Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Berakibat Fatal
    Dalam Matius 25:1-13, kita dapat menemukan perumpamaan mengenai 5 gadis yang bijaksana dan 5 gadis yang bodoh. Mereka semua menantikan mempelai yang akan datang dan mengadakan pesta perjamuan. Perbedaan antara 5 gadis yang bijaksana dan 5 gadis yang bodoh adalah yang bijaksana memiliki persediaan minyak, sedangkan yang bodoh tidak memiliki persediaan minyak. Kisah ini mengisyaratkan tragisnya 5 gadis bodoh yang tidak diperkenankan masuk pesta perjamuan karena kehabisan minyak, dan ketika pergi mencari minyak, mereka terlambat masuk ke dalam pesta perjamuan. Sangat besar kemungkinan 5 gadis bodoh memperhitungkan bahwa minyak yang dibawanya belum tentu cukup, tetapi mereka mengambil risiko untuk menunda mempersiapkan minyak cadangan. Penundaan tersebut berakibat sangat fatal. Mereka tidak diperkenan masuk ke dalam pesta perjamuan. Hal ini sebenarnya merupakan gambaran dari orang-orang yang nanti akan ditolak masuk ke dalam Kerajaan Surga.
    Ternyata penundaan tersebut berakibat fatal dimana mereka tidak bisa masuk dalam pesta perjamuan. Harus selalu diingat bahwa penundaan bukanlah sesuatu yang boleh dianggap remeh, walaupun untuk hal-hal yang kelihatannya sederhana. Penundaan bisa berakibat fatal, seperti yang dikemukakan di dalam perumpamaan ini, Alkitab menulis: “Akan tetapi, waktu mereka (lima gadis bodoh) sedang pergi membelinya datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin, lalu pintu ditutup. Kemudian datang juga gadis-gadis lain (yang bodoh), “Tuan, tuan, bukakanlah kami pintu! Tetapi ia menjawab: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.” Terkesan tuan yang mengadakan pesta adalah Tuhan yang jahat yang tidak menghargai kelelahan dan pengorbanan 5 gadis bodoh yang telah menunggu kedatangan mempelai. Tetapi itulah faktanya, bahwa jika dalam menyambut mempelai mereka tidak datang tepat waktu, mereka tidak mendapat bagian dalam pesta perjamuan.
    Banyak orang Kristen yang menafsirkan atau mengartikan “minyak” tersebut sebagai Roh Kudus. Kita harus mengerti bahwa tidak selalu minyak menunjuk kepada Roh Kudus. “Minyak” di dalam perumpamaan ini sebenarnya menunjuk pada sikap berjaga-jaga. Itulah sebabnya Yesus berkata: “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya” (Mat. 25:13). Sikap berjaga-jaga adalah tindakan dimana seseorang tidak menunda apa yang seharusnya dilakukan demi keselamatan hidupnya. Tuhan Yesus berkata bahwa kita tidak tahu akan hari maupun saat dimana Tuhan Yesus datang, atau hari seseorang menutup mata atau meninggal dunia. Orang-orang yang ceroboh adalah orang-orang yang menunda yang seharusnya dilakukan untuk keselamatan kekalnya. Hampir semua orang menunda untuk bertobat dan mengalami perubahan terkait dengan keselamatan jiwanya. Pada umumnya, mereka terlena dalam kenikmatan dunia atau dalam cengkeraman kuasa gelap. Tetapi, banyak mereka yang tidak menyadari keadaan tersebut.
    Berjaga-jaga adalah sikap yang selalu mempersiapkan diri seakan-akan tidak ada waktu lagi untuk mempersiapkan diri menghadap Tuhan; seakan-akan tidak ada lagi waktu untuk bertobat, seakan-akan tidak ada lagi waktu untuk berubah. Dengan sikap seperti itu, seseorang tidak akan menunda bertobat dan bertumbuh dalam kedewasaan rohani. Harus selalu dipertimbangkan bahwa kematian bisa menjemput seseorang setiap saat. Itu berarti tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat dan berubah atau mempersiapkan diri menghadapi pengadilan Allah. Kita harus berpikir bahwa kesempatan yang tidak ada lagi atau hilangnya kesempatan itu, sesuatu yang sangat mengerikan. Kuasa gelap selalu menyuarakan bahwa nanti selalu masih ada kesempatan untuk bertobat dan berubah. Hal inilah yang membuat banyak orang menunda melakukan pertobatan dan memberi diri dibentuk oleh Allah demi perubahan untuk serupa dengan Yesus.
    Terkait dengan hal ini, harus dimengerti bahwa setiap tindakan kita atau setiap perbuatan itu ada harganya ...
    0 min
  • Proses yang Tidak Boleh Ditunda
    Menanggulangi potensi dosa di dalam diri kita bukan sesuatu yang mudah. Harus ada perjuangan yang dilakukan terus-menerus melalui setiap kejadian yang Allah izinkan terjadi atau berlangsung dalam hidup kita. Allah mendesain banyak kejadian di dalam hidup kita untuk mengubah karakter kita, yang klimaksnya kita dapat mengalami perubahan kodrat; dari kodrat dosa kepada kodrat ilahi. Sarana yang Allah pakai adalah kejadian-kejadian yang terjadi dalam hidup kita dalam perjalanan waktu yang kita jalani. Melalui kejadian-kejadian hidup yang kita alami atau kita jalani, Allah membidik kelemahan-kelemahan kita, dan mengubah hidup kita untuk menjadi manusia sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Allah sebagai Arsitek jiwa mengerti bagaimana mendesain keadaan untuk membidik kelemahan-kelemahan kita sampai pada perubahan permanen, yaitu mengenakan kodrat ilahi. Oleh sebab itu, kita harus mensyukuri setiap kejadian yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita.
