Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pengertian Hidup Kekal
    Yesus berkata: “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan ditambahkan kepadamu”. Dalam pengertian sempit, ayat ini berarti: Kerajaan Allah harus diprioritaskan. Jangan sampai ada perkara-perkara dunia atau unsur lain yang diprioritaskan sehingga terlanjur mengisi ruangan hati dan membentuk selera jiwa yang sebagai akibatnya, seseorang tidak dapat lagi merasakan sakitnya kekosongan jiwa tanpa memiliki persekutuan yang benar dengan Allah. Ini keadaan sesat yang di dalam kehidupan seseorang. Pada umumnya, kekosongan jiwa manusia disebabkan oleh belum atau tidak memiliki rumah pribadi, belum atau tidak memiliki teman hidup, belum atau tidak memiliki keturunan, tidak terhormat, terhina di mata manusia, dan lain sebagainya. Inilah kesesatan pikiran seseorang. Orang-orang yang berkeadaan seperti ini merasa hidupnya tidak berkualitas tinggi, karena ukuran kualitas hidup diukur dari fasilitas dunia.
    Ada seorang datang kepada Tuhan Yesus dan berkata, “Apa yang harus kulakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” (Mat. 19:16). Kata “hidup kekal” di situ sebenarnya bukan hanya menunjuk kehidupan terus-menerus nanti di surga. Bicara mengenai kekekalan itu bukan hanya di surga ada kekekalan. terpisah dari Allah itu juga kekal, karena sudah tidak ada kesempatan lagi direkonsiliasi atau dipulihkan dengan Allah. Hidup kekal juga menunjuk kehidupan hari ini, yaitu kehidupan yang berkualitas, kehidupan yang bermutu. Sedangkan yang dimaksud dengan “binasa” artinya tidak bernilai sama sekali. Kebalikan dari “binasa” adalah “kekal,” tapi “kekal” sebenarnya bukan hanya menunjuk waktu. Sebab bicara kekekalan, orang yang terpisah dari Allah pun kekal terpisah dari Allah. “Binasa” artinya tidak memiliki nilai sama sekali. Kalau “kekal,” artinya bernilai tinggi, berkualitas tinggi.
    Pada umumnya, orang Kristen berpikir bahwa hidup kekal adalah hidup terus-menerus nanti di surga, karena terpaku pada kata “kekal.” Pengertian ini bisa membuat pikiran kekristenan seseorang menyimpang, sebab kalau seseorang memahami hidup kekal baru nanti di surga, maka tidak ada usaha untuk mengerjakan keselamatan sejak hidup di bumi. Jika hidup kekal baru didapat nanti—yaitu di balik kubur—maka orang-orang Kristen tidak sungguh-sungguh merasa membutuhkan Tuhan sejak sekarang ini. Mereka membutuhkan Tuhan nanti kalau sudah mati, di surga, karena mereka tidak ingin masuk neraka. Kalau hidup seseorang tidak berkualitas sejak di bumi, maka ia tidak akan berkualitas selamanya; sebaliknya, kalau sejak di bumi sudah berkualitas, maka di surga dan selamanya juga berkualitas. Dalam hal ini, apakah seseorang akan masuk surga atau neraka, gejala-gejala atau ciri-cirinya sudah tampak jelas sejak ia hidup di bumi.
    Kalau orang kaya ini berkata, “Apa yang harus kuperbuat supaya aku memperoleh hidup yang kekal?” maksudnya sama dengan apa yang harus diperbuatnya supaya hidupnya bermutu atau supaya hidupnya berkualitas. Kapan? Tentu saja sekarang sejak hidup di bumi, bukan hanya nanti di surga atau di balik kubur. Itulah sebabnya, Yesus menjawab agar orang itu melakukan hukum sejak sekarang di bumi, yaitu agar orang itu menghormati orangtua, tidak membunuh, tidak berzina, tidak mencuri, tidak mengucapkan saksi dusta, dan lain sebagainya. Dalam kehidupan bangsa Israel, standar hidup bersekutu dengan Elohim Yahweh adalah melakukan hukum dan menjalankan ibadah sesuai dengan apa yang diajarkan Musa. Itulah kehidupan yang dipandang sebagai berkualitas. Dari pengakuannya, orang ini sudah memiliki hidup yang berkualitas menurut ukuran orang beragama atau menurut ukuran orang-orang Yahudi. Orang ini juga disinyalir seorang pemimpin rumah ibadah.
    Selanjutnya, orang ini menyatakan bahwa ia sudah melakukan hukum sejak masa mudanya. Kemudian ia juga berkata, “Apa lagi yang masih kurang?” Secara hukum, secara agamani, ditinjau dari perspektif Yahudi, orang ini sudah berkualitas tetapi ternyata dia merasa ada sesuatu yang masih kurang.
    0 min
  • Tidak Membutuhkan Allah
    Mengapa orang tidak memiliki perasaan gentar dan takut yang proporsional terhadap realitas atau kenyataan atau fakta terpisah dari Allah itu? Biasanya ketika masih hidup di bumi, ketika jantungnya masih berdetak, ketika nadinya masih berdenyut, ketika masih memiliki nafas, dia tidak menghayati betapa menyakitkan, betapa kosongnya seseorang yang tidak memiliki persekutuan dengan Allah. Hal ini bisa terjadi disebabkan karena ruang hatinya telah terbiasa diisi oleh berbagai kesenangan dunia. Selera jiwanya telah dirusak oleh pengaruh dunia, sehingga kehausan jiwanya tidak ditujukan kepada Allah tapi ditujukan kepada perkara-perkara dunia yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan berbagai kesenangan, serta kehormatan manusia. Jiwa manusia dalam keadaan seperti ini adalah keadaan jiwa yang rusak atau sakit. Kesembuhannya memerlukan waktu yang tidak singkat.
