Selanjutnya, penting juga untuk memerhatikan kalimat “menjadi seperti Allah.” “Menjadi seperti Allah” menurut versi ular atau Iblis, termuat hasrat untuk menyaingi Allah atau bisa sejajar dengan Allah, atau paling tidak, mau memiliki bagian yang hanya berhak dimiliki oleh Allah, dimana manusia sebagai makhluk ciptaan tidak berhak memilikinya. Dari hal ini, kita dapat menemukan karakteristik dari oknum tersebut bahwa ia ingin menyamai Allah. Spirit atau gairah inilah yang disuntikkan kepada manusia, agar manusia juga dimiliki oleh spirit yang sama. Ini berarti manusia mau mengikuti jejak setan. Inilah penyebab atau kausalitas kejatuhan manusia ke dalam dosa.
Dalam Yesaya 14:12-13 tertulis bahwa oknum setan berniat hendak naik ke langit. Kata “langit” di sini adalah shamayim (שָּׁמַ֣יִם), yang diterjemahkan “langit” dalam bahasa Indonesia. Kata shamayim ini sebenarnya juga bisa diterjemahkan surga. Jadi, shamayim yang dimaksud sebagai “langit” di sini adalah tempat atau kedudukan yang lebih tinggi. Ia hendak mendirikan takhta mengatasi bintang-bintang Allah, mau menjadi seperti Allah. Niat untuk menjadi seperti Allah ini tampak jelas sekali. Bila kita mengamati Yesaya 14:13, ia mau mendirikan takhtanya mengatasi bintang-bintang. Setan mau menjadi penguasa di surga mengatasi dan memerintah semua malaikat.
Di surga, setan menghasut malaikat; di bumi, setan menghasut manusia. Dalam hal ini, nyata bahwa malaikat pun seperti manusia, memiliki kehendak bebas. Ia bisa menyimpang seperti yang dikatakan dalam Ayub 4:18. Hal ini sama dengan yang terjadi atas manusia. Fragmen ini menunjukkan bahwa oknum setan melakukan kudeta di dalam surga, hendak memiliki takhta Allah seperti Allah, atau paling tidak, hendak menyamai Tuhan. Padahal, ciptaan Allah tidak mungkin dapat menyamakan diri dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
Dalam Yehezkiel 28:15 tertulis: “Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.” Sebagaimana Iblis yang pada mulanya berkeadaan sempurna tetapi karena pemberontakannya kemudian keadaannya menjadi rusak, demikian juga manusia. Keadaan yang ideal seperti yang Allah rencanakan tidak terwujud pada keturunan Adam yang sudah jatuh dalam dosa, sehingga manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebenarnya, pada mulanya sulit untuk memastikan siapakah ular itu, karena Kitab Kejadian tidak menunjukkan bahwa itu adalah Iblis atau siapa, tetapi dari “spirit atau gairahnya” yang tertuang dalam Yesaya 14:12-19 dan Yehezkiel 28:12-19, tampak sekali bahwa ia adalah oknum setan.
Selanjutnya, ketika sudah terbukti bahwa Adam berdosa karena bujukan ular, Allah mengutuk ular. Tentu ular di situ bukan ular dalam arti binatang secara harfiah, melainkan Allah mengutuk suatu oknum yang telah membujuk manusia untuk melanggar kehendak Allah. Kutukan itu berbunyi: “… dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu” (Kej. 3:14). Kalimat tersebut sebenarnya kalimat yang bersifat figuratif, artinya bahwa Iblis akan dibuang ke bumi (Yes. 14:12). Jadi, ular tersebut pastilah setan atau Iblis. Alegorikah hal ini? Tentu bisa saja oleh orang tertentu dikatakan demikian, tetapi kita menerima bahwa ular itu adalah tipologi dari Iblis. Dengan pengertian seperti ini, tidak sulit bagi kita menerima bahwa raja Babel dan raja Tirus adalah personifikasi dari Iblis atau Lusifer.
Banyak manusia tanpa sadar ingin menjadi seperti Allah, dengan cara atau bentuk mencari kehormatan dari manusia lain, padahal sesungguhnya hanya Allah yang layak menerima segala hormat dan pujian. Manusia ingin berkuasa demi kepuasan diri dan hal itu menjadi ambisi yang mengisi perjalanan hidupnya, padahal hanya Allah yang memiliki otoritas yang berhak berkuasa atas manusia. Kalau seseorang memiliki wewenang atau kekuasaan atas sesamanya, itu bukan wewenang untuk menguasai orang lain demi kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan Kerajaan Allah.