Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hal yang Mutlak
    Firman Tuhan jelas mengatakan kepada kita sejak di Perjanjian Lama bahwa Allah yang kudus menghendaki umat-Nya kudus sesuai dengan standar Allah. Bagi umat Perjanjian Lama, standarnya adalah Sepuluh Hukum Tuhan atau Taurat yang harus mereka patuhi. Tetapi standar di Perjanjian Baru, kesucian yang harus dimiliki orang percaya adalah Yesus, Anak Tunggal Bapa, Tuhan Yesus Kristus. Alkitab jelas menulis, “Keluarlah kamu dari antara mereka, jangan menyentuh apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu sebagai anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan” (2Kor. 6:17-28). Di dalam Surat 1 Tesalonika 4:7 tertulis, “Bahwa kita dipanggil bukan untuk melakukan apa yang cemar melainkan apa yang kudus.” Dalam 1 Petrus 1:16-17, jelas mengatakan bahwa, “Kita harus kudus seperti Allah” (Kesucian). Alkitab jelas mengatakan dalam kitab Matius 5:8, “Tanpa kesucian tidak seorang pun melihat Allah.” Jadi, kesucian adalah hal yang mutlak. Tetapi hal ini sudah jarang diperdengarkan. Mengapa? 
    Yang pertama, karena sistematika teologi yang meleset. Kehidupan Kristiani yang harus dijalani diganti dengan rumusan-rumusan sistematika teologi, doktrin atau dogma. Di antaranya tentang jalan keselamatanl; salahnya atau kelirunya menjelaskan kalimat “keselamatan bukan karena perbuatan baik.” Keselamatan memang bukan karena perbuatan baik, melainkan karena anugerah Allah, inisiatif Allah; bukan manusia baik, karena tidak seorang manusia pun baik jika dilihat dari standar kesucian Allah. Allah memberikannya secara cuma-cuma, bukan berdasarkan jasa kebaikan manusia. Tetapi, justru anugerah itu diberikan supaya manusia bisa hidup sesuai dengan yang dikehendaki Allah, bukan hanya supaya manusia dapat dibebaskan dari akibat perbuatan salah. Berbuat salah bagaimana pun, dosanya ditebus aman-aman saja; ini sesat! Dan ini ajaran yang jahat yang membuat orang Kristen tidak mengerjakan keselamatannya dengan takut dan gentar. Ini yang membuat banyak orang Kristen menjadi wajar seperti manusia lain, dan gereja-gereja menjadi padam. Contoh jelas, gereja-gereja di Barat yang tadinya menjadi pusat pengutus dari para misionaris ke Indonesia. Sejarah membuktikan. 
    Karena ajaran yang salah ini, gereja menjadi mati. Kalau Alkitab berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Itu mengundang aktivitas kita, respons kita. Kita harus menyambut, menerima bahwa Allah menghendaki kita suci seperti diri-Nya. Dan anugerah Tuhan disediakan. Yang pertama, pembenaran. Kita dianggap benar walaupun belum benar. Lalu Bapa memberikan kita Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Lalu juga Tuhan juga memberikan kita Firman, dimana Roh Kudus akan membuka pengertian pikiran kita, sehingga kita mengerti Firman. Mengapa kita tidak berjuang untuk itu? Mengapa kita tidak meminta kepada Tuhan untuk mencapai level-level yang Allah kehendaki tersebut? Kalau untuk masalah utang piutang, masalah rumah, masalah hukum, masalah anak sakit, masalah orang sakit, mungkin diri kita atau orang-orang yang kita kasihi; tidak bisa tidak, kita memaksa-maksa Tuhan untuk menjawab dan mengabulkan doa kita. Tetapi mengapa untuk kesucian hidup yang itu menyangkut nasib kekal kita, kita tidak meminta-minta, kita tidak bergumul sungguh-sungguh? Mengapa kita tidak berani untuk berkomitmen, berjanji, dan bertekad bahwa apa pun yang terjadi, dan berapa pun harga yang harus kita bayar, kita mau hidup suci? Dan berani mengatakan: “Yang lain boleh tidak Engkau kabulkan, tetapi yang satu ini jangan Engkau tidak kabulkan. Bapa, buat aku hidup suci seperti Putra-Mu, buat aku hidup tidak bercacat tidak bercela sesuai standar kesucian-Mu, buat aku menjadi anak kesukaan Bapa.” 
    Yang kedua, melihat kenyataan adanya kekurangan dan kelemahan yang masih ada dalam diri kita dan jejak rekam kita yang jatuh bangun. Juga kita dapati pada hamba pilihan Tuhan, seperti pendeta, pemuka agama, dan lainnya. Sejatinya,
    0 min
  • Mencapai Puncak Kesempurnaan
    Prinsip penting yang kita harus selalu ingat dan jangan sampai kita disesatkan oleh pengajaran doktrin siapa pun dan dari mana pun, bahwa sesungguhnya kita ini makhluk yang diberi Tuhan kebebasan untuk menentukan keadaan kekal kita. Adam dan Hawa tidak didesain untuk jatuh dalam dosa dan terbuang dari hadirat Allah. Kalau Adam dan Hawa terbuang dari hadirat Allah, itu karena keputusan dan pilihan mereka sendiri. Dan hal ini sudah jelas memberi peta kehidupan. Jangan hal ini dirubah, jangan diganti. Alkitab adalah kebenaran. Karena, kita adalah satu-satunya makhluk yang diberi Tuhan kendali dalam tatanan Allah; yang ditabur orang, itu juga dituai. Bukan yang ditabur Allah, melainkan yang ditabur manusia, maka manusia itu sendiri yang akan menuainya. Dengan keadaan kehendak bebas yang kita miliki, kita bisa mengisi dan mengarahkan ambisi kita sesuai dengan keinginan atau kehendak kita sendiri; bukan keinginan atau kehendak Allah. Karena Allah memberi kita kebebasan; apakah mengisi dan mengarahkan ambisi kita ke kanan atau ke kiri, ke bawah atau ke atas, tergantung pada setiap individu. Untuk itu, mari kita mengisi dan mengarahkan ambisi kita di waktu yang singkat ini dengan ambisi yang benar. 
