Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kehilangan Motivasi Memperkaya Diri
    Salah satu ciri yang dapat terjadi dalam kehidupan orang percaya yang mengalami kemerdekaan dalam Tuhan adalah berubahnya perspektif atau mindset terhadap materi dan harta kekayaan. Kalau manusia lain (orang duniawi) pada umumnya mengejar harta, berusaha memilikinya sebanyak mungkin, menumpuk kekayaan demi kepuasan dan kebahagiaan dirinya, orang percaya tidaklah demikian. Orang percaya yang sungguh-sungguh merdeka dalam Tuhan akan kehilangan motivasi memperkaya diri demi kepentingan dan kebahagiaan dirinya. Jadi, jika kebanyakan orang hidupnya “dikendalikan” oleh ambisi dalam mencari uang, memperkaya diri agar bisa bersenang-senang dalam hidup, orang percaya tidak dalam dorongan yang sifatnya mengendalikan seperti itu. Orang yang merdeka dalam Tuhan biasanya selalu mensyukuri berkat materi apa pun yang dia dapatkan, tanpa melihat berapa banyak atau besarnya dari nilai yang diperoleh. Standarnya sudah berbeda; bukan berapa banyak dan berapa besar, melainkan makna berkat tersebut diberikan. Hidupnya tidak lagi “kelelahan” karena mencari uang atau mengumpulkan harta di bumi.
    Inilah yang diteladankan oleh Tuhan kita, Yesus Kristus. Dalam suatu pernyataan-Nya, Yesus mengemukakan, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ini merupakan sebuah pernyataan yang menunjukkan kemiskinan-Nya yang sangat ekstrem. Dari hal ini, tampaklah bahwa Yesus rela kehilangan hak untuk menikmati kekayaan materi yang sebenarnya adalah milik-Nya sendiri. Pernyataan Tuhan Yesus ini juga menunjukkan bahwa kehidupannya dalam dunia ini adalah sebuah perjuangan untuk melakukan suatu tugas, bukan untuk bersantai-santai. Untuk tugas ini, Ia rela mempertaruhkan segalanya. Itulah sebabnya dalam Yohanes 9:4 Tuhan mengatakan: “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa semasa hidup-Nya di bumi, Tuhan sungguh memaksimalkan segala kesempatan yang ada untuk menunaikan pekerjaan Bapa.
    Paulus dalam tulisannya mengatakan, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” Kata “kemiskinan” dalam teks ini adalah eptocheusen (ἐπτώχευσεν), yang berarti become poor (menjadi miskin). Kata ini berasal dari kata ptocheuo (πτωχεύω) yang memiliki pengertian to be a beggar (seperti pengemis, karena sangat miskin), to become indigent (orang yang tidak memiliki kekayaan). Semua yang dikemukakan ini menunjukkan ketidakberdayaan-Nya secara materi atau kemiskinan-Nya secara materi. Kalau Tuhan yang kaya rela menjadi miskin, tentu kita harus rela tidak “ingin kaya,” sebab keinginan kaya berarti percintaan dengan dunia yang berarti menjadikan diri seseorang sebagai musuh Allah. Seluruh usaha kita untuk memperoleh kekayaan materi harus digunakan untuk kemuliaan-Nya.
    Bagian dari keteladanan yang ditampilkan Yesus dalam kisah penyaliban itu juga berbicara bagaimana seorang hamba Tuhan rela melepaskan kesenangan demi pelayanan bagi Tuhan. Paulus pernah berkata kepada anak rohaninya Timotius, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Implikasi ayat ini menyuarakan panggilan terhadap seluruh anak-anak Tuhan untuk tidak membiarkan dirinya terbuai oleh berbagai kesenangan pribadi lebih dari kecintaannya terhadap pelayanan bagi Tuhan. Ayat tersebut paralel dengan nasihat Paulus kepada jemaat Korintus: “Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan ba...
    0 min
  • Merdeka Dalam Tuhan
    Sangat mudah bagi seseorang untuk mengaku telah merdeka dari perhambaan dosa dan menjadi milik Kristus, tetapi apakah dirinya benar-benar telah menjadi milik Kristus? Banyak orang Kristen mengaku milik Kristus, tetapi sebenarnya mereka masih memiliki dirinya sendiri. Ketika ada dalam bahaya dan masalah besar, mereka mengaku milik Kristus sebab berharap dapat memperoleh pertolongan dan campur tangan Tuhan. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-hari—ketika tidak ada dalam bahaya atau tidak memiliki masalah berat—mereka memiliki dirinya sendiri. Mereka memandang Tuhan sebagai alat, bukan tujuan. Sesungguhnya, ini sikap orang yang tidak menjadikan Yesus sebagai Tuhan, yang seharusnya hanya kepada-Nya mereka mengabdi dan hidup. Kendati ini sebuah sikap memanfaatkan Tuhan, banyak orang tidak menyadarinya.
    Bilamana seseorang memiliki dirinya sendiri? Seseorang memiliki dirinya sendiri ketika ia dengan sesuka hatinya menggunakan pikiran, perasaan, dan anggota tubuhnya demi kesenangannya. Selain itu, ia merasa berhak menggunakan apa pun yang diraih dan dimiliki (gelar, pangkat, harta, dan semua talenta) sesuai dengan seleranya. Biasanya, semua yang dimiliki tersebut dijadikan sumber kebahagiaan dan kebanggaannya. Mereka yang demikian sebenarnya belum menjadi milik Tuhan dalam arti yang sesungguhnya. Mestinya orang-orang seperti ini tidak berhak mengaku milik Tuhan, sebab ia masih memiliki dirinya sendiri. Mereka tidak dapat melakukan apa yang dikatakan oleh Tuhan: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah (1Kor. 10:31).
