Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjumpai Allah dalam Kehidupan
    Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Maka, jangan kita sembarangan berkata: “saya percaya Allah itu ada.” Sebab, faktanya banyak orang mengatakan demikian tetapi kelakuannya tidak menunjukkan bahwa Allah itu ada. Pertanyaan bagi kita: “Seberapa kita sungguh-sungguh mencari Dia? Seberapa kita sungguh-sungguh menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mencari Dia?” Tentu ini bukan sesuatu yang sederhana. Yang menjadi persoalan yang benar-benar harus kita perkarakan adalah bagaimana kita bisa sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah yang kita yakini Dia ada.
    Banyak orang dari kecil sudah beragama Kristen, ketika remaja mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, ketika masa muda juga aktif di gereja, bahkan masuk Sekolah Tinggi Teologi, menjadi pelayan jemaat atau menjadi pendeta, tetapi hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan (teologi) walaupun STT di mana dia kuliah adalah STT atau Sekolah Tinggi Teologi yang baik. Kemudian melanjutkan kuliah lagi mencapai gelar magister teologi atau bahkan doktor teologi. Namun demikian, hanya memiliki pengetahuan tentang Tuhan saja. Bayangkan, kalau orang seperti ini menjadi seorang pembicara lalu mengajar jemaat, melayani jemaat, dan menggembalakannya. Dibawa ke mana jemaat yang dilayani itu?
    Jadi, secara keilmuan bisa saja orang tersebut sudah belajar dan mengerti banyak hal tentang Tuhan atau cakap berteologi. Tetapi kalau seseorang belum menjumpai Allah secara konkret, tidak mungkin ia bisa menyampaikan kebenaran yang mengubah orang lain. Bahkan, mungkin ada orang-orang yang sudah mendemonstrasikan mukjizat, memiliki pengalaman-pengalaman spektakuler dalam alam roh misalnya, tetapi tidak mengalami perjumpaan dengan Allah setiap hari sehingga tidak memiliki pengetahuan yang cukup mengenai Allah, guna menjadi bekal pengertian dalam menjalani hidup ini. Ini juga percuma, atau tidak terlalu berarti bagi pendewasaan jemaat. Kalau seorang teolog hanya membuat format, merumuskan pengetahuan tentang Tuhan di dalam pikiran, tentu saja hanya akan menjadi pengetahuan di dalam rasio atau nalar, tetapi tidak akan membuat jemaat benar-benar bisa menjumpai Allah. Ironisnya, justru pengetahuan teologi yang diajarkan tidak memicu jemaat atau tidak memicu orang untuk berjuang menemukan Allah. Sebaliknya, malah menjadi stagnan; jadi mentok, jadi berhenti, tidak mau belajar menjumpai Allah secara konkret karena merasa sudah belajar mengenal Allah di dalam pikiran mereka.
    Kita harus benar-benar memiliki kerinduan untuk menjumpai Allah. Bukan saja belajar mengenai Allah melalui buku, khotbah, ceramah, seminar, dan lain sebagainya, melainkan menjumpai Allah dalam kehidupan secara konkret. Baik melalui doa setiap hari, paling tidak 30 menit, juga melalui pengalaman-pengalaman yang kita peroleh setiap hari yang di dalamnya juga pasti Allah mau berbicara kepada kita. Kepada para pendeta, jangan merasa puas kalau sudah mengantongi gelar, bahkan sudah menulis banyak buku atau melewati tahun-tahun panjang dalam kegiatan pelayanan gereja. Menjumpai Allah adalah kehidupan setiap hari adalah hal yang tida pernah bisa digantikan oleh apa pun. Hal itu harus menjadi kebutuhan, bukan lagi kewajiban.
    Kalau kita setiap hari menjumpai Tuhan, maka barulah mengalami pertumbuhan rohani yang benar. Sebab, melalui perjumpaan dengan Allah baik melalui doa maupun kejadian-kejadian hidup yang kita alami, kita diajar langsung oleh Tuhan. Bagaimana kita memiliki kerendahan hati, kelemahlembutan, sikap mengalah, menjaga perkataan, menguasai lidah, tidak mengumbar nafsu, tidak terikat dengan dunia, dan lain sebagainya. Itulah kuliah kehidupan yang harus kita jalani, dan itu signifikan akan mengubah kita. Justru inilah inti dari hidup kekristenan. Bukan sekadar pengetahuan tentang Tuhan atau teologi,
    0 min
  • Dua Saksi
    Di dalam Kitab Wahyu, kita menemukan adanya dua saksi. Siapakah sebenarnya dua saksi tersebut? Ada beragam pandangan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan bahwa saksi itu adalah Musa dan Yesus. Ada pula yang mengatakan bahwa saksi itu seseorang yang dipakai Tuhan di zaman sekarang ini, artinya menunjuk nama seorang pendeta atau hamba Tuhan yang dipakai Tuhan—yang menurut mereka—luar biasa. Dan lain sebagainya. Ini adalah pandangan yang salah. Adapun yang dimaksud oleh Kitab Wahyu tentang “dua saksi” itu sesungguhnya adalah bangsa Israel dan orang percaya, yang digambarkan sebagai nyanyian Musa—itu menunjuk bangsa Israel—dan nyanyian Anak Domba—itu menunjuk orang percaya. Jadi, “saksi” itu bukan Musa secara langsung atau Yesus, melainkan bangsa Israel dan orang percaya.
    Bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih oleh Allah. Menjadi umat pilihan, yang dari sejarah bangsa itu kita dapat menemukan jejak-jejak dari Allah yang benar, tindakan-tindakan-Nya, serta karakter Allah dalam memperlakukan umat pilihan-Nya secara darah daging atau keturunan Abraham secara keturunan harfiah. Dengan demikian, bangsa Israel dapat menjadi saksi untuk menunjukkan atau membuktikan siapa Allah yang benar itu. Sebab banyak ilah, allah, atau dewa yang diperkenalkan, ditawarkan, dan dipromosikan oleh banyak agama. Kalau seseorang mau mengenal siapa Allah yang benar, lihatlah sejarah bangsa Israel. Maka ia akan mengenal dan menemukan Allah yang benar. Itu saksi yang pertama.
    Saksi yang kedua adalah orang percaya. Dalam Perjanjian Baru, dinyatakan bagaimana Allah yang benar itu. Pertama, dinyatakan dalam diri Putra-Nya, yaitu Tuhan Yesus. Tuhan Yesus menunjukkan karakter dari keagungan Allah yang benar. Dari kehidupan Yesus, kita dapat menemukan bagaimana seharusnya manusia—yang adalah gambar Allah—dapat menampilkan diri. Yesus adalah model atau sosok manusia yang benar-benar segambar dan serupa dengan Allah. Itulah sebabnya, Yesus disebut “Saksi yang setia,” untuk menunjukkan bagaimana Allah yang benar itu. Orang percaya, yaitu kita yang mengikut Yesus, harus juga menjadi saksi seperti Yesus. Saksi, artinya kita dapat menunjukkan atau membuktikan bukan saja siapa Allah yang benar, melainkan juga bagaimana Allah yang benar melalui kualitas perbuatan baik kita.
    Yesus adalah Saksi yang setia. Maksudnya, sampai mati Ia setia kepada Allah Bapa. Ia tidak menyangkali Allah Bapa walaupun Ia mengalami penderitaan yang sangat hebat, bahkan ditinggalkan oleh Allah Bapa. Yesus tidak menjadi curiga kepada Allah, tetapi tetap memercayai-Nya. Dan di tengah-tengah keadaan dimana Ia merasa ditinggalkan, Ia tetap menyerahkan nyawa-Nya ke dalam tangan Bapa-Nya. Jadi, “Saksi yang setia” artinya sampai akhir atau sampai mati dapat tetap menunjukkan atau membuktikan bagaimana Allah yang benar. Orang percaya harus memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dijalani oleh Yesus. Kita menjadi saksi, artinya kita mau membuktikan dan menunjukkan bukan saja siapa Allah yang benar, melainkan bagaimana Allah yang benar melalui perbuatan kita. Itulah sebabnya Firman Tuhan mengatakan, “mereka melihat perbuatanmu dan memuliakan Bapa di surga,” bukan melalui perdebatan-perdebatan yang berbuntut pada kebencian, perpecahan, pertikaian, permusuhan, dan hal-hal negatif lainnya.
    Tetapi, melalui perbuatan, mulut manusia dikatupkan (ditutup), dan mereka bisa berkata kepada orang percaya yang hidupnya mulia dan agung seperti Yesus, “orang sebaik ini, tidak mungkin Tuhannya salah. Orang sebaik ini tidak mungkin agamanya keliru.” Jadi, kita bukan mau berdebat, bersitegang secara dogma, atau berbantah-bantahan secara teologis. Tetapi kita menunjukkan bagaimana kehidupan seorang anak Allah dari Allah yang benar. Kita membuktikan keagungan, kemuliaan Allah kita dengan dan melalui perbuatan. Jadi kalau kita mengatakan: “aku memuliakan Engkau ya, Allah,” itu bukan hanya dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan, dengan perbuatan nyata.
    0 min
  • Catatan Sejarah
    Kita bersyukur menjadi orang Kristen atau menjadi orang percaya yang memiliki Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang telah melewati proses panjang, yang dapat dibuktikan kebenarannya dari berbagi aspek dan perspektif. Kita percaya bahwa pengetahuan yang benar tentang Allah dan penciptaan alam semesta ini, mula-mula diberikan oleh Allah kepada Musa pada sekitar tahun 1500 SM. Ini sama dengan 1500 tahun sebelum adanya agama Kristen; atau sekitar 2100–2200 tahun sebelum ada agama Islam.
    Dari kitab Perjanjian Lama yang kita miliki hari ini—yang sebenarnya merupakan kitab sucinya orang Yahudi—bisa dikenali siapa Allah yang benar. Dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita menemukan bagaimana Allah menyatakan diri dengan tindakan-tindakan-Nya yang spektakuler, yang luar biasa untuk bangsa Israel yang peradabannya belum maju. Karena mereka telah hidup sebagai budak selama 320 tahun di Mesir. Kalau ditinjau dari sudut rohani, bangsa Israel adalah bangsa yang belum matang atau belum dewasa. Sebab, mereka hanya mengenal Allah dari tindakan-tindakan Allah secara lahiriah yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Dari apa yang dikemukakan dalam Alkitab Perjanjian Lama, kita bisa mengenal siapa Allah yang benar. Allah yang benar adalah Allah Israel.
    Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang benar tersebut menyatakan diri-Nya dengan pernyataan: “Aku Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub.” Allah atau Elohim yang proper name-nya adalah Yahweh adalah satu-satunya Allah yang benar. Bangsa Israel adalah saksi di bumi ini untuk menunjukkan siapa Allah yang benar dari banyak ilah yang ditawarkan oleh banyak agama. Itulah sebabnya, bangsa Israel—yang termasuk bangsa kuno di antara bangsa-bangsa di Kanaan—tetap eksis sampai hari ini. Sementara bangsa-bangsa kuno lainnya nyaris punah, atau bahkan punah. Bangsa Israel yang selama sekitar 2500 tahun tidak memiliki kerajaan dan tanah air—yaitu sejak Yehuda runtuh di tangan bangsa Babel tahun 586 SM—mereka bisa kembali ke Israel dan membangun sebuah negara. Ini adalah perbuatan tangan Allah yang besar. Kalau bukan Allah yang besar dan kuat, tidak mungkin bangsa itu bisa membangun kembali negara mereka.
    Kalau kita membaca Alkitab, kita harus percaya dan menerima bahwa semua yang ditulis di dalam Alkitab bukan fiksi dan bukan dongeng. Semua yang ditulis itu adalah kejadian yang nyata, catatan sejarah dari fakta empiris yang benar-benar terjadi atau pernah berlangsung. Bukti-bukti arkeologinya pun dapat ditemukan dengan jelas. Seperti misalnya, ditemukannya alat-alat perang, senjata, kereta kuda di bawah Laut Kolsom. Ini menunjukkan bahwa pernah terjadi suatu peristiwa tenggelamnya pasukan atau tentara. Dan Alkitab mencatat peristiwa tersebut, yaitu Firaun dan tentaranya yang ditenggelamkan di Laut Kolsom sekitar tahun 1500 SM. Setelah 3500 tahun terhitung dari saat ini, masih ada sisa-sisanya, yang membuktikan bahwa kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan itu bukanlah dongeng. Demikian pula dengan tulah-tulah yang Allah berikan kepada bangsa Israel, bukan dongeng. Tentu saja Laut Kolsom yang terbelah, Manna yang diturunkan dari langit, Tembok Yerikho yang roboh, semua itu merupakan fakta historis, fakta sejarah, atau fakta empiris. Dan kita harus percaya dan menerima fakta tersebut. Betapa hebat kisah-kisah tersebut.
    Kita bersyukur karena Tuhan memiliki jejak-jejak yang dari dalamnya kita dapat menemukan kebesaran Allah, keagungan Allah untuk membuktikan siapa Allah yang benar itu. Dengan demikian, kita dapat mengerti betapa berharganya Alkitab, betapa bergunanya Alkitab bagi kita. Oleh sebab itu, jangan kita tidak membacanya. Ketika kita membaca Alkitab, kita seperti masuk sebuah pergumulan, pergulatan hebat orang-orang yang bersentuhan dengan Allah. Dari hal itu, kita dapat membangun kehidupan bagaimana bersentuhan dengan Allah secara benar.
    0 min
  • Menjadi Ciptaan Baru
    Hanya orang percaya yang benar-benar mengalami kelahiran baru yang dapat menemukan hadirat Allah dan hidup di dalamnya. Proses kelahiran baru hanya terjadi atas umat pilihan Allah yang hidup di zaman Perjanjian Baru. Kelahiran kembali yang disebut berulang-ulang dalam Yohanes 3 adalah terjemahan dari gennethe anothen (γεννηθῇ ἄνωθεν). Dua kata ini dari akar kata genao dan anothen. Genao (to procreate; to regenerate) artinya “dilahirkan,” sedangkan anothen bisa berarti “dari atas” (from above), sering diterjemahkan sebagai “kelahiran baru.” Dalam 2 Korintus 5:17, Paulus menulis: “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
    Petrus juga menyinggung mengenai fenomena kelahiran baru dalam 1 Petrus 1:3, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Kata “kelahiran baru” dalam ayat ini dalam teks aslinya adalah anagennosas, dari akar kata anagennao. Dalam teks bahasa Inggris diterjemahkan new birth, born again (kelahiran baru, dilahirkan kembali). Kata ini sebenarnya lebih tepat diterjemahkan “dilahirkan dari atas.” Dalam 1 Petrus 1:23 tertulis: “Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal.” Petrus menyatakan dengan sangat terang bahwa oleh Firman Tuhan, seseorang mengalami “dilahirkan dari atas atau dilahirkan kembali.”
    Dalam 1 Yohanes 2:29 tertulis: “Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.” Dalam tulisan Yohanes ini, terdapat kalimat “dilahirkan dari pada-Nya.” Kata ini dalam teks aslinya adalah eks autou gegennetai (ἐξ αὐτοῦ γεγέννηται). Dalam teks aslinya, terdapat kata eks (ἐξ), yang artinya “keluar.” Jadi, sebenarnya kalimat l”ahir dari pada-Nya” juga bisa dipahami sebagai “lahir keluar dari Dia.”
    Dalam Yohanes 3:9 tertulis: “Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi; sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia dan ia tidak dapat berbuat dosa, karena ia lahir dari Allah.” Kalimat “lahir dari Allah” dalam teks aslinya adalah hog gegennomenos ek tou theou (ὁ γεγεννημένος ἐκ τοῦ θεοῦ), yang lebih tepat diterjemahkan sebagai “dilahirkan keluar dari Allah (Theos).” Kalimat yang sama juga terdapat dalam 1 Yohanes 5:1 “Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah Kristus, lahir dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi Dia yang melahirkan, mengasihi juga dia yang lahir dari pada-Nya,” dan dalam 1 Yohanes 5:4 “Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita,” dan 1 Yohanes 5:18 “Kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya.”
    Dari uraian di atas ini, harus ditegaskan bahwa penggunaan kata “dilahirkan” itu penting. Dalam Yohanes 1:13 tertulis: “orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” Kata “diperanakkan” di ayat ini adalah gennao (γεννάω) yang sama artinya dengan dilahirkan. Hal ini menunjukkan proses sebuah “kejadian” hadirnya seorang anak manusia. Kita bisa memahami bahwa proses kelahiran bukan dalam satu hari, satu minggu, bahkan tidak cukup satu bulan.
