Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bersungut-sungut
    Allah adalah Allah yang Mahatahu. Keberadaan Allah yang Mahatahu ini menuntut kita bersikap dengan benar terkait dengan keberadaan-Nya. Kalau Allah Mahatahu, maka kita harus bersikap bersikap tulus di hadapan-Nya. Kita tidak bisa—dan memang tidak boleh—bersikap munafik terhadap Allah, sebab Allah mengetahui kedalaman hati kita. Dalam hal ini, hendaknya orang percaya tidak seperti orang-orang Yahudi yang berlaku munafik pada zaman Yesus (Mat. 15:8; 23). Orang percaya adalah anak-anak bagi Allah Bapa yang dapat bersekutu dari hati ke hati dengan Bapa dalam ketulusan. Allah menghendaki ketulusan sebagaimana Dia juga bersikap tulus kepada orang percaya sebagai anak-anak-Nya. Orang yang tidak tulus, tidak dapat menemukan hadirat Allah dan tidak dapat hidup di dalam-Nya.
    Kalau Allah Mahatahu, berarti setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini ada dalam kemahatahuan Allah yang sempurna. Allah memberikan providensia-Nya yang sempurna kepada anak-anak-Nya. Tidak ada sesuatu terjadi yang bisa mendatangkan kecelakaan bagi orang percaya. Sebaliknya, segala sesuatu yang terjadi mendatangkan kebaikan. Dalam hal ini, providensia (perlindungan dan pemeliharaan) Allah tidak perlu, dan memang tidak boleh diragukan sama sekali. Meragukan providensia Allah berarti “mencobai” Tuhan Allah. Meragukan providensia-Nya adalah bentuk pelecehan atau sikap tidak hormat kepada Allah yang setia.
    Dengan hal tersebut, tidak ada alasan untuk bersungut-sunggut dan tidak mengucap syukur atas segala sesuatu yang terjadi, baik itu dirasa menyenangkan atau pun sebaliknya. Oleh sebab itu, Allah menghendaki agar orang percaya mengucap syukur dalam segala hal (Ef. 5:20). Mengucap syukur adalah pengakuan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini berada dalam kendali Allah yang sempurna. Tidak ada sesuatu yang terjadi dalam hidup seorang anak Allah di luar kontrol dan monitor Allah. Dan yang luar biasa adalah semua yang terjadi dalam hidup orang percaya mendatangkan kebaikan bagi mereka, yaitu untuk menjadikan orang percaya serupa dengan Yesus (Rm. 8:28). Allah tidak pernah memberikan yang tidak baik bagi orang-orang percaya. Jadi, seharusnya orang percaya mengucap syukur kepada Allah bukan hanya pada waktu mengalami keadaan yang baik dan menyenangkan atau pada waktu sesuatu yang dipandang menguntungkan.
    Nasihat Paulus agar orang percaya mengucap syukur dalam segala hal dan bersukacita senantiasa, bukan tanpa alasan. Allah adalah Allah yang bukan saja Mahakuasa, melainkan juga tidak pernah mendatangkan kecelakaan bagi anak-anak-Nya (Yer. 29:11; Rm. 8:28). Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh mencurigai Tuhan saat berdalam keadaan hidup yang tidak menyenangkan, dengan berpikir seakan-akan Allah memberi sesuatu yang buruk. Ini adalah sikap tidak hormat kepada Allah. Orang-orang seperti ini pasti bersungut-sungut terhadap Allah, dan tidak jarang mereka secara diam-diam marah terhadap Allah. Dengan sikap seperti ini, berarti tidak mengormati Allah. Orang seperti ini tidak dapat hidup di hadirat Allah.
    Orang percaya tidak boleh bersungut-sungut dalam keadaan bagaimana pun. Sikap bersungut-sungut menunjukkan bahwa mereka tidak mengucap syukur atas kebaikan yang Allah berikan. Itu merupakan sikap yang mempersalahkan Allah. Inilah yang mendatangkan bencana bagi bangsa Israel dalam perjalanan ke Kanaan, sehingga banyak yang ditewaskan di padang gurun (1Kor. 10:10). Ketika seseorang mengucap syukur dalam segala keadaan, Tuhan pasti akan memberi jalan keluar kepadanya pada waktunya. Dalam segala situasi, Allah memberi pengalaman hidup yang nyata di hadirat-Nya. Hidup di hadirat Allah tidak selalu membuat hidup kita bebas dari masalah. Namun demikian, yang pasti masalah hidup kita tidak akan melampaui kekuatan kita. Pada akhirnya, Tuhan akan menunjukkan jalan keluar atas masalah yang kita hadapi. Hal tersebut akan membangkitkan kekaguman terhadap Allah, dan kekaguman ini akan membuahkan ucapan syukur yang tulus dan hati yang mengasihi Dia....
    0 min
  • Kehadiran yang Mendewasakan
    Kegagalan bangsa Israel pada zaman Yesus disebabkan karena mereka tidak mau mengerti maksud utama kedatangan Yesus. Konsep Mesias di dalam pikiran mereka berbeda dengan Mesias yang Allah sediakan bagi manusia. Pada mulanya, murid-murid Yesus sendiri juga salah mengartikan maksud kedatangan Yesus. Tetapi kemudian hari, mereka menyadari kesalahan mereka, dan mereka mulai mengerti maksud keselamatan yang Allah berikan kepada manusia melalui Yesus Kristus. Jadi, memang pada mulanya murid-murid mengikut Yesus karena mau “mengubah nasib” di bumi ini. Tetapi, ternyata yang diubah oleh karya salib Yesus adalah “nasib” kekekalan mereka. Setelah mereka memahami maksud isi keselamatan, barulah mereka menjadi orang percaya yang sangat militan, rela kehilangan harta, keluarga, dan nyawa mereka demi iman kepada Yesus, serta menaruh seluruh pengharapan mereka kepada kehidupan yang akan datang (1Ptr. 1:3-4, 13).