    Kita adalah makhluk yang datang dan pergi. Kalau kita datang dan pergi seperti manusia lain dan tidak sedikit mereka yang terbuang ke dalam api kekal, untuk apa kita menjadi manusia? Karenanya, kita harus mengisi dan mengarahkan ambisi kita ini ke arah yang benar. Tentu jawabnya adalah ke arah Tuhan. Ke arah Tuhan itu apa dan bagaimana? Kita mengisi dan mengarahkan ambisi kita hanya untuk satu hal, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang dapat manusia capai. Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Seberapa kesempurnaan yang bisa kita raih? Sempurna seperti Bapa itu artinya tidak ada kejahatan, lemah lembut, menerima orang lain sebagaimana adanya, tidak ada kata yang salah, tidak melukai orang, tidak menyakiti orang, menjadi berkat, dan seterusnya. Dari hal kecil sampai hal besar. 
    Masalahnya sekarang adalah bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan itu? Hal itu dimulai dari peristiwa-peristiwa kecil dan sederhana dalam keseharian hidup kita—sikap kita yang baik terhadap pasangan hidup, orangtua, anak, pegawai, pembantu, sopir, bagaimana waktu kita di jalan, bagaimana kita dalam berbisnis, bagaimana kita dalam bersosialisasi dengan kolega, dengan teman bisnis, teman sekerja, dengan bawahan, dengan atasan, dan lain sebagainya—yang semuanya sempurna. Tidak memiliki hati yang jahat dan melukai mereka, tidak membicarakan kesalahan orang di belakang, tidak membuat gosip, dan lain sebagainya, sempurna. Ini yang harus kita perjuangkan, sehingga kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang manusia bisa capai. Dan itu harus menjadi ambisi kita satu-satunya. Suci itu bukan hanya tidak berbuat dosa—itu masih pasif. Suci secara aktif adalah dalam melakukan segala sesuatu selalu berkenan di hadapan Allah. Sebagaimana Tuhan sudah katakan dalam Matius 5:48, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Yang sama dengan 1 Petrus 1:16, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Maka, kita harus memiliki ambisi yang kuat, yang menyala, yang tidak pernah padam; kapan pun, di mana pun akan membangun kehidupan yang akhirnya mendapat pengakuan dari Allah, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jadi, kita singgah di bumi sesaat ini untuk mendapatkan pengakuan ini.
    Setiap hari kita harus makin berjuang untuk mendapat pengakuan itu. Jangan berpikir karena pengakuan itu sudah diberikan kepada Yesus, maka otomatis kita pun mendapat pengakuan tersebut, itu salah. Ironis, banyak orang Kristen berpikir begitu atau tidak peduli dirinya berkenan atau tidak. Sejatinya, orang-orang seperti ini tidak menghormati Allah. Nanti kalau bertemu dengan Tuhan, baru ketakutan, gentar. Maka, jangan sombong! Gumuli hal ini, temui Tuhan,
    0 min
  • Gairah Berkemas-kemas
    Tidak mudah untuk berbicara secara lengkap dalam kata dan tulisan yang dapat membangkitkan gairah seseorang untuk berkemas-kemas. Sebab, tidak banyak orang yang bisa menghayati betapa tragisnya hidup ini, dan betapa rentannya hidup ini. Sebagian besar dari kita, mungkin jauh-jauh hari memang sudah menghayati betapa tragis dan rentannya hidup ini, sehingga sudah tidak asing lagi mengenai kekekalan, langit baru bumi baru. Tetapi berapa banyak yang sungguh-sungguh menghayati tragisnya hidup ini? Jika kita mau jujur, secara logika saja kita bisa perkirakan, seberapa senangnya hidup ini? Rumah sebesar apa yang bisa membahagiakan Saudara? Mobil semewah apa yang bisa membahagiakan Saudara? Baju bagus, perhiasan, arloji semewah apa yang bisa membahagiakan Saudara? Itu menjadi berharga dan dikejar hanya oleh orang-orang yang dipecundangi, orang-orang yang dibelenggu oleh dunia ini. Bukan tidak boleh memiliki segala fasilitas tersebut, tetapi jangan sampai kita lupa bahwa kita akan mati, dan itu bisa terjadi setiap saat. Dan setelah mati, kita akan menghadapi kekekalan. Betapa mengerikannya itu!
    Alkitab jelas menunjukkan bahwa kita harus mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita selama hidup. Padahal, Allah menghendaki kita sebagai umat pilihan-Nya untuk memiliki kekudusan atau kesucian seperti Bapa, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus” (1Ptr. 1:16). Dan jelas sekali, Alkitab menghendaki agar kita serupa dengan Yesus. Jelas! Memiliki pikiran perasaan Kristus (Flp. 2:5-7), sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Kita tidak boleh anggap remeh hal ini. Ironis, hari ini banyak orang berkata, “Mana mungkin kita bisa sempurna seperti Bapa?” Padahal, jelas Alkitab berkata begitu. Masalahnya, karena tidak sanggup atau tidak mau? Dan memang jika kita melihat jejak rekam hidup kita yang selalu jatuh bangun, kita bisa menjadi pesimis dan berkata, “Ya, sudahlah. Saya tidak mungkin sempurna.” Dulu, saya juga berpikir tidak bisa. Dengan pernyataan “tidak bisa” itu, berarti kita tidak menghormati Tuhan. Sebab, Tuhan Yesus Kristus yang bicara dimana suatu hari, kita akan meninggal dunia dan Tuhan Yesus akan duduk sebagai Hakim. Kita semua akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus. Makanya, jauh-jauh hari kita sudah harus bersedia untuk bertobat.
