Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Ancaman yang Harus Diwaspadai
    Ketika kekristenan diperhadapkan kepada ancaman yang dapat dikenali merusak atau bisa mengganggu kekristenan, maka orang-orang Kristen harus menjadi bukan saja lebih waspada, namun juga bisa berantisipasi secara benar, sehingga bisa tetap melestarikan, menumbuhkan, dan memurnikan hidup kekristenannya. Kekristenan yang tidak diperhadapkan kepada realitas tantangan yang dikenali mengubah, membuat kekristenan menjadi palsu. Jadi, kekristenan yang tidak diperhadapkan kepada realitas tantangan yang dikenali itu bisa justru menjerumuskan kekristenan ke dalam kehidupan yang wajar sebagai anak-anak dunia, sehingga orang-orang percaya tidak memposisikan diri sebagai orang Kristen yang benar, tidak memposisikan diri sebagai pengikut Yesus, dan tidak memposisikan diri sebagai anak-anak Allah yang benar. Selanjutnya, pasti tidak ada usaha untuk menolong orang lain yang masih ada dalam kekuasaan dosa, untuk dikembalikan ke rancangan yang semula Allah. Sebab, orang-orang Kristen yang tidak diperhadapkan kepada realitas yang dikenali sebagai mengancam hidup kekristenannya, cenderung menjadi lengah.
    Kalau kita memperhatikan hidup Tuhan Yesus Kristus, Ia dibenturkan dengan realitas yang mengancam visi yang diemban-Nya dari Bapa; apakah itu ancaman terang-terangan secara fisik, maupun terselubung. Namun, Tuhan Yesus dapat mengatasinya, dan tampil sebagai Pemenang. Pada zaman gereja mula-mula, yang dipakai oleh kuasa gelap adalah rezim agama dan kekuatan politik, yaitu kekaisaran Roma. Tetapi sejarah menunjukkan bahwa orang-orang Kristen tidak takluk, tidak kalah; kekristenan tidak punah, kekristenan tetap eksis, bahkan menjadi murni. Selama ratusan tahun, kekristenan menghadapi serangan dari pihak-pihak ini, tetapi tetap kokoh, tetap terpelihara. Gereja mula-mula bisa mengenali ancaman yang mereka hadapi dan yang bisa membahayakan bagi iman Kristen, dan mereka bersikap waspada. Mereka mengantisipasinya, dan sejarah mencatat mereka tampil sebagai pemenang.
    Kuasa gelap tidak akan pernah berhenti mengadakan serangan. Hal ini akan terus berulang di sepanjang sejarah. Iblis akan menggunakan segala cara untuk menumpas Injil yang murni. Hal itu dilakukan secara sistematis, masif, meluas, dan terstruktur. Kita hari ini masih harus menghadapi kekuatan-kekuatan antikris—orang-orang yang tidak menerima Yesus sebagai Juruselamat—dengan memakai sarana politik, sosial, dan ekonomi, dengan segala sarana untuk membungkam, memberangus Injil, menekan dan mempersempit gerak serta penyebaran Injil. Namun, hal itu di luar kemampuan kita. Sekarang yang kita hadapi lebih berat, yaitu arogansi orang-orang Kristen tertentu dengan doktrinnya, kemakmuran duniawi, dan penghormatan manusia, kebanggaan terhadap lembaga atau nama sebuah komunitas. Inilah yang orang Kristen harus hadapi yang sering tidak dikenali sebagai ancaman yang hendak menekan, mengintimidasi kekristenan.
    Hal ini berperan besar dalam menghancurkan gereja Tuhan dan kehidupan iman yang murni, yaitu dengan menggantikan percaya kepada pribadi Allah dengan memercayai suatu ajaran atau doktrin mengenai Allah. Mereka yang mengajarkan itu mengisyaratkan secara tidak terang-terangan bahwa keselamatan adalah sesuatu yang mudah dicapai, mudah diperoleh, asal memercayai doktrin yang mereka anggap resmi, legal, atau sah. Mereka mewarisi doktrin-doktrin tersebut dari para teolog masa lalu; dan secara tidak langsung, mereka mensakralkan doktrin itu, dan tidak hidup dalam otoritas Alkitab. Biasanya pandangan para teolog yang mereka yakini sebagai kebenaran, dianggap mutlak; sudah benar sesuai dengan Alkitab atau sejajar dengan otoritas Alkitab. Tanpa sadar, mereka mengkudeta wibawa Alkitab.
    Dunia yang hanya menjunjung nilai-nilai kemanusiaan tetapi mengeliminir Allah, menjadi dunia yang tidak takut akan Allah. Sebab pada dasarnya, mereka tidak menjadi anak-anak Allah dan lupa bahwa mereka tidak berasal dari dunia ini. Orang-orang ini bukan orang jahat secara umum.
    0 min
  • Dua Realita
    Mempelajari apa yang dinyatakan dalam Mazmur 73, kita dapati adanya dua realitas kehidupan. Yang pertama, bagaimanapun kita tidak dapat menghindari kesulitan hidup yang juga dialami oleh manusia lain pada umumnya. Karenanya, kita jangan mencoba meminta dispensasi dari Tuhan agar tidak mengalami kesulitan-kesulitan hidup yang dialami oleh manusia lain juga. Orang benar sering kali jalannya dibuat sulit oleh Tuhan supaya tselem atau rupanya tidak dipandang hina. Ditunjukkan kepada kita, bagi orang yang tidak berurusan dengan Allah, hidupnya seperti mimpi. Realita yang dihadapinya adalah kegelapan abadi. Dimana ketika ia meninggal, ia lenyap ke dalam tempat gelap, selamanya. Orang sering berpikir bangsa Israel itu istimewa, maka kita sebagai orang Kristen, Israel rohani, juga istimewa. Namun harus diingat, orang Israel sendiri juga hidupnya terseok-seok. Bangsa Israel hanya menempati tanah leluhurnya 700-900 tahun, dan selama ribuan tahun, mereka dibuang. Di negeri di mana mereka menetap pun teraniaya. Puncaknya, pada waktu Perang Dunia Kedua, 6 juta orang Yahudi dibantai.
