Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menggapai Puncak Kesempurnaan
    Prinsip penting yang kita harus selalu ingat dan jangan kita disesatkan oleh pengajaran doktrin siapa pun dan dari mana pun bahwa sesungguhnya kita ini makhluk yang diberi Tuhan kebebasan untuk menentukan keadaan kekal kita. Adam dan Hawa tidak didesain untuk jatuh dalam dosa dan terbuang dari hadirat Allah. Kalau Adam dan Hawa terbuang dari hadirat Allah, itu karena keputusan dan pilihan Adam dan Hawa. Fakta ini sudah jelas memberi peta kehidupan. Jangan sampai hal ini diubah atau diganti. Alkitab adalah kebenaran yang mengemukakan fakta ini. Kita diberi Tuhan kendali dalam tatanan Allah; apa yang ditabur orang, itu juga yang dituai. Dengan kehendak bebas yang kita miliki, kita bisa mengisi dan mengarahkan ambisi kita sesuai dengan keinginan atau kehendak kita sendiri, bukan keinginan atau kehendak Allah karena Allah memberi kita kebebasan. Apakah mengisi dan mengarahkan ambisi kita ke kanan atau ke kiri, ke bawah atau ke atas.
    Menghayati dan menyadari betapa tragisnya hidup manusia—datang dan pergi seperti uap—betapa kita harus serius mengisi ambisi kita ini. Kalau kita datang dan pergi seperti manusia lain yang terbuang ke dalam api kekal, untuk apa kita menjadi manusia? Betapa celaka manusia yang datang di bumi tanpa melakukan kehendak Allah, hidup untuk kesukaan kesenangan diri sendiri, lalu pergi begitu saja. Lebih baik dia tidak pernah hidup atau lebih baik tidak pernah dihadirkan. Hal ini benar-benar mengerikan! Mestinya jiwa kita tergetarkan oleh realitas ini. Karenanya, kita harus mengisi ambisi dan mengarahkan ambisi kita ini ke arah yang benar. Tentu jawabnya adalah ke arah Tuhan. Masalahnya, ke arah Tuhan itu apa dan bagaimana? Kita mau mengisi dan mengarahkan ambisi kita hanya untuk satu hal, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang dapat manusia capai. Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga sempurna.” Seberapa kesempurnaan yang bisa kita raih?
    Sempurna seperti Bapa itu artinya tidak ada kejahatan, lemah lembut, menerima orang lain sebagaimana adanya, tidak ada kata yang salah, tidak melukai orang, tidak menyakiti orang, menjadi berkat, dan seterusnya. Dari hal kecil sampai hal besar. Bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan itu? Apakah mungkin? Ternyata hal tersebut kita mulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan dalam hidup keseharian kita. Misalnya: sikap kita terhadap pasangan hidup, orangtua, anak, pegawai, pembantu, sopir, waktu berkendara, bagaimana kita dalam berbisnis, bagaimana kita dalam bersosialisasi dengan kolega, dengan bawahan, dengan atasan, dan lain sebagainya; yang semuanya itu harus sempurna. Tidak memiliki hati yang jahat dan melukai mereka, tidak membicarakan kesalahan orang di belakang, tidak membuat gosip, dan lain sebagainya.
    Ini yang harus kita perjuangkan, yaitu bagaimana kita bisa mencapai puncak kesempurnaan yang bisa manusia capai. Perjuangan mencapai kesempurnaan harus menjadi satu-satunya ambisi kita. Suci itu bukan hanya tidak berbuat dosa, itu adalah kesucian pasif. Suci juga berarti aktif dalam melakukan segala sesuatu yang berkenan di hadapan Allah. Kita harus memiliki ambisi yang kuat, yang menyala, yang tidak pernah padam. Sehingga kapan pun, di mana pun akan membangun kehidupan yang akhirnya mendapat pengakuan dari Allah, “Inilah anak-Ku yang Kukasihi, kepadanya Aku berkenan.” Jadi persinggahan sesaat kita di bumi untuk mendapatkan pengakuan ini. Setiap hari kita harus makin berjuang untuk mendapat pengakuan itu. Jangan berpikir karena pengakuan itu sudah diberikan kepada Yesus, maka kita ikut-ikutan mendapat pengakuan tersebut, itu salah. Ironis, banyak orang Kristen berpikir begitu atau tidak peduli dirinya berkenan atau tidak. Orang seperti ini tidak menghormati Allah. Jika kelak mereka bertemu dengan Tuhan, mereka akan gentar ketakutan.
    Dengan rendah hati kiranya kita memperhatikan hal ini dan berubah. Jangan sombong! Gumuli hal ini, temui Tuhan,
    0 min
  • Masa Kepicikan
    Untuk membuktikan dan mengalami bahwa Allah itu hidup, terus terang bukan sesuatu yang mudah, sebab kenyataannya tidak semua orang beragama benar-benar membuktikan dan mengalami Allah yang hidup. Bahkan rohaniwan, dan teolog-teolog hebat pun belum tentu sudah mengalami Tuhan. Dari ucapan atau tulisan seseorang, kita bisa rasakan apakah dia benar-benar mengalami Tuhan atau tidak. Kita harus mencapai titik memiliki pengalaman pribadi dengan Allah. Tentu pengalaman tersebut sangat pribadi, tidak bisa diungkapkan kepada orang lain dan memang biasanya tidak boleh diumbar. Tetapi individu itu akan merasakan secara riil kehadiran Allah di dalam hidupnya. Ada momentum-momentum yang Tuhan izinkan kita alami untuk menggapai Allah. Ketika kita berada di dalam kesesakan, di dalam kepicikan—artinya di dalam masa-masa sempit, masa-masa yang sangat sulit; kepicikan bukan dalam arti picik dalam berpikir, tetapi masa-masa yang sangat sulit. Jadi kata “kepicikan” juga bisa memiliki konotasi bukan saja kebodohan, tetapi juga masa-masa yang sulit dalam kesempitan—kita meratap kepada Tuhan. dan itu momentum yang sebenarnya sangat berharga. 
