Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hidup dalam Otoritas-Nya
    Hidup beriman dalam Tuhan Yesus berarti hidup secara luar biasa. Tuhan berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Perjuangan untuk menjadi sempurna seperti Bapa adalah perjuangan yang tidak akan berhenti sampai seseorang menutup mata. Tuhan Yesus mengatakan “harus” sempurna, ini berarti bahwa menjadi sempurna bagi anak-anak Tuhan, tidak boleh ditawar lagi. Gereja tidak boleh memberi kesan bahwa orang percaya boleh kurang sempurna, berhubung adanya kelemahan dan kekurangan manusia. Kesempurnaan inilah yang membuat seseorang memiliki standar moral lebih dari tokoh-tokoh agama manapun (Mat. 5:20). Ini berlaku bagi setiap orang percaya, bukan hanya bagi rohaniwan Kristen. Oleh sebab itu, setiap orang Kristen harus berusaha mencapainya dengan segala kemampuan yang Tuhan anugerahkan. Semua itu merupakan suatu syarat yang harus dipenuhi dan tidak boleh dihindari, bagi orang yang mau menjadikan Yesus sebagai Tuhan, sebab mengakui Yesus sebagai Tuhan berarti mengakui otoritas-Nya. Syarat ini bukan berarti sebuah jasa atau penentu keselamatan. Penentu keselamatan adalah korban Tuhan Yesus di kayu salib, yang merupakan jalan keselamatan satu-satunya yang diberikan dengan cuma-cuma, bukan hasil perbuatan baik (Ef. 2:8-9). Dalam hal ini, kita harus dapat membedakan antara menerima keselamatan sebagai anugerah dan merespons anugerah itu dengan mengakui otoritas-Nya untuk hidup secara luar biasa.
    Kalau kita berpikir bahwa usaha untuk sempurna dapat merusak doktrin teologi keselamatan oleh anugerah (Ef. 2:8), itu suatu pandangan yang sangat keliru. Usaha untuk menjadi sempurna bukan usaha untuk meraih keselamatan, tetapi sebagai respons terhadap anugerah yang Tuhan sediakan. Harus diingat, bahwa Tuhan menghendaki agar orang percaya hidup dalam kebaikan yang Bapa sediakan (Ef. 2:10). Tentu kebaikan yang dimaksud adalah kebaikan standar Tuhan Yesus Kristus. Kesempurnaan yang dikehendaki oleh Tuhan adalah mengenakan pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus (Flp. 2:5-7). Orang yang sungguh-sungguh telah menerima keselamatan atau sedang mengerjakan keselamatan, pasti berusaha untuk sempurna (Flp. 2:12). Tuhan Yesus dijadikan model manusia sempurna seperti yang Bapa kehendaki. Oleh sebab itu, kebaikan dan kesempurnaan Yesus bukan hanya dikagumi, tetapi juga diteladani. Dalam perjalanan pertumbuhan rohani seseorang yang sungguh-sungguh mengusahakan kesempurnaan, tidak bisa tidak, ia pasti menampilkan kehidupan Yesus. 
    Segala usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup jasmani tidak boleh mengurangi usaha untuk mencapai kesempurnaan dalam Tuhan. Kalau seseorang menganggap bahwa mengusahakan kebutuhan jasmani lebih penting dari mengusahakan kesempurnaan seperti Bapa, maka itu berarti ia menuhankan perutnya dan berkategori duniawi (Flp. 3: 12-19). Pernyataan ini terkesan berlebihan dan menekan, tetapi inilah kenyataannya, bahwa orang percaya memang harus sempurna dalam seluruh kegiatan hidupnya. Untuk ini, seseorang harus menanggalkan beban dan dosa (Ibr. 12:1). “Beban’ artinya keterikatan dengan dunia ini. Ini sama dengan percintaan dunia. “Dosa” yang dimaksud di sini adalah keterikatan seseorang dengan keinginan daging atau hasrat dosa dalam dirinya. 
    Kesempurnaan dalam Tuhan, artinya iman yang sempurna seperti Yesus, yang ditandai dengan ketaatan-Nya kepada Bapa di surga (Ibr. 12:2-5). Kenyataan yang dapat dibuktikan hari ini, banyak orang yang mengusahakan pemenuhan kebutuhan jasmani lebih dari mengusahakan diri untuk sempurna seperti Bapa. Mengusahakan untuk sempurna bukan berarti mengurangi waktu kerja, bukan berarti harus menjadi aktivis gereja, atau bahkan menjadi pendeta. Mengusahakan diri untuk sempurna berarti selalu dalam sikap berjaga, bahwa kita sedang belajar melakukan segala sesuatu tepat seperti yang Bapa kehendaki. Di sinilah kita belajar untuk memenuhi apa yang dikatakan firman Tuhan, yaitu jika kita makan atau jika kita minum, atau jika kita melakukan sesuatu yang lain,
    0 min
  • Berjalan Harmoni dengan Allah
    “Iman” berarti berpikir dan berperasaan seperti Bapa, sehingga segala sesuatu yang dipikirkan, diucapkan, dan dilakukan selalu sesuai dengan kehendak Bapa. Inilah gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus, yang juga harus kita miliki (Yoh. 4:34). Gaya hidup seperti ini adalah iman yang sempurna, seperti yang dimaksud dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Orang yang serupa dengan dunia tidak dapat hidup dalam damai sejahtera atau hidup dalam persekutuan dengan Bapa. Kita tahu bahwa kasih karunia Allah hanya dapat diperoleh melalui iman dalam Yesus Kristus. Adapun isi kasih karunia—yaitu kondisi bisa bersekutu dengan Allah—hanya dapat dimiliki atau dialami seseorang berangkat dari korban Tuhan Yesus Kristus (Rm. 5:1). Tetapi selanjutnya, seseorang harus hidup selalu sesuai dengan kehendak Allah. Kebenaran ini harus dipahami dengan lengkap, utuh, cerdas, dan jujur atau adil. Tuhan Yesus dapat mengembalikan manusia kepada Bapa melalui diri-Nya dengan dua tatanan atau mekanisme. 
