Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Percaya yang Luar Biasa
    Menjadi persoalan bagi orang Kristen yang belum dewasa adalah ketika Allah yang disembah dan diakui ada, ternyata tidak nyata dalam kehidupan ini. “Tidak nyata” artinya tidak dialami secara fisik dan tidak dapat dirasakan dengan indera manusia. Seperti misalnya, tidak mendapat penglihatan, tidak diangkat ke surga, tidak pernah mendengar suara Tuhan secara harfiah; dengan telinga secara audible. Tidak pernah melihat sesuatu secara fisik atau penampakan Tuhan Yesus atau malaikat-Nya, dan lain-lain, seperti yang disaksikan oleh beberapa orang. Ini menjadi persoalan bagi mereka yang belum dewasa. Tentu bagi orang percaya yang dewasa hal itu bukan persoalan sama sekali. 
    Mengapa menjadi persoalan? Kesalahan ini terjadi dalam kehidupan orang percaya karena menganggap bahwa memiliki pengalaman nyata secara harfiah dengan Allah sebagai tanda ciri kedewasaan rohani. Dimana pengalaman-pengalaman tersebut dipandang sebagai ciri orang yang istimewa di hadapan Allah, dan lebih dikasihi Allah dibanding dengan yang tidak mengalaminya. Seolah pengalaman dengan Tuhan menjadi tidak lengkap ketika Ia tidak dapat dialami dengan cara demikian. Orang Kristen yang percaya kepada Tuhan hanya karena tanda-tanda lahiriah atau hal-hal yang bersifat spektakuler adalah orang Kristen yang invalid. Seperti seorang cacat fisik yang membutuhkan kayu penopang.
    Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang percaya walau tidak melihat” (Yoh. 20:29). Justru menurut pernyataan Tuhan kita, orang yang tidak melihat atau tidak mengalami hal-hal yang bersifat lahiriah namun percaya, berarti berbahagia atau beruntung. Hal ini menunjukkan bahwa kalau mereka tidak mengalami pengalaman-pengalaman harfiah secara fisik, itu bukan berarti kualitas rohaninya lebih rendah. Jika tidak pernah punya pengalaman spektakuler, hendaknya kita tidak merasa memiliki kehidupan rohani yang lebih rendah, apalagi berpikir bahwa kita kurang dikasihi Allah. Orang percaya harus bertumbuh dewasa, belajar memercayai Allah tanpa tanda-tanda lahiriah. 
    Kualitas percaya seseorang kepada Tuhan bukan terletak pada keyakinannya pada kuasa Allah yang dapat mengalir dan dapat dialami—sehingga orang biasanya bukan hanya meyakini bahwa Allah itu berkuasa—melainkan juga meyakini Allah pasti mengalirkan kuasa-Nya itu. Secara tidak langsung, dia mau mengatur dan memaksa Allah. Dengan menggunakan nama Yesus, seolah Allah tidak berdaya dan akan menuruti keinginan seseorang. Ini merupakan praktik yang keliru berkaitan dengan penggunaan nama Tuhan. Seharusnya, prinsip kita adalah “Jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga.” Biarkan kehendak Tuhan yang jadi, melebihi keinginan dan impian kita. Alkitab memang berkata bahwa apa pun yang kita minta dalam nama Tuhan akan dilakukan oleh-Nya (Yoh. 14:13). Namun, kita harus melihat konteks dari ayat tersebut bahwa mereka yang meminta dalam nama Tuhan adalah orang yang telah percaya kepada Tuhan dan dipercaya oleh Tuhan untuk melakukan pekerjaan-Nya (Yoh. 14:12). Jadi, janji Tuhan berkaitan dengan permintaan dalam nama Tuhan tersebut bukan untuk kepentingan diri, melainkan untuk kepentingan-Nya.
    Jadi, kualitas percaya seseorang bukan terletak pada keyakinannya pada kuasa Allah dan keyakinannya bahwa kuasa itu bisa dialami sehingga banyak orang meyakini kuasa Allah, dan meyakini pasti bisa mengalami mukjizat dan berkat-berkat Tuhan dari kuasa tersebut. Kualitas percaya kita ditentukan oleh kesediaan kita menerima apa pun yang harus kita alami tanpa menuntut Allah berbuat sesuatu sesuai keinginan kita. Ketika seseorang tetap memercayai Allah tanpa syarat, hal tersebut membuktikan kualitas percayanya. Inilah percaya yang luar biasa. 
    Untuk memiliki kualitas percaya seperti ini, memang tidak mudah. Murid Tuhan Yesus yang selalu bersama dengan-Nya juga masih mempertanyakan kapan Tuhan akan memulihkan kerajaan Israel jasmani (Kis. 1:6-7). Hal ini menunjukkan mereka belum sepenuhnya memiliki kualitas percaya yang luar biasa ketika awal mula kebang...
    0 min
  • Berpikir Jauh Lebih Besar
    Berbicara mengenai rencana Allah yang digenapi dalam hidup kita, perlu dipertanyakan, kira-kira apa rencana Allah yang telah dan akan digenapi dalam hidup kita? Tidak jarang kita mendengar dan mungkin kita juga mengucapkannya: “Menggenapi rencana-Mu, ya Allah.” Namun, pernahkah kita dengan sungguh memperkarakan hal ini? Apa yang dimaksud dengan rencana Allah dalam hidup kita? Apakah kita benar-benar memahami hal ini dan sungguh-sungguh kita mengalami pemenuhan atau penggenapan rencana Allah tersebut? Kita adalah anak-anak Allah. Ironis, mungkin sebutan itu bagi orang Kristen—apalagi jika Kristen turunan—sudah menjadi sebutan yang biasa didengar maupun diucapkan, sehingga tidak menjadi sesuatu yang agung. Status sebagai anak Allah tidak lagi kita pandang sebagai sesuatu yang luar biasa. Padahal, status atau sebutan sebagai anak Allah merupakan hal yang sangat luar biasa. Tidak ada agama di dunia ini yang memiliki pengajaran tentang hubungan antara Allah yang disembah dengan umat sebagai hubungan Bapa dan anak. Ini hanya ada di dalam kekristenan.
