Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Penyerahan Diri yang Dewasa
    Tuhan mengajarkan sesuatu yang sekilas terlihat sederhana, tetapi ternyata tidak sederhana. Hal tersebut adalah penyerahan diri kepada Allah. Penyerahan diri kepada Allah selama ini dikesankan sesuatu yang sangat sederhana di banyak agama dan mimbar gereja. Pertama, di komunitas orang Kristen tertentu, yang disebut berserah atau menyerahkan diri adalah ketika seseorang meninggalkan pekerjaan sekuler, pendidikan umum, atau kegiatan-kegiatan di luar gereja lalu menjadi seorang full-timer gereja, menjadi pendeta, masuk sekolah Alkitab atau sekolah tinggi teologi. Ketika seseorang mengambil langkah-langkah tersebut ia disebut menyerahkan diri kepada Tuhan. Penyerahan diri ini dipandang istimewa dan berkualitas tinggi karena berpindah dari yang dipandang duniawi menjadi rohani. Padahal seringkali hal tersebut hanya sebuah kamuflase untuk dapat menghindarkan diri dari beratnya hidup dalam marketplace, dan demi memperoleh kemudahan memenuhi kebutuhan jasmani serta kehormatan sebagai “hamba Tuhan.” 
    Di komunitas lain, kedua, penyerahan diri kepada Allah biasanya berbicara mengenai kepasrahan ketika menghadapi masalah berat dan rumit yang tidak mampu ditanggulangi. Masalah tersebut dapat berupa pemenuhan kebutuhan jasmani atau penyelesaian beban hidup. Mereka memandang bahwa hanya Allah yang dapat menolong mereka keluar dari masalah tersebut. Tanpa tangan Allah yang kuat, permasalahan mereka tidak dapat usai sesuai yang diharapkan. Oleh karenanya orang dalam komunitas ini mengharapkan pertolongan Tuhan untuk menyelesaikan masalahnya. Sebagai gantinya, mereka memberikan “penyerahan” dirinya kepada Tuhan. Sebenarnya ini adalah usaha untuk memperdaya atau memanfaatkan Tuhan tanpqa mengerti bagaimana seharusnya hidup dalam pengabdian kepada Tuhan.
    Sementara yang ketiga, bicara mengenai penyerahan berarti ada di keadaan yang sudah tidak ada jalan keluar, menyerah, putus asa, sehingga berserah saja. “Berserah” di sini artinya pasrah tidak dapat atau mau lagi melakukan apa-apa. Mereka yang memahami berserah dengan pemaknaan ini, biasanya sudah berada di jalan buntu dan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Mereka akan menerima apa pun hasil dari suatu hal. Berserah di sini sama dengan menyerah atau pasrah. Penyerahan diri untuk orang percaya yang dewasa adalah ketika seseorang benar-benar mau memercayai apa pun yang Allah kehendaki, dan bersedia melakukannya tanpa menuntut apa pun. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak langsung mengaitkannya dengan melayani Tuhan sepenuh waktu dengan menjadi pendeta. Sebab orang yang menyerahkan diri melayani Tuhan, belum tentu tidak menuntut apa pun. Tidak sedikit orang yang sekolah teologi dan menjadi pendeta demi masa depan. Profesi pendeta dipandang lebih mudah mendatangkan keuntungan secara materi dan kehormatan tanpa modal yang signifikan. Penyerahan diri seseorang untuk melayani Tuhan sepenuh waktu dapat memiliki seribu satu motif dalam rangka mencari sesuatu dari Tuhan. 
    Oleh karenanya, penyerahan diri selalu berkaitan dengan mengubah arah hidup menjadi rohaniwan. Penyerahan diri yang benar kepada Tuhan mengorbankan lebih banyak hal ketimbang meninggalkan profesi sekuler. Penyerahan diri yang dewasa sejatinya adalah kesediaan kita untuk mengerti kehendak Allah dan melakukannya tanpa menuntut apa pun. Pada renungan yang lalu, telah kita pelajari ketika seseorang benar-benar hanya berharap Tuhan dan Kerajaan-Nya, di situlah ia menunjukkan penyerahan diri yang benar. Kalau seseorang masih mengharapkan kebahagiaan dari dunia ini, dia belum berserah. Orang yang benar-benar berserah fokusnya hanya Kerajaan Surga. Ia tidak memberi ruangan sekecil apa pun bagi dunia dan segala kesenangannya. Tuhan menghendaki penyerahan kita sampai kepada titik ini, bukan seperti yang dipahami orang pada umumnya. Jangan sampai kita berserah hanya karena sudah menyerah dengan keadaan, atau pun karena kita memiliki permasalahan besar yang ingin ditolong. Akhirnya, kita menggunakan Tuhan untuk menggapai kebahagia...
    0 min
  • Ikatan Perjanjian
    Ketika seseorang menyerahkan hidup kepada Tuhan, sebenarnya hal tersebut merupakan ikatan perjanjian atau covenant dengan Allah. Tetapi banyak orang yang belum mengerti apa artinya menyerahkan diri secara benar kepada Allah. Biasanya, orang menyerahkan diri kepada Allah karena sedang dalam satu keadaan yang sulit, terancam, atau membutuhkan sesuatu yang ia tidak sanggup penuhi. Ia harus minta pertolongan tangan yang kuat, dalam hal ini, tangan Tuhan. Penyerahan seperti ini sebenarnya sebuah sikap manipulatif, yakni sikap untuk memanfaatkan atau untuk mengeksploitasi Allah. Sebenarnya ini adalah sikap yang tidak patut. Tetapi, inilah yang dilakukan oleh orang-orang Kristen yang belum dewasa. 
