Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Relasi Keselamatan dan Pengampunan
    Keselamatan dapat dilihat dari tiga dimensi: dimensi masa lalu, masa kini, dan masa mendatang. Keselamatan pada dimensi masa lalu adalah ketika Yesus mati di atas kayu salib untuk menghapus dosa manusia. Dosa-dosa yang telah dan akan dilakukan manusia telah dihapuskan oleh kematian-Nya. Pada dimensi masa kini, keselamatan berbicara mengenai bagaimana individu dikembalikan kepada rancangan Allah semula yang standarnya ditentukan oleh Allah sendiri. Standar manusia ideal yang dikembalikan pada rancangan semula merujuk pada Pribadi Yesus. Sedangkan pada dimensi masa mendatang, keselamatan berbicara mengenai kedatangan Tuhan kembali untuk mengakhiri sejarah dunia. Dimensi keselamatan pada masa mendatang ini merupakan kulminasi atau puncak kesempurnaan dari proyek keselamatan dalam Tuhan Yesus.
    Jika dikaitkan dengan pengampunan, terdapat pertanyaan: “sebenarnya apakah kita yang terlebih dahulu diampuni oleh Tuhan atau mengampuni orang dahulu baru diampuni Tuhan?” Hal ini dapat dipertanyakan mengingat Tuhan berkata bahwa kita tidak dapat diampuni apabila tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita (Mat. 6:12). Namun di sisi lain, pada dimensi keselamatan masa lampau dikatakan bahwa kita telah diampuni oleh Tuhan. Jadi dapat timbul kebingungan, apakah sebenarnya Allah terlebih dahulu mengampuni manusia; atau manusia harus mengampuni sesamanya terlebih dahulu baru diampuni Allah?
    Ditinjau dari peta besar keselamatan, inisiatif penyelesaian dosa pertama-tama dilakukan oleh Allah. Allah dalam karya-Nya menyelesaikan dosa manusia melalui pengurbanan Yesus. Namun dalam perjalanan hidup sehari-hari, kita pasti menemukan orang-orang yang melukai, menyakiti, dan merugikan kita. Dalam hal inilah Tuhan menghendaki kita untuk menjadi seperti Dia. Setiap orang percaya harus menghidupi keselamatan dimensi masa kini dengan menghidupi gaya hidup Yesus. Salah satu gaya hidup tersebut adalah gaya hidup yang bermurah hati dalam memberi pengampunan. Tuhan menghendaki kita untuk menjadi seperti Dia dalam memberikan pengampunan.
    Ketika dipertanyakan apakah kita mengampuni orang lain dulu baru Allah mengampuni kita, atau Allah dulu mengampuni kita baru kita mengampuni orang lain? Pertanyaan ini sebenarnya sulit dijawab karena tidak tepat. Mengapa tidak tepat? Karena kita harus melihat peta besar dulu. Dosa kita diselesaikan di kayu salib, tetapi karakter kita belum selesai. Kita masih memiliki cacat karakter yang harus diselesaikan dengan perubahan paradigma yang konsisten. Oleh karenanya, Tuhan pasti mempertemukan kita dengan orang yang merugikan atau menyakiti kita untuk mengobati hal tersebut. Melalui hal inilah kita hendak disempurnakan oleh-Nya. Tuhan pasti memberikan peristiwa hidup yang menstimulasi atau merangsang kita untuk marah, terluka, dan sebagainya. Sebab, dalam Roma 8:28 dikatakan bahwa Ia bekerja dalam segala perkara mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi-Nya. “Segala perkara” di sini tentunya mencakup orang-orang yang hadir secara sengaja atau tanpa sengaja melukai dan merugikan kita.
    Hal ini Tuhan lakukan dengan tujuan untuk membersihkan diri bagian terdalam kita yang tidak tampak secara kasat mata. Dari luar, mungkin kita merasa baik-baik saja. Akan tetapi setelah mengalami permasalahan, kita baru dapat memahami apa yang masih menjadi kelemahan diri kita. Sehingga, kita tidak perlu heran apabila Tuhan mengizinkan ujian berupa pengkhianatan, fitnah, atau perlakuan tidak adil hadir dalam hidup kita. Tuhan hendak membersihkan “sampah-sampah” tersembunyi di kedalaman jiwa kita. Dalam level atau stadium tertentu, biasanya kita tidak merasa sakit. Misalnya ditipu 10 juta rupiah. Namun ketika diizinkan Tuhan ditipu 10 miliar rupiah, barulah tampak bahwa ternyata kita bisa memaki, mengumpat, bahkan mencelakai orang lain karena sejumlah uang tersebut. Tuhan mengizinkan level atau stadium ujian tertentu hadir dalam hidup kita untuk menyempurnakan kita.
    Jadi,
    0 min
  • Tindakan Konkret
    Dalam Matius 6:12 tertulis “dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;” dalam teks aslinya, berbunyi: Καὶ ἄφες ἡμῖν τὰ ὀφειλήματα ἡμῶν Ὡς καὶ ἡμεῖς ἀφήκαμεν τοῖς ὀφειλέταις ἡμῶν (Yun. kai aphes hemin ta opheilemata hemon Hos kai hemeis aphekamen tois opheiletais hemon).
