Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bercampur Pikiran Manusia
    Ciri-ciri dari penyesatan melalui pengajaran dapat dikenali melalui beberapa hal, salah satunya adalah: ajaran yang sesat pasti melemahkan otoritas Alkitab dengan mengabaikan pendalaman Alkitab yang menjadi dasar pengajaran atau doktrin Kristen. Hal ini mengingatkan kepada mereka yang mengajarkan bahwa doktrin dan pandangan teologis seakan-akan sudah sejajar dengan Alkitab. Ajaran yang efektif di masa lalu, bisa tidak efektif di masa yang lain atau di waktu yang berbeda. Harus selalu diingat bahwa Alkitab adalah otoritas tertinggi. Zaman bisa berubah dan berdinamika tiada henti, tetapi kebenaran Alkitab adalah kebenaran mutlak, yang menjadi kebenaran satu-satunya. Karena Alkitab adalah satu-satunya kebenaran, maka kita tidak boleh mengawinkan kebenaran Alkitab dengan filosofi mana pun. Alkitab harus menjadi landasan hidup satu-satunya, dan kita juga harus berpusat atau berepisentrum pada pengajaran Yesus dan kehidupan-Nya yang harus kita teladani.
    Bagi seorang pengajar, yang dibutuhkan bukan saja bagaimana menafsirkan ayat-ayat Alkitab sesuai dengan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis, tetapi juga relasi dengan Allah, sehingga dapat seseorang mendengar pesan-pesan Allah untuk generasinya. Kalau seorang teolog atau pembicara di mimbar membuka hati terhadap cara berpikir anak-anak dunia—yaitu mencintai dunia dan hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia lainnya—maka tidak mungkin ia dapat menemukan kebenaran yang murni. Mereka menjadi kelompok yang sebenarnya salah mengolah kebenaran Alkitab. Kita harus benar-benar waspada bahwa pemikiran yang bukan berasal dari Allah adalah dari Iblis.
    Dewasa ini, banyak pembicara atau pengkhotbah yang melandaskan pemikirannya seakan-akan pada Alkitab, tetapi mereka mencampurnya dengan pemikiran manusia. Sama seperti Hawa yang mengubah pernyataan Allah. Memang tidak semua pendeta atau teolog bermaksud mengubah isi Alkitab dan sengaja mau menyesatkan orang lain, tetapi oleh karena mereka hidup dalam kewajaran anak dunia, maka pikiran Iblis disusupkan di dalam teologinya. Dalam hal ini, jemaat harus menguji roh dengan saksama. Menguji roh sama artinya dengan menguji pengajaran yang disampaikan, apakah berasal dari Alah secara murni atau bukan.
    Hendaknya kita tidak mengenali ajaran sesat hanya pada kelompok tertentu yang selama ini memang dinyatakan sebagai bidat oleh banyak orang. Bisa dikatakan penyesatan, kalau pengajaran tidak membawa manusia dikembalikan ke rancangan Allah semula, serta tidak mengajarkan untuk meninggalkan percintaan dunia dan tidak berfokus kepada langit baru dan bumi. Bahaya yang lebih besar sekarang ini datang dari gereja yang dianggap benar, tetapi justru menghadirkan “pikiran-pikiran” yang bukan dari kebenaran Alkitab yang murni. Hal ini tidak menggiring iman Kristen kepada kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-4). Termasuk gereja-gereja yang hanya mendaur ulang teologi masa lalu, yang hanya bersifat olah nalar. Biasanya, teolog-teolog tersebut tidak berperkara dengan Allah untuk mendengar pesan Allah bagi generasinya. Mereka menganggap bersentuhan dengan Allah adalah hal subjektif dan “bersifat mistis.” Dengan cara ini, Iblis menyesatkan mereka dan orang yang mendengar ajarannya.
    Kita membutuhkan prinsip-prinsip kebenaran Tuhan yang diangkat dari Alkitab melalui proses pendalaman, berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis dalam tuntunan Roh Kudus, dengan hati yang bersih dan tidak mencintai dunia serta dalam perjumpaan dengan Allah setiap hari. Inilah dasar bangunan hidup kekristenan yang benar. Kebenaran Firman Tuhan tidak boleh digantikan dengan pengajaran yang hanya bernuansa doktrinal, kegiatan sosial, atau pelayanan yang menekankan pada karunia-karunia roh semata-mata, serta mukjizat. Jika gereja menyisihkan kebenaran Firman Tuhan dari tempatnya, berarti gereja telah terkena perangkap Iblis. Penyesatan yang dikerjakan oleh Iblis memiliki tujuan untuk membutakan mata rohani seseorang agar tidak mengalami realis...
    0 min
  • Tidak Menghormati Tuhan
    Dalam percakapan dengan ular, Hawa telah mengubah firman Allah. Dalam Kejadian 2:16-17, firman Allah demikian: “Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Hawa mengubah firman Allah tersebut dengan menambahi kata “raba” (dalam teks Ibraninya: naga, נָגַע). Pertanyaannya adalah mengapa Hawa mengubah firman yang Elohim Yahweh sampaikan? Bisa saja karena Hawa mendengar ular telah mengubah apa yang Allah katakan, sehingga tanpa disadari, ia pun tertulari perbuatan ular tersebut.
    Mestinya Hawa tidak membuka ruang dialog dengan oknum setan. Ruang dialog merupakan celah Iblis mendapat kesempatan untuk merasuki hidup manusia. Mestinya Hawa tidak memberikan respons sama sekali terhadap setan. Sejatinya, prinsip yang harus ditegakkan adalah bahwa pohon pengetahuan tentang baik dan jahat tidak boleh dimakan. Titik. Tidak perlu ada pertimbangan atau percakapan lagi. Dengan membuka ruang dialog dengan setan, berarti Hawa memberi penghargaan kepada setan, dan hal ini berarti membuat Hawa tidak bermartabat. Setan adalah musuh Allah, pemberontak yang tidak pantas dihargai sama sekali. Orang yang melakukan perbuatan seturut dengan keinginan setan atau bertentang dengan kehendak Allah, berarti membuat dirinya tidak bermartabat. Itu juga berarti menghargai setan. Manusia yang membuka pintu dialog dengan setan adalah manusia yang tidak mempermuliakan Allah. Mempermuliakan berarti menghargai atau memberi nilai tinggi. Orang yang mempermuliakan Allah tidak akan memberi penghargaan sedikit pun kepada kuasa gelap. Itu juga berarti tidak memberi ruangan sekecil apa pun kepada segala sesuatu yang tidak membuat nama Tuhan dihargai. Ini juga berarti bahwa persahabatan dengan dunia dan persahabatan dengan orang yang tidak takut Allah berarti sikap yang tidak menghargai Allah.
    Setan adalah oknum yang berusaha agar manusia tidak menghormati atau tidak menghargai Allah secara patut. Dalam Lukas 4:5-8, dikemukakan mengenai kisah Yesus yang dibawa oleh Iblis ke tempat tinggi agar Yesus mengingini keindahan dunia, dimana dengan cara demikian Yesus tidak menyembah Allah, Bapa-Nya, dan tidak berbakti kepada-Nya. Lukas 4:5-8 tertulis demikian: “Kemudian ia membawa Yesus ke suatu tempat yang tinggi dan dalam sekejap mata ia memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia. Kata Iblis kepada-Nya: “Segala kuasa itu serta kemuliaannya akan kuberikan kepada-Mu, sebab semuanya itu telah diserahkan kepadaku dan aku memberikannya kepada siapa saja yang kukehendaki. Jadi jikalau Engkau menyembah aku, seluruhnya itu akan menjadi milik-Mu.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti! Setan mencobai Yesus agar Yesus mengingini keindahan dunia dengan cara demikian Yesus tidak menghargai Allah Bapa atau menyembah Allah Bapa-Nya dan tidak berbakti kepadan-Nya.”
