Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Membangun Kesucian
    Dulu kita berpikir dan yakin bahwa kita tidak bisa hidup suci. Kata “suci” bagi kita—dan orang pada umumnya—adalah kata yang sangat sakral, keramat, dan tidak akan pernah dapat kita jangkau. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, ketika kita mengenal kebenaran dan mengalami banyak perjumpaan dengan Allah, kita makin melihat bahwa kesucian adalah suatu keniscayaan. Allah tidak mungkin berdusta ketika Ia berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” (1Ptr. 1:16). Allah pun tidak mungkin mengada-ada ketika Allah berkata, “Keluarlah kamu dari antara mereka. Jangan menjamah apa yang najis. Maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan,” (2Kor. 6:17-18) dan banyak lagi ayat Firman Tuhan yang jelas-jelas menunjukkan bahwa sebagai umat pilihan, kita dipanggil untuk hidup tidak bercacat tidak bercela; hidup dalam kekudusan, sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, dan mengenakan kodrat ilahi.
    Dalam perjalanan mengarungi hidup kekristenan dan berusaha untuk mengenakan kebenaran, di dalamnya termasuk bagaimana hidup tidak bercacat, tidak bercela, kita mengalami jatuh bangun. Tetapi kemudian kita tahu bahwa kesucian itu bisa kita capai. Itu tergantung pada tekad dan niat kita. Kalau kita benar-benar bertekad; kalau ada niat yang benar-benar kuat untuk mencapai kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela atau untuk memiliki kekudusan sesuai dengan standar Bapa, maka kita dapat melihat kemungkinan yang lebih besar, keniscayaan yang lebih nyata dalam mencapai kekudusan tersebut.
    Kesucian harus dirajut, dengan usaha merajut setiap hari dari hal-hal kecil, dari hal-hal sederhana. Dari hal-hal kecil dan dari hal-hal sederhana tersebut, kita melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan yang menyimpang atau meleset. Kesucian di dalam Tuhan bukan hanya melakukan hukum atau tidak melanggar norma umum, tetapi dalam segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Jadi kita bisa mengerti mengapa Firman Tuhan mengatakan agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus (Flp. 2:5-7). Memiliki pikiran dan perasaan Kristus artinya agar dalam segala hal yang kita lakukan, semua tindakan kita—baik yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan—selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Dalam berjuang mencapai kesucian, kita harus mulai dari hal-hal kecil, dari hal-hal yang kelihatannya sederhana. Dari perjuangan kita untuk memiliki ketepatan bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah yang dimulai dari hal-hal kecil dan dari hal-hal sederhana tersebut, kita dapat menemukan “monster-monster kecil” di dalam diri kita. “Monster besar” seperti perzinaan, kebencian, sikap tidak mengampuni orang, dendam, jelas itu merupakan kesalahan atau dosa, dan itu sudah melekat dalam diri manusia yang berkodrat dosa. Itu adalah “monster besar.” Tetapi ada “monster-monster kecil,” seperti ketidaktulusan, kata-kata atau canda yang tidak tepat, dusta-dusta kecil, kebohongan-kebohongan terselubung, kesombongan-kesombongan terselubung yang sangat halus, yang jangankan orang lain, kita sendiri juga mungkin tidak sadar melakukan hal tersebut. Padahal, itu bertentangan dengan kesucian Allah.
    Mencapai kesucian Allah berarti kita memiliki keagungan moral seperti Allah. Kalau standar keagungan moral kita harus seperti Bapa—sesuai yang dikatakan Tuhan Yesus bahwa kita harus sempurna seperti Bapa—maka dari hal-hal kecil dan dari hal-hal sederhana, kita sudah harus memiliki kekudusan, kesucian, dan ketepatan. Dari hal ini, kita bisa membangun kekudusan sesuai standar Allah. Kalau dari hal kecil atau hal sederhana kita tidak tepat, maka akan dilahirkan ketidaktepatan dalam bentuk perbuatan-perbuatan yang lebih nyata, lebih besar. Kalau “monster-monster kecil” yang ada pada kita tidak kita temukan dan kita biarkan merajalela di dalam diri kita—yang terekspresi dalam pikiran, renungan hati, ucapan, dan perbuatan—maka berarti secara tidak langsung kita menghidupkan pula “monster-monster...
    0 min
  • Menghayati Kehadiran Allah
    Kita harus benar-benar serius mencari Tuhan dan mengalami Tuhan, sebab Tuhan itu segalanya dalam hidup ini. Kita harus benar-benar serius mencari Tuhan, lebih dari mencari uang, harta, karier, apa pun. Benar-benar serius sampai kita bisa mengalami Tuhan. Walaupun seorang dosen sekolah teologi, harus masih belum puas dengan pengetahuan teologi yang dimiliki, harus merasa belum cukup, bahkan tidak cukup. Kita harus mengalami perjumpaan dengan Tuhan yang terus bertambah, tidak gagal mengalami Tuhan. Adapun ciri dari orang yang gagal menghayati Tuhan, adalah:
    Pertama, perasaan takut terhadap hari esok. Takut terhadap masa depan, takut terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya yang dia pandang mengancam hidupnya. Orang seperti ini hidup di dalam ketakutan, kecemasan, kekhawatiran. Itulah orang-orang yang gagal menghayati kehadiran Tuhan. Padahal, Allah itu hidup, Allah itu hadir mestinya tidak ada yang membuat kita gentar. Ciri paling mudah orang yang gagal menghayati kehadiran Tuhan adalah ia takut gelap, takut setan. Ini sebenarnya orang yang gagal menghayati kehadiran Tuhan, takut hari esok akan terjadi apa-apa. Sesungguhnya selama kita tidak memberontak kepada Tuhan, selama kita hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sejatinya tidak ada yang membuat kita takut.