    Seperti orang-orang Yahudi pada zaman Perjanjian Baru tersebut, demikian pula banyak gereja hari ini menyimpang dari kebenaran oleh karena mereka salah memahami maksud keselamatan yang Allah berikan. Hal ini khususnya terjadi atas mereka yang menganut Teologi Kemakmuran. Mereka memandang kekristenan sebagai jalan keluar untuk memperoleh kemudahan hidup, mengalami mukjizat dan berkat-berkat jasmani, serta kesuksesan secara umum. Sehingga, fokus hidup tidak diarahkan pada maksud keselamatan diadakan oleh Allah. Orang yang fokus hidupnya demikian, tidak akan dapat mengerti proses keselamatan yang Yesus berikan.
    Orang-orang Kristen yang fokus hidupnya kepada pemenuhan kebutuhan jasmani, tidak akan pernah bisa hidup di hadirat Allah. Kalau seseorang berurusan dengan Allah hanya karena menyangkut masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka kehadiran Allah tidak dibutuhkan atau dicari secara permanen atau terus-menerus. Biasanya, mereka mencari Allah hanya pada waktu membutuhkan pertolongan-Nya untuk masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Bila kebutuhan sudah terpenuhi atau kalau masalah yang mereka hadapi sudah selesai, maka mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan lagi. Lagipula, masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani juga dapat diselesaikan tanpa tindakan Allah secara khusus. Orang-orang di luar Kristen pun mengalami persoalan-persoalan hidup yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani yang sama dengan orang Kristen. Dan mereka dapat menyelesaikannya tanpa iman kepada Yesus seperti pada kehidupan orang Kristen.
    Banyak penyelesaian masalah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani bukan karena tindakan Allah secara khusus, melainkan karena hukum kehidupan, yaitu apa yang ditabur seseorang, itu juga yang akan dituainya. Biasanya, mereka mengakuinya sebagai fenomena kehadiran Allah yang mereka sembah. Seperti misalnya, seseorang memiliki masalah lalu berusaha mencari jalan kelua. Besar kemungkinan orang tersebut mendapatkan jalan keluar. Belum tentu hal itu terjadi karena Allah bertindak secara khusus melainkan karena hukum kehidupan, yaitu hukum tabur tuai. Kalau hal tersebut terjadi dalam kehidupan orang Kristen, biasanya “diklaim” dan dimaknai sebagai tindakan khusus Allah. Padahal, hal tersebut adalah fenomena hukum tabur tuai secara umum yang juga dialami oleh orang di luar Kristen. Ini bukan berarti menyangkal kehadiran dan campur tangan Allah dalam kehidupan orang percaya. Tetapi hendaknya fenomena tersebut tidak selalu dimaknai sebagai hadirat Allah. Seandainya hal tersebut adalah tindakan Allah secara khusus, itu pun bukan sesuatu yang perlu dipandang penting, sebab yang terpenting dan terutama adalah keselamatan; dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula.
    Kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya adalah penyertaan Allah untuk mendidik, guna pendewasaan rohani agar sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Memang bagi orang Kristen baru, penyertaan Tuhan masih berkisar mengenai pertolongan dalam berbagai masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani.
    0 min
  • Kepekaan Hadirat Allah
    Seiring dengan pertumbuhan kedewasaan rohani kita dan perjalanan hidup di hadirat Allah, semakin hari orang percaya dapat mengalami hadirat Allah yang lebih pekat atau tebal. Hal ini tergantung dari seberapa ideal hubungan kita dengan Allah. Idealnya, hubungan kita dengan Tuhan ditentukan seberapa kita bertumbuh dewasa dalam kekudusan. Semakin seseorang hidup tidak bercela dan semakin tidak mencintai dunia serta semakin sepenanggungan dalam pekerjaan Allah, maka hadirat Allah semakin kuat dialami dan dimiliki. Dalam hal ini, kepekatan hadirat Allah yang dialami setiap orang berbeda-beda seiring dengan proses pendewasaan masing-masing individu.
    Oleh sebab itu, kita tidak boleh puas dengan pengalaman ada di hadirat Allah yang telah kita alami. Allah Bapa menyediakan berkat hadirat-Nya setiap hari semakin besar sesuai dengan kapasitas kita membuka diri. Karena itu, kalau kita berurusan dengan Allah, yang menjadi fokus perhatian bukanlah pemenuhan kebutuhan jasmani, melainkan kedewasaan rohani untuk sempurna seperti Bapa agar kita dapat semakin mengimbangi kekudusan Allah. Hal ini membangun relasi yang ideal dengan Allah. Pengalaman rohani yang telah kita miliki harus berkembang terus sebagai dasar untuk melanjutkan perjalanan hidup bersama dengan Tuhan.
    Banyak hal yang harus kita hadapi, dan banyak hal yang harus kita selesaikan dengan Tuhan ke depan, yang oleh karenanya kita harus mengalami hadirat Allah lebih tebal atau lebih pekat lagi. Apalagi kalau kita belum memiliki pengalaman yang cukup dengan Tuhan, berarti kita harus meraih lebih banyak pengalaman dengan Tuhan yang berguna untuk proses penyempurnaan bagi kedewasaan rohani kita. Kita harus membuka diri terhadap Tuhan dengan menyediakan waktu untuk berdoa dan mendengar Firman setiap hari. Setiap kali bertemu dengan Tuhan, pasti ada sesuatu yang kita terima dari Dia. Kepekatan hadirat Allah pasti lebih bertambah. Pertemuan dengan Tuhan harus dipahami sebagai kesempatan berharga yang tiada taranya, lebih dari pertemuan dengan siapa pun dalam kehidupan ini. Kita harus selalu merindukan untuk merasakan hadirat Tuhan dalam jam-jam doa kita. Tuhan selalu menyediakan diri dan menyediakan berkat kekal-Nya, setiap kali pertemuan dengan anak-anak-Nya yang menghampiri Dia.