    Selama seseorang masih terikat dengan dunia ini, yaitu membiarkan dirinya hanyut dengan keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, maka ia belum merdeka dan tidak dapat dimiliki oleh Tuhan (1Yoh. 2:15). Orang yang telah merdeka dan menjadi milik Kristus Yesus adalah mereka yang telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya (Gal. 5:24). Penyaliban daging dengan segala keinginannya harus berangkat dari diri sendiri. Proses penyaliban daging dan segala keinginannya adalah fenomena natural, bukan adikodrati atau mistis. Ini harus berlangsung setiap hari secara konkret melalui segala kejadian yang terjadi dalam hidup seseorang. Terkait dengan hal ini, kita bisa lebih mengerti mengapa Tuhan Yesus menyatakan: orang yang mengikut Dia harus menyangkal diri dan memikul salibnya. Tentu salib bukan hanya dipikul, apalagi digantung menjadi kalung, melainkan menjadi sarana seseorang disalibkan. Seseorang harus menyalibkan segala keinginan dan hawa nafsunya pada salibnya masing-masing. 
    Bagaimana dengan jemaat Roma yang menerima surat Paulus dalam Roma 1:16 tersebut? Tentu saja secara komunitas, jemaat Roma adalah jemaat yang sangat luar biasa. Di tengah-tengah aniaya yang hebat, mereka tetap setia mengikut Kristus. Itulah sebabnya kabar tentang kualitas iman jemaat Roma sampai tersiar luas di seluruh dunia. Tentu dunia yang dimaksud pada waktu itu dunia di mana Injil sudah diberitakan, khususnya wilayah pemerintahan Roma. Jadi, kalau mereka disebut sebagai milik Kristus, adalah sangat benar. Harus dipahami bahwa mereka bisa menjadi milik Kristus dengan benar setelah membuktikan ketaatannya kepada Tuhan dan kehidupan iman kepada nama Yesus Kristus. Jemaat Roma adalah jemaat yang rela kehilangan segala sesuatu demi Kristus. Hal ini senada dengan yang dikemukakan oleh Paulus dalam kesaksian hidupnya: “… Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus” (Flp. 3:7-8). Hanya orang-orang yang rela tidak memiliki apa pun yang dapat merdeka dalam Tuhan. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadi milik Tuhan secara faktual (de facto).
    Memang secara hukum (de jure) darah Tuhan Yesus telah menebus orang percaya, sehingga mereka bukan milik mereka sendiri. Tetapi apakah pemilikan Tuhan atas mereka diakui oleh individu-individu orang p...
    0 min
  • Kemerdekaan Aktif
    Bagaimana kita dapat benar-benar merdeka dari belenggu dunia dan kuasa gelap? Jawabnya adalah tergantung dari kemauan kita. Tuhan telah memberi berbagai fasilitas yang kita butuhkan untuk merdeka dari belenggu dunia dan kuasa gelap. Berbagai fasilitas itu adalah penebusan, Roh Kudus, kebenaran, dan penggarapan melalui setiap peristiwa. Penebusan adalah kematian Yesus di kayu salib untuk mendamaikan setiap orang percaya dengan Allah. Melalui penebusan ini, orang percaya secara de jure dilepaskan oleh Allah dari tawanan Iblis. Inilah kemerdekaan pasif, yakni kemerdekaan yang dikerjakan Allah tanpa intervensi manusia di dalamnya. Kemudian, orang percaya yang telah menerima penebusan Kristus atau dimerdekakan oleh Allah, diberi Roh Kudus untuk menuntunnya memahami segala kehendak Bapa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus melalui Injil (Yoh. 16:13). Kebenaran Injil yang ditulis dan diwariskan secara turun-temurun memuat firman Allah yang mengubah paradigma orang percaya. Pada akhirnya, Tuhan menyempurnakan orang percaya yang telah menerima-Nya secara de jure, belajar kebenaran, dan dipimpin oleh Roh untuk masuk dalam penggarapan setiap hari. Melalui penggarapan tersebut, orang percaya belajar untuk memahami pikiran dan perasaan Allah, serta menjadi serupa dengan-Nya. Seluruh fasilitas ini tentu tidak boleh direspons dengan pasif. Kita harus menggunakan kehendak kita dengan kuat dan tegas dan berkomitmen bahwa kita mau hidup seturut dengan kehendak Allah. 
    Iblis sering menipu kita dengan kepasifan sehingga kita tidak menguatkan hati untuk memandang Tuhan. Iblis mengisi pikiran kita dengan berbagai sampah (segala keinginan dan ambisi pribadi yang sama seperti anak-anak dunia), sehingga kita tidak menggunakan kebebasan kita bertindak dan mengambil keputusan. Iblis menggiring orang percaya untuk memiliki pemikiran bahwa ketika mereka telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara proklamatif, maka keselamatan telah terjadi. Akibatnya, mereka menjadi pasif dan tidak memiliki geliat yang ideal untuk mengubah diri. Banyak manusia yang tidak jelas arah perjalanan hidupnya disebabkan oleh kepasifan ini. Tidak jarang kita jumpai anak-anak Allah yang memohon bimbingan Tuhan, memohon arah untuk memulihkan kehidupannya, tetapi tidak pulih-pulih, sebab mereka tidak melangkah sama sekali. Tuhan menghendaki kita melangkah dulu, maka pemulihan akan menyertai langkah kita. Penting untuk diingat bahwa Tuhan bekerja dalam segala sesuatu bagi kebaikan orang yang mengasihi Tuhan. Kita harus melangkah mengasihi Tuhan dalam tindakan konkret, maka Tuhan akan memenuhi bagian-Nya menolong kita. Kita mengerjakan keselamatan (katergazesthe), Tuhan yang mengerjakan atau memberi energi (energon), bukan Tuhan yang mengerjakan keselamatan tersebut. Tuhan hanya memberi energi, kemampuan, fasilitas, sarana, namun orang percaya yang mengerjakan (Flp. 2:12-13). 
