Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Membawa Kekacauan
    Dalam Kejadian 1:2 tertulis: “Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.” Kalimat ini sering ditafsirkan sebagai sebuah kejadian yang dahsyat, yaitu mengenai kekacauan yang terjadi di jagat raya terkait dengan pemberontakan setan atau Iblis yang tadinya bernama Hillel Ben Saakhar, yang dalam bahasa Latinnya, Lusifer. Sengaja diulas hal ini, bukan berarti setuju terhadap penafsiran tersebut, tetapi juga bukan berarti menolak. Mengulas Kejadian 1:2 yang selama ini sering diajarkan oleh sebagian penafsir Kitab Kejadian bahwa ayat tersebut mengungkapkan kejadian yang bertalian dengan jatuhnya setan atau Iblis.
     
    Dalam teks aslinya, Kejadian 2:1 tertulis: veha’arets hayetah tohu vavohu vekhoshekh al-peney tehom veruakh Elohim merakhefet al-peney hamayim. Kalimat yang ditafsirkan oleh beberapa penafsir untuk menunjukkan adanya kekacauan akibat kejatuhan adalah kalimat: veha’arets hayetah tohu vavohu. Kalimat ini bisa ditafsirkan sebagai: “Maka terjadi kekacauan.” Memang kalimat ini bisa menunjuk adanya kekacauan oleh suatu penyebab, artinya ada kausalitas dari kekacauan yang terjadi, yang oleh beberapa penafsir diasumsikan setan atau Iblis sebagai penyebabnya. Dari hal ini, dibangun penafsiran bahwa telah terjadi suatu peristiwa yang membuat alam semesta ini kacau balau, dan hal itu disebabkan karena kejatuhan setan atau Iblis. Penafsiran seperti ini sudah lama ada dan diyakini oleh sebagian orang Kristen.
     
    Di pihak lain, ada juga pandangan yang menunjukkan bahwa kalimat veha’arets hayetah tohu vavohu (maka terjadi kekacauan) menunjuk suatu keadaan yang memang belum ditertibkan atau belum diatur oleh Elohim, berarti masih berkeadaan kacau balau. Itulah sebabnya terdapat kata “kosong.” Dalam teks aslinya, kata “kosong” adalah bohu (בֹּהוּ), yang artinya emptiness, a vacuity (kekosongan). Tetapi sebenarnya, kata tohu juga berarti an undistinguishable ruin (keruntuhan yang tidak bisa dibedakan, artinya: kacau sekali). Keadaan ini ada karena memang belum mendapat sentuhan jari tangan yang tidak kelihatan, dalam hal ini, Allah belum berkarya atasnya atau Roh Allah belum mengerami atasnya. Dari keberadaan dunia seperti ini, maka bisa muncul konsep creatio ex nihilo, artinya diciptakan dari keadaan tidak ada menjadi ada.
     
    Ada juga yang mengatakan bahwa itu adalah peristiwa Big Bang. Big Bang adalah teori yang menyatakan bahwa pernah terjadi suatu peristiwa dalam bentuk ledakan atau dentuman di alam semesta, mengawali terbentuknya alam semesta. Hal ini didasarkan pada kajian kosmologi mengenai bentuk awal dan perkembangan alam semesta di waktu berikutnya. Peristiwa ini diperkirakan terjadi sekitar 13 sampai 14 miliar tahun yang lalu. Teori ini memang banyak didukung oleh bukti-bukti ilmiah, sehingga sampai sekarang diterima oleh banyak kalangan ilmuwan maupun orang awam. Menurut teori ini, peristiwa tersebut mengakibatkan terlepasnya sejumlah besar energi di alam semesta yang membentuk seluruh materi alam semesta, dan berkembang menjadi seperti sekarang ini, serta terus mengalami perkembangan.
     
    Mengenai tafsiran bahwa Kejadian 1:2 menunjuk awal dari manuver kuasa gelap atau Iblis, orang percaya tidak boleh memastikannya sebagai kebenaran. Belum tentu demikian. Segala sesuatu yang masih bersifat spekulatif tidak boleh menjadi landasan doktrin. Lagipula, hal ini bukan sesuatu yang fundamental dan prinsip bagi kehidupan iman orang percaya. Jika hal tersebut tidak dipahami, tidak membuat iman orang percaya menjadi lemah, atau seandainya orang percaya memahaminya, juga tidak membuat imannya menjadi lebih kuat. Tetapi satu hal yang orang percaya harus mengerti adalah bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan ada dalam kontrol dan monitor Allah. Seandainya teori Big Bang adalah suatu realitas, maka itu pun terjadi atau berlangsung di dalam kontrol dan monitor Allah,
    0 min
  • Tidak Menganggap Remeh
    Sungguh suatu bahaya besar, kalau orang percaya terlalu optimis menganggap Iblis tidak berdaya lagi. Iblis dianggap sudah kalah sama sekali. Sesungguhnya, Iblis yang cakap dalam strategi berusaha agar orang Kristen memiliki gambaran yang salah mengenai dirinya, yaitu bahwa Iblis sudah lemah dan tidak berdaya sama sekali. Faktanya, sekarang Iblis telah berhasil membangun pengertian di banyak kalangan komunitas Kristen bahwa Iblis sudah menjadi oknum yang kurang atau bahkan tidak membahayakan. Oleh sebab itu, muncul anggapan bahwa oknum Iblis tidak perlu dipikirkan atau dipersoalkan seluk beluknya. Itulah sebabnya, sedikit sekali pembahasan mengenai oknum ini.
