana kualitas hidupnya. Dan tentu saja, kualitas hidup masing-masing individu juga bersifat confidential, sebab siapa yang bisa menilai kita dari menit ke menit? Suatu hari nanti pasti ada pengadilan, dan mestinya kita benar-benar mempersiapkan diri untuk pengadilan tersebut. Benar-benar kita meyakini adanya pengadilan Allah, adanya gelar perkara di hadapan takhta Kristus suatu hari nanti. Jadi, kita menunggu waktu itu. Hal ini dikemukakan bukan supaya kita mengharapkan suatu hari nanti ada orang-orang yang akan dipermalukan. Tetapi kita memperkarakan hal ini agar kita berjaga-jaga dan mempersiapkan diri, sehingga kita mampu bertahan berdiri di hadapan Anak Manusia (Luk. 21:36).
     
    Oleh sebab itu, betapa berbahagianya kalau kita bisa memiliki hidup yang digerakkan hanya oleh satu gairah, yaitu menyenangkan Dia, dan dapat merasakan serta menikmatinya setiap hari. Kualitas hidup orang yang benar-benar digerakkan oleh gairah ini akan nyata, walaupun memang bersifat confidential, tetapi di hadapan takhta Allah semuanya akan terbuka. Bagaimana pun, kehidupan orang yang digerakkan oleh gairah untuk menyenangkan hati Allah akan dapat dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya, sebab orang-orang yang gairahnya menyenangkan hati Allah tidak akan mungkin menyakiti, melukai, dan merugikan orang lain.
     
    Kita harus memersiapkan diri untuk saat yang dahsyat dan mengerikan, yaitu ketika ada di hadapan pengadilan Allah. Oleh sebab itu, kita harus mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh—yaitu dengan hidup selalu sesuai dengan kehendak Allah, dalam persekutuan dan perdamaian dengan Allah. Jika kita benar-benar mempersiapkan diri dalam menghadapi pengadilan Kristus nanti, kita pasti berusaha untuk menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang terdapat dalam Doa Bapa Kami. Sehingga Doa Bapa Kami bukan hanya dihafalkan dan diucapkan dengan keyakinan perasaan, melainkan Doa Bapa Kami benar-benar dipersonifikasikan di dalam kehidupan secara nyata.
     
    Doa Bapa Kami harus menjadi ekspresi dari kehidupan seorang percaya yang benar-benar diperbaharui atau memiliki gaya hidup yang baru di dalam Tuhan. Sehingga dalam hidup ini kita hanya memiliki satu kepentingan, yaitu mengenakan Doa Bapa Kami yang di dalamnya terdapat hidup ya...
    0 min
  • Kehidupan yang Bernilai
    Pola keagamaan yang bersifat seremonial harus dihentikan. Ini bukan berarti kita tidak boleh melakukan pertemuan di gereja pada hari Minggu—atau hari lainnya—seperti biasa. Pertemuan bersama seperti yang kita lakukan setiap hari Minggu di gereja tentu harus tetap kita lestarikan atau kita pertahankan. Kita sudah memiliki komitmen dengan semua orang percaya di seluruh dunia bahwa pada hari Minggu, kita bersama berkumpul untuk bersekutu dengan Tuhan dan satu dengan yang lain. Tetapi kita tidak boleh berpikir bahwa hal itu adalah suatu keharusan, seakan-akan hari Minggu adalah hari dan jam sakral atau suci. Alkitab mengatakan bahwa tidak ada suatu hari yang lebih dari hari yang lain. Dalam kamus hidup orang kristen, tidak ada hari suci atau tempat suci. Semua hari adalah hari-Nya Tuhan, jadi setiap hari harus menjadi hari yang kita kuduskan bagi Allah, artinya kita menjadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada Allah. Setiap hari adalah hari dimana kita hidup dalam kekudusan dan dalam pengabdian kepada Allah.
     
    Sebenarnya, liturgi menunjukkan bahasa orang beragama yang belum pasti sudah bertuhan. Seorang yang beragama, belum tentu bertuhan. Beragama berarti memeluk suatu agama dan memenuhi syarat-syarat sebagai orang beragama; di antaranya adalah pergi ke rumah ibadah dan mengikuti upacara agama atau seremonial, yang dalam konteks Kristen adalah liturgi. Tetapi bertuhan adalah berinteraksi dengan Tuhan setiap saat dan dalam segala hal. Pada umumnya, orang beragama merasa cukup puas bila sudah melakukan syarat-syarat seremonial agamanya. Tetapi kalau orang bertuhan, pasti berinteraksi dengan Tuhan sendiri. Ini berarti ia harus memiliki kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.
     
    Tidak sedikit orang Kristen yang berpikir bahwa kehadiran Tuhan di gereja lebih terasa kuat daripada di tempat lain. Ini adalah cara berpikir orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan benar. Banyak orang yang menyembah berbagai ilah atau dewa dengan meyakini bahwa ilah atau dewa mereka berada di tempat-tempat tertentu. Bagi umat Perjanjian Baru, pola berpikir yang salah tersebut harus diubah. Tuhan Yesus tidak mengajarkan suatu kehidupan “cara beragama,” tetapi “cara bertuhan” yang baru, yang tidak mengandung unsur agamawi. Kalau masih ada unsur agamawi, berarti masih terdistorsi. Kebenaran yang dibawa Tuhan Yesus mengarahkan bagaimana kita menggelar kehidupan dalam hubungan dengan Allah secara benar setiap saat.
     
