Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Berjaga-jaga terhadap Tipu Muslihat Iblis
    Karena Allah mengasihi manusia, maka Allah bekerja dalam segala sesuatu guna mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. “Kebaikan” di sini adalah menjadi serupa dengan Yesus. Kasih Allah diwujudkan dalam tindakan-Nya mengondisi orang percaya mengalami berbagai pergumulan. Memang hal ini sukar dimengerti, tetapi inilah fakta yang dialami setiap orang yang mengasihi Dia (Rm. 8:28). Tindakan Allah tidak mudah dipahami. Tetapi kalau kita percaya dan belajar mengerti, kita akan memahami maksud-maksud Allah yang sangat cerdas dan bijaksana melalui segala pergumulan yang kita alami. Ternyata, keadaan-keadaan yang sulit yang dialami orang percaya dimaksudkan untuk mendewasakan. Keadaan-keadaan sulit yang dikemukakan oleh Paulus dalam Roma 8:35-36, antara lain: penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan atau ketelanjangan, bahaya pedang, bahaya maut sepanjang hari, dan dianggap sebagai domba-domba sembelihan. Hal-hal ini justru menunjukkan mereka lebih dari orang-orang yang menang. Sehingga, orang percaya dilayakkan untuk dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Idealnya, bagi orang percaya, keadaan-keadaan yang sulit tidak dapat merenggut kebahagiaan hidup. Inilah yang salah dimengerti oleh banyak orang Kristen. Banyak orang yang berpikir bahwa keadaan yang sulit selalu sebagai serangan Iblis yang membuat seseorang tidak bahagia. Jadi, kalau mereka berkeadaan tidak menyenangkan, mereka merasa sebagai orang-orang yang kalah. Keadaan yang sulit justru menyempurnakan karakater orang percaya.
    Pada zaman Musa, bagi Allah tidak sulit untuk menaklukkan Mesir dengan kuasa-Nya. Tetapi sangatlah sulit bagi Allah menghadapi kekerasan hati dan tegar tengkuknya bangsa Israel, sehingga sulitlah bagi Elohim Yahweh tersebut untuk dapat menaklukkan karakter bangsa Israel agar mereka dewasa dan dapat mewarisi Kanaan. Hal ini paralel atau sama dengan kehidupan orang Kristen. Allah tidak sulit menyelesaikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi orang Kristen. Adalah mudah bagi Allah untuk membuat orang Kristen bisa melewati berbagai kesulitan hidup. Juga hal yang sangat mudah bagi Allah melimpahi orang percaya dengan berkat materi, menjadikan mereka berkedudukan, berpangkat, dan terhormat. Sangat mudah bagi Allah membuat orang Kristen menonjol dalam bidang-bidang kehidupan yang digumuli manusia, baik bidang politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Tetapi, menjadi hal yang tidak mudah bagi Allah untuk mengubah hati orang Kristen yang masih memiliki banyak keinginan, sehingga hati mereka menjadi tempat berpijak Iblis. Untuk ini, hendaknya orang Kristen tidak terkecoh dengan tawaran Iblis untuk menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmati dunia sekarang ini. Harus selalu diingat bahwa mengingini dunia berarti sama dengan menyembah Iblis (Luk. 4:5-8). Kalau orang percaya di gereja perdana pada abad mula-mula dimurnikan melalui penganiayaan, tetapi orang percaya di zaman sekarang ini harus dengan tekad dan komitmen yang bulat meninggalkan percintaan dunia.
    Dalam Lukas 4:6 tertulis bagaimana Yesus tidak membantah ketika Iblis menyatakan bahwa ia memiliki kekuasaan atas materi, yaitu dunia. Iblis menyatakan bahwa dirinya dapat memberikan kekayaan kepada siapa saja yang dikehendakinya. Jadi, kekayaan dunia ini dapat menjadi umpan yang sangat baik dan menyenangkan untuk menjerat manusia agar tidak mengikuti jalan Tuhan. Cara inilah yang dipakai oleh Iblis untuk mencoba menjerat Yesus. Iblis berusaha “membeli” orang Kristen dan menyita imannya dengan menggunakan harta dunia ini. Dari hal ini, iman sejati orang Kristen pun dirusak. Hal inilah yang tidak dipahami oleh banyak orang Kristen, bahkan para pendeta atau hamba-hamba Tuhan. Banyak orang Kristen telah terlalu jauh menolerir praktik hidup yang sebenarnya sangat duniawi menurut kebenaran Alkitab. Bahkan, banyak kegiatan-kegiatan pelayanan rohani atau kegiatan gereja yang ternyata digerakkan oleh gairah duniawi dengan banyak motivasi yang tidak sesuai dengan p...
    0 min
  • Kebahagiaan yang Sejati
    Kalau kebahagiaan hanya dipahami sebagai keadaan baik dimana manusia memperoleh pemenuhan kebutuhan jasmani, berarti kebahagiaan yang dipahami tidak sesuai dengan kebahagiaan versi Tuhan. Biasanya, orang-orang yang pikirannya tertuju kepada pemenuhan kebutuhan jasmani adalah orang-orang yang egois dan duniawi, bahkan bisa menjadi kejam terhadap sesama. Inilah yang dimaksud Paulus dengan orang-orang yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi (Flp. 3:19). Mereka tidak melayani Tuhan, tetapi melayani diri sendiri. Bahkan bila berurusan dengan Tuhan pun hanya karena bermaksud menggunakan Tuhan untuk kepentingan pemuasan diri sendiri, yaitu pemenuhan kebutuhan jasmani. Ini berarti Tuhan dijadikan alat untuk melayani dirinya. Orang-orang seperti ini tidak pernah mengenal kebahagiaan hidup yang sejati. Mestinya, sekalipun tidak terpenuhinya kebutuhan jasmani, asal proses kehidupan untuk menjadi semakin seperti Kristus berlangsung, hal tersebut dipandang tidak masalah sama sekali. Lebih dari masalah tidak salah dalam memilih jodoh, sukses dalam karier, berhasil dalam bisnis, dan segala sesuatu yang baik bertalian dengan pemenuhan kebutuhan jasmani, menjadi semakin serupa dengan Tuhan Yesus adalah hal yang terutama dalam hidup. Sejatinya, Tuhan adalah sumber kebahagiaan. 