     
     
    Mereka tidak mengenal oknum ini dengan benar. Sebenarnya, kemenangan Yesus terhadap Iblis tidak membuat orang percaya otomatis menjadi ikut-ikutan menang, tanpa perjuangan secara individu orang percaya itu sendiri. Kemenangan Yesus memberi jalan, potensi, atau peluang bagi orang percaya untuk memperoleh kemenangan seperti Dia telah menang. Orang percaya harus memiliki kemenangannya sendiri terhadap setan atau Iblis. Itulah sebabnya, berulang-ulang dalam Kitab Wahyu dikatakan bahwa orang percaya harus menang seperti Yesus menang (Why. 2:7, 11, 24, 26; 3:5, 12, 21). Kemenangan masing-masing individu harus diperjuangkan sendiri, tentu oleh pertolongan Roh Kudus. Kesalahan pengertian bahwa orang Kristen otomatis sudah menang karena Yesus telah menang di kayu salib membuat orang Kristen tidak memiliki perjuangan menghadapi kuasa gelap, dan menjadi tidak waspada terhadap gerakan kuasa gelap yang sangat cerdik. Petrus, dalam 1 Petrus 5:8 mengatakan bahwa orang percaya harus sadar dan berjaga-jaga, sebab lawan orang percaya—si Iblis—berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Kata “mencari” dalam ayat ini adalah zeton (ζητῶν), dari akar kata zeteo (ζητέω), yang selain berarti “mencari,” juga berarti menuntut atau meminta (Ing. ask for, request, demand).
     
     
    Pengertian yang salah dari banyak orang Kristen ini mengondisikan Iblis lebih bebas beroperasi dalam melancarkan serangannya. Di pihak lain, banyak orang Kristen yang merasa sudah menang, tetapi sebenarnya ada di dalam tawanan. Banyak orang Kristen berpikir bahwa yang penting mereka masih ke gereja, giat bekerja di ladang Tuhan dalam lingkungan gereja, dan memiliki kehidupan yang tidak melanggar moral umum. Mereka beranggapan bahwa kalau memiliki kehidupan seperti itu berarti mereka sudah hidup sebagai pemenang. Paling tidak, mereka merasa ada di zona di mana Iblis tidak bisa menyentuhnya. Ini sebuah pikiran yang salah. Kemenangan dalam Tuhan tidaklah diukur dengan ukuran tersebut. Kemenangan dalam Tuhan harus diukur dengan ukuran yang benar, yaitu ketaatan kepada Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus.
     
     
    Harus dimengerti bahwa kemenangan Yesus di kayu salib bukan membuat Iblis tidak berdaya sama sekali terhadap orang percaya. Kalau Iblis tidak berdaya sama sekali, Petrus tidak perlu mengingatkan jemaat terhadap gerakan musuh itu seperti singa yang mengaum. Paulus juga mengatakan bahwa orang percaya harus waspada agar tidak memberi kesempatan kepada Iblis (Ef. 4:27). “Kesempatan” di sini dalam teks aslinya adalah topon (τόπον) yang berarti pangkalan atau tempat berpijak (foodhold). Iblis masih bisa berpijak dalam kehidupan orang yang sudah mengaku dan telah percaya kepada Tuhan Yesus. Kalau orang percaya memahami bahwa Iblis masih berpotensi besar membinasakan manusia, maka orang percaya akan bersikap lebih waspada untuk berjaga-jaga dengan serius.
     
     
    Dalam Matius 12:43-45, Tuhan Yesus menyatakan bahwa orang yang telah menerima pelepasan dari kuasa gelap masih bisa kembali dikuasai, sehingga keadaannya menjadi lebih buruk. Dalam paragraf tersebut, Tuhan Yesus memberi peringatan yang jelas bahwa kuasa gelap dapat memobilisasi pasukannya untuk membinasakan keh...
    0 min
  • Realitas Oknum Setan
    Pandangan yang mengatakan bahwa belajar mengenai setan atau Iblis adalah hal yang tidak perlu, merupakan pandangan yang keliru dan benar-benar menyesatkan pikiran. Mengenal siapa dan bagaimana setan atau Iblis bukan sesuatu yang sia-sia, sebab dengan mengenal oknum ini, dapat membawa orang percaya kepada pemahaman siapakah Allah itu dan bagaimana hakikat-Nya. Belajar mengenal setan atau Iblis bukanlah demi oknum itu sendiri, melainkan demi Allah yang menciptakannya. Mengenal Allah Bapa dari segala aspek—termasuk mengenali hubungan dengan oknum setan atau Iblis—adalah hal yang mutlak dan sangat penting. Sebagai anak-anak Allah, orang percaya harus memahami dengan lengkap dan utuh semua yang dikemukakan dalam Alkitab, di dalamnya termasuk pengajaran mengenai setan.
     
    Dengan memahami realitas setan atau Iblis, orang percaya akan dapat memahami secara lengkap dan utuh hal soteriologi (studi mengenai keselamatan). Soteriologi tidak dapat dipisahkan dari pengajaran mengenai setan atau Iblis. Justru keselamatan diadakan karena oknum satu ini. Setan atau Iblis adalah oknum yang ikut mengukir sejarah di surga dan di bumi. Di surga, ia memberontak terhadap Allah; di bumi, ia membujuk Adam untuk melanggar larangan Allah dan berhasil menjatuhkannya.
     
    Ketika seseorang belajar mengenai realitas setan atau Iblis, maka akan terbangun kekaguman terhadap Allah yang Mahadahsyat dan perasaan takut yang kudus serta proporsional terhadap Allah. Tetapi lebih dari itu, ketika mengenal bagaimana asal-muasal setan atau Iblis yang ternyata pada mulanya adalah makhluk surgawi, orang percaya dapat menemukan kebenaran yang berkaitan dengan rencana penyelamatan umat manusia. Dengan mengenali oknum setan atau Iblis ini maka orang percaya dapat memperoleh jawaban yang lengkap mengenai maksud dan tujuan Allah menciptakan manusia.