    Kalau kesenangan hidup manusia ditopang atau ditujukan kepada perkara-perkara dunia ini, mereka tidak dapat merasakan kehausan akan Allah. Mereka tidak menyadari adanya rongga kosong dalam jiwanya yang hanya dapat diisi dan dipuaskan oleh Allah. Dengan keadaan ini, mereka tidak mengerti apa artinya kekosongan jiwa tanpa Allah atau tidak dapat mengerti penderitaan jiwa yang terpisah dari hadirat Allah. Orang-orang seperti ini tidak mengerti betapa mengerikan keadaan terpisah dari hadirat Allah itu. Mereka adalah orang-orang yang lebih takut menjadi miskin daripada terpisah dari hadirat Allah. Bagi mereka, mencari Allah bukan sesuatu yang perlu diutamakan, sebab mereka merasa banyak hal yang lebih penting dan mendesak dibanding kebutuhan akan Allah. Biasanya orang-orang seperti ini menunda pertobatannya. Mereka menunda untuk hidup suci dan dalam pengabdian kepada Allah. Mereka memang tidak berpikir dan merencakan akan mengkhianati Allah, tetapi dengan penundaan tersebut, mereka sebenarnya menolak untuk bertobat secara benar. Akhirnya, mereka akan berkhianat terhadap Allah. Harus diingat bahwa pertobatan bukan seperti sebuah titik, melainkan sebuah garis panjang. Pertobatan harus dilakukan sedini mungkin dan harus berlangsung terus-menerus seiring dengan pembaharuan pikiran.
    Terkait dengan hal di atas, firman Tuhan mengatakan, “Berbahagialah orang yang harus dan lapar akan kebenaran karena mereka akan dipuaskan” (Mat. 5:6). Orang yang haus dan lapar akan kebenaran adalah orang yang benar-benar sangat membutuhkan Allah. Membutuhkan Allah bukan karena persoalan pemenuhan kebutuhan jasmani atau sedang dalam masalah tertentu, sehingga membutuhkan pertolongan Allah. Tetapi karena memang Allahlah yang menjadi kebutuhan satu-satunya. Itulah sebabnya pemazmur mengatakan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batu dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Mzm. 73:25-26). Di bagian lain, ia juga berkata, “Seperti rusa merindukan sungai yang berair demikianlah jiwaku merindukan Allah.” Fakta yang tidak dapat dipungkiri, sangat sedikit orang yang benar-benar memiliki kehausan akan Allah. Sebab, hampir semua manusia telah tersesat dalam percintaan dunia. Mereka telah terbelenggu oleh kuasa gelap.
    Orang yang kehausan jiwanya kepada perkara-perkara dunia ini adalah orang-orang yang telah terjerat oleh percintaan dunia. Mereka adalah orang-orang yang dapat dikategorikan sebagai menyembah Iblis. Tentu saja mereka tidak akan pernah bisa menjadi orang percaya yang benar. Mereka adalah orang-orang yang telah sesat; artinya sesat di dalam batin atau jiwanya, sehingga mereka tidak merasa membutuhkan Allah secara benar. Kelihatannya mereka beragama dengan baik dan membutuhkan Allah, tetapi sebenarnya Allah tidak mereka jadikan sebagai kebutuhan utama. Allah hanya menjadi sarana untuk memperoleh atau meraih apa yang mereka inginkan. Ini adalah sikap yang sebenarnya tidak menghormati Allah secara patut.
    Orang sesat bukan hanya mereka yang salah mengerti kebenaran, tetapi juga mereka yang terikat dengan percintaan dunia sehingga tidak merasa haus dan lap...
    0 min
  • Pengertian Binasa
    Buku ini berjudul “Penundaan yang Membinasakan.” Kata “binasa” sebenarnya belum mewakili keadaan yang sesungguhnya, keadaan yang sebenarnya, atau keadaan riil dari fakta kebinasaan itu. Kata “binasa” menunjukkan keadaan yang sangat mengerikan atau keadaan paling mengerikan yang dapat dialami oleh manusia. Keadaan itu sebenarnya tidak bisa digambarkan dengan cara apa pun atau dengan kalimat bagaimanapun. Ini adalah kengerian yang yang tidak terbayangkan. Banyak orang sering memahami kata “binasa” itu sekadar lenyap atau hilang. Ini pengertian yang tidak tepat. Pengertian ini sangat sempit dan dangkal sehingga tidak mewakili keadaan yang sebenarnya dari kebinasaan itu sendiri.
    Kata “binasa” sebenarnya berarti “tidak memiliki nilai sama sekali.” Ini adalah keadaan seseorang yang tidak berarti atau tidak memiliki nilai sama sekali. Bagaimana seorang manusia dapat dikatakan tidak bernilai? Yaitu kalau seseorang terpisah dari Allah dan tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah. Kebinasaan atau binasa adalah keadaan dimana seseorang tidak mendapat kesempatan lagi untuk diperdamaikan dengan Allah, ini berarti terpisah dari hadirat Allah, atau terhilang dari hadirat Allah selamanya. Ini adalah kedahsyatan yang luar biasa, keadaan yang tidak terbayangkan, kedahsyatan yang tidak bisa dikira-kira dengan pikiran manusia hari ini. Betapa dahsyat dan mengerikan keadaan itu. Tetapi fakta ironis yang kita lihat dan kita temukan hari ini, banyak orang tidak takut terhadap realitas tersebut.
    Sungguh sangat ironis, mereka yang tidak gentar terhadap realitas ini bukan hanya orang ateis yang tidak percaya adanya Allah—yaitu mereka yang tidak percaya adanya Tuhan, bukan saja mereka yang tidak percaya kitab suci yang diwahyukan oleh Allah—melainkan juga orang-orang Kristen atau orang-orang beragama, mereka tidak benar-benar memiliki kegentaran terhadap realitas tersebut. Mereka tidak memiliki ketakutan terhadap realitas terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya itu. Lebih miris lagi, ternyata di lingkungan gereja banyak aktivis—bahkan pendeta—yang tidak memiliki kegentaran yang proporsional terhadap realitas keadaan terpisah dari hadirat Allah selamanya.