    Kita harus memahami bagaimana proses seseorang mengalami kematian kodrat dosa demi tumbuhnya kodrat ilahi dalam hidupnya. Kalau misalnya seseorang memiliki kelemahan, yaitu temperamental atau mudah marah, Allah justru mempertemukan dirinya dengan berbagai persoalan yang membuat dirinya marah. Ketika di suatu kesempatan dia mendapatkan keadaan dimana dia merasa harus marah sehingga tergoda untuk memukul orang, harus banting barang, dan lain sebagainya, pada waktu itulah dia harus belajar untuk mengendalikan dirinya. Kejadian semacam itu bisa terjadi berulang-ulang. 
    Kejadian yang berulang-ulang tersebut adalah kesempatan dimana ia harus dapat mengendalikan dirinya. Sebagai hasilnya, monster kemarahannya dapat dimatikan. Tetapi kalau dia berkata, “Kali ini saja kupukul dia, besok aku tidak mau pukul orang lagi,” biasanya kenyataannya, ia sangat mungkin akan memukul orang lagi. Dalam hal ini, seharusnya dia tidak menunda untuk tidak memukul orang. Pada mulanya ketika ia menahan diri untuk tidak memukul, rasanya masih berat. Kalau di kesempatan lain menahan diri dan berhasil tidak memukul orang, akan terasa lebih ringan atau lebih bisa tidak memukul orang, sampai akhirnya dengan mudah tidak memukul orang atau otomatis tidak akan pernah memukul orang lagi. Inilah prosesnya.
    Kalau misalnya seseorang memiliki kelemahan, yaitu perzinaan atau percabulan, Allah justru mempertemukan dirinya dengan berbagai kesempatan untuk berbuat zina. Ketika di suatu kesempatan dia mendapatkan keadaan dimana dia bisa berzina, pada waktu itulah dia harus belajar untuk menguasai diri untuk tidak berzina. Keadaan semacam itu bisa terjadi berulang-ulang, dimana ia harus menguasai diri untuk tidak berzina. Dengan cara demikian, ia memadamkan “monster zinanya.” Tetapi kalau dia berkata, “Kali ini saja aku berzina, besok aku tidak berzina lagi,” kenyataannya, ia sangat mungkin akan berzina lagi. Dalam hal ini, seharusnya dia tidak menunda untuk tidak berzina. Pada awal-awal menahan diri tidak berzina, rasanya masih berat. Kalau di kesempatan lain dapat menguasai diri tidak berzina, akan terasa lebih bisa untuk tidak berzina, sampai akhirnya dengan mudah tidak berzina atau otomatis tidak akan pernah pernah berzina lagi. Sampai-sampai ia tidak akan bisa berzina walaupun ada kesempatan.
    Inilah yang disebut sebagai sekolah kehidupan atau proses pemuridan yang dipimpin dan dikawal langsung oleh Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya yang mengasihi Allah. Perubahan kodrat tidak akan pernah terjadi tanpa proses seperti yang dikemukakan di atas. Allah membutuhkan kejadian-kejadian atau peristiwa-peristiwa untuk mendidik anak-anak-Nya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9-10). Dari hal ini, terjadi proses pendidikan yang Allah lakukan sendiri terhadap anak-anak-Nya. Allah Bapa menyertai untuk mendidik, yang sama dengan Tuhan Yesus menyertai orang percaya untuk memuridkan orang percaya agar bisa berkeadaan seperti diri-Nya.
    Proses seperti di atas ini tidak boleh ditunda.
    0 min
  • Kodrat Dosa yang Ditanggulangi
    Sangat penting untuk ditegaskan mengenai keberadaan dosa dalam kehidupan manusia dilihat dari dua perspektif atau dua dimensi. Pertama, dosa dalam bentuk perbuatan, perilaku, atau ekspresi dari perilakunya yang kelihatan. Dalam hal ini, dosa sudah menjadi buah atau menjadi perbuatan. Kedua, dosa dalam bentuk berupa kodrat atau potensi, yaitu penggerak seseorang melakukan suatu perbuatan dosa. Ini adalah dosa dalam arti sifat yang melekat di dalam diri seseorang. Inilah yang disebut sebagai kodrat dosa atau hukum dosa dalam diri semua manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). 
    Banyak orang yang menyelesaikan masalah dosa hanya pada perbuatan yang sudah dilakukan (perspektif pertama) dengan cara meminta pengampunan. Setelah itu, ia merasa sudah menyelesaikan masalah dosanya. Padahal, masalah dosa bukan hanya pada tindakan lahiriahnya, melainkan juga pada potensi dosa yang ada dalam dirinya (perspektif kedua). Jadi, tidak cukup seseorang meminta ampun dengan mengatakan: “Ampunilah dosaku, ya, Tuhan. Aku sudah mencuri; aku sudah berzina,” tetapi harus juga melihat kodrat dosa di dalam dirinya yang harus diselesaikan. Kalau kita meminta pengampunan atas perbuatan dosa kita, kita juga harus melihat dan mengakui betapa buruk keadaan yang ada di dalam diri kita, yaitu dosa dalam bentuk atau berupa kodrat atau potensi, yaitu penggerak kita dalam melakukan suatu perbuatan dosa.
