Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Keadaan Manusia
    Paulus mengatakan bahwa keadaan manusia adalah keadaan yang telah “terjual di bawah kuasa dosa” (Rm. 7:14). Kata yang akan kita soroti adalah kata “terjual.” Ini berarti ada subjek yang membeli manusia, dan sesuatu yang menjadi objek transaksinya. Sebenarnya penting untuk diketahui, kata “terjual” adalah sebuah metafora (bukan dalam arti harfiah), bahwa oleh perbuatan salah Adam, menyebabkan semua keturunannya tidak bisa memiliki kemampuan untuk bertindak tepat seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian, manusia selalu “meleset” (hamartia) dari apa yang dikehendaki oleh Allah. Bangsa Israel tidak pernah tidak meleset dalam melakukan hukum Taurat, itulah sebabnya harus ada darah domba sebagai alat penghapus dosa. Bagi umat Perjanjian Baru, dimana kehendak Allah sebagai hukumnya, maka umat pilihan Perjanjian Baru harus berjuang melawan kemelesetan (dosa; hamartia). “Kemelesetan” di sini adalah kemelesetan dari pikiran dan perasaan Allah.  
    Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, maka Adam dan semua manusia tidak terjual di bawah kuasa dosa. Ini berarti semua manusia dapat terbeli untuk bisa hidup dalam kodrat ilahi, yaitu hidup dalam kehendak Allah sesuai dengan rancangan Allah semula. Tetapi kenyataannya, manusia pertama telah jatuh dalam dosa. Adamlah yang menyebabkan manusia terjual, sehingga semua yang dilahirkan di bumi ini ada di bawah kuasa dosa. Keadaan manusia yang terjual di bawah kuasa dosa adalah keadaan diri manusia yang—tidak dapat tidak—pasti meleset dari kehendak Allah yang sempurna. Inilah yang disebut Martin Luther sebagai non posse non peccare. 
    Dalam sejarah kehidupan umat pilihan, telah terbukti bahwa manusia tidak dapat melakukan kehendak Allah dengan sempurna. Dalam kehidupan bangsa Israel, kita menyaksikan bahwa tidak ada yang dapat melakukan hukum Taurat secara sempurna. Hal ini terjadi karena manusia telah berkodrat dosa. Melakukan hukum Taurat saja tidak bisa terpenuhi dengan sempurna, apalagi melakukan kehendak Allah, yaitu selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Paulus menjelaskan hal ini dengan pernyataan: “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat” (Rm. 7:15). 
    Pengalaman Paulus seperti ini adalah pengalamannya setelah mengenal kebenaran Injil. Sebab sebelum mengenal kebenaran Injil, Paulus menyatakan bahwa dirinya tidak bercacat (Flp. 3:6). Ini berarti, sebelum menjadi orang percaya, Paulus tidak mengalami atau menyadari ketegangan (konflik) dalam dirinya dalam melakukan hukum. Lagipula, pemimpin-pemimpin agama seperti Paulus, pada umumnya adalah orang-orang beragama yang sombong. Mereka tidak akan merasa sebagai orang berdosa; mereka merasa sebagai orang yang sudah benar. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyindir mereka dengan pernyataan bahwa bukan orang sehat yang membutuhkan dokter, tetapi orang sakit (Mat. 9:12). 
    Paulus mengatakan, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.” Kata “perbuat” dalam teks aslinya di ayat Roma 7:15 ini adalah katergazomai (κατεργάζομαι), yang artinya to perform, accomplish, achieve, to work out, to fashion, to produce (melakukan, mencapai, menyelesaikan suatu tugas, berpenampilan, menghasilkan). Kata “perbuat” dalam ayat ini lebih menunjuk suatu penampilan atau keadaan hidup seseorang, bukan hanya satu atau dua tindakan. Tidak mungkin seseorang melakukan suatu tindakan di luar kesadaran atau tanpa sepengetahuannya. Tetapi ketika seseorang menyadari keadaannya, akibat dari akumulasi perbuatannya setiap hari, maka ia bisa berkata: “Mengapa aku berkeadaan demikian?” Kalimat berikut Paulus menyatakan bahwa keadaan yang dimilikinya bukanlah apa yang diingininya, tetapi justru yang bukan diingininya atau yang dia benci, malahan terjadi atau ada dalam dirinya. 
    Apa yang dikemukakan Paulus adalah sebuah perenun...
    0 min
  • Cerdas dan Teliti
    Menurut seorang teknisi pesawat terbang, seorang teknisi pesawat terbang itu bukan saja harus memiliki kecerdasan atau kejeniusan yang tinggi, tetapi juga harus sekaligus memiliki ketelitian. Tidak boleh ceroboh, karena satu komponen tidak pada tempatnya bisa membuat pesawat jatuh. Jadi seorang teknisi pesawat terbang itu harus bukan saja cerdas tetapi sangat cerdas, genius, dan teliti. Karena tentu pesawat terbang memuat banyak penumpang dan beresiko tinggi di udara. Kalau mobil mogok, bisa parkir di pinggir jalan. Tetapi kalau pesawat mogok, mau parkir di mana kalau bukan jatuh ke laut, atau jatuh ke darat, kemudian hancur? Demi keselamatan pesawat terbang, seorang tehnisi pesawat terbang harus benar-benar jenius dan teliti. 