    Proses kelahiran baru sesungguhnya cukup rumit, tetapi bisa dipahami secara nalar. Apalagi sekarang, ketika ilmu pengetahuan sudah sangat maju, proses reproduksi atau pembuahan adalah proses natural yang dapat dijelaskan. Orang percaya yang masuk proses kelahiran baru adalah orang-orang yang dikategorikan sebagai orang-orang yang hidup baru dalam Tuhan dan diproses untuk menjadi seperti Kristus.
    0 min
  • Logika Rohani
    Dalam kehidupan ini, Allah memberi tanggung jawab setiap individu atas dirinya sendiri di hadapan Tuhan yang memberi kendaraan hidup ini. Tuhan menciptakan manusia dan melengkapinya dengan pikiran, perasaan, dan kehendak. Semua itu merupakan sarana atau perlengkapan untuk dapat mengemudikan kehidupan masing-masing individu. Manusia harus belajar bagaimana mengemudikan hidupnya secara benar, sesuai dengan kehendak yang menciptakan kehidupan itu, dan mengarahkannya ke arah yang benar. Paulus dalam suratnya mengatakan: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:26-27). Kalimat ini dalam teks Yunaninya adalah alla hupopiazo mou to soma kai doulagogo mepos, allois kheruksas autos adokimos genomai (ἀλλ᾽ ὑπωπιάζω μου τὸ σῶμα καὶ δουλαγωγῶ, μήπως ἄλλοις κηρύξας αὐτὸς ἀδόκιμος γένωμαι). Kata adokimos artinya bukan saja berarti “ditolak,” melainkan juga “tidak disetujui (disapprove), dibuang (cast away)” atau “tidak diperhitungkan karena dianggap tidak memenuhi syarat (be disqualified).” Pernyataan Paulus ini jelas menunjukkan bahwa kita harus menguasai atau mengendalikan hidup sedemikian rupa, supaya kita diterima di Kemah Abadi.
    Untuk dapat mengendarai hidup ini dengan benar dan mengarahkannya ke arah yang Tuhan kehendaki, bukan sesuatu yang sederhana dan mudah. Kita harus bergumul dengan segenap hidup. Inilah perjuangan yang tiada berakhir sampai kita menutup mata. Dalam hal ini, orang percaya diajar untuk mengerjakan keselamatan dengan takut dan gentar. Manusia harus mengarahkan kehendaknya sendiri. Untuk itu, kita harus mengisi pikiran kita dengan sesuatu yang baik. Kalau kebenaran diisikan dalam pikiran, maka pikiran akan terarah ke surga dan Kerajaan-Nya. Hadirat Tuhan yang dirasakan setiap hari akan mengarahkan selera jiwa kita kepada Tuhan, sampai kita merasakan bahwa kebutuhan kita hanyalah Tuhan saja. Kita harus memiliki ketekunan fokus kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, dan tidak bergeser. Ke arah inilah kita menemukan tujuan hidup kita. Untuk itu, kita harus memiliki logika rohani. Logika seseorang mengarahkan kemudi hidupnya.
    Untuk mengubah logika duniawi ke logika rohani, memang membutuhkan waktu yang panjang. Kita harus terus-menerus memenuhi pikiran dengan Firman Tuhan, serta mengalami hadirat Tuhan setiap hari. Ini adalah perjuangan yang harus kita lakukan tiada henti sebagai satu-satunya agenda hidup ini. Hal ini tidak bisa muncul dengan sendirinya. Kitalah yang harus berjuang dalam ketekunan maksimal, artinya tidak ada yang kita perjuangkan lebih dari hal ini. Selama kita masih sibuk menikmati kepuasan materi hari ini, maka tidak ada pergumulan perjuangan untuk mengubah logika kita. Kita yang harus mengisi pikiran dengan kebenaran-kebenaran murni dalam Alkitab dan menyadari bahwa masih banyak unsur “duniawi” di dalam logika kita.
    Orang percaya yang bergumul dalam perjuangan mengubah logika ini, akan merasa bahwa kehidupannya sedang meluncur ke arah yang tidak jelas, artinya suatu arah yang asing yang tidak pernah dipahami sebelumnya. Ia merasa seperti menjadi manusia asing di bumi, dibanding dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Kadang-kadang juga merasa seperti orang yang “tidak menginjak tanah.” Merasa tidak berpikir secara realistis. Namun, kalau perjuangan ini dilakukan terus-menerus dengan tekun dalam pimpinan Roh Kudus, maka ia menyadari bahwa dirinyalah yang realitis, sedangkan manusia yang lain seperti mimpi. Ini adalah kehidupan yang “mencari perkara-perkara yang di atas.” Orang-orang seperti ini dapat hidup di hadirat Allah. Orang yang masih berlogika duniawi tidak bisa hidup di hadirat Allah.
    Tidak sedikit orang Kristen yang aktif dalam kegiatan pelayanan, bahkan menjadi pendeta, mengerjakan pekerjaan gerejani, tetapi belum sepenuh hidup mengarahkan dirinya kepada Tuhan dan Kerajaan-Nya, sebab logika mereka masih duniawi. Hal ini disebabkan oleh karena pengaruh dunia yang suda...