    Bagaimana kita dapat mengetahui kalau seseorang tidak memiliki kegentaran yang proporsional terhadap realitas kebiasaan ini? Hal ini nyata pada fakta kehidupan ketika seseorang tidak segan-segan berbuat dosa atau melakukan pelanggaran hukum, bertindak secara sembarangan dengan melukai dan merugikan sesama, tidak memiliki beban terhadap penderitaan orang lain, terikat dengan keindahan dunia atau hidup dalam percintaan dunia. Biasanya, orang seperti ini tidak memiliki pengharapan yang kuat terhadap kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. suasana jiwa mereka sangat dipengaruhi oleh dunia ini, dan tidak merindukan pulang ke surga. Tentu saja mereka adalah orang-orang yang takut terhadap kematian. Bagi mereka, kematian adalah hantu yang menakutkan atau “momok” yang menggetarkan jiwa. Mereka lebih takut menjadi miskin daripada takut masuk neraka. Mereka lebih takut kepada dunia ini dengan segala ancamannya daripada takut akan Allah.
    Kata “binasa” sebenarnya kebalikan dari kata “hidup kekal.” Dalam hal ini, berbicara mengenai hidup yang kekal hendaknya asumsi kita tidak hanya tertuju kepada kesadaran kekal di surga. Kesadaran kekal dimiliki oleh setiap insan, baik mereka yang ada di neraka maupun yang ada di surga. Hendaknya kita tidak mengisi pengertian kata “kekal” hanya dikaitkan dengan kehidupan di surga nanti. Kekekalan juga dialami orang yang terpisah dari hadirat Allah. Artinya, keterpisahan dengan Allah bersifat kekal juga. Hidup kekal menunjuk kepada kehidupan yang bernilai atau berarti. Jadi ketika seseorang bertanya kepada Yesus: “Apa yang harus aku lakukan supaya aku beroleh hidup yang kekal?” (Mat. 19:16-21). Maksud pertanyaan itu adalah apa yang harus dilakukan supaya hidupnya bernilai atau berkualitas tinggi.
    0 min
  • Merindukan Kerajaan Surga
    Sejak dini anak-anak harus mengetahui bahwa rumah abadi setiap manusia ada di surga, bukan di bumi. Sebab hal keempat yang harus orangtua wariskan adalah kerinduan pada Kerajaan Surga. Kerinduan pada Kerajaan Surga diajarkan oleh Tuhan kepada para murid. Tuhan berkata: “Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal… Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada” (Yoh. 14:2-3). Dengan pernyataan-Nya ini Tuhan Yesus menunjukkan adanya dimensi kehidupan yang tidak dikenal oleh dunia. Inilah dimensi hidup keabadian yang menjadi tujuan atau fokus kehidupan orang percaya. Dengan dimensi hidup ini orang percaya menjadi “manusia hari esok.”
    Tuhan menjanjikan kepada kita bahwa ada tempat tinggal abadi yang disebut sebagai rumah Bapa. Kelak Tuhan akan membawa semua orang percaya yang mengikuti jejak-Nya masuk dalam rumah Bapa. Kerinduan Tuhan adalah di mana Ia berada, di situ kita juga berada. Jika orang percaya tidak merindukan rumah Bapa, maka hal itu adalah sebuah pengkhianatan terhadap Tuhan. Untuk itu, orangtua tidak boleh takut mengajarkan kepada anaknya tentang rumah abadi di langit baru bumi baru. Dengan mengajarkan langit baru bumi baru tidak berarti kita mengajarkan anak untuk tidak optimal di bumi. Sejak dini anak harus kita ajar bertanggung jawab dengan kehidupan di bumi ini; mulai dari sekolah, belajar, bergaul, dan membangun pola hidup sehat. 
    Dengan mengajarkan langit baru bumi baru berarti kita mengajarkan tentang tujuan hidup manusia yang pada akhirnya harus pulang ke rumah Bapa. Segala usaha, pencapaian, dan prestasi yang diperoleh anak seharusnya menjadi persembahan yang diarahkan untuk persiapan berjumpa dengan Tuhan. Dengan mengajarkan kehidupan yang akan datang kepada anak kita, sebenarnya kita sedang membangun pengharapan yang kokoh bagi hidup anak kita di masa mendatang. Alkitab berkata, “Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,” (Ibr. 6:19). Pengharapan di sini menunjuk pada pengharapan akan langit baru bumi baru di mana Kristus ada. Dikatakan bahwa pengharapan terhadap hidup yang akan datang adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa manusia. Hal ini berarti jika seseorang memahami adanya kehidupan yang akan datang, ia memiliki kekuatan jiwa yang kokoh dalam menghadapi kehidupan. Badai masalah sebesar apa pun yang menimpa hidupnya, tetap tidak akan membuatnya bergeser dari Tuhan. Sebab ia tahu masalah sebesar dan seberat apa pun tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Kerajaan Surga. Bayangkan jika anak kita memiliki pengharapan yang benar dalam Tuhan, betapa berbahagianya orang tua yang mengajarkan hal tersebut.
    Kita harus realistis dalam memandang kehidupan. Kita tidak dapat selamanya berada di sebelah anak kita. Suatu hari kita akan meninggalkan mereka dan beralih pada kekekalan. Jika kita hanya mengajarkan anak menjalani kehidupan dunia ini saja, betapa malangnya kita. Sebab ketika berada di kekekalan mungkin kita tidak akan pernah berjumpa dengan mereka. Kita hanya bertemu dengan mereka 50-60 tahun di bumi dan kemudian berpisah selamanya. Akan tetapi, kita dapat menanggulangi hal tersebut dengan mengungsikan anak-anak kita ke langit baru bumi baru. Mengungsikan di sini wujudnya dengan mengajarkan mereka untuk merindukan dan berjuang masuk dalam Kerajaan Surga. Dengan mengungsikan mereka, kita membangun persatuan abadi dengan Tuhan dan anak-anak kita. Bahkan kematian pun tidak dapat memisahkan kita dengan anak-anak selama-lamanya.
