Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keabsahan Menyembah Allah
    Allah yang disembah sebenarnya bisa sesuatu yang kepadanya seseorang memberi penghargaan, penghormatan yang dijunjung tinggi melebihi segala sesuatu setiap saat. Sesuatu itu bisa uang, harta, hiburan dan lain sebagainya. Seseorang tidak bisa menyembah Allah yang benar kalau setiap saat tidak menghormati, dan tidak menghargai Allah dengan benar, sebab ada “sesuatu” yang lain yang diperlakukan sebagai allah. Allah tidak bisa dipermainkan. Hendaknya kita tidak berpikir, kita bisa menyembah Allah dengan benar pada waktu kita dalam kebaktian atau dalam pertemuan doa, sementara setiap harinya tidak menghormati dan tidak menghargai Dia secara benar. Jadi kalau kehidupan seseorang setiap hari menghargai uang, harta, hiburan lebih dari menghormati Tuhan, maka pada waktu dia kebaktian atau pada waktu pertemuan doa, sebenarnya Allah tidak menerima penyembahan orang-orang seperti itu. Sebab orang-orang ini di mata Allah adalah munafik dan mempermainkan Allah. 
    Jadi sikap kita setiap hari kepada Tuhan itulah yang menentukan apakah kita benar-benar menyembah Allah dan meninggikan Dia pada waktu kebaktian atau dalam pertemuan doa. Banyak orang berpikir bahwa Allah menerima pujian, penyembahan pada waktu dalam kebaktian atau dalam waktu pertemuan doa bersama tanpa memperhitungkan perilaku orang di setiap saatnya.  Padahal Allah tidak menerima pujian dan penyembahan seseorang kalau orang tersebut najis bibirnya, juga mereka yang terikat dengan dunia dan yang tidak mencintai Tuhan secara benar. Oleh sebab itu kita harus berhenti berbuat dosa dan berhenti mencintai dunia ini, agar kita bisa menghormati Tuhan secara benar. Dengan demikian suatu hari nanti kita dapat menghadap takhta pengadilan Tuhan dengan berani. Persekutuan kita dengan Tuhan tidaklah ditentukan oleh seberapa banyak waktu yang kita gunakan untuk berdoa dan datang kebaktian, tetapi seberapa dalam dan tulus kita menghormati dan menghargai Tuhan dalam kehidupan kita setiap saat. 
    Kalau seseorang tidak menolong sesamanya ketika sesamanya dalam kesulitan, itu berarti dia menghargai uang lebih daripada menghormati Tuhan. Kalau seseorang mestinya memberi waktu untuk membaca Alkitab, atau mendengarkan khotbah, tetapi hanyut dan tenggelam dengan tontonan, dengan film, dan berbagai hiburan, berarti dia tidak menghormati Tuhan secara patut. Kalau mestinya ia mengalah ketika dimusuhi, tetapi tidak mau mengalah, mestinya mengampuni tetapi tidak mengampuni, mestinya tidak menyakiti orang dengan perkataan tetapi menyakiti, mestinya tidak mempercakapkan orang lain di belakang orang itu tetapi melakukannya, berarti ia tidak menghormati Allah. Sikap seperti itu menunjukkan bahwa sebenarnya ia tidak mengasihi Allah. Ironis sekali, kemudian pada waktu datang dalam kebaktian, dalam pertemuan doa, merasa bisa menyembah Tuhan, pada waktu kebaktian mengatakan bahwa dirinya meninggikan Dia, mengatakan menghormati Dia, ini berarti omong kosong atau sia-sia
    Banyak orang tidak mengerti hal ini sehingga hidup mereka sembarangan, hidup mereka sembrono. Tuhan Yesus mengatakan bahwa “Penyembah-penyembah benar akan menyembah Allah dalam roh dan kebenaran” (Yoh. 4:23). Ucapan Tuhan Yesus ini berarti ibadah kita itu adalah seluruh waktu hidup kita, dan di mana pun kita berada serta melalui segala hal yang kita lakukan. Penyembahan kita bukan hanya dalam ritual, atau dalam seremonial, atau dalam liturgi atau hanya pada waktu kita kebaktian di gereja. Allah tidak bisa dipermainkan. Kiranya sejak sekarang ini kita mulai memiliki mata hati yang tulus, mata hati yang jujur, pada waktu kita kebaktian, pada waktu kita dalam pertemuan doa bersama, juga waktu kita menyembah Tuhan. Kita harus menghormati Tuhan secara patut di dalam kehidupan kita setiap hari. Kalau kita mengatakan: “aku sujud di hadapan-Mu, aku menyembah,” itu berarti kesediaan kita tunduk terhadap Tuhan dengan melakukan apa pun yang Allah kehendaki dalam hidup ini setiap saat dalam segala hal, dimanapun kita berada.
    0 min
  • Kompetisi Kekekalan
    Kalau kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dan kita sungguh-sungguh mengasihi Dia, kita pasti berusaha untuk selalu hidup tak bercacat dan tidak bercela, agar setiap saat kalau menghadap Bapa di surga, kita berkeadaan berkenan di hadapan-Nya. Jadi, kalau kita sungguh-sungguh menghormati Allah, mengasihi Dia, kita setiap saat selalu berjaga-jaga. Dan memang kematian dapat terjadi setiap saat dalam hidup kita tanpa kita tahu.  Kalaupun kita belum meninggal dunia, kita harus selalu ada di hadirat Allah setiap saat. Mestinya kita tidak sembarangan atau tidak semena-mena hidup, artinya kita tidak sembarangan dengan segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Sering kita tidak berpikir dan tidak memperhitungkan bahwa kita sebenarnya ada di hadirat Allah. Kadang-kadang, bahkan sering, kita tidak menghayati bahwa kita sedang berjalan dengan Allah.  Oleh sebab itu kita harus bertekad untuk benar-benar menjadi orang yang menghormati Allah. 
