Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perjuangan dalam Pendamaian
    Suatu hari nanti ada orang-orang yang sangat menyesal dalam ketakutan dan kegentaran yang hebat karena mereka tidak pernah bisa bertemu dengan Bapa di surga. Mereka tidak diperkenakan masuk ke dalam Rumah Bapa. Pada waktu itu mereka baru menyadari betapa singkatnya hidup di bumi ini dan betapa tidak berartinya segala sesuatu yang diperjuangkan untuk diperoleh dan dimiliki selama hidup di dunia yang fana ini. Pada waktu itu orang juga baru menyadari betapa jahat dan liciknya kuasa kegelapan yang telah berhasil menipu dirinya. Orang-orang yang telah tertipu tersebut sangat menyesal karena selama hidup di dunia menganggap Tuhan   bukan sesuatu yang bernilai tinggi. Sebaliknya, menganggap dunia sebagai sesuatu yang dapat memberi kebahagiaan. 
    Di hadapan takhta pengadilan Kristus, tidak ada orang yang dapat membanggakan diri atau menjadi sombong. Selama di bumi ini seseorang bisa membusungkan dada, dan merasa dirinya kuat atau merasa tidak membutuhkan Allah. Orang-orang seperti ini mengandalkan kekuatan uang atau kekayaan dunia, yang semua itu dikatakan oleh Firman Tuhan sebagai mamon yang tidak jujur. Mamon yang tidak jujur artinya sesuatu yang menipu (Luk. 16:9-10). Kuasa kegelapan menggunakan uang atau harta dunia ini sebagai umpan untuk menipu atau memperdaya manusia agar dapat menggiringnya masuk ke dalam kegelapan abadi. Orang-orang yang mengandalkan uang atau harta dunia adalah orang-orang yang tidak mungkin berjalan dengan Allah. Mereka mengeliminasi Allah dari hidup mereka. Semua waktu dan kesempatan yang mereka miliki hanya mereka gunakan untuk mencari kesenangan diri sendiri tanpa persekutuan dengan Allah.
    Oleh sebab itu, kesempatan yang masih ada untuk berjalan dengan Allah hendaknya tidak disia-siakan. Kesempatan yang Tuhan berikan adalah kesempatan yang tidak bisa dibeli. Diberikan oleh Allah sebagai anugerah. Nanti, kalau sudah meninggal dunia, di hadapan pengadilan Tuhan, tidak ada kesempatan lagi untuk berdamai dan berjalan dengan Allah. Kita tidak boleh disesatkan oleh doktrin yang mengisyaratkan atau mengesankan bahwa kalau Yesus sudah mati di kayu salib bagi kita, maka semua sudah selesai di kayu salib, tidak dibutuhkan respons kita sama sekali. Diajarkan oleh mereka bahwa kurban Yesus sudah mendamaikan kita dengan Allah, dan jika kita telah diperdamaikan dengan Allah, maka tidak perlu ada usaha apa pun dari pihak kita untuk mengisi perdamaian itu. Memang ada bagian yang sudah selesai di kayu salib, yaitu yang menjadi tanggung jawab Yesus di hadapan Bapa, tetapi bagian kita belum selesai.
    Kematian Yesus di kayu salib memperdamaikan kita dengan Allah Bapa, tetapi hal itu tidak otomatis membuat kita sudah benar-benar berkeadaan berdamai dengan Allah secara ideal, yaitu hidup berjalan dengan Allah. Ada tanggung jawab bagi orang percaya untuk bertumbuh dalam kedewasaan rohani agar bisa berdamai dengan Allah secara benar atau berjalan dengan Allah secara ideal sesuai dengan kehendak Allah. Dalam hal ini ada tanggung jawab yang harus kita penuhi sebagai umat pilihan. Itulah sebabnya Yesus memberi mandat agar semua bangsa dimuridkan; artinya agar orang percaya di ajar untuk menjadi manusia sesuai dengan rancangan semula agar bisa bersekutu dengan Allah yang Mahakudus.
    Karena merasa sudah berdamai dengan Allah dan berkeyakinan bahwa dirinya pasti sudah menjadi anak-anak Allah, dan meyakini kalau meninggal dunia nanti pasti boleh masuk surga, maka banyak orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh berjuang untuk bertumbuh menjadi anak-anak Allah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar (Flp. 2:12). Mereka menganggap bahwa keselamatan itu mudah dan sudah terjadi atau berlangsung secara otomatis ketika mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dengan mulut dan pikirannya. Padahal, pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat harus diterjemahkan di dalam perilaku secara konkret, seperti   kehidupan yang dijalani oleh Yesus,
    0 min
  • Berjalan dengan Allah
    Kehidupan sebagai anak-anak Allah itu sebenarnya sangat luar biasa, asal kita benar-benar mengisi hidup kita sebagai anak-anak Allah yang benar. Dikatakan “sebenarnya” sebab banyak orang Kristen yang tidak menyadari betapa luar biasa kehidupan sebagai anak-anak Allah tersebut. Mereka menganggapnya bukan sesuatu yang luar biasa, oleh karenanya mereka lebih memilih mengenakan kehidupan anak-anak dunia sebagaimana yang dijalani hampir setiap orang. Melalui perjuangan setiap hari, kita menstimulasi (merangsang) diri kita masing-masing untuk bisa berjalan bersama Tuhan. Oleh sebab itu kita harus merindukan dan benar-benar bersedia memiliki kehidupan berjalan dengan Allah. Seperti Henokh yang berjalan bersama Allah, kita pun dapat berjalan dengan Dia (Kej. 5:24). Karena Roh Kudus dimeteraikan di dalam diri kita, kita bisa berjalan bersama dengan Allah. Justru itulah maksud kedatangan Tuhan Yesus ke dunia, agar kita dapat berjalan bersama dengan Allah. Itulah sebabnya Yesus memiliki nama Immanuel, yang artinya Allah beserta kita.
