Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengoreksi Diri
    Dalam Injil Matius 7:21-23, sangat jelas Yesus menyatakan bahwa sekalipun seseorang mengaku Yesus sebagai Tuhan, tetapi kalau tidak melakukan kehendak Bapa, tetap ditolak oleh Dia. Sekalipun seseorang memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi kalau tidak memiliki karakter Bapa atau sempurna seperti Bapa, maka tidak diakui sebagai anak. Malangnya, banyak orang Kristen walaupun tidak melakukan kehendak Bapa, masih saja memanggil Allah sebagai Bapa, dan dengan hati sejahtera memanggil Yesus sebagai Tuhan, walau tidak memperlakukan Yesus sebagai Tuan atau majikan satu-satunya dalam hidup ini.
    Seharusnya, orang percaya yang memanggil Allah sebagai Bapa, mengenakan kodrat ilahi. Jadi, kalau orang tidak berkodrat ilahi, sebenarnya tidak layak memanggil Allah sebagai Bapanya. Mestinya hal ini dikemukakan dengan jelas dan tegas kepada jemaat supaya mereka jangan memiliki perasaan damai yang palsu. Juga jangan sampai jemaat memiliki keyakinan yang palsu, serta memiliki pengharapan yang palsu. Mereka merasa sudah percaya kepada Yesus, padahal percaya mereka belum diakui oleh Tuhan sendiri sebagai percaya yang benar. Mereka merasa sebagai anak-anak Allah, padahal Bapa di surga tidak mengakui sebagai anak-anak-Nya. Mereka memiliki pengharapan kepastian akan masuk Kerajaan Surga, padahal pada akhirnya, mereka ditolak oleh Allah.
    Bukan tidak mungkin suatu hari nanti di kekekalan, terdapat atau terjadi hal-hal yang mengejutkan. Banyak orang Kristen yang rajin ke gereja, ternyata masuk neraka. Memang mereka rajin ke gereja, tetapi mereka tidak melakukan kehendak Bapa dalam kehidupan setiap hari. Lebih mengejutkan lagi, kalau ada rohaniwan atau pendeta yang ternyata tidak ada di surga. Mereka yang berkhotbah dan berbicara mengenai surga, ternyata tidak masuk surga. Hal ini mirip seperti “calo” yang berteriak-teriak mengarahkan atau menunjukkan sebuah destinasi, tetapi dirinya sendiri tidak pernah sampai ke destinasi kendaraan tersebut. Tetapi bagi kita yang mengerti Firman Tuhan dan benar-benar hidup di dalam kesucian Allah, tidak akan terkejut lagi, sebab kita memahami memang tidak mudah untuk masuk surga itu. Yesus sendiri berkata bahwa banyak orang yang berusaha masuk, tetapi tidak bisa masuk (Luk. 13:23-24). Dalam Injil Matius 7:21-23 juga dikemukakan bahwa ada banyak orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan, ternyata ditolak oleh Tuhan.
    Oleh sebab itu, kita harus memiliki perasaan krisis, yaitu dengan mempertimbangkan kemungkinan kita ditolak oleh Allah. Dengan perasaan krisis ini, kita berusaha untuk mengoreksi diri kita sendiri dengan introspeksi yang jujur dan tulus, kalau-kalau kita belum berkeadaan berkenan di hadapan Allah. Kita harus selalu mempertimbangkan kemungkinan masih adanya kebiasaan hidup kita yang tidak berkenan di hadapan Allah atau yang bisa melukai hati-Nya. Setiap hari, kita harus belajar untuk menggelar perkara di hadapan Allah dan mempersoalkan: Apakah masih ada sesuatu yang tidak beres di dalam hidup kita di hadapan Allah. Kita harus berpikir, bahwa setiap hari adalah hari terakhir kita. Dengan demikian, kita selalu bersiap-siap atau berjaga-jaga menghadap pengadilan Kristus. Sehingga kalau suatu saat kita dipanggil pulang oleh Tuhan, kita dapat pulang dengan sukacita, karena kita telah berkeadaan berkenan di hadapan Allah.
    Kalau seseorang sibuk dengan kesenangan dunia dan terus menggeliat untuk mengumpulkan harta dunia, ia tidak akan pernah sungguh-sungguh mengoreksi diri untuk menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah. Ia tidak mempersoalkan penilaian Allah terhadap dirinya, tetapi lebih mempersoalkan bagaimana pandangan dan penilaian orang lain terhadap dirinya. Sikap ini sebenarnya seperti sikap Lusifer yang mau menjadi agung dan mulia bagi dirinya sendiri, bukan bagi Allah yang menciptakan dirinya. Padahal, makhluk ciptaan diciptakan hanya untuk kemuliaan Penciptanya.
    Dengan terus-menerus belajar menjadi seorang yang berkenan di hadapan Allah,
    0 min
  • Dalam Perjuangan
    Seseorang dapat menjadi anak Allah dimulai dari pengurbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Jika tidak pernah ada pengurbanan Yesus di kayu salib, tidak pernah ada orang yang menjadi anak-anak Allah. Tetapi, apakah seseorang benar-benar menjadi anak-anak Allah yang sah atau tidak, itu tergantung dari respons masing-masing individu. Memang Allah yang akan mensahkan atau melegalkan seseorang adalah anak Allah atau tidak, tetapi hal ini juga tergantung dari usaha masing-masing individu untuk menerima penggarapan Allah. Penggarapan Allah akan mengubah hidup seseorang menjadi anak-anak Allah yang modelnya adalah Yesus sendiri.