    Banyak orang Kristen bersikap seperti anak kecil terhadap Tuhan. Seorang anak kecil menyerahkan sesuatu kepada orangtuanya hanya karena supaya orangtuanya campur tangan atau terlibat di dalam persoalan anak itu. Sikap seperti ini adalah sikap oportunis (mencari keuntungan tanpa memperhatikan kepentingan orang lain) dan manipulatif (menyalahgunakan sesuatu demi kepentingannya sendiri). Mekanisme hubungan antara umat dan ilah-ilah atau dewa-dewa seperti ini dalam banyak agama sudah bisa, tetapi kekristenan tidak mengajarkan demikian. Bagi orang Kristen yang belum dewasa, Tuhan memaklumi keadaan mereka dan sering kali mengabulkan apa yang menjadi permintaan mereka. Tetapi Allah Bapa menghendaki kita bisa berubah dan bertumbuh dewasa.
    Ketika kita berkata, “Aku menyerahkan hidupku kepada-Mu,” ini berarti kita sedang mengikat perjanjian dengan Tuhan Semesta Alam. Hal ini tentu tidak hanya berlalu begitu saja. Seakan Tuhan puas ketika kita menyatakan komitmen tersebut tanpa harus berbuat apa-apa. Sesungguhnya pengikatan perjanjian dengan Tuhan memiliki konsekuensi. Konsekuensi penyerahan kita kepada Tuhan adalah suatu komitmen untuk dimiliki oleh Allah. Harus dipahami bahwa pemilikan yang pantas bagi Allah adalah seratus persen dari kehidupan kita. Kurang dari seratus persen, maka itu tidak memenuhi persyaratan penyerahan diri kepada Allah dalam ikatan perjanjian. Kita sama sekali tidak dapat kompromi terhadap standar dengan hanya menyerahkan sebagian hidup, apalagi kalau hanya menyerahkan persoalan-persoalan hidup saja untuk supaya Tuhan campur tangan dalam masalah hidup kita. Pemilikan hidup kita dimiliki oleh Tuhan, harus mutlak dan absolut seratus persen. Lalu, komitmen kita dalam penyerahan itu dengan durasi tidak terbatas, artinya kekal. Kita tidak boleh menarik atau mengambil alih kembali apa yang telah kita serahkan kepada Tuhan. Hidup kita sudah dijadikan alat bagi-Nya. 
    Hal ini paralel dengan ungkapan bahwa kita tidak lagi berhak atas diri kita sendiri. Ketidakberhakan ini merupakan standar yang harus dicapai oleh orang percaya secara mutlak. Sebab memang sudah sepantasnya kita melakukan hal demikian bagi Tuhan yang juga telah menyerahkan segenap hidup-Nya bagi penebusan umat manusia. Dalam Perjanjian Lama, kita menemukan bahwa untuk mengikat perjanjian dengan Allah, orang Israel harus disunat. Paulus juga berbicara mengenai sunat di dalam Perjanjian Baru sebagai tanda milik Allah. Dalam Perjanjian Baru, sunat kita itu adalah sunat batin yang tidak terjadi seara jasmaniah (Ef. 2:11; Gal. 6:12-16; Flp. 3:3). Sunat batin di sini menunjuk pada kesediaan diri orang percaya untuk “melukai kenikmatan dosa.” Jika sunat fisik adalah pemotongan organ vital manusia yang dapat menikmati puncak kenikmatan, maka sunat batin adalah pemotongan kenikmatan atau kebahagiaan dunia dan dosa yang selama ini berada dalam diri kita. Apa yang digemari oleh jiwa atau daging kita dan bukan berasal dari Tuhan, harus dengan sadar dan sengaja kita lukai. Kalau bagi bangsa Israel, mereka disunat secara fisik tanpa melibatkan kesadaran mereka, sebab hal itu terjadi sejak mereka masih bayi. Tetapi hal ini berbeda dengan orang percaya. Sunat batin harus dilakukan dengan sadar dan sengaja oleh diri sendiri. 
    0 min
  • Dua Titik Tidak Balik
    Sebenarnya ada dua jenis titik tidak balik dalam hidup seseorang, yaitu: yang pertama, ketika seseorang mencapai kesucian dan semakin suci, sampai dia tidak dapat berbalik lagi. Suci bukan hanya berarti tidak berbuat dosa—kalau hanya tidak berbuat kesalahan, itu belumlah kesucian yang sesungguhnya—melainkan tidak bisa berbuat dosa. Kesucian harus sampai tahap permanen atau konsisten. Mungkin kita akan mengajukan pertanyaan, “bukankah ada kondisi dimana kita terpaksa berbuat dosa atau tidak mungkin berbuat kudus?” Jawabnya adalah Tuhan tidak mungkin membawa kita kepada situasi di mana kita terpaksa berbuat dosa. Tuhan tidak mungkin menunjukkan atau mengarahkan kita pada sesuatu yang menyakiti Dia. 
    Perlu kita ketahui bahwa antara Tuhan dan Iblis seperti ada rule of the game (aturan permainan) atau rule of the life (aturan kehidupan). Iblis tidak bisa memaksa kita untuk masuk neraka, begitu pula Tuhan juga tidak memaksa kita masuk surga. Kalau kita memperhatikan, seakan-akan Iblis tidak kelihatan dan tidak berbuat apa-apa, demikian pula Tuhan seakan-akan tidak ada. Kedua-duanya seakan-akan tidak nyata. Ketika kita berbuat jahat dan hidup dalam dosa, seakan-akan Tuhan tidak terganggu. Sebaliknya, kalau kita hidup bersih, kudus, berusaha berkenan, seakan-akan juga Tuhan diam dan tidak memberikan reward. Sejatinya, semua tindakan kita membangkitkan reaksi dan respons Allah dan memiliki dampak kekal. Karenanya kita tidak boleh ceroboh dalam mengisi hari hidup ini. Segala sesuatu ada perhitungannya.  
