Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Manuver Iblis
    Oleh ilham Roh Kudus, Rasul Petrus menasihati jemaat, “Sadarlah dan berjaga-jagalah, lawanmu si Iblis berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama,” (1Ptr. 5:8-9). Iblis itu eksis sekali. Kalau dikatakan agar orang percaya sadar, berjaga-jaga, sebab Iblis—lawan kita—berjalan keliling sama seperti singa yang mencari orang yang dapat ditelannya, itu berarti oknum ini terus-menerus bermanuver. Tentu saja dengan kecerdikannya, ia tahu bagaimana menjatuhkan orang-orang percaya. Iblis tahu strategi apa yang tepat untuk manusia pada zaman-zaman tertentu. Secara global, artinya untuk dunia pada masanya, ia memiliki strategi. Untuk manusia per individu, ia pasti juga memiliki strategi. Bagaimana menjatuhkan manusia di abad ke-1, berbeda dengan strateginya manusia di abad ke-2. Berbeda lagi untuk manusia yang hidup di abad ke-4, apalagi di abad modern sekarang ini. Iblis dapat memiliki perubahan cara kerja sesuai dengan zamannya.
    Memang Tuhan memakai manusia pada zamannya; bagaimana seorang hamba Tuhan dipakai Tuhan di zamannya untuk melawan penyesatan. Tetapi cara hamba Tuhan ini, doktrinnya, pengajarannya belum tentu bisa dijadikan sebagai sarana untuk melawan kuasa gelap atau manuvernya di zaman lain. Jadi, sangatlah bodoh, kalau kita tersandera oleh pandangan teolog masa lalu. Sejatinya, kita harus tersandera oleh Roh Kudus dan Alkitab dalam interpretasinya yang dinamis. Sebagaimana ada dinamika dalam perubahan hidup manusia, ada dinamika cara kerja Iblis menjatuhkan manusia, juga ada dinamika Roh Kudus menuntun orang percaya menginterpretasi Alkitab supaya interpretasi itu atau pengajaran itu efektif di zamannya. Maka, kita harus selalu membuka diri untuk bersekutu dengan Tuhan, mempelajari Alkitab dengan menggunakan logika yang maksimal dalam pimpinan Roh Kudus, supaya teologi kita berkembang. Jadi, kita harus tidak berhenti bertumbuh dalam Tuhan, sebab hanya Tuhan dan Firman-Nya yang tertulis dalam Alkitab itu bisa menghadapi Iblis.
    Jadi, setiap kita harus sadar bagaimana Iblis itu terus bermutasi. Jangan anggap ringan. Jika Iblis berani melawan Allah Bapa, apalagi kita. Jangan merasa diri kuat dan teguh. “Hati-hati, jangan kamu sampai jatuh,” demikian firman Tuhan. Di sini kita harus benar-benar melekat dengan Tuhan. Mari kita kembali melihat kehidupan Yesus yang kemudian dikenakan oleh orang-orang percaya yang ikut Tuhan pada zamannya. Gereja mula-mula adalah gereja yang memperagakan hidup Yesus, sampai orang menyebut mereka “Kristen.” Bukan karena beragama Kristen—saat itu belum ada agama Kristen—melainkan karena kehidupan mereka yang seperti Gurunya, Tuhan Yesus Kristus. Terbalik dengan sekarang ini, masyarakat dipaksa memanggil kita Kristen karena kita beragama Kristen. Menjadi pertanyaan untuk kita renungkan, “Apakah kelakuan kita sudah seperti Yesus? Apakah kita mengenakan kehidupan Yesus sebagai senjata terang?” Padahal, untuk melawan manuver kuasa Iblis hanya ada satu cara, yaitu memiliki pikiran, perasaan Kristus (Flp. 2:5-7).
    Pada dasarnya, pemberontakan banyak orang hari ini berangkat dari pengingkaran terhadap Allah atau mengingkari Allah. Dalam konteks hidup orang percaya, mengingkari Allah bukan hanya berarti tidak memercayai keberadaan Allah seperti orang-orang ateis. Mengingkari keberadaan Allah artinya tidak mengaku, tidak membenarkan Allah sebagai Khalik, dan manusia sebagai ciptaan yang harus menempatkan posisi atau hierarki yang benar. Seseorang bisa melakukan seremonial agama, memercayai adanya Allah, tetapi masih berstatus mengingkari Allah. Sangatlah mudah mengakui bahwa Allah itu ada, Allah menciptakan langit dan bumi. Yang sulit adalah benar-benar menerima bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi (termasuk kita) adalah Allah memiliki kehendak dan rencana atas ciptaan-Nya (termasuk kita); dan sebagai ciptaan...
    0 min
  • Kenyamanan, Keamanan, dan Kemakmuran yang Ideal
    Kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran yang ideal adalah kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran dalam bingkai kesucian dan kekudusan Allah. Dimana dalam kenyamanan, keamanan, serta kemakmuran yang dimiliki seseorang, ia hidup dalam persekutuan dengan Allah, dalam pengabdian kepada Allah, hidup di dalam kekudusan dan kesucian-Nya. Irama ini tidak mudah terwujud di dalam kehidupan seseorang. Jujur saja, jarang sekali orang yang bisa memiliki kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran yang benar ini. Sebab pada umumnya, kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran diukur secara materi dalam jumlah dan kualitasnya. Maka, orang berusaha untuk memiliki sebanyak-banyaknya yang orang lain juga miliki, dalam kuantitas yang lebih besar dan kualitas yang lebih tinggi.