    Apa yang dikemukakan di atas ini terkesan mengandung keangkuhan atau kesombongan manusia, seakan-akan keselamatan atau menjadi anak Allah adalah hasil usahanya sendiri. Bukan demikian maksudnya. Sejatinya, respons kita terhadap anugerah keselamatan yang Allah sediakan yang akan menentukan kita menjadi anak Allah yang sah atau tidak. Harus selalu diingat, bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya oleh karena iman. Sedangkan, iman itu adalah tindakan, seperti tindakan Abraham dalam menuruti apa pun yang Allah perintahkan kepadanya. Iman bukan sekadar aktivitas pikiran, melainkan tindakan yang harus kita miliki untuk menerima keselamatan, yaitu melakukan apa pun yang Allah kehendaki dalam hidup ini. Dan yang dikehendaki oleh Allah dalam hidup ini adalah kita menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus.
    Sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus tidak bisa terwujud di dalam hidup kita secara otomatis. Ini adalah hasil respons kita terhadap keselamatan yang Allah sediakan, antara lain: Pertama, penebusan hanya oleh darah Yesus, memberi diri dipimpin oleh Roh Kudus. Kedua, belajar kebenaran Firman Tuhan yang dipimpin oleh Roh Kudus, dan yang ketiga, menerima penggarapan Allah melalui segala kejadian yang kita alami setiap hari (Rm. 8:28-29). Pada kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak merespons keselamatan yang Allah berikan tersebut. Mereka sibuk dengan kehidupan sehari-hari seperti manusia wajar lainnya. Padahal, kalau kita menjadi umat pilihan, fokus kita hanyalah bagaimana kita dapat menjadi serupa seperti Yesus yang adalah model kehidupan Anak Allah yang sah di mata Bapa.
    Pada akhirnya, kalau seseorang tidak menjadi serupa dengan Yesus—artinya tidak melakukan kehendak Bapa—maka ia akan ditolak oleh Yesus dengan pernyataan keras: “Enyahlah dari pada-Ku, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa” (Mat. 7:21-23), sebab bukan orang yang menyebut atau memanggil Yesus sebagai Tuhan yang masuk Kerajaan Surga, melainkan orang yang melakukan kehendak Bapa. Hal ini jelas sekali mengisyaratkan bahwa seseorang diterima di Rumah Bapa tidak tergantung dari prestasi hidupnya, apakah dia melakukan kehendak Bapa atau tidak; atau mencapai kesucian standar Allah Bapa. Dengan demikian, menjadi anak Allah yang sah adalah hasil dari respons kita terhadap kasih karunia yang Allah sediakan.
    Sebenarnya, secara tidak langsung ketika Yesus mengajarkan kita bahwa Allah sebagai Bapa, Yesus memanggil kita untuk memiliki perjuangan mengesahkan diri kita sebagai anak Allah. Hal ini juga dialami atau dilakukan oleh Yesus sendiri. Walaupun Dia adalah Anak—yang artinya Anak Allah—Ia belajar dari apa yang diderita-Nya. Dia berdoa dengan ratap tangis dan keluhan kepada Bapa yang bisa menyelamatkan-Nya dari maut atau yang bisa membangkitkan diri-Nya dari kubur. Alkitab mengatakan karena kesalehan-Nya, Dia didengar; bukan karena Dia Anak Tunggal Allah (Ibr. 5:7-9). Yesus sendiri harus membuktikan bahwa diri-Nya adalah Anak Allah, melalui pergumulan dalam perjuangan yang berat. Jadi bukan sesuatu yang mudah, yang otomatis dapat diraih oleh Yesus.
    Harus selalu kita ingat, bahwa Yesus menjadi manusia seratus persen atau dalam segala hal disamakan dengan manusia, bukanlah sebuah sandiwara (Ibr. 2:17). Ia benar-benar menjadi manusia seperti kita dan melakukan perjuangan untuk menunjukkan bahwa diri-N...
    0 min
  • Kesucian Allah
    Seperti yang dikemukakan pada pembahasan sebelumnya, bahwa panggilan “Bapa” untuk Allah yang diajarkan oleh Yesus dalam Doa Bapa Kami mengarahkan kita pada kehidupan sebagai anak-anak Allah. Secara tidak langsung, kita dipanggil untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sebab hanya orang-orang yang dipimpin Roh Kudus yang dapat menjadi anak-anak Allah. Hidup dalam pimpinan Roh Allah dapat terjadi atau berlangsung dalam hidup seseorang yang memang memberi diri dipimpin Roh Allah. Kalau seseorang menolak hidup dalam pimpinan Roh Allah, ia tidak akan pernah hidup dalam pimpinan Roh Allah. Dengan demikian, sia-sialah Roh Kudus yang diberikan kepada orang percaya sebagai meterainya. Jika terus-menerus menolak pimpinan Roh Kudus, ia dapat menghujat Roh Kudus.
    Roh Allah tidak memaksa seseorang hidup di dalam pimpinan-Nya. Ia tidak akan menuntun orang yang tidak merasa membutuhkan pimpinan-Nya. Itulah sebabnya, dikatakan dalam Firman Tuhan bahwa hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5). Ini berarti kalau memang orang tidak sungguh-sungguh membutuhkan pimpinan Roh Kudus untuk hidup dalam kebenaran Allah, orang tersebut tidak akan pernah mengalami pimpinan Roh Kudus. Kita harus benar-benar merasa membutuhkan Roh Kudus, sebab tanpa Roh Kudus, kita tidak akan bisa mencapai kesucian Allah, dan kita harus sungguh-sungguh merindukan untuk memiliki kehidupan yang sesuai dengan standar kesucian Allah.
