Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mengampuni Tanpa Syarat
     
    Ketika Tuhan mengatakan “Ampunilah kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami,” hal ini mengindikasikan suatu kemutlakan bahwa kita harus mengampuni orang yang bersalah. Pengampunan tersebut haruslah tanpa syarat. Mengampuni tanpa syarat memiliki beberapa makna. Pertama, tidak perlu menunggu orang meminta maaf kepada kita terlebih dahulu baru kita ampuni. Sering kali seseorang mengampuni dengan syarat orang yang bersalah tersebut harus meminta maaf terlebih dahulu, ditambah dengan cara tertentu. Pengampunan dalam standar kekristenan tidak memandang apakah orang tersebut telah meminta maaf terlebih dahulu atau tidak. Kita mengampuni karena keberadaan kita sudah diubahkan Tuhan, sehingga sulit untuk tidak mengampuni.
    Kedua, pengampunan tanpa syarat juga berarti tidak melihat besar kecilnya kesalahan dalam mengampuni. Banyak orang dapat mengampuni orang yang bersalah padanya dalam ukuran tertentu. Namun ketika sampai di satu level atau stadium, ia merasa sulit untuk mengampuni seseorang. Bahkan pada tahap tertentu, ada orang yang tidak bisa mengampuni kesalahan orang lain karena kesalahan tersebut dirasa sangat fatal dan melukainya. Sesungguhnya, pengampunan yang tanpa syarat merujuk pada kemampuan seseorang untuk melepaskan pengampunan tanpa terhalang besar kecilnya kesalahan yang dilakukan seseorang. Hal ini dapat tumbuh dari kesadaran seseorang ketika ia membandingkan kesalahannya yang banyak telah dihapus oleh Tuhan tanpa syarat.
    Setiap kita harus berani mengampuni tanpa syarat. Artinya, sebesar apa pun kesalahan orang kepada kita, kita tidak memperhitungkannya dan tidak berniat untuk menghukumnya. Mengampuni berarti menyerahkan penghakiman, penghukuman, atau pembalasan di tangan Tuhan. Tentu yang tidak kalah penting, kita tidak mengharapkan mereka yang telah melukai kita itu mendapat celaka. Inilah standar orang percaya, yakni mengampuni orang tanpa syarat seperti yang Tuhan Yesus lakukan. Ketika seseorang mengampuni orang yang bersalah kepadanya tanpa syarat, sejatinya ia sedang melakukan perbuatan baik.
    Perbuatan baik yang dimaksud tidak sama sekali menggantikan keselamatan dalam Tuhan Yesus. Ketika seseorang berbuat baik dengan mengampuni tanpa syarat, hal ini menunjukkan bahwa ia melakukan perbuatan kasih dalam kehidupannya yang telah diperbarui. Keselamatan manusia dimulai dari salib. Salib adalah satu-satunya jalan menyelesaikan dosa. Dengan salib, maka tersedia pengampunan bagi seluruh orang percaya. Allah tidak bisa mengampuni tanpa sarana, maka Ia harus mengurbankan Putra Tunggal-Nya sebagai kurban tebusan bagi penebusan manusia. Tuhan Yesus bisa mengampuni kita pun karena ada tatanan, yaitu ketika Ia mati di kayu salib memikul dosa-dosa kita. Setelah ia mengurbankan nyawa-Nya, barulah Anak Manusia berhak mengampuni. Tetapi sebelum Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia mengatakan “dosamu telah diampuni,” bukan “Kuampuni.” Hal ini menunjukkan bahwa sebelum Yesus disalib, yang mengampuni adalah Allah Bapa, belum Tuhan Yesus. Dengan ini jelas tampak tatanan yang ada dalam diri Allah. Tuhan Yesus dan Bapa sendiri—yaitu Allah Bapa—bisa mengampuni kita pun karena melalui sarana atau mekanisme. Darah binatang tidak bisa menyucikan. Darah binatang hanya merupakan sebuah tindakan profetis; nubuatan mengenai darah sesungguhnya yang bisa menghapus dosa, yaitu darah Tuhan Yesus.
    Pengampunan diberikan supaya orang yang diampuni bisa mengampuni. Jika seseorang tidak bersedia mengampuni orang lain, maka ia pun tidak diampuni. Dia menerima kebaikan Allah supaya dia bisa menjadi baik atau agar dia menjadi baik. Kalau dia tidak menjadi baik, maka kebaikan yang Allah berikan dibatalkan. Tuhan Yesus mengatakan berulang-ulang dalam beberapa Injil, “Kalau kamu tidak mengampuni saudaramu atau tidak mengampuni orang lain, Bapamu juga tidak mengampuni kamu.” Pengampunan ini menjadi simbol atau lambang dari karakteristik yang harus dimiliki pula oleh setiap orang percaya.
    0 min
  • Mengenali Keadaan yang Sesungguhnya
    Satu hal yang harus menjadi pergumulan terbesar kita setiap hari adalah mengenali keadaan kita yang sesungguhnya di hadapan Tuhan. Dalam kalimat lain, orang biasa mengatakan “mengenal diri sendiri.” Seseorang yang memahami keberadaan dirinya akan melakukan tindakan konkret untuk memperbaiki keadaannya. Namun, jika seseorang tidak mengenal keberadaan dirinya dan memandang bahwa ia baik-baik saja, maksud keselamatan dalam Tuhan Yesus tidak dapat tercapai. Untuk itulah penting untuk mengetahui kebenaran tentang mengenali diri sendiri sebagai orang yang hidup dalam pengampunan Tuhan.