    Dunia kita ini adalah dunia yang sudah terkutuk dan terhukum. Jadi, masuk zaman Perjanjian Baru, dimana Allah menyediakan Kerajaan-Nya—dan Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, melainkan kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus—maka kita harus masuk di dalam Kerajaan Allah tersebut. Kalau bangsa Israel berorientasi pada Kerajaan Allah secara duniawi, tetapi umat Perjanjian Baru, tidak lagi dituntun oleh hukum, tetapi oleh Roh Kudus untuk dapat berpikir, berperasaan seperti Tuhan Yesus; dimana Tuhan Yesus menjadi hukumnya. Jadi sangat keliru kalau orang Kristen kembali pada konsep Kerajaan Allah Perjanjian Lama yang masih dalam bingkai duniawi. Ironis, banyak orang Kristen yang masih memiliki bingkai berpikir umat Perjanjian Lama; Doa Yabes, perpuluhan, persembahan buah sulung, seremonial. Bukan tidak boleh melakukan hal-hal tersebut, tapi tekanannya harus sudah dalam Roh dan kebenaran. Karena kesalahan ini sudah begitu parah selama puluhan bahkan ratusan tahun, maka banyak orang—termasuk gereja—tidak menemukan kekristenan yang sejati.
    Kita harus memiliki bingkai berpikir yang baru sebagai umat Perjanjian Baru. Orang percaya yang masih berbingkai umat Perjanjian Lama, pasti memburu kenyamanan, keamanan, dan kemakmuran secara duniawi. Tujuan umat Perjanjian Baru bukan pemerintahan Allah secara dunia seperti bingkai kehidupan bangsa Israel, melainkan Kerajaan Allah secara rohani dalam bingkai pemerintahan Allah, kesucian Allah dimana umat pilihan-Nya tidak harus berdarah daging keturunan Abraham, tetapi keturunan Abraham secara iman. Hukumnya bukan hukum Taurat, melainkan Tuhan sendiri; harus menjadi seperti Yesus, berperilaku seperti Yesus yang adalah model Anak Allah. Kalau kita melihat kehidupan banyak orang Kristen hari ini pada umumnya, mereka berkulit Kristen, namun dalamnya Perjanjian Lama. Maka Tuhan Yesus berkata, “Tetapi anggur yang baru disimpan orang dalam kantong yang baru pula, dan dengan demikian terpeliharalah kedua-duanya” (Mat.9:17). Kantong tempat menyimpan anggur dikenal dengan istilah “kirbat.” 
    Anggur baru harus taruh di kirbat yang baru. Kalau anggur baru dimasukkan kirbat tua yang terbuat dari kulit, maka kirbat tersebut bisa pecah atau bocor. “Anggur baru” di sini adalah kebenaran di dalam Injil, yang harus dimasukkan dalam bingkai pemikiran umat Perjanjian Baru. Sayang sekali, banyak orang Kristen yang bingkai berpikirnya itu masih bingkai berpikir umat Perjanjian Lama. Maka, tidak heran khotbah-khotbah yang disampaikan itu kutipan-kutipan Perjanjian Lama yang secara mentah dimaknai sebagai kebenaran yang bisa dikenakan untuk umat Perjanjian Baru. Memang Perjanjian Lama itu kaya dengan hikmat. Tetapi apa yang diajarkan Yesus, lebih dari hikmat-hikmat yang diberikan kepada umat Perjanjian Lama. Yang karenanya Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, berkata, “Banyak nabi-nabi dan orang-orang benar ingin mendengar apa yang kamu dengar dan melihat apa yang kamu lihat.” 
    Karena orientasi berpikir umat Perjanjian Lama masih pada duniawi dan hukum Taurat merupakan bingkai berpikirnya, maka orang Yahudi disebut menyangkal Allah kalau mereka menyembah allah lain dan tidak mengikuti Taurat.
    0 min
  • Kebocoran Hidup
    Tidak sedikit orang percaya yang bertanya-tanya, “Mengapa begitu sulit untuk bisa mengalami Tuhan atau merasakan hadirat Tuhan? Jangankan dalam keseharian, dalam doa pun rasanya Tuhan tidak terjangkau, Tuhan tidak terjamah.” Hal ini telah membuat banyak orang merasa bahwa Tuhan memberi kasih karunia atau anugerah khusus terhadap orang-orang tertentu untuk bisa mengalami Tuhan dan merasakan hadirat Tuhan. Sedangkan bagi jemaat, tidak bisa mengalami Tuhan. Tentu saja itu pendapat yang keliru. Lalu, apa masalahnya? Mengapa kita bisa begitu sulit merasakan hadirat Tuhan? Rasanya Tuhan itu sepertinya tidak ada, seakan-akan tidak ada. Sekalipun seorang hamba Tuhan yang sudah berkhotbah ribuan kali, bahkan sudah sering mengusir setan, mendoakan orang sakit atau melakukan mukjizat, tetapi di dalam hati kecil masih muncul pertanyaan: “Mengapa rasanya Tuhan tidak ada?” Sejujurnya, dalam doa pribadi juga kadang-kadang kita merasakan Tuhan tidak terjangkau. 
    Ternyata masalahnya adalah karena terjadinya banyak kebocoran di dalam hidup kita. Kapan itu terjadi? Ketika kita melakukan hal-hal yang Tuhan tidak kehendaki kita lakukan—walaupun itu bukan sesuatu yang melanggar moral, walaupun itu sesuatu yang sederhana dalam standar umum dan bukan sesuatu yang salah—tetapi kalau Tuhan tidak ikut menikmatinya, Tuhan tidak hadir; dalam arti Tuhan tidak bersama dengan kita melakukan hal tersebut, itu berarti ada kebocoran dalam hidup kita. Maka, mestinya hal-hal yang tidak perlu kita lakukan, jangan kita lakukan. Banyak hal yang bisa dan seharusnya kita hindari seperti: pikiran-pikiran yang tidak patut yang muncul di dalam pikiran kita, keinginan-keinginan yang muncul dalam pikiran kita. Sebenarnya ini merupakan persiapan untuk ada di hadirat Allah yang Mahakudus. 