    Sebutan atau status sebagai anak Allah memiliki konsekuensi, risiko, dan implikasi yang sangat berat. Sebab, jika kita adalah anak-anak Allah, berarti kita harus benar-benar berkeadaan sebagai anak-anak Allah. Itu berarti kita pasti berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah sebagai Bapanya. Itulah sebabnya, dalam 1 Petrus 1:17-18 firman Tuhan mengatakan, “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana…” Ketika kita menjadi anak-anak Allah, maka Bapa di surga merancang setiap individu bagaimana menjadi mulia di mata Allah. Hal ini berarti kita tidak boleh merancang diri kita sendiri. Kita harus melihat dan memahami secara benar rancangan Allah atas hidup kita. Menjadi suatu kemutlakan, seorang yang mengaku sebagai anak-anak Allah harus memiliki karakter seperti Bapanya. Karakter Bapa tercermin dalam tindakan dan seluruh kehidupan Yesus. Jadi, kalau orang Kristen tidak semakin seperti Yesus berarti ia bukan anak-anak Allah yang sah. Dalam hal ini keselamatan tidak boleh hanya dipandang secara yuridis, tetapi juga secara fakta kehidupan.
    Menjadi anak-anak Allah, harta yang kita miliki hanyalah Allah Bapa kita saja, dan kita menjadi milik-Nya secara penuh. Sebagai anak tebusan Allah oleh darah Tuhan Yesus, kita menjadi lebih miskin dari orang miskin. Sebab, semiskin-miskinnya seseorang, ia masih memiliki hak. Tetapi ketika Tuhan menebus kita, semua yang kita miliki adalah milik Tuhan. Maka Alkitab berkata, “Kamu bukan milik kamu sendiri.” Jadi kalau kita masih merasa memiliki diri sendiri, berarti kita menolak penebusan itu, dan kita tidak bisa dimiliki Tuhan. Tentu hal ini menjadi sangat berat bagi kita yang telah terbiasa hidup dalam irama dunia. Hal ini tidak berbicara mengenai uang yang kita bisa berikan ke gereja, status sebagai pendeta atau jemaat awam, aktivis gereja atau lainnya yang bersifat jasmaniah. Ini berbicara apakah kita benar-benar bersedia dimiliki oleh Tuhan, dan memenuhi apa yang Bapa rancang bagi kita masing-masing atau tidak. Firman Tuhan dalam Efesus 2:10 berkata, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik yang dipersiapkan Allah yang dirancang Allah sebelumnya, supaya kita hidup di dalam-Nya, supaya kita mengalami-Nya.”
    Kalau kita memiliki Allah yang melintasi segala langit, yang memiliki bertriliun-triliun planet dan bintang, apalah artinya semua materi di bumi ini? Apalah artinya dengan durasi waktu hidup kita yang hanya 70 tahun? Tidak ada artinya sama sekali. Jadi kalau kita sebagai orang Kristen masih berpikir betapa hebatnya Allah menuntun bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan dan itu dianggap sebaga...
    0 min
  • Melintasi Segala Langit
    Banyak pikiran orang Kristen yang tidak mengerti rancangan Allah dalam hidupnya. Pikirannya terbelenggu dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, terikat dengan selera dunia. Padahal, kita memiliki Allah Bapa yang memiliki segala kuasa, kemuliaan, dan Kerajaan yang tidak terbatas. Sejatinya, kita harus bersyukur menjadi orang Kristen, mengenal Yesus sebagai Juruselamat, yang akan membawa kita melintasi langit untuk mewarisi Kerajaan yang tidak tergoyahkan. Kita yang debu tanah ini diperkenan Tuhan untuk mewarisi Kerajaan Allah. Oleh sebab itu, rancangan Allah bukan berkutat pada masalah jodoh, hunian, pekerjaan, maupun masalah jasmaniah lain yang dapat diselesaikan dengan tanggung jawab. Karena semua hal jasmani tersebut jika dibandingkan dengan kekekalan merupakan hal-hal yang tidak bernilai besar. Rancangan Allah adalah bagaimana kita menjadi pribadi yang berkenan di hadapan Tuhan. Untuk memenuhi rancangan-Nya, kita harus bekerja keras. Kita harus mengiring Tuhan Yesus dengan benar. 
    Oleh sebab itu, berbicara mengenai rencana Allah dalam hidup kita, kita juga harus aktif merespons rancangan-Nya. Satu hal yang harus kita ingat, yaitu bagaimana kita menjadi seorang pribadi yang unik dan tidak sama dengan siapa pun. Kita harus mencapai keberadaan diri yang sesuai dengan rancangan-Nya, yakni manusia yang berkarakter dasar seperti Tuhan kita Yesus Kristus. Berkarakter seperti Yesus, artinya setiap yang kita pikirkan, katakan, dan lakukan, semuanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Ketika seseorang mengikuti jejak Tuhan dengan keunikan pribadi yang diberikan Tuhan pada masing-masing individu, inilah titik seseorang menjalani kehidupan yang sesungguhnya. Sebelum kita menutup mata, kita harus sudah menemukan rancangan Tuhan bagi kita secara pribadi, yaitu hidup sebagai anak-anak Allah dengan pola yang Alkitab ajarkan dan Yesus sebagai teladannya.
