Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Pikiran Duniawi
    Pelajaran mahal yang harus selalu diingat, bahwa pada zaman gereja mula-mula, aniaya hebat yang dialami orang percaya merupakan cara Allah untuk memisahkan orang percaya dari kehidupan duniawi agar tidak tercemari oleh unsur-unsur kekafiran. Melalui keadaan tersebut, orang percaya dipaksa meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya. Dengan demikian, aniaya pada zaman itu merupakan berkat Tuhan bagi gereja-Nya agar gereja menjadi perawan suci yang tidak bercacat dan tidak bercela bagi Kristus, sang Mempelai Pria. Paulus mengatakan bahwa penderitaan adalah karunia. Sekarang, gereja tidak lagi mengalami aniaya seperti pada zaman gereja mula-mula. Ini bukan berarti orang percaya bisa hidup lebih tenang. Harus diwaspadai, justru kondisi ini berbahaya bagi iman Kristen. Dengan kondisi ini, orang percaya berkesempatan dan memiliki ruangan yang luas untuk bisa meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia. Bila hal ini dilakukan, maka orang percaya tertawan oleh percintaan dunia.
    Dengan keadaan nyaman, banyak orang percaya sekarang ini memiliki gaya hidup wajar yang tidak berbeda dengan anak-anak dunia. Terbuka bagi orang Kristen, untuk ada dalam kenyamanan hidup seperti manusia pada umumnya, sehingga menjadi sama dengan dunia ini. Padahal, firman Allah mengatakan agar orang percaya tidak boleh sama dengan dunia ini (Ibr. 12:2). Banyak orang Kristen yang tidak lagi membangun pengharapan dunia yang akan datang, tetapi meletakkan pengharapannya untuk menikmati dunia hari ini. Mestinya orang percaya tidak meletakkan pengharapan di bumi ini. Inilah unsur kekafiran yang merusak kemurnian iman Kristen. Ini adalah pola berpikir dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kebenaran Injil yang diajarkan oleh Yesus. Ini berarti persahabatan dengan dunia. Persahabatan dengan dunia berarti permusuhan terhadap Allah. 
    Doa Tuhan Yesus agar orang percaya dikuduskan oleh kebenaran, maksudnya adalah agar semua unsur kekafiran dapat dilenyapkan dalam kehidupan orang percaya (Yoh. 17:17). Dalam hal ini, pengudusan bukan hanya oleh darah Tuhan Yesus, dimana kesalahan yang dilakukan orang percaya diampuni dan dihapus. Penyucian juga menunjuk kepada pembaharuan cara berpikir. Ini berarti mengubah gaya hidup secara total. Tanpa disadari, banyak orang Kristen yang masih menyimpan unsur-unsur kekafiran dalam hidup mereka. Hal ini sangat mengganggu pertumbuhan rohani untuk mengenakan kodrat ilahi atau mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Mestinya, perjalanan hidup sebagai orang Kristen adalah perjalanan untuk dibersihkan dari unsur kekafiran, dan selanjutnya sepenuhnya mengenakan unsur ilahi sebagai pangeran-pangeran Kerajaan Surga yang memiliki keagungan seperti Bapa. 
    Banyak orang Kristen membedakan unsur kekafiran dengan keberagamaan hanya pada kegiatan seremonial. Mereka memandang bahwa yang tidak melakukan ibadah seperti pergi ke gereja, berarti kafir. Orang Kristen seperti ini memahami pengertian kekafiran seperti agama lain. Sehingga, banyak orang Kristen merasa sudah menjadi orang percaya, dan merasa bukan orang kafir. Padahal, faktanya unsur-unsur kekafiran masih melekat di dalam hidup mereka. Mereka belum hidup sesuai dengan standar kesucian sesuai dengan kehendak Allah. Orang percaya harus mengalami hidup baru. Hidup baru dalam Tuhan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Standar hidup baru yang benar adalah perubahan menjadi serupa dengan Yesus, ini artinya tidak ada unsur kekafirman sama sekali dalam kehidupan orang percaya. Seseorang tidak bisa dikatakan sudah lahir baru, sebelum menjadi manusia yang berbeda dari sebelumnya. Hasil dari kelahiran baru ini menciptakan manusia yang berbeda dengan dunia, menjadi manusia yang berkodrat ilahi.
    Kalau ada orang-orang yang Kristen yang masih menyukai dunia ini, mereka adalah orang-orang yang masih terikat dengan unsur-unsur kekafiran atau duniawi. Mereka belum memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Mereka tidak berani “mati” bagi dunia, dan hidup bagi Allah.
    0 min
  • Kehilangan Nyawa
    Dari Injil, kita dapat menemukan bahwa orang-orang yang mau mengikut Yesus adalah orang-orang yang harus mempertaruhkan nyawa atau segenap hidupnya tanpa batas. Kenyataan ini memberikan gambaran kepada kita bahwa mengikut Yesus harus meninggalkan segala sesuatu. Ini merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi. Inilah sesungguhnya harga percaya yang benar yang harus dipenuhi oleh orang yang mau mengikut Tuhan Yesus. Harga ini tidak pernah berkurang dan berubah ditelan waktu, kapan pun dan di mana pun. Sungguh, ini suatu perjalanan hidup yang sangat berat. Kalau orang percaya boleh mengangkat pedang, maka bisa sedikit membela diri. Tetapi orang percaya seperti domba-domba sembelihan yang tidak berdaya, digiring ke pembantaian, yang harus membalas kejahatan dengan kebaikan. Orang percaya diajar mengenakan kehidupan seperti yang dikenakan oleh Yesus sendiri. Jika hal itu benar-benar terjadi atau berlangsung, maka orang percaya barulah dapat dikatakan sebagai utusan Kristus. Jadi, menjadi utusan Kristus bukan hasil studi di sekolah tinggi teologi atau seminari, juga bukan karena pengesahan sinode, melainkan perilaku yang memperagakan kehidupan Yesus. 