    Kita memiliki saat-saat seperti itu. Kita menjerit, “Aduh. Tuhan, ini sangat membahayakan aku.” Atau “ini sangat memalukan diriku,” atau “Aduh, Tuhan, ini pedih sekali.” Saat-saat seperti itu, kita seperti ditarik ke atas, terbang seperti burung. Seperti rajawali mengobrak-abrik sarangnya ,sehingga anak-anak rajawali lari ke sana ke mari, kocar-kacir. Dan akhirnya, di antaranya jatuh dari ketinggian karena memang sarang rajawali itu ditaruh di atas gunung tinggi dan bisa jatuh. Rajawali-rajawali kecil itu berjatuhan, tetapi dengan berjatuhan itu, mereka dilatih induknya untuk menggunakan sayapnya. Mereka mencoba menggunakan sayapnya untuk terbang. Ketika itu, anak-anak rajawali tersebut mulai bisa terbang walaupun tidak kuat. Dan kalau jatuh, induknya kemudian menukik, menangkap anaknya itu, lalu dibuang kembali ke atas, sampai anak rajawali tersebut bisa terbang. 
    Masa-masa kepicikan seperti itu menjadi momentum yang berharga untuk kita berusaha mencari wajah Tuhan. Kita berusaha menggenggam tangan Tuhan. Kita berusaha mengetuk pintu-Nya untuk dibukakan, dan memberikan apa yang kita butuhkan. Dari hal itu, Tuhan memperkenalkan Diri-Nya kepada kita secara individu. Yang nanti akhirnya, Tuhan akan menuntun kita supaya kita tidak mempersoalkan perkara-perkara fana. Pasti kemudian yang Allah kehendaki kita berkeadaan tidak bercela. Kita mau dituntun ke langit baru bumi baru karena tidak ada kehidupan yang Allah sediakan sempurna, kecuali di langit baru bumi baru. Maka, jangan membuat Firdaus di bumi. Allah mendidik kita untuk mengabdi dan melayani Dia dalam segala hal yang kita lakukan. Karena hanya orang yang melayani Tuhan melalui segala hal yang dilakukan, akan berkelanjutan di kekekalan. 
    Akhirnya, ratapan kita nanti akan berlanjut bukan hanya temporal atau sesaat, tetapi bisa berkepanjangan. Tetapi tidak lagi mempersoalkan masalah utang-piutang, anak sakit, atau bahaya yang lain, tetapi kita akan berusaha menemukan wajah Tuhan. Kita berusaha untuk melihat pintu langit yang terbuka kita ketuk, kita berusaha menggenggam tangan Tuhan untuk satu hal, bagaimana kita didapati sebagai anak yang berkenan di hadapan Allah. Kita terus berusaha untuk menemukan kehidupan seperti ini; yang hanya bisa terwujud kalau Allah menolong kita. Kalau masalah keuangan, masalah sakit, atau masalah fana lainnya, setan pun bisa menawarkan pertolongan melalui antek-anteknya. Tetapi kalau hidup yang berkenan, hidup kudus tidak bercela, hanya Allah yang bisa melakukannya. 
    Jadi, ketika Allah memancing kita dengan persoalan-persoalan fana supaya kita datang mendekat kepada-Nya, gunakan momentum itu. Dia mau supaya kita mengerti apa yang berharga dalam hidup ini. Sejatinya, hal yang paling berharga dalam hidup ini ternyata adalah harta surgawi; yaitu kehidupan kita yang berkenan dan kelayakan kita men...
    0 min
  • Pengalaman Keselamatan
    Kita bisa membuktikan kebenaran Alkitab melalui satu hal, yaitu mengalami keselamatan. Keselamatan yang kita miliki itu harus benar-benar dirasakan dan berdampak. Tentu saja dampak atau buahnya itu nyata di dalam hidup kita ini, dalam keberadaan kita, yang tidak boleh sama dengan orang yang tidak memiliki keselamatan. Seharusnya orang dapat menangkap, merasakan, tercelik bahwa kita memiliki Allah yang benar; bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan. Jadi, dasar kekristenan kita bukan sekadar kita terlahir dalam keluarga Kristen; atau karena tertarik dengan kekristenan, terkait dengan pernikahan dengan orang Kristen, atau faktor lain. Seharusnya, dasar kekristenan kita untuk membuktikan kebenaran adalah kita mengalami Tuhan Yesus Kristus yang merupakan jalan keselamatan satu-satunya. Pembuktian ini tidak hanya dalam pengertian secara nalar atau pikiran, atau dalam proses kognitif. Karena kalau pembuktian hanya dalam pengertian nalar, belumlah membangun kekristenan yang benar.
    Pembuktian ini harus dibangun dari pengalaman langsung dari kehidupan konkret dimana seseorang mengalami proses keselamatan. Namun kalau definisi keselamatan itu hanya “terhindar dari neraka dan diperkenankan masuk surga,” maka kebenaran kita yang murni tersebut belum bisa teruji secara penuh. Karena semua agama sama-sama mengklaim allahnya benar; sama-sama mengklaim bisa membawanya ke surga atau membuangnya ke neraka. Tetapi keselamatan adalah proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Tentu pembuktiannya melalui pengalaman konkret. Apa itu rancangan Allah semula? Manusia segambar, serupa dengan Allah. Proses ini yang akan membuat setiap kita membuktikan bahwa memang Allah yang benar adalah Allah Israel; Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Elohim Yahweh yang mengutus Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus.