    Kepada orang-orang yang mengasih-Nya, Allah sering menunjukkan kasih-Nya dengan membawa orang itu kepada keadaan yang sangat tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan. Orang Kristen abad mula-mula, termasuk murid-murid Tuhan Yesus—betapa Tuhan Yesus sayang kepada mereka—justru hidup dalam penderitaan yang luar biasa. Pasca kenaikan Tuhan Yesus ke surga, terjadi aniaya; Yakobus dipenggal kepalanya, Petrus akhirnya mati disalib dengan kepala di bawah, Thomas mati di belanga panas. Tetapi penderitaan itu justru mempersiapkan mereka untuk memperoleh kemuliaan kekal. Hari ini kita juga mengalami penderitaan yang sama, tapi dalam bentuk beda; bukan penderitaan fisik, melainkan penderitaan batin. Ketika kita menjaga kesucian, kita malah diserang, difitnah, dikhianati.
    Kedua, di dalam pergumulan hidup yang kita alami, Tuhan membawa kita ke jalan-jalan-Nya yang mempersiapkan kita masuk Kerajaan-Nya. Kita harus percaya ada kehadiran Allah dalam kehidupan, yang melalui segala peristiwa yang kita alami, kita diproses, dibentuk, digarap, didandani, dipercantik Allah untuk menjadi anak-anak Allah yang layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Keadaan-keadaan sulit yang kita alami dan bisa kita hayati, akan membuat kita bisa menghayati penderitaan orang lain, membuat kita merindukan dunia yang akan datang, serta mendorong kita mengajak orang-orang untuk ke sana. Oleh sebab itu, kita tidak perlu mempermasalahkan apakah yang kita alami itu menyenangkan atau tidak, menguntungkan atau tidak, dari kacamata manusia. Tetapi perkarakan ini: apakah kita menjadi indah di mata Tuhan? Keadaan yang dipandang tidak menyenangkan atau dinilai sial atau buruk, bisa merupakan berkat. Dalam bahasa Ibrani, kata “berkat” adalah berakhah yang artinya juga the power of life, kuasa hidup. Kuasa hidup bagi kita adalah bagaimana mencapai kesucian Tuhan, dan layak menjadi anggota keluarga Kerajaan.
    Itulah sebabnya, selama hidup, kita harus mengalami penggarapan, karena itulah harta abadi seseorang. Tuhan Yesus berkata, “Apa gunanya seorang memperoleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?” Keadaan sulit yang dihadapi oleh kekasih-kekasih Allah adalah usaha Allah untuk mempercantik mereka, agar mereka layak menjadi anak-anak Allah, guna menjadi mempelai bagi Kristus. Tidak masalah, di bumi ini kita tidak dihargai. Tidak masalah, di bumi ini kita diremehkan, dihina, dicemooh, dan tidak terpandang. Akan tetapi, dalam Kerajaan Surga kita menjadi orang yang keadaannya dimuliakan dalam pandangan Allah. Jadi, kalau kita diperkenan Tuhan untuk menderita, terimalah itu sebagai realitas dan berkat. Jangan memandang dari perspektif yang salah.
    Keadaan-keadaan yang sulit bisa menjadi seperti ombak yang menggiring kita ke pantai kehidupan, dan pantai itu adalah Tuhan. Itulah cara Tuhan membela kita. Ini adalah orang yang hidup dalam kawasan Ilahi,
    0 min
  • Ukuran Berkat Tuhan
    Di dalam Mazmur 73, ditunjukkan kepada kita dua jenis manusia. Pertama, manusia yang disebut fasik, yang ditandai dengan kesenangan hidup. Dan yang kedua, manusia yang tulus atau manusia yang benar; yang ditandai dengan penderitaan. Manusia fasik artinya orang yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya. Pasti manusia seperti ini juga manusia yang tidak menghargai nilai-nilai rohani, nilai-nilai kekekalan. Hidupnya ditandai dengan kesenangan dalam kelimpahan harta, dan banyak orang yang mengikut dia atau menjadi kerabatnya, sahabat, dan handai taulan. Namun, perlu dicatat bahwa orang yang ditandai dengan hal-hal tersebut—sehat, gemuk dan banyak harta—berarti orang yang fasik. Tetapi di sini hendak dikemukakan bahwa keadaan orang fasik yang baik ini, bukanlah ukuran berkat Tuhan. Dengan kata lain, keadaan baik secara lahiriah dan secara materi, bukanlah ukuran berkat Tuhan. Perbedaan dua jenis manusia yang fasik dan yang tulus adalah yang fasik, tidak berperkara dengan Tuhan; tetapi yang tulus, berperkara dengan Tuhan.
    Kita dapat memperoleh ciri dari ajaran sesat yang sekarang ini mewabah dalam kehidupan umat Kristen secara individu dan gereja secara komunitas, yaitu ketika mengesankan bahwa kelimpahan materi, keadaan baik secara fisik adalah tanda berkat Tuhan. Tanpa sadar sering kali orang berkata “Dia diberkati Tuhan, sekarang usahanya maju,” atau “Tuhan berkati hidupnya, sehat dan berkecukupan dia,” karena mereka menekankan bahwa keadaan baik secara fisik dan kelimpahan materi itu menjadi tanda dari berkat Tuhan. Biasanya, gereja-gereja yang mengajarkan ajaran seperti ini selalu berbicara mengenai berkat-berkat jasmani sebagai kelimpahan yang diharapkan dari Tuhan, dan yang mereka yakini diberikan oleh Tuhan secara mudah karena anak Allah.