    Oleh sebab itu, setiap kali kita meminta pengampunan atas perbuatan dosa, harus sekaligus disertai komitmen atau tekad untuk tidak mengulangi dosa itu dengan cara membunuh atau bersedia mematikan kodrat dosa tersebut. Komitmen untuk menanggulangi kodrat dosa di dalam diri kita harus ditunjukkan melalui langkah-langkah konkret di dalam kehidupan. Dibutuhkan waktu yang panjang untuk menyelesaikan masalah kodrat dosa ini. Pengampunan atas dosa-dosa yang telah kita lakukan dapat diterima dalam sekejap dan seketika itu juga, tidak membutuhkan proses dalam waktu yang panjang. Tetapi kalau menyelesaikan masalah kodrat dosa yang ada dalam diri kita, membutuhkan waktu yang panjang dan perjuangan yang berat yang melibatkan seluruh kehidupan kita ini tanpa batas. 
    Langkah-langkah itu antara lain: pertama, mendengarkan Firman yang benar, sebab Firman itu menguduskan (Yoh. 17:17). Firman bukan menguduskan perbuatan dosa yang sudah dilakukan, tetapi Firman menguduskan potensi dosa di dalam diri kita. Adapun perbuatan dosa yang dilakukan dapat diselesaikan dengan darah Yesus, tetapi kodrat dosa diselesaikan dengan ketekunan mendengar Firman yang mengubah cara berpikir, sehingga memperoleh kemerdekaan dari dosa (Yoh. 8:31-32). Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan bahwa Injil itu kuasa Allah yang menyelamatkan. Di sini maksudnya adalah pengajaran yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, itulah kebenaran yang memerdekakan. Dalam hal ini, setiap orang percaya membutuhkan Roh Kudus yang menyingkapkan kebenaran Injil yang memerdekakan di dalam hidup. Roh Kudus adalah sarana untuk mengalami kemerdekaan rohani. 
    Itulah sebabnya langkah kedua adalah dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus menuntun orang percaya kepada seluruh kebenaran. Berdoa sebenarnya bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Dalam kenyataannya, banyak orang Kristen yang tidak sanggup menyediakan waktu secara teratur menjumpai Allah. Mereka tidak sanggup duduk diam di kaki Tuhan lebih dari 15 menit. Ironis lagi, para teolog yang bisa berjam-jam di ruang perpustakaan, 10 menit pun tidak bisa diam di kaki Tuhan guna mengalami atau mengadakan perjumpaan dengan Allah. Sehingga, mereka memiliki pengetahuan Alkitab tanpa spirit atau roh yang bisa mengubah jemaat. Dalam perjumpaan dengan Allah, banyak hal yang terjadi di luar pengertian kita. Secara adikodrati, Allah mengubah kita melalui perjumpaan-perjumpaan dengan-Nya dalam doa. Itulah sebabnya doa adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan secara teratur dan konsisten.
    Akhirnya, untuk mengalami kemerdekaan dari kodrat dosa,
    0 min
  • Irama Hidup yang Permanen
    Perjalanan hidup seseorang seperti sebuah irama. Jika irama tersebut sudah terbentuk, maka sulitlah diubah. Apalagi jika irama tersebut sudah terbentuk dalam waktu lama, perlu usaha untuk mengadakan perubahan dalam waktu yang lama juga dan kerja keras. Itulah sebabnya, seseorang tidak bisa baik mendadak atau jahat mendadak. Kalau irama hidup seseorang itu baik, tidak mudah orang itu mendadak menjadi jahat. Sebaliknya, kalau orang itu berkarakter jahat, maka tidaklah mudah berubah menjadi baik dalam waktu singkat. Dalam hal ini, kehendak bebas masing-masing individu menentukan irama hidupnya. Selain lingkungan, waktu juga menentukan pembentukan irama hidup yang dimiliki seseorang. Oleh sebab itu, kita bukan hanya memperhatikan lingkungan yang dapat memengaruhi keadaan hidup kita, tetapi juga memperhatikan waktu atau kesempatan yang Tuhan berikan untuk membangun irama hidup yang baik. 
    Dalam hal ini, waktu bisa menjadi berkat atau anugerah, bila digunakan untuk membangun irama hidup yang baik; tetapi waktu juga bisa menjadi kutuk atau laknat, kalau tidak digunakan untuk membangun irama hidup yang baik. Dalam suratnya kepada jemaat Efesus, Rasul Paulus menasihati demikian: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan” (Ef. 5:15-17). Kalimat “perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup” dalam teks aslinya sebenarnya bermaksud mengatakan agar kita memperhatikan “bagaimana kita berkebiasaan.” Kebiasaan hidup kita adalah irama kita yang bisa menjadi permanen jika hal itu dilakukan terus-menerus.
    Kenyataan dalam kehidupan pada masa sekarang ini, orang lebih mudah menjadi jahat daripada menjadi baik. Karena dunia dan lingkungannya sangat jahat, lebih mudah orang menjadi jahat daripada menjadi baik. Tidak dibutuhkan waktu lama untuk membuat seseorang menjadi jahat. Tetapi sangatlah sulit menjadi orang baik dalam waktu singkat, maupun dalam waktu yang panjang. Situasi dunia hari ini lebih kuat atau lebih cenderung membuat orang menjadi jahat daripada menjadi baik. Bukan tanpa alasan kalau Tuhan Yesus berkata, kalau Ia datang pada kedatangan-Nya yang kedua kali, apakah Ia mendapati iman di bumi? (Luk. 18:8). Maksud pernyataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa di akhir zaman, akan sangat sedikit orang yang benar-benar memiliki kehidupan yang berkenan kepada-Nya. Hal ini sinkron dengan apa yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 24:12-13.