    Pada dasarnya, pimpinan Roh Kudus dalam hidup kita mengantar kita kepada kehidupan yang sempurna seperti Bapa. Dalam Matius 5:48, ketika Yesus berkata bahwa orang percaya harus sempurna seperti Bapa, sebenarnya secara tidak langsung Yesus mau berkata bahwa kita yang memanggil Allah sebagai Bapa, artinya menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Hal ini tidak boleh dihindari oleh orang yang percaya. Jadi, menjadi sempurna seperti Bapa adalah keharusan yang bersifat mutlak. Oleh sebab itu, hidup dalam pimpinan Roh Kudus juga adalah sesuatu yang mutlak. Tanpa pimpinan Roh Kudus, kita tidak akan mencapai kesempurnaan seperti Bapa (Mat. 5:48). Kesempurnaan di dalam Tuhan sama dengan hidup dalam kesucian.
    Banyak orang tidak berani menganggap ini sebagai suatu kemutlakan, sebab selain menganggap bahwa kesucian adalah sesuatu yang mustahil dicapai, juga melihat kenyataan bahwa dirinya selalu jatuh bangun atau selalu gagal mengenakan kesucian Allah. Seharusnya, kita tidak menjadi lemah ketika mengalami jatuh bangun dalam membangun kesucian. Kita harus tekun, agar pada akhirnya, kita bisa memenuhi atau mencapainya. Jatuh bangun adalah hal yang harus dianggap normal bagi kita yang mau benar-benar mencapai kesucian yang berstandar Allah. Mencapai kesucian berstandar Allah bukan sesuatu yang mudah, tetapi bukan sesuatu yang tidak bisa dicapai.
    Memanggil Allah sebagai Bapa seperti yang diajarkan Yesus dalam Doa Bapa Kami secara tidak langsung juga mengajarkan kepada kita, agar kita sebagai orang percaya, berkeadaan layak memanggil Allah sebagai Bapa. Untuk itu, kita harus memiliki kesucian seperti Bapa sendiri. Dalam 2 Timotius 2:2 Firman Allah mengatakan: “Tetapi dasar yang diletakkan Allah itu teguh dan meterainya ialah: “Tuhan mengenal siapa kepunyaan-Nya” dan “Setiap orang yang menyebut nama Tuhan hendaklah meninggalkan kejahatan.” Ayat ini berarti kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, hendaknya kita hidup dalam kekudusan Allah.
    Kalau kita menghayati betapa besar kasih Allah kepada kita yang dengan rela memberikan Putra Tunggal-Nya bagi kita, maka kita akan tidak pernah surut berjuang untuk mencapai kesucian demi dapat menyukakan hati Allah Bapa. Perjuangan untuk mencapai kesucian standar Allah adalah kesukaan dan kebahagiaan kita, karena hanya dengan hal inilah kita dapat membalas kebaikan Allah, yaitu memenuhi maksud keselamatan itu diberikan kepada kita. Orang yang tidak sungguh-sungguh mau berjuang mencapai kesucian Allah adalah orang-orang yang tidak menghargai keselamata...
    0 min
  • Dipimpin oleh Roh Allah
    Kita harus memperkarakan di dalam hidup kita dengan sungguh-sungguh: Apakah kita benar-benar sudah menjadi anak Allah? Bagi orang-orang Kristen yang sudah menjadi orang yang beragama Kristen sejak kecil, mereka sudah terbiasa diakui dan mengakui diri sebagai anak-anak Allah. Perasaan sebagai anak-anak Allah sudah melekat di dalam dirinya dan menyatu dalam jiwanya, sehingga tanpa keraguan sama sekali selalu merasa diri sebagai anak-anak Allah. Mereka tidak pernah mengoreksi diri dengan benar dan jujur, apakah mereka sungguh-sungguh pantas disebut anak-anak Allah atau tidak. Harus dipersoalkan dengan sungguh-sungguh, saat kita mengaku Allah sebagai Bapa, apakah Allah mengakui kita sebagai anak-anak-Nya. Jangan sampai terjadi di hadapan Tuhan nanti, Tuhan berkata bahwa Dia tidak mengenal kita. Kita harus berjuang untuk menjadi seorang yang benar-benar dikenal oleh Allah dan diperkenankan masuk ke dalam Kerajaan Surga. Ini adalah hal yang terpenting dalam hidup lebih dari segala sesuatu.
    Doktrin-doktrin yang disusun oleh para teolog pada umumnya mengarahkan pada pemikiran bahwa semua orang Kristen yang mengakui atau percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, pasti selamat masuk surga. Mereka tidak mempersoalkan atau tidak memerkarakan, apa yang dimaksud dengan “percaya kepada Yesus itu,” serta “bagaimana seharusnya pengakuan yang benar” terhadap Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat itu. Tidak heran jika banyak orang Kristen yang sebenarnya belum mengerti apa yang dimaksud dengan “mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat,” serta memercayai Dia. Mereka tidak pernah mempersoalkan, apakah Tuhan yang mereka percayai menerima kepercayaan dan pengakuan mereka.
    Harus disadari bahwa banyak pengakuan dan kepercayaan kepada Yesus hanya sebuah ucapan mulut dan pengaminan akali atau persetujuan pikiran. Padahal, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa iman tanpa perbuatan seperti tubuh tanpa roh (Yak. 2). Tentu maksud Yakobus di dalam ayat ini adalah bahwa iman bukan sekadar atau tidak cukup dengan pengakuan mulut atau persetujuan pikiran. Iman adalah tindakan dimana seseorang melakukan apa yang Allah perintahkan, bahkan perintah yang paling tidak masuk akal. Seperti Abraham diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri sebagai kurban bakaran, Abraham melakukannya tanpa ragu-ragu sama sekali.
