Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keangkuhan
    Di balik kata “seperti Allah,” ada unsur kesombongan yang luar biasa. Kesombongan atau keangkuhan ini merupakan sikap yang ditentang atau dilawan oleh Allah. Ini termasuk dosa yang terutama. Dalam surat Yakobus tertulis: Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yak. 4:6). Kata “menentang” di sini dalam teks aslinya adalah antitasetai (ἀντιτάσσεται) yang artinya menentang, melawan, atau menolak. Terkait dengan hal ini, setan membujuk Daud melakukan tindakan yang berkategori meninggikan diri atau sombong, yaitu ketika Daud bermaksud menghitung jumlah rakyat dan tentaranya. Dalam 1 Tawarikh 21:1 tertulis: “Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel.” Dalam hal ini, dapat diperoleh kebenaran bahwa orang yang melakukan kesombongan atau meninggikan diri adalah orang yang terbujuk oleh setan. Ternyata modus Iblis menjatuhkan manusia tidak berubah, yaitu tidak mengakui eksistensi Allah sebagai “Tuan” atau “penguasa.” Pada hakikatnya, “mau menjadi seperti Tuhan” seperti gairah hati Hawa, adalah tidak rela Allah Sang Khalik tidak tertandingi. Sebagaimana Iblis mau menandingi Allah, demikian pula ia membujuk manusia menandingi Allah (Yes. 14:12-14). Inilah dosa dimana manusia meletakkan kepentingan kehormatan si “aku” lebih tinggi dari Tuhan sendiri.
    Orang percaya harus tunduk menyembah, berarti mengakui supremasi Allah sebagai Penguasa satu-satunya (Why. 4:9-11). Banyak orang merasa telah memperlakukan Allah dengan baik dan menempatkan diri secara benar di hadapan-Nya. Padahal, ia tidak dibawahi oleh Allah sendiri, melainkan dibawahi dan dikuasai oleh dirinya sendiri, yaitu oleh keinginannya menjadi terhormat di mata manusia lain di bumi. Dalam lingkungan antar pendeta, terdapat pendeta yang tidak rela kalau ada pendeta lain yang lebih berprestasi. Karenanya ia berusaha untuk tampil hebat, tampil lebih berkarunia, mengaku lebih suci, lebih dekat dengan Tuhan, lebih dikasihi Tuhan, dan lain sebagainya. Mereka tidak segan-segan melemparkan kata-kata tuduhan yang merusak nama baik pendeta lain, supaya dirinya dianggap lebih benar dan lebih penting. Dalam Alkitab, Tuhan mengajar orang percaya untuk menganggap orang lain lebih penting atau lebih utama dari diri kita sendiri (Fil. 2:1-4).
    Orang yang mencari hormat dari sesama manusia biasanya merasa terganggu kalau orang lain kurang menaruh penghargaan terhadap dirinya. Inilah sikap angkuh dalam kehidupan banyak orang. Biasanya, gairah tersebut disertai dengan keinginan menuntut orang lain untuk memberi penghargaan. Inilah yang Paulus maksudkan sebagai gila hormat (Gal. 5:26). Orang-orang seperti ini akan berusaha menjaga nama baik, kredibilitas, dan reputasinya dengan segala cara. Dalam gereja, sering kita jumpai orang-orang seperti ini, yaitu orang-orang yang tanpa sadar mencari penghormatan melalui aktivitas dalam gereja. Dalam lingkungan hamba-hamba Tuhan, terdapat orang-orang yang ingin memperoleh pengultusan dari orang lain. Hamba Tuhan seperti ini hanya mengajarkan siapa kita di dalam Dia, bukan siapa Dia di dalam kita.
    Sejatinya, orang-orang seperti itu adalah pribadi yang kurang atau tidak hormat kepada Allah secara patut. Mereka kelihatan menghormati Tuhan ketika di gereja, tetapi setelah itu tidak merasa perlu menghormati Tuhan sepanjang waktu. Sikap hormat ini tidak bisa dibuat-buat. Hal ini tidak hanya ditunjukkan dengan kalimat doa atau sikap tubuh, tetapi dari sikap batin yang tersembunyi. Banyak orang merasa sudah menghormati Tuhan, tetapi kenyataannya tidak. Hal ini akan tampak dari perilakunya terhadap sesama. Di media sosial, kita menemukan orang-orang yang begitu banyak bicara. Dan dari sikapnya, kita bisa melihat dengan sangat jelas bahwa mereka adalah orang-orang yang haus nilai diri di mata manusia lain. Bagi mereka,
    0 min
  • Seperti Allah
    Selanjutnya, penting juga untuk memerhatikan kalimat “menjadi seperti Allah.” “Menjadi seperti Allah” menurut versi ular atau Iblis, termuat hasrat untuk menyaingi Allah atau bisa sejajar dengan Allah, atau paling tidak, mau memiliki bagian yang hanya berhak dimiliki oleh Allah, dimana manusia sebagai makhluk ciptaan tidak berhak memilikinya. Dari hal ini, kita dapat menemukan karakteristik dari oknum tersebut bahwa ia ingin menyamai Allah. Spirit atau gairah inilah yang disuntikkan kepada manusia, agar manusia juga dimiliki oleh spirit yang sama. Ini berarti manusia mau mengikuti jejak setan. Inilah penyebab atau kausalitas kejatuhan manusia ke dalam dosa.