     
    Dari pemahaman mengenai setan atau Iblis, orang percaya dapat mengerti panggilan utama sebagai umat pilihan untuk mencapai kehidupan sebagai corpus delicti. Corpus delicti adalah fakta yang membuktikan bahwa suatu kesalahan atau kejahatan telah dilakukan. Setan atau Iblis tadinya adalah makhluk surgawi yang memberontak kepada Allah. Allah tidak menghukum setan atau Iblis yang belum dapat dibuktikan kesalahannya. Inilah tatanan Allah, seperti Firman Allah menyatakan: bahwa dimana tidak ada taurat maka tidak ada pelanggaran (Rm. 4:15; 5:13). Manusia diciptakan untuk mengalahkan Iblis dengan menjadi corpus delicti; yaitu menjadi makhluk ciptaan yang taat kepada Allah. Di sini manusia menjadi alat dalam tangan Allah untuk mengakhiri sepak terjang oknum pemberontak ini. Kekristenan adalah proses menjadi manusia yang berkualitas corpus delicti, artinya berkualitas seperti kualitas Tuhan Yesus, yang memiliki ketaatan kepada Bapa di surga. Yesus adalah corpus delicti pertama yang menggantikan Adam yang gagal. Selanjutnya, orang percaya dikehendaki oleh Allah menjadi corpus delicti.
     
    Banyak teolog Kristen yang menganggap bahwa pengajaran mengenai setan atau Iblis ini pengajaran sulit untuk dipahami. Karenanya, sedikit sekali buku yang menulis mengenai setan atau Iblis. Walau mempelajari mengenai setan atau Iblis bukan sesuatu yang mudah, namun orang percaya harus menggali Alkitab dengan tekun guna memperoleh kebenaran mengenai oknum ini. Tentu penggaliannya harus berdasarkan teks Alkitab, bukan berdasarkan kesaksian-kesaksian pribadi yang subjektif. Ada buku-buku yang ditulis mengenai setan, tetapi tidak dibangun di atas dasar teks-teks Alkitab. Mereka tidak melakukan penggalian yang proporsional terhadap Alkitab. Penulis-penulis tersebut sebenarnya tidak bertanggung jawab, sebab mengemukakan mengenai setan atau Iblis tetapi tidak memberikan landasan berpikir yang berbasis pada Alkitab, melainkan didasarkan pada kesaksian pribadi yaitu dari pengalaman pribadinya yang subjektif. Padahal, kesaksian pribadi tidak bisa menjadi landasan iman secara umum atau untuk semua oran...
    0 min
  • Pentingnya Mengenali Musuh
    “Setan” merupakan kata yang tidak asing di telinga banyak orang, terutama orang beragama. Seiring dengan pembicaraan mengenai Allah, makhluk ini juga pasti disebut-sebut. Tidak ada oknum yang lebih membahayakan bagi manusia kecuali yang disebut setan atau Iblis. Mereka juga biasa disebut sebagai “kuasa gelap.” Oleh sebab itu, orang percaya harus mengenali dengan benar siapa oknum ini. Dalam doktrin perang, telah dibuktikan bahwa salah satu penyebab kekalahan dalam peperangan adalah tidak mengenali musuh dengan baik. Kesalahan mengenali oknum ini sangat berbahaya. Walaupun Alkitab tidak berbicara secara detil dan terperinci mengenai oknum ini, tetapi orang percaya dapat mengenali oknum tersebut dari berita Alkitab. Secara sporadis dalam beberapa bagiannya, Alkitab mengemukakan mengenai oknum ini. Dari hal tersebut, dapat diperoleh pengetahuan yang memadai mengenai siapa sebenarnya oknum ini. Untuk memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai oknum ini, dibutuhkan kerja keras dan ketelitian dalam pimpinan Roh Kudus melalui Alkitab. Tentu berdasarkan kaidah menafsir Alkitab dengan baik dalam hermeneutik dan eksegesis yang cermat.
    Selama ini landasan pemikiran mengenai asal-usul setan atau Iblis tidak kokoh dan terkesan bias, tidak jelas, dan tidak tegas. Banyak orang sering menyebut oknum ini, tetapi mereka tidak mengenali dengan benar siapa sebenarnya oknum tersebut. Banyak orang tidak pernah mengetahui asal usul dan keberadaan setan atau Iblis secara lengkap. Biasanya, pemahaman orang Kristen mengenai oknum setan ini bukan berasal dari hasil penggalian terhadap Alkitab, melainkan dari berbagai sumber di luar Alkitab. Karena begitu banyaknya masukan dari sumber-sumber yang bukan berasal dari Alkitab dalam waktu yang lama, maka pemahaman yang salah mengenai setan atau Iblis mengkristal di dalam pikiran mereka.
    Hanya ada beberapa bagian dalam Alkitab atau teks-teks tertentu yang selama ini diakui sebagai keterangan mengenai asal-usul setan atau Iblis. Itu pun dipandang masih tidak terlalu jelas, sehingga ada teolog-teolog yang menyangkal teks-teks tersebut sebagai dasar atau landasan asal usul setan atau Iblis. Khususnya para teolog yang lebih menggunakan argumentasi nalar semata-mata tanpa membuka diri terhadap pimpinan dari Allah untuk pencerahannya. Mereka tidak mengenali oknum setan ini, dan cenderung menganggap tidak penting untuk mengenalinya. Mereka merumuskan ajaran atau doktrin hanya dengan akal pikiran mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka peroleh di seminari atau sekolah tinggi teologi. Karena rumusan mereka begitu argumentatif—dan menurut mereka sesuai dengan kaidah hermenuetik dan eksegesis—maka mereka meyakini bahwa buah pikiran mereka berasal dari Roh Kudus. Padahal, tidak sedikit pandangan teologi yang sebenarnya sudah terumus oleh hasil dari olah nalar saja dalam pengaruh kuasa gelap, dalam pikiran duniawi. Orang-orang yang mempelajari Alkitab namun mengandalkan kemampuan akademis saja biasanya hidup dalam tawanan pikiran mereka, sehingga tidak menyadari bahwa mereka ada dalam pengaruh kuasa gelap.