    Sulit ditemukan atau hampir tidak ada agama yang cara menyebarkan agamanya dengan cara sangat damai, seperti Injil diberitakan. Tanpa pedang, tanpa perang, dan tekanan atau intimidasi. Kekristenan tidak membuka peluang sama sekali bagi orang percaya untuk melakukan kekerasan. Tuhan mengajarkan kita untuk menjadi saksi, artinya cukup dengan perbuatan yang sempurna seperti yang Yesus jalani. Sebab, memang penyebaran Injil bukan sekadar penyebaran agama, melainkan juga mengajarkan kebenaran, agar mereka yang percaya memiliki gaya hidup seperti Yesus. Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa menginjil itu bukan saja berbicara mengenai Injil, melainkan juga memperagakan Injil dalam kehidupan yang dapat dicium “keharumannya” oleh sesama. Hal ini sama dengan bahwa berapologet bukan hanya berdebat mengenai keyakinan atau doktrin, melainkan menunjukkan kebenaran melalui perbuatan.
    Betapa berbedanya kekristenan yang dikenakan banyak orang yang beragama Kristen hari ini. Ini berarti kekristenan yang dijalani orang sekarang adalah kekristenan yang palsu. Sangatlah tidak mungkin kalau orang percaya di zaman Injil, membayar harga kekristenan yang berbeda dengan orang Kristen sekarang. Kapan pun dan di mana pun, harga kekristenan tetaplah sama, yaitu menyerahkan nyawa. Menyerahkan nyawa pada intinya rela tidak memiliki kesenangan hidup di bumi ini, dan rela kehilangan segala sesuatu. Tanpa disadari, suasana dunia mengondisikan munculnya kekristenan palsu yang dapat dijalani tanpa menyerahkan nyawa. Biasanya, orang Kristen yang mengenakan kekristenan palsu merasa sudah menjadi orang percaya yang baik dan membela diri dengan pernyataan bahwa yang penting percaya di dalam hati. Padahal, percaya berarti menyerahkan diri kepada objek yang dipercayainya. Ini berarti, percaya adalah sebuah tindakan, yaitu melakukan apa pun yang diinginkan oleh Tuhan yang dipercayai. Banyak orang Kristen tidak peduli apa yang dikehendaki oleh Tuhan, apalagi melakukannya.
    Yesus telah memberi teladan kepada kita, yaitu kehilangan nyawa. Inilah yang dimaksud oleh firman Tuhan “menjadi sama dengan Tuhan dalam kematian-Nya.” Ini berarti sama dengan usaha untuk mematikan keinginan daging yang bertentangan dengan kehendak Allah dalam diri orang percaya. Ini adalah tindakan untuk memadamkan cita-cita pribadi dan ambisi pribadi, kemudian mengarahkan diri sepenuhnya untuk melakukan kehendak Allah. Ini juga berarti rela kehilangan segala hak demi pekerjaan-Nya. Semua ini menunjuk kepada suatu proses perjalanan hidup kekristenan yang benar. Jadi, sebelum kita mati secara fisik dan dikubur, kita harus terlebih dahulu memasuki proses kematian manusia lama. Hal ini sama dengan kehilangan nyawa. Pelayanan gereja harus mengarahkan jemaat pada level ini. Tentu saja untuk ini,
    0 min
  • Pemeliharaan untuk Pendewasaan Rohani
    Kalau Bapa memandang berkat jasmani yang dimiliki seorang anak Tuhan membahayakan, maka Ia pun akan mengurangi, bahkan sampai pada tingkat ekstrem dengan mengambil semuanya. Tuhan tidak mudah mengabulkan doa orang percaya, jika apa yang dimintanya adalah sesuatu yang membahayakan. Allah sebagai Bapa pasti memelihara kehidupan jasmani anak-anak-Nya dengan sempurna. Namun, Bapa lebih mengutamakan pemeliharaan rohani dan kedewasaan iman orang percaya agar mengambil bagian dalam kekudusan-Nya dan memuliakan nama-Nya, bukan memuliakan harta. Dalam hal ini, penyertaan Tuhan memang tidak selalu memberi kenyamanan seperti versi anak dunia, sebaliknya, malah ketidaknyamanan. Hal itu terjadi karena kehadiran-Nya dalam hidup orang percaya adalah untuk mendidik, mendewasakan, dan menyempurnakan, agar orang percaya dikembalikan ke rancangan semula Allah (Ibr. 12:6-10). 
    Bapa tidak akan mengorbankan pendidikan rohani, yaitu kesempurnaan sebagai anak-anak-Nya secara moral demi kelimpahan jasmani. Banyak pembicara di mimbar mengesankan bahwa Bapa mau berperkara dengan umat-Nya, berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Adapun mengenai kehidupan rohani, dikesankan bahwa itu bisa bertumbuh dengan sendirinya secara otomatis dan mudah. Itulah sebabnya, dalam pertemuan-pertemuan bersama di beberapa gereja, yang mereka utamakan adalah puji-pujian dan pengagungan terhadap kuasa dan kebaikan Tuhan saja. Harus dipahami bahwa kelimpahan jasmani hanyalah sementara, tetapi kedewasaan rohani dimana orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, merupakan harta abadi yang tidak terbeli dengan apa pun. Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau diajarkan bahwa Bapa memerhatikan pemenuhan kebutuhan jasmani tetapi tidak memperhatikan pendewasaan rohani. Justru sebaliknya, Bapa akan sangat memperhatikan kedewasan rohani lebih dari pemenuhan kebutuhan jasmani. 