    Pertama, Yesus mati di kayu salib memikul dosa dan menggantikan tempat kita (kita yang seharusnya dihukum). Hal ini meredakan kegeraman Allah dan memuaskan keadilan Allah. Hanya “manusia yang tidak berdosa”—dalam hal ini Yesus (Allah Anak yang menjadi manusia)—yang dapat menanggung dosa kesalahan manusia. Dengan kurban Yesus ini, hubungan manusia dengan Allah yang putus, dapat disambung. Manusia dilayakkan untuk dapat dikembalikan hidup dalam persekutuan dengan Allah (Theos atau Bapa). Ini adalah sebuah tatanan yang harus dipenuhi atau yang sama dengan mekanisme ilahi. Agama samawi seperti agama Yahudi, tidak bisa mengerti dan menerima mekanisme atau tatanan. Mereka berpikir, asal minta ampun dan menyembelih kurban domba, mereka sudah memperoleh pengampunan dan “jalan masuk” kepada Allah. Dalam hal ini, Tuhan Yesus tegas mengatakan bahwa tidak ada seorang pun sampai atau datang kepada Bapa kecuali melalui diri-Nya (Yoh. 14:6).
    Kedua, Tuhan Yesus datang mengajarkan Injil atau kebenaran, sebab Injil atau kebenaran inilah yang memerdekakan atau menyelamatkan (Yoh. 8:31-32; Rm. 1:16-17). Tanpa memahami Injil, seseorang tidak dapat diubahkan. Injil atau kebenaran itulah yang memperbaharui pikiran atau menyucikan (Yoh. 17:17), sehingga seseorang dapat memiliki kekudusan, kesempurnaan karakter seperti Bapa, dan dapat bersekutu dengan Bapa. Dalam hal ini, Tuhan Yesus sendiri telah berjuang untuk dapat mencapai kesempurnaan tersebut. Setelah Ia mencapai kesempurnaan, Ia dapat menjadi pokok keselamatan bagi mereka yang taat (Ibr. 5:7-9). Menjadi pokok keselamatan (Yun. Aitios) artinya penggubah. Itulah sebabnya, mandat utama yang harus dipenuhi adalah “menjadi murid” bagi Yesus (Mat. 28:18-20). Menjadi murid bagi Yesus berarti belajar hidup seperti Dia hidup. Untuk ini, bagi jemaat Tuhan, Allah memberi penginjil, guru, dan gembala sidang bagi penyempurnaan karakter mereka. Semua perangkat jawatan dalam gereja harus dapat mengondisi jemaat dapat berhubungan dengan Tuhan Yesus melalui Roh Kudus, agar dapat belajar gaya hidup yang dikenakan oleh Tuhan Yesus. Itulah yang dimaksud “belajar menjadi murid Tuhan Yesus” atau “mengikut jejak-Nya.” Semua ini dapat berlangsung oleh karena Roh Kudus. Roh Kudus yang menuntun orang percaya kepada segala kebenaran (Yoh. 16:13). 
    Jadi, kalau seorang Kristen tidak mengalami perubahan pikiran untuk menjadi seperti yang dikehendaki oleh Allah, ia tidak dapat mengimbangi Allah. Hal ini berakibat seseorang tidak dapat hidup dalam damai sejahtera dengan Allah. Dengan demikian, hidup dalam damai sejahtera dengan Allah bukan sesuatu yang dapat mudah terjadi atau gampang berlangsung, apalagi otomatis. Peran individu mengenakan kasih karunia (dapat bersekutu dengan Allah) sangat penting. Itulah sebabnya,
    0 min
  • Kesaksian dalam Batin
    Dalam Roma 8:14, firman Tuhan menunjukkan bahwa orang yang sah sebagai anak-anak Allah adalah orang yang hidup dalam pimpinan Roh Allah. Kualifikasi ini tidak bisa digantikan dengan yang lain. Orang yang hidup dalam pimpinan Roh adalah orang-orang yang selalu melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah. Hanya orang yang memiliki cara berpikir Allah yang dapat melakukan hal ini. Itulah sebabnya dalam Roma 12:2, firman Tuhan mengatakan agar orang percaya tidak boleh serupa dengan dunia ini. Orang percaya harus berusaha mengerti kehendak Allah sampai tingkat sempurna. Hal ini haruslah menjadi pergumulan inti orang percaya. Dengan menjadi orang percaya, kita berutang untuk hidup menurut Roh, bukan menurut daging. Hidup menurut daging berarti menuruti diri sendiri atau hidup dalam kewajaran hidup seperti manusia lain. Mereka memikirkan hal-hal dari daging atau dunia ini. Mereka tidak berpikir mengenai kehidupan di balik kuburnya. Banyak orang Kristen masih berkondisi seperti ini. Ada pun hidup menurut Roh berarti hanya bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Tuhan. Tentu saja orang-orang yang hidup menurut pimpinan Roh tidak lagi hidup menuruti keinginannya sendiri, tetapi mengarahkan diri kepada kehendak dan rencana Tuhan, serta memfokuskan diri pada kehidupan yang akan datang, yaitu Kerajaan Surga. Jika orang percaya bisa melakukan hal ini, betapa hebat kualitas hidup yang dimilikinya. Hal inilah yang mengesahkan dan menunjukkan bahwa dirinya adalah anak-anak Allah.