    Padahal, sebagai orang percaya kita harus bekerja keras, jujur, dan rajin. Adapun masalah berkat jasmani, pasti Allah mengaturnya. Ada tatanannya. Jangan tambahkan unsur-unsur mistik atau unsur adikodrati di sini. Allah yang benar tidak akan memberikan berkat materi tanpa kita bekerja keras, jujur, dan rajin. Kalau Tuhan membuat orang miskin tanpa alasan dan orang kaya tanpa alasan, itu adalah Tuhan yang tidak punya tatanan. Padahal, Allah punya tatanan. Allah tidak boleh disamakan dengan dewa-dewa yang asal disembah, diberi kurban, maka apa pun permintaan si peminta pasti diberikan. Gereja-gereja yang mengajarkan ajaran semacam itu dikenal sebagai gereja-gereja kemakmuran atau teologi kemakmuran. Hal ini membuat jemaat menjadi rentan terhadap pencobaan dan keadaan yang sulit yang akan menimpa bumi, dan yang sedang menimpa bumi ini. Contohnya seperti pada masa pandemi ini; baru teruji siapakah jemaat yang tahan uji dan yang tidak; siapa yang siap meninggal dunia, dan siapa yang tidak.
    Bagaimanapun, kita tidak dapat menghindari kesulitan hidup yang juga dialami oleh manusia pada umumnya. Jangan berpikir karena kita Kristen, kita akan terhindar dari penderitaan yang dialami oleh manusia pada umumnya. Dan yang mengerikan, teologi kemakmuran membuat jemaat tidak mengharapkan langit baru bumi baru, karena mau membangun Firdaus di bumi. Maka, kalaupun kita mengalami kesusahan seperti mereka, itu bukan keadaan sial atau keadaan yang tidak terberkati. Dengan berpikir secara realistis dari aspek ini, maka kita bisa diarahkan kepada Tuhan untuk menujukan fokus kita kepada kehidupan yang akan datang. Aspek yang lain, dimana kita juga harus berpikir realistis—terutama bagi kita sebagai orang percaya—bahwa ada kehadiran Allah dalam kehidupan ini melalui segala peristiwa yang kita alami, yang membawa kita kepada Kerajaan-Nya, dengan menggarap kita agar menjadi orang percaya atau anak-anak Allah yang layak masuk Kerajaan-Nya.
    Oleh sebab itu, kita tidak perlu mempermasalahkan apakah yang kita alami hari ini menyenangkan atau tidak menyenangkan. Tetapi yang harus kita pikirkan adalah apakah yang kita alami membuat kita bertumbuh menjadi manusia yang indah di mata Allah ata...
    0 min
  • Beban Keselamatan Sesama
    Ada tawaran yang Tuhan ajukan kepada setiap kita untuk memiliki kehidupan yang luar biasa, kehidupan yang indah, yang mulia, dan yang agung, yang tiada tara yaitu kehidupan yang memikirkan apa yang Allah pikirkan. Memikul beban keprihatinan yang juga menjadi beban dan keprihatinan Tuhan. Merasakan apa yang Tuhan rasakan, yaitu mengenai keselamatan jiwa banyak manusia. Firman Tuhan dalam 2 Petrus 3:9-13 mengatakan, “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup, yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.”
    Ayat-ayat tersebut menggambarkan bagaimana bumi ini akan dihancurkan oleh Tuhan dalam kengerian yang dahsyat. Tak terbayangkan betapa dahsyatnya keadaan itu; ketika langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api. Dan Tuhan mengatakan bahwa Ia tidak menginginkan seorang pun binasa. Ini yang Tuhan Allah inginkan. Allah tidak menghendaki seorang pun binasa dengan cara demikian. Allah terbeban, prihatin, berduka terhadap realitas banyaknya manusia yang akan menuju kegelapan abadi. Masalahnya sekarang adalah apakah kita juga memiliki beban yang sama? Kita bisa memiliki kegiatan dalam pelayanan dan beban, tetapi bebannya adalah beban untuk gereja yang sedikit diisi orang. Kita ingin orang berbondong-bondong datang ke gereja, tetapi bukan demi keselamatan jiwa orang-orang itu, melainkan demi prestise (harga diri); nilai diri, kebanggaan, dan banyak motivasi lain.
    Kalau kita sungguh-sungguh memiliki beban terhadap keselamatan jiwa orang lain, kita harus lebih dulu memiliki beban terhadap keselamatan jiwa kita, yaitu bagaimana kita benar-benar menjadi orang yang berkenan di hadapan Allah. Itu dulu. Bagaimana kita membuang semua keinginan yang tidak dinikmati oleh Tuhan? Tidak salah punya keinginan, tetapi harus keinginan yang Tuhan pun ikut menikmatinya. Kalau orang di luar Kristus—artinya yang tidak dipanggil menjadi hamba-hamba Tuhan yang diutus Tuhan Yesus—bukan masalah. Seperti kehidupan bangsa Israel dan kehidupan orang-orang di luar umat pilihan; sementara mereka hidup di dunia dengan segala kenikmatan yang bisa dinikmati dan segala kesenangannya, mereka juga masih bisa beribadah kepada Allah dalam batas tertentu. Tetapi bagi orang percaya, kita harus mempersembahkan segenap hidup tanpa batas untuk Tuhan.