    Kedua, hidupnya tidak bersih, berani berbuat dosa. Terus terang, kadang-kadang kita juga sering gagal menghayati kehadiran Tuhan. Misalnya waktu dalam sebuah percakapan, kita menjadi sombong, kita tidak tulus. Sering kali kita juga begitu, kita gagal menghayati kehadiran Allah, sehingga sembarangan dengan apa yang kita lakukan. Kita harus jujur melihat diri kita sendiri.
    Ketiga, tidak berani berkorban untuk Tuhan. Sebenarnya, kalau kita bisa melayani Bapa, bisa memberikan sesuatu kepada Bapa, itu adalah kehormatan. Kalau kita bisa berbuat sesuatu untuk sesama kita—dalam konteks apa yang kita lakukan adalah untuk Tuhan—maka itu adalah sebuah kebahagiaan, sebuah kehormatan yang bernilai kekal. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan motif yang bersih, dengan motif yang benar, bahwa kita melakukannya untuk Bapa di surga. Dan itu menjadi kebahagiaan kita. Setiap kali kita menolong seseorang, hati kita terenyuh. Waktu kita berbuat sesuatu untuk orang, yang kita dasarkan bahwa kita melakukan untuk Bapa di surga, air mata kita bisa berlinang, kita terharu karena kita boleh berbuat ini sebagai persembahan kepada Allah. Ketika kita membagi uang kita untuk sesama kita; roti kita untuk sesama kita, atau kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan dan walau dalam keadaan pas-pasan kita bisa mendukung pekerjaan Tuhan dengan motif yang tulus, itu adalah kehormatan. Orang yang menghayati kehadiran Allah itu orang yang rela berkorban apa saja bagi Dia, dan itu menjadi suatu kehormatan.
    Keempat, merindukan saat-saat berdoa menghadap hadirat-Nya. Sejatinya, ketika kita ingat besok pagi mau berdoa bersama pada pagi hari, maka pada malam harinya kita sudah semangat. Kita segera tidur supaya bisa bangun, supaya kita segar untuk berdoa. Berdoa adalah saat yang indah ada di hadapan Tuhan
     
     
    Kelimat, merindukan bertemu dengan Tuhan; tidak ingin lama-lama hidup di bumi ini. Mari kita berperkara dengan diri sendiri, “Apakah saya serius untuk pulang ke surga?” Berurusan dengan Bapa adalah suatu hal yang luar biasa. Dia adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah Israel. Kita harus mengalami perjumpaan-perjumpaan dengan Bapa dalam doa. Hal ini sangat dahsyat dan benar-benar menakjubkan.
    Ketika kita tidak menghayati kehadiran Allah dan tidak ingin bertemu dengan wajah Yesus, kita sudah gagal menghayati kehadiran Allah. Ketika seseorang takut menghadapi dunia ini, ketika seseorang ceroboh dalam hidup, ketika seseorang tidak berani berkorban untuk Tuhan, ketika seseorang tidak mempunyai kerinduan untuk berdoa, ketika seseorang tidak merindukan langit baru bumi baru, pasti ada yang salah,
    0 min
  • Pemeliharaan Tuhan
    Bila kita mengingat kembali penyertaan Tuhan sejak kita dilahirkan, melewati masa kanak-kanak, masa remaja, pemuda, dewasa, dan sampai hari ini. Kalau kita sungguh-sungguh menyadari betapa besar kasih Tuhan, betapa sempurna pemeliharaan-Nya atas hidup kita, maka kita tidak berani lagi menuntut apa-apa kepada-Nya. Kita tidak berani lagi mencoba mengatur Tuhan. Tetapi yang kita lakukan adalah menyerahkan hidup kita, dan memberi diri untuk diatur Tuhan, sesuka hati Tuhan. Atau yang sama dengan kita menyediakan diri untuk hidup di dalam kedaulatan Allah. Kebaikan Tuhan atas kita tidak akan pernah bisa kita hitung, baik yang kelihatan, yang kita tahu, maupun yang tidak kita sadari. Terlalu banyak berkat dan pemeliharaan Tuhan di dalam hidup kita. Sejak kita dirajut oleh Tuhan, di dalam kandungan ibu, kita dilahirkan dengan sempurna. Masa kanak-kanak kita di dalam pimpinan Tuhan, lalu memasuki remaja, dan seterusnya. Kita berutang kebaikan dari Tuhan.
    Belum lagi kalau kita menyadari betapa besar harga keselamatan yang Allah Bapa berikan, dengan memberikan Putra Tunggal-Nya kepada kita. Sungguh, kita tidak akan pernah bisa menghitung jumlah berkat Tuhan. Dan kita tidak pernah akan bisa dapat membalas atau mengembalikan kebaikan Tuhan. Tetapi kita bisa bersyukur dengan tulus. Dan ucapan syukur kita bukan hanya dengan kata-kata, dengan ucapan, melainkan kita bisa mengucap syukur dengan tindakan, dengan perbuatan, yaitu menyerahkan hidup kita kepada Tuhan, hidup di dalam pengaturan Tuhan, untuk hidup dalam kedaulatan Tuhan (1Kor. 10:31).
    Sikap kita membalas kebaikan Tuhan dengan menyerahkan hidup agar kita hidup di dalam kedaulatan Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya, juga merupakan langkah untuk menyelamatkan diri kita, supaya kasih yang Allah sediakan kepada kita akan lebih lengkap, lebih sempurna, lebih utuh kita terima. Sebab, berkat yang Allah sediakan bagi kita juga tidak terbatas. Tidak hanya sampai pada saat ini di bumi. Sejujurnya, banyak berkat Tuhan yang telah kita sia-siakan. Seandainya dari dulu kita hidup di dalam kebenaran Tuhan, dalam kesucian, dalam kekudusan Tuhan, dalam penurutan terhadap kehendak Tuhan, pastilah lebih lengkap, lebih banyak, lebih utuh berkat yang Allah sediakan bagi kita. Tetapi kita telah banyak mengambil langkah yang salah. Kita sering mengambil keputusan yang keliru, bahkan kita juga sempat menjadi domba yang terhilang.