    Jadi, Tuhan mengajar kita bahwa ibadah bukan seremonial atau liturgi. Ini yang namanya berjalan dengan Tuhan setiap saat. Inilah inti Injil itu sebenarnya. Inilah Kabar Baik. Dalam Injil, terdapat kesempatan manusia berjalan dengan Penciptanya secara pribadi dalam interaksi secara interpersonal. Jadi, berdoa berarti selalu hidup di hadirat Allah. Kehidupan seperti inilah yang sesungguhnya dikehendaki oleh Allah. Dalam hal ini, sesungguhnya doa adalah gaya hidup atau irama hidup. Kekristenan mengajarkan hidup dengan kualitas ini, yaitu selalu ada di hadirat Allah. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan ideal yang dikehendaki oleh Allah. Bukan hanya beberapa saat dalam perjumpaan dengan Allah seperti pada waktu berdoa atau sembahyang. Bagi orang Yahudi, mereka berdoa pada jam tertentu dan berkiblat ke Yerusalem. Kalau kita, setiap saat dan berkiblat ke langit baru dan bumi yang baru, karena kita memindahkan hati kita ke sana. Yesus berkata: “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada” (Mat. 6:19-21).
     
    Kehidupan doa yang benar—yaitu interaksi tiada henti dengan Allah—bisa menciptakan mesin kehidupan sebagai anak-anak Allah. Dengan demikian, seorang percaya bisa bertumbuh dalam Tuhan dengan dialog, fellowship, persekutuan dengan Allah, dan dalam penghormatan yang patut kepada Allah setiap saat. Dengan demikian, hatinya dapat semakin mengasihi Allah sehingga tertuntun untuk menjadi sempurna. Hal ini menjadi irama hidup yang permanen.
    0 min
  • Liturgi Belum Mewakili Ibadah
    Pada akhirnya, kita dapat melihat bahwa Doa Bapa Kami sebenarnya pola hidup dari orang-orang yang dikembalikan ke rancangan semula. Begitu kita memanggil Allah sebagai “Bapa,” menjadi sangat besar konsekuensinya bagi hidup kita. Kita sudah tidak bisa lagi hidup sama seperti mereka yang tidak berstatus anak bagi Allah sebagai Bapa. Sejak kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita harus mengabdi sepenuhnya bagi Dia. Dalam Roma 12:1-2, dijelaskan pengertian ibadah yang sejati—yaitu mempersembahkan segenap hidup, dan mengalami pembaharuan pikiran atau sikap batin. Kita harus mengembangkan semua potensi yang ada pada kita untuk kepentingan Kerajaan Allah atau kesenangan Allah. Kita harus memandang hal ini sebagai kehormatan. Kalau kita diperkenan menjadi anak Allah, kita harus memandang ini sebagai kehormatan. Kalau kita memandang hal ini sebagai suatu kehormatan, kita dapat mengabdi kepada Allah bukan sebagai suatu beban. Kita melakukannya dengan rela, bahkan sukacita.
     
    Berdoa secara benar dalam konteks umat Perjanjian Baru adalah mempersembahkan seluruh hidup bagi Allah. Kalau dalam kehidupan beragama pada umumnya mempersembahkan hidup bisa hanya berupa tindakan tertentu, pada waktu tertentu, tempat tertentu, dan kadang-kadang dengan cara tertentu. Tetapi, berdoa bagi orang percaya berarti mempersembahkan seluruh hidup berupa seluruh tindakan, kapan pun, dan di mana pun tanpa batas, karena bagi orang percaya, berdoa adalah relasi setiap saat. Kalau kita mempelajari Doa Bapa Kami dengan benar, kita dapat memahami yang dimaksud kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu.” Kerajaan Allah tidak hanya hadir di dalam gereja atau di ruang doa dalam waktu beberapa jam. Kerajaan Allah hadir dalam hidup kita, yaitu dalam seluruh waktu hidup kita.
     
    Jadi, orang yang mau membangun doa yang benar dalam hidup sebagai orang Kristen, hidupnya harus dipersembahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita akan menyesal kalau tidak menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran ini. Kita tidak boleh memiliki kepentingan apa pun. Kita harus melayani perasaan Bapa. Di dalam doa, kita membangun relasi setiap saat. Tidak ada satu detik pun yang terputus. Jadi, bagi kita, umat pilihan, upacara atau seremonial agama atau pun liturgi di gereja tidak lagi menjadi media utama untuk bersekutu dengan Allah. Oleh sebab itu, kita harus mengenal siapa Allah kita.
     
    Banyak orang Kristen yang pengertiannya mengenai berdoa tidak berbeda dengan orang non-Kristen, karena pemahaman mereka mengenai berdoa masih seperti orang-orang beragama pada umumnya. Seperti misalnya orang Yahudi yang sengaja berdoa di tempat terbuka dan menyerukan suara yang keras. Allah yang agung dan cerdas bukan Allah yang bisa “disuap” dengan seremonial semacam itu. Allah yang benar memerhatikan batin, dan batin pasti terekspresi dalam perilaku dan perbuatan setiap hari. Karena tidak mengenal Allah yang benar, kehidupan doa orang beragama tidak sesuai dengan kehendak Allah yang benar. Dan hal ini sangat memengaruhi keseluruhan hidup orang tersebut.
     