    Pengalaman keselamatan akan membuka mata pengertian seseorang untuk memahami siapakah Allah yang benar. Pengalaman keselamatan adalah proses perubahan karakter. Bukan hanya dari manusia jahat menjadi manusia baik. Sebab kalau hanya demikian, agama-agama dan pendidikan budi pekerti juga bisa mengubah manusia yang bejat, yang rusak, yang biadab, menjadi orang baik. Tetapi proses keselamatan itu merubah manusia dari human being menjadi divine being; dari sinful nature menjadi divine nature. Pengalaman keselamatan seperti ini luar biasa. Bukan saja dari orang jahat yang hidup melanggar norma umum dan hukum kemudian menjadi orang baik yang santun, tetapi Tuhan Yesus menyelamatkan kita dari dosa (hamartia); menyelamatkan kita dari kemelesetan. 
    Manusia memiliki kemuliaan manusia—bisa bermoral baik, santun, beradab—tetapi tidak sesuai dengan rancangan Allah semula; tidak sama dengan rancangan Allah semula yang segambar dan serupa dengan Allah. Jadi, tindakannya belum sesuai dengan tindakan dan perasaan Allah, namun bisa sesuai dengan hukum. Orang yang hidupnya belum sesuai dengan rancangan Allah yang semula bukan berarti menjadi jahat, bejat, tidak bermoral, biadab. Mereka bisa menampilkan kehidupan moral yang baik, santun, sesuai dengan norma umum atau hukum yang berlaku. Agama bisa mencetak manusia seperti itu. Akan tetapi, proses mengubah kodrat itu mustahil. Mustahil, sebab harus ada intervensi dari Allah dan manusia harus berinteraksi dengan Allah melalui Roh Kudus. Sehingga, ini hanya bisa terjadi atas orang-orang yang menerima meterai Roh Kudus. 
    Proses yang Tuhan adakan di dalam hidupnya, dia rasakan, dia alami, dan dia menemukan kecerdasan Allah dalam membentuk dirinya. Sebab kalau sampai tingkat sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, itu sudah beda. Jadi, jangan heran kalau ada orang yang diproses untuk mengalami perubahan kodrat ilahi sampai mengalami yang dialami Yesus. Itu jalan sempit, sedikit orang yang masuk. Keadaan-keadaan yang benar-benar sulit. Oleh karenanya, keselamatan merupakan proses panjang yang harus dialami. Kita melihat bagaimana cerdasnya Tuhan mengubah kita.
    0 min
  • Pembentukan Manusia Ilahi
    Kalau kita tidak memiliki landasan kekristenan yang benar dan yang kokoh, maka kekristenan yang kita miliki itu rapuh, rentan. Namun demikianlah faktanya, bahwa banyak orang Kristen yang memeluk agama Kristen karena memang sudah menjadi orang Kristen sejak kecil atau menjadi orang Kristen keturunan, dan tidak sedikit juga karena pasangan hidup atau sekadar tertarik, berhubung ia mendapat bantuan dari orang Kristen atau memiliki pertemanan dengan orang Kristen. Seharusnya, kita menjadi Kristen karena kita benar-benar membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah jalan keselamatan satu-satunya. Keselamatan itu benar-benar dirasakan dan berdampak; yang tentu dampaknya atau buah dari hidup kekristenan itu adalah keberadaan kita yang tidak sama dengan orang yang tidak percaya Tuhan Yesus. 
    Sejatinya, dasar kekristenan kita bukan karena kita terlahir dari keluarga Kristen atau karena kita tertarik dengan kekristenan, atau menikah dengan orang Kristen. Melainkan karena kita benar-benar telah membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah jalan satu-satunya keselamatan. Pembuktian ini tidak hanya dengan pengertian di dalam nalar kita, di dalam pikiran kita, atau secara kognitif. Pembuktian ini harus dibangun dari pengalaman langsung dari kehidupan konkret dan kehidupan yang riil. Piciknya, banyak orang Kristen, ketika mereka merasa dengan memahami suatu doktrin yang dianggap benar, berarti mereka telah membuktikan kebenaran Allah. Sehingga, terjadi dualisme kehidupan: kehidupan beragama (pada waktu di gereja) dan segala kegiatan “rohani,” dan kehidupan keseharian yang seakan-akan bisa lepas dari Kerajaan Allah.
    Kenyataan yang tidak bisa dibantah, perdebatan-perdebatan mengenai ajaran tidak membuat orang lain menjadi Kristen, tapi justru membuat hubungan menjadi disharmoni, dan tidak jarang meruncing menjadi permusuhan. Justru di sini kita gagal menjadi saksi. Sebab, menjadi saksi itu bukan melukai dengan perdebatan. Kita bisa menjelaskan mengenai iman Kristen kita dengan kata-kata santun, tanpa bernuansa berdebat yang melukai. Memang dalam situasi tertentu, kita harus memberi penjelasan dan mungkin orang terluka. Namun, bukan sengaja mau berdebat untuk menunjukkan “pengetahuannya” akan Allah. Seiring dengan dinamika hidup dan perubahan zaman yang semua kita alami, kita harus menemukan pesan-pesan Tuhan dalam menjawab setiap peristiwa yang hadir. 
    Pengalaman hidup bersama Tuhan bukan hanya soal mukjizat atau peristiwa-peristiwa spektakuler. Memang, ada orang-orang yang menjadi Kristen karena mengalami mukjizat, tapi jumlahnya tidak signifikan. Kalau kita membaca Alkitab, Tuhan Yesus membuat mukjizat supaya orang-orang Israel dapat mendengar Firman; karena Firman itu memerdekakan, bukan mukjizat yang memerdekakan. Ternyata, dalam agama lain pun, ada mukjizat-mukjizat semacam itu, dan mereka memaknainya sebagai tindakan allah mereka, sehingga mereka yakin bahwa agama mereka adalah agama yang paling benar. Perlu ditambahkan, bahwa kuasa gelap juga bisa membuat mukjizat dan menjawab kebutuhan-kebutuhan yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tetapi ada satu hal yang tidak bisa dilakukan oleh kuasa gelap. Satu hal ini yang akan membuat kita membuktikan Allah yang benar itu siapa. Apa itu? Mengalami perubahan kodrat.