    Dalam Yesaya 14:12-13 tertulis bahwa oknum setan berniat hendak naik ke langit. Kata “langit” di sini adalah shamayim (שָּׁמַ֣יִם), yang diterjemahkan “langit” dalam bahasa Indonesia. Kata shamayim ini sebenarnya juga bisa diterjemahkan surga. Jadi, shamayim yang dimaksud sebagai “langit” di sini adalah tempat atau kedudukan yang lebih tinggi. Ia hendak mendirikan takhta mengatasi bintang-bintang Allah, mau menjadi seperti Allah. Niat untuk menjadi seperti Allah ini tampak jelas sekali. Bila kita mengamati Yesaya 14:13, ia mau mendirikan takhtanya mengatasi bintang-bintang. Setan mau menjadi penguasa di surga mengatasi dan memerintah semua malaikat.
    Di surga, setan menghasut malaikat; di bumi, setan menghasut manusia. Dalam hal ini, nyata bahwa malaikat pun seperti manusia, memiliki kehendak bebas. Ia bisa menyimpang seperti yang dikatakan dalam Ayub 4:18. Hal ini sama dengan yang terjadi atas manusia. Fragmen ini menunjukkan bahwa oknum setan melakukan kudeta di dalam surga, hendak memiliki takhta Allah seperti Allah, atau paling tidak, hendak menyamai Tuhan. Padahal, ciptaan Allah tidak mungkin dapat menyamakan diri dengan Tuhan sebagai Sang Pencipta.
    Dalam Yehezkiel 28:15 tertulis: “Engkau tak bercela di dalam tingkah lakumu sejak hari penciptaanmu sampai terdapat kecurangan padamu.” Sebagaimana Iblis yang pada mulanya berkeadaan sempurna tetapi karena pemberontakannya kemudian keadaannya menjadi rusak, demikian juga manusia. Keadaan yang ideal seperti yang Allah rencanakan tidak terwujud pada keturunan Adam yang sudah jatuh dalam dosa, sehingga manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebenarnya, pada mulanya sulit untuk memastikan siapakah ular itu, karena Kitab Kejadian tidak menunjukkan bahwa itu adalah Iblis atau siapa, tetapi dari “spirit atau gairahnya” yang tertuang dalam Yesaya 14:12-19 dan Yehezkiel 28:12-19, tampak sekali bahwa ia adalah oknum setan.
    Selanjutnya, ketika sudah terbukti bahwa Adam berdosa karena bujukan ular, Allah mengutuk ular. Tentu ular di situ bukan ular dalam arti binatang secara harfiah, melainkan Allah mengutuk suatu oknum yang telah membujuk manusia untuk melanggar kehendak Allah. Kutukan itu berbunyi: “… dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kau makan seumur hidupmu” (Kej. 3:14). Kalimat tersebut sebenarnya kalimat yang bersifat figuratif, artinya bahwa Iblis akan dibuang ke bumi (Yes. 14:12). Jadi, ular tersebut pastilah setan atau Iblis. Alegorikah hal ini? Tentu bisa saja oleh orang tertentu dikatakan demikian, tetapi kita menerima bahwa ular itu adalah tipologi dari Iblis. Dengan pengertian seperti ini, tidak sulit bagi kita menerima bahwa raja Babel dan raja Tirus adalah personifikasi dari Iblis atau Lusifer.
    Banyak manusia tanpa sadar ingin menjadi seperti Allah, dengan cara atau bentuk mencari kehormatan dari manusia lain, padahal sesungguhnya hanya Allah yang layak menerima segala hormat dan pujian. Manusia ingin berkuasa demi kepuasan diri dan hal itu menjadi ambisi yang mengisi perjalanan hidupnya, padahal hanya Allah yang memiliki otoritas yang berhak berkuasa atas manusia. Kalau seseorang memiliki wewenang atau kekuasaan atas sesamanya, itu bukan wewenang untuk menguasai orang lain demi kepentingan diri sendiri, melainkan untuk kepentingan Kerajaan Allah.
    0 min
  • Tahap Manusia Dibelenggu
    Alkitab mencatat saat-saat berbahaya ketika manusia hendak jatuh dalam dosa sebagai berikut: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya” (Kej. 3:6). Seharusnya, manusia cukup berkata “tidak” dengan tegas tanpa ragu sama sekali terhadap yang Allah sabdakan. Hawa telah meragukan Allah, sehingga Hawa meluangkan waktu untuk melihat buah tersebut. Ini adalah tindakan bodoh yang mengawali kejatuhannya ke dalam dosa atau pemberontakannya kepada Allah, yaitu dengan melihat buah pohon itu dan mulai mempertimbangkan bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan. Tertulis dalam Kejadian 3:6 terdapat kalimat: “Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan.” Seharusnya Hawa tidak perlu mempertimbangkan sama sekali apa yang dikatakan ular, artinya harus memiliki resistensi yang absolut, mutlak, dan radikal.
    Menjadi persoalan yang harus kita perkarakan adalah bagaimana Hawa bisa tahu bahwa buah itu baik untuk dimakan. Tentu hal ini akibat input atau masukan dari ular yang telah didengarnya. Ular berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” (Kej. 3:5). Apa yang dikatakan ular merupakan kebalikan dari firman Allah, yaitu bahwa kalau Adam dan Hawa makan buah yang dilarang Allah, maka mereka akan mati. Perkataan ular di atas benar-benar perkataan yang bertentangan dengan Allah. Mestinya Hawa tidak mempertimbangkannya sama sekali. Mempertimbangkan perkataan kuasa gelap berarti memberi penghargaan kepadanya, dan hal ini menjadi pintu gerbang kejatuhan manusia ke dalam dosa.