    Berjalan bersama dengan Allah harus menjadi kerinduan kita, yaitu bagaimana bisa berjalan dengan Allah setiap hari. Dengan mengalami hidup berjalan dengan Allah, barulah kita dapat membuktikan keberadaan Allah yang hidup. Hal ini disebut sebagai mengalami Allah yang hidup. Mengalami Allah yang hidup dengan segala dampaknya merupakan harta yang tidak ternilai. Selama ini banyak orang hanya beragama tanpa mengalami Allah secara nyata. Banyak orang hanya sibuk dengan fantasi mereka sendiri dalam ber-Tuhan, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh mengalami perjumpaan dengan Allah.
    Ada lagu yang berjudul: “Angkat Aku Dalam Kemuliaan-Mu.” Kalimat yang mengatakan “angkat aku dalam kemuliaan-Mu,” artinya bagaimana orang percaya berjalan bersama Allah. Itulah kemuliaan kehidupan yang dapat dimiliki manusia, khususnya orang percaya. Kemuliaan hidup seseorang bukan karena memiliki pasangan hidup dan keturunan, bukan karena berkedudukan tinggi, kaya secara materi, terhormat di mata manusia dan lain sebagainya yang bersifat fana, melainkan kalau seseorang bisa berjalan dengan Allah. Berjalan dengan Allah adalah kemuliaan hidup seseorang. 
    Menjadi doa kita bersama dan kerinduan yang tulus, untuk kita bisa berjalan dengan Allah. Ini adalah isi permintaan yang melebihi semua permintaan. Untuk berjalan dengan Allah, kita harus hidup dalam kekudusan, dan tidak boleh ada percintaan dunia. Hadirat Allah harus menjadi satu-satunya tempat perteduhan kita. Orang percaya yang benar tidak merasa aman tanpa persekutuan yang benar dengan Allah. Allah adalah realitas yang lebih dari segala realitas. Dia bukan fantasi. Kalau kita berdoa, ke gereja, dan melakukan segala kegiatan hidup, harus dalam penghayatan terhadap kehadiran Allah. Kalau kita membiasakan diri selalu menghayati kehadiran Allah, maka hal menghayati kehadiran Allah menjadi sesuatu yang otomatis melekat di dalam diri kita. Tetapi kalau seseorang tidak terbiasa menghayati kehadiran Allah, maka sangat sulit dapat baginya untuk menghayati kehadiran Allah sekali pun ketika ia berada di ujung maut.
    Kita harus menjadikan hal berjalan dengan Allah ini sebagai kerinduan dan agenda kita satu-satunya. Kita harus menggumuli hal ini dengan sungguh-sungguh sampai kita menutup mata. Setiap hari kita harus sungguh-sungguh mengalami realitas berjalan bersama dengan Allah. Kalau kita benar-benar berjalan dengan Allah, maka saat-saat kebersamaan dengan Allah, membuat kita semakin terpikat kepada-Nya dan kita juga dapat memikat hati Allah. Dari hal ini terjalin persekutuan yang indah dengan Allah sejak di bumi sampai nanti di surga. Orang yang tidak pernah berjalan dengan Allah sejak hidup di dunia ini, tidak akan pernah berjalan dengan Allah selama-lamanya.  Dalam hal ini, apakah seseorang akan masuk surga atau neraka sudah dapat dilihat dari apakah ia berjalan dengan Allah sejak di bumi sekarang ini atau tidak.
    0 min
  • Berjalan dengan Tuhan
    Hanya orang yang benar-benar “berjalan dengan Tuhan” yang siap dan sukacita menghadapi kematian. Bagi mereka, Allah bukan pribadi yang asing. Ini yang benar-benar harus kita butuhkan, bagaimana bisa berjalan dengan Allah setiap hari. Dengan berjalan bersama Allah, seseorang dapat mengalami Allah yang hidup. Banyak orang sibuk dengan fantasi sendiri dalam ber-Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Untuk berjalan dengan Tuhan, orang percaya harus hidup dalam kekudusan, kesucian, dan tidak boleh ada percintaan dunia di dalam hidup. Dengan berjalan dengan Tuhan, seseorang bisa mengalami hadirat Allah dan merasa aman. Setiap hari, orang percaya berjalan dengan Tuhan. Hal berjalan dengan Tuhan harus dijadikan kerinduan dan kebutuhan yang mendesak, darurat, dan sangat penting, bahkan tidak ada yang lebih penting dari hal ini. Untuk berjalan dengan Allah, kita harus menjadi orang-orang yang dipisahkan dari dunia walaupun kita hidup di tengah-tengah dunia dengan segala kesibukannya. 
    Suatu hari nanti, banyak orang yang akan sangat menyesal dalam ketakutan dan kegentaran yang hebat karena mereka tidak pernah berjalan bersama Tuhan selama hidup di dunia. Oleh sebab itu, kita harus harus menguji diri sendiri apakah kita sudah berjalan bersama Tuhan. Kalau kita memperhatikan Alkitab dengan teliti, pada umumnya orang-orang yang benar-benar dipakai Tuhan adalah orang-orang yang berjalan dengan Tuhan. Kalau seseorang mau menjadi hamba Tuhan yang dipakai Tuhan, harus berjalan dengan Tuhan. 
    Kita harus mempersoalkan masalah mengapa setelah meninggal dunia, seseorang tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Tidak ada lagi kesempatan untuk minta ampun. Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau kedahsyatan Allah di surga, tidak bisa tidak, orang akan takut, gentar, dan ngeri. Tidak bisa tidak, orang akan minta ampun dan berusaha mau berkenan. Tetapi permintaan ampun di saat itu adalah permintaan ampun yang palsu, yang tidak berkualitas. Sebab, dilakukan dengan terpaksa karena takut, jadi tidak tulus dan natural. Pada saat itu, barulah muncul penyesalan mengapa tidak sejak hidup di bumi berjalan dengan Tuhan. Mestinya pada saat masih hidup di bumi, ketika Tuhan seakan-akan tidak ada, seperti sekarang, kita memercayai bahwa Dia adalah Pribadi yang hidup. 
