Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Sikap terhadap Kehadiran Allah
    Untuk dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya, seseorang harus memercayai dan menghayati keberadaan Allah. Orang-orang Kristen yang yang dibesarkan dalam lingkungan gereja, sudah terbiasa meyakini bahwa Allah itu ada. Keyakinan mengenai keberadaan Allah itu telah menyatu dalam kehidupan, mengalir dalam jiwanya sejak kecil. Pada umumnya, mereka merasa sudah menjadi orang percaya yang benar. Tetapi sebenarnya, banyak di antara mereka yang memercayai keberadaan Allah tanpa menghayati dengan benar atau semestinya. Hal ini dibuktikan dengan perilaku dan buah-buah kehidupan mereka. Banyak di antara mereka yang perilaku hidupnya tidak sesuai dengan kebenaran Injil. Kalau seseorang hidup sebagai orang percaya yang menghayati kehadiran Allah, maka gaya hidupnya pasti mengikut jejak Yesus, sehingga ia menjadi semakin seperti Yesus. Faktanya, sedikit sekali, bahkan hampir tidak kita temukan orang Kristen—sekalipun itu pendeta—yang berkeberadaan seperti Yesus.
    Hal tersebut membuktikan bahwa mereka belum menjadi orang percaya yang benar. Mereka tidak memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup. Tentu semua orang Kristen memercayai Allah sebagai keberadaan yang hidup dan nyata, tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Suasana kekristenan di Indonesia seperti ini memengaruhi kehidupan kerohanian generasi muda. Bukan tidak mungkin, lambat laun kekristenan di Indonesia menjadi seperti kekristenan di masyarakat Barat. Hal ini sangat besar kemungkinannya, sebab banyak gereja di Indonesia yang doktrin dan pengajarannya berasal dari Barat.
    Sementara ini, semakin kuat suasana dunia yang menunjukkan sikap seakan-akan Allah tidak hadir dalam kehidupan. Hal ini memengaruhi kehidupan banyak orang Kristen. Banyak orang Kristen yang telah diracuni pemikiran seakan-akan Allah itu tidak ada. Menurut Rasul Petrus, dunia akhir zaman akan dibawa kepada suasana dimana manusia tidak percaya adanya Allah (2Ptr. 3:1-7). Dalam kehidupan orang-orang Kristen, sikap terhadap Allah seperti ini tanpa disadari mematikan keyakinan bahwa Allah hadir dalam kehidupan manusia. Ini merupakan pintu masuk kuasa gelap untuk memengaruhi dan menguasai kehidupan seseorang. Banyak orang Kristen yang hati nuraninya menjadi gelap, sehingga membuat mereka tidak takut akan Allah secara benar. Walaupun mereka tampak sebagai orang-orang Kristen yang baik, tetapi sebenarnya mereka tidak memiliki hati yang mengasihi dan menghormati Allah secara patut. Hal inilah yang menyebabkan mereka tidak memiliki kekudusan seperti yang Allah kehendaki dan mereka masih mencintai dunia.
    Keadaan dunia hari ini mengondisi orang Kristen untuk semakin sukar memercayai kehadiran Allah dalam kehidupan. Banyak mereka yang telah hanyut dalam sikap seakan-akan Allah tidak hadir dalam kehidupan. Hal ini terbukti dengan perilaku mereka, dimana hampir semua orang menjadikan adalah kekayaan, kehormatan, pangkat, kepuasan nafsu daging dan lain sebagainya sebagai sumber kebahagiaannya. Mereka tidak menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya kebahagiaan.
    Kerajaan Surga bukan lagi menjadi tujuan hidup. Tidak heran kalau mereka tidak ingin pulang ke surga. Bagi mereka, langit baru dan bumi baru adalah dunia yang asing. Bila keadaan ini berlangsung terus-menerus, maka sampai pada level tertentu, mereka tidak bisa lagi menyadari dan menghayati bahwa mereka bukan berasal dari dunia ini. Inilah keadaan orang-orang Kristen yang terhilang. Mereka tidak tahu ke mana harus pulang. Ironisnya, mereka menganggap bahwa keadaan hidup seperti ini adalah wajar. Inilah keberhasilan kuasa gelap yang membuat banyak orang Kristen tidak lagi menjadi perawan suci di hadapan Allah, dan mereka telah kehilangan kesetiaan yang sejati kepada Kristus (2Kor. 11:2-3).
    Memercayai keberadaan Allah tidak cukup hanya berupa pengakuan di bibir saja. Seseorang yang percaya kehadiran Tuhan harus menunjukkan keyakinannya itu dalam perbuatan. Itulah sebabnya,
    0 min
  • Memberi Nilai
    Dalam Perjanjian Lama, tercatat bahwa Allah undur dari kehidupan manusia sehingga manusia pada umumnya tidak bisa lagi berinteraksi dengan Allah secara ideal sesuai rancangan semula (Kej. 6:3). Hal ini terjadi bukan karena Allah berkehendak demikian, melainkan karena manusia telah berkeadaan tidak bisa bersekutu dengan Allah, atau tidak bisa hidup di hadirat-Nya. Undurnya Roh Allah dari manusia merupakan kerugian yang tidak ternilai bagi manusia, lebih dari kehilangan apa pun. Kehilangan Allah berarti kehilangan kehidupan itu sendiri. Inilah yang disebut kebinasaan atau hidup yang tidak memiliki nilai sama sekali—kebalikan dari hidup kekal—atau hidup yang tidak berkualitas. Pada prinsipnya, hanya Allah yang bisa memberi nilai dalam kehidupan ini.