    Demikian pula dengan hidup manusia yang memiliki kekekalan. Kita harus memikirkan hal ini dengan serius. Hidup kita ini seperti pesawat terbang yang nilainya lebih dari segala sesuatu, lebih dari seluruh harta dunia ini; jika harta dunia ini diwujudkan dalam bentuk sesuatu atau uang, tidak bisa membeli jiwa manusia. Maka kita harus benar-benar cerdas; cerdas secara rohani dan teliti. Teliti memperhatikan seluruh hidup kita. Sebab Allah berfirman, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Itu berarti kita harus memeriksa diri kita dengan sangat serius (saksama). Bertahun-tahun kita berpikir tidak mungkin orang bisa hidup suci atau sempurna, tetapi Tuhan sendiri berkata, “Kamu harus sempurna” (Mat. 5:48). Kita harus sempurna seperti Bapa. Segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan kita lakukan harus selalu sesuai dengan pikiran perasaan Allah. Kita harus teliti dan cerdas rohani memperhatikan setiap gerak pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan kita. Mestinya kita juga bisa tahu apa yang bisa menghancurkan hidup kita, yang bisa membahayakan hidup kita, yang bisa membuat kita jatuh. 
    Seorang teknisi pesawat terbang bukan saja harus cerdas, tetapi harus sangat cerdas, genius, dan teliti, demikian pula di dalam merawat hidup ini, harus teliti, harus cerdas, supaya jangan jatuh, jangan salah, jangan ada yang rusak. Bertahun-tahun kita berpikir ada banyak hal yang kita hadapi di dalam hidup ini yang tidak jelas. Tidak jelas uraiannya, tidak jelas maksudnya, apakah ini salah atau benar; jadi seperti benda misteri. Mestinya tidak. Segala sesuatu yang kita pikirkan, renungkan, ucapkan dan lakukan, mestinya bisa kita analisa. Ini salah atau benar, mestinya bisa diketahui. Sebab kalau hidup ini ternyata penuh dengan misteri, maka keberkenanan di hadapan Allah juga menjadi misteri. Lalu bagaimana dengan pernyataan Tuhan bahwa kita harus hidup tidak bercacat dan tidak bercela itu, kalau banyak hal misteri? Apakah berarti Tuhan bohong, sebab manusia tidak mungkin sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, kalau banyak hal yang bersifat karena misteri. Tetapi sebenarnya tidak demikian. Allah adalah Allah yang maha bijaksana, semua yang dikatakan ya dan amin. 
    Oleh sebab itu kita harus bertekad untuk bisa meneliti segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan dan lakukan. Kalau sesuatu itu sesuai dengan kehendak Bapa, maka kita harus lakukan; jika tidak, maka kita harus tolak. Walaupun kita memiliki jejak rekam yang buruk, dan sampai saat ini pun mungkin juga masih banyak dosa, kekurangan dan kelemahan yang kita lakukan, tetapi kita harus bulat, utuh, atau sempurna dalam tekad. Utuh, bulat dan sempurna dalam tekad untuk memiliki kehidupan yang tepat seperti yang Allah kehendaki. Belum sempurna dalam perbuatan, tetapi tidak menghalangi kita sempurna dalam tekad. Belum bulat bulat benar, tetapi bisa bulat dalam tekad, bulat di dalam kehendak, bulat dalam komitmen, bulat dalam janji dan bulat dalam kehendak. 
    Bicara soal tekad dan niat, itu berangkat dari diri sendiri. Kita yang harus membulatkan tekad kita. Kita harus membarakan (membuat membara) niat kita untuk memiliki kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Allah. Sekarang kita harus mulai serius memperhatikan...
    0 min
  • Menunggu Jemputan
    Seiring dengan lebih lengkapnya kebenaran yang kita pahami, maka kita semakin memahami dan menyadari bahwa salah satu kesalahan yang fatal dalam kehidupan orang Kristen dalam kehidupan pelayanan gereja adalah ketika orang-orang Kristen merasa sudah mengenal Allah hanya karena sudah memiliki pengetahuan tentang Allah (teologi). Dan inilah yang membuat sekarang ini banyak orang mendadak menjadi pembicara, menjadi pengkhotbah, berbicara tentang Allah di media sosial, serta merasa bahwa apa yang mereka katakan itu benar. Bukan tidak mungkin; memang yang dikatakannya bisa benar, tetapi sesungguhnya Allah yang hidup, Allah yang nyata, harus Allah yang dijumpai atau dialami. Tidak mengecilkan arti pengetahuan tentang Allah (teologi), tetapi marilah kita benar-benar berusaha untuk menemui Allah dan mengalami Dia. 
    Tentu dimulai dari doa yang dapat kita lakukan setiap hari. Kalau kita sungguh-sungguh mencari Allah, maka seperti yang difirmankan: “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui,” maka kita bisa menemukan Dia. Kita bisa memiliki banyak ilmu tentang Allah atau teologi, tetapi itu bukanlah modal atau bekal seseorang pasti dapat menjumpai Allah. Kita harus betul-betul menemui Dia dan mengalami Dia dalam kehidupan secara konkret. Dan memang sesungguhnya Allah dapat ditemui sehingga seseorang dapat memiliki pengalaman dengan Allah secara riil. Inilah adalah kabar baik. Hal ini mestinya membuat hidup kita bergairah, sebab memang gairah kita mestinya hanya dapat dinyalakan kalau itu bertalian dengan Tuhan yang menjadi kehidupan dan kehormatan kita. 
    Oleh sebab itu, adalah bijaksana kalau kita menghindari perdebatan, menghindari banyak bicara, dan kita hanya mau mengalami perjumpaan dengan Tuhan setiap hari secara nyata atau konkret. Mungkin orang bisa bicara apa saja tentang kita, tetapi perjumpaan kita dengan Allah harus berbuah dan menunjukkan bahwa kita tidak hanya berteori mengenai Tuhan melainkan mengalaminya secara langsung dan nyata. Buah dari kehidupan seorang yang mengalami Tuhan antara lain: Pertama, kekudusan; seseorang akan takut akan Allah sehingga bisa hidup dalam kesucian standar Allah. Kedua, menjadi tidak tertarik lagi dengan keindahan dunia. Memang kita masih membutuhkan uang dan berbagai fasilitas, tetapi hati kita tidak tertarik di situ. Semua yang kita upayakan hanya untuk pekerjaan Allah.