    Ketika Hawa mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh ular, maka pertimbangan itu melahirkan keinginan untuk mencoba melakukan sesuatu, walaupun bertentangan dengan kehendak Allah. Kemudian Kejadian 5:6 menulis “sedap kelihatannya.” Dengan melihat, maka buah yang terlarang itu menjadi “sedap” di mata Hawa. Kata “sedap” dalam teks aslinya adalah ta’avah (תַּאֲוָה) yang artinya lust, appetite, covetousness (membangkitkan nafsu, selera, dan keserakahan, atau hasrat ingin memiliki). Dari hal ini, dapat diperoleh pelajaran bahwa sebelum sesuatu dapat dinikmati oleh fisik, terlebih dahulu dinikmati oleh pikiran. Jadi benarlah bahwa pikiran adalah gerbang pertama dosa masuk, yang juga menjadi medan atau area peperangan rohani.
    Selanjutnya, buah dari pohon tersebut “menarik hati karena memberi pengertian.” Mengapa sampai bisa menarik hati? Kata “tertarik” dalam teks aslinya adalah chamad (חמד) yang artinya to desire, covet, take pleasure in, delight in (mengingini dengan kuat, mendambakan, bersenang-senang dengan). Hal ini menunjukkan bentuk atau suasana jiwa yang kecanduan sesuatu. Kemudian timbulah hasrat yang kuat untuk memilikinya dan berpikir bahwa itu memberi pengertian. Ini sebuah penyesatan yang sukses dari setan kepada manusia. Setan membuat manusia tertarik hatinya. Berbicara mengenai kecanduan atau addicted, bukan hanya terkait dengan alkohol atau zat adiktif lainnya, melainkan juga sesuatu di dalam pikiran yang dipandang sebagai kenikmatan atau kesenangan.
    Hal ini memberi pelajaran mahal kepada kita, bahwa kita harus mendengar apa yang difirmankan Allah dan tidak mempertimbangkan sama sekali apa yang ditawarkan dunia. Dengan resistensi mutlak tersebut, seseorang tidak memberi ruangan sekecil apa pun untuk suara lain. Inilah bagian dari langkah meninggalkan dunia atau tidak menoleh ke belakang atau tidak berpaling kepada dunia. Sebenarnya, inilah fanatisme mutlak kepada Allah. Hanya dengan sikap inilah kita dapat menghadapi dunia yang pengaruhnya sangat kuat dewasa ini. Inilah juga yang dimaksud oleh Yohanes dalam suratnya mengenai keingina...
    0 min
  • Kecerdasan Rohani
    Kecerdasan rohani bukan hanya menyangkut kemampuan bertindak sesuai dengan moral umum dan ketepatan sehingga tidak menimbulkan kerugian, melainkan juga menunjuk kemampuan yang ada pada orang percaya agar dapat bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini menjadikan seseorang memiliki gambar dan rupa Allah, sempurna seperti Bapa, kudus seperti Allah, mengambil bagian dalam kekudusan Allah, dan mengenakan kodrat ilahi. Yesus adalah model manusia yang telah memiliki standar kecerdasan rohani sesuai dengan rancangan Allah semula. Selain itu, kecerdasan rohani dalam konteks kehidupan orang percaya mengarahkan dan menempatkan secara permanen tujuan hidup ke dunia yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi yang baru. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Yesus dalam Matius 6:19-21 dan ayat-ayat lainnya, juga yang dikemukakan Paulus dalam banyak tulisannya. Dengan demikian, kecerdasan rohani dalam kehidupan orang percaya menempatkan cara berpikir “surgawi.”
    Kebenaran Firman Tuhan mencelikkan pengertian kita mengenai kecerdasan roh yang menjadi bagian inti atau jantung utama dari proses keselamatan. Kebenaran Firman memuat prinsip-prinsip kehidupan yang harus dipahami dan dikenakan. Melalui proses tersebut, bukan saja paradigma seseorang diubah, melainkan juga cara berpikir dan selera jiwa juga mengalami perubahan. Hal inilah yang membangun kecerdasan rohani. Orang percaya tidak boleh mendasarkan penalarannya berdasarkan sumber-sumber yang ada di luar Alkitab, tetapi orang percaya harus memiliki perspektif sendiri yang didasarkan pada Alkitab
    Kalau kita memerhatikan penciptaan, sesungguhnya manusia sudah diperlengkapi Tuhan untuk dapat memiliki kecerdasan rohani. Kecerdasan rohani menurut Alkitab adalah kemungkinan manusia dapat bertindak seperti Allah bertindak. Hal ini sangat mungkin terjadi, sebab manusia memang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Kata-kata yang digunakan untuk “gambar dan rupa” di dalam teks asli Alkitab bahasa Ibrani adalah tselem demuth (צַלְמֵ֖ דְמוּתֵּ֑). Perlu dicatat di sini bahwa dalam teks aslinya, dua kata ini digabung tanpa kata penghubung. Tselem sering diartikan sebagai gambar, sedangkan demuth artinya keserupaan atau kemiripan. Sejak penciptaannya, manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan potensi kecerdasan rohnya agar dapat mengerti kehendak Allah dan melakukannya dengan rela dan sukacita sampai menjadi kodrat, artinya menjadi bagian dalam kehidupan manusia yang permanen; manusia bisa berkodrat ilahi. Manusia pertama diciptakan oleh Allah tidak dalam sekejap menjadi cerdas, tetapi melalui proses pertumbuhan dan perkembangan, sehingga menjadi cerdas. Itulah sebabnya, sangat besar kemungkinan manusia pertama yang diciptakan oleh Tuhan tidak seketika besar secara fisik dan dewasa secara mental.