    Alkitab berkata, bahwa setelah mati, ada penghakiman (2Kor. 5:9-10). Dan kalimat itu sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa setelah mati, tidak ada perbaikan, tidak ada rekonsiliasi, tidak ada restorasi, dan tidak ada kesempatan berjalan dengan Allah kalau tidak hidup dalam kesucian sejak di bumi. Tuhan menghendaki percaya yang benar, takut akan Allah yang benar sejak di bumi. Apalagi kita ada pada zaman dimana orang tidak percaya Tuhan, namun kita memilih untuk tetap memercayai Dia dan berjalan dengan-Nya. Percaya kita yang benar itu pasti ditandai dengan kesetiaan kita untuk taat dan takut akan Dia. Ini adalah pilihan, dan kita memilih untuk percaya dan setia kepada-Nya, sejak sekarang di bumi. 
    Betapa mudahnya orang berbicara mengenai Allah, dan betapa mudahnya orang belajar teologi. Tetapi, betapa tidak mudahnya orang benar-benar bersentuhan dengan Allah dan berjalan dengan Dia. Banyak orang berpikir berpikir, betapa mudahnya mengenal Allah. Mereka beranggapan dengan belajar tentang Allah atau teologi, sudah bisa merasa berjumpa dengan Allah. Itu benar-benar suatu kebodohan dan benar-benar suatu penyesatan. Hal ini sudah terjadi di lingkungan sekolah teologi yang belajar teologi. Mereka menjadi pembicara-pembicara di gereja, menjadi pimpinan-pimpinan gereja, menjadi pimpinan-pimpinan sinode, menjadi pimpinan-pimpinan aras gereja atau kumpulan sinode-sinode. Betapa mengerikan kekristenan itu pada dewasa ini. Melalui pengalaman hidup, kita menyadari betapa tidak mudahnya mengenal Allah dengan benar. Mengenal Allah, bukan hanya mengetahui ilmu tentang Allah atau teologi. 
    Allah itu Mahahadir. Di mana kita bernafas, di situ Allah.
    0 min
  • Penundukan Diri kepada Allah
    Banyak orang Kristen berpikir bahwa kematian Tuhan Yesus di kayu salib menghindarkan manusia dari tanggung jawab, seakan-akan anugerah mengubah kehidupan ini menjadi serba gratis. Padahal justru sebaliknya, anugerah menempatkan manusia sebagai mahkluk yang bertanggung jawab. Anugerah menempatkan orang percaya untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang sempurna seperti Bapa di surga. Hal ini membuat perjalanan hidup orang percaya menjadi sangat berat. Tetapi ini adalah kesempatan yang sangat berharga untuk menjadi anak-anak Allah yang sah, yaitu menjadi manusia yang berkodrat ilahi. Bila kesempatan yang diberikan oleh Tuhan tidak digunakan dengan sebaik-baiknya, tidak ada lagi kesempatan untuk menjadi anak-anak Allah. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak berpikir bahwa status anak Allah dapat melekat selamanya tanpa bisa ada perubahan. Anugerah untuk menjadi anak-anak Allah disediakan oleh Allah Bapa, tetapi respons seseorang juga menentukan apakah ia menerima anugerah tersebut atau menolaknya. Menyadari hal ini, betapa mahal kesempatan yang diberikan Tuhan kepada kita. 
    Karena tidak mengerti tanggung jawab sebagai umat pilihan ini, banyak orang Kristen dikendalikan oleh keinginan-keinginan yang menguasai hidupnya yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Orang-orang seperti ini tidak menghadirkan Kerajaan Allah, tetapi kerajaannya sendiri. Banyak orang Kristen yang tidak mengerti tanggung jawab ini sehingga mereka hidup tanpa tujuan. Mereka mengisi hari hidupnya dengan segala kesibukan, tetapi tidak pernah mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh. Karena sudah terlalu lama sesat, sebagian besar mereka sampai pada keadaan yang tidak bisa diubahkan. Bagi mereka, itulah tujuan hidup satu-satunya. Orientasi berpikir mereka hanya dunia hari ini, sekarang, di bumi ini. Fakta itu menunjukkan bahwa proyeksi hidup mereka belum ke Kerajaan Surga. Mereka masih mencintai dunia. Semua kegiatan mereka masih berorientasi pada kenyamanan hidup di bumi ini. Hidup mereka masih dibelenggu oleh banyak kesenangan-kesenangan yang tidak pernah habis. Sebenarnya, mereka adalah orang-orang yang tidak menghormati Tuhan secara pantas. Mereka menghargai harta dunia lebih dari Tuhan. Ini suatu tindakan tidak menghormati Allah. Tetapi, mereka merasa sudah menghormati Allah sebab mereka memuji dan menyembah Tuhan dengan nyanyian di gereja. 
    Sejak di bumi, orang percaya harus melatih untuk selalu menyukakan hati Bapa, sebab di Kerajaan Tuhan Yesus Kristus nanti, tidak boleh ada tindakan yang melukai hati Bapa sama sekali. Oleh karenanya, dalam Doa Bapa Kami, Tuhan Yesus mengajarkan pola hidup, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Doa Bapa Kami itu bukan hanya untuk diucapkan, melainkan untuk dilakukan. Sebelum seseorang masuk ke dalam pemerintahan Allah di langit baru dan bumi baru nanti, sejak sekarang di bumi harus sudah belajar menciptakan kehidupan yang hanya menyukakan hati Bapa. Dengan berusaha untuk hidup menyukakan hati Bapa, seseorang membangun kepastian apakah dirinya layak masuk Kerajaan Surga. Untuk membangun kepastian masuk surga, seseorang harus berjuang untuk bisa menemukan apakah dirinya sudah berkenan kepada Bapa atau belum. 