    0 min
  • Meninggalkan Dunia
    Orang yang mau hidup di hadirat Allah harus meninggalkan dunia ini. Meninggalkan dunia adalah proses yang sangat berat, sebab kita telah terbiasa hidup dalam keterikatan dengan hal-hal yang bersifat duniawi. Meninggalkan dunia adalah kemutlakan yang tidak boleh dihindari oleh orang percaya, karena inilah harga yang harus dibayar oleh mereka yang mau memperoleh Kristus di dalam hidupnya. Terkait dengan hal ini, Rasul Paulus menyaksikan kehidupan imannya demikian: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Inilah langkah barter yang harus dilakukan setiap orang percaya, sebab seseorang tidak akan dapat memiliki Kristus—artinya memiliki berkat keselamatan—tanpa “melepaskan segala sesuatu” atau meninggalkan dunia. Sesungguhnya, inilah kekristenan yang sejati yang diajarkan oleh Yesus bagi umat pilihan Perjanjian Baru. Pelepasan atau kehilangan “semuanya itu” merupakan sikap yang benar untuk dapat hidup di hadirat Allah.
    Ciri yang paling nyata dari orang yang meninggalkan dunia adalah “tidak memiliki keinginan kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya.” Orang-orang seperti ini bukan berarti tidak memiliki keinginan atau kehendak sama sekali selain menyukakan hati Bapa. Manusia diciptakan dengan keinginan atau kehendak, dan Tuhan menghendaki agar manusia memainkan kehendak tersebut. Manusia bukan robot yang tidak memiliki keinginan sendiri. Tentu saja orang percaya juga harus memainkan kehendak-Nya, tetapi keinginan yang ada di dalam hatinya haruslah keinginan melakukan kehendak Bapa. Orang percaya harus membuka hatinya hanya untuk menerima perintah atau komando dari Bapa di surga, dan tidak membuka akses untuk pihak mana pun kecuali untuk Tuhan.
    Kalau keinginan seseorang hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya, maka hatinya lebih terbuka terhadap kebenaran Tuhan. Ruangan yang disediakan bagi kebenaran Tuhan dalam jiwanya lebih luas, dan memang seharusnya orang percaya tidak memberi ruangan sekecil apa pun terhadap percintaan dunia. Sesungguhnya, tujuan hidup orang percaya sebagai anak-anak Allah hanyalah Tuhan dan Kerajaan-Nya. Menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidup berarti harus meninggalkan dunia ini. Untuk ini, kebebasan masing-masing individu memegang peranan penting. Apakah seseorang memberi ruangan bagi dunia atau bagi Tuhan, sepenuhnya tergantung kepada individu. Dalam hal ini, Tuhan tidak memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya bagi Dia. Sebaliknya, kuasa gelap juga tidak bisa memaksa seseorang membuka ruangan hidupnya baginya. Hal ini merupakan tatanan yang bisa menempatkan setiap individu pada pengadilan Tuhan nanti. Jadi, kesediaan meninggalkan dunia adalah persiapan terbaik atau satu-satunya untuk menghadap pengadilan Tuhan nanti.
    Sebenarnya, banyak orang Kristen tidak memedulikan hal-hal rohani, walaupun rajin ke gereja. Mereka lebih mempersoalkan perkara-perkara duniawi. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang bersikap tidak pantas terhadap Tuhan; memandang rendah Tuhan dan tidak menghormati-Nya. Walaupun mereka aktivis gereja, bahkan rohaniwan, tetapi mereka tidak bersikap secara benar di hadapan Allah dalam hidup sehari-hari. Sebenarnya, percuma mereka memuji dan menyembah Allah di gereja. Mereka hanya ingin hidup seperti orang lain hidup, yaitu menikmati dunia seakan-akan dunia ini hanya satu-satunya kesempatan menikmati hidup. Mereka tidak bersedia meninggalkan dunia, sebab mereka telah nyaman dengan dunia yang menjadi kerajaannya. Tidak sedikit orang-orang baik dalam gereja—bahkan bisa dianggap sebagai rohani—belum meninggalkan dunia ini. Mereka bisa melakukan pekerjaan pelayanan gereja, tetapi mereka masih hidup dalam percintaan dunia.
    Tuhan akan memperkarakan spirit atau gairah apa yang ada pada setiap individu.
    0 min
  • Menemui Tuhan
    Suatu hari nanti di kekekalan, ketika seseorang menyaksikan kedahsyatan kemuliaan Allah, barulah ia menyadari dengan benar betapa besar anugerah Allah yang memberi kesempatan makhluk ciptaan—yaitu manusia—untuk bisa berinteraksi dengan Dia. Hari ini, banyak orang yang menganggap remeh kesempatan untuk bisa berinteraksi dengan Allah, yaitu hidup di hadirat Allah, sebab mereka tidak menyadari kedahsyatan kemuliaan Allah. Tentu saja orang-orang seperti ini juga tidak menghormati Allah secara patut dan tidak mengasihi Allah secara benar. Pada umumnya, manusia berkeadaan demikian. Pada waktu itu, barulah terjadi penyesalan yang sangat dalam, menyakitkan, dan tidak terbayangkan. Penyesalan tersebut bisa lebih menyakitkan dari penderitaan itu sendiri. Alkitab menggambarkan keadaan tersebut sebagai “ratap tangis dan kertak gigi.”