    Yang utama yang harus kita persembahkan adalah hati, pikiran, dan perasaan. Pikiran harus bersih, hati harus bersih, supaya beban keprihatinan terhadap jiwa-jiwa yang terhilang bisa diimpartasikan oleh Allah atau bisa ditularkan. Impartasi beban itu bisa kita rasakan seiring dengan perubahan hidup. Kita harus bertekad, bahkan berani berjanji untuk hidup kudus, tak bercacat, tak bercela; yang mana itu merupakan tujuan hidup kita. Kalau kita berani begitu, seiring dengan bertumbuhnya kesucian hidup kita, bertumbuh pula beban di hati kita untuk keselamatan jiwa sesama. Kita mengerti apa artinya pelayanan tanpa tujuan yang jelas; artinya tanpa beban seperti ini. Banyak orang “melayani”—membuat banyak orang datang, membuat segala kegiatan pelayanan, berkhotbah, dan lain sebagainya—tetapi tidak memiliki beban yang sungguh-sungguh untuk perubahan manusia, sampai pada kesempurnaan seperti Bapa dan keserupaan dengan Yesus.
    0 min
  • Jangan Mengatur Tuhan
    Di dalam Injil Matius 6:32 Tuhan Yesus berkata, “Itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah.” Apa maksud pernyataan Tuhan Yesus di situ sebenarnya? Tuhan sedang berbicara dalam konteks kekhawatiran. “Jangan kamu khawatir apa yang akan kamu makan, kamu pakai, dan seterusnya. Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu bahwa kamu memerlukan semua itu.” Maka pertanyaannya, apakah kita tidak ikut mencari makan dan pakaian itu? Kita juga mencari, tetapi maksudnya adalah hal makan dan pakai tidak menjadi tujuan hidup kita. Di ayat 26 dikatakan, “Pandanglah burung-burung di langit yang tidak menabur dan tidak menuai, dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung; namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga; bukankah kamu melebihi burung-burung itu?” Ada bagian yang burung-burung itu harus lakukan; terbang, lalu mematuk atau mengambil makanan yang tersisa. Bagian manusia yang harus menanam gandum, bagian manusia yang harus bekerja untuk menumbuhkan. Artinya “menanam gandum dan lain-lain,” itu bukan bagian burung; burung tidak bisa menanam, tetapi burung punya bagian, yaitu ia harus terbang untuk mendapatkan makanannya.
    Demikian pula kita, ada bagian yang tidak bisa kita lakukan. Tetapi ada bagian yang kita lakukan, yaitu kita bekerja mencari nafkah; di luar itu adalah bagiannya Tuhan. Bagian kita adalah berusaha memasukkan lamaran pada berbagai pekerjaan, mencoba usaha kecil baru, mencari peluang untuk berbisnis, dan sebagainya. Bagi yang punya bisnis, membuka kantor, memiliki hubungan dengan luar negeri, impor ekspor, dan lain sebagainya; itu adalah bagian kita. Tetapi memang ada bagian-bagian yang tidak bisa kita penuhi atau tidak bisa kita lakukan, dan kita percaya itu bagian Tuhan. Seandainya kita tidak minta pun, Allah tahu bahwa itu bagian Allah; di luar kemampuan kita. Jangan coba-coba mengatur Allah.
    “Itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah” artinya memang mereka menjadikan semua itu tujuan. Berbeda dengan kita sebagai orang percaya. Di ayat 33 dikatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” Banyak orang Kristen yang salah melangkah. Jika mereka berdoa, mereka hendak mengatur Tuhan dengan doanya. Seperti misalnya, “Tuhan, tolonglah supaya usaha ini jadi begini, jadi begitu. Tuhan, tolonglah supaya rumah ini jangan disita. Tuhan, tolonglah supaya begini, begitu.” Sebenarnya, kita tidak perlu mengatur Tuhan begitu rupa. Bahkan, tidak jarang karena terlalu memaksa, akhirnya kita sendiri yang memperoleh kesulitan dengan pilihan kita. Misalnya, karena kita terlalu berambisi untuk masuk dalam kantor pemerintahan tertentu, kemudian kita tergoda untuk korupsi lalu masuk penjara. Di situ kita akan terlibat dalam skandal perselingkuhan, dan lain-lain; di situ akan bertemu orang jahat yang akan mencelakai atau mencederai kita. Tuhan tahu, itu di luar kemampuan kita. Maka, tidak jarang Tuhan seolah mengabaikan doa kita, sebab Ia tahu bahwa itu membahayakan kita. Oleh karenanya, tidak perlu mengatur dan memaksa Tuhan memenuhi keinginan kita. Penuhi bagian kita, dan biarkan Allah memenuhi bagian-Nya.
    Yang menjadi tujuan kita adalah Kerajaan Surga; maksudnya adalah bagaimana kita menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Karena bagi umat Perjanjian Baru itu standarnya bukan masyarakat, melainkan dimuliakan bersama Tuhan Yesus yang memerintah sebagai Raja, dan kita akan menjadi hakim-hakim. Jadi, yang kita persoalkan adalah bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Itu yang kita gumuli, itu yang kita cari. Kalau kita sekarang bisnis, kita kerja, kita berdagang, kita membesarkan anak-anak dengan segala aktivitasnya; itu bukanlah tujuan. Tujuan kita adalah bagaimana menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga yang baik, bagaimana kita terus membenahi diri, supaya pada waktu kita menghadap takhta pengadilan Allah, kita dijumpai berkenan. Itu tidak mudah, itu berat, itu paling sulit.
    0 min
  • Percaya dengan Benar
    Banyak orang Kristen berpikir kalau mereka menyatakan bahwa dirinya mengaku percaya kepada Allah, maka Allah “berkewajiban” untuk menjawab permintaan dan bahkan mengabulkan. Banyak orang Kristen yang menyatakan percaya kepada Allah agar keinginannya dituruti, doanya dikabulkan, seakan-akan pernyataan percayanya kepada Allah adalah alat untuk menyandera Allah. Hendaknya kita tidak berpikir kalau kita memercayai kekuatan Allah dan memercayai kebaikan-Nya, maka Allah akan secara otomatis memenuhi kebutuhan kita sesuai dengan selera dan versi kita. Jadi, kalau kita sudah berkata, “Aku percaya kepada-Mu,” seakan-akan Allah dibuat tidak dapat menahan diri sehingga harus melepaskan kuasa, berkat untuk memenuhi apa pun yang kita pandang kebutuhan. 