    Sejatinya, pada saat-saat kita tidak hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah, banyak berkat Tuhan yang terbuang sia-sia yang mestinya bisa kita miliki. Tetapi, bersyukur Tuhan membawa kita kembali kepada-Nya. Masih banyak berkat yang Allah sediakan, terutama berkat kekekalan. Jika kita menyerahkan diri kepada Tuhan—untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan, hidup di dalam penyerahan diri sepenuh kepada-Nya, dan hidup di dalam pengabdian kepada Tuhan—itu semua sesungguhnya adalah langkah-langkah untuk menyelamatkan diri kita sendiri. Agar kita bisa memiliki kehidupan yang diberkati Tuhan lebih limpah lagi. Jadi, jangan kita mengambil langkah yang keliru lagi. Mulai sekarang, kita mau menyerahkan hidup kita sepenuh kepada Tuhan, untuk hidup di dalam kedaulatan Tuhan, yaitu untuk hidup di dalam penurutan kepada kehendak Tuhan dan dalam pengabdian kepada-Nya. Walaupun itu tidak mudah kita raih, namun kita harus berjalan bersama Tuhan. Kita harus belajar mengenal kebenaran, dan hidup di dalam kebenaran tersebut.
    Melalui pemberitaan Suara Kebenaran yang kita dengar, melalui doa-doa yang kita lakukan, kita mencari wajah Tuhan. Kita mau mengerti apa yang Tuhan kehendaki untuk kita lakukan. Kita bisa tahu rencana Allah dalam hidup kita yang harus kita penuhi atau tugas khusus atau tugas istimewa yang Tuhan berikan kepada kita masing-masing untuk kita lakukan. Kita akan sangat menyesal kalau suatu saat di hadapan Allah, baru sadar sepenuhnya ternyata kita menyia-nyiakan berkat-berkat yang lebih besar, yang Allah sediakan bagi kita.
    0 min
  • Kebanggaan Orang Percaya
    Menjadi Kristen berarti membawa diri kepada masalah besar. Karena ketika kita menjadi orang Kristen, kita harus mengikut jejak Tuhan Yesus. Jejak Tuhan Yesus adalah pertumbuhan atau progresivitas untuk bisa melakukan segala sesuatu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ini merupakan perjuangan yang bisa terwujud kalau kita melepaskan segala sesuatu. Firman Tuhan mengatakan dalam Lukas 14:33, “kalau kamu tidak melepaskan dirimu dari segala milikmu, kamu tak dapat jadi murid-Ku.” Oleh sebab itu, kita tidak bisa memiliki Kerajaan Surga tapi juga memiliki dunia; kita tidak bisa memiliki Tuhan tapi juga memiliki dunia. Bahkan, kita pun tidak berhak memiliki diri sendiri dan juga memiliki Tuhan. Memang konsekuensi menjadi anak tebusan Allah adalah kita harus melepaskan diri kita untuk dimiliki Allah guna proses dikembalikannya manusia kepada rancangan semula dapat berlangsung dengan baik.
    Kalau kita masih merasa memiliki diri kita, merasa berhak memiliki kesenangan, merasa berhak memiliki kebahagiaan, proses untuk dikembalikan kepada rancangan Allah tidak akan terwujud; atau proses keselamatan itu tidak bisa berlangsung. Dengan demikian, kalau kita memiliki komitmen sungguh-sungguh mau ikut Yesus, kita hanya memiliki satu saja: Tuhan. Hanya Tuhan yang menjadi milik kita. Kebanggaan kita adalah memikul salib. Kebanggaan kita adalah menyangkal diri. Kebanggaan kita hanyaalah melakukan kehendak Bapa. Kurang dari itu, tidak bisa. Menjadi orang Kristen itu benar-benar seperti orang yang dibawa ke pembantaian; seperti domba kelu dibawa ke pembantaian. Kita hanya bisa berkata “Ya, aku bersedia, Tuhan.” Inilah orang yang telah berhenti memiliki dirinya sendiri.
    Memang proses menjadi orang percaya yang benar ini tidak bisa terjadi dalam waktu singkat karena harus melalui proses yang panjang dan juga menyakitkan. Tetapi proses seperti ini luar biasa indahnya ketika kita dapat merasakan damai sejahtera yang melampaui segala akal di tengah-tengah pergumulan hidup yang kita alami untuk menjadi serupa dengan Yesus atau memiliki pikiran dan perasaan Allah. Akhirnya, kalau dulu kita menikmati dosa, menikmati kepuasan-kepuasan daging—seperti kuliner, seks, kehormatan manusia, pujian, sanjungan, uang, kita merasa bangga memiliki ini dan itu, kita merasa terpandang dengan kedudukan, pangkat, dan lain-lain—namun sekarang, kita bisa menikmati kesucian. Kalau kita menikmati segala sesuatu yang berasal dari dunia ini, kita pasti terjebak dalam kecanduan yang membuat kita makin terpisah dari Allah dan kita mengeliminir Allah; kita memisahkan diri dari Allah. Dengan kata lain, berarti kita keluar dari hadirat Allah.