    Bagi orang yang sungguh mengasihi Tuhan, ia tentu dapat merasakan kebahagiaan dari kesucian tersebut. Meski tidak diupah oleh Tuhan secara langsung, ia dapat merasakan bahwa Tuhan ada dan nyata. Dalam batinnya, ia mengalami Tuhan secara nyata ketika ia sampai titik kesucian yang tidak berbalik lagi. Orang yang berada di titik tidak balik yang pertama ini cirinya: Pertama, hidup tidak bercacat, tidak bercela. Kedua, dunia tidak lagi menarik perhatiannya. Keempat, ia rela membela Tuhan tanpa batas dalam arti yang benar. Keempat, ia tidak takut mati karena mati adalah sebuah keuntungan ketika kita telah berbuah bagi-Nya selama hidup. Ketika seseorang merasakan tanda-tanda ini, berarti ia telah sampai di titik tidak balik dalam kesucian Tuhan. Orang yang merasakan tanda ini belum sempurna, tetapi ia dalam perjalanan menuju kesempurnaan.
    Titik tidak balik kedua adalah orang yang mengalami titik tidak balik ketika ia melekat dengan dunia. Dalam tahap ini, seseorang berjalan sebaliknya dari orang yang mengalami titik tidak balik yang pertama. Ia semakin matang dalam percintaan dunia, kejahatan, dosa, dan pesta pora dalam hatinya. Ini bukan hanya terjadi kepada mereka yang ada di luar gereja, tapi tidak sedikit orang Kristen yang masih ke gereja, aktivis gereja yang membantu pelayanan dan bahkan pendeta juga berada di posisi ini.
    Fenomena ini pernah dikisahkan dalam Matius 19:16-25, ketika seorang muda berkata, “Tuhan, apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” Kemudian Tuhan menawarkan untuk melakukan hukum. Rohaniwan muda ini berkata, “saya sudah melakukan semua, Tuhan. Kurang apa lagi?” Ditinjau dari ukuran keberagamaan, orang muda ini sudah lulus. Tapi ketika dia berkata, “kurang apa lagi, Tuhan?” Tuhan menjawab, “kalau engkau hendak sempurna (Yun. Telei, teleios), jual segala milikmu. Bagikan kepada orang miskin, datang ke mari, ikutlah Aku.” Ini sinkron dengan ucapan Tuhan di Lukas 14:33, “Barangsiapa tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, ia tak dapat jadi murid-Ku”. Jika kita terikat dengan dunia, kita tidak pernah dapat diubah oleh Tuhan.
    Seseorang yang tidak mampu menuruti standar yang Tuhan tetapkan akan berpotensi masuk dalam titik tidak balik yang kedua, yakni tidak pernah memenuhi apa yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya. Cirinya ia akan semakin terikat dengan percintaan dunia, melihat kepentingan diri sebagai kepentingan utama, tidak takut melakukan dosa,
    0 min
  • Menjadi Bejana Hati-Nya
    Kita tidak bisa berjejak pada dua dunia. “Berjejak pada dua dunia” di sini maksudnya bersahabat dengan dunia sambil bersahabat dengan Allah. Kalau untuk mereka yang bukan umat pilihan, tidak dituntut standar yang sedemikian rupa. Jika mereka mengasihi sesama seperti diri sendiri, maka mereka masih dapat diperkenan masuk dalam dunia yang akan datang. Tetapi untuk umat pilihan, tidak ada pilihan selain mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan (Mrk. 12:30). Ini menunjuk pada kehidupan yang tidak menyisakan sedikit pun bagian untuk dunia. Seluruh kehidupan diabdikan hanya untuk kepentingan Tuhan, bukan sepuluh persen atau sebagian saja. Sesungguhnya inilah standar hidup orang yang sudah ditebus oleh darah Yesus (1Kor. 6:19-20).
    Sebagian orang mungkin merasa bahwa mengabdikan seluruh hidup bagi Tuhan sebagai sesuatu yang berlebihan. Bahkan, terdapat anggapan bahwa tidak mungkin manusia dapat sepenuhnya memfokuskan diri kepada Tuhan, sebab kita masih tinggal di dunia dan memiliki keinginan daging. Hidup sepenuh bagi Tuhan dianggap sebagai suatu utopia atau khayalan indah semata yang tidak akan pernah terwujud. Mereka berpendapat bahwa setiap manusia pasti tidak dapat sepenuhnya hidup secara rohani. Padahal, anggapan ini sangat keliru. Anggapan ini tanpa sadar menyesatkan sebagian besar orang Kristen dan menggiring mereka dalam gaya hidup yang kompromistik dengan dosa. Dalam hal ini harus selalu diingat bahwa standar hidup orang percaya adalah Yesus sendiri yang segenap hidup-Nya dipersembahkan bagi Bapa, yaitu bagi kehendak dan rencana Allah Bapa.
    Sejatinya, kita dipanggil dan dimampukan oleh Tuhan sendiri untuk hidup sepenuhnya bagi Dia. Jika tidak, Tuhan tidak mungkin mengundang manusia untuk mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Ketika Tuhan mengundang manusia untuk masuk dalam kehidupan yang sepenuhnya diabdikan bagi-Nya, tentu hal itu dapat dilaksanakan. Dalam hal ini, kehidupan Abraham kembali dapat menjadi teladan bagi kita.  Ketika meninggalkan Ur-Kasdim, sebenarnya Abraham sedang meninggalkan kenyamanan hidupnya hanya demi kepentingan menemukan negeri yang Allah janjikan. Tidak hanya sampai di situ, dalam perjalanan menemukan negeri yang Allah janjikan, Ishak yang sangat dikasihi oleh Abraham pun diminta oleh Allah untuk dipersembahkan. Kita dapat membayangkan bagaimana perasaan Abraham Ketika mendengar permintaan Allah tersebut. Abraham tentu mengalami pergolakan jiwa yang luar biasa sebagai seorang ayah. Dan tentunya sebagai seorang kekasih Allah ia dapat mempertanyakan mengapa Allah mengambil berbagai hal baik dalam hidupnya? Mulai dari kenyamanan hidupnya di Ur-Kasdim, hingga sekarang anak yang telah lama dinanti akan diambil juga oleh Allah. 