    Banyak kalangan komunitas Kristen masih terkungkung dengan ibadah seremonial seperti agama-agama samawi lain. Mereka berpikir bahwa dengan menyanyi dan menyembah dalam bentuk kata-kata, Allah pasti bertakhta di atas puji-pujian dan dipuaskan. Mereka sudah merasa puas bisa melakukan hal itu dan merasa sudah memenuhi ibadah yang utuh kepada Allah. Inilah pola agama samawi—seperti agama Yahudi—yang sebenarnya hanya sebuah seremonial. Pola ibadah seperti ini belumlah mewakili ibadah yang sesungguhnya kepada Allah. Harus dimengerti, dalam hal ini, bukan berarti kalau kita menyanyi sambil mengangkat tangan itu salah. Tetapi hal tersebut tidak bisa mewakili hubungan kita dengan Allah secara benar. Jadi, orang Kristen tidak boleh merasa puas dengan ibadah seremonial seperti itu. Hal ini bukan berarti kita tidak perlu menyanyi dan menyembah Tuhan dengan kata-kata, tetapi hendaknya hal ini tidak dianggap sebagai ...
    0 min
  • Hanya bagi Allah Sepenuhnya
    Konsep doa sangat dipengaruhi oleh pengertian mengenai siapa dan bagaimana Allah, serta bagaimana seharusnya manusia menempatkan diri di hadapan Allah dan membangun relasi atau hubungan dengan Dia. Oleh karena banyak orang Kristen memiliki konsep yang kurang tepat atau meleset mengenai Allah, maka mereka gagal mengenakan kehidupan Kristen yang dikehendaki oleh Tuhan. Tidak jarang pemahaman orang-orang Kristen tertentu dipengaruhi oleh ajaran agama lain, sebagai akibatnya, pengertian doanya pun tidak benar. Pengertian mengenai doa juga sangat memengaruhi kehidupan kekristenan secara menyeluruh dari segala aspek. Mengapa demikian? Sebab doa adalah bagian penting dalam kehidupan orang beragama atau bertuhan. Doa merupakan sarana orang beragama untuk berinteraksi dengan Allah. Kalau pengertian seseorang mengenai doa sudah salah, kualitas kehidupan imannya pasti rendah.
     
    Hakikat doa dalam kekristenan pada dasarnya adalah suatu dialog atau relasi yang terus-menerus terjalin antara Allah dan umat dalam segala keadaan, dalam segala persoalan, dan di mana pun orang percaya berada. Jadi, kalau Alkitab dalam 1 Tesalonika 5:17 mengemukakan mengenai “doa tiada berkeputusan,” itu bukan berarti kita terus-menerus melipat tangan, menekuk lutut, atau melakukan sembahyang atau seremonial (upacara agama) dalam berurusan dengan Allah di ruang doa atau tempat-tempat tertentu. Melainkan hubungan dengan Allah yang terus-menerus, sehingga kita bisa memiliki sebuah fellowship, dialog, dan persekutuan yang tiada henti dengan Allah.
     
    Kalau kita masuk ke wilayah kehidupan doa yang benar ini, kita bisa merasakan kegentaran akan Allah dan memasuki pengalaman kesucian hidup yang belum pernah kita alami sebelumnya, serta meningkat kualitasnya. Kegentaran dan takut akan Allah yang konsisten membuahkan kekuatan batin yang konsisten dalam menghadapi segala sesuatu. Yang pada puncaknya, kita dapat memahami bahwa di dalam hidup ini ternyata kita tidak boleh memiliki kepentingan apa pun, selain menyenangkan hati Allah, karena memang manusia diciptakan hanya untuk kepuasan hati Allah. Orang yang berdoa kepada Allah—dalam arti berdialog dan terus-menerus dalam interaksi dengan Allah—harus melepaskan segala kepentingan. Sehingga, dalam hidup ini hanya memiliki satu kepentingan, yaitu melakukan kehendak Allah dalam segala hal. Dengan demikian, barulah ia dapat berinteraksi dengan Allah secara benar. Allah tidak berurusan dengan mereka yang tidak menyediakan diri melayani perasaan Allah. Dengan demikian, seseseorang tidak akan bisa berdoa dengan benar.
     
    Memang ketika seseorang masih dipandang kanak-kanak rohani oleh Allah atau baru menjadi Kristen, Tuhan tidak menuntutnya untuk dapat sepenuh hati hidup dalam pengabdian kepada-Nya. Tuhan memberi ruangan kepadanya untuk berinteraksi dengan Dia dalam doa, walaupun ia belum memiliki hati yang sepenuhnya dalam pengabdian kepada Allah. Tetapi ketika dipandang oleh Tuhan seseorang harus sudah dewasa, Tuhan menuntut orang percaya tersebut memiliki kehidupan yang sepenuhnya dipersembahkan kepada Allah. Jika tidak dilakukan, Allah tidak akan berurusan dengan orang-orang yang tidak hidup dalam pengabdian kepada-Nya secara penuh. Itu berarti orang tersebut tidak bisa membangun interaksi dengan Allah atau tidak memiliki ruangan di hadapan Allah untuk berdialog atau interaksi secara benar, sebab Allah menghendaki agar seseorang hanya mengabdi kepada satu tuan (Mat. 6:24).
     