    Kata “ampunilah;” aphes (ἄφες), agak jarang dijumpai. Dari kata aphiemi (ἀφίημι) yang sebenarnya berarti send off or away (mengirimkan atau pergi), let go (membiarkan pergi), as a legal term divorce (sebagai sebuah istilah resmi dalam perceraian), abandon (meninggalkan), leave behind (meninggalkan di belakang). Kata ini sendiri sebenarnya cukup unik. Secara etimologis, kata “ampunilah” berarti mengirim atau pergi, melepaskan (sebagai istilah teknis perceraian) atau meninggalkan. Hal ini mengesankan bahwa pengampunan itu bukanlah suatu hal yang hanya bersifat pikiran atau aktivitas hati, melainkan suatu hal dalam tindakan konkret. Mengampuni tidak terjadi hanya secara abstrak saja di dalam pikiran, melainkan diterjemahkan dalam perbuatan nyata. Bagi pihak yang memberi ampunan, secara tidak sadar sudah tergores dalam hatinya bahwa mengampuni itu membalut perasaan marah, dendam, atau sakit hatinya. Padahal, itu hanya ada di area pikiran saja atau aktivitas hati.
    Kata aphiemi terkait dengan Matius 27:50, ketika Tuhan menyerahkan nyawa-Nya. Kata “menyerahkan nyawa” di sini adalah ἀφῆκεν τὸ πνεῦμα (Yun. Apheken to pneuma). Setelah Yesus berteriak, kemudian Ia menyerahkan nyawa-Nya. Menarik, bahwa kata “menyerahkan” memiliki akar kata yang sama dengan yang digunakan dalam kata “ampunilah.” Kasus bahasa semacam ini juga dapat kita temukan pada bagian lain. Seperti misalnya kata “pecah” di dalam Yesaya 14:12. Kata “pecah” ada banyak dalam bahasa Ibrani. Tapi ternyata, dalam teks aslinya bukan “pecah” melainkan “dipotong; cut down.” Hal tersebut menyiratkan bahwa Lusifer “dipotong” atau “dicopot” dari posisinya yang semula. Kata aphiemi juga memiliki keunikan jika ditinjau dari bahasa aslinya. Ini terkait dengan apa yang ditulis dalam terjemahan bahasa Indonesia “setelah Yesus berteriak dengan suara nyaring, Ia “menyerahkan (apheken to pneuma).” Apheken ini dari akar kata aphiemi dalam Matius 27:50 sama etimologinya dengan Matius 6:12, yakni menyerahkan nyawa. Kata ini sama artinya dengan “membayar utang.”
    Selanjutnya, kata “kesalahan” dalam rangkaian kalimat “ampunilah kami akan kesalahan kami” berasal dari kata opheilemata yang bentuknya plural. Jadi, “kesalahan” di sini menunjuk pada bukan hanya satu, melainkan banyak. Sehingga jika kalimat ini diterjemahkan bebas dapat berbunyi: “ampunilah kesalahan-kesalahan kami,” bukan “kesalahan kami.” Matius 6:12 akan berbunyi: “Seperti kami juga mengampuni kesalahan-kesalahan orang,” sebab kata “kesalahan” di sini berbentuk plural. Kata ini juga terdapat dalam Matius 18:24 yang bertalian dengan perumpamaan tentang pengampunan. “Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.” Ini hamba yang memiliki utang kepada majikan atau tuan raja atau bangsawan, dimana ia tidak sanggup membayar utang itu walaupun dengan menjual seluruh harta, anak, istri, dan keluarganya. Kata “utang” di situ juga menggunakan kata opheilemata. Di dalam bahasa Inggris, kata ini diterjemahkan debt atau utang. Jadi dalam bahasa Inggris, ayat Matius 6:12 diterjemahkan: and forgive us the debts of us as also we forgive the debtors of us; ampunilah atau lepaskanlah utang-utang kami seperti kami juga melepaskan utang-utang orang.
    Dari sini kita dapat memahami bahwa mengampuni merupakan sebuah hal yang sifatnya berkelanjutan. Kita harus menanamkan pikiran bahwa setiap orang berhak untuk bersalah kepada kita. Sama seperti kita berulang kali bersalah terhadap Tuhan, namun tetap diterima oleh-Nya, demikian pula kita harus melepaskan kesalahan-kesalahan terhadap kita. Seseorang yang sadar bahwa kesalahan-kesalahannya t...
    0 min
  • Membatalkan Pengampunan
    Dalam Matius 18:21-35, dikisahkan ada seorang raja yang mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya. Dalam perhitungan tersebut, didapati seorang hamba yang tidak mampu membayar utangnya. Karena tidak mampu membayar utangnya, hamba tersebut memohon keringanan dari raja agar istri dan anak-anaknya tidak dijual sebagai budak. Hati raja tergerak oleh belas kasihan, sehingga ia menghapuskan utang hamba itu yang bernilai sepuluh ribu talenta. Akhirnya, hamba tersebut bebas dari utang dan tidak kekurangan satu apa pun. Akan tetapi, tidak lama berselang, ketika ia keluar dari ruangan raja tersebut, ia bertemu dengan orang yang berutang seratus dinar kepadanya.  Ketika ia melihat orang itu, ia mencekiknya dan menagih utang dengan kejam, sampai menjebloskannya ke penjara. Mendengar hal ini dari orang yang menyaksikannya, sang raja begitu marah dan menjebloskan hamba tersebut ke dalam penjara. Raja kemudian membatalkan pengampunannya terhadap hamba ini.
    Dari kisah ini, kita dapat memetik sebuah kebenaran berharga, yaitu pengampunan yang Allah berikan bisa dibatalkan apabila seseorang tidak memenuhi maksud dan tujuan pengampunan diberikan. Ketika seseorang diampuni oleh Allah, maka seharusnya setiap orang harus hidup dalam kebenaran dan relasi yang harmonis dengan sesamanya. Kematian Tuhan Yesus di kayu salib tidak menutup kemungkinan bahwa manusia bebas melakukan sesuatu bagi dirinya sendiri. Mereka yang tidak mengampuni sesamanya, tidak akan diampuni oleh Tuhan. Dengan kata lain, Tuhan membatalkan pengampunan tersebut karena kita tidak mengampuni orang lain. Kalimat “ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” secara implisit mengandung kebenaran bahwa kita harus mengampuni sebagai respons atas pengampunan Tuhan bagi kita.