    Siapa yang tahu bahwa seseorang sudah hidup dalam pimpinan Roh atau belum? Tentu Roh itu sendiri. Itulah sebabnya dikatakan, “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: ‘ya Abba, ya Bapa!’ Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Kata “roh perbudakan” dalam teks aslinya adalah pneuma douleias (πνεῦμα δουλείας) yang juga berarti the condition of a slave (kondisi atau situasi hidup dalam perbudakan). Hendaknya kata “roh” di sini tidak dipahami secara mistis sebagai suatu sosok atau oknum yang dapat diusir dengan cara ditengking. Ini merupakan gairah dunia yang ada dalam diri setiap individu sebagai akumulasi dari apa yang diserap dalam dunia. Kata “roh” dalam hal ini adalah spirit atau gairah. Sedangkan, Roh Allah akan bersaksi dalam batin setiap individu bahwa dirinya sudah menjadi anak Allah. Jika tidak demikian, Roh Allah tidak akan memberikan kesaksian. Jadi, orang percaya harus berjuang untuk keluar dari spirit atau gairah perbudakan—yang sama dengan hidup dalam daging. Dengan demikian, Roh Kudus akan mengevaluasi dan memberikan penilaian jujur. Dengan hal ini, hendaknya seseorang tidak mudah mengaku diri sebagai anak Allah hanya karena merasa sudah percaya dan gereja mengesahkannya.
    Orang percaya yang menolak hidup menurut Roh atau dalam pimpinan Roh—sehingga masih memikirkan hal-hal yang dari daging—berarti masih hidup dalam “roh perbudakan.” Jadi jelaslah, apakah seseorang masih hidup dalam roh perbudakan atau sudah hidup dalam pimpinan Roh, tergantung masing-masing individu. Tuhan tidak dapat memaksa seseorang untuk keluar dari roh perbudakan apabila seseorang tidak dengan sadar dan sengaja melepaskan diri dari roh atau spirit perbudakan. Di sini seseorang tidak dapat menuntut pertanggungjawaban Tuhan atas keadaannya, sebab semua individu telah diberi kehendak bebas untuk memilih. Dengan demikian, tampaklah bahwa jemaat Roma adalah jemaat yang luar biasa. Mereka berani menentang aniaya yang hebat terhadap mereka dari pihak pemerintah Romawi. Mereka berani kehilangan apa pun juga demi iman mereka. Inilah orang-orang yang telah memikirkan hal-hal dari Roh, bukan dari daging. Itulah sebabnya, tanpa ragu-ragu Paulus mengatakan kepada mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang lebih dari orang-orang yang menang. 
    “Orang-orang yang lebih dari pemenang” maksudnya ad...
    0 min
  • Kelimpahan
    Banyak orang berpikir, kalau menjadi anak Allah maka segala kebutuhan hidup jasmaninya akan mudah dipenuhi, jalan hidupnya menjadi lebih lancar, sehingga hidup ini dapat dijalani lebih mudah. Pernyataan ini seakan-akan meyakinkan bahwa Tuhan pasti mengistimewakan mereka tanpa syarat. Mereka percaya, bahwa Allah sebagai Bapa akan menyenangkan anak-anak-Nya dengan berkat jasmani yang berkelimpahan. Biasanya mereka berpikir demikian, sebab mereka mengacu pada Firman Tuhan dalam Yohanes 10:10 yang mengatakan bahwa Tuhan datang untuk memberi kelimpahan. Benarkah ini? Faktanya, malah sering bertolak belakang. “Kelimpahan” dalam Yohanes 10:10 bukanlah berkat jasmani, melainkan kelimpahan dalam arti kualitas hidup yang tinggi. Kualitas hidup yang tinggi tentunya adalah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah. Sesungguhnya, Bapa lebih memperhatikan kelimpahan secara rohani daripada kelimpahan secara jasmani. Justru, demi kelimpahan secara rohani, orang percaya harus dibentuk Tuhan sedemikian rupa dengan berbagai proses yang sering kali tidak nyaman. Hidup menjadi tidak nyaman karena proses tersebut. Kalau Tuhan memandang berkat jasmani yang dimiliki seorang anak Tuhan membahayakan, Tuhan pun akan mengurangi, bahkan sampai pada tingkat ekstrem dengan mengambil semuanya. Tuhan tidak mudah mengabulkan doa orang percaya, jika apa yang dimintanya adalah sesuatu yang membahayakan. 
    Allah sebagai Bapa pasti memelihara kehidupan jasmani anak-anak-Nya dengan sempurna. Namun, Bapa lebih mengutamakan pemeliharaan rohani dan kedewasaan iman orang percaya agar mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Dalam Ibrani 12:5-9, dikatakan bahwa Ia adalah Bapa yang mendidik anak-anak-Nya. Didikan tersebut memang sementara waktu tidak mendatangkan sukacita. Artinya, orang percaya yang sedang dididik oleh Allah Bapa akan merasakan kehidupan yang tidak nyaman. Namun, didikan tersebut menghasilkan damai dalam kehidupan orang percaya, yaitu damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal dan yang bernilai kekal. Dalam hal ini, penyertaan Tuhan memang tidak selalu memberi kenyamanan, sebaliknya malah ketidaknyamanan. Hal itu terjadi karena kehadiran-Nya dalam hidup orang percaya adalah untuk mendidik, mendewasakan, dan menyempurnakan agar orang percaya dikembalikan ke rancangan semula Allah. 