    Ketiga, memiliki keberanian menghadapi hidup. “Hidup” di sini adalah berbagai masalah, menghadapi berbagai ancaman, dan ketika kita tersudut dalam berbagai kebutuhan, kita percaya kepada Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah-nya Musa, Allah yang hidup, yang bisa kita percaya. Keempat, pasti rela berkorban apa pun untuk Allah. Kita bersedia menjadi anggur tercurah dan roti yang terpecah. Bagi kita, berkorban untuk pekerjaan Tuhan adalah kebutuhan, bukan lagi sebagai kewajiban. Prinsip hidup yang benar: bagiku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan (Flp. 1:21). Kelima, merindukan pulang ke surga. Sebenarnya, kalau seseorang sudah tidak lagi merindukan pulang ke surga, itu berarti ada yang tidak beres dalam hidupnya. Di sini ada unsur-unsur yang menuju sikap berkhianat kepada Tuhan; besar potensi melakukan perselingkuhan rohani. Ini bukan selingkuh secara seks, melainkan “selingkuh terhadap Tuhan,” artinya ada sesuatu yang menarik hati sehingga hatinya kurang bulat, kurang utuh, kurang tulus dalam mencintai Allah. 
    Apa yang dikemukakan di sini tidak memiliki tendensi apa-apa, kecuali mengajak semua untuk mau benar-benar menjadi Kristen yang baik, sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Hendaknya, kita menemui Tuhan dan benar-benar mengalami Tuhan. Hendaknya kita juga tidak merasa puas dengan ilmu tentang Tuhan yang kita miliki, perdebatan-perdebatan mengenai teologi, dan ayat-ayat Alkitab. Sebaliknya, kita harus sungguh-sungguh mengikuti jalan Tuhan. Tuhan tahu kita mencintai Dia atau tidak. Allah yang disembah oleh Abraham, Ishak, dan Yakub, Allahnya Musa,
    0 min
  • Pilihan yang Dilakukan
    Hidup ini adalah pilihan, semua kita sudah tahu. Barangkali, malah sering mengucapkan. Mengerti dan menerima bahwa hidup adalah pilihan, bukanlah berarti kita pasti sudah memilih apa yang benar. Hendaknya kita tidak merasa kalau kita sudah mengerti dan mengakui hidup ini adalah pilihan, lalu otomatis kita sudah ada di dalam pilihan yang benar. Hal ini sama dengan orang yang merasa diri sudah benar-benar rohani karena hanya sudah mengerti dan mengucapkan hal-hal rohani, padahal apa yang diucapkan, dikhotbahkan, dan diajarkan bukan berarti sudah dilakukan. Misalnya, seorang pengkhotbah mengerti suatu kebenaran dan mengkhotbahkan kebenaran itu, belum tentu ia sudah mengenakan kebenaran itu secara konkret di dalam hidupnya. Sering sekali kita tidak sadar bahwa apa yang kita mengerti dan kita terima, itu sebenarnya belum kita “bunyikan” di dalam hidup kita; belum kita terjemahkan di dalam perilaku. 
    Hidup ini adalah pilihan. Salah satu pilihan kita, dan harus dikatakan atau tepatnya, satu-satunya pilihan kita itu Tuhan. Itu jelas. Kita juga pasti sudah setuju dan mengakui hal ini. Tetapi, bagaimana kita menerapkan kehidupan yang memilih Tuhan? Memilih Tuhan tidak cukup hanya dengan menjadi orang Kristen; kita berdoa, kita melakukan ibadah secara liturgi, bahkan sekalipun setiap pagi berdoa, itu bukan berarti sudah memilih Tuhan. Kita disebut “memilih Tuhan” kalau kita benar-benar menjalani jalan-Nya. Dan jalan yang Tuhan tawarkan kepada kita, itu jalan Yesus. Jalan hidup yang dijalani Anak Tunggal Bapa, yang memang itu standar model Anak Manusia yang Bapa kehendaki. Itulah keselamatan, yaitu proses atau usaha Allah mengembalikan manusia ke rancangan-Nya yang semula. 
    Kalau kita memilih Tuhan, berarti kita memilih jalan Tuhan, yaitu mengikuti jejak Yesus. Tidak bisa tidak, kita harus menyangkal diri. Banyak ayat firman Tuhan di Perjanjian Baru yang menulis mengenai hal menyangkal diri. Kata “menyangkal diri” bisa kita ganti dengan kalimat yang maknanya tidak berubah, yaitu “mengkhianati diri.” Kita harus berani kejam terhadap diri kita sendiri; kita harus berani mengkhianati diri kita sendiri. Menyangkal diri artinya memang bersedia untuk tidak menuruti keinginan diri sendiri, tepatnya membuang semua naluri kemanusiaan kita yang telah rusak oleh karena dosa, dan kita mengikuti naluriah rohani atau naluriah ilahi supaya kita menjadi manusia Allah (man of God). Dalam hal ini, Yesuslah model kita. Sehingga, kita bisa berkata bahwa kita sudah mati hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-3). Dan kita bisa berkata, “hidupku bukan aku lagi tetapi Kristus yang hidup di dalam aku” (Gal 2:19-20).
    Mengkhianati diri sendiri salah satu prosesnya adalah kita bersedia untuk tidak mengingini apa yang kita ingini, dan bersedia mengingini apa yang tidak kita ingini. Hidup suci itu tidak kita ingini; daging kita tidak suka, jiwa kita tidak suka. Misalnya, kita disakiti orang. Jiwa kita maunya membalas, tetapi kita harus mengingini tidak membalas. Juga keinginan-keinginan daging kita harus dimatikan. Kita mengingini apa yang tidak kita ingini; kita tidak mengingini apa yang kita ingini. Sebab, kita mengingini kehendak Allah, kesucian Allah, yang itu sulit, itu berat, itu menyakitkan. Tetapi, kita harus berani menyangkal diri, mengkhianati diri kita sendiri. Ini jalan Tuhan. 