    Sikap memercayai pemeliharaan Allah Bapa untuk masalah pendewasaan rohani di atas adalah sikap memuliakan Allah. Dengan kepercayaan kepada Allah sebagai Bapa yang lebih menekankan pendewasaan rohani, seseorang menilai dan memandang Bapa sebagai Pribadi yang agung dan bertanggung jawab. Sesungguhnya, inilah sikap meninggikan dan memuliakan Allah yang benar. Oleh sebab itu, hendaknya seseorang tidak merasa sudah memuliakan Tuhan hanya karena bisa menyanyikan nyanyian rohani, berbahasa roh, dan mengikuti liturgi gereja. Nyanyian hidup orang percaya haruslah sikap hati yang setiap saat memercayai Allah, walaupun dalam keadaan dimana kebutuhan jasmani belum terpenuhi.
    Jadi kalau suatu saat, kita ada dalam keadaan “seakan-akan” Tuhan meninggalkan kita, kita harus tetap menaruh percaya kepada Tuhan tanpa kuatir dan curiga terhadap Allah. Terkait dengan hal ini, kita dapat mengerti betapa hebat orang percaya pada abad awal kekristenan muncul. Mereka dianiaya selama ratusan tahun dengan penderitaan yang luar biasa, dan Allah seakan-akan tidak memedulikan keadaan mereka. Namun, mereka tetap percaya. Allah seakan-akan tidak berdaya menolong mereka, tetapi mereka tetap memercayai pemeliharaan Allah. Sebab, ternyata dengan keadaan itu, justru iman Kristen terpelihara dengan baik. Itulah pembelaan Tuhan yang sangat cerdas. Ini juga yang menjadi kesaksian bagi orang-orang kafir, dan akhirnya Roma mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Hal ini tidak lepas dari kegigihan orang percaya dalam memercayai Allahnya, dan menampilkan diri sebagai anak-anak Allah yang memuliakan nama-Nya.
    Orang yang tidak memercayai pribadi Allah pasti tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan Dia. Hubungan yang tidak harmonis tersebut disebabkan karena ketidakpercayaan terhadap Allah, dan hatinya ditambatkan kepada berkat jasmani. Seseorang tidak dapat memiliki hubungan yang harmonis dengan Allah kalau hati mereka ditambatkan kepada kekayaan yang menjadi tempat perlindungan. Mereka tidak mampu memercayai Allah sepenuhnya, sebab Allah tidak kelihatan dan seakan-akan tidak ada. Biasanya,
    0 min
  • Percaya yang Benar
    Banyak orang Kristen berpikir, kalau mereka menyatakan bahwa dirinya mengaku percaya kepada Allah, maka Allah berkewajiban untuk memeliharanya dan melakukan segala sesuatu yang menjadi permintaannya. Banyak orang Kristen yang menyatakan percaya kepada Allah agar keinginannya dituruti dan doanya dikabulkan. Ini adalah usaha “menyandera” Allah dengan pengakuan percaya kepada-Nya. Hendaknya kita tidak berpikir, bahwa kalau kita memercayai kekuatan Allah dan kebaikan-Nya, maka Allah akan memenuhi segala kebutuhan kita. Allah dibuat tidak dapat menahan kuasa-Nya untuk dilepaskan, guna memenuhi kebutuhan kita. Dalam hal ini, seakan-akan percaya seseorang dapat mengatur Allah.
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa dengan kepercayaan tersebut, mukjizat bisa terjadi. Itulah sebabnya, sering diajarkan dan dianjurkan untuk menguatkan percaya atau berani percaya terhadap Tuhan, demi apa yang mereka inginkan dapat terwujud. Banyak ajaran yang mengesankan bahwa yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah sikap percaya umat terhadap kuasa dan kebaikan Tuhan. Mereka mengira, Allah menuntut umat untuk memercayai kuasa dan kebaikan Allah. Kalau umat sudah berani percaya atas kuasa dan kebaikan Allah, maka pasti Allah akan menuruti apa yang diinginkan oleh umat tersebut. Dengan kepercayaan tersebut, umat seakan-akan bisa menawan Allah sehingga Allah tidak berdaya menolak permintaan dan keinginan umat. Dengan pemahaman tersebut, seakan-akan Allah tidak memiliki kepribadian dan integritas. Sikap yang salah ini sebenarnya merupakan bentuk pelecehan terhadap Allah. Namun ironisnya, justru umat merasa sedang memuliakan Allah. Percayanya kepada Allah, mereka pandang sebagai sesuatu yang bisa menyukakan hati-Nya. 
    Percaya kepada Bapa haruslah percaya tanpa syarat, artinya percaya bukan karena mau memperoleh sesuatu melainkan mau mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Kepercayaan tak bersyarat artinya tetap teguh percaya dalam keadaan bagaimanapun, seperti pengalaman Yesus di kayu salib (Flp. 2:5-7). Walaupun dirasakan oleh Tuhan Yesus bahwa Bapa meninggalkan diri-Nya, Ia tetap menaruh percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus tidak mencurigai Allah Bapa. Ia tetap menaruh percaya dengan menaruh hormat kepada Bapa. Ketaatan kepada Bapa sangat bertalian dengan kepercayaan kepada Pribadi Bapa. Orang yang tidak memercayai pribadi Bapa, tidak akan dapat menaati-Nya dengan sikap hati yang benar. Jadi, kalau orang percaya kepada Allah hanya karena mau mengalami mukjizat, maka ia tidak memiliki ketaatan yang benar kepada Bapa dan tidak menaruh hormat secara patut kepada Allah. 