    Bapa tidak akan mengorbankan pendidikan rohani, yaitu kesempurnaan sebagai anak-anak-Nya secara moral dengan kelimpahan jasmani. Banyak pembicara di mimbar mengesankan bahwa Bapa mau berperkara dengan umat-Nya berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Adapun mengenai kehidupan rohani, dikesankan bahwa itu bisa bertumbuh dengan sendirinya secara otomatis dan mudah. Itulah sebabnya, dalam pertemuan-pertemuan bersama di beberapa gereja, yang mereka utamakan adalah puji-pujian dan pengagungan terhadap kuasa dan kebaikan Tuhan. Dengan dilakukannya hal itu, mereka meyakini bahwa kuasa dan berkat Tuhan dicurahkan, tentu maksudnya adalah berkat jasmani. Para pemimpin rohani seakan-akan memiliki kuasa untuk menarik berkat Tuhan dari surga. Mereka beranggapan bahwa Tuhan hanya akan melimpahkan berkat-Nya melalui hamba-hamba Tuhan. Harus dipahami bahwa kelimpahan jasmani hanyalah sementara, tetapi kedewasaan rohani dimana orang percaya mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, merupakan harta abadi yang tidak terbeli dengan apa pun. Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau diajarkan bahwa Bapa memperhatikan pemenuhan kebutuhan jasmani tetapi tidak memerhatikan pendewasaan rohani. Justru sebaliknya, Bapa akan sangat memerhatikan kedewasan rohani lebih dari pemenuhan kebutuhan jasmani. Bila perlu, Bapa akan mengorbankan pemenuhan kebutuhan jasmani demi kedewasaan rohani orang percaya. Dalam hal ini, pemeliharaan Allah Bapa lebih terfokus pada kehidupan rohani.
    Oleh sebab itu, kelimpahan dalam kehidupan orang percaya yang telah dimerdekakan oleh Tuhan dengan darah-Nya, hendaknya tidak dipahami sebagai kelimpahan secara jasmani.
    0 min
  • Kebahagiaan Hidup
    Orang yang merdeka dalam Tuhan meyakini bahwa tidak ada yang dapat membuat dirinya bahagia selain Tuhan. Bagi orang-orang seperti ini, suasana jiwanya sangat ditentukan oleh hubungannya dengan Tuhan. Hubungan dengan Tuhan adalah sesuatu yang benar-benar sangat riil. Ini merupakan sebuah hubungan yang dapat dirasakan secara nyata, sebab Allah adalah Allah yang hidup. Akan tetapi faktanya, tidak banyak orang yang mampu memiliki hubungan yang riil dengan Tuhan, sehingga tidak banyak orang yang sungguh-sungguh mengalami Tuhan. Mereka tidak pernah dapat menikmati-Nya secara nyata. Bagi mereka, Tuhan hanyalah fantasi dalam pikiran. Mereka cukup puas memercayai bahwa Allah itu ada, dan membangun pengertian-pengertian tentang-Nya. Tidak heran kalau mereka sangat bergantung kepada materi dunia untuk dapat menopang dan menciptakan kebahagiaan dalam hidup ini, sehingga mereka tidak mengandalkan Tuhan. Kalau pun mereka berurusan dengan Tuhan, itu bukan karena mereka hendak menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan hidupnya, melainkan karena mereka sangat mengingini berkat, kuasa, dan pertolongan Tuhan untuk dapat meraih dunia agar hidup nyaman dan aman di bumi ini. Dengan demikian, sesungguhnya yang menjadi kebahagiaan hidup mereka adalah dunia ini.
    Orang percaya yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan adalah orang-orang yang bersedia hidup tanpa apa pun dan siapa pun, tetapi tidak sanggup hidup tanpa persekutuan secara benar dengan Tuhan. Prinsip hidup mereka adalah Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan hidup ini. Orang percaya seperti ini tentu saja menghasrati Tuhan lebih dari mengingini apa pun dan siapa pun. Tuhan dipandang sebagai kebutuhan yang selalu paling penting dan mendesak. Ini tentunya berbeda dengan banyak orang yang memandang Tuhan hanya sebagai sebagai kebutuhan penting, tetapi tidak mendesak. Lebih jauh berbeda lagi dengan orang yang memandang Tuhan bukan sebagai kebutuhan yang penting dan tidak mendesak. Dunia Barat memang memandang demikian. Tidak heran, kalau gereja-gereja mereka menjadi sepi. Hanya orang yang memandang Tuhan sebagai kebutuhan yang penting dan mendesak sajalah yang dapat “mendahulukan Kerajaan Allah,” yaitu bagaimana menjadi umat Kerajaan Allah yang baik sesuai dengan kehendak Tuhan.
    Orang yang menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan adalah orang yang selalu mencari dan menghayati kehadiran Tuhan di mana pun mereka berada. Hal inilah yang mendorong seseorang untuk selalu hidup berkenan kepada Tuhan, sebab kehidupan yang tidak berkenan, merusak hubungan dengan Tuhan. Orang yang hidup sembarangan menunjukkan bahwa mereka belum mengandalkan Tuhan dengan benar. Biasanya, ketika orang-orang seperti ini tidak dalam keadaan kesulitan, mereka tidak merasa membutuhkan Tuhan. Tidak sedikit di antara mereka yang tidak mencari Tuhan sama sekali. Kalaupun di antara mereka masih ada yang masih pergi ke gereja dan menjalankan kegiatan rohani, mereka sebenarnya tidak memiliki rasa haus akan Tuhan secara proporsional. Dalam hal ini, Tuhan tidak menjadi tujuan hidup. Tuhan hanya sekadar menjadi sarana untuk menyelesaikan berbagai persoalan hidup. 
    Banyak orang merasa mengandalkan Tuhan, sebab dalam menghadapi berbagai persoalan, mereka mengharapkan pertolongan Tuhan untuk menyelesaikannya. Mereka juga percaya bahwa Tuhan pasti akan menolongnya. Pengandalan seperti ini adalah pengandalan akan Tuhan yang tidak dewasa. Pengandalan versi inilah yang dimiliki sebagian besar orang beragama. Sesungguhnya, mereka secara batin tidak mengandalkan Tuhan. Sebab, mereka merasa bahwa dengan terpenuhinya segala kebutuhan hidup, mereka akan hidup bahagia, nyaman, dan aman. Untuk itu, mereka mengandalkan Tuhan. Dengan demikian, di satu pihak, mereka mengandalkan Tuhan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, tetapi di pihak lain, sejatinya mereka tidak menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Bagi mereka, yang lebih menentukan kebahagiaan hidup adalah terpen...