    Kemerdekaan pasif adalah kemerdekaan yang kita terima dari Yesus, yang membuat kita memiliki potensi untuk selamat atau dikembalikan ke rancangan semula. Ini juga sudah dapat dikatakan sebagai sebuah kemerdekaan, tetapi ini adalah kemerdekaan pasif. Kemerdekaan ini kita terima hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Namun, kemerdekaan pasif ini harus dilanjutkan pada proses selanjutnya, yakni memperjuangkan kemerdekaan aktif. Adapun kemerdekaan aktif adalah kelepasan dari ikatan-ikatan dosa buah dari pergumulan pribadi dengan pimpinan Roh Kudus. Di sini, seseorang yang diperbarui cara berpikirnya oleh kebenaran Injil dan Roh Kudus harus bergumul mengenakan kebenaran yang telah dipelajari dalam kehidupannya sehari-hari. Pergumulan pribadi inilah yang membuat kita semakin merdeka dari ikatan-ikatan dosa tersebut dan memperoleh mahkota sorgawi atau kemuliaan bersama Yesus. Kemerdekaan aktif adalah sebuah perjuangan yang terus-menerus sampai Tuhan datang kembali. Kita tidak boleh dan tidak bisa berhenti dari perjuangan ini.
    0 min
  • Mengisi Kemerdekaan
    Kemerdekaan yang negara Indonesia miliki menjadi percuma kalau tidak diisi dengan usaha untuk memanfaatkan alam kemerdekaan yang ada, beberapa di antaranya tentu dengan meningkatkan taraf ekonomi rakyat, menggali seluruh kekayaan alam Indonesia, dan diwariskan secara merata bagi seluruh penduduknya. Bila tidak demikian, maka bangsa ini masih dijajah dengan kemiskinan, kebodohan, dan berbagai kebutaan lain. Demikian pula dengan kemerdekaan Kristiani. Sangat disayangkan banyak orang Kristen yang tidak mengisi kemerdekaannya dengan benar, sehingga tidak menikmati berkat kemerdekaan dalam Kristus. Banyak orang Kristen yang masih terikat dengan keinginan-keinginan daging, pikiran-pikiran negatif, tidak percaya, duniawi, khawatir cemas dan lain sebagainya. Keterikatan ini terbukti melalui ambisi, keinginan, dan keserakahan yang mereka tunjukkan. Hatinya lebih terpikat dan tertarik dengan barang mewah, nilai harta yang berlimpah, dan segala sanjungan manusia terhadap dirinya. Semua ini tanpa disadari merupakan belenggu yang mengikat orang percaya dengan percintaan dunia. Belenggu ini terbentuk ketika seseorang merasa sudah merdeka dan tidak perlu lagi mengisi kemerdekaan di dalam Kristus. Bagi sebagian orang Kristen, menjadi anggota gereja dan melayani sudah cukup. Padahal, setiap orang percaya yang dimerdekakan oleh Kristus dipanggil untuk mengisi kemerdekaan itu secara aktif agar mereka dapat menikmati sepenuhnya berkat dalam kemerdekaan Kristiani.
    Dalam Galatia 5:1, firman Tuhan tertulis: “Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Teks ini mengisyaratkan kemungkinan terjadinya lagi perbudakan dalam kehidupan orang yang sudah dimerdekakan. Jika memang orang percaya tidak perlu melakukan apa pun setelah dimerdekakan oleh Tuhan melalui penebusan, maka Paulus tidak akan menggunakan frasa “jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan.” Oleh sebab itu, dinasihati agar kita “berdiri teguh,” dimana hal ini sama dengan mengisi kemerdekaan sampai tidak bisa diperbudak lagi. Dalam Yohanes 8:31-32, Tuhan Yesus menunjukkan bagaimana bisa memiliki kemerdekaan yang sejati, yaitu tetap di dalam Firman. Tetap hidup di dalam Firman menunjuk pada kesediaan untuk memahami kebenaran yang Allah wahyukan dalam Alkitab. Kebenaran Firman menjadi landasan untuk memperoleh kecerdasan rohani yang memadai. Untuk ini, harus ada waktu khusus yang diluangkan. Waktu khusus tersebut diiringi dengan pikiran yang segar dan konsentrasi yang baik terhadap Firman yang akan dipelajari. 
    Selanjutnya, hidup kita harus selalu disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Setiap keputusan dan semua peristiwa hidup yang dialami selalu dikaitkan dengan Tuhan. Dengan ini, setiap pertimbangan, keputusan, dan pilihan orang percaya harus dilandasi oleh nilai kebenaran, bukan semata-mata apa yang mendatangkan keuntungan. Hidup dalam Firman sama dengan hidup dalam kehendak Bapa, yakni menemukan pikiran dan perasaan Bapa untuk segala sesuatu. Kita hanya melakukan apa yang Bapa kehendaki untuk kita lakukan. Orang percaya harus aktif bertumbuh mengerjakan keselamatannya. Sungguh suatu kesalahan apabila keselamatan dipandang sebagai sesuatu yang pasif. Namun kenyataannya, tanpa disadari banyak orang Kristen yang hidup dalam kepasifan; pasif dalam memberi perhatian kepada perkara-perkara rohani. Pikirannya dipenuhi dengan berbagai ambisi dan hasrat duniawi. Ketimbang hidup dalam Firman, ia lebih senang memenuhi pikirannya dengan tontonan atau hiburan yang tidak memberkati. Tuhan berkata bahwa kita tidak dapat menjadi murid kalau tidak melepaskan segala sesuatu (dalam hal ini pikiran duniawi) dan mengikut Yesus. Jika kita berani melepaskan segala sesuatu berarti kita menunjukkan keseriusan yang tinggi untuk mengisi keselamatan yang sudah dimiliki. 
