Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menjerit untuk Hidup Suci
    Menjalani hidup di dunia yang sudah semakin rusak dan penuh kejahatan, pasti kita akan bertemu dengan banyak masalah dan pencobaan, apalagi bagi kita yang bertahan untuk hidup suci. Kita pasti pernah menjerit kepada Tuhan, berseru kepada Tuhan untuk mendapat pertolongan Tuhan, jalan keluar dari persoalan itu, dengan jeritan yang begitu dalam. Tangisan yang begitu menyayat di dalam jiwa kita untuk satu persoalan yang kita hadapi, atau ancaman atas hidup kita yang begitu besar. Apakah itu masalah sakit-penyakit, apakah masalah ekonomi, apakah masalah hukum, apakah masalah-masalah tertentu yang membuat nama baik kita hancur, keluarga kita hancur, usaha kita hancur, atau apa pun. Kalau kita bisa berseru kepada Tuhan untuk berbagai persoalan, mengapa untuk hal kesucian hidup, kita tidak menjerit? Yaitu bagaimana kita bisa hidup suci, bagaimana kita bisa hidup tidak bercacat, tidak bercela; bagaimana kita bisa hidup berkenan kepada Allah?
    Niat untuk hidup suci dan berkenan memang sudah kita miliki, namun sejujurnya, masih ada hal lain yang masih kita anggap lebih mengancam hidup kita, yaitu masalah-masalah kehidupan yang menghadang. Kalau kita menjerit untuk menjadi seorang yang berkenan, bukan berarti kita belum memiliki keselamatan. Justru karena kita sudah memiliki keselamatan, artinya dosa-dosa kita sudah ditebus oleh darah Tuhan Yesus Kristus, dimana kita sudah berkeadaan dibenarkan, tetapi kita belum benar-benar benar. Jangan karena kita merasa sudah ditebus oleh darah Yesus Kristus, lalu kita merasa semua sudah selesai. Justru baru dimulai! Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, mau usaha baik bagaimanapun, tetap binasa. Kalau Yesus tidak mati di kayu salib, tidak ada pengadilan, tidak ada perhitungan, semua meluncur ke neraka. Tetapi dengan Yesus mati di kayu salib, ada pengadilan. Orang diadili menurut perbuatannya, artinya apakah mereka punya batin yang baik, yang tidak membahayakan bagi sesamanya. Makanya, kepada orang-orang yang berbuat baik kepada orang lain di Matius 25, mereka boleh masuk dunia yang akan datang. Tetapi bagi kita umat pilihan, target kita adalah sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, seperti yang dikemukakan 1 Yohanes 2:6, “barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup.”
    Karena kita harus memiliki kesucian seperti kesucian Allah, maka Bapa di surga berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus. Jangan menyentuh apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Jelas tujuan kita adalah serupa dengan Yesus dalam kualitas hidup-Nya. Karena di dalam Filipi 2:5-7 mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh (Yun. phroneo) pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus.” Dalam konteks jemaat Filipi, Paulus mengingatkan para jemaat untuk hidup berdampingan satu sama lain dengan mengutamakan kepentingan orang lain di atas diri sendiri. Paulus menggunakan frasa ‘pikiran dan perasaan Kristus’ untuk menggambarkan seluruh kehidupan batiniah-Nya yang menjadi contoh bagi para jemaat. Manusia batiniah sekualitas dengan Yesus inilah yang harus dimiliki oleh setiap jemaat. Dengan kata lain, standar yang harus kita capai adalah pikiran dan perasaan Kristus sendiri. Melihat senjangnya kualitas antara manusia batiniah kita dengan standar yang Tuhan kehendaki, maka kita bisa meratap, “Mengapa aku masih berkeadaan seperti ini?” Sekalipun keinginan untuk dapat hidup suci sudah ada sejak dulu, tetapi belum sampai jeritan yang tertinggi. Mengapa kita tidak menjerit dengan kuat setiap hari untuk hal ini? Jika Tuhan dan Kerajaan-Nya menjadi satu-satunya tujuan hidup, seharusnya jeritan tersebut akan mengalir secara alami dalam kehidupan kita setiap harinya.
    Orang yang memandang bahwa kematian Yesus di kayu salib sudah membuat selesai segala proses keselamatan, dia tidak menyadari kesucian Allah yang luar biasa,
    0 min
  • Tuhan, Kehormatanku
    Pasti kita bisa menghayati atau merasakan bagaimana kita sebagai orangtua menjadikan anak-anak atau menganggap anak-anak kita sebagai kehormatan kita. Anak-anak mengerti, menghayati bagaimana menjadikan orangtua itu sebagai kehormatannya. Kita yang ada di dalam satu organisasi, mengerti bagaimana menghayati bahwa organisasi/lembaga/institusi di mana kita berada sebagai kehormatan. Apa yang kita pandang sebagai kehormatan, pasti kita bela dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap kekuatan, segenap akal budi. Kalau anak-anak kita adalah kehormatan kita, maka sebagai orangtua, kita bekerja keras supaya anak-anak kita bisa studi, anak-anak kita bisa sekolah, lalu bisa menjadi sarjana, bisa mandiri, berprestasi. Itu menjadi kebanggaan, karena anak-anak adalah kehormatan orangtua. Demikian pula kalau anak-anak memandang, menganggap, dan memperlakukan orangtua sebagai satu kehormatan. Anak-anak menyediakan rumah, mobil, mendandani orangtua, karena orangtua itu kehormatan. Kalau kita menjadi salah satu anggota dari sebuah organisasi, kita mengerti, kita menghayati bagaimana kita membela organisasi kita sebagai kehormatan.