    Tujuan Allah memberi pengampunan adalah mengembalikan manusia kepada rancangan semula. Salah satu hal yang harus dipenuhi untuk kembali pada rancangan semula adalah memiliki hati yang bersih dari dendam dan perseteruan dengan sesama. Seseorang tidak dapat diperbarui oleh Tuhan jika masih menyimpan sakit hati, dendam, atau kebencian. Setiap kita harus memperkarakan apakah ada bagian dalam hati kita yang masih kita simpan untuk membenci atau mendendam kepada orang lain? Seharusnya, setiap orang Kristen dapat belajar melupakan dan mengampuni kesalahan setiap orang dengan memandang pada pengampunan Allah. Dengan memandang pada pengampunan Allah, kita melihat gambaran besar tentang keselamatan yang Allah berikan. Sehingga kita dapat melihat betapa kecilnya masalah yang kita simpan dalam hati kita secara berlarut-larut, dibandingkan dengan pengampunan Allah yang besar demi keselamatan kekal kita.
    Hendaknya, setiap kita menyadari bahwa utang kita yang banyak itu telah dihapuskan. “Utang” di sini menunjuk pada dosa dan ketidakberkenanan kita di hadapan Allah pada masa lampau, sekarang, dan mendatang. Sekarang, giliran kita untuk menghapuskan utang yang dilakukan oleh sesama kepada kita. Hal menghapus utang ini bukan berarti meniadakan tanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan yang terjadi. Dalam kasus tertentu, seperti kasus hukum, tentu ada pertimbangan tersendiri mengenai permasalahan tersebut. Namun pada prinsipnya, “menghapus utang sesama” di sini maksudnya tidak menyimpan kesalahan orang sekecil apa pun dalam hati kita. Dalam proses ini, kita akan merasa tidak nyaman dan sakit. Bukan tidak mungkin, kita semacam “menabrak tembok” ketika harus menyelesaikan permasalahan batin dengan sesama. Di dalam hati, kita ingin mengampuni. Namun, sangat sulit dan menyakitkan. Inilah harga mahal yang harus kita bayar sebagai orang yang telah diampuni oleh Tuhan. Di samping itu, hal ini dapat menjadi proses pembentukan yang mahal dalam sekolah kehidupan yang telah dirancang oleh Tuhan. Terimalah semua sebagai berkat abadi yang mendewasakan bagi jiwa dan roh kita. Jangan sampai kita termasuk pada orang-orang yang pada akhirnya tidak diterima oleh Tuhan hanya karena tidak bersedia ...
    0 min
  • Memiliki Hati seperti Tuhan
    Tatanan yang dimiliki oleh Allah dalam diri-Nya menunjukkan bahwa Allah bukanlah sosok yang bertindak secara sembarangan. Ditinjau dari hakikat Allah yang penuh kasih, tidak sulit bagi Allah memberi pengampunan bagi manusia. Dapat dikatakan bahwa Allah pasti memberikan pengampunan-Nya bagi manusia. Tetapi ditinjau dari keadilan dan kekudusan-Nya, pengampunan tidak mudah diberikan. Sebab, pengampunan diberikan harus memenuhi semua hakikat yang ada pada diri Allah. Bukan hanya memenuhi hakikat kasih-Nya, tapi juga harus memenuhi hakikat keadilan dan kekudusan-Nya.
    Keadilan dan kekudusan Allah menuntut adanya ganjaran atas kesalahan. Allah tidak dapat mengampuni hanya berdasarkan kasih-Nya. Ia harus membalaskan seluruh kesalahan yang dilakukan manusia menurut perbuatannya, sebab setiap dosa memiliki upahnya (Nah. 1:3; Rm. 6:23). Harus ada sosok di luar diri manusia untuk menebus kesalahan tersebut. Sosok tersebut bukanlah domba, lembu, atau darah binatang apa pun. Darah binatang yang dikorbankan hanya tindakan profetis yang sementara waktu dijadikan simbol untuk pengampunan dosa manusia. Hanya darah Yesus yang mampu menyucikan manusia dari dosanya. Ketika Yesus mati di atas kayu salib dan kesalahan manusia ditimpakan kepada-Nya, maka seluruh kesalahan manusia dapat diampuni. Ini adalah tatanan atau mekanisme dalam diri Allah yang dapat dipahami oleh pikiran manusia.
    Pola pengampunan semacam ini sebenarnya telah dipahami sejak lama oleh bangsa-bangsa lain. Sejak Allah memberikan hukum Taurat kepada umat manusia melalui Musa, konsep pengurbanan binatang untuk pengorbanan sudah dikenal oleh bangsa-bangsa di Timur Dekat Kuno. Jadi, 1.500 tahun sebelum adanya agama Kristen dan 2100 tahun sebelum adanya agama Islam, orang Israel telah mempraktikkan pola pengorbanan ini sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Diperlukan kurban dalam setiap ibadah untuk terlebih dahulu melayakkan manusia yang akan mencari Allah. Hal ini diketahui dan disetujui bersama untuk dalam tata ibadah bangsa Israel dan agama kuno umumnya. Dengan demikian, sebenarnya tersirat bahwa tatanan pengampunan Allah terhadap manusia adalah tatanan yang dapat dipahami oleh manusia tersebut. Tatanan atau mekanisme pengampunan Allah bukanlah sesuatu yang tersembunyi dan misterius sehingga tidak dapat dipahami oleh manusia.