    Dalam hal ini, seakan-akan Allah bisa diatur oleh percaya kita. Tidak sedikit orang Kristen berpikir bahwa dengan kepercayaannya tersebut, mukjizat bisa mudah terjadi. Itulah sebabnya, sering diajarkan atau dianjurkan untuk berani percaya, agar keinginan umat terwujud. Banyak ajaran yang mengesankan bahwa yang dibutuhkan oleh Tuhan adalah sikap percaya umat terhadap kuasa dan kebaikan Allah. Banyak orang mengira Allah menuntut umat untuk percaya kuasa dan kebaikan-Nya. Jika umat sudah memercayai kuasa dan kebaikan Allah, maka Allah menuruti apa yang diingini oleh umat tersebut dan memenuhi apa yang dibutuhkan umat tersebut sesuai dengan selera dan versinya. Seakan-akan dengan percaya tersebut, Allah bisa ditawan atau disandera.
    Dengan pemahaman ini, seakan-akan Allah tidak memiliki kepribadian dan integritas. Hal ini bisa dimengerti, kalau dilakukan oleh orang-orang Kristen yang masih baru. Seperti anak-anak yang masih kecil, kalau menuntut sesuatu kepada orangtua, seakan-akan orangtua yang berutang kepada anak. Anak-anak tidak pernah mempertimbangkan, apakah yang dia minta itu benar-benar berguna, benar-benar baik untuk dirinya, bukan sekadar senang. Apalagi orang-orang Kristen baru tersebut berasal dari agama lain, yang memang ilah, allah, dewanya bisa dimanipulasi. Tetapi bagi kita—yang sudah semestinya menjadi orang Kristen yang akil baligh; sudah menjadi dewasa—sikap tersebut adalah sebuah pelecehan; sikap tidak hormat. Tetapi justru, orang-orang Kristen merasa itu adalah cara memuliakan Allah. Allah senang dipercayai kuasa dan kebaikan-Nya itu. Allah membutuhkan kepercayaan itu dari umat, dan Allah bisa terbujuk untuk mendengar doa, menjawab doa, mengabulkan doa, menyatakan kemuliaan-Nya.
    Percaya kepada Allah haruslah percaya tanpa syarat, artinya percaya bukan karena mau memeroleh sesuatu, melainkan percaya karena kita mau mempersembahkan sesuatu. Kepercayaan yang tak bersyarat, artinya tetap teguh percaya walau keadaan bagaimanapun. Ini sejalan dengan makna percaya itu sendiri, yakni menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Ketika seseorang memercayai Allah, maka ia menyerahkan dirinya kepada Allah. Baik itu cita-cita, pikiran, perasaan, keinginan, dan segala yang dimiliki, semuanya diserahkan kepada Allah. Penyerahan segala sesuatu tersebutlah yang akan menunjukkan apakah percaya seseorang benar-benar berkualitas atau tidak. Ketika seseorang tidak bersedia menyerahkan segala sesuatu yang ada padanya kepada Allah, sebenarnya ia sedang mencurigai Allah. Ia curiga bahwa Allah ingin mengambil kesenangannya atau miliknya. Padahal, perihal menaruh percaya kepada Allah dengan menyerahkan segala sesuatu adalah wujud mengolah batin yang kita lakukan sebagai persiapan berjumpa dengan Allah. Allah mau orang-orang yang nanti masuk surga adalah mereka yang sudah menaruh percaya kepada Allah tanpa syarat.
    Seperti pengalaman Tuhan Yesus di kayu salib. Walaupun Tuhan Yesus merasa Bapa meninggalkan diri-Nya, Ia tetap menaruh percaya supaya tugas penyelamatan yang diemban-Nya itu dapat ditunaikan dengan baik. Ia tetap menaruh percaya kepada Bapa; Ia tidak mencurigai Allah, Bapa-Nya. Ia tetap menaruh percaya dengan hormat. Ini ketaatan kepada Bapa,
    0 min
  • Membangun Cinta
    Tidak dapat disangkali bahwa kita bisa membangun cinta kita kepada objek-objek tertentu. Dulu ketika peran orangtua begitu kuat dalam menjodohkan anak-anaknya, banyak anak yang dijodohkan begitu saja tanpa ada masa berpacaran, tanpa ada pertemuan seperti anak-anak muda hari ini. Dari tidak kenal, lalu dipaksa kenal, untuk kemudian membangun rumah tangga. Pada akhirnya, mereka bisa saling mencintai. Memang mungkin karena suasana zaman waktu itu. Dan jarang kita mendengar perceraian, sebab perceraian itu aib. Faktanya, rumah tangga-rumah tangga tersebut bisa utuh dan kokoh. Tidak jarang yang tadinya tidak cinta, lambat laun menjadi cinta; bahkan ketika pasangannya dimasukkan ke liang kubur, pasangannya mau ikut masuk juga karena begitu besar cintanya.
    Jadi, sebenarnya cinta itu bisa dibangun. Demikian pula cinta kita kepada Tuhan, bisa kita bangun. Tuhan tidak memiliki martabat dan tidak bernilai kalau Ia menaruh cinta terhadap diri-Nya di hati seseorang, sedangkan orang tersebut belum tentu mencintai Tuhan. Itu pemaksaan, dan itu bukan hakikat Allah yang adil, bermartabat, dan agung. Kita saja sebagai manusia tidak ingin memaksa orang mencintai kita. Kalau seorang pria memaksa wanita mencintainya, maka itu cinta yang tidak natural; cinta yang tidak tulus. Jadi, cinta harus dengan natural, tulus, yang diberikan seseorang kepada objek lain. Tuhan tidak memaksa kita untuk mencintai Dia dan Ia tidak menaruh secara mistis rasa cinta dalam diri kita untuk diri-Nya. Cinta itu harus kita bangun sendiri. Tadinya kita mencintai dunia, mencintai berbagai hobi, kesenangan, kehormatan, nafsu-nafsu kita. Sekarang, kita memilih untuk mengarahkan cinta kita kepada Tuhan; itu bisa, bukan tidak bisa.