    Keadaan manusia yang tidak dapat hidup di hadirat Allah sebenarnya dimulai sejak diusirnya Adam dan Hawa dari Eden. Tidak ada ada fragmen yang lebih tragis daripada peristiwa itu. Tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan keadaan tragis dimana manusia dihalau dari Eden (Kej. 3:23). Hal ini terjadi karena manusia berkeadaan tidak sesuai dengan maksud manusia diciptakan oleh Allah. Manusia tidak mencapai keadaan segambar dan serupa dengan Allah. Dihalaunya manusia dari hadapan Allah di Eden mengakibatkan manusia secara individu tidak bisa berinteraksi dengan Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Dalam keadaan yang tidak mencapai keadaan sesuai dengan rancangan Allah, manusia tidak dapat berinteraksi dengan Allah. Manusia tidak dapat hidup di hadirat Allah secara ideal sesuai rancangan semula. Hal ini berarti manusia kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23).
    Dalam hal ini, hendak dikemukakan bahwa kualitas atau nilai diri manusia terdapat pada kualitas persekutuannya dengan Allah. Itulah kemuliaan yang dapat dimiliki manusia, yaitu kemuliaan Allah. Manusia tidak memiliki nilai sama sekali kalau tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hal ini sama dengan kalau seseorang tidak hidup di hadirat Allah, maka hidupnya tidak berkualitas sama sekali. Dalam hal ini, yang menjadi persoalan inti bukan hanya pada keadaan manusia yang tidak sesuai dengan rancangan semula, melainkan tidak adanya relasi dengan Allah karena Allah yang memberi nilai dalam kehidupan ini. Allah adalah satu-satunya value atau nilai dalam kehidupan. Di luar Allah adalah kebinasaan, artinya keadaan tidak memiliki nilai sama sekali.
    Manusia yang sudah menjadi rusak, berpikir bahwa yang membuat dirinya bernilai adalah kekayaan, pangkat, kedudukan, kehormatan manusia, penampilan, dan lain sebagainya yang bersifat duniawi. Filsafat hidup seperti ini sudah mencengkeram kehidupan hampir semua manusia, dan semakin tahun, dunia semakin gelap sehingga banyak manusia hidup dalam kebodohan. Hal ini bukan hanya terjadi atas mereka yang ada di luar gereja, melainkan juga orang-orang Kristen yang ada dalam lingkungan gereja, bahkan dalam lingkungan pelayanan pekerjaan Tuhan. Inilah orang-orang Kristen yang disebut sebagai orang-orang percaya yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan dan karena kedengkian hati.
    Keadaan manusia hari ini sama seperti keadaan bangsa Israel pada masa intertestamental yaitu suatu masa selama sekitar 400 tahun, terhitung sejak zaman bangsa Israel dalam pembuangan dan kepulangannya, sampai pada zaman Perjanjian Baru. Bangsa Israel tidak memiliki kerajaan, tidak memiliki nabi-nabi yang menyuarakan suara Tuhan, dan mereka berkali-kali jatuh ke tangan berbagai bangsa asing. Mereka menjadi umat pilihan yang hidup dalam keadaan yang sangat tertindas dan direndahkan oleh bangsa-bangsa lain. Banyak peristiwa pada masa itu yang benar-benar merendahkan martabat bangsa tersebut. Pada masa itu, Tuhan seperti meninggalkan bangsa Israel. Dalam hidup mereka, tidak ada kehadiran Allah seperti pada masa-masa sebelumnya. Semua itu terjadi karena kejahatan bangsa tersebut terhadap Allah.
    0 min
  • Keberadaan Allah yang Mahahadir
    Pada umumnya, orang-orang beragama mengakui bahwa Allah Mahahadir. Mereka juga percaya Allah ada di mana-mana. Tetapi, masih ada juga orang Kristen yang merasa dan yakin kalau Allah lebih nyata kehadiran-Nya di gereja dibandingkan dengan di luar gereja. Dalam hal ini, seakan-akan Allah terikat oleh ruangan rumah ibadah gereja. Dengan asumsi ini, berarti Allah disejajarkan dengan dewa-dewa dalam kepercayaan agama di luar Kristen. Sejatinya, Allah adalah Allah yang Mahahadir. Tetapi masalahnya adalah bagaimana sikap orang percaya terhadap kenyataan Allah yang Mahahadir tersebut? Harus dimengerti bahwa keberadaan Allah yang Mahahadir tersebut memberi konsekuensi kepada orang percaya. Orang percaya harus bersikap secara patut kepada Allah yang berkeadaan Mahahadir tersebut.
    Kalau kita memercayai bahwa Allah Mahahadir, seharusnya kita memiliki hati yang takut akan Allah. Takut akan Allah ini tentu dibangun dari hati yang mengasihi Dia dengan tulus. Orang yang tidak takut akan Allah karena tidak mengasihi Dia, pasti tidak menghormati Allah dengan benar. Untuk ini, seseorang harus belajar mengenal siapa dan bagaimana Allah yang benar itu. Orang yang belum mengenal Allah dengan benar, sikapnya pasti tidak menghormati Dia secara patut. Orang yang tidak menghormati Allah secara patut, sama dengan tidak bersikap sebagaimana mestinya terhadap Allah dan tidak dapat hidup di hadirat Allah. Tidak mungkin orang yang tidak menghormati Allah secara patut bisa hidup di hadirat-Nya.
    Kalau seseorang menghayati keberadaan Allah dengan benar dari pengenalannya yang benar, ia dapat menghayati betapa terhormatnya Allah itu. Banyak orang menghormati Allah hanya di gereja, yaitu satu sampai dua jam dalam liturgi kebaktian saja. Setelah keluar dari gereja, mereka tidak lagi menghormati Allah secara patut. Mereka bersikap seakan-akan Allah tidak ada. Gaya hidup mereka sama seperti anak-anak dunia yang tidak mengenal Allah dan tidak menghormati Dia. Orang-orang Kristen seperti ini, di luar kesadarannya berpikir bahwa Allah hanya hadir di dalam gereja. Ini berarti, pada waktu di gereja, sikap hormatnya kepada Allah pun dipaksakan, tidak tulus—artinya dibuat-buat—atau munafik. Orang munafik adalah orang yang memainkan peran atau bersandiwara. Mereka tidak mungkin bisa hidup di hadapan Allah atau di hadirat Allah. Allah tidak bergaul dengan orang yang munafik.