    Proses kehidupan dimana seseorang diubah menjadi seorang yang berkodrat ilahi adalah proses yang luar biasa. Ini adalah pengalaman penting yang harus dimiliki oleh setiap individu. Jangan disimpangkan dengan karunia-karunia yang pada intinya hanya karena mau memiliki pemenuhan atas kebutuhan jasmani, atau bisa berbangga diri dengan mukjizat. Pengalaman berjalan dengan Tuhan akan membuka pengertian kita untuk membuktikan siapa Allah yang benar, Juruselamat yang benar. Perubahan itu bukan hanya membuat kita jadi baik. Sebab, kalau baik, agama mana pun mengajarkan kebaikan, membuat orang bisa bermoral baik, santun, bahkan menakjubkan. Bisa membuat orang menjadi santun menurut hukum, saleh,
    0 min
  • Memaknai Momentum
    Dalam perjalanan hidup kita sebagai anak-anak Allah, sebagai umat pilihan yang dikasihi oleh Bapa, ada momentum-momentum yang penting yang Tuhan izinkan kita alami atau kita jalani, yang melaluinya Tuhan mau mengarahkan kita kepada-Nya atau mengarahkan kita kepada rencana-Nya yang mulia. Kita harus menangkap momentum itu. Yusuf, anak Yakub, mengalami banyak penderitaan hidup; dibuang ke dalam sumur, dijual menjadi budak, masuk penjara. Masa depan hidup anak Yakub ini gelap gulita. Tetapi ternyata, itu adalah momentum penting; momentum yang Tuhan izinkan dialami Yusuf untuk mengangkatnya, yang kemudian menjadi awal dari keselamatan seluruh keluarga Yakub, dan perjumpaan Yakub dengan anak kesayangannya ini. Allah memiliki banyak jalan, dan jalan-jalan-Nya sering tidak kita pahami. Tetapi, Allah tidak pernah mendatangkan kecelakaan kepada kita, sebab rancangan-rancangan-Nya adalah rancangan damai sejahtera (Yer. 29:11-13).
    Daud mengalami puncak penderitaan bukan hanya pada waktu dia menghadapi Goliat, tetapi ketika nyawanya seperti telur di ujung tanduk sebab dia dikejar, diburu nyawanya oleh Saul. Dia dilawan oleh bangsanya sendiri. Semua pasukan Saul memburu nyawanya. Tetapi ternyata, itu adalah momentum Daud sebagai latihan untuk suatu saat dia menjadi raja Israel. Demikian pula dengan gua singa Daniel, dapur perapian yang dinyalakan 7 kali lipat bagi Sadrakh, Mesakh, Abednego; semuanya adalah momentum-momentum yang mengubah hidup. Setiap kita memiliki momentum itu, kalau kita bisa membaca jejak Tuhan di dalam hidup kita. Momentum yang Tuhan izinkan kita alami, yang mengarahkan kita kepada Tuhan, kepada kemakmuran Tuhan; bukan kemakmuran duniawi. Yang mengarahkan kita kepada penggenapan rencana-rencana Allah yang indah bagi kemuliaan nama-Nya dan bagi keindahan hidup kita.
    Mari kita renungkan peristiwa-peristiwa hidup yang pernah kita alami, yang sebenarnya itu merupakan panggilan Tuhan untuk mengarahkan kita kepada rencana agung-Nya. Kalau kita telah menyia-nyiakan momentum itu, hari ini kita bisa berbalik. Masih ada kesempatan selama kita masih memiliki kehidupan ini. Ironis, banyak orang yang menyia-nyiakan momentum berharga yang merupakan berkat kekal yang Allah berikan, sehingga hidupnya tidak mengalami perubahan secara signifikan; tidak mengalami perubahan yang berarti. Rencana-rencana agung Allah yang didesain-Nya, tidak tergenapi dalam hidupnya. Sebab kalau kita menyia-nyiakan momentum yang berharga itu, maka kita tidak akan memperoleh apa-apa, bahkan tidak jarang yang malah menjadi lebih menjauh dari Tuhan. Dan ingat, momentum itu tidak terulang lagi. Itu mahal, itu kasih karunia,
    Orang yang terkonek dengan Tuhan, pasti memiliki kegentaran yang dahsyat, ia pasti tidak bisa hidup dalam dosa. Kesucian Allah akan mengejar dan “menghanguskan” dirinya. Masalahnya, kalau jujur, tidak banyak orang yang benar-benar konek dengan Tuhan. Karena hal ini dianggap tidak terlalu penting, bahkan dianggap mistik oleh teolog-teolog yang rasional. Ironi, banyak kepercayaan dan agama suku yang memiliki keyakinan yang berumur ribuan tahun, tetap eksis hari ini. Mereka bisa memaknai apa yang terjadi sebagai tindakan allah mereka, dewa mereka. Maka, mereka masih tetap setia dalam liturgi agama mereka. Tapi orang yang mengaku percaya Tuhan Yesus, malah tidak setia dan tidak memaknai tindakan Allah. 