    Dari sejak Yesus memilih murid-murid-Nya, Yesus sudah menyatakan bahwa salah satu dari murid-Nya adalah Iblis, maksudnya adalah bahwa salah satu dari murid-Nya akan terbujuk untuk menuruti keinginan Iblis atau setan, yang sama dengan kerasukan setan. Tentu hal ini dikatakan oleh Yesus berdasarkan nubuatan yang ada di dalam Alkitab, bahwa satu dari sahabat-sahabat-Nya akan mengangkat tumitnya melawan Dia (Mzm. 41:9; Yoh. 13:18). Hal ini bukan berarti harus terjadi atas Yudas. Bisa saja terjadi atas murid lain. Tetapi, ternyata Yudaslah yang memang terbiasa mencuri uang (Yoh. 12:6). Yudas terbiasa membuka celah mencintai uang. Percintaan terhadap dunia atau uang ini yang membuat Yudas benar-benar sampai pada level kerasukan Iblis secara permanen. Sampai pada tingkat tertentu, Yudas menjual Gurunya untuk 30 keping perak. Alkitab mencatat mengenai Yudas sebagai berikut: “Maka masuklah Iblis ke dalam Yudas, yang bernama Iskariot,
    0 min
  • Kerasukan
    Setelah mengaku sebagai anak Allah, seseorang harus hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia (1Ptr. 1:17). Mengapa demikian? Sebab penebusan Tuhan Yesus bagi kita dimaksudkan agar kita dikeluarkan atau diubah dari cara hidup yang sia-sia yang telah diwarisi dari nenek moyang, masuk ke dalam kehidupan dalam kesucian yang standarnya adalah Allah Bapa sendiri (1Ptr. 1:16-19). Seorang Kristen harus terus berusaha untuk bertumbuh dalam perubahan pola berpikir, sehingga mampu memiliki pola berpikir seperti Allah Bapa. Dengan demikian, tidak ada tempat bagi filosofi dunia dalam pikirannya, yang sama dengan tidak memberi pangkalan untuk Iblis. Dalam kisah Petrus, ia dipakai oleh Iblis untuk mencegah Tuhan Yesus ke Yerusalem dengan nama Allah agar Yesus tidak mati di kayu salib. Petrus merasa bahwa apa yang ada di dalam ide atau pikirannya berasal dari Allah. Sebaliknya, Petrus menganggap bahwa apa yang hendak dilakukan oleh Tuhan Yesus bukan berasal dari Allah (Mat. 16:21-23). Jadi, selama itu Petrus merasa bahwa pengertiannya berasal dari Allah, padahal ia menyerap pengertian yang datang dari Iblis. Ia tidak sadar bahwa sebenarnya ia sedang “kerasukan” Iblis.
    Dengan demikian, dapat dipahami bahwa apa yang didaratkan atau diasup dalam pikiran menjadi landasan Iblis. Kalau sampai masukannya cukup, maka Iblis akan leluasa mengatur dan menguasai orang tersebut. Itulah sebabnya, kita harus selalu mempertimbangkan bahwa kemungkinan masih ada pengaruh kuasa gelap dalam hidup kita, yang terkait dengan cara berpikir dan prinsip-prinsip kebenaran yang kita pahami. Kita harus selalu memperkarakan, “Apakah kita benar-benar sudah ada dalam kebenaran Tuhan?” Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus berkata: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau” (1Tim. 4:16).
    Petrus telah menerima masukan dalam pikirannya mengenai konsep Mesias yang salah, yaitu konsep Mesias menurut orang-orang Yahudi. Jadi, tidak heran kalau Iblis bisa menyusupkan idenya dalam diri Petrus untuk merusak pekerjaan Tuhan. Kepada Petrus, Yesus tegas berkata, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Dalam hal ini, betapa berarti dan pentingnya konsep-konsep yang ada dalam pikiran seseorang. Dalam hal ini pula kita mengerti, mengapa Yesus mengatakan bahwa “manusia hidup bukan saja dari roti, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah.” Kalimat “keluar dari mulut Allah” menunjuk kepada kebenaran yang murni, yang tertuang dari Allah. Dalam hal ini, sesungguhnya yang dibutuhkan setiap orang percaya bukan sekadar pengajaran yang diajarkan orang kepadanya, baik melalui khotbah secara lisan maupun buku yang tertulis, melainkan sebuah perjumpaan dengan Allah secara riil, dimana orang bisa berinteraksi dengan Allah.
    Sekarang ini, ajaran salah yang justru lebih banyak beredar yaitu pengajaran yang tidak membawa seseorang kepada keselamatan yang sejati. Sebagai buktinya, semakin tidak kita jumpai orang yang benar-benar memiliki kualitas hidup seperti Yesus. Hal ini bisa terjadi dalam kehidupan banyak orang Kristen, sebab pengajaran yang mereka terima berorientasi kepada berkat jasmani dan mukjizat. Padahal, pergumulan hidup untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus adalah pergumulan yang berat, yaitu memasuki pintu yang sesak. Dibutuhkan perjuangan yang benar-benar serius. Orientasi pengajaran yang terfokus pada berkat jasmani dan mukjizat, tanpa disadari mengarahkan jemaat kepada materialisme dan usaha membangun Firdaus di bumi. Ini adalah kecerdikan Iblis yang menyimpangkan pikiran orang percaya dari fokus yang benar.
    Banyak pengajar palsu yang mendapat kesempatan berkhotbah di berbagai media. Mereka merasa dan mengaku sudah bisa berdialog dengan Tuhan, padahal mereka tidak berdialog dengan Tuhan yan...
    0 min
  • Racun yang Disuntikkan
    Pikiran adalah medan pergumulan yang menentukan apakah seseorang dikuasai oleh Allah atau dikuasai setan atau Iblis. Paulus dalam tulisannya, mengemukakan bahwa dirinya menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus (2Kor. 10:5). Ini merupakan perjuangan yang harus dilakukan setiap anak Allah (2Kor. 10:4). Pikiran adalah tempat di mana terdapat pangkalan, apakah pangkalan tersebut dipersembahkan bagi Allah atau untuk yang lain. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengatakan agar orang percaya menjaga hati dan pikiran dengan segala kewaspadaan (Ams. 4:23). Kata “hati” dalam teks ini adalah leb (לֵב); selain berarti hati, juga berarti mind (pikiran).
    Dalam Yohanes 8:43, Tuhan Yesus mengatakan: “Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap Firman-Ku.” Kata “menangkap” dalam teks aslinya adalah akuo (ἀκούω) yang berarti mengerti atau memahami. Tidak mengerti Firman Tuhan sehingga tidak memahami bahasa Yesus, artinya tidak mengerti apa yang disampaikan oleh Tuhan. Sebenarnya kata “bahasa” di sini dalam teks aslinya adalah lalia (λαλιά) yang berarti juga “dialect, mode of speech, speech which discloses the speaker’s native country” (mode bicara dialek, ucapan yang mengungkapkan negeri asal pembicara). Tentu yang dikemukakan oleh Yesus adalah hal-hal yang benar-benar rohani, jauh melampaui hidup keberagamaan. Bisa dimengerti kalau orang-orang Yahudi yang agamani “tidak nyambung” dengan Yesus.
    Orang-orang Yahudi sebenarnya sangat giat mencari Allah, tetapi karena pengertian yang salah, mereka gagal menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Mereka tidak bisa diselamatkan karena tidak mengerti Firman-Nya. Demikian pula dengan sebagian orang-orang Kristen yang sebenarnya giat mencari Tuhan, tetapi karena penyesatan dan ajaran salah yang mereka serap, mereka tidak tidak mengerti Firman-Nya sehingga tidak mengalami keselamatan. Mereka tidak bisa dikuasai oleh Tuhan, tetapi dalam pengaruh kuasa lain.