    Kita adalah umat yang dipilih Tuhan, tetapi apakah kita menjadi umat pilihan yang sesuai dengan rancangan Allah? Itu masalahnya. Karena tidak sedikit orang Kristen yang walaupun pakai kalung salib namun perbuatannya tidak seagung makna salib tersebut. Walaupun nyanyian kita dari bibir terdengar merdu—yang kita pikir dapat membuat Tuhan tersenyum—namun jika kelakuan kita sehari-hari tidak sesuai dengan Injil, maka nyanyian kita tidak berkenan di telinga-Nya. Percuma semua acara kebaktian dan liturgi yang kita selenggarakan.
    Bukan tidak mungkin di antara kita ada yang merasa gagal hidup, gagal rumah tangga, gagal karier, gagal bisnis. Namun, jangan menganggap itu sebagai kegagalan fatal. Bukankah sering Tuhan mengizinkan kita mengalami kegagalan? Hal itu Tuhan izinkan supaya kita bisa dibentuk oleh-Nya. Sebab, kalau rumah tangga bahagia, tidak ada masalah, uang berlimpah, jabatan tinggi naik terus, kita bisa menjadi orang lupa diri. Lebih lagi, kita bisa terjebak untuk membangun Firdaus di bumi. Padahal, rumah kita yang sesungguhnya ada di belakang langit biru. Dalam hal ini, kegagalan hidup secara duniawi bisa menjadi sarana Allah menyelematkan kita.
    Masalahnya, bagaimana proses melintasi perjalanan kehidupan ini sampai ke belakang langit biru? Satu-satunya cara hanya melalui karakter atau wajah batiniah kita yang diubah dari waktu ke waktu. Sebab dengan perubahan manusia batiniah secara tidak langsung, kita sedang berjalan melintasi segala langit. Oleh karenanya, meskipun hari ini kita tidak kaya, gagal berumah tangga, gagal karier, hal itu bukanlah masalah. Hal terpenting adalah wajah batiniah kita yang indah di mata Tuhan. Walaupun wajah kita cantik, ganteng, banyak uang, sukses karier, tapi kalau batin kita tidak cantik, maka semua itu tidak ada artinya.
    Rencana Allah adalah ketika setiap kita bertumbuh terus menjadi indah di mata Allah. Ketika kita mengenakan keindahan wajah Tuhan di dalam hidup kita, kita akan menjadi efektif untuk pekerjaan-Nya. Secara tidak langsung, kita menjadi saksi-Nya. Bersaksi tidak selalu dengan berkhotbah, memberi seminar,
    0 min
  • Kebaikan Allah

    Kita sudah terbiasa mendengar, dan bahkan kita sendiri yang mengucapkan bahwa Allah itu baik. Namun, bagaimana kita bisa memahami dengan benar isi dan pengertian “baik” di situ? Kalau kita tidak bertumbuh dewasa, kita akan gagal memahami apa yang “baik” yang dimaksud Alkitab. Sama seperti ketika masih kanak-kanak usia 3-6 tahun, jika memahami kebaikan orangtua, hal itu diukur dari hadiah boneka, mainan, diajak jalan-jalan, dan lain sebagainya. Itu menggembirakan hati anak-anak, yang kemudian ketika papa mamanya minta dicium, mereka dengan semangat menciumnya karena ada hadiah atau ada sesuatu yang menyenangkan mereka. Itu yang dipahami sebagai “kebaikan” di dalam ukuran anak-anak. Itu pemahaman yang tidak dewasa, tidak matang. Gambaran ini bisa dikenakan dalam hidup orang Kristen. Ketika kita belum dewasa rohani, kita memahami kebaikan Tuhan dengan hal-hal yang terkait dengan jasmani. Padahal, hal-hal ini juga bisa dimiliki orang-orang yang tidak mengenal Tuhan Yesus; orang-orang beragama lain yang mengakui Allah mereka baik diukur dari berkat jasmani.
    Orang-orang fasik yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya, faktanya limpah dengan berkat jasmani. Berkat jasmani bukanlah ukuran berkat dan kebaikan Tuhan. Betapa miskinnya pengertian “kebaikan” di sini. Itulah sebabnya, di Injil Yohanes 6, Yesus berkata kepada orang-orang yang kelihatannya begitu bersemangat mencari Tuhan. Tuhan berkata, “Kamu mencari aku bukan karena melihat tanda-tanda itu, melainkan karena kamu makan roti sehingga kenyang.” Artinya, mestinya mereka mencari Tuhan karena melihat tanda (Yun. semeion) atau “petunjuk arah.” Mestinya orang percaya sudah mengerti apa maksud kedatangan Yesus ke dunia, apa isi keselamatan; apa isi daripada buah kurban kematian Yesus di kayu salib. Tuhan berkata, “Bekerjalah untuk roti yang tidak dapat binasa. Jangan bekerja untuk roti yang dapat binasa” (Yoh. 6:27).
    Harus selalu diingatkan bahwa kita ini makhluk kekal. Sebenarnya Allah merancang manusia tidak perlu meninggal dunia, tetapi manusia harus mati karena bumi ini juga akan menjadi lautan api dan tidak bisa menjadi hunian yang ideal. Maka, Tuhan mempersiapkan langit baru bumi baru. Dan orang percaya mendapatkan tempat itu. Itu lebih dari semua keberhasilan dan sukses yang bisa kita capai. 1 Petrus 1:3-4 menulis, “Allah memberikan kepada kita hidup yang penuh pengharapan, yang tersimpan di surga.” Dan kita hidup di bumi ini merupakan satu-satunya kesempatan untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang.
    Kita harus benar-benar mengerti berkat utama atau berkat inti dari keselamatan itu. Jangan kita menjadi bodoh, meleset, menyimpang; tidak mengerti maksud, tujuan kasih yang Allah berikan kepada kita. Tetapi sayang, banyak orang Kristen yang “gagal paham” di sini. Kasih Tuhan diukur dengan kehidupan di bumi yang nyaman. Mestinya kita bisa melihat kebaikan Tuhan, bahkan kehadiran-Nya dalam langkah hidup kita setiap hari, yaitu ketika kita menyadari bagaimana Allah yang baik mendidik kita. Ia mendidik kita dengan membidik kelemahan, kekurangan kita. Dan ketika kita menyadari perubahan itu lewat proses perubahan melalui persoalan-persoalan hidup yang kita jalani, kita membuktikan Allah itu hidup.