    Sikap hormat kepada Allah seharusnya tidak dibuat-buat, tetapi mengalir secara natural dari hati yang takut akan Allah karena mengasihi Dia. Hal ini tidak cukup hanya ditunjukkan dengan kalimat doa atau sikap tubuh, tetapi dari sikap batin yang tersembunyi. Ekspresi sikap hormat tersebut ditunjukkan dalam perbuatan menjaga perasaan Allah setiap saat dan di mana pun, serta dalam segala hal yang dilakukan. Sejatinya, inilah yang dimaksud oleh Yesus dengan “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:24). Menyembah dalam teks aslinya adalah proskuneo, yang artinya memberi nilai tinggi atau menghormati. Orang percaya yang menyembah Allah dalam roh dan kebenaran menghormati Allah sepanjang waktu hidup ini, di mana pun, dan dalam segala perkara. Ibadah seperti ini tidak menekankan pada seremonial atau liturgi, tetapi sikap hati yang permanen dalam menghormati Allah, dan ekspresinya dalam segala perbuatan.
    Mudah untuk memberi kesan kepada orang lain bahwa dirinya menghormati Allah, tetapi tidak mudah untuk memiliki hormat kepada Allah dari sikap batin. Banyak orang merasa sudah menghormati Allah, padahal kenyataannya tidak. Terkait dengan hal ini, menjadi persoalan: Bagaimana kita bisa tahu bahwa seseorang sudah menghormati Allah atau tidak? Hal ini akan tampak dari kekudusan hidup orang tersebut. Orang yang menghormati Allah pasti memiliki kekudusan. Orang yang sudah mencapai tingkat mengenal Tuhan dengan baik akan mengerti apa artinya menghormati Tuhan, sebab ia merasakan dalam jiwanya suatu “kegentaran” akan Allah. Kegentaran ini akan makin kuat,
    0 min
  • Hadirat Allah
    Sering kita mendengar dan juga mungkin mengucapkan kalimat “hidup di hadirat Allah.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan hadirat Allah itu? “Hadirat” berasal dari kata “hadir,” yang artinya datang atau keberadaan. Secara umum, pengertian kata “hadirat” berarti kehadiran atau keberadaan. Hadirat bisa juga memiliki kesamaan arti dengan “di hadapan” atau “di dalam kehadiran.” Jadi, kalau dikatakan “di hadirat Allah” berarti suatu tempat atau suasana dimana Allah hadir. Dalam pengertian luas, “di hadirat Allah” berarti keadaan dimana seseorang mengalami kehidupan yang berinteraksi dengan Allah. Berinteraksi artinya hubungan timbal balik, dimana ada percakapan yang dalam dan saling memengaruhi perasaan masing-masing. Orang yang memiliki percakapan dengan Allah, bukan hanya banyak berdoa atau mengucapkan kata-kata kepada Allah, melainkan Allah juga berkata-kata kepada orang tersebut. Dalam hal ini, bukan hanya Allah yang mendengar perkataan kita, melainkan kita juga mendengar perkataan-Nya. Dalam interaksi, perasaan Allah dapat disukakan atau didukakan.
    Dalam bahasa asli Alkitab Perjanjian Lama, kata “di hadirat Allah” terjemahan dari le paniym Elohim yang artinya “di muka Allah.” Paniym artinya muka atau wajah, berbentuk jamak. Kalau diterjemahkan secara harfiah, paniym berarti muka-muka atau wajah-wajah. Hal ini mengesankan banyak muka atau banyak wajah. Apakah ini berarti Allah banyak muka-Nya atau Allah berjumlah lebih dari satu? Tentu tidak. Maksudnya adalah bahwa Allah ada di mana-mana, yang oleh karenanya bisa dijumpai dan umat dapat berinteraksi dengan Dia. Dalam Perjanjian Baru, kalimat “di hadirat Allah” diterjemahkan enopion tou theo (ἐνώπιον τοῦ θεοῦ); in face of God (Kis. 14:4). Dalam bahasa Inggris diterjemahkan before God. Dalam Perjanjian Baru, kalimat “di hadirat Allah” juga tertulis to prosopoin tou theou (τῷ προσώπῳοιν τοῦ θεοῦ), artinya di dalam kehadiran Allah. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan in the presence of God (Ibr. 9:24).
    Memang Allah Mahahadir, sejak dahulu juga hadir dimana-mana (omnipresent), tidak ada tempat di mana Allah tidak hadir. Dalam Mazmur 139:17-10 tertulis: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situ pun Engkau. Jika aku terbang dengan sayap fajar, dan membuat kediaman di ujung laut, juga di sana tangan-Mu akan menuntun aku, dan tangan kanan-Mu memegang aku.” Ayat ini mengemukakan bahwa Allah bukan saja eksis, melainkan juga Mahahadir.
    Karena Allah Mahahadir, apakah berarti secara otomatis semua orang hidup di hadirat Allah? Ternyata tidak. Allah memang Mahahadir, tetapi kehadiran-Nya tidak dirasakan semua orang, sehingga banyak orang tidak mengalami-Nya. Tidak semua orang memiliki interaksi dengan Allah. Hal ini sama artinya bahwa tidak semua orang hidup di hadirat Allah. Mereka tidak hidup di hadirat Allah bukan karena Allah tidak hadir dalam hidup mereka, melainkan karena mereka tidak mau berurusan dengan Allah secara benar. Dalam dunia yang fasik, semakin banyak orang yang tidak hidup di hadirat Allah. Tanpa sadar atau secara tidak langsung, walaupun percaya Allah ada, perlakuannya terhadap Allah menunjukkan seakan-akan Allah seperti sebuah mitos dan mereka tidak merasa perlu menghormati-Nya, apalagi berurusan dengan Dia.