    Kalau orang percaya berusaha untuk mengenali dan memahami mengenai oknum tersebut, dimaksudkan agar orang percaya dapat berantisipasi terhadap oknum ini sesuai dengan Firman Allah, agar tidak terjebak dalam perangkapnya. Dengan mengenali setan atau Iblis dengan benar, besar potensi untuk dapat mengalahkannya, seperti Tuhan Yesus telah mengalahkannya. Mengenali musuh ini berarti mengenali cara bekerjanya dan target-target yang dibidiknya dalam hidup seseorang. Oleh sebab itu, orang percaya harus cerdas mengenali oknum setan atau Iblis ini dan memiliki kewaspadaan yang tinggi terhadapnya (Ef. 6:12; 1Ptr. 5:8-9; Mat. 12:43-45; dan lain-lain).
    Banyak orang berpikir bahwa belajar mengenal setan atau Iblis dianggap sebagai hal yang sia-sia. Mereka menganggap bahwa teologi Kristen tanpa pengajaran mengenai makhluk surgawi tidak akan terpengaruhi secara signifikan.
    0 min
  • Buah Kehidupan
    Pada akhirnya, Doa Bapa Kami tidak hanya menjadi kalimat yang diucapkan orang percaya tetapi menjadi kehidupan yang mewarnai manusia batiniahnya. Itulah buah kehidupan yang akan dibawa di hadapan Allah Bapa dan Tuhan Yesus Kristus di kekekalan. Inilah persoalan paling penting dalam kehidupan orang percaya, yaitu buah yang dapat dipersembahkan kepada Allah pada waktu kita menghadap Dia. Buah itu adalah melakukan dengan baik segala sesuatu yang Tuhan inginkan seperti yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dipenuhi, sebab memang manusia diciptakan untuk melakukan kehendak-Nya. Jadi, buah di sini adalah perbuatan, perilaku, dan sikap hati yang memberi kepuasan di hati Tuhan, sampai seseorang diakui oleh Tuhan sebagai pribadi yang memiliki “hati melakukan kehendak-Nya,” tanpa dipaksa atau ditekan oleh hukum. Inilah ciri dari anak Allah yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus.
    Dalam perumpamaan mengenai penabur benih, dikisahkan bahwa tidak semua orang yang mendengar Firman Tuhan bisa bertumbuh dan berbuah (Luk. 8:5-15). Kelompok pertama adalah orang yang walaupun mendengar Injil tetapi tidak pernah menjadi orang percaya (Luk. 8:12). Kuasa antikris telah mengunci mereka sehingga mereka tidak pernah bisa menerima Tuhan Yesus Kristus. Kelompok kedua adalah mereka yang mendengar Injil, menjadi orang Kristen, tetapi tidak berani membayar harga percayanya. Pada zaman Yesus mengenakan tubuh daging, kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, akan mengalami aniaya (Luk. 8:13). Banyak orang lebih menyelamatkan nyawanya dari pada kehilangan nyawanya. Kelompok ketiga adalah orang-orang yang tidak mengalami aniaya, tidak menolak Tuhan Yesus, tetapi masih mencintai dunia. Mereka memang berbuah, tetapi buahnya tidak matang (Luk. 8:14).
    Kata “matang” dalam teks aslinya adalah telesphoreo (τελεσφορέω) yang artinya dewasa. Jadi, buah yang dihasilkan tidak dewasa. Tuhan menghendaki kedewasaan. Kehendak Tuhan harus dituruti secara mutlak. Kelompok keempat adalah orang-orang yang mendengar Firman Tuhan dan menyimpannya dalam hati yang baik; mengeluarkan buah dalam ketekunan (Luk. 8:15). Mengeluarkan buah dalam ketekunan menunjukkan bahwa untuk “berbuah,” seseorang harus berjuang keras. Kehidupan orang percaya adalah kehidupan yang dituntut untuk berbuah (Yoh. 15:1-7). Jika tidak berbuah akan dipotong, tetapi yang berbuah akan dibuat semakin lebat buahnya. Dalam Lukas 13:6-7 mengenai perumpamaan seorang peladang yang memiliki kebun anggur, di dalamnya terdapat pohon ara. Ketika dilihatnya pohon ara tidak berbuah, ia mengatakan bahwa percuma pohon itu tumbuh di kebunnya. Ia menghendaki agar pohon itu dikeratnya saja. Dalam perumpamaan itu, Tuhan menghendaki agar setiap orang percaya berbuah yang memuaskan hati-Nya.