    Allah itu hidup bukan hanya dibuktikan dari kejadian sakit lalu menjadi sembuh, sebab setan juga bisa lakukan itu. Kehadiran Allah, kasih kehadiran-Nya bukan hanya dibuktikan dengan persoalan-persoalan kita yang bisa kita lewati. Sebab, ternyata orang-orang di luar Kristen pun bisa mengalami hal-hal tersebut. Tetapi kalau kehidupan yang diubah dari manusia yang berkodrat dosa menjadi manusia yang berkodrat ilahi, tidak bisa dikerjakan oleh siapa pun. Karena itu, mustahil bagi manusia, tapi tidak mustahil bagi Allah. Kita harus meraih kesempatan tak ternilai ini.
    Kalau tidak mau mendengar peringatan Tuhan ini dan masih hidup dalam kehidupan yang kotor, kita pasti akan menyesal. Ketika kita melihat keagungan Tuhan,
    0 min
  • Bintang Mahaputra
    Kalau kita memperhatikan Alkitab dengan teliti, pada umumnya orang-orang yang benar-benar dipakai Tuhan adalah mereka yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya atau bisa dikatakan tanpa batas. Memang tidak banyak orang yang dipakai Tuhan, tetapi kalau kita memilih untuk menjadi alat di tangan Tuhan, kalau kita mau menjadi orang yang dipilih Tuhan menjadi alat-Nya, inilah jalannya. Menyadari kebenaran ini, kita harus memiliki kegentaran, bagaimana bisa memberikan hidup atau segenap hidup tanpa batas kepada Tuhan. Kita rela melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan. Atau kita melakukan yang sebenarnya di luar kemampuan kita untuk melakukan. Tetapi ini adalah pilihan yang terbaik. Mengingat usia kita yang terbatas, dimana suatu saat kita akan kehilangan kesempatan ini selama-lamanya dan mengingat setiap kita akan menghadapi perhitungan di hadapan pengadilan Tuhan nanti, maka adalah sangat beruntung kalau kita berani mempersembahkan segenap hidup kita ini tanpa batas kepada Tuhan.
     
    Mempersembahkan hidup tanpa batas bukan berarti kita harus harus jadi pendeta, juga tidak harus berarti memberi uang untuk gereja. Tetapi, bagaimana kita memiliki kesediaan untuk melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita. Terpenting dalam hidup Kristen kita adalah bagaimana kita hidup tidak bercacat dan bercela. Selanjutnya, bagaimana suasana hati kita tidak dipengaruhi oleh materi atau keindahan dunia. Kalau kita masih melakukan kesalahan dan tidak mau membereskannya, dan jika kita masih menikmati kesenangan dunia, tidak mungkin bisa kita dapat menyerahkan diri tanpa batas kepada Tuhan! Tidak bisa! Kita harus berani mempunyai komitmen.
     
    Orang yang tidak berani menyerahkan hidup tanpa batas, dia akan terkurung, terjebak dalam egosentris. Dia akan sibuk dengan perasaannya sendiri. Bagaimana dia disenangkan, bagaimana dia dipuaskan, kalau melihat orang yang tidak dia sukai, bagaimana dia menyerang. Atau dia akan tenggelam dengan persoalan apakah persoalan pasangan hidup, soal anak, soal orangtua, jodoh, atau berbagai persoalan. Memang pada kenyataannya, kita semua pasti punya persoalan. Tetapi, ingat bahwa: Pertama, tidak mungkin persoalan pergumulan hidup kita melampaui kekuatan kita. Kedua, tidak mungkin tidak ada jalan keluar. Ketiga, seluruh persoalan dan semua pergumulan kita pada akhirnya mendatangkan kebaikan.
     
    Sebanyak dan seberat apa pun masalah kita, jangan tenggelam di situ! Tenggelamlah dengan tekad bagaimana melayani perasaan Allah. Bagaimana dalam setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan, setiap buah pikiran yang terlintas, kita selalu menyenangkan Dia. Mari kita mulai dari situ dahulu, dari hal-hal sederhana dalam keseharian hidup kita. Sehingga kita berhak untuk memperoleh bintang mahaputra, menjadi anak unggulan. Mereka yang berhak mendapatkan bintang mahaputra adalah anak-anak yang menjadi kebanggaan Allah, yang namanya buah sulung. Sejatinya, inilah satu-satunya yang kita rindukan, ini yang kita targetkan untuk kita peroleh di kekekalan. Tidak harus sekolah teologi, tidak harus jadi aktivis gereja, tidak harus jadi pendeta.
     
     
    Jadi, persekutuan kita bukanlah persekutuan orang yang hanya mau menangis di hadapan Tuhan membawa persoalan. Ini bukan berarti tidak boleh menangis dan membawa persoalan kepada Tuhan, tapi kiranya persoalan kita cuma satu, yaitu bagaimana kita menjadi anak kesukaan Bapa. Selanjutnya, bagaimana kita bisa menyukakan hati Bapa. Betapa indahnya hidup ini apabila di setiap hari kita bisa menyenangkan hati-Nya. Sudah saatnya kita menjadi orang Kristen yang dewasa. Hendaknya kita mau berbeda dari dunia ini. Berbeda dengan orang-orang Kristen yang lainnya, yang sebenarnya hanya beragama Kristen tapi belum Kristen dengan sungguh-sungguh. Kita mempunyai banyak masalah, hadapi saja! Orang lain pun punya masalah yang sama, dan tanpa Tuhan, mereka juga bisa menyelesaikannya.