    Banyak orang Kristen yang tidak menyadari hukum kehidupan mengenai “tabur tuai,” bahwa segala sesuatu yang ia tabur, ia akan tuai. Artinya, segala sesuatu yang dilakukan, pasti akan berdampak. Kalau seseorang menabur dalam waktu panjang suatu kebiasaan hidup yang baik atau lurus, dia akan memiliki kebaikan atau kelurusan hidup sampai mati, bahkan dibawa sampai di kekekalan. Tetapi kalau seseorang menabur dalam waktu yang panjang kehidupan yang jahat atau bengkok, maka kejahatan atau kebengkokan tersebut merupakan tuaian yang akan dia miliki dan menjadi keberadaannya yang tidak bisa diubah, baik di bumi maupun di kekekalan. Dalam hal ini, waktu hidup yang kita jalani dan kebiasaan hidup yang berlangsung memberi nilai kekal, artinya segala sesuatu yang kita lakukan sekarang ini dalam perjalanan waktu menentukan keadaan kekal kita nanti. Dengan demikian, persiapan dimulai sejak hidup di bumi, entah kekekalan yang membahagiakan atau kekekalan yang menyakitkan. Banyak orang yang tidak menyadari hal ini sehingga mereka mengisi hidupnya secara sembarangan atau ceroboh. Mereka tidak sadar bahwa mereka sedang membangun kekekalan yang dahsyat.
    Jadi, kalau dalam waktu yang panjang seseorang telah membentuk suatu kebiasaan hidup, hal itu merupakan keberadaan yang permanen di dalam hidupnya. Itulah sebabnya, seseorang yang ada di ujung maut tidak mungkin m...
    0 min
  • Tidak Bisa Baik Mendadak
    Ada pula orang yang berpikir bahwa sebelum dirinya meninggal dunia, ia akan terlebih dahulu bertobat. Pemikiran seperti ini dibangun di atas penafsiran yang salah terhadap peristiwa di atas Bukit Golgota, yaitu mengenai penjahat di samping salib Yesus. Di akhir hidupnya, penjahat di samping salib Yesus meminta agar dirinya diingat oleh Yesus kalau Dia datang sebagai Raja. Respons Tuhan terhadap penjahat yang satu ini adalah bahwa ia akan dibawa ke Firdaus pada hari itu juga.  Berdasarkan kisah tersebut, banyak orang Kristen berpikir bahwa di akhir kehidupan seseorang, kalau ia mau bertobat, ia akan masuk surga juga.
    Sebenarnya penjahat di samping salib Yesus ini sangat besar kemungkinan adalah seorang penjahat politis, bukan penjahat kriminal. Penjahat politis adalah orang-orang yang dianggap jahat karena memberontak kepada kekaisaran Roma guna memperoleh kemerdekaan dari kekuasaan Roma. Mereka adalah orang-orang yang bergerilya melawan kekaisaran Roma dan kelompok mereka disebut sebagai Zelotisme atau orang-orang Zelot. Salah satu murid Yesus bernama Yudas adalah orang Zelot. Ini bukan Yudas Iskariot. Kemerdekaan yang diupayakan oleh orang-orang Zelot ini adalah kemerdekaan politis. Bisa dipastikan bahwa penjahat politis di samping salib Yesus adalah orang yang telah mendengar banyak tentang Yesus dari Yudas orang Zelot. Itulah sebabnya, penjahat politis tersebut mengetahui bahwa Yesus akan datang sebagai Raja.
    Penjahat politis tersebut tahu bahwa Yesus tidak bersalah. Dialah satu-satunya orang yang membela Yesus di atas Bukit Golgota, sementara murid-murid Yesus melarikan diri meninggalkan Gurunya. Bahkan, ada di antara murid-murid Yesus—selain Yudas yang berkhianat—juga terdapat Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Penjahat politis itu mengaku bahwa dirinya adalah orang berdosa atau orang bersalah. Juga tentu dengan suara lantang berkata bahwa Yesus tidak bersalah. Ia juga tidak minta dirinya diturunkan dari kayu salib, walaupun ia juga sangat menderita. Ia malah meminta agar Yesus mengingatnya kalau Dia datang sebagai Raja. Penjahat di samping salib Yesus ini sudah memikirkan kehidupan yang akan datang, yaitu langit baru bumi baru. Jadi, penjahat politis di samping salib Yesus bukan orang sembarangan yang tidak boleh disamakan dengan kebanyakan orang.
    Penjahat politis tersebut berbeda dengan banyak orang yang mau meninggal dengan mudah, meminta pengampunan atas dosa-dosanya, dan berharap ia akan mendapatkan pengampunan dan diperkenan masuk surga. Ini adalah pikiran yang sempit, bodoh, dan menyesatkan. Faktanya, memang orang tidak pernah tahu kapan menit terakhir hidupnya. Banyak orang yang mengalami kematian mendadak, baik oleh karena sakit, kecelakaan, dan berbagai kausalitas lainnya. Tentu saja orang-orang seperti ini tidak akan pernah sempat bertobat. Kematian bisa datang menyergap tanpa diketahui atau tanpa dapat diprediksi terlebih dahulu. Realitas ini mestinya membuat kita menjadi gentar dan berjaga-jaga. Sikap berjaga-jaga adalah usaha untuk selalu memeriksa diri, membereskan semua dosa dan kesalahan, serta menyelesaikan pekerjaan yang Allah percayakan kepadanya, agar dirinya bisa berkenan kepada Allah (Mat. 25:13).
