Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kualitas Iman Abraham
    Pada umumnya, sebagai orang Kristen pasti kita mengaku sebagai anak-anak Abraham. Bukan berdasarkan darah daging, melainkan berdasarkan iman. Kalau orang Israel adalah keturunan Abraham berdasarkan darah daging, tetapi anak-anak Abraham secara iman adalah orang percaya yang kualitas percayanya seperti Abraham. Jika demikian, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum menjadi anak-anak Abraham karena tidak memiliki tindakan iman seperti tindakan iman Abraham. Lagipula, iman yang dimiliki orang-orang Kristen itu belumlah iman yang menyelamatkan, sebab iman yang menyelamatkan adalah tindakan seperti yang Abraham lakukan; bertindak melakukan apa yang Allah kehendaki.
    Banyak orang Kristen yang sejatinya masih menjadi anak-anak dunia. Mereka tidak bertindak seperti apa yang Allah kehendaki, tapi bertindak sesuai dengan apa yang mereka ingini—dan yang diingininya adalah hasil “suntikan” dari pengaruh dunia. Apa yang mereka lihat di dunia, diikuti. “Aku mau buat ini, aku mau buat itu; aku mau punya ini, aku mau punya itu; senanglah kalau aku pergi ke sana; senanglah aku kalau mencapai kedudukan itu; senanglah aku kalau dipuji orang,” dan seterusnya. Ini adalah gaya hidup anak-anak dunia. Sebagai anak-anak Abraham, kita harus mengikuti teladan iman Abraham yang taat sepenuhnya pada Allah Bapa, bahkan melakukan hal yang pasti bertentangan dengan keinginannya sendiri; mempersembahkan anaknya, Ishak. Sekarang di dalam kehidupan orang percaya, kita mengenal sosok Tuhan Yesus, yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yesus adalah potret atau profil dari Anak Allah. Maka kalau kita mau menjadi anak Allah, profil kita juga harus seperti Yesus.
    Jadi, bukan karena kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat lalu kita menjadi anak-anak Allah. Bukan! Itu adalah pembodohan dan sesat. Kita menjadi anak-anak Allah karena kita percaya kepada Yesus, dan percayanya itu seperti percayanya Abraham; menaati apa pun yang Allah perintahkan. Masalahnya, kita sudah menaati apa yang Allah kehendaki, belum? Seperti Yesus melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, maka kalau kita mau menjadi anak-anak Allah, kita pun harus taat seperti Yesus taat. Keselamatan memang bukan hanya karena perbuatan baik. Sebaik apa pun perbuatan seseorang, tidak akan menyelamatkan. Keselamatan terjadi karena kurban Yesus di kayu salib. Kalau kita percaya dengan kurban itu, maka kita harus memiliki kehidupan seperti yang dijalani oleh Yesus. Sebaliknya, kalau kita tidak menjalani hidup seperti yang dijalani oleh Yesus, berarti kita tidak percaya kepada-Nya.
    Yang menyesatkan banyak orang Kristen hari ini adalah pengajar, pembicara, teolog, yang mengajarkan: “Pokoknya, asalkan Saudara sudah percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, Saudara sudah menjadi anak-anak Allah.” Itu salah! Kalau Alkitab berkata: “Yang menerima-Nya diberi kuasa supaya menjadi anak-anak Allah,” yang diterima itu bukan hanya sosok Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, melainkan kebenaran yang diajarkan Yesus. Ingat, pada mulanya adalah Firman. Firman yang berkuasa menciptakan langit dan bumi, Firman itu adalah kebenaran. Jadi kalau kita menerima Yesus, berarti kita juga menerima logos, menerima kebenaran. Kalau kita tidak menerima kebenaran, maka kita tidak memiliki hak sebagai anak-anak Allah. Ingat, kuasa itu hak. Jadi, kalau kita menerima kebenaran dan hidup kita diubah oleh kebenaran itu, barulah kita memiliki hak sebagai anak-anak Allah.
    Jadi, masuk surga itu bukan tidak bersyarat. Syarat yang utama—yang tidak bisa dibayar oleh siapa pun—adalah kurban Yesus di kayu salib yang membenarkan orang percaya. Itu anugerah. Kalau orang menerima anugerah itu—yaitu dengan mengikuti jejak Yesus—maka barulah dia bisa masuk surga. Maka, tidak heran kalau Yesus berkata “orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, tidak dikenal-Nya dan dibuang.” Maksud Tuhan Yesus berkata: “Aku tidak kenal kamu, kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa,
    0 min
  • Berkat Abraham, Berkat Kekal
    Berkat Abraham yang dikatakan dalam firman Tuhan bahwa semua bangsa akan diberkati (Kej. 12:1-3), bukan berbicara tentang berkat jasmani, melainkan berkat keselamatan dalam Yesus Kristus; yaitu kembalinya manusia ke rancangan Allah semula. Maka, kita jangan mengartikannya secara duniawi. Tidak sedikit gereja yang bicara mengenai berkat Abraham menunjuk pada berkat materi, ini menyesatkan. Berkat Abraham adalah berkat kekal; yaitu keselamatan dalam Yesus Kristus. Jadi, kita tidak boleh menjadi picik, naif, dan dangkal serta miskin dalam pengertian mengenai berkat Abraham. Sekali lagi, asumsinya jangan pada berkat jasmani. Kalau kita melihat keturunan Abraham secara jasmani—secara darah daging, yaitu bangsa Israel—mereka sendiri tidak mengalami kemakmuran secara jasmani seperti bangsa-bangsa lain.
