Ketika kita memanggil Allah sebagai Bapa, kita telah diikat oleh sebuah ikatan abadi. Allah adalah Allah yang kekal, maka kita menjadi makhluk kekal yang akan terus bersama-sama dengan Dia. Dalam hal ini, Doa Bapa Kami seperti sebuah ikatan perjanjian atau covenant yang mengikat kita dengan Allah. Ikatan seperti ini adalah ikatan kekal. Ikatan kekal berarti ikatan yang bukan hanya terjalin sementara hidup di bumi ini, melainkan juga ikatan dalam kekekalan di Kerajaan Surga. Dengan demikian, ikatan ini akan berlanjut terus tanpa akhir, tanpa ada batas waktu. Betapa indahnya ikatan perjanjian ini. Tentu saja untuk membangun ikatan seperti itu harganya sangat mahal. Dari pihak Allah, Allah memberikan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, sebagai sarana pendamaian yang membenarkan manusia atau orang percaya, dan membawanya kepada Bapa. Dari pihak manusia atau orang percaya, harus rela kehilangan segala sesuatu demi ikatan perjanjian itu.
Kalau kita merenungkan dengan sungguh-sungguh kebenaran mengenai ikatan perjanjian tersebut, kita bisa merasa terharu. Betapa hebat kebenaran yang termuat dalam Doa Bapa Kami yang Tuhan Yesus ajarkan kepada kita. Dalam Doa Bapa Kami, Yesus mau memeluk kita menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang dapat bersama-sama dengan Bapa di dalam kekekalan. Suatu hari nanti, kalau kita bertemu dengan Tuhan Yesus, kita akan berkata “terima kasih, Tuhan” karena Tuhan mengajarkan Doa Bapa Kami kepada orang percaya. Di dalam Doa Bapa Kami, Yesus mengarahkan kita untuk menjadi keluarga Kerajaan Surga yang tidak akan pernah terpisah dari Bapa selama-lamanya.
Kita akan lebih menghayati betapa berharganya Doa Bapa Kami yang mengarahkan kita menjadi sekutu Allah di keabadian, yaitu sebagai anak-anak-Nya. Pada waktu itu, kita baru bisa mengerti betapa mengerikan keadaan seseorang yang terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Hari ini, kita tidak bisa membayangkan kengerian keadaan manusia yang terpisah dari hadirat Allah tersebut. Alkitab menggambarkan keadaan orang yang terpisah dari hadapan Allah sebagai ratap tangis dan kertak gigi. Kiranya kita dijauhkan dari keadaan itu. Hal itu tidak pernah akan kita alami. Oleh sebab itu, tidak ada salahnya kalau kita mempertimbangkan kemungkinan kita bisa ada di tempat tersebut. Dengan pemikiran ini, kita akan berusaha untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kita menjadi lebih kuat dalam menghadapi segala sesuatu, tidak takut menghadapi apa pun, sebab yang paling ditakuti adalah terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya, sudah bisa kita lewati.
Dengan menghayati kengerian keterpisahan dari hadirat Allah selama-lamanya, kita akan terpacu atau lebih terdorong untuk rela berbuat apa pun demi menyukakan hati Allah. Kita rela berkorban tanpa batas, kita selalu mau mengerti kehendak Allah; yang harus kita lakukan dan rencana-Nya yang harus kita penuhi. Tentu hal ini kita lakukan bukan sekadar karena kita takut masuk neraka, melainkan karena kita takut akan Allah yang kita hormati dan kita kasihi, serta kita tidak ingin terpisah dari Dia. Di dalam hati kita, ada suara yang tidak pernah padam yaitu “aku menghormati dan mengasihi Engkau, ya Bapa. Aku mengasihi dan menghormati Engkau, ya Tuhan Yesus.” Inilah yang menggerakkan kita menjalani hidup dari hari ke hari dengan bergairah.
Dengan menghayati kengerian terpisah dari hadirat Allah, kita akan lebih dapat menghayati bahwa dunia ini bukan rumah kita. Kita hanya ingin hidup di hadirat Allah. Hadirat Allah adalah satu-satunya pelabuhan hidup kita, tidak ada yang lain. Kita tidak pernah merasa memiliki apa pun di atas muka bumi ini, selain di hadirat Allah. Dengan demikian, kita akan selalu mencari hadirat Allah. Kita akan mampu berdoa berjam-jam di hadapan Allah, sebab itulah pelabuhan kita. Bagi kita, doa bukanlah kewajiban melainkan kebutuhan. Kita baru bisa mengerti apa artinya “haus” akan Allah seperti rusa merindukan sungai yang berair. Dengan demikian,