    Jika Allah dapat mengampuni tanpa mengurbankan Anak Tunggal-Nya, maka sesungguhnya Allah adalah Allah yang dapat berkompromi dengan kesalahan atau dosa. Allah tidak memberikan ganjaran atau hukuman terhadap dosa dan pelanggaran yang dilakukan manusia. Dengan demikian, Allah menjadi tidak adil. Akan tetapi, Allah kita bukanlah demikian. Allah tidak dapat berkompromi dengan dosa. Dalam integritas-Nya yang sempurna, Allah bersedia mengampuni dosa manusia meski dengan harga yang mahal, yakni seharga Putra Tunggal-Nya. Ketika kita memahami hal ini, kita dapat mengagumi kesempurnaan kasih dan keadilan dalam diri Allah. Hal ini tentu berimplikasi kepada bagaimana kita menyambut orang lain, berangkat dari pengurbanan yang terlebih dahulu ditunjukkan oleh Allah.
    Dapat dibayangkan jika Allah tidak berniat menyelamatkan manusia, pasti tidak akan ada peradaban manusia yang begitu luar biasa pada hari ini. Allah yang Mahakasih dan Mahaadil menunjukkan kemuliaan-Nya dengan mengurbankan Putra Tunggal-Nya demi manusia di seluruh jagat raya. Menghayati ini, kita semakin bergelora dalam mengasihi Tuhan dan sesama kita. Sebab, jika Bapa berani mengurbankan Putra Tunggal-Nya, apalah artinya kerugian perasaan, kerugian materi, atau kerugian lainnya yang membuat kita tidak bersedia mengampuni sesama kita. Untuk itu, kita harus memiliki hati seperti Tuhan.
    Hati Tuhan terhadap manusia yang melukai dan mengkhianatinya terekam dalam Lukas 23:34, “Ya Bapa, ampunilah mereka sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tuhan Yesus tidak memandang kesalahan manusia yang menyalibkan-Nya sebagai sesuatu yang sangat fatal dan terlalu besar sehingga tidak da...
    0 min
  • Pengorbanan dalam Pengampunan
    Terdapat sebuah prinsip penting dalam pengampunan, “yakni mengampuni berarti berkorban.” Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa setiap dosa selalu diselesaikan dengan darah domba. Terdapat kurban penebusan dosa yang harus dipersembahkan sebagai ganti dosa umat Israel. Hal ini bahkan sudah terjadi sejak di Eden, yakni ketika Adam dan Hawa berdosa, Tuhan menyembelih binatang dan memberikan kulitnya menjadi pakaian kepada Adam dan Hawa. Jika dipertanyakan, “mengapa Tuhan seperti sosok yang haus darah?” Sesungguhnya Allah bukanlah sosok yang haus dengan darah. Melalui pengorbanan pada setiap pengampunan, Allah hendak mengajarkan kepada manusia bahwa di dalam setiap pengampunan memiliki pengorbanan. Dengan ini, pencurahan darah domba hanya tindakan profetis. Secara simbolis, darah domba merujuk pada darah Anak Domba Allah yang akan menebus dosa manusia. Dalam Ibrani 10:4 dijelaskan bahwa darah domba tidak dapat menyelesaikan dosa manusia. Dosa manusia hanya dapat diselesaikan melalui kurban Yesus di kayu salib. Namun, darah domba pada Perjanjian Lama menjadi semacam voucher atau penyataan awal tentang bagaimana setiap dosa manusia harus dibayar dengan pengorbanan.
    Dalam Perjanjian Baru, perintah Allah dalam Taurat memeroleh penggenapannya di dalam Yesus Kristus. Darah domba yang dulunya berfungsi sebagai penyataan awal, sekarang digenapi dalam darah Yesus. Darah Yesus menunjuk pada ketaatan-Nya yang sempurna kepada Bapa di surga. Yesus menjadi corpus delicti pertama yang membuktikan bahwa ada sosok yang dapat taat sepenuhnya pada pemerintahan Allah Bapa. Dengan demikian, kematian-Nya mewakili seluruh umat manusia yang seharusnya mati oleh dosanya. Kematian Tuhan Yesus menjadi kematian yang menanggung maut bagi seluruh umat manusia. Manusia yang seharusnya mengalami maut, yakni keterpisahan dari Allah, sekarang dibebaskan oleh darah Kristus. Tidak ada kutuk atau maut yang membayangi manusia, semuanya telah ditanggung oleh darah Kristus. Manusia telah diampuni dosanya satu kali untuk selama-lamanya melalui kematian Kristus (Rm. 6:10). Dengan demikian, hukuman yang seharusnya ditimpakan kepada manusia ditanggung sepenuhnya oleh Yesus. Pengampunan Allah diberikan melalui pengurbanan Yesus di kayu salib. Inilah tatanan Allah dalam pengampunan, yakni tidak ada pengampunan tanpa pengorbanan.
    Dalam tatanan ini, kebenaran yang dapat kita petik ialah mengampuni berarti melukai diri sendiri. Sebenarnya, ketika seseorang bertengkar dengan orang lain, ia sudah melukai hatinya sendiri. Ia memilih untuk meledakkan perasaan dan merusakkannya demi membela harga diri atau kepentingannya. Maka, ketika seseorang telah luka perasaannya, ia memiliki pilihan lagi untuk mengampuni atau tidak mengampuni. Ketika seseorang memilih untuk mengampuni berarti ia memilih membuka luka hati dan mengobatinya. Mengobati luka hati ini tidak mudah karena banyak orang memilih untuk tidak mengobatinya. Sebab, mengobati luka hati ini sama seperti melukai dirinya lagi. Ia harus menumbangkan gengsi dan harga diri untuk mengampuni orang lain. Kita tidak bisa mengampuni orang lain jika masih mempertahankan gengsi dan harga diri kita.