    Hukum kehidupan yang tidak bisa disangkal adalah bahwa seseorang tidak bisa baik mendadak atau jahat mendadak. Mengingat keadaan dunia yang semakin rusak, maka lebih mudah orang menjadi jahat daripada menjadi baik. Kalau orang memang pada dasarnya jahat dan terus hidup di dalam kejahatan, tidak mungkin ia dapat memiliki pertobatan yang secara ajaib mengubah hidupnya. Kalau seseorang itu memang orang baik, sangat besar kemungkinan di ujung maut ia bisa lebih membereskan dirinya sehingga dirinya akan masuk langit baru bumi baru. Aspek lain yang tidak boleh dilupakan bahwa mereka yang masuk surga bukan hanya mereka yang menerima pengampunan dari dosa-dosa mereka, tetapi juga harus memiliki keberadaan batin yang baik atau karakter yang tidak menyakiti sesama. Sebab,
    0 min
  • Selagi Masih Ada Kesempatan
    Dalam kehidupan orang Kristen, yang menjadi pemicu mereka menunda pertobatan adalah pemikiran bahwa selalu ada kesempatan untuk bertobat dan mengalami perubahan. Padahal, kenyataan sebenarnya tidak selalu ada kesempatan untuk bertobat dan mengalami perubahan. Tidak seorangpun tahu kapan akhir perjalanan hidupnya, sehingga sebenarnya tidak seorangpun tahu kapan kesempatannya untuk bertobat dan berubah, sampai tidak akan ada lagi. Kuasa gelap menipu banyak orang dengan suara bahwa nanti selalu masih ada kesempatan untuk bertobat dan berubah. Padahal, sering kesempatan itu akan segera lenyap dan tidak pernah kembali lagi. Usaha kuasa gelap dimaksudkan agar orang Kristen tidak berjaga-jaga dengan sungguh-sungguh, dan tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk bertumbuh. Maka sebagai akibatnya, kehilangan kesempatan sama sekali. Fakta yang tak dapat dibantah bahwa kuasa gelap telah berhasil menipu banyak orang sehingga mereka menyia-nyiakan kesempatan yang Allah berikan. Hal tersebut mengakibatkan kebinasaan atas diri mereka sendiri. Dengan cara ini, kuasa gelap berhasil memisahkan manusia dari Allah Bapa.
    Dalam Alkitab, kita menemukan kisah-kisah tradisi mengenai orang yang tidak memiliki kesempatan lagi untuk memperoleh berkat. Dalam Ibrani 12:15-17 tertulis, “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Ayat-ayat ini mengungkapkan kisah tragis dari Esau yang dengan cerobohnya menukar hak kesulungannya dengan semangkuk makanan. Ketika Esau menyadari kesalahannya dan mencoba untuk memperbaikinya, ia tidak memiliki kesempatan lagi. Ini benar-benar suatu ketragisan yang tak terbayangkan. 
    Kalimat “tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya” dalam ayat di atas menunjukkan kenyataan pahit yang bisa dialami oleh setiap orang. Nasihat ini diberikan agar orang percaya jangan mengalami pengalaman pahit seperti yang dialami oleh Esau.  Oleh sebab itu, kita tidak boleh berpikir bahwa Allah sudah menentukan orang untuk diselamatkan, dan mereka yang ditentukan tidak mungkin bisa binasa. Kenyataannya, ada orang yang mestinya memiliki hak kesulungan sebagai anak-anak Allah dapat melepaskan hak kesulungan itu demi kesenangan atau percintaan dunia. Faktanya, hari ini dapat dilihat banyak orang Kristen yang telah hanyut dalam berbagai kesenangan dunia dengan segala hiburannya sehingga tidak menghargai nilai-nilai rohani. Hal ini sama dengan tidak menghormati Tuhan dan tidak menghargai nilai-nilai kekekalan di dalam Kerajaan Surga.
    Kita harus selalu berpikir bahwa “seolah-olah hari ini adalah hari terakhir kita.” Dan memang faktanya, hal itu bisa benar-benar terjadi. Dengan berpikir demikian, kita akan berusaha untuk memanfaatkan kesempatan yang ada untuk perubahan guna menyenangkan hati Allah dengan hidup sesuai kehendak dan rencana Allah. Sering kali, karena setiap hari bisa datang dan pergi, banyak orang menjadi ceroboh. Banyak orang berpikir bahwa setiap hari ia akan memperoleh hari yang baru. Banyak orang tidak menyadari bahwa suatu saat, ia tidak akan lagi melihat matahari yang terbit di ufuk Timur, dan tidak lagi dapat menghirup segar sebab akhir hidupnya telah sampai. Tidak seorangpun tahu kapan hari terakhir hidupnya. Jadi, sangatlah tepat dan bijaksana kalau kita berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhir kita.
    Kita harus memandang bahwa setiap hari sangat berharga sebagai kesempatan untuk belajar mengalami perubahan, agar kita bisa menjadi anak-anak Allah yang sungguh-sungguh menyukakan hati Bapa.
    0 min
  • Keberhargaan Sementara
    Pada umumnya, kita semua mengakui bahwa sebagai orang percaya, kita juga adalah anak-anak Allah yang berharga di mata Allah. Keberadaan kita di mata Allah sering dikemukakan sebagai suatu yang unggul, seakan-akan dengan status tersebut, secara otomatis kita menjadi “aman.” Banyak orang Kristen berpikir bahwa sampai kapan pun dirinya adalah orang yang berharga di mata Allah tanpa ada limit waktu. Ditambah lagi dengan kenyataan Allah Bapa memberi Putra Tunggal-Nya untuk keselamatan manusia. Hal ini sangat meneguhkan hati bahwa memang orang percaya itu berharga di mata Allah. Tetapi banyak orang tidak tahu bahwa keberadaan kita di mata Allah itu temporal, artinya ada batas waktunya. Firman Tuhan mengatakan, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!” (Yes. 55:6). 