    Tanpa disadari, banyak berkat kekal—yaitu kesempatan untuk mengembangkan pengalaman menikmati hadirat Allah—yang berlalu sia-sia, karena mereka lebih mementingkan hal-hal duniawi dalam kehidupan ini. Seharusnya, setiap hari kita memerhatikan hal-hal yang lebih berharga dari apa pun yang Tuhan sediakan bagi bekal kekekalan kita. Oleh sebab itu, begitu kita membuka mata pada pagi hari, kita sudah mengambil pilihan bahwa kita memilih Kerajaan Surga. Ini berarti kita mau memerhatikan berkat kekal yang Tuhan sediakan bagi kita hari itu, yaitu kehadiran Allah untuk mendewasakan kita. Kita harus mengarahkan diri kita sendiri hanya kepada Tuhan untuk menikmati kehadiran-Nya, atau hidup di hadirat-Nya. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri untuk mencari dan mengalami kehadiran-Nya atau hidup di hadirat-Nya. Kita harus melepaskan diri dari segala ikatan yang mengganggu hubungan kita dengan Allah. Ikatan-ikatan tersebut adalah ikatan dosa dan percintaan dunia; kita harus hidup kudus dan tidak dapat dibahagiakan oleh dunia ini.
    Semakin pekat hadirat Allah yang dialami seseorang, semakin kuat suasana surga yang dialami dan dirasakan. Semakin hari, akan semakin merasakan suasana Kerajaan Allah. Orang tersebut sudah mengalami suasana surga sebelum masuk surga. Orang percaya seperti ini pasti sangat dikenal di surga. Orang yang semakin menikmati suasana surga akan semakin rindu pulang ke surga. Di lain pihak, hatinya semakin tawar terhadap keindahan dunia ini. Itu berarti orang percaya tersebut akan semakin mengasihi Bapa dan Tuhan Yesus. Selanjutnya, ia akan semakin terlepas dari percintaan dunia. Orang-orang seperti ini pasti mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
    0 min
  • Proses Pengesahan
    Tidak mungkin seseorang bisa hidup di hadirat Allah kalau tidak menjadi anak-anak Allah yang sah. Setiap orang Kristen pasti mengaku sebagai anak-anak Allah, padahal belum tentu demikian. Dalam Roma 8:14, Alkitab mencatat bahwa semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah. Jadi, orang yang tidak dipimpin oleh Roh Allah berarti bukan anak Allah. Pada zaman anugerah ini, Tuhan membuka kesempatan bagi manusia untuk menjadi anak-anak Allah, yaitu dengan hidup dalam pimpinan Roh Allah. Umat pilihan adalah orang-orang yang sungguh beruntung karena menjadi orang yang terpilih untuk bisa hidup dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga dapat menjadi anak-anak Allah. Berbicara mengenai anak-anak Allah, kita perlu meninjau Yohanes 1:12, “Mereka yang percaya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah.” Kata “kuasa” itu dari teks aslinya adalah exousia (ἐξουσία). Kata ini berarti hak istimewa yang membuat seseorang memiliki fasilitas untuk bisa menjadi anak-anak Allah. Fasilitas itu adalah penebusan, Roh Kudus, Firman, dan penggarapan intensif Allah atas orang yang mengasihi Dia. Jadi, kuasa tersebut tidak otomatis membuat seorang Kristen menjadi anak-anak Allah. Kuasa itu diberikan supaya kita menjadi anak-anak Allah.
    Tujuan keselamatan pada intinya adalah menjadikan anak manusia berubah sehingga berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Dengan berkeadaan sebagai anak-anak Allah, barulah seseorang mendapat legalitas atau pengesahan status sebagai anak-anak Allah. Seseorang hanya dikatakan berstatus sebagai anak-anak Allah kalau berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Setiap orang percaya harus mengalami proses perubahan status dari anak gampang (anak yang tidak sah) atau nothos (Yun. νόθος), menjadi anak yang sah atau huios (Yun. υἱός). Kata nothos berarti anak yang tidak resmi (Ing. illegitimate child, a child born to unmarried parents). Penjelasan mengenai nothos dan huios ini tertulis di dalam Ibrani 12:4-10. Inilah perjuangan yang harus dijalani oleh setiap orang percaya untuk menjadi anak-anak Allah yang sah.
    Memang semua manusia pada dasarnya adalah anak-anak Allah, sebab roh yang ada pada manusia adalah roh yang berasal dari Allah. Namun, mereka yang rohnya (neshamah) belum didewasakan atau belum disempurnakan, masih berstatus anak gampang atau anak yang tidak sah. Keselamatan merupakan proses mengubah manusia dari anak gampang menjadi anak yang sah. Pengesahan sebagai anak yang sah ditentukan oleh apakah seseorang mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau berkodrat ilahi, atau tidak. Mengambil bagian dalam kekudusan Allah atau mengenakan kodrat ilahi berarti memiliki karakter seperti Bapa sehingga dapat berkomunikasi dan berinteraksi dengan Bapa; hidup di hadirat Allah.