    Bangsa-bangsa lain bisa menduduki tanah airnya selama ribuan tahun dan mengalami kejayaan secara materi, sedangkan bangsa Israel tidak. Tahun 1400 SM mereka sampai ke tanah Kanaan—dimana mereka berangkat dari Mesir pada tahun 1440 SM. 700 tahun kemudian, Asyur sudah menaklukkan Israel Utara. Jadi mereka punya waktu 700 tahun. Selama 700 tahun pun tidak mengalami keadaan yang makmur, berkali-kali terjadi perang, dikuasai oleh bangsa lain atau ditekan oleh bangsa lain. Kemudian sekitar 1200 tahun kemudian, Israel bagian selatan juga dihancurkan oleh Babel. Jadi, mereka sebenarnya tidak lama menikmati negeri mereka; hanya sekitar 700 tahun sampai 900 tahun. Sebab pada tahun 586 SM, Babel menjatuhkan Yehuda. Dan yang paling tragis adalah pada tahun 70 SM ketika Jendral Titus datang dari Roma menghancurkan Yerusalem, sampai Bait Suci yang dibangun ulang pun dihancurkan.
    Sejak itu bangsa Israel tidak memiliki tanah air atau negara. Jadi, sekitar 2500 tahun bangsa Israel tidak memiliki tanah air, mereka tercerai-berai—atau istilahnya diaspora—ke seluruh dunia. Baru kemudian tanggal 14 Mei 1948, negara Israel modern berdiri. Bangsa Israel ini merupakan bangsa yang luar biasa penderitaannya. Bahkan sebelum negara Israel berdiri—tahun 1939-1945 Perang Dunia ke-2 meletus— enam juta orang Yahudi dibantai, yang dalam sejarah dikenal sebagai peristiwa holocaust. Lalu berkat Abrahamnya—jika hal materi—di mana? Tidak ada atau sedikit sekali. Kalau dibandingkan dengan negeri China, ribuan tahun mereka memiliki negerinya sendiri. Hanya beberapa tahun saja Jepang pernah datang dan menguasai sebagian kecil wilayah dari China. Oleh sebab itu, kalau kita pergi ke China, ada begitu banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Sedangkan kalau kita ke Israel, tidak banyak peninggalan sejarah bangsa itu. Negeri itu hanya penuh dengan tapak tilas dari Yesus dan tokoh-tokoh iman sehingga menarik. Namun, secara budaya kalah jauh dibandingkan dengan China, yang mana bisa menjadi objek wisata yang sangat menarik.
    Jadi, bicara mengenai berkat Abraham, jangan diasumsikan sebagai berkat jasmani. Berkat Abraham adalah keselamatan dalam Tuhan Yesus, berkat kekal. Bagaimana kita bisa memiliki berkat Abraham? Kita harus hidup seperti Abraham, artinya kita harus memiliki iman seperti Abraham. Abraham hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Ibrani 11:8 mengatakan: “Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui.” Luar biasa! Walaupun ia tidak tahu negeri itu di mana, ia taat saja dan apa pun yang diperintahkan oleh Elohim Yahweh, Allah Israel, dia lakukan tanpa berbantah. Pertanyaannya bagi kita, apakah kita memiliki kehidupan seperti ini, taat kepada Tuhan apa pun yang diperintahkan? Jangankan taat, jangan-jangan kita tahu saja belum, apa yang Tuhan mau.
    Kita jangan berpikir bahwa sebagai orang Kristen, kita cukup menjadi orang baik secara hukum moral umum. Kalau hanya begitu, tidak usah kita menjadi Kristen. Agama lain juga memiliki hukum-hukum yang secara moral umum mengajarkan kebaikan dan mereka harus menjadi ...
    0 min
  • Proses
    Satu hal yang harus kita mengerti, bahwa memahami kebenaran itu tidak bisa dalam waktu singkat, tidak bisa dipadatkan. Karena, kebenaran yang kita pahami itu bertahap. Ini paralel dengan ilmu pengetahuan yang lain seperti matematika, bahasa, dan berbagai bidang ilmu pengetahuan lainnya. Maka, proses merupakan prinsip penting di dalam kehidupan. Yesus sendiri—seperti yang kita baca dalam Alkitab—mengalami proses. Dalam Lukas 2:52 tertulis: “Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” Jadi, tidak bisa dalam sekejap seseorang itu menjadi dewasa, tidak dalam sekejap seseorang itu mengenal kebenaran; perlu sebuah proses.
    Di sini dibutuhkan waktu. Tentu waktu tidak bisa kita ciptakan. itu anugerah, pemberian dari Tuhan, sebab kita tidak bisa menambah sehasta pun umur hidup kita. Jadi, Tuhan yang memberikan waktu. Dari pihak kita, ketekunan. Tekun untuk mendengarkan kebenaran Firman Tuhan. Di balik ketekunan tersebut kita juga harus memiliki kesediaan untuk melepaskan semua hal yang membuat kita tidak fokus akan kebenaran, terutama kesenangan-kesenangan hidup, kesenangan-kesenangan yang membuat kita tidak atau kurang menyukai kebenaran. Kalau jujur, semua manusia akan mengakui bahwa banyak kesenangan yang membuat kita jadi kurang atau tidak menyenangi Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau dikatakan “kurang” atau “tidak menyukai Tuhan” mungkin berlebihan, tetapi pada dasarnya begitu, kurang dan tidak menyukai kebenaran. Banyak orang Kristen yang tidak berpikir mengenai Kerajaan Surga, tidak pernah berpikir mengenai langit baru bumi baru, tidak pernah berpikir mengenai Rumah Bapa. Bahkan ketika mendengar kata “Rumah Bapa” juga sudah membuat mereka merinding, merasa takut.
    Padahal, semestinya justru itu adalah hal yang menyenangkan, karena itu rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita. Demikian pula dengan Kerajaan Surga, banyak orang yang tidak tertarik dengan Kerajaan Surga. Mendengar kalimat “langit baru bumi baru,” mereka jadi resistan, padahal mestinya tidak. Jika kita tidak tertarik dengan hal itu, sama juga kita tidak mengasihi Tuhan, tidak menghormati Tuhan. Kalau kita tidak merindukan langit baru bumi baru namun kita merasa mengasihi Tuhan, berarti kita ditipu oleh diri kita sendiri. Sama dengan orang yang tidak sungguh-sungguh merindukan kebenaran, berarti memang ia tidak menghormati Tuhan, dan tentu orang-orang seperti ini tidak mungkin setia kepada Tuhan.