     
    0 min
  • Dihormati Tuhan
    Satu hal yang kita harus mengerti bahwa dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita dapat menentukan siapa yang kita pilih sebagai yang termulia, yang terhormat, dan yang ternilai atau yang maha berharga dalam hidup kita. Kehendak bebas kita bukan hanya menyangkut tindakan yang terkait dengan moral, melainkan juga terkait dengan penghargaan kita kepada objek tertentu. Mari kita tidak kehilangan kesempatan selama kita masih hidup di dunia ini, dimana kita diberi Tuhan kesempatan untuk memilih; apakah kita memilih Tuhan atau memilih yang lain. Harus diingat bahwa hal ini sangat menentukan nasib kekal kita. Kita harus memilih Tuhan sebagai yang paling berharga dalam hidup kita. Walaupun daging kita masih menolak, bahkan jiwa kita ikut memberontak—jiwa yang sudah dicemari oleh hasrat-hasrat duniawi, ambisi-ambisi duniawi—tetapi kita bisa tetap menundukkan daging dan jiwa kita untuk memilih Tuhan, memilih Allah sebagai yang berharga dalam hidup.
    Kita bisa mengatakan bahwa hanya Allah satu-satunya yang berharga dalam hidup ini. Kita bisa memilih bahwa harta kita satu-satunya di dunia ini adalah Tuhan, adalah Allah saja. Kalaupun kita studi, berkarier, bekerja, memiliki pasangan hidup, memiliki anak, dan semua fasilitas, maka itu bukan kita anggap sebagai tujuan pencarian hidup kita. Tujuan pencarian hidup kita hanya satu, Tuhan! Masalahnya adalah bagaimana kita bisa mengenal Tuhan dan mengalami Dia?/ Bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami Abraham? Bagaimana kita bisa mengalami apa yang dialami oleh Musa? Mereka bisa bertemu muka dengan muka dengan Allah, dan berjalan dengan Allah.
    Tentu Allah tidak akan berjalan dengan orang yang hidupnya najis, yang hatinya jahat, yang hatinya bengkok, yang hatinya tidak tulus. Dan Allah tidak bisa berjalan dengan orang yang tidak menghormati Dia secara patut. Allah tidak bisa berjalan dengan orang yang tidak menghormati Dia secara pantas. Allah yang besar, Allah yang mulia, Allah yang Mahaagung, itu patut menerima seluruh persembahan hidup kita. Artinya, kita harus rela meninggalkan segala sesuatu dan menganggapnya tidak bernilai. Kita bisa memiliki semua atau segala sesuatu yang dapat kita raih, tetapi kita tidak menganggapnya itu sebagai sesuatu yang berharga. Dan kalau kita menganggapnya sebagai bukan sesuatu yang berharga, maka kita dengan rela akan menggunakan semua itu untuk kesukaan atau kesenangan hati Allah. Jadi, kita juga bisa memenuhi seperti apa yang dikatakan dalam firman Tuhan, “Baik kamu makan, atau minum, atau melakukan sesuatu yang lain, kita melakukan semua itu untuk kemuliaan Allah.” Ini pilihan! Dan kita memilih Allah sebagai satu-satunya yang berharga.
    Ada orang-orang yang tidak memperlakukan Allah secara patut. Pada jam-jam dimana kita harus mendengarkan Firman Tuhan, kita harus bisa meninggalkan semuanya dan duduk diam di kaki Tuhan, mendengarkan Firman. Dan pada waktu kita memiliki kesempatan untuk mencuri, kita berkata “tidak;” kita memiliki kesempatan untuk berzina, kita pun berkata “tidak;” pada waktu kita punya kesempatan untuk melakukan hal-hal yang dapat melukai hati Allah, kita tegas berkata “tidak.” Inilah sikap menghormati Tuhan secara patut, menghormati Tuhan secara pantas. Dan inilah langkah-langkah memilih Tuhan, menghargai Tuhan, menghormati Tuhan.
    Kalau kita melakukan hal ini dengan benar, maka ketika kita ada dalam pertemuan doa bersama, atau pada waktu kita berlutut di kaki Tuhan dalam doa pribadi, kita bisa menjumpai Dia. Dan bisa merasakan perjumpaan itu, dan sungguh itu akan sangat membahagiakan, sampai menjadi addict (ketagihan) bagi kita. Kalau dulu kita kecanduan dengan film, kecanduan dengan hiburan-hiburan, kecanduan dengan hobi-hobi, sekarang kita kecanduan dengan Tuhan. Jangan meninggal dunia sebelum kecanduan dengan Tuhan. Sebab orang yang masih kecanduan dengan berbagai hobi, kesenangan, barang branded, kendaraan, tas, pakaian, dan lain-lain adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan secara patut,
    0 min
  • Hidup bagi Kemuliaan Allah
    Kalau Yesus dijadikan Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa, maksudnya adalah di dalam dan melalui kehidupan Yesus, nama Allah dimuliakan. Dan itu tidak terjadi secara otomatis atau tidak terjadi secara mudah. Yesus harus merendahkan diri, taat sampai mati bahkan mati di kayu salib. Kalau kita mau menjadi manusia atau anak-anak Allah yang benar-benar memuliakan Allah, maka yang pertama, jangan mencari penghargaan dari manusia. Pada waktu kita memiliki kesempatan untuk meninggikan diri atau kesempatan untuk dihargai, jangan menggunakan kesempatan tersebut untuk menerima penghargaan. Kedua, ketika kita direndahkan, ketika kita di-bully, jangan membela diri dengan maksud supaya kita mendapatkan penghargaan. Dan puncaknya, ketika semua orang menilai kita buruk, sejatinya di situ justru kita terpacu untuk membenahi diri, mengoreksi diri untuk dapat berkeadaan benar-benar benar di hadapan Allah.