    Kesempurnaan seperti Bapa terletak pada kemampuan kita untuk mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Jika dikatakan “sempurna seperti Bapa,” tentu tidak berarti kita menjadi sama seperti Bapa yang ilahi. Sempurna seperti Bapa di sini maksudnya memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan Bapa dalam mengampuni setiap orang yang bersalah. Dalam Lukas 6:36 dikatakan, “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Ketika seseorang mampu mengampuni orang bersalah kepadanya, Ia mencerminkan Pribadi Bapa yang murah hati dalam mengampuni umat manusia. Hendaknya, setiap kita rela mengorbankan perasaan kita untuk mengampuni mereka yang melakukan kesalahan. Bahkan, bukan tidak mungkin orang percaya terlebih dahulu meminta maaf jika ada suatu permasalahan agar tercipta kerukunan yang Allah kehendaki.
    0 min
  • Dosa yang Tidak Terampuni
    Dalam Matius 12:31 tertulis, “Sebab itu Aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhadap Roh Kudus tidak akan diampuni.” Secara tersirat dikesankan bahwa ada dosa yang tidak dapat diampuni, yakni menghujat Roh Kudus. Muncul pertanyaan, “kalau Allah Mahakasih, mengapa Ia bisa tidak mengampuni dosa yang satu ini?” Sebagian orang yang ingin menyangkal keberadaan Allah menyimpulkan bahwa Allah tidak konsisten pada diri-Nya sendiri padahal Ia Mahakasih, namun Ia tidak dapat mengampuni kesalahan yang satu ini. Apakah hal ini benar? Bagaimana kita menanggapinya?
    Sesungguhnya, kita tidak perlu meragukan Allah dalam hakikat-Nya yang sempurna. Adapun penyebab dari tidak dapat diampuninya dosa menghujat Roh Kudus bukan terletak pada diri Allah, namun pada diri manusia. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus memahami terlebih dahulu apa itu “dosa menghujat Roh Kudus?” Menghujat Roh Kudus tidak boleh dipahami sekadar suatu tindakan melontarkan kata-kata yang tidak pantas terhadap Pribadi dan karya Roh Kudus. Menghujat Roh Kudus adalah satu stadium atau level dimana orang sudah memiliki keadaan nurani yang gelap, sehingga tidak mau menyelesaikan dosa atau kesalahan. Contoh dari orang yang menghujat Roh Kudus seperti yang dikisahkan dalam Alkitab adalah oknum orang Farisi dan ahli Taurat yang menuduh kuasa Yesus dalam menyembuhkan orang sakit berasal dari Beelzebul atau penghulu kuasa gelap.
    Sesungguhnya, ini adalah cerminan dari nurani yang sangat gelap, dimana mereka melihat suatu hal yang sangat baik menjadi sangat buruk. Dapat dibayangkan betapa bahagianya banyak orang melihat ada yang disembuhkan dari penyakitnya secara bertahun-tahun, tetapi para ahli Taurat dan orang Farisi tersebut malah mencoba untuk melihat peristiwa tersebut dari sisi yang berlawanan karena tidak suka tersaingi. Mereka sesungguhnya tidak berfokus pada penyelamatan manusia, tetapi sibuk dengan agenda pribadinya. Sehingga, ketika Tuhan melawat mereka dan berada di depan mata mereka, mereka tetap tidak mampu menghayati kehadiran Tuhan. Hal ini terjadi karena nurani mereka yang sudah gelap dan dibutakan oleh ambisi untuk dihormati.
    Terdapat kebenaran mahal terkait perihal menghujat Roh Kudus ini. Tidak secara instan seseorang bisa mencapai nurani yang gelap. Ada proses dan waktu memilih yang panjang sampai seseorang berada di titik tidak kembali (point of no return). Seseorang yang hatinya sudah sampai tahap mengeras dan tidak bisa lagi diubahkan, pasti terbiasa untuk menunda pertobatan. Ia tahu apa yang benar dan salah, tetapi tidak memilih untuk melakukan yang benar. Ia berpikir “kali ini saja” untuk membiarkan dirinya masuk dalam kesalahan. Ditambah lagi ia berpikir bahwa “saya masih manusia yang lemah dan penuh kesalahan,” sehingga dalam benaknya ia memaklumi diri secara berlebihan. Makin hari nuraninya semakin tidak peka terhadap suara dan tuntunan Roh Kudus sampai pada titik ia tidak dapat lagi mengikuti tuntunan Roh Kudus yang menghendakinya bertobat.
    Hendaknya kita tidak menunda pertobatan hanya karena kita ingin menikmati kesenangan tertentu. Kesempatan untuk bertobat bisa jadi tidak datang kembali jika kita menyia-nyiakannya. Orang yang menunda pertobatan adalah orang yang berpotensi untuk menolak keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Menunda pertobatan sama dengan tidak menghargai pengampunan Allah. Pengampunan Allah diberikan dengan tujuan untuk mengubah manusia menjadi serupa dengan Anak Tunggal-Nya. Ketika seseorang ingin diampuni Tuhan namun tetap hidup dalam dosa, hal ini menunjukkan bahwa ia tidak memenuhi maksud diberikannya pengampunan tersebut. Orang-orang seperti inilah yang disebut sebagai kelompok yang menganggap najis darah perjanjian dan menghina Roh Kasih Karunia (Ibr. 10:29).