    Seseorang yang menolak hidup di hadirat Allah adalah orang yang mengalami kerugian yang tidak ternilai, yaitu kebinasaan—artinya keadaan terpisah dari Allah. Orang yang menolak Allah berarti tidak menerima kehidupan di dalam Tuhan. Tidak mungkin orang yang pada saat hidup di bumi tidak hidup di hadirat Allah, kemudian nanti waktu meninggal bisa hidup di hadirat Allah. Hanya orang yang sejak di bumi ini sudah hidup di hadirat Allah, nanti di kekekalan juga diperkenankan untuk berada di hadirat Allah. Dengan demikian, sejatinya, peta hari esok seseorang di kekekalan—apakah ia masuk surga atau neraka—dapat dilihat sejak hidup di bumi ini. Untuk itu, kita harus mengoreksi diri kita dengan benar, apakah kita akan diperkenankan ada di hadirat Allah atau tidak. Untuk bisa mengenali diri dengan benar, seseorang harus mengalami perjumpaan langsung setiap hari dengan Allah.
    Untuk menemui Tuhan secara khusus, seseorang harus menyediakan waktu yang dipandang istimewa. Setiap hari kita harus menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan. Waktu ini harus dipandang sebagai waktu yang lebih bernilai dari waktu kita untuk hal-hal lain. Ini adalah “prime time.” Waktu tersebut tidak digunakan untuk apa pun selain bertemu dengan Tuhan. Kita harus membiasakan diri bertemu dengan Tuhan secara rutin sehingga menjadi kebiasaan yang tidak terhapus selama hidup, sampai bertemu Tuhan Yesus nanti. Pada waktu bertemu dengan Tuhan, kita tidak boleh membuka akses dengan apa pun, dan kepada siapa pun. Waktu bertemu dengan Tuhan adalah waktu yang mulia, agung, dan berharga.
    Karena pertemuan ini mahapenting, maka kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik: ruangan, sarana doa, dan kondisi fisik. Kadang-kadang kita sengaja memakai pakaian resmi dalam pertemuan tersebut dan memandangnya sebagai pertemuan formal. Berkenaan dengan hal ini—bila mungkin—kita menyediakan ruangan yang khusus. Ruangan yang dilengkapi dengan bantal untuk berlutut, kursi untuk meletakkan siku, gitar untuk menyanyi atau menyembah. Kita harus menyediakan tempat khusus ini untuk menutup semua hubungan dengan apa pun dan siapa pun. Ruangan tersebut bisa menjadi ruang istimewa di mana kita bertemu dengan Tuhan, sebab di tempat itu kita menemukan kehadiran Tuhan.
    Membiasakan diri untuk hal ini tidak mudah. Dibutuhkan perjuangan dalam ketekunan yang tinggi, sebab pada waktu belajar berdoa akan terjadi kejenuhan. Apalagi pada waktu sudah ada di ruang doa selama berbulan-bulan dan tidak merasakan Tuhan hadir, bahkan seakan-akan Tuhan tidak ada. Dalam kondisi seperti itu, kita bisa putus asa dan kehilangan gairah berdoa. Kita harus tetap tekun. Pada waktu kita tidak ingin berdoa, justru pada waktu itulah kita harus berusaha bertemu dengan Tuhan dan masuk ruang doa. Kita harus belajar untuk bisa bersabar menanti Tuhan dan mencari wajah-Nya. Kita harus tetap setia di ruang doa untuk belajar merasakan hadirat Tuhan, dan tetap merasakan kehadiran-Nya yang semakin kuat.
    Semakin hari kita akan mengalami perasaan semakin menyukai ruang doa tersebut, sampai menjadi ikatan, seperti sebuah ikatan yang adikodrati. Dalam berdoa,
    0 min
  • Berdampak pada Kekekalan
    Kekristenan kita belum lengkap sampai tujuan, sebelum kita sampai pada pengalaman hidup “tinggal di dalam Dia.” Ini doa Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:4; 17:21. Kekristenan bukanlah sekadar agama yang melengkapi kehidupan manusia di bumi, melainkan jalan hidup yang mengubah manusia dari kodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi agar hidup di hadirat Allah. Dalam Injil Yohanes 14:6, Yesus menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya jalan sampai kepada Bapa. Bukan saja masuk surga melainkan hidup di hadirat Allah. Banyak orang bertahun-tahun beragama Kristen dengan pergi ke gereja, menjadi majelis, bahkan menjadi pejabat sinode seperti pendeta, tetapi ternyata tidak bertumbuh mengalami perubahan kodrat sehingga tidak pernah mengerti hidup di hadirat Allah. Hadirat Allah lebih penting dari segala sesuatu. Jika seseorang tidak berani menjadikan ini sebagai satu-satunya agenda hidup, berarti ia gagal sebagai orang percaya. Orang-orang seperti ini pasti tidak berani melepaskan segala sesuatu (Luk. 14:33). Inilah satu-satunya isi perjuangan orang yang dipanggil sebagai umat pilihan, sebagai perlombaan yang wajib, yaitu mengambil bagian dalam kekudusan Allah agar dapat hidup di hadirat-Nya (Ibr. 12:9-10).
    Jadi, maksud menjadikan tubuh kita bait Roh Kudus, bukan hanya tubuh didiami oleh Roh Kudus. Kalau bait suci Salomo didiami Roh Allah, artinya Roh Allah hadir di bait Allah tersebut, tetapi di sana tidak ada hubungan interaksi antara Allah dengan bait suci, sebab bait suci bukan pribadi. Bait suci adalah benda. Tetapi kalau Roh Allah diam di dalam kita, berarti ada satu kegiatan percakapan yang berlangsung terus-menerus, yaitu hubungan interaksi dengan Tuhan di dalam diri kita. Bapa menghendaki hubungan yang mendalam dengan kita. Hubungan yang mendalam, yang di dalamnya terdapat dialog dengan Tuhan ini, tidak ada batasnya, sampai nanti kita bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Orang-orang seperti ini tentu senantiasa menghayati kehadiran Tuhan dalam hidupnya, dan bisa hidup di hadirat Allah.