    Kita yang serius benar-benar mengkhianati diri, yaitu untuk hidup dalam kekudusan, mengalami jalan yang sulit dan berat, bahkan jatuh bangun sampai kita bisa marah terhadap diri sendiri. Tetapi, proses itu akhirnya bisa membuat kita “menindas, membungkam,” dan mematikan semua keinginan dalam diri kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Baik itu keinginan dalam jiwa, maupun dalam daging kita. Hidup adalah memilih. Ini berat, tetapi kalau kita mengasihi Tuhan, kita berkata, “Tuhan, aku mau mengingini apa yang tidak kuingini. Aku bersedia tidak mengingini apa yang kuingini,
    0 min
  • Bejana Tuhan
    Ada satu pernyataan Tuhan Yesus dalam doa kepada Bapa di surga di Yohanes 17:21, “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” “Supaya mereka menjadi satu” bukan berarti satu organisasi. “Supaya mereka menjadi satu” bukan berarti harus satu denominasi, melainkan satu dalam gairah, satu di dalam hasrat, satu dalam spirit, tentu satu pula dalam standar kekudusan atau kesucian, juga satu di dalam tujuan. Dan kalimat yang luar biasa adalah “sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita.” 
    Pasti semua gereja mengklaim dirinya adalah gereja yang paling benar. Tetapi, sesungguhnya gereja yang benar adalah mereka yang ada di dalam persekutuan dengan Bapa dan Tuhan Yesus. Mereka ini tidak harus dalam satu denominasi. Jadi, jangan sombong atau bangga atas suatu denominasi dimana gereja kita bernaung. Tetapi yang penting adalah orang-orang yang satu dalam gairah, satu spirit, satu dalam tujuan, satu dalam standar kekudusan, dan satu dalam perjuangan dalam pemberitaan Injil. Walaupun berbeda denominasi, berbeda organisasi, tidak menjadi masalah. Tetapi yang penting, semua ada di hadirat Allah sebagai anak-anak Bapa dengan standar kesucian yang sama; dengan gairah yang juga ada di dalam diri Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Di sini kita menjadi bagian dari keluarga Kerajaan Allah, supaya “orang percaya juga ada di dalam Bapa dan Tuhan Yesus.” Luar biasa! Ini yang dalam bahasa Jawanya disebut: Manunggaling Kawulo Gusti. Manunggaling Kawulo Gusti artinya “menyatunya umat.” Kawulo itu umat (jemaat, hamba), manunggaling itu “bersatunya,” Gusti itu “Tuhan.” Hal ini mestinya menjadi kerinduan kita. Kita harus memperkarakan, apakah kita sudah masuk dalam kelompok ini, masuk dalam komunitas ini? Karenanya, kita harus benar-benar ngotot menjadi bagian anggota keluarga Kerajaan. 
    Perlu kita mengambil waktu sejenak dan merenungkan secara mendalam seandainya dalam kenyataan hidup ini tidak pernah ada “kita.” Kalau kita meminjam kata “Erastus,” seandainya tidak ada Erastus, apakah ada orang yang bisa mensomasi (menuntut) Tuhan? Seandainya Erastus tidak ada, tidak ada hal yang terkait dengan Erastus. Jadi, sebenarnya Erastus ini tidak ada artinya sama sekali kalau dibuat tidak ada. Jika Allah yang mengadakan, maka Allah yang berhak atas hidup orang tersebut, bukan orang itu yang berhak atas dirinya sendiri. Allah yang memiliki hidup dan yang memercayakannya kepada kita, supaya kita menjalani hidup ini untuk maksud, kehendak, dan selera Allah sepenuhnya. Sehingga, mestinya hidup kita ini menjadi bejana dimana perasaan Allah dicurahkan, dan hidup kita ini menjadi peraga dari apa pun yang Allah ingin, supaya dilakukan. Ini keindahan hidup, lebih dari segala keindahan. Inilah hidup yang proporsional. Jika demikian, maka kita patut, kita layak, kita pantas menjadi orang-orang yang tinggal di dalam Bapa dan Tuhan Yesus. Dengan demikian, kita hidup hanya untuk melakukan apa yang diingini oleh Bapa di surga. 
    Masalahnya, kita ini sudah hidup dalam kebiasaan suka-suka sendiri sejak kanak-kanak, remaja, pemuda (bagi yang sudah tua), dewasa muda, dan sekarang, tua. Irama hidup suka-suka sendiri ini, karena sudah ada banyak input di dalam jiwa kita, dan ada api; nafsu di dalam daging kita. Ini benar-benar mengerikan. Tetapi kalau kita masih bisa mendengar Firman ini, kebenaran ini, kita mau menyangkal diri, kita mau belajar bahwa hidup ini hanya untuk melakukan apa yang Bapa kehendaki. Pikiran-Nya menjadi pikiran Bapa di pikiran kita. Artinya, apa yang Dia pikirkan. Perasaan Bapa menjadi perasaan kita, sehingga jiwa kita menjadi wadah pikiran, perasaan Bapa dicurahkan, sehingga jiwa kita menjadi tempat fotokopi dari pikiran, perasaan Bapa, dan tubuh kita menjadi pelaksana,
    0 min
  • Kedahsyatan Kekekekalan
    Ketika suatu saat nanti kita ada di hadapan Allah, kita menyaksikan dan mengalami kekekalan yang dahsyat, baru kita bisa menghayati sepenuh-penuhnya betapa tidak berartinya kita ini; betapa lemahnya kita dan betapa rentannya kita. Tetapi Allah berkenan mengasihi kita dan menjadikan kita anak-anak Allah yang dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Itu luar biasa! Pada saat itu, ketika semua orang ada di hadapan takhta pengadilan Tuhan, orang akan mengalami kegentaran yang sangat hebat; ketakutan yang sangat hebat yang tidak bisa dibayangkan saat ini. Kegentaran yang tak terbayangkan, artinya orang harus mengalaminya sendiri barulah bisa mengerti kegentaran tersebut. Keadaan itu tidak bisa diceritakan, tetapi harus dialami. Kita harus belajar untuk merenungkan dan membayangkan betapa mengerikan keadaan itu, kalau kita tidak sejak saat ini membangun takut akan Allah. 