    Adam juga mengalami proses pertumbuhan fisik dan pendewasaan mental yang sama dengan pendewasaan rohani atau bertumbuh dalam kecerdasan Roh. Oleh karena kejatuhan manusia ke dalam dosa, manusia gagal mencapai kecerdasan roh yang dikehendaki oleh Allah untuk dicapai. Keselamatan dalam Yesus Kristus memiliki isi agar manusia dapat memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar yang dikendaki oleh Allah. Setan atau Iblis yang menjatuhkan manusia bermaksud agar manusia tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar Allah. Manusia berkeadaan kurang kualitas, tidak seperti yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan kehilangan kemuliaan Allah. Manusia yang tidak memiliki kecerdasan rohani adalah manusia yang tidak memiliki kemuliaan Allah.
    Kegagalan Adam mencapai keserupaan dengan Allah mengakibatkan keturunannya mewarisi dosa keturunan, artinya berkeadaan seperti Adam sendiri. Kebenaran ini diteguhkan oleh Kejadian 5:3. Dalam ayat tersebut tertulis: Setelah Adam hidup seratus tiga puluh tahun, ia memperanakkan seorang laki-laki menurut rupa dan gambarnya, lalu memberi nama Set kepadanya. Set memiliki rupa dan gambar Adam,
    0 min
  • Pertimbangan yang Baik dan Jahat
    Pada prinsipnya, ketika manusia makan buah “pengetahuan tentang yang baik dan jahat,” maka manusia menempatkan diri dalam posisi sebagai manusia yang dalam tindakannya berdasarkan pertimbangan baik dan jahat, yang mana hal ini tidak dirancang oleh Allah. Dengan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, bukan berarti manusia menjadi biadab seperti binatang, tetapi dalam bertindak dan mengambil keputusan, manusia terpenjara dalam kawasan antara yang baik dan jahat.
    Manusia memang masih bisa berbuat baik, itulah sebabnya Allah memberikan hukum agar manusia difasilitasi untuk tetap eksis sampai pada kedatangan Juruselamat. Khususnya dalam hal ini, atas umat pilihan, yaitu bangsa Israel. Sebenarnya, makhluk ideal yang Allah rancang bukanlah “makhluk hukum” melainkan makhluk ilahi yang dalam segala sesuatu yang dilakukannya bisa selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat ilahi.
    Allah merancang manusia berkeadaan seperti diri-Nya, yaitu segambar dan serupa dengan Allah, artinya sebagaimana Allah adalah pribadi yang tidak pernah berbuat jahat atau tidak ada pertimbangan untuk melakukan sesuatu yang salah, demikian pula mestinya keadaan manusia. Manusia dirancang untuk memiliki moral seperti Allah, dimana segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia dapat selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah, berarti manusia tidak mampu berpikir seperti Allah berpikir, manusia tidak akan mampu bertindak seperti Allah bertindak. Manusia tidak mampu memiliki kekudusan seperti kekudusan Allah Bapa. Dengan demikian, manusia tidak layak menjadi anak-anak Allah, sebab anak-anak Allah harus berkeberadaan seperti Bapa. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Allah berfirman agar kita berkeadaan Kudus seperti Allah Bapa. Kemudian disambung dengan kalimat kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, maka harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1Ptr. 1:16-17). Mengapa harus hidup dalam ketakutan kepada Allah? Karena harus menghormati Allah dengan hidup dalam kekudusan, seperti kekudusan-Nya.
    Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat manusia tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai dengan standar makhluk ciptaan Allah yang segambar dan serupa dengan Allah. Walaupun tidak memiliki kecerdasan rohani sesuai rancangan Allah semula, manusia masih bisa berbuat baik. Tetapi manusia berkeadaan bisa terseret oleh setan atau Iblis untuk melakukan kejahatan setingkat Iblis sendiri. Hal ini tidak disadari oleh banyak orang. Memang kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak otomatis membuat manusia menjadi biadab seperti binatang atau seperti setan, tetapi manusia berpotensi berkeadaan seperti binatang, bahkan seperti setan sendiri.
    Seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, maka manusia bisa berkeberadaan seperti Allah, yaitu segambar dan serupa dengan Allah. Ini berarti manusia tidak akan pernah memiliki pertimbangan yang jahat. Dengan adanya yang baik dan jahat sebagai hasil memakan buah yang dilarang Allah, maka manusia terpenjara dalam keadaan tidak mampu mencapai keadaan segambar dan serupa dengan Allah sesuai rancangan Allah semula. Sesungguhnya, inilah inti dusta dari setan atau Iblis. Dengan makan buah yang dilarang itu, manusia tidak akan pernah menjadi seperti Allah. Justru manusia berpotensi berkeberadaan seperti Iblis. Dalam hal ini, patutlah setan atau Iblis disebut sebagai bapa segala dusta. Dengan keberadaan manusia ada dalam kawasan memiliki pertimbangan baik dan jahat dalam mengambil keputusan dan bertindak, Iblis memiliki akses untuk menarik atau menyeret manusia kepada tindakan dan perbuatan yang melawan Allah seperti yang ia lakukan. Walaupun tentu dalam hal ini setan atau Iblis tidak bisa memaksa manusia menuruti bujukannya, tetapi manusia berpotensi untuk berkeberadaan seperti Iblis.
    Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya membuat manusia bisa ...
    0 min
  • Pengetahuan yang Baik dan Jahat
    Kalimat “seperti Allah” penting untuk dianalisa. Dalam teks aslinya adalah vih’yitem k’Elohim (‎וִהְיִיתֶם֙ כֵּֽאלֹהִ֔ים), kemudian disambung dengan kalimat “tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Allah bukan tidak ingin manusia menjadi seperti Dia. Memang rancangan semula Allah ialah agar manusia menjadi makhluk yang segambar dan serupa dengan-Nya, tapi tentu saja segambar dan serupa dengan Allah dari sudut pandang Allah atau dari perspektif Allah, bukan dari perspektif yang lain. Allah mau membuka mata mereka untuk mengetahui yang baik dari perspektif Allah tanpa pertimbangan yang jahat. Tetapi dengan mengikuti bujukan ular yang adalah personifikasi dari Iblis tersebut, maka mata mereka terbuka. Mereka memahami tentang yang baik dan jahat bukan dari perspektif dari Allah.