    Karena Tuhan tinggal di dalam kita, melalui Roh-Nya, maka percakapan dengan Tuhan tidak dibatasi ruang dan waktu. Di mana kita ada, Tuhan juga berada. Ia selalu beserta di dalam kita. Sebuah perjumpaan tiada henti, sebuah hubungan interaksi tiada putus. Di sinilah letak nafas kehidupan. Kalau kita pernah mendengar bahwa doa adalah nafas rohani, doa di sini bukan hanya kegiatan pada waktu kita berlutut dan melipat tangan mengucapkan kalimat doa, melainkan doa adalah percakapan setiap waktu di mana pun kita berada dan kapan saja. Orang percaya harus menjadi satu dengan Tuhan dalam ikatan yang bersifat permanen. Inilah yang dikatakan di dalam 1 Korintus 12:17, menjadi satu roh dengan Tuhan. Orang percaya harus sungguh-sungguh dalam perjuangan mencapai level “menyatu dengan Tuhan.” Ini adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun juga. Dengan demikian, seseorang baru bisa hidup di hadirat Allah.
    Banyak orang beragama yang memercayai Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan, apalagi hidup di hadirat Allah. Sebenarnya, ada dua jenis pengalaman dengan Tuhan. Pertama, pengalaman dengan Tuhan yang berkualitas tinggi. Kedua, pengalaman dengan Allah yang berkualitas rendah. Mengemukakan hal ini bukan berarti ada pengalaman dengan Allah yang bisa dianggap remeh atau tidak berkualitas, sehingga kita memandang rendah. Mengalami Allah dengan kualitas tinggi adalah kehidupan orang percaya di hadirat Allah dalam proses pendewasaan agar orang percaya semakin dapat memiliki hubungan yang ideal dengan Allah. Semakin seseorang dewasa rohani, semakin ideal hubungannya dengan Allah. Tidak banyak orang yang sungguh-sungguh telah mengalami Allah dengan kualitas tinggi. Hal ini hanya terjadi atas orang-orang yang dengan sepenuh hati mengasihi Allah dan berusaha untuk melakukan kehendak Allah. Pengalaman-pengalaman dengan Allah yang berkualitas tinggi ini menyempurnakan hidup seseorang untuk dapat mencapai kehidupan yang sesua...
    0 min
  • Beban terhadap Orang lain
    Kita harus menghayati betapa tragisnya hidup ini. Pada umumnya, kita juga sudah tahu bahwa hidup ini tragis, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar menghayati tragisnya hidup ini, sehingga mereka tidak mempersiapkan diri untuk menetap di langit baru dan bumi baru. Mereka tidak menyeberangkan hatinya ke langit baru dan bumi baru sejak di bumi ini. Sehingga, mereka tidak pernah memiliki basis berpikir dunia yang akan datang. Sampai kapan pun, orang-orang seperti ini tidak pernah menjadi rohani. Mereka adalah orang-orang yang tidak akan pernah menjadi anggur yang tercurah dan roti yang terpecah. Biasanya, orang-orang seperti ini memang bisa mengambil bagian dalam pelayanan. Seandainya ia melayani, hal itu dikarenakan keuntungan yang bisa ia peroleh.
    Beban yang tulus terhadap orang lain membuat kita membuka tangan untuk berbagi apa yang kita miliki demi kepentingan kehidupan jasmani. Namun, selanjutnya kita juga memperjuangkan kepentingan yang lebih besar dan merupakan inti masalah kehidupan, yaitu kekekalan di langit baru bumi baru. Menjadi manusia pemberi bukan manusia penerima, tidaklah mudah. Karena irama hidup manusia pada umumnya adalah menerima. Pada umumnya, manusia adalah manusia yang berkarakter penerima, bukan pemberi. Keadaan ini bukan hanya ada dalam kehidupan orang-orang di luar gereja, melainkan juga orang-orang Kristen di dalam gereja, bahkan para pelayan-pelayannya, aktivis gereja, maupun pendeta. Kalaupun seseorang bisa memberikan sesuatu bagi pelayanan, dasarnya bukan karena sudah menjadi “manusia pemberi” melainkan karena kesantunan hidup dan perasaan keterbebanan yang terbatas. Ini berarti belum memiliki hati seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus.
    Demi pengabdian kepada Tuhan, kita berusaha menjadi manusia pemberi. Oleh karena itu, kita harus menjadi orang-orang yang benar-benar berpotensi. Untuk memiliki kehidupan yang berpotensi, kita harus bekerja keras mengembangkan semua bakat dan kemampuan yang kita miliki. Pengharapan terhadap langit baru dan bumi baru tidak membuat kita menjadi manusia yang antisosial, tidak membuat kita menjadi orang yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupan di dalam keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Orang yang berbicara mengenai surga lalu menjadi antisosial dan tidak memenuhi tanggung jawabnya sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, dan anak bangsa, pasti telah sesat di dalam pengertiannya. Orang yang berpikir bahwa mereka yang menaruh harapannya pada dunia akan datang menjadi orang yang antisosial yang tidak memenuhi tanggung jawabnya dalam hidup adalah orang-orang yang tidak mengerti kebenaran.