    Jadi, di sini kita menemukan mutiara, yaitu gairah untuk menjadi orang yang tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Tuhan. Dan ini adalah berkat yang luar biasa, karena gairah kita adalah gairah untuk mencari pujian dari Allah dan penghargaan nanti di hadapan takhta Kristus. Ini puncaknya, sebab di sini seseorang baru bisa memikul rencana-rencana Allah tanpa berambisi untuk mendapatkan penghargaan di balik semua kegiatan yang dia lakukan. Sebagai pelayan Tuhan, kita giat dalam pekerjaan Tuhan, kita semangat dalam pekerjaan Tuhan, namun sebenarnya masih ada agenda-agenda pribadi di balik kegiatan itu, karena kita masih mau mendapatkan penghargaan dari manusia, “wow!” “Dia sukses membangun sinode, sukses mendirikan Sekolah Tinggi Teologi, dia orang baik, dia membela orang. Wow!”
    Jadi, sejujurnya, kita masih memiliki agenda di balik kegiatan-kegiatan tersebut. Ibarat kita mengibarkan bendera atau panji Tuhan, kita juga ikut mengibarkan panji kecil milik kita. Ini merupakan watak manusia pada umumnya. Lusifer atau setan memiliki gairah di sini, bagaimana dia juga mau mendapatkan penghargaan atau penghormatan dan dia juga mau memiliki kedaulatan dan takhtanya sendiri. Kita harus belajar untuk tidak melakukan hal itu. Ketika kita tidak lagi mencari penghargaan untuk diri kita sendiri, maka Allah akan memercayakan pekerjaan-pekerjaan besar yang mendatangkan kemuliaan bagi Allah.
    Dan jika suatu hari Tuhan membuat kita terhormat. Misalnya si A, dia menjadi pemimpin, tapi bagi kemuliaan Allah. Dia jadi ketua sinode pun bagi kemuliaan Allah. Dia menjadi ketua perguruan tinggi, juga bagi kemuliaaan Allah. Dia menjadi ketua ini ketua itu, semua bagi kemuliaan Allah. Siapa yang tahu hal ini? Memang pada akhirnya ini bersifat individu, pribadi, hal batiniah. Tetapi di depan pangadilan Tuhan nanti, semua hal akan dibuka dan telanjang. Kalau seseorang mau menjadi sarjana, sekarang dia S.Th, bagi kemuliaan Allah. Lalu dia meneruskan studinya menjadi Magister Teologi, itu pun bagi kemuliaan Allah. Bahkan menjadi Doktor pun bagi kemuliaan Allah. Atau sekarang ia menjadi pembicara yang terkenal dan memberkati banyak orang, semua bagi kemuliaan Allah.
    Seperti Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah, maka kalau kita mendapat prestasi atau kedudukan pun bagi kemuliaan Allah. Di sini kita baru bisa mewujudkan apa yang dikatakan oleh firman Tuhan, “Baik kamu makan atau minum, atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Kita akan menjadi semacam instrumen atau alat dimana Allah dimuliakan. Dan tentu manusia-manusia seperti ini menjadi kesukaan Allah. Ketika seseorang berhenti untuk mencari penghargaan bagi dirinya sendiri—walaupun punya momentum untuk itu namun dia tidak memanfaatkannya; walaupun dia direndahkan, namun dia tidak membela diri untuk mencari penghargaan; bahkan sekalipun semua orang merendahkan, ia tidak menjadi terganggu, malah memicu dirinya untuk mencari perkenanan Allah—maka di sini hati Allah disukakan, hati Allah digembirakan, menjadi anak kesukaan Allah.
    0 min
  • Selesai Sebelum Selesai
    Satu hal yang harus membuat kita benar-benar gemetar adalah jika kita meninggal dunia tanpa memiliki Allah yang benar. Banyak orang beragama—dalam hal ini konteksnya adalah orang Kristen—yang merasa sudah memiliki Allah yang benar karena sudah beragama Kristen, karena sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sudah terbiasa dididik atau diajar, yakin sudah selamat, dan yakin kalau mati masuk surga, padahal tidak demikian. Sesungguhnya, ini adalah penyesatan yang benar-benar sukses dari kuasa gelap. Ini penyesatan yang berhasil dari abad ke abad, dimana kekristenan menjadi keberagamaan dan orang yang beragama merasa sudah memiliki Allah, dan itu salah. Belum tentu orang beragama—dalam konteks Kristen—sudah memilliki Allah. Kalau di Perjanjian Lama, bangsa Israel memiliki Allah dan dimiliki Allah, kalau mereka hidup di dalam Taurat. Dan dasar dari Hukum Taurat itu adalah 10 Perintah Allah atau yang dikenal dengan nama Dekalog atau Dasa Titah.
    Kalau mereka tidak melakukan hukum Taurat, mereka tidak dimiliki Allah atau tidak memiliki Allah atau mereka terhukum, seperti: dibiarkan kalah dalam berperang, dibiarkan tidak memiliki panen yang berhasil, dibiarkan atau bahkan Allah sendiri mendatangkan bencana wabah penyakit, dan berbagai tulah. Porsi berkat yang mestinya disediakan bagi bangsa itu, tidak diberikan. Memiliki allah lain merupakan kebencian bagi Allah. Hukumannya bukan hanya atas bangsa itu sendiri, tapi juga anak cucu, dan keturunannya.