    Oleh karenanya, di dalam hidup kita setiap hari, kita tetap harus melakukannya di hadirat Allah—dengan catatan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan itu bersama dengan Tuhan, Tuhan berkenan. Sebab segala sesuatu yang kita lakukan itu harus merupakan pelayanan dan pengabdian kita kepada Tuhan, bukan sesuatu yang terpisah dari hadirat Allah. Itu bagian dari pengabdian dan pelayanan kita bagi Tuhan. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah” (1Kor. 10:31). Itu berarti apa pun yang kita lakukan, kita lakukan di dalam hadirat Bapa di surga. Ini adalah kesempatan yang sangat berharga, jangan anggap ini sebagai beban atau tekanan sehingga kita terpaksa melakukannya. Ini untuk keselamatan kekal, keselamatan abadi kita. Di sini banyak orang menganggap remeh, sehingga akhirnya jadi sembarangan hidup. 
    Maka, untuk menghindari kebocoran tersebut, kita harus mempersempit ruang hidup kita, artinya agar kita tidak sembarangan memproduksi keinginan atau kehendak yang itu melahirkan gairah yang membawa seseorang kepada kebinasaan. Ini tergantung kita, bukan tergantung Tuhan, karena Tuhan tidak menetapkan seseorang binasa atau seseorang masuk surga secara sepihak. Sebagaimana Adam dan Hawa diberi kehendak untuk menentukan nasib kekalnya bahkan nasib seluruh keturunannya, demikian pula kita. Kita harus mempersempit ruang hidup kita; artinya kita harus mengalokasi pikiran, perasaan kita untuk memproduksi kehendak-kehendak yang hanya sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Perjuangan yang terus-menerus harus kita lakukan supaya kita terbiasa untuk memiliki gairah yang benar. Gairah yang sesuai dengan yang dikatakan Tuhan Yesus: gairah mengumpulkan harta di surga, bukan di bumi, seperti yang ditulis dalam Kolose 3:1-3 yaitu, “Mencari dan memikirkan perkara-perkara yang di atas.”
    Oleh sebab itu, kita harus menghindari keadaan kita yang bisa menyimpang karena kebocoran-kebocoran yang tanpa sadar kita lakukan. Maka, kehendak bebas yang kita miliki ini harus kita ciptakan untuk kesukaan hati Allah.
    0 min
  • Berkat Kekal
    Satu hal yang harus membuat kita benar-benar gentar adalah jika kita meninggal dunia tanpa memiliki Allah yang benar. Banyak orang beragama—dalam hal ini konteksnya adalah orang-orang Kristen—yang merasa sudah memiliki Allah yang benar karena sudah beragama Kristen, karena sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, dan sudah terbiasa dididik, yakin sudah selamat, dan yakin kalau mati masuk surga. Ini adalah penyesatan yang benar-benar sukses dari kuasa gelap dari abad ke abad, dimana kekristenan menjadi keberagamaan, dan orang yang beragama merasa sudah memiliki Allah. Belum tentu orang beragama berarti sudah memiliki Allah. Kalau di Perjanjian Lama, bangsa Israel memiliki Allah dan dimiliki Allah kalau mereka hidup di dalam Taurat. Kalau mereka tidak melakukan hukum Taurat, mereka tidak dimiliki Allah atau tidak memiliki Allah atau terhukum: dibiarkan kalah dalam berperang, dibiarkan tidak memiliki panen yang berhasil, dibiarkan terkena wabah, atau bahkan Allah sendiri mendatangkan bencana wabah penyakit dan berbagai tulah. Kalau Allah berfirman, “Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku,” (Kel. 20:3) artinya mereka harus hanya menyembah Elohim Yahweh dan melakukan hukum Taurat, mengadakan kebaktian di Kemah Suci atau Bait Allah. Jika tidak, mereka bukan umat yang diberkati. Mereka bisa mendapat hukuman. Porsi berkat yang mestinya disediakan bagi bangsa itu, tidak diberikan. 
    Bagaimana dengan kehidupan orang percaya? Apakah sama dengan bangsa Israel? Kekristenan memiliki standar yang lebih tinggi. Jelas, tidak boleh ada allah lain. Allah kita sama dengan Allahnya bangsa Israel: Elohim Yahweh. Kita mengenal bukan hanya Allah Israel, Elohim Yahweh, satu-satunya Allah yang benar, seperti yang dikatakan di dalam Yohanes 17:3, tapi juga Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus—yang menjadi Tuhan, yang akan menjadi Raja, mewujudkan teokrasi yang sempurna atau pemerintahan Allah nanti di langit baru bumi baru. Tapi bagaimana standarnya orang percaya untuk memiliki Allah? Apakah cukup dengan berbuat baik, melakukan hukum seperti bangsa Israel? Tidak! Sebab, bagi orang percaya bagiannya adalah berkat kekal, yaitu kesempurnaan seperti Bapa atau serupa dengan Yesus atau dikembalikan ke rancangan semula. Kalau bangsa Israel dibawa ke Kanaan yang berlimpah susu dan madu, tetapi kalau orang percaya dibawa ke langit baru bumi baru; Kanaan Surgawi. Kalau bangsa Israel memiliki alat untuk membuat mereka tertib yaitu hukum-hukum atau Taurat, tapi kalau orang percaya memiliki Roh Kudus yang menuntun kita kepada seluruh kebenaran.