    Hidup di hadirat Allah adalah pengalaman nyata atau riil, konkret, dan natural. Nyata atau riil, dan konkret artinya bisa dibuktikan, bukan sesuatu yang abstrak. Natural artinya sesuatu yang berlangsung secara alami, bukan dibuat-buat atau berunsur kepura-puraan. Bagi orang percaya yang mengalami hidup di hadirat Allah, hidup seperti ini sudah otomatis mengalir dalam hidupnya, tanpa ia rekayasa. Dalam Alkitab, kita menemukan begitu banyak kisah mengenai orang yang hidup di hadirat Allah, yang sama dengan hidup di hadapan Allah. Bagi mereka, pengalaman hidup di hadapan Allah adalah sesuatu yang berlang...
    0 min
  • Iblis, Sang Pendusta
    Kejatuhan Adam dan Hawa di Taman Eden adalah akibat dusta yang dilakukan Iblis terhadap mereka. Iblis menghampiri manusia bersikap sebagai sahabat, tetapi sebenarnya memuat kekejaman musuh. Dengan modus operasi yang sama—melalui pembicara-pembicara—Iblis mengajarkan mengenai keselamatan dan kelimpahan berkat, tetapi bukan keselamatan versi Tuhan; pengajaran mengenai berkatnya juga bukan berkat versi Tuhan, begitu juga dengan kelimpahan, dalam versi yang lain. Dengan kecerdikannya, Iblis memalsukan berbagai hal dalam gereja, seperti memuji dan menyembah Tuhan, melayani Tuhan, surga, perasaan damai, karunia Roh, kesucian hidup, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, Iblis sangat cerdik. Ia juga menggunakan ayat-ayat Alkitab untuk menyesatkan umat-Nya, yaitu dengan cara memberi isi yang tidak sesuai dengan yang dimaksudkan oleh Tuhan. Untuk menanggulangi hal ini, gereja harus giat mengajarkan kebenaran Firman Tuhan yang merupakan hasil penggalian Firman yang cerdas, jujur, dan analistis oleh pimpinan Roh Kudus.
    Mimbar adalah tempat yang sangat kuat berpotensi menciptakan kebohongan. Kesaksian-kesaksian yang dikemukakan sering tidak sesuai dengan fakta sebenarnya, karena telah dilebih-lebihkan. Misalnya: kesaksian mengenai pelayanan di suatu tempat yang jumlah jemaat yang hadir, dilebih-lebihkan. Kesembuhan yang sebenarnya belum terjadi, tetapi diakui sebagai realitas. Bahasa roh, nubuatan, visi, pengelihatan yang palsu, serta pengalaman bertemu dengan Tuhan yang sebenarnya hanya halusinasi. Demikian pula dengan ungkapan perasaan senang, bahagia, terharu, bahkan air mata sering hanya sebuah peragaan seperti sandiwara. Hal ini tanpa disadari bisa menularkan spirit kebohongan kepada jemaat. Kebohongan terjadi disebabkan oleh karena tidak matangnya pribadi. Ketidakmatangan ini ditandai dengan: hasrat mencari pujian dan sanjungan, ketidakmampuan menerima diri sendiri, tidak rela tidak diterima oleh orang lain, egoisme, dan lain sebagainya.
    Di dunia timur seperti di Indonesia ini, keramahtamahan adalah ciri masyarakat yang sering dibangga-banggakan. Keramahtamahan yang identik dengan corak kehidupan dan sopan santun ini sering dianggap sebagai kendaraan untuk menciptakan harmonisasi hubungan antarpribadi. Keramahtamahan yang berlebihan dan dibuat-buat merusak prinsip persahabatan dan persaudaraan yang murni. Tuhan memang menghendaki kita berlaku ramah terhadap sesama (Ef. 4:32). Ini adalah keramahtamahan yang berakar dari hati. Kata “ramah” dalam teks ini adalah eusplangkhnoi (εὔσπλαγχνοι), yang dalam bahasa Inggris bisa berarti “pitiful” yang artinya “perasaan kasihan.” Juga berarti “hati yang lembut” (tender-hearted). Jadi keramahan bukanlah sikap lahiriah, melainkan sikap hati yang memancar atau terekspresi dalam perbuatan lahiriah.
    Keramahtamahan ini sebenarnya sesuatu yang positif dan bisa luhur, tetapi kalau keramahtamahan menjadi sesuatu yang dimanipulasi untuk kepentingan diri sendiri, maka lebih tepat dikatakan sebagai kemunafikan yang sejajar dengan kepura-puraan atau dusta. Oleh sebab itu, keramahtamahan yang dibuat-buat dan berlebihan juga dapat dikategorikan sebagai kebohongan. Sebagai orang Timur yang terbiasa dengan keramahtamahan yang berlebihan, kita belajar memiliki keramahtamahan yang benar. Untuk mengatasi hal ini, yang digarap adalah sikap hati kita terhadap sesama.