    Mengapa kita tidak melakukan itu untuk Tuhan? Tuhan menjadi kehormatan kita. Kalau dari dulu kita mengatakan “Kau segalanya dalam hidupku,” itu berarti bahwa hidup kita memang dipersembahkan, diperuntukkan bagi Allah, bagi Tuhan yang hidup. Renungkan: kalau suatu hari kita menghadap Tuhan dan sejak di bumi kita sudah menjadikan Tuhan kehormatan kita, betapa berbahagianya kita, dan kita bisa berdiri atau tahan berdiri di hadapan Allah. Tuhan menjadi kehormatan kita, artinya kita membela Tuhan. Dalam hal apa kita membela Tuhan? Yaitu ketika kita bisa membuktikan bahwa Allah yang benar itu Elohim Yahweh, bahwa satu-satunya Juruselamat yang benar adalah Tuhan Yesus Kristus. Mungkin tidak semua kita bisa menyaksikannya, membuktikannya di khalayak depan banyak orang, karena kita tidak memiliki kesempatan dan ruangan untuk itu. Tetapi, paling tidak kita bisa menyaksikannya kepada orang-orang di sekitar kita, bahwa Elohim Yahweh itu Allah yang benar, bahwa Yesus Kristus itu Tuhan dan Juruselamat satu-satunya, bahwa Dia Allah yang baik yang menyediakan surga, lebih dari sekadar memberkati kita dengan rumah, mobil, dan segala fasilitas. Karena kalau menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, setan pun bisa memberi. 
    Kita bisa menyaksikan Allah yang baik, Allah yang agung, Allah yang mulia, dan Dialah kehormatan kita. Namun, ini bukan satu hal yang sederhana. Kita harus minta pimpinan Tuhan, bagaimana menjadikan Tuhan itu kehormatan kita. Ada orang-orang yang merasa membela Tuhan, membela kehormatan Tuhan dengan berapologet; dengan membela secara debat. Jadi, dengan debat itulah mereka merasa membela Tuhan. Ini satu hal yang dilakukan banyak orang, tetapi bukan berarti itu sudah benar. Belum tentu. Dengan banyak ketidaksantunan yang dilakukan melalui debat-debat tersebut, malah jadi memalukan, jadi memperuncing hubungan antara kita dengan orang yang beragama lain; yang dengan mereka orang Kristen berdebat. Kita buktikan Allah yang benar itu Elohim Yahweh. Kita buktikan Yesus Kristus Juruselamat satu-satunya dengan perbuatan kita. Tentu untuk itu kita harus berani untuk menyangkal diri, untuk mengalah, untuk bisa mengerti orang lain, bisa mengampuni, bisa tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, diam walau kita di-bully, bahkan difitnah. Dan kita juga harus rela memberikan uang, harta kita. Setiap kita harus mendapat pimpinan Roh Kudus untuk bisa mengelola harta yang Tuhan percayakan kepada kita. 
    Ini yang harus kita perkarakan, yaitu apa pun kita lakukan, kita menjadikan Dia sebagai kehormatan kita. Dan kalau kita mau menggunakan kata “bersaing,” ini persaingan yang sehat. Artinya, siapa Allah yang benar di antara allah-allah yang diakui sebagai sesembahan? Mari kita bersaing. Dengan cara apa? Dengan cara santun, perbuatan, pembelaan, pengorbanan yang tulus dari hidup kita atau melalui perilaku,...
    0 min
  • Belajar untuk Berubah
    Setelah sekitar 80 tahun, dunia ini tidak mengalami guncangan perang seperti perang dunia. Akibatnya, manusia sudah merasa nyaman dengan pola kehidupan yang berjalan dengan stabil. Padahal, dunia pasti berakhir. Entah karena perang, ada asteroid yang jatuh dari langit, bencana ekosistem bumi yang rusak ini, krisis ekonomi, atau pandemi seperti virus COVID-19, dan sejenisnya. Karena, Alkitab jelas menyatakan bahwa dunia akan mengalami penderitaan seperti perempuan bersalin (Mat. 24:8-13). Jadi, kita harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terburuk. Riak gelombang yang terjadi di negara-negara Timur Tengah juga merupakan peringatan bagi kita. Krisis antara bangsa Palestina dan bangsa Israel atau orang Yahudi mengingatkan kita bahwa betapa rentannya dunia ini. Belum lagi ketegangan-ketegangan yang terjadi antarnegara adikuasa. Dunia tidak bertambah nyaman. Belum dari pihak terorisme, radikalisme yang mencoba untuk bisa memaksakan kehendaknya. Dunia kita tidak bertambah baik. Kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan yang terburuk. 
    Keadaan nyaman sekitar 80 tahun ini tidak ada perang besar, membuat manusia lupa diri. Seperti di negara Barat, banyak orang sudah tidak lagi memedulikan Allah. Di dalam Matius 24:8, firman Tuhan mengatakan, “Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.” Dan tanda-tanda zaman sudah jelas. Oleh sebab itu, kita harus menjadikan Tuhan tempat perlindungan. Karenanya, kita harus menyerahkan segenap hidup kita ke dalam tangan-Nya. Kita membawa diri kita kepada Tuhan. Keluarga kita dan orang-orang yang kita kasihi, kita taruh di dalam tangan perlindungan Tuhan. Dan untuk itu, mau tidak mau, kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Jangan lagi terikat dengan dunia. Bisa saja terjadi bencana atau perang. Dalam sekejap, harta kita lenyap. Dalam sekejap, kita dapat lagi memiliki apa pun. Kita tentu tidak mengharapkan atau mendoakan hal-hal tersebut, namun tidak dapat disangkal, semua itu dapat terjadi dalam sekejap layaknya yang telah kita lihat selama ini. 