    Waktu yang Tuhan berikan adalah kesempatan untuk menghimpun, menumpuk, mengumpulkan kebenaran yang Tuhan sediakan bagi kita. Oleh sebab itu, waktu yang Tuhan berikan harus kita gunakan dengan sungguh-sungguh. Kalau perlu—dan semestinya—setiap hari kita memiliki jadwal untuk mendengarkan khotbah, membaca buku rohani. Kita tidak boleh berpikir atau tidak boleh membiasakan diri hanya pada waktu “mau atau senang dengar” saja, tapi jika sedang “tidak mau atau tidak senang dengar,” ya, tidak dengar. Tidak boleh begitu! Kita harus mendisiplin diri kita dengan menyediakan waktu secara khusus untuk mendengar khotbah; untuk belajar firman Tuhan, harus kita alokasikan waktu untuk itu. Jadi bukan pada saat kita mau mendengar khotbah saja kita mendengarkannya, dan pada waktu kita tidak mau, kita tidak mendengarkan khotbah. Dalam berolahraga juga kita tidak boleh menggunakan dasar “mau atau tidak mau.” Kalau ada selera, baru kita olahraga; tidak ada selera, kita tidak olahraga. Ini pasti tidak membuat kita memiliki tubuh yang sehat secara baik. Olahraga juga harus kita alokasikan waktunya, dan itu dijadwalkan. Apalagi hal kebenaran firman Tuhan yang menyangkut nasib kekal kita, tentu harus kita alokasikan. Jangan berpikir nanti kalau sudah longgar waktunya, kita baru belajar dengan sungguh-sungguh. Tidak boleh kita berprinsip seperti itu.
    Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga.” Kata “kumpulkan” menunjuk sebuah langkah bertahap, proses akumulasi. “Harta di surga” bisa diartikan sebagai proses ...
    0 min
  • Pertobatan Sejati
    Suatu hari nanti, ketika seseorang berada di ujung maut dimana ia tinggal memiliki sedikit lagi waktu untuk hidup—biasanya ada di ruang ICU atau ICCU dan dalam keadaan sekarat—barulah ia menghargai betapa berharganya hidup ini. Apalagi kita yang sudah mengenal sebagian kebenaran atau mengenal sedikit kebenaran atau mungkin banyak kebenaran, bahwa setiap kita harus berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan perbuatan kita. Pada waktu itu, banyak orang sebenarnya tidak siap menghadap takhta pengadilan Kristus. Mereka mengandalkan apa yang mereka miliki selama masih ada di bumi atau selama masih sehat, sebelum ada di ujung maut. Mereka tidak sungguh-sungguh mencari perkenanan Tuhan, tidak pernah sungguh-sungguh memeriksakan diri di hadapan Tuhan, bagaimana penilaian Tuhan terhadap dirinya. Mereka tidak sungguh-sungguh mempersoalkan itu.
    Mestinya kita membuat simulasi setiap hari seakan-akan kita ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Jika ada sesuatu yang tidak patut masih ada pada kita—seperti kebiasaan-kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Allah atau ada percintaan dunia—maka kita dapat segera menyelesaikannya. Jadi, waktu hidup yang diberikan Tuhan kepada kita menjadi kesempatan untuk berbenah guna mempersiapkan diri agar kelak ketika kita berhadapan dengan Tuhan, kita didapati benar-benar tidak bercacat dan tidak bercela. Tetapi sayang sekali, banyak orang menyia-nyiakan waktu yang Tuhan berikan. Fokus hidupnya ditujukan kepada banyak hal yang tidak terkait atau tidak berdampak positif untuk kehidupan rohaninya. Banyak orang yang tenggelam dengan kesenangan-kesenangan jiwa seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia—yaitu keinginan mata, apa yang orang lain miliki, ingin ia miliki, dan juga keangkuhan hidup mengingini sebuah kehormatan, pujian, dan sanjungan manusia. Ini satu hal yang biasa dilakukan oleh semua orang. Tetapi yang mestinya kita lakukan adalah bagaimana kita dengan sungguh-sungguh membenahi diri agar kita benar-benar didapati Tuhan tidak bercacat dan tidak bercela.
    Sejatinya, fokus hidup kita hanya untuk hal ini saja, lebih dari segala fokus hidup lainnya—bahkan mestinya ini menjadi agenda kita satu-satunya. Ketika seseorang ada di ujung maut, biasanya orang baru sadar betapa berharganya 1 menit, 1 jam, 1 hari waktu hidupnya. Sebab untuk membenahi diri, seseorang membutuhkan waktu tertentu atau stadium tertentu. Masalahnya, ada orang-orang yang tidak sanggup lagi bukan saja membenahi diri untuk berkenan, melainkan juga untuk memercayai keberadaan Allah. Ia tidak sanggup percaya bahwa Allah itu ada, dan memang barangkali di ujung maut itu Allah juga sudah tidak menyertai dia karena selama hidupnya ia juga tidak menyertai Tuhan, tidak menyertai pekerjaan-Nya, tidak belajar kebenaran—yang dalam pembahasan ini kita istilahkan “tidak menyertai Tuhan.” Orang seperti ini hanya mau disertai Tuhan karena ia mau memanfaatkan Tuhan.