    Kalau seseorang memiliki nurani yang baik, mereka dapat membedakan apakah ajaran yang mereka dengar adalah ajaran yang berasal dari Allah atau tidak. Banyak orang Kristen hari ini memilih mencintai dunia sehingga mereka menjadi materialistis dan nurani mereka menjadi rusak. Percintaan dunia adalah racun yang ‘disuntikkan’ Iblis ke dalam kehidupan banyak manusia. Oleh sebab itu, kita harus menyadari bahwa pikiran materialistis berasal dari setan atau Iblis. Pikiran yang tidak boleh ditolerir sama sekali.
    Mereka menjadi buta terhadap kebenaran, sehingga tidak dapat membedakan antara kebenaran dan bukan kebenaran (Luk. 16:11). Mereka tidak mengerti bahasa Tuhan, sebab mereka tidak mengerti kebenaran. Malangnya, mereka merasa bahwa mereka telah mendengar Firman Tuhan yang benar dan mengerti isinya, serta memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan. Kesalahan mereka adalah mereka mendengar pemberitaan Injil yang sebenarnya bukan Injil. Sehingga yang mereka dengar—walaupun sepertinya sesuai dengan doktrin yang diakui sebagai “resmi”—sesungguhnya adalah ajaran manusia yang dijiwai oleh spirit percintaan dunia.
    Kalau seseorang tidak memahami kebenaran, ia akan membangun satu sosok atau ‘figur allah’ dalam pikirannya sendiri. Sosok allah dalam pikiran tersebut memiliki ciri-ciri karakter yang diciptakan sendiri. Mereka merasa berdialog dengan Allah yang benar, padahal berdialog dengan allah ciptaannya sendiri. Dari kesaksian mereka, mengenai “suatu allah atau tuhan” yang mereka percayai memberi visi dan berdialog dengannya, menunjukkan bahwa itu bukan Allah yang diajarkan Alkitab. Hasrat menjadi besar di mata manusia dan hasrat meraih kekayaan membuat mereka nekat menciptakan sosok “yesus dan allah bapa” yang lain, yang tidak diajarkan oleh Akitab.
    Tidak sedikit pendeta akhir zaman ini tersesat dan terjebak dalam kubangan tersebut. Mereka tidak tahu dan tidak menemukan jalan untuk bertemu dengan Tuhan. Biasanya, hal ini juga dipicu oleh karakter dosa dalam diri mereka,
    0 min
  • Pencuri
    Tuhan Yesus mengingatkan bahwa kita harus berjaga-jaga berkenaan dengan adanya ancaman dalam bentuk pengaruh jahat yang merusak pikiran oleh karena suatu pengajaran (Mat. 16:6). Pengajaran dan pola hidup yang jahat dapat ditularkan oleh tokoh agama seperti ragi (Yun. zume ζύμη; Ing. leaven). Ragi, meskipun volumenya kecil, namun dapat memengaruhi atau mengubah sesuatu yang besar atau luas. Ragi orang Farisi dalam teks ini menunjuk pengaruh negatif melalui pengajaran dan sikap hidup yang ditunjukkan oleh “rohaniwan-rohaniwan palsu.” Ragi orang Farisi dapat digambarkan seperti kaleng racun yang diberi label ‘susu’ pada kemasannya. Ini merupakan sesuatu yang sangat membahayakan. Demikianlah orang Farisi yang dianggap sebagai rohaniwan, ternyata mereka mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran. Keadaan ini membuat semakin banyak rakyat Israel menjadi sesat. Kasus tersebut juga bisa terjadi di zaman sekarang. Tidak sedikit pembicara yang diakui sebagai “penyambung lidah Allah,” padahal ia tidak menyampaikan kebenaran Firman Tuhan yang murni.
    Hal ragi orang Farisi yang menyesatkan bertalian dengan apa yang dikemukakan oleh Tuhan dalam Yohanes 10:10. Tuhan menyebut musuh itu adalah pencuri (thief), dalam bahasa Yunani kleptes (κλέπτης), kata kerjanya adalah klepto (κλέπτω). Mencuri artinya mengambil milik orang lain dengan diam-diam tanpa sepengetahuan pemiliknya. Lalu, apa maksud Tuhan bahwa Iblis itu sebagai pencuri? Iblis digambarkan sebagai sosok pencuri yang dengan diam-diam dan dengan cara yang cerdas memakai orang-orang yang diakui sebagai hamba Tuhan atau rohaniwan memberitakan pengajaran yang palsu. Tuhan Yesus datang untuk memberi hidup supaya mereka memilikinya dalam segala kelimpahan (Yoh. 10:10). Kelimpahan tersebut adalah kelimpahan rohani melalu kuasa Injil-Nya (Rm. 1:16-17).
    Iblis datang untuk mengambil kehidupan dan membawa manusia kepada kemiskinan. Kemiskinan di sini tekanannya bukan materi, melainkan kualitas diri di hadapan Allah. Iblis berusaha membuat banyak orang tanpa sadar mengonsumsi pemberitaan pengajaran yang palsu. Dalam kecerdikan dan kelicikannya, Iblis membentuk karakter seseorang dalam waktu panjang sehingga orang tersebut tidak dapat diperbaiki lagi. Tanpa disadari oleh banyak orang, melalui segala sesuatu yang didengar, dilihat, dan diajarkannya, mereka mengonsumsi racun yang membawa diri mereka kepada kematian. Dalam taraf tertentu, jiwanya tidak bisa diperbaiki lagi (2Tim. 4:3-4). Fenomena ini terjadi pada orang-orang Kristen yang sudah lama hidup dengan cara berpikir anak-anak dunia, sehingga mereka tidak mampu lagi mengenakan kebenaran Tuhan. Dalam lingkungan gereja, banyak jemaat telah diracuni oleh pengajaran yang salah dan tertulari spirit yang terpancar dari pembicara yang hidupnya tidak sesuai dengan kesucian Tuhan. Ini yang disebut sebagai ragi.
    Dalam kegiatannya, Iblis mencuri dengan memakai orang-orang sebagai pelaksananya. Pada zaman Yesus, Iblis bisa memakai para rohaniwan agama seperti orang-orang Farisi untuk mengarahkan umat ke jalan yang salah. Dalam pernyataan-Nya Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka” (Yoh. 10:7-8). Dalam pernyataan Yesus tersebut, Yesus membandingkan diri-Nya dengan orang-orang Farisi dan tokoh-tokoh agama Yahudi yang tidak melalui jalur yang benar dalam mengajar umat.
    Untuk dapat membedakan apakah seseorang membawa pengajaran yang sehat atau tidak, sesat atau benar, harus menggunakan ukuran Firman Tuhan yang ditulis dalam Alkitab. Ukurannya bukanlah kelakuan lahiriah orang yang mengajarkan kebenaran tersebut semata-mata. Memang pada akhirnya, kita dapat membedakan nabi palsu atau tidak, tergantung dari “buahnya” (Mat. 7:15-23). Namun, dalam kondisi tertentu, kita membutuhkan klarifikasi segera atau secepatnya sebelum kita terjebak lebih parah ke dalam penyesatannya....
    0 min
  • Medan Peperangan
    Firman Allah mengatakan: “… ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah.” Kalau dikatakan lebih cerdik, artinya setan memiliki kecerdasan yang harus diwaspadai dengan sangat serius. Kata “cerdik” dalam teks aslinya adalah arum (עָרוּם) yang memiliki beberapa pengertian, antara lain: crafty, subtil, subtle, (licik, halus). Kata “arum” yang dikenakan pada oknum ini menunjukkan bahwa dia tidak boleh dianggap remeh. Terkait dengan oknum ini, Paulus menyatakan dalam suratnya: “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya” (2Kor. 11:3). Kata “kelicikan” dalam teks aslinya adalah panourgia (πανουργία), yang memiliki pengertian primer sama dengan arum (עָרוּם), yaitu crafty atau cunning (licik) atau a specious or false wisdom (kebijaksanaan palsu).
     