    Untuk itu, mari kita berkemas-kemas pulang ke surga. Senada dengan ini, Paulus mengingatkan kita dalam 1 Korintus 7:29-31, “Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristeri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristeri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis;… Pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu.” Seruan Paulus ini menegaskan kefanaan seluruh hal yang kita miliki, dan semuanya akan kita tinggalkan. Untuk itu, kita harus berusaha hidup suci, meninggalkan percintaan dunia, melepaskan segala ikatan dengan barang-barang dunia yang kita harapkan bisa membahagiakan. Kita bisa memiliki banyak barang, banyak uang, tetapi kita tidak terikat dengan semua itu, dan kita rela kalau setiap saat itu digunakan untuk kepentingan pekerjaan Tuhan. Memang hal ini mustahil bagi kita. Mustahil bisa hidup suci, mustahil bisa terlepas dari percintaan dunia. Tetapi, Tuhan akan menolong kita, kalau kita punya komitmen bulat, punya tekad bulat. Percayalah, Tuhan akan menolong kita. Kita memang belum sempurna, tetapi kita bisa belajar untuk berubah. Bersyukur kepada Tuhan yang tiada henti-hentinya mendidik kita dan mengubah kita. Kita bukan orang baik. Kita adalah orang-orang tidak pantas menerima kebaikan Tuhan. Akan tetapi, ketika kita mau berubah, Tuhan akan menolong kita, sampai akhirnya kita sampai ke langit baru bumi baru. 
    Tentu setiap kita akan menghadapi tantangan beragam ketika hendak belajar berubah. Setiap kita punya kecenderungan-kecenderungan salah atau menoleh ke belakang. Namun kabar baiknya, kita dapat menaklukkan kecenderungan tersebut. Kita memiliki kemampuan untuk memilih apa yang benar dan apa yang salah.
    0 min
  • Jaring Tuhan
    Sejatinya, Tuhan yang Mahakuasa bisa tidak membutuhkan kita. Pemazmur mengungkapkan hal ini dengan: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mzm. 8:4-5). Allah sama sekali tidak mencari keuntungan dari kita. Allah bisa tidak perlu memanfaatkan kita, sebab Dia telah memiliki segalanya. Allah itu Mahakuat, Mahakaya, memiliki segala sesuatu tanpa batas. Coba kita renungkan, Allah sama sekali tidak mencari keuntungan dari kita, tetapi Allah memberi segalanya bagi kita. Kasih Allah tidak akan pernah dapat kita pahami, tidak akan pernah dapat kita mengerti. Memiliki Allah seperti ini, tentu satu-satunya Allah yang benar, tidak ada Allah selain Dia; Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, Allah Israel, Yahweh nama-Nya, Elohim Yahweh, Allah Yahweh. Kita bersyukur, kita sangat beruntung mengenal dan memiliki Allah seperti Dia, dan dimiliki oleh Allah seperti Dia yang juga menjadi Bapa kita. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak memiliki keraguan sama sekali terhadap Allah. Tidak memiliki keraguan sama sekali berarti bukan hanya kita percaya kuasa-Nya, pemeliharaan-Nya, dan perlindungan-Nya, melainkan juga kita mau mengikuti jalan-Nya. Kita mau mengikuti jejak hidup-Nya.
    Dia tidak mencari keuntungan. Sebaliknya, Dia mau kita hidup di dalam berkat-Nya. Dalam Yohanes 10:10 Tuhan berkata, ​​“Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.” Kata ‘kelimpahan’ di sini harus dipahami sebagai kelimpahan dalam kualitas. Tuhan ingin memberikan kepada kita hidup yang berkelimpahan dalam kualitas. Oleh karenanya, tentu kita tidak bisa hidup suka-suka sendiri, lalu kita bisa hidup di dalam berkat-Nya. Ada aturan, tatanan, dan etika kehidupan dalam ber-Tuhan. Satu-satunya jalan untuk memperoleh semua yang Allah sediakan bagi kita adalah hidup di dalam kesucian-Nya. Dimulai dari hal-hal yang kita pandang salah, jangan dilakukan. Hal-hal yang bisa menyakiti, melukai orang, jangan kita lakukan. Hal yang membuat orang lain tidak sejahtera, jangan kita lakukan. Sesuatu yang membuat orang lain dirugikan atau merasa dirugikan, jangan kita lakukan. Dimulai dari hal itu, sampai nanti Tuhan akan memimpin kita pada tingkat-tingkat kesucian yang lebih lagi, dalam standar kesucian Allah. Memang ini hal berat, tetapi ini satu-satunya jalan untuk hidup di dalam naungan, perlindungan Tuhan. Kalau kita hidup di dalam dosa, kita tidak layak hidup di dalam perlindungan-Nya. Kita yang dibenarkan harus hidup di dalam pimpinan Roh, dan Alkitab mengatakan bahwa “memang kita orang-orang yang berutang.” Orang yang berutang bukan hidup menurut daging, tetapi untuk hidup menurut Roh (Rm. 8:4).