    Hal itu harus kita paksakan, bila perlu. Sekalipun karakter kita lebih buruk dari sebagian besar orang dalam banyak aspek, namun satu hal yang harus kita mengerti bahwa mengasihi Tuhan itu segalanya. Maka, kita harus berusaha mengasihi-Nya. Bahkan, kalau perlu kita memaksakan diri kita untuk mengasihi Tuhan. Betapa indah dan mulia, betapa agung dan berharganya kalau kita bisa mencintai Allah dengan tulus, natural, ikhlas. Kualitas cinta yang seperti ini pasti Allah merasakannya. Kepada orang berdosa, Allah mencintainya. Apalagi kepada orang yang mau mencintai Dia. Pasti akan terjadi hubungan yang indah sekali. Kesempatan tersebut hanya pada waktu kita hidup di bumi, bukan nanti pada waktu setelah meninggal. Oleh karenanya, sejak kita di bumi ini, kita bisa membangun cinta kita kepada Allah.
    Masalahnya, Allah tidak kelihatan, Dia tidak tampak, dan seakan-akan Dia tidak ada. Sering, seakan-akan benar-benar Tuhan tidak ada. Kita sering diuji lewat berbagai masalah. Jika kita mengingat Abraham, ia harus menunggu anaknya selama seperempat abad. Dua puluh lima tahun, bukan sebuah waktu yang singkat. Seakan-akan Tuhan tidak setia, dan negeri yang dijanjikan di mana Tuhan memerintahkan Abraham keluar dari Ur-Kasdim pun, tidak kunjung ditemui. Tetapi imannya tidak menjadi gugur. Lalu, bagaimana kita bisa mencintai Allah yang tidak kelihatan ketika situasinya tidak mendukung? Kita harus percaya bahwa Alkitab itu benar. Alkitab telah mengisahkan, mengungkapkan, menjelaskan, menguraikan mengenai keberadaan Elohim Yahweh, Allah yang hidup, Allah yang Esa, dan kita percaya bahwa apa yang ditulis Alkitab itu benar. Berangkat dari keyakinan ini, kita dapat mencintai Allah meskipun Dia seolah-olah tidak ada.
    Ada Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang memanggil Abraham, dan yang memilih Israel sebagai umat pilihan secara darah daging, yang menuntun mereka keluar dari Mesir ke Kanaan; Allah yang memberi sepuluh tulah, yang merobohkan tembok Yerikho, yang mengeringkan Laut Kolsom dan Sungai Yordan, yang turun dengan kemuliaan-Nya di Sinai sehingga orang menggeletar, yang memberikan dua loh batu, Allah yang mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus. Dia Allah yang nyata, yang hidup, dan kita bisa berkata,
    0 min
  • Sebuah Keindahan
    Ada dua aspek kehidupan yang harus kita mengerti dan terima, yaitu: pertama, kita harus menerima realitas bahwa kita hidup di dunia yang sudah jatuh, dunia yang sudah rusak, dunia yang sudah terhukum atau terkutuk. Maka, jangan berharap kita tidak mengalami apa yang dialami oleh manusia lain. Kita harus berpikir realistis dan menerima kenyataan bahwa kita juga bisa mengalami hal-hal yang juga dialami oleh orang-orang di luar orang percaya. Kenyataan tersebut merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari hidup manusia, termasuk hidup kita. Jadi, jangan memandang itu sebagai hal yang sial, bencana, kutuk atau hukuman.
    Kedua, ada Allah yang hidup, Allah yang hadir di dalam hidup kita. Di dalam hidup manusia secara umum, Allah menjaga tatanan dan memelihara kehidupan. Dalam hidup kita secara khusus, Allah mengemas semua peristiwa yang terjadi. Termasuk kesulitan dan penderitaan yang kita alami, kesulitan yang kita alami seperti yang dialami manusia lain, yang melaluinya Bapa mempersiapkan kita untuk menjadi anggota keluarga Kerajaan. Oleh sebab itu, kita harus melihat dan bisa menemukan kawasan Ilahi seperti yang Henokh alami yang ditulis dalam Kejadian 5:24, “Henokh bergaul dengan Allah kemudian Henokh diangkat.” Allah mau tinggal bersama-sama dengan kekasih-Nya ini; sampai Henokh diangkat hidup-hidup.
    Kita harus melihat peluang yang sangat mulia, yakni ketika kita dapat bergaul dengan Allah secara pribadi. Tentu saja ini bukan sesuatu yang mudah dan harganya tidak murah. Sebab, kita berurusan dengan Allah yang Mahaagung, Allah yang Mahatinggi, Allah yang Mahamulia. Harganya adalah seluruh kehidupan kita. Sejujurnya, kita belum membayar penuh harga percaya kita, sehingga kita belum berjalan dengan Allah secara ideal atau sebagaimana mestinya. Memang kita bukan orang rusak yang tidak beradab, tetapi mestinya kita bisa mencapai kehidupan yang sangat mulia ini, yakni berjalan dengan Allah.