    Kita harus memberi waktu khusus untuk membayangkan hal itu dan merenungkannya. Sebisa-bisanya kita merenungkan dan menghayatinya dengan segenap hati. Kita dapat memiliki kegentaran yang patut terhadap Allah, walaupun kita belum ada di kekekalan. Jadi, walaupun kita belum meninggal dunia dan belum ada di situasi atau keadaan di hadapan takhta pengadilan Allah, kita sudah bisa menghayati sebagian. Hal ini akan membangun kegentaran yang kudus terhadap Allah dan kesungguhan dalam mempersiapkan diri menghadapi keadaan tersebut. 
    Salah satu bukti atau salah satu ciri kalau kita berhasil menghayati kedahsyatan kekekalan di hadirat Allah adalah ketika kita dapat memandang persoalan-persoalan hidup hari ini menjadi kecil. Persoalan-persoalan sebesar apa pun menjadi tidak berarti. Jadi, kalau kita sudah menghayati dan merenungkan kedahsyatan kekekalan, kita menemukan dan merasakan realita kehidupan yang sejati. Kita harus menguji diri kita masing-masing, seberapa kita benar-benar telah memiliki kegentaran akan Allah. 
    Kalau seseorang bisa merasa tercengkerami oleh suatu keadaan lebih dari cengkeraman kedahsyatan kekekalan di hadapan takhta pengadilan Kristus, maka pasti ada ketidaksetiaan di dalam hidup orang tersebut. Orang seperti itu pasti akan melecehkan atau meremehkan Allah. Oleh sebab itu, kalau tidak sejak dini menghayati hal tersebut, maka kita tidak akan berhasil menghayatinya sampai menutup mata. Bahkan ketika di ujung maut pun, tidak akan mampu menghayatinya. Barulah setelah di hadapan Allah, merasakan kegentaran yang dahsyat. Kita harus mulai menghayati hal ini sejak dini; sejak sekarang, dan kita harus mulai membangun takut akan Allah yang kudus. Takut akan Allah yang kudus mendorong kita untuk hidup kudus seperti Dia. 
    Ada dua berkat besar yang kita terima kalau kita benar-benar bisa menghayati kekekalan dan menghayati kedahsyatan di hadapan takhta pengadilan Tuhan itu. Berkat yang pertama adalah kita menjadi lebih berhati-hati dalam hidup ini atau menjadi sangat berhati-hati; kita akan lebih takut akan Allah. Yang kedua, kita bisa meninggalkan percintaan dunia. Selanjutnya, kita menjadi lebih tabah, lebih kokoh menghadapi segala situasi kondisi hidup yang berat dan sulit. Kita menjadi lebih bisa menerima keadaan. Kita dapat lebih mengerti bahwa segala sesuatu akan berakhir, dan kita akan ada di hadapan takhta pengadilan Kristus. Ini menjadi kekuatan kita.
    Sebenarnya, kita lebih bisa menghayati kedahsyatan kekekalan melalui situasi-situasi hidup yang berat atau sulit. Tuhan bisa membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sulit dimana kita dipaksa untuk bisa menghayati realitas kedahsyatan kekekalan di hadapan Allah tersebut. Ketika nama kita menjadi begitu buruk, banyak fitnah yang kita terima dan kita tidak tahu bagaimana membela diri, kemudian berdiam diri, hal tersebut menjadi berkat kekal. Keadaan tersebut membuat kita lebih memeriksa diri. Oleh sebab keadaan tersebut menjadi berkat, kita tidak perlu mencari pembelaan. Nanti di hadapan pengadilan Tuhan, baru akan terbuka siapa yang benar, siapa yang tidak.
    0 min
  • Allah “Disandera”
    Tanpa disadari, Tuhan itu “disandera” oleh sekelompok orang yang disebut teolog atau pendeta, dengan memberikan kesan seakan-akan Tuhan tidak bisa dikenali, dan orang tidak bisa bersekutu secara proporsional tanpa pengetahuan tentang Allah atau teologi yang dimonopoli oleh kelompok tersebut. Banyak orang Kristen—khususnya jemaat awam—berpikir karena pengetahuan teologi mereka minim, maka jembatan atau tangga atau apa pun namanya untuk menjangkau Allah, juga minim. Ini yang merusak konstelasi kehidupan iman jemaat. Kemudian tanpa sadar dikesankan oleh para teolog dan pendeta, bahwa tanpa pengetahuan teologi yang mereka miliki, jemaat tidak dapat menemukan Allah dengan benar. Tentu tidak semua pendeta dan teolog demikian. 
    Hendaknya kita tidak merasa karena kita bukan teolog atau pendeta, maka kita tidak memiliki “tangga” untuk dapat menjangkau Allah. Hendaknya, kita juga tidak berpikir bahwa tangga jemaat lebih pendek dibanding teolog atau pendeta. Sejatinya, semua kita memiliki akses langsung kepada Allah. Di dalam kekristenan, tidak ada pengantara atau perantara atau jurusyafaat untuk mencapai Allah, kecuali Tuhan Yesus Kristus. Yesus Kristus itu utusan Allah dan juga Tuhan kita, Juruselamat kita, Raja kita. Dia menjadi Jurusyafaat bagi semua orang percaya, dimana semua orang percaya tanpa diskriminasi dapat menjangkau Allah. 