    Untuk bisa bersiap berkemas-kemas, satu kalimat yang muncul di pikiran saya adalah “Pisahkan dirimu dari dunia ini.” Itu bukan berarti secara fisik kita memisahkan diri dari pergaulan, dari komunitas dimana kita hidup, melainkan agar kita benar-benar memiliki cara berpikir atau mindset yang berbeda. Cara berpikir yang berbeda akan menggerakkan motivasi-motivasi hati kita dan sikap hati kita secara berbeda pula. Sehingga, apa yang kita lakukan itu digerakkan oleh motivasi yang benar, oleh sikap hati yang benar. Secara lahiriah, kita tidak berbeda dengan orang-orang di sekitar kita dalam beberapa aspek; seperti berkeluarga, bekerja, bisnis, studi, dan berbagai kegiatan lain yang memang menjadi tanggung jawab orang pada umumnya. Sama-sama bekerja, sama-sama berumah tangga, sama-sama studi, sama-sama melakukan berbagai kegiatan di tengah-tengah masyarakat atau di tengah-tengah kehidupan ini. Tetapi yang menggerakkan kita melakukan hal-hal itu, berbeda dengan mereka. Makanya cara berpikir kita harus diubah secara radikal. Ini yang namanya memisahkan diri dari dunia. Secara fisik, kita ada di tengah-tengah masyarakat, kita ada di dalam dunia ini, kita melakukan kegiatan-kegiatan yang dalam beberapa hal sama—ingat, tidak semua hal sama—tetapi motivasi dan sikap hati kita melakukan semuanya itu berbeda. Motivasi dan sikap hati yang benar pasti mengarahkan segala sesuatu yang kita lakukan untuk kesukaan hati Allah Bapa. 
    Sering kita mengucapkan kalimat-kalimat untuk memuliakan Allah, seperti: “Allah itu besar, Allah itu luar biasa, Dia dahsyat, oh, Dia baik.” Itu jelas, dan memang tidak salah mengucapkan puji-pujian seperti itu.
    0 min
  • Pengenalan akan Allah
    Mengingat betapa sentralnya peran Firman Tuhan dalam proses keselamatan (dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula), maka hal belajar kebenaran Firman Tuhan harus menjadi perjuangan dan usaha kita setiap hari. Menambah pengertian mengenai kebenaran Firman Tuhan haruslah dipandang mutlak harus dialami setiap hari. Seperti makanan yang kita konsumsi setiap hari, demikian pula dengan kebenaran Firman Tuhan. Setiap hari harus ada waktu yang disediakan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan. Belajar Firman bisa melalui beberapa sarana, seperti Alkitab, literatur, CD khotbah, internet, radio, dan lain sebagainya. Oleh karena pengertian seseorang mengenai Firman menentukan proses menuju kesempurnaan, maka kita harus sangat berhati-hati dalam mengonsumsi sumber kebenaran Firman Tuhan yang kita pelajari. Banyak ajaran sesat yang tidak membawa kepada pertumbuhan rohani yang benar. Tidak semua orang yang berkhotbah menggunakan Alkitab berarti menyampaikan kebenaran. Dalam hal ini, harus benar-benar berhati-hati. 
    Pengenalan akan Allah harus bertumbuh seiring dengan usia dan perjalanan waktu hidup kita. Menjadi kehendak Allah agar pengenalan kita akan Allah semakin bertumbuh (2Ptr. 3:18). Hendaknya, kita tidak membiarkan Iblis membebani kita dengan berbagai beban, yaitu ikatan kesenangan dunia dan dosa, sehingga kita tidak bertumbuh dalam pengenalan akan Allah. Harus tetap diingat bahwa pengenalan akan Allah menentukan mutu kehidupan seseorang (Yoh. 17:3). Waktu hidup yang kita miliki sangat terbatas. Kita harus menggunakan waktu singkat ini untuk sungguh-sungguh mengenal Allah. Semakin mengenal Allah, maka semakin tinggi kualitas hidup seseorang, dan semakin dirinya diperkenan oleh Allah. Kita harus menjadikan hidup kita ini sebagai perburuan untuk mengenal Allah. Alkitab adalah sarananya. Pengenalan akan Allah ini tertulis dalam Alkitab.
    Perubahan dunia kekafiran pada abad mula-mula oleh kekristenan adalah hasil pelayanan yang tak kenal lelah dalam kerja keras, bukan hanya karena pergumulan doa. Dalam hal ini, bukan berarti doa tidak berperan. Doa memiliki tempat sendiri, sementara tanggung jawab orang percaya juga memiliki tempatnya. Keduanya harus berjalan seiring. Dalam sejarah, dapat dijumpai bahwa setiap perubahan hampir selalu melalui mekanisme proses hasil perjuangan individu-individu, bukan sesuatu yang instan (mendadak). Suatu bangsa tidak akan bertobat dan mengalami pembaharuan kalau hanya didoakan, tetapi juga harus digarami oleh orang percaya yang bekerja keras memberi sepenuh hidupnya bagi Tuhan. Belajar Firman Tuhan tidak boleh hanya ketika ada waktu kosong, tetapi harus disediakan sebagai hal yang sangat penting, bahkan dipandang mutlak. Akibat dari kehidupan orang Kristen yang tidak bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan memang baru dirasakan setelah beberapa belas atau beberapa puluh tahun. Karena hal ini, banyak orang merasa bahwa sikap mengabaikan Firman Tuhan seakan-akan tidak berakibat fatal. Bila ada acara-acara dimana Firman Tuhan diajarkan, seperti kebaktian hari Minggu, persekutuan doa, pendalaman Alkitab, seminar-seminar rohani, seharusnya itu menjadi momentum berharga yang harus dihadiri. Biaya dan kelelahan yang dikorbankan tidak ada artinya dibanding dengan berkat kekal yang diperoleh.