    Dalam hal ini, sangat bisa dipahami bahwa pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjuk filosofi yang bukan berasal dari Allah. Ini bertentangan atau bertolakbelakang dengan pohon kehidupan, yang sebenarnya figuratif dari kebenaran Allah. Jadi, Adam dan Hawa mengonsumsi buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat berarti mereka mendapatkan asupan filosofi yang bukan dari Allah di dalam pikiran mereka, sehingga merusak pikiran mereka. Dalam hal ini, Paulus mengatakan bahwa ular (Yun. ophis; ὄφις) itu menyesatkan pikiran Hawa. Kata “menyesatkan” dalam teks aslinya adalah exapatao (ἐξαπατάω), yang artinya deceive, beguile (menipu, memperdaya).
    Kata penting untuk dipahami dalam 2 Korintus 11:2-4 terkait dengan pernyataan dalam pikiran Hawa adalah kata “pikiran.” Kata ini dalam teks aslinya adalah noema (νόημα) yang memiliki pengertian primer sebagai perception, purpose (persepsi, tujuan), juga berarti mind atau thought (pikiran, pertimbangan pikiran). Dalam pengertian luasnya adalah a mental perception, thought an evil purpose that which thinks, the mind, thoughts or purposes (suatu persepsi mental, tujuan pikiran yang jahat). Pikiran yang dimaksudkan oleh Paulus adalah cara mempertimbangkan sesuatu demi tujuan tertentu. Kalau cara mempertimbangkan sesuatu sudah salah, maka tujuan yang hendak dicapai juga salah. Inilah keadaan manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah atau jatuh dalam dosa, yaitu tidak mampu berpikir seperti Allah berpikir atau tidak memiliki kecerdasan rohani seperti yang dikehendaki oleh Allah. Di sini manusia gagal untuk menjadi segambar dan serupa dengan Allah. Inilah yang membuat pikiran seseorang menjadi rusak. Kata “rusak” dalam teks aslinya adalah ptheiro (φθείρω) yang artinya corrupt, defile, destroy (korup atau rusak, najis, hancur).
    Tentu saja penyesatan pikiran bisa terjadi melalui suatu proses panjang, demikian pula dengan proses kejatuhan Adam. Seperti yang dikatakan oleh Paulus dalam suratnya, bahwa ia takut kalau-kalau pikiran orang percaya disesatkan dari kesetiaan yang sejati kepada Kristus sama seperti Hawa diperdaya oleh ular (2Kor. 11:2-4). Manusia diperdaya melalui pikirannya atau pikirannya disesatkan. Hal ini membuka rahasia mengenai fragmen di taman Eden, bahwa sejatinya pergumulan manusia pertama adalah pergumulan dalam pikirannya. Dalam hal ini, bisa dipahami kalau kita memandang kisah mengenai Adam dan Hawa dengan kacamata dewasa, artinya memahami buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat serta buah kehidupan sebagai konsumsi, bukan untuk tubuh fisik melainkan untuk jiwa. Dalam hal ini, manusia diperhadapkan kepada pilihan, apakah mengonsumsi kebenaran yang berasal dari Allah atau filosofi dari yang lain.
    Perjalanan waktu ibarat sebuah arena, di mana manusia diperhadapkan kepada lawan yang harus dikalahkan atau mengalahkannya. Peperangan itu merupakan sebuah kompetisi (persaingan) antara Tuhan dan kuasa jahat dalam diri manusia. Peperangan itu dimulai dari pikiran. Siapa yang paling banyak mewarnai pikiran, dialah pemenangnya. Apakah seseorang memberi peluang bagi Tuhan sebagai pemenang untuk memiliki kehidupan ini atau kuasa lain yang memilikinya,
    0 min
  • Mengonsumsi Buah Pohon Kehidupan
    Kesalahan fatal Hawa adalah ia mengatakan bahwa Allah melarang mereka makan buah yang ada di tengah taman itu. Padahal, di tengah taman tersebut, selain ada pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, juga ada pohon kehidupan. Dalam Kejadian 2:9 jelas tertulis: “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Seharusnya Hawa berkata bahwa mereka boleh makan semua buah pohon di taman tersebut, termasuk mengonsumsi buah dari pohon kehidupan, kecuali pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat saja. Hal ini bisa mengindikasikan bahwa mereka tidak mengkonsumsi buah dari pohon kehidupan secara memadai, atau juga bisa menunjukkan bahwa mereka tidak sungguh-sungguh menghargai pohon kehidupan yang mestinya buahnya mereka konsumsi. Jawaban yang sedikit meleset atau bisa dikatakan tidak memuat pesan secara tepat.
    Dalam Kejadian 2:9 tertulis: “Lalu TUHAN Allah menumbuhkan berbagai-bagai pohon dari bumi, yang menarik dan yang baik untuk dimakan buahnya; dan pohon kehidupan di tengah-tengah taman itu, serta pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat.” Dari catatan tersebut, dapat diperoleh fakta bahwa dalam Taman Eden terdapat 3 jenis buah, yaitu: Pertama, buah dari berbagai pohon yang dimakan untuk jasmani. Kedua, adalah pohon kehidupan untuk konsumsi jiwa. Ketiga adalah pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat yang bisa dikonsumsi jiwa. Dalam teks aslinya, antara buah yang pertama dengan buah yang kedua serta ketiga dipisahkan oleh kata “dan,” yang dalam bahasa Ibrani waw (וְ), yang menunjukkan bahwa buah yang pertama adalah buah yang berbeda jenisnya dengan buah yang kedua dan ketiga.
