Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Iman yang Kokoh
    Pada umumnya, kita berpikir kalau orang cakap dalam hal-hal doktrinal, maka imannya kokoh. Padahal, pengetahuan tentang doktrin yang dimiliki seseorang itu belum tentu membuat iman seseorang itu kokoh. Seseorang dikatakan memiliki iman yang kokoh apabila kesalehannya memancar, kesuciannya tampak, kehidupannya tidak melukai orang tetapi memberkati orang. Hidupnya memancarkan kepribadian yang agung, yaitu kepribadian Allah Bapa sendiri. Hal yang harus kita pelajari terlebih dahulu adalah, apa yang dimaksud dengan iman? Iman adalah penurutan terhadap kehendak Allah. Maka, jika doktrin yang dimilikinya benar, ia harus mengaplikasikannya dalam hidup sehari-hari. Dengan kata lain, doktrin yang benar pasti memiliki implikasi; bukan hanya di ruang kuliah atau di dalam gereja, namun dalam hidup keseharian kita. Artinya, ada tuntutan untuk dilakukan, ada keterkaitan dengan etika yang harus dikenakan atau moral yang harus digelar di dalam hidup. Jadi, apabila suatu doktrin hanya menjawab masalah logika, harus diragukan apakah itu doktrin yang benar atau tidak.
    Alkitab harus bertemu dengan tindakan nyata. Jadi, yang melegalisir kebenaran itu murni atau tidak, bukanlah pandangan para teolog, bahkan bukan keputusan konsili, tetapi harus Alkitab. Selanjutnya, kebenaran itu harus dibuktikan dengan perilaku riil. Terkait dengan hal ini, setelah kita mempelajari kebenaran-kebenaran melalui proses, akhirnya kita tiba di satu titik, yaitu kita menemukan harga mengikut Yesus. Harganya adalah segenap hidup kita. Karena begitu beratnya harga yang harus dibayar, begitu beratnya syarat yang harus dipenuhi, terkadang gereja menghindar. Tanpa disadari, terjadi penyimpangan di dalam kurun waktu ratusan tahun. Salah satu kompensasinya adalah kehidupan Kristen dijawab dengan uraian doktrinal. Doktrin harus ada, tetapi harus memiliki implikasi konkret; harus ada implikasinya, harus ada penerapannya, apa pun doktrin tersebut.
    Gereja mengalami kemerosotan iman yang luar biasa. Kekristenan yang sejati makin tahun, makin lenyap. Orang-orang Kristen hidup di dalam kewajaran. Tuhan Yesus berkata di Lukas 14:33, “tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.” Apa arti ‘melepaskan dirinya dari segala miliknya?’ Artinya, kalau kita mau jiwa kita selamat, kita harus rela kehilangan dunia ini. Itu harga dari “melepaskan segala sesuatu.” Pesan ini mengandung sebuah konsekuensi yang mahal sekali. Bahwa mengikut Tuhan Yesus itu harus melepaskan segala kesenangan, sehingga kesenangan kita hanya menyenangkan Tuhan. Kurang dari itu, tidak layak. Ironis, banyak orang menganggap ini berlebihan, tetapi kalau suatu hari mereka bertemu dengan Bapa di surga yang kemuliaan-Nya maha dahsyat, mereka baru tahu memang pantas melepaskan segala sesuatu demi kemuliaan tersebut. Namun, mereka sudah terlambat. Di ayat yang lain Tuhan Yesus juga berkata senada, yaitu di Matius 6:19-20, “jangan kumpulkan harta di bumi.” Jadi kalau kita studi, bersekolah, bekerja, itu bukan karena kita mau mengumpulkan harta di bumi. Tentu ini terkait dengan 1 Timotius 6:7-8, karena kita tidak membawa suatu apa, kita juga nanti akan pergi tidak membawa suatu apa. Asal ada makanan dan pakaian, cukup. Suatu saat, ketika orang melihat bencana—tsunami, gempa bumi, badai, kebakaran dimana dalam sekejap gedung pencakar langit hancur, rumah dan mobil hanyut terbawa arus—baru ia mengerti mengapa Tuhan mengatakan, “kamu harus memindahkan hatimu.” Kita harus memindahkan hati kita di Kerajaan Surga; hati kita tidak boleh terikat di bumi ini.