    Kebenaran Firman Tuhan adalah satu-satunya sarana untuk mengubah cara berpikir seseorang. Perubahan tersebut bukan saja mengubah seseorang menjadi baik, melainkan memancarkan kemuliaan Tuhan yang sempurna. Inilah transformasi dalam kehidupan orang percaya. Perubahan ini mengakibatkan perubahan arah hidup. Ini lebih dari perubahan moral. Perubahan ini menyangkut pola berpikir dan segala filosofinya; ini berarti perubahan sikap hati atau sikap batin. Perubahan pola berpikir ini sejajar dengan pertobatan, atau pertobatan pada dasarnya adalah perubahan pola berpikir. Pertobatan bukan sekadar perubahan moral baru, melainkan arah hidup yang diubah. Arah hidup yang tadinya berorientasi atau tertuju kepada h...
    0 min
  • Harus Diperjuangkan
    Kesucian haruslah diperjuangkan, karena seseorang tidak akan dapat memiliki kesucian tanpa perjuangan. Kesucian hidup tidak dapat dimiliki orang percaya dengan sendirinya atau secara otomatis. Seberapa tinggi seseorang mencapai kesucian, bukan hanya tergantung dari kasih karunia-Nya, melainkan juga sangat tergantung dari perjuangan manusianya. Itulah sebabnya Tuhan Yesus menyatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga, harus berjuang (Luk. 13:24). Di bagian lain, Tuhan Yesus menyatakan bahwa banyak yang dipanggil, sedikit yang dipilih (Mat. 22:14). Tentu pilihan ini juga berdasarkan respons seseorang. Sangat menyedihkan. Banyak orang Kristen kalau sudah merasa percaya, ia yakin pasti selamat masuk surga. Padahal, dalam Matius 7:21-23 dinyatakan bahwa sekalipun seseorang sudah mengadakan banyak mukjizat, tetapi kalau ia tidak melakukan kehendak Bapa atau tidak hidup dalam kesucian, ia bisa ditolak Allah. Percaya bukan hanya dalam pikiran, melainkan harus ada tindakan konkret. 
    Semua potensi yang Tuhan berikan haruslah digunakan untuk meraih kesucian. Perumpamaan talenta yang ditulis dalam Matius 25 sesungguhnya lebih dekat bertalian dengan hal kesucian atau kualitas hidup yang harus dicapai seseorang. Setiap orang percaya mendapat kesempatan yang berbeda, tetapi seberapa yang Tuhan berikan, harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh. Kalau fasilitas yang Tuhan sediakan tidak digunakan secara bertanggung jawab, kesempatan itu akan hilang dan tidak ditemukan lagi. Untuk mengalami pertumbuhan kesucian yang baik, seseorang harus memiliki kerinduan yang kuat untuk memahami semua yang Bapa kehendaki atas hidupnya. Selanjutnya, berusaha memenuhi apa yang dikehendaki Bapa untuk dilakukan. Kerinduan untuk melakukan kehendak Bapa inilah yang dimaksud haus dan lapar akan kebenaran (Mat. 5:6). Orang yang berkerinduan untuk mencapai kesucian yang menyukakan hati Bapa, pasti ia dapat meraihnya. Ingat, tidak ada yang mustahil bagi Tuhan! 
    Tidak ada yang sulit kalau sudah dilakukan dan dibiasakan, tetapi akan menjadi sulit dan tidak mungkin bisa dilakukan kalau tidak pernah diusahakan untuk dilakukan dan dibiasakan. Juga dalam hal mencapai kesucian. Kebenaran ini akan menggerakkan kita untuk memperhatikan langkah kita setiap detik, menit, dan jam. Apakah segala sesuatu yang kita lakukan sesuai dengan kehendak-Nya? Oleh sebab itu, kalau kita salah, kita harus cepat memperbaikinya. Kita harus membiasakan melakukan kehendak Tuhan tanpa perlu memaksa diri untuk itu, karena sudah menjadi kebiasaan. Dengan demikian, bukan hanya dosa atau kesalahan masa lalu yang dianggap telah beres atau dibereskan, melainkan  kemungkinan untuk berbuat salah lagi juga dihilangkan. Dalam hal ini, orang yang menerima pengampunan dari Tuhan adalah orang-orang yang memiliki tanggung jawab untuk mengubah hidupnya. Inilah yang disebut sebagai anugerah yang bertanggung jawab. Orang yang menerima pengampunan Tuhan harus memberi diri diperbaiki oleh Tuhan. “Perbaikan” di sini adalah perbaikan dari gambar Allah yang rusak untuk dikembalikan pada rancangan semula-Nya.
    Orang Kristen yang tidak berani hidup suci berarti tidak percaya kepada Tuhan Yesus. “Percaya” artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Kalau seseorang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus, ia harus bersedia untuk hidup dalam kesucian Allah. Tuhan Yesus berkata bahwa kita harus sempurna seperti Bapa (Mat. 5:48). Dalam hal ini, kesucian hidup orang percaya bertalian dengan keagungan kepribadian seperti keagungan pribadi Bapa. Orang percaya harus menjadi anak-anak Allah yang memancarkan keagungan Bapa. Oleh sebab itu, tidak bisa tidak, orang percaya harus hidup dalam kesucian Bapa, yang sama dengan mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:9-10). Allah mau menjadikan orang percaya sebagai orang kudus, tetapi kalau seseorang menolaknya, maka Allah tidak memaksanya. Memaksa bukanlah hakekat Allah. Dari hal ini, kita peroleh fakta ada orang-orang yang bersedia bertobat dan menerima Ye...