    Firman Tuhan berkata kalau seseorang tidak menerima didikan Bapa, berarti ia adalah anak gampang. Tentu saja orang-orang Kristen seperti ini tidak mengerti hak dan kewajibannya sebagai anak-anak Allah. Mereka pasti hidup dalam percintaan dunia. Mereka tidak serius dan tidak tekun belajar kebenaran Firman Tuhan dan bertumbuh dewasa. Orang-orang Kristen seperti ini tenggelam dalam kenyamanan menikmati rumah, mobil, hiburan dunia, perhiasan, barang branded, wisata, dan kesenangan dunia lainnya yang dianggap merupakan hal penting dan utama dalam hidup. Mereka akan berusaha menambah kekayaan mereka sebagai kesenangan atau kebahagiaan dan jaminan ketenangan hidup. Dengan cara hidup demikian, mereka merendahkan nilai-nilai rohani dan kekekalan. Inilah orang-orang yang dimaksud Paulus sebagai seteru salib Kristus karena pikiran mereka hanya tertuju kepada perkara-perkara duniawi.
    Banyak gereja yang dengan mudah mengajarkan bahwa kalau seseorang sudah mengaku Yesus sebagai Juruselamat, maka secara otomatis sudah berstatus sebagai anak-anak Allah yang sah. Mereka boleh mengklaim berhak hidup di hadirat Allah atau bersekutu dengan Allah. Kesalahan ini juga disebabkan karena pengertian yang salah mengenai konsep anugerah.
    0 min
  • Hidup dalam Kasih
    Dalam Matius 6:14-15 tertulis: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.” Kata “kesalahan” dalam di ayat ini, teks aslinya adalah paraptoma (παράπτωμα). Paraptoma berarti: side-slip (lapse or deviation), error (wilful) or transgression: fall, fault, sin, trespass, offence, sin, to fall beside or near something, a lapse or deviation from truth and uprightness, a sin, misdeed, side-slip (penyimpangan), kesalahan atau pelanggaran (disengaja), jatuh, kesalahan, dosa, pelanggaran, pelanggaran, dosa, jatuh di samping, penyimpangan dari kebenaran dan kejujuran, dosa. Mengapa dalam Matius 6:12 kata “kesalahan” menggunakan kata opheilemata (ὀφειλήματα), tetapi di ayat 14-15 digunakan paraptoma? Hal ini menunjukkan bahwa dosa atau pelanggaran adalah utang. Sebagaimana Allah mengampuni kesalahan kita, maka kita juga mutlak harus mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Kalau seseorang tidak mengasihi sesamanya, Allah juga tidak mengampuni kesalahan orang tersebut. Artinya, membatalkan keselamatan yang Allah telah berikan. Tentu saja orang seperti ini tidak dapat hidup di hadirat Allah.
    Dalam Markus 11:25-26 tertulis, “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu. Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” Kata “kesalahan” dalam teks ini adalah paraptomata (παραπτώματα); noun accusative neuter plural from paraptoma (παράπτωμα) (Mrk. 11:25-26). Sama halnya dengan Matius 6:14-15, juga menggunakan kata paraptoma. Pada intinya, kalau seseorang masih menyimpan kebencian terhadap sesamanya, maka Allah tidak akan berurusan dengan orang seperti itu. Ini berarti orang yang masih menyimpan dendam dan tidak mengasihi sesamanya, tidak akan pernah menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya.
    Allah adalah kasih. Berangkat dari kenyataan bahwa Allah mengasihi manusia sebab manusia berharga di mata-Nya, maka siapa yang mengasihi Allah, harus mengasihi manusia yang dikasihi Allah. Kasih kepada Allah harus diwujudkan dalam bentuk kasih kepada sesama. Kasih yang sempurna dari Allah kepada manusia harus dibalas dengan kasih yang sempurna yang dapat dilakukan, atau kasih yang terbaik yang dapat diperbuat (Yoh. 15:12-17). Seperti Tuhan mengasihi, maka umat diajar untuk mengasihi orang lain seperti kasih Allah kepadanya. Banyak orang bisa mengasihi orang yang menurutnya layak dikasihi, tetapi tidak mengasihi orang yang menurut mereka tidak layak dikasihi, terutama kepada mereka yang telah menyakiti hatinya. Kasih yang Tuhan ajarkan adalah menyerahkan nyawa bagi orang lain, artinya orang percaya juga harus rela dirugikan demi orang lain sebagai objek pelayanan. Seperti Tuhan menyerahkan nyawa untuk orang percaya, maka orang percaya juga wajib berbuat demikian (1Yoh. 3:16).
    Dengan demikian, mengasihi Allah berarti membalas kasih Allah. Mengasihi Allah berarti hidup dari kasih-Nya, yakni dikuasai oleh anugerah Allah. Mengasihi Allah ialah menerima dan memberi lagi, disayangi dan menyayangi. Allah memberikan yang “tersayang” yaitu Anak Tunggal-Nya untuk orang percaya, maka orang percaya patut menyerahkan hatinya untuk Dia, dengan mengasihi sesama. Allah menghendaki orang percaya untuk mengasihi sesamanya. Kasih orang percaya terhadap sesama manusia harus didasarkan atas kasih Allah kepada dirinya.
    Tuhan Yesus menyatakan bahwa bukan manusia sendiri yang menentukan siapa yang menjadi sesamanya, tetapi Allah yang menentukan. Allah juga menentukan untuk siapa seseorang layak menjadi sesama manusia. Sesama manusia ialah orang yang sedang menderita kesukaran yang ditempatkan Allah pada jalan hidup orang percaya. Orang percaya harus menjadi sesama manusia bagi orang itu, demi kehendak Allah.
    0 min
  • Mendekati Objektivitas Mutlak
    Harus diingatkan kepada jemaat, bahwa kita tidak boleh mudah percaya kepada mereka yang memiliki gelar kesarjanaan teologi, pendeta-pendeta atau pembicara Kristen, baik yang belum maupun yang sudah terkenal. Hal ini dikemukakan bukan bermaksud mengabaikan sekolah tinggi teologi, tidak bermaksud menyisihkan teolog dan para pembicara Kristen, serta membangun kecurigaan kepada mereka secara sembarangan. Kita membutuhkan mereka karena Alkitab pun menunjukkan adanya jawatan gembala sidang atau guru yang mengajar. Tetapi persoalannya adalah apakah guru yang mengajar, gembala sidang yang berkhotbah itu mengalami realitas Allah dalam hidupnya? Sehingga pada waktu dia berkhotbah, bukan sekadar mengemukakan pandangan pribadi atau tokoh-tokoh teolog masa lalu atau kesaksian pribadi, melainkan suara Tuhan yang diperolehnya dalam perjumpaan dengan Allah melalui pengalaman setiap hari.