    Tetapi, kalau kita sungguh-sungguh mau melakukan kehendak Allah, menjadi orang-orang yang bersedia sungguh-sungguh dikembalikan ke rancangan semula lewat proses yang berlangsung, maka kita bisa menikmati kesucian Allah. Kesucian itu bisa dinikmati, terutama pada saat kita berkesempatan berbuat dosa dan menolak dosa itu. Ketika kita dilukai, kita disakiti, diperlakukan tidak adil, lalu kita berkata, “Baik, kuampuni kamu. Kuanggap tidak ada masalah.” Kita berdoa, “Tuhan, ampuni dia karena dia tidak tahu apa yang dia perbuat.” Ini menyakitkan diri sendiri. Tapi sakit yang kita nikmati, itulah kesucian. Ketika kita karena jujur menjadi miskin, karena jujur kita tidak punya rumah bagus, karena jujur kita tidak punya kendaraan, tetapi kita menikmati kesucian itu. Ketika tertindas, diperlakukan tidak adil, kita menjadi terbelakang, kita menjadi orang yang diinjak-injak, tetapi kita menjalani dengan sukacita karena kita tidak mau berbuat dosa, di situ kita menikmati kesucian Allah.
    Dalam keadaan menikmati kesucian Tuhan, kita seperti diangkat terbang tinggi. Kita masuk dalam dimensi Allah. Kita akan bisa mengerti rencana-rencana Allah di dalam hidup kita melalui perjalanan hidup seperti ini. Baru kita bisa mengerti apa artinya ‘krek’ (menyatu) dengan Allah. Kita baru bisa mengerti karena mengalami apa artinya Allah itu hid...
    0 min
  • Keunikan Kekristenan
    Yang unik dalam kekristenan—yang tidak sama dengan agama lain, juga tidak sama dengan konsep pandangan sekuler mengenai pembentukan karakter (character building)—adalah bahwa di dalam kekristenan karakter kita itu harus berpola pada diri Yesus. Ini tidak ada duanya; unik. Makanya sebutan “Kristen” itu sebenarnya luar biasa. Kenapa? Karena “Kristen” itu artinya “seperti Kristus.” Dan panggilan atau sebutan ini muncul pada gereja mula-mula di Antiokhia (Kis. 11:26), yaitu ketika orang-orang percaya pada waktu itu memiliki kehidupan yang memperagakan kehidupan Tuhan dan Guru yang mereka percayai. Jadi, orang-orang percaya pada waktu itu disebut “Kristen,” bukan karena mereka beragama Kristen. Orang-orang percaya disebut “Kristen” karena mereka berperilaku seperti Yesus. Ini merupakan keunikan yang tidak ada dalam agama manapun. Dan ini merupakan landasan penting character building kita, yaitu merujuk pada Pribadi Yesus.
    Masalahnya bagi kita saat ini adalah kita tidak berhadapan langsung dengan Yesus. Kita tidak pernah (dan memang tidak mungkin) bersama-sama secara langsung dengan Yesus 24 jam dan melihat perilaku dan tindakan-Nya dari hal-hal kecil seperti yang dialami murid-murid Yesus. Jadi, kita tidak tahu. Lalu, bagaimana “seperti Yesus” itu secara detil? Ini penting dipersoalkan, karena ini merupakan landasan dari character building kita. Satu hal yang harus kita mengerti dan terima adalah bahwa setiap kita memiliki personality; kepribadian yang berbeda-beda. Kita memiliki kepribadian yang berbeda-beda, tetapi kita memiliki karakter dasar yang sama, yaitu diri Yesus. Lalu bagaimana bisa kita meneladani-Nya? Bagaimana kita bisa mengenakan kehidupan Yesus? Ketika Tuhan berkata: “jadikan semua bangsa murid-Ku,” di situ sebenarnya termuat panggilan agar setiap pribadi itu menjadi murid Tuhan Yesus.
    Tuhan Yesus hendak memuridkan setiap individu secara pribadi dan khusus. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Tentu saja bisa, karena Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita. Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 14:26 bahwa Ia adalah Penolong (Ing. Helper) yang diutus oleh Bapa dan Tuhan Yesus, di dalam kehidupan orang percaya untuk menuntun kita kepada seluruh kebenaran Allah. Jadi, istimewanya setiap orang Kristen adalah dapat mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan—tentu melalui Roh Kudus—agar setiap kita dibimbing oleh Roh Kudus untuk menjadi manusia yang unggul, berkarakter seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Ini keunikannya. Jadi, kalau di agama-agama lain, mereka memiliki ukuran karakter yang baik berdasarkan kitab-kitab mereka. Contohnya, orang Yahudi memiliki Taurat sebagi pedoman pembentukan karakternya; perilakunya itu perilaku Taurat. Karakternya berdasarkan Taurat. Tetapi keberadaan batiniah mereka, tidak bisa digali. Kecemerlangan batiniah mereka tidak bisa memancar, sebab mereka belum punya perangkatnya, yaitu kebenaran dan pimpinan Roh Kudus.
    Apakah mereka mencontoh Musa? Tidak juga. Mereka hanya belajar Taurat. Kita tidak pernah membaca dalam Alkitab Perjanjian Lama secara jelas bahwa mereka harus menyontoh hidupnya Musa. Mereka melakukan Taurat yang diberikan Musa. Tentu kehidupan Musa bisa diteladani, tapi mereka memiliki hukum Taurat yang cukup menjadi way of life; jalan hidup mereka. Lalu bagi orang Kristen Perjanjian Baru, bagaimana? Tentu karena kita berakar pada Perjanjian Lama, 10 Perintah Allah itu menjadi pembimbing (tutor) pertama dulu. Sejatinya, substansi Hukum Taurat sebenarnya juga dimiliki oleh agama-agama samawi lainnya, seperti: tidak boleh mencuri, harus menghargai perkawinan, menghormati orangtua, tidak boleh berdusta. Mereka juga tahu itu. Kita juga bisa tahu karena itu sudah merupakan tatanan atau moral umum yang orang lain atau manusia pada umumnya miliki.