    0 min
  • Khawatir yang Positif
    Dalam Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus menyinggung mengenai hal kekhawatiran (Mat. 6:25-34). Dari teks-teks tersebut, disimpulkan agar kita tidak khawatir. Kekhawatiran menjadi kata yang selalu berkonotasi negatif. Mengapa demikian? Sebab hal ini terjadi karena banyak orang tidak memperhatikan konteks ketika Tuhan Yesus berbicara mengenai kekhawatiran tersebut. Konteks percakapan pada waktu itu adalah agar orang percaya tidak mengumpulkan harta di bumi, dan memindahkan hati mereka di Kerajaan Surga. Nasihat bahwa kekayaan bisa menggelapkan pengertian, dan puncaknya adalah agar setiap orang mengabdi hanya kepada Tuhan; kepada Tuhan saja atau tidak sama sekali. Bila direlasikan dengan konteks tersebut, maka segala kepentingan kita harus ditiadakan, selain mempersiapkan diri memasuki kehidupan yang sesungguhnya nanti di surga dengan mempertajam pengertian untuk mengenal kebenaran dan kepentingan untuk mengabdi kepada Tuhan. 
    Apakah sebenarnya kekhawatiran itu? Kekhawatiran adalah perasaan terancam oleh suatu hal atau oleh sesuatu yang bisa atau akan terjadi menimpa dirinya, sehingga menimbulkan ketidaktenangan dalam hati. “Bisa terjadi” artinya bisa benar-benar terjadi, atau tidak. Jika demikian, berarti kekhawatiran bisa membuat seseorang bereaksi menghindarkan diri dari ancaman tersebut. Jadi, kalau tidak ada kekhawatiran sama sekali, hal tersebut akan membuat seseorang menjadi tidak waspada terhadap suatu keadaan yang bisa terjadi menimpa dirinya. Oleh karenanya, kekhawatiran tidak selalu bermakna negatif. Harus diingat bahwa kekhawatiran membangkitkan kewaspadaan dan sikap berjaga-jaga. Kalau dilihat dari konteksnya, maksud ayat mengenai kekhawatiran dalam Matius 6:25-34 adalah agar orang percaya mencari nafkah, makanan, dan pakaian bukan demi makanan dan pakaian itu sendiri, tetapi demi agar maksud Tuhan menempatkan manusia sebagai orang percaya, diwujudkan. Sehingga dalam hal ini, seseorang tidak boleh memiliki target duniawi atau jasmani. Targetnya adalah mengumpulkan harta di surga, membangun pengertian untuk mengenal kebenaran, dan mengabdi sepenuhnya kepada Tuhan (Mat. 6:19-24). 
    Kekhawatiran yang salah adalah perasaan terancam terhadap sesuatu, lebih dari kekhawatiran tidak memiliki harta surgawi dan terbuang dari hadirat Allah. Orang-orang yang memiliki kekhawatiran salah, tidak akan menghargai nilai-nilai kekekalan atau nilai-nilai rohani. Adalah suatu kesalahan kalau dikesankan secara terselubung atau terang-terangan kepada jemaat bahwa Tuhan pasti memelihara hidup orang percaya, tetapi di lain pihak, mengabaikan tanggung jawab untuk bekerja keras memenuhi kebutuhan. Seakan-akan dengan pernyataan Tuhan Yesus agar tidak khawatir, merupakan janji bahwa Dia akan memenuhi segala kebutuhan secara otomatis. Dalam hal ini, pengertian agar orang percaya tidak khawatir harus dipahami dengan benar. Dalam Matius 6:25-34, Tuhan Yesus sama sekali tidak mengajarkan bahwa orang percaya boleh “percaya saja” (aktivitas pikiran), maka Bapa akan memelihara tanpa syarat. Hal ini akan merusak kinerja dan mental orang percaya. 
    Tuhan Yesus menunjuk burung di langit dan bunga bakung di ladang sebagai contoh. Burung di langit adalah burung yang pergi mencari nafkah dan bunga bakung di ladang adalah bunga hidup yang terus menyerap makanan, tak berhenti bekerja. Tuhan hendak mengajarkan bahwa ada wilayah yang harus dipenuhi oleh manusia, seperti burung terbang di langit mencari makanan, dan seperti bunga bakung yang menyerap makanan. Tetapi ada wilayah Tuhan yang tidak bisa dikontrol dan dikendalikan oleh manusia. Berkenaan dengan hal ini Tuhan Yesus berkata: “Siapakah di antara kamu yang karena kekhawatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya” (Mat. 6:27). Orang percaya harus memenuhi bagiannya dengan tekun. Adapun hal yang tidak bisa ditanggulangi oleh manusia—sebab di luar kemampuannya—itu menjadi bagian Tuhan. Hendaknya kita menghindarkan jemaat dari salah pengertian,
    0 min
  • Belajar Memercayai Pribadi-Nya
    Orang yang merdeka dalam Tuhan adalah mereka yang dapat mengandalkan Tuhan secara dewasa. Sebenarnya, mengandalkan Tuhan memiliki beberapa pengertian. Salah satu pengertiannya adalah menerima apa pun keadaan yang terjadi, setelah kita berusaha semaksimal mungkin. Dalam hal ini, ada dua pokok pikiran yang penting. Pertama, harus ada usaha semaksimal mungkin dari kita dalam menyelesaikan masalah-masalah hidup yang kita hadapi. Kedua, setelah kita berusaha semaksimal mungkin, selanjutnya hasil atau keadaan yang terjadi, harus kita percayai dan terima sebagai sesuatu yang baik dan berguna bagi kita. Bahkan, ketika hasil usaha kita dalam menyelesaikan masalah tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus percaya bahwa keadaan itu adalah keadaan terbaik. Keadaan tersebut pasti bukan sesuatu yang mencelakai. Hasil akhir tersebut adalah berkat kekal yang Tuhan berikan. Artinya, bahwa melalui hal tersebut, Tuhan mendewasakan kita untuk persiapan hidup di kekekalan.