    Jangan sampai kesempatan yang berharga ini berlalu, dan kita meninggal dunia tanpa memiliki hidup yang bergaul, berjalan bersama dengan Allah. Harganya segenap hidup. Kalau bicara seperti ini, kadang-kadang orang menjadi takut. Tetapi kalau kita terus mencoba dan terus belajar, ini bukan sesuatu yang tidak mungkin kita lakukan. Kalau kita berani belajar dan melangkah, pada akhirnya akan menjadi kesukaan. Maka, jangan memiliki kesenangan kecuali Tuhan sebagai kesenangan kita. Kalau kita memiliki kesenangan-kesenangan tertentu, hendaknya kesenangan-kesenangan itu juga bisa dinikmati oleh Allah. Makanya kita harus berani tidak memiliki kesenangan, kecuali Tuhan. Lalu apakah di dalam hidup ini kita tidak punya sama sekali kesenangan? Kalau Tuhan menjadi kesenangan dan kebahagiaan kita, maka Tuhan tahu kita manusia memiliki kesenangan juga. Melihat anak-anak sehat, melihat orang-orang yang kita kasihi sehat, kebutuhan terpenuhi, tidak mengalami kesulitan jika itu tidak mendewasakan. Tuhan juga pasti tahu bahwa kita adalah manusia yang butuh hiburan, kesenian, dan kebudayaan seperti musik, tarian, tontonan, dan sebagainya. Tuhan juga memahami bahwa manusia tercipta sebagai makhluk sosial, sehingga kita memerlukan kebahagiaan berkumpul dengan orang-orang yang kita kasihi; Tuhan pasti akan memenuhinya. 
    Namun, hal yang penting adalah bukan hal-hal tersebut yang menjadi tujuan atau pencarian kita. Banyak orang lebih mengejar hiburan, kesenian, kesenangan, dan relasi dengan orang lain lebih daripada Tuhan. Tuhan dipandang kebutuhan yang dapat menyusul, bukan kebutuhan satu-satunya. Pencarian akan segala kesenangan seharusnya tidak menjadi tujuan dalam hidup kita. Tuhan adalah satu-satunya tujuan dari kehidupan kita. Kita tidak merasa bahagia bila Tuhan tidak merasa bahagia. Bahkan sekalipun kita berada dalam pertunjukan bersama orang yang paling kita kasihi, namun jika hubungan kita dengan Tuhan sedang berada dalam keadaan tidak harmonis; kita tidak merasa bahagia. Yang membahagiakan kita hanya Tuhan sehingga kita bisa ...
    0 min
  • Perjumpaan Pribadi
    Firman Tuhan mengatakan, “Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui” (Yes. 55:6). Jadi, ada satu wilayah dalam hidup kita yang itu bagian Tuhan dimana Tuhan mencari kita dan menyelamatkan kita. Bukan kita yang mencari Allah, melainkan Allah yang mencari kita. Jadi keselamatan yang kita miliki, anugerah yang kita miliki itu berangkat dari Allah semata-mata. Tetapi setelah kita ditemukan oleh Tuhan, maka bagian kita adalah mencari Tuhan. Ketika Allah menemukan kita; kita belum menemukan Dia. Jadi jangan merasa kalau kita sudah ditemukan Tuhan, berarti kita telah menemukan Dia. Allah menemukan kita, tetapi kita belum menemukan Dia. Itulah sebabnya, dalam suratnya Paulus mengatakan di Filipi 3:12, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Tulisan Paulus mengungkapkan bahwa ada usaha aktif dari pihak manusia untuk menemukan Tuhan setelah dirinya telah ditemukan oleh Tuhan.
    Allah yang mengejar, menangkap, dan menemukan kita. Itu bagian Allah di wilayah hidup kita, bukan bagian kita. Tetapi ada bagian kita di wilayah hidup kita, yaitu kita mencari Allah. Ini yang harus kita usahakan dengan sungguh-sungguh. Dengan cara bagaimana? Mendengarkan Firman, belajar kebenaran Firman, doa, meditasi. Ini bagian dari usaha untuk mencari dan menemukan Allah. Di samping itu juga kesempatan lain dimana kita menyediakan diri untuk mengoreksi pikiran, perkataan, dan perbuatan kita kalau-kalau ada yang salah. Selalu saja ada tantangan, serangan, dan kejatuhan. Tetapi, kita tidak mau berbuat salah karena itu membuat hubungan kita dengan Tuhan menjadi tidak harmonis. Jadi, kita harus mencari Allah dengan sungguh-sungguh. 
    Pengalaman perjumpaan dengan Allah itu luar biasa yang tidak akan pernah bisa diungkapkan kepada orang lain secara lengkap atau utuh. Jadi, perjumpaan pribadi kita dengan Allah itu luar biasa. Tidak bisa diungkapkan kepada orang lain, tidak bisa dilukiskan atau diucapkan dengan kata-kata, karena itu dirasakan. Jadi, saat kita terus bertumbuh dalam Tuhan sehingga kita bisa face to face atau heart to heart, bisa pribadi ke pribadi dengan Tuhan; itu merupakan pengalaman yang luar biasa. Hal ini tidak dapat digantikan dengan memiliki jabatan gerejawi sebagai pendeta atau aktivis. Tetapi ketika kita sungguh-sungguh mencari Tuhan, melepaskan semua dosa dan ikatan percintaan dunia, segala kesenangan, semua ambisi, berusaha hidup suci, tak bercacat, tak bercela, menyediakan waktu untuk menyembah Tuhan, berfokus hanya kepada Tuhan dalam hidup ini, maka kita bisa mengalami perjumpaan dengan Tuhan.