    Bagaimana dengan orang Kristen, karakter siapa yang kita teladani? Tentu saja kehidupan Yesus. Sekalipun kita tidak pernah hidup bersama dengan Dia secara fisik atau harfiah,
    0 min
  • Karakter Kristus
    Betapa beruntungnya kita menjadi orang percaya yang memiliki meterai Roh Kudus (Ef. 1:13). Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran, artinya Roh Kudus membuat setiap orang menemukan dirinya sendiri dan bagaimana harus bersikap terhadap Tuhan, terhadap manusia di sekitarnya, terhadap lingkungan alam yang ada di sekitarnya, dengan ketepatan yang sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Untuk mencapai kehidupan sebagai anak-anak Allah yang memiliki kepribadian agung dengan karakter yang mulia ini, seseorang harus terus belajar melalui proses yang panjang. Di sini, tidak cukup seseorang mendengar khotbah, mengikuti seminar atau ceramah, atau membaca buku. Kita membutuhkan mentor melalui ceramah, khotbah, seminar, buku. Tetapi pada akhirnya, setiap individu yang memang unik dan tidak ada duanya itu harus memiliki perjumpaan dengan Tuhan setiap hari secara pribadi. Inilah yang harus dialami setiap orang percaya.
    Banyak orang Kristen merasa cukup hanya dengan mendengar khotbah, membaca buku, mengikuti seminar mengenai character building—bahkan mungkin mengikuti pembinaan berseri mengenai character building selama beberapa bulan—lalu merasa bahwa dia sudah memiliki karakter yang baik. Hal ini tidak mungkin cukup. Sebab, untuk menemukan diri kita menjadi manusia yang sesuai dengan rancangan Allah, membutuhkan waktu sepanjang perjalanan waktu hidup kita ini. Apakah itu 50 tahun, 60 tahun, 70 tahun, atau 80 tahun. Yang nanti pada akhirnya ketika kita menutup mata, mestinya kita telah mencapai bentuk kepribadian atau karakter yang Allah inginkan terwujud di dalam hidup kita. Itu orisinalnya.
    Jadi, begitu seorang bayi terlahir, Allah sudah memiliki rancangan baginya. Sebagai umat pilihan, kita harus mempersoalkan menjadi manusia seperti apa, dan Allah sudah membuat rancangan itu. Ada blueprint-nya; ada cetak birunya. Kita harus bergumul untuk menemukan cetak biru atau blueprint itu. “Harus menjadi manusia seperti apakah aku ini menurut Tuhan?” Memang, semua harus merujuk pada karakter Kristus. Namun, karakter Kristus itu seperti apa? Ini yang juga harus kita ketahui. Karakter Kristus adalah kemampuan untuk selalu mengerti apa yang Bapa kehendaki, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Tentu saja apa yang dialami oleh Yesus dengan apa yang dialami kita masing-masing, itu beda. Ketika Tuhan Yesus menjadi manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita, segala sesuatu yang Yesus lakukan, selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Sehingga, Yesus bisa berkata, “makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Itu yang menjadi prinsip hidup Tuhan kita, Yesus Kristus. Demikian pula kita. Tuhan mau kita menjadi satu pribadi yang unik, mulia, dan agung dengan kemampuan karakter seperti Kristus tadi; segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa di surga. Itulah standar karakter yang kita harus miliki. Oleh sebab itu, di dalam kekristenan, belajar mengenai character building tidak cukup hanya bicara apa itu rendah hati, bagaimana rendah hati dengan ukuran umum. Karena kita memiliki ukuran khusus, yaitu Yesus sendiri. Dan di dalam hal ini, di dalam karakter Kristus itu, ada kepekaan; sensitivitas kepada Allah. Itulah sebabnya, di dalam Filipi 2:5-7 firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.”
    Jadi, memiliki pikiran dan perasaan Kristus itu sama dengan kemampuan untuk bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dan itu merupakan perjuangan hidup kita sampai kita menutup mata. Itu agenda kita satu-satunya. Bersyukur bagi mereka yang masih muda, sebab mereka masih memiliki kesempatan yang panjang untuk dibentuk menjadi pribadi yang agung dan mulia, dengan kemampuan mengerti apa yang baik, yang berkenan, dan secara sempurna, atau dengan kemampuan bisa bertindak selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    0 min
  • Menjadikan Hidup Sederhana
    Kita tidak bisa memiliki Tuhan sekaligus juga memiliki dunia. Dahulu, kita pikir itu bisa dilakukan. Tetapi sekarang, kita mengerti bahwa kita tidak bisa memiliki dua-duanya. Kalau kita mau memiliki Tuhan dan dimiliki oleh Tuhan, kita harus hanya dimiliki oleh Dia dan memiliki Dia. Segala sesuatu yang ada pada kita hari ini harus benar-benar kita pandang sebagai milik Tuhan, dan itu bukan hanya sekadar perkataan. Kita harus bisa memperlakukan seluruh milik kita sebagai milik Tuhan, yaitu kalau kita tidak menggunakan itu untuk kepentingan kita sendiri—untuk sebuah harga diri, untuk sebuah penghormatan, atau kehormatan, atau sanjungan, pujian dari manusia—atau kita pergunakan untuk memperalat orang lain.
    Segala sesuatu yang kita lakukan harus benar-benar kita lakukan untuk kemuliaan Tuhan, untuk kepentingan Tuhan. Di sini dibutuhkan kepekaan terhadap kehendak Allah. Kita harus belajar bertumbuh dalam kebenaran, sehingga kita memiliki pikiran, perasaan Kristus. Hal ini tidak bisa dijelaskan secara lengkap, secara jelas, secara utuh dengan kata-kata dan kalimat, tetapi bisa dirasakan dan dihayati. Kita memandang semua yang ada pada kita sebagai bukan milik kita. Kita melihat keindahan dunia ini seperti tidak ada nilainya, dan memang tidak ada nilainya jika kita tidak menggunakan itu untuk kesenangan hati Tuhan. Itulah yang sering dikatakan sebagai tidak menyisakan apa pun di dalam hidup kita.