    Bagi orang percaya, kalau hanya tidak ke dukun, kalau hanya tidak pindah agama, kalau hanya tidak menyembah allah lain atau sinkretis, itu bukan berarti sudah punya Allah. Allah menghendaki kita dimiliki Dia tanpa ikatan siapa pun dan apa pun. Bukan hanya menyembah allah atau dewa lain, bukan hanya terlibat dalam perdukunan atau okultisme, tetapi ketika kita memiliki keterikatan dengan sesuatu atau seseorang yang melebihi keterikatan kita dengan Tuhan, berarti kita telah tidak setia atau berselingkuh. Maka, demi kecintaan dan hormat kita kepada Tuhan, bukan tidak mungkin kita bisa mengorbankan apa pun dan siapa pun. Bersyukur karena Allah itu sabar luar biasa dalam menuntun kita, tapi jangan kita menyia-nyiakan kesabaran Allah dengan melecehkan-Nya. Makanya, setiap kali kita melakukan hal yang kira-kira tidak patut, walaupun itu kelihatannya wajar di mata manusia, kita harus menyelesaikannya di hadapan Allah. Setiap hari kita harus menyelesaikan; “kita harus sudah selesai sebelum selesai,” artinya kita sudah selesai sebelum mati.
    Kita tidak akan bisa memiliki Allah kalau masih memiliki yang lain, dan Allah pantas untuk dihormati cara demikian sebab Dia besar, agung, mulia, kudus. Juga Dia pantas dipercayai walaupun tidak ada bukti-bukti kehadiran-Nya, bahkan kadang-kadang ada tindakan-tindakan Allah yang seakan-akan melukai kita atau kita menghadapi keadaan-keadaan dimana seakan-akan Allah ...
    0 min
  • Memasuki Area Ber-Tuhan yang Benar
    Di negara-negara yang pemerintahannya otoriter atau konsekuen menegakkan hukum, kita menjumpai kenyataan bagaimana masyarakat taat hukum. Tentu kehidupan masyarakat seperti ini menjadi tertib, bahkan sangat tertib. Dan itu menjadi irama hidup masyarakat, sehingga pada akhirnya, dengan tanpa paksaan mereka telah memiliki sebuah kebiasaan hidup taat hukum. Tentu salah satu alasan mengapa mereka taat hukum adalah karena hukuman, sanksi terhadap kesalahan diterapkan secara konsekuen. Demikian juga kalau di dalam keluarga dimana sang ayah atau sang ibu adalah orangtua yang tegas—bisa juga keras, bahkan mungkin juga otoriter—anak-anak menjadi patuh dan taat. Dan ketaatan itu menjadi irama hidup sejak kanak-kanak sampai dewasa. Tentu salah satu pemicu alasan mengapa taat adalah karena takut dihukum. 
    Bagaimana sikap kita terhadap Allah? Di dalam 1 Petrus 1:16, firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Ayat sebelumnya tertulis, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya.” Yang tentu dengan konsekuen memberikan hukuman dan sanksi terhadap orang yang tidak taat atau orang yang salah, “maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.” Tetapi Allah tidak langsung pukul kalau kita salah. Itu masalahnya. Jadi, masing-masing kita dapat memandang Allah sebagai Allah yang konsekuen menegakkan hukum, dan akan memberikan hukuman atau sanksi kepada kita; atau kita memandang Allah sebagai Pribadi yang plin-plan dan tidak tegas. Tetapi semua yang kita lakukan, ada perhitungannya. Tidak ada yang lolos dari perhitungan Allah. Kebenaran ini seharusnya menggetarkan hati kita.
    Kita hidup di dalam satu pemerintahan yang memiliki tatanan. Di dalam tatanan itu, tentu ada panggilan untuk taat hukum, ada disiplin, ada hukuman atau sanksi terhadap pelanggaran. Semua hal yang kita lakukan, harus kita pertanggungjawabkan. Setiap kata saja harus dipertanggungjawabkan, apalagi perbuatan-perbuatan kita. Karena Tuhan tidak bertindak langsung, banyak orang menjadi ceroboh; melakukan segala sesuatu dengan sembarangan, mengucapkan kata-kata dengan sembarangan. Padahal, satu kata saja harus dipertanggungjawabkan, apalagi kalimat, apalagi sebuah pernyataan dari banyak kalimat yang menjadi data atau cerita. Di sini kita sering meleset. Ketika malam hari waktu kita mau tidur dan memeriksa diri, kita baru sadar bahwa ada kata yang tidak perlu kita ucapkan maupun kalimat yang tidak perlu kita kemukakan. Ketika itu, baru kita menyesalinya. Sejujurnya, kadang-kadang sulit menjadi lebih baik karena kita sudah punya irama yang salah.
    Memang ada orang-orang yang didisiplin Tuhan karena kesalahan yang dilakukannya, tetapi itupun berlaku bagi mereka yang mengasihi Dia. Bagi mereka yang tidak mengasihi Allah, seakan-akan dibiarkan untuk melakukan apa pun dan mereka tampak aman. Dengan setiap kata yang diumbar sembarangan, dengan setiap cerita bohong yang diungkapkan, mereka merasa aman. Tapi sesungguhnya, ada perhitungannya nanti. Semua ada perhitungannya di balik kubur pada pengadilan Allah. Kita harus sendiri menjaga diri kita agar jangan sampai berbuat salah dan akhirnya beroleh malu di hadapan-Nya. 
    Oleh sebab itu, kita harus belajar, sampai kita memiliki hati yang takut akan Allah. Sehingga, kita dapat memandang dan memperlakukan Allah sebagai Pribadi Agung yang berdaulat, yang kepada-Nya kita takut. Sebab, dengan membangun sikap yang benar terhadap Allah dan memperlakukan Allah secara benar dan menempatkan diri kita secara benar pula di hadapan Allah, maka kita bisa memasuki area ber-Tuhan yang benar. Kalau seseorang hidup di dalam dosa atau memiliki keinginan-...