    Sebagaimana pemazmur menuliskannya di Mazmur 73:25-26, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ayat ini mencerminkan orang yang telah memindahkan hatinya di surga. Mereka telah memikirkan perkara-perkara yang di atas,
    0 min
  • Kemungkinan Ditolak
    Kita harus selalu berpikir dan membayangkan adanya kemungkinan kita ditolak oleh Allah. Sebagaimana seorang pelajar yang berpikir ada kemungkinan tidak lulus; maka agar ia tidak mengalami keadaan itu, ia akan semakin rajin belajar. Dalam hal ini, jangan berkata, “Kita kan diajar Tuhan untuk tidak takut dan tidak khawatir. Saya tidak khawatir tidak diterima di surga.” Itu adalah sikap ceroboh. Tuhan berkata, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tapi tidak berkuasa membunuh jiwamu.” Ada yang ditakuti. “Jangan kamu kuatir akan apa yang kau makan, minum, pakai,” tapi khawatirlah kalau kamu tidak masuk surga. “Takutlah akan Allah yang berkuasa membuang kamu ke neraka.” Ada yang ditakuti, ada yang dikhawatirkan. Kalau yang ditakuti, dikhawatirkan adalah objek-objek tertentu yang fana, kita pasti binasa. Ironis, banyak orang yang lebih takut miskin daripada masuk neraka. Mereka takut miskin, karena takut tidak terhormat; namun, hal masuk neraka mereka tidak peduli.
    Orang yang takut akan Allah berani menghadapi apa pun. Akan tetapi kalau terhadap Tuhan ia tidak takut, maka dia akan takut menghadapi banyak bahaya. Ada orang yang takut pergi ke rumah sakit, apalagi ke rumah duka. Tapi dalam kesehariannya, dia menindas orang yang lemah. Maka kita harus membayangkan bahwa kita bisa ditolak, supaya kita takut akan Allah. Dari pergumulan untuk mengetahui apakah diri kita sudah melakukan kehendak Bapa atau belum, maka kita harus berusaha untuk menemukan perjumpaan dengan Tuhan, mendengar Tuhan berbicara. Kalau Allah itu hidup, kita harus berani meyakini Dia bereaksi, Dia merespons kalau kita mempertanyakan sesuatu kepada-Nya. Oleh karenanya, jangan bergantung kepada manusia. Orang harus benar-benar hidup bersih, kebahagiaannya hanya diarahkan pada Tuhan, bukan pada dunia ini, sehingga dia bisa menghayati keberadaan Allah dan mendengar suara Tuhan. Jika dia berbuat suatu hal yang tidak berkenan, damai sejahteranya hilang. Hal ini tentu tidak dapat diajarkan sepenuhnya melalui kata-kata, tetapi harus dialami. Mestinya kita sadar, sekecil apa pun masalah itu, kita tahu ini berkenan atau tidak. 
    Kita mau memiliki kematian yang bermartabat. Orang yang tidak memiliki kepastian apakah dia diterima atau ditolak oleh Allah, pasti dia tidak memiliki kematian yang bermartabat. Tidak mungkin. Keselamatannya pun sebuah spekulasi. Orang yang memiliki kematian yang bermartabat, orang yang memiliki kepastian dia akan diterima oleh Allah. Kepastian tersebut tidak dibangun dari rumusan doktrin atau pengajaran, tetapi dia peroleh melalui pengalaman hidup ketika dia belajar untuk hidup dalam kesucian hidup yang tidak bercacat, kehidupan yang tidak bercela, dan hatinya tidak terikat dengan dunia ini. Dia akan mengerti kapan dia salah, kapan dia tidak salah. Dia pun tahu apakah dirinya masih terikat dengan kesenangan dunia ini atau tidak. Dari situlah ia memiliki kepastian. Jadi, kesucian hidup itu bukan sesuatu yang gelap atau spekulatif, melainkan sesuatu yang dinikmati dan riil. Apalagi ketika kita memiliki perjumpaan dengan Tuhan, kita bisa merasakan perasaan Tuhan. Bagaimana Tuhan menerima kita waktu kita datang menyembah dengan hati yang bersih, atau kita dengan hati yang kotor dan merasa “ada yang tidak tepat dalam hidupku.” Sebagaimana Tuhan katakan, “kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Kita bisa mengerti posisi kita saat ini bertuankan siapa. Jangan sampai sudah tua, masih punya ambisi, dan belum mengerti kepada siapa kita mengabdi.