    Tuhan Yesus berkata: “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan, kepadamu aku tetapkan hak-hak bagi Kerajaan-Ku.” Artinya, orang seperti ini yang akan mendapat kemuliaan bersama Yesus, yaitu mereka yang setia. Banyak orang Kristen tidak setia, sama sekali tidak memikirkan perasaan Bapa di surga dan sama sekali tidak memikirkan apa penilaian Tuhan terhadap dirinya. Yang mereka persoalkan adalah bagaimana mereka dapat memiliki uang banyak, memiliki berbagai fasilitas yang juga dimiliki orang lain, menjadi terhormat di mata manusia, dan lebih konyol lagi kalau sampai mereka hidup di dalam dosa, hidup di dalam kejahatan, hidup di dalam pemuasan nafsu. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang tidak takut Tuhan dan tidak menghormati Tuhan dengan pantas. Jangan berpikir kalau di ujung maut baru minta ampun, bertobat, lalu dibawa Tuhan ke surga. Mereka mau mengakal-akali Tuhan, mau menipu Tuhan.
    Tuhan tidak bisa ditipu! Kalau pada dasarnya seseorang memang tidak mengasihi dan tidak menghormati Tuhan—walaupun di ujung ...
    0 min
  • Bukan Upah di Bumi
    Kalau kita memperhatikan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan di dalam Ibrani 11:6 bahwa orang yang mencari Allah akan mendapatkan upah, upah apakah yang diberikan kepada orang yang mencari Allah? Kalau kita membaca Ibrani 11, upah yang mereka peroleh ternyata bukan di bumi ini, dan ini lolos dari pengamatan banyak orang. Habel beriman, tapi mati. Kalau Henokh, beriman kemudian dia diangkat hidup-hidup. Nuh tidak dapat upah apa-apa. Dia sudah berlelah membuat bahtera, ternyata tidak mendapat sesuatu. Ini berarti upah yang mereka peroleh bukan di bumi ini. Abraham, apalagi. Sampai mati, Abraham tidak mendapatkan negeri atau tidak menemukan negeri yang Allah janjikan itu.
    Jadi, upah yang dimaksudkan dalam Ibrani 11 itu bukan di bumi ini. Mereka tidak mendapatkan apa-apa di bumi. Ironis sekali kalau orang Kristen hari ini mau mendapatkan upah di bumi. Bahkan, memberikan persembahan pun dijanjikan akan dilipatgandakan. Betapa kelirunya itu. Kalau kita membaca firman Tuhan, Alkitab Perjanjian Baru khususnya, mereka yang mengikuti Yesus tidak mendapatkan upah apa-apa di bumi. Yang ada adalah penderitaan, kematian dengan cara yang keji, dan sampai akhir hidup mereka menjadi orang yang menderita. Apalagi pada zaman gereja mula-mula, mereka bukan saja hanya kehilangan harta, melainkan juga keluarga, bahkan nyawa mereka.
    Itulah sebabnya berkali-kali Tuhan Yesus mengatakan: “upahmu besar di surga.” Kamu akan mendapatkan 100 kali lipat itu nanti, di langit baru bumi baru. Di dunia sekarang memang bisa memperoleh 100 kali lipat dalam arti sukacita dan damai sejahtera yang kita dapat peroleh, tapi yang secara fisik nanti, di langit baru bumi baru. Alkitab menulis di dalam Ibrani 11:39-40, “dan mereka semua tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu sekalipun iman mereka telah memberikan kepada mereka suatu kesaksian yang baik, sebab Allah telah menyediakan sesuatu yang lebih baik bagi kita. Tanpa kita, mereka tidak bisa sampai ke kesempurnaan.” Artinya, tanpa kita, mereka tidak lengkap. Mengapa dikatakan begitu? Sebab, pada dasarnya upah yang diberikan Allah kepada orang-orang yang mengasihi Allah di Perjanjian Lama adalah kehidupan yang akan datang, bukan kehidupan di bumi ini.
    Tetapi kehidupan yang akan datang tidak akan terwujud kalau orang percaya belum genap jumlahnya untuk menjadi pewaris Kerajaan Surga yang berkualitas corpus delicti. Jadi, Rajanya sekarang sudah ada, yaitu Tuhan Yesus. Wilayahnya pasti ada, Allah siapkan. Tetapi, yang belum cukup atau belum lengkap adalah orang-orang yang harus menjadi corpus delicti atau orang-orang yang sekarang sedang mengikuti perlombaan yang diwajibkan namun belum selesai. Maka dikatakan: “tanpa kita, mereka tidak sempurna,” artinya kitalah orang yang ditunggu untuk memenuhi penggenapan semua yang dijanjikan Allah kepada umat Perjanjian Lama. Yesus merupakan penggenapan dari seluruh rencana Allah, dan orang percaya yang dikatakan oleh Paulus sebagai mengambil bagian dalam penderitaan Kristus untuk memenuhi rencana Allah dimana Injil harus diberitakan sampai ke ujung bumi, barulah genap waktunya.
    Tentu maksud Injil diberitakan ini, di dalamnya termasuk dilahirkannya manusia-manusia yang serupa dengan Yesus atau manusia-manusia yang berkualifikasi corpus delicti. Oleh sebab itu, kalau kita melihat tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama sudah memiliki jiwa kemusafiran, mestinya kita sebagai orang Kristen juga harus sudah memiliki jiwa kemusafiran bahwa dunia ini bukan rumah kita. Abraham saja memiliki jiwa kemusafiran, namun orang Kristen betah di dunia dan berasa berhak memperoleh upah di bumi ini. Padahal, umat Perjanjian Lama sendiri tidak mencari dan memperoleh upah di bumi.
    Oleh sebab itu, mari kita memahami kebenaran Alkitab. Kita hidup di dunia hanya untuk memenuhi rencana Allah, yaitu bagaimana kita memiliki karakter seperti Kristus dan berkorban seperti yang dilakukan Yesus, sehingga hidup kita memang disita penuh untuk proses perubahan karakter dan untuk pengabdi...