    Terkait dengan hal ini, ada hal yang patut mendapat perhatian kita, bahwa semua pohon yang baik untuk dimakan (buah yang pertama) ditumbuhkan dari tanah. Penulis Kitab Kejadian tidak menggunakan kata “bumi,” yang dalam bahasa Ibrani erets (אֶרֶץ), tetapi menggunakan kata “tanah” yang dalam bahasa Ibraninya adalah adamah (אֲדָמָה). Kata adamah juga digunakan untuk menjadi bahan tubuh manusia (Kej. 2:7). Kata adamah lebih tepat diterjemahkan ground atau dust (tanah atau debu) atau soil (tanah liat). Hal ini hendak menegaskan bahwa untuk makanan fisik, menggunakan adamah. Hal ini sinkron dengan tubuh manusia yang dibuat dari debu tanah; dalam bahasa Ibraninya apar min ha adamah (עָפָר֙ מִן־הָ֣אֲדָמָ֔ה). Buah yang tumbuh dari adamah adalah buah yang dikonsumsi untuk tubuh manusia. Tetapi buah dari pohon kehidupan dan pengetahuan yang baik dan jahat bukanlah buah yang dikonsumsi untuk fisik, melainkan untuk dikonsumsi jiwa atau pikiran. Buah ini sebenarnya sebuah figuratif yang menunjuk pengaruh jahat Lusifer yang jatuh. Buah tentang pengetahuan yang baik dan jahat adalah suara yang bukan dari Allah.
    Dalam Kitab Kejadian 2:16, Allah berfirman: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas.” Ini berarti bahwa Adam dan Hawa harus makan, baik makanan jasmani—yaitu buah-buahan untuk fisik mereka—maupun buah dari pohon kehidupan untuk jiwa atau pikiran mereka; sebagai makanan rohani. Sebagaimana tubuh jasmani membutuhkan makanan buah-buahan secara harafiah, demikian pula dengan manusia rohani atau batiniah membutuhkan makanan rohani pula, yaitu kebenaran Firman Tuhan. Di dalam Injil Matius 4:4 Yesus berkata: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” Harus diingat, bahwa sejak manusia diciptakan, manusia bukan hanya makhluk fisik, tetapi juga masuk makhluk rohani; artinya manusia bukan saja membutuhkan makanan jasmani, tetapi juga makanan rohani. Ini adalah tatanan semula, yang tidak pernah akan diubah sampai selama-lamanya.
    Kisah Adam dan Hawa harus dipahami secara benar, dewasa, dan cerdas. Kisah Adam dan Hawa bukanlah dongeng yang berunsur mitos dalam pengertian umum.
    0 min
  • Kudeta Terhadap Allah
    Kita belajar dari sejarah gereja kenyataan adanya gereja-gereja yang menyimpang dari kebenaran, tetapi masih bisa berusia ribuan tahun. Mereka benar-benar tidak mengajarkan kebenaran Alkitab, bahkan melarang umat untuk membaca Alkitab, sehingga Alkitab tidak digandakan. Pada waktu itu, Alkitab hanya dapat dibaca dan dimiliki oleh segelintir orang saja. Di manakah Allah pada waktu itu? Mengapa Allah berdiam diri? Tidak sanggupkah Allah mengembalikan gereja-Nya di jalan yang benar? Tentu saja Allah adalah Allah yang hidup, Allah Mahahadir. Sebenarnya, Ia tidak berdiam diri, dan Allah sanggup mengembalikan gereja-Nya pada jalur yang benar. Tetapi Allah memiliki tatanan, Ia tidak bertindak sendiri. Allah mencari orang-orang yang dapat menjadi alat di dalam tangan-Nya untuk mengembalikan gereja di jalur yang benar. Dalam hal ini, kita dapat menemukan bahwa Allah selalu memakai manusia untuk melakukan kehendak-Nya.
    Tanpa disadari, telah terjadi sebuah tindakan kudeta terhadap Allah dalam kebenaran yang mestinya secara murni diajarkan kepada umat. Kudeta itu dilakukan terhadap kebenaran murni dari Alkitab oleh para teolog di seminari atau Sekolah Tinggi Teologi. Mereka telah membangun suatu pola berpikir, sistematika berpikir dan teologi yang dianggap sebagai standar baku, mutlak, dan absolut. Di luar apa yang mereka pahami sebagai kebenaran, dianggap bukan kebenaran yang berasal dari Allah. Padahal justru sebaliknya, banyak pandangan teologi, doktrin, atau ajaran mereka yang sebenarnya bertentangan dengan kebenaran murni Alkitab. Pembuktian terhadap hal ini dapat dilihat dari kehidupan orang-orang Kristen di Barat. Doktrin dan ajaran yang mereka gariskan atau rumuskan ternyata tidak mampu membuat pengajaran itu sendiri untuk terus mengalami sebuah progresivitas atau mutasi kepada isi yang lebih sempurna atau lengkap, agar dapat mengimbangi perkembangan perjalanan sejarah kehidupan manusia.