    Untuk ini, anak harus terlebih dahulu melihat jejak orangtuanya yang tidak mencintai dunia. Mustahil mengajak anak untuk merindukan Kerajaan Surga ketika orangtua masih mencintai dunia. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup ini, sehingga kita rela mempersembahkan hidup kita tanpa batas untuk Tuhan.
    0 min
  • Pengabdian Orangtua kepada Tuhan
    Hal terpenting yang ketiga yang merupakan jejak Tuhan bagi anak adalah pengabdian orangtua kepada Tuhan. “Pengabdian orangtua kepada Tuhan” di sini hendaknya tidak dipandang secara sempit sebagai pelayanan yang orangtua lakukan di gereja sebagai aktivis atau pendeta. Pengabdian kepada Tuhan harus dilihat dengan luas sebagai penyerahan segenap hidup tanpa batas kepada kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Penyerahan hidup tanpa batas ini terjadi dalam berbagai aspek kehidupan orang percaya, mulai dari aktivitas sehari-hari yang sederhana, pekerjaan, berkeluarga, maupun hal lainnya. Segala yang dilakukan orang percaya dalam pengabdian kepada Tuhan, diarahkan bagi kepentingan-Nya semata. Tidak ada agenda pribadi yang menjadi motivasi utama dalam menjalankan seluruh keseharian, semuanya hanya untuk Tuhan. 
    Ketika anak melihat orangtua meletakkan kepentingan Tuhan di atas kepentingannya sendiri, ini akan menjadi jejak Tuhan yang diwariskan bagi anak. Dengan menghidupi hal ini, bukan berarti kita abai terhadap kebutuhan anak-anak. Anak-anak tetap bisa mendapatkan pembiayaan hidup, biaya sekolah, jalan-jalan, dan berbagai fasilitas secara proporsional, tetapi hidup orangtua harus diabdikan sepenuhnya kepada Tuhan. Pengabdian orangtua kepada Tuhan inilah yang membuat mereka melihat dan mengikuti jejak orangtua. Kehidupan rohani yang baik dari orangtua yang disaksikan dan dirasakan oleh anak-anak merupakan konsumsi jiwa yang mereka terima setiap hari yang menjadi dasar kehidupan mereka kemudian hari. Itu adalah nutrisi yang sangat berarti bagi kehidupan kekal mereka. Sebaliknya kalau kehidupan orangtua tidak sesuai dengan Firman Tuhan, maka akan meracuni anak-anak dan membinasakan mereka.  
    Sebagai orangtua, kita memang bukan orang yang sempurna, tetapi orangtua yang mengasihi Tuhan pasti akan meninggalkan jejak hidup yang baik bagi anak-anaknya. Sedangkan orangtua yang hanya memuaskan anak-anak dengan berbagai fasilitas tapi tidak menyisihkan untuk Tuhan, mereka telah memberi contoh yang buruk. Sebab dari pengabdian itulah mereka melihat jejak Tuhan di dalam hidup orangtua. Waktu kita sebagai orangtua memperhatikan orang lemah, disakiti namun tidak membalas menyakiti, difitnah, dan diperlakukan tidak adil namun tidak melawan, itu semua merupakan jejak Tuhan yang akan membentuk anak-anak kita. Jangan berpikir anak dapat berubah baik seiring dengan perjalanan waktu. Di dunia yang semakin jahat ini, pengaruh gadget atau gawai yang begitu kuat telah membangun paradigma berpikir yang sesat. Anak-anak tidak akan menjadi baik dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu. Orangtua harus dengan sadar dan sengaja mengarahkan anak untuk menjadi baik dan berkenan.
    Orangtua bertanggung jawab orangtua untuk menjadi surat terbuka yang menampilkan jejak Tuhan itu mutlak. Kita tidak dapat menggantikan tanggung jawab untuk menjadi surat terbuka yang memberi contoh mengabdi pada Tuhan tanpa batas untuk anak dengan doa semata. Perlu diingat bahwa doa adalah dialog, bukan sekadar permintaan. Jadi jangan berpikir dengan mendoakan anak-anak, mereka pasti akan mengerti arti mengabdi kepada Tuhan dengan sendirinya. Kalau orangtua merasa dengan doa saja—tanpa tanggung jawab memberi teladan—sudah menjadi surat terbuka untuk anak-anak, pasti anak kita terhilang. Oleh sebab itu pula, jangan juga berpikir bahwa gerejalah yang bertanggung jawab. Gereja memang mempunyai tanggung jawab untuk menuntun, membimbing umat ke dalam kebenaran Tuhan. Orang-orang tua harus dibimbing oleh kebenaran Firman Tuhan di dalam gereja, sehingga dapat sungguh-sungguh mengenal kebenaran dan hidupnya diubah, hal mana akan berdampak bagi anak-anak mereka. 
    Orangtua yang hidupnya diubah oleh kebenaran akan memberikan jejak hidup tidak wajar. Jejak hidup tidak wajar di sini menunjuk pada gaya hidup yang tidak memandang dunia sebagai kesenangannya sebagai kemutlakan. Bagi orangtua yang hidup tidak wajar, tidak ada kebahagiaan lain selain menyenangkan hati Tuhan....