    Pada Matius 21:31 tertulis, “Kata Yesus kepada mereka: ‘Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pemungut-pemungut cukai dan perempuan-perempuan sundal, akan mendahului kamu masuk ke dalam Kerajaan Allah.’” Kalimat ini merupakan kalimat kontroversial, sebab sangat bertentangan dengan pandangan orang-orang beragama pada masa itu. Dalam konsep mereka, pemungut cukai dan perempuan sundal adalah golongan orang yang tidak akan diterima dalam Kerajaan Allah karena dosa-dosa mereka. Sedangkan para rohaniwan seperti orang Farisi dan ahli Taurat akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah. Namun, ternyata Tuhan Yesus membalikkan logika ini dengan menyatakan bahwa pemungut cukai dan perempuan sundal yang mewakili kalangan orang berdosa akan terlebih dahulu masuk dalam Kerajaan Allah dibanding dengan orang Farisi dan ahli Taurat. Sesungguhnya, hal ini tidak menunjukkan bahwa orang berdosa lebih mudah masuk surga ketimbang orang yang tidak memiliki label sebagai orang berdosa. Perkataan ini hendak menunjuk pada sikap hati seseorang yang merasa diri perlu berubah di hadapan Allah. Pemungut cukai dan perempuan berdosa merasa dirinya berdosa dan mau menyelesaikannya di hadapan Allah dengan bertobat. Mereka mengenali dosa mereka atau keadaan mereka yang sesungguhnya di hadapan Allah, maka Tuhan bergaul dan menerima mereka. Sedangkan terhadap ahli Taurat dan orang Farisi, Tuhan sering kali mengecam mereka karena kemunafikannya. Diri mereka penuh dengan kejahatan, namun merasa tidak memiliki kejahatan yang harus diselesaikan.
    Orang percaya harus mengenali keadaan diri yang sesungguhnya di hadapan Allah. Jabatan gerejawi seperti pendeta, aktivis, majelis, penginjil atau hamba Tuhan sering kali membuat orang percaya menjadi lengah, bahkan lupa dengan keadaan dirinya. Orang percaya yang memiliki jabatan gerejawi sering kali merasa telah memiliki citra atau brand image tertentu yang membuatnya dipandang lebih baik dibanding orang lain. Hal ini sebenarnya dapat membahayakan, sebab kita akan mudah terlena dengan citra tersebut. Padahal, keberadaan dan keadaan diri kita belum sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah. Kita yang seharusnya masih harus berbenah, malah tenggelam dalam brand image yang dilekatkan jemaat atau masyarakat umum kepada kita. Sesungguhnya, hal ini adalah halusinasi atau fantasi yang terjadi dalam diri orang percaya. Keadaan diri mereka masih buruk, namun merasa diri sudah baik karena pandangan orang lain.
    Hal serupa tidak hanya dialami oleh mereka yang memiliki jabatan gerejawi, namun juga setiap jemaat yang sudah merasa diri selamat ketika menjadi orang Kristen. Banyak orang Kristen yang sudah merasa selamat dengan menerima Tuhan Yesus pada saat dibaptis. Mereka berpikir bahwa setiap orang yang menerima Yesus sudah otomatis selamat atau masuk surga. Sesudah menerima Yesus, mereka menjalani hidupnya seperti biasa dan tenggelam dalam percintaan dunia. Sejatinya, mereka tidak mengerti tentang maksud sesungguhnya dari keselamatan. Keselamatan mengembalikan karakter manusia pada rancangan semula. Penerimaan akan Yesus melalui pengakuan dan baptisan adalah langkah awal untuk hidup di dalam Dia. Selanjutnya, seseorang harus mengenali keberadaan dirinya untuk kemudian diperbaiki oleh Allah melalui kebenaran dan peristiwa hidup. Jika seseorang sudah salah berpikir dengan konsep keselamatan yang otomatis,
    0 min
  • Menyadari Kesalahan
    Sebagai orang percaya yang terus disempurnakan, kita harus bisa menyadari kesalahan kita. Menyadari kesalahan bukan hal yang sederhana. Menyadari kesalahan bisa menjadi hal sulit bagi sebagian orang karena mereka sudah terbiasa tidak mengakui kesalahannya. Mereka lebih senang merasa sudah baik dan tidak perlu dikoreksi. Hal ini bisa menjadi sangat berbahaya mengingat setiap manusia memiliki kerapuhannya masing-masing. Lantas, bagaimana kita bisa menyadari kesalahan kita?
    Pertama, kita memang perlu menyadari betapa besar dosa kita. Dalam kisah seorang hamba yang berutang kepada tuannya, ia berutang sepuluh ribu talenta. Sepuluh ribu talenta di sini menunjuk pada angka yang sangat besar dan tidak mungkin dapat terbayarkan. Tuan tersebut pada akhirnya melepaskan hambanya tersebut dari jeratan utang tersebut. Sesungguhnya, hamba tersebut adalah gambaran setiap kita yang berutang kepada Tuhan dengan dosa-dosa kita. Namun dalam kebesaran hati-Nya, ia menerima dan mengampuni kita. Semua dosa manusia diampuni melalui kurban Yesus di kayu salib. Kita harus selalu mengingat bahwa kesempatan kita ada di hadapan Allah hanya karena kurban Yesus. Dengan mengingat ini, kita akan menyadari betapa besarnya dosa kita yang telah dihapuskan. Ketika seseorang menyadari dosanya yang besar telah dihapuskan, maka ia dapat dengan jujur mengakui dosa yang telah dilakukannya.