    Tuhan Yesus berkata bahwa Ia akan menyertai kita sampai kesudahan zaman. Masalahnya, apakah kita percaya dan mengalami janji-Nya? Atau kita hanya memaknai peristiwa-peristiwa tertentu sebagai tindakan Allah? Dari cara kita memaknai seluruh peristiwa hidup dan memercayakan diri menuruti kehendak Allah, hal tersebutlah yang akan membuktikan Allah kita adalah benar. Jangan lupa, agama lain pun punya kesaksian-kesaksian seperti itu, dan mereka bisa memelihara agamanya selama ribuan tahun, bahkan ada yang berani membela agamanya dengan darah dan nyawa. Rela tidak menikah, rela memberikan harta dan nyawanya,
    0 min
  • Pesta Rohani
    Kalau Allah bisa dikenali hanya melalui sebuah sistem pendidikan, betapa kerdilnya Allah itu. Allah adalah Allah yang hidup, bukan semacam salah satu bidang ilmu pengetahuan yang menjadi objek penelitian dimana orang bisa menguasainya. Ia adalah Pribadi yang menghendaki sebuah hubungan interpersonal—hubungan antarpribadi, hubungan interaksi—dan mengalami Allah. Orang akan mengalami Tuhan secara unik dan dalam porsi tertentu. Karena pada dasarnya, pengenalan akan Allah itu bertujuan agar seseorang bisa menempatkan diri secara benar di hadapan Allah, dan menempatkan Allah secara patut di tempat yang terhormat di dalam hidupnya. Selanjutnya, orang tersebut bisa mengerti apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan, baik secara moral (tentu bicara soal kesucian), atau terkait dengan tugas.
    Setiap orang pasti memuat rancangan Allah yang khas yang harus dipenuhi. Ketika seseorang meninggal dunia, mestinya ia sudah memiliki wajah batiniah sesuai dengan yang Allah kehendaki. Kita tahu yang Allah kehendaki itu adalah rancangan semula; manusia segambar dan serupa dengan Allah. Manusia pertama yang sempurna, yang menjadi model manusia yang Allah kehendaki, yang menjadi yang sulung adalah Tuhan Yesus. Artinya, ketika kita meninggal dunia, Bapa ingin menemukan wajah Kristus di dalam hidup kita; seperti pernyataan Paulus, “hidupku bukannya aku lagi, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Pergumulan menemukan Allah ini yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata; tidak bisa dijelaskan secara lengkap dengan kalimat. Akan ada banyak pengalaman yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tetapi yang intinya kita menjadi takut akan Allah. Hati kita harus haus dan lapar akan kebenaran. Bagaimana dalam segala hal yang kita pikirkan, kita ucapkan, kita lakukan, kita mau, selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Dalam melakukan hal-hal yang besar, Tuhan juga melakukannya melalui manusia. Dalam hal ini, Tuhan memakai jawatan guru, gembala sidang, pembicara mimbar, penginjil, konselor, dan lainnya guna mengubah orang. Maka, mereka harus benar-benar hidup lebih kudus, harus benar-benar lebih rela melepaskan segala sesuatu yang dimiliki bagi pekerjaan Allah. Oleh karenanya, orang-orang tersebut harus bisa menjadi teladan. Namun, tidak hanya orang dengan jawatan gerejawi saja yang bisa mengalami Allah. Setiap orang percaya yang sungguh rindu melakukan kehendak-Nya dapat mengalami-Nya. Itulah sebabnya, kita pasti bisa mengalami dan mengenal Tuhan secara maksimal. Kalau orang benar-benar bertemu dengan Allah, pasti hidupnya akan dipenuhi oleh sukacita yang tak terkatakan. Bukan berarti hidupnya bebas dari masalah, melainkan hidupnya akan diwarnai “pesta.” Bukan “pesta” seperti pengertian umum. Pestanya adalah ketika dia bisa menyukakan hati Allah, hatinya bersukacita. Sukacita yang tentu juga tidak bisa disamakan dengan sukacita dunia ini. Kita menikmati sukacita Tuhan dan ‘berpesta’ ketika kita menyembah Tuhan dengan hati yang tulus dan menghormati-Nya.
    Orang yang benar-benar mengenal Allah, hidupnya pasti makin hari makin bersih. Jadi, kesucian itu bukan sesuatu yang mustahil, sebab Tuhan sendiri yang berkata, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Kita bisa menikmati pesta, sukacita hidup, ketika kita diberikan Tuhan kesempatan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan pertolongan. Tuhan kirimkan “Lazarus-Lazarus” di dalam hidup kita, dimana kita bisa mencurahkan hidup kita, kita seperti anggur tercurah dan roti yang terpecah. Interaksi kita dengan Tuhan itu menjadi hidup. Ketika kita bisa memberi pengampunan, doa yang tulus kepada orang yang menyakiti kita, ada sukacita, karena Tuhan pun bersukacita. Sebab, orang yang benar-benar menjumpai Tuhan, pasti menjaga perasaan sesama. Ia tidak akan melukai, tidak akan merugikan sesama. Tidak akan membongkar kejahatan orang atau kesalahan orang semena-mena, sebab masing-masing orang memiliki urusan dengan Tuhan. Apalagi memfitnah orang lain,
    0 min
  • Racun Jiwa
    Ironis, banyak orang lebih takut sanksi hukuman manusia atau sanksi hukuman pemerintah—yang karenanya mereka taat kepada hukum—daripada sanksi hukuman kekal dari Allah. Sehingga, banyak orang tidak memedulikan hukum Allah dan kehendak-Nya. Banyak orang lebih taat kepada orangtua karena sanksi atau disiplin yang bisa diberikan orangtua kepada anak-anak, daripada takut akan Allah Bapa di surga yang bisa menolak dan memberi hukuman kekal. Memang kita harus taat hukum. Orang yang menaati Allah, pasti taat hukum. Orang yang taat Allah, pasti menghormati dan taat orangtua. Tetapi lebih dari ketaatan kita kepada hukum-hukum dunia, kita harus lebih dari taat dan takut kepada Allah; lebih dari hormat kita kepada orangtua, seharusnya kita lebih hormat akan Allah. Masalahnya, sedikit sekali orang yang benar-benar memiliki hati yang takut akan Allah sehingga sungguh-sungguh memedulikan hukum Allah dan memperhatikan kehendak-Nya. Mengapa demikian?