    0 min
  • Alarm
    Roh Kudus menggunakan saluran hati nurani manusia untuk berbicara kepada manusia itu sendiri.. Tentu hal ini terjadi dalam kehidupan orang yang hati nuraninya diisi dengan kebenaran Firman Tuhan. Dalam hal ini, hati nurani dapat menjadi pengontrol atas kehidupan seseorang dalam perilakunya, oleh pimpinan Roh Kudus. Hati nurani bisa merupakan pikiran dan perasaan roh manusia. Dengan ini, kita mengerti mengapa dikatakan bahwa roh manusia adalah pelita Tuhan, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya (Ams. 29:27). Hati nurani yang dapat dipercaya adalah hati nurani yang dewasa, sehingga memiliki pikiran dan perasaan Tuhan. Sangatlah mungkin maksud “pikiran Kristus” dalam Filipi 2:5-7 (Yun. Phroneo) menunjuk pada pikiran dalam hati nurani atau yang sama dengan cara berpikir atau mindset. Mindset yang cerdas dapat menjadi pengawas yang cerdas pula, yaitu kalau hati nuraninya telah didewasakan oleh kebenaran Firman Tuhan. Dalam hal ini, hati nurani bisa menjadi pengawas yang “mengancam” dengan keras pada waktu seseorang berbuat sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah. 
    Kalau suara hati nurani tidak didengar, ia akan memberi hukuman, yaitu suasana jiwa orang tersebut menjadi tidak sejahtera; merasa kehilangan perasaan damai dan ketenangan. Jadi kalau kita berbuat sesuatu yang membuat sejahtera kita hilang, kita harus mulai mengoreksi diri: Apakah ada tindakan yang kita lakukan yang bertentangan dengan kehendak Tuhan? Kalau kita menyadari kesalahan kita, kita harus segera melakukan pertobatan. Kalau hukuman ini tidak dipedulikan—artinya tidak mau dikoreksi dan tidak mau bertobat—seseorang akan menjadi keras kepala dan tidak bisa diubah lagi. Kadang-kadang untuk menyadarkan seseorang, Tuhan terpaksa menegur melalui suatu kejadian; tetapi kalau melalui suatu kejadian masih tidak mau bertobat, maka Tuhan membiarkannya. Oleh sebab itu, sekecil apa pun perasaan tidak sejahtera di dalam diri kita, harus menjadi semacam alarm untuk mengingatkan kita kalau-kalau ada sesuatu yang salah yang kita lakukan yang mendukakan hati Allah. Respons kita yang sungguh-sungguh dalam hal ini akan membuat kita menjadi semakin peka terhadap kesucian dan ketidaksucian.
    Melalui kurban Tuhan Yesus Kristus, kematian hati nurani manusia yang mengakibatkan manusia tidak mampu mencapai kesucian Tuhan, bisa dibangkitkan atau dipulihkan. Inilah sesungguhnya maksud dan tujuan keselamatan diberikan. Dengan kuasa (exousia) itu yang diberikan kepada mereka yang menerima Yesus, mereka dimungkinkan memiliki hati nurani Ilahi, artinya sanggup bertindak seperti Allah bertindak. Jika seseorang berhasil mencapainya, orang tersebut barulah pantas disebut sebagai anak-anak Allah. Semua ini bisa terjadi oleh karena anugerah keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Apa yang tidak bisa dilakukan manusia telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus (Rm. 8:3-4), sehingga Ia menjadi pokok keselamatan kita, artinya Ia memberikan penebusan (membeli kita dari hukum dosa), mengajarkan kebenaran dari apa yang dikerjakan dan yang diajarkan, serta penerangan oleh Roh Kudus. Memberi teladan, dan kemudian memuridkan kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Semua ini merupakan potensi untuk memiliki nurani seperti Dia, yaitu hati nurani Ilahi. 
    Kalau hati nurani dibentuk atau dibangun dari kebenaran Firman, maka akan menjadi hati nurani Ilahi. Inilah yang menguasai atau mewarnai seluruh neshamah-nya. Dengan demikian, seseorang bisa menjadi manusia Allah. Sebaliknya, jika jiwa menyerap filosofi dunia, maka hati nuraninya rusak. Hati nurani yang rusak akan mewarnai seluruh kehidupannya. Hati nurani inilah yang menjadi sosok permanen seseorang atau diri manusia itu. Inilah proses pengkloningan. Apakah seseorang memberi diri dikloning oleh Tuhan menjadi seperti Tuhan, atau dikloning oleh dunia dengan segala pengaruhnya sehingga menjadi anak Iblis, inilah keputusan yang harus diambil oleh individu. Idealnya bagi umat Perjanjian Baru,
    0 min
  • Suara Nurani
    Ketika seseorang bertumbuh mengenal kebenaran secara memadai atau dalam level tertentu dan bersungguh-sungguh untuk melakukan keinginan Allah, maka dalam proses untuk melakukan kehendak Allah tersebut, ia dapat mendengar suara Allah di dalam dirinya melalui nuraninya. Suara itu adalah nurani yang telah menerima bimbingan Roh Kudus untuk mengerti kehendak Allah. Suara itu akan semakin akrab dan menyatu dalam dirinya, sehingga dapat mengarahkan kehidupan kepada kehendak Allah yang sempurna. Suara nurani seseorang yang dipenuhi Firman kebenaran dapat menjadi suara yang seirama dengan suara Tuhan, sehingga Firman Tuhan dapat digenapi bahwa “roh manusia adalah pelita Tuhan.” Menjadi pelita artinya selain mengoreksi, juga memberi petunjuk.