     
     Jika kita serius dengan Allah maka kita harus menunjukkan keseriusan tersebut dengan melakukan usaha meninggalkan segala hal yang dapat mendukakan hati-Nya. Hal tersebut kita lakukan agar kita tidak berbuat sesuatu yang melukai atau menyakiti hati Allah, dan tidak terikat dengan dunia ini. Bersama dengan komunitas “pecinta Suara kebenaran” kita bersedia menjadi orang-orang yang luar biasa di mata Allah. Walaupun di mata manusia kita sering dipersalahkan, kita dihakimi, baik oleh orang jauh maupun orang dekat. Walaupun dikata-katai hal-hal yang tidak kita lakukan. Justru itu yang memicu kita untuk berusaha lebih berkenan di hadapan Allah. Itu yang memicu kita, atau lebih mendorong kita untuk memiliki keadaan yang berkenan di hadapan Allah. Suatu hari nanti di pengadilan Tuhan akan nyata keadaan kita masing-masing. Situasi yang sulit dapat memberi kita motivasi yang sangat kuat untuk menjalani hidup dan mengisi hari hidup kita dengan benar sesuai dengan standar kesucian Allah. 
     
    Kalau kita mau berkompetisi dengan sesama, jangan berkompetisi di bumi sekarang ini sekitar hal-hal fana; seperti misalnya siapa yang paling kaya, paling terhormat, paling popular, paling berpenampilan menarik, berjabatan tinggi, bergelar banyak dan lain sebagainya.   Di lingkungan gereja, bukan berkompetisi gereja mana yang paling besar? Siapa yang dipandang lebih mulia dan terhormat? Dan lain sebagainya.  Kalau kita mau berkompetisi, kompetisi kita secara rahasia, secara diam-diam, yaitu siapa yang nanti di hadapan pengadilan Allah mendapatkan penilaian yang terbaik dari Allah, Bapa kita. Motivasi ini lebih meneguhkan dan menguatkan hati kita supaya kita berjuang menjadi orang yang benar-benar berkenan di hadapan Allah Hal ini juga didorong oleh kesadaran bahwa Allah yang Mahamulia, Allah yang Mahabesar adalah Pribadi yang layak menerima persembahan hidup kita sepenuhnya atau seutuhnya. Ini bukan berarti kita harus memberikan seluruh uang kita untuk gereja, atau mengirimkan uang kita kepada pendeta. Tentu, kita harus mengelola uang, harta, dan segala sesuatu yang Allah percayakan kepada kita dalam pimpinan Roh Kudus bagi kepentingan Kerajaan-Nya.
     
    Tidak ada kepentingan dalam hidup ini selain menyenangkan hati Tuhan. Tidak ada hal yang lebih besar, tidak ada hal yang lebih penting dalam hidup ini selain berkenan di hadapan Allah Bapa kita, dan Tuhan kita Yesus Kristus. Dan mestinya inilah yang harus menjadi satu-satunya agenda hidup kita. Tidak ada agenda hidup yang lain selain menyukakan hati Tuhan. Untuk ini kita harus rela melepaskan segala sesuatu yanguntuk kesukaan Dia. Inilah isi kompetisi yang sehat dan kudus, tentu disertai hati tulus untuk mencari pujian bagi dan dari Allah, bukan dari manusia dan untuk manusia. 
     
    Kita bukan takut kepada manusia atau mencari hormat dari manusia, tetapi kita takut akan Allah. Orang kaya dalam Matius 19 sukar masuk surga karena keterikatannya dengan kekayaan.
    0 min
  • Menghayati Kehadiran Allah
    Kita harus bersedia benar-benar serius mencari Tuhan, dan mengalami Tuhan. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup ini. Kita harus benar-benar ngotot mencari Tuhan, lebih dari mencari uang, harta, karier atau apa pun juga. Kita juga harus benar-benar ngotot mengerahkan semua potensi kita untuk dapat mengalami Tuhan. Kita tidak boleh merasa puas dengan keberadaan kita sebagai jemaat yang sudah rajin ke gereja, sebagai aktivis jemaat, sebagai pendeta, sebagai dosen sekolah teologi, sebagai ketua sinode dan lain sebagainya. Kita harus selalu merasa kurang, selalu haus untuk mengalami perjumpaan dengan Allah. Dengan demikian kita dapat menghayati kehadiran Allah. Orang yang menghayati kehadiran Allah dapat dilihat cirinya, sebagai berikut:
    Pertama, orang yang menghayati kehadiran Allah tidak memiliki perasaan takut terhadap hari esok, tidak takut terhadap masa depan, tidak takut terhadap kejadian-kejadian yang berlangsung di sekitarnya yang bisa mengancam hidupnya. Orang seperti ini tidak bisa hidup di dalam ketakutan, kecemasan dan kekhawatiran.  Selama seseorang tidak memberontak kepada Allah dan selalu hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, mestinya tidak ada yang ditakuti dalam hidup ini. Tidak ada yang membuat dirinya gentar. Orang yang gagal menghayati kehadiran Allah, ciri paling mudah terlihat adalah takut di tempat gelap karena yakin dan merasa ada setan. Orang seperti ini lebih percaya adanya setan daripada adanya Allah dan malaikat-malaikat kudus yang melindungi dan menjaganya. Ini sebenarnya orang yang gagal menghayati kehadiran Allah. Orang seperti ini juga memiliki perasaan takut mengenai hari esok, kalau-kalau dapat atau akan terjadi sesuatu atas dirinya. Mestinya selama kita tidak memberontak kepada Allah, selama kita hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah, tidak ada yang membuat kita takut.