    Suatu kebahagiaan kalau seseorang menjadi seperti Tuhan dan berguna bagi kemuliaan-Nya. Ini sejajar dengan pernyataan Tuhan Yesus bahwa tidak ada yang baik selain Tuhan. Kalau seseorang memandang kebahagiaan demikian dan berusaha mencapainya, berarti ia telah mengikuti Yesus dengan benar. Dan sebagai hasilnya, ia bergaya hidup seperti Yesus. Berkenaan dengan kebahagiaan—yaitu menjadi serupa dengan Yesus—hal ini tidak bisa terjadi dengan sendirinya dan dalam waktu singkat. Allah tidak mengadakan “sulap” untuk mengubah umat pilihan-Nya yang mengasihi Dia. Melalui perjalanan waktu yang panjang, orang percaya yang mengasihi Tuhan diproses melalui segala peristiwa untuk menjadi serupa dengan Yesus. Perubahan dapat terjadi setelah seseorang menerima didikan Bapa dalam waktu yang panjang. Kalau orangtua di bumi ini mendidik dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka pandang baik, tetapi Bapa di surga menghajar orang percaya agar dapat mengambil bagian dalam kekudusan-Nya dalam proses sepanjang umur hidup. Dari hal ini, berlaku pernyataan “indah pada waktunya.”
    Indah pada waktunya berarti pada waktu setelah mengalami proses pembentukan, seseorang menjadi serupa dengan Yesus sehingga layak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:21). Kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus adalah puncak kebahagiaan dimana lutut setiap orang percaya bertelut dan setiap lidah mengaku bahwa Yesus adalah Tuhan bagi kemuliaan Allah Bapa. Pada akhirnya, kebahagiaan adalah hasil kerjasama antara manusia dan Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran. Berdirinya Kerajaan Allah pun melibatkan peran manusia, bahkan manusia juga turut serta mempercepat kedatangan Tuhan. 
    Banyak orang berkata bahwa kehidupan yang bahagia adalah terhindar dari kesulitan hidup, seperti juga yang dikemukakan oleh banyak pendeta dan pembicara hari ini. Menurut pandangan mereka, yang sebenarnya tidak tepat, kebahagiaan hidup ditandai dengan bebas dari masalah-masalah, problem dapat dapat dihindari, keuangan yang berlimpah, terhormat di mata manusia, memiliki pangkat, kedudukan, dan kekuasaan sehingga terhormat, menonjol dalam bidang-bidang tertentu baik di bidang politik, ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya. Ini yang dikatakan “menjadi kepala bukan ekor.” Pengertian kebahagiaan seperti ini adalah salah dan dapat menyesatkan. Karena hal inilah banyak orang Kristen gagal menjalani hidup kekristenannya, sehingga tidak pernah diselamatkan atau dikembalikan ke rancangan Allah semula. 
    Banyak orang Kristen menjadi frustasi karena merasa gagal mencapai kebahagiaan versi dunia pada umumnya.
    0 min
  • Kedewasaan Rohani Berstandar Kristus
    Kalau kita sungguh-sungguh mengusahakan untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela, atau mencapai kesucian Allah, hal itu harus dimulai dari hal-hal sederhana di dalam hidup kita—yang di mata Allah sebenarnya itu bukan hal yang sederhana melainkan hal yang besar, karena menyangkut sikap hati. Oleh sebab itu, setiap hari kita harus menggelar perkara di hadapan Allah kalau ada hal-hal yang tidak berkenan di hadapan Allah yang kita lakukan. Seakan-akan kita ada di hadapan pengadilan Kristus untuk mempertanggungjawabkan hidup kita. Hendaknya kita tidak menjadi bingung bila berbicara mengenai kesucian. Kesucian bukan sesuatu yang abstrak, melainkan sesuatu yang riil dan natural. Dimulai dari setiap kata yang kita ucapkan, setiap tindakan yang kita lakukan, setiap reaksi dan respons kita terhadap suatu keadaan atau seseorang. Di dalam segala hal tersebut, sikap hati kita bermain. Sikap hati inilah yang memberi kualitas atas kesucian hidup kita. 
    Hendaknya pikiran kita tidak disesatkan bahwa kesucian hanya dicapai oleh orang-orang tertentu dan julukan “orang suci” hanya untuk orang-orang tertentu. Semua kita harus mencapai kesucian Allah, dan bisa disebut sebagai orang suci di hadapan Allah. Allahlah yang melegalkan atau mensahkan seseorang sebagai orang kudus-Nya atau tidak, bukan manusia atau lembaga manapun. Kalau kita memperhatikan pola karya Allah di dalam Alkitab, Ia selalu bekerja dengan proses. Dari awal penciptaan alam semesta, panggilan Abraham sebagai nenek moyang umat pilihan dan orang percaya, lahirnya Israel sebagai suatu bangsa, bahkan iman pun datang dari pendengaran, pendengaran oleh Firman Allah (Rm. 10:17).