    Tuhan mau membawa kita ke tempat yang nyaman, yang baik, tetapi kita menolak, lari. Mendengar kata “Tuhan,” mendengar kata “suci,” kita langsung merasa tidak nyaman. Tuhan ingin membawa kita keluar dari dunia ini, untuk masuk Kerajaan Surga. Dalam Yohanes 14:2 dikatakan, “di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu.” Kita harus memberi diri rela dijaring. Jangan lari dari jaring Tuhan. Doa pagi, kebaktian dimana kita mendengar kebenaran yang murni adalah jaring-Nya Tuhan. Jangan kita lari daripadanya. Neraka itu lebih dahsyat dan mengerikan daripada bom. Mengapa kita tidak bisa siuman? Periksa diri, bertobat, doa pribadi, menyembah. Allah yang mau menangkap kita, membawa kita ke dalam Kerajaan Surga. Tuhan pakai jaring doa, jaring kebaktian, jaring Suara Kebenaran supaya kita masuk surga. Mengapa kita tidak mau? Mengapa kita lari? Hal-hal tersebut adalah jaring yang membawa kita ke dalam Kerajaan Surga. Ditambah lagi dengan fenomena baru-baru ini, ricuh di sana sini,
    0 min
  • Hati yang Pecah di Hadapan Allah
    Ada satu ajaran yang telah berakar di dalam pikiran banyak orang percaya, yaitu karena Yesus menang, Ia pun memberikan kemenangan itu kepada kita. Di satu sisi, kalimat itu benar. Yesus telah menang, Yesus memberikan kemenangan itu bagi kita. Sebab dengan kematian Yesus di kayu salib, Dia memikul semua dosa-dosa kita dan telah selesai. Semua perbuatan dosa yang telah kita lakukan dan yang sedang kita lakukan dan yang mungkin bisa kita lakukan lagi, Tuhan telah pikul di kayu salib. Bahkan sebelum kita lahir, kata Alkitab, Dia sudah mati untuk kita, puji Tuhan! Dia menang; Dia taat sampai mati, bahkan mati di kayu salib, dan kemenangan-Nya untuk kita. Namun, itu baru satu aspek! Sebab, kemenangan Tuhan Yesus di kayu salib memang membawa kita dibenarkan di hadapan Allah (justification; justificatio). Kita dianggap benar di hadapan Allah, tetapi bukan berarti kita sungguh-sungguh sudah benar. 
    Secara de jure, kita bisa dianggap benar. Tetapi secara de facto, belum. Karenanya, setiap orang yang ikut Tuhan Yesus harus dimuridkan, harus diperbaharui, harus didewasakan, harus mengalami metamorfosis (Rm. 12:1-2). Jadi, pertobatan awal kita disertai dengan adanya pembaharuan terus-menerus. Sebab, pertobatan itu artinya pembaharuan pikiran (metanoia). Kalau kemenangan Tuhan Yesus itu berarti membuat kita otomatis menang dalam arti mutlak (all in), maka kita sudah berkenan di hadapan Allah. Tuhan Yesus tidak perlu berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku, belajarlah dari pada-Ku, masuklah jalan sempit, dan kepada tujuh jemaat di kitab Wahyu, di setiap jemaat Tuhan selalu berkata, “Menanglah kamu seperti Aku menang.” Kemenangan Tuhan Yesus membuka jalan dimana dosa kita telah selesai di kayu salib. Kalau hari ini kita meninggal dunia, kita yang sungguh-sungguh sudah percaya Tuhan Yesus, bisa masuk surga. Tidak diragukan dan tidak boleh ragu-ragu. Tetapi masalahnya, apakah kita sudah serupa dengan Yesus atau sempurna seperti Bapa? Inilah yang harus kita gumuli. 
    Bertahun-tahun kita tidak merasa gelisah dengan keadaan kita, karena kita yakin mati masuk surga. Dan itu secara literal, secara dogmatis, secara sistematika teologi, telah tersusun sedemikian rupa dan membangun pengertian bahwa keselamatan sudah dimiliki, dan pasti orang yang percaya kepada Yesus, masuk surga. Namun, harus kita ingat, hal itu berlaku bagi orang percaya yang benar-benar sudah bertobat. Dan pertobatan itu bukanlah satu titik, melainkan sebuah garis panjang. Benar, keselamatan bukan usaha kita, karena Yesus telah mengusahakannya di kayu salib. Tetapi, ada bagian yang tidak boleh kita lupakan. Pesta disediakan, undangan diberikan, tetapi mengenakan pakaian pesta merupakan tanggung jawab kita. Matius 7:21-23 juga mengingatkan bahwa orang-orang yang telah mengusir setan dan menyembuhkan penyakit, mengadakan banyak mukjizat, namun karena mereka tidak melakukan kehendak Bapa, pada akhirnya mereka pun diusir. Pertanyaannya, masuk surga karena kehendak Bapa atau karena kurban Yesus di kayu salib? Nah, orang harus mengerti dengan tepat! Ini yang menyesatkan banyak orang Kristen dan membuat Eropa tenggelam, karena doktrin yang tidak akurat, doktrin yang tidak tepat, semua diselesaikan secara literal dalam sistematika teologi. 