    Orang percaya harus tahu bahwa memang orang percaya adalah orang yang berharga di mata Allah, tetapi keberhargaan orang percaya terbatas waktunya, yaitu selagi masih bisa dibentuk atau diubah menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Tetapi kalau orang percaya sudah tidak bisa dibentuk lagi, maka ia tidak berharga lagi. Analoginya seperti tanah liat yang masih basah, berarti masih bisa dan mudah dibentuk, maka tanah liat tersebut berharga sebab masih dapat dibentuk. Tetapi kalau tanah liat sudah menjadi keras, tidak bisa lagi dibentuk. Jika sudah berkeadaan seperti itu, tanah liat tersebut menjadi tidak berharga dan dibuang sebagai sampah. Oleh sebab itu, selagi masih ada kesempatan untuk diubah, kita harus memberi diubah dan benar-benar mengalami perubahan. Orang percaya yang terus mengalami perubahan berharga di mata Allah sampai menjadi bejana yang indah atau menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah, maka menjadi “perkakas abadi” dalam Rumah Allah. 
    Menjadi bejana yang indah bukan hanya menjadi seorang yang telah menyelesaikan semua kesalahan atau dosa, tetapi juga telah diproses sehingga kodrat atau dorongan dosa yang ada di dalam dirinya telah dikikis. Ini berarti seseorang yang menjadi bejana indah haruslah mengalami perubahan dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Orang yang berkodrat ilahi adalah orang-orang yang berhenti berbuat dosa. Ini adalah bejana yang sudah jadi indah atau sudah terbentuk. Proyeksi kehidupan orang percaya mestinya hanya ini, yaitu bagaimana menjadi bejana yang indah di mata Allah. Bejana yang indah adalah pribadi orang percaya yang mendapat pengakuan oleh Allah Bapa sendiri, bahwa dirinya berkenan di hadapan Allah.
    Kalau seseorang hanya menyelesaikan perbuatan-perbuatan dosanya dengan memohon pengampunan tetapi tidak menyelesaikan kodrat dosanya, maka karakter dosanya akan masih melahirkan perbuatan-perbuatan dosa. Ini adalah bejana-bejana yang belum menjadi indah atau belum terbentuk. Banyak orang Kristen merasa kalau dirinya sudah menyelesaikan dosanya dengan meminta ampun, ia tetap menjadi seorang yang berharga di mata Allah. Meminta pengampunan dosa sehingga perbuatan dosa telah diampuni bukan berarti keberadaan dosa kita sudah selesai. Orang percaya harus bertindak bukan saja meminta ampun atas dosa kesalahan, melainkan juga harus menyelesaikan kodrat dosa dengan proses pendewasaan.
    Kalau surga dihuni oleh orang-orang yang hanya menyelesaikan perbuatan dosanya dengan meminta ampun sementara kodrat dosanya tidak diselesaikan, maka surga menjadi tempat orang-orang yang berpotensi berbuat dosa. Itulah bejana-bejana yang belum indah atau belum terbentuk. Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya menyelesaikan perbuatan-perbuatan dosa yang telah kita lakukan, melainkan juga potensi dosa di dalam kodrat dosa yang ada di dalam diri kita. Penggarapan kodrat dosa di dalam diri kita itu sama dengan pembentukan diri untuk menjadi bejana yang indah. Selama seseorang masih bisa diubah menjadi bejana yang indah, maka ia berharga di mata Allah. Tetapi kalau sudah tidak bisa dibentuk lagi, ia tidak berharga di mata Allah.
    0 min
  • Berkualifikasi Perawan Suci
    Di dalam Alkitab, Paulus berbicara mengenai perawan suci yang dikenakan bagi orang percaya. Orang percaya dilukiskan sebagai tunangan atau mempelai wanita bagi mempelai pria, yaitu Tuhan Yesus. Orang percaya dikehendaki untuk menjadi manusia yang berkualitas sebagai perawan suci (2Kor. 11:2-3). Pengertian “perawan” secara umum adalah wanita yang masih belum pernah melakukan hubungan badan dengan pria. Tetapi dalam konteks Alkitab Perjanjian Baru, “perawan suci” artinya orang yang tidak ternodai oleh percintaan dunia dan dosa. Ketika suatu saat berhadapan dengan Tuhan, orang percaya yang layak disebut sebagai perawan suci adalah mereka yang benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela, yang hatinya  tidak terikat dengan dunia ini dan menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan dan tujuan hidup ini. Perawan Suci adalah orang percaya yang tidak tersandera oleh dunia dengan segala hiburannya, dan juga tidak tersandera oleh kodrat dosa di dalam dirinya.
    Tidak mudah menjadi perawan suci di hadapan Allah, karena kita adalah orang-orang yang sudah ternoda oleh dunia dan terbelenggu oleh kodrat dosa di dalam diri kita. Itulah sebabnya, setelah kita mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita harus sungguh-sungguh dimuridkan dan mengalami proses pendewasaan atau proses penyempurnaan untuk serupa dengan Yesus. Yesus adalah standar kecantikan rohani sebagai perawan suci di hadapan Allah. Banyak orang Kristen yang berpikir bahwa kalau seseorang percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam keyakinan di dalam pikiran, maka itu sudah cukup menyelamatkan dan menjadikannya mempelai Tuhan Yesus. Oleh karena kesalahan berpikir ini, tidak ada usaha yang sungguh-sungguh untuk mengerjakan keselamatannya. Itulah sebabnya, banyak orang Kristen yang tidak mengalami atau menjalani proses pemulihan atau proses pendewasaan yang membawa dirinya dapat menjadi perawan suci yang layak bagi Yesus Kristus sebagai Mempelai Pria.