    Kedua, orang yang menghayati kehadiran Allah, hidupnya pasti bersih, tidak akan berani berbuat dosa. Karena tidak menghayati kehadiran Allah, maka tanpa sadar seseorang juga sering bersikap sembarangan, sehingga mudah berbuat sesuatu yang mendukakan hati Allah. Seperti pada waktu dalam percakapan seseorang menjadi sombong, tidak tulus dan senang membicarakan orang lain secara negatif. Karena gagal menghayati kehadiran Allah maka sebagai akibatnya seseorang menjadi tidak takut akan Allah secara benar. Sebenarnya keadaan ini sangat membahayakan, sebab jika terjadi berlarut-larut maka dapat membangun kebiasaan hidup yang tidak menghormati Allah. Orang yang tidak menghormati Allah pasti juga tidak mengasihi Allah. Dan orang yang tidak mengasihi Allah adalah orang yang terkutuk (1Kor. 16:22)
    Ketiga, orang yang menghayati kehadiran Allah pastilah orang yang berani berkorban untuk pekerjaan Allah. Hal ini sebenarnya sulit dibicarakan, tetapi tetap harus dibicarakan dengan tegas dan jelas. Sejatinya, kalau kita diperkenan berkorban untuk pekerjaan Bapa sebagai pelayanan bagi Bapa, itu adalah sebuah kehormatan. Tentu pelayanan bagi Bapa adalah tindakan kasih kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Kalau kita bisa berbuat sesuatu untuk sesama, dapat diperhitungkan sebagai tindakan yang kita lakukan untuk Tuhan sendiri. Bukankah ini sebuah kebahagiaan dan kehormatan yang tiada tara? Waktu kita berbuat sesuatu untuk orang yang kita tahu itu kita lakukan untuk Tuhan, air mata kita bisa berlinang, kita terharu, kita diperkenan berbuat sesuatu yang mulia sebagai persembahan bagi Allah yang Mahamulia.
     Keempat, orang yang menghayati kehadiran Allah pasti merindukan saat-saat jam doa. Sebenarnya kalau orang tidak ingin berdoa dan tidak merindukan jam doa, berarti gagal menghayati kehadiran Allah. Sikap hati tidak suka berdoa, hendaknya tidak dipandang sebagai hal kecil dan sepele, sebab kalau seseorang tidak merindukan jam doa berarti tidak merindukan Allah sendiri. Orang-orang seperti ini biasanya tidak hidup dalam keadaan bersih di hadapan Allah atau masih memiliki ikatan dalam percintaan d...
    0 min
  • Pengalaman dengan Allah
    Betapa mudahnya orang berbicara mengenai Allah dari hasil tahun-tahun panjang belajar teologi di Sekolah Tinggi Teologi atau seminari. Sebenarnya orang bisa membuat penjelasan mengenai Allah, tanpa belajar teologi di perguruan tinggi keagamaan. Jadi betapa mudahnya orang berbicara mengenai Alah dari berbagai sumber yang diperolehnya. Tetapi betapa tidak mudahnya benar-benar bersentuhan dengan Allah dan mengenal Allah dari pengalaman langsung dengan Allah yang hidup. Banyak orang berpikir bahwa mengenal Allah itu mudah, dengan belajar tentang Allah, mereka merasa sudah bersentuhan dengan Allah. Sesungguhnya ini adalah suatu kebodohan dan telah menyesatkan banyak orang. Pembodohan ini dimulai dari mereka yang belajar mengenai Allah di perguruan tinggi keagamaan, karena merasa dengan ilmu yang mereka raih di perguruan tinggi tersebut serta gelar disandangnya mereka merasa mendapat legitimasi untuk mengaku sebagai hamba Tuhan, sudah mengenal Tuhan dan berhak mengajar orang lain. Padahal tidak jarang mereka itu seperti orang buta menuntun orang buta. Tuhan Yesus mengemukakan hal ini terkait dengan teolog-teolog Yahudi yang cakap berbicara mengenai Allah, tetapi tidak mengenal Allah secara benar.
    Gereja menjadi rusak dan para jemaat tidak pernah menjadi orang-orang Kristen yang rohani, sebab yang menjadi pembicara-pembicara di mimbar Kristen adalah orang-orang yang hanya memiliki pengetahuan teologi tanpa perjumpaan dengan Allah. Hal ini juga terjadi atas para pemimpin gereja, pimpinan sinode dan pimpinan aras gereja. Oleh sebab itu kita tidak boleh kecewa ketika melihat mereka melakukan tindakan-tindakan yang tidak menunjukkan sebagai utusan-utusan Kristus yang agung. Kemerosotan kehidupan jemaat Kristen nampak dalam kehidupan masyarakat Eropa yang memang dikenal sebagai masyarakat Kristen; yang pernah mengutus para misionarisnya ke Asia. Sampai hari ini mereka memiliki seminari-seminari yang sangat baik, memiliki kualifikasi akademis yang sangat tinggi, dan doktor-doktor serta profesor-profesor di lingkungan pendidikan teologi, tetapi ironisnya mereka gagal menyelamatkan masyarakat mereka dari kekafiran.
    Sejatinya, Allah yang Mahahadir lebih dekat dari nafas yang kita hirup. Mestinya kita dapat bersentuhan dengan Allah setiap saat. Karena riilnya Allah dalam kehidupan, maka sentuhan itu bisa seperti arus listrik yang menyengat kita. Hal ini tidak harus secara harfiah secara fisik, tetapi dalam jiwa atau batin kita. Dalam hal ini setiap orang dapat memiliki pengalaman pribadi dengan Allah yang sangat khusus atau khas yang tidak bisa dialami oleh orang lain. Pengalaman yang khusus atau khas ini tidak akan bisa diungkapkan kepada orang lain, memang Allah tidak menghendaki pengalaman khusus dengan Allah tersebut menjadi murahan ketika disaksikan secara sembarangan kepada semua orang.