    Firman yang melahirkan iman di dalam diri kita bukan sesuatu yang secara otomatis atau mistis masuk di dalam diri kita, dan dengan sendirinya dapat memahami Firman Allah tersebut. Firman Allah dapat kita pahami melalui proses belajar yang tekun, itu baru dari aspek kognitifnya. Aspek lain yang membuat kita mengerti firman Allah adalah hati yang tidak mencintai dunia, artinya setia dalam hal mamon yang tidak jujur, hati yang haus dan lapar akan kebenaran, sebab hanya orang yang haus dan lapar akan kebenaran yang dipuaskan (Mat. 5:6), dan kesucian hidup. Sebab hanya orang yang suci hatinya yang akan melihat Allah (Mat. 5:8). Kata “melihat” dalam teks aslinya bukan melihat dengan mata, melainkan melihat dengan hati. Tanpa kesucian, tidak seorang pun dapat mengenal Allah. “Kesucian” di sini bukan berarti lalu kita menjadi sempurna dulu baru bisa mengerti kebenaran, melainkan harus memiliki komitmen untuk tidak melukai hati Allah. Sebab, Allah tidak akan memberikan mutiara-Nya kepada babi, dan barang yang kudus kepada anjing.
    Demikian pula ketika kita berjuang untuk memiliki kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani kita standarnya adalah Yesus sendiri. Kedewasaan rohani kita ditandai dengan kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Kedewasaan rohani kita ditandai dengan roh yang lemah lembut dan tenteram. Ini pasti kehidupan seseorang yang tidak melukai siapa pun dan tidak merugikan siapa pun, baik dengan kata maupun perbuatan. Kedewasaan rohani ditandai dengan kecerdasan rohani, dan kecerdasan rohani diekspresikan dalam sikap yang tidak melukai orang lain; dalam segala hal menyenangkan hati Allah. Semua Ini bisa dirangkai dengan atau dalam satu kata, yaitu kesucian.
    Proses ini berlangsung setiap hari, setiap saat, dalam dan melalui setiap peristiwa dan kejadian, juga berlangsung di dalam batin atau hati kita, dan tidak akan pernah berhenti sampai kita menutup mata. Nilai inilah yang disebut sebagai mengumpulkan harta di surga. Itulah sebabnya Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi.” Fokus satu-satunya hidup kita adalah bagaimana mencapai kedewasaan rohani dalam standar Kristus. Itulah sebabnya setelah Yesus berkata, “Kumpulkan harta di surga bukan di bumi,” lalu Yesus berkata, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Artinya,
    0 min
  • Mencapai Kesucian Hidup
    Menyelesaikan dosa bukan hanya membuat seseorang menjadi manusia yang santun, baik, atau hidup menuruti hukum. Kalau hanya menyelesaikan masalah moral seperti ini, agama dapat menyelesaikan atau menjawabnya, tidak perlu Roh Kudus dan kebenaran Injil atau campur tangan Roh Kudus secara langsung dalam segala hal. Agama samawi seperti agama Yahudi dengan perangkat hukum serta sanksi-sanksinya, sudah cukup membuat manusia bisa bermoral baik asal mereka dengan serius menekuni agama tersebut. Masalahnya adalah banyak orang beragama tidak serius menekuni agamanya, sehingga mereka tidak memiliki kualitas moral yang baik. Seperti bangsa Israel pada zaman Perjanjian Baru, mereka tidak sungguh-sungguh tekun untuk melakukan hukum sesuai dengan jiwanya atau nafasnya, sehingga dalam kehidupan umat mereka tidak menghasilkan buah kehidupan yang baik sesuai dengan standar hukum. Bahkan, para pemimpin agamanya sendiri juga tidak menghasilkan buah pertobatan yang benar. 
    Untuk menjadi manusia yang dapat melepaskan diri dari kodrat dosa atau potensi meleset dari kesucian Allah, secara moral umum sesuai dengan Sepuluh Perintah Allah, kita harus sudah baik terlebih dahulu. Seseorang harus memiliki moral yang baik barulah dapat mencapai standar kesucian Allah seperti yang dikatakan oleh Yesus, yaitu sempurna seperti Bapa. Atau seperti yang dikatakan oleh Paulus, serupa dengan Yesus; dan seperti yang dikatakan oleh penulis kitab Ibrani, mengambil bagian dalam kekudusan Allah; juga seperti yang dikatakan Petrus mengenakan kodrat ilahi. Pengertian yang salah terhadap Firman Tuhan yang mengatakan bahwa keselamatan kita bukan karena perbuatan baik—sehingga kemudian seseorang tidak merasa perlu berjuang untuk menjadi baik—benar-benar menyesatkan dan bisa membinasakan. Memang sudah sangat jelas keselamatan kita dimulai dari kurban Yesus di kayu salib, bukan karena perbuatan baik kita. Tetapi pengurbanan Yesus dimaksudkan agar kita bukan saja bisa berbuat baik, melainkan juga menjadi sempurna.
    Banyak orang Kristen yang bukan saja meleset dari standar kesucian Allah, melainkan juga masih meleset dari standar moral umum. Jika moral umum sesuai dengan Sepuluh Perintah Allah saja gagal dilakukan, lalu bagaimana bisa mencapai standar kesucian Allah? Tetapi banyak di antara mereka yang merasa aman-aman saja atau merasa damai sejahtera, karena mereka percaya bahwa dosa-dosa mereka telah dipikul di kayu salib oleh Yesus sehingga Allah tidak memperhitungkan perbuatan mereka sama sekali. Padahal, setiap kita harus menghadap takhta pengadilan Kristus, dan setiap orang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya; baik yang baik, maupun yang jahat. Dan firman Tuhan mengatakan dalam Matius 3 bahwa mereka yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan agar kita menghasilkan buah yang sesuai dengan pertobatan. Percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, tidak akan membuat kita selamat kalau kita masih hidup di dalam dosa.