    Jika orang percaya terus bertumbuh dalam kebenaran sehingga semakin cerdas, maka nuraninya dengan mudah mendeteksi kalau ada suara yang tidak senada dengan kebenaran atau tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Kalau seseorang tidak memahami kebenaran secara memadai—karena tidak bertumbuh dalam kebenaran—maka ia tidak akan dapat mendengar suara Tuhan atau tidak memiliki kepekaan untuk mendengar suara Tuhan. Sebaliknya, ia mendengar suara lain yang disangkanya suara Tuhan. Dalam hal ini, banyak orang Kristen dalam kebodohannya menganggap suara yang bukan dari Allah dianggap sebagai suara dari Allah atau dianggap tidak menyalahi kekudusan Allah, padahal semua itu suara dari dunia yang tidak sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Suara yang tidak sesuai dengan kebenaran mengarahkan seseorang pada kehidupan yang semakin jauh dari kesempurnaan.
    Hati nurani atau suara hati lebih bersifat subjektif, maksudnya bahwa hati nurani kita sangat dipengaruhi oleh “diri sendiri” (yaitu yang menurut “aku” baik atau buruk). Suara hati mencerminkan segala pengertian dan prasangka masing-masing individu, sehingga jelas merupakan “sesuatu yang bersumber pada diri sendiri.” Dalam hal ini, kita tidak boleh mengidentifikasikan dan mengidentikkan hati nurani dengan suara Allah. Walaupun hati nurani tidak dapat diidentikkan dan tidak boleh diidentifikasikan sebagai suara Allah, tetapi hati nurani berhubungan dengan “yang Ilahi,” sebab komponen itu memang dari Allah dan diharapkan dapat sewarna dengan Allah, sehingga subjektivitasnya dapat dipercaya karena seirama dengan Allah. Sampai pada level ini, hati nurani manusia dapat menjadi pelita Tuhan.
    Kalau hati nurani digarap dengan benar, maka menjadi hati nurani yang sewarna dengan Allah, ini disebut sebagai nurani Ilahi. Tetapi kalau tidak digarap dengan baik, maka yang baik menjadi jahat. Orang yang memiliki hati nurani yang berkelas “Ilahi” tidak membutuhkan hukum atau peraturan untuk memiliki kelakuan yang baik. Tidak perlu diancam hukuman untuk melakukan hukum, sebab ada “polisi” di dalam dirinya sendiri (Rm. 2:15). Kalaupun seseorang berbuat baik, bukan hanya karena ancaman neraka, tetapi hati nuraninya memang terbentuk demikian, yaitu tidak bisa berbuat salah. Dalam Roma 13:5 Paulus menulis, “Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita.”
    Oleh karena hati nurani belum tentu bisa mewakili suara Allah, maka hati nurani belum tentu dapat selalu dipercaya. Dengan demikian, hati nurani harus tunduk pada otoritas Firman Allah dan pengadilan Allah. Bagi orang pilihan Allah yang direncanakan Allah untuk sempurna, kita harus selalu mempertimbangkan kemungkinan kesalahan pada suara hati nurani. Menyadari hal ini, orang percaya tidak boleh berhenti dalam memperbaharui pikiran dan hatinya sampai makin memiliki pengertian seperti pengertian Allah. Sehingga, suara hati dapat mewakili suara Allah dan segala pertimbangan serta keputusannya, sesuai dengan yang Allah inginkan. Ini barulah dapat dikatakan “tidak meleset.” Keberadaan hati nurani yang murni ini membuat seseorang memiliki beban yang tulus terhadap keselamatan jiwa orang lain.
    0 min
  • Awasilah Dirimu Sendiri
    Dalam 1 Timotius 4:16 tertulis: “Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.” Ini merupakan rangkaian nasihat Paulus kepada anak rohaninya, Timotius. Berangkat dari nasihat ini, kita memperoleh pesan yang kuat untuk mengelola pikiran dan perasaan kita, sehingga dapat memiliki kemampuan untuk selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Bapa. Harus disadari bahwa setan begitu licik untuk mengarahkan kita kepada hal-hal yang ternyata membuat kita menjadi tidak mawas diri, sampai pada tahap kita tidak mengenal diri kita sendiri. Oleh karenanya, tidak heran apabila Paulus menasihatkan, “awasilah dirimu sendiri!” 
    Kita harus berada dalam kegentaran di hadapan Allah dan meminta agar Tuhan menyelidiki kita. Jangan sampai kita baru menyadari keburukan dalam diri kita berupa: kesombongan-kesombongan, kebengisan-kebengisan, dan kelicikan-kelicikan terselubung, ketika akan menghadap Bapa. Selagi kita masih memiliki nafas dan jantung yang berdetak, kita harus segera menyadari kesalahan, meminta ampun, dan berubah. Permintaan ampun kita kepada Tuhan bukan hanya atas perbuatan salah yang kita lakukan, tapi juga atas potensi dosa yang masih ada. Oleh karenanya, kita harus selalu melihat potensi dosa yang masih ada dalam diri kita. Mungkin kita tidak bisa dijatuhkan oleh uang, oleh perempuan cantik (bagi pria) atau oleh pria tampan (bagi perempuan); namun ada kesombongan, kebencian, kemarahan terselubung, gairah berkuasa, mau menjadi terhormat, dan gairah negatif lainnya yang masih bercokol. Dalam hal ini, kita memahami mengapa dikatakan, “betapa liciknya hati, lebih licik dari segala sesuatu” (Yer. 17:9), sebab hati kita dapat meliciki dirinya sendiri tanpa sadar.