    Kualitas hidup kita harus sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Untuk itu, kita memiliki tanggung jawab. Kita harus terus bertumbuh, bukan hanya menjadi anak kesayangan Allah, melainkan juga menjadi anak kesukaan Allah. Menjadi anak kesukaan berarti setiap kata yang kita ucapkan itu berkenan. Setiap perbuatan kita, menyenangkan hati Allah. Nah, kita periksa diri, apakah kita sudah mencapai hal itu? Dan jujurnya, kita sering kali meleset. Makanya, kita minta ampun. Kita mengasihani perasaan Allah yang belum menjumpai kita seperti yang Ia kehendaki. Dan mestinya, tujuan hidup kita satu-satunya hanya itu: menjadi manusia sesuai dengan rancangan Allah semula. Jadi, setiap hari kita memeriksa diri,
    0 min
  • Eksklusif dengan Tuhan
    Kalau kita percaya Alkitab itu memuat kebenaran dari Tuhan, kita harus benar-benar percaya—seperti Daud dan banyak tokoh iman lain yang menjadi kekasih Tuhan—bahwa kita benar-benar beruntung. Dan kita juga mau mengusahakan diri menjadi kekasih Tuhan. Namun, itu tergantung dari kita. Jelas, kalau dari pihak Allah, Allah mengasihi kita, rela memberikan Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus; kasih-Nya tidak diragukan. Tetapi, seberapa kita benar-benar juga memberi diri untuk menjadi kekasih Dia, itu masalahnya. Harus kita sadari bahwa jika kita menjadi kekasih Tuhan, maka kita adalah manusia yang paling beruntung. Kita tidak perlu ragu atau khawatir dengan masa depan yang tidak pasti. Tuhan Yesus menggambarkan providensia atau pemeliharaan Allah yang sempurna dalam Matius 6:25, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” Pada ayat berikutnya, Tuhan memberikan analogi pemeliharaan Allah terhadap burung dan bunga bakung yang hendak menekankan jaminan pemeliharaan hidup bagi setiap mereka yang percaya dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, permasalahan utama dalam menjalin relasi dengan Tuhan bukan terletak pada pemenuhan kebutuhan jasmani yang telah diberikan dengan sempurna, jika manusia bertanggung jawab atas hidupnya.
    Masalahnya adalah apakah kita memiliki gelora dan gairah untuk menjadi kekasih Tuhan? Gelora atau gairah ini merupakan dorongan yang mengarah pada perubahan pola berpikir dan gaya hidup yang sepenuhnya diabdikan bagi Allah. Matius 6:24 berkata, “Kamu tidak bisa mengabdi kepada dua tuan, terang tidak bisa bercampur dengan gelap, Allah adalah Allah yang cemburu.” Oleh karenanya, kita tidak boleh memiliki kekasih lain dalam hidup ini. Orang di sekitar kita sangat kita cintai, tetapi cinta kasih kita kepada mereka tidak melebihi kasih kita kepada Tuhan. Kita yang harus menggores jiwa kita untuk mengasihi-Nya. Mengarahkan jiwa untuk mengasihi Tuhan tidak mudah dan perlu waktu panjang. Dalam hal ini, setiap individu harus memperkarakan diri setiap saat, apakah masih ada seseorang atau sesuatu dalam hatinya yang lebih berharga ketimbang Tuhan? Sadarilah bahwa setiap kita akan menutup mata. Akan tetapi, sebelum hal itu terjadi, kita mau melekatkan diri kita dengan Allah. Untuk itu, tidak boleh ada ikatan dosa di dalam diri kita. Kita harus belajar untuk tidak terikat dengan kesenangan dunia, harta dunia. Inilah yang disebut memiliki hubungan yang eksklusif dengan Tuhan. 
    Menjadi kekasih Tuhan memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan kita. Di satu titik, kita akan memiliki rasa takut dan gentar akan Dia secara benar. Kemudian kita akan hidup suci dan rela berkorban apa pun demi pekerjaan-Nya. Semangat seperti ini senada dengan semangat yang dimiliki Paulus ketika ia berkata dalam Kisah Para Rasul 20:24, “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” Kesucian yang dimiliki Paulus telah mencapai titik ekstrem sehingga membuatnya rela mengorbankan nyawanya bagi pekerjaan Allah. Dalam konteks ini, seseorang tidak lagi takut atau khawatir dengan kematian. Setiap mereka yang mencapai titik ini, akan merindukan untuk pulang berjumpa dengan Allah sendiri.
    Dalam perjuangan mencapai titik kesucian yang ekstrem, kita harus menanggalkan segala sesuatu yang membuat hati kita bercabang. Kesediaan kita menanggalkan segala sesuatu akan mengarahkan hati kita untuk memahami maksud dan tujuan Allah bagi kita. Dengan kata lain, kita memahami rancangan semula Allah bagi diri kita, yakni memiliki hubungan yang eksklusif dengan-Nya. Memiliki relasi yang eksklusif dengan Allah adalah sebuah kesempatan mahal yang tidak akan terulang.
    0 min
  • Liciknya Hati Manusia
    Firman Tuhan dalam Yeremia 17:9 berkata, “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Dalam terjemahan aslinya tertulis, “hatinya sudah begitu sakit, membatu, (desperately sick; sakit parah, sakit berat), siapa yang dapat mengetahuinya?” Kalau kita melihat di dalam bahasa aslinya, “hati itu menipu” (Ing. deceitful, insidious), dari kata dalam bahasa Ibrani aqob. Apa sebenarnya maksudnya? Lebih licik dari segala sesuatu. Hal ini sejajar artinya dengan apa yang ditulis oleh Paulus di dalam Roma 7:15 bahwa ia tahu apa yang baik, ia berniat berbuat baik, tetapi yang jahat ia lakukan (Rm. 7:15, “Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat.”) Dan itu juga dikatakan dalam Galatia 5:17, dalam perjuangan untuk mencapai kesucian standar Allah, suatu saat kita akan menemukan dua pribadi di dalam diri kita. 