    Kedua, bercermin kepada Tuhan. Seseorang yang dapat menyadari kesalahannya adalah mereka yang memahami standar yang benar. Standar kita adalah Tuhan sendiri, yakni apakah keberadaan kita saat ini telah seperti yang Tuhan inginkan? Lebih lanjut lagi, jika Tuhan hadir di dunia, apakah Dia seperti diriku? Jika ada bagian dalam hidup kita yang belum seperti yang Tuhan ingini, maka kita harus segera meminta ampun dan bergerak maju. Kesalahan yang kita lakukan semakin hari akan semakin berbeda. Kalau sebelumnya kita melakukan pelanggaran moral dan kesalahan-kesalahan yang seharusnya dapat dihindari orang di luar Tuhan, maka semakin kita melihat Tuhan sebagai standar, kesalahan kita akan berbeda bentuk. Kesalahan kita akan semakin mengerucut pada masalah-masalah batiniah dan permintaan ampun kita bukan hanya permasalahan pelanggaran hukum. Bila hal ini dilakukan secara konsisten dengan usaha yang sungguh, maka kita akan sangat peka terhadap kesalahan kecil sekalipun. Kita dapat menyadari kesalahan kita, mulai dari ucapan yang meleset, pemikiran yang tidak perlu, atau ketidaktepatan dalam hal lainnya yang bertalian dengan sikap batiniah.
    Tidak ada seorang pun yang telah benar-benar bersih dari kesalahan. Kita semua adalah orang-orang yang dahulu memiliki masa lalu kelam. Namun hendaknya, setiap kita harus memiliki geliat yang sungguh akan kehidupan yang ideal di mata Tuhan. Kita harus sungguh memperkarakan perasaan Tuhan yang kita lukai setiap hari. Kesalahan sekecil apa pun harus segera kita selesaikan. Jangan terbiasa untuk menunda pertobatan, sehingga menumpuk dosa di hadapan Tuhan. Kita harus peka atau sensitif dengan perasaan Tuhan yang tidak nyaman dengan pikiran, perasaan, dan tingkah laku kita. Kita harus melihat “gunung dosa” yang selama ini hanya tampak permukaannya saja. Pada hati yang paling dalam, sebenarnya banyak kesalahan lain yang bersangkutan dengan kodrat dosa kita.
    Untuk itu, kita harus memiliki kesadaran atas dosa kita telah diampuni oleh Tuhan. Kesadaran selanjutnya yang perlu dibangun adalah bagaimana membalas kasih Tuhan yang begitu besar dalam diri kita. Sesungguhnya, tidak ada satu hal apa pun di dunia ini yang dapat membalas kebaikan Tuhan. Namun apabila Tuhan memperkenan kita untuk mengubah kodrat menjadi seperti yang Ia inginkan, ini adalah sebuah kesempatan besar untuk memuaskan hati-Nya. Pengampunan-Nya memberikan peluang bagi kita untuk terus membenahi diri. Oleh sebab itu, jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk membenahi diri selagi Tuhan masih bermurah hati kepada kita. Mari segera menyadari kesalahan yang telah kita lakukan dan ...
    0 min
  • Kesadaran terhadap Keberadaan Diri
    Dalam Lukas 7:47 dikatakan, “…tetapi orang yang sedikit diampuni sedikit juga ia berbuat kasih.” Kalimat ini mengesankan bahwa Tuhan tidak memberikan pengampunan sepenuhnya, atau seakan-akan hanya sebagian atau bisa dalam porsi sedikit. Apakah Tuhan dapat memberikan pengampunan dengan sebagian saja? Apakah bisa dalam porsi sedikit? Tidak dapat dipungkiri, secara harfiah kalimat tersebut dapat berarti demikian. Namun jika diartikan demikian, maka timbul kesan bahwa Tuhan tidak konsekuen dalam memberi pengampunan kepada manusia. Lalu, bagaimana memaknai perkataan ini?
    Tentu ayat firman Tuhan ini tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa pengampunan Tuhan dapat diberikan sebagian saja. Kita harus melihat dari sudut pandang manusia atau objek yang diampuni. Merujuk pada kisah perempuan berdosa yang berdiri di belakang kaki Yesus yang tidak henti-hentinya menangis, membasuh kaki-Nya dengan air mata dan menuangkan minyak, ia menyadari betapa banyak dosa yang telah dia lakukan. Ini dari sudut manusianya. Hal ini berbeda dengan Simon orang Farisi yang merasa dirinya sudah baik di mata manusia. Ia merasa dirinya adalah orang saleh yang tidak memiliki dosa seperti perempuan itu. Dalam hal ini, besarnya dosa yang dimaksud Tuhan dalam ayat itu tidak hanya menunjuk pada keadaan orang tersebut, tetapi kesadarannya terhadap keadaan dirinya.
    Perempuan berdosa ini merasa banyak dosanya, besar dosanya, maka ia melakukan hal yang luar biasa terhadap Tuhan. Sebaliknya, karena Simon orang Farisi itu tidak merasa bahwa dirinya berdosa, maka ia hanya melakukan hal yang biasa bahkan kurang terhormat, seperti yang dikatakan dengan tegas oleh Yesus: “Ketika Aku masuk rumahmu, kamu tidak mencuci kaki-Ku tapi perempuan ini mencuci dengan air matanya. Kamu tidak mencium Aku, tetapi wanita ini mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki Aku dengan minyak, perempuan ini memecahkan, menuangkan minyaknya kepada-Ku.” (Luk. 7:44). Dalam konteks budaya hari itu, jika ada tamu yang dianggap terhormat dari tuan rumah, maka tuan rumah yang mencuci kaki tamu itu. Tuan rumah yang kemudian mencium terlebih dahulu kaki tamu tersebut dan memercikkannya dengan minyak wangi. Tetapi hal itu tidak dilakukan oleh Simon orang Farisi karena ia memandang Yesus tidak terhormat atau kurang terhormat dibanding dirinya.