    Keselamatan dalam Yesus Kristus bukan hanya menyediakan penebusan— memang kita dibeli dengan harga yang lunas dibayar sehingga kita dapat menjadi milik Allah, dan dikembalikan untuk bisa berstatus sebagai anak-anak Allah—tetapi juga sebagai harga untuk memiliki fasilitas dimana kita benar-benar memiliki keberadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu bisa menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus sebagai standarnya. Allah Bapa memberikan kita Roh Kudus agar kita dapat mengerti kebenaran. Kebenaran Injil secara kognitif atau di dalam nalar akan menggoreskan kebenaran-kebenaran itu untuk dapat benar-benar mengubah karakter kita melalui setiap kejadian atau peristiwa yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan, dalam segala hal Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Allah. Tentu mereka yang mengasihi Allah adalah orang-orang yang bukan saja berani percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat,
    0 min
  • Terbawa Spirit Dunia
    Sangat disayangkan kalau kita tidak mengalami perkara-perkara besar yang sedang Allah kerjakan dalam dunia yang sudah sekarat menuju maut abadi ini. Sudah saatnya setiap kita menikmati hak istimewa, yaitu pencurahan karunia Roh diakhir zaman. Doktrin-doktrin teologi yang mantap dan dianggap paling teologis pun belum cukup. Dibutuhkan pengurapan baru dari tempat yang Mahatinggi. Untuk ini, orang percaya dituntut memiliki kehidupan yang bersekutu sedemikian rupa dengan Tuhan dan tidak menundanya. Orang percaya harus sungguh-sungguh memiliki komitmen yang tegas menolak segala bentuk pengaruh dunia yang jahat. Orang percaya harus menggunakan kehendak bebasnya untuk menolak segala dosa. Dalam hal ini, orang percaya harus tegas menolak dosa tanpa kompromi sama sekali.
    Setiap orang percaya tidak boleh bergantung kepada manusia lain, bahkan kepada pendeta sendiri. Di sini, masing-masing kita dipanggil untuk memiliki ketergantungan penuh kepada Allah. Masa dimana setiap jemaat bergantung kepada pendeta (pendeta-sentris) sudah harus diakhiri. Jemaat harus mandiri dan dewasa. Dibutuhkan ketegaran hati orang percaya untuk memandang Tuhan dan bergantung kepada Allah sepenuh. Orang Kristen harus bangun dari hidup kekristenannya yang kekanak-kanakan, berdiri sebagai orang dewasa dengan kekuatan Tuhan. Dari pihak gereja, jemaat harus dilatih untuk mandiri, tidak bergantung pada pendeta, sebab pada akhirnya semua orang percaya secara pribadi harus menghadap takhta pengadilan Allah tanpa pendampingan siapa pun.
    Betapa tegasnya Yohanes Pembaptis terhadap orang yang kelihatannya mau menjadi pengikut Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh mau bertobat (Mat. 3:7-12). Ini memberikan kepada kita gambaran yang jelas hal kehidupan kekristenan yang benar. Kalau setiap hamba Tuhan memiliki ketegasan seperti ini, gereja akan dikunjungi oleh orang-orang yang sungguh mau masuk dalam Kerajaan Surga, bukan hanya mau sekadar melarikan diri dari kesulitan hidup sementara dalam dunia ini. Yohanes mengajak setiap pendengarnya untuk memiliki kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan. Status sebagai “anak Abraham” sudah tidak perlu lagi. Soal keturunan Abraham secara darah dan daging, tidak lagi berarti sejak zaman anugerah. Namun yang penting adalah pertobatan yang sungguh yang dibuktikan dengan baptisan air (Rm. 6:1-5).
    Dalam Matius 3:10, diberitahukan kepada kita bahwa Tuhan akan bertindak tegas kepada setiap orang. Ketegasan Tuhan itu digambarkan oleh Yohanes dengan kampak. Itu akan terjadi atas setiap umat Allah. Dalam hal ini, teringatlah kita dengan ucapan Tuhan Yesus dalam Yohanes 15:1-7, “carang yang berbuah dibersihkan untuk lebih banyak berbuah tetapi carang yang tidak berbuah dikerat-Nya.” Banyak orang sering tidak memedulikan keadaan diri mereka di hadapan-Nya, apakah mereka termasuk carang yang berbuah atau tidak, mereka tidak peduli dan tidak sungguh-sungguh mau berperkara. Ini adalah sikap pasif yang membahayakan. Sikap pasif ini adalah sikap menunda apa yang seharusnya dilakukan segera. Ketidakpedulian inilah yang disukai Iblis sampai saatnya mereka menghadap Tuhan atau penghakiman Allah datang, mereka ditolak oleh Allah.
    Supaya kita lolos dari keratan atau dipotong, Tuhan Yesus memperlengkapi orang percaya dengan dua baptisan, yaitu baptisan Roh Kudus dan baptisan api. Baptisan Roh Kudus jelas kita sudah paham, tetapi apa yang dimaksud dengan “baptisan api” di sini? Baptisan api adalah penderitaan karena mengikut Yesus. Hal ini akan terjadi atas setiap orang percaya (Mrk. 9:49). Penderitaan yang dialami orang percaya bisa menjadi alat dalam tangan Allah mengokohkan iman orang percaya, dan memurnikan pengiringan mereka kepada Yesus. Selain itu, penderitaan yang dialami oleh orang percaya mendatangkan kemuliaan, sebab hanya orang-orang yang menderita bersama-sama dengan Yesus yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Dia.