    Kita dimerdekakan untuk mengisi kemerdekaan agar tidak diperbudak lagi. Ini memang tidak mudah,
    0 min
  • Merespons Kemerdekaan
    Pada dasarnya, Tuhan menghendaki semua bangsa Israel selamat, tetapi hal itu tidak terwujud sebab mereka menolak-Nya. Dengan demikian, kalau bangsa itu menolak Allah, bukan karena Allah yang menentukan tetapi mereka sendiri yang menghendaki demikian. Dalam hal ini, jelaslah bahwa intervensi Allah terbatas, sebab Allah memberi independensi kepada manusia untuk menentukan “takdirnya.” Bangsa Israel harus menggunakan independensinya dengan benar. Tetapi kalau mereka mengarahkan hatinya kepada yang lain, maka mereka tidak dapat selamat. Terkait dengan hal ini, Tuhan Yesus memberitakan Injil kepada umat Israel selama 3,5 tahun agar mereka bertobat. Tetapi ketika mereka menolak pemberitaan Injil yang Tuhan Yesus wartakan, mereka harus menanggung akibatnya. Tuhan memberitakan Injil untuk membuka pikiran manusia agar dapat mengerti kebenaran dan mempertimbangkan dalam nalarnya. Injil memuat kebenaran yang harus didengar untuk menumbuhkan pertimbangan. Dalam pertimbangan nalar tersebut, seseorang memiliki kehendak bebas sehingga harus memilih atau memutuskan, apakah mau menerima Tuhan Yesus sebagai jalan keselamatan atau menolak-Nya. 
    Walaupun bangsa Israel adalah umat pilihan karena nenek moyang mereka kekasih Allah (seperti Abraham, Ishak, dan Yakub), tetapi karena mereka menolak Injil, maka mereka berstatus sebagai seteru (musuh) Allah (Rm. 11:28). Bagaimana ini bisa terjadi? Walaupun Allah memilih mereka sebagai umat pilihan anak keturunan Abraham, tetapi kalau mereka menolak Tuhan Yesus Kristus, maka mereka pun ditolak Allah. Satu pihak, Allah memilih mereka untuk menjadi umat pilihan Perjanjian Baru agar selamat, tetapi kalau mereka menolak, maka mereka pun akan binasa. Dalam hal ini, tampak sangat jelas bahwa manusia memiliki hak dan potensi untuk menolak anugerah-Nya, walaupun Tuhan sudah memberi dorongan dengan mengadakan mukjizat agar bertobat. Itulah sebabnya, Tuhan sampai murka dan bersumpah bahwa mereka tidak akan masuk ke tempat perhentian. Kalau sampai Tuhan murka dan bersumpah, pasti semua ini bukan rekayasa Allah. Allah tidak mungkin bersandiwara. Seharusnya, dengan melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa di sepanjang perjalanan dari Mesir ke Kanaan, bangsa Israel bisa bertobat. Tetapi ternyata, mereka tetap bersikap keras kepala. Dalam kaitan dengan hal ini, tidak ditemukan penjelasan bahwa Tuhan mengeraskan hati bangsa Israel sehingga mereka tidak sampai tanah Kanaan. Bangsa Israel itu sendiri yang mengeraskan hati dengan tidak mau tunduk dan dengar-dengaran kepada Tuhan, walaupun mereka sudah melihat perbuatan Tuhan yang luar biasa nyata. Firman Tuhan mengatakan: “Mereka yang mengeraskan hati mereka sendiri.”
    Kalau Tuhan sudah berulang-ulang memberi kesempatan seseorang orang untuk bertobat tetapi tidak bertobat, maka Tuhan bisa mengeraskan hati orang tersebut. Tuhan bukan seperti orang “sakit jiwa” atau “psikopat” yang sembarangan mengeraskan hati orang tanpa alasan. Kalau dalam Alkitab ditulis “Tuhan mengeraskan hati seseorang,” hal ini hendaknya tidak menjadi ukuran umum; artinya hendaknya kita tidak berpikir bahwa Tuhan secara sembarangan dan sewenang-wenang mengeraskan hati orang. Tuhan pasti memiliki alasan mengapa hati seseorang harus dikeraskan. Dalam suratnya, Paulus mengatakan bahwa semua peristiwa mengenai bangsa Israel menjadi contoh bagi kita (1Kor. 10:11-12). “Menjadi contoh” artinya bahwa kegagalan sebagian besar orang Israel sampai Kanaan merupakan peringatan bagi kita. Perhatikan kata “peringatan bagi kita.” “Kita” di sini menunjuk orang yang mengaku Kristen—bahkan sudah merasa sebagai orang percaya—bisa mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh bangsa Israel. Kata “kita” di sini juga menunjuk atau termasuk Paulus sebagai penulis kitab Korintus.
    Dalam tulisannya ini, Paulus hendak menganalogikan (menyejajarkan) kegagalan sebagian bangsa Israel dengan perjalanan hidup orang percaya. Perhatikan kalimat: “Semuanya ini telah terjadi sebagai contoh bagi kita untuk memperingat...