    Dari sudut pandang manusia, sangat wajar bagi Abraham untuk mempertanyakan dan mencurigai Allah. Namun, kita temukan Abraham tidak bertindak demikian. Ia melakukan seluruh yang Allah kehendaki baginya untuk dilakukan. Elohim Yahweh melalui Malaikat TUHAN berkata, “Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya.” Ucapan berkat ini muncul setelah Abraham terbukti berani mempersembahkan seluruh hidupnya, bahkan hal terbaik yang dimilikinya bagi Tuhan. Oleh sebab itu, Abraham menjadi bejana hati Tuhan yang dapat dipercaya. Jadi betapa salahnya kalau kita memiliki kekristenan terfokus kepada kehidupan sekarang ini. Segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu pasti menjadi berkat kalau kita menyikapinya dengan sikap yang benar. Kita dapat menjadi bejana hati Tuhan yang dipercaya untuk menyelesaikan pekerjaan-Nya. Harus diingat bahwa Tuhan tidak akan pernah sembarangan memilih seseorang menjadi bejana hati-Nya. Bejana hati di sini maksudnya tempat Tuhan mencurahkan segala pikiran dan perasaan-Nya demi menyelesaikan rencana Bapa. 
    0 min
  • Menarik Perhatian Tuhan
    Dalam Ayub 42:5-6, Ayub berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau. Oleh sebab itu aku mencabut perkataanku dan dengan menyesal aku duduk dalam debu.” Jika kita membacanya dengan pengamatan yang baik, tentu kita akan terkejut dengan pernyataan Ayub ini. Dalam Ayub pasal 1, ia digambarkan sebagai sosok yang saleh, jujur, takut akan Allah, dan menjauhi kejahatan. Setiap pagi, Ayub mempersembahkan kurban bakaran untuk menebus kesalahan anak-anaknya. Bahkan dalam keadaan kehilangan segala sesuatu, ia masih dapat menyatakan, “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!” (Ay. 1:21). Pernyataan ini menunjukkan bahwa Ayub mengakui bahwa keberadaannya hanya karena pemberiann Allah semata-mata. Karenanya ia tidak bersungut-sungut ketika Allah mengambil semuanya melalui sarana atau keadaan apa pun.
    Dalam kepedihannya, Ayub tidak berbuat dosa dan tidak menuduh Allah berbuat yang tidak patut. Ia tidak bersungut-sungut menghadapi pencobaan dan prahara yang begitu besar dalam hidupnya. Lalu Alkitab juga mencatat ketika istrinya menyuruh dia mengutuki Allah supaya dia mati, Ayub menjawab, “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ay. 2:10a). Ditulis lagi, “Dalam kesemuanya itu, Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya” (Ay. 2:10b). Tidak hanya kehilangan harta dan keluarganya, pergumulan Ayub sampai di titik dimana tubuhnya, dari kepala sampai kakinya, penuh dengan barah yang busuk. Sehingga dengan sekeping beling dia menggaruk-garuk badannya. Dapat dibayangkan Ayub, seorang kaya raya, menjadi manusia miskin dan terbuang seperti ini namun tetap menunjukkan kualitas yang luar biasa. Justru kualitas hidup seseorang nampak pada waktu ada dalam keadaan yang terpuruk seperti keadaan Ayub. Demikianlah sejatinya bahwa penderitaan yang kita alami adalah ujian dan pemurnian agar kita menjadi sempurna atau naik ke level yang lebih tinggi. 
    Dari sisi kognitif, Ayub juga seorang yang berpengetahuan. Buktinya, Ayub dapat bersoal jawab dengan sahabat-sahabatnya yang datang menghiburnya. Dari jawaban-jawaban Ayub, kita dapat melihat bahwa ia bukan sosok yang tidak mengerti tentang Tuhan. Ia bisa mengimbangi teman-temannya yang berbicara panjang lebar mengenai Tuhan. Jadi, tidak diragukan kapasitas, kualitas hidup Ayub dari perilakunya secara praktis serta pengetahuannya secara kognitif. Namun mengejutkan bahwa Ayub bisa berkata, “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau.” Ia hanya mendengar tentang Allah dari orang, namun sudah bisa menjadi landasan hidup moral kerohaniannya yang luar biasa. Hal ini membuktikan bahwa orang yang tidak mengalami Allah secara langsung pun dapat memiliki moral kerohanian yang baik, namun pasti tidak sempurna. Lanjutnya, “Tetapi sekarang, mataku sendiri memandang Engkau,” artinya Ayub kini memiliki pengalaman berjumpa dengan Allah secara nyata setelah mengalami semua pergumulannya. Dia baru mengalami realitas Allah setelah melewati pergumulan dan peristiwa yang menyakitkan.
    Ayub adalah sosok yang menarik perhatian Tuhan. Ia tidak sempurna dalam pengenalan akan Allah, tetapi ia berusaha sungguh untuk menjaga perasaan Tuhan. Hal ini sangat berbeda dengan keadaan orang Kristen atau teolog hari ini yang terlihat sangat mengenal Allah, tetapi tidak sungguh untuk menjaga perasaan Tuhan. Pengetahuan teologi tidak membuat manusia otomatis memiliki karakter yang mulia. Memang hal itu sangat dibutuhkan untuk berinteraksi dengan Allah. Jika seseorang tidak memiliki pemahaman teologi yang tepat, pada akhirnya ia tidak akan mengenal Allah secara tepat. Namun, memiliki ilmu teologi adalah hal yang berbeda dengan menjadi orang yang menarik perhatian Tuhan. Belum tentu orang yang mampu berteologi dengan baik, menarik perasaan Tuhan.