    Pengalaman dengan Allah secara khusus dan khas ini membangun kontruksi teologi yang membekali setiap individu untuk berjalan dalam kehendak Allah. Orang yang mengalami Allah belum tentu bisa membuat karya ilmiah atau sebuah tulisan panjang mengenai Allah seperti para teolog yang belajar secara formal di Sekolah Tinggi Teologi atau seminari. Tetapi orang-orang ini dapat memiliki kehidupan rohani yang sesuai dengan maksud keselamatan itu diadakan yaitu menjadi manusia yang serupa dengan Yesus. Yesus adalah model manusia yang dikehendaki oleh Allah. Orang-orang percaya, walau hanya jemaat biasa yang tidak pernah mengenyam pendidikan teologi dan tidak pernah disahkan sinode sebagai pejabatnya, tetapi yang memiliki pengalaman langsung dengan Allah, menerima sengatan Allah, maka hidup mereka menjadi sangat berkualitas. Jadi kualitas kerohanian seseorang tidak terletak pada gelar kesarjanaan teologi atau statusnya sebagai pendeta yang disahkan oleh sinode. Kita harus kembali kepada Injil yang sejati, yang objeknya adalah Yesus sendiri dari segala sesuatu yang diajarkan maupun yang diperagakan-Nya (Ef. 4:15).
    0 min
  • Perspektif Kekekalan
    Dalam kenyataan hidup, kita sering mengalami persoalan-persoalan yang mencemaskan, seperti yang dialami banyak orang juga. Ketika kita dalam persoalan-persoalan yang mencemaskan hendaknya kita tidak mencurigai Allah. Mencurigai Allah maksudnya adalah berpikir bahwa Allah tidak memedulikan keadaan kita. Kecurigaan seperti itu memang tidak diucapkan, bahkan kadang tidak disadari, tetapi kalau seseorang menjadi takut cemas dan mulai mempersalahkan orang lain berarti itu sikap mencurigai Allah. Sikap mencurigai Allah nyata ketika seseorang bersungut-sungut atas keadaan yang dialaminya. Sampai pada taraf tertentu dalam kehidupan orang-orang yang tidak takut akan Allah, mereka menjadi marah terhadap Allah dan mempersalahkan Allah. Sebagai bentuk “unjuk perasaan” mereka tidak mau pergi ke gereja lagi, bahkan ada yang sampai berpindah agama.
    Kita harus berani memercayai Allah bukan saja bahwa Dia adalah Allah yang baik, juga bukan saja memercayai bahwa Allah adalah Allah sangat berkuasa, tetapi juga memercayai bahwa Allah adalah Pribadi yang Maha Bijaksana dan Maha Cerdas. Allah tidak akan mengizinkan suatu keadaan kita alami tanpa ada maksud maksud kekal-Nya melalui persoalan-persoalan tersebut. Ketika kita menghadapi persoalan-persoalan yang mencemaskan, pertama, kita harus tenang atau meneduhkan perasaan kita. Allah adalah Allah yang mengendalikan segala sesuatu. Segala sesuatu sesuatu yang terjadi dalam hidup kita berada di dalam kontrol dan monitor Allah dengan sempurna. Itu berarti tidak ada sesuatu yang terjadi secara kebetulan di dalam hidup ini. Dengan meyakini bahwa Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Cerdas mengizinkan sesuatu terjadi dalam hidup kita demi maksud-maksud kekal-Nya, maka kita dapat menyerahkan kan hidup kita sepenuhnya di dalam tangan Allah tanpa perasaan curiga.
    Menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, di dalamnya termasuk segala persoalan hidup yang kita hadapi, bukan berarti membuat kita menjadi pasif dan tidak bertanggung jawab. Kita harus tahu mana bagian kita yang harus kita penuhi atau harus kita tunaikan dan bagian Allah yang memang hanya Allah saja yang bisa mengerjakannya karena hal tersebut di luar kemampuan kita. Kalau kita sudah memenuhi bagian kita, kita menunggu dengan percaya waktu dan jadwal Allah bertindak. Dalam hal ini kita tidak boleh mengatur Allah, seakan-akan kita lebih bijaksana dan lebih cerdas dibanding Allah. Dalam hal ini kita belajar menanti dengan tenang pertolongan dari Allah. Allah memiliki jadwal yang tepat. Allah tidak pernah terburu-buru, tetapi Ia juga tidak pernah terlambat. Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik untuk berkat kekekalan bagi kita.
    Dalam menanti pertolongan dari Allah hendaknya kita tidak membuat skenario hasil akhir dari pergumulan kita. Kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pasti mendatangkan kebaikan bagi kita untuk maksud-maksud kekal Allah. Rencana Allah sering di luar kemampuan kita mengerti, dan pikiran-pikiran Allah itu jauh melampaui pikiran kita yang sangat terbatas. Apa pun hasil akhir atau keadaan yang akan terjadi di dalam hidup kita, harus kita percayai sebagai keputusan Allah yang terbaik. Dalam hal ini kita belajar mengatakan kepada Tuhan: “Tuhan aku serahkan hidupku kepada-Mu, kalau pun aku harus hancur, aku bersedia hancur di tangan-Mu.” Dari pihak kita, kita harus benar-benar berjuang untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut dengan tanggung jawab dengan memaksimalkan semua potensi, setelah itu kita berserah kepada Tuhan mengenai hasil akhir atau keadaan kita nanti.
    Kita harus belajar memandang segala peristiwa hidup dan kejadian-kejadian dengan mata kekekalan, artinya dengan perspektif atau sudut pandang kekekalan. Jika kita memandang sesuatu dari perspektif atau sudut pandang dunia fana, maka kita tidak akan bisa mengerti maksud-maksud besar Allah untuk kekekalan kita. Lagi pula semua masalah terasa menjadi besar dan mencemaskan. Tidak jarang kita berpikir bahwa kejadian-kejadian yang menurut kita t...