    Kepercayaan yang benar adalah kepercayaan bukan hanya pada kuasa Allah, melainkan pada pribadi-Nya, yaitu kebijaksanaan Tuhan. Dalam Alkitab, dapat diperoleh pelajaran rohani, yaitu jika kita memercayai pribadi Bapa, itu berarti kita tidak boleh mengharapkan Allah bertindak menolong kita sesuai dengan cara dan waktu yang kita mau. Selama ini, kalau seseorang menaruh percaya kepada Tuhan, biasanya ia selalu berharap doanya dijawab, pertolongan Tuhan datang sesuai dengan selera dan jadwalnya. Percaya kepada pribadi-Nya berarti apa pun yang dilakukan, diterima dan diyakini sebagai yang terbaik. Apa pun yang terjadi, kita tetap memercayai pribadi Tuhan dan tidak menaruh perasaan curiga sama sekali, bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan orang percaya, mendatangkan kebaikan. Kalau mengerti dan menghayati kebenaran ini dengan benar, hidup ini dapat dijalani dengan lebih sukacita. Menatap ke depan, kita yakin bahwa Tuhan menyediakan apa yang baik bagi anak-anak-anak-Nya sampai di langit baru dan bumi yang baru pada masa yang akan datang. 
    Kepercayaan kepada Allah Bapa tidak mudah dimiliki, sebab Allah Bapa tidak kelihatan. Sementara, berbagai masalah hidup tampak di depan mata. Namun, di sini kita justru menemukan sikap yang benar untuk memercayai Allah yang tidak kelihatan. Kalau Allah membawa kita kepada keadaan yang sulit, membahayakan dan mengancam,
    0 min
  • Tidak Bercacat dan Tidak Bercela
    Kehidupan anak-anak Allah yang benar, pasti berdampak bagi orang di sekitarnya. Dampak itu berangkat dari menjadi saksi bagi Kristus dengan benar. Kehidupan orang percaya yang berkualitas seperti Tuhan Yesus membuktikan dan menunjukkan bahwa dua ribu tahun yang lalu, ada seorang pria yang mengaku sebagai Mesias, Anak Tunggal Allah yang hidup. Untuk ini, orang percaya harus benar-benar memiliki kehidupan yang benar, cemerlang, kudus, dan tidak bercacat, serta tidak bercela dalam seluruh aspek hidupnya. Idealnya, dalam segala hal, seseorang tidak dapat mempersalahkan kita. Jika tidak memiliki kesempurnaan sebagai anak-anak Allah, seseorang tidak akan dapat membawa dampak yang berarti. Maksud dari semua ini adalah agar kehidupan orang percaya dapat mengubah orang lain. Hidup kita harus menjadi pola dengan mana orang membangun diri mereka. Orang percaya yang menjadi anak-anak Allah yang ideal harus menjadi teladan dalam seluruh tingkah lakunya. Hal utama yang harus dihasilkan oleh kehidupan orang percaya adalah karakter Kristus yang terperagakan atau terselenggarakan dalam hidup orang percaya. Selanjutnya, dari kehidupan yang luar biasa ini, seseorang dapat menghasilkan buah yaitu jiwa-jiwa yang diubahkan menjadi serupa dengan Yesus. Inilah kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela.
    Mendengar kalimat “hidup tidak bercacat dan tidak bercela,” banyak orang bersikap apatis dan berpikir bahwa hal tersebut tidak mungkin dapat dicapai. Kalau seseorang berpikir bahwa tidak mungkin orang bisa hidup tidak bercacat dan tidak bercela atau menjadi sempurna, itu pasti karena pengaruh cara berpikir berbagai agama dan keyakinan. Hal inilah yang menolerir seseorang untuk berbuat suatu kesalahan sebagai sikap permisif. Penyebab seseorang tidak bergairah untuk mencapai hidup yang tidak bercacat dan tidak bercela juga karena berpikir bahwa memiliki hidup tidak bercacat dan tidak bercela dirasa tidak menguntungkan. Bahkan, ada kekhawatiran akan memiliki keadaan hidup yang tidak atau kurang bahagia seperti orang lain. 
    Apatisme untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela juga disebabkan oleh pengalaman hidup yang telah dilalui, yaitu selalu gagal untuk hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Pengalaman hidup dan catatannya menunjukkan bahwa mencapai hidup tidak bercacat dan tidak bercela adalah kemustahilan. Firman Allah sangat jelas menyatakan bahwa orang percaya harus memiliki kekudusan seperti Allah (1Ptr.1:16). Perjanjian Baru tidak memberi peluang orang percaya boleh hidup dalam dosa. Orang percaya harus sempurna. Ini adalah harga mati yang tidak dapat ditawar. Dalam tulisan Paulus kepada jemaat Korintus, jelas sekali dikatakan bahwa mereka harus hidup tidak bercela, dan tidak hidup dalam persekutuan dengan orang berdosa. Jika menuruti hal ini, Allah akan menerima mereka sebagai anak-anak-Nya (2Kor. 6:14-18). Orang percaya harus menempatkan diri di tempat terang dan berperilaku sempurna seperti Bapa. Untuk ini, orang percaya harus berani menerima perintah Tuhan untuk hidup tidak bercacat dengan optimis, kalau Allah memerintahkan orang percaya berbuat sesuatu, pasti Allah menolong dan memberi kesanggupan. Orang yang menolak hidup kudus atau hidup tidak bercacat dan tidak bercela, berarti menolak menjadi anak Allah. 