    Berbeda dengan wanita itu, Simon orang Farisi merasa dirinya tidak memiliki dosa sebanyak wanita tersebut. karena pada saat itu, ia memandang dirinya sebagai penegak Taurat. Inilah yang dimaksud Tuhan ketika berkata, “Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih.” Dalam hal ini, besarnya dosa yang dimaksud dalam pernyataan Tuhan tidak hanya menunjuk pada keadaan orang tersebut, tetapi kesadarannya terhadap keadaan dirinya. Simon orang Farisi itu tidak sadar bahwa dirinya belum berkeadaan seperti yang dikehendaki Allah. Ia berpikir dengan menjadi agen penegak hukum keagamaan, ia telah memiliki keadaan yang benar. Dengan berpikir demikian, ia merasa telah cukup baik sehingga tidak melakukan banyak perbuatan kasih. Sebaliknya, wanita yang merasa berdosa itu melakukan banyak perbuatan kasih karena berangkat dari kesadaran akan dirinya yang belum berkenan. Kesadaran akan dirinya membuat perempuan tersebut diampuni oleh Tuhan.
    Kisah wanita berdosa dan Simon orang Farisi ini memberi pelajaran berharga bagi kita. Pelajaran tersebut adalah kita tidak boleh cepat merasa puas dengan keadaan diri kita. Jangan bepikir jika tidak melakukan pelanggaran moral, diterima masyarakat, dan mengambil bagian dalam kegiatan gerejawi, maka kita sudah berkenan di hadapan Tuhan. Sesungguhnya kita harus terus merasa haus dan lapar untuk terus mengejar standar keberadaan yang dikehendaki oleh Tuhan. Tentu hal ini dapat dilihat oleh orang itu sendiri bersama dengan Tuhan jika jujur memperkarakannya. Tuhan akan membukakan mata rohani seseorang terhadap keadaan dirinya ketika ia haus dan jujur memperkarakannya. Selain itu,
    0 min
  • Pengampunan bagi yang Tidak Pernah Mendengar Injil
    Jika dipertanyakan apakah orang di luar sana yang tidak pernah mendengar Injil dosanya juga turut diampuni? Jawabannya adalah tetap diampuni, namun dengan jenis kualitas pengampunan yang berbeda. Tuhan menganggapnya sudah selesai, tapi bukan berarti langsung masuk surga semua. Perlu adanya semacam pengujian batin terhadap mereka untuk dapat dihakimi oleh Tuhan. Jika mereka bukan orang yang membahayakan atau mengancam sesamanya, maka bukan tidak mungkin mereka dapat masuk ke dunia yang akan datang sebagai warga masyarakat. Namun, kualifikasi mereka yang masuk dalam dunia yang akan datang pun tidak sembarangan. Mereka adalah orang-orang yang memberi baju kepada orang bertelanjang, memberi makan kepada orang lapar, yang mengasihi sesama seperti diri sendiri. Singkatnya, mereka adalah orang yang memiliki hati peduli dan mengasihi sesamanya.
    Kita tidak dapat membantah bahwa sebaik apa pun orang, pasti memiliki dosa. Namun harus diingat, bahwa dosa tersebut telah diselesaikan oleh Tuhan Yesus dalam kematian-Nya. Dalam Yohanes 1:29 dikatakan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kata “dunia” di sini merujuk pada seluruh orang tanpa terkecuali, mulai dari zaman Adam sampai manusia terakhir. Dengan mati-Nya Yesus di kayu salib, semua dosa umat manusia dihapuskan tanpa terkecuali. Namun ada letak perbedaan antara pengampunan mereka yang tidak pernah atau salah mendengar Injil dengan kita yang mendengar Injil. Bagi mereka yang tidak mendengar Injil, pengampunan berkutat pada masalah kepantasan atau kelayakan mereka di hadapan Allah. Jika Yesus tidak mati di atas kayu salib, maka kebaikan semua orang sia-sia. Namun dengan kematian Yesus, perbuatan orang yang tidak mendengar Injil dapat diperhitungkan dalam penghakiman Allah. Bagi orang percaya, pengampunan berarti usaha penyelesaian karakter. Ketika kita meminta ampun kepada Tuhan, kita bukan hanya menerima pengampunan dalam arti dosa kita dipikul, melainkan dosa itu diselesaikan di dalam hidup kita, kedagingan kita, di dalam jiwa kita. Kodrat kita diubahkan melalui pengampunan Tuhan tersebut. Pengampunan Tuhan membuka jalan bagi penyelesaian kodrat dosa yang mengakar pada daging kita.
    Pertanyaan ini dapat terus berkembang. Kalau misalnya kita tidak sampai sempurna seperti Yesus, apakah akan masuk neraka? Tidak. Kita bisa menjadi anggota masyarakat kalau kita betul-betul mengasihi sesama. Tetapi faktanya, di gereja kita menemukan banyak orang lebih bengis dari orang di luar gereja. Mereka saling menyakiti, saling melukai, saling memfitnah, bahkan tidak mencerminkan kodrat anak Allah sama sekali. Mereka dapat menerkam sesamanya, yang padahal telah berjasa dalam kehidupannya. Melihat hal ini, jangankan masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan, menjadi anggota masyarakat pun golongan orang semacam ini sangat membahayakan.
    Jadi kalau kita menerima penebusan dalam Tuhan Yesus, hal ini bermakna bahwa kita harus menyelesaikan kodrat dosa. Kalau tidak, keselamatan tersebut akan dibatalkan mengingat keselamatan adalah proses manusia dikembalikan ke rancangan semula. Oleh karenanya, kita harus dapat membedakan standar penghakiman orang yang mendengar Injil dengan orang yang tidak pernah mendengar Injil. Orang yang telah mendengar Injil dan menerima pengampunan dari Tuhan berkewajiban untuk menyelesaikan kodrat dosanya. Dengan kata lain, mereka harus hidup sama seperti Kristus telah hidup. Bagi orang yang tidak pernah mendengar atau salah mendengar Injil, mereka tidak dituntut untuk mencapai standar tersebut. Mungkin sebagian kita akan berpikir bahwa lebih nyaman menjadi golongan mereka yang tidak pernah mendengar Injil, sehingga tidak dituntut standar yang demikian berat. Hendaknya, kita tidak berpikir demikian karena pemikiran tersebut sangat keliru. Sebuah kehormatan apabila kita dapat menjadi umat pilihan yang diperkenan mengubah kodrat menjadi serupa dengan Kristus. Suatu kemuliaan yang tiada tara ketika kita berhasil mengubah karakter dan kebe...