    0 min
  • Keturunan Orang Benar
    Berkali-kali dikemukakan dan kita dengar, hidup ini tragis. Dan ke depan akan semakin tragis, artinya dunia semakin membuat manusia yang hidup di dalamnya merasa tidak nyaman. Ancaman perang dunia dengan persenjataan nuklir, bom kimia, dan lain-lain, itu menakutkan. Krisis ekonomi yang tidak pernah sembuh, keadaan kritis karena pandemi seperti COVID-19, krisis sosial ekonomi, belum lagi ekosistem bumi, munculnya tsunami, bencana alam, erupsi, ekosistem bumi yang rusak, global warming, dan sebagainya. Ini harus terus diingatkan kepada kita. Kita tidak tahu anak cucu kita akan menghadapi keadaan seperti apa di hari esok. Mengerikan. Hidup di bumi ini tidak ada optimisme. Dunia makin memburuk, tetapi apakah berarti lalu kita menjadi pesimis? Tidak. Kita optimis.
    Kita optimis menyambut kedatangan Tuhan, optimis menyambut Kerajaan yang akan dibangun Tuhan di langit baru bumi baru. Yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana kita hidup sesuai dengan kehendak Allah, hidup tidak bercacat, tidak bercela, tidak terikat dengan dunia, agar kita menjadi kekasih Tuhan. Dengan kehidupan seperti ini, sebenarnya kita menjagai anak cucu kita. Tuhan menjagai anak cucu orang yang takut akan Dia; orang yang benar. Kalau Alkitab berkata: “Allah tidak membiarkan anak cucu orang benar sebagai peminta-minta,” lalu dinyanyikan oleh kebanyakan orang Kristen atau hampir oleh semua orang Kristen, dan mereka merasa anak cucu mereka tidak akan menjadi peminta-minta, itu salah. Itu keliru.
    Yang “tidak menjadi peminta-minta” itu bukan orang yang mengaku kebenaran ayat Alkitab, tetapi yang menjadi benar. Orang benar, anak cucunya tidak akan meminta-minta, lalu kita berkata: “Amin… Amin…” seakan-akan anak cucu kita tidak akan pernah mengalami keadaan sebagai peminta-minta. Kita lupa bahwa kita hanya mengaminkan ayat tersebut, tetapi tidak menjadi orang benar. Kita harus melihat diri kita, apakah kita orang sudah benar, sudah takut Allah atau belum, sudah menjadi kekasih Allah atau belum? Faktanya, banyak orang Kristen yang hidup di dalam dosa; orang yang tidak meninggalkan percintaan dunia, yang tidak sungguh-sungguh membela pekerjaan Tuhan, pelit untuk pekerjaan Tuhan. Kalau untuk membeli barang, membeli sesuatu bagi dirinya sendiri, berapa pun dianggarkan. Tapi untuk pekerjaan Tuhan, begitu perhitungan. Sebenarnya, jika seesorang masih perhitungan dengan Tuhan, maka uangnya pun tidak layak untuk Tuhan.
    Dulu ada seorang pendeta yang berpikir, orang yang tidak memberikan kekayaannya bagi Tuhan, pasti dihukum karena dia tidak memberikan uangnya. Satu sisi itu benar, tapi di sisi lain, pendeta itu tidak tahu atau belum tahu kalau seandainya dia memberikan uangnya pun, uangnya tidak layak untuk Tuhan. Artinya sekalipun dia memberikan uang, dia tetap masuk neraka karena kehidupannya tidak sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, jangan berpikir kalau orang memberikan uangnya dalam jumlah besar kepada Tuhan berarti ia masuk surga. Belum tentu. Keadaan batiniahnya yang menentukan apakah persembahan itu layak atau tidak, berkenan atau tidak. Jadi, kalau kita melihat orang kaya tidak memberikan persembahan, tidak usah sakit hati, tidak usah marah, karena uang dia tidak layak untuk Kerajaan Surga. Dunia kita ke depan makin sulit. Kita punya uang sebanyak apa pun tidak akan bisa melindungi anak cucu kita. Kita kenal pejabat tinggi, aparat keamanan sehebat apa pun, tidak akan bisa melindungi diri kita sendiri dan anak cucu kita selama 24 jam.
    Maka, kita jangan sombong. Kalau hari ini kita kaya, memiliki relasi pejabat tinggi di sana-sini, kita merasa bahwa kita bisa menghadapi segala kesulitan dengan kekuatan uang dan relasi, itu tidak akan lama. Satu kali kita akan “dibotaki” oleh Tuhan; digunduli, dilucuti sampai kita tidak bisa buat apa-apa. Setiap kita pasti akan dilucuti Tuhan. Sebelum Tuhan “melucuti” diri kita, mari kita “lucuti” diri kita sendiri sekarang. Maksudnya adalah kita mau menjadi orang yang mau menghayati Allah seb...
    0 min
  • Tidak Memiliki Apa pun dan Siapa pun
    Orang-orang beriman adalah orang-orang yang dikondisikan untuk tidak memiliki apa-apa, kecuali Tuhan. Bagi Abraham, mungkin milik yang dipandang paling berharga dan satu-satunya di hari tuanya adalah Ishak. Tapi, Tuhan mau Ishak dipersembahkan untuk Allah. Abraham melakukan tanpa ragu. Mengapa? Sebab ia merasa tidak memiliki apa-apa dan siapa pun kecuali Tuhan, Majikan, Allah Yahweh yang ia cintai. Cinta dan hormatnya kepada Elohim Yahweh lebih besar dan dalam dari sayangnya kepada Ishak. Ini merupakan pelajaran yang berharga untuk kita. Jika kita mau menjadi orang yang beriman dengan benar, maka sikap hidup kita harus seperti Abraham yang merasa tidak memiliki apa pun dan siapa pun. Atau pun kalau kita memiliki keluarga, pasangan hidup, orangtua, anak dan lainnya, maka cinta kasih kita terhadap Tuhan harus melebihi cinta kasih kita kepada mereka. Kalau kita harus kehilangan keluarga demi iman kita kepada Yesus Kristus, jangan anggap hal itu merupakan suatu hal yang luar biasa. Itu adalah hal standar.