    Diplomasi adalah bahasa dunia yang sangat populer dan semakin populer dewasa ini. Hampir dalam segala kesempatan gerak kehidupan, diplomasi menjadi bagian dari komunikasi manusia. Bukan hanya di kalangan para diplomat dan politikus saja, namun dalam dunia perdagangan, gereja, dan pergaulan sehari-hari pun diplomasi menjadi bagian dari kehidupan manusia. Diplomasi pada hakikatnya adalah kepura-puraan. Ini adalah bentuk kemunafikan yang sejajar dengan penipuan. Dalam hal ini, setiap unsur diplomasi adalah sesuatu yang tidak Alkitabiah. Di tengah-tengah dunia yang fasik, kita harus bisa bersikap seperti yang Tuhan Yesus ajarkan,
    0 min
  • Pemalsuan Karunia
    Dalam lingkungan orang-orang beragama, hal-hal yang bersifat atau bertalian dengan supranatural adalah hal-hal yang umum atau biasa. Bahkan, banyak orang beragama termasuk orang Kristen yang memandang bahwa keberagamaan—atau dalam hal ini kekristenan—harus diwarnai dengan hal-hal yang supranatural. Memang tidak bisa dibantah bahwa berurusan dengan Allah sama dengan berurusan dengan kuasa supranatural, tetapi hendaknya orang percaya harus berhati-hati agar tidak terjebak dalam penyesatan dalam hal-hal yang menyangkut alam roh. Hal ini bisa merupakan celah atau saluran yang digunakan Iblis untuk menyesatkan gereja Tuhan di dunia. Ini merupakan sarana Iblis yang efektif dan sangat ampuh, sebab hal ini bersifat konsumtif bagi banyak orang Kristen di Indonesia, yang masyarakatnya memang sangat akrab dengan hal-hal yang bertalian dengan supranatural.
    Dalam kekristenan, hal-hal yang berkenaan dengan alam roh atau supranatural, antara lain: nubuat, penglihatan, mimpi, pengalaman mendengar suara Tuhan, pengalaman dalam dunia orang mati atau pengalaman di surga dan di neraka, mukjizat, berbahasa roh, dan lain sebagainya. Membicarakan hal ini bukan berarti kita tidak setuju adanya fenomena tersebut. Kita percaya bahwa hal-hal tersebut juga ada di dalam Alkitab dan merupakan bagian dari karunia-karunia Roh. Tetapi kita harus teliti terhadap suatu fenomena alam roh dan memiliki kepekaan untuk membedakan, apakah hal-hal tersebut memang berasal dari Allah atau ternyata berasal dari kuasa gelap. Sering kali terjadi, yang diakui dan disaksikan sebagai karunia Roh ternyata hanya merupakan pengalaman jiwa seseorang yang diakui sebagai berasal dari Tuhan; padahal kenyataannya, hal tersebut hanya fenomena jiwa yang mistik. Dalam hal ini, Iblis masuk dalam jantung pelayanan gereja. Kalau Iblis tidak mampu menjangkau jantung gereja, dia bukanlah Lusifer yang pernah jatuh atau Iblis yang memberontak kepada Allah Bapa.
    Harus diingat bahwa kuasa gelap mampu memalsukan dengan cerdas hal-hal yang berkenaan dengan alam roh, sampai-sampai sulit untuk membedakan mana yang berasal dari Allah dan mana yang berasal dari Iblis. Oleh sebab itu, hendaknya kalau kita melihat seseorang berbahasa roh, menyampaikan nubuat, penglihatan, mengadakan tanda ajaib, dan lain sebagainya, kita tidak gegabah meyakini bahwa itu semua berasal dari Tuhan. Pemalsuan seperti ini menggiring jemaat tidak pernah menemukan kebenaran Allah yang sejati. Penyesat-penyesat dalam gereja menciptakan kepalsuan yang sangat mirip dengan manifestasi yang benar dari Roh Allah. Hal inilah yang membuat orang percaya sulit membedakan karunia Roh yang asli dan yang palsu, sehingga orang pilihan pun bisa disesatkan. Berkaitan dengan hal ini, Paulus berkata bahwa di akhir zaman akan terdapat orang yang mengikuti roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan (1Tim. 4:1). Kalau dikatakan ajaran setan, bukan berarti hanya gereja setan, tetapi praktik pelayanan yang diakui sebagai pekerjaan Roh Kudus, padahal bukan.
    Iblis adalah makhluk supranatural, sehingga mudah sekali memperdaya “hamba Tuhan” atau pendeta yang tidak dilengkapi dengan kebenaran Alkitab. Kemudian mereka menyesatkan jemaat yang memang tidak dapat diperdaya oleh keinginan daging atau pelanggaran moral berat tetapi membuka diri terhadap fenomena alam roh. Di antara orang-orang yang disesatkan ini, banyak orang tulus, tetapi ketulusan hati yang tidak disertai ketekunan belajar Firman, tidak membuat seseorang menjadi cerdas rohani. Orang-orang tulus akan lebih cepat menangkap kebenaran, selama nuraninya belum terlalu rusak oleh ajaran palsu. Iblis bisa saja tidak mendorong penyesat-penyesat dalam gereja untuk membunuh, berzina, atau melakukan perbuatan-perbuatan amoral lain yang nyata-nyata dianggap salah secara moral umum, tetapi Iblis mengecoh mereka dengan “pemalsuan” alam supranatural tersebut. Mereka menyangka bahwa mereka memperolehnya dari Tuhan, padahal mereka telah tertipu oleh Iblis.