    0 min
  • Memanfaatkan Kesempatan
    Pernahkah kita mempersoalkan mengapa setelah meninggal dunia tidak ada kesempatan lagi untuk bertobat? Tidak ada lagi kesempatan untuk meminta ampun kepada Tuhan? Tidak ada kesempatan lagi untuk membereskan diri di hadapan Allah? Orang yang tidak lagi memiliki kesempatan untuk bertobat dan tidak memiliki kesempatan lagi membereskan diri dihadapan Allah ini, juga orang-orang yang tidak akan di perkenankan mengabdi kepada Allah di kekekalan. Tuhan memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat dan membenahi diri hanya ketika masih hidup di bumi ini. Kalau sudah meninggal, seseorang tidak mendapat kesempatan lagi untuk bertobat dan membenahi diri. Sebab kalau orang bertobat dan membenahi diri karena melihat dan merasakan kedahsyatan kemuliaan Allah di kekekalan, pertobatannya tidak tulus. Itu adalah pertobatan dan pembenahan diri yang dipaksakan karena takut akan Allah yang tidak tulus.
    Ketika seseorang melihat kemuliaan Allah atau kedahsyatan Allah di kekekalan, tidak bisa tidak orang akan takut, gentar dan merasakan perasaan ngeri yang tidak terbayangkan sekarang. Tidak bisa tidak, orang akan meminta ampun atas dosa yang dilakukan. Tetapi permintaan ampun di saat itu adalah permintaan ampun yang palsu, yang tidak berkualitas, karena tidak tulus juga. Di hadapan pengadilan takhta Kristus sangat mudah orang baru bisa berkata, “aku percaya kepada-Mu, Tuhan.” Tetapi itu bukan percaya yang benar. Itu adalah pernyataan yang terpaksa, percaya yang tidak tulus, atau percaya yang palsu. Mestinya di bumi sekarang ini pada saat ketika Tuhan seakan-akan tidak ada, kita bersedia percaya kepada Tuhan, bertobat dan membenahi diri. Itu barulah percaya yang benar, pertobatan dan pembenahan diri yang benar. Bukan pada waktu nanti ketika bertemu muka dengan muka dengan Tuhan Yesus baru menyatakan diri bertobat.
    Alkitab berkata, bahwa setelah mati ada penghakiman atau setiap orang dibawa ke hadapan takhta pengadilan Kristus. Kebenaran ini sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa setelah mati tidak ada kesempatan pertobatan, tidak kesempatan melakukan perbaikan, tidak ada rekonsiliasi dengan Allah dan tidak ada pemulihan. Tuhan menghendaki umat pilihan memiliki percaya yang benar dan takut akan Allah yang benar sejak hidup sekarang ini di bumi. Di tengah-tengah manusia yang tidak percaya kepada Allah secara benar, kita harus tetap percaya dengan benar kepada Tuhan Yesus. Dan percaya kita yang benar itu pasti ditandai dengan kesetiaan kita hidup taat kepada Tuhan dalam segala hal dengan hati yang takut akan Dia dan mengasihi Dia.
    Di zaman di mana banyak orang tidak percaya kepada Tuhan, khususnya manusia modern yang berkata bahwa Allah adalah omong kosong, sehingga manusia semakin fasik. Namun kita bisa tetap percaya kepada Allah dan memiliki kehidupan yang meneladani Yesus, sehingga kita berkeadaan berbeda dengan dunia ini. Juga di tengah-tengah masyarakat yang mengaku ber-Tuhan tetapi perilaku mereka tidak menunjukkan sebagai orang ber-Tuhan, kita tidak terpengaruhi oleh pola hidup kepalsuan orang beragama tersebut. Ini adalah sesuatu yang luar biasa. Dunia kita sudah sangat rusak sehingga kerusakan bukan saja terjadi atas orang-orang di luar gereja, tetapi juga orang-orang yang ada di dalam lingkungan gereja. Kerusakan itu terlihat dari kehidupan mereka yang wajar seperti anak-anak dunia. Hal itu terbukti dari isi tulisan dan ucapan-ucapan mereka di media sosial. Sungguh suatu hal yang luar biasa kalau kita tidak turut hanyut dalam suasana dunia seperti ini (Ibr. 2:1).
    Memang mudah untuk mengatakan kalau mata Tuhan melihat semua yang kita lakukan, tetapi tidak mudah mengimplementasikannya dalam kehidupan secara konkret. Kita harus berani mengambil keputusan untuk memilih percaya kepada Tuhan yang tidak kelihatan, mengambil keputusan bertobat dan membenahi diri dengan serius. Pembenahan diri tersebut dimaksudkan agar kita menjadi anak-anak Bapa yang layak menjadi utusan Kristus dan anggota keluarga Kerajaan Allah.
    0 min
  • Tidak Membahayakan Sesama
    Kita harus sampai pada titik perjumpaan yang nyata dengan Allah Bapa setiap hari. Sehingga perjumpaan tersebut menjadi irama permanen dalam hidup kita. Allah Bapa menyertai kita dengan menaruh Roh-Nya di dalam diri kita. Dalam kebersamaan dengan Allah Bapa, kita tidak boleh semena-mena menyakiti perasaan Bapa. Sering kita tanpa sadar menyakiti dan melukai hati Allah Bapa dan Tuhan Yesus. Tindakan tersebut sama dengan menganiaya perasaan Tuhan. Dengan sikap, ucapan, perbuatan, pikiran atau renungan hati kita yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah, kita menyakiti hati Allah. Oleh sebab itu, kita harus selalu berjaga-jaga, yaitu dengan menghayati bahwa di mana pun kita berada kita ada di hadirat Allah. Sikap dan perbuatan kita, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan, akan membangkitkan reaksi perasaan Allah. Dengan demikian kita harus selalu ingat bahwa kita ada di daerah yang tidak netral. Kita hidup dalam wilayah Kerajaan Allah, di mana sebagai anak-anak Allah kita harus benar-benar mempertimbangkan perasaan Allah sebagai kepala pemerintahan.