    Dalam hal ini, mengandalkan Tuhan berarti memercayai dan menerima bahwa apa pun yang terjadi dalam hidup kita ini mendatangkan kebaikan; bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak memaksakan kehendak kita sendiri. Kalau keadaan yang kita alami tidak sesuai dengan keinginan kita, kita harus menerima dengan percaya bahwa hal itu tidak akan mencelakai kita. Tuhan sangat bisa kita andalkan untuk mengubah keadaan terburuk sekalipun menjadi sesuatu yang baik bagi kita. Inilah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Kalau mengandalkan Tuhan hanya karena menerima kemudahan dan jalan keluar dari berbagai masalah yang ada, itu bukanlah sikap mengandalkan Tuhan yang dewasa. Biasanya, bangsa Israel mengandalkan Tuhan berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani dan persoalan-persoalan duniawi, seperti menang dari musuh, panen raya yang berlimpah, dan berbagai masalah lain yang tidak secara langsung berkenaan dengan perubahan karakter dan kekekalan. Berbeda dengan orang percaya pada zaman Perjanjian Baru. Orang percaya diproyeksikan untuk dikembalikan ke rancangan semula. Hal mengandalkan Tuhan harus bertalian dengan karakter yang diubahkan seperti Kristus, dan dilayakkan masuk ke dalam keluarga Kerajaan Allah. 
    Jika Tuhan mengambil alih semua persoalan kita dan dengan mudah memberi jalan keluar, maka Tuhan merusak mental anak-anak-Nya. Sejatinya, Tuhan menghendaki anak-anak-Nya memaksimalkan semua potensi sebagai wujud tanggung jawab yang harus dipenuhi dalam menghadapi segala kesulitan hidup. Orang sering berkata, “Allah berperang ganti kita,”pernyataan ini memang terdapat dalam Alkitab. Namun, kalimat ini harus dipahami konteksnya, yaitu ketika bangsa Israel dalam keadaan tidak berdaya sama sekali, Tuhan bertindak untuk melindungi umat-Nya. Pernyataan “Allah berperang ganti kita” tidak boleh menjadi alasan orang percaya menjadi malas dan tidak bertanggung jawab menghadapi hidup dengan berbagai persoalannya. 
    Dalam konteks hidup kita sebagai orang percaya, “Allah berperang ganti kita” bisa terjadi pada saat orang percaya dalam situasi ekstrem, yaitu saat orang percaya sudah tidak berdaya sama sekali. Itupun tidak selalu sesuai dengan keinginan atau harapan kita, tetapi berdasarkan pertimbangan dan kebijaksanaan Tuhan. Jangan sampai seorang Kristen yang sebenarnya masih bisa berusaha, tetapi karena malas dan tidak membangun atau tidak mengobarkan daya juang, kemudian berharap Tuhan bertindak menyelesaikan persoalannya—Allah berperang ganti kita. Kalau Tuhan mudah bertindak untuk menyelesaikan masalah orang percaya, Tuhan merusak mental orang tersebut. Hal ini akan membuat seseorang menjadi malas, memiliki daya juang rendah, dan tidak bertanggung jawab. Hendaknya kita tidak berpikir naif bahwa bila kita memercayai kuasa Tuhan, Ia akan melakukan apa pun supaya nama-Nya dimuliakan. Hal ini seakan-akan Tuhan membutuhkan pujian dan sanjungan. Pada dasarnya,
    0 min
  • Menjaga Diri
    Ciri lain dari seorang yang mengalami kemerdekaan dalam Tuhan adalah tidak lagi tertarik akan keindahan dunia. Tidak tertarik akan keindahan dunia berarti tidak lagi terikat dengan kekayaan. Masalahnya sekarang adalah mengapa orang terikat dengan kekayaan? Itu karena mereka memandang kekayaan sebagai jaminan hidup yang menentukan keamanan dan kebahagiaan hidup. Banyak orang berpikir bahwa dengan harta berlimpah, ia merasa lebih aman dan bahagia. Itulah sebabnya orang berusaha menambah jumlah harta sebanyak mungkin. Sebab dengan semakin banyak hartanya, hidupnya merasa semakin terjamin. Filosofi hidup seperti ini sudah mendarah daging dalam kehidupan banyak orang, dan diterima sebagai standar hidup yang wajar, termasuk oleh orang-orang Kristen. 
    Tidak mengherankan kalau banyak orang Kristen yang sebenarnya terbelenggu dalam ikatan dosa ini. Rupanya, filosofi hidup seperti ini sudah ada sejak zaman Tuhan Yesus. Hal ini dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam perumpamaan orang kaya dalam Lukas 12:16-21. Orang kaya ini adalah gambaran kehidupan manusia hari ini yang merasa kurang aman dan kurang terjamin, serta kurang bahagia sebelum hartanya semakin berlimpah. Tuhan Yesus mengatakan, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” Kalau Tuhan mengingatkan kita untuk berjaga-jaga, berarti hal ini tidak boleh dianggap sepele. Kita harus sungguh-sungguh berjaga-jaga, artinya berusaha menghindar dari cara hidup dan filosofi hidup seperti itu. 