    0 min
  • Kesucian Hidup Orangtua
    Hal kedua yang harus orangtua wariskan adalah kesucian hidup. Beberapa orangtua merasa berhak bertindak kasar terhadap anak karena ingin terlihat tegas dan disiplin sebagai orangtua. Namun tanpa disadari, perlakuan kasar tersebut membuat anak terluka. Perlu diketahui bahwa sikap terhadap anak akan menjadi goresan apakah anak-anak merasakan kehadiran Allah dalam hidup orangtuanya atau tidak. Dalam hal ini bukan berarti orangtua tidak boleh marah atau tidak boleh tegas. Orangtua harus marah dan tegas jika itu dibutuhkan, tetapi kelemahlembutan Kristus tetap harus bisa dirasakan oleh anak dalam ketegasan atau kemarahan orangtua tersebut. Dengan melihat kelemahlembutan orangtua yang menaruh amarah atau ketegasan sepatutnya, anak dapat melihat jejak orangtua yang berusaha hidup dalam kesucian Tuhan. “Kesucian” di sini menunjuk pada perasaan marah yang kudus ketika harus menunjukkan ketegasan, atau amarah yang ditandai dengan penguasaan diri dan kasih. Secara tidak langsung menjadi pembelajaran untuk anak-anak bagi pembentukan karakter mereka guna bekal hidup mereka di hari esok.
    Seharusnya kita tidak berpikir bahwa Sekolah Minggu dan Sekolah Kristen menjamin anak kita menemukan jejak Tuhan di sana. Pertama-tama, jejak Tuhan harus ditemukan dari orangtua, bukan dari tempat lain. Hendaknya orangtua jangan melempar tanggung jawab untuk memberi teladan mengikut jejak Tuhan kepada gereja atau sekolah. Jangan berpikir dengan anak-anak ke gereja atau anak-anak bersekolah di sekolah Kristen, mereka pasti akan menjadi anak-anak yang baik. Faktanya, anak-anak tidak dapat berubah hanya karena datang ke Sekolah Minggu atau bersekolah di sekolah Kristen. 
    Peranan orangtua tidak tergantikan oleh siapa pun, sekalipun itu guru Sekolah Minggu atau pendeta. Para orangtua harus menampilkan kehidupan sebagai anak-anak Allah yang bisa dirasakan oleh anak-anak, sehingga mereka dapat mengambil kesimpulan bahwa orangtuanya berjalan dengan Tuhan. Orangtua yang berjalan dengan Tuhan dalam kesucian, pasti memiliki jejak Tuhan dalam hidupnya yang dapat diwariskan kepada anak-anak. Tidak peduli orangtua kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak berpendidikan, setiap orangtua berkesempatan mewariskan jejak Tuhan dalam hidup anak. Orangtua harus sadar bahwa dirinya adalah wakil Tuhan di dunia untuk mendidik anak-anak mereka di jalan Tuhan guna menjadi orang-orang yang berkeberadaan sebagai anak-anak Allah seperti Yesus.
    Oleh karenanya, agenda hidup kita satu-satunya haruslah mengenal Tuhan dan mengalami-Nya secara nyata, sehingga anak-anak akan melihat jejak Tuhan dalam hidup orangtua mereka. Di samping orangtua, gereja memang mengambil bagian dalam pembentukan anak. Peran tersebut adalah penanaman nilai rohani melalui pelajaran, khotbah, atau pendampingan yang diberikan melalui ibadah dan pelayanan gerejawi. Akan tetapi, jejak Tuhan dalam hidup orangtua itu lebih dari pendidikan agama,dan rohani di dalam gereja. Untuk itu, setiap orangtua harus hidup dalam kesucian. Hidup dalam kesucian artinya berusaha untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela dalam segala hal. 
    Orangtua harus belajar untuk tidak bercacat dalam pikiran, perasaan, dan tindakan. Untuk ini, setiap orangtua harus sungguh-sungguh belajar kebenaran, sebab kebenaran adalah sarana pengudusan setiap orang percaya yang telah ditebus (Yoh. 17:17). Dengan kematian Yesus di kayu salib, orang percaya menerima pengudusan yang melayakkannya untuk menjadi anak Allah. Akan tetapi, untuk benar-benar memiliki keberadaan sebagai anak Allah, setiap orang harus belajar dari kebenaran Injil yang diajarkan dan dipertunjukkan Tuhan Yesus selama hidup-Nya di bumi. Hanya Injil yang berkuasa menyelamatkan karakter seseorang, yaitu menjadikan seseorang memiliki pikiran dan perasaan Kristus.
    Pembelajaran kebenaran yang dilakukan secara konsisten akan mengubah cara berpikir orang percaya yang telah lama diracuni oleh dunia. Cara berpikir orang percaya diubah melalui kebenaran Injil inilah ya...
    0 min
  • Menata Hidup
    Kehadiran Tuhan dalam kehidupan orangtua pasti akan terendus, pasti tercium oleh anak-anak. Di sini orangtua bukan hanya mengajarkan doa secara legalistik, melainkan orangtua harus benar-benar mengalami Tuhan secara konkret. Pengalaman dan perjumpaan dengan Tuhan, serta atmosfer kehadiran Allah dalam hidup orangtua harus dialami dan dirasakan oleh anak-anak. Untuk ini, paling tidak ada tiga hal yang harus orangtua perhatikan, yaitu:
    Pertama, menata hidup. Semua harta yang bisa orangtua wariskan, pendidikan yang diberikan, belum tentu bisa mendatangkan kebahagiaan, keamanan, dan keselamatan bagi anak-anak. Bahkan, sering menjadi kutuk, karena kekayaan tersebut menenggelamkan anak-anak ke dalam pikiran duniawi. Apalagi kalau yang diwariskan itu mestinya harta yang orangtua persembahkan bagi pekerjaan Allah. Satu hal yang harus kita ingat adalah bahwa anak akan memiliki rezekinya sendiri nanti. Tidak sedikit kita—para orangtua—yang lahir dari keluarga miskin secara materi, namun keadaan tersebut justru membangun urat juang kita untuk menghadapi segala keadaan, dan buktinya kita bisa eksis hari ini. 