    Oleh sebab itu, kita harus berani berkomitmen untuk hidup hanya guna menyenangkan hati Allah. Walaupun kita belum bisa memenuhinya, tetapi komitmen kita harus utuh atau bulat. Kesediaan kita yang tulus untuk memenuhi komitmen tersebut sudah merupakan pedupaan yang harum. Tentu komitmen tersebut didorong oleh hati yang tulus, bukan emosi sesaat yang dimainkan. Juga bukan emosi sesaat yang diledakkan. Lalu menganggap seakan-akan dengan emosi semacam itu Tuhan menjadi berkenan kepada kita. Dengan sikap ini secara tidak langsung kita menipu diri kita sendiri dan berupaya juga menipu Tuhan. Kemunafikan seperti itu sudah menjadi irama hidup selama bertahun-tahun dalam kehidupan banyak orang Kristen, khususnya di kalangan gereja gereja Kharismatik yang memang lebih menekankan emosi atau perasaan.
    Menyadari kebenaran di atas ini, kita harus mulai dengan tulus mempersembahkan emosi dan perasaan kita, yaitu mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan kekuatan kita dalam sepanjang waktu hidup kita, bukan hanya pada waktu berdoa atau dalam liturgi. Persembahan hidup ini, kita nyatakan dalam tindakan konkret mempersembahkan seluruh hidup bagi pekerjaan Tuhan. Kerelaan mempersembahkan segenap hidup bagi Tuhan sudah merupakan keharuman di hadapan Allah, walaupun kita belum melakukannya dalam tindakan secara nyata. Bagi orang-orang yang memiliki komitmen yang tulus, mereka pasti dipimpin Roh Kudus untuk bisa mewujudkan kerinduannya tersebut.
    Segenap hidup itu bukan hanya masalah uang. Uang itu masalah yang masih sederhana dan kecil (Luk. 16:9-10). Harta itu juga masih masalah yang sederhana dan kecil. Kesediaan kita mengendalikan kata-kata yang tidak patut dan menghindari perilaku kita yang bisa melukai orang dan menjadi batu sandungan, lebih dari masalah uang atau harta materi. Lebih dari mempersembahkan uang atau harta kita untuk pekerjaan Tuhan, kita harus menjaga hati dari segala hal yang dapat melukai hati Allah. Hal itu sudah merupakan persembahan yang berbau harum di hadapan Allah lebih dari persembahan materi.
    Agar kita tidak menganiaya perasaan Allah, tetapi sebaliknya menyenangkan hati Allah, maka harus dimulai dari usaha kita yang serius untuk tidak merugikan siapa pun, tidak menyakiti siapa pun, baik dengan ucapan, dengan sikap, dan dengan perbuatan. Hal ini kita lakukan demi menjaga perasaan Bapa. Kita harus sungguh-sungguh tidak ingin melukai hati Tuhan. Pembiasaan diri untuk tidak menyakiti sesama, tetapi sebaliknya, berusaha melihat penderitaan orang lain untuk ikut meringankannya, merupakan irama yang akan menyatu di dalam diri kita sebagai persiapan untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Orang-orang yang memiliki keadaan seperti ini pasti menjadi orang yang tidak membahayakan bagi sesamanya sejak hidup di bumi. Sebaliknya, kalau seseorang memiliki kebiasaan egosentris dan egois, tidak memedulikan kepentingan orang lain,
    0 min
  • Membalas Kebaikan Tuhan
    Dalam fakta hidup ini terdapat anak-anak yang dibesarkan oleh orangtua, mestinya setelah dewasa anak-anak itu membalas kebaikan orangtua, tetapi kenyataannya ada di antara mereka yang hanya menuntut dan merasa berhak untuk mendapat fasilitas daripada mengabdi kepada orangtua. Hal ini benar-benar menyedihkan. Bahkan tidak sedikit anak yang masih menyusahkan orangtua di hari tua orangtua mereka. Hal ini dikemukakan bukan berarti orangtua menolak dibebani oleh anak-anak, tetapi orangtua menginginkan agar anak-anaknya bisa memikul beban sendiri, dan bisa memikul beban saudara yang lain, yaitu memikul beban anak-anaknya sendiri, atau bahkan kalau sudah punya cucu bisa memikul beban anak-cucu dan sesamanya. 
    Dalam kehidupan sebagai keluarga Kerajaan Allah, juga terdapat orang-orang Kristen yang mengikut Yesus sekian lama, tetapi hanya mau menuntut diberkati secara materi, dan tidak berpikir untuk mengabdi kepada Tuhan sebagai bentuk membalas kasih Tuhan. Mereka tidak mempersembahkan hidup untuk melakukan apa yang Tuhan ingini. Hal ini dapat dilihat dalam kehidupan banyak orang Kristen, termasuk pada kehidupan sebagaian besar jemaat, aktivis gereja, bahkan pendeta. Dari pengalaman hidup yang sudah kita jalani, kita melihat fenomena riil ini. Fakta ini sangat objektif, tidak mengada-ada, yaitu memang banyak orang Kristen yang tidak tahu diri, aktivis gereja, bahkan pelayan Tuhan, yang sudah berjabatan pendeta tidak memahami hal ini dengan benar. Semua itu disebabkan oleh satu hal yang menjadi bahaya besar, yaitu merasa berhak hidup wajar.