    0 min
  • Standar Pengampunan yang Benar
    Dalam Lukas 7:47 dikatakan, “dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Ayat ini dapat menimbulkan pertanyaan besar, yakni: jika tidak berbuat kasih, apakah dosa tidak diampuni? Apakah pengampunan itu berdasarkan perbuatan (dalam hal ini perbuatan kasih) atau karena kasih karunia semata-mata? Banyak orang menganggap bahwa pengampunan diberikan secara cuma-cuma dalam kasih karunia Allah dan manusia tidak perlu berbuat apa-apa. Mereka sangat resisten apabila dikatakan manusia harus melakukan sesuatu dalam kasih karunia Allah. Manusia dipandang sudah sewajarnya pasif dan menerima karunia Allah karena ia telah jatuh dalam dosa dan rusak total. Apakah benar demikian?
    Jika dikaitkan dengan Lukas 7:47, kalimat ini harus dipahami pada konteksnya. Kalimat ini diucapkan pada zaman dimana orang belum mengenal kurban Tuhan Yesus di kayu salib. Oleh karenanya, sangat dapat dipahami apabila perempuan berdosa dalam ayat tersebut dibenarkan karena perbuatan kasih yang dilakukannya. Sama seperti ketika Yesus mengajarkan hal kasih; “Ketika Aku lapar, kau berikan Aku makan; ketika Aku haus, kau berikan Aku minum.” Ini diajarkan kepada pendengar-Nya yang belum mengerti kurban salib. Jadi, kita harus memahami terlebih dahulu bahwa kalimat itu diucapkan sebelum Yesus memikul salib. Tetapi apakah kalimat itu tidak memiliki makna bagi kita hari ini? Pasti memiliki makna tersendiri bagi kita. Kita harus membayangkan, Tuhan sedang bicara kepada orang-orang yang tidak tahu sama sekali tentang salib, mereka hanya mengenal Yesus sebagai Guru. Ketika Tuhan juga berkata kepada orang-orang bahwa perbuatan baik mereka kepada orang-orang atau saudara mereka yang hina itu perbuatan untuk Tuhan, mereka hanya memahami sebatas itu. Itu bisa dikenakan kepada orang non-Kristen yang tidak pernah mendengar Injil atau salah mendengar Injil.
    Jadi ketika Tuhan Yesus berkata, “dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih,” dan kita bandingkan dengan prinsip sola gratia, sekilas dapat terkesan bertentangan. Kita harus kembali pada konteks pendengar pada masa tersebut. Pendengarnya dalam konteks orang berpikir yang beragama Yahudi pada waktu itu belum tahu bahkan tidak tahu sama sekali adanya kurban tubuh Anak Domba Allah, yaitu Yesus di kayu salib. Jadi, kalimat di atas jelas diucapkan sebelum salib. Standar umat sebelum salib adalah melakukan hukum Taurat atau hukum yang tertulis di nuraninya (Rm. 2:15). Ukuran atau standar yang diukurkan kepadanya tentu tidak sama dengan umat yang telah ditebus oleh salib Kristus.
    Terlebih dahulu kita harus membedah tujuan dari salib. Paling tidak, ada dua tujuan dari adanya salib, yakni: Pertama, salib memberikan penebusan. Dalam penebusan, ada pembenaran dimana semua orang dianggap benar meskipun belum berkeadaan benar. Mereka yang dianggap benar namun belum berkeadaan benar, akan masuk dalam tujuan kedua dari salib, yakni dikembalikan ke rancangan Allah semula (Kej. 1:26) atau serupa dengan Yesus. Pada akhirnya, tujuan keselamatan itu adalah serupa dengan Yesus. Jika serupa dengan Yesus yang menjadi tujuan atau isi keselamatan tidak tercapai atau tidak terselenggara, maka penebusan dan pembenaran adalah percuma. Sayangnya, banyak orang Kristen hanya sampai penebusan. Sudah dibenarkan, dianggap benar, dan yakin bisa masuk surga. Doa Bapa Kami memberikan kepada kita petunjuk yang sangat kuat: “Ampuni kami seperti kami mengampuni orang yang bersalah kepada kami.” Jikalau kita tidak mengampuni orang, Tuhan juga tidak memberikan pengampunan-Nya. Ada semacam mekanisme pembatalan pengampunan yang jelas dan tidak boleh dibantah.
    Kita harus memahami bahwa doktrin bersifat asumsi, sedangkan Alkitab adalah otoritas tertinggi. Jadi, selamanya kita harus menggali Alkitab dan berani mengoreksi ajaran yang sudah ada. Memang tidak selalu ajaran yang sudah ada pasti salah, tapi juga tidak selalu benar. Kalau Alkitab mengajarkan bahwa Allah bisa membatalkan pen...
    0 min
  • Diselamatkan dalam Kasih
    Masih dalam kisah perempuan berdosa yang datang kepada Yesus, kita dapat menemukan kebenaran bahwa seseorang yang menerima pengampunan harus memiliki moral dan keberadaan karakter seperti Tuhan. Pengampunan yang diterima oleh orang percaya memang diterima secara cuma-cuma dan bukan karena perbuatan baik. Akan tetapi, orang yang diampuni pasti akan mengasihi sesamanya karena ia sadar bahwa ia adalah orang yang beroleh pengampunan. Ia mengampuni bukan karena takut tidak diampuni oleh Tuhan, sebab ini standar yang sangat rendah. Ia mengampuni orang lain karena ia telah menerima pengampunan dan keberadaan serta karakternya diubah oleh Tuhan sehingga dapat menerima orang lain. Dengan kalimat lain, ia tidak bisa tidak mengampuni orang lain karena karakternya adalah karakter anak Allah.