    Jadi kalau manusia makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, berarti mengonsumsi filosofi yang bukan berasal dari Allah. Dalam hal ini, buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat adalah buah secara figuratif, bukan buah secara harfiah untuk konsumsi fisik atau tubuh jasmani, melainkan yang dikonsumsi oleh pikiran atau sebagai makanan jiwa. Kejatuhan manusia ke dalam dosa dimulai dari pikiran yang diisi oleh sesuatu yang salah. Hal ini sama dengan sebuah penyesatan. Penyesatan dimulai dari cara berpikir. Itulah sebabnya Paulus mengatakan: “… aku takut kalau-kalau pikiranmu disesatkan …” (2Kor. 11:2-3). Dalam 2 Korintus 10:5, berbunyi: “Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.” Dari tulisan Paulus ini, kita dapat menemukan bahwa medan pertempuran terjadi di dalam pikiran.
     
    Orang yang menang dalam pertempuran melawan kuasa gelap adalah orang yang menawan atau menaklukkan pikirannya kepada Kristus. Menaklukkan pikiran kepada Kristus artinya segala sesuatu yang dipikirkan tidak bertentangan dengan kebenaran Injil. Hal ini dapat diverifikasi dengan apakah yang dipikirkan berguna untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Dengan ini, segala sesuatu yang dipikirkan selalu sesuai dengan Kebenaran Injil, yang mana hal itu akan membuat seseorang makin serupa dengan Yesus. Tentu cara berpikir seperti ini bertentangan dengan cara berpikir dan filosofi dunia. Itulah sebabnya, Paulus berkata bahwa orang percaya harus mengalami pembaharuan pikiran setiap hari agar tidak serupa dengan dunia (Rm. 12:2).
     