    Dalam masa penampian yang akan Tuhan lakukan atas manusia di bumi ini,
    0 min
  • Tidak Menunda demi Penampian
    Kata “penampian” berasal dari akar kata “tampi;” menjadi kata kerja “menampi.” “Menampi” dalam arti sempitnya adalah memisahkan atau mengurai. Dalam arti lengkap, usaha memisahkan dua unsur atau dua benda dengan menggoncang. Kata ini biasanya digunakan untuk memisahkan beras dari gabah, atau gandum dari kulitnya, dengan media tertentu (kalau di Indonesia menggunakan nyiru atau tampah; alat rumah tangga berbentuk bundar, dibuat dari bambu yang dianyam, gunanya untuk menampi beras dan lain sebagainya). Ada satu kata dalam bahasa Yunani yang digunakan Yesus untuk kata “menampi,” yaitu siniazo (σινιάζω) dalam Lukas 22:31 (“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum”). Kata “menampi” ini dalam KJV diterjemahkan sift. Sinonim dari kata ini adalah winnow. Kata yang mendekati kata sift dan winnow adalah screen atau shake in a sieve. Kalau menyaring, tidak ada goncangan yang berarti. Tetapi kalau menampi, ada gerakan dinaikkan dan diturunkan, lebih menunjuk kepada tindakan mengguncang.
    Dunia sedang dibawa kepada masa transisi, dari masa menuai ke masa menampi. Di masa penampian ini, dunia akan mengalami guncangan dari berbagai aspek dan bidang kehidupan. Gereja yang benar dan dewasa harus sudah berbicara mengenai masa menampi, walau masa menuai belum selesai total. Dunia sedang memasuki masa penampian seperti yang dikatakan oleh Daniel 12:10, “Banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik; tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya, tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya.” Di dalam konteks ayat ini, Daniel sedang berbicara mengenai akhir zaman: mengenai kesesakan yang akan dialami Israel di akhir zaman, mengenai kebangkitan manusia di akhir zaman, pembuktian orang benar dan orang yang tidak benar, pengetahuan yang akan mengalami kemajuan. Tetapi di pihak lain, Firman Tuhan akan diselidiki dan disingkapkan (Dan. 12:1-9).
    Masa penampian adalah masa penegasan, artinya orang percaya ditantang untuk memilih hendak mengikut siapa: Tuhan atau dunia. Tantangan itu berasal dari keadaan dunia ini yang akan diguncang Tuhan dengan berbagai guncangan. Sesuai dengan Firman Tuhan, bahwa masa ini adalah masa sukar dan akan semakin sukar (2Tim. 3:1-5; Mat. 24:4-13). Harus dicamkan bahwa ini bukan zaman damai, bukan zaman kelimpahan secara duniawi dimana orang percaya tidak lagi menghadapi tantangan dan pencobaan hidup. Baik orang Kristen maupun di luar Kristen akan mengalami guncangan ini sebagaimana tertulis dalam Lukas 21:34-36, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat. Sebab ia akan menimpa semua penduduk bumi ini. Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia.”
    Dari aspek sekuler, dunia menghadapi berbagai krisis, antara lain krisis politik, ekonomi, sosial, pandemik, ekosistem bumi, anomali cuaca, radikalisme, dan lain-lain. Di dalam dunia rohani atau moral, ini adalah masa perang; masa konflik rohani yang paling sukar. Untuk ini, kita membutuhkan kecerdasan roh yang tinggi dan pengurapan yang baru agar kita sanggup menghadapi masa-masa yang sukar ini. Iblis sungguh-sungguh berusaha menghancurkan pekerjaan Tuhan dan membunuh iman orang percaya. Orang percaya akan makin diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang mengancam iman dan kesetian yang murni kepada Kristus. Kita harus mengenali ancaman-ancaman-ancaman tersebut dan menemukan cara mengantisipasinya.
    Tantangan-tantangan tersebut antara lain: Pertama, pengaruh jahat dunia di sekitar kita melalui berbagai mass media dan pergaulan hidup. Iklim dunia sekitar kita semakin jahat, suasana fasik dunia ini sedikit banyak akan memengaruhi pola tindak dan pikir orang percaya (Ef. 5:15-17; Mat.
    0 min
  • Berstandar Kesucian Allah
    Sebagai pengikut Kristus, kita harus sangat berhati-hati terhadap setiap pikiran yang ada di dalam diri kita. Kalau suatu pemikiran bukan seperti yang dipikirkan oleh Allah, berarti pemikiran tersebut dari si jahat (Mat. 16:21-23). Orang percaya harus memikirkan apa yang dipikirkan oleh Allah. Untuk ini, setiap orang percaya harus sungguh-sungguh memiliki perjumpaan dengan Allah, berjalan dengan Allah, dan dalam persekutuan yang benar dengan Allah. Sesuai dengan Firman-Nya, Allah pasti menyertai orang percaya, dan Allah terus mau berbicara dengan orang percaya. Dengan kehidupan seperti ini, seseorang barulah dapat mengerti apa yang dipikirkan oleh Allah. Jika tidak, seseorang tidak akan dapat membedakan antara suara Allah dan bukan suara Allah. Banyak orang Kristen yang berkeadaan seperti ini dan berpikir bahwa tidak mungkin dirinya bisa mendengar suara Tuhan. Padahal, melalui Roh Kudus, Allah mau berbicara dengan kita setiap hari. 
    Orang Kristen yang tidak mengerti apa yang dipikirkan Allah pasti selalu hidup dalam gelap, artinya tidak tepat melakukan sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang selalu mendukakan hati Allah. Tidak jarang orang Kristen seperti ini ada di dalam cengkeraman Iblis sampai pada level tidak bisa dilepaskan lagi. Oleh sebab itu, sebelum berkeadaan fatal seperti itu, seseorang tidak boleh menunda bertobat dengan sungguh-sungguh dan memberi diri dibentuk oleh Allah untuk masuk ke dalam kawasan rohani yang terhindar atau dibebaskan dari perbuatan yang melanggar kesucian Allah. Hanya orang-orang yang kudus atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah yang dapat berjalan bersama dengan Allah atau hidup dalam persekutuan yang ideal dengan Dia.