    Pertama, karena memang Allah tidak kelihatan, bahkan kadang-kadang Allah seakan-akan tidak ada. Kedua, karena Allah tidak menunjukkan kemarahan, hukum, dan sanksi sesegera mungkin atau secepat-cepatnya. Berbeda dengan pemerintah di dunia ini. Begitu membuktikan warga melakukan kesalahan dengan delik hukum yang jelas, maka segera diproses dan dijatuhi sanksi atau hukuman. Demikian pula orangtua yang melihat anaknya melakukan pelanggaran, pasti akan segera bertindak. Tetapi, Allah tidak. Memang nanti ada hukuman, ada sanksi yang akan dijatuhkan ketika manusia diperhadapkan pada pengadilan Allah. Jadi, kita bisa mengerti mengapa Alkitab mencatat adanya “cawan murka Allah.” Mestinya itu lebih mengerikan, sebab hukuman pemerintah di dunia ini hanya beberapa belas atau beberapa puluh tahun, paling lama, seumur hidup manusia. Tetapi berbeda dengan Allah. Hukuman Allah adalah keterpisahan dari Allah; dan itu kekal. Sebenarnya ini bisa dikatakan hukuman, bisa dikatakan sanksi, atau bisa dikatakan konsekuensi.
    Pertanyaannya sekarang adalah bagaimana kita bisa memiliki perasaan gentar dan menghormati Allah sepatutnya sehingga kita bisa menggelar pemerintahan Allah dalam hidup kita, walaupun sanksi dan hukuman itu tidak dijatuhkan sekarang ini? Itu tergantung diri kita. Banyak orang yang pikirannya telah disesatkan, ditipu oleh kuasa gelap. Pemikiran itu menjadi suara yang sangat kuat yang mencengkeram jiwa seseorang dan memenuhi seluruh syaraf dirinya bahwa “hidup suci itu tidak bisa; sempurna itu mustahil, Allah tidak kelihatan, Allah tidak peduli.” Pemikiran tersebut meracuni jiwa, dan membuat kita menjadi ceroboh. Apakah kita membuat Allah itu hidup di dalam kehidupan kita, atau seakan-akan mati dalam hidup kita, hal tersebut tergantung pada keputusan kita. 
    Allah memang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Kalau kita memohon ampun, Tuhan pasti mengampuni. Akan tetapi, Tuhan menghendaki kita bukan hanya membereskan perbuatan dosa yang kita lakukan, tapi Tuhan juga menghendaki kita membereskan potensi dosa yang menggerakkan kita berbuat dosa, supaya jangan berbuat dosa lagi. Kepada perempuan yang nyaris dilempari batu karena kedapatan berzina, Tuhan Yesus berkata, “Jangan berbuat dosa lagi.” Kita dapat menemukan kenyataan anugerah Allah dimana Allah memampukan kita untuk hidup tidak bercacat tidak bercela. Jika Tuhan menyatakan kemungkinan tersebut, berarti hal itu dapat dicapai. Jadi, tergantung kita, seberapa kuat gairah dan hasrat kita mencapai hal tersebut. Semakin kuat hasrat kita, maka kita akan melihat progres tersebut. Selain melihat dan mengalami progres tersebut, kita makin melihat orientasi ke depan, kesucian macam apa yang Allah kehendaki. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata di Lukas 14:33, “Kamu harus melepaskan dirimu dari segala milikmu.” “Milik” bukan hanya mencakup harta, melainkan juga hasrat-hasrat kita. Jadi, kita harus kita mengembangkan diri dengan menggelorakan gairah ini. 
    Kesucian orang percaya tidaklah terukur dari sekadar bisa melakukan hukum,
    0 min
  • Memiliki Koneksi yang Benar
    Di dalam kehendak bebas yang Allah berikan kepada masing-masing individu, Allah bukan hanya memberi kebebasan kepada manusia tentang apa yang patut dilakukan dalam kaitannya dengan moral apa yang baik dan jahat, tetapi Allah juga memberi kebebasan kepada siapa manusia menyembah, memuja, dan menjadikan sesuatu sebagai sesembahan; atau yang kita kenal sebagai allahnya atau dewanya. Dalam fakta kehidupan, tidak bisa dibantah dimana manusia dapat menciptakan allahnya masing-masing, yang kepadanya seseorang memuja, menyembah, mengadakan seremonial atau ritual atau pengabdian. Dan hal itu dapat kita jumpai dalam berbagai bangsa dan suku di dunia ini, sehingga ada banyak agama, ada banyak kepercayaan, ada banyak ritual dan seremonial. Allah memberi manusia kebebasan untuk bertindak melakukan segala sesuatu, walaupun tentu dalam keterbatasan sebagai makhluk ciptaan yang tidak mungkin dapat menyamai Allah. Tetapi dalam keterbatasannya, manusia dapat menentukan nasibnya sendiri, dapat menentukan keadaannya sendiri, dan itu nilai kesempurnaan yang dimiliki manusia dimana manusia dapat menentukan keadaan nasib sendiri.
    Dalam lingkungan orang Kristen, mereka dapat membangun berbagai doktrin dan ajaran yang di dalam atau melaluinya, mereka dapat menciptakan atau membangun Allah, Yesus, dan Roh Kudus versi masing-masing. Di dalam sejarah gereja, hal itu tidak terbantahkan. Mulai dari yang paling mistis, sampai yang paling rasional, hadir dalam sejarah pemikiran gereja. Pembangunan gambaran tentang Allah itu berlangsung sampai hari ini. Persoalan yang tidak bisa kita pecahkan adalah mengapa Allah seperti diam dan membiarkan? Atau paling tidak, mengapa Tuhan tidak menghambat, tetapi membiarkannya hingga bisa berumur ratusan bahkan ribuan tahun? 