    Orang percaya yang telah ditebus oleh darah Yesus harus sungguh-sungguh memperkarakan dirinya setiap hari. Ketika menemui ketidaktepatan dalam dirinya,
    0 min
  • Dimiliki oleh Tuhan
    Ketika seseorang menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka ia harus memberi dirinya dimiliki oleh Tuhan. Dalam Galatia 2:20 dikatakan, “…namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Tidak ada seorang pun yang dapat diselamatkan oleh perbuatan baiknya. Setiap orang diselamatkan melalui pengurbanan Anak Allah di atas kayu salib. Menyadari hal ini, Paulus menyatakan bahwa kehidupannya kini dihidupi di dalam iman dalam Yesus Kristus. Artinya, setiap orang yang menyadari bahwa dirinya menerima kasih Allah, ia harus menjalani hidup dalam penurutan akan kehendak Allah. Hal ini dengan jelas menunjukkan bahwa kepemilikan seseorang terhadap dirinya sendiri berakhir ketika ia menerima kasih karunia Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Penghentian kepemilikan diri ini digambarkan Paulus lebih jelas dalam Galatia 5:24, yang berbunyi demikian: “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.” Setiap orang yang telah menerima Yesus Kristus dan menjadi milik-Nya, wajib meninggalkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya dengan cara menyalibkannya. Menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu menunjuk pada proses mematikan seluruh gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam diri kita. Satu-satunya cara menghentikan kepemilikan diri hanyalah dengan mematikan seluruh gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah. Setiap orang yang masih mempertahankan gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah tidak dapat memberi diri dimiliki oleh Allah. Mereka akan hidup untuk memenuhi gairah dalam dirinya. Orang yang memiliki dirinya dapat menjadi baik dan bermoral di mata masyarakat, tetapi tidak akan dapat mencapai maksud keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Hanya orang yang melepaskan kepemilikan dirinya yang dapat dimiliki sepenuhnya oleh Tuhan.
    Jika dikaitkan dengan pengampunan, seseorang yang tidak bersedia mengampuni orang lain berarti ia masih hidup dalam kepemilikan terhadap dirinya sendiri. Kebencian dan dendam yang disimpan berlarut-larut merupakan tanda bahwa ia tidak rela melepaskan gairah yang bertentangan dengan kehendak Allah. Allah menghendaki setiap orang percaya hidup dalam keharmonisan dengan sesamanya, baik mereka yang menjadi sekutu maupun seteru orang percaya. Ketika orang percaya menerima pengampunan dari Allah, itu berarti sebuah panggilan untuk memperbaiki diri. Salah satu komponen penting di dalam perbaikan diri tersebut adalah gairah permusuhan yang serin gkali sulit diredam oleh daging kita. Melepaskan kepemilikan terhadap diri sendiri juga berarti melepaskan gairah permusuhan yang ada di dalam diri kita. Kita harus berani untuk menyalibkan gairah tersebut, sehingga pengampunan Allah menjadi sempurna di dalam kita.
    Proses penyaliban ini tentu memakan waktu, perhatian, dan tenaga setiap orang percaya. Setiap orang percaya bergumul secara unik dalam keadaannya untuk berjuang menyelesaikan pergumulan ini. Tantangan satu orang dengan orang lainnya tentu berbeda. Kepribadian orang yang terbentuk sejak kecil juga sangat menentukan dalam pergumulan untuk menghidupi gaya hidup mengampuni. Seseorang yang terbentuk dengan kepribadian yang keras mengalami tantangan yang lebih dahsyat ketimbang mereka yang sejak kecil sudah terdidik untuk lemah lembut. Namun, bagaimana pun tantangan yang dihadapi seseorang, Tuhan berjanji bahwa tidak ada satu pencobaan pun yang melebihi kekuatan kita (1Kor. 13:13). Setiap perkara yang hadir dalam hidup kita, termasuk permasalahan yang mengakibatkan pertengkaran, pasti mampu kita lewati. Tuhan tidak akan memberikan ujian melampaui kekuatan kita. Tuhan sudah menakar kekuatan masing-masing individu, sehingga ketika terjadi suatu hal dalam pengetahuan Tuhan,
    0 min
  • Kualitas Hubungan
    Hubungan seseorang dengan Allah tidak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan sesama. Dalam Matius 22:36-40, Tuhan Yesus memberi pengajaran yang menjadi standar bagi hubungan antara seseorang dengan Allah, sesama, dan dirinya sendiri. Bagian ini muncul dalam konteks pertanyaan seorang ahli Taurat yang hendak mencobai Tuhan Yesus. Ia mengajukan pertanyaan tentang hukum yang terutama dalam Taurat. “Hukum yang terutama” di sini maksudnya adalah hukum yang lebih penting dan harus didahulukan ketimbang hukum lainnya. Sangat menarik bagi kita untuk menyimak jawaban dari Tuhan Yesus. Tuhan berkata, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
    Dalam penggalan ayat di atas, terdapat kebenaran yang sangat kuat bertalian dengan hubungan antara Allah dan manusia dengan sesamanya. Ketika Tuhan berkata bahwa mengasihi Tuhan Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi sebagai hukum terutama dan pertama, hal ini mengindikasikan kasih terhadap Tuhan menjadi dasar atau landasan kehidupan orang percaya. Mengasihi Tuhan dengan segenap keberadaan merupakan tujuan paling dasariah dalam kehidupan orang percaya. Pagelaran kehidupan orang percaya harus selalu didasarkan pada kasih terhadap Allah, entah itu bekerja, berkeluarga, bersekolah, berinteraksi, dan sebagainya. Semuanya harus hanya karena, oleh, dan bagi Tuhan. Hal ini paralel dengan kebenaran yang disampaikan oleh Paulus dalam 1 Korintus 10:31, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.” Kehidupan orang percaya harus ditujukan kepada kemuliaan Allah yang didasarkan pada kasih seutuhnya dalam seluruh keberadaan orang percaya.