    Harus diakui, banyak doktrin yang sangat argumentatif, terkesan sangat alkitabiah sehingga diakui sebagai kebenaran mutlak. Padahal, dokrin tersebut adalah hasil olah pikiran manusia yang tidak membawa manusia ke dalam perubahan sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia. Itu berarti keselamatan tidak pernah terwujud dalam hidup mereka. Sungguh ironis. Berteologi, tetapi tidak selamat; bergereja, tetapi tidak masuk surga; melayani pekerjaan gereja, tetapi ditolak oleh Tuhan; menjadi rohaniwan, tetapi ternyata binasa. Ironis sekali.
    Pengakuan dan percaya terhadap Yesus tidak cukup dengan kata-kata dan persetujuan pikiran. Pengakuan dan percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat harus diperagakan dalam tindakan konkret. Faktanya, banyak orang Kristen dalam kebodohan, merasa sejahtera dengan kualitas hidup yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia, dan mereka sangat yakin bahwa mereka sudah menjadi anak-anak Allah yang diberkati dengan berkat jasmani, serta layak masuk Kerajaan Surga. Dengan hal ini, panggilan Allah sebagai Bapa menjadi begitu murahan.
    Dalam Kitab Roma 8:14, Firman Tuhan mengatakan bahwa anak-anak Allah adalah mereka yang dipimpin oleh Roh Allah. Ayat ini sudah sangat jelas dan tegas menyatakan bahwa hanya orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Kata “dipimpin” dari teks aslinya adalah ago yang artinya to lead, to bring, to carry, to drive. Tentu saja orang yang dipimpin oleh Roh Allah adalah orang-orang yang berkelakuan sangat agung dan mulia dalam segala aspeknya, dari tutur katanya, sikap terhadap orang-orang yang memusuhinya, beban terhadap penderitaan orang lain,
    0 min
  • Belum dalam Perkenanan Allah
    Di dalam Kitab Yakobus 4:5 tertulis bahwa bukan tanpa alasan kalau Kitab Suci mengatakan bahwa Allah menginginkan roh yang ditempatkan di dalam diri manusia dengan cemburu. Roh yang ditempatkan di dalam diri kita maksudnya bukanlah Roh Kudus, melainkan roh manusia. Sesungguhnya, roh manusia itu berasal dari Allah. Dalam penciptaan manusia yang ditulis di dalam Kitab Kejadian 2:7, dikatakan bahwa Allah menghembuskan nafas kehidupan ke dalam hidungnya. Maksud ayat ini adalah bahwa Allah menempatkan roh di dalam diri manusia. Itulah sebabnya, manusia adalah anak-anak Allah. Allah adalah Bapanya, sebab roh manusia atau roh yang ada pada manusia berasal dari Allah sendiri. Demikianlah Allah menghendaki agar roh yang ditempatkan di dalam diri kita kembali kepada-Nya. Dalam Kitab Pengkhotbah 12:7 tertulis: “… dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.”
    Jadi, ketika Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai Bapa, secara tidak langsung Yesus menunjukkan agar kita kembali kepada Bapa, yaitu darimana kita berasal. Tetapi, kenyataannya banyak orang yang tersesat. Ciri yang paling dominan dari kehidupan seorang yang tersesat adalah tidak memiliki naluri untuk pulang kepada Bapa, sebab percintaan dunia telah menguasai dan membelenggu hidupnya. Percintaan dunia ini juga membelenggu para teolog yang berusaha mencari nilai diri dengan kemampuannya berteologi lewat media sosial. Tentu spirit atau gairah yang mereka pancarkan bukanlah roh yang lemah lembut dan tenteram dari Allah. Tanpa disadari, mereka telah meracuni diri mereka sendiri dan meracuni orang lain yang mendengarkan mereka.
    Mereka tidak menganggap diri mereka sesat karena merasa memiliki doktrin yang benar. Biasanya, doktrin yang mereka anggap benar adalah doktrin yang dirumuskan oleh para teolog-teolog terdahulu dan diakui oleh konsili-konsili serta gereja-gereja sebagai kebenaran yang sejajar dengan otoritas Alkitab; sehingga dianggap mutlak sudah benar. Padahal, doktrin-doktrin tersebut lahir dari suasana saling membenci sampai pada tingkat pembunuhan. Tentu saja doktrin-doktrin tersebut harus dikoreksi, apakah masih kontekstual atau relevan untuk kehidupan orang percaya hari ini. Karena para teolog tersebut adalah orang-orang yang mengajar, maka mereka mengarahkan jemaat bukan pada Kerajaan Allah melainkan hanya pada pengertian-pengertian doktrin yang tidak mengubah perilaku jemaat guna menjadi anak-anak Allah yang berperilaku sebagai anak-anak Allah. Bagaimana jemaat bisa mengalami perubahan perilaku sebagai anak-anak Allah kalau pengajarnya sendiri belum berperilaku sebagai anak-anak Allah? Dari tulisan dan ucapan mereka di media sosial, sangat jelas wajah pribadi-pribadi yang tidak layak disebut sebagai anak-anak Allah yang berperilaku mulia.