    Surat Paulus penuh dengan subjektivitas dari pengalaman hidup Paulus. Tetapi kita meyakini bahwa Paulus memiliki perjumpaan pribadi dengan Allah. Persekutuan yang benar dengan Allah, membuat Paulus juga memiliki ilham Roh. Masalahnya, dunia kita hari ini berbeda dengan dunia zaman Paulus. Yang harus dipersoalkan oleh orang percaya hari ini adalah bagaimana esensi kebenaran dari apa yang ditulis oleh Paulus, bisa dipahami dan dipindahkan ke dalam kehidupan orang percaya saat ini. Sehingga, kebenaran-kebenaran tersebut dapat menjawab kebutuhan kehidupan rohani orang percaya hari ini. Kebenaran yang murni pasti memiliki fleksibilitas dan dinamisitas yang tinggi, sehingga dapat menyelami setiap keadaan, dan memberi jawaban atas segala persoalan hidup manusia di sepanjang zaman dan di segala tempat.
    Dalam hal tersebut, yang dibutuhkan bukan hanya kemampuan menafsir tulisan Paulus, mengeskposisi ayat-ayat Alkitab, melainkan juga bagaimana bergaul dengan Allah yang memberi hikmat, pewahyuan, dan ilham kepada Paulus. Tanpa perjumpaan dengan Allah yang memberi ilham kepada Paulus dalam menulis surat-Nya, kita tidak akan pernah mengerti dengan benar apa yang ditulis oleh Paulus. Harus diingat, bahwa suasana kehidupan orang Kristen pada waktu Paulus menulis suratnya melatarbelakangi isi surat Paulus. Hal itu tentu saja sangat berbeda dengan keadaan dunia kita hari ini. Tetapi yang penting, Paulus menulis dalam perjumpaan dengan Allah setiap hari. Maka, kita membutuhkan tuntunan Roh Allah untuk memahami isinya dengan benar, sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Hal ini mutlak harus dimiliki oleh setiap pemberita Firman, supaya dalam pemberitaan Firman, mereka benar-benar menjadi jurubicara Allah bagi generasi saat ini.
    Mendengar kata “jurubicara Allah” terkesan sombong. Bagaimana seseorang dapat menjadi jurubicara Allah di zaman ini? Tetapi, sebenarnya hal menjadi jurubicara Allah adalah hal yang wajar bagi “utusan Kristus” (Yoh. 20:21). Setiap orang percaya adalah utusan Kristus yang harus menyampaikan Injil-Nya atau apa yang diajarkan oleh Yesus. Selain itu, orang percaya harus menjadi surat yang terbuka (2Kor. 3:1-3). Menjadi surat yang terbuka artinya lewat hidup orang percaya, manusia di sekitarnya menemukan suara Allah di dalam dan melalui hidupnya, baik melalui perkataan maupun perbuatan. Memang tidak semua orang bisa menjadi jurubicara Allah dalam bentuk berkhotbah dan mengajar, tetapi semua orang percaya harus menjadi saksi, artinya surat yang terbuka yang dapat dibaca setiap orang.
    Untuk menjadi jurubicara Tuhan, orang percaya harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan secara konkret. Oleh sebab itu, tidak cukup membaca dan mempelajari tumpukan buku-buku teologi sebagai modalnya. Hendaknya, orang percaya tidak menggantikan perjumpaan dengan Allah—yang di dalamnya ada ilham Roh—dengan ilmu mengenai Allah (teologi) dalam pikiran semata-mata. Allah pasti memberikan ilham melalui Roh-Nya untuk orang percaya yang berjalan dengan Dia, agar orang percaya sebagai utusan Kristus dapat mengerti dengan tepat isi Alkitab dan mengomunikasikannya...
    0 min
  • Subjektivitas yang Benar
    panggilan agar orang percaya memiliki hubungan yang benar-benar intim, eksklusif, dan konkret dengan Dia. Satu hal yang sukar dipahami, terjadinya pergeseran-pergeseran dari kekristenan yang sejati menjadi kekristenan yang kosong, sehingga banyak orang beragama Kristen, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah. Ironisnya, jiwa mereka tidak merasa terganggu. Mereka merasa sejahtera dengan kekristenan yang palsu tersebut. Hal ini yang mengondisi banyak orang Kristen hidup dalam kewajaran anak dunia. Keadaan ini sebenarnya bisa menggagalkan proses keselamatan yang dimiliki seseorang, bahkan bisa menjerumuskannya ke dalam api kekal; artinya, jangankan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, menjadi anggota masyarakat saja tidak.
    Kekristenan adalah pengalaman berjalan dengan Allah. Alkitab harus menjadi sarana komunikasi kita dengan Allah dalam pimpinan Roh Kudus. Alkitab dapat menjadi sarana berkomunikasi dengan Allah, kalau seseorang hidup dalam pimpinan Roh Kudus, dalam kerendahan hati, hidup dalam kesucian, dan tidak mencintai dunia. Jika tidak, Alkitab hanya menjadi sumber pengetahuan mengenai Allah dalam asumsi dan premis-premis manusia yang tidak berkuasa mengubah karakternya. Hal ini tidak berbeda dengan orang yang mempelajari ilmu agama. Kesombongan banyak teolog karena merasa dengan rasionya ia dapat menalar Allah dalam Alkitab dengan mudah. Berhubung merasa diri sebagai seorang akademisi, maka dengan percaya diri, ia merasa mampu memahami isi Alkitab berdasarkan kaidah-kaidah hermeneutik dan eksegesis. Tentu saja kita membutuhkan alat untuk memahami Alkitab—yaitu hermeneutik dan eksegesis—tetapi harus disertai pimpinan Roh Kudus, kerendahan hati, hidup dalam kesucian, dan tidak mencintai dunia.