    Sukacita Tuhan atau damai sejahtera-Nya, sesuatu yang benar-benar riil harus dialami. Tidak bisa difantasikan atau hanya di dalam pikiran. Tetapi, kita bisa merasakan suasana atau atmosfer Kerajaan Surga di dalam diri kita. Dan salah satu ukuran apakah kita benar-benar telah melepaskan segala sesuatu adalah apakah kita benar-benar merindukan bertemu dengan Tuhan? Bukan sesuatu yang difantasikan, bukan kamuflase. Hendaknya, kita tidak munafik. Menjadi persoalan penting: Apakah kita benar-benar merindukan bertemu dengan Tuhan? Betapa bahagianya kita bertemu dengan Tuhan.
    Kalau kita benar-benar mempelai wanita yang setia, perawan suci yang tidak bernoda, maka tidak ada kegembiraan dalam hidup kita kecuali kita menyenangkan hati Allah Bapa. Melakukan segala sesuatu yang Allah Bapa kehendaki dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita masing-masing adalah hal utama. Sebab, masing-masing kita pasti memuat, memikul, menanggung rencana Allah yang harus kita genapi bagi orang-orang di sekitar kita, di tempat di mana kita berada, dalam keluarga-keluarga besar, pekerjaan, di lingkungan pergaulan, dan lain sebagainya.
    Ketika kita sampai pada level atau stadium hidup kekristenan seperti ini, maka kita benar-benar mengerti apa artinya ultimate freedom; kebahagiaan puncak dan final. Dan itu merupakan kehidupan yang sangat indah dan luar biasa. Kita tidak merasa berbuat baik kalau kita melakukan sesuatu untuk sesama kita, karena kita merasa itulah irama hidup yang menjadi kesukaan hati Bapa. Kalau kita berkorban untuk pekerjaan Tuhan, kita tidak merasa sedang memberi, karena semuanya memang milik Tuhan. Dan kita sedang melakukan apa yang menjadi bagian kita, dan itu menjadi kesukaan kita.
    Surga menjadi begitu dekat. Dan rasanya, kita ingin segera melangkah melihat Kerajaan Bapa di surga. Kita bisa membayangkan hamparan hijau padang yang begitu indah, langit baru bumi baru. Belum lagi Istana Allah Bapa kita yang begitu agung. Dan itu semua adalah realitas, karena nanti kita akan memiliki tubuh kebangkitan atau tubuh kemuliaan seperti tubuh Tuhan Yesus. Seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “kita akan makan dan minum bersama dengan Tuhan.” Luar biasa! (Luk. 22:28-30)
    Oleh sebab itu, kita harus benar-benar mempersiapkan diri menjadi mempelai-mempelai Tuhan. Kita tidak lagi mempersoalkan sama sekali dari denominasi mana. Tetapi yang penting, bagaimana kita bisa membangun satu persekutuan, satu komunitas, dari anggota keluarga Kerajaan Surga. Kita membangun sebuah heavenly society; masyarakat Kerajaan Surga,
    0 min
  • Berdamai dengan Allah
    Suatu hari nanti akan ada orang-orang yang sangat menyesal dalam ketakutan dan kegentaran yang hebat karena mereka tidak pernah bertemu dengan Bapa di surga. Sejak di bumi tidak pernah satu frekuensi dengan Bapa. Seseorang yang benar-benar telah bertemu dengan Bapa, pasti memiliki persekutuan dengan Bapa sehingga tidak perlu mencari “frekuensi”-Nya, sebab selalu tersambung dengan Bapa. Ini artinya hidup berdamai dengan Allah. Kesempatan yang Tuhan berikan merupakan kesempatan yang tidak bisa dibeli, mahal sekali. Nanti kalau orang sudah meninggal dunia, di hadapan pengadilan Tuhan, tidak ada kesempatan lagi untuk berdamai. Mumpung kita masih hidup seperti ini, mari kita berdamai dengan Bapa.
     
    Kita masing-masing harus menguji diri sendiri, apakah benar kita sudah menjumpai Allah Bapa atau tidak. Itulah sebabnya, kita harus terus mencari wajah-Nya. Nanti kita akan mengerti apa artinya bertemu dengan Bapa ini, sampai kita tidak mengingini apa-apa lagi. Ini hal yang sangat luar biasa, yaitu “mati sebelum mati” atau selesai sebelum selesai. Sampai pada level ini, seseorang barulah bisa menghayati realitas Allah. Kita mungkin orang yang dipandang hebat di mata umum, namun demikian kita harus menjadi orang yang bergantung kepada Tuhan dan menyadari betapa miskinnya keadaan kita saat ini, betapa kita membutuhkan Tuhan. Bukan karena ada kebutuhan-kebutuhan pemenuhan kebutuhan jasmani atau masalah-masalah fana, tetapi bagaimana kita dapat hidup tidak bercacat, tidak bercela, dan tidak terikat kesenangan apa pun dalam hidup ini demi kekekalan kita, dan terus berjuang menjadi seperti Yesus. Sebab, “vaksin” untuk mengalahkan kehidupan di bumi dan di surga hanya satu, yaitu hidup seperti Yesus.