    Untuk sampai pada tahap mengampuni orang lain karena karakter yang diubahkan, seseorang harus bertumbuh dalam kebenaran. Roma 10:17 menyatakan bahwa iman seseorang timbul dari pendengaran akan Firman Kristus. Iman merupakan penurutan akan kehendak Allah. Dalam konteks ini, kehendak Allah adalah mengubah manusia yang memiliki keberadaan meleset menjadi sempurna. Oleh karenanya dibutuhkan sarana, yakni Firman atau kebenaran. Kebenaran yang selalu didengar dan mewarnai nurani akan mengubah moralitas dan karakter seseorang. Jika terus diasup dan dipraktikkan secara konsisten, maka kebenaran tersebut akan berbuah. Buah dari kebenaran yang didengar dan dipraktikkan adalah kehidupan seperti Kristus. Kehidupan seperti Kristus inilah yang membuat seseorang dapat berada dalam kepekaan terhadap pikiran dan perasaan Allah. Ia memiliki standar moral di atas manusia lainnya dengan nurani yang telah diubahkan oleh kebenaran.
    Perjumpaan dengan kebenaran ini harus disambung senantiasa dalam perjumpaan dengan Tuhan. Setiap kita harus menyediakan waktu untuk bermeditasi secara pribadi dengan-Nya. Sebab, dalam perjumpaan dengan Allah secara pribadi, kita dapat merasakan getar perasaan-Nya. Kita dapat memeroleh impartasi dari hadirat dan hati Allah sendiri. Jika orang yang bergumul dengan kuasa gelap bisa memeroleh ‘impartasi’ dari perjumpaannya dengan sosok kuasa gelap tersebut, maka bukan tidak mungkin kita bisa memeroleh perasaan Allah ketika menyediakan waktu berjumpa dengan-Nya. Hal ini sangat dibutuhkan, di samping kita berlama-lama membaca dan menerima pengetahuan tentang Allah. Tidak ada orang yang lebih beruntung ketimbang orang yang berjumpa dengan Allah secara pribadi. Ia bukan hanya mengetahui tentang Allah, tetapi ia dapat mengalami Allah sendiri. Melalui pengalaman nyata dengan Allah, kita dapat merasakan bagaimana perasaan Allah ketika berhadapan dengan kita yang rapuh ini. Secara tidak langsung, kita akan mampu mencerminkan perasaan belas kasih dan kemurahan pada orang lain yang bersalah kepada kita.
    Perempuan berdosa yang datang kepada Tuhan diampuni karena ia mengasihi Tuhan secara luar biasa. Ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kebiasaan orang pada umumnya, bahkan dapat dikatakan bahwa ia menerobos batas. Namun, tindakannya mengurapi Tuhan dengan minyak dan air mata serta menyeka dengan rambutnya, menunjukkan bahwa ia tinggal dalam kasih. Tidak heran jika Tuhan mengatakan kepadanya bahwa dosanya telah diampuni sebab ia telah banyak berbuat kasih. Ia diampuni karena keberadaannya yang diubahkan oleh Tuhan. Tindakannya mencerminkan bahwa dirinya melakukan suatu pertobatan radikal dengan mencerminkannya melalui tindakan nyata.
    Orang-orang semacam ini menunjukkan bahwa dirinya memiliki moral dan keberadaan karakter yang dikehendaki oleh Tuhan. Hendaknya, kita juga menunjukkan pengampunan kepada sesama berangkat dari moral dan keberadaan karakter yang diubah oleh Tuhan. Bukan sekadar takut tidak diampuni oleh Tuhan, melainkan tidak bisa tidak melakukan tindakan kasih, yakni mengampuni karena perubahan karakter yang kita alami. Jadi, sebelum kesempatan hidup yang Tuhan berikan ini berlalu dan kita akan kehilangan selama-la...
    0 min
  • Relasi Pengampunan dan Perbuatan Kasih
    Dalam Lukas 7:36-46, terdapat sebuah kisah yang menunjukkan relasi antara “pengampunan” dan “perbuatan kasih.” Kisah tersebut bercerita mengenai seorang Farisi yang mengundang Yesus untuk datang dan makan di rumahnya. Yesus datang ke rumah orang Farisi itu dan duduk makan bersama mereka. Kemudian ada seorang perempuan yang terkenal sebagai orang berdosa. Ungkapan ‘orang berdosa’ di sini merupakan sebuah bentuk sebutan yang dihaluskan untuk merujuk pada wanita tunasusila. Dalam Lukas 7:37-38 dituliskan, “Ketika perempuan itu mendengar, bahwa Yesus sedang makan di rumah orang Farisi itu, datanglah ia membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi. Sambil menangis ia pergi berdiri di belakang Yesus dekat kaki-Nya, lalu membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu.” Minyak yang digunakan dalam kisah ini adalah minyak narwastu dan bukan dari Timur Tengah, melainkan datang dari India. Minyak ini dapat digolongkan sebagai barang mewah. Ketika perempuan tersebut meminyaki kaki Tuhan Yesus dengan minyak tersebut, sebenarnya perempuan tersebut mempertaruhkan harga diri, nama baik, dan uangnya.