    Kita seakan-akan memiliki pribadi ganda. Satu sisi, kita serius untuk hidup berkenan di hadapan Allah, serius untuk hidup suci, dan ada saat dimana kita benar-benar merasa rohani; pada waktu kita di gereja, pada waktu kita berdoa, pada waktu kita memimpin puji-pujian, pada waktu kita berkhotbah, pada waktu kita memimpin seminar, pada waktu kita berceramah rohani, atau pada waktu kita hadir di sebuah acara rohani. Tetapi di luar dari acara itu, atau di luar lingkungan kegiatan rohani itu, kita bisa menjadi pribadi yang lain. Dan bagi kita yang berjuang atau bergumul untuk mencapai kesucian, kita bisa mengerti apa yang dimaksud bahwa seakan-akan ada pribadi ganda di dalam diri kita. Pribadi jahat di dalam diri kita itu bisa menunjuk manusia lama yang sudah “terdidik” oleh lingkungan dan juga sudah terpengaruhi oleh lingkungan, sehingga dengan liciknya bisa mengarahkan kita melakukan perbuatan-perbuatan tertentu atau sikap hati tertentu. Ia bisa menyeret kita dalam perbuatan-perbuatan yang tidak pantas. Ia bisa menyeret kita kepada perbuatan-perbuatan yang memalukan. Ia bisa menyeret kita kepada tindakan-tindakan yang menyakiti orang lain, dan itu otomatis. Ia juga bisa mengarahkan kita menjadi sombong, menjelekkan orang, membuat kesan buruk tentang seseorang, dan lain sebagainya.
    Ketika kita sadar, kita mulai memeranginya. Tetapi ironis, kita sering tidak memeranginya karena kita tidak sadar bahwa itu manusia lama kita yang telah menguasai hidup kita, sehingga kita terjebak oleh manusia lama yang licik tersebut. Tetapi kalau kita sadar, kita bisa meredam, sampai akhirnya kita tidak bisa dikuasai lagi. Hati itu licik. Dalam kelicikannya, dia mengarahkan kita untuk melakukan sesuatu. Maka, kita harus betul-betul bergantung kepada Roh Kudus yang dapat menuntun kita kepada segala kebenaran. Di sini peran Roh Kudus besar, kalau kita mengaktifkannya. Jadi, kita mohon Roh Kudus memimpin kita. Makin kita sungguh-sungguh mau hidup suci, makin kita sungguh-sungguh mau melepaskan diri dari manusia lama, makin keras suara Roh Kudus berbicara kepada kita. Jadi, kita harus memiliki gairah yang sekuat-kuatnya untuk memiliki kehidupan yang suci, dan berani mempertaruhkan hidup kita tanpa batas untuk itu. Rindu hidup suci, rindu tidak melukai hati Tuhan, rindu menyenangkan hati-Nya. Kita pasti akan jatuh bangun, sebab manusia lama kita itu kuat. Ingat! Kodrat dosa dalam diri kita itu licik, kuat, menyatu, dan cerdik mencari momentum. 
    Kalau kita membiarkan terus-menerus manusia lama kita mendominasi, maka kita tidak akan pernah mengerti perasaan Allah. Kita tidak akan pernah mengerti pikiran Tuhan yang kudus. Kita akan selalu dalam kelicikan, misalnya bagaimana kita bisa untung, tidak peduli orang lain buntung. Kita hanya haus keuntungan diri sendiri, kita tidak peduli perasaan orang, kita gila hormat tanpa kita sadar, materialistis tanpa kita sadar. Dan itu bukan hanya terjadi untuk jemaat, juga untuk pendeta,
    0 min
  • Layak Dilindungi
    Menjadi kebiasaan atau bisa dikatakan kodrat bahwa banyak orang yang tidak sungguh-sungguh berurusan dengan Allah, kecuali ketika mereka sedang menghadapi pergumulan berat. Misalnya, mengidap penyakit yang berat, baik dirinya maupun orang yang dikasihi. Menghadapi bencana-bencana yang tidak diduga; apakah wabah penyakit, kecelakaan, terlibat masalah hukum dan terancam hukuman belasan atau puluhan tahun, atau orang yang dikasihinya terlibat kejahatan, terlibat narkoba, atau harus menghadapi ancaman hukuman. Barulah orang berurusan dengan Allah dengan sungguh-sungguh untuk memohon pertolongan agar dilepaskan dari persoalan-persoalan tersebut. Mestinya, kita benar-benar membutuhkan Tuhan, bukan menunggu ada persoalan berat dalam hidup ini. Kita pasti akan menghadapi persoalan berat. Kita sendiri makin tua, pasti menghadapi kelemahan kerentanan tubuh. Pasti kita akan menghadapi persoalan-persoalan berat di dalam hidup ini, sakit, bahkan kematian. Kematian orang-orang yang dikasihi, atau kematian kita sendiri. Dan yang lebih dahsyat lagi, ketika ada di hadapan pengadilan Tuhan. 
    Sejak manusia jatuh dalam dosa, hidup menjadi tragis. Yang ditunggu oleh setiap insan itu hanya persoalan, sakit, tua, dan kematian. Memang di sela-sela itu ada kesenangan-kesenangan, tetapi tidak ada artinya jika dibandingkan dengan fakta ini. Dan setelah kematian, pasti yang kita hadapi adalah pengadilan yang mengerikan bagi mereka yang tidak mempersiapkan diri! Berbicara mengenai hal ini bukan membuat kita menjadi pengecut atau penakut. Kita memang harus memiliki perasaan takut yang hebat jika kita hidup tanpa Tuhan. Sebaliknya, orang yang takut akan Allah akan berani menghadapi hidup. Tetapi orang yang tidak takut akan Allah—suatu hari—dia akan ketakutan menghadapi hidup. Mungkin ketika belum ada masalah, dia tidak takut. Tapi jangan lupa, hidup ini penuh dengan kejutan yang tidak pernah kita duga. Tetapi apa pun yang terjadi, kita mau berlindung kepada Tuhan. Kita menjadikan Tuhan perlindungan, tetapi kita tidak bisa menjadikan Tuhan perlindungan kalau kita tidak memiliki hati yang takut akan Allah. Kita tidak layak mendapat perlindungan kalau kita hidup sebagai pemberontak. Bahkan, kita tidak pantas percaya kepada Tuhan kalau kita tidak hidup dalam takut akan Allah.