    Berbuah artinya memiliki hati yang suka melakukan kehendak Allah. Tuhan mau menemukan pribadi-pribadi seperti ini, dimana selama hidup di dunia telah memenuhi atau menunaikan apa yang dipercayakan kepadanya. Dalam hal ini, setiap orang memiliki keadaan istimewa dan Tuhan memiliki rancangan khusus bagi orang tersebut untuk dipenuhi. Kalau kita belajar kalimat-kalimat secara harfiah dalam Doa Bapa Kami, itu barulah langkah pertama untuk dapat “berbuah,” sebab akhirnya Tuhan bukan hanya menghendaki kita menjadi orang yang dapat mengucapkan Doa Bapa Kami, melainkan menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami. Kalau langkah pertama—yaitu memahami isi kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami—tidak terwujud, bagaimana bisa melakukannya atau berbuah? Banyak orang Kristen tidak mengerti kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami sehingga tidak memiliki kepekaan terhadap kehendak dan rencana Tuhan yang termuat di dalam Doa Bapa Kami. Bisa dimengerti kalau mereka tidak pernah menghasilkan buah. Memang mereka menjadi orang baik-baik, tetapi hidup hanya untuk memenuhi keinginan dan cita-citanya sendiri. Sebelum menutup mata,
    0 min
  • Ada Pengujian
    Melalui perjalanan waktu, ketika seseorang sungguh-sungguh bertumbuh dalam kedewasaan rohani, maka kedalaman isi Doa Bapa Kami dapat lebih dipahami dan dikenakan setiap hari. Hidup orang-orang percaya seperti itu akan diwarnai oleh kebenaran-kebenaran yang termuat di dalam Doa Bapa Kami. Seperti misalnya, panggilan kepada Allah sebagai Bapa akan semakin mesra atau makin akrab, atau terdapat keintiman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ketika berkata “dipermuliakanlah nama-Mu,” maka ia mengerti apa artinya mempermuliakan Allah bukan hanya dengan kata-kata, bukan hanya dengan nyanyian dan musik, melainkan di dalam seluruh perilaku hidupnya. Orang seperti ini baru bisa menghayati apa artinya memuliakan Allah dengan tubuh, harta, dan segala sesuatu yang ada padanya. Baginya, mempermuliakan Allah dengan segala sesuatu yang ada padanya adalah kesukaan dan kehormatan. Dalam hal ini, seseorang baru bisa menghayati bahwa manusia memang tercipta hanya untuk Allah.
    Tuhan akan memberikan kesempatan bagi orang yang mengasihi Dia untuk mengalami proses pertumbuhan, guna dapat menyelenggarakan Doa Bapa Kami di dalam kehidupannya secara konkret. Allah akan memenuhi yang dijanjikan-Nya bahwa Ia bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Tentu maksud kebaikan di situ bukan berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan bagaimana memenuhi rencana Allah seperti yang Yesus lakukan. Sehingga, pada dasarnya karya Allah di dalam hidup kita mengarah kepada kehidupan menjadi seperti Yesus, untuk dapat menjadi kesukaan Allah. Dalam hal ini, Doa Bapa Kami merupakan format kehidupan yang dapat menyenangkan hati Allah Bapa.
    Tetapi hendaknya kita tidak berpikir bahwa proses dari kehidupan yang dibentuk Allah itu sesuatu yang menyenangkan. Tidak jarang proses tersebut adalah proses yang menyakitkan. Tetapi kalau kita mengasihi Allah, apa pun proses yang harus kita alami, kita dapat menikmatinya, dan akhirnya kita dapat mengatakan bahwa hal tersebut adalah berkat abadi yang Allah sediakan bagi kita. Dengan demikian, ternyata Doa Bapa Kami benar-benar memuat berkat abadi bagi orang yang dapat menyelenggarakannya secara konsekuen dan konsisten. Tetapi hal ini tidak mudah, sebab harus melalui proses pendewasaan rohani atas orang percaya agar dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan kebenaran yang terdapat dalam Doa Bapa Kami. Memang tidak ada barang yang yang bernilai tinggi dengan harga murah.
    Kalau seseorang tidak mengerti kebenaran yang dijelaskan di atas, maka ia menganggap Doa Bapa Kami itu murahan. Kenyataannya, banyak orang mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa perasaan, tanpa mengerti konsekuensi dan tanggung jawab yang termuat di dalamnya. Dengan mengerti kebenaran ini, kita menjadi gentar ketika kita mengucapkan Doa Bapa Kami. Tentu kegentaran ini tidak membuat kita tidak mengucapkan Doa Bapa Kami, tetapi mengucapkan Doa Bapa Kami dengan hati yang takut akan Allah. Takut karena menghormati dan mengasihi Allah. Selanjutnya, setiap kali kita mengucapkan Doa Bapa Kami, kita seperti diingatkan adanya ikatan perjanjian dengan Allah, dimana kita harus memenuhi bagian kita dalam ikatan perjanjian itu, yaitu dengan hidup seturut kehendak Allah. Setiap kali kita mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami, kita mengikrarkan kesetiaan kita untuk menjadi anak-anak Allah yang hidup dalam pimpinan Roh Kudus.
    Dalam perjalanan hidup sebagai orang percaya yang harus mengenakan kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami, ada pengujian-pengujian yang Allah pasti lakukan. Pengujian itu untuk membuktikan seberapa kita benar-benar setia kepada-Nya. Dalam 1 Petrus 1:6-7, firman Allah mengatakan: “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api,
    0 min
  • Ikatan Perjanjian
    Ketika kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita telah diikat oleh sebuah ikatan abadi. Allah adalah Allah yang kekal, maka kita menjadi makhluk kekal yang akan terus bersama-sama dengan Dia. Dalam hal ini, Doa Bapa Kami seperti sebuah ikatan perjanjian atau covenant yang mengikat kita dengan Allah. Ikatan seperti ini adalah ikatan kekal. Ikatan kekal berarti ikatan yang bukan hanya terjalin sementara hidup di bumi ini, melainkan juga ikatan dalam kekekalan di Kerajaan Surga. Dengan demikian, ikatan ini akan berlanjut terus tanpa akhir, tanpa ada batas waktu. Betapa indahnya ikatan perjanjian ini. Tentu saja untuk membangun ikatan seperti itu harganya sangat mahal. Dari pihak Allah, Allah memberikan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, sebagai sarana pendamaian yang membenarkan manusia atau orang percaya, dan membawanya kepada Bapa. Dari pihak manusia atau orang percaya, harus rela kehilangan segala sesuatu demi ikatan perjanjian itu.