    Kita harus menerima dan mengakui bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat penuh atas hidup kita, secara absolut Allah mendominasi hidup kita. Jika kita mengakui dan menerima hal ini, kita tidak akan menujukan hidup kita kepada apa pun dan siapa pun. Kita hidup hanya untuk mengabdi kepada Allah secara penuh. Demikianlah sesungguhnya maksud dan tujuan manusia diciptakan oleh Allah. Sebagai makhluk ciptaan, kita harus menerima bahwa kita tidak memiliki hak sama sekali.
    0 min
  • Beragama yang Belum Dewasa
    Kalau kita bisa menemukan kebenaran dalam Doa Bapa Kami, kita akan benar-benar takjub terhadap kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Doa Bapa Kami tersebut. Setelah mengerti, tentu cara kita memandang Doa Bapa Kami menjadi berbeda dari sebelumnya. Selanjutnya, pemahaman kita mengenai bagaimana menjalani kehidupan Kristiani juga menjadi berbeda. Seharusnya, demikian pula dengan pemahaman kita terhadap berbagai tema yang Yesus ajarkan di dalam Injil. Oleh sebab itu, kita tidak boleh merasa puas dengan pemahaman Alkitab yang sudah ada, sehingga kita tersandera dalam pengetahuan Alkitab “warisan” dari para pendahulu kita, dan terparkir di tempat yang sama. Seiring perjalanan waktu dan perubahan keadaan zaman, Roh Kudus pasti membuka pikiran orang percaya untuk menerima pencerahan-pencerahan baru mengenai kebenaran-Nya untuk menghadapi dunia yang semakin jahat.
     
    Ketika murid-murid meminta kepada Yesus agar diajarkan berdoa, pasti konsep murid-murid mengenai berdoa sama seperti orang Yahudi lainnya. Dengan diajarkannya Doa Bapa Kami, seharusnya konsep beribadah—termasuk di dalamnya mengenai berdoa—harus juga berbeda dengan konsep agamawi yang telah mereka kenal sebelumnya sebagai orang-orang yang beragama Yahudi; agama Samawi. Memasuki dekade zaman anugerah, pola ibadah manusia berubah sama sekali. Kalau pada zaman Perjanjian Lama, ibadah menekankan ritual atau seremonial, tetapi di zaman Perjanjian Baru, Tuhan Yesus mengajarkan ibadah yang berbeda, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:24). Dengan memahami makna “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran,” maka pengertian doa dalam konteks umat Perjanjian Baru akan menjadi benar pula. Yang harus ditekankan dalam berdoa adalah membangun relasi setiap saat dengan Allah. Dalam hal ini, asumsi kita mengenai berdoa tidak lagi hanya sekadar melipat tangan, menekuk lutut pada jam atau tempat tertentu, dan dengan cara-cara tertentu.
     
    Bagi umat pilihan, upacara atau seremonial agama (liturgi) di gereja seharusnya tidak lagi menjadi media utama untuk bersekutu dengan Allah. Pertemuan di gereja lebih kepada media persekutuan antar umat, dan umat secara komunitas dengan Allah. Media utama persekutuan antara orang percaya sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa seharusnya berlangsung sepanjang perjalanan hidup, setiap saat, dalam segala hal yang dilakukan, dan di mana pun seseorang berada. Kita harus dapat menghayati bahwa Allah yang benar pasti cerdas dan mulia, Allah tidak berurusan dengan manusia hanya melalui seremonial agama atau liturgi. Pola seperti ini bukanlah pola orang beriman yang dewasa; agama yang belum dewasa. Agama Yahudi adalah pola agamawi yang belum dewasa, jika dibanding dengan pola ibadah umat Perjanjian Baru, yaitu menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.
     
    Jadi, kalau umat masih menggunakan seremonial agama atau liturgi untuk berurusan dengan Allah, ini berarti umat yang belum dewasa. Untuk sementara waktu, bagi orang Kristen yang baru, Allah menolerir ketidakdewasaan umat, ketidakmengertian umat tentang diri-Nya; siapa dan bagaimana diri-Nya. Mereka masih ada di tingkat seremonial. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, orang percaya harus menjadi semakin dewasa, harus mengenal dengan benar siapa Allah dan apa yang Dia kehendaki dalam berinteraksi dengan Dia. Ibadah orang percaya harus dalam roh dan kebenaran. “Di dalam roh” itu berarti tidak terbatas oleh ruang dan waktu, serta cara-cara atau tatacara upacara agama. Masuk zaman Perjanjian Baru, pola agamawi—seperti agama Yahudi—harus ditinggalkan. Orang-orang Yahudi, sebagai orang agamawi sangat giat dalam hidup keberagamaannya; bagi mereka, berdoa adalah kegiatan sehari-hari yang sangat kuat mewarnai hidup mereka. Tetapi mereka menekankan secara seremonial.
     