    0 min
  • Hanya Kebenaran yang Memerdekakan
    Pada akhirnya, harus dikatakan bahwa orang percaya harus belajar mengerti seluk-beluk keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang tertuang dalam kebenaran Alkitab. Tanpa mengerti hal ini, keselamatan tidak akan terwujud. Itulah sebabnya dikatakan bahwa kebenaran itu memerdekakan (Yoh. 8:31-32). Dan Injil, yaitu kebenaran yang Tuhan Yesus ajarkan, adalah kuasa Allah yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Gereja bertanggung jawab mengajarkan semua yang diajarkan Tuhan Yesus kepada jemaat sesuai dengan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20). Pengajaran tersebut berdaya guna untuk mengubah cara berpikir jemaat. Dari cara berpikir yang sebelumnya berpadanan dengan nilai-nilai duniawi, menjadi cara berpikir yang berpadanan dengan Injil. Perubahan cara berpikir memiliki mekanisme yang konkret, yakni proses belajar kebenaran, memenuhi pikiran dengan kebenaran tersebut, dan kemudian mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Kebenaran yang dipelajari merupakan logos yang membentuk pengertian orang percaya mengenai Tuhan dan Kerajaan-Nya secara kognitif. Kebenaran ini kemudian akan berdaya guna nyata mengubah ketika Tuhan mengizinkan peristiwa hidup tertentu sebagai kesempatan mempraktikkan kebenaran tersebut. Dalam fase ini, logos tersebut menjadi rhema yang menggurat nurani orang percaya.
    Dalam hal ini, semua pengajaran dalam sekolah teologi bukan hanya untuk pendeta, tetapi guna diteruskan kepada jemaat. Pengajaran Alkitab yang murni bukan monopoli para pendeta dan teolog semata. Jemaat juga harus sungguh-sungguh menyediakan diri untuk belajar supaya proses keselamatan bisa berlangsung dalam kehidupan mereka. Semua orang Kristen harus berteologi dengan benar, sebab semua orang percaya dipanggil untuk berteologi. “Berteologi” di sini tidak harus duduk di bangku sekolah teologi dan memperoleh gelar sarjana, master, atau doktor teologi. Belajar teologi berarti belajar prinsip-prinsip kebenaran yang terkandung dalam Alkitab, dimana prinsip-prinsip kebenaran tersebut dapat menjadi logika berpikir yang dapat menuntun ketika seseorang mempelajari Alkitab secara mandiri. Logika berpikir yang dibangun dari prinsip-prinsip kebenaran tersebut pada akhirnya memampukan setiap orang percaya memahami kebenaran dalam setiap bagian Alkitab dengan utuh. Dalam hal ini, betapa berartinya waktu yang disediakan oleh Tuhan, sebab proses memahami kebenaran tidak bisa dalam sekejap, tetapi melalui proses panjang yang bertahap.
    Kita harus menganggap penting hal mengerti seluk beluk keselamatan, sebab hal ini menentukan keberhasilan karya Roh Kudus dalam menggarap atau membentuk kita. Tidak mungkin seseorang dapat memperoleh keselamatan secara penuh tanpa mengerti kebenaran. Harus diingat bahwa hanya kebenaran yang memerdekakan, dan Injil yang menyelamatkan. Ini adalah suatu kemutlakkan. Hal belajar kebenaran harus mendapat prioritas utama dalam kehidupan kita. Sebagaimana makan dan minum sangat penting untuk kelangsungan hidup fisik, begitu juga pentingnya kebenaran untuk kelangsungan hidup rohani kita. Jika kita tidak memiliki kesungguhan dalam mempelajari kebenaran, hal itu tentu dapat berarti menyia-nyiakan kesempatan yang Tuhan berikan. Sebab, kebenaran yang kita peroleh dan waktu yang kita miliki, semuanya berasal dari Tuhan. Tuhan sendirilah yang mengajarkan kebenaran tersebut ketika berinkarnasi menjadi manusia. Singkatnya, pengabaian terhadap kesempatan mempelajari kebenaran adalah bentuk ketidakseriusan kita menanggapi anugerah yang tersedia di dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Oleh sebab itu, belajar kebenaran Firman Tuhan tidak boleh dijadikan sekadar tambahan atau pelengkap hidup, tetapi itulah seluruh kehidupan kita. Belajar kebenaran Firman tidak boleh digantikan dengan waktu menonton sinetron atau hiburan lainnya selama berjam-jam. Banyak orang dapat berjam-jam menonton sinetron, drama, dan hiburan lainnya, tetapi untuk belajar Firman, sama sekali tidak memiliki waktu. Sebagaimana manusia hidup bukan hanya dari roti,
    0 min
  • Merdeka di Dalam Dia
    Harus diingatkan kepada para pembicara atau para pengajar yang mengajar jemaat di mimbar gereja, agar mereka tidak sembarangan menyatakan bahwa jemaat adalah milik Kristus, tanpa menyertakan konsekuensi-konsekuensinya; yaitu konsekuensi menjadi milik Kristus. Hendaknya tidak sampai terjadi, sementara jemaat merasa milik Kristus, padahal mereka masih memiliki dirinya sendiri. Kalau mereka memiliki dirinya sendiri sedangkan dirinya terikat dengan berbagai kesenangan dunia, berarti mereka masih dimiliki oleh dunia. Secara de jure, sebenarnya mereka dimiliki oleh Tuhan, tetapi secara de facto, mereka dimiliki dunia. Mereka dimiliki dunia sebab diri mereka masih dalam keterikatan dengan materi dunia ini atau kekayaan dunia dengan segala keindahannya. Dengan tindakan ini, mereka sebenarnya memberontak kepada Tuhan; tidak menundukkan diri kepada Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Rajanya. Tidak heran kalau orang-orang seperti ini akan ditolak Tuhan pada waktunya. 
    Untuk menjadi milik Kristus, seseorang harus rela meninggalkan segala sesuatu (Luk. 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku”). Orang yang tidak melepaskan diri dari segala sesuatu, tidak dapat diubah Tuhan; mereka tidak dapat dimuridkan. “Dimuridkan” artinya dinasihati dan diajari untuk diubah. Jika demikian, berarti keselamatan yang disediakan bagi mereka disia-siakan. Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia kepada rancangan-Nya semula. Orang percaya yang benar, yang mengalami proses dikembalikan ke rancangan semula Allah, harus memberi segenap hidupnya bagi Tuhan. Hidup dalam kebenaran Tuhan dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi Kerajaan Surga, inilah ciri-ciri dari orang yang dimiliki oleh Tuhan dan merdeka dalam-Nya. 
