Kalau dalam Doa Bapa Kami Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai Bapa, tentu saja itu bukan hanya sebuah panggilan. Di balik panggilan tersebut, terdapat makna yang jauh lebih dalam dari yang diduga atau dipahami banyak orang selama ini. Kalau panggilan “Bapa” bagi Allah hanya sebuah panggilan, berarti kita diajar untuk munafik atau paling tidak berpengertian sempit atau dangkal. Sejatinya, panggilan Bapa bagi Allah secara langsung hendak menunjukkan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, yaitu satu-satunya yang layak dihormati. Selain itu, orang percaya harus memiliki sebuah relasional yang mengikat dengan Allah dalam relasi sebagai anak dengan Bapa. Berbicara mengenai relasional antara Allah sebagai Bapa dan orang percaya sebagai anak, terdapat misteri kehidupan yang tidak akan pernah dimengerti sampai seseorang benar-benar memiliki relasional yang benar tersebut. Di sinilah sebenarnya terletak nilai kehidupan yang dimiliki makhluk yang disebut manusia.
Itulah sebabnya, manusia tanpa relasi dengan Allah secara benar menjadi tidak bernilai sama sekali, atau dengan kata lain, binasa. Jadi, binasa artinya terpisah dari persekutuan dengan Allah, dan ini adalah keadaan yang tidak memiliki nilai sama sekali. Penyesatan yang terjadi dalam kehidupan banyak orang, termasuk di dalamnya kehidupan banyak orang Kristen, yaitu mereka berusaha untuk mencapai atau memiliki nilai diri bukan pada relasional dengan Allah, melainkan dengan fasilitas dunia. Fasilitas dunia antara lain harta atau kekayaan, kekuasaan, gelar, penampilan, kedudukan, kepuasan daging, dan lain sebagainya. Dengan keadaan seperti ini, manusia tergiring ke dalam kegelapan abadi.
Kalau dikatakan bahwa Allah adalah Bapa segala roh, artinya semua makhluk yang memiliki roh berasal dari Allah. Itulah sebabnya dikatakan di dalam Firman Tuhan bahwa segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan bagi Dia. Tidak ada roh yang berasal dari sumber lain, hanya dari Allah yang disebut Bapa segala roh. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa dari Allah, diciptakan makhluk-makhluk surgawi atau yang disebut di dalam Ayub 1:6 sebagai anak-anak Allah, para kerub, para malaikat, manusia, dan juga juga makhluk yang sebenarnya sangat indah yang diciptakan Allah tetapi memberontak, yaitu Hileel bin Saakhar yang kemudian menjadi setan atau Iblis, yang disebut juga Lusifer.
Sebelum Lusifer memberontak, ia juga salah satu dari makhluk surgawi. Tentu juga bisa disebut anak Allah. Tetapi setelah dia memberontak menjadi setan atau Iblis, ia tidak lagi berstatus sebagai anak Allah, tetapi berstatus sebagai musuh Allah. Jadi, sangat keliru kalau mengatakan Lusifer adalah anak Allah. Lusifer adalah musuh Allah. Tetapi, sebelum memberontak, tentu dia adalah makhluk surgawi yang termasuk atau tergolong sebagai anak Allah. Hal ini memberi pelajaran yang berharga kepada kita. Betapa mengerikan keadaan seseorang yang mestinya bisa menjadi anak Allah, tetapi kemudian ditolak sebagai anak Allah karena pemberontakan. Hal ini bukan saja bisa terjadi atas Lusifer, melainkan juga bisa terjadi atas kehidupan orang Kristen yang tidak hidup sebagai anak Allah secara benar, artinya tidak hidup dalam ketaatan kepada Allah Bapa, yang sama dengan hidup dalam pemberontakan kepada Allah.
Hidup dalam pemberontakan kepada Allah bukan berarti selalu berkeadaan melakukan pelanggaran moral secara umum sehingga dipandang sebagai orang bejat dan jahat oleh manusia. Bisa saja orang kelihatannya baik-baik, santun, atau bahkan kelihatan rohani seperti orang saleh, tetapi sebenarnya hidup dalam pemberontakan kepada Allah. Orang-orang yang tidak hidup dalam kehendak Allah, dan mengisi hari hidupnya hanya untuk kesenangan sendiri adalah pemberontak-pemberontak di hadapan Allah Bapa. Jadi bukan tidak mungkin seorang rohaniwan atau seorang pendeta yang kelihatannya hidup saleh, tetapi sebenarnya ia hidup hanya untuk kepentingannya sendiri. Ia adalah seorang pemberontak. Sangat jahat kalau menjadikan pelayanan gereja s...