    0 min
  • Akibat Paling Tragis
    Setiap orang Kristen dituntut memiliki standar kesucian seperti Bapa atau sempurna. Jadi bila kehidupan kita belum seperti Yesus atau belum seperti yang Bapa kehendaki, itu berarti belum sesuai dengan kehendak-Nya. Selama masih belum seperti Bapa, itu berati masih “luncas.” Dalam hal ini, pengertian “luncas” atau hamartia bukanlah sebuah dosa yang fatalistik. Sekilas, penjelasan ini membuat kesan seolah-olah meremehkan pengertian dosa, tapi sebenarnya tidak. Dosa dunia telah ditanggulangi oleh Tuhan Yesus Kristus. Semua orang yang “menerima-Nya,” dimerdekakan dari kutuk dosa. Kutuk dosa artinya kemerdekaan dari akibat dosa Adam. Tetapi keadaan orang percaya harus suci, artinya selalu bertindak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Orang percaya dituntut untuk hidup tidak bercacat cela (1Tes. 4:7), kudus seperti Bapa (1Ptr. 1:13-17). Untuk ini Paulus berkata, “Aku berusaha untuk berkenan kepada Allah” (2Kor. 5:9). Pengertian “dosa” menurut umat Perjanjian Baru ini penting sekali bagi orang percaya, sebab inilah yang menjadi dasar hidup kita bahwa Allah memanggil orang percaya bukan saja untuk sekadar menjadi orang baik, melainkan untuk menjadi sempurna. Ukuran kesucian kita adalah Allah sendiri, yaitu hidup selalu sesuai dengan kehendak-Nya.
    Bagi umat Perjanjian Baru, kata “dosa” yang paling sering atau paling banyak digunakan adalah “hamartia” (ἁμαρτία). Kata ini berarti suatu keluncasan atau meleset. Kata hamartia dari pengertian katanya sendiri berarti luncas, tidak kena sasaran, atau meleset. Sebenarnya kata itu sendiri secara etimologi (asal usul kata) tidak mengandung unsur atau makna “kejahatan.” Ibarat suatu target memanah atau menembak, bila tembakan tidak tepat mengenai pusat pusaran target, berarti meleset. Inilah hamartia itu. Bagi orang percaya, dosa bukan hanya berarti melanggar hukum atau norma umum, melainkan dosa segala sesuatu yang tidak sesuai (menyimpang atau meleset) dari kehendak Allah; jadi, tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kesanggupan untuk mengerti kehendak Allah sudah diberikan Tuhan kepada manusia sejak semula. Jadi, manusia yang sesuai rancangan Allah adalah manusia yang tidak membutuhkan hukum, peraturan, dan syariat, tetapi memiliki kesanggupan mengerti kehendak Tuhan; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna, serta melakukannya. Dalam hal ini, hendaknya kita tidak memahami bahwa akibat terdahsyat kejatuhan manusia dalam dosa adalah manusia harus mati, menderita, sakit, dan masuk neraka. Memang semua itu merupakan tragedi yang sangat menyedihkan. Tetapi hal yang paling tragis adalah manusia tidak mampu mengerti kehendak Tuhan apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna, serta tidak melakukan kehendak Allah. Manusia telah hamartia atau meleset.
    Dalam hal tersebut di atas, kehendak Tuhan tidak cukup diwakili oleh hukum-hukum dan peraturan-peraturan. Hukum dan peraturan sebanyak apa pun dan sejelas apa pun, tidak akan dapat memuat apa yang menjadi kehendak Tuhan, isi pikiran dan perasaan Tuhan secara utuh. Hukum dan peraturan tidak dapat menampung atau memuat kehendak Tuhan yang tak terbatas, serta perasaan Tuhan yang tak terwakili oleh huruf. Tuhan memberikan Roh Kudus-Nya kepada manusia yang diperbaharui hati dan pikirannya, sehingga manusia dapat mengerti kehendak Tuhan dan melakukannya dengan sempurna. Jadi, melakukan hukum bukan tujuan bagi orang percaya dan umat pilihan yang menerima karunia Roh Kudus. Orang yang menerima karya keselamatan Allah dalam Yesus Kristus adalah orang-orang yang beradab, bermoral mulia, dan tidak mendatangkan bencana bagi sesama, tanpa dibayang-bayangi atau ditekan oleh hukum. Kebaikan moral Allah atau kesucian Tuhan dapat menjadi naturnya, menyatu dalam jiwanya. Inilah kesucian yang sejati.
    Jadi, pada dasarnya kesucian adalah berkenan di hadapan Allah. Hanya manusia yang dapat berkenan di hadapan Tuhan, yaitu dengan melakukan segala sesuatu yang Tuhan kehendaki dan yang Tuhan rencanakan secara tepat.
    0 min
  • Terletak pada Individu
    Alasan kedua mengapa ada orang Kristen yang tidak yakin bahwa mereka bisa hidup suci di bumi adalah karena mereka berpikir bahwa selama hidup di dunia, seseorang tidak akan mampu mencapai kesucian, berhubung dengan kodrat dosa di dalam diri manusia. Menurut mereka, manusia dengan kodrat dosa adalah manusia yang penuh kelemahan dan kekurangan, telah terkunci dalam keadaan yang tidak bisa mencapai kesucian. Sampai kapan pun manusia memiliki kecenderungan dosa semata-mata. Dalam istilah Latin oleh seorang reformator, dikatakan dengan non posse non peccare. Dalam keberadaannya sebagai manusia yang telah memiliki kodrat dosa itu, maka menurut mereka tidak mungkin manusia bisa hidup dalam kesucian. Kehidupan Kristen bagi mereka adalah usaha untuk selalu mengaku dosa dan mohon penyucian dari Tuhan terus-menerus sampai menutup mata. Itulah penyelesaiannya. Tanpa usaha untuk mengubah diri supaya tidak berbuat dosa lagi. Biasanya, pemikiran salah yang dijelaskan di atas dilandasi oleh pengertian bahwa manusia akan selalu berbuat dosa, sebab manusia penuh kelemahan dan kekurangan karena kodrat dosanya. Menurut mereka, dosa adalah bagian hidup yang tidak akan terpisahkan sampai menutup mata. 