    Orangtua harus memperhatikan anak secara serius, dalam segala aspeknya, khususnya yang terkait dengan keselmatan jiwanya. Orangtua juga harus bekerja keras, rajin, bertanggung jawab dan tidak secara mistik mengklaim berkat Tuhan untuk dapat diperoleh dengan mudah, yang mana hal ini merupakan pendidikan yang salah untuk anak-anak kita. Seakan-akan menjadi Kristen berarti mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam menjalani hidup. Harus diajarkan kepada anak-anak bahwa mengikut Yesus adalah perjalanan yang sukar, tetapi suatu saat akan menuai kemuliaan yang tiada tara.
    Allah adalah Pribadi yang tidak bertanggung jawab kalau hanya memberikan kemudahan-kemudahan hidup kepada anak-anak-Nya, sehingga orang-orang Kristen tidak mempunyai daya juang yang proporsional. Allah mengajar orang percaya untuk memaksimalkan potensi dan bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya. Kemudian mempersembahkannya untuk kepentingan Kerajaan Surga. Selanjutnya orangtua juga mengajar anak-anak untuk bekerja keras guna memenuhi kebutuhan mereka. Orangtua tidak boleh dengan mudah mewariskan kekayaan kepada anak-anak tanpa hikmat.  
    Dengan kekayaan yang orangtua wariskan kepada anak-anak, sering malah membuat mereka bukan saja tidak memiliki daya juang, namun juga mereka akan cenderung menggampangkan masalah dan tidak bertanggung jawab. Orangtua sering kali gagal melihat keadaan anak-anaknya yang seperti itu. Hal ini disebabkan karena orangtua tidak berjalan dengan Tuhan, sehingga mereka tidak memiliki kecerdasan rohani untuk bisa melihat dan menilai anak-anaknya. Lukas 12:15 mengajarkan kepada kita bahwa hidup manusia tidak bergantung kepada kekayaan. Jadi kalau kita sebagai orangtua memiliki kekayaan yang berlimpah, jangan mengesankan kepada anak bahwa dengan uang itu kita dapat menjamin hidupnya mereka. Anak-anak harus melihat bagaimana orangtua bergantung kepada Tuhan. Mulai dari teladan orangtua yang rajin datang ke gereja, belajar Firman, dan berdoa bersama. Tatanan hidup seperti ini memancarkan satu pesan bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan. 
    Sebaliknya, jika kita sebagai orangtua yang secara finansial tidak mampu, jangan menunjukkan kegentaran dan ketakutan kepada anak-anak. Tunjukkan kekokohan, kegigihan, ketabahan, dan tentu harus disampaikan kepada anak-anak bahwa keadaan yang sulit itu merupakan cara Allah mendewasakan kita. Tentu anak-anak juga diajar untuk melihat langit baru bumi baru. Ajarkan bahwa rezeki itu tidak bisa diperoleh dengan mudah; tidak bisa diperoleh hanya dengan doa, namun harus kerja keras. Bukan menjadi rahasia bahwa banyak orangtua yang tidak mampu secara finansial, tetapi mampu mengajarkan hidup yang benar kepada anak-anaknya. Akibatnya, di masa depan anak-anak mereka memiliki nasib yang lebih baik ketimbang orangtuanya. Kaya atau miskin tidak menjadi suatu masalah yang mutlak. Namun,
    0 min
  • Warisan bagi Anak Cucu
    Banyak orang yang tidak mengenal realitas bahwa hidup kita di bumi ini sangat singkat. Firman Tuhan dalam Mazmur 103:15-16 mengatakan, “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput, seperti bunga di padang demikianlah ia berbunga; apabila angin melintasinya, maka tidak ada lagi ia, dan tempatnya tidak mengenalnya lagi.” Ironis, banyak orang tidak berpikir secara realistis. Kita tidak bisa membangun Firdaus di bumi yang tidak menjanjikan ini. Bukan berarti kita jadi berpikir pesimis dan fatalistik, tetapi ini adalah panggilan untuk kita berpikir realistis. Kita hidup di dunia yang benar-benar tidak menjanjikan. Seharusnya setiap orangtua mempersiapkan anaknya untuk mengikut jejak Tuhan sejak di bumi ini. Sebagai orangtua, kita tidak boleh membiarkan anak-anak terbawa oleh arus dunia yang membinasakan mereka. Untuk ini orangtua harus bekerja keras untuk menghindarkan anak-anak dari pengaruh dunia.
    Oleh sebab itu orangtua harus menunjukkan wajah Kristus dalam hidupnya sehari-hari. Ini mungkin merupakan hal yang berat, tetapi ini adalah hal yang terpenting dan mutlak harus dilakukan. Oleh karenanya, kita mohon Tuhan mencelikkan batin kita agar kita mengerti kehendak Allah. Sebab, inilah warisan yang tidak bisa digantikan dengan apa pun. Kehidupan orangtua yang selalu bersentuhan dengan Anak merupakan proses impartasi atau penularan yang akhirnya menjadi warisan permanen bagi anak. Kalau orangtua memiliki wajah batiniah seperti Yesus, maka wajah itulah yang pasti terwariskan kepada anak-anak.