    Banyak orang menjadikan Alkitab hanya sebagai objek eksplorasi dalam dunia akademis tanpa berdampak dalam kehidupan secara konkret, yaitu untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Bahkan ironisnya, menjadi penghalang perjumpaan dengan Allah secara konkret. Dalam hal ini, pengalaman yang harusnya terbangun antara setiap individu dengan Allah, Bapanya, telah digeser dengan nalar yang membangun rumusan-rumusan tentang Allah dan doktrin-doktrin serta pengajaran-pengajaran yang didasarkan hanya oleh asumsi-asumsi dan premis-premis pikiran manusia. Keadaan ini menjadi penyebab hancurnya kekristenan di negara-negara Barat. Fakta ini tidak dapat dibantah.
    Tentu kita tidak antidoktrin atau sistematika teologi. Gereja membutuhkan doktrin yang sehat, harus ada pengajaran yang benar. Tetapi di lain pihak, harus juga ada pengalaman yang konkret dengan Allah, sebab Dia adalah Allah yang hidup dan nyata. Biasanya, dalam lingkungan akademis atau di lingkungan para teolog yang menekankan rasio saja, subjektivitas dianggap sebagai ancaman terhadap kebenaran. Mereka selalu memandang subjektivitas dari pengalaman pribadi sebagai hal yang negatif. Padahal, mestinya kita tidak boleh selalu bersikap negatif terhadap subjektivitas dari pengalaman seseorang.
    Sebagai ilustrasi, adalah sesuatu yang subjektif kalau seseorang menceritakan mengenai istrinya dan pandangan-pandangannya mengenai istrinya tersebut. Menceritakan tentang istri dari perspektifnya, tentu adalah sesuatu yang subjektif. Tetapi harus diingat, bahwa istri orang tersebut benar-benar ada. Orang tidak belajar tentang siapa istrinya, tapi dari perjumpaan dengan istrinya setiap hari, ia mengenal siapa dan bagaimana istrinya tersebut. Ini kemungkinan adalah subjektivitas yang benar. Dan kalau kita percaya Allah itu hadir di dalam dan melalui Roh Kudus yang dimeteraikan dalam diri kita, Allah pasti menuntun dan membimbing kita dalam segala hal. Maka, kita pasti dapat bersentuhan dengan Dia secara konkret (Ef. 1:13; Rm. 8:28-29).
    Allah adalah Allah yang hidup dan nyata. Tentu Allah yang benar harus dialami secara konkret, bukan hanya dipercakapkan secara lisan dan dalam tulisan. Pengalaman individu dengan Allah, pasti subjektif.
    0 min
  • Sebelum Keadaan Memburuk
    Kita tidak boleh terkubur dalam liturgi gereja, seakan-akan kalau sudah ikut liturgi, berarti sudah mengalami Allah. Justru liturgi sering menipu, sebab liturgi hanya dapat menjadi media dimana seseorang berfantasi mengenai Allah dan bersikap munafik; berlagak atau bergaya seakan-akan mengenal Allah dan memiliki hubungan yang benar dengan Dia. Banyak orang Kristen terkubur dalam konsep-konsep mengenai Allah di dalam diri dan membiasakan diri merasakan apa yang ia yakini, tetapi tidak merasakan apa yang ia alami. Padahal, Allah harus dialami secara konkret. Orang percaya harus sungguh-sungguh mencari Allah. Maksudnya, harus mengisi waktu hidupnya untuk belajar kebenaran, meditasi dalam saat teduh atau doa pribadi, mencari wajah-Nya, dan peka terhadap setiap kejadian yang terjadi dalam hidupnya, yang di dalamnya Allah mau berbicara dan menasihatinya. Kita harus menjadikan ini sebagai agenda yang selalu penting dan mendesak, bahkan agenda hidup satu-satunya.
    Setiap hari, pasti ada berkat-Nya. Pasti ada porsi berkat pendewasaan yang Bapa sediakan untuk orang percaya. Kehadiran Allah, nasihat-Nya, dan didikan-Nya pasti ada. Hendaknya, kita tidak tenggelam dengan pemahaman mengenai Allah hanya secara kognitif atau secara pengetahuan nalar semata-mata. Hendaknya, orang percaya tidak membiasakan diri merasakan apa yang diyakini. Biasanya, orang hanya membiasakan merasakan apa yang mereka yakini, dan mereka berusaha membela apa yang mereka yakini tersebut dengan berbagai definisi, format, argumentasi, dan segala kajian teologi yang dibangun di atas kertas dan ucapan lisan. Mestinya, orang percaya membangun pemahaman mengenai Allah dalam pengalaman konkret, yaitu dalam perjumpaan dengan Dia atau pengalaman hidup, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari. Untuk itu, dibutuhkan kehausan yang benar terhadap Dia.
    Banyak orang belum berada di wilayah perjumpaan dengan Allah. Perjumpaan dengan Allah adalah wilayah yang harus menembus batas. Kita harus “menembus batas” sampai di hadirat Allah, atau hidup dalam kehadiran Allah. Orang percaya harus berjuang untuk dapat benar-benar hidup di hadirat Allah. Kalau hadirat Allah mencengkeram hidup kita, pasti ada perubahan yang sesuai dengan standar Allah. Dengan keadaan ini, kita bisa membangun hati yang takut akan Allah atau hati yang gentar sepatutnya kepada Dia. Kita dapat melihat kemuliaan Kerajaan Surga sejak di bumi, sehingga kita tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia ini. Kita juga dapat membangun keyakinan akan Allah yang tidak kelihatan, sehingga kita benar-benar mengalami Allah secara konkret, bukan fantasi.