    Ironisnya, mereka sangat hafal kata demi kata dalam kalimat Doa Bapa Kami. Mereka bisa mengajar tentang Allah, tetapi mereka tidak pernah mengalami perjumpaan yang benar dengan Allah yang hidup. Tidak heran kalau perilaku mereka sama dengan orang-orang yang tidak mengenal kebenaran. Hal ini jelas membuktikan bahwa doktrin yang mereka pahami bukanlah kebenaran, sebab kebenaran pasti mengubah perilaku manusia, yang sama dengan memerdekakan manusia dari dosa. Orang yang dimerdekakan dari dosa adalah orang-orang yang memiliki keagungan perilaku yang pasti terekspresi secara nyata dalam kehidupan. Ekspresi kelakuan mereka pasti dapat dirasakan oleh orang yang memiliki nurani yang bersih. Tetapi, orang-orang yang nuraninya tidak bersih, tidak dapat melihat penyesatan yang dilakukan oleh mereka. Bahkan sebaliknya, mereka memusuhi orang benar dan menuduhnya sebagai sesat, padahal, pikiran merekalah yang sesat.
    Tentu saja mereka tidak menyadari keadaan mereka yang keracunan itu, dan tidak menyadari bahwa mereka sedang meracuni orang lain. Harus diingat, bahwa kekristenan bukan sekadar agama yang sibuk mempersoalkan doktrin,
    0 min
  • Pemberontak
    Kalau dalam Doa Bapa Kami Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai Bapa, tentu saja itu bukan hanya sebuah panggilan. Di balik panggilan tersebut, terdapat makna yang jauh lebih dalam dari yang diduga atau dipahami banyak orang selama ini. Kalau panggilan “Bapa” bagi Allah hanya sebuah panggilan, berarti kita diajar untuk munafik atau paling tidak berpengertian sempit atau dangkal. Sejatinya, panggilan Bapa bagi Allah secara langsung hendak menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, yaitu satu-satunya yang layak dihormati. Selain itu, orang percaya harus memiliki sebuah relasional yang mengikat dengan Allah dalam relasi sebagai anak dengan Bapa. Berbicara mengenai relasional antara Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak, terdapat misteri kehidupan yang tidak akan pernah dimengerti sampai seseorang benar-benar memiliki relasional yang benar tersebut. Di sinilah sebenarnya terletak nilai kehidupan yang dimiliki makhluk yang disebut manusia.
    Itulah sebabnya, manusia tanpa relasi dengan Allah secara benar menjadi tidak bernilai sama sekali, atau dengan kata lain, binasa. Jadi, binasa artinya terpisah dari persekutuan dengan Allah, dan ini adalah keadaan yang tidak memiliki nilai sama sekali. Penyesatan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang, termasuk di dalamnya kehidupan banyak orang Kristen, yaitu mereka berusaha untuk mencapai atau memiliki nilai diri bukan pada relasional dengan Allah, melainkan dengan fasilitas dunia. Fasilitas dunia antara lain harta atau kekayaan, kekuasaan, gelar, penampilan, kedudukan, kepuasan daging, dan lain sebagainya. Dengan keadaan seperti ini, manusia tergiring ke dalam kegelapan abadi.
    Kalau dikatakan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, artinya semua makhluk yang memiliki roh berasal dari Allah. Itulah sebabnya dikatakan di dalam Firman Tuhan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia. Tidak ada roh yang berasal dari sumber lain, hanya dari Allah yang disebut Bapa segala roh. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dari Allah, diciptakan makhluk-makhluk surgawi atau yang disebut di dalam Ayub 1:6 sebagai anak-anak Allah, para kerub, para malaikat, manusia, dan juga juga makhluk yang sebenarnya sangat indah yang diciptakan Allah tetapi memberontak, yaitu Hileel bin Saakhar yang kemudian menjadi setan atau Iblis, yang disebut juga Lusifer.
    Sebelum Lusifer memberontak, ia juga salah satu dari makhluk surgawi. Tentu juga bisa disebut anak Allah. Tetapi setelah dia memberontak menjadi setan atau Iblis, ia tidak lagi berstatus sebagai anak Allah, tetapi berstatus sebagai musuh Allah. Jadi, sangat keliru kalau mengatakan Lusifer adalah anak Allah. Lusifer adalah musuh Allah. Tetapi, sebelum memberontak, tentu dia adalah makhluk surgawi yang termasuk atau tergolong sebagai anak Allah. Hal ini memberi pelajaran yang berharga kepada kita. Betapa mengerikan keadaan seseorang yang mestinya bisa menjadi anak Allah, tetapi kemudian ditolak sebagai anak Allah karena pemberontakan. Hal ini bukan saja bisa terjadi atas Lusifer, melainkan juga bisa terjadi atas kehidupan orang Kristen yang tidak hidup sebagai anak Allah secara benar, artinya tidak hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa, yang sama dengan hidup dalam pemberontakan kepada Allah.
    Hidup dalam pemberontakan kepada Allah bukan berarti selalu berkeadaan melakukan pelanggaran moral secara umum sehingga dipandang sebagai orang bejat dan jahat oleh manusia. Bisa saja orang kelihatannya baik-baik, santun, atau bahkan kelihatan rohani seperti orang saleh, tetapi sebenarnya hidup dalam pemberontakan kepada Allah. Orang-orang yang tidak hidup dalam kehendak Allah, dan mengisi hari hidupnya hanya untuk kesenangan sendiri adalah pemberontak-pemberontak di hadapan Allah Bapa. Jadi bukan tidak mungkin seorang rohaniwan atau seorang pendeta yang kelihatannya hidup saleh, tetapi sebenarnya ia hidup hanya untuk kepentingannya sendiri. Ia adalah seorang pemberontak. Sangat jahat kalau menjadikan pelayanan gereja s...