    Mari kita sadar untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela agar kita layak mendapat perlindungan dan pantas percaya kepada Tuhan. Seorang berhikmat dalam kitab Pengkhotbah di akhir tulisannya menulis dalam Pengkhotbah 12:13, “Akhir dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.” Banyak hal yang bisa terjadi di luar dugaan kita. Tetapi sebenarnya, apa pun yang terjadi di dunia ini masih belum masalah besar. Masalah terbesar adalah kalau kita tidak siap ketika menghadap takhta pengadilan Kristus. Saat itulah, baru hal terdahsyat, terbesar dalam hidup yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun. Jadi, ketika ada di hadapan pengadilan takhta Kristus, betapa mengerikan! Oleh sebab itu, mari kita hidup benar-benar tidak bercacat, tidak bercela. Ini pergumulan yang sangat berat, tetapi bisa, kalau kita berjuang. Memiliki kesucian atau kekudusan seperti kesucian atau kekudusan Allah sendiri. Tidak mencintai dunia, tidak terikat dunia. Menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan kita. Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan, Tuhan pasti akan menyenangkan kita juga. 
    Kita tidak layak mendapat perlindungan Tuhan kalau kita tidak hidup di dalam ketertundukan sepenuhnya kepada Bapa di surga, ketika kita tidak menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan, dan ketika kita tidak hidup di dalam kekudusan dan kesucian. Jangan bergantung kepada pendeta atau manusia siapa pun. Pendeta bisa menjadi mentor sementara, tetapi dia tidak menentukan hidup kita. Jangan menunggu doa pendeta, jangan menunggu tumpang tangan pendeta atau manusia.
    0 min
  • Memandang Tuhan sampai Akhir
    Hari ini, dunia benar-benar mendapat peringatan dari Tuhan. COVID-19 akhirnya menjadi pukulan yang tidak main-main. Kalau sebelumnya orang masih bisa merasa bahwa manusia mampu menangani, hari ini di beberapa negara maju saja, mereka sudah mulai putus asa dan membiarkan. Tetapi di satu sisi, kita melihat bagaimana Tuhan membuka mata manusia bahwa betapa tidak berdayanya manusia. Ini baru COVID-19, belum lagi wabah-wabah lain yang bisa muncul. Oleh sebab itu, saya mengajak kita semua untuk kembali memeriksa apa yang sebenarnya dikehendaki oleh Allah di dalam hidup umat manusia itu. Kita kembali memperkarakan: apa yang dikehendaki oleh Allah?
    Sejatinya, Allah Bapa itu menghendaki satu dunia yang sempurna dengan manusia yang menikmati kebahagiaan dan berjalan bersama dengan Tuhan di bumi ini, bak di surga. Allah ingin manusia memiliki bumi yang sungguh amat baik itu dan menikmati bumi yang sempurna, sehingga tidak membutuhkan bumi yang lain atau surga lain. Tetapi, manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Tidak mungkin manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah bisa menikmati ciptaan Allah yang sempurna. Bumi terhukum, bumi terlaknat, bumi terkutuk. Namun, Allah merancang langit baru bumi baru. Kita adalah orang-orang yang dipilih untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Jadi, yang harus kita lakukan sekarang adalah bagaimana kita berjuang untuk memiliki kehidupan seperti yang Bapa inginkan, yang dikatakan Tuhan Yesus, “Sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus.” Itu saja, tidak muluk-muluk. Tidak harus menjadi aktivis gereja, apalagi pendeta. Dan gereja tidak boleh sibuk dengan hal-hal yang tidak perlu. Akhirnya, gereja menjadi tempat orang-orang mencari kedudukan, kehormatan, dan juga nafkah.
    Kita fokus langit baru bumi baru. Dan sementara kita hidup, kita membenahi diri untuk benar-benar berkeadaan sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Untuk itu, pasti hidup kita akan tersita habis-habisan di situ. Dan sementara kita bertumbuh untuk sempurna seperti Bapa serupa dengan Yesus, kita juga menolong orang lain yang kita mau bimbing, untuk menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Kita harus berkemas-kemas pulang ke surga saja. Terserah orang mau ngomong apa kepada kita, kita harus berani hidup tidak wajar. Banyak masalah yang sedang kita hadapi. Mungkin, berat-berat. Tetapi, kita tidak boleh kehilangan pegangan dan pandangan. Kita mau memandang Tuhan saja dan terus, sampai kita pulang ke surga. Hidup kita memang banyak persoalan, dan setan berusaha untuk mencegah laju perjalanan kita menuju ke langit baru bumi baru. Tapi ingat perkataan Tuhan Yesus di Matius 24:12-13, “Mereka yang bertahan sampai akhir yang diselamatkan.”