    Orang Kristen yang serupa dengan dunia adalah orang Kristen yang kalah. Ini berarti ditaklukkan oleh Iblis. Dalam hal ini, kita diperhadapkan kepada satu dari dua pilihan, yaitu memilih serupa dengan dunia ini atau memilih serupa dengan Yesus, yang adalah model manusia yang sesuai dengan rancangan Allah semula. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan, sebab Injil adalah kebenaran yang memperbaharui pikiran. Sayang sekali, banyak orang tidak menyadarinya sama sekali sehingga mereka sembarangan dengan apa yang mereka pikirkan, dan tidak menyadari peperangan yang mestinya berlangsung di dalam pikirannya.
     
    Sebenarnya, berbicara mengenai orang kerasukan Iblis, bukan hanya ditandai dengan manifestasi secara fisik seperti menjerit, mata melotot, menyerang orang lain secara fisik, menelanjangi diri, dan lain sebagainya. Dalam Injil Matius 16:21-23 dikemukakan mengenai sikap murid-murid ketika Yesus menyatakan diri akan mati. Petrus mewakili murid-murid yang lain mencoba mencegah Yesus, bahkan dengan mengatasnamakan Allah. Jadi, ketika seseorang tidak berpikir sesuai dengan apa yang dipikirkan Allah dan hal tersebut mengganggu rencana Allah, maka itu adalah pikiran dari Iblis, yang sama dengan kerasukan Iblis atau kerasukan setan.
    0 min
  • Sarang Laba-Laba
    Terkait dengan tipu muslihat Iblis dalam Efesus 6:11, firman Tuhan mengatakan: “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis.” Kata “tipu muslihat” dalam teks ini adalah methodeia (μεθοδεία), yang artinya tindakan yang dilakukan dengan cara atau metode. Hal ini menunjukkan bahwa setan tidak bertindak secara sembarangan. Ia memiliki metode atau cara dengan kecerdasannya dalam melakukan suatu tindakan. Kata methodeia juga bisa berarti secara atau bersifat licik dengan tipu daya (Ing. trickery). Dari kata ini, dapat dipahami bahwa Iblis atau setan tidak sembarangan bertindak dalam memperdaya manusia agar masuk jeratnya. Setan atau Iblis memiliki perhitungan, kecerdasan, dan pertimbangan dengan segala kelicikan untuk dapat menjerat manusia dan menjatuhkannya.
     