    Kalau kita merenungkan dengan sungguh-sungguh kebenaran mengenai ikatan perjanjian tersebut, kita bisa merasa terharu. Betapa hebat kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mau memeluk kita menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang dapat bersama-sama dengan Bapa di dalam kekekalan. Suatu hari nanti, kalau kita bertemu dengan Tuhan Yesus, kita akan berkata “terima kasih, Tuhan” karena Tuhan mengajarkan Doa Bapa Kami kepada orang percaya. Di dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengarahkan kita untuk menjadi keluarga Kerajaan Surga yang tidak akan pernah terpisah dari Bapa selama-lamanya.
    Kita akan lebih menghayati betapa berharganya Doa Bapa Kami yang mengarahkan kita menjadi sekutu Allah di keabadian, yaitu sebagai anak-anak-Nya. Pada waktu itu, kita baru bisa mengerti betapa mengerikan keadaan seseorang yang terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Hari ini, kita tidak bisa membayangkan kengerian keadaan manusia yang terpisah dari hadirat Allah tersebut. Alkitab menggambarkan keadaan orang yang terpisah dari hadapan Allah sebagai ratap tangis dan kertak gigi. Kiranya kita dijauhkan dari keadaan itu. Hal itu tidak pernah akan kita alami. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kalau kita mempertimbangkan kemungkinan kita bisa ada di tempat tersebut. Dengan pemikiran ini, kita akan berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala sesuatu, tidak takut menghadapi apa pun, sebab yang paling ditakuti adalah terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya, sudah bisa kita lewati.
    Dengan menghayati kengerian keterpisahan dari hadirat Allah selama-lamanya, kita akan terpacu atau lebih terdorong untuk rela berbuat apa pun demi menyukakan hati Allah. Kita rela berkorban tanpa batas, kita selalu mau mengerti kehendak Allah; yang harus kita lakukan dan rencana-Nya yang harus kita penuhi. Tentu hal ini kita lakukan bukan sekadar karena kita takut masuk neraka, melainkan karena kita takut akan Allah yang kita hormati dan kita kasihi, serta kita tidak ingin terpisah dari Dia. Di dalam hati kita, ada suara yang tidak pernah padam yaitu “aku menghormati dan mengasihi Engkau, ya Bapa. Aku mengasihi dan menghormati Engkau, ya Tuhan Yesus.” Inilah yang menggerakkan kita menjalani hidup dari hari ke hari dengan bergairah.
    Dengan menghayati kengerian terpisah dari hadirat Allah, kita akan lebih dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Kita hanya ingin hidup di hadirat Allah. Hadirat Allah adalah satu-satunya pelabuhan hidup kita, tidak ada yang lain. Kita tidak pernah merasa memiliki apa pun di atas muka bumi ini, selain di hadirat Allah. Dengan demikian, kita akan selalu mencari hadirat Allah. Kita akan mampu berdoa berjam-jam di hadapan Allah, sebab itulah pelabuhan kita. Bagi kita, doa bukanlah kewajiban melainkan kebutuhan. Kita baru bisa mengerti apa artinya “haus” akan Allah seperti rusa merindukan sungai yang berair. Dengan demikian,
    0 min
  • Ciri Anggota Keluarga Kerajaan
    Kita harus menjaga diri untuk tidak hanyut dalam berbagai kesibukan atau apa pun juga, sehingga tidak memerhatikan kehidupan rohani secara benar. Kita harus sungguh-sungguh selalu mengoreksi diri, apakah kita sudah layak menjadi anak-anak Allah. Jangan sampai pada waktu menutup mata, Yesus menolak dan berkata: “Aku tidak kenal kamu.” Adalah hal yang paling mengerikan kalau seseorang meninggal dunia, kemudian menghadap takhta pengadilan Kristus, dan ternyata tidak diakui sebagai anak Allah. Tidak ada bencana yang lebih besar dari hal ini. Ini adalah kengerian yang tiada tara. Sebab, kalau seseorang tidak diakui sebagai anak Allah, berarti dia terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Orang-orang yang diperkenankan masuk Kerajaan Allah adalah orang-orang yang memiliki keadaan yang mulia, seperti keadaan Yesus, Putra Tunggal Bapa, yang penuh kemuliaan.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa apa pun keadaannya, ia pasti masuk surga dengan alasan bahwa keselamatan diperoleh bukan karena perbuatan baik. Ini suatu penyesatan yang telah merusak banyak orang Kristen dan gereja di seluruh dunia. Alkitab jelas mengatakan bahwa hanya orang-orang kudus yang diperkenan masuk Yerusalem Baru. Tidak mungkin Allah membawa masuk orang yang keadaannya tidak layak, ada di tempat yang kudus. Sama seperti seorang raja atau bangsawan yang mengadopsi seorang “gembel” atau “pengemis” di pinggir jalan untuk menjadi anggota keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan harus terlebih dahulu mengubah pola hidup gembel tersebut agar dapat hidup dalam keagungan sebagai anggota keluarga kerajaan.