    Perjumpaan dengan Tuhan itulah yang dapat membuat kita lebih mengoreksi diri kita, kalau-kalau ada yang salah dalam hidup kita. Disadari atau tidak, itu adalah suasana yang mendekati dengan suasana perjumpaan dengan Tuhan, muka dengan muka nanti di pengadilan takhta Kristus. Kita akan menghadap Tuhan Yesus, dan kita akan bertemu muka dengan muka dengan Tuhan. Bagaimana suasana perjumpaan itu bisa kita alami? Paling tidak, sebagian dalam hidup kita hari ini, buah atau hasil pencarian akan Allah. Jadi, kita bisa benar-benar memperlakukan Allah sebagai Pribadi yang hidup, bukan dalam khazanah teologi atau pengetahuan. Ini memang tidak bisa dijelaskan secara lengkap, mengingat betapa pribadinya perjumpaan seseorang dengan Tuhan. Tetapi seperti kita bertemu dengan orangtua kita muka dengan muka, bertemu dengan pasangan hidup kita, bertemu dengan teman, bagaimana kita memiliki perjumpaan dengan pribadi-pribadi di sekitar kita; kita mengalami perjumpaan pribadi dengan Allah yang tidak kelihatan.
    Kalau dulu kita pernah sesat atau menyimpang karena begitu mengandalkan pengetahuan teologi, berdoa kepada bayang-bayang, kepada fantasi Allah di dalam pikiran—dimana doanya bisa lancar dan bagus, tetapi tidak ada perjumpaan dengan Allah secara pribadi—maka sekarang Tuhan mau...
    0 min
  • Berada di Posisi yang Benar
    Ada saat dimana Tuhan memandang kita sudah harus mengambil posisi yang jelas di hadapan Allah. Tuhan akan terus mendesak kita sampai pada satu titik dimana kita harus mengambil keputusan yang jelas dan tegas; di mana posisi kita. Kalau kita mau memilih Tuhan, maka Dia harus menjadi segalanya dalam hidup kita. Menjadikan Tuhan segalanya, artinya Dia satu-satunya kebahagiaan kita. Tuhanlah yang menggerakkan kita hidup, dan kita digerakkan hanya untuk melakukan kehendak Bapa. Dia menjadi tujuan hidup kita dimana kita hanya mengarahkan diri untuk menghadap Allah dalam keadaan berkenan kepada-Nya.
    Mungkin kita selama ini merasa sudah demikian, padahal sebenarnya belum. Kita memiliki banyak keinginan, cita-cita, obsesi, walaupun itu dibungkus dengan dalih pelayanan; sejujurnya, juga ada agenda di balik itu supaya kita bisa eksis. Kenapa? Karena hati kita memang belum sepenuhnya bulat untuk memberi kemuliaan bagi Allah. Jadi, ada agenda—sekecil apa pun, masih ada agenda kita—untuk eksis. Agenda tersebut secara terselubung dimiliki oleh banyak pendeta, banyak hamba Tuhan, banyak orang mengaku pelayan Tuhan. Bukan tidak boleh khotbah, bukan tidak boleh siaran di radio di televisi atau membuat proyek ini dan itu. Tuhan memang menghendaki kita bergerak terus melakukan pekerjaan Tuhan, pelebaran Kerajaan Allah melalui segala sarana. Tetapi ketika kita belum memiliki posisi yang bulat dan utuh, sebenarnya masih ada agenda-agenda pribadi kita di situ. Jika masih ada agenda-agenda pribadi di situ, pasti kita masih mau menyerang orang, menjelekkan orang, dengan kecerdikan kita mengata-ngatai orang, membicarakan orang lain yang mengarah untuk menjatuhkan, karena kita mau mengangkat diri kita.
    Tetapi ketika kita mengambil keputusan untuk ada di posisi yang benar, kita serius di situ, kita pasti tidak memiliki agenda apa pun dalam hidup ini, kecuali menyenangkan hati Allah Bapa. Hidup kita pun menjadi bergairah karena kita mau melakukan kehendak Allah. Kita mau hidup tidak bercacat, tidak bercela, juga bukan karena “aku”-sentris tetapi Teosentris, kita mau menyenangkan hati Allah. Jika kita sudah bisa menghayati hal ini, kita akan tahu bahwa kalau kita tidak merindukan Tuhan, berarti kita berkhianat kepada-Nya. Kalau kita tidak ingin pulang ke surga, berarti kita sudah sesat. Memang pada mulanya Tuhan menciptakan manusia dengan keadaan dimana manusia tidak akan pernah terpuaskan selain oleh Allah. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa kita ini adalah kekasih Allah. Dalam Perjanjian Baru, kita disebut sebagai mempelai Tuhan. kalau kita belum ada di posisi yang tepat—hati kita masih bercabang, masih ada yang kita harapkan menyenangkan kita, kita tidak sungguh-sungguh ingin pulang ke surga, kita tidak sungguh-sungguh ingin hidup tidak bercacat, tidak bercela, hanya untuk menyenangkan hati Allah—tapi kita melakukan pekerjaan Tuhan, pasti di situ masih terdapat agenda pribadi yang terselubung.
    Dalam hal ini, kita harus selalu mengoreksi diri. Kita sudah menjadi manusia yang rusak selama belasan tahun atau mungkin puluhan tahun. Untuk menjadi manusia yang tidak rusak, tentu tidak bisa hanya dalam beberapa bulan saja, namun harus melewati perjalanan waktu yang panjang. Tetapi mengingat saatnya makin singkat, makin sempit, dunia semakin jahat, kita juga bisa meninggal setiap saat, maka kita harus berjuang sekeras-kerasnya dengan kecepatan setinggi-tingginya untuk mengalami perubahan. Kita bisa berseru kepada Tuhan agar Dia menolong kita untuk memiliki posisi yang tepat seperti yang Dia kehendaki, supaya dalam hidup ini kita tidak mempunyai agenda pribadi. Tetapi kita dapat seperti Paulus yang mengatakan dalam Filipi 1:21, “Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.” Dan di 2 Korintus 5:14-15, “Bahwa Yesus telah mati untuk kita.” Kita semua sudah mati. Jadi kalau kita hidup, kita hidup hanya untuk Dia yang telah mati bagi kita. Itu posisi yang benar.
    Maka,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…