    Tuhan selalu menguji kita tiap hari. Dia mengunjungi kita setiap saat, dan melihat apa isi batin kita. Sementara kita sibuk dengan banyak hal, kita tidak memikirkan perasaan Allah, kita tidak peduli perasaan Tuhan. Kita harus segera berubah dari pola hidup seperti ini. Sebab, kalau kita hanya beragama Kristen dan tidak mengalami perubahan radikal secara batiniah, kita masih dapat binasa. Memang harus diakui bahwa perubahan seseorang tidak ada orang yang bisa mengetahuinya dengan tepat, kecuali Tuhan. Namun harus diingat, bahwa setiap pikiran dan perasaan kita diperkarakan oleh Tuhan. Jika kita punya hidup berkenan yang dihasilkan dari pikiran dan perasaan yang mengasihi Tuhan, hal itu bagai simfoni yang merdu, pedupaan yang harum di hadapan Allah. Dengan demikian, hidup berkenan bukan hanya ditunjukkan melalui pujian dengan syair lagu, melainkan juga setiap kehendak yang dilahirkan di dalam diri kita. Walaupun belum “ditelurkan” dalam perbuatan, itu sudah menyenangkan hati Bapa di surga.
    Kita pasti mati dan menghadap takhta pengadilan Kristus. Pernahkah terpikir bahwa nanti kalau kita berada di hadapan takhta pengadilan Kristus, segala sesuatu yang kita lakukan terbuka di hadapan Allah? Oleh karenanya, sejak hari ini kita harus mau ‘telanjang’ di hadapan-Nya. Setiap kali kita memohon ampun, yang kita persoalkan bukan hanya perbuatan yang kita lakukan, tetapi juga potensi dosa di dalam diri kita. Itu yang harus kita persoalkan dengan serius. Di samping itu, kita harus selalu memperhitungkan betapa berbahayanya potensi dosa dalam diri kita ini, supaya kita bisa mengendalikan diri kita dengan baik. Di bumi, mungkin kita tidak punya nama, tidak terkenal, tidak apa-apa. Namun ketika kita didapati Tuhan berkenan di hadapan-Nya kelak, itu merupakan prestasi rohani yang tidak terkatakan. 
    Ada kekayaan yang harus diolah setiap hari sehingga kita memiliki kecerdasan rohani. Kekayaan tersebut adalah kemampuan akal budi untuk bisa mengerti apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Untuk mengembangkannya, kita harus mengasup Firman yang benar, hidup dalam doa setiap hari, memiliki perjumpaan dengan Tuhan,
    0 min
  • Pikiran dan Perasaan Manusia
    Dari segala sesuatu yang Allah percayakan kepada manusia, ada satu yang paling penting yang di dalamnya kita memiliki tanggung jawab untuk mengelola dengan benar. Jadi, alam semesta dengan segala isinya ini belumlah sesuatu yang bernilai dibanding dengan yang satu ini, yaitu pikiran dan perasaan manusia; kemampuan untuk bernalar dan kemampuan untuk merasakan. Dari dua komponen ini, manusia bisa memiliki kehendak. Kehendak manusia ini nanti akan membuahkan tindakan-tindakan atau membuahkan perbuatan-perbuatan yang nyata, yang pasti akan dirasakan oleh dirinya sendiri, orang lain, alam, dan juga Allah. Sejatinya, ini adalah kepercayaan terbesar yang Allah berikan kepada manusia. 
    Natur dari kehendak manusia adalah bebas, artinya manusia dapat memproduksi sendiri kualitas dari kehendak tersebut yang nanti akan melahirkan perilaku atau perbuatan, dan itu tergantung dari individu tersebut. Kalau seseorang mengelola pikiran dan perasaannya dengan benar, ia dapat membuahkan kehendak yang benar pula. Dari kehendak yang benar, akan terekspresi dalam perilaku atau tindakan. Dalam hal ini, Allah tidak mengintervensi kehendak bebas manusia. Itulah sebabnya Allah berkata kepada manusia pertama, “Kamu boleh makan semua buah di taman ini, kecuali yang satu ini.” Jika kita membaca di dalam kitab Kejadian 3, ditulis “Perempuan itu melihat dengan mata.” Mata merujuk pada jendela jiwa dimana ada pikiran, perasaan; “bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya,” pikirannya bermain; “lagipula pohon itu menarik hati,” perasaannya bermain. Manusia mengambil keputusan dari kehendaknya. 
    Jadi, kejatuhan manusia ke dalam dosa berangkat dari kegagalannya mengelola pikiran dan perasaannya sendiri. Dari hal ini, manusia tidak mampu memproduksi kehendak yang sesuai dengan apa yang Allah ingini. Tentu saja manusia yang tidak mampu memproduksi kehendak sesuai dengan apa yang Allah ingini, menjadi manusia yang tidak berkualitas. Itulah sebabnya dalam Roma 3:23 dikatakan, “semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah,” bukan “kemuliaan manusia.” Manusia masih bisa memproduksi kehendak yang baik dalam kualitas manusia, bukan kualitas Allah. Maka, manusia tidak memiliki keagungan Allah, kemuliaan Allah. Manusia pertama yang memiliki kemuliaan, keagungan Allah itu Yesus. Dari pikiran dan perasaan, manusia bisa dihasilkan sesuatu yang bernilai tinggi, bernilai kekal. Ibarat tambang, bisa ditambang dengan kekayaan yang tidak terbatas. Tergantung apakah seseorang mengelola dengan baik pikiran dan perasaannya, sehingga pikiran dan perasaan manusia itu menjadi berkualitas tinggi, bernilai tinggi, dan dapat menghasilkan kehendak. Setiap kehendak yang dihasilkan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. 