    Hal tersebut di atas terkait atau sejajar dengan pernyataan Paulus bahwa jemaat Roma lebih dari pemenang (Rm. 8:37). “Menang” di sini artinya unggul. Menang bukan dalam arti fisik, kekayaan, politis, dan segala aspeknya; sebab hal-hal tersebut bagi jemaat Roma tidak berarti sama sekali. Mereka adalah orang-orang yang tertindas, miskin, dan lemah. “Menang” yang dimaksud adalah menang sebagai orang-orang yang dikasihi oleh Tuhan dan memiliki janji dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dalam hal ini, jemaat Roma lebih dari orang-orang (penduduk Roma lainnya) yang menang atau memiliki kelebihan secara politik, kekuasaan, ekonomi, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, hendaknya pembicara di mimbar tidak sembarangan mengatakan atau menyatakan bahwa semua jemaat yang ada sekarang ini adalah umat pemenang, tanpa mengajarkan perjuangan yang harus dijalani seperti jemaat Roma yang telah berjuang dan setia sampai akhir. Setiap umat pemenang adalah mereka yang memerdekakan diri secara aktif untuk lepas dari belenggu dunia untuk masuk dalam belenggu Tuhan. 
    Pernyataan Paulus mengenai “lebih dari orang-orang menang” sebenarnya ditujukan kepada jemaat Roma yang sudah teruji perjuangannya, sehingga pantas disebut demikian. Hal ini tidak bisa ditujukan kepada semua orang Kristen, tetapi hanya untuk mereka yang sudah berjuang seperti jemaat Roma. Bagaimana bisa dikatakan menang jika tanpa perjuangan? Menimbang hal di atas, hendaknya kita tidak sembarangan mengenakan ayat Roma 1:6 tersebut kepada sembarang orang Kristen zaman ini. Hendaknya, kita tidak sembarangan mengatakan bahwa semua orang Kristen adalah milik Kristus dan telah menjadi umat pemenang. Banyak orang Kristen yang tidak dimiliki oleh Tuhan, sebab memiliki dirinya sendiri atau dimiliki oleh dunia, berhubung hati mereka tertambat pada percintaan dunia. Orang-orang Kristen seperti itu tidak bisa dikatakan sebagai umat pemenang, sebab belum membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan Yesus dengan mengorbankan segala sesuatu yang ada padanya bagi Tuhan. 
    Fakta yang terjadi hari ini, banyak orang Kristen yang merasa mengikut Tuhan Yesus hanya karena beragama Kristen dan pergi ke gereja.
    0 min
  • Merasa Bebas
    Ciri dari seorang yang benar-benar merdeka dalam Tuhan Yesus adalah makin menghayati dan menerima bahwa segala sesuatu yang dimilikinya adalah milik Tuhan. Dengan demikian, ia tidak merasa berhak menggunakan sesuka hatinya sendiri. Segala sesuatu yang dilakukan dengan “hartanya” selalu hanya untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Dengan kata lain, ia dilepaskan dari segala ikatan melalui penebusan bagi Tuhan. Memang demikianlah kenyataannya, bahwa kita telah dibeli oleh Tuhan Yesus dengan harga yang lunas dibayar, dan bahwa kita dan apa yang ada pada kita, bukan milik kita sendiri lagi (1Kor. 6:19-20). Ini adalah konsekuensi penebusan yang diterima oleh orang percaya. Bukan hanya menerima pembebasan dari hukuman akibat perbuatan dosa, tetapi juga menjadi milik Tuhan. Banyak orang Kristen tidak mengerti atau tidak mau mengerti hal ini. Kalau keadaan ini berkepanjangan, seseorang bisa sampai pada level tidak pernah dapat dimiliki oleh Tuhan, sebab sudah terbiasa hidup memiliki dirinya sendiri.
    Penebusan membuat seseorang menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Tetapi faktanya, banyak orang Kristen yang ketika harta dan uangnya semakin banyak, maka semakin besar dan mewah rumahnya, semakin mewah mobilnya, semakin branded barang-barangnya, dan semakin berkilau perhiasannya. Dengan demikian, biasanya dirinya semakin merasa berharga di mata manusia. Dari hal ini, timbul keangkuhan yang tidak terbatas. Mengapa ia berbuat demikian? Sebab, ia merasa berhak atas segala sesuatu yang ada padanya. Jika sudah demikian, Tuhan pun tidak ia hormati sama sekali. Orang tersebut bisa mengembalikan atau memberi persepuluhan ke gereja, tetapi setelah itu, ia merasa berhak dengan yang sembilan puluh persen lainnya. Persepuluhan yang diberikan ke gereja pun dalam rangka mau mendapat balasan berlipat ganda dari Tuhan. Ini sebenarnya bukan mau mengembalikan milik Tuhan, tetapi mau memperdaya Tuhan atau mengeksploitasi Tuhan, serta memanfaatkan-Nya. 