    Banyak orang Kristen yang kepastian masuk surganya hanya dibangun dari keyakinan, bukan dengan pengalaman berjalan dengan Allah. Mereka merasa yakin pasti masuk surga. Keyakinan mereka tidak dibangun dari realita kehidupan melakukan kehendak Allah, tetapi hanya sebuah keyakinan dalam pikiran. Keyakinan seperti itu tidak memiliki dasar yang kokoh dan riil, bisa menyesatkan dan menipu. Keyakinan harus dibangun di atas fakta kehidupan setiap hari, apakah seseeorang sungguh-sungguh telah melakukan kehendak Bapa atau belum. Kerajaan Allah hadir dalam hidup orang yang melakukan kehendak Bapa atau selalu menyukakan hati-Nya. Dalam hal ini, akan tampak sangat jelas mulai sekarang di bumi hari ini, apakah seseorang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga atau tidak.
    0 min
  • Batiniah Serupa dengan Yesus
    Tuhan Yesus datang membawa terang agar manusia dapat menyelenggarakan hidup sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Prinsip kita sebagai anak Allah adalah “kehendak Bapa adalah hukumku.” Orang percaya dipanggil untuk memiliki kualitas hidup seperti yang Yesus yang prinsip-Nya adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya (Yoh. 4:34). Kenyataannya, banyak orang Kristen merasa bahwa ia sudah sudah menjadi orang Kristen yang benar, padahal tidak sama sekali. Sebenarnya, mereka sedang tersesat oleh gambar diri yang salah. Sungguh menyesatkan kalau gereja mengajarkan bahwa kalau seseorang sudah mengambil bagian dalam kegiatan gereja, berarti sudah memenuhi standar hidup melayani Tuhan. Sekalipun sudah bergereja dan mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja, tetapi kalau tidak memiliki sikap batiniah seperti Yesus, berarti belum menjadi anak Allah yang sah.
    Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah Bapa bukan hanya menjadi orang beragama Kristen yang bermoral baik di mata masyarakat. Kehidupan yang dikehendaki oleh Allah adalah pada sikap batin seperti yang dimiliki Yesus. Ini adalah kemampuan berpikir dan berperasaan seperti Yesus. Pada umumnya, manusia hanya mampu memahami kebaikan moral secara umum berdasarkan hukum. Sebenarnya, hukum diberikan karena keadaan manusia yang tidak bisa mengerti kehendak Allah secara penuh atau sempurna. Hanya Injil yang dapat membawa manusia pada kehidupan mengerti kehendak Allah secara penuh dan sempurna. Hanya Tuhan Yesus yang dapat mengajarkan pikiran dan perasaan Bapa. Itulah sebabnya, Yesus berkata agar kita menjadi sempurna seperti Bapa. 
    Orang percaya yang sungguh-sungguh mau diajar oleh Tuhan Yesus, tidak lagi mempersoalkan perkara-perkara dunia. Mereka juga tidak akan merindukan dan meminta apa pun, selain berusaha memahami apa yang diinginkan oleh Bapa untuk dapat dilakukannya. Mereka memberi diri sepenuhnya untuk melakukan rencana Bapa untuk diselesaikan. Itu berarti mempersembahkan segenap hidup tanpa batas untuk kesukaan Bapa. Pada akhirnya, semua orang percaya harus memiliki sikap batin seperti ini. Ini berarti setiap orang percaya memiliki memiliki standar yang sama yaitu menjadi serupa dengan Yesus Kristus. 
    Harus disadari bahwa halangan terbesar untuk memiliki batiniah seperti Yesus adalah kedagingan atau manusia lama kita. Dalam diri kita, mengalir hasrat keinginan daging berupa nafsu yang bertalian dengan tubuh jasmani, yaitu makan, minum, dan seks. Kalau seseorang sudah terikat dengan keinginan daging ini, sukarlah baginya untuk dapat melepaskannya. Keinginan daging yang tidak sesuai dengan kesucian Tuhan akan menuntut terus untuk dipuaskan. Dalam diri kita, terdapat berbagai keinginan-keinginan yang sudah mengakar sehingga menjadi semacam “ikatan.” Inilah yang membuat banyak orang tertawan oleh keinginannya sendiri. Banyak orang Kristen menganggap hal ini sebagai sesuatu yang wajar. Mereka membiarkan diri mereka terus dalam belenggu berbagai keinginan yang tidak sesuai dengan keinginan Allah. Firman Allah mengatakan agar kehidupan lama harus ditanggalkan, dan manusia baru yang terus-menerus diperbarui harus dikenakan. Kalau manusia lama masih dihidupi, seseorang tidak pernah memiliki batiniah seperti Kristus. Ini juga berarti orang itu tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah yang sah. 
    Oleh sebab itu, orang percaya harus menguasai dan menaklukkan diri sendiri di bawah otoritas Allah. Kalau tidak, maka manusia lama akan tetap hidup dan menguasai kehidupannya sehingga Allah tidak dapat memiliki dirinya. Harus ada kesediaan untuk meninggalkan sama sekali cara berpikir, pola hidup, dan gaya hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Betapa ironisnya, banyak orang Kristen yang sementara bergereja, tetapi sejatinya mereka tidak menerima dan tidak memiliki Tuhan Yesus. Orang yang memiliki Tuhan Yesus adalah mereka yang membuang manusia lamanya. Dalam hal ini, berlaku firman bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan.