    0 min
  • Memisahkan
    Kalau kita membaca Alkitab Perjanjian Lama, memang telah muncul suatu fakta fenomena Allah sebagai Bapa, tetapi itu tidak terlalu jelas, artinya masih samar dan kabur. Di dalam Perjanjian Baru, secara lugas dan tegas ditunjukkan kepada kita bahwa orang percaya yang mengakui Yesus berasal dari Allah, diperkenankan menjadi anak-anak Allah dan memanggil Allah sebagai Bapa. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami kalimat pertama yang diajarkan Yesus kepada kita adalah memanggil Allah sebagai Bapa. Hal ini tidak boleh kita pandang sebagai sesuatu yang sederhana. Sesungguhnya, ini sesuatu yang sangat luar biasa. Siapakah kita, bisa memanggil Allah sebagai Bapa sehingga kita menjadi anak-anak Allah yang memiliki segala kuasa kemuliaan dan Kerajaan?
    Kalau Yesus mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, tentu saja hal ini bukan sekadar panggilan. Sebab, kalau hanya sekadar panggilan, berarti Yesus menipu kita dengan mengajari sikap munafik atau paling tidak, mengajarkan suatu kebenaran yang bernilai rendah atau dangkal. Tetapi sesungguhnya, dari panggilan tersebut, Yesus mengajar kita untuk mengalami sebuah transformasi kehidupan yang jauh lebih bermakna dari kehidupan manusia sebelumnya. Dengan sebutan sebagai anak-anak Allah—dimana kita diperkenankan memanggil Allah sebagai Bapa—kita dibawa kepada suatu dimensi hidup yang baru, yang tidak pernah dimiliki manusia sebelum kedatangan Yesus ke dunia. Dimensi kehidupan tersebut adalah dimensi kehidupan anak-anak Allah, yang Yesus sendiri ajarkan dan telah peragakan dengan sangat jelas. Itulah sebabnya dalam Injil Yohanes tertulis: “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran” (Yoh. 1:14).
    Dalam Injil Yohanes 1:14, terdapat kalimat “telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa.” Tentu kemuliaan yang dilihat oleh murid-murid Yesus, termasuk Yohanes, bukan hanya tindakan-tindakan Yesus yang spektakuler, melainkan juga perilaku-Nya yang agung sebagai Anak Allah. Itulah sebabnya dikatakan penuh sebagai “kasih karunia dan kebenaran.” Kata “kasih karunia” di dalam ayat itu terjemahan dari kata kharitos (χάριτος), yang selain berarti kasih karunia, juga berarti “a quality that adds delight or pleasure graciousness, attractiveness” (kualitas yang memberi kesenangan atau keanggunan serta daya tarik). Sedangkan kata “kebenaran” menunjuk perilaku yang tidak bercacat dan tidak bercela. Ini adalah model kehidupan anak Allah yang harus dikenakan oleh setiap orang percaya. Jadi kebersamaan murid-murid dengan Yesus selama beberapa tahun merupakan pendidikan yang sangat efektif, dimana murid-murid bisa melihat dengan mata kepala sendiri sebuah keteladanan yang menjadi pola, dengan mana mereka membentuk atau membangun diri mereka. Inilah dimensi kehidupan anak Allah yang normal yang merupakan standar baku yang bersifat kekal, yang harus dikenakan makhluk yang disebut manusia, yang juga sesungguhnya adalah anak-anak Allah.
    Dimensi kehidupan yang baru adalah dimensi kehidupan yang Yesus sendiri telah kenakan, ini berarti kekristenan bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup; yaitu jalan hidup yang dijalani oleh Yesus. Jalan hidup yang dijalani oleh Yesus adalah jalan hidup yang memperagakan bagian isi Doa Bapa Kami—kecuali bagian permintaan ampun atau dosa, karena Yesus tidak pernah berbuat dosa. Sebenarnya, inilah yang harus dicapai oleh Adam, tetapi ternyata Adam gagal mencapainya. Yesus yang berhasil mencapai kesempurnaan, kemudian menjadi pokok keselamatan (menjadi model dan pola) bagi mereka yang taat kepada-Nya. Demikianlah kita sebagai orang-orang percaya mengikuti teladan Yesus yang dapat memperagakan dengan sempurna kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Dimensi kehidupan seperti ini hanya dimiliki oleh orang percaya yang menerima meterai Roh Kudus di dalam dirinya...
    0 min
  • Terukur
    Bagi kita yang sudah menjadi orang Kristen sejak kecil, memanggil Allah sebagai Bapa sudah merupakan kebiasaan yang secara otomatis meluncur dari bibir kita. Biasanya, kita memanggil Allah sebagai Bapa tanpa memiliki pengertian bahwa dengan memanggil Allah sebagai Bapa, kita memikul tanggung jawab yang sangat berat, sebab memanggil Allah sebagai Bapa berarti harus memiliki karakter Bapa di dalam diri kita. Sejujurnya, kita sudah dengan mudah mengucapkan kata “Bapa” bagi Allah, dan mengobralnya begitu rupa tanpa sikap hormat yang patut kepada-Nya. Hal ini sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan banyak orang Kristen yang memang sudah menjadi Kristen sejak kecil. Dengan demikian, tanpa kita sadari, kita telah mendegradasi atau membuat merosot nilai sebutan atau panggilan Bapa kepada Allah. Inilah yang membuat orang-orang non-Kristen memandang orang Kristen sembarangan terhadap Allah. Seharusnya, panggilan Bapa bagi Allah disertai dengan perilaku yang benar-benar mulia dan agung, yang melebihi tokoh-tokoh agama mana pun, seperti yang dikatakan oleh Yesus, yaitu memiliki kebenaran atau kelakuan yang baik yang melebihi ahli Taurat dan orang Farisi (Mat. 5:20).