    0 min
  • Setan dalam Politik Agama
    Seperti Iblis bisa ada di dalam Taman Eden dan bisa berhadapan langsung dengan manusia yang adalah anak-anak Allah, maka Iblis juga dapat hadir di tengah-tengah kegiatan gereja. Hal ini harus diwaspadai, sebab kegiatan gereja bisa ada dalam pengaruh kuasa gelap ini. Gereja telah menjadi kerajaan manusia—dalam hal ini kerajaan pendeta—dengan segala ambisinya yang terselubung. Dari hal ini, ada yang disebut sebagai “politik agama.” Maksud politik agama adalah upaya dan cara-cara pemimpin gereja dalam mempertahankan kedudukannya, kesetiaan jemaat kepadanya, dan mengumpulkan kekayaan, serta berbagai kegiatan yang pada dasarnya adalah untuk kebesaran pribadinya. Tidak jarang muncul pernyataan-pernyataan dan peraturan-peraturan dalam gereja yang dianggap sejajar dengan Firman Tuhan, yang bertentangan dengan prinsip-prinsip Alkitab. Hal ini ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
    Pertama, jemaat harus memberi perpuluhan, persembahan buah sulung, dan berbagai bentuk nama persembahan lainnya. Kalau jemaat tidak memberi, jemaat akan dikutuk dan menjadi miskin atau akan ada belalang pelahap, dan lain sebagainya. Sebaliknya, kalau jemaat memberikan persembahan, maka dijanjikan bahwa Allah akan melipatgandakan berkat yang akan diberikan kepada mereka. Hal ini membangun pengertian bahwa Allah adalah Allah yang yang memberi kalau diberi. Ini semua adalah akal-akalan dari pejabat gereja untuk mengumpulkan kekayaan. Memang gereja membutuhkan uang untuk pelayanan, tetapi hendaknya tidak dengan cara demikian mengimbau jemaat untuk mengembalikan milik Allah. Ini bukan berarti kita tidak setuju dengan adanya perpuluhan. Tetapi, memaksa jemaat untuk memberi perpuluhan dengan ancaman seperti ini merupakan hal yang bertentangan dengan prinsip Alkitab. Sebenarnya, kita diajar untuk memberi segenap hidup.
    Kedua, jemaat atau aktivis gereja tidak boleh mengkritik pendeta atau pemimpin jemaat. Karena pendeta harus dipandang lebih dekat dengan Tuhan, lebih mengerti hati Tuhan, dan pendeta tidak bisa bersalah atau sukar bersalah. Pendeta adalah orang istimewa bagi Tuhan, sehingga tidak boleh dikritik. Dikesankan bahwa Tuhan akan marah dan menghukum mereka yang berani mengkritik pendeta. Dengan pernyataan ini, bukan berarti kita setuju pendeta “dinilai” atau “diusik,” tetapi kita harus mengerti bahwa pendeta bukan Tuhan, apalagi keluarganya, bukanlah Tuhan. Kritik atau saran adalah bahasa kasih yang dapat meluruskan kesalahan. Tentu menyampaikan kritik di depan, bukannya di belakang. Kalau menyampaikan kritik di belakang, berarti anak gelap. Pendeta dan keluarganya adalah biji mata Tuhan, tetapi semua kita juga adalah biji mata Tuhan (Mzm. 17:8).
    Ketiga, penyesatan Iblis dalam gereja juga menciptakan strata. Dikesankan bahwa yang menjadi aktivis gereja, apalagi yang ditunjuk oleh pendeta adalah “manusia khusus” yang lebih istimewa, padahal Alkitab mengatakan bahwa semua kita adalah umat pilihan Tuhan yang memiliki panggilan yang sama untuk keluar dari dunia ini ke dalam terang-Nya yang ajaib (1Ptr. 2:9). Namun demikian, harus diperhatikan bahwa hendaknya seorang yang tidak pantas berbicara, tidak berbicara, karena pada akhirnya akan merusak pelayanan seorang pendeta. Ada orang-orang yang sebenarnya masih “belum pantas” mengkritisi seorang hamba Tuhan tapi mencoba memberi kritik dan masukan. Orang-orang seperti ini juga harus tahu diri.
    Keempat, pengaruh kuasa gelap dalam gereja tampak dalam hal dimana pelayanan berorientasi pada keuntungan uang atau materi. Hanya orang-orang beruang yang dianggap “layak melayani Tuhan” dan mereka adalah pasukan terdepan dalam gereja, untuk membantu pendeta atau pemimpin jemaat. Di sini terjadi pengandalan kekuatan manusia. Orang yang “beruang” disejajarkan atau dianggap “orang bijaksana” yang layak bersuara dalam gereja. Dalam gereja-gereja seperti ini, hamba-hamba Tuhannya bisa dibeli oleh orang-orang kaya, sehingga hamba-hamba Tuhan tersebut pasti tidak pernah menjadi jurubicara Allah yang menya...
    0 min
  • Fokus Hidup yang Dibelokkan
    Ciri dari orang yang ada dalam pengaruh kuasa gelap atau setan adalah tidak memiliki fokus hidup kepada langit baru dan bumi yang baru. Mereka tidak mampu menyadari dan menghayati bahwa dunia ini bukan rumahnya. Banyak ayat dalam Alkitab yang menunjukkan bahwa dunia ini memang bukan rumah kita. Yesus berkata bahwa kita bukan berasal dari dunia ini, seperti Dia bukan berasal dari dunia ini. Itulah sebabnya Yesus berkata, “kumpulkan harta di surga bukan di bumi; di mana hartamu berada, di situ hatimu berada.” Yesus berkata bahwa Ia pergi menyediakan tempat bagi kita, dan kalau Dia sudah menyediakan tempat bagi kita, Dia akan datang kembali dan menjemput kita, supaya di mana Dia berada, kita juga berada. Paulus mengatakan bahwa kewargaan kita ada di surga, bukan di dunia. Itulah sebabnya, Paulus juga mengatakan bahwa kita harus memikirkan dan mencari perkara-perkara yang “di atas.” Petrus berkata bahwa harta kita bukan di bumi, melainkan di surga, maka ia menasihati agar kita menaruh seluruh pengharapan pada penyataan kedatangan Yesus. Selanjutnya, Petrus juga menyatakan bahwa di bumi ini kita hanya menumpang. Semua ini jelas menunjukkan bahwa orientasi berpikir kita harus kepada langit baru dan bumi yang baru.
    Orang Kristen yang ada dalam pengaruh kuasa gelap, hatinya benar-benar terpisah dari Kerajaan Surga. Tetapi hal itu dipandangnya sebagai sesuatu yang wajar karena hampir tidak ada manusia yang sungguh-sungguh memiliki orientasi berpikir kepada dunia yang akan datang atau langit baru dan bumi yang baru. Mereka adalah orang-orang Kristen yang telah teracuni oleh cara berpikir duniawi seperti kehidupan manusia pada umumnya. Kehidupan seperti ini pastilah kehidupan yang materialistis dan sekularistis. Fokus dan orientasi hidup mereka hanyalah kepada hal-hal yang bersifat materiel atau bendani. Inilah yang dimaksud dengan duniawi. Pasti mereka terjebak dalam kehidupan yang terikat dengan keinginan daging, keinginan mata, dan keangkuhan hidup.