    Banyak teolog yang rasional, yaitu para perumus doktrin yang membangun sistematika, dogmatika, atau sistematika teologi, merasa sudah memiliki bangunan pengertian tentang Allah yang kokoh dan benar. Mereka merasa sudah menemukan Allah di dalam nalar mereka dengan argumentasi yang kuat. Padahal, sejatinya mereka hanya menemukan pengetahuan mengenai Allah, tetapi belum menemukan Allah sendiri. Pengetahuan mereka pun belum tentu benar. Orang percaya tidak dapat menemukan Allah hanya pada rumusan doktrin teologi yang dinalar. Orang percaya dapat menemukan Allah dalam kehidupan konkret sehingga dapat menangkap gerakan, manuver tindakan Allah dalam segala hal yang dialami atau dijalani.
    Di tengah-tengah dunia yang fasik, banyak orang yang secara teori ber-Tuhan, tetapi secara praktis adalah ateis. Tidak sedikit pula orang Kristen yang ketika sudah keluar dari ruangan gereja, dicengkeram atmosfer dunia yang tidak memiliki kegentaran terhadap Allah. Sehingga, banyak orang Kristen tertarik dengan banyak hal di dalam hidup ini dan mengingininya tanpa perasaan takut akan Allah. Jika hal ini berlangsung terus-menerus dan berlarut-larut, maka cita rasa jiwa orang Kristen menjadi rusak. Mereka tidak mengingini Tuhan dan Kerajaan-Nya secara proporsional, tetapi lebih mengingini dunia. Dengan keadaan ini, seseorang menjadi terbelenggu oleh kuasa gelap.
    0 min
  • Liturgi yang Benar
    Betapa berbahayanya liturgi yang diselenggarakan tanpa pengertian yang benar, karena hal ini berpotensi menipu jemaat dan menempatkan jemaat dalam kebodohan atau kesesatan. Kita harus memahami bahwa liturgi atau kebaktian di gereja bukanlah segalanya dalam hidup kekristenan. Liturgi sebenarnya hanya sebuah pertemuan bersama yang acaranya diatur sedemikian rupa agar tertib, tetapi bukanlah ibadah dalam arti lengkap atau utuh. Pada umumnya, liturgi disusun dan dikemas sedemikian rupa agar memberi kesan khidmat, berwibawa, agung, dan rohani. Sejatinya, liturgi yang semakin dielaborasi dengan berbagai variasi justru malah semakin sarat dengan kepura-puraan dan sandiwara. Sebenarnya, hal ini terjadi karena pengaruh agama-agama suku atau agama-agama yang tidak mengenal kebenaran Allah. Bagi mereka, seremonial atau upacara agama adalah segalanya, artinya yang menentukan kualitas hubungan mereka dengan dewa mereka. Hal ini sangat bertolak belakang dengan kehidupan Kristen yang benar. Kekristenan adalah jalan hidup, yaitu hidupnya Yesus, bukan sekadar jalan hukum dan kegiatan seremonial seperti agama-agama pada umumnya.
    Liturgi bukanlah ibadah yang sejati atau yang sebenarnya, karena ibadah yang sejati adalah penggunaan potensi jasmani dan rohani secara maksimal bagi Allah dalam sepanjang waktu hidup (Rm. 12:1), tentu segala sesuatu dilakukan untuk kepentingan Kerajaan Allah atau bagi kemuliaan Allah (1Kor. 10:31). Inilah yang dimaksud oleh Yesus dengan “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran.” Menyembah Allah dalam roh dan kebenaran adalah sikap hidup yang berkenan kepada Tuhan setiap saat, kapan pun, dan di mana pun orang percaya berada. Sejatinya, inilah liturgi kehidupan yang sejati, yaitu seluruh kehidupan kita dan di sepanjang waktu hidup kita.
    Dalam liturgi, orang Kristen hanya mengucapkan kalimat yang memuat doxology, pujian penyembahan, pengucapan kredo, mendengarkan khotbah, dan lain-sebagainya. Hal ini dapat dilakukan tanpa pertaruhan segenap hidup. Yang penting adalah bagaimana membuat liturgi itu seakan-akan bisa mewakili relasi mereka dengan Allah. Padahal, kekristenan yang sejati pertaruhannya adalah segenap hidup. Kalau orang Kristen tidak mempertaruhkan hidupnya guna mengikut Yesus setiap saat atau meneladani hidup-Nya setiap saat, maka dalam berliturgi, pasti dia munafik, berpura-pura, atau bersandiwara. Dalam hal ini, pergi ke gereja dan mengikuti liturgi justru membuat dosanya semakin banyak.
    Aspek yang dapat menyesatkan banyak orang Kristen dalam liturgi adalah mereka merasa sudah menghayati kehadiran Allah secara penuh dan benar. Padahal, penghayatan terhadap kehadiran Allah haruslah dalam kehidupan setiap hari dan dalam segala peristiwa kehidupan. Sering kali liturgi hanya membawa seseorang pada sebuah fantasi. Fantasi mengenai Allah dalam liturgi, tetapi bukan dalam perjumpaan pribadi dengan Allah secara riil. Sebenarnya, hal ini secara tidak langsung merupakan sikap melecehkan Allah, dimana seakan-akan Allah adalah Allah yang cukup puas jika umat berinteraksi hanya melalui seremonial atau upacara agama atau liturgi. Orang-orang Kristen yang memiliki pemahaman seperti ini, pasti orang-orang Kristen yang kualitasnya rendah. Mereka tidak memiliki kesetiaan yang sejati kepada Kristus, dan biasanya hanya setia kepada lembaga gereja atau tokoh-tokoh agamanya. Sampai pada level tertentu, mereka tidak sanggup memercayai Allah yang hidup. Hal itu akan sangat terasa pada waktu mereka ada di ujung maut atau dalam situasi-situasi yang sangat genting. Ternyata, dalam situasi-situasi seperti itu, mereka tidak sanggup meyakini Allah beserta mereka atau Allah hadir.