    Teologi yang benar adalah teologi yang dapat menyelamatkan manusia; artinya benar-benar dapat mengubah manusia untuk menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Mat. 5:48; Rm. 8:28-29; Ibr. 11:9-10; 2Ptr. 1:3-4). Ini berarti bukan sekadar pandangan teologi yang mengisi khazanah teologi di perpustakaan dan hanya terdapat dalam pikiran tanpa memiliki potensi atau kuasa mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Banyak teologi yang hanya mengisi pikiran atau nalar, yang lebih berpotensi membangkitkan perdebatan serta kepuasan rasio, tetapi tidak memiliki implementasi yang konkret di dalam kehidupan nyata. Teologi seperti ini tidak membawa manusia kepada rancangan Allah semula, dan teologi seperti ini pasti teologi yang tidak benar.
    Teologi yang benar bukan hanya efektif untuk manusia pada zamannya—yaitu zaman di mana teologi itu dimunculkan—tetapi juga efektif untuk manusia di sepanjang zaman. Oleh sebab zaman selalu berubah, maka teologi yang benar adalah teologi yang bisa mengalami sebuah progresivitas. Ini bukan berarti teologi tersebut tidak berintegritas, tetapi memang oleh karena kita hidup dalam dunia yang selalu berubah, maka teologi harus dapat menjadi teologi yang bergerak secara dinamis dalam pimpinan Roh Kudus berdasarkan Alkitab. Di sinilah kita dapat menemukan keunikan kebenaran di dalam Alkitab yang memiliki dinamisitas dan fleksibilitas yang tinggi, tanpa merusak esensi atau substansi kebenaran yang termuat di dalamnya.
    Oleh sebab itu, kita harus bersikap kritis, selektif, dan antisipatif terhadap segala ajaran yang selama ini sudah dianggap benar. Kita sangat membutuhkan Roh Kudus untuk membuka pikiran, guna menangkap kebenaran yang Allah singkapkan di zaman kita ini, sesuai dengan keadaan kita hari ini, yaitu kebenaran murni yang dapat menjawab kebutuhan kehidupan iman kita di tengah-tengah dunia yang sangat jahat ini. Hal ini bukanlah tindakan mengkhianati para teolog dan keputusan konsili di masa lalu,
    0 min
  • Belajar dari Sejarah
    Sebenarnya, banyak pandangan teologi atau doktrin yang bukan berasal dari hati Allah, dijaga oleh kuasa gelap, dan dilestarikan di dalam pikiran banyak teolog yang mengajar umat. Hal ini diupayakan oleh kuasa gelap agar orang Kristen tidak mengerti arti keselamatan yang sesungguhnya, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Kegiatan gereja tetap berlangsung, bahkan kelihatannya kokoh, tetapi sebenarnya tidak digerakkan oleh Roh Allah. Kebenaran yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan diteruskan oleh rasul-rasul, khususnya Rasul Paulus, sekarang ini telah menjadi keberagamaan, yaitu mati tanpa nafas atau jiwa Injil yang murni. Peta yang jelas dari keadaan ini adalah kehidupan kekristenan di pusat gereja pada abad pertengahan, yaitu Konstantinopel.
    Hal ini dapat ditandai dengan kehidupan para rohaniwan dan jemaat yang tidak semakin seperti Kristus. Walaupun secara doktrinal atau pengajaran, mereka adalah orang-orang yang cakap menyusunnya. Konsili-konsili besar terjadi di tempat ini, yang kemudian hari tidak ada bekasnya sama sekali. Bahkan kemudian menjadi pusat agama dan budaya Islam di bawah kekaisaran Ottoman. Kehidupan orang-orang Kristen di pusat kekristenan pada abad pertengahan menjadi pelajaran yang sangat berharga untuk orang Kristen sepanjang zaman, sampai Tuhan Yesus datang kembali. Mereka telah mengubah kekristenan menjadi keberagamaan yang benar-benar melukai hati Allah. Itulah sebabnya, sebagaimana Allah membiarkan Yerusalem yang merupakan lambang kehadiran Allah diserahkan kepada bangsa lain—yaitu Babel dan kerajaan-kerajaan lain—demikian pula Konstantinopel jatuh ke tangan bangsa yang tidak percaya Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II berhasil menaklukkan Konstantinopel. Pada 29 Mei 1453, ibu kota kekaisaran Bynzantium atau Romawi Timur itu jatuh dalam keadaan tragis.
    Menurut penulis buku sejarah yang juga pernah tinggal di Turki, Roger Crowley, kota yang dulu menjadi kebanggaan orang Kristen sedunia telah menjadi puing-puing. Sultan Muhammad Al-Fatih alias Mehmed II sebenarnya tidak menginginkan hancurnya kota yang megah dan indah, tetapi tidak bisa menahan prajuritnya menjarah dan merusak bangunan-bangunan indah dan bersejarah, serta membakarnya. Sebagaimana perang pada zaman dulu, pihak yang kalah harus menerima nasib dimana seluruh kekayaannya dijarah dan penduduknya menjadi budak; demikian pula kota Konstantinopel yang megah. Sultan memberi kesempatan tiga hari untuk menjarah, tetapi karena keadaan tersebut, Sultan membatalkan perintahnya. Ia hanya memiliki kesempatan menjarah Konstantinopel dalam waktu satu hari saja. Konstantinus XI selaku raja yang baru berusia 49 tahun, terbunuh dengan sangat mengenaskan. Orangtua berpisah dari anak-anaknya, anak-anak lenyap tidak tahu di mana rimbanya. Tidak sedikit orang Kristen yang berpindah agama karena kekecewaan melihat doa-doa para pendeta ternyata omong kosong, sebab kenyataannya kerajaan mereka ditaklukkan oleh musuh. Mereka kehilangan kepercayaan kepada Allah yang mereka yakini dapat melindungi mereka, namun ternyata mereka tidak terlindungi. Inilah awal mula sejarah berdirinya kota Istanbul yang menjadi ibu kota Turki hari ini.