    Lebih dari sekadar terpelihara di bumi, yang utama adalah anak-anak kita ada dalam persekutuan dengan Allah dan dipersiapkan untuk masuk langit baru bumi baru. Ini adalah landasan pemikiran yang benar. Kalau hanya mau memiliki rumah tangga yang baik, yang bahagia, yang harmoni, banyak motivator mengajarkan hal ini. Namun untuk mempersiapkan keluarga masuk dalam keabadian, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang yang mengerti kebenaran. Di antara kita, mungkin sudah sering melihat realitas yang pedih dalam kehidupan ini. Sejatinya hal tersebut dapat memotivasi kita untuk benar-benar hidup sesuai dengan kehendak Allah. Bagaimana pedihnya ditinggal meninggal oleh orangtua atau anak; sebuah kepedihan perpisahan yang tidak terbayangkan, dan berbagai kepedihan lain yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 
    Untuk itu, hanya ada satu vaksin dalam menghadapi tragisnya hidup ini, yaitu pengharapan di langit baru bumi baru. Semua kita mengerti dan menghayati bagaimana kita ingin anak-anak kita sukses—sukses karier, sukses studi, sukses berumah tangga. Hal ini tentu tidak salah. Tuhan bukan tidak suka kita sukses dalam hal-hal tersebut, karena sukses itu juga untuk kemuliaan bagi Tuhan. Tetapi apalah artinya segala sukses dan keberhasilan kalau pada akhirnya kita tidak bersama-sama di surga? Hal ini harus menjadi pemikiran yang serius, dan kita tidak boleh menganggap remeh. Tidak hal yang lebih serius dalam kehidupan ini selain kekekalan. 
    Oleh sebab itu sudah sepantasnya yang kita wariskan bagi anak cucu kita adalah jejak Tuhan di dalam hidup kita, supaya kita bisa pulang bersama. Meskipun dapat dipandang sebelah mata sebagai tidak realistis, namun sesungguhnya ini adalah pemikiran yang realistis. Jangan berpikir kalau orangtua bisa memberikan fasilitas yang berlimpah, anak lebih terjamin hidupnya. Justru semakin berlimpah harta yang orangtua berikan, tidak sedikit anak yang tidak memiliki daya juang hidup yang tinggi atau menjadi manja. Kalau orangtua dengan mudah mewariskan kekayaan kepada anak-anak, konsekuensinya adalah mereka merasa tidak bermasalah soal ekonomi, merasa begitu gampang mendapatkan uang, mereka akan menjadi anak-anak yang kurang realistis dalam berpikir. Bukan tidak boleh orangtua memberikan harta berlimpah kepada anak, tapi masalahnya adalah apakah anak melihat jejak Tuhan dalam hidup orangtua dalam menggunakan harta tersebut? Selanjutnya, apakah anak-anak kita terlatih dan dapat dipercaya untuk menggunak...
    0 min
  • Yang Tersisa dalam Hidup
    Seseorang yang memiliki penyerahan yang benar kepada Allah akan sampai pada kawasan atau level dimana ia akan merasa bahwa yang tersisa dalam hidupnya hanyalah Tuhan. Hal ini tentunya melalui proses yang panjang dan ketat, tidak dapat terjadi dengan sendirinya. Pada waktu kita masih belum dewasa rohani, banyak hal yang kita merasa miliki sebagai hak kita sendiri, termasuk Tuhan di dalamnya. Ironis, kita merasa memiliki Tuhan untuk menggunakan kuasa-Nya, tetapi tidak merasa dimiliki Tuhan untuk mengabdi kepada-Nya. Tetapi seiring dengan perjalanan waktu, ketika kita makin bertumbuh menikmati hadirat Tuhan, sukacita Tuhan, nilai-nilai rohani, nilai-nilai Kerajaan Surga, maka yang tersisa dalam hidup kita hanyalah Tuhan, yaitu bahwa kesukaan kita hanya Tuhan dan mengabdi kepada-Nya. Dalam hal ini kita bisa mengerti bagaimana kita dimiliki Tuhan dan hidup hanya untuk mengabdi kerpada-Nya. Hal ini harus dialami sendiri, bukan sekadar dimengerti dalam pikiran. Hal ini memang sulit untuk diungkapkan melalui pengajaran atau kata-kata, tetapi harus dialami secara langsung. 
    Sering Tuhan membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sulit. Keadaan tersebut dapat berwujud ketika kita ditinggalkan oleh orang yang kita percayai, dikhianati orang dekat, mengalami sakit yang sulit disembuhkan, kehilangan orang yang dikasihi, dan kehilangan harta, kita mulai dapat berpikir lebih jernih bahwa siapa pun dan apa pun yang kita miliki ternyata hanya sementara. Tetapi keadaan tersebut menggiring kita untuk dimiliki oleh Allah, menikmati damai sejahtera-Nya dan hidup dalam pengabdian kepada Dia saja.
    Dari keadaan-keadaan tersebut, Tuhan mengajar kita untuk berselancar bersama-Nya untuk belajar menghayati bahwa Ia adalah kebutuhan kita satu-satunya.  Maka, orang percaya yang benar akan merasa takut kalau ada sesuatu yang ia rasa masih miliki dan hal tersebut menjadi kebahagiaan hidupnya. Seharusnya di akhir pengembaraan hidup kita, seiring dengan pertambahan usia, kita sampai pada kawasan ini. Jangan sampai semakin lama menjadi orang Kristen, kita tidak kunjung memiliki perasaan krisis walau masih ada yang kita miliki selain Tuhan. Kesadaran bahwa Tuhan menjadi satu-satunya harta kekayaan dan kebahagiaan harus dimiliki dalam perjalanan rohani orang percaya. Jika seseorang tidak memiliki kesadaran ini, maka sebenarnya ia sedang mengkhianati Tuhan. Oleh sebab itu, orang percaya harus mengkhianati dagingnya sendiri untuk bisa membahagiakan Tuhan. Dalam hal ini kita harus belajar kebenaran dan jujur terhadap keadaan hidup kita. 