    Ketika Tuhan Yesus mengajarkan Doa Bapa Kami dalam beberapa Injil—khususnya Injil Matius—Yesus sedang mempercakapkan hal berdoa. Salah satu faktor yang merusak kehidupan iman ...
    0 min
  • Sungguh-Sungguh Mencari Allah
    Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah memiliki potensi untuk berinteraksi dengan Allah. Keselamatan dalam Yesus Kristus hendak mengembalikan manusia kepada rancangan Allah semula, yaitu persekutuan antara Allah sebagai Bapa, dan manusia sebagai anak-anak-Nya. Kekristenan yang benar bila dikenakan atau dijalani, dapat membuat seseorang semakin mengalami perjumpaan dengan Allah. Tujuan pelayanan gereja harus terfokus hanya pada hal ini. Kita harus mengisi hidup kita dengan misi ini.
    Oleh sebab itu, orang percaya harus memahami dengan benar maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia, dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, agar dapat berinteraksi dengan Allah secara ideal. Kesalahan banyak orang Kristen yang mengakibatkan mereka tidak mengalami perubahan kodrat dan tidak pernah memiliki hubungan interaksi dengan Allah, disebabkan karena mereka menjadikan kekristenan sekadar agama. Sehingga, banyak orang Kristen hanya memiliki pengalaman keberagamaan, tetapi bukan perjumpaan yang benar dengan Allah, serta tidak pernah memiliki pengalaman berjalan dengan Allah. Ini adalah kemerosotan dan penyimpangan yang sudah berlangsung berabad-abad. Orang-orang Kristen hari ini hanya mewarisi doktrin dan liturgi, tetapi bukan impartasi kehidupan yang berinteraksi dengan Allah.
    Kekristenan yang telah menyimpang tersebut telah menjadi standar kehidupan agama Kristen yang dijalani hampir semua orang Kristen di dunia. Tidak heran kalau kehidupan mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang bukan umat pilihan. Standar moral mereka tidak berbeda dengan orang-orang non-Kristen, bahkan tidak sedikit orang Kristen yang kelakuannya lebih buruk dari orang non-Kristen. Mereka tidak merindukan Kerajaan Allah. Kehidupan mereka adalah kehidupan wajar seperti manusia pada umumnya. Orang Kristen yang hidup dalam kewajaran anak dunia tidak mungkin hidup dalam perdamaian dengan Allah.
    Orang yang ke gereja belum tentu mengalami perjumpaan dengan Allah secara benar. Perjumpaan dengan Allah tidak hanya diwakili oleh liturgi atau tata cara ibadah. Perjumpaan dengan Allah adalah perjumpaan dalam segala keadaan dan dalam persoalan hidup yang dialami oleh seseorang. Allah dapat dikenal dan ditemukan di sepanjang menit, detik, dan setiap saat dalam perjalanan hidup kita. Di mana pun orang percaya berada dan dalam segala keadaan, Allah hadir dan bergerak. Allah tidak pernah berhenti memelihara, melindungi, dan mendidik orang percaya. Masalahnya terletak pada masing-masing individu, apakah menanggapi kehadiran Allah dalam hidup ini dengan belajar mengerti kehendak Allah dan melakukannya.
    Dengan kehadiran Allah di tengah-tengah orang percaya, seharusnya orang percaya dapat mendengar suara-Nya. Hendaknya, orang percaya tidak ragu-ragu terhadap bimbingan langsung dari Allah kepada setiap individu secara khusus. Untuk ini, orang percaya harus berani menginvestasikan waktunya guna menemukan Allah dan hidup berjalan dengan Dia. Orang percaya harus bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Allah, serta meninggalkan percintaan dengan dunia. Orang percaya harus berani untuk tidak duniawi.
    Kalau seseorang tidak bertekad untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela serta tidak bersedia meninggalkan percintaan dunia, sebaiknya atau seharusnya berhenti jadi orang Kristen, sebab percuma ke gereja dan menjadi orang Kristen. Dengan semangat dunia yang tidak ditanggalkan, seseorang tidak akan bisa menjumpai Allah. Tekad memang tidak otomatis dapat membuat seseorang hidup suci dan meninggalkan percintaan dunia, tetapi Allah akan menuntunnya sampai orang percaya yang berkomitmen tersebut dapat menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Dalam hal ini, kita tidak boleh hanya bergantung pada doktrin atau ajaran sistematika teologi manusia.
    0 min
  • Pelayanan yang Benar
    Para teolog dan pemimpin gereja adalah para pihak yang paling bertanggung jawab atas keadaan kekristenan yang telah begitu merosot dan mengalami penyimpangan—selain tentunya pengurus sinode atau pusat pemerintahan gereja—sebab mereka adalah orang-orang yang dipandang oleh jemaat awam atau umat sebagai perwakilan dari Allah untuk mengatur gereja. Banyak jemaat awam atau umat merasa tidak memiliki akses langsung kepada Allah seperti yang dimiliki para pemimpin gereja, sehingga umat begitu memercayai mereka.