    Peringatan serupa dilanjutkan Tuhan dalam Lukas 21:34, “Jagalah dirimu, supaya hatimu jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Dalam ayat ini, orang percaya diingatkan Tuhan untuk secara aktif menjaga dirinya masing-masing, bukan Tuhan yang menjaganya. Setiap orang percaya harus menjaga dirinya agar tidak terlena dengan keindahan dan kenyamanan yang dunia tawarkan sehingga sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka yang terlena dengan keindahan dan kenyamanan dunia, kelak akan menyesal ketika hari Tuhan tiba-tiba datang. “Hari Tuhan” di sini berbicara mengenai akhir zaman ketika Ia datang kembali, namun bisa juga dikaitkan dengan kematian yang merupakan ‘hari Tuhan’ bagi setiap orang. Panggilan setiap orang percaya adalah meninggalkan cara hidup dunia untuk mempersiapkan kehidupan yang akan datang. Untuk itu, orang percaya sama sekali tidak boleh terikat dengan kekayaan, fasilitas, kesenangan, dan kenikmatan yang ditawarkan oleh dunia.
    Penyebab orang terikat dengan kekayaan adalah karena berbagai keinginan yang menguasai dirinya. Keinginan untuk memiliki berbagai barang yang dimiliki orang lain merupakan dorongan seseorang berusaha memiliki harta sebanyak mungkin, sebab dengan uang, ia dapat memuaskan segala keinginannya. Dunia hari ini adalah dunia yang memasuki semangat hidup afluenza, yaitu konsumerisme tanpa batas. Keinginan diumbar sehingga menjadi liar tak terkendali, artinya bisa diarahkan ke mana saja, kapan saja, di mana saja, dan dengan apa saja. Hati dan pikiran manusia bisa ternganga dan bisa menyerap apa pun yang ditawarkan. Dunia akan menawarkan berbagai fasilitas yang mendorong manusia memilikinya. Itulah sebabnya, dunia iklan atau advertensi begitu berkembang sebagai sarana untuk menarik minat manusia memiliki semua yang dapat ditawarkan. Dengan hal itu, manusia menjadi konsumeristik. Banyak orang merasa hidupnya tidak lengkap sebelum memiliki semua yang disediakan dunia. Dengan cara inilah Iblis menggiring manusia untuk tidak mengingini dan memiliki Tuhan.
    Dunia hari ini adalah sebuah dunia tanpa Yesus, tanpa Juruselamat. Dunia tanpa Yesus sebenarnya tidak terlalu mengherankan, karena banyak penduduk dunia memang sudah menolak-Nya. Mereka sibuk dengan urusan sendiri. Namun,
    0 min
  • Kemerdekaan Yang Sesungguhnya
    Betapa melelahkannya ketika kita hidup dalam ambisi dan motivasi yang salah. Kita tidak mengenal adanya “perhentian dalam Tuhan,” karena daging kita terus mendorong kita untuk mencapai apa yang kita inginkan. Saat kita tidak menyerahkan takhta hati kita kepada Tuhan, maka Iblislah yang mengambil alih. Tidak ada area netral; kita ada di sisi terang, atau di sisi gelap. Kalau si Jahat menjadi majikan dalam hidup kita, kita memang memperoleh “kemerdekaan” untuk berbuat apa saja yang sesuai dengan keinginan hati kita. Seolah-olah, kemerdekaan kita rasakan karena bisa mewujudkan segala hasrat yang kita miliki. Namun, kemerdekaan yang sesungguhnya adalah saat Tuhan yang bertakhta dalam hidup kita. Memang seolah-olah bukan kebebasan yang kita peroleh karena seperti ada “belenggu;” tidak bisa lagi merdeka melakukan segala sesuatu yang diingini, ada pengawasan secara ketat dalam standar yang baru. Ia tidak bisa bebas melangkah setiap saat. Setiap kali melangkah, harus mulai dengan pernyataan, “Jika Tuhan menghendaki ….” Klausa “Jika Tuhan tidak menghendaki …” ini berarti bahwa kita tidak boleh bergerak sembarangan, meskipun merasakan desakan hati yang kuat. Orang yang memberikan takhta hidupnya bagi Tuhan akan berusaha mengenal Dia, mengerti isi hati-Nya untuk dilakukan. 
    Bagaimana kita dapat mengakhiri hasrat atau keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak Allah? Ada beberapa langkah untuk dapat masuk wilayah itu. Kita harus menyadari bahwa segala keinginan manusia akan berakhir sia-sia. Apa pun yang kita ingini, suatu hari semua itu harus berakhir dan lenyap tiada berbekas. Berbagai keinginan tersebut tidak boleh mengalahkan keinginan satu-satunya yang harus kita miliki, yaitu melakukan kehendak Tuhan. Sebab pada faktanya, keinginan-keinginan manusia pasti menggeser keinginan untuk melakukan kehendak Tuhan. Hal ini membuat manusia menjadi tuhan bagi diri sendiri. Apabila kuat, ia juga bisa menjadi tuhan bagi sesamanya. Akan tetapi, mereka tidak menyadari hal ini, sebab mereka berpikir bahwa memiliki keinginan adalah suatu kewajaran hidup. Bagi umat Perjanjian Lama, mereka dihalalkan memiliki keinginan dari diri sendiri dan memohon Tuhan merestuinya. Tetapi, umat Perjanjian Baru sangatlah berbeda. Bagi umat Perjanjian Baru, mereka dipanggil untuk memuliakan Tuhan dalam dan melalui segala hal. Ini berarti mereka harus hidup untuk kepentingan Tuhan sepenuhnya. 