    Bagaimana dengan kehidupan orang percaya Perjanjian Baru? Apakah sama dengan bangsa Israel? Kekristenan memiliki standar yang lebih tinggi. Jelas, tidak boleh ada allah lain. Allah kita sama dengan Allahnya bangsa Israel: Elohim Yahweh. Dan kita mengenal bukan hanya Allah Israel, Elohim Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Yohanes 17:3, tapi juga Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus—yang menjadi Tuhan, yang akan menjadi Raja, mewujudkan pemerintahan Allah nanti di langit baru bumi baru. Apa standar orang percaya untuk memiliki Allah? Apakah cukup dengan berbuat baik, melakukan hukum seperti bangsa Israel? Tidak. Sebab bagian orang percaya adalah berkat kekal, bukan berkat jasmani. Jadi berkat yang utama yang diterima orang percaya adalah kesempurnaan seperti Bapa, atau serupa dengan Yesus atau dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Mungkin seseorang memang masih percaya Allah, memang masih beragama Kristen, memang masih ke gereja. Apakah itu cukup berarti orang tersebut tidak berselingkuh? Kalau hanya tidak ke dukun, kalau hanya tidak pindah agama, kalau hanya tidak menyembah allah lain atau sinkritis, itu bukan berarti sudah punya Allah. Allah menghendaki setiap individu dimiliki Dia tanpa ikatan dengan siapa pun dan apa pun. Firman Tuhan mengatakan di dalam Matius 6:24, “kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Bukan hanya menyembah allah atau dewa lain, bukan hanya terlibat dalam perdukunan atau okultisme, tetapi ketika kita memiliki keterikatan dengan sesuatu atau seseorang yang melebihi keterikatan kita dengan Tuhan, kita berselingkuh. Itulah sebabnya, orang percaya itu disebut sebagai mempelai (2Kor. 11:2-3).
    Menjadi anak-anak Allah itu adalah sesuatu luar biasa karena menuntut perjuangan. Ini pertaruhannya tinggi sekali. Itulah sebabnya di 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan, “kalau kamu memanggil Allah sebagai Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Ketakutan apa? Kegentaran akan keberadaan Allah yang Mahahadir. Coba kita renungkan, Allah itu memenuhi jagat raya ini. Tidak ada satu bagian pun yang tidak dihadiri Allah. Dan Allah itu berpribadi, artinya berperasaan dan berpikir. Dan Allah yang menjadikan kita anak-anak-Nya, Allah yang reaktif dan responsif. Kalau bangsa Israel tidak taat, langsung reaksi Allah begitu cepat, Allah menghukum mereka. Bagaimana dengan kita? Ini bedanya. Mungkin reaksi Allah tidak langsung secara fisik, karena kita anak, kita dididik,
    0 min
  • Tidak Ada Kesempatan Lagi
    Pernahkah kita mempersoalkan mengapa setelah meninggal dunia, tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Tidak ada lagi kesempatan untuk minta ampun. Pernahkah kita memperkarakannya? Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau kedahsyatan Allah, tidak bisa tidak orang akan takut, gentar, sangat dahsyat dan mengerikan. Tidak bisa tidak orang akan minta ampun. Tetapi permintaan ampun di saat itu adalah permintaan ampun yang palsu, yang tidak berkualitas! Atau pada waktu itu orang yang baru percaya berkata, “aku percaya pada-Mu, Tuhan,” itu bukan percaya yang benar. Mestinya pada saat ketika Tuhan seakan-akan tidak ada, kita tetap memercayai Dia ada. Itu baru percaya yang benar. Bukan pada waktu nanti kita bertemu muka dengan muka, atau ketika kita ada di hadirat Allah.
    Alkitab jelas berkata bahwa setelah mati, ada penghakiman. Dan kalimat itu sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa setelah mati, tidak ada perbaikan, tidak ada renovasi, tidak ada rekonsiliasi, tidak ada restorasi, atau tidak ada pemulihan. Pertanyaan yang muncul, mengapa demikian? Sebabtuhan menghendaki percaya yang benar, takut akan Allah yang benar. Apalagi di zaman di mana orang tidak percaya Tuhan. Kalau di negara-negara Barat jelas orang banyak berkata: “Allah, nonsense!” Tapi di negara-negara di mana agama dijunjung tinggi, orang masih percaya Allah. Tapi banyak yang hanya percaya secara teoritis, namanya teis teoritis; secara teori percaya tapi secara praktis tidak. Dan yang menyedihkan, banyak teolog juga begitu. Secara teori percaya, namun secara praktis tidak menunjukkan takut dan gentarnya itu.
    Sebagai buktinya, ucapan sembarangan, tulisan di media sosial pun sembarangan. Belum dalam hidup sehari-harinya, apakah dia memiliki kegentaran yang sungguh terhadap Allah? Tentu objek penelitian yang kita lakukan itu adalah diri kita sendiri, sebab ini yang jelas paling jujur, karena kita merasakan gejala-gejala jiwa, kecenderungan-kecenderungan yang ada pada kita yang pasti juga sama dengan yang dimiliki oleh orang lain.
    Di tengah-tengah manusia yang tidak percaya kepada Allah secara benar, apakah kita percaya dengan benar? Dan percaya kita yang dengan benar itu pasti ditandai dengan kesetiaan kita untuk taat, takut akan Dia. Walaupun dari dulu telah menulis lagu, “Kutaruh Tuhan di mataku,” tapi sebenarnya lagu itu belum dijiwai dengan benar oleh pengarangnya. Karena ada saat-saat dimana kelakuan kita tidak menunjukkan bahwa kita menaruh Tuhan di depan mata kita. Sampai kita mengambil keputusan: “Aku memilih-Mu untuk melayani, Bapa.” Melayani Bapa itu artinya melayani perasaan Dia. Hendaknya kita tidak buru-buru mau jadi pendeta, aktivis, sekolah pendeta menjadi pendeta. Itu yang sering salah. Dulu banyak pendeta selalu menganjurkan orang kalau mau melayani Tuhan harus sekolah pendeta. Itu pandangan yang salah. Mestinya melayani Tuhan bukan sekolah pendeta dulu, tetapi komitmen melayani Bapa dengan selalu menyenagkan hati-Nya. Komitmen melayani perasaan-Nya. Melayani perasaan Bapa.