    Bagi mereka, yang namanya kehidupan hanyalah terletak di bumi ini, tidak ada di dunia lain. Langit baru dan bumi yang baru tidaklah sama dengan kehidupan seperti yang mereka miliki dan rasakan di bumi. Sejujurnya, langit baru dan bumi yang baru bagi mereka adalah dunia yang asing, yang kebanyakan orang tidak berani meyakininya sebagai kehidupan yang wajar. Seakan-akan kehidupan di langit baru dan bumi yang baru adalah kehidupan yang tidak cocok dengan makhluk yang disebut manusia. Dengan pikiran seperti ini, sebenarnya mereka tidak yakin dengan adanya kebangkitan orang mati. Kebangkitan orang mati adalah kehidupan kembali atau kehidupan pulang bagi orang yang pernah hidup di bumi ini, untuk memasuki kehidupan di dunia lain, yang tentu saja tidak berbeda dengan kehidupan di bumi sekarang ini. Perbedaannya adalah di langit baru dan bumi yang baru, di mana tidak ada kuasa gelap dan dosa.
    Tentu saja mereka tidak berkerinduan bertemu dengan Yesus. Biasanya, mereka berpikir bahwa kesempatan hidup hanya satu kali di bumi ini, dan tidak ada kesempatan untuk hidup di dunia lain. Bagi mereka, surga adalah kehidupan yang berbeda, yang walaupun diyakini indah, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh ingin memasukinya. Dengan pikiran duniawinya, mereka tidak ingin memiliki kehidupan seperti di surga, yang tidak sesuai dengan selera yang mereka miliki. Surga hanya menjadi tempat pembuangan yang tidak menyakitkan. Seharusnya, orang percaya sejak hidup di bumi ini sudah mulai mengubah selera jiwa mereka. Untuk itu, orang percaya harus memindahkan fokus hidup, dari fokus hidup di bumi ini menjadi fokus kepada kehidupan di langit baru dan bumi yang baru. Kehidupan yang hanya 70 tahun harus dijadikan kesempatan untuk persiapan diri agar layak masuk Rumah Bapa. Sehingga sejak kita menjadi orang percaya, hidup di bumi ini hanya untuk berkemas-kemas dalam rangka pulang ke Rumah Bapa. Orang percaya hanyalah musafir.
    Orang yang hidup di bawah pengaruh kuasa gelap pasti tidak mengingini pula...
    0 min
  • Mengembalikan Semua
    Salah satu serangan dari kuasa gelap agar manusia—khususnya orang percaya—hidup dalam pengaruhnya adalah dengan menyuntikkan pengertian bahwa hidup wajar seperti manusia lain bukanlah suatu dosa. Memang hidup wajar seperti manusia lain bukanlah suatu kejahatan, tetapi dalam kehidupan orang percaya itu adalah sebuah kemelesetan. Kehidupan yang harus dikenakan oleh orang percaya adalah kehidupan yang dikenakan oleh Yesus. Jika tidak demikian, berarti meleset. Dalam hal ini, banyak orang Kristen yang telah tersesat, tetapi mereka tidak menyadari penyesatan tersebut, sehingga sebenarnya mereka hidup dalam pengaruh kuasa gelap. Kalau hal ini berlangsung berlarut-larut, mereka tidak akan pernah menjadi manusia sesuai dengan rancangan awal semula.
    Orang yang ada dalam pengaruh kuasa gelap tersebut memiliki ciri: merasa berhak memiliki hidup dengan segala kesenangannya seperti manusia lain. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak akan pernah melayani Tuhan dengan benar. Seandainya menjadi pendeta pun, mereka menjadikan profesi ini sebagai sarana untuk sekadar mencari nafkah, dan bila mungkin, digunakan untuk mengumpulkan kekayaan, kehormatan, harga diri, dan kekuasaan. Banyak orang Kristen yang baik terjebak dalam penyesatan. Mereka bisa menjadi pemimpin-pemimpin gereja dan terkesan sebagai hamba-hamba Tuhan yang menyampaikan Firman Tuhan dengan benar, padahal mereka adalah orang-orang yang sebenarnya ada dalam pengaruh kuasa gelap. Memang mereka tidak mengajarkan kejahatan atau perbuatan amoral untuk dilakukan, namun mereka hanya dapat melahirkan orang-orang Kristen yang hidup wajar seperti manusia lain, dan tidak akan dapat melahirkan orang-orang Kristen yang berfokus pada langit baru dan bumi yang baru.
    Orang-orang Kristen yang ada dalam pengaruh kuasa gelap, hidup dalam kesadaran bahwa mereka berhak memiliki sebuah kehidupan seperti yang dikehendaki atau yang diinginkan. Sedangkan standar ukuran hidup yang diinginkan adalah gaya hidup seperti manusia di sekitarnya. Sebuah gaya hidup yang jauh dari standar yang Tuhan inginkan. Standar hidup yang dimiliki biasanya antara lain adalah: sekolah, kuliah berpendidikan dan bergelar, mencari nafkah, menemukan pasangan hidup, memiliki anak, membesarkan anak, mencari menantu, menjaga cucu, dan lain sebagainya. Jadi, banyak orang menjalani hari-hari hidup hanya untuk sebuah standar hidup ini, standar hidup yang telah diraih diperjuangkan mati-matian tanpa batas. Inilah yang Paulus maksudkan dengan “makan dan minum besok kita mati” (1Kor. 15:32). Ini merupakan suatu penyesatan yang benar-benar merusak dan mematikan kehidupan iman, kalau seseorang diberi kesan seakan-akan ia berhak memiliki suatu kepentingan dalam hidup ini.