    “Kejujuran terhadap keadaan hidup” di sini maksudnya kita berani mengakui segala ketidaktepatan yang masih ada dalam diri kita. Bukan hanya mengakui dosa yang terkesan fatal, tetapi juga ketidaktepatan seperti kebahagiaan lain yang masih ada di hidup kita. Sebab kalau jujur, kita tidak dapat menikmati kebahagiaan di tengah-tengah dunia yang hancur ini. Selain itu, kita tidak bisa bahagia sementara orang di sekitar kita tidak bahagia. Kita tidak bisa merasa bahagia sementara banyak orang di sekitar kita hidup di dalam penderitaan, terlebih lagi banyak orang yang hidup di bawah bayang-bayang maut menuju kegelapan abadi. Pada akhirnya, semua yang kita miliki tidak pernah bisa memuaskan dan pasti ada ujungnya. Oleh sebab itu, kita harus melepaskan semuanya agar memperoleh Tuhan. Tanpa melepaskan kebahagiaan sekecil apa pun, maka kita tidak dapat memperoleh Tuhan. Untuk ini seseorang harus mengenal dirinya sendiri dengan belajar kebenaran. 
    Kebenaran yang Tuhan ajarkan melalui Alkitab dapat membukakan mata rohani kita untuk mengenal keadaan diri. Di samping itu, perjumpaan pribadi dengan Tuhan akan menambah ketajaman kita untuk melihat kemelesetan dalam diri kita. Dengan mengevaluasi diri dengan firman dan perjumpaan pribadi dengan Tuhan, kita dapat melihat kesenangan apa saja yang masih kita genggam. Akhirnya, kita dapat memasuki kawasan mempertaruhkan semua untuk kepentingan Tuhan.
    0 min
  • Terbelenggu oleh Kepentingan Tuhan
    Kita harus memilih untuk menyerahkan diri ke siapa: dunia atau Tuhan? Tuhan berfirman dalam Matius 6:24 berkata, “kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Jika seseorang menyerahkan dirinya kepada dunia, ia dapat menikmati kenyamanan di bumi ini. Daging kita yang merekam kenikmatan dunia sejak kecil dipuaskan oleh kenyamanan yang diasup tersebut. Namun jika seseorang memilih untuk menyerahkan diri ke Tuhan, ia harus meninggalkan segala kenyamanan yang dunia tawarkan. Bagi manusia yang telah lama hidup dalam irama yang memuaskan keinginan daging, ini menjadi masalah besar. Hal ini terjadi pada kehidupan Rasul Paulus. Paulus mengatakan, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ. Selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku” (Kis. 20:22-23). Pernyataan Paulus ini menunjukkan bahwa ia merasa tidak lagi memiliki hak atas dirinya sendiri. Hal ini sesuai dengan apa yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, yaitu melepaskan semua hak-Nya demi ketaatan kepada Bapa di surga. Yesus taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib (Flp. 2:5-7).
    Paulus adalah profil orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan. Dari perkataan Paulus ini, kita dapat menangkap kebenaran bahwa orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan harus berani kehilangan hidupnya. Paulus tidak menghiraukan nyawanya sama sekali. Sebaliknya, ia menyerahkan nyawa dalam pimpinan Roh Kudus untuk menggenapi rencana Allah. Paulus tidak menyerahkan nyawanya karena pasrah atau gagal hidup. Ia menyerahkan dirinya dalam kesadaran untuk melakukan kehendak Allah. Paulus menunjukkan penyerahan diri yang dewasa kepada Tuhan. Penyerahan diri kepada Tuhan pada akhirnya membuat kita terbelenggu; terbelenggu oleh kepentingan Tuhan yang telah menebus kita. Sebab penyerahan diri kita kepada Tuhan itu artinya kita tidak punya kepentingan bagi diri sendiri atau terbelenggu. Belenggu ini adalah belenggu yang menyelamatkan orang percaya. Sedangkan belenggu dunia membuat seseorang terparkir selamanya di dunia yang sedang lenyap. Mendengar hal ini, mungkin ada sebagian yang akan berpikir mengapa begitu sulit untuk menjadi orang Kristen? Memang demikian adanya bahwa mengikut Yesus adalah jalan sempit, banyak orang berusaha tetapi tidak masuk (Luk. 13:23-24).
    Perlu kita ketahui bahwa setiap manusia pasti terbelenggu. Manusia tidak dapat tidak memiliki belenggu. Jika ia tidak terikat dengan Tuhan, maka ia terikat dengan dunia. Ini adalah sebuah pilihan yang mutlak harus ditentukan masing-masing individu. Oleh karenanya, setiap orang yang hidup dalam belenggu Tuhan harus menyerah pada kehendak Tuhan. Dengan kata lain, ia siap melakukan apapun yang Tuhan inginkan. Prinsipnya adalah “suka-suka-Mu,” bukan “suka-sukaku.” Mendengar hal ini hendaknya kita jangan mencurigai Tuhan dengan prasangka bahwa Ia ingin membatasi, mengambil kesenangan, dan menyiksa kita. Justru sebaliknya, ketika kita menyerahkan diri kepada Tuhan di situlah kita mengalami kebebasan yang sejati. Seseorang yang merasa kebebasan adalah bebas melakukan apa pun yang ia inginkan, sejatinya ia justru sedang tertawan oleh keinginannya. Sepintas ia terlihat bebas dapat melakukan apa pun dan orang yang mengikuti kehendak Tuhan sepintas terlihat seperti tidak bebas. Namun, sesungguhnya orang yang mengikuti kehendak Tuhan itulah yang mengalami kebebasan yang sesungguhnya, yakni hidup dalam Tuhan. Mengapa? Sebab Tuhan tahu apa yang terbaik bagi diri kita. Ketika Ia berkata bahwa kita harus menyelesaikan pekerjaan-Nya, sebenarnya itu adalah bentuk pemeliharaan Tuhan bagi jiwa kita. Karena kehendak Tuhan itulah yang dibutuhkan oleh jiwa kita. Kehendak Tuhan adalah makanan bagi jiwa kita. Di sinilah kita memperoleh kebebasan sejati.
    Ketika kita menyerah dengan penyerahan yang dewasa, semua masalah yang kita hadapi bukan menjadi sesuatu yang kita anggap mencelakai. Apa pun yang kita alami,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…