    0 min
  • Menyanjung Allah
    Sikap meninggikan dan menyanjung Allah yang benar adalah menjadikan Allah sebagai satu-satunya kebahagiaan. Biasanya, orang memahami kebahagiaan sebagai perasaan senang, sukacita karena keadaan nyaman, tidak ada ancaman, atau karena keinginannya dipuaskan, atau cita-citanya tercapai. Dunia mengondisi hampir semua orang manusia beranggapan bahwa harta duniawi dapat menjadi sumber kebahagiaan satu-satunya. Banyak orang telah berhasil diarahkan oleh Iblis untuk menjadikan harta duniawi sebagai sumber kebahagiaan, sehingga mereka meninggikan dan menyanjungnya. Orang-orang seperti ini tidak akan pernah dapat meninggikan dan menyanjung Allah. Kalaupun mereka ke gereja menyanyikan lagu-lagu gereja yang memuat kalimat-kalimat meninggikan dan menyanjung Allah, sebenarnya semua itu hanyalah omong kosong, kemunafikan, dan memuakkan di hadapan Allah.  
    Zaman ini, harta dunia yang dianggap sebagai kebahagiaan satu-satunya. Hal ini sudah melekat dalam kehidupan hampir semua manusia. Banyak orang Kristen telah terbawa arus dunia. Pikiran dan perasaan hampir semua orang hanya terarah kepada kekayaan dunia atau uang, bukan pada Tuhan dan perkara-perkara rohani. Kalaupun mereka ke gereja dan mempercakapkan mengenai damai sejahtera Allah, hal itu hanya sebatas buah bibir dan menjadi pengetahuan, bukan sebuah pengalaman riil setiap hari. Damai sejahtera dan kebahagiaan dalam Tuhan sebenarnya jauh dari kehidupan mereka. Dengan keadaan tersebut, mereka tidak dapat mengalami dan menikmati damai sejahtera Allah. Orang Kristen seperti ini tidak mungkin memiliki kesetiaan kepada Allah. 
    Damai sejahtera Allah hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang mengerti bagaimana menikmati damai sejahtera tersebut. Tuhan Yesus sendiri berkata bahwa damai sejahtera-Nya diberikan kepada orang percaya, tidak sama dengan damai sejahtera yang dari dunia (Yoh. 14:27). Untuk menikmati damai sejahtera ini, perlu perjuangan, latihan, dan pengalaman riil berjalan dengan Tuhan. Perjuangan itu adalah mengubah selera duniawi menjadi selera rohani. Paulus, ketika mau memiliki Kristus—di dalamnya termasuk damai sejahtera-Nya—ia harus melepaskan segala sesuatu dan menganggapnya sampah (Flp. 3:7-8). Hal itu menunjukkan bahwa kebahagiaan Paulus adalah Tuhan. Orang seperti ini dapat benar-benar menyanjung Tuhan.
    Seorang yang menilai Allah lebih berharga dari segala sesuatu, pasti tidak menjadikan dunia ini sebagai nilai tertingggi hidup, tetapi memandang Allah sebagai yang bernilai tinggi dalam hidup dan kebahagiaannya. Orang seperti ini akan rela membela kepentingan Kerajaan Surga. Jadi, orang yang meninggikan dan menyanjung Tuhan adalah orang yang pasti melayani Allah dengan segenap hidupnya. Jadi, kalau seseorang menyanyi di gereja, menyatakan bahwa dirinya menyanjung dan meninggikan Allah, belum berarti sudah meninggikan dan menyanjung Allah dengan benar. Allah tidak cukup disanjung dengan nyanyian, tetapi dengan tindakan nyata. Firman Tuhan mengatakan agar kita memuliakan Tuhan dengan harta dan tubuh kita. 
    Sejak seorang anak manusia terlahir, dunia sekitarnya telah mempertontonkan dan mengajarkan bagaimana memberi penghargaan atau nilai terhadap harta duniawi dan semua hal yang dipandang dunia sebagai bernilai tinggi. Segala hal tersebut antara lain meliputi kehormatan, kekayaan, pangkat, gelar, perhiasan, perasaan, penampilan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, sejak kecil seseorang telah dididik memiliki gaya hidup seperti lingkungannya yang duniawi. Hal ini menjadikan seseorang tidak dapat menyanjung Allah dengan benar. Di zaman ini, kita hidup dalam tatanan ekonomi yang merangsang dan mendorong orang untuk berbelanja atau memiliki apa yang orang lain miliki. Hampir semua manusia disesatkan oleh gaya hidup ini. 
    Penghargaan atau nilai yang diberikan orang pada umumnya terhadap segala hal, menulari kita sehingga “memaksa” kita juga memiliki gaya hidup yang sama. Hal ini menyebabkan banyak orang Kristen memberi nilai terhadap segala sesua...
    0 min
  • Melawan Iblis
    Sejatinya, Iblis bukan musuh yang lemah. Ia adalah musuh yang kuat dan berbahaya. Harus disadari, bahwa setiap hari kita diperhadapkan dengan musuh ini. Bujukan Iblis membuat kita sering mengambil keputusan dan pilihan yang tidak tepat, serta perbuatan-perbuatan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sering kita tidak menuruti kehendak Allah, tetapi kehendak diri sendiri yang sangat dipengaruhi dunia sekitar kita, dimana ada Iblis di baliknya. Banyak keputusan yang kita ambil tidak berdasarkan pimpinan Roh Kudus, tetapi keinginan dan hikmat manusia; di baliknya, ada Iblis. Padahal, standar hidup yang seharusnya dikenakan oleh anak-anak Tuhan adalah standar hidup yang berbeda dengan anak-anak dunia. Ini berarti sebuah kemelesetan dari kehendak Tuhan. Kemelesetan adalah dosa. 