     
    Doktrin tidak akan bisa menyelamatkan, sebab manuver Iblis itu berubah-ubah setiap saat, setiap zaman. Kita tidak bisa mengalahkan Iblis dengan doktrin yang ditemukan orang beberapa abad yang lalu dan yang diajarkan sampai sekarang. Kita harus menemukan Tuhan dan kebenaran-Nya di dunia kita hari ini, sebab setiap orang pasti mengalami pergumulan yang berbeda. Dan Iblis itu mencobai orang dengan segala taktik dan strategi yang berbeda-beda. Hanya kalau kita betul-betul hidup di dalam Tuhanlah yang membuat kita bisa cerdas, kokoh, dan kuat, serta bisa melawan kuasa gelap.
     
    Suatu hari nanti orang akan menyesal karena tidak menemukan Allah. Oleh sebab itu, yang penting sekarang ini adalah bagaimana penyembahan seseorang itu menjadi benar; bagaimana perjumpaan kita dengan Tuhan itu menjadi benar. Jangan hidup dalam suasana seremonial atau upacara. Yang kita lakukan selama ini dalam ibadah adalah sebuah seremonial, tetapi hal itu bisa menjadi bernilai kalau kita menggelar hidup dalam sikap menyembah Allah, sikap menghormati Allah dalam seluruh perilaku kita.
     
    Waktu kita berkata, “Engkau besar, Engkau yang termulia, Engkau layak,” apakah kita membuat Tuhan benar-benar layak disembah di dalam perilaku kita? Waktu kita bicara sembarangan, waktu kita tidak tulus terhadap seseorang, waktu kita menghargai uang, harta, gelar, pangkat, nama baik lebih dari Tuhan, kita membuat hal-hal tersebut jadi lebih layak dibanding Tuhan. Ini berarti tidak memuliakan Tuhan. Banyak alasan mengapa seseorang melakukan hal ini, misalnya: karena takut kurang terhormat, takut terhadap seseorang maka ia berdusta, atau takut miskin lalu korupsi, takut kurang terhormat lalu menyingkirkan orang. Di sini, seseorang membuat manusia lebih layak dari Allah untuk ditinggikan.
     
    Jadi, bagaimana pertemuan bersama kita menjadi menarik dan memikat hati Allah? Hanya kalau kita memiliki sikap menyembah di seluruh perjalanan hidup kita dalam perilaku menyembah Allah, menghormati Allah, memuji Allah dalam satu kesadaran dan penghayatan bahwa Allah Israel, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allahnya Musa, itu nyata! Mari kita rajut dari perkara-perkara sederhana atau kecil. Kita pasti bisa!
    0 min
  • Menemukan Allah
    Kita harus sungguh-sungguh menemukan Allah di dalam hidup ini. Banyak orang beragama merasa sudah menemukan Allah karena mereka beragama dan pergi ke rumah ibadah. Tidak sedikit pula orang Kristen yang merasa sudah menemukan Allah karena selain beragama Kristen, rajin pergi ibadah ke gereja, juga mereka rajin berdoa. Menemukan Allah bukan hanya pada waktu di gereja atau pada waktu kita berdoa dalam pertemuan doa. Menemukan Allah harus dimulai dari kehidupan kita setiap hari, dalam segala hal yang kita lakukan atau dalam segala hal yang kita jalani. Melalui segala hal yang kita lakukan, melalui setiap pengalaman yang kita jalani, melalui keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan kita, kita berurusan dengan Allah. Justru inilah yang benar. Allah kita bukan Allah yang senang dipuji hanya dalam ruangan seremonial atau ruangan kebaktian.
    Sejatinya, Allah menghendaki dalam perjalanan hidup setiap saat, kita selalu berurusan dengan Dia. Sebab di dalam perjalanan hidup tersebut kita diajar oleh Allah sebagai Bapa untuk berperilaku sebagai anak-anak Allah (Ibr. 12:5-10). Allah mendidik kita bagaimana memiliki kehidupan sebagai anak-anak Allah yang taat, yang dengar-dengaran kepada Bapa, dan dalam segala hal yang kita lakukan selalu menyukakan hati Bapa. Tentu saja kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang juga memberkati orang di sekitar kita. Tidak mungkin ada sebuah kehidupan yang menyenangkan hati Allah, sementara itu juga melukai hati sesamanya.
    Kesempatan untuk bisa berurusan dengan Allah, bersentuhan dengan Allah melalui setiap pengalaman hidup yang kita jalani, kejadian-kejadian yang kita alami, melalui keputusan-keputusan dan pilihan-pilihan kita, itu sangat berharga. Setiap hari harus berlangsung terus. Dan tidak dapat terulang lagi, karena setiap kesempatan itu unik. Setiap momentum itu unik, setiap kesempatan itu luar biasa. Dan di setiap kesempatan yang unik dan luar biasa tersebut, Allah menyatakan diri-Nya kepada kita. Itulah yang membuat hidup kita menjadi benar-benar menarik. Hidup kita benar-benar menjadi berharga. Setelah kita memiliki kehidupan yang berjalan dengan Tuhan setiap hari, maka setiap kali kita ke gereja, kebaktian, atau mengadakan pertemuan doa, kegiatan tersebut menjadi sangat bernilai. Sebab sinkron, cocok, dan sesuai dengan keadaan hidup kita.
    Ketika kita mengatakan kepada Bapa di surga, “Bapa kami yang di surga, betapa Engkau mulia. Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga,” sebagaimana kalimat dalam Doa Bapa Kami—yang juga dirangkai dalam syair menjadi sebuah pujian—seharusnya itu adalah irama hidup, warna hidup, keadaan hidup kita setiap hari. Bukan hanya menjadi kalimat atau sekadar hanya menjadi kata-kata. Kalau kita mengatakan, “Aku mengasihi-Mu, aku menghormati-Mu ya, Allah,” maka kasih penghormatan kita bukan lagi pada waktu kita kebaktian atau dalam pertemuan doa bersama, melainkan pada waktu kita menjalani hidup—yaitu pada waktu kita melewati berbagai persoalan, ketika kita mengambil keputusan, ketika kita bertindak, pada waktu kita memilih—di situlah keputusan pilihan tindakan kita menunjukkan sikap kita yang mengasihi dan menghormati Allah.