    0 min
  • Menyalakan Kegentaran
    Ketepatan Tuhan sangat sempurna, sehingga jika Ia diuji pasti tidak didapati salah. Dalam Bilangan 23:19 dikatakan, “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta; bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?” Fakta ini seharusnya membuat kita gentar di hadapan-Nya. Dengan keadaan yang penuh dengan cela, kita menghadapi Allah yang Mahakudus. Sebenarnya kita tidak akan pernah layak di hadapan-Nya apabila Ia tidak melayakkan kita. Namun, tidak banyak orang Kristen yang menyadari hal ini. Mereka merasa layak dan pantas diterima karena meyakini doktrin penebusan Tuhan yang dipandang benar. Padahal di sisi lain, mereka tidak sungguh memperkarakan hidupnya di hadapan Tuhan. Mereka hidup sembarangan tanpa kegentaran yang patut terhadap Allah. 
    Banyak orang Kristen dan teolog berpikir bahwa dengan bermodalkan pemahaman doktrinal secara kognitif, mereka merasa pantas di hadapan Allah. Keselamatan dicapai oleh seseorang bukan hanya karena meyakini suatu doktrin dan sekadar mengakui status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga menjalani kehidupan dalam penurutan terhadap kehendak Allah, sehingga seseorang benar-benar melakukan kehendak Allah dengan standar kehidupan Yesus (Yoh. 4:34). Keselamatan adalah perubahan hidup dari kodrat dosa kepada kehidupan yang mengenakan kodrat ilahi, dari mencintai dunia kemudian berpaling dari dunia untuk mengarahkan diri ke langit baru dan bumi yang baru. Jika tidak demikian, berarti kekristenan yang palsu.
    Dalam sebuah kesempatan, Tuhan pernah dengan keras memperingatkan orang Israel mengenai kisah istri Lot (Luk. 17:32). Kalau sampai Tuhan mengingatkan kita kepada peristiwa istri Lot, pasti kejadian itu memuat kebenaran yang harus kita perhatikan. Jangan kita memandang kisah-kisah yang ditulis dalam Alkitab seperti barang di museum, hanya mengenangnya tetapi tidak memiliki kaitan dengan kita secara dekat atau lekat. Alkitab harus menjadi kisah yang hidup seakan-akan kita ada di dalamnya. Seakan-akan peristiwa itu sedang terulang dalam bentuk lain namun dengan esensi yang sama. Memang apa yang terjadi di dalam Alkitab berlangsung kembali dalam hidup manusia. Hanya, bentuknya berbeda pada masing-masing individu, tetapi esensinya sama. Sebab kalau intinya tidak sama, pasti Tuhan tidak akan menyinggung mengenai istri Lot. Tuhan pasti tidak akan berkata, “Ingatlah akan istri Lot.”  Pernyataan ini merupakan peringatan agar kita tidak “kembali ke dunia.” Kita harus mengenakan kehidupan yang tidak sama dengan dunia ini. 
    Ketegangan Lot dapat kita ambil alih menjadi ketegangan kita, sehingga Alkitab menjadi hidup. “Mengambil ketegangan” di sini maksudnya menempatkan diri seolah-olah kejadian Lot yang keluar dari Sodom terulang pada kita hari ini. Perbedaannya, kita tidak keluar dari dunia secara fisik, tapi kita harus berkejaran dengan waktu untuk keluar dari cara hidup dunia yang membinasakan. Banyak orang tidak melakukan hal ini. Mereka membaca Alkitab seakan kisah dongeng yang berlalu begitu saja. Ketika membaca Alkitab, kita harus mulai menyalakan kegentaran seakan-akan kita mengambil bagian dalam perjuangan tokoh yang sedang dibaca. Untuk mulai membiasakan hal ini, kita harus merenungkan Firman siang dan malam. Kita harus berani membuat dunia baru, tidak ikut dalam kancah pergumulan hidup seperti anak-anak dunia, karena kita memiliki ladang pergumulan. Ketika Tuhan Yesus mengutip sebuah kisah Alkitab, Ia tidak pernah salah kutip. Tuhan Yesus tidak pernah mengambil kisah Yosafat—Allah berperang ganti Israel—sebagai pelajaran yang hanya menekankan kehidupan yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi Yesus pasti mengarahkan kita kepada hal-hal yang rohani atau hal-hal kekekalan. 
    Apa yang dikutip Tuhan di Perjanjian Lama, itu yang harus kita perhatikan dengan serius. Bukan berarti kita tidak boleh memungut kisah-kisah di Perjanjian Lama. Kisah Perjanjian Lama harus dibaca dalam hubunga...
    0 min
  • Merasakan Tuhan Secara Nyata
    Dalam 2 Korintus 5:9-10, Paulus menuliskan, “Sebab itu juga kami berusaha, baik kami diam di dalam tubuh ini, maupun kami diam di luarnya, supaya kami berkenan kepada-Nya. Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Banyak tulisan Paulus yang lebih bersifat individual, artinya apa yang dia tulis mewakili dirinya sendiri. Tetapi di dalam 2 ayat tersebut, Paulus bukan hanya mewakili dirinya sendiri saja, melainkan juga mewakili orang-orang tertentu yang bisa dipastikan merupakan orang-orang yang dikenal baik oleh Paulus, yaitu tentu saja para sahabat-sahabat atau rekan seperjuangannya. Dikatakan “kami,” bukan “saya.” 
    Jadi Paulus melihat bukan hanya dirinya sendiri yang bisa berkenan, tapi juga orang-orang di sekitarnya yang berusaha untuk berkenan kepada Allah. Tentu kita yang hidup di zaman yang berbeda, tetapi bagian dari tubuh Kristus juga dapat menjadi bagian dari komunitas orang-orang yang bisa berkenan. Dengan demikian kitab optimis dapat mencapai kehidupan sebagai anak-anak kesukaan Bapa, yang hidup berkenan kepada Allah. Kehidupan rasul Paulus dapat menjadi standar normal kehidupan orang percaya.