    Kita harus selalu waspada dan menyadari adanya pengaruh kuasa gelap di dalam pikiran dan kehidupan banyak orang—dari stadium tipis, kecil, atau sederhana, sampai tingkat yang kuat dan besar. Oleh sebab itu, kita harus mencari Tuhan secara pribadi dan menemukan Dia dalam perjumpaan konkret dan riil dengan Allah. Setiap orang percaya tidak boleh bergantung kepada manusia, siapa pun dia. Setiap individu orang percaya harus sungguh-sungguh mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah, berjalan dengan Allah, dan hidup dalam persekutuan yang ideal dengan Allah. Sebagai hasil pertemuan atau perjumpaan dengan Allah, seseorang dapat sungguh-sungguh berinteraksi dengan Allah dalam hubungan interpersonal. Sebagai buahnya, setiap individu dapat merasakan kegentaran akan Allah yang dahsyat, dan hal ini akan dirasakan terus-menerus dalam perjalanan hidup. Orang-orang percaya seperti ini barulah dapat mengalami yang dimaksud dengan “ber-Tuhan secara benar” itu. Mereka bisa merasakan perasaan Allah di dalam perasaannya, dan sungguh-sungguh berusaha menjaga perasaan Allah. Selanjutnya, orang-orang seperti ini memiliki kepekaan untuk mengerti apa yang dipikirkan oleh Allah.
    Oleh sebab itu, untuk menjaga persekutuan kita dengan Allah, segala sesuatu yang kita pikiran, ucapkan, dan lakukan harus diukur atau diperhitungkan serta dipertimbangkan, apakah yang kita lakukan mendukakan hati Allah atau menyukakan hati-Nya. Kegentaran akan Allah mendorong kita untuk berusaha mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Kita berusaha untuk menemukan apa yang Allah rancang dalam hidup kita secara pribadi untuk kita tunaikan. Dalam hal ini, kita akan berambisi untuk benar-benar dapat menjadi orang terkemuka di hadapan Allah dan selalu memuaskan hati-Nya. Hal ini kita lakukan bukan karena ambisi gila hormat, melainkan kerinduan untuk menyukakan hati Allah. Sebab, Allah berkenan kalau kita memiliki prestasi rohani yang benar seperti yang Allah kehendaki.
    Allah bukan ilusi atau fantasi, melainkan realita yang kita harus alami setiap hari. Di sini kita baru bisa mengerti apa artinya hidup dalam kawasan rohani. Dengan hidup dalam kawasan rohani tersebut, kita bisa mencium kesucian Allah. Dengan bisa mencium kesucian Allah,
    0 min
  • Kawasan Rohani
    Dalam Kejadian 39, terdapat kisah mengenai pergumulan Yusuf menghadapi istri Potifar yang berhari-hari membujuk dia untuk berbuat dosa. Ada satu kalimat yang diucapkan oleh Yusuf kala itu, dimana kalimat tersebut menunjukkan bahwa ia hidup dalam kawasan rohani. Orang percaya yang hidup di kawasan rohani tidak bisa berbuat dosa lagi atau sangat sukar melakukan kesalahan. Dalam Kejadian 39:9 tertulis Yusuf mengatakan: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Kita tidak tahu secara detil kehidupan keseharian Yusuf, tetapi dari pengalaman hidupnya, kita menemukan bahwa Yusuf bersentuhan dengan Allah. Hal ini dibuktikan bahwa sejak kanak-kanak, Yusuf tidak terlibat dengan dosa-dosa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya. Itulah sebabnya ia bisa mengadukan kesalahan kakak-kakaknya kepada orangtuanya. Hal ini menunjukkan bahwa ia memiliki integritas untuk hidup dalam kebenaran (Kej. 37:2). Dalam pergaulan dengan Allah, ketika Yusuf di dalam penjara, ia bisa menafsirkan mimpi pejabat minuman dan pejabat makanan Firaun. Bahkan kemudian hari, ia menafsirkan mimpi Firaun. Semua ini menunjukkan bahwa Yusuf adalah seorang yang bergaul dengan Allah dan peka mendengar suara-Nya. 
    Yusuf menghayati keberadaan Allah atau menghayati realitas. Hal ini membuat ia memiliki kegentaran terhadap Allah yang membuat dirinya tidak berbuat berdosa. Tentu saja ini berbeda dengan kegentaran roh-roh jahat. Roh-roh jahat gemetar di hadapan Allah karena tidak memiliki relasi yang baik dengan Allah, dan roh-roh jahat memang tidak memiliki kesempatan untuk memulihkan hubungan dengan Allah. Orang yang benar-benar memiliki perjumpaan atau pertemuan dengan Allah—sehingga dapat memiliki hubungan interaksi dan interpersonal dengan Allah—pasti memiliki kegentaran akan Allah dalam seluruh perilakunya, dan dapat dilihat secara konkret. Hal tersebut pasti dapat dirasakan oleh orang di sekitarnya, yaitu dari setiap kata yang diucapkan, sikap, dan perbuatan, serta segala sesuatunya. 