    Dalam pengalaman setan atau Iblis yang durasi waktunya tidak pernah kita tahu—bisa berjuta-juta tahun, bermilyar-milyar tahun, atau bahkan bertrilyun tahun—Iblis memiliki kemampuan untuk bertindak dengan cerdiknya. Itulah sebabnya, kalau kita tidak dipimpin oleh Roh Kudus, maka kita tidak akan mampu menghadapi oknum yang sangat berpengalaman ini. Iblis bukan hanya cakap dalam melakukan penipuan, tetapi oknum ini juga sangat berani dan sangat nekat. Hal ini ditunjukkan dengan keberaniannya berhasrat memiliki takhta seperti Allah. Iblis memiliki keberanian untuk dapat menyamai Allah. Ini berarti Iblis benar-benar nekat. Kalau kita tidak memiliki keberanian dan kenekatan yang tinggi untuk melawan Iblis, maka pasti kita dapat dikalahkan. Keberanian dan kenekatan kita dapat ditunjukkan dengan kesediaan untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, dan belajar untuk hidup dalam kesucian Allah. Inilah keberanian untuk mencintai Allah lebih dari segala sesuatu, sehingga dapat menjadikan Allah satu-satunya yang berharga dalam hidup ini.
     
    Dari hal ini, kita belajar untuk mencurigai setiap keadaan dimana bisa terdapat tipu daya Iblis di dalamnya. Kita juga harus selalu memperhitungkan adanya kesesatan atau penyimpangan di dalam hidup kita akibat pengaruh dunia sekitar kita. Apa yang selama ini dipandang sebagai kewajaran ternyata bisa merupakan jerat Iblis. Seperti menonton film-film tertentu yang dianggap itu sebagai sesuatu yang wajar, atau menyanyikan lagu-lagu sekuler yang kelihatannya tidak melanggar moral, tetapi sebenarnya di balik film-film dan lagu-lagu tersebut terdapat filosofi yang bisa mengarahkan kita kepada pikiran Iblis. Juga suasana pergaulan yang menggiring banyak orang Kristen ada di bawah pengaruh kuasa gelap. Kalau orang Kristen tidak sungguh-sungguh memperbaharui pikirannya dengan kebenaran Firman Tuhan dan hidup di dalam doa secara teratur, maka ia tidak akan memiliki kepekaan untuk mendeteksi tipu daya kuasa gelap serta pengaruhnya di dalam hidup.
     
    Memang orang-orang yang ada dalam pengaruh kuasa gelap belum tampak kejahatannya secara terang-terangan atau secara nyata, bahkan tidak jarang yang tidak dibuat nyata. Tetapi, mereka ada dalam posisi yang sebenarnya menuju kegagalan atau tidak mengalami realisasi keselamatan, yaitu dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Bagi Iblis, ini sudah cukup untuk membuat dirinya “lebih aman,” sebab baginya yang membahayakan adalah orang Kristen menjadi serupa dengan Yesus atau mengenakan standar hidup sebagai anak-anak Allah, yaitu berarti menjadi corpus delicti. Itulah sebabnya, Iblis akan berusaha segiat-giatnya untuk menghalangi orang Kristen mencapai realisasi keselamatan tersebut.
     
    Rasul Paulus dalam Efesus 5:15 mengatakan: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif”. Kalimat “bagaimana kamu hidup” dalam teks aslinya adalah peripateite (περιπατεῖτε) yang memiliki keterangan sebagai verb indicative present active 2nd person plural, dari akar kata peripateo (περιπατέω) yang menunjukkan suatu kebias...
    0 min
  • Tipu Muslihat
    Dalam percakapan antara Hawa dengan ular, kita dapati ularlah yang terlebih dahulu memulai percakapan: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?” Perkataan Iblis itu terkesan bodoh dan konyol, sangat mudah untuk membantahnya, sebab tidak mungkin Allah melarang Adam dan Hawa makan semua buah yang ada di Taman Eden. Perkataan setan atau Iblis tersebut menggoda Hawa untuk menjawabnya. Berbeda kalau Iblis memulai percakapan dengan perkataan: “Kalau kamu makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat kamu tidak akan mati, tetapi kamu akan menjadi seperti Allah,” tentu saja Hawa akan segera menjauhi setan atau tidak terpancing untuk berdialog.
     
    Sekilas, setan atau Iblis seakan-akan menunjukkan ia bodoh dengan perkataan awal tersebut, tetapi justru di sinilah letak kecerdikannya. Melalui perkataan awal itu, Iblis menarik perhatian Hawa untuk bisa diajak berdialog. Mudahnya menjawab guna menangkis perkataan awal Iblis menyenderungkan Hawa membuka mulut untuk memberi respons, sehingga terjadilah dialog. Hawa memberikan jawaban atau respons terhadap perkataan awal Iblis tersebut, seakan-akan Hawa mau meluruskan apa yang salah. Dalam jawaban awal tersebut, terkesan Hawa juga sedang membela Tuhan yang difitnah, tetapi justru inilah awal kejatuhan manusia. Mestinya Hawa tidak perlu melakukan hal tersebut. Kemutlakan untuk menaati perkataan Elohim Yahweh mestinya sudah cukup membuat Hawa tidak kompromi sama sekali terhadap apa pun dan siapa pun yang dapat membuat dirinya melanggar larangan Allah. Respons atau reaksi Hawa itulah yang menjadi awal dari kejatuhan manusia.
     
    Kalau Hawa sudah bisa diajak berdialog, maka Iblis lebih mudah menjerat Hawa dengan perkataan lain yang bisa memperdaya Hawa. Dari perkataan awal ular tersebut, pikiran Hawa dikacaukan. Iblis mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diajarkan oleh Allah. Itulah sebabnya, kita tidak boleh membuka celah sekecil apa pun untuk oknum itu. Firman Allah mengatakan: “Jangan beri kesempatan kepada Iblis” (Ef. 4:27). Kata “kesempatan” dalam teks aslinya adalah topon (τόπον) yang artinya tempat berpijak (Ing. foothold). Kita tidak boleh memberi tempat berpijak sedikitpun bagi kuasa kegelapan karena hal itu akan merusak atau merendahkan martabat kita sendiri sebagai anak-anak Allah. Tanpa disadari, banyak orang Kristen sebenarnya sedang memberi tempat berpijak atau bahkan telah ada dalam pengaruh kuasa gelap karena telah memberi pijakan terhadap kehadirannya.
     