    Hidup tidak bercacat dan tidak bercela bukan hanya menyangkut masalah-masalah rohani yang selalu dikaitkan dengan moral, melainkan bertalian dengan seluruh aspek hidup ini tanpa batas. Firman Allah menyatakan bahwa semua orang percaya yang menerima panggilan sebagai orang percaya yang benar adalah bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri. Kehidupan yang tidak bercacat dan tidak bercela harus dikaitkan dengan segenap aspek hidup kita di tengah pergumulan menghadapi dunia dan manusia lain dalam kehidupan konkret. Ini berarti menyangkut moral dan etos kerja, yaitu kerajinan dan ketekunan bekerja, pola hidup, pola makan, tutur kata dalam berbicara dan bercanda, penggunaan waktu,
    0 min
  • Sebagai Respons
    Salib yang dipikul oleh Tuhan Yesus adalah penderitaan demi keselamatan orang lain. Salib kita masing-masing juga kita pikul demi keselamatan sesama kita. Semua orang percaya harus memiliki salibnya sendiri. Tentu saja sebelum kita memikul salib, kita sendiri telah mengalami keselamatan. Sebenarnya, kalau seseorang benar-benar mengalami keselamatan, ia pasti akan mengusahakan agar orang lain juga mengalami keselamatan. Orang yang sudah mengalami keselamatan akan mengisi hidupnya dengan selain terus berusaha mengerjakan keselamatannya—yaitu bagaimana menjadi anak Allah yang berkenan di hadapan Allah Bapa—juga mengusahakan orang lain mengalami keselamatan. Untuk melakukan ini, semua milik dipertaruhkan atau dikorbankan, baik tenaga, waktu, pikiran, harta, dan lain sebagainya. Semua itu dilakukan sebagai pengabdian kepada Tuhan. Pengorbanan segenap hidup yang dipersembahkan oleh anak-anak Allah yang baik, akan sampai pada taraf “menyakitkan.” Inilah prajurit yang baik, yang rela menderita demi tugas yang disandangnya. Penderitaan inilah yang dimaksud dengan salib kita masing-masing.
    Kalau tidak ada salib Kristus, tidak akan pernah ada salib-salib lainnya. Hendaknya kita tidak memandang salib sebagai suatu beban, tetapi kesempatan untuk memperoleh harta abadi yang tiada tara. Dengan salib kita masing-masing, Bapa juga menyediakan masa depan yang penuh harapan. Tanpa salib, seseorang tidak akan dapat kesempatan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Inilah yang menjadi sumber kebahagiaan dalam diri orang percaya, yaitu mereka yang mengalami aniaya karena Kristus. Penderitaan mendatangkan kemuliaan. Inilah sesungguhnya bagian dari perlombaan yang diwajibkan (Ibr. 12:1-2). Perlombaan yang diwajibkan bagi orang percaya, sesungguhnya adalah pergumulan untuk menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan-Nya.
    Dalam salib, ada perjuangan untuk disahkan sebagai anak-anak Allah yang berkenan kepada-Nya. Untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus sebagai anak-anak Allah, kita harus menderita bersama-sama dengan Kristus. Menderita bersama-sama dengan Kristus berarti menderita bagi kepentingan Kerajaan Allah, dan menderita sama seperti Dia telah menderita. Dalam hal ini, ciri seorang yang sah sebagai anak-anak Allah yang berkenan adalah memikul salib, yaitu penderitaan demi kepentingan Kerajaan Surga. Ketika Bapa berkata bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan, Tuhan Yesus belum menjadi pemenang, artinya belum terbukti taat sampai mati di kayu salib. Ia memang berkenan atau menyenangkan hati Bapa karena rela meninggalkan kemuliaan, tetapi Ia belum sampai pada kesempurnaan dalam menunaikan tugas Bapa. Demi tugas dari Bapa, Ia menganggap kemuliaan yang dimiliki-Nya tidak berharga, dibandingkan dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga. Puncak perjuangan-Nya adalah ketika Ia disiksa, dihina, dan dipermalukan di depan umum, tetapi Ia tetap tekun menanggung bantahan atau perlawanan atau pemberontakan manusia.
    Perlombaan untuk menjadi anak Allah yang sah dan berkenan kepada-Nya, harus kita terima dengan segenap hati. Kita harus memandang Tuhan Yesus, artinya meneladani ketekunan-Nya agar kita dapat menjadi pemenang, sama seperti Dia menang. Dialah satu-satunya model Anak Allah yang harus kita teladani secara wajib. “Diwajibkan” berarti tidak bisa tidak, kita harus mengikutinya. Untuk menjadikan ini wajib bagi kita, kita tidak boleh menjadikan sesuatu yang lain sebagai wajib. Dengan demikian, hanya satu yang mutlak harus kita capai, yaitu menjadi anak-anak Allah yang berkenan di hadapan Bapa.
    Kalau seseorang tidak merespons proyek keselamatan dari Bapa, yaitu tidak menerima didikan-Nya, maka anugerah yang disediakan Allah baginya akan terbuang sia-sia. Dalam hal ini, adalah kesempatan bagi kita jika kita menerima didikan dari Bapa, agar kita dapat menjadi anak Allah yang sah berkenan di hadapan-Nya. Tidak banyak orang yang memiliki kesempatan yang luar biasa ini. Oleh sebab itu,
    0 min
  • Kedewasaan Rohani
    Kedewasaan rohani adalah tanggung jawab. Ini adalah sebuah perjuangan yang harus dijalani setiap individu. Tidak ada mukjizat untuk pembentukan proses pendewasaan rohani. Kedewasaan rohani yang dapat dicapai bukanlah karunia, melainkan buah kehidupan. Kalau Tuhan menganggap proses pendewasaan ini adalah urusan penting bagi-Nya, maka kita juga harus memiliki pikiran yang sama. Menyadari hal ini, maka kita harus mengucap syukur untuk setiap kejadian, termasuk hadirnya orang-orang di sekitar kita yang dipakai Tuhan untuk membentuk kita. Allah memakai manusia di sekitar kita untuk pertumbuhan kedewasaan rohani kita. Banyak orang merasa, dengan belajar sebanyak-banyaknya dari buku-buku, melaluinya bisa menjadi dewasa rohani. Ini pemikiran yang salah.