    Dengan cara berpikir demikian, mereka merasa berhak menuntut Tuhan melakukan sesuatu bagi diri mereka yang dirasakan sebagai suatu kebutuhan. Ajaran seperti ini sangat kuat dibagikan kepada jemaat. Dalam pengaruh kuasa gelap, muncul tokoh-tokoh rohaniwan dalam gereja yang mempromosikan diri sebagai “memiliki kuasa” yang berkarunia khusus, sehingga jika jemaat didoakan atau menjadi anggota gerejanya dijanjikan, pasti “diberkati” dan memiliki hidup yang lebih nyaman. Diajarkan bahwa Tuhan memberkati secara berlimpah. Praktik pelayanan ini sebenarnya mirip dengan praktik “perdukunan.” Banyak jemaat tanpa sadar tertipu oleh mereka, sehingga jemaat hidup dalam pengaruh kuasa gelap tersebut dan hidup dalam kewajaran seperti anak-anak dunia.
    Mereka menyatakan bahwa melalui pelayanan yang mereka lakukan, jemaat menjadi lebih gampang kaya, lebih mudah mengarungi hidup, lebih mudah mengalami kesembuhan, memperoleh kesehatan, lebih diberkati dari keadaan sebelumnya. Maka, praktik ini adalah “penipuan” dan penyesatan. Berkat yang diterima seseorang tidak dipengaruhi oleh orang lain, tetapi oleh dirinya sendiri. Tokoh yang mengaku demikian pasti adalah alat Iblis untuk merusak kehidupan iman murni jemaat Tuhan. Ini adalah bentuk pengultusan terselubung.
    0 min
  • Kecurigaan Terhadap Allah
    Iblis berkata kepada Hawa bahwa kalau mereka makan buah itu, mereka tidak akan mati, sebaliknya, akan menjadi seperti Allah. Pernyataan sederhana yang pertama yaitu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan? Kemudian meningkat menjadi pernyataan yang lebih dalam, yaitu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.” Perkataan ular bahwa mereka tidak akan mati dengan makan buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, bisa menimbulkan kecurigaan terhadap Allah. Di balik perkataan itu, tersirat tuduhan atau fitnah kepada Allah, seakan-akan Allah menyembunyikan sesuatu, yang mana hal itu menguntungkan bagi Allah tetapi tidak menguntungkan bagi manusia. Kecurigaan terhadap Allah atau ketidakpercayaan kepada-Nya menjadi bencana yang terbesar dalam kehidupan. Inilah yang dapat membuat seseorang tanpa ragu-ragu melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nasihat Allah. Kalau seseorang sudah menaruh kecurigaan kepada Allah, kehidupan imannya pastilah runtuh.
    Mengapa cinta akan uang memiliki dampak yang sangat mengerikan dalam kehidupan iman seseorang? Seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Timotius 6:9-10, yang tertulis: “Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.” Pada dasarnya, cinta akan uang merupakan ketidakpercayaan kepada Allah bahwa Allah sanggup melindungi dirinya dan memberikan kebahagiaan. Orang yang cinta akan uang berpikir bahwa uanglah yang dapat melindungi dirinya dan dapat memberi kebahagiaan yang maksimal.
    Dalam Injil Matius, tertulis kisah mengenai Yesus yang dicobai oleh Iblis setelah Ia dibaptis oleh Yohanes Pembaptis: “Kemudian Iblis membawa-Nya ke Kota Suci dan menempatkan Dia di bubungan Bait Allah, lalu berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, jatuhkanlah diri-Mu ke bawah, sebab ada tertulis: Mengenai Engkau Ia akan memerintahkan malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan menatang Engkau di atas tangannya, supaya kaki-Mu jangan terantuk kepada batu.” Yesus berkata kepadanya: “Ada pula tertulis: Janganlah engkau mencobai Tuhan, Allahmu!” (Mat. 4:5-7).
    Pencobaan ini bisa memiliki dua arah. Pertama, membujuk Yesus untuk meninggikan diri di tengah-tengah kerumunan massa di sekitar bait Allah tersebut, yaitu dengan menjatuhkan diri dari bumbungan Bait Allah. Dengan demikian, Yesus dapat menjadi orang populer dalam waktu sekejap. Tetapi maksud pencobaan itu juga agar Yesus meragukan Allah Bapa-Nya, yaitu keraguan apakah benar Bapa di surga akan memerintahkan malaikat-malaikat menatang Yesus di atas tangan-Nya sehingga Ia tidak mengalami celaka sama sekali. Yesus menjawab bahwa kita tidak boleh mencobai Tuhan Allah kita. Mencobai Tuhan Allah artinya meragukan kasih dan pemeliharaan-Nya. Kita yakin dan benar-benar menerima bahwa Allah adalah Allah yang baik, yang tidak akan mencelakakan kita sama sekali. Sesungguhnya, kita yang membutuhkan Allah, bukan Allah yang membutuhkan kita. Allah bisa tidak berkepentingan dengan kita sama sekali, tetapi kita yang berkepentingan terhadap Dia.
    Yesus tidak mencurigai Allah Bapa-Nya, bahkan ketika ada dalam situasi yang benar-benar kritis dan krisis yaitu ketika Ia ada di kayu salib. Yesus benar-benar merasa Allah Bapa meninggalkan diri-Nya, yang oleh karenanya Ia berseru: “Eloi-Eloi lama sabakhtani.” Seruan itu bukan sandiwara, tetapi Yesus merasa benar-benar ditinggalkan oleh Allah Bapa. Namun, dalam keadaan seperti itu, Yesus tetap menaruh percaya kepada Allah Bapa dan tidak mencurigai-Nya sama sekali.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…