    Kehidupan orang-orang Kristen pada waktu itu tidak berbeda dengan anak-anak dunia pada umumnya, sehingga pada dasarnya, kegiatan gereja adalah kegiatan keberagamaan yang tidak bersuasana Kerajaan Allah. Bibir mereka mengucapkan kalimat: “Datanglah Kerajaan-Mu,” tetapi sejatinya mereka membangun dan menghadirkan kerajaan manusia dalam keberagamaan yang namanya agama Kristen. Mereka memiliki agama Kristen tanpa Yesus yang memerintah kehidupan masing-masing individu dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terjadi karena mereka tidak ada dalam suasana Kerajaan Allah, tetapi dalam suasana pengaruh kuasa gelap. Pengaruh kuasa gelap tidak membuat orang Kristen menjadi biadab dan tidak beragama, tetapi cukup membuat mereka tidak menjalani hidup kekristenan dalam proses pe...
    0 min
  • Di Bawah Pengaruh Kuasa Gelap
    Pada kenyataannya, sekarang ini banyak orang Kristen yang sebenarnya ada dalam pengaruh kuasa gelap, tetapi tidak menyadarinya sama sekali. Hal ini khususnya terjadi atas mereka yang bisa berbicara mengenai Tuhan atau mengenal teologi. Mereka seperti Petrus yang ada dalam pengaruh Iblis, tetapi tidak menyadari keadaannya, bahkan menganggap apa yang mereka pikirkan itu berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Hal ini akan tampak dari perilakunya yang berbeda dengan yang dikenakan oleh Yesus. Kehidupan Yesus haruslah menjadi standar norma bagi orang-orang percaya. Itulah kekristenan yang sejati. Tentu saja kehidupan seperti Yesus ditandai dengan roh yang lemah lembut dan tenteram, tidak menyakiti atau melukai orang lain, serta membawa keteduhan bagi orang lain. Kehidupan seperti ini bisa dirasakan oleh sesama.
    Kalau mereka tidak mencintai Tuhan lebih dari dunia, maka mereka tidak akan pernah menyadari pengaruh kuasa gelap atas kehidupan mereka. Mereka bukan saja tidak menyadari penyesatan tersebut, tetapi ironisnya, mereka malah menuduh orang lain sesat dan bidat. Bukan hal yang mengherankan jika di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi atau seminari sering terjadi pertikaian antardosen, menyerang dosen lain di ruang kuliah, memperebutkan kedudukan sebagai pimpinan, pelanggaran moral, penggelapan uang, dan lain sebagainya. Tentu semua itu tidak kelihatan secara terang-terangan, karena seorang yang cerdas di kalangan akademisi bisa membungkus kebenciannya dengan penampilan yang kelihatannya santun, intelek, dan bernuansa akademis. Tetapi sebenarnya, perilaku mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak intelek dan yang tidak ada dalam lingkungan akademis.
    Dalam kecerdikannya, Iblis membuat banyak teolog berpikir bahwa kalau mereka sudah dapat merumuskan masalah-masalah doktrinal, maka berarti mereka telah menaklukkan penyesatan, yang sama dengan mengalahkan Iblis. Bagi mereka, penyesatan hanya dikaitkan denga doktrin. Mereka tidak mendeteksi sama sekali pengaruh kuasa gelap di dalam kehidupan mereka. Konsep mereka mengenai pengaruh kuasa gelap hanya dalam bentuk kerasukan secara harfiah atau dalam bentuk perbuatan melanggar norma. Mereka sangat cakap membicarakan hal mengenai Allah dan merasa bahwa kalau mereka membicarakan mengenai Allah atau berteologi, maka berarti juga telah menghadirkan Allah dalam hidup mereka; atau mereka merasa Allah berpihak pada mereka. Tentu saja hal itu membuat mereka berpikir bahwa mereka tidak ada dalam pengaruh kuasa gelap. Tanpa disadari, dalam pikiran mereka ada kuasa gelap yang bekerja aktif menyerang orang percaya dan menyesatkan, atau berusaha menjatuhkannya.
    Sebagaimana Allah seakan-akan senyap, demikian pula kuasa gelap juga senyap. Tetapi, sebenarnya kuasa gelap bekerja dengan sangat aktif untuk dapat membinasakan sebanyak mungkin manusia agar keselamatan yang Allah sediakan tidak terwujud dalam kehidupan manusia. Banyak teolog tidak menyadari manuver kuasa gelap ini, sebab mereka hanya sibuk merumuskan doktrin-doktrin, mempercakapkan, dan gaduh dalam perdebatan-perdebatan dengan sesama teolog Kristen lain, serta berapologetika dengan mereka yang beragama lain. Mereka menjadi lebih sesat ketika merasa bahwa saat mereka berteologi dengan menyerang ajaran orang lain yang mereka pandang sesat dan berapologetika terhadap orang-orang non-Kristen. Mereka merasa sedang membela Tuhan dan melakukan pelayanan yang benar, yang berkenan di hadapan Allah. Mereka sering mengesankan bahwa diri mereka adalah pahlawan-pahlawan iman yang membela kekristenan, padahal mereka tidak bisa membela dirinya sendiri di hadapan Allah, artinya tidak melakukan apa yang berkenan di hadapan Allah. Ini berarti mereka gagal mengasihi dirinya sendiri. Bagaimana bisa mengasihi sesama kalau tidak mengasihi diri sendiri? Bagaimana mereka bisa melayani Tuhan kalau mereka belum bisa mengasihi diri sendiri secara benar?
    Mereka tidak sungguh-sungguh berusaha untuk menjadi manusia yang dewasa menurut Tuhan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…