    Di situasi yang kacau seperti hari ini, mari kita menemukan Tuhan secara pribadi. Tidak mungkin Tuhan berdiam diri. Kalau secara umum seakan-akan Allah diam, tetapi kalau kita dengan sungguh-sungguh mencari wajah-Nya dengan tekun, pasti kita akan menemukan Tuhan. Tidak mungkin Allah membuat syarat akademis untuk menemukan Dia, seperti misalnya harus memiliki pendidikan formal atau sertifikasi teologi tertentu. Allah memiliki cara yang khusus dalam berurusan dengan masing-masing individu, yang pada akhirnya masing-masing individu akan memiliki kesaksian hidup bahwa Allah itu nyata dan hidup di dalam dirinya. Dampak dari hal tersebut akan terasa nyata seiring waktu.
    Maka, menjadi hal yang mutlak bahwa kita harus hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah secara pribadi dalam hidup masing-masing. Sebagaimana Yesus melakukan kehendak Bapa, itu lebih sekadar melakukan hukum dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Maka, kalau kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus, kita juga menemukan apa yang Allah ingini dalam hidup kita, apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita, dan kita melakukan kehendak-Nya tersebut secara spesifik sesuai dengan pergumulan, persoalan hidup kita masing-masing. Oleh karena itu, pilar utamanya adalah memiliki koneksi yang benar dengan Allah. Hari ini banyak orang Kristen yang tidak punya koneksi yang benar dengan Allah. Mereka memiliki koneksi dengan gereja, dengan agama Kristen, dengan liturgi Kristen, tapi tidak konek dengan Allah secara pribadi. Buktinya apa? Salah satu di antaranya adalah takut mati.
    Sedangkan ciri orang yang memiliki koneksi yang benar dengan Tuhan: pertama, takut berbuat dosa. Semakin hari, orang tersebut makin menjauhi dosa dan menjadi suci. Kedua, orang yang konek dengan Tuhan adalah orang yang tidak terikat dengan dunia. Ketiga, orang yang sungguh-sungguh konek dengan Tuhan adalah orang yang rela berbuat apa pun demi pekerjaan-Nya. Jadi, memang hidupnya itu hanya untuk mengabdi. Maka, kalimat “baik kau makan atau minum atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah,” (1Kor. 10:31) itu bukan hal yang sulit. Yang keempat, rela dimiliki Allah. Terakhir, ia tidak takut mati,
    0 min
  • Testimoni Dunia
    Kalau di dunia ini ada barang bagus dan dibuktikan oleh orang-orang melalui testimoni; melalui kesaksian bahwa barang itu bagus, maka banyak orang akan berusaha memperoleh dan memilikinya. Kemudian, barang itu menjadi mahal, apalagi kalau sudah mulai langka. Demikian juga dalam masa pandemi ini., jika ada obat yang dinyatakan paling ampuh untuk mematikan virus COVID-19, maka obat tersebut menjadi barang rebutan dan akhirnya langka, sehingga tidak mengherankan kalau harga obat tersebut bisa dijual berkali lipat, namun orang tetap bersedia membelinya. Kalau stok di Indonesia habis, orang mencarinya di luar negeri, karena barang itu dianggap, dipercayai bagus, dan dibuktikan oleh orang-orang tertentu yang mempunyai pengalaman menggunakan obat tersebut. Jika obat atau barang tertentu—apakah itu kendaraan, jam tangan, tas, perkakas yang lain—dikenal sebagai baik, bagus, ada testimoni, maka barang tersebut akan dicari orang dan diusahakan untuk dimiliki dengan harga berapa pun.
    Bagaimana dengan Tuhan? Ironis, di akhir zaman ini orang semakin tidak mencari Tuhan. Hal ini tidak mengherankan, sebab Alkitab sendiri telah memberi kesaksian bahwa pada hari akhir, Tuhan makin tidak dicari dan surga makin tidak dirindukan. Ibarat barang, Tuhan dan Kerajaan-Nya telah menjadi murah. Tidak dicari, tidak dibutuhkan, tidak ada kesaksian atau testimoni yang jelas bahwa barang itu bagus. Ironis sekali. Inilah yang membuat banyak orang menjadi murtad, banyak orang tidak mencari Tuhan dengan sungguh-sungguh, banyak orang meninggalkan Tuhan. Seperti yang dikatakan dalam Matius 24:13-14; 2 Timotius 3:1-5, dan banyak lagi ayat Firman Tuhan yang menunjukkan bahwa dunia sebelum berakhir akan menjadi semakin jahat. Itulah yang disebut semangat nihilistik (nihil); tidak perlu ada. Negara Barat yang dahulu mengirimkan utusan-utusan Injil ke Asia, ke Timur—termasuk ke Indonesia—sekarang menjadi masyarakat yang nihilistik. 
    Memang mereka berusaha menghargai nilai-nilai kemanusiaan, menjadi orang-orang humanis; orang-orang yang menghargai hak manusia (human rights), tetapi Allah tereliminasi dan terbuang karena sudah dianggap bukan “barang bagus,” bukan sesuatu yang berguna. Inilah pengaruh jahat yang memengaruhi banyak orang, dan juga sedikit banyak memengaruhi orang percaya. Bahkan teolog, pendeta, aktivis gereja pun tidak sungguh-sungguh yakin bahwa Allah itu berharga. Apa buktinya? Buktinya, mereka masih menaruh kebahagiaan pada hal lain, masih menaruh penghargaan kepada barang lain, dan menganggap bahwa barang itu yang melengkapi hidup. Dan tanpa barang itu, hidupnya menjadi kurang utuh. 