    Kita harus menyadari dan menerima bahwa Allah memroses kita melalui orang dekat di sekitar kita. Dalam kenyataan hidup ini, selalu saja ada orang yang melukai dan mengkhianati kita. Oleh sebab itu, kita tidak boleh berharap ada tempat di mana kita tidak bertemu dengan orang yang tidak menyakiti kita. Maka, seseorang harus mengerti kebenaran dan mengakuinya, serta berkomitmen dengan teguh menjadikan perjalanan hidup ini sebagai sekolah kehidupan. Hal ini dimaksudkan agar waktu umur hidup yang Tuhan sediakan dapat digunakan untuk membawa diri kita kepada kedewasaan rohani yang serupa dengan Yesus. Bagi mereka yang menganggap perjalanan hidupnya hanyalah kesempatan untuk memuaskan diri dengan berbagai kesenangan dan berharap tidak pernah dilukai orang, tidak akan pernah menjadi serupa dengan Yesus. Serupa dengan Yesus berarti menjadi anak yang sah. Kalau tidak serupa dengan Yesus, bukanlah anak yang sah.
    Pergumulan orang percaya yang ada dalam proses pengesahan berstatus sebagai anak Allah, harus tampak jelas dalam kehidupannya setiap hari. Orang yang tidak ada dalam proses ini, tidak akan mengalami atau tidak menerima didikan Bapa. Bapa menginginkan setiap umat yang terpilih menerima didikan-Nya untuk diubah menjadi anak-anak-Nya. Kalau akhirnya seseorang menolak didikan-Nya walaupun sudah diberi kesempatan, orang tersebut akan ditolak dari hadirat Bapa atau terbuang ke dalam api kekal. Kesalahan tentu bukan terletak pada Bapa, melainkan pada orang itu sendiri. Firman Tuhan berkata, kalau seseorang tidak menerima didikan Bapa, berarti ia adalah anak gampang (Ibr. 12:6-8). Tentu saja orang-orang Kristen yang menolak didikan Bapa tidak mengalami perubahan. 
    Biasanya, orang-orang yang menolak didikan Bapa, jika menghadapi persoalan yang tidak membuat mereka nyaman seperti dilukai orang, barulah akan berurusan dengan Tuhan meminta pembelaan-Nya. Mereka ke gereja pun hanya supaya terlindungi dari berbagai kesulitan hidup di bumi ini. Mereka tidak mengerti bahwa kehidupan yang singkat di dunia ini merupakan proses untuk bagaimana menjadi anak Allah yang sah. Tentu saja mereka tidak peduli, apakah dirinya sudah sah sebagai anak Allah atau belum. Mereka hanya mau senang-senang saja hidup di bumi ini, dengan standar manusia pada umumnya. Padahal, Firman Tuhan mengajari agar kita tidak serupa dengan dunia ini. Termasuk tidak serupa dalam sikap batin juga. 
    Biasanya, orang-orang seperti ini hanya sibuk dengan perkara dunia. Bagi mereka, belajar Firman Tuhan dengan serius dan tekun bukan hal yang penting. Mereka menikmati rumah, mobil, hiburan dunia, perhiasan, barang branded, wisata, dan kesenangan dunia ini sebagai hal penting dan utama dalam hidup. Mereka akan berusaha menambah kekayaan mereka sebagai kesenangan atau kebahagiaan, dan jaminan ketenangan hidup. Dengan cara hidup demikian, mereka merendahkan nilai-nilai rohani dan kekekalan. Mereka terjebak dalam siklus kehidupan yang monoton, sampai jantung mereka berhenti berdetak. Orang yang tidak mengalami didikan Bapa karena menolaknya, akan sangat menyesal ketika sadar bahwa kejadian-kejadian hidup dimana dirinya dilukai dan dikhianati adalah cara Bapa mendewasakannya agar ia memperoleh berkat kekal. 
    0 min
  • Harus Dewasa Mental Dulu
    Banyak orang di luar gereja menjadi tabah dalam menerima realitas hidup daripada sebagian orang Kristen. Mereka tidak menjadi manja menghadapi ganasnya kehidupan ini. Mereka menerima keadaan tersebut sebagai sesuatu yang tidak dapat dihindari, sehingga menerima saja dengan pasrah dan rela. Kesulitan-kesulitan dan berbagai problem berat bagi mereka, tidak lagi menjadi berat. Melalui keadaan itu, mereka berlatih menjadi dewasa mental. Sebaliknya, banyak orang Kristen yang menjadi manja dalam menghadapi kehidupan ini. Mereka berharap keadaan selalu sesuai dengan keinginan mereka. Mereka tidak bisa menerima keadaan yang menurut mereka tidak menyenangkan. Kepicikan pikiran mereka karena kerentanan mereka, juga dipicu oleh berbagai faktor, di antaranya adalah ajaran mengenai Allah yang berkuasa dan baik yang ditawarkan dapat selalu menghindarkan orang percaya dari berbagai problem kehidupan. Sebagai akibatnya, banyak orang Kristen yang secara mental saja tidak bertumbuh menjadi dewasa, apalagi kedewasaan secara rohani. Tuhan memang baik dan berkuasa, tetapi bukan berarti kebaikan dan kuasa Tuhan dapat dimanfaatkan untuk menghindarkan diri dari problem. Justru, problem merupakan berkat Tuhan untuk mendewasakan manusia. 
    Mestinya orang percaya memiliki kedewasaan mental yang lebih, dan kedewasaan rohani yang juga jauh lebih baik dibanding mereka yang yang bukan umat pilihan. Kedewasaan mental adalah kedewasaan yang bertalian dengan kemampuan seseorang bermasyarakat dan beradaptasi dengan lingkungan dan kecerdasan menghadapi hidup dengan persoalan-persoalan umum. Sedangkan, kedewasan rohani itu, selain memiliki kedewasaan mental, juga memiliki kecerdasan roh, yaitu kemampuan untuk bisa mengerti dan melakukan kehendak Allah sehingga dapat hidup berkenan di hadapan-Nya. Kalau jemaat diajar bahwa menjadi orang Kristen berarti memiliki hak istimewa untuk mendapat kemudahan hidup, yaitu dijauhkan dari problem-problem hidup, maka mereka tidak pernah menjadi dewasa mental. 