    Ditambah lagi dengan pola keberagamaan pada umumnya—yang memandang bahwa tokoh agama adalah mediator antara Allah dan umat—maka umat semakin menaruh harapan dan keyakinan kepada para pemimpin gereja sebagai mediator dengan Allah. Betapa rusaknya kehidupan iman orang percaya kalau para pemimpin gereja tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup berjalan dengan Dia. Berhubung dunia sudah menjadi begitu rusak, sementara jemaat tidak memiliki kepekaan sama sekali dalam memahami kebenaran, maka jemaat terseret pada kehidupan keberagamaan; bukan Injil sejati, yaitu kehidupan Yesus yang harus dikenakan. Hampir-hampir tidak ada umat yang benar-benar telah mengalami perjumpaan dengan Allah, sebab pemimpin mereka saja tidak mengalami perjumpaan dengan Allah.
    Dengan demikian, kegiatan pelayanan pekerjaan Tuhan di tingkat sinode dan gereja hanya merupakan aktivitas keagamaan yang sama dengan semua agama di dunia. Ini adalah kemerosotan di dalam gereja yang sudah berlangsung selama beberapa abad belakangan ini. Ironisnya, hal ini sudah dianggap wajar dan menjadi standar kekristenan di seluruh dunia. Orang Kristen yang hidup kekristenannya hanya sampai taraf keberagamaan tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah.
    Kekristenan pada dasarnya adalah jalan hidup, bagaimana menjalani hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu jalan hidup orang-orang yang mengalami perubahan hidup untuk bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan Allah. Hanya orang yang mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, yang bisa menjadi anak-anak Allah. Kehidupan anak Allah yang sesungguhnya telah diperagakan oleh Yesus ketika mengenakan tubuh daging seperti manusia pada umumnya, sekitar dua ribu tahun lalu. Yesus adalah model kehidupan anak Allah yang harus dimiliki setiap orang percaya.
    Dengan demikian, kekristenan pada dasarnya adalah menjalani kehidupan seperti yang telah dijalani oleh Yesus. Itulah sebabnya, firman Allah mengatakan agar orang percaya menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29) atau memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga pada Yesus Kristus (Flp. 2:5-7). Pikiran dan perasaan Kristus di sini berarti nurani seperti yang ada pada Yesus, yang juga sama dengan memiliki cara berpikir seperti Yesus. Kalau cara berpikir seseorang sama seperti Yesus, maka segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah Bapa.
    Kehidupan orang percaya yang semakin serupa dengan Yesus adalah kehidupan manusia yang mengalami perubahan, dari manusia yang masih mengenakan kodrat dosa beralih mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Kehidupan manusia yang berkodrat ilahi adalah kehidupan yang luput dari hawa nafsu dunia yang membinasakan. Ini berarti kehidupan orang yang berkodrat ilahi adalah kehidupan orang yang hasratnya bukan lagi pada pemuasan diri sendiri—baik nafsu daging maupun jiwanya yang rusak.
    Kehidupan mengenakan kodrat ilahi adalah kehidupan yang dikehendaki oleh Allah dan menyukakan hati-Nya. Inilah yang dimaksud dengan sempurna seperti Bapa. Allah menginginkan karya agung-Nya, yaitu manusia, bisa berkeadaan segambar dan serupa dengan diri-Nya. Hanya hal ini yang bisa memuaskan hati Allah. Dengan demikian, manusia dapat memuliakan Allah. Pada akhirnya, segala sesuatu adalah untuk kemuliaan Allah Bapa yang juga berarti untuk kesukaan, kesenangan, dan kepuasan hati Allah Bapa. Inilah inti dari maksud keselamatan yang diberikan oleh Allah.
    Dengan hal ini,
    0 min
  • Tanpa Perjumpaan dengan Allah
    Allah adalah realitas yang selalu “real time” dan benar-benar nyata bagi mereka yang sungguh-sungguh mau berurusan dengan Dia, yaitu mereka yang berani melepaskan segala sesuatu. Dia adalah realitas, bahkan di atas segala realitas. Dia sudah ada dari kekal sampai kekal. Ia lebih dari segala realitas, sebab Dia sudah ada sebelum segala sesuatu ada. Dia tidak diciptakan dan tidak diadakan. Dia yang menciptakan segala sesuatu.
    Sebenarnya, banyak teolog, pemimpin gereja, dan jemaat Kristen yang masih hidup dalam keberagamaan kosong; mereka memiliki pengetahuan tentang Allah, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Mereka membangun hidup kekristenan hanya didasarkan pada doktrin yang mereka akui sebagai kebenaran. Mereka hanya sibuk dengan doktrin, tetapi mereka tidak sibuk dengan Allah secara pribadi dalam perjumpaan konkret dengan Allah. Itulah sebabnya, Allah yang mereka kenal adalah Allah yang hanya di pikiran, bukan Allah yang dijumpai langsung secara konkret. Karena pengajarnya berkeadaan demikian, maka kekristenan seperti ini sudah menjadi standar gereja dari abad ke abad selama ratusan tahun.
    Semakin tahun, gereja mengalami kemerosotan yang sangat tajam, bahkan nyaris membuat kekristenan punah di negara-negara Barat yang dahulu dikenal sebagai negara Kristen, yang memiliki segudang teolog dan seminari atau sekolah tinggi teologi. Kenyataan bahwa Allah membiarkan gereja termegah di dunia, Hagia Sopha, menjadi rumah ibadah agama lain, merupakan peringatan bahwa kekristenan agamawi memuakkan dan mengecewakan hati Allah Bapa. Banyak orang Kristen sibuk berdebat dan saling menyakiti, tetapi tidak hidup dalam perjumpaan dengan Tuhan dengan benar. Hal ini mestinya menjadi peringatan bagi orang Kristen. Kalau Arius dan Athanasius hidup dan melihat kenyataan ini, mereka akan menangis dan baru bisa melupakan perdebatan doktrin mereka.