    Hal ini dikemukakan bukan bermaksud membuat standar baru dalam hidup kekristenan. Standar hidup kekristenan tetap sama, sejak dulu, yaitu serupa dengan Yesus. Yesus adalah sosok manusia yang tidak hidup dalam kewajaran manusia lain. Yesus tidak serupa dengan dunia ini, maka Tuhan menghendaki agar orang percaya juga tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Hidup haruslah hanya untuk mengabdi kepada Bapa (Yoh. 4:34; 2Kor. 5:14-15; Flp.1:21). Di hadapan pengadilan Kristus nanti, orang percaya baru sadar sepenuhnya bahwa hidup manusia yang telah ditebus oleh darah Yesus hanyalah untuk mengabdi kepada Allah sepenuhnya, tanpa batas. Penyesalan yang dalam akan dialami oleh orang yang tidak mengerti kebaikan Allah, yaitu mereka yang hanya menuntut tetapi tidak mau membalas kebaikan Allah, ketika mereka terbuang. Sebab mereka tidak bisa mengabdi kepada Allah. Orang yang tidak mengabdi kepada Allah sejak di bumi ini tidak akan pernah bisa mengabdi kepada Allah selamanya di surga nanti.
    Banyak pekerjaan Tuhan yang terbengkelai, dan ini adalah keadaan parah yang menyedihkan hati Tuhan. Kita harus memiliki beban untuk mengerjakan pekerjaan Allah yang terbengkelai tersebut. Kita mengerjakan pekerjaan Allah di tempat kita dan dalam bidang kita masing-masing dengan ketulusan dan motivasi yang murni yang hanya ditujukan bagi kepentingan Kerajaan Allah atau kemuliaan nama-Nya. Kita tidak boleh memiliki agenda pribadi di dalam kegiatan pelayanan. Hati kita harus sepenuhnya utuh dipersembahkan bagi Tuhan.Tuhan menolong kita bagaimana mengabdi kepada-Nya dengan motivasi yang murni  seperti yang ada pada diri Yesus Kristus. Dengan demikian kita benar-benar bisa menjadi utusan Kristus, artinya sungguh-sungguh meneruskan karya keselamatan yang telah diselesaikan Yesus di bukit Golgota.
    Pada masa sekarang ini, yaita masa yang penting dan genting, kita tidak bisa lagi berjalan dengan orang-orang yang mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan hanya untuk kepentingannya pribadi secara terselubung. Mereka adalah pelayan-pelayan palsu atau saudara-saudara palsu yang tidak perlu ada di sekitar kita. Sebab walaupun mereka memiliki potensi, mereka sangat mengganggu pekerjaan Allah yang dipercayakan kepada kita. Walaupun kita tidak memiliki apa-apa, asalkan kita benar-benar mengasihi Tuhan dan memiliki beban terhadap jiwa-jiwa yang terhilang untuk diselamatkan—artinya dikembalikan rancangan Allah semula—maka ...
    0 min
  • Anak-anak Sulung
    Kalau kita perhatikan Alkitab dengan teliti, pada umumnya orang-orang yang benar-benar dipakai oleh Tuhan adalah orang-orang yang menyerahkan hidupnya sepenuhnya atau bisa dikatakan tanpa batas. Kebenaran ini benar-benar terdapat jelas dalam Alkitab, bukan ide dan pikiran manusia. Memang tidak banyak orang yang dipakai Tuhan, tetapi kalau kita memilih untuk menjadi alat di tangan Tuhan, inilah jalannya. Ketika kebenaran ini dibukakan oleh Tuhan mestinya membuat kita menjadi gentar. Ada kegentaran bagaimana bisa memberikan hidup atau segenap hidup tanpa batas kepada Tuhan. Kita semua adalah manusia yang memiliki kecenderungan merasa keberatan untuk menyerahkan hidup tanpa batas bagi Tuhan. Tetapi seiring berjalannya waktu, seiring bertambahnya pengertian kita terhadap kebenaran Alkitab dan pertumbuhan kedewasaan kita, maka kita dapat nekad untuk menyerahkan hidup tanpa batas bagi Tuhan. 
    Kenekadan kita mempersembahkan hidup tanpa batas ditandai dengan melakukan segala sesuatu yang Tuhan inginkan walaupun kita tidak ingin lakukan. Prinsipnya kita harus berani melakukan apa yang sebenarnya tidak ingin kita lakukan, dan kita bersedia melakukan apa pun kehendak Bapa yang sebenarnya di luar kemampuan kita melakukannya. Tetapi ini pilihan yang terbaik. Mengingat usia kita juga terbatas, kita akan kehilangan kesempatan berharga ini selama-lamanya kalau tidak segera bertindak. Lagi pula, mengingat setiap kita akan menghadapi perhitungan di hadapan pengadilan Tuhan nanti, jadi adalah sangat beruntung kalau kita berani mempersembahkan segenap hidup kita tanpa batas kepada Tuhan.
    Mempersembahkan hidup tanpa batas bukan berarti kita harus menjadi pendeta, tidak harus memberi uang untuk gereja. Tetapi bagaimana kita memiliki kesediaan untuk melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki dalam hidup ini. Hal penting yang harus terus kita kampanyekan adalah bagaimana kita hidup tidak bercacat dan tidak bercela di hadapan Tuhan. Selanjutnya kita harus memperjuangkan, bagaimana suasana hati kita tidak dipengaruhi oleh materi atau keindahan dunia. Kalau kita masih melakukan kesalahan dan tidak mau membereskannya, dan masih menikmati kesenangan dunia, maka kita tidak akan dapat mempersembahkan hidup ini tanpa batas bagi Tuhan.  Kita harus berani memiliki komitmen untuk menyerahkan hidup tanpa batas bagi Tuhan.