    Seorang Kristen tidak akan pernah menjadi dewasa rohani kalau belum dewasa mental. Pertumbuhan kedewasaan mental dan rohani bisa berlangsung bersama, tetapi kedewasaan mental adalah level awal. Seorang yang memiliki kedewasaan mental belum tentu dewasa rohani, tetapi seorang yang dewasa rohani pasti dewasa mental. Padahal, problem hidup adalah bagian dari “berkat Tuhan,” yang di dalamnya, orang percaya diproses untuk menjadi dewasa. Problem bisa menjadi bagian dari nutrisi jiwa yang dapat mendewasakan rohani orang percaya. Orang percaya yang dewasa akan memandang bahwa kesukaran hidup adalah nutrisi jiwa yang tidak dapat digantikan dengan apa pun. Gereja yang mengajarkan bahwa orang percaya dapat dengan mudah dibebaskan dari berbagai persoalan hidup, berarti merusak mental dan kerohanian jemaat. Orang percaya harus mengerti bahwa pencobaan-pencobaan hidup dialami setiap orang atau semua manusia, bukan hanya orang percaya (1Kor. 10:13). 
    Seharusnya, orang percaya memiliki keadaan hidup (mental dan spiritual) yang lebih baik daripada mereka yang tidak percaya. Selain kedewasaan mental orang percaya yang mengalami pertumbuhan, secara rohani pun orang percaya mengalami pertumbuhan. Pertumbuhan rohani inilah yang membuat orang percaya bermental seperti Bapanya. Ini pasti sebuah kualitas kerohanian atau mental yang luar biasa atau sempurna. Problem dan masalah kehidupan tidak boleh dipahami sebagai hal yang negatif yang dapat mengurangi ketenangan dalam jiwanya. Problem adalah berkat untuk kedewasaan rohani, sedangkan masalah adalah berkat untuk upah dalam kekekalan. Justru ketenangan orang percaya tumbuh ketika ia harus bergumul dengan problem. Problem yang dialami seseorang menunjukkan bahwa Tuhan masih memperhatikannya. Sebab dengan memberi problem guna penggarapan untuk pedewasaan, menunjukkan bahwa Tuhan telah menunjuknya sebagai umat pilihan yang khusus. 
    Perjalanan hidup di bumi yang singkat ini adalah kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah ya...
    0 min
  • Perlakuan Terhadap Allah
    Orang yang memperlakukan Allah sebagai pribadi yang hidup akan berusaha memperhatikan perasaan Allah dalam segala tindakan yang dilakukan. Orang percaya seperti itu, berusaha hidup benar bukan karena mata Allah yang mengawasinya, melainkan karena selalu menghayati kehadiran Allah dalam hidupnya sehingga Allah menjadi begitu nyata. Demikian pula orang yang memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup, tidak sembarangan menjalani hidup ini. Dalam mempertimbangkan sesuatu, selalu pada penghayatan bahwa ada Allah yang hidup, yang perasaan-Nya harus menjadi satu-satunya pertimbangan. Sangat sedikit orang yang menyadari betapa hebat menjadi makhluk yang disebut manusia, sebab hanya manusia, mahluk hidup yang memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan sesuatu dalam keputusan dan tindakan-tindakannya. Itulah sebabnya, keberadaan manusia seperti Penciptanya sendiri, yang memiliki pikiran, perasaan, dan kehendak. 
    Dengan keberadaan yang luar biasa, manusia diberi tanggung jawab untuk memikul semua perbuatan dari hasil pertimbangannya. Dengan keberadaan yang luar biasa ini juga, manusia harus bertanggung jawab atas setiap keputusan dan pilihannya (2Kor. 5:9-10). Dengan demikian, sangat jelaslah betapa besar peran pertimbangan seseorang dalam menentukan keadaannya dirinya sendiri. Masa depan seseorang dan seluruh keberadaan dalam hidupnya di kemudian hari, ditentukan oleh ketepatan atau kecerdasan pertimbangannya. Banyak keadaan yang buruk dan kegagalan-kegagalan yang disebabkan oleh karena pertimbangan yang tidak tepat di masa lalu. Oleh sebab itu, betapa pentingnya seseorang belajar kebenaran Firman Tuhan yang dapat mencerdaskan pikirannya, sehingga dapat memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup. Dengan demikian, ia dapat terhindarkan dari keputusan yang salah. 
    Kalau akibat pertimbangan yang salah yang dilakukan seseorang hanya dituai dalam hidup selama di bumi ini, hal itu bukanlah masalah besar, sebab masa hidup seseorang tidaklah panjang. Tetapi kalau akibat pertimbangan yang salah harus ditanggung dalam kekekalan, hal ini menjadi masalah yang benar-benar mengerikan. Ketika seseorang harus menuai apa yang ditaburnya dalam kekekalan nanti, mereka tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Dengan demikian, tidak seorang pun yang luput dari buah pertimbangan yang menghasilkan perbuatan yang telah dilakukan. Itulah sebabnya, Paulus berusaha untuk berkenan agar ia tidak tertolak di hadapan Tuhan. Kalau seorang sekelas atau selevel Paulus masih harus berjuang untuk perkenanan Tuhan supaya tidak tertolak, apalagi kita yang masih sangat jauh belum sempurna dibandingkan dengan Rasul Paulus (1Kor. 9:27).