    Harus jujur diakui, banyak teolog Barat yang menjadi dosen-dosen seminari dan rohaniwan-rohaniwan di gereja hanya cakap berteologi tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil. Kemerosotan kekristenan yang terjadi di masyarakat Barat menjadi peringatan yang harus kita perhatikan dengan serius. Tidak sedikit gereja yang berubah fungsi, bahkan menjadi rumah ibadah agama lain. Hal ini menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam kehidupan Kristiani palsu.
    Banyak teolog, para pemimpin gereja, dan jemaat Kristen dengan khidmat menyelenggarakan liturgi. Di dalamnya mereka berdoa, menyanyi sebagai pujian dan penyembahan kepada Allah, serta mengucapkan kredo (pengakuan). Tetapi, sebenarnya mereka tidak mengalami perjumpaan dengan Allah dan tidak hidup dalam kehendak-Nya. Dalam kemerosotan kekristenan yang sudah berlangsung berabad-abad, Allah hanya menjadi isi pengetahuan yang disebut teologi, tanpa mengalami perjumpaan dengan Allah secara riil.
    Mereka juga cakap berdebat dan berapologetika—yaitu menjelaskan, meluruskan, atau mendebat mengenai iman Kristen dengan agama lain—tetapi mereka tidak menunjukkan kehidupan anak Allah seperti yang diperagakan oleh Yesus. Yang mereka temukan hanyalah ilmu mengenai Allah atau teologi, bukan mengalami perjumpaan secara konkret dengan Allah. Sungguh malang, mereka berbicara mengenai pendamaian oleh karya salib, tetapi tidak hidup dalam perdamaian dengan Allah.
    Tidak heran kalau banyak teolog, para pemimpin gereja, sampai jemaat tidak mengalami perubahan kodrat. Memang secara usia, melalui perjalanan waktu, seseorang bisa lebih bertambah tenang, bijaksana, dan baik—yang disebut sebagai dewasa mental—tetapi belum tentu itu merupakan sebuah perubahan kodrat menjadi seperti Yesus. Sejatinya, mereka belum menemukan Allah. Orang yang mengalami perjumpaan dengan Allah pasti memperagakan hidup Yesus.
    Mempelajari pengetahuan atau ilmu tentang Allah melalui berbagai media bukan sesuatu yang sulit, karena hal itu bisa didapat tanpa perlu mempertaruhkan segenap hidupnya. Tetapi yang berat adalah perjuangan untuk mengalami pe...
    0 min
  • Iman dalam Tindakan
    Kalimat “kerjakan keselamatanmu” dalam teks aslinya adalah κατεργάζεσθε (katergazeste), dari akar kata katergazomai (κατεργάζομαι), yang artinya as thoroughly working at something, accomplish, commit, as achieving an effect, produce, make completely ready, prevail, overcome (dengan sungguh-sungguh mengerjakan sesuatu, mencapai, berkomitmen, menghasilkan, membuat, membuat benar-benar siap, menang, mengatasi). Kata ini jelas menunjukkan harus ada usaha kita untuk mencapai sesuatu sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan.
    Memang Allah yang mengerjakan di dalam kita, tetapi kata “Allah mengerjakan” tidak bermaksud Allah mengambil alih tanggung jawab kita. Dalam teks aslinya adalah energein, energon (ἐνεργεῖν) dari akar kata energeo, (ἐνεργέω) yang artinya be at work, operate, become effective (mengerjakan atau ada di dalam suatu kegiatan atau pekerjaan, beroperasi, menjadikan efektif). Sebenarnya, baik kata “katergazeste” maupun “energon” memiliki kata dasar yang sama yaitu ergon atau erga. Katergazste dari dua kata: kata, ergazomai (κατά, ἐργάζομαι), sedangkan dari dari dua kata yaitu en, ergon (ἐν, ἔργον) yang artinya membuat efektif atau bisa diartikan sebagai be vigorous in pursuit of an objective (menjadi kuat dalam mengejar tujuan).
    Seberapa Allah menjadi efektif dalam hidup seseorang, tergantung dari bagaimana kita merespons anugerah yang Allah sediakan. Supaya menjadi efektif, maka manusia harus berani menanggalkan semua beban dan dosa. Beban artinya keterikatan dengan dunia dan dosa. Beban merupakan keterikatan diri kita dengan segala keinginan yang tidak sesuai dengan kesucian Allah. Hal ini menyangkut keinginan daging. Orang yang memiliki keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Allah, tidak dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah.
    Dalam hal ini, tidak mungkin kita bisa menjadi orang Kristen tanpa melakukan barter. Yesus berkata bahwa kita harus melepaskan diri dari segala milik, barulah bisa diubah atau menjadi murid-Nya (Luk. 14:33). Harus ada kesediaan dari diri kita untuk melepaskan segala sesuatu yang kita nilai berharga di dalam hidup kita untuk memeroleh Kristus. Paulus dalam Filipi 3:7-9 mengatakan, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Selanjutnya Paulus juga mengatakan, “… dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan” (Flp. 3:9).