    Harus dipahami bahwa pengabdian kita kepada Tuhan terletak pada saat kita memaksimalkan potensi dan bertanggung jawab dalam kehidupan ini, terkait dengan hubungan kita dengan keluarga, gereja, masyarakat, bangsa, dan negara. Seseorang tidak bisa dikatakan mengasihi Allah ia kalau tidak memaksimalkan potensi bagi sesamanya di bumi ini. Sesungguhnya, inilah ibadah yang sejati itu, seperti yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:1, juga yang dimaksud Yesus dalam Lukas 4:8 sebagai kebaktian kepada Allah. Justru orang yang menaruh pengharapannya di langit baru dan bumi yang baru, dimana ia berusaha untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela agar berkenan di hadapan Tuhan, pasti mengisi hari hidupnya untuk menjadi saksi Tuhan dengan memikul beban sesama dalam tindakan konkret, bukan hanya dalam warna dan pernyataan-pernyataan kata dan kalimat. Orang yang benar-benar berkarya bagi Tuhan dengan memikul beban sesama tidak akan banyak bicara. Suatu hari, semua orang akan diperhadapkan kepada pengadilan, dan segala sesuatu yang kita lakukan akan dibawa ke pengadilan.
    Justru inilah ciri dari orang-orang yang benar-benar telah menyeberangkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga atau berbasis pikir dunia yang akan datang. Mereka akan sungguh-sungguh berusaha hidup tidak bercacat dan tidak bercela, memaksimalkan semua potensi untuk kepentingan Kerajaan Allah...
    0 min
  • Berbasis Kehidupan yang Akan Datang
    Setiap orang berpikir dan bertindak berdasarkan filosofi hidupnya. Bagi orang beragama, berdasarkan ajaran yang diyakininya sebagai kebenaran. Kebenaran yang diyakini melahirkan berbagai model atau gaya hidup, sebab kebenaran yang diyakini tersebut membangun suatu basis berpikir. Basis artinya asas, dasar. Kalau dalam dunia militer, basis menunjuk pangkalan tempat pasukan atau tentara mulai melakukan operasi menggempur musuh, atau bertahan menghadapi serangan musuh. Basis biasanya merupakan tempat di mana ada gudang persenjataan dan persediaan logistik serta tentara dikumpulkan. Adapun “berbasis,” artinya menjadikan sesuatu sebagai basis. Artinya sebagai pijakan dalam berpikir. Hal ini yang membentuk gaya hidup dan dasar dalam melakukan segala tindakan. Dengan demikian, basis berpikir ini menentukan kualitas hidup seseorang di hadapan Allah dan menentukan kekekalannya. Ada 2 basis berpikir dalam kehidupan manusia. Pertama, basis berpikir pada kehidupan di dunia hari ini di bumi. Kedua, basis berpikir pada kehidupan yang akan yang datang di langit baru dan bumi baru nanti.
    Bagi orang percaya atau umat pilihan, harus menentukan atau memilih hanya satu basis, tidak boleh dan memang tidak bisa berpijak pada kedua-duanya. Umat pilihan diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, anak-anak Allah yang akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus dan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam Kerajaan-Nya. Itulah sebabnya, orang percaya harus berbasis pada dunia yang akan datang seperti Yesus. Ketika Yesus dibawa ke atas gunung dan ditawari keindahan dunia, Yesus dibujuk untuk memiliki basis berpikir dunia hari ini. Yesus memiliki dunia yang akan datang, Kerajaan Bapa, di mana diri-Nya akan menjadi Raja dalam ketertundukan kepada Allah Bapa. Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa.
    Dunia di mana penghuninya tidak hidup dalam ketertundukan mutlak kepada Allah, bukanlah surga. Surga memiliki dua pengertian. Pertama, lokasi dan sarana. Kedua, suasana atau atmosfer, dimana ada ketertundukan mutlak atau hidup dalam pemerintahan Allah. Kalimat “Datanglah Kerajaan-Mu,” bukanlah dalam arti pertama, melainkan kedua, yaitu menghadirkan pemerintahan Allah atau hidup dalam ketertundukan mutlak. Keindahan yang diciptakan sempurna menjadi rusak ketika pemerintahan Allah tidak diselenggarakan. Nanti di langit baru dan bumi baru, keindahan dunia ini diulang dalam suasana pemerintahan Allah. Menjadi anak-anak Allah yang tinggal di Kerajaan di mana setiap insan ada dalam ketertundukan kepada Allah Bapa adalah rencana kekal dan besar Allah sejak dunia diciptakan. Oleh karenanya, Allah memberi keselamatan di dalam atau melalui Yesus Kristus. Dari hal ini, bisa dimengerti mengapa dalam Efesus 1:4-5 firman Tuhan mengatakan: “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya.”
    Pada umumnya, agama-agama dan kepercayaan masih berbasis pada kehidupan hari ini, walaupun tentu saja kehidupan di surga menjadi pengharapan setelah mati atau di balik kuburnya. Tetapi, pada dasarnya tidak menjadi basis berpikir satu-satunya. Paling tidak, mereka berjejak pada dua basis berpikir tersebut. Tentu saja ada sebagian mereka yang berbasis di dunia yang akan datang, tetapi tidak memiliki kejelasan seperti yang Alkitab Perjanjian Baru ajarkan. Seperti misalnya agama Yahudi yang berbasis pada dunia hari ini. Orientasi kehidupan mereka masih terletak di dunia. Kehidupan keberagamaan bangsa Israel masih berbasis pada dunia ini, di bumi. Itulah sebabnya, yang mereka persoalkan adalah tanah yang berlimpah susu dan madu, kejayaan kerajaan Israel, kelimpahan materi, dan segala sesuatu yang masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan jasmani.
    Ketika Yesus berkata: “carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…