    Kita tidak boleh kompromi sama sekali terhadap kuasa gelap. Itulah sebabnya, dalam Doa Bapa Kami Yesus mengajarkan kalimat: “Dan janganlah membawa ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari yang jahat.” Dari fragmen Hawa dan Ular tersebut, kita dapat memperoleh pelajaran bahwa kita harus sungguh-sungguh bersikap tegas menolak dan menjauhi segala sesuatu yang membuat kita bisa menyakiti hati Allah. Dalam menghadapi oknum setan, kita harus bersikap benar-benar tega, agar kita tidak terseret dalam pola permainannya. Hawa sudah terseret pada pola permainannya sehingga dengan mudah diperdaya oleh oknum tersebut. Demikianlah liciknya setan, menggunakan segala sesuatu untuk menjatuhkan manusia agar melakukan perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Iblis bisa menggunakan hal-hal sederhana, hal-hal kecil dan sepele, yang biasanya dianggap tidak membahayakan, namun ternyata merupakan jebakan dari kuasa gelap untuk membinasakan manusia.
     
    Seperti kehidupan normal yang dijalani banyak orang Kristen hari ini, sebenarnya tanpa disadari membawa mereka kepada jebakan kuasa gelap. Kewajaran hidup adalah cara cerdik Iblis menggiring banyak orang Kristen ke dalam kesesatan yang bisa makin parah atau makin dalam, sehingga tidak dapat lagi kembali kepada Tuhan. Penyesuaian diri dengan cara hidup manusia pada umumnya sebenarnya adalah kompromi yang menempatkan banyak orang Kristen pada posisi yang sa...
    0 min
  • Poneros
    Membahas mengenai oknum setan atau Iblis ini, kita harus mengerti apa yang dimaksud dengan jahat. Dalam pengertian umum, “jahat” artinya keadaan yang sangat buruk. Jika dikaitkan dengan perbuatan atau perilaku jahat, artinya perbuatan yang melanggar hukum atau perbuatan yang merugikan, menyakiti, dan melukai sesama, paling tidak perbuatan yang tidak menyenangkan bagi orang lain. Tetapi dalam konteks kebenaran Alkitab, keadaan yang buruk adalah keadaan manusia yang terpisah dari Allah; tidak ada keadaan yang lebih buruk daripada keadaan seseorang yang terpisah dari Allah. Ini berarti jahat adalah keadaan terpisah dari Allah. Dengan demikian, perbuatan jahat adalah perbuatan yang membuat orang lain terpisah dari Allah. Oknum yang jahat adalah oknum yang mengakibatkan atau menyebabkan manusia terpisah dari Allah. Oknum tersebut adalah setan atau Iblis, itulah sebabnya setan atau Iblis disebut sebagai “Si Jahat.”
     
    Dalam 1 Yohanes 3:8 tertulis: “… barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu.” Kalimat “Iblis berbuat dosa dari mulanya” secara tidak langsung menunjukkan bahwa oknum ini telah melanggar kekudusan Allah. Ini berarti bahwa dalam Alkitab, pasti ada catatan mengenai oknum yang melawan Allah secara langsung. Melawan Allah secara langsung artinya berhadapan head-to-head dengan Allah secara frontal. Dalam hal ini, kita harus mengeksplorasi seluruh isi Alkitab untuk mendapatkan landasan yang kokoh mengenai kebenaran ini.
     
    Begitu besar peran oknum ini dalam sejarah kehidupan—baik di surga maupun di bumi—maka tidak mungkin Alkitab tidak mencatat atau menunjukkan asal-muasal oknum tersebut. Alkitab pasti memberi informasi mengenai asal-muasal dan keberadaan setan atau Iblis ini, demi melengkapi pemahaman orang percaya mengenai kehidupan yang harus dijalani secara utuh. Oleh kemurahan Allah, kita dapat menemukan kebenaran terkait dengan keberadaan setan atau Iblis tersebut. Dalam hal ini, dibutuhkan kerendahan hati, hidup yang kudus, hati yang tidak mencintai dunia, serta hati yang haus dan lapar akan kebenaran. Allah pasti membukakan rahasia Firman-Nya mengenai segala hal yang dibutuhkan bagi kehidupan iman kita, di dalamnya termasuk mengenai oknum setan atau Iblis ini.
     
    Jika kita membaca Alkitab Perjanjian Baru, Yesus dan para rasul-Nya sudah tidak lagi mempersoalkan latar belakang setan. Mereka sudah memiliki persepsi yang kuat dan permanen mengenai setan atau Iblis sebagai musuh Allah. Hal ini jelas mengindikasikan bahwa baik Yesus maupun para rasul sudah sangat mengerti apa yang sudah dilakukan oknum ini, sehingga oknum ini dikenal sebagai musuh Allah. Ada indikasi yang sangat jelas bahwa hal pemberontakan setan atau Iblis kepada Allah bukan sesuatu yang asing dipahami oleh mereka. Tentu saja pemahaman mereka didasarkan pada Alkitab Perjanjian Lama. Dengan demikian, tidak mungkin Alkitab Perjanjian Lama tidak mengungkapkan dengan jelas siapa oknum ini dan apa yang telah dilakukannya sehingga ia dinyatakan sebagai oknum musuh Allah, seperti yang Yohanes katakan sebagai “berbuat dosa dari mulanya.” Tidak ada catatan apa pun yang Alkitab kemukakan mengenai hal ini di Perjanjian Lama selain dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Mempelajari apa yang dicatat Alkitab mengenai setan, maka dapat ditemukan bukti bahwa oknum yang dimaksud dalam Yesaya 14 dan Yehezkiel 28 adalah setan atau Iblis itu.
     