    Keselamatan adalah usaha atau proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Dalam hal ini, keselamatan adalah suatu hal yang harus diperjuangkan dengan sungguh. Kesungguhan memperjuangkan keselamatan tersebut bukan terletak pada pengadaan akses keselamatan. Kita hanya diselamatkan oleh dan melalui Tuhan Yesus Kristus. Kebaikan sebesar apa pun tidak dapat menyelamatkan manusia tanpa kurban Yesus di kayu salib. Namun, setelah Yesus berkorban, manusia harus memperjuangkan pengembalian dirinya kepada rancangan semula Allah. Karakter yang semakin diubahkan menuju keserupaan dengan Kristus adalah pengembalian manusia kepada rancangan semula. Sebab, sosok Yesus adalah sosok dengan karakter ideal yang diingini oleh Allah untuk manusia kenakan sejak di taman Eden. Namun karena manusia gagal memilih yang benar, karakter manusia yang ideal seperti Yesus belum pernah terwujud sampai pada hadirnya Tuhan di muka bumi sebagai manusia untuk memberi teladan dan menebus dosa manusia. Pemugaran kembali karakter manusia menjadi seperti Yesus merupakan isi dari keselamatan.
    Keselamatan ditinjau dari sisi manusia adalah sebuah proses yang harus diusahakan dengan serius. Harus ada dua pihak yang aktif; pihak Tuhan (tentu diwakili oleh atau dengan Roh Kudus) dan pihak kita (manusia) yang merespons penggarapan Tuhan tersebut. Oleh sebab itu, keselamatan adalah momen manusia ‘dikembalikan ke rancangan Allah,’ dimana rancangan semula itu adalah manusia harus segambar, serupa dengan Allah. Tuhan Yesus mengemukakan dengan kalimat, “sempurna seperti Bapa” (Mat. 5:48). Paulus mengemukakan dengan kalimat, “serupa dengan Yesus” (Rm. 8:29). Petrus menulis agar kita kudus seperti Bapa yang juga kudus, juga di dalam teks lain dikatakan, “hidup tidak bercacat, tidak bercela” (1Ptr. 1:15). Kita harus yakin bahwa hal ini bisa dicapai (achievable), sebab Tuhan tidak akan memberi perintah yang tidak dapat kita lakukan. Kalau orang memandang bahwa hidup suci, berkenan kepada Allah atau menjadi anak kesukaan Allah adalah sesuatu yang tidak bisa dicapai, berarti memandang atau menuduh Allah sebagai pembohong. Orang-orang seperti ini akan celaka sekali.
    Tanda yang nyata dari seseorang yang menjalani proses keselamatan dengan sungguh adalah menghasilkan perubahan yang nyata. Seseorang yang menempuh proses keselamatan pasti mengikuti jejak hidup Tuhan selama Ia hidup di muka bumi ini yang tertuang dalam Injil. Dengan demikian, dari hari ke hari ada perubahan nyata yang terlihat dalam perkataan, cara mengambil keputusan, berhubungan dengan orang lain, mengendalikan emosi, dan sebagainya. Seseorang yang mengikuti jejak Tuhan dengan sungguh pasti akan memberi perubahan nyata pada hal-hal yang ...
    0 min
  • Melawan Kodrat Dosa
    Dalam perjuangan mengikuti jejak Tuhan, kita sering kali terbentur dengan kecenderungan dosa yang ada di dalam diri kita. Kecenderungan dosa dalam diri kita disebut dengan sinful nature atau kodrat dosa. Kodrat dosa ini merupakan konsekuensi dari kehendak bebas yang ada dalam diri manusia. Sebenarnya, kehendak bebas membuat manusia memiliki keunggulan, yakni ia memiliki kehendak yang tidak dikendalikan oleh faktor-faktor eksternal di luar dirinya tapi digerakkan oleh dirinya sendiri. Kehendak bebas tercipta dari dua komponen utama dari dalam diri manusia yang saling bersinergi, yakni pikiran dan perasaan. Dari kedua komponen ini, manusia bisa memiliki kehendak. Sifat dari kehendak ini adalah bebas, artinya tidak dapat diatur atau dikontrol oleh siapa pun. Walaupun tentu sebagai makhluk ciptaan, manusia itu terbatas. Tetapi di dalam keterbatasannya, manusia tetap bisa menentukan destiny atau nasibnya sendiri. Dalam istilah Latin, kehendak bebas disebut dengan Liberum Arbitrium. Inilah yang memberi nilai pada diri manusia. 
    Binatang tidak bisa menentukan destiny atau nasib atau takdirnya. Berbeda dengan manusia, sebab manusia adalah satu-satunya makhluk yang bisa berinteraksi dengan Allah dalam hubungan yang interpersonal. Interaksi artinya hubungan timbal balik, sedangkan interpersonal artinya dari pribadi ke pribadi. Manusia dapat membangun hubungan yang dua arah dengan Allah. Manusia yang tidak mengerti kebenaran ini dan tidak membangun hubungan interpersonal dengan Allah adalah manusia yang tidak berkualitas. Memang biasanya manusia yang tidak mengerti kebenaran memberi nilai dirinya pada merk arloji yang dikenakan, rumah yang dimiliki, kendaraan yang dikendarai, jabatan/kedudukan, yang ia merasa dengan semua itu ia memiliki nilai. Manusia itu makhluk yang memiliki nilai yang luar biasa, artinya lebih dari semua ciptaan. Sebab Allah memberi diri untuk berinteraksi dengan manusia di dalam hubungan interpersonal. Jadi, masalah materi tidak ada artinya sama sekali. 