    Manusia yang telah kehilangan kemuliaan Allah, artinya manusia yang telah jatuh dalam dosa, tidak mampu memproduksi kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Itulah sebabnya, Yesus datang memberi keselamatan, artinya agar manusia diberi kemampuan untuk kembali bisa mengelola pikiran dan perasaan sesuai dengan standar yang Allah inginkan, seperti rancangan semula. Sehingga, manusia bukan hanya memiliki gambar Allah, yaitu memiliki komponen pikiran dan perasaan, tapi manusia juga memiliki keserupaan dengan Dia dalam kualitas pikiran dan perasaan tersebut. Jadi, keselamatan dalam Yesus Kristus berfokus pada keserupaan dengan Allah. Itulah sebabnya dalam Filipi 2 dikatakan, “Hendaknya kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus.” Yesus Kristuslah manusia pertama yang bisa memiliki kemuliaan Allah itu. Di dalam Roma 8:28-29 dikatakan, “Dia menjadi yang sulung.” Di balik pernyataan itu, ada panggilan agar kita wajib—dan memang bisa—seperti Dia. Keselamatan memiliki fokus agar kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus. 
    Dalam Ibrani 2:17 dikatakan, “dalam segala hal disamakan dengan kita,” Dia bisa merasakan kelemahan-kelemahan kita. Kelemahan dalam hal apa? Kelemahan untuk mencapai rancangan Allah semula ...
    0 min
  • Prestasi Rohani
    Manusia adalah makhluk yang luar biasa. Makhluk yang hebat, yang diberi potensi untuk mengenal siapa Penciptanya, agar dapat menempatkan diri secara benar di hadapan Penciptanya; mengerti apa yang Penciptanya kehendaki untuk dilakukan, mengerti rencana-rencana Penciptanya untuk ditunaikan dalam hidupnya. Sekaligus terkait dengan hal ini, manusia diberi kemampuan untuk mengenal dirinya sendiri. Pengenalan akan Allah yang benar itu terkait dengan pengenalan akan diri sendiri. Orang yang mengenal Allah dengan benar, akan mengenal diri sendiri dengan benar pula. Orang yang mengenal diri sendiri dengan benar akan pasti bisa menempatkan dirinya sendiri secara benar di hadapan Penciptanya, memperlakukan Khalik Penciptanya dengan benar, memperlakukan orang lain dengan benar, memperlakukan alam sekitarnya di mana manusia harus bertanggung jawab dengan benar, dan ia tentu juga dapat memperlakukan dirinya dengan benar pula. 
    Itulah sebabnya, hal mengenal Allah harus merupakan satu-satunya agenda hidup kita. Seandainya Adam dan Hawa—sebagai nenek moyang manusia—tidak jatuh dalam dosa, mereka dapat mengenal Allah dengan benar dan dapat menempatkan diri dengan benar di hadapan Allah. Secara otomatis, pengenalan tersebut akan terwariskan kepada anak cucu dan keturunannya tanpa pergumulan yang berat. Tetapi berbeda dengan keadaan kita hari ini, dimana manusia telah rusak sehingga tidak mengenal Penciptanya secara benar. Karena tidak mengenal Allah Penciptanya—yang juga Bapanya—secara benar, maka ia juga gagal mengenali dirinya sendiri. Sebagai buktinya, orang tidak berusaha untuk menjadi seseorang seperti yang Allah kehendaki. Sebaliknya, manusia pada umumnya atau hampir semua manusia, berusaha menjadi seseorang seperti yang dipolakan oleh dunia.
    Ironis, hampir semua manusia berjuang untuk menjadi seseorang seperti yang dia lihat, yang dia kenali, dan yang dianggap bernilai karena tampak bahagia, dirasa bahagia, tersanjung, terhormat, dianggap penting. Tetapi, mereka tidak berjuang menjadi seseorang seperti yang Dia kehendaki. Dan inilah yang dimaksud dengan “hidup berjalan di dalam gelap.” Di dalam Injil Yohanes 1, firman Tuhan mengatakan, “dalam Dia ada hidup, dan hidup itu adalah terang manusia.” Maksudnya “hidup” di sini adalah kualitas hidup yang Allah kehendaki, yang Allah Bapa juga miliki. Karena manusia diciptakan bukan hanya menurut gambar Allah, melainkan juga memiliki pikiran dan perasaan seperti Allah juga memilikinya. Dengan pikiran dan perasaan itu, manusia bisa membuahkan keinginan atau kehendak. Allah menghendaki manusia yang serupa dengan Dia bisa membuahkan keinginan-keinginan yang sesuai dengan Allah. Kehendak atau keinginan yang didasarkan pada asas keadilan, kejujuran, kasih, seperti hakikat yang ada pada Allah, yaitu kasih.
    Jadi, seandainya manusia tidak jatuh dalam dosa, tidak kehilangan kemuliaan Allah, manusia bisa memproduksi keinginan atau kehendak dengan standar Allah. Sehingga, tidak ada tindakan manusia yang melukai sesamanya, tidak ada tindakan manusia yang mengagungkan dirinya sendiri, tetapi manusia akan selalu mengagungkan Allah. Manusia diberi kemampuan itu,  namun manusia telah memilih jalan yang salah, seperti domba sesat. Kalau dikatakan “domba sesat,” bukan hanya berarti tidak pernah ke rumah ibadah, atau perilakunya bejat, melanggar moral atau tatanan etika umum. “Sesat” artinya tidak mengerti apa yang Penciptanya ingin untuk dia lakukan. Sejatinya, setiap individu harus mengerti apa yang dikehendaki oleh Allah di dalam hidupnya; yang tentu sangat khas dan khusus, karena setiap orang memiliki keunikan.
    Oleh karena itu, jangan kita dibodohi dan disesatkan oleh orang-orang yang merasa mengenal ajaran atau doktrin yang benar menurut klaimnya, tetapi dari perilaku dan ucapannya tidak menjadi berkat bagi orang lain. Seseorang dapat bergelar tinggi, namun hal tersebut tidak dapat menjadi ukuran pengenalan akan Allah. Malah, semakin seseorang bergelar tinggi,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…