    Berkaitan dengan hal ini, tanpa terpisahkan, Tuhan berkata bahwa hukum kedua yang sama dengan hukum pertama adalah mengasihi sesama manusia layaknya diri kita sendiri. Kata “sama” di sini menggunakan kata ὅμοιος (Yun. homoios) yang artinya sejajar atau sama dalam kualitas. Hal ini mengindikasikan bahwa kasih terhadap Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih terhadap sesama. Seseorang yang mengasihi Allah harus mengasihi sesamanya, termasuk mereka yang menyakiti atau melukai. Kasih terhadap Allah dicerminkan melalui kasih yang tulus terhadap sesama. Dengan kata lain, kasih yang tulus terhadap sesama dapat terpancar ketika seseorang mendasarkan kehidupannya pada kehidupan yang mengasihi atau melakukan segala sesuatu bagi Allah. Kasih terhadap Allah akan mengubah dan menggerakkan kasih seseorang terhadap sesamanya. Dengan demikian, seseorang yang mengasihi Allah akan bermuara pada perilaku yang semakin sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. Dan orang percaya dimampukan untuk mengasihi sesamanya dengan pikiran dan perasaan Allah sendiri, bahkan terhadap mereka yang menyakiti dan melukai.
    Itulah sebabnya, dikatakan di awal bahwa kualitas hubungan seseorang dengan Allah dan sesama tidak dapat dipisahkan. Bagaimana seseorang menjalin relasi dengan Allah dalam pengampunan pasti memengaruhi relasinya dengan orang lain. Jika seseorang menjalin relasi dengan Allah secara oportunis dengan berkutat pada urusan pemenuhan kebutuhan jasmani, kesembuhan dari sakit-penyakit, dan kepentingan duniawi, maka tidak heran jika relasinya dengan sesama pun bersifat oportunis. Jika sesamanya memberi keuntungan dan kebahagiaan, maka ia akan mengasihinya. Jika sesamanya menyakiti atau melukainya, ia tidak akan mampu untuk mengampuninya. Hal ini diakibatkan konsep bertuhan yang salah yang telah terbangun sejak lama. Konsep dan hubungan kita terhadap Allah sangat menentukan bagaimana kita menggelar kehidupan di tengah-tengah dunia.
    Setiap orang percaya harus memperbaiki konsep relasi dengan Allah y...
    0 min
  • Tanggung Jawab dalam Pengampunan
    Hendaknya kita tidak memahami konsep pengampunan terhadap diri manusia layaknya sebuah bidang bernoda yang dibersihkan setelah usai dipakai. Pengampunan dosa yang diberikan oleh Allah disertai dengan tanggung jawab untuk mengubah diri. Seperti yang telah dikemukakan, pengampunan yang diberikan Allah memiliki mekanisme yang berangkat dari tatanan yang ada di dalam diri Allah. Pengampunan yang Allah berikan tidak hanya menyelesaikan hukuman terhadap manusia, melainkan menggenapi rencana Allah untuk mengembalikan manusia pada rancangan semula. Pengampunan merupakan awal dari penggenapan rencana Allah, bukan tujuan akhir dari keselamatan.
    Allah menghendaki setiap individu yang berbalik kepada-Nya untuk menyesuaikan diri dengan kehendak-Nya. Anugerah Allah harus direspons dalam kesadaran penuh guna memahami kehendak Allah dan mengaplikasikannya secara konkret. Pemahaman akan kehendak Allah tersebut akan menuntun pada kesediaan untuk melepaskan “beban dan dosa” (Ibr. 12:1). Dosa bertalian dengan pelanggaran terhadap hukum Allah. “Dosa” di sini dapat berwujud perbuatan melanggar hukum, sehingga membahayakan sesama. Sedangkan “beban” di sini maksudnya adalah percintaan dunia yang mengikat hati orang percaya. Beban yang mengikat orang percaya membuatnya tidak dapat memindahkan hati ke Kerajaan Surga. Orang percaya “diparkir” dalam kenyamanan di bumi tanpa mengarahkan pandangannya pada Kerajaan Surga. Sepintas, orang yang terikat pada beban tersebut dapat terlihat baik, bermoral, dan diterima di masyarakat. Ia tidak menyadari bahwa dirinya berada di bawah pengaruh kuasa gelap yang membuatnya tidak memenuhi kehendak dan rencana Allah.
    Tanggung jawab dalam menerima pengampunan meliputi 3 hal, sebagai berikut:
    Pertama, seseorang yang hidup dalam pengampunan Allah, maka ia bertanggung jawab untuk hidup dalam pengampunan. Hidup dalam pengampunan berarti menyadari kesalahan atau ketidaktepatan yang dilakukan, kemudian bergerak menuju apa yang baik, berkenan, dan sempurna. Untuk mencapai hal ini, pertama-tama harus rela melepaskan dosa yang terekam di dalam daging. Daya pikat dosa dalam daging membuat manusia terikat padanya sampai tahap tidak dapat terlepas. Dosa tersebut dapat berupa keinginan daging yang meliputi kuliner, seks, dan kesenangan jasmaniah tertentu. Untuk melepaskan dosa, seseorang harus menyangkal dirinya. Proses penyangkalan diri adalah proses penolakan terhadap segala keinginan dosa yang timbul akibat cita rasa jiwa yang telah lama diasuh oleh dunia. Kita harus berani mengkhianati daging kita untuk menyembuhkan diri. Hanya orang-orang yang rela kehilangan kesenangan daging yang dapat hidup dalam pengampunan Allah.