    Di sini dibutuhkan juga kebenaran yang mencerdaskan pikiran kita. Semua ini berjalan secara simultan atau terus berjalan bersama. Dari kesediaan kita tidak melakukan pelanggaran umum, lalu mulai berkembang ke batiniah, lalu kita juga tentu harus belajar Firman Tuhan. Kita harus punya jam doa untuk merasakan kepekaan, kehadiran Allah, kita akan bisa merasakan perasaan Tuhan. Jadi, kalau sekarang kita masih bingung, hal itu disebabkan karena hidup kita masih keruh.
    0 min
  • Dijawab dalam Perilaku Hidup
    Kehidupan berat yang dijalani hari ini tidak menjadi berat kalau kita melihat pengharapan yang akan datang. Sebaliknya, ketika kita memandang cerahnya masa depan di bumi, maka kita tidak bisa menatap indahnya Kerajaan Surga. Oleh karenanya, seberat apa pun masalah hidup kita, itu menjadi kecil kalau kita betul-betul mengarahkan diri kepada kehidupan yang akan datang, dan berusaha untuk hidup berkenan kepada Tuhan sebagai persiapan untuk menghadap takhta pengadilan Kristus. Hal ini kita lakukan supaya gairah kita menjadi bernilai, seiring dengan potensi makhluk kekal yang disebut manusia. Jangan seperti gairah yang ada pada hewan yang hanya demi bertahan hidup, mereka mencabik-cabik binatang lain yang lebih lemah. Hewan tidak mengerti kekekalan, tiada harapan kekekalan. Gairahnya tidak bernilai. Maka, kalau gairah kita hanya pada rumah bagus, mobil, kedudukan, kekuasaan, kita tidak lebih baik dari hewan. Bukan hanya berebut kekuasaan di luar gereja, bahkan di dalam gereja pun dapat terjadi perebutan kedudukan dan kekuatan. 
    Banyak orang Kristen merasa bahwa yang penting tidak jahat, tetap rajin ke gereja, apalagi menjadi aktivis; cukup. Padahal, menjadi Kristen itu harus sempurna seperti Bapa, serupa dengan Kristus. Ini sepadan dengan kemuliaan yang kita akan peroleh bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Maka, kalau seseorang menunda apa yang harus dilakukan sekarang, dalam kurun waktu tertentu, ia bisa jadi membatalkan. Kalaupun kita mau melakukannya, belum tentu kesempatan itu ada. Kuasa gelap itu menipu dengan pemikiran bahwa sekarang ini—selama masih di dunia dan belum menghadap tahkta pengadilan Allah—kita itu tidak akan bisa mengerti kita nanti masuk surga atau masuk neraka. Jadi, cukup diyakini saja. Kalau seseorang sudah mulai berpikir begitu—yang penting hanya diyakini—maka pasti tidak ada usaha yang maksimal. Sebagaimana seorang atlet yang dilatih untuk ikut lomba Olimpiade, dia harus berlatih sekian lama—tidak mungkin hanya 1-2 kali latihan—untuk memastikan bahwa dirinya layak diikutsertakan dalam perlombaan bergengsi tersebut. Tuhan pun mau kita memastikan diri untuk itu.
    Seseorang yang berpikir bahwa Tuhan membuat hal kekekalan adalah suatu hal yang spekulatif, sejatinya ia sedang menuduh Tuhan jahat. Pikiran semacam ini membuka celah Iblis menguasai hidup seseorang. Iblis masuk melalui mimbar gereja, sehingga banyak gereja sesat; kesesatan yang tidak disadari. Mengapa? Karena semua dirumuskan dalam doktrin, dalam sistematika dogmatika sejak di sekolah tinggi teologi. Jangan kita berpikir bahwa hal diterima atau ditolak Allah tidak bisa dipersoalkan sejak sekarang, seakan-akan Allah menyembunyikan hal itu. Jika kita beranggapan bahwa Allah sekarang ini—sementara kita hidup—sengaja menyembunyikan kepastian diterima atau ditolak oleh Allah, kita menuduh Allah itu jahat dan licik. Allah seperti bola liar yang menggelinding dan tidak pernah bisa dipahami ke mana larinya. Sejatinya, sejak masih hidup kita harus sudah memiliki geliat usaha yang jelas, sehingga kepastian keselamatan itu bukan dijawab dalam rumusan doktrin, tapi dalam perilaku hidup. Itulah sebabnya Tuhan menghendaki agar kita itu menguji diri. Kita diajarkan untuk memohon pada Tuhan, membuka pikiran dan menguji diri kita untuk mengetahui apakah jalan kita serong (Mzm. 139; 2Kor. 13; Ef. 5:10).
    Untuk dapat kepastian kita diterima