    Dalam 1 Korintus 9:26-27 tertulis, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Rasul Paulus berkata, “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Sebagai hamba Tuhan, Paulus bersikap jujur, ia sadar bahwa ia tidak kebal terhadap dosa. Paulus pun bisa terpeleset dan berbuat kesalahan. Kalau seorang hamba Tuhan sekaliber Paulus mengatakan ini, dimana masih ada kemungkinan baginya bisa berbuat salah, maka kita harus lebih berhati-hati.
    Memang diri kita sendiri tidak bisa dikatakan sebagai musuh, tetapi kedagingan kita harus disadari sebagai ancaman yang membahayakan. Sebab, diri kita sering memiliki keinginan-keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, dan lebih sesuai dengan keinginan Iblis. Keinginan-keinginan manusia lama kita yang bertentangan dengan kehendak Allah, bila dituruti, akan membawa kita makin jauh dari kesucian Allah. Dalam hal ini, pergumulan sejati adalah pergumulan untuk menggantikan kehendak diri sendiri yang meleset, kepada ketepatan melakukan kehendak Allah. Pergumulan untuk mencapai ketepatan ini adalah pergumulan seumur hidup yang tidak boleh berhenti. Semakin kita tua, seharusnya semakin tepatlah pilihan-pilihan, keputusan-keputusan, dan tindakan kita. 
    Harus selalu diingat, bahwa tujuan hidup kita bukan dunia ini melainkan kehidupan yang akan datang. Oleh sebab itu, di tengah-tengah kesibukan hidup ini, kita tidak boleh lengah. Kita harus mengarahkan pandangan kita pada tujuan hidup yang benar, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak menuruti keinginan diri sendiri dari manusia lama kita yang menjadi kendaraan Iblis membinasakan kita. Banyak orang Kristen yang tertipu oleh kuasa dunia ini. Mereka sibuk dengan berbagai urusan, sampai melupakan bahwa mereka harus selalu mengerti kehendak Bapa dan melakukannya. Oleh sebab itu, selagi ada kesempatan, kita harus mencari Tuhan agar kita memiliki fokus hidup yang benar dan tidak terperdaya oleh Iblis. Mencari Tuhan di sini wujudnya adalah belajar Firman Tuhan dan berusaha terus-menerus mengerti kehendak Bapa untuk dilakukan, supaya hidup tepat seperti yang dikehendaki-Nya. 
    Kalau kita selama ini tidak hidup dalam fokus yang benar seperti yang Tuhan kehendaki, kita harus mengambil keputusan saat ini, sebelum terlambat dan tidak mempunyai kesempatan lagi. Kalau seseorang mendengar suara Tuhan hari ini untuk berbalik kepada Tuhan, tetapi menolaknya, maka lain waktu kalau ada ajakan atau panggilan untuk bertobat, hati orang itu sudah semakin keras sehingga tidak pernah bisa bertobat lagi. Semakin menunda, semakin Iblis akan menguasai kehidupan seseorang. Sampai pada stadium tertentu, seseorang tidak akan pernah bisa mengerti kehendak Allah, apalagi melakukannya. Dalam hal ini, kuasa gelap atau Iblis berusaha menyimpangkan perjalanan hidup kita agar tidak tertuju kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Hal ini harus disadari, bahwa kalau seseorang rajin ke gereja,
    0 min
  • Tidak Merasa Berhak Memiliki Keinginan
    Pada umumnya, orang merasa berhak memiliki keinginan dan memuaskan keinginannya sendiri. Bagi orang-orang beragama yang belum dewasa, mereka berpikir bahwa Tuhan berkewajiban menyukakan hatinya. Bagi mereka, Allah memiliki tugas untuk mengabulkan permintaan mereka. Bagi orang percaya yang mengerti arti penebusan adalah mereka sudah tidak merasa berhak lagi memiliki hidup, sebab segenap hidup ini sudah menjadi milik Tuhan. Untuk itu, orang percaya memberikan kehidupan ini. Bukan apa yang dikehendaki, melainkan apa yang Tuhan kehendaki. Orang-orang seperti ini merasa tidak berhak memiliki keinginan. Kalau ada keinginan, keinginannya bukan untuk diri sendiri, melainkan hanya untuk kesukaan hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus. 
    Kekristenan yang murni itu sangat radikal, yaitu bagaimana menumpas semua unsur manusia lama yang merasa berhak memiliki keinginan untuk diri sendiri. Penumpasan manusia lama ini merupakan proses panjang, namun harus dilakukan dengan segenap hati. Kalau Alkitab berbicara mengenai “kematian dari manusia lama,” hal itu menunjuk kepada kesediaan untuk meninggalkan semua keinginan diri sendiri yang tidak sesuai dengan Allah. Orang percaya yang mematikan manusia lamanya akan menjadi orang-orang yang bisa mematikan keinginannya sendiri. Kita harus meneladani Yesus yang doanya adalah: “Bukan kehendak-Ku, tetapi Kehendak-Mu yang jadi.” 
    Banyak orang Kristen yang tidak memperkarakan apakah keadaannya sudah berkenan di hadapan Allah atau belum. Kenyataannya, banyak mereka yang berkeadaan tidak berkenan kepada Tuhan, tetapi mereka merasa tenang sebab mereka berpikir bahwa mereka tidak bermaksud mau mengkhianati Tuhan. Mereka berharap, suatu hari nanti bisa berkenan kepada-Nya. Mereka berpikir bahwa itu hanya masalah waktu saja. Mereka berpikir bahwa Tuhan juga memakluminya. Sikap ini sebenarnya sikap yang sangat ceroboh. Seharusnya yang segera dilakukan adalah berhenti merasa berhak memiliki hidup, yaitu memiliki keinginan untuk dirinya sendiri. Selama orang merasa berhak memiliki keinginan untuk diri sendiri, bukan untuk kemuliaan Allah, ia tidak bisa menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah.