    Inilah berharganya hidup dimana kita bisa bersentuhan dengan Tuhan setiap hari. Kita harus benar-benar memperkarakan, bagaimana hidup kita bisa menyenangkan hati Allah. Dari sekian miliar manusia, kita dapat menarik (attract) hati Allah. Karena melalui segala hal yang kita lalukan, benar-benar menyenangkan hati Allah. Lebih baik kita tidak pernah menjadi manusia, daripada menjadi manusia tetapi tidak melakukan apa yang Allah kehendaki. Coba bayangkan, betapa dahsyatnya suatu saat ketika kita ada di hadirat Allah. Dan pada waktu itulah banyak orang akan sangat menyesal karena tidak memiliki kesempatan lagi menunjukkan, membuktikan, menyatakan cinta kasih dan hormatnya kepada Allah. Tetapi berbahagialah orang yang sejak hidup di bumi ini menunjukkan, membuktikan cinta dan hormatnya kepada Allah,
    0 min
  • Kristen Mediokritas
    Injil artinya kabar baik. Masalahnya, baik menurut siapa, baik yang bagaimana, baik versi siapa? Sebab ketika Tuhan Yesus memberitakan Injil, orang-orang Yahudi—termasuk murid-murid Tuhan Yesus—tidak memahami maksud kedatangan Tuhan Yesus. Mereka salah memahami Injil. Kesalahan itu disebabkan karena mereka memiliki konsep Mesias yang salah. Mesias artinya the annointed one; seorang yang diurapi. Biasanya, yang diurapi adalah nabi atau raja. Perlu kita ketahui bahwa bangsa Israel hidup di dalam tekanan musuh. Sehingga mereka sangat menantikan datangnya seorang pembebas; seorang “mesias.” Jadi, ketika Yesus datang dan mendemonstrasikan kuasa ajaib kesembuhan, kebangkitan orang mati, air menjadi anggur dan lainnya, mereka berharap Dia menjadi raja. Itulah sebabnya dalam Yohanes 6, orang-orang mau mengangkat Yesus sebagai raja versi mereka. Karena mereka ingin dibebaskan dari pemerintahan asing, dan mereka menaruh harapan kepada Mesias yang tampil seperti Daud. Jadi, kita bisa mengerti mengapa ketika Yesus masuk kota Yerusalem, mereka berkata “Hosana,” artinya Lord, help us (Tuhan tolong kami).
    Murid-murid Yesus pun punya konsep yang sama seperti konsepnya orang-orang Yahudi pada umumnya mengenai Mesias. Itulah sebabnya, mereka mengikut Yesus karena mau mengubah nasib mereka dari nelayan, menjadi pejabat yang terhormat dan berlimpah materi. Jadi, tidak heran kalau mereka bertengkar tentang siapa yang paling besar di antara mereka, yang nanti akan duduk di dalam pemerintahan Yesus. Ketika Yesus bangkit pun murid-murid masih menuntut, bilamana Yesus memulihkan kerajaan bagi Israel (Kis. 1). Yesus tidak menolak fakta adanya pemerintahan, tetapi Yesus berkata bahwa mereka harus menjadi saksi dulu sampai ke ujung bumi. Dan pemerintahan yang Yesus maksudkan bukanlah pemerintahan duniawi di bumi. Sedangkan, mereka mengharapkan Yesus menjadi Mesias versi mereka; Juruselamat versi mereka di bumi secara duniawi. Yesus adalah Juruselamat dunia, tapi bukan Juruselamat duniawi. Kerajaan-Nya bukan dari dunia ini, bukan kejayaan lahiriah dan kemuliaan duniawi. Mereka salah memahami keselamatan yang Tuhan Yesus berikan. Yesus datang membawa pembebasan, namun bukan pembebasan politik melainkan pembebasan dari dosa.
    Setelah Roh Kudus dicurahkan, murid-murid Tuhan Yesus mulai mengerti maksud kedatangan Tuhan. Di dalam 1 Petrus 1:3-4, kita dapat membaca bahwa Petrus telah memiliki peta yang benar mengenai Injil, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” Petrus sudah mengerti bahwa kiblatnya bukan kerajaan duniawi, bukan kemakmuran duniawi, melainkan Kerajaan Surga. Selanjutnya, Injil inilah yang mereka beritakan. Dan ternyata, orang yang menerima Injil, hidupnya tidak menjadi nyaman atau tenteram, namun justru menghadapi pencobaan-pencobaan. Hidupnya menjadi sulit, dan itu harus terjadi sebagai ujian. Sebab, dengan menjadi orang percaya, mereka harus rela kehilangan harta, keluarga, nyawa, dan kenyamanan hidup. Orang-orang yang tidak nyaman dan tidak mapan hiduplah yang berpotensi besar untuk ikut Yesus. Kalau seorang nyaman dan mapan hidupnya, ia harus rela kehilangan segala sesuatu.
    Tidak ada Kristen mediokritas atau setengah-setengah seperti banyak orang Kristen hari ini. Kekristenan haruslah sungguh-sungguh segenap hati atau tidak sama sekali. Dan Injil diberitakan untuk mereka yang tidak lagi memiliki pengharapan hidup yang nyaman di bumi ini. Injil yang Yesus ajarkan berfokus pada kehidupan yang akan datang (1Ptr. 1:3-4). Dan sementara kita hidup di bumi, kita membenahi diri. Dan pasti ada ujian, apakah kita layak menerima kehormatan atau tidak. Ironis, hari ini jarang orang Kristen memahami hal pengujian ini.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…