    Jadi, kalau ada anak muda yang berpacaran dengan seseorang yang beragama lain dan kamu tidak memutuskan hubungan itu, maka kamu akan kehilangan Tuhan selamanya. Kamu akan binasa, dan penyesalanmu tidak dapat kamu bayangkan hari ini. Alkitab menyebutnya dengan “ratap tangis dan kertak gigi.” Dan itu sungguh mengerikan. Kalaupun kamu menikah dan bahagia, itu pun tidak lebih dari 50 tahun. Namun, penderitaanmu kekal di api neraka dan terpisah dari Allah. Maka kamu harus tegas mengatakan: “tidak!” Terhadap pacarmu atau calon pasangan hidupmu. Namun kalau kamu merasa keberatan, silahkan. Tuhan saja tidak memaksa. Di sini saya mengingatkan bahwa kamu akan sangat celaka.
    Itulah sebabnya Yesus berkata, kalau orang mau ikut Dia, maka kamu harus melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah. Sebab orang beriman itu adalah orang yang kepentingannya hanya Tuhan saja. Itulah sebabnya, pada gereja mula-mula, bagaimana Tuhan memurnikan kekristenan dengan membuat orang Kristen tidak memiliki apa-apa, teraniaya, harta dirampas, keluarga ditawan, harga diri diinjak-injak, diikat di tiang dan dibakar hidup-hidup, dilepas di Colloseum bersama binatang buas dan ditonton ribuan orang sambil menyorakinya. Bayangkan! Tetapi dengan cara inilah orang-orang memiliki iman yang benar.
    Banyak orang mengaktualisasi diri dengan mencari kedudukan, pangkat, gelar, harta, penampilan. Bahkan orang-orang yang di lingkungan pelayanan pun mengaktualisasi diri dengan menjadi pendeta yang besar, terhormat, menjadi pimpinan di sebuah lembaga Kristen atau gereja atau sinode; cari panggung. Orang seperti ini adalah orang yang belum meninggalkan dirinya dan belum selesai dengan dirinya sendiri. Dia belum bisa dikatakan sebagai orang merdeka. Sebab, orang merdeka adalah orang yang tidak memiliki apa-apa. Tentu dalam konteks ini, orang merdeka adalah orang yang telah menyerahkan segenap hidupnya untuk Tuhan.
    Harus dipahami dengan benar bahwa “tidak punya apa-apa” bukan berarti kita sengaja menjadi orang miskin. Tidak memiliki apa-apa berarti orang yang mau memberikan segalanya untuk kepentingan Tuhan, dan ini pun tidak berarti semuanya diberikan ke gereja. Seseorang harus memiliki kepekaan bagaimana mengelola uang yang Tuhan percayakan ini. Bagaimana menyelenggarakan atau mengolah harta kita yang sejatinya adalah harta Tuhan. Kalau orang beriman yang benar, ia akan berhitung ketika ia mau membelanjakan uangnya. Bukan soal berapa jumlah uang yang dimiliki, apakah seimbang dengan barang yang akan dibeli. Tetapi yang harus dipertimbangkan adalah apakah yang kita beli menyenangkan hati Allah atau tidak. Atau sebaliknya, kita membeli sesautu yang karenanya kita menjadi lebih terpandang, terhormat atau merasa diri puas, seperti pakaian, arloji, mobil, rumah, dan lain sebagainya. Ini adalah bentuk pengkhianatan terhadap Tuhan.
    Kalimat ini tidak bermaksud untuk melukai orang kaya, namun orang kaya memang sukar masuk surga karena terkondisi demiki...
    0 min
  • Belajar Beriman dengan Benar
    Orang yang sungguh-sungguh belajar beriman dengan benar pasti dapat menyadari bahwa ternyata memiliki iman yang benar itu tidak mudah. Sulit. Dikatakan bahwa “iman tanpa perbuatan, seperti tubuh tanpa roh.” Perbuatan apakah yang menunjukkan imannya, atau perbuatan apakah yang berkualitas sebagai ekspresi atau perwujudan iman? Kalau hanya berbuat baik, itu bukan atau belumlah iman standar seperti yang Allah kehendaki. Memang dalam Yakobus 2 dikatakan: “Kamu mengatakan beriman, tetapi kamu lihat saudaramu yang tidak pakai pakaian, kamu tidak memberi pakaian. Kamu lihat saudaramu yang kedinginan, kau biarkan. Kau melihat saudaramu yang lapar, kau diamkan.” Itu bukan iman. Itu iman yang mati. Tetapi bukan berarti kalau ada orang tidak pakai baju, kita berikan baju, berarti kita beriman. Bukan berarti kalau kita melihat orang tidak memiliki makanan, kita beri makanan, berarti kita sudah beriman. Itu hanya contoh.
    Jadi, ketika seseorang melihat orang lain di dalam kekurangan, kalau tidak memberi apa-apa juga tidak bisa dikatakan melanggar hukum pada zaman itu. Sebab, tidak melanggar Sepuluh Perintah Allah. Tidak ada keharusan. Orang yang tidak memberi makan orang yang lapar, bukan suatu dosa. Itu kerelaan. Sama seperti kisah mengenai orang Samaria yang baik hati. Ketika ada orang yang dirampok habis-habisan, lalu lewat seorang rohaniwan—tokoh agama Yahudi—ia melihat orang yang dirampok dan sekarat itu, dia menyimpang. Dia mengambil jalan lain. Dia sengaja membiarkan. Berdosakah dia? Tidak salah, karena tidak ada keharusan. Orang tidak memberi makan orang lapar, itu bukan dosa, karena dipandang dari Hukum Taurat, hal tersebut tidak melanggar hukum. Tetapi, dosa di mata Allah.