    Kalimat “kebenaran berdasarkan kepercayaan,” bukan berarti hanya dengan pikiran percaya atau yakin bahwa Yesus adalah Juruselamat maka seseorang dapat mengalami keselamatan. Kebenaran berdasarkan kepercayaan, artinya kehidupan yang benar karena penurutan terhadap kehendak Allah. Iman bukanlah sekadar keyakinan di dalam pikiran. Iman adalah tindakan dalam penurutan kepada seluruh kehendak Allah. Kalau seandainya Paulus hidup pada zaman sekarang, dan mengajarkan bahwa “seseorang harus melepaskan segala sesuatu untuk memeroleh Kristus,” maka tidak sedikit teolog akan mengecam dia. Mereka akan mengatakan, “Paulus, kamu sesat. Keselamatan dapat diperoleh bukan karena perbuatan baik, tetapi karena iman. Kamu mengajarkan anugerah plus. Keselamatan itu diberikan cuma-cuma, istilahnya solagratia. Kamu pasti pengikut Armenius, seorang armenian.” Paulus akan menjawab bahwa dirinya pengikut Yesus dari Nazaret, yang mengajarkan harus melepaskan segala sesuatu baru bisa menjadi murid-Nya.
    Paulus akan mengutip ucapan Yesus dalam Matius 13:44-46 tertulis: “Hal Kerajaan Sorga itu seumpama harta yang terpendam di ladang, yang ditemukan orang, lalu dipendamkannya lagi. Oleh sebab sukacitanya pergilah ia menjual seluruh mi...
    0 min
  • Memancarkan Kemuliaan-Nya
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa mengakibatkan manusia berkeadaan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Kata “kehilangan” dalam teks aslinya adalah hysterountai (ὑστεροῦνται) dari akar kata hystereo yang memiliki pengertian to be inferior, to fall short (be deficient): be destitute, fail, lack, suffer need, be the worse (menjadi rendah, gagal (kekurangan): menjadi miskin, gagal, kekurangan, menderita, menjadi lebih buruk)—artinya tidak mencapai target atau kurang. Kekurangan ini juga dipandang sebagai kehilangan, sebab dengan kekurangan tersebut manusia kehilangan kesempatan. Pertama, Adam dan Hawa tidak memiliki kesempatan. Kedua, juga seluruh keturunannya, selain mereka yang menjadi umat Allah yang diberi kesempatan untuk menemukan kemuliaan Allah. Dengan menemukan kemuliaan Allah, manusia dapat hidup dalam perdamaian dengan Allah. Tidak seperti Adam dan Hawa yang diusir dari Taman Eden.
    Keselamatan dalam Yesus Kristus bermaksud membuat manusia untuk dapat berkeadaan seperti rancangan Allah semula, yaitu manusia dapat menemukan kemuliaan Allah tersebut. Manusia memperoleh kembali kesempatan untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang. Kemuliaan Allah itu tidak diperoleh secara otomatis, tetapi harus melalui perjuangan. Hal ini paralel dengan Kerajaan Allah diberikan secara gratis, tetapi untuk hidup dalam pemerintahan Kerajaan Allah bukan sesuatu yang gratis, melainkan harus diperjuangkan. Semakin seseorang menjadi seperti Yesus, maka ia semakin menemukan kemuliaan Allah yang tidak dimiliki oleh manusia. Yesus adalah satu-satunya model manusia yang memiliki kemuliaan Allah. Orang percaya dipanggil untuk mengikuti jejak-Nya, yaitu memiliki kemuliaan Allah.
    Seseorang tidak bisa hidup dalam perdamaian dengan Allah atau hidup dalam persekutuan dengan Allah tanpa berkeadaan layak bagi Dia. Itulah sebabnya, harus ada proses pendewasaan untuk mencapai hal tersebut. Sangat sedikit orang yang benar-benar mengusahakan hal ini. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki anugerah, merasa telah berdamai dengan Allah sehingga tidak merasa perlu memiliki perjuangan untuk itu. Sehingga mereka hidup dalam kewajaran seperti orang-orang yang bukan umat pilihan. Keadaan ini seperti Esau yang menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan.
    Kita harus mengerti bahwa sejak kita mengaku percaya kepada Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita harus berjuang untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut. Kemuliaan Allah (the glory of God) dalam teks aslinya adalah tes doktes tou theou (τῆς δόξης τοῦ θεοῦ). Kata “kemuliaan” atau doktes berasal dari akar kata doksa yang artinya brightness, radiance, splendor (kecerahan, cahaya, kemegahan). Kemuliaan tersebut bukan terletak pada hal-hal lahiriah, melainkam manusia batiniah yang cemerlang. Manusia batiniah yang memancarkan dan mengekspresikan perasaan dan pikiran Allah.
    Orang yang berjuang mengerjakan keselamatan akan semakin menyatakan atau menunjukkan manifestasi dari kemuliaan Allah (as a manifestation of God’s excellent power glory, majesty). Ini adalah satu-satunya yang terpenting dalam kehidupan orang percaya seperti yang dikatakan Paulus dalam suratnya di Filipi 2:15, yang tertulis: … supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia. Dalam hal ini, orang percaya menjadi seperti bintang-bintang di cakrawala, yang menjadi terang dunia, sehingga kota yang terletak di atas bukit “Surga” dapat dilihat, dan kehidupan orang percaya memuliakan Allah.
    Ayat sebelumnya dalam Filipi 2:5-8, tertulis: Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…