    Kejahatan oknum setan ini terhadap manusia dimulai dari kisah di Taman Eden (Kej. 3). Oknum inilah yang menjadi kausalitas prima dan satu-satunya penyebab manusia memberontak kepada Allah sehingga terusir dari hadapan Allah. Oknum inilah yang mengakibatkan manusia mengalami kematian, baik kematian jasmani maupun kematian kekal. Banyak ayat Alkitab di Perjanjian Baru yang menjuluki oknum ini sebagai si jahat (Mat.
    0 min
  • Binatang Berbisa
    Tidak ada kisah yang lebih tragis di atas muka bumi ini dari kisah mengenai kejatuhan manusia ke dalam dosa. Kejadian 3:1-6 adalah satu-satunya pasal yang mengungkapkan peristiwa tragis tersebut. Tidak diragukan lagi bahkan menjadi satu kepastian, bahwa inilah awal dari kisah mengenai sepak terjang setan atau Iblis di atas muka bumi. Ular yang dalam bahasa Ibraninya nakash (נָחָשׁ,) yang dimaksud di dalam Kejadian 3 pastilah oknum setan atau Iblis tersebut. Mengapa nama oknum tersebut tidak disebut, misalnya setan atau Iblis atau yang lain? Mengapa harus menggunakan ular sebagai personifikasinya? Harus diingat, bahwa Kitab Kejadian ditulis untuk bangsa Israel yang belum lama keluar dari perbudakan Mesir (tahun 1440 SM). Mereka adalah bangsa yang tidak berbudaya tinggi, karena selama 430 tahun hidup sebagai bangsa budak. Mereka bisa dikatakan primitif jika dibanding dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. Tentu saja cara berpikir bangsa itu juga masih sangat dangkal, sehingga Kitab Kejadian harus ditulis secara figuratif.
     
    Kita sebagai umat pilihan harus memahami jalan keselamatan dalam Yesus Kristus yang merupakan pusat rencana Allah, juga harus memahami Kitab Kejadian dengan cerdas agar dapat memperoleh makna orisinal yang lebih dalam daripada yang dapat dipahami oleh bangsa Israel. Ular adalah figuratif dari personifikasi setan atau Iblis. Dengan ular sebagai personifikasi oknum ini, menunjukkan bahwa oknum setan tersebut adalah entitas yang tidak bermartabat seperti makhluk ciptaan yang memiliki kepribadian. Setan atau Iblis ditampilkan sebagai ular, yang berarti disejajar dengan binatang. Hal ini jelas merupakan sebuah pernyataan bahwa oknum itu memiliki martabat yang lebih rendah dibanding dengan manusia dan makhluk surgawi lainnya. Hal ini terjadi atas diri setan atau Iblis sebab ia memberontak kepada Allah.
     
    Dalam Kitab Wahyu, muncul satu entitas yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata “binatang.” Dalam teks aslinya, kata “binatang” tersebut adalah therion (θηρίον) yang artinya antara lain: an animal, a wild animal, wild beast, a brutal, bestial man, savage, ferocious (binatang, binatang buas, brutal, ganas). Dalam Alkitab terjemahan bahasa Inggris sering diterjemahkan the beast, menunjuk binatang yang buruk rupa dan biasanya dipahami jahat. Binatang ini pasti menunjuk kuasa gelap yaitu setan atau Iblis. Binatang tersebut ditampilkan sebagai sosok utama yang memiliki peranan sangat besar dalam dunia kegelapan yang merusak kehidupan. Di bagian lain dalam Kitab Wahyu ini, digambarkan sebagai naga. Kata “naga” dalam teks aslinya adalah drakon megas purros (δράκων μέγας πυρρὸς), yang artinya naga besar yang warnanya merah.
     
    Penggambaran binatang atas oknum setan tidak dapat disejajarkan dengan penggambaran Anak Allah atau Yesus sebagai Anak Domba yang disembelih. Yesus adalah Anak Domba yang tersembelih, menunjuk kepada kesediaan-Nya sebagai kurban penghapus dosa. Anak Domba yang disembelih adalah penggenapan dari tindakan kurban penebusan yang ada dalam Perjanjian Lama. Lagipula, “anak domba” menunjuk kelemahlembutan dan kasih, entitas yang tidak membahayakan dan tidak menakutkan. Pada intinya, ular adalah personifikasi setan atau Iblis dalam Taman Eden. Ular menunjukkan tidak bermartabatnya oknum yang telah memberontak kepada Allah ini.
     
    Iblis digambarkan sebagai ular yang menunjukkan betapa berbahayanya oknum ini. Dari sejak zaman dulu sampai sekarang, ular adalah binatang berbisa yang membahayakan. Ular tidak pernah menjadi binatang peliharaan yang jinak. Kalaupun ada orang yang menjadikan ular binatang peliharaan, itu pun sangat langka dan tentu sangat berbahaya. Ular selalu dipersepsikan sebagai buas dan ganas, serta membahayakan. Oknum yang sama sekali tidak bersahabat. Berbicara mengenai setan atau Iblis, oknum ini tidak memiliki unsur atau nuansa kekeluargaan dan persahabatan, yang ada hanyalah kebencian dan permusuhan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…