    Kesalahan di atas ini, diteguhkan pula oleh kenyataan bahwa ahampir tidak pernah ditemukan adanya orang yang hidup dalam kesucian. Semua orang yang dijumpai dalam kehidupan di sekitar adalah orang-orang yang melukai, menyakiti, dan melakukan berbagai pelanggaran. Ditambah lagi kalau dijumpai kenyataan ada rohaniwan (pendeta, pastor, majelis, aktivis gereja, dan lain sebagainya) berbuat hal-hal yang melanggar moral, maka kesalahan pengertian bahwa tidak ada orang yang bisa hidup suci di bumi ini, menjadi pengertian salah yang permanen atau sangat kuat dan dalam, sampai tidak bisa diubah. Mereka tidak memahami bahwa keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus adalah proses untuk dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Rancangan semula adalah manusia yang memiliki kodrat ilahi; serupa dan segambar dengan Allah. Kalau proses itu dijalani, manusia bisa berhenti hidup dalam dosa, dan berubah hidup dalam kekudusan. Dalam hal ini, orang percaya diperkenan mengenakan kodrat ilahi (2Ptr. 1:3-4). Tetapi, harus ada perjuangan dari mengenakan kodrat dosa, beralih mengenakan kodrat ilahi. 
    Satu hal yang harus ditegaskan, dalam Alkitab tidak pernah dituliskan bahwa kesucian hanya bisa terjadi atau dilakukan di surga. Sangatlah kurang ajar terhadap Tuhan, kalau ada orang mengajarkan bahwa kesucian hanya dapat dicapai di surga. Itu adalah tindakan memalsukan Firman Tuhan. Dalam Alkitab, jelas sekali perintah Tuhan untuk hidup suci selama di dunia. Kalau seseorang menyatakan bahwa tidak mungkin bisa hidup suci di dunia ini, maka ia menuduh dan menganggap Allah berdusta, sebab dalam banyak ayat dalam Alkitab mengajarkan bahwa kita harus hidup suci. Selain itu juga menganggap Allah jahat, sebab memerintahkan manusia melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan atau di luar kemampuannya melakukan. Terkait dengan hal di atas ini, harus ditegaskan bahwa kesucian dan dosa bukan terletak pada tempat atau benda. Hal ini perlu dikemukakan karena ada orang-orang berpikir bahwa dunia bukan tempat yang layak menerima kesucian. Mereka berpikir bahwa kesucian itu seperti sebuah suasana, sehingga bumi yang sudah rusak ini tidak pantas disinggahi dan dihuni oleh kesucian. Kesucian atau dosa terletak pada individu manusia. Yang harus mengalami dan menjalani kesucian adalah manusianya. Tidak masalah apakah dunia di sekitarnya jahat atau tidak. Dalam hal ini, harus dipahami bahwa Allah tidak bertakhta di sebuah wilayah atau tempat tertentu, tetapi Allah bertakhta di hati manusia.
     
    Kesucian atau dosa terletak pada individu manusia; tidak masalah apakah dunia di sekitarnya jahat atau tidak.
    0 min
  • Kausalitas di Dalam Diri
    Kesucian adalah hal mutlak yang harus dimiliki dan dijalani orang percaya. Karena hal ini adalah hal yang sangat mutlak, maka Tuhan pasti bersikap sangat adil. Keadilan Tuhan menuntut masing-masing individu untuk bertanggung jawab. Seberapa tinggi kualitas kesucian hidup seseorang, tergantung dari masing-masing individu merespons anugerah yang Allah sediakan kepada mereka sesuai dengan takaran atau bagiannya. Sesuai takaran atau bagiannya, artinya masing-masing orang memiliki bagian yang khusus; tentu satu dengan yang lain berbeda. Dalam hal ini, berlaku firman bahwa yang diberi banyak dituntut banyak, tetapi yang diberi sedikit dituntut sedikit pula (Luk. 12:48). Perintah agar orang percaya mengejar kekudusan adalah isyarat yang sangat jelas, bahwa peran individu dalam kehendak bebasnya sangat menentukan atau berperan dalam pencapaian terhadap kesucian hidup orang percaya (1Ptr. 1:16; dan lain sebagainya). Kalau kesucian bisa dicapai hanya oleh karunia, maka tidak pernah ada perintah untuk mengejar kekudusan, atau tidak akan ada perintah agar kita hidup kudus. 
    Kalau kesucian hanya dapat dicapai dengan karunia, maka perintah yang diberikan Tuhan bukan perintah untuk hidup suci, melainkan untuk mengejar karunia guna mencapai kesucian. Jika yang dikejar adalah karunia untuk hidup suci, maka peran individu untuk mengejar kekudusan dalam kehendak bebasnya tidak dapat tampil secara proporsional. Jika kesucian adalah karunia semata-mata, maka logikanya tidak perlu ada pertanggungjawaban individu kepada Tuhan. Jika seseorang bisa hidup suci karena karunia khusus yang diberikan Tuhan, maka ia tidak patut menerima upah di Kerajaan Surga. Sedangkan mereka yang tidak diberi karunia oleh Allah untuk hidup suci, tidak perlu bertanggung jawab atas keadaannya tersebut di hadapan Allah. Satu hal yang harus ditekankan bahwa kesucian hidup dapat dicapai seseorang, tergantung dari masing-masing individu. Jika kesucian dipandang sebagai karunia, mereka yang selalu merasa gagal semakin tidak optimis untuk bisa hidup dalam kesucian, sampai pada tingkat jera untuk berjuang mencapai kesucian.