    Oleh sebab itu, orang percaya harus berusaha membangun kebiasaan hidup yang agung sebagai anggota keluarga Kerajaan. Doa Bapa Kami adalah format kehidupan yang dapat membentuk atau mengubah hidup seseorang, dari seorang manusia yang berkodrat dosa, menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Kalimat-kalimat yang termuat dalam Doa Bapa Kami sangat berkuasa mengubah seseorang, selama orang itu mau benar-benar bertekun menggumulinya. Dengan demikian, Doa Bapa Kami adalah format kehidupan yang mempersiapkan seseorang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang mulia. Dari format kehidupan yang termuat di dalam Doa Bapa Kami tersebut, seseorang dapat memiliki ciri-ciri sebagai anggota keluarga Kerajaan. Ciri-ciri tersebut antara lain:
    Pertama, kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela. Hal ini berat dan sukar dicapai, tetapi ini hal yang paling penting. Hanya orang yang hidup tidak bercacat dan tidak bercela yang layak masuk ke dalam persekutuan dengan Allah Bapa dan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya nanti. Seberat apa pun tanggung jawab untuk mencapai kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela—kalau hal ini merupakan sesuatu yang mutlak penting—maka kita akan berusaha untuk mencapainya. Kedua, tidak memiliki perasaan takut menghadapi segala keadaan. Kalau seseorang masih memiliki perasaan takut, berarti ia tidak memuliakan Allah dan tidak menghormati kebesaran-Nya. Hal ini memang tidak mudah, tapi kita tidak boleh takut menghadapi apa pun. Karena kalau kita takut menghadapi sesuatu, berarti kita mengecilkan Allah, Bapa kita. Tidak mudah untuk memiliki perasaan tidak takut menghadapi apa pun. Tetapi kalau kita percaya kebesaran Allah dan kita menghormati Dia, kita dapat menghalau semua perasaan takut. Harus diingat bahwa perasaan takut terhadap sesuatu yang tidak patut kita takuti berarti mengecilkan Allah Bapa. Bagaimana kita bisa berkata “dipermuliakan nama-Mu” kalau kita masih hidup di dalam ketakutan?
    Ketiga, tidak memandang dunia sebagai keindahan. Betapa miskinnya kita kalau masih memandang dunia itu indah dan mengharapkan kebahagiaan dari padanya. Keindahan dunia tidak ada artinya dibanding kemuliaan Kerajaan Surga yang akan diwariskan kepada Yesus dan semua orang percaya yang serupa dengan Dia. Betapa sulitnya melepaskan diri dari keterikatan dunia. Tetapi demi Kerajaan Surga, kita harus melepaskannya dengan sukacita.
    0 min
  • Kepantasan
    Dalam Ibrani 12:1-10, firman Allah menunjukkan bahwa setiap orang percaya harus mengikuti perlombaan yang diwajibkan. Perlombaan yang diwajibkan adalah memiliki iman yang sempurna seperti Yesus. Agar perlombaan iman tersebut dapat berlangsung dengan baik, orang percaya harus menanggalkan beban dan dosa. “Beban” artinya keterikatan dengan dunia, dan “dosa” artinya keterikatan dengan kodrat hawa nafsu dosa di dalam daging kita. Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada anak yang tidak menerima didikan dari Bapa di surga. Dengan demikian, secara tidak langsung ketika Yesus mengajar kita memanggil Allah sebagai Bapa, maka kita dipanggil untuk menerima didikan sebagai anak.
    Tidak banyak orang yang menyadari bahwa di balik panggilan “Bapa” untuk Allah dalam Doa Bapa Kami, Yesus menuntun kita untuk masuk dalam proses pendidikan, sebab kita merupakan anak dari Bapa segala roh. Inilah pendidikan yang sangat mahal yang tidak akan pernah dapat dibeli oleh manusia atau dibayarkan oleh manusia, kecuali oleh pengurbanan Yesus di kayu salib. Kalau orang percaya menghargai pengurbanan Yesus yang begitu mahal di kayu salib, ia bersedia menerima didikan dari Allah seberat apa pun pendidikan itu dirasakan. Harus diingat, bahwa pendidikan yang Allah Bapa berikan menghasilkan atau membuahkan berkat abadi.
    Dalam hal di atas, tidak ada orang Kristen yang boleh menghindarkan dirinya dari didikan Allah. Kalau seseorang menolak didikan dari Allah, berarti ia menolak menjadi anak Allah. Orang seperti ini tidak layak atau tidak pantas memanggil Allah sebagai Bapa. Dengan demikian, sesungguhnya untuk bisa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami bukan sesuatu yang mudah atau murahan. Seseorang harus memberi diri menerima didikan dari Allah Bapa untuk dapat memiliki iman yang sempurna atau ketaatan seperti Yesus, barulah dapat mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan benar. Pada waktu seorang Kristen yang belum dewasa mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan kualitas hidup yang rendah—artinya tidak hidup di dalam ketaatan yang benar kepada Allah—Allah bisa menolerirnya. Tetapi, kalau mestinya sudah memiliki rohani yang dewasa, diukur dengan usia rohani atau jangka waktu menjadi Kristen, maka orang Kristen tersebut tidak boleh mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan kehidupan yang tidak taat kepada Allah Bapa.
    Iman yang sempurna yang dimaksud di dalam Ibrani 12:2-3 adalah ketaatan kepada Bapa seperti ketaatan Yesus. Kalau dikatakan sebagai “perlombaan yang wajib,” berarti setiap orang percaya dituntut untuk memiliki ketaatan kepada Bapa seperti ketaatan Yesus sebagai Tuhan. Dalam hal ini, kita menemukan kasih karunia yang begitu besar, yang termuat di dalam Doa Bapa Kami. Iman yang sempurna, yaitu ketaatan seperti Yesus, adalah inti dari keselamatan yang Allah berikan kepada kita. Dengan memiliki iman yang sempurna sehingga bisa taat kepada Bapa seperti Yesus, barulah seseorang dapat dikatakan sah sebagai anak Allah. Kehidupan orang percaya seperti ini adalah kehidupan orang percaya yang mengambil bagian dalam kekudusan Allah.