    Kalau kematian membuat manusia kehilangan kesadaran, maka manusia tidak perlu menjaga hidupnya atau berhati-hati dalam pertimbangan dan perbuatannya. Dengan demikian, orang bisa berbuat sesuka-sukanya sendiri; makan dan minum, sebab besok mati. Tetapi ternyata, ada kehidupan di balik kematian. Semua orang akan dibangkitkan. Sebagian menerima kemuliaan kekal, dan sebagian menerima kehinaan kekal. Kalau manusia harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya selama hidup di bumi, maka ini menjadi masalah yang sangat besar. Karena tidak belajar kebenaran, banyak orang menganggap sepele kedahsyatan kekekalan. Hidup mereka menjadi ceroboh tanpa pertimbangan yang cerdas dalam bertindak dan mengambil keputusan.
    Sebagai anak Allah, kita tidak boleh memiliki cara berpikir dan pertimbangan yang sama dengan manusia di sekitar kita. Mereka mengambil keputusan dan mempertimbangkan sesuatu tanpa penghayatan akan adanya Allah yang hidup dan berperasaan. Oleh karena pertimbangan hidup kita menentukan nasib kekal kita, maka pertimbangan kita harus sesuai dengan kehendak Allah. Pertimbangan hidup manusia sangat dipengaruhi kemampuannya menghayati keberadaan Allah. Itulah sebabnya, kesempatan yang sisa ini harus digunakan untuk memenuhi pikiran dengan kebenaran, agar pertimbangan kita tidak berdasarkan cara berpikir manu...
    0 min
  • Dunia Sudah Rusak
    Karakter manusia yang sudah rusak tidak mungkin bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Allah secara proporsional. Sangatlah logis kalau segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan, bukan untuk makhluk yang memberontak kepada-Nya. Ketika manusia berdosa kepada Penciptanya, segala sesuatu menjadi rusak. Walaupun manusia sudah jatuh dalam dosa dan bumi terkutuk, manusia masih bisa menikmati segala sesuatu yang diciptakan oleh Tuhan, tetapi kenikmatannya terbatas atau tidak ideal. Kalau ciptaan Allah yang dirancang untuk manusia yang mengabdi kepada Tuhan bisa dinikmati secara ideal oleh manusia yang tidak mengabdi, berarti Tuhan dapat dilecehkan atau Tuhan melecehkan diri-Nya sendiri. Berkat jasmani seperti makan dan minum, dapat dinikmati manusia secara terbatas. Dengan keadaan keberdosaan manusia, maka manusia tidak dapat menikmati kebahagiaan secara ideal di bumi yang sudah rusak ini. 
    Kalau kita menyadari bahwa bumi ini bukanlah tempat ideal untuk dihuni atau untuk menikmati ketenangan yang sejati, maka kita berusaha memercayai apa yang Tuhan katakan mengenai langit baru dan bumi baru, serta untuk mengarahkan pandangan kita kepada dunia yang akan datang tersebut. Dalam hal ini, orang percaya yang benar akan selalu merindukan langit baru dan bumi baru di mana tidak terdapat penderitaan, baik penderitaan bagi dirinya, juga bagi orang lain. Menujukan hidup kepada kehidupan yang akan datang menjadi pilihan satu-satunya. Dengan demikian, kita memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga (Mat. 6:21). Semakin menujukan hati ke Kerajaan Surga, semakin dijauhkan dari percintaan dunia, semakin tidak mengharapkan ketenangan dan kebahagiaan dari dunia ini. 
    Hari ini, pada umumnya manusia sudah terhanyut dalam pola hidup manusia yang orientasinya kenikmatan dan kenyamanan di bumi sekarang ini. Hampir semua manusia berusaha untuk dapat meraih sebanyak-banyaknya yang dapat diraih dari dunia hari ini, dengan harapan bisa menikmati kebahagiaan dan ketenangan. Tuhan pun dilibatkan hanya untuk bisa mencapai yang dicita-citakan. Semua ini merupakan gerak manusia yang tertawan oleh keindahan dunia. Sehingga, banyak manusia, termasuk orang-orang Kristen, yang terjebak dalam belenggu kuasa gelap menuju api kekal. Malangnya, mereka tidak menyadarinya sama sekali. Orang-orang Kristen yang mengasihi dunia ini sebenarnya menjadikan dirinya musuh Allah. Mereka menjadi mangsa kuasa gelap, dan tidak pernah menjadi anak-anak Allah yang mengabdi kepada Bapa secara benar.
    Orang Kristen yang masih mencari kebahagiaan di bumi, tidak bisa dibentuk oleh Allah menjadi anak-anak-Nya yang serupa dengan Yesus. Mereka tidak bisa dipersiapkan masuk dunia yang akan datang sebagai anak-anak Allah. Mereka yang masih mengharapkan dapat menikmati ketenangan dan kebahagiaan dari dunia ini, pasti menjadikan dunia ini sebagai kerajaannya. Mereka tidak bisa mengabdi kepada Allah. Orang percaya yang benar, memercayai bahwa hanya di dunia yang akan datang manusia dapat menikmati Allah dan segala yang diciptakan-Nya secara proporsional. Oleh sebab itu, sementara hidup di dunia, yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri agar layak masuk Kerajaan Allah sebagai anggota keluarga Kerajaan. 
    Hidup di atas muka bumi yang sudah terkutuk dan yang sudah rusak ini, kita tidak akan pernah menemukan tempat domisili yang ideal. Tuhan tidak akan pernah membangun Kerajaan-Nya di bumi ini. Manusia tidak akan pernah dapat menemukan kenyamanan di bumi. Tidak pernah Alkitab menyatakan bahwa bumi yang terkutuk ini akan dipulihkan, dan menjadi tempat yang nyaman untuk dihuni. Suatu hari nanti, bumi pasti dimusnahkan menjadi lautan api, dan manusia yang hidup dalam kejahatan, akan dibinasakan. Oleh sebab itu, hidup di bumi ini harus dipandang sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri guna memiliki kehidupan yang akan datang, bukan untuk menetap dan menikmatinya seperti anak-anak dunia.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…