    Jadi, mari kita mencari Tuhan terus; jangan berhenti mencari Tuhan. Kita tetap bekerja sebisa-bisanya, kita menjaga protokol kesehatan dengan baik supaya kita bisa hidup sepanjang mungkin, supaya kita membenahi diri lebih banyak dan bisa mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Ironis, banyak orang hanya bisa bicara, menyalahkan, dan menilai, tetapi tidak buat apa-apa. Mereka menggenggam tangannya, tidak melepaskan apa yang mereka miliki untuk pekerjaan Tuhan. Kiranya, kita hanya menunggu pengadilan Tuhan nanti dimana semua kita akan menghadap takhta pengadilan Tuhan. Maka, jaga hidup untuk lebih suci, hidup tidak bercacat, tidak bercela. Jangan tenggelam dengan masalah-masalah pribadi. Kita harus berkarya bagi Tuhan di sisa umur hidup kita ini.
     
    Banyak masalah yang sedang kita hadapi. Mungkin berat-berat, tetapi kita tidak boleh kehilangan pegangan dan pandangan. Kita mau memandang Tuhan saja dan terus, sampai kita pulang ke surga.
    0 min
  • Jalani Saja
    Dalam kehidupan orang percaya, kita dapati ada orang-orang yang tidak rela meninggal dunia, karena mereka tidak merasa ada dunia lain yang bisa dinikmati atau dijalani dan menjadi keindahan. Sebab, hampir semua orang merasa bahwa dunia inilah satu-satunya kehidupan yang dapat dijalani dan dinikmati. Sehingga, mereka tidak rela meninggal dunia. Kalaupun pada akhirnya mereka rela meninggal dunia, sering hal itu karena sudah tua, sakit-sakitan, lalu tidak memiliki harapan. Ini sebenarnya kerelaan yang terpaksa. Jadi, bukan kerelaan yang natural. Mereka pun sudah tidak bisa bertobat, tidak bisa berubah, dan tidak memiliki pengharapan. Di dunia ini sudah tua dan sakit-sakitan, belum lagi dirongrong dengan masalah anak cucunya. Sungguh ironis. Tapi bagi orang tua yang telah menjalani hidup bersama dengan Tuhan, bisa saja ia sakit-sakitan atau juga banyak masalah keluarga, tetapi dia memiliki pengharapan. Pengharapan di dalam Kerajaan Surga, pengharapan di dunia yang akan datang. Maka, kerelaannya untuk meninggal dunia adalah kerelaan yang baik, yang benar, yang natural, yang kudus. 
    Jadi, sebelum kita menjadi tua dan tidak bisa diubah lagi—bebal, keras kepala, dan tegar tengkuk—sejak jauh-jauh hari, kita harus mau ditegur, mau diingatkan, dan mau berubah. Demikian pula dengan orang-orang yang kaya. Jangan salah mengerti, bukan berarti orang kaya tidak bisa masuk surga. Tuhan tidak berkata “tidak bisa masuk surga,” tetapi “sukar.” Membutuhkan kenekatan atau perjuangan yang tulus dari kehendak bebasnya. Tetapi, kita yang hari ini berada dalam kondisi kesulitan ekonomi, dalam penderitaan berbagai masalah, kita berpotensi lebih besar untuk memikirkan perkara-perkara yang di atas. Dan memang secara psikologi, dengan keadaan kita yang menderita di bumi ini—entah masalah keuangan, entah masalah pekerjaan, keluarga, dan lain-lain—itu merupakan suasana kondusif yang membuat kita bisa memikirkan perkara-perkara yang di atas. Suasana yang kondusif artinya suasana yang mendukung tercapainya tujuan. Dalam hal ini, Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai tujuan. 
    Tetapi bukan juga berarti bahwa orang yang banyak masalah, otomatis pasti masuk surga. Mereka “berpotensi” lebih mudah masuk surga, bukan “pasti” masuk surga. Kalau pribadi orang tersebut—yang walaupun sudah menderita, sudah banyak kesulitan—masih saja serakah, masih mau saja menikmati dunia ini, ini berbahaya. Orang miskin yang ingin kaya, itu berbahaya. Mengapa berbahaya? Karena dia juga sama dengan orang kaya yang sukar masuk surga. Jadi, mestinya kita bersyukur dengan apa yang ada pada kita hari ini, walaupun kita sedang berada di tengah kesulitan hidup. Kita tetap memancangkan perhatian kita ke langit baru bumi baru. Jangan berbuat dosa. Dalam segala hal, kita mau hidup benar-benar di dalam kesucian. Di tengah-tengah dunia yang tidak menjanjikan ini, tetap kita bekerja keras, mencari nafkah, tidak malas, tidak malu melakukan pekerjaan apa pun, yang penting tidak melanggar etika kehidupan demi bisa hidup melangsungkan hidup dari hari ke hari. Itu cukup, jalani saja. Kalau anak atau saudara yang kita kasihi sakit atau dalam keadaan terancam, berapa pun akan kita bayar. Kita tidak membatasi—termasuk harga diri pun kita rela korbankan—asalkan orang yang kita kasihi dapat sembuh atau terbebas dari masalah. Ingat, ketika Yakub dikabarkan bahwa anaknya Yusuf mati dicabik-cabik binatang buas—padahal sebenarnya Yusuf dijual kepada pedagang budak ke Mesir—Yakub seperti masuk liang kubur, habis hidupnya. Perasaan seperti itu mungkin pernah kita alami, dan kita rela berbuat apa pun demi anak atau demi orang yang kita kasihi. Mengapa untuk Kerajaan Surga kita tidak berani berbuat demikian?
    Maka, jangan menarik hari kemarin pada hari ini, dan jangan menarik hari esok untuk hari ini. Seperti Firman Tuhan katakan, “kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini.” Kesulitan, kepahitan, kepedihan yang telah kita alami di waktu-waktu kemarin dan semua kejadiannya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…