    Dalam hal ini, perlu diingatkan bahwa berteologi bukan berarti telah mengalami perjumpaan dengan Allah. Seorang teolog belum tentu memiliki rasa takut akan Allah yang benar, dan benar-benar hidup dalam kesucian. Bahkan, tidak sedikit mereka yang memisahkan diri dari Allah dengan alasan teologi tersebut. Tidak sedikit di antara mereka yang telah disesatkan oleh dirinya sendiri. Mereka merasa bahwa dengan berteologi, mereka sudah ada di pihak Allah dan memiliki perkenanan-Nya. Inilah yang menjadi kausalitas prima (penyebab utama) dari kemerosotan gereja-gereja di dunia, khususnya di dunia Barat. Melalui hal ini, saya mengajak para teolog untuk berjuang menemukan Allah di dalam kehidupan secara konkret, sehingga kita bisa membagikan atau mengimpartasikan spirit kepada jemaat dengan benar.
    Dewasa ini, di media sosial tampil banyak pembicara yang mengaku sebagai orang yang mengerti doktrin paling benar, bahkan mengaku sebagai pembela kebenaran dengan menuduh dan mencap orang lain sebagai sesat dan bidat. Dari pernyataan-pernyataan mereka, bisa ditimbang: “Apakah mereka memiliki kesantunan hidup dan tindakan arif sebagai seorang yang pernah menerima edukasi formal?” Ternyata, dari sikapnya saja sudah tidak menunjukkan mereka memiliki kesantunan dan kearifan sebagai seorang yang pernah memiliki pendidikan yang baik. Dari pernyataan-pernyataan mereka, banyak orang Kristen yang telah tergarami spirit atau gairah yang tidak memancarkan pribadi Kristus. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan teologi tidaklah menjamin perilaku santun, apa lagi kesucian berstandar Allah. Seorang teolog atau pendeta bisa ada dalam kawasan teologi, tetapi belum tentu ada di kawasan rohani. Bila seorang teolog atau pendeta terjebak dalam area teologi tanpa perjumpaan dengan Allah, perilaku mereka tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah. Mereka dapat mengubah konsep berpikir orang lain sekitar doktrin,
    0 min
  • Momentum yang Berharga
    Pada umumnya atau hampir semua manusia, fokus hidupnya hanya tertuju kepada dunia ini, yaitu apa yang kelihatan, yang dapat dirasakan, dan dapat menjadi kebanggaan atau menjadi nilai diri. “Nilai diri” di sini terkait dengan gairah dalam jiwa, yaitu memperoleh kehormatan, pujian atau sanjungan dari manusia. Orang-orang seperti ini biasanya hanya mempersoalkan nilai yang diperoleh dari manusia, tetapi tidak mempersoalkan penilaian Allah terhadap dirinya. Tahun-tahun umur hidupnya hanya dihabiskan untuk hal tersebut. Padahal, semua itu fana atau sementara. Inilah orang-orang yang sebenarnya membelakangi Tuhan. Walaupun mereka beragama dan melakukan kegiatan keagamaan, tetapi mereka berkeadaan tidak berkenan di hadapan Allah. Karena memang pada kenyataannya, mereka tidak mengusahakan hal tersebut. Doktrin yang mereka pahami adalah “keselamatan bukan karena perbuatan baik,” tanpa memahami maksud ayat tersebut dengan benar. Sehingga akhirnya, mereka menjadi sesat atau menyimpang. Tidak sedikit di antara mereka adalah para rohaniwan yang cakap berbicara mengenai Allah atau berteologi, tetapi sebenarnya mereka tidak bersentuhan langsung dengan Allah atau tidak mengalami pertemuan atau perjumpaan dengan Allah secara riil.
    Harus diingat bahwa realitas bukan hanya sesuatu yang dapat dilihat, didengar, dan disentuh secara jasmani saja. Allah adalah realitas di atas segala realitas. Allah adalah realitas, lebih dari apa pun dan siapa pun dalam kehidupan ini. Mengapa demikian? Sebab kalau seseorang berinteraksi dengan Allah, sebagai akibatnya akan berdampak di dalam hidupnya. Dampaknya bukan hanya untuk sementara, melainkan dampak dalam kekekalan. Dampak yang ditimbulkan dari sebuah perjumpaan atau pertemuan dengan Allah adalah dampak yang tidak bisa diakibatkan atau dihasilkan oleh apa pun dan siapa pun. Inilah yang dimaksudkan bahwa Allah lebih dari segala realitas. Jadi kalau seseorang belum mengalami dampak yang sangat khusus dan istimewa—yang hanya bisa dilakukan oleh Allah—berarti orang itu belum mengalami perjumpaan atau pertemuan dengan Allah dengan benar. Dan dia juga belum memiliki kehidupan yang ber-Tuhan dalam arti yang benar.
    Oleh kemurahan hati-Nya, Allah sering membuat kita “siuman atau sadar” melalui berbagai kejadian hidup yang mengejutkan kita. Kejutan tersebut berupa penderitaan yang dalam dan sangat menyakitkan. Cara itu adalah cara Allah untuk menyadarkan kita terhadap realitas Allah dan kekekalan yang suatu hari harus dihadapi oleh setiap manusia. Tetapi banyak orang sering menyangkali keadaan tersebut, dan tidak memperoleh faedah apa-apa di balik penderitaan yang dialaminya. Kejutan-kejutan yang bisa dialami oleh umat pilihan, yang melaluinya mereka disadarkan terhadap realitas Allah dan kekekalan, misalnya: kehilangan orang yang dicintai, jatuh miskin dan tidak bisa bangkit kembali, dikhianati oleh orang yang sangat dicintainya, kehilangan jabatan yang selama ini menjadi tujuan hidup dan impian, vonis dokter adanya penyakit yang tak tersembuhkan di dalam dirinya, bencana alam, wabah penyakit, perang, dan lain sebagainya. 