    Kalau Yesus adalah Mempelai Pria, maka mempelai wanita harus memiliki kualifikasi yang dapat mengimbangi keagungan pribadi Sang Mempelai Pria.  Karenanya, kita sebagai mempelai wanita harus berani mempersoalkan, apakah kita layak bersanding dengan Yesus, Sang Mempelai Pria. Firman Tuhan mengatakan agar kita kudus seperti Allah kudus. Maksud ayat firman Tuhan tersebut adalah kita harus bisa mengimbangi kekudusan Allah supaya kita dapat mengambil bagian dalam persekutuan dengan Dia, layak tinggal di dalam Dia dan Dia di dalam kita. Firman Allah sendiri yang mengatakan agar kita keluar dari persekutuan dengan orang-orang jahat dan tidak menjamah apa yang najis, maka Allah barulah dapat menerima kita sehingga kita menjadi anak-anak-Nya laki-laki dan anak-anak-Nya perempuan (2Kor. 6:17-18). Hal ini tidak bisa dibantah, bahwa orang percaya harus menjadi kudus seperti Allah kudus. Disebut sebagai perawan suci, suci; tidak ternoda atau tidak bercela. Jadi perawan suci berarti orang percaya yang tidak bernoda dan tidak bercela. Kudus seperti Tuhan Allah, Bapa orang percaya.
    Perjuangan untuk menjadi mempelai wanita yang layak bagi Kristus, Sang Mempelai Pria, bukanlah perjuangan yang mudah. Perjuangan ini menuntut seluruh hidup kita untuk dipertaruhkan. Itu berarti harus segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, dan segenap akal budi untuk memperjuangkan pencapaian sebagai perawan suci di hadapan Allah. Menjadi perawan suci di hadapan Allah agar kita layak sebagai mempelai wanita bagi Kristus, bukan sesuatu yang dapat terjadi atau berlangsung secara otomatis atau dengan sendirinya. Banyak orang Kristen berpikir bahwa setelah mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, otomatis dia menjadi mempelai Tuhan. Betapa mengerikan keadaan orang-orang Kristen seperti ini, yang nanti pada akhirnya ternyata tidak dikenal oleh Tuhan Yesus. Mengapa tidak dikenal oleh Tuhan Yesus? Sebab tidak melakukan kehendak Bapa. Mempelai wanita yang berstatus sebagai perawan suci di hadapan Allah adalah mereka yang m...
    0 min
  • Menentukan Nasib Kekalnya Sendiri
    Hendaknya kita tidak berpikir bahwa setelah di balik kubur atau setelah orang meninggal, masih ada kesempatan untuk diampuni atau diubah nasibnya. Ketika seseorang jantungnya berhenti berdetak, itulah akhir dari segala-galanya. Artinya, tidak ada kesempatan untuk bertobat, diperbaharui, dan berekonsiliasi dengan Allah. Tidak ada manusia sehebat apa pun di bumi ini yang dapat mengubah nasib kekal seseorang setelah orang itu meninggal dunia. Tidak ada ritual atau seremonial apa pun yang bisa mengubah nasib kekal seseorang setelah orang itu meninggal dunia. Tidak ada amal kebajikan sehebat apa pun yang dapat mengubah nasib kekal seseorang yang sudah meninggal dunia. Itulah sebabnya, firman Tuhan mengatakan agar umat mencari Allah selagi ada kesempatan atau selagi Allah dapat ditemui. Allah memang panjang sabar, tetapi hanya “panjang,” bukan “tidak terbatas.” Ketika seseorang meninggal, itulah batas kesabaran Allah, yaitu kalau seseorang tidak bertobat, maka kekallah dosanya dan pasti binasa. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.
    Orang percaya harus menolak semua ajaran yang berindikasi seakan-akan boleh ada upaya untuk mengubah nasib kekal orang-orang yang sudah meninggal dengan doa, ritual, dan berbagai seremonial. Pengajaran yang memperkenalkan praktik seperti itu membuat orang percaya tidak bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan nasib kekalnya di balik kubur karena masih memiliki harapan bahwa orang-orang yang masih hidup pada waktu dirinya meninggal dapat mengubah nasibnya. Inilah yang membuat banyak orang tidak memiliki perasaan krisis terhadap kekekalan dan pertanggungjawaban di hadapan takhta pengadilan Allah. Hamba Tuhan yang benar tidak akan mendoakan orang yang sudah meninggal agar diterima di sisi Tuhan pada waktu memimpin acara pemakaman atau kebaktian penghiburan orang meninggal.
    Ada dua hal yang sangat prinsip dalam kehidupan menyangkut nasib kekal seseorang. Pertama, setiap orang bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Tidak ada manusia yang bisa menentukan nasib sesamanya. Sejak hidup di bumi, memang kita bisa memengaruhi atau bisa memberi dampak nasib kekal seseorang. Tetapi kalau seseorang sudah meninggal dunia, maka nasib kekal orang itu ditentukan oleh apa yang telah dilakukannya selama ia hidup di bumi (2Kor. 5:9-10). Kedua, setelah seseorang meninggal dunia merupakan keadaan permanen yang tidak bisa diubah oleh siapa pun, bahkan Allah sendiri tidak akan dapat mengubah nasib kekal orang tersebut. Sebab, setelah seseorang meninggal dunia, ia harus menanggung segala sesuatu akibat perbuatannya selama ia hidup di bumi. Tidak ada manusia yang masih hidup dengan cara apa pun dapat mengubah nasib kekal orang yang sudah meninggal. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.