    Bagi umat Perjanjian Baru, iman itu berarti melakukan apa pun yang Allah perintahkan untuk dilakukan, atau memenuhi proyek yang Tuhan berikan. Seperti di Lukas 16, ada orang kaya yang setiap hari berpesta pora. “Setiap hari,” kata Alkitab. Ia memakai jubah ungu, tanda bahwa ia adalah seorang yang kaya. Sementara, ada Lazarus yang tergeletak kelaparan di depan pintu rumahnya. Dia tidak harus memberi roti. Dia kenal Taurat, sebab ketika dia sudah mati, Abram berkata “di bumi ada Taurat,” dan ada hukum, jadi dia tahu Taurat. Tetapi, tidak memberi makan orang lapar, bukan berarti melanggar Taurat. Itu proyek. Dia tidak melakukan proyek itu. Itu berarti tidak beriman.
    Jadi, kalau kita diberi proyek—misalnya orang yang tidak punya pakaian, kedinginan—dan kita tidak memberinya pakaian, itu berarti kita tidak beriman. Tetapi bukan hanya satu kali kasus itu, masih banyak kasus lain yang Tuhan akan berikan. Ketika kita lihat orang lapar, kita tidak memberinya makanan—memang secara hukum tidak berdosa, tetapi berarti kita tidak beriman. Memang bukan berarti kalau ada orang lapar dan kita memberinya makanan, berarti kita sudah beriman. Belum tentu. Karena itu baru satu proyek. Beriman itu artinya sampai akhir kita melakukan apa pun yang Tuhan percayakan kepada kita. Satu Lazarus Tuhan kirim, kita selesaikan, kita bantu, kita tolong. Tuhan kirim lagi Lazarus yang lain. Tuhan beri kita satu proyek, kita kerjakan dengan baik, Tuhan beri proyek yang lain.
    Dulu ada seorang pendeta yang berpikir, “kalau satu orang saya tolong, lalu muncul lagi orang yang lain, capek nanti hidup saya.” Tapi kemudian Tuhan tegur dia, bahwa Tuhan tidak akan memberikan kepadanya proyek yang dia tidak bisa kerjakan. Jadi, kalau Tuhan memberi kita proyek, berarti Tuhan pun memberi kita kemampuan untuk menyelesaikan proyek tersebut. Jika kita meresponsnya dengan benar, Tuhan pasti akan memberikan kita proyek-proyek yang lebih besar, dan Tuhan pasti melengkapi kebutuhan kita guna menyelesaikan proyek-proyek tersebut. Kita harus mengerti hal ini, bahwa Tuhan akan membawa kita kepada keadaan-keadaan tertentu yang melalui keadaan-keadaan itu kita dilatih beriman. Bukan hanya menghadapi Lazarus-Lazarus yang harus kita tolong, melainkan juga menghadapi orang-orang yang berbuat jahat...
    0 min
  • Manusia Unggul
    Di dalam Ibrani 11:6 tertulis, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah, sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Apa sebenarnya yang dimaksud “iman” di sini? Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. Kalau kita memperhatikan iman yang dibicarakan dalam Ibrani 11, ini adalah iman dari orang-orang yang hidupnya luar biasa. Sebelum ayat yang ke-6—dari ayat 1—disebutkan mengenai Habel, Henokh, Nuh, Abraham, Ishak, Yakub. Mereka adalah orang-orang istimewa; orang-orang yang benar-benar unggul. Tidak sama dengan manusia pada umumnya, mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki keunggulan lebih dari manusia pada umumnya. Dikisahkan satu per satu betapa hebatnya manusia-manusia ini pada zamannya. Dengan demikian, secara tidak langsung hendak dikatakan kepada kita bahwa orang yang memiliki iman yang benar adalah orang yang memiliki keunggulan di dalam hidup. Sehingga mereka menyatatkan sejarah hidup yang luar biasa, yang dapat menjadi pelajaran bagi generasi-generasi berikutnya.
    Kita bertanya kepada diri kita sendiri: “Apakah kita memiliki iman seperti yang dimaksudkan dalam Ibrani 11:6 ini?” Pertanyaan itu sama dengan: “Apakah kita memiliki keunggulan yang lebih dari orang-orang di sekitar kita?” Ini masalahnya. Keunggulan apa yang kita miliki yang menandai iman yang kita miliki? Tentu “keunggulan” di sini tidak boleh diartikan sama dengan keunggulan yang dimiliki manusia pada umumnya. Manusia dianggap unggul kalau populer, kaya, berkedudukan tinggi, berkuasa, dan lain sebagainya. Tetapi keunggulan dalam konteks iman adalah orang-orang yang melakukan kehendak Allah, yang oleh karena melakukan kehendak Allah, mereka harus mengorbankan segala sesuatu. Contohnya Nuh, ia harus mempertaruhkan hidupnya demi rencana Allah menghukum dunia ini. Abraham meninggalkan Ur-Kasdim demi menjadi bapak orang percaya yang hidup imannya bisa menjadi teladan dan inspirasi umat pilihan Perjanjian Baru, sekaligus kesetiaannya untuk memiliki kemusafiran, dan itu juga bisa menjadi inspirasi orang percaya Perjanjian Baru untuk hidup sebagai musafir. Ini luar biasa.
    Keunggulan manusia-manusia ini adalah mereka hidup sepenuhnya hanya untuk Allah. Orang-orang yang hidup sepenuhnya untuk Allah sama dengan orang yang selalu hidup di hadirat Allah. Orang yang selalu menghayati kehadiran Allah, sehingga dalam segala hal yang dilakukannya selalu disesuaikan, apakah itu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Pada waktu kita bercakap-cakap dengan orang di meja makan sambil ngopi, kita pun menghayati kehadiran Allah di situ; waktu kita sedang rapat, sedang berbicara di ruang tunggu, waktu kita bisnis, waktu kita dagang, pada waktu kita mengajar kalau kita guru, atau pada waktu kita di rumah sakit sebagai tenaga medis, atau kita sedang menjalankan tugas sebagai praktisi hukum, kita selalu melakukan itu di hadirat Allah. Kita tidak melakukan sesuatu supaya kita terhormat, dihargai manusia, atau kita memiliki keuntungan, atau supaya kita menjadi orang yang populer. Tetapi kita melakukan semua itu hanya untuk kesukaan Allah.