    Sebelum seseorang mengalami kecelakaan yang paling menggetarkan dan dahsyat dalam hidup—kematian, pengadilan Allah dan nasib kekalnya yaitu neraka kekal atau surga kekal—maka oleh kemurahan-Nya, Allah menunjukkan hal-hal yang membuat seseorang menyadari realitas—baik realitas Allah maupun kekekalan—supaya ia bebenah diri atau berkemas-kemas yang sama dengan berjaga-jaga. Orang percaya yang berhasil menghayati realitas secara benar akan dapat ber-Tuhan dengan benar. Orang yang ber-Tuhan dengan benar adalah orang yang selalu meletakkan perasaan Allah di depan matanya. Segala sesuatu yang dilakukan, selalu diperhitungkan dengan perhitungan atau ukuran: Apakah tindakan yang akan dilakukan menyukakan hati Allah atau tidak? Ia akan berusaha untuk mengerti apa yang Allah kehendaki di dalam hidup ini. Akhirnya, ia akan berusaha benar-benar menemukan apa yang dapat menyenangkan hati All...
    0 min
  • Berurusan dengan Allah
    Hal yang terpenting dan utama dalam hidup ini bahkan sebagai satu-satunya yang harus diupayakan adalah berurusan dengan Allah. Usaha untuk berurusan dengan Allah adalah sesuatu yang mutlak, yang harus dikerjakan sedini mungkin atau sesegera mungkin dan tidak boleh ditunda. Penyesatan yang paling berhasil dari kuasa gelap dalam kehidupan manusia adalah memiliki standar yang salah dalam ber-Tuhan. Dalam surat Yakobus 2:19 tertulis: “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar.” Pernyataan Yakobus di dalam tulisannya ini sangat jelas menunjukkan bahwa banyak orang yang memiliki standar yang salah dalam ber-Tuhan. Merasa sudah percaya kepada Allah atau sudah ber-Tuhan, tetapi sebenarnya belum atau tidak. 
    Tulisan Yakobus di atas seakan-akan hendak mengatakan, kalau hanya percaya bahwa Allah itu ada, apa bedanya kamu dengan setan? Tidak heran banyak orang beragama kelakuannya seperti setan. Memang percaya adanya Allah, tetapi mereka tidak memiliki relasi yang benar dengan Allah. Mereka tidak melakukan kehendak Allah dan hidup dalam pengabdian kepada Allah. Kalau kita memeriksa diri kita sendiri dengan jujur, apakah kita telah memiliki kehidupan yang melakukan kehendak Allah dan hidup dalam pengabdian kepada Allah secara benar? Standar hidup dalam pengabdian yang benar kepada Allah adalah mengabdi segenap hidup, sebab kita tidak dapat mengabdi kepada dua tuan, artinya sepenuhnya kepada Allah atau tidak sama sekali. Mengabdi sepenuhnya kepada Allah bukan berarti harus menjadi pendeta. Tetapi dalam segala hal yang kita lakukan, dalam prinsip kita melakukannya untuk kepentingan Kerajaan Allah.
    Penyesatan juga disebabkan karena mereka merasa sudah berjuang dengan melakukan kegiatan-kegiatan agama dalam bentuk seremonial. Padahal, ber-Tuhan adalah sebuah hubungan interaksi konkret dengan pribadi Allah yang tidak kelihatan. Interaksi konkret itu pasti sangat berdampak di dalam kehidupan seseorang. Yang tidak dapat kita bantah dalam kehidupan ini adalah banyak orang beragama, namun kelakuannya adalah kelakuan orang yang tidak mengenal Allah. Adalah jahat kalau menggunakan agama atau Tuhan untuk kepentingan politik, kekuasaan, dan uang. Dalam lingkungan gereja, oleh sebagian pendeta atau rohaniwan, mereka menjadikan agama dan Tuhan sebagai alat untuk aktualisasi diri, memperoleh kehormatan dan kekayaan dunia. Paling tidak, mereka mau memiliki hidup yang wajar seperti manusia lain dengan menggunakan profesi sebagai hamba Tuhan. Orang-orang seperti ini sebenarnya bukan hamba Tuhan, tetapi hamba uang atau hamba diri sendiri.
    Kata “setan-setan” dalam teks Yakobus 2:19 “… Tetapi setan-setan pun…” itu sebenarnya tidak tepat, sebab kata “setan-setan” tersebut dalam teks aslinya adalah daimonia, yang lebih tepat diterjemahkan “roh-roh jahat,” dalam bahasa Ibraninya shedim. Kalau “setan” dalam teks asli bahasa Ibrani adalah satan, sedangkan dalam bahasa Yunani diterjemahkan satan juga dan diabolos. Kalimat bahwa “roh-roh jahat percaya dan gemetar” menunjukkan bahwa mereka merasakan atau sama dengan memiliki penghayatan, walau tentu penghayatan yang salah atau menyimpang mengenai keberadaan Allah itu, sehingga hal tersebut berdampak dalam diri mereka yaitu gemetar. Roh-roh jahat bukan hanya gemetar sesaat, tetapi setiap kali berhadapan dengan Allah, mereka gemetar—pasti akan selalu ada kegentaran yang tinggi dalam ketakutan yang hebat.
    Roh-roh jahat dapat menghayati keberadaan Allah yang dahsyat dan mereka gemetar secara permanen. Tetapi ironis, manusia tidak mampu menghayati keberadaan Allah. Banyak orang yang tidak gentar terhadap Allah. Hal ini disebabkan karena memang mereka tidak menghayati keberadaan Allah. Mereka tidak mampu menerima realitas Allah dalam kehidupan mereka. Hal ini tidak lepas dari keadaan manusia yang telah sesat. “Sesat” di sini bukan hanya berarti tidak memiliki pemahaman yang benar mengenai isi Alkitab,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…