    Kalau Tuhan berkata, “Kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” berarti kita harus yakin bahwa satu-satunya Tuan yang dapat melindungi kita, satu-satunya Tuan yang dapat menaungi kita, satu-satunya Tuan yang sungguh-sungguh dapat menjadi kebahagiaan dan sukacita kita itu, hanya Tuhan. Masalahnya, Tuhan tidak kelihatan dan tidak ada testimoni bahwa ikut Tuhan itu membahagiakan. Apalagi kalau melihat rohaniwan pun ternyata melakukan pelanggaran moral. Apakah soal uang, soal seks, atau soal-soal yang lain. Dan itu mengisyaratkan bahwa Tuhan yang dipercayai rohaniwan ini, tidak membahagiakan atau kurang membahagiakan. Mengerikan! Kita bersyukur karena Tuhan berbelas kasihan kepada kita. Kita disadarkan atas kesalahan yang kita lakukan; kemerosotan, kemunduran kerohanian kita, dan kita tentu dipanggil untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan.
    Maka, kita harus berbalik kepada Tuhan. Tuhan bukan hanya berguna dan bermanfaat untuk menolong di kala susah, melainkan Dia segalanya dalam hidup kita. Tidak ada yang kita butuhkan selain Tuhan. Sebenarnya begitu. Itulah sebabnya Pemazmur bisa mengatakan, “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya;” “Seperti rusa yang merindukan sungai demikianlah jiwaku merindukan Tuhan.” Kiranya kita memiliki kehausan akan Allah,
    0 min
  • Nyanyian Hidup
    Banyak orang beragama secara tidak matang atau tidak dewasa. Hal ini disebabkan oleh cara memandang yang salah terhadap Allah; tidak mengenal Allah. Karena tidak mengenal Allah yang benar, maka beragamanya tidak dewasa, interaksinya dengan Allah tidak proporsional. Sebelum ada agama Samawi, yaitu agama yang diakui sebagai pewahyuan dari Allah, manusia dari berbagai suku bangsa membangun agama berlandaskan sudut pandang mereka masing-masing. Karena memang mereka tidak mengenal Allah yang sejati, maka dewa yang mereka percayai itu pun desain mereka sendiri. Mereka memandang ilah atau dewanya itu seperti manusia. Mereka berusaha melakukan ibadah dengan menggunakan sarana seremonial atau ritual. Mereka berpikir bahwa ilah atau dewa yang mereka sembah itu menyukai persembahan-persembahan, seperti layaknya manusia. Mereka menyembelih binatang, bahkan juga mengorbankan manusia. Tidak jarang, bayi pun dipersembahkan kepada dewa mereka. Jadi kalau mereka sudah melakukan seremonial atau upacara agama, mereka sudah merasa memenuhi kewajiban sebagai umat dalam beribadah atau berbakti kepada ilah atau dewanya. Tentu kemudian mereka merasa berhak menerima perlindungan dan berkat-berkat jasmani.
    Kalau dalam kehidupan bangsa Israel, Allah mengajarkan ibadah yang mirip dengan agama-agama suku atau agama-agama kafir, karena memang kemampuan manusia atau bangsa Israel waktu itu hanya demikian. Dengan cara ibadah mereka yang masih bersifat seremonial tersebut, yang penting mereka bisa mengekspresikan hormat dan cintanya kepada Elohim Yahweh, jadi diterima; menyanyi, menari, mengorbankan binatang sebagai kurban persembahan. Tetapi setelah Yesus, Anak Tunggal Allah, datang ke dunia mengajarkan kebenaran, manusia—khususnya umat pilihan—harus mulai mengerti bagaimana menyembah Allah dengan benar, bagaimana “beragama” secara dewasa. Kalimat yang tepat: ber-Tuhan secara dewasa; ber-Tuhan secara matang. Karena, Tuhan Yesus memperkenalkan Bapa; siapa dan bagaimana Bapa itu. Dalam Perjanjian Baru, umat pilihan dapat mengenal siapa dan bagaimana Allah yang benar itu. Yang penting, bagaimana kita menempatkan diri dalam posisi dan hierarki yang benar. Hal ini menyangkut seluruh sikap hati dan perilaku, di mana pun, kapan pun, serta melalui segala sesuatu yang kita pikirkan, ucapkan, dan lakukan.
    Sebelumnya, tidak ada yang mengenal Allah. Seperti yang dikatakan dalam Yohanes 1:17-18, tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah. Anak Allah yang memperkenalkan-Nya. Di dalam Matius 11:25-27, juga dikemukakan, tidak seorang pun mengenal Bapa selain Anak, dan kepada siapa Anak itu memberitahu atau mengajarkannya. Tuhan mengatakan, ada waktunya, ada saatnya orang tidak menyembah di Yerusalem atau di Gunung Gerizim atau di mana-mana, tetapi dalam Roh dan kebenaran. Ini ibadah yang tidak dibatasi oleh ruangan, waktu, serta cara-cara tertentu secara harfiah. Kalau orang Yahudi memiliki kiblat untuk bersembahyang—yaitu Yerusalem—kita sudah tidak lagi terikat demikian. Orang Yahudi punya jam-jam sembahyang, sedangkan kita tidak. Kalau orang Israel, memiliki Taurat, hidup mereka diatur oleh tatanan hukum yang tertulis. Tetapi orang percaya diatur oleh hati dan perasaan Allah sendiri, melalui Roh Kudus yang dimeteraikan di dalam hidup umat pilihan; tentu lewat proses didikan supaya manusia tidak kehilangan kehendak bebas.
    Tetapi manusia (dalam hal ini umat pilihan) dididik untuk memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Karena memang pada mulanya, Allah tidak menciptakan manusia dengan format hidup menurut tatanan hukum yang tertulis, melainkan hukumnya adalah Allah sendiri, supaya hukum itu menjadi kodrat di dalam diri manusia; sehingga manusia dalam segala hal yang dilakukannya selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itu beragama yang matang; itu beragama yang dewasa. Yang Tuhan lihat adalah batin setiap individu; yang Tuhan nilai adalah perbuatannya setiap hari. Jadi, nyanyian dan tarian orang percaya adalah segenap kehidupannya,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…