    Orang yang tidak berani menyerahkan hidup tanpa batas bagi Tuhan akan terkurung dan terjebak dalam sikap egosentris. Orang seperti ini akan sibuk dengan perasaannya sendiri, yaitu bagaimana dirinya disenangkan, atau bagaimana dirinya dipuaskan. Kalau melihat orang yang tidak dia sukai, ia berusaha bagaimana menyerang dan dapat melukai. Tentu saja orang-orang seperti ini akan tenggelam dengan persoalan-persoalan yang tidak membawanya kepada pertumbuhan dalam kedewasaan rohani. Pada dasarnya, orang yang sibuk dengan dirinya sendiri tidak akan pernah sibuk dengan urusan melayani perasaan Allah. Orang-orang seperti ini bila dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri, maka dia mempertaruhkan apa pun yang ada pada dirinya tanpa batas; tetapi untuk pekerjaan Allah, dia sangat membatasi. Ini berarti tidak memberi yang terbaik bagi Allah. Tentu saja orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang masih memiliki dua tuan. Padahal Firman Tuhan mengatakan bahwa seseorang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan (Mat. 6:24)
    Dalam hidup ini kita pasti menghadapi banyak masalah, tetapi hendaknya kita tidak tenggelam di dalamnya. Bagi kita, yang penting kita harus sungguh-sungguh bertekad bulat bagaimana melayani perasaan Allah. Kita harus berusaha bagaimana dalam setiap kata yang kita ucapkan dan tindakan yang kita lakukan dapat menyenangkan hati Tuhan. Dengan hidup selalu menyenangkan hati Tuhan, yaitu dengan memberikan segenap hidup tanpa bata, maka kita memperoleh status sebagai “anak unggulan.” Anak unggulan ini ini sama dengan “bintang mahaputera;” kalau Mahaputra, M-nya besar adalah Yesus. Kalau orang percaya,
    0 min
  • Menarik Hadirat Allah
    Seseorang tidak bisa memiliki perjumpaan dengan Allah pada waktu berdoa, kalau dalam kehidupan setiap hari tidak ada dalam persekutuan dengan Allah Bapa. Oleh sebab itu, setiap hari kita harus berjuang untuk benar-benar hidup dalam persekutuan dengan Allah. Hidup kita harus benar-benar bersih, artinya hidup dalam kesucian dan tidak terikat dengan percintaan dunia. Hidup dalam kesucian dan terlepas dari percintaan dunia harus diperjuangkan tiada henti sebagai satu-satunya perjuangan. Semakin hari kita harus semakin sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, dan hati kita harus makin melekat dengan Kerajaan Surga. Semakin seseorang hidup tidak bercela dan semakin melekat dengan Kerajaan Surga, maka semakin ia dapat berjalan dengan Allah atau hidup dalam persekutuan dengan Allah Bapa secara ideal (2Kor. 6:17-18).
    Banyak orang dengan mudahnya mengucapkan kalimat doa seakan-akan ia bisa berdialog dengan Allah secara mudah. Padahal belum tentu ia memiliki “sambungan” atau koneksi dengan Allah. Kalau seseorang tidak memiliki hidup dalam persekutuan dengan Allah setiap hari, doanya adalah kalimat munafik, pura-pura atau seperti sebuah sandiwara. Hal ini terjadi dalam kehidupan banyak para aktivis gereja, mereka yang berdiri di mimbar sebagai pengkhotbah dan juga pemimpin-pemimpin gereja. Mereka membangun hidup kekristenan dari pendidikan formal di Sekolah Tinggi Teologi atau seminari, tetapi tidak memiliki perjumpaan yang konkret dengan Allah setiap hari. Biasanya para teolog tersebut menganggap pengalaman pribadi dalam perjumpaan dengan Allah bukan sesuatu yang objektif, bahkan tidak jarang dipandang sebagai subjektivitas yang tidak bisa menjadi landasan iman. Padahal justru mestinya landasan iman kita adalah Firman Tuhan yang dibunyikan di dalam kehidupan secara konkret. Bukan hanya dibunyikan di dalam khotbah dan ditulis di atas kertas.
    Dalam hidup ini kita bisa makan enak, jalan-jalan dengan keluarga, menikmati pemandangan alam dan lain sebagainya, tetapi kita tidak boleh terpengaruh oleh indahnya dunia ini. Kita menjalani hidup ini dengan hati yang takut akan Allah dan tetap fokus pada kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Kehidupan yang benar seperti ini harus terus kita kembangkan sehingga membangun hubungan yang harmonis dengan Allah. Kita tidak bisa memiliki hubungan yang harmoni waktu kita berdoa kalau setiap hari kita ini tidak hidup benar. Pada level tertentu, ketika kita makin bertumbuh dewasa rohani, kita dapat merasakan perbedaan antara ketika kita hidup dalam persekutuan dengan Allah setiap hari atau tidak, melalui suasana doa yang kita alami pada waktu kita berdoa. Kalau kita hidup dalam persekutuan dengan Allah setiap saat, maka suasana doa menjadi sangat indah. Tetapi ketika kita tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah, maka suasana doa terasa hambar.
    Kalau dulu ketika masih kanak-kanak rohani kita tidak terlalu merasakan perbedaan suasana doa yang dihasilkan dari kehidupan dalam persekutuan dengan Allah dan tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Ketika kita belum dewasa suasana doa kita itu sangat ditentukan oleh suasana hati kita secara subjektif. Jadi sangat situasional. Kalau kita lagi ada masalah, kita merasa begitu dekat dengan Tuhan, hati kita mudah pecah dan hati kita mudah terangkat. Tetapi pada waktu kita tidak memiliki masalah, rasanya doa kita hambar. Tetapi ketika kita sudah dewasa, kita menyadari kualitas hidup kita melalui suasana doa yang kita rasakan.
    Harus dipahami bahwa kita tidak dapat menarik diri kita ke atas ke hadirat Allah, kalau tiap hari hidup kita tidak hidup dalam persekutuan dengan Allah. Kalau seseorang tidak berjalan dengan Allah, maka sulit menarik hadirat atau kehadiran Allah pada waktu berdoa. Walau kita memaksa diri menyembah sungguh-sungguh, berbahasa roh atau apa pun, tidak akan bisa menarik hadirat Allah. Malah yang ada adalah kemunafikan. Tetapi kalau setiap hari kita menarik hidup kita ke atas,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…