    Kisah tersebut kemudian berlanjut demikian: “Ketika orang Farisi yang mengundang Yesus melihat hal itu, ia berkata dalam hatinya: ‘Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa.’ Lalu Yesus berkata kepadanya: ‘Simon, ada yang hendak Kukatakan kepadamu.’ Sahut Simon: ‘Katakanlah, Guru.’ ‘Ada dua orang yang berhutang kepada seorang pelepas uang. Yang seorang berhutang lima ratus dinar, yang lain lima puluh. Karena mereka tidak sanggup membayar, maka ia menghapuskan hutang kedua orang itu. Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?’ Jawab Simon: ‘Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya.’ Kata Yesus kepadanya: ‘Betul pendapatmu itu.’ Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: ‘Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi.’” (Luk. 7:39-46).
    Perlu diketahui, tradisi pada masa itu adalah jika ada orang yang dianggap penting datang ke rumah salah satu keluarga, maka tuan rumah akan membasuh kakinya lalu memercikkan minyak wangi. Tuhan membandingkan perlakuan orang Farisi tersebut dengan wanita ini. Orang Farisi itu tidak menyediakan air untuk membasuh kaki Yesus, sedangkan perempuan itu mencuci kaki-Nya dengan air mata dan menyeka-Nya dengan rambutnya. Rambut merupakan mahkota perempuan, yang pada waktu itu biasanya terurai dan ditutup. Pada masa itu, rambut yang terurai dan tidak dikepang merupakan simbol dari seorang perempuan santun. Sebaliknya, perempuan yang mengepang-ngepang rambutnya adalah wanita yang tidak baik atau tunasusila. Oleh karenanya, dengan mengurai rambutnya, sebenarnya perempuan ini menunjukkan bahwa ia telah berhenti berbuat dosa.
    Narasi ini mencapai klimaksnya ketika sampai di Lukas 7:47, “Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih.” Pengampunan yang diberikan ini disebabkan oleh karena perbuatan kasihnya kepada Yesus. Tuhan tidak akan memberikan pengampunan kepada orang yang tidak memiliki kasih kepada sesamanya. Sebaliknya, ketika seseorang berbuat kasih kepada sesamanya, sesungguhnya dosanya yang banyak diampuni oleh Tuhan. Tentu hal ini tidak merusak prinsip “keselamatan hanya oleh anugerah.” Keselamatan dan pengampunan hanya hadir karena Yesus, namun perbuatan kasih yang ditunjukkan oleh seseorang mencerminkan bagaimana keadaannya yang mengasihi orang lain.
    0 min
  • Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali
    Sejak narasi kejatuhan manusia dalam dosa pada Kejadian 3, kita dapat melihat bahwa manusia mulai memiliki dirinya dan tidak hidup di bawah pemerintahan Allah. Dalam Kejadian 4, kita melihat terjadi pembunuhan terhadap Habel. Pembunuhan tersebut sebenarnya bisa dikatakan pembunuhan yang jumlahnya besar. bukan secara angka, melainkan rasio, dengan jumlah penduduk yang waktu itu baru ada 4 orang. Pembunuhan Habel merupakan pembunuhan dari seperempat penduduk bumi. Kendati Kain sudah berbuat dosa dengan melakukan pembunuhan, tapi Allah masih memberikan perlindungan terhadapnya berupa ancaman bagi orang yang membunuh Kain, yaitu pembalasan sebanyak 70 kali lipat. Hal ini dilakukan untuk mencegah agar orang jangan membunuh Kain. Dikhawatirkan ada manusia dari keturunan Adam yang lain bisa dendam terhadap kejahatan yang dilakukan Kain, mengingat banyaknya keturunan Adam yang dapat direproduksi pada masa itu. Jika dipertanyakan, “mengapa Allah memproteksi Kain?” Hal ini dapat dijawab karena itu adalah kejahatan pertama yang dilakukan manusia. Saat itu manusia belum mengerti banyak tentang kasih dan perlindungan terhadap sesama.
    Setelah kisah pembunuhan tersebut, kejatuhan manusia dalam dosa terus-menerus dicerminkan dalam teks-teks berikutnya. Adapun Lamekh, keturunan Kain, dalam keangkuhan berkata: “Jika Kain harus dibalaskan 70 kali lipat, maka Lamekh 70 x 7 lipat.” Dalam bahasa Inggris, ungkapan ini dapat memiliki makna yang sama dengan 70 kali 7 kali seperti yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang percaya dalam mengampuni orang lain. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 kali 7 dari Lamekh itu, Yesus mengajarkan pengampunan 70 dikali 7 kali. Hal ini digambarkan dalam kalimat: “Ampunilah kami akan kesalahan kami; bebaskan kami dari utang kami, seperti kami membebaskan utang orang yang berutang kepada kami.” Tuhan memberikan standar untuk orang percaya sebagai kebalikan dari ambisi Lamekh dalam kebenciannya. Dalam kebiasaan orang Yahudi, mereka biasa memberikan pengampunan 3 kali, tetapi Petrus mencoba mengemukakan sesuatu yang menurutnya luar biasa, yakni 7 kali. Menanggapi hal ini, Tuhan berkata bahwa 7 kali juga tidak cukup. Harus 70 dikali 7 kali. Kebenaran Firman Tuhan ini merupakan antitesis atau pembanding dari apa yang dikatakan oleh Lamekh. Ini mengarahkan kita bahwa Allah hendak mengembalikan manusia ke rancangan semula, yakni manusia yang memiliki hati pengampunan yang luas seperti Tuhan sendiri.
    Ketika seseorang berani berkata bahwa ia percaya kepada Yesus, hal ini menunjukkan bahwa ia harus berani melakukan apa yang Yesus lakukan. Kepercayaan terhadap Tuhan harus ditunjukkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ucapan bibir saja. Dalam hal ini, orang percaya dituntut Tuhan untuk memiliki hati mengampuni seperti yang ada pada Tuhan. Sebagian orang merasa bahwa mereka tidak mampu untuk melakukan hal ini. Namun sebenarnya, ketika seseorang berhasil mengampuni sesamanya, maka ia akan naik ke level berikutnya. Semakin sering kita mengampuni, maka akan semakin tinggi kapasitas pengampunan yang dapat kita berikan. Dalam hal ini, memang terdapat unsur pembiasaan atau latihan yang harus dijalani orang percaya. Hati yang mengasihi tidak dapat diberikan secara otomatis hanya karena seseorang percaya kepada Yesus. Setelah percaya kepada Yesus, ia harus memberi dirinya dilatih oleh Tuhan untuk memiliki hati seperti-Nya.