    Dalam durasi waktu 70-80 tahun itu diharapkan manusia menemukan tempatnya di hadapan Allah, dan menempatkan Allah secara benar. Ini merupakan proses keselamatan yang suatu hari nanti ketika Tuhan membangkitkan tubuh manusia, kita bisa menempati langit baru bumi baru. Untuk itu, manusia harus menemukan kembali tanggung jawabnya menentukan nasib kekal dengan kehendak bebas yang dimiliki. Dengan kematian Yesus di kayu salib, semua akibat dosa dipikul oleh Tuhan Yesus. Semua manusia, dari manusia pertama, Adam, sampai manusia terakhir; atas perbuatan salah kita sejak kita lahir sampai nanti, jika mungkin kita masih berbuat salah. Tetapi yang menjadi tanggung jawab kita adalah bagaimana kita memiliki batin yang benar. Memiliki pikiran, perasaan seperti yang Allah kehendaki, supaya kehendak kita selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah.
    Jadi kalau kita menyadari kesempatan ini, kita akan rela meninggalkan apa pun demi tercapainya maksud keselamatan yang Tuhan berikan, yaitu memiliki pikiran, perasaan sesuai dengan kehendak Bapa, Sang Khalik, Pencipta kita. Itulah sebabnya, Firman Tuhan mengatakan, “hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Jika dikaitkan dengan pembahasan awal kita mengenai sulitnya mengikuti jejak Tuhan akibat kodrat dosa yang ada dalam diri kita, kita harus menyadari beberapa hal agar kita selalu mawas diri, yaitu: 
    Pertama, kodrat dosa dalam diri kita itu kuat. Jangan meremehkan kebiasaan bersalah atau mendiamkan kesalahan tanpa komitmen untuk segera bertobat. Kalau tidak segera dibereskan maka kodrat dosa akan menjadi semakin kuat dan tidak bisa dilepaskan. 
    Kedua, kodrat dosa di dalam diri kita itu menyatu. Jadi terkadang kita merasa sesuatu sudah baik, padahal tidak. Sehingga, akhirnya kita tertipu oleh diri sendiri. Banyak orang tidak sadar bahwa dirinya selalu hidup dalam irama kodrat dosa yang membinasakan.
    Ketiga,
    0 min
  • Bersahabat dengan Tuhan
    Salah satu hal yang mengikat kehidupan manusia zaman sekarang adalah perasaan terlindungi dan bahagia oleh topangan materi, kekayaan dunia, dan keadaannya hidup yang sejahtera. Hampir semua orang berfilosofi bahwa kebahagiaan adalah ketika keadaan hidup nyaman, aman dan tertopang oleh banyak fasilitas. Orang-orang seperti ini merasa terlindungi dan menikmati kebahagiaan jika memiliki fasilitas hidup dan topangan uang yang cukup. Itulah sebabnya bagi banyak orang, kemiskinan menjadi hantu yang menakutkan. Demikianlah fakta yang mengerikan, hampir semua orang lebih takut miskin daripada takut akan Allah. Mereka lebih takut tidak memiliki fasilitas dunia daripada masuk neraka. Mereka menganggap kekekalan adalah hal yang sepele. Padahal api kekal atau terpisah dari Allah adalah kengerian yang tidak terbayangkan. 
    Orang yang tidak cukup memiliki materi dalam hati kecilnya merasa ada kegagalan. Mereka merasa hidupnya tidak lengkap, tidak utuh, atau lebih rentan terhadap berbagai ancaman. Dengan demikian, segala usaha yang dilakukan manusia pada umumnya adalah bagaimana meraih kekayaan sebanyak-banyaknya. Cara berpikir seperti ini telah memengaruhi semua manusia, termasuk orang Kristen. Sehingga akhirnya perasaan terlindungi dan menikmati kebahagiaan oleh topangan materi menjadi gaya hidup hampir semua manusia.
    Sejatinya, perasaan terlindungi dan merasa bahagia oleh topangan materi akan terbukti sekadar fantasi pada waktu ada perang, keadaan kacau karena teror atau huru hara, bencana alam, pandemik, dan lainnya. Sebagai contoh, ketika kita ada di atas 40.000 kaki dari permukaan laut lalu pesawat mengalami goncangan, maka secanggih apa pun peralatan elektronik pesawat, tidak dapat mengalahkan cuaca yang sedang bergolak. Suasana ini sangat menakutkan. Seakan seluruh uang dan kekayaan yang dimiliki seseorang sehingga ia memiliki kekuatan berkata, “ini bukan kawasan kami lagi.” Baru pada waktu seperti itu, orang menyadari bahwa kekuatan materi terbatas. Juga pada waktu dokter menyatakan bahwa tidak ada lagi obat atau peralatan medis apa pun yang dapat menyembuhkan suatu penyakit, barulah ia menyadari betapa tidak berdayanya manusia. Menghadapi bencana, manusia baru sadar betapa rapuh dirinya dengan sekuat apa pun topangan materi yang dimiliki. 
    Banyak orang tidak menempatkan diri dalam posisi krisis bahwa pada suatu saat mereka pasti ada di pembaringan terakhir. Ini adalah keadaan yang paling kritis dan krisis dalam sejarah kehidupan manusia. Sebab dalam keadaan di ujung maut tersebut, tidak ada seseorang atau apa pun yang bisa menemani. Ini keadaan yang paling mengerikan, yaitu ketika seseorang ada di akhir sejarah hidupnya. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus berkata dalam Lukas 16:9, “Dan Aku berkata kepadamu: Ikatlah persahabatan dengan mempergunakan Mamon yang tidak jujur, supaya jika Mamon itu tidak dapat menolong lagi, kamu diterima di dalam kemah abadi.” Jadi kalau ada orang yang merasa bahagia dan terlindungi oleh topangan materi, artinya ia bersahabat dengan dunia. Hal ini tidak berarti bahwa kita tidak boleh memiliki harta, tabungan, rumah, atau hal material lainnya. Namun, ikatlah persahabatan dengan Tuhan dengan mempergunakan mamon (harta benda dan materi), bukan bersahabat dengan dunia mempergunakan Tuhan.