    Memang kita harus belajar teologi dengan benar, tetapi sementara kita belajar, bukan berarti lalu tangga kita masih pendek karena belum menguasai teologi. Tentu Tuhan sangat menerima dan menolerir keadaan kita masing-masing. Sebab, Allah ingin dan Allah memang menghendaki orang percaya berurusan dengan Dia dalam segala masalah kehidupan yang sedang dijalani, tanpa menunggu memiliki pengetahuan teologi yang cukup menurut para teolog. Hendaknya kita tidak memasukkan Allah di dalam kotak yang namanya “buku;” jangan memasukkan Allah dalam satu kotak atau ruangan yang namanya “diskusi ilmiah teologi.” Jika pengetahuan teologi itu sesuai Alkitab, memang harus didiskusikan, harus ditulis, harus diseminarkan, harus dikhotbahkan, di-PA-kan (artinya melalui Pendalaman Alkitab), tetapi bukan berarti suatu kemutlakan untuk menguasai teologi dari tokoh tertentu, baru kekristenannya “tidak sesat.”
    Kalaupun kita belum memiliki pengetahuan seperti yang dipandang oleh para teolog sebagai prasyarat untuk mengenal Allah, bukan berarti kita tidak dapat menjangkau Allah. Kalaupun kita belum memiliki pengetahuan sebanyak buku-buku di perpustakaan, kita tetap bisa menjangkau Allah dan berinteraksi secara harmoni, ideal, dan mesra, secara eksklusif pula, serta intim dengan Allah. Bukan manusia yang menentukan standar tertentu untuk menemukan Allah. Hati yang haus dan lapar akan Allah bisa menjadi dorongan kuat seseorang mencari Allah dan menemukan-Nya. Allah pun berkenan ditemui oleh mereka yang haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6).
    Hendaknya, kita tidak merasa bahwa karena tidak belajar teologi, maka kalau ibarat terbang, itu hanya sekitar 100 meter di atas permukaan laut; tetapi kalau memiliki pengetahuan tentang Allah atau teologi melalui pendidikan formal perguruan tinggi keagamaan, dapat terbang setinggi 1000 meter dan merasa lebih bisa menjangkau takhta Allah. Ini kesan yang muncul dan yang ditangkap oleh jemaat seehingga menyesatkan. Hal ini memperbodoh jemaat awam. Oleh karenanya, kita harus mencari Tuhan melalui hamba-hamba Tuhan yang benar, yang dapat menjadi jurubicara Tuhan. Untuk ini, masing-masing kita harus bertanya kepada Tuhan, siapakah mereka ini. Selanjutnya, kita harus menemui Tuhan dalam doa setiap hari secara rutin. Apa pun dan bagaimana pun pengetahuan teologi yang kita miliki, kita bisa menemui Tuhan. Tuhan tidak dibatasi oleh teologi yang dimiliki seseorang. Firman Tuhan mengatakan: “Carilah Aku selama Aku berkenan ditemui.” Firman Tuhan berfirman bahwa Allah membuat diri-Nya ditemukan oleh orang-orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
    Jadi,
    0 min
  • Ketepatan Frekuensi
    Pernahkah Saudara memanah? Kalau panah untuk kelas profesional, itu tidak ringan. Waktu kita tarik tali busurnya saja, sudah terasa berat. Kadang-kadang, wanita yang tidak memiliki tenaga yang cukup, tidak bisa; anak panahnya tidak akan sampai ke target. Harus ditarik kuat dulu kemudian dilepas, sehingga meluncur sampai target. Menariknya saja sudah berat, apalagi membidiknya. Ini masalah yang berbeda. Hidup ini seperti memanah; ada target yang harus dituju. Bagi orang percaya, hidup seperti memanah merupakan perlombaan yang wajib (Ibr. 12:1). Ini targetnya. Perlombaan yang wajib ini adalah memiliki iman yang sempurna seperti Yesus, yaitu hidup dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Hal ini sama dengan Yesus adalah tujuan hidup. Kalau Yesus menjadi tujuan hidup, ini sama dengan Allah adalah tujuan hidup, yaitu melakukan kehendak-Nya dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Dengan demikian, target yang harus dicapai adalah Tuhan. Target studi, target bisnis, target rumah tangga, target keluarga, dan target apa pun itu, tidak melebihi target Tuhan. Target yang paling jauh adalah Tuhan, artinya semua kegiatan yang kita lakukan, demi mencapai target terjauh tersebut, yaitu Tuhan.
    Harus selalu kita ingat bahwa mencari uang itu lebih mudah daripada mencari Tuhan. Tetapi banyak orang berpikir bahwa mencari Tuhan itu lebih mudah, sehingga orang mengulur-ulur waktu, menunda-nunda, bahkan menganggap remeh hal tersebut, sehingga sikap itu menjadi sikap mencelakai dirinya sendiri. Orang seperti ini pasti binasa, karena tidak menghormati Tuhan. Orang-orang seperti ini tidak menjadikan Tuhan sebagai tujuan hidupnya. Harus diingat, bahwa target yang paling jauh itu Tuhan. Kalau kita tidak mengerahkan segenap tenaga dan pikiran kepada atau untuk Tuhan, maka tidak akan sampai. Tentu pernyataan ini bukan berdasarkan sembarang kata atau pikiran. Ini adalah firman Tuhan. Dalam Injil Matius 22:37-40, tertulis “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, segenap akal budimu, dan segenap kekuatanmu.” Dari ayat ini, tampak jelas bahwa Tuhan menghendaki agar kita mencari Dia. Dan untuk menemukan Dia, harus dengan segenap hidup. 