    Realitas nasib kekal seseorang seperti yang dijelaskan di atas, mestinya menggetarkan jiwa kita dan membuat kita untuk segera bebenah diri agar kita bisa memetakan nasib kekal kita sejak sekarang. Kita harus bangkit dari ketertiduran kita atau ketidaksadaran kita terhubung dengan segala kenikmatan hidup yang diberikan dunia kepada kita. Kuasa gelap berusaha agar orang-orang Kristen terlena dengan keindahan dunia dan segala hiburannya, sehingga tidak mempersiapkan diri menghadapi kekekalan yang dahsyat. Kenyataan yang dapat kita saksikan hari ini, betapa berhasilnya Iblis mengecoh manusia sehingga mereka benar-benar terlena dan tersandera oleh kuasa gelap, serta tergiring ke dalam kegelapan abadi. Terkait dengan hal ini, kita bisa menghayati betapa berharganya waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan kepada kita untuk membenahi diri guna mempersiapkan kehidupan kekal.
    Banyak orang Kristen yang tidak menyadari hal ini,
    0 min
  • Satu-Satunya Agenda Hidup
    Ketika gereja terjebak oleh aktivitas olah nalar dalam teologi semata-mata sehingga tidak menekankan pengalaman pribadi dan riil serta langsung dengan Allah, maka gagasan-gagasan teologi tersebut hanya menjadi fantasi, dan surga tidak akan menjadi tujuan secara proporsional. Keadaan ini telah berlangsung selama berabad-abad, hingga kekristenan yang diwarisi orang-orang Kristen hari ini adalah kekristenan yang sebenarnya telah menyimpang dari Injil yang sejati yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dan yang diteruskan oleh rasul-rasul-Nya. Sebagai buktinya, dalam berteologi, implikasi dari kehidupan Kristen tidak dikemukakan secara proporsional. Lebih banyak teori yang disajikan menjadi bahan diskusi, dan mengisi buku-buku di perpustakaan. Kehancuran hidup kekristenan nyata di dunia Barat, dimana kekristenan pernah berjaya. Hal ini menunjukkan bahwa tugas para reformator belumlah selesai. Seharusnya, kita sebagai penerus reformasi harus meletakkan landasan yang lebih kokoh dalam dinamika kehidupan yang terus berubah, dimana dunia semakin jahat.
    Kita tidak boleh terjebak oleh pola kekristenan yang telah menyimpang, yang hanya melahirkan teolog-teolog yang cakap berdebat dan berapologet, namun miskin dalam peragaan kehidupan sebagai anak-anak Allah, dimana Yesus menjadi modelnya. Setiap orang percaya harus memiliki geliat yang sungguh-sungguh untuk mengalami Allah, artinya mengalami perjumpaan dengan Allah, dan menerima bimbingan Roh Kudus secara nyata sehingga mengenal kekristenan yang sejati dari Tuhan sendiri. Jika orang percaya mengalami perjumpaan dengan Allah dan menerima bimbingan Roh Kudus secara nyata, mereka barulah dapat mengerti betapa hebat kesesatan yang telah terjadi dalam lingkungan gereja yang justru dilakukan oleh atau melalui teolog-teolog dan pemimpin-pemimpin gereja yang memiliki latar belakang pendidikan formal teologi. Tentu tidak semua teologi itu sesat dan tidak semua orang yang berlatar belakang pendidikan dengan format teologi itu menjadi alat kuasa dunia. Tetapi faktanya, tidak sedikit dari mereka yang benar-benar telah menjadi alat kuasa dunia untuk merusak kekristenan yang sejati. 
    Kebenaran kekristenan tidak boleh hanya diukur dari pandangan teologi yang selama ini dianggap benar. Tidak sedikit pandangan teologi yang sebenarnya harus direvisi tetapi tidak direvisi, dianggap sudah permanen benar dan terus “digoreng” seperti saham yang dianggap sudah bernilai tinggi, padahal sebenarnya tidak. Penipuan seperti ini telah berlangsung selama berabad-abad, sehingga banyak pandangan teologi yang dianggap baku dan permanen benar, ternyata tidak bisa menyelamatkan umat Kristen pada zaman sekarang. Bukti yang tidak bisa dibantah pula, banyak gereja tidak lagi memperkarakan kesucian hidup dan fokus kepada kehidupan yang akan datang, yaitu langit baru dan bumi baru.
    Bukti lain daripada kemelesetan kehidupan Kristen zaman sekarang adalah keselamatan hanya menjadi teori yang dibukukan dan dirumuskan dalam doktrin, tetapi tidak dialami. Padahal, kualitas hidup seseorang sangat menentukan keadaan kekalnya nanti. Kalau sejak hidup di bumi tidak memiliki kualitas sebagai anak-anak Allah, artinya berkeadaan seperti anak-anak dunia, yaitu hidup di dalam kewajaran seperti manusia lain, pastilah tidak akan dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga dan tidaklah patut dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Ironisnya, banyak orang Kristen yang yakin bahwa dirinya pasti selamat, bahkan berani yakin akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Padahal, kalau ditinjau dari kualitas hidupnya hari ini, sangatlah tidak layak dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus.
    Oleh sebab itu, perlu diserukan kepada orang-orang Kristen untuk memeriksa hidupnya sekarang, apakah dengan keadaan sekarang ini, ia layak dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Ini adalah hal yang paling krusial, lebih dari segala sesuatu. Lebih dari masalah kesehatan, lebih dari masalah ekonomi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…