    Bagaimana melayani perasaan Bapa itu? Dari setiap kata yang kita ucapkan, setiap tulisan yang kita tulis media sosial, setiap hal yang kita lakukan. Semua harus kita ukur, kita pertimbangkan, apakah hal ini menyenangkan hati Tuhan atau tidak? Bahkan setiap barang yang kita beli, setiap langkah yang kita lakukan. Mungkin ada yang bilang, “Aduh, keterlaluan ini.” Tidak! Ini yang benar! Hendakny tidak buru-buru mau jadi aktivis gereja, apalagi menjadi pendeta. Kita harus belajar melakukan kehendak Allah dari hal-hal sederhana setiap hari. Kita membangun kesucian dari hal ini. Ini yang namanya melayani Bapa. Baru namanya menyerahkan tubuh, jiwa, dan roh kepada Bapa. Dan kita belajar memulai hari ini. Jika gagal, mulai lagi. Mari kita berkomitmen untuk melayani Bapa, melayani Tuhan dengan hidup sesuai dengan kehendak-Nya dalam segala perkara. Jauh dari yang namanya mencuri, membunuh, membenci orang, berzina. Baru berpikir kotor saja,
    0 min
  • Pedupaan yang Harum
    Kita harus ingat bahwa kita adalah makhluk kekal yang pasti akan mati, dan setelah itu kita masuk keabadian. Kenyataan yang kita temui, banyak orangtua membentengi dan melindungi anak-anak mereka dengan warisan. Dengan warisan itu mereka berpikir bahwa anak-anak mereka akan aman. Sebagai orangtua, kita punya perasaan seperti itu. Padahal, dunia kita ke depan ini tidak akan menentu. Sama sekali tidak akan bisa diharapkan. Berapa pun warisan yang bisa kita berikan kepada anak, apakah itu harta, uang, pendidikan, tidak akan menjamin! Beberapa waktu yang lalu kita mendengar, ada anak konglomerat di luar negeri meninggal. Ada yang dibunuh, ada yang bunuh diri, ada yang kecelakaan, dan lain sebagainya. Ternyata, kekayaan pun tidak bisa melindungi anaknya. Warisan yang harusnya kita berikan adalah takut akan Allah, pengenalan akan Tuhan. Dan kalau mereka belum mengenal Tuhan seperti kita, kita yang harus lebih dulu mengenal Dia. Ketika kita meninggal dunia, tidak ada satu genggam tanah pun yang kita bawa. Sebidang tanah yang kita miliki, seluas apa pun, sebongkah pun tidak akan kita bawa. Sesuai dengan apa yang dikatakan Tuhan Yesus, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Kalau saat ini kita punya banyak mobil, punya banyak uang, punya banyak perhiasan, punya banyak arloji, punya banyak kekayaan, tidak satu pun kita bawa. Kita harus ingat itu! Dan mestinya ini menimbulkan perasaan krisis, perasaan gentar di hati kita.
     
    Semua kita ibarat bangsa Israel yang keluar dari Mesir menuju Kanaan, kita tinggalkan dunia menuju Kanaan Surgawi. Tidak mengurangi kesenangan hidup, tetapi demi supaya kita memiliki hati yang takut akan Allah, sehingga kita bisa mewariskan hati yang takut akan Allah dan pengenalan akan Allah kepada anak-anak kita, kepada keluarga kita dan sesama. Ini yang mestinya menjadi kesukaan kita. Kita harus sampai pada titik perjumpaan yang nyata dengan Allah Bapa setiap hari. Karena Allah Bapa menyertai kita. Dia menaruh Roh-Nya di dalam diri kita. Kita tidak boleh semena-mena menyakiti perasaan Bapa. Sering kita tanpa sadar menyakiti, kita melukai, kita menganiaya perasaan Tuhan. Benar-benar kita menganiaya Tuhan, dengan sikap, ucapan, perbuatan, pikiran, renungan hati kita. Mari kita perbaharui komitmen kita untuk hidup berkenan di hadapan-Nya. Kesediaan kita untuk berkomitmen dan memenuhinya sudah merupakan pedupaan yang harum. Hati yang tulus, bukan emosi sesaat yang kita mainkan. Bukan emosi sesaat yang kita ledakkan. Lalu seakan-akan dengan emosi semacam itu, Tuhan berkenan. Sekarang tanpa ledakan emosi, tetapi perasaan yang tulus mencintai Dia, dan benar-benar bersedia untuk memberikan seluruh hidup kita.
     
    Uang itu masalah yang masih sederhana dan kecil. Harta itu juga masih masalah yang sederhana dan kecil. Tetapi kesediaan kita mengontrol kata-kata yang tidak patut, sikap perilaku kita yang bisa melukai orang dan menjadi batu sandungan, semua itu merupakan masalah yang tidak mudah, bukan masalah kecil. Walaupun tentu kita sudah berbuat sebaik apa pun kita bisa tetap dipersalahkan, tetapi tidak masalah. Yang penting kita tidak bersalah di hadapan Tuhan. Misalnya, sebagai orangtua kita mengambil keputusan yang terbaik untuk anak-anak, namun anak-anak tidak mau mengerti dan menerimanya. Tentu sebagai orangtua kita tidak bermaksud melukai anak-anak. tetapi mendidik, maka dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat kita harus melakukan hal-hal ini:
    Pertama, berusaha untuk tidak merugikan siapa pun, tidak menyakiti siapa pun—melalui ucapan, sikap, dan perbuatan—demi perasaan Bapa. Dasarnya bukan karena kita takut kepada seseorang atau alasan lainnya, melainkan karena kita tidak mau melukai perasaan Dia.
    Kedua, melakukan pembiasaan diri agar kita menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan. Demi supaya kita bisa benar-benar menyenangkan hati Tuhan dengan sikap permanen yang kita miliki, bukan sesaat kita buat-buat lalu seakan-akan kita menjadi orang baik.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…