    Tuhan tidak cukup hanya dipikirkan, dipelajari secara nalar, dipercakapkan, didiskusikan, apalagi diperdebatkan. Tuhan sebagai target harus dialami, sehingga kita dapat membidik-Nya agar dapat tepat sasaran. Kita harus memiliki tekad untuk menemukan Allah. Walaupun kita belum benar-benar suci, tetapi kita harus nekat, senekat-nekatnya untuk bisa hidup tidak bercacat, tidak bercela. Pasti suatu hari kita akan sampai pada tingkat kesucian yang Allah kehendaki. Ini bukan hal yang hanya bisa dipercakapkan, tetapi harus segenap hati digumuli dalam kehidupan secara konkret. Kita harus nekat hidup suci. Dan selanjutnya, kita kita nekat untuk tidak memiliki apa-apa. Kita harus rela melepaskan segala sesuatu. Itu masalah batin. Mungkin secara fisik kita memakai baju bagus, kalau memang itu bagian kita; kita mempunyai berbagai fasilitas, tetapi hati kita tidak terikat dalam berbagai fasilitas yang kita miliki. Dulu pada waktu kita membeli barang-barang tersebut, kita belum memiliki kedewasaan rohani seperti hari ini. Seandainya waktu itu kita sudah dewasa, sangat besar kemungkinan kita tidak membeli barang-barang itu. 
    Banyak perbuatan masa lalu yang kita sesali. “Mengapa dulu kita beli barang ini? Kenapa kita dulu punya barang ini? Kenapa dulu kita ingini ini? Kenapa dulu saya sukai itu?” Setelah menjadi dewasa rohani, sekarang menjadi tawar hati. Makin hari, dengan kecepatan tinggi kita dapat semakin tidak menyukai apa yang dulu kita sukai. Sekarang kita baru sadar, bahwa walaupun bukan hobi yang melanggar moral, bukan hobi yang jahat, tetapi hobi-hobi tersebut telah menyita perhatian; wasting time, wasting energy, wasting banyak hal, semua sia-sia, tidak ada gunanya. Sekarang, kita harus rela melepaskannya. 
    Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi,
    0 min
  • Memindahkan Hati
    Tuhan pasti tahu siapa yang benar-benar telah memindahkan hati ke dalam Kerajaan Surga. Kita dapat membayangkan bahwa hari ini di surga sudah ada catatan nama-nama orang yang sudah memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Mereka adalah orang-orang yang pasti memikat hati Allah, memikat hati Bapa di surga. Memindahkan hati ke surga bukan sesuatu yang mudah. Memindahkan hati ke surga artinya menaruh seluruh pengharapan kebahagiaan hidup hanya nanti di surga. Ini adalah perjuangan yang sangat berat. Mengucapkannya mudah, tetapi melakukannya tidak mudah. Sampai hari ini pun, kita sedang berjuang. Kita tidak tahu berapa nilai prestasi kita dalam meninggalkan dunia ini, tetapi rasanya, jarang sampai nilai di atas 80, kalau nilai maksimalnya 100. Seiring berjalannya waktu dan proses pendewasaan kita, nilai kita pasti makin meningkat, makin tinggi sehingga benar-benar dapat nilai 100 atau A. Mestinya sebelum menutup mata, kita sudah memindahkan segenap hati kita di surga. 
    Memindahkan hati ke Kerajaan Surga benar-benar tidak mudah, biarpun seorang pendeta. Memang hanya Tuhan yang tahu, apakah kita sudah memindahkan hati di Kerajaan Surga atau belum. Tetapi kita sendiri juga mestinya bisa merasakan seberapa jauh kita telah memindahkan hati di Kerajaan Surga. Dalam Matius 6:21, firman Tuhan mengatakan, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Kalimat ini diawali dengan pernyataan Tuhan Yesus di ayat 19-20, “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Jelas sekali pernyataan Tuhan ini menunjukkan bahwa kita harus hidup hanya untuk mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi. Jadi, adalah suatu kemutlakan untuk memindahkan hati ke surga.
    Dari kecil, kita telah terdidik orangtua dengan filosofi yang diwarisi orangtua dari nenek moyang, lalu kita juga ikut mewarisi. Hidup terfokus kepada bumi ini dan semua hanya berorientasi pada kefanaan. Setelah kita mengenal kebenaran, kita harus mengubah cara berpikir kita. Kita harus memindahkan hati di surga, artinya kita tidak boleh terikat apa pun sehingga kita tidak merasa keberatan kalau kehilangan apa pun demi Tuhan. Tentu kita harus menjaga apa yang Tuhan percayakan kepada kita, tetapi bukan berarti lalu kita tetap terikat dengan harta milik. Jangan kita merasa bahwa hidup di bumi ini adalah satu-satunya kesempatan untuk menikmati kebahagiaan, seakan-akan tidak ada kesempatan menikmati hidup di dunia lain. 
    Hidup yang sesungguhnya dirancang oleh Allah bagi umat pilihan adalah nanti, di langit baru dan bumi yang baru. Setelah manusia jatuh dalam dosa, bumi terhukum, bumi terlaknat. Maka, kita hidup di dunia ini hanya untuk persiapan kehidupan di langit baru bumi baru, di mana Tuhan merancang sempurna seperti penciptaan awal dulu. Inilah yang mestinya benar-benar kita pahami dan kita juga harus benar-benar mengambil keputusan untuk memindahkan hati kita di Kerajaan Surga. Jadi, hidup di bumi ini bukan satu-satunya kesempatan menikmati kebahagiaan. Justru di bumi ini tidak ada kebahagiaan yang benar. Kalaupun ada, jika dinikmati tanpa Tuhan, hal itu akan berakhir kepada api kekal. Kalaupun ada dan memang ada kebahagiaan oleh dunia ini—yaitu oleh gelar, pangkat, kehormatan, dan semua pemuasan nafsu—hal itu tidak akan membuat kita hidup, tetapi membuat kita mati; kematian kedua, yaitu di dalam api kekal, terpisah dari Allah.