    Sekarang, setelah kita mengerti kebenaran ini dan menyadari bahwa kita belum memperlakukan Allah secara patut, kita harus bertobat dan mengubah diri oleh pertolongan Roh Kudus. Selalu ada kesempatan selama kita masih memiliki kesediaan untuk berubah. Firman Tuhan mengatakan bahwa walaupun kita tidak setia, tetapi Allah tetap setia (2Tim. 2:13). Dengan ayat itu, kita tidak bermaksud hendak mempermainkan Tuhan, tetapi kita mau menemukan kesempatan yang Allah berikan kepada kita yang sudah tidak setia, agar kita dapat memulai kehidupan yang baru dalam kesetiaan. Selama Allah masih membuka tangan-Nya untuk menerima kita, selama itu pula kita masih diterima dan Allah mau mengubah kita. Hal ini kita mulai dengan memahami kebenaran yang termuat di dalam Doa Bapa Kami dan menerapkannya di dalam hidup kita secara konsekuen dan konsisten. Dengan hal ini, kita akan terus-menerus mengalami proses pembaharuan yang akan membawa kita kepada kesempurnaan, artinya sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Doa Bapa Kami yang selama ini hanya kita ucapkan, sekarang harus sungguh-sungguh kita pahami isinya, dan kita implementasikan dalam hidup secara konkret dan benar-benar bisa terukur.
    Masalahnya adalah bagaimana kita dapat mengukur bahwa kita benar-benar telah mengimplementasikan isi Doa Bapa Kami dengan benar? Ukurannya adalah kejujuran dan kemurnian hati nurani kita. Sebagai anak bagi Allah Bapa kita, kita harus hidup selalu menyukakan hati-Nya, artinya segala sesuatu yang kita lakukan harus sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Harus ingat istilah “like father like son.” Anak-anak Allah pasti berperilaku seperti Bapanya. Kalau seseorang yang menjadi anak Allah melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah, pasti jiwanya terganggu dalam bentuk tidak merasa damai sejahtera. Jika dalam hal bertindak selalu sesuai dengan kehendak Allah sebagai Bapa, Allah pasti memberikan kepekaan kepada kita untuk dapat meraba atau merasakan perasaan-Nya. Tentu saja hal ini bisa terjadi atau berlangsung dalam kehidupan orang percaya yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dan yang mengalami proses pendewasaan melalui segala sesuatu. Karena Allah memang bekerja melalui segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, agar orang percaya yang mengasihi Dia menjadi serupa dengan Yesus. Menjadi serupa dengan Yesus juga di dalam kepekaan mengerti kehendak Allah untuk dilakukan dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, yaitu pekerjaan yang dipercayakan Allah Bapa kepada masing-masing individu.
    Dengan demikian, menjadi anak Allah bukanlah sekadar sebuah wacana atau teori dalam sistematika teologi, namun suatu realita kehidupan yang dialami secara konkret. Kalau kehidupan sebagai anak Allah hanya sebuah wacana atau teori dalam sistematika teologi,
    0 min
  • Tidak Memandang Muka
    Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa—dalam hal ini Adam—apakah Adam juga memanggill Allah sebagai Bapa? Tentu saja, ya. Benar. Sebab, Kitab Suci jelas mengatakan bahwa Adam adalah anak Allah (Luk. 3:38). Jelas Adam juga memiliki format hidup seperti sebagian kalimat dalam Doa Bapa kami, seperti kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” dan seterusnya. Tetapi kalimat “ampunilah kesalahan kami” tentu tidak ada, karena manusia tidak hidup di dalam dosa, yaitu seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa. Dari hal ini, kita dapat memahami bahwa kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami memang merupakan format kehidupan yang telah dirancang Allah sejak semula. Dengan Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus, Ia mengarahkan orang percaya pada format kehidupan yang memang sudah dirancang Allah sejak semula.
    Itulah sebabnya dengan sangat jelas setiap orang percaya harus mengalami proses pemulihan seperti yang telah dimandatkan oleh Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam Injil Matius 28:18-20. Proses itulah yang akan mengubah orang yang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, menjadi manusia yang sesuai dengan format awal manusia diciptakan. Kalimat “Jadikanlah semua bangsa murid-Ku” juga berarti agar semua orang yang percaya kepada Yesus menjadi manusia seperti diri-Nya. Dengan demikian, setiap orang Kristen harus sungguh-sungguh bisa berkeadaan seperti Yesus; jika tidak demikian, berarti Kristen palsu. Ironisnya, banyak orang Kristen bisa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami tetapi tidak berkeberadaan seperti Yesus. Sementara itu, gereja tidak berbicara tegas bahwa sesungguhnya orang Kristen yang hanya mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami—tetapi tidak berkeberadaan seperti Yesus—adalah orang Kristen yang palsu. Tentu saja orang-orang Kristen palsu seperti ini tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
    Di dalam Kitab Ibrani, Firman Tuhan menunjukkan bahwa Allah sebagai Bapa mendidik orang percaya agar menjadi anak-anak Allah yang sah, yang dalam bahasa Yunaninya: huois. Kalau orang Kristen tidak mengalami proses penggarapan dari Allah atau tidak bersedia diproses oleh Allah, walaupun ia beragama Kristen, sebenarnya mereka adalah anak-anak Allah yang tidak sah. Dalam bahasa Yunaninya, kata “anak-anak Allah yang tidak sah” adalah nothos; tetapi di dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia, diterjemahkan sebagai “anak gampang.” Anak-anak Allah yang sah ditandai dengan kehidupannya yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah, artinya bisa memiliki kekudusan seperti Bapa (Ibr. 12:9-10). Sejatinya, inilah inti dari kekristenan yang sejati yang tidak bisa digantikan oleh yang lain.