    Bersahabat dengan Tuhan adalah keadaan ketika kita memandang tidak ada persoalan apa pun, kecuali berkenan kepada-Nya. Tidak boleh ada masalah yang lebih besar dari masalah berkenan di hadapan Tuhan. Sebab jika kita menganggap ada masalah besar, tentu kita mutlak mengusahakan jalan keluarnya. Ketika seseorang berfokus pada masalahnya secara berlebihan, ini berarti ia memberhalakan masalahnya. Ada banyak masalah yang bisa terjadi dalam hidup kita, yang kita tidak boleh memaksa mutlak harus ada jalan keluar. Apa yang bukan mutlak, jangan dimutlakkan. Kita harus memandang semua itu sebagai hal minor yang akan selesai seiring waktu dan tanggung jawab kita. Misalnya jika kita sakit,
    0 min
  • Kehausan akan Allah
     
    Tuhan Yesus berkata, “manusia hidup bukan hanya dari roti, tetapi juga dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah” (Mat. 4:4). Di sini jelas ada isyarat dari Tuhan bahwa ada makanan jasmani yang kita kecap, asup, dan nikmati setiap hari untuk kebutuhan jasmani. Akan tetapi juga ada makanan rohani yang kita butuhkan untuk jiwa kita. Oleh karenanya, bukan hanya fisik kita yang memiliki kebutuhan untuk memperoleh asupan, namun juga dengan jiwa kita. Dengan demikian, sebagaimana tubuh kita memiliki cita rasa, maka jiwa kita juga memiliki cita rasa. Cita rasa tersebut dibangun dalam waktu panjang melalui berbagai pengertian yang orangtua dan lingkungan wariskan. Jika sesuatu dirasa baik dan menyenangkan, maka hal itu kita terima. Jika sesuatu dirasa tidak baik dan tidak menyenangkan, biasanya hal itu akan dihindari. Apa yang dirasa baik/tidak baik; atau menyenangkan/tidak menyenangkan menjadi cita rasa yang terekam dalam jiwa kita.
    Bagi orang yang sudah terlalu lama menikmati dunia dengan segala kesenangannya dan tidak memiliki persekutuan yang ideal dengan Allah, mereka tidak akan mengerti kehausan akan Allah. Mereka telah tertawan dan terbelenggu. Cita rasa jiwanya telah merekam kesenangan dunia dan membuatnya asing terhadap kehausan akan Allah. Sebab sesuatu yang membuat kita bahagia, sesuatu itu menjadi kekasih jiwa kita. Sesuatu yang membuat engkau merasa gembira, bahagia, lengkap, utuh, kepadanya engkau mengabdi. 
    Banyak orang yang sebenarnya telah tertawan oleh dunia ini sampai pada titik tidak balik (point of no return). Biasanya orang-orang seperti itu merasa harus terus memenuhi berbagai hasrat, sebab ada kehausan dalam rongga jiwa mereka. Sebenarnya mereka sendiri tidak sadar bahwa mestinya rongga kosong dalam jiwanya itu hanya dapat diisi oleh Tuhan. Kalau pola hidup seperti ini tidak dihentikan segera, maka mereka tidak pernah berhenti tercandui oleh kesenangan dunia sampai binasa. Inilah yang terjadi dalam kehidupan hampir semua manusia di dunia.
    Tuhan telah mengondisikan manusia dengan rongga kosong dalam jiwanya yang hanya bisa diisi oleh Tuhan. Sejatinya, rongga kosong tersebut adalah ikatan yang Allah taruh dalam diri manusia yang dapat menyelamatkan manusia dari kebinasaan, sebab memang manusia tidak dapat terpisah dari Allah Penciptanya. Tuhan berkata, “engkau minum air ini, engkau haus lagi. Tetapi kalau kau minum air dari pada-Ku, dari padamu akan memancar kehidupan” (Yoh. 4:13-14). Hal ini menunjukkan kehausan dalam jiwa manusia hanya dapat dipuaskan oleh Tuhan. Harta, kekayaan, kehormatan, dan berbagai kesenangan dunia lainnya tidak dapat memuaskan jiwa manusia. Seseorang dapat merasa bahagia dan puas seketika saat memperoleh berbagai hal tersebut. Akan tetapi, ketika maut tiba, seseorang baru sadar bahwa dirinya memerlukan Tuhan. Pada akhirnya, ia melihat semua hal jasmani yang dicapai tidak dapat menjawab kebutuhan jiwa yang sesungguhnya. Ironisnya, sejak kanak-kanak rongga kosong manusia diisi oleh berbagai hal dan itulah yang kita warisi dari orang tua yang tidak mengenal kebenaran dan dunia yang fasik. Sehingga banyak orang dikondisikan untuk mengisi jiwanya dengan kesenangan dunia sementara yang sebenarnya tidak dapat menolong ketika hari akhir tiba.
    Tanpa disadari banyak orang bersahabat dengan dunia. Mereka yang bersahabat dengan dunia bukan hanya orang-orang di luar gereja, tapi juga orang-orang Kristen. Mereka bersahabat dengan dunia, sehingga menjadi mempelai dunia. Persahabatan dengan dunia tersebut bahkan dibangun oleh rohaniwan yang berkhotbah di mimbar Tuhan. Mereka tidak sadar bahwa khotbahnya yang tidak menarik jemaat dari dunia sama dengan menjerumuskan jemaat menjadi sahabat dunia. Bahkan tidak jarang, khotbah mereka mengarahkan jemaat untuk memperoleh dunia dengan pertolongan Tuhan. Akhirnya, sampai mati mereka tidak pernah dapat merasakan kehausan akan Allah. Mereka hanya haus akan kesenangan dunia dan kehidupan wajar yang diajarkan oleh dunia...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…