    Orang yang benar-benar hidup beriman dalam Tuhan Yesus, yaitu mereka yang menerima penebusan oleh darah Yesus, pasti menunjukkan karakteristik seorang pengelola, bukan seorang pemilik. Seorang pengelola adalah seorang manajer yang mengelola milik majikannya. Seseorang yang mengelola milik Tuhan akan rela melepaskan apa yang ada padanya demi kepentingan Tuhan atau kemuliaan nama-Nya karena memang semuanya bukan miliknya. Semua yang dilakukan harus dalam komando Majikan Agungnya. Harus dipahami bahwa segala sesuatu yang ada pada kita adalah milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita masing-masing. Segala sesuatu tersebut bukan hanya uang, melainkan juga seluruh kehidupan kita, yaitu tubuh, jiwa, dan roh kita, di dalamnya juga termasuk semua potensi yang ada pada kita, waktu, kesehatan, daya, dan lain sebagainya. Uang hanya sebagian kecil dari milik Tuhan yang dipercayakan kepada kita. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus menyebutnya sebagai perkara kecil (Luk. 16:10). Kalau masalah uang—yang adalah perkara kecil—seseorang gagal setia kepada Tuhan, apalagi perkara besar.
    Setelah kita belajar hidup sebagai pengelola milik Tuhan yang baik, kita dapat mengerti bagaimana gerak hidup orang yang belum benar-benar hidup beriman dalam Tuhan Yesus. Orang Kristen yang berkeberatan dimiliki oleh Tuhan, mau memiliki dirinya sendiri. Sebab dengan demikian, mereka merasa bebas menggunakan apa yang mereka miliki untuk kepentingan dan kesenangan diri sendiri. Tuhan tidak dihargai secara patut. Tetapi biasanya, mereka tidak menyadari keadaan tersebut. Tentu saja mereka tidak memiliki kegentaran yang proporsional terhadap Tuhan. Bahkan, sering tanpa sadar mereka meremehkan Tuhan. Liciknya orang-orang seperti ini, kalau ada di dalam masalah besar, kebutuhan yang mendesak, barulah mengaku bahwa dirinya adalah milik Tuhan. Mereka mengaku milik Tuhan dikarenakan sedang membutuhkan berkat jasmani atau membutuhkan pertolongan-Nya. 
    Orang percaya yang mengakui dan menerima bahwa dirinya adalah milik Tuhan,
    0 min
  • Merelakan Hak
    Salah satu hal yang perlu dilepas untuk benar-benar menjadi milik Tuhan dan merdeka dalam-Nya adalah hak kita. Manusia pada umumnya merasa memiliki hak untuk hidup sesuai dengan selera sendiri. “Hidup sesuai dengan selera sendiri” artinya seseorang merasa bebas berbicara apa pun, membeli apa pun, pergi ke mana pun, mempunyai apa pun, memilih teman dan jodoh siapa pun, dan lain sebagainya. Hal ini sering dianggap sebagai suatu kewajaran. Biasanya, orang merasa berhak memiliki hidupnya sendiri sepenuhnya. Padahal, seharusnya sebagai anak tebusan, semua hak kita telah diambil alih oleh Tuhan (1Kor. 6:19-20). Itu berarti kita tidak boleh lagi bebas melakukan apa pun. Ini adalah konsekuensi sebagai umat tebusan. Orang yang memberi diri ditebus adalah orang yang merelakan semua haknya diambil. Kalau kita memberi diri ditebus oleh Tuhan Yesus, maka kita harus rela dimiliki Tuhan sepenuhnya. Itulah sebabnya Paulus mengatakan dalam tulisannya bahwa kita bukan milik kita sendiri, tetapi Tuhan yang memiliki hidup kita sepenuhnya.
    Kita yang telah ditebus oleh darah Yesus harus menyadari dan menerima bahwa kita tidak berhak lagi memiliki kehendak dari diri sendiri, tetapi melakukan kehendak Tuhan. Oleh sebab itu, orang percaya yang dewasa yang mengerti hal ini tidak akan mudah mengatakan “aku berhak memiliki keinginan,” sebab hidupnya hanya untuk melakukan kehendak Allah dan menyelesaikan pekerjaan-Nya, bukan cita-citanya sendiri. Memang logikanya dan fair-nya, kalau kita telah dimiliki Tuhan, kita tidak berhak memancangkan cita-cita dan kehendak kita sendiri. Inilah kehidupan yang dimiliki oleh Tuhan; kehendak Tuhanlah yang harus berkuasa secara penuh. Kita sebagai anak tebusan harus memberi diri tunduk terhadap kedaulatan Allah secara penuh. Inilah kehidupan dalam ketaatan penuh. Manusia memang dirancang untuk ini sejak manusia itu diciptakan.
    Sebelum kita ada dalam situasi dimana segala keinginan harus dilepaskan, yaitu ketika ada di ujung maut, kita harus sudah belajar dengan rela dan sukacita melepaskan segala keinginan serta mengenakan prinsip: makananku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Inilah gaya hidup yang Tuhan Yesus ajarkan. Dan setiap orang percaya wajib hidup sama seperti Dia hidup. Ketika kita menjadi orang percaya, gaya hidup inilah yang Tuhan kehendaki kita kenakan dalam kehidupan ini. Tuhan Yesus sebagai teladan atau yang memulai dan kita meneladani atau mengikuti-Nya. Dalam hal ini, yang diikuti adalah kesediaan hidup dalam ketertundukan terhadap otoritas Bapa.
    Ciri kehidupan orang percaya yang benar adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan seperti yang dimiliki oleh anak-anak dunia. Kalaupun ada keinginan memiliki sesuatu, maka motif dasarnya adalah karena hendak menggunakannya bagi kepentingan Tuhan. Ini berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Mereka mengingini sesuatu atau mau mencapai sesuatu, pada dasarnya hanya untuk menambah nilai diri lebih dari orang lain atau kebanggaan bagi diri sendiri. Kebanggaan-kebanggaan inilah yang menjerat manusia menjadi gila hormat, sehingga menjadi anak Iblis. Banyak orang Kristen merasa sudah menjadi anak Allah, tetapi kelakuannya tidak menunjukkan dirinya anak Allah. Kalau keadaan ini tidak disadari, akhirnya ia tidak pernah mengenal dirinya dengan benar sampai masuk api kekal. Untuk ini, gereja harus berbicara lantang mengenai hal tersebut.