    Banyak orang Kristen berpandangan keliru, bahwa kesucian hidup tidak akan dapat dicapai di bumi ini. Kesucian hanya bisa ditemukan dan dialami di surga. Jadi, kesucian hidup manusia tidak pernah akan ditemukan di bumi. Menurut mereka, bumi bukanlah tempat manusia dapat mengenakan kesucian. Mengapa orang Kristen sampai beranggapan demikian? Pertama, karena mereka tidak memahami pengertian kesucian menurut Alkitab. Pengertian kesucian yang dipahami oleh mereka sebenarnya serapan dari berbagai pandangan agama dan filsafat dunia, bukan berdasarkan kebenaran Firman Tuhan. Mereka berpikir suci itu seperti sebuah bidang yang tadinya dikotori oleh noda, walaupun noda itu dapat hilang oleh semacam sarana pembersih, tetapi akan selalu ternoda kembali. Dalam hal ini, kalau bidang itu adalah hati manusia, maka sarana pembersihnya adalah darah Yesus. Tetapi hati akan selalu dapat dikotori lagi oleh dosa, sebab manusia masih hidup di dunia, dunia yang penuh dengan dosa. Dan mereka beranggapan bahwa hanya di surga, di mana tidak ada Iblis, maka juga tidak ada dosa.
    Orang percaya harus selalu berjuang untuk berkenan kepada Tuhan. Berkenan kepada Tuhan bukan hanya didasarkan pada melakukan hukum, tetapi tindakan yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dengan demikian, dosa bukan hanya tindakan yang melanggar moral umum seperti melakukan pembunuhan, perzinaan, perampokan, dan sejenisnya, tetapi tindakan yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Dosa-dosa yang terselubung di dalam hati dapat terjadi setiap saat tanpa rangsangan dari luar. Dalam hal ini, nyatalah bahwa dosa tidak terletak pada kausalitas di luar diri manusia itu semata, tetapi terletak pada kodrat dalam diri manusia. Untuk setiap sikap hati dan gerak pikiran yang salah, setiap saat seseorang dapat menyelesaikan atau melakukan pemberesan secara pribadi dengan Tuhan.
    0 min
  • Pembentukan lewat Pergesekan
    Kebenaran ini harus dimengerti dan diterima, bahwa dalam pembentukan kita menuju kesempurnaan yang dikerjakan Tuhan melalui Roh-Nya, Allah menggunakan manusia di sekitar kita untuk proses tersebut. Besi menajamkan besi, manusia ditajamkan oleh sesamanya. “Ditajamkan” di sini maksudnya adalah dibuat makin dewasa, sempurna, matang, dan berkenan kepada Allah. Allah memakai manusia lain untuk itu. Orang Kristen di abad mula-mula mengalami aniaya yang sangat luar biasa, sebab mereka harus hidup di tengah-tengah masyarakat sebagai utusan Tuhan. Ternyata, penderitaan yang mereka alami karena aniaya tersebut justru menguduskan mereka, yaitu membuat mereka berhenti berbuat dosa (1Ptr. 4:1). Selain itu, aniaya membuat mereka tidak berkiblat ke dunia. Mereka dilatih untuk meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, sehingga hati mereka hanya tertambat pada Tuhan dan Kerajaan-Nya. Akhirnya, aniaya dapat membuktikan kesetiaan dan kecintaan orang percaya kepada Tuhan Yesus dan Allah Bapa.
    Oleh sebab itu, kita tidak perlu membanggakan mereka yang dapat hidup menyepi, meninggalkan keramaian, dan melepaskan kesibukan hidup seperti yang dialami oleh orang yang hidup di perkotaan. Justru mereka yang hidup di perkotaan, lebih sulit untuk menjalani hidup dengan tantangan yang sangat berat. Banyak orang berpikir bahwa mereka yang hidup di kesunyian, melepaskan keduniawian dengan cara meninggalkan kehidupan kota, berarti sudah melepaskan segala sesuatu. Sebenarnya, melepaskan segala sesuatu itu wajarnya bukan demikian. Melepaskan segala sesuatu berbicara mengenai kesediaan untuk tidak terikat dengan dunia, di tengah-tengah kemungkinan memiliki dan menikmatinya. Kalau seseorang tidak memiliki potensi dan kesempatan untuk meraih dunia lalu kemudian meninggalkan dunia, bukan berarti ia telah melepaskannya secara proporsional. Paulus dapat memiliki segala sesuatu, tetapi ia melepaskannya dan menganggapnya sampah (Flp. 3:7-9). Seseorang tidak bisa dikatakan tangguh berpuasa kalau berada di padang gurun di mana tidak ada air dan makanan. Seseorang bisa dikatakan tangguh berpuasa kalau berada di tempat di mana limpah air dan makanan, tetapi tidak menikmatinya.
    Harus diingat bahwa Tuhan Yesus tidak memerintahkan orang percaya meninggalkan dunia untuk bisa mencapai kesucian. Justru Tuhan mengutus orang percaya untuk hadir di tengah-tengah dunia ini. Dari isi doa Tuhan Yesus (Yoh. 17:15), sangatlah jelas bahwa orang percaya harus ada di tengah-tengah masyarakat dalam kehidupan di dunia yang jahat ini, bukan menghindarinya. Dalam bagian lain di Alkitab, Tuhan Yesus mengatakan, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati” (Mat. 10:16). Perlulah kita memperhatikan apa yang diajarkan Alkitab, bahwa proses pertumbuhan iman yang benar melalui peristiwa kehidupan di tengah-tengah dunia. Tokoh-tokoh iman dalam Perjanjian Lama dibentuk Tuhan melalui pengalaman hidup di tengah masyarakat. Yusuf didewasakan melalui saudara-saudaranya dan pengalaman di tengah masyarakat Mesir (Kej. 37-39). “Didewasakan” ini sama artinya dengan dibangun semakin suci. Kalau Yusuf hanya tinggal di rumah Yakub, ayahnya, maka mimpi yang ia terima, yang juga merupakan janji besar dari Allah, tidak akan terwujud dalam hidupnya.