    Yesus berkata dalam Matius 18:35, “Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu.” Dari kalimat ini, kita dapat menangkap kualitas pengampunan yang dikehendaki Tuhan untuk dimiliki orang percaya. Jika kita mengaku mengampuni orang, apakah pengampunan tersebut telah diberikan dengan segenap hati? Pembunuhan dan kebencian adalah karakter yang menonjol setelah manusia kehilangan kemuliaan Allah. Sebagai imbangan dari pembalasan yang 70 dikali 7 kali dari Lamekh itu,
    0 min
  • Dosa adalah Utang
    Ketika Tuhan menebus manusia di atas kayu salib, Ia melepaskan nyawa-Nya sebagai alat atau sarana pembayaran atas dosa dan kesalahan kita. Meneguhkan hal ini, di dalam bahasa Aram, kata “utang” adalah howb (חוֹב֙) yang berarti debtors. Kata “utang” berasal dari kata mashshaah (Ibr. מַשָּׁאָה). Kata “dosa” dalam bahasa Aram itu juga berarti “utang” atau “barang gadaian.” Sebagai ilustrasi, jika sebuah barang diambil, maka seseorang harus membayar sejumlah uang untuk menebus barang tersebut. Perlu diketahui bahwa barang gadaian pada zaman itu bukan hanya benda, namun juga manusia—yakni budak. Untuk menebus seorang budak, kita harus membayar sejumlah uang. Itulah sebabnya, dalam 1 Korintus 6:19-20 firman Tuhan mengatakan “kamu telah dibeli dengan harga lunas dibayar,” yang sama dengan 1 Petrus 1:18-19, “kamu ditebus bukan dengan barang yang fana melainkan dengan darah yang mahal.” Yesus harus menumpahkan darah-Nya, sampai ketika lambung-Nya ditikam, mengalirlah darah dan air. Kalau Tuhan Yesus tidak membeli kita dengan pengorbanan-Nya, kita tidak pernah menjadi milik Allah.
    Kebenaran seperti ini melandasi kita untuk melakukan tindakan-tindakan yang sesuai atau sepadan dengan Injil, artinya sesuai dengan kehidupan kita sebagai orang yang ditebus. Menjadi milik Allah berarti bersedia menggerakkan pikiran, perasaan, dan kehendak Allah dalam penurutan penuh. Ketika seseorang lebih memilih untuk melakukan kehendaknya, maka ia menjadi tidak tepat atau meleset. Kemelesetan inilah yang akhirnya didefinisikan sebagai dosa; yakni dimana pikiran dan perasaan seseorang tidak seturut dengan Allah. Keberadaan manusia yang meleset ini ditebus oleh Tuhan Yesus dengan darah-Nya untuk dapat diperbaiki. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, seperti Iblis dan para malaikat yang jatuh.
    Mereka yang masih bisa ditebus adalah mereka yang masih bisa diperbaiki. Manusia yang ditebus harus mengalami perbaikan atau bisa diubah. Perubahan yang dikehendaki Allah adalah perubahan sesuai standar-Nya. Jadi, setiap orang Kristen hendaknya memiliki perasaan krisis dengan keadaannya, apakah ia telah menjadi tebusan seperti yang diharapkan Tuhan? Dengan penebusan itu, kita harus hidup sesuai dengan kehendak Allah, bukan sesuai selera dan gaya hidup kita. Sama seperti budak yang dibeli, dia ada di dalam pemilikan atau ownership dari seorang majikan. Kita tidak berhak atas diri kita lagi, melainkan di bawah kepemilikan majikan atau tuan yang telah membeli kita. Inilah konsekuensi dari manusia yang ditebus. Hubungannya dengan pengampunan adalah bahwa kalau kita ditebus oleh Tuhan Yesus, kita tidak boleh menyimpan kesalahan orang lain dalam hati kita sebagai dendam.
    Orang percaya harus bisa mengampuni dan tidak boleh memiliki dendam kebencian sekecil apa pun. Alkitab mengatakan bahwa membenci sama dengan membunuh (1Yoh. 3:15). Untuk dapat mengenali dendam yang tersimpan dalam hati kita, dibutuhkan kejujuran. Pikiran kita yang cerdik sering kali membangun berbagai macam pembenaran diri yang pada intinya hendak melestarikan perasaan dendam terhadap seseorang. Kita tidak rela mengampuni orang yang begitu menyakiti, merusak, merugikan, melecehkan, atau menghina kita. Kita bersikap permisif terhadap perasaan tersebut, bahkan cenderung masochistis atau menikmati kebencian tersebut dengan mengasihani diri sendiri.
    Sesungguhnya, setiap kesalahan orang lain dapat kita perhitungkan sebagai utang yang harus mereka bayar. Kita sering kali tergoda memaksa mereka untuk membayar utang tersebut dengan berbagai cara. Misalnya, dengan mempermalukan mereka atau mendoakan agar orang tersebut memperoleh celaka sehingga terbukti siapa yang benar. Paling tidak, terkadang kita ingin menceritakan kesalahan atau mengungkap kejahatan mereka kepada orang lain agar nyata siapa yang bersalah. Sebenarnya, ini adalah kepuasan jiwa yang meracuni kejernihan batin kita. Sejak kecil, kita sudah terbiasa untuk menikmati kepuasan ini dari lingkungan kita.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…