    Menanggalkan keinginan bukan berarti tidak memiliki keinginan, tetapi mengisi jiwa kita dengan keinginan Tuhan semata-mata. Ini akan membuka kesempatan di mana kehendak Tuhanlah yang menguasai kehidupan kita. Dalam hidup ini, mestinya kita hanya mau melakukan kehendak-Nya. Orang yang berhasrat melakukan kehendak Tuhan akan diberi kepekaan untuk mengerti apa yang dikehendaki-Nya. Tetapi kalau seseorang tidak berhasrat melakukan kehendak Tuhan, Ia tidak akan memberitahu apa yang dikehendaki-Nya. Harus dipahami bahwa Tuhan adalah Pribadi yang Mahamurah,
    0 min
  • Hidup Dalam Iman
    Salah satu ciri dari seorang yang merdeka dalam Tuhan Yesus adalah tidak lagi memiliki keinginan-keinginan dari diri sendiri. Biasanya, kalau kita mendengar khotbah yang mengatakan bahwa keinginan dari diri sendiri harus ditanggalkan, banyak orang memprotes baik secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. “Bagaimana bisa manusia tidak memiliki keinginan? Mana mungkin?” Biasanya orang berargumentasi bahwa sewajarnya manusia mempunyai keinginan dan cita-cita. Pandangan ini sebenarnya bentuk ketidaksediaan menanggalkan keinginan karena merasa berhak memiliki keinginan dari diri sendiri.
    Mereka yang tidak bersedia menanggalkan keinginan dari dirinya sendiri tersebut, tidak memahami atau tidak menerima bahwa dengan menjadi anak tebusan Tuhan Yesus, berarti telah dibeli dengan harga lunas dibayar. Kata “lunas” menunjukkan keadaan final bahwa kita bukan milik kita sendiri, tetapi sudah menjadi milik Tuhan sepenuhnya. Kalau sepenuhnya kita menjadi milik Tuhan, berarti segala sesuatu yang ada pada kita—termasuk segala keinginan dan cita-cita—harus ditundukkan pada Tuhan yang memiliki segenap hidup kita. Selama seseorang masih memiliki keinginan dari diri sendiri, ia tidak dapat dimiliki oleh Tuhan, sebab ia masih memiliki dirinya sendiri. 
    Tidak memiliki keinginan dari diri sendiri, bukan berarti seseorang hidup tanpa keinginan, tetapi keinginan kita harus ditundukkan atau disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Bukan Tuhan yang menyesuaikan diri terhadap kita, tetapi kita yang menyesuaikan diri terhadap Tuhan. Idealnya, jiwa kita harus dikosongkan agar hanya menjadi tempat pikiran dan perasaan Tuhan, serta memuat segala kehendak dan rencana-Nya. Untuk mengosongkan bejana jiwa atau hati ini, sangatlah berat. Tetapi, pergumulan menyangkal diri dapat membawa kita sampai pada tahap tersebut. Jika tahap tersebut tercapai, barulah kita bisa menyatakan bahwa hidup kita bukan kita lagi, tetapi Kristus yang hidup di dalam kita (Gal. 2:19-20). 
    Seiring dengan perjalanan waktu dan pertumbuhan kedewasaan rohani, kita akan mengerti dan menerima bahwa semua keinginan harus disesuaikan dengan kehendak Tuhan. Itulah keinginan diri sendiri yang disalibkan atau ditanggalkan. Hal ini adalah sesuatu yang mutlak harus dilakukan setiap orang yang telah ditebus oleh darah-Nya. Tanpa kesediaan untuk tidak memiliki keinginan dari diri sendiri, seseorang tidak dapat hidup dalam iman. Dalam hal ini, kita dapat mengerti bahwa hidup dalam iman bukan sesuatu yang mudah. Hidup dalam iman merenggut seluruh hak hidup kita.
    Iman tidak dapat terwujud, bertumbuh, dan menjadi sempurna seperti Tuhan Yesus tanpa kesediaan melepaskan beban dan dosa dan meneladani seluruh gaya hidup Yesus (Ibr. 12:1-2). “Melepaskan beban dan dosa” artinya melepaskan semua keterikatan dengan kesenangan dunia, dan keinginan yang bertentangan dengan kesucian Allah. Kata “memandang Yesus” artinya meneladani hidup-Nya. Orang yang bersedia tidak memiliki dirinya sendiri berarti ia hanya memiliki kehidupan Yesus yang diperagakan di dalam seluruh hidupnya. Selama orang masih hidup dengan segala kesenangan dan keinginannya sendiri, ia tidak akan dapat memperagakan kehidupan Yesus di dalam hidupnya. Itu berarti ia menolak menjadi anak tebusan. Itu berarti pula ia menolak untuk diselamatkan, artinya dikembalikan ke rancangan semula-Nya.
    Sudah terlalu lama kita terbiasa hidup dalam berbagai hasrat dan keinginan kita sendiri, dan hal ini kita anggap sebagai suatu kewajaran. Tetapi kalau kita mengerti dan menerima bahwa kehidupan ini diciptakan oleh suatu Pribadi yang memiliki kehendak atau keinginan, Pribadi yang memiliki pikiran dan perasaan, kita harus mempertimbangkan: Apakah kita boleh memiliki keinginan kita sendiri, tanpa mempertimbangkan apakah keinginan tersebut sesuai dengan kehendak, pikiran, dan perasaan Tuhan? Harus dipahami bahwa sikap hidup dan segala gerak kehendak, pikiran, dan perasaan orang percaya—sebagai anak-anak Tuhan—sangat memengaruhi hati atau per...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…