    Kedua, seseorang yang hidup dalam pengampunan Allah, maka ia harus meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Menerima pengampunan berarti masuk dalam proses pengembalian manusia kepada rancangan semula. Manusia yang kembali pada rancangan semula adalah manusia yang bukan hanya bermoral baik, tetapi tidak terikat oleh apa pun. Keselamatan dalam Yesus Kristus menggiring umat manusia untuk mampu memiliki pikiran perasaan Kristus. Pikiran dan perasaan Kristus adalah pikiran dan perasaan yang sepenuhnya terarah pada kehendak Bapa. Adapun arah dari pemikiran ini adalah Kerajaan Surga semata. Orang percaya yang diperdamaikan dengan Allah hendaknya tidak merasa puas hanya menjadi orang yang tidak melakukan pelanggaran moral. Setiap orang percaya harus bertekad untuk hidup terpisah dari dunia dengan menanggalkan segala kesenangan. Kesenangan orang percaya hanya memuaskan hati Allah. Tidak ada yang lebih menggembirakan atau memuaskan hati ketimbang melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.
    Ketiga, seseorang yang hidup dalam pengampunan Allah, maka ia wajib hidup dalam pengampunan terhadap sesamanya. Setiap orang yang menerima pengampunan Allah tidak boleh menyimpan kesalahan sesama. Sebagaimana kita diampuni oleh Allah, maka kita pun mengampuni orang yang bersalah terhad...
    0 min
  • Keadilan Allah Bukan Misteri
    Dalam Ulangan 29:29 dikatakan: “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini.” Teks ini sering kali menjadi alasan bagi sebagian besar orang Kristen untuk tidak belajar, terutama hal yang bertalian dengan keadilan Allah. Bagi mereka, keadilan Allah adalah sesuatu yang misterius dan tidak dapat diselami oleh pikiran manusia. Ditambah lagi, bagi mereka, keadilan versi Allah tidak dapat disamakan dengan keadilan versi manusia. Oleh karenanya, keadilan Allah harus diterima sebagai sesuatu yang ada di luar kemampuan manusia untuk memahaminya. Namun, kita dapat mengajukan pertanyaan kritis bertalian dengan pemikiran semacam ini. Pertanyaan tersebut adalah: “jika keadilan Allah sungguh tidak dapat dikenali dan berbeda dengan keadilan versi manusia, bagaimana mungkin Allah menyerukan kepada manusia untuk menghidupi keadilan?”
    Sesungguhnya, keadilan Allah pasti dapat dipahami oleh manusia. Jika keadilan versi Allah berbeda dengan keadilan versi manusia, berarti perintah Allah kepada manusia agar hidup dalam keadilan adalah perintah yang absurd atau tidak jelas. Ketika Allah menyerukan kepada umat Israel untuk menghidupi keadilan (Mik. 6:8), hal itu jelas menunjukkan bahwa Allah mengomunikasikan sesuatu yang dapat dipahami oleh umat-Nya. Umat-Nya sudah tahu apa yang dimaksud “adil” oleh Allah, yang mana hal itu tercermin dalam tatanan hukum Taurat yang diberikan. Keadilan Allah sangat jelas tercermin dalam tulisan-tulisan Perjanjian Lama. Mulai dari keadilan-Nya dalam hal sederhana yang mengatur perdagangan, permasalahan antaranggota kelompok, sampai dengan hal yang rumit seperti hukuman atas kesalahan fatal yang mengakibatkan kematian. Keadilan Allah yang tercermin dalam Taurat menunjukkan bahwa keadilan Allah merupakan sebuah konsep keadilan yang dapat dipahami. Konsep keadilan Allah bukanlah sebuah konsep yang sama sekali misterius dan sama sekali tidak dapat dipahami.
    Ulangan 29:29 harus dipahami dengan tepat pada konteksnya. Ayat ini tidak berbicara mengenai keselamatan kekal, melainkan sejarah perjalanan bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Kanaan. Bagaimana mereka memakai baju dan alas kaki yang tidak rusak selama puluhan tahun ketika berjalan di padang gurun. Hal ini merupakan peristiwa ajaib yang tidak dapat dimengerti oleh pemikiran manusia. Mekanisme bagaimana Allah melakukan hal ajaib tersebut dapat dikatakan sebagai “hal-hal yang tersembunyi.” Kita tidak perlu mempersoalkan cara Allah melakukan hal tersebut, sebab itu adalah bagian Allah.
    Allah tidak mungkin bertindak seperti bola liar, sehingga kita tidak mengenali dan bertanya-tanya kehendak-Nya. Ketika Allah bertindak, Ia memiliki rambu-rambu atau tatanan yang jelas. Keadilan Allah dapat dikenali paling tidak melalui dua hal, yakni isi hati yang dinyatakan-Nya melalui kebenaran dan pengalaman orang saleh-Nya yang tercatat dalam Kitab Suci. Pertama, keadilan Allah dinyatakan melalui kebenaran Firman-Nya. “Kebenaran Firman” di sini maksudnya adalah seluruh perkataan, pertimbangan, dan keputusan Allah yang tercatat dalam Kitab Suci. Melalui perkataan, pertimbangan, dan keputusan Allah tersebut, kita dapat mempelajari bagaimana Pribadi Allah. Untuk memahami hal ini, seseorang perlu diperlengkapi dengan kemampuan menafsirkan Alkitab yang baik. Dengan kemampuan menafsir yang baik, seseorang dapat menemukan inti sari kebenaran mengenai keadilan dalam Pribadi Allah sendiri.
    Kedua, keadilan Allah dapat dilihat pada perjalanan-Nya bersama dengan para orang saleh yang tercatat dalam Kitab Suci. Pengalaman tokoh-tokoh Alkitab seperti Nuh, Abraham, Musa, Daud, Petrus, dan Paulus ketika berjalan dengan Allah dapat memberi petunjuk bagaimana hakikat keadilan Allah. Pengalaman yang berbeda-beda tersebut menjadi sebuah kekayaan yang tidak ternilai, terkait dengan sikap Allah dalam berbagai situasi...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…