    Penjelasan di atas ini bukan bermaksud untuk menghalangi orang melakukan liturgi di gereja, melainkan hendak menegaskan bahwa tidak mungkin seseorang bisa menghayati keadilan Allah dalam waktu sesaat, pada waktu di gereja saja. Bagaimana seseorang bisa menghayati kehadiran Allah dalam satu kali kesempatan liturgi kalau setiap harinya tid...
    0 min
  • Menjaga Pikiran
    Allah Bapa adalah Allah yang hidup dan nyata, maka semestinya Allah Bapa dapat dialami dan benar-benar dirasakan. Pengalaman mengalami dan merasakan hadirat Allah Bapa memang dipandang sangat subjektif. Biasanya, teolog-teolog yang hanya menekankan rasio memandang hal ini sebagai hal yang membahayakan teologi. Tanpa mereka sadari, mereka membangun “tempurung” dalam hidup mereka, sehingga mereka seperti katak di bawah tempurung. Biasanya teolog yang menekankan rasio selalu memandang subjektivitas sebagai hal negatif, padahal mereka sendiri secara nalar juga memiliki subjektivitas. Kita harus jujur mengakui adanya subjektivitas nalar dan juga subjektivitas pengalaman pribadi. Kebenaran terhadap suatu objek, apakah sesesuatu itu memuat subjektivitas yang salah atau subjektivitas yang benar, dapat dibuktikan dari perilaku orang tersebut.
    Hal ini sama dengan teologi yang benar atau teologi yang salah dapat dibuktikan dari perilaku orang yang memiliki pandangan teologi tersebut. Oleh sebab itu, kita tidak boleh secara sembarangan menunjuk orang lain sesat hanya melalui perspektif teologi yang dinalar saja. Harus selalu diingat bahwa bagaimana pun, teologi merupakan sebuah asumsi, bukan kebenaran mutlak. Apakah sebuah pandangan teologi memuat kebenaran yang mendekati kemutlakan kebenaran Allah, dapat teruji atau dibuktikan melalui perilaku orang yang mengenakan teologi tersebut dalam perjalanan waktu.
    Hadirat Allah Bapa adalah sesuatu yang riil yang harus benar-benar dialami. Inilah kekayaan orang percaya yang telah menerima pembenaran dari Allah Bapa melalui atau oleh Yesus kristus. Pengalaman pada saat kita ada di hadirat Allah Bapa, dimana kita bisa menghayati realitas Allah sebagai Bapa, dan kita memanggil Dia “Bapa” dalam satu keintiman yang indah, membuat hati kita benar-benar bergemar, bersukacita, bahagia, kokoh, dan kuat. Hal ini mengondisi kita menjadi takut atau gentar akan Allah Bapa. Dari hal ini, kita dapat membangun kesucian yang benar, dan tidak terpikat oleh keindahan dunia.
    Mengembangkan hidup di hadirat Allah Bapa dimulai dengan perjumpaan secara teratur dengan Dia dalam jam doa. Kita harus benar-benar menghargai setiap waktu sebagai waktu perjumpaan dengan Allah Bapa. Selanjutnya, kita dapat menjadikan waktu hidup kita sebagai ruangan yang selalu ada di hadirat Allah Bapa. Inilah yang disebut sebagai hidup di hadapan-Nya. Untuk memiliki kehidupan yang selalu di hadirat Allah Bapa, bukan sesuatu yang mudah. Sering kita “on-off,” sehingga kita tidak menikmati hadirat Allah secara penuh. Tidak jarang lebih banyak “off”-nya daripada “on”-nya.
    Oleh sebab itu, kita harus benar-benar serius menjaga pikiran kita untuk tetap menghayati kehadiran Allah dalam hidup kita. Menjaga pikiran di sini maksudnya adalah tidak membuat hal lain yang merusak penghayatan kita terhadap kehadiran Allah Bapa dalam hidup ini. Ada wilayah yang harus kita hayati secara permanen, yaitu atmosfer kehadiran Allah Bapa di dalam hidup kita. Ini adalah realita terindah dalam hidup yang tidak boleh dilewatkan. Orang Kristen yang melewatkan hal ini, tidak akan pernah masuk Rumah Bapa. Orang-orang Kristen seperti ini pada dasarnya adalah orang-orang yang tidak pernah mengucapkan Doa Bapa Kami dengan benar. Sebab, bagaimana mereka bisa memanggil Allah sebagai Bapa tanpa bisa menghayati keberadaan-Nya dan hidup dalam kesucian-Nya (1Ptr. 1:16-17)?
    Relasi kita sebagai anak dengan Allah sebagai Bapa, benar-benar dapat terbangun kalau memiliki atau mencapai kehidupan di hadirat Allah. Jadi, sebenarnya di balik panggilan “Bapa” bagi Allah seperti yang termuat dalam Doa Bapa Kami, terdapat panggilan untuk mengalami keberadaan Allah atau hidup di hadirat Allah. Dengan demikian, panggilan Allah sebagai Bapa menyita seluruh kehidupan kita. Dalam hal ini, panggilan “Bapa” bagi Allah menjadi sangat mahal, dan tentu saja sangat bernilai. Kita juga dapat menemukan bahwa Allah tidak membiarkan diri-Nya dipanggil oleh orang-orang yang h...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…