    Oleh sebab itu, orang percaya tidak boleh berhenti mengalami pembaharuan pikiran seperti yang dinasihatkan oleh Rasul Paulus, agar dapat mengerti segala sesuatu yang diingini oleh Allah (Rm. 12:2). Pada akhirnya, target yang harus dicapai oleh orang-orang yang tidak merasa berhak memiliki keinginan diri sendiri adalah hidup hanya untuk kepentingan Allah Bapa atau melakukan keinginan Bapa. Ini adalah pergumulan yang tidak pernah berhenti sampai mati. Dari pergumulan ini, seseorang akan mengerti perubahan dalam kehidupannya. Ia bisa mengerti level kedewasaan yang telah dicapainya. Memang kita akan selalu berkata kita belum berkenan kepada Allah Bapa atau belum sempurna, tetapi kita mengetahui bahwa kita sudah menjadi lebih baik dari hari sebelumnya ketika kita bisa mengosongkan bejana hati kita dari segala keinginan yang bertentangan dengan Allah. Pergumulan ini bersifat sangat pribadi. Tidak ada orang yang bisa memahaminya, tetapi kita sendiri bisa memahaminya.
    Sekarang ini, banyak orang yang arah hidupnya tidak jelas dan sesat. Mereka tidak mengerti apa tujuan hidup ini. Mereka bekerja, bersekolah atau studi, berkarier, menikah dan berkeluarga, mencari nafkah, dan melakukan segala kegiatan tanpa mengerti untuk apa semua itu dilakukan. Pada umumnya, semua itu dilakukan untuk memuaskan keinginannya sendiri. Suatu hari, ketika menghadap takhta pengadilan Kristus, barulah sadar bahwa hidup mereka ternyata sia-sia. Selama di dunia, mereka menjalani hidupnya tanpa arah dan isi yang benar. Mereka tidak hidup untuk melakukan keinginan Allah, tetapi keinginan diri sendiri. Mereka bisa kelihatan sebagai orang baik-baik, bahkan pergi bergereja, menjadi aktivis, bahkan menjadi pendeta. Tetapi sebenarnya arah hidup mereka bukan kepada Allah. Sebab, selama seseorang berhak memiliki keinginan diri sendiri,
    0 min
  • Melakukan Kehendak Bapa
    Keselamatan orang percaya tidak berhenti sampai pada percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat saja. Setelah percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, kita harus dimuridkan, didewasakan, dan bertumbuh agar menjadi seorang yang “melakukan kehendak Bapa.” Kebenaran ini hanya dapat dipahami dan dikenakan untuk orang yang sudah dikuasai kasih Kristus. Harus disadari sedalam-dalamnya bahwa Kristus mati bukan bagi keuntungan-Nya sendiri, melainkan demi keselamatan kita. Tanpa kematian-Nya, kita dikurung dalam kekuasaan Iblis, dan digiring ke dalam kegelapan abadi. Ia datang untuk membebaskan kita. Pembebasan itu juga harus sampai dari keadaan tidak melakukan kehendak Bapa, menjadi orang yang melakukan kehendak Bapa. Kalau kita tidak mengerti hal ini dan tidak memperjuangkannya, kita tidak pernah mengalami keselamatan sebagai milik yang pasti. Menjadi milik yang pasti bukan berdasarkan kepercayaan pada suatu doktrin, melainkan benar-benar telah mengalaminya sebab melakukan kehendak Bapa. 
    Pernahkah kita menanyakan kepada Tuhan, apakah kita sungguh-sungguh sudah diakui oleh Tuhan bahwa kita sudah melakukan kehendak Bapa? Menjadi orang percaya bukan hanya untuk menerima fasilitas berkat-Nya, melainkan juga untuk melakukan kehendak Bapa. Paulus adalah sosok manusia yang benar-benar telah melakukan kehendak Bapa. Kehidupan seperti itulah yang dikatakan sebagai “berpadanan dengan Injil.” Injil yang merasuki seseorang akan menjadikan orang itu “pelaku kehendak Bapa.” Inilah yang diharapkan dan dikehendaki oleh Tuhan, bahwa kebenaran Tuhan menjadikan kita melakukan kehendak Bapa. Bila tidak demikian, berarti Injil yang diterima salah, atau kita menolak Injil yang murni. Tidak ada orang yang menerima Injil yang benar yang tidak menjadi pelaku kehendak Bapa, seperti Yesus.
    Dalam hal ini, orang Kristen dewasa berpendirian bahwa ia tidak berhak menuntut Tuhan apa pun, dan menerima bahwa Tuhanlah yang berhak menuntut dirinya untuk melakukan kehendak Bapa. Inilah yang disebut “berutang untuk hidup menurut Roh.” Harus disadari bahwa setiap orang yang telah ditebus, hidupnya bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk Dia yang sudah mati bagi dirinya. Hidup bagi Yesus berarti melakukan kehendak Bapa, sebab Yesus menjadi Tuhan bagi kemuliaan Allah. Dengan melakukan kehendak Bapa, seseorang benar-benar memuliakan Allah Bapa.
    Keagungan hidup kekristenan bukan karena menjadi aktivis atau menjadi pendeta, melainkan senantiasa melakukan kehendak Bapa seperti yang dilakukan oleh Yesus. Anak-anak Allah harus memiliki posisi atau keberadaan yang berbeda dengan mereka yang bukan anak-anak Allah. Perbedaan yang paling fundamental adalah melakukan kehendak Bapa. Orang yang tidak mengalami dan memiliki keselamatan, tidak pernah bisa melakukan kehendak Bapa. Melakukan kehendak Bapa hanya dapat terjadi atas orang-orang yang menerima keselamatan dalam Yesus Kristus. Gaya hidup seperti ini, jika dikembangkan terus akan sampai pada kualitas hidup yang disebutkan sebagai “hidupku bukan aku lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Kalau Kristus hidup dalam diri seseorang, ia pasti melakukan kehendak Bapa. Orang itu barulah pantas disebut sebagai pengikut Kristus, dan layak disebut sebagai “Kristen” yang artinya seperti Kristus. Hal ini sesuai dengan apa yang ditulis oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:10, yaitu supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami. 