    Hidup untuk kepentingan Tuhan berarti memiliki kepekaan untuk mengerti segala sesuatu yang Tuhan inginkan dalam hidupnya untuk dilakukan. Hal ini tidak hanya ditandai dengan jenis kegiatan yang dilakukan. Oleh sebab itu, jangan berpikir kalau seseorang melakukan kegiatan gereja, berarti ia hidup untuk kepentingan-Nya. Mengenai hal ini, terjadi banyak penipuan. Orang tertipu oleh dirinya dan menipu orang lain. Hidup untuk kepentingan Tuhan berangkat dari kepekaan seseorang memahami kehendak Tuhan dalam hidupnya secara pribadi. Sungguh, suatu hal yang sulit dideteksi, apakah seseorang melakukan sesuatu hal bagi Tuhan atau bagi dirinya sendiri. Hanya orang yang dengan murni dan jujur membunuh hasrat atau keinginannya sendiri sajalah yang dapat melayani Tuhan dengan benar. Membunuh keinginan sendiri berarti tidak mengarahkan segala sesuatu yang dilakukan bagi dirinya sendiri. Baginya, segala kepentingan adalah kepentingan Tuhan. Baginya, yang penting perasaan Tuhan dipuaskan. Inilah orang-orang yang sudah mendapat perhentian atau kelegaan (Yun. anapauso; ἀναπαύσω) yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus bagi orang yang datang kepada-Nya.
    Sebenarnya, inilah yang dicari dan dirindukan oleh umat suatu agama besar, bahwa mereka merindukan suatu level keheningan dimana semua keinginan melebur masuk dalam ketiadaan. Hanya bedanya dengan kita adalah kita meleburkan semua keinginan kepada suatu kehendak, yaitu kehendak Allah. Keheningan yang kita miliki bukanlah keheningan di dalam rumah biara atau gua sepi di tengah hutan, melainkan di tengah-tengah hiruk pikuk manusia.
    0 min
  • Rasa Cukup
    Untuk bisa menundukkan hasrat atau keinginan liar yang merajalela dalam hidup kita, kita harus memiliki rasa cukup. “Rasa cukup” dalam teks aslinya adalah autarkeias. Kata ini kita temukan dalam 1 Timotius 6:6. Kata autarkeias berarti self-satisfaction (kepuasan pribadi), contentedness (kepuasan). Juga berarti a competence (kompetensi; wewenang). Dalam Alkitab King James Version, kata ini diterjemahkan contentment (“But godliness with contentment is great gain”). Kata autarkeias hendak menunjukkan sikap hati yang merasa cukup dengan apa yang dimiliki. Karena itu, dalam terjemahan Today’s English Version, ayat ini diterjemahkan menjadi “satisfied with what he has” (puas dengan apa yang dipunyainya). Tanpa rasa cukup itu, kita tidak dapat merdeka dalam Tuhan. Tanpa rasa cukup, akan dikendalikan oleh nafsu duniawi dan ambisi pribadinya. Rasa tidak cukup merupakan irama yang dimiliki hampir semua orang, yang membuat mereka terikat dan mencintai dunia ini.
    Dunia kita hari ini dibawa kepada semangat materialisme yang sangat kuat. Manusia menjadi manusia yang konsumeristis dan bergaya hidup konsumtif. Iklan-iklan berbagai produk—mulai dari kosmetik, makanan, pakaian, sampai kendaraan—begitu memikat, sehingga mendorong atau membangkitkan minat banyak orang untuk memiliki apa saja yang disajikan oleh dunia ini. Keadaan ini membuat banyak orang tidak dapat membedakan antara “apa yang menjadi kebutuhan” dan “apa yang menjadi keinginan atau hasrat.” Tidak semua barang yang diinginkan adalah kebutuhan. Kebutuhan dan keinginan merupakan dua hal yang sangat berbeda. Kalau seseorang sudah tidak bisa membedakan manakah kebutuhan—yaitu apa yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalani hidup ini—dan keinginan, rusaklah kehidupannya. Tuhan menghendaki kita memiliki rasa cukup. Oleh karena itu, di 1 Timotius 6:8 dikatakan, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Maksud ayat ini adalah adanya hal penting yang membuat seseorang dapat menjalani hidup ini. Bertalian dengan hal ini, Tuhan Yesus mengajarkan agar kita mengucapkan Doa Bapa Kami, “Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.”
    “Rasa cukup” memang relatif. Cukupnya seseorang, berbeda dengan orang lain. Akan tetapi, seseorang dapat menguji apakah yang diingini itu memang benar-benar kebutuhan, atau ternyata berunsur keserakahan, kesombongan, dan upaya meningkatkan harga diri. Kalau seseorang cukup dengan motor, ia harus merasa puas dengan motor. Namun kalau ternyata memang ia membutuhkan mobil, apa salahnya? Jangan berupaya memiliki mobil dengan dasar kesombongan atau meningkatkan nilai diri, sebab di dalam pemandangan manusia fasik hari ini, orang yang mengendarai mobil lebih berharga dari yang hanya mengendarai motor. Seorang yang cukup dengan mobil niaga atau minibus hendaknya puas dengan mobil kelas ini. Jangan mengingini sedan hanya karena harga atau kesombongan. Demikian pula dengan rumah atau tempat tinggal. Kalau seseorang sudah cukup dengan rumah dengan luas bangunan 100 meter, jangan memaksa diri memiliki rumah dengan luas bangunan 200 meter. Kalau anak mulai bertambah, perlu beberapa kamar lagi, tidak ada salahnya memiliki rumah lebih luas. Namun jikalau memiliki rumah lebih besar dasarnya hanya kesombongan, itu merupakan keserakahan. Di dalam Alkitab, keserakahan sering dikemukakan sebagai dosa utama (cardinal sin). 
    Mengapa keserakahan disebut sebagai dosa utama? Sebab, keserakahan ini ternyata di dalam Alkitab disamakan dengan berhala. Kolose 3:5 menyatakan, “And covetousness, which is idolatry;” ketamakan adalah berhala. Kata “berhala” di sini merupakan terjemahan bahasa Inggris dari idolatry. Kata ini sebenarnya berasal dari bahasa Yunani eidololatreia. Kata ini merupakan gabungan dua kata, eidolo dan latreia. Kata eidolo berarti berhala, dan kata latreia berarti berbakti. Berhala itu berarti kebaktian kepada objek lain di luar Tuhan. Ketika seseorang mengingini materi lebih daripada yang patut dimilikinya dan menjadikannya kesombongan atau ...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…