    Ingat Firman Tuhan mengatakan: “Orang yang berpaling kepada Allah, harus percaya bahwa Allah ada. Sebab tanpa iman, tidak mungkin orang berkenan kepada Allah.” Ingat itu! Orang yang berpaling pada Allah harus percaya bahwa Allah itu ada. Ini jangan hanya dipahami secara nalar saja dan setuju bahwa itu Firman Tuhan, tetapi kita harus menghidupi Firman ini dan menjadikan pengalaman hidup konkret kita. Kalau kita membaca tokoh-tokoh iman yang disebut sebagai orang beriman dalam Ibrani 11—Habel—dia memberi yang lebih baik. Ini bicara soal sikap hati. Henokh, bergaul dengan Allah di tengah-tengah masyarakat, di ujung dunia yang mau dihancurkan di zaman Nuh, dimana orang-orang berlaku sangat jahat, tapi Henokh berjalan dengan Allah.
    0 min
  • Memberhalakan Masalah
    Setiap manusia yang hidup di muka bumi ini tidak mungkin lepas dari persoalan, tidak mungkin lepas dari masalah, problem, kesulitan, dan kesukaran hidup. Tetapi yang penting adalah bagaimana kita bereaksi atau merespons masalah-masalah tersebut. Tentu kita tahu bahwa “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia.” Yang itu berarti, persoalan-persoalan hidup kita menjadi sarana Allah untuk mendewasakan kita. Tetapi secara fakta, secara faktual, banyak orang Kristen yang tidak bereaksi atau merespons masalah dengan bijak. Pada umumnya, orang bersungut-sungut, marah, kesal terhadap masalah yang harus dihadapinya. Dan biasanya, dia akan mencari kambing hitam atau mencari penyebab dari persoalan tersebut. Hal inilah yang membuat persoalan, kesulitan, kesukaran, problem tidak membuahkan buah yang baik dalam kehidupan rohani seseorang. Artinya, persoalan-persoalan tersebut tidak membuat dirinya menjadi dewasa, tapi sebaliknya, membuat ia makin terpuruk dalam ketidakdewasaan.
    Orang-orang seperti ini yang marah kesal terhadap masalah yang dihadapi dan mencari kambing hitam atau penyebab adanya persoalan itu—yaitu membangkitkan kebencian, dendam terhadap orang lain—ini berarti dia memberhalakan masalah. Bukannya menerima masalah sebagai berkat kekal yang di dalamnya mengandung nasihat kebenaran-kebenaran untuk mendewasakan, tetapi malah bersungut-sungut, dan melahirkan kebencian terhadap orang yang dijadikannya sebagai penyebab dari persoalan tersebut. Ini namanya memberhalakan masalah. Orang yang memberhalakan masalah adalah orang yang tidak mungkin bisa memuliakan Tuhan. Tidak mungkin. Sejatinya, orang seperti itu, dia memuliakan dirinya sendiri. Sebab kalau orang benar-benar memuliakan Tuhan, apa pun yang dialaminya dia jadikan sebagai berkat kekal karena di dalamnya pasti ada hikmah. Dan hikmah atau hikmat atau kebenaran itu mendewasakan rohaninya.
    Dan orang yang sungguh-sungguh menganggap masalah itu adalah berkat kekal, dia akan mengucap syukur. Ia tidak lagi berpusat pada dirinya sendiri atau egosentris, tapi teosentris. Jadi, orang yang masih memberhalakan masalah adalah orang yang egosentris, tidak teosentris. Selain dia tidak mengalami perubahan pendewasaan rohani melalui persoalan tersebut, dia juga menambah jumlah orang yang dia benci, dia membangun kepahitan, kemarahan kepada objek tertentu atau orang tertentu, dan tanpa sadar, secara tidak langsung dia juga mempersalahkan Allah, “Mengapa Allah mengizinkan keadaan ini?”
    Tapi sebaliknya, kalau orang mengerti bahwa Allah mengasihi dirinya, maka dalam kamus hidup orang Kristen tidak ada kata “kecelakaan, musibah” atau “bencana,” karena semua yang terjadi pasti memuat berkat kekal, maka ia akan mengucap syukur kepada Tuhan. Ia tidak membuat atau menambah jumlah orang yang dia benci karena memang tidak ada orang yang boleh dibenci. Kita harus mengasihi semua orang. Dia tidak membangun kepahitan di dalam dirinya, tapi belajar melepaskan pengampunan. Dan memang mengampuni itu sakit. Tetapi dengan cara begitu, seseorang didewasakan. Dan orang yang tidak memberhalakan masalah, baru benar-benar meninggikan Tuhan dan Tuhan tersanjung kepada orang-orang seperti ini. Dia tidak akan mempersalahkan Tuhan, dia tidak marah kepada Tuhan, dia akan berterima kasih karena kejadian itu pasti memuat atau mengandung kebenaran yang mendewasakan dirinya. Inilah orang-orang yang bisa disebut “telah selesai dengan dirinya sendiri.”
    Orang yang telah selesai dengan dirinya sendiri, orang yang tidak akan menuntut Tuhan membahagiakan dirinya. Bahkan ketika Tuhan membawa dia keadaan-keadaan sulit, bahkan seakan-akan Allah sendiri yang melukai dia, dia tetap mengucap syukur dan memercayai Allah, seperti Yesus yang walaupun—seakan-akan—Bapa tidak membela Dia, Dia mati di kayu salib dengan keadaan begitu mengerikan, begitu miris, begitu keji. Dia tetap menaruh percaya kepada Bapa di surga, tidak menaruh curiga, dan Dia berkata,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…