    Dengan mengenakan gaya hidup Yesus, yaitu melakukan kehendak Allah Bapa, seseorang barulah menjadi saksi yang dapat membuktikan bahwa Yesus adalah Anak Allah yang mati dan bangkit. Kehidupan seperti itu terwujud di dalam hidup orang percaya yang bertumbuh dewasa secara benar. Kehidupan seperti inilah yang diingini oleh Allah Bapa. Gaya hidup seperti ini adalah gaya hidup bangsawan surgawi yang bisa diajak menderita bersama dengan Tuhan Yesus. Tentu saja hanya orang-orang seperti ini yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus.
    0 min
  • Berbasis Dunia Hari Ini
    Pada akhirnya, Allah Bapa menghendaki agar suatu hari nanti Bapa menemukan orang-orang yang berkepribadian seperti Anak Tunggal-Nya, sehingga rencana Bapa dimana Yesus menjadi yang sulung di antara banyak saudara, benar-benar terwujud. Untuk memiliki kepribadian Anak Tunggal Bapa, tidak ada cara lain kecuali mengalami kematian daging. Kematian daging ini sama dengan kematian diri sendiri. Hanya kalau seseorang mengalami kematian diri sendiri, barulah ia dapat melahirkan atau menghidupkan pribadi Anak Allah di dalam dirinya. Jika hal ini berhasil, barulah seseorang dapat disebut mengalami kelahiran baru. Hal ini berarti semua pola pikir dan semua hasrat yang telah dibangun selama bertahun-tahun, harus digantikan oleh pola pikir dan hasrat ilahi. Inilah gairah anak Allah yang normal, sebuah gairah hidup yang dikenakan oleh Yesus. Inilah sebenarnya tujuan utama menjadi umat pilihan Perjanjian Baru. Faktanya, banyak orang tertawan oleh berbagai kesibukan yang tidak membawa kehidupan kekal. Segala sesuatu yang mereka usahakan adalah perkara-perkara dunia fana. Hati dan pikiran mereka telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka menjalani hidup sama seperti anak-anak dunia. 
    Orang yang dibutakan oleh ilah zaman ini, tidak bersedia membuang segala kesenangan pribadi. Mereka tidak menyadari sedalam-dalamnya bahwa dunia ini bukan rumah orang percaya. Inilah orang-orang yang hidup hanya untuk kepentingan diri sendiri, bukan kepentingan Kristus yang telah menebusnya. Itulah sebabnya, tidak sedikit orang Kristen yang mata hatinya tertutup terhadap kepentingan Kristus. Hidup untuk kepentingan Kristus artinya hidup bagi pemberitaan karya salib Tuhan dengan mengenakan gaya hidup Yesus, demi pelebaran Kerajaan Allah, agar jiwa-jiwa yang belum diselamatkan dapat terselamatkan. Kalau seseorang masih mengasihi diri sendiri, maka ia tidak dapat mengasihi orang lain, dan tidak dapat menjadi utusan Kristus, hidup untuk kepentingan Kristus. Sebenarnya, mereka belum hidup baru dalam Tuhan. 
    Orang yang benar-benar hidup baru dalam Tuhan akan menunjukkan kualitasnya, ketika menghadapi berbagai pengaruh dunia. Ia tidak akan terhanyut dalam pola hidup anak-anak dunia. Dengan demikian, ia mengembangkan logika rohaninya dan Tuhan akan menanamkan kerinduan terhadap Kerajaan-Nya. “Logika” di sini maksudnya pola dan landasan berpikirnya. “Rohani” maksudnya sesuatu yang memiliki nilai lebih dari kefanaan dunia ini. Jadi, logika rohani artinya pola pikir yang berbasis atau berlandaskan pada dunia yang akan datang. Basis pola pikiran manusia hari ini pada umumnya bukan Kerajaan Tuhan, melainkan dunia. Inilah orang-orang yang telah termakan bujukan kuasa dunia, seperti yang dibujukkan kepada Tuhan Yesus. Oleh sebab itu, kita harus rela meninggalkan pola pikir yang berbasis pada dunia hari ini. Kita harus memikirkan hal ini dengan serius dan memahaminya dengan lengkap, agar kita memiliki basis berpikir yang mengarah pada Kerajaan Allah (Kol. 3:1-3). 
    Logika rohani yang berbasis pada dunia yang akan datang, bertentangan dengan gaya hidup anak dunia. Gaya hidup Yesus sendiri adalah gaya hidup yang bertolak belakang dengan gaya hidup manusia pada zamannya. Kalau kehidupan orang percaya belum sampai bertolak belakang dengan gaya hidup anak dunia, berarti ia belum mencapai kekristenan yang sejati yang diajarkan Yesus. Pada dasarnya, mengikut Tuhan Yesus adalah meneladani gaya hidup-Nya. Kalau gaya hidup Tuhan Yesus bertolak belakang dengan gaya hidup manusia pada umumnya, berarti orang percaya yang meneladani gaya hidup-Nya juga ikut bertolak belakang dengan dunia. Murid-murid Yesus pernah kecewa, dan tidak seorang pun yang bersedia mengiring Tuhan lagi ketika ternyata Yesus mati di kayu salib. Mereka tergoncang karena tidak mengerti isi kehidupan Yesus yang sejati. Pada mulanya, mereka berharap Yesus akan menjadi raja dunia; raja versi mereka. Murid-murid menginginkan kemakmuran duniawi. Mereka tidak mengerti tujuan yang hendak dicapai ole...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…