    Fakta yang tidak bisa dibantah, yang terjadi dalam kehidupan orang Kristen pada umumnya, jika mereka memanggil Allah sebagai Bapa, tekanannya hanya pada jaminan sebagai anak-anak Allah yang boleh menerima berkat, pemeliharaan, dan perlindungan Allah. Hal ini tampak dari lagu-lagu yang dinyanyikan dan kalimat-kalimat doa yang diucapkan. Mereka tidak memerhatikan konsekuensi dan tanggung jawab yang harus dipikul orang percaya ketika memanggil Allah sebagai Bapa. Suasana kekristenan semacam ini sudah melekat dalam kehidupan hampir semua orang Kristen yang sejak dilahirkan sudah beragama Kristen. Suasana jiwanya telah terbentuk sedemikian rupa, sehingga jika memanggil Allah sebagai Bapa, asumsinya hanya pada tanggung jawab Allah terhadap dirinya atau hak-hak yang dimilikinya sebagai anak-anak Allah, bukan pada tanggung jawab yang harus dipenuhi sebagai anak-anak Allah, yang harus hidup dalam kekudusan seperti Allah, Bapanya.
    Harus diperhatikan kalimat di dalam 1 Petrus 1:17 yang mengatakan bahwa Allah menghakimi semua orang menurut perbuatannya. Jadi, walaupun seseorang adalah seorang Kristen, tetapi kalau perbuatannya tidak sesuai dengan standar kekudusan Allah, maka Allah akan menolak orang itu dan membuangnya dari hadapan-Nya. Tegas sekali di dalam Matius 7:21-23 Yesus berkata: “Enyahlah daripada-Ku,
    0 min
  • Bermartabat Tinggi
    Tidak ada agama di dunia ini yang memanggil Allah yang disembah sebagai bapaknya, atau paling tidak, hampir tidak ada. Tetapi di dalam kekristenan, orang percaya dapat memanggil Allah sebagai Bapa. Dalam Doa Bapa Kami, kalimat pertama adalah “Bapa kami yang di surga.” Secara langsung dan jelas, Yesus mengajar kepada orang percaya untuk memanggil Allah sebagai Bapa. Banyak orang tidak mengerti bahwa panggilan “Bapa” untuk Allah mengandung konsekuensi, bukan sesuatu yang murahan dan mudah dilakukan. Itulah sebabnya, dalam 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan: “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia artinya hidup dalam sikap hormat kepada Allah dengan kegentaran yang kudus dan tulus kepada-Nya.
    Secara tidak langsung, Yesus menunjukkan bahwa kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita tidak boleh hidup sama seperti mereka yang tidak memanggil Allah sebagai Bapa. Itulah sebabnya, selanjutnya di dalam 1 Petrus 1:18-19 tertulis: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Ayat ini menunjukkan bahwa penebusan oleh darah Yesus membuat kita menjadi anak-anak Allah. Oleh sebab itu, kita harus mengenakan gaya hidup yang baru, yaitu cara hidup anak-anak Allah. Inilah konsekuensi memanggil Allah sebagai Bapa. Konsekuensi yang harus kita penuhi sepanjang kita hidup di bumi ini sampai nanti di kekekalan.
    Konsekuensi hidup sebagai anak-anak Allah—yaitu manusia yang memanggil Allah sebagai Bapa—ditulis di ayat-ayat sebelumnya yaitu di ayat 13-16. Ayat-ayat itu jelas dan sangat tegas mewajibkan orang percaya untuk hidup kudus seperti Allah sendiri, atau memiliki kekudusan yang berstandar Allah. Kalimat di dalam ayat-ayat itu jelas sekali menunjukkan bahwa orang yang memanggil Allah sebagai Bapa harus hidup di dalam kekudusan-Nya. Dalam 1 Petrus 1:13-16 tertulis: “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.”
    Panggilan hidup kudus dengan standar Allah—yaitu hidup sebagai anak-anak Allah—hendaknya tidak dipandang sebagai suatu beban atau kewajiban yang menyakitkan, tetapi kita harus memandangnya sebagai suatu berkat dan kehormatan untuk hidup sebagai manusia yang bermartabat tinggi. Inilah sebenarnya maksud dari penciptaan makhluk yang disebut manusia, yaitu agar manusia hidup dalam penghormatan kepada Allah secara patut, dengan hidup sesuai dengan standar kekudusan-Nya. Keselamatan dalam Yesus Kristus sejatinya hendak mengembalikan manusia kepada rancangan semula ini. Dengan demikian, secara tidak langsung Doa Bapa Kami merupakan isyarat bahwa manusia harus hidup sesuai dengan maksud tujuan Allah menciptakan manusia. Dengan mengucapkan kalimat-kalimat dalam Doa Bapa Kami, berarti seseorang yang memberi diri untuk masuk proses mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Kalau seseorang hanya bisa mengucapkannya tanpa mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar—yaitu berjuang untuk menjadi manusia yang sesuai dengan kehendak Allah—berarti ia hanya mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan sikap hati yang munafik.
    Seperti yang telah dikemukakan dalam pembahasan sebelumnya, bahwa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami memiliki konsekuensi yang tidak ringan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…