    Mengikuti perlombaan memang bukan sesuatu yang mudah. Itulah sebabnya, Yesus berkata bahwa banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang terpilih (Mat. 22:14). Ini adalah perjuangan seperti masuk jalan sempit, dimana banyak orang yang berusaha masuk, tetapi tidak bisa (Luk. 13:23-24). Itulah sebabnya, dalam Kitab Ibrani 12:3-5 dinasihatkan agar kita tidak putus asa dalam pergumulan kita, sebab dalam pergumulan melawan dosa, kita belum sampai mencucurkan darah. Hal ini menunjukkan bahwa pergumulan untuk mencapai kehidupan iman yang sempurna seperti yang dicapai oleh Yesus haruslah mempertaruhkan segenap hidup tanpa batas. Dengan demikian, pada dasarnya mengucapkan Doa Bapa Kami bukan sesuatu yang mudah atau bukan sesuatu yang murahan.
    Kita harus optimis dan percaya dengan sungguh-sungguh bahwa memiliki iman yang sempurna atau ketaatan kepada Bapa seperti yang dicapai oleh Yesus, bisa juga kita miliki.
    0 min
  • Takut akan Allah
    Tidak ada hal yang lebih bernilai dalam hidup ini kecuali takut akan Allah. Dalam Doa Bapa Kami, kita diajar untuk takut akan Allah, sebab tidak mungkin orang bisa mengucapkan Doa Bapa Kami secara benar dengan hati yang tidak takut akan Allah. Tentu takut akan Allah di sini dibangun dari perasaan hormat dan mengasihi Allah, sehingga ketika memanggil Allah sebagai Bapa, pasti dilakukan dengan sikap hati yang benar. Dalam hal ini, sikap hati sangat menentukan kualitas dari Doa Bapa Kami yang diucapkan seseorang. Memang pada kenyataannya, banyak orang yang bisa mengucapkan Doa Bapa Kami begitu lancar tetapi tidak memiliki sikap hati yang benar. Tentu saja yang bisa mengetahui hal ini hanyalah Tuhan. Tetapi, setiap kita harus bisa mengenali diri kita sendiri: Apakah kita sungguh-sungguh memiliki sikap hati yang benar yang membuat kita dapat mengucapkan kalimat Doa Bapa Kami dengan benar, sesuai dengan kehendak Allah?
    Hanya orang yang takut akan Allah, yang dapat mengucapkan Doa Bapa Kami dengan benar. Takut akan Allah harus dibangun dari kehidupan setiap hari, melalui berbagai pengalaman yang riil dengan Allah. Jika tidak, maka takut akan Allah yang dimiliki hanya fantasi belaka. Orang-orang yang memiliki sikap takut akan Allah hanya di dalam fantasi, tidak akan pernah memiliki ketaatan yang berkualitas. Pada saat-saat tertentu, orang seperti ini akan mudah berbuat dosa, atau tidak memedulikan perasaan Allah. Orang Kristen yang belum memiliki pengalaman yang cukup dengan Allah, tentu belum bisa menghayati perasaan Allah. Tidak heran, kalau mereka bisa bersikap semena-mena terhadap perasaan Allah. Tetapi dalam kesabaran, Allah bisa mengerti dan menerimanya. Namun keadaan ini tidak boleh berlarut-larut. Orang Kristen tersebut harus bertumbuh dewasa dan bisa memiliki hati yang takut akan Allah secara benar.
    Seiring dengan perjalanan waktu ketika seseorang semakin dewasa dan memiliki hati yang takut akan Allah secara benar—yaitu takut akan Allah yang didasarkan pada sikap hormat dan mengasihi Allah—maka kualitas Doa Bapa Kami yang diucapkan juga semakin meningkat. Idealnya, semakin berumur atau semakin tua usia seseorang, kualitas Doa Bapa kami yang diucapkan semakin tinggi. Ini berarti Doa Bapa Kami yang diucapkan juga diselenggarakan dalam kehidupan secara konkret. Harus selalu diingat, bahwa Doa Bapa kami bukan hanya sebuah format kalimat doa, melainkan format kehidupan yang harus diselenggarakan.
    Dalam fakta kehidupan, kita dapat menjumpai orang-orang yang semakin tua bukannya semakin takut akan Allah, tetapi semakin hidup sembarangan. Hal ini tampak dari perilaku hidupnya setiap hari. Sangat menyedihkan kalau hal ini terjadi atas orang-orang Kristen yang sudah mengambil bagian dalam pelayanan atau pekerjaan Tuhan, seperti majelis gereja, pendeta, teolog, guru atau dosen sekolah teologi, dan aktivis gereja. Mereka bisa mengucapkan Doa Bapa Kami begitu fasih, tetapi sikap hati mereka tidak bertumbuh semakin dewasa, tidak semakin takut akan Allah. Tidak heran kalau mereka mengucapkan Doa Bapa Kami tanpa sikap hati yang benar, dan hidupnya tidak berkualitas.
    Salah satu penyebab kenapa banyak orang Kristen tidak memiliki perasaan takut yang benar terhadap Allah—khususnya mereka yang mengerti banyak mengenai teologi—adalah karena mereka merasa bahwa pengetahuan mereka tentang Allah sudah merupakan realitas. Dengan memikirkan tentang Allah serta mempercakapkan-Nya, mereka merasa sedang masuk dalam realitas hubungan dengan Allah, padahal sebenarnya tidak atau belum sama sekali. Tanpa disadari, mereka tertipu oleh dirinya sendiri. Mereka mencari Allah hanya di Sekolah Tinggi Teologi atau seminari. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan, dan mereka merasa telah berurusan dengan Tuhan. Padahal, mereka hanya berurusan dengan pengetahuan tentang Tuhan, bukan Tuhan secara pribadi. Tidak heran kalau mereka tidak memiliki hati yang takut akan Allah secara benar.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…