    Demikian pula Daud. Kalau ia tetap tinggal di padang rumput menggembalakan domba, terpisah dari pergaulan luas, maka ia tidak akan pernah menjadi raja. Daud diubah dan didewasakan oleh Goliat, Saul, penduduk Zif yang mengkhianatinya, dan segudang pengalaman lain yang menyakitkan. Semua itu merupakan cara Allah mempersiapkan Daud menjadi orang besar. Kita percaya bahwa Amsal 27:17 memuat tuntunan hidup yang sangat penting. Dalam ayat ini, tertulis bahwa besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya. Teks itu dijagai tetap eksis oleh Tuhan sampai hari ini, agar dari dalamnya, orang percaya dapat menimba kebenaran. Oleh karenanya,
    0 min
  • Kepuasan Hidup
    Berhubung keadaan dunia sudah semakin rusak, mengalami dekadensi atau kemerosotan moral yang semakin dalam, maka standar kebaikan orang semakin rendah. Kebaikan relatif bukanlah kebaikan mutlak yang berstandar kesucian Allah. Oleh karena pengaruh dunia yang sangat kuat merasuk dalam jiwa orang Kristen dan mereka tidak bertumbuh dalam kebenaran Firman Tuhan, maka mereka merasa sebagai orang Kristen yang normal. Padahal, keadaan mereka sangat jauh dari standar kekristenan yang diajarkan oleh Injil. Oleh karena Tuhan seakan-akan diam, mereka merasa aman-aman saja menjalani hidup dengan cara hidup demikian. Dan banyak orang beragama—termasuk orang Kristen—sudah merasa puas dengan keberadaan hidupnya yang dihiasi dengan moral baik di mata masyarakat, padahal kehidupan moral manusia semakin jauh dari standar yang Tuhan kehendaki. Dalam hal ini, bagi mereka, kepuasan hidup bukan terletak pada kerinduannya untuk mencapai kesucian hidup seperti yang Allah kehendaki, melainkan kehidupan normal yang suasana jiwanya tertumpu pada hal-hal duniawi. Bagi mereka, yang penting tidak melanggar moral yang dipahami oleh masyarakat. Hal ini bukan hanya berlaku di lingkungan orang-orang non-Kristen, melainkan juga di kalangan orang-orang Kristen di seluruh dunia.
    Kenyataan bahwa sekarang ini kesucian seperti barang langka bisa dimengerti, karena dunia di mana kita hidup ini semakin jahat. Hal ini sudah dinyatakan sendiri oleh Tuhan Yesus, “Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin” (Mat. 24:12). Ketika Tuhan menyatakan hal ini, Ia sedang berbicara mengenai hari-hari menjelang kedatangan-Nya, yaitu keadaan manusia pada akhir zaman. Kalau pelaku kehidupan—dalam hal ini manusia—semakin durhaka, maka dunia juga akan berkeadaan semakin rusak dalam berbagai aspeknya. Sebuah dunia yang sama sekali tidak menjanjikan untuk dihuni. Dunia yang semakin mendukakan hati Allah. Dunia yang semakin mendekati hari penghukumannya. Keadaan dunia seperti yang dikemukakan oleh Tuhan tersebut mengondisi manusia mengalami degradasi moral yang parah. Tuhan Yesus menyamakannya dengan keadaan manusia pada zaman Sodom dan Gomora, yaitu keadaan manusia yang pantas untuk dibinasakan. Moral manusia secara umum mengalami kemerosotan yang sangat parah. Tidak mengherankan kalau dunia hari ini diwarnai dengan tindakan-tindakan manusia yang sangat bejat, seperti perkosaan oleh orangtua terhadap anak kandungnya sendiri, dalam intensitas jumlah yang semakin besar; pembunuhan anak terhadap orangtua; pembunuhan orangtua terhadap anak; penyimpangan seks (LGBT); pemalsuan obat; pembantaian terhadap orang tidak bersalah, terorisme; praktik mencari keuntungan materi dalam gereja, munculnya nabi dan pengajaran palsu yang marak, dan lain sebagainya.
    Kondisi dunia seperti yang dikemukakan di atas ini pasti juga memengaruhi kehidupan moral banyak orang Kristen sehingga mereka juga ikut terhanyut hidup dalam dosa. Memang faktanya, banyak orang Kristen telah terbawa oleh cara berpikir dan gaya hidup manusia di sekitarnya. Ini menunjukkan kualitas iman banyak orang Kristen sudah banyak merosot. Bahkan wilayah yang tadinya seratus persen Kristen, sekarang sudah tidak lagi demikian. Keadaan ini tentu saja menunjukkan bahwa banyak orang Kristen tidak lagi militan dalam kesetiaannya kepada Tuhan. Tidak heran kalau banyak orang Kristen semakin merasa tidak mungkin bisa mencapai kesucian di dalam dunia yang seperti ini. Bahkan, kesucian sering dipandang sebagai keberadaan yang hanya dapat dimiliki oleh orang-orang khusus yang memiliki kawasan hidup berbeda dengan manusia pada umumnya. Sehingga, untuk hidup yang suci, seseorang harus hidup dalam biara atau sejenis pertapaan. Padahal, kesucian semacam itu justru kesucian yang tidak natural dan tidak proporsional. Kesucian bukan hanya berarti bersih dari noda. 
    Kesucian juga menunjuk kepada integritas diri yang kokoh, tidak terhanyut oleh pengaruh pola hidup yang tidak sesuai dengan kehen...
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…