    Kita memilih untuk memiliki kehidupan yang akan datang. Karenanya, kita harus berjuang. Kita harus melepaskan semua keinginan kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah. Ini yang dimaksud oleh Tuhan Yesus sebagai “kehilangan nyawa.” Dan kita akan memperoleh nyawa nanti, di langit baru bumi baru. Tetapi kalau kita masih terikat dengan segala kesenangan dan kita keberatan untuk melepaskannya, kita malah tidak akan memperoleh nyawa; kita kehilangan nyawa. Artinya, setelah mati, dibuang ke dalam api kekal! Jangan sampai hal itu terjadi di dalam hidup kita. Oleh sebab itu, kita harus kita berkemas-kemas.
    0 min
  • Mengasihi Allah
    Semua kita memiliki pergumulan atau persoalan hidup, tetapi percayalah bahwa segala sesuatu terjadi, ada di dalam kontrol dan kendali Allah yang sempurna. Allah sangat kuat; Allah Mahakuat, tidak ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh Allah. Allah tidak akan pernah mencelakai kita. Allah tidak akan membiarkan kita celaka, apa pun keadaan kita. Allah tidak akan membiarkan kita celaka, kecuali kita mencelakai diri kita sendiri. Itulah sebabnya, kita sebenarnya cukup menyerah saja kepada Tuhan. Apa pun yang terjadi, semua dalam kontrol dan kendali Tuhan. Kalau sesuatu itu ada di dalam tanggung jawab kita, kita harus penuhi tanggung jawab itu. Bekerja, menjaga pola makan dan pola hidup yang baik, mengembangkan bakat dan keahlian kita untuk kehidupan jasmani kita atau untuk nafkah kita. Kita harus penuhi bagian kita. Di luar kemampuan kita, Allah yang akan berperkara, dan kita percaya, Allah tidak akan membiarkan kita celaka. Tentu selama kita menjadi orang-orang yang layak dilindungi atau orang-orang yang pantas dijagai. 
    Oleh sebab itu, kita harus memahami rahasia kehidupan yang diberkati oleh Tuhan dan memperoleh apa yang terbaik dari Tuhan dalam hidup ini. Jalan itu adalah “mengasihi Allah.” Itulah yang dikatakan oleh Tuhan Yesus di Matius 22:37-40, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, segenap kekuatan, dan dengan segenap akal budimu.” Dan mengasihi sesamanya dengan benar. Bagaimana kita dapat mewujudkan kasih itu? Harus dimulai dari tekad. Ada 3 tekad yang kita harus lakukan: Yang pertama, kita harus bersedia hidup sesuci-sucinya atau sekudus-kudusnya, hidup yang tidak bercacat tidak bercela. Walaupun kenyataannya kita memiliki track record hidup atau memiliki perjalanan yang penuh dengan kesalahan, tetapi jangan menoleh ke belakang; lihat ke depan. Miliki satu tekad bahwa kita mau hidup suci. Walaupun tentu kita tidak akan mampu melakukannya dengan kekuatan sendiri, tetapi kita harus membulatkan tekad itu. Karena bagi manusia mustahil, bagi Allah tidak ada yang mustahil. Allah akan memberikan kita kesanggupan. Berani untuk bertekad, seperti omong besar, tetapi kita harus tulus, kita bersedia. Walaupun kita tidak sanggup, Allah akan memberi kesanggupan untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela.
    Yang kedua, kita harus rela menyerahkan apa pun yang kita miliki bagi Tuhan. Ini bukan berarti kita harus memberikan semua uang dan harta ke gereja. Kita harus menyadari bahwa segenap hidup kita ini milik Tuhan. Kita harus rela melepaskan segala sesuatu yang kita miliki untuk kesukaan Tuhan. Pemberian kita kepada Tuhan bisa berupa perhatian kita kepada mertua, kepada menantu, kepada orangtua, kepada famili, tetangga, saudara kita yang lain, dan pekerjaan Tuhan yang Tuhan tunjukkan kepada kita, yang mana kita digerakkan. Dalam hal ini, kita harus peka dengan kehendak Allah; peka terhadap rencana Allah dalam hidup kita. Kita tidak boleh sembarangan melepaskan uang untuk seseorang atau bahkan gereja. Semua harus di dalam pimpinan Roh Kudus. Dengan demikian, segala sesuatu yang kita lakukan demi kesukaan hati Allah semata-mata.
    Mestinya, dalam kehidupan orang percaya tidak ada hitungan sepuluh persen atau perpuluhan itu. Kecuali kita memiliki komitmen demikian, silahkan. Tetapi sesungguhnya, yang benar itu segenap hidup kita adalah milik Tuhan. Kita harus bersedia melepaskan apa pun yang kita miliki untuk Tuhan. Kalau kita sudah memiliki hati seperti ini, tidak mungkin kita berani mengorupsi milik Tuhan yang Tuhan percayakan kepada kita. Apalagi kalau seorang pelayan Tuhan yang menerima persembahan kolekte dari jemaat, tidak boleh menggunakan sesukanya sendiri. Kalaupun ada sesuatu yang adalah milik gereja atas nama pendeta, harus membuat pernyataan bahwa hamba Tuhan tidak berhak menjualnya, baik dirinya maupun keluarganya. Semua harus digunakan untuk kepentingan Tuhan.
    Yang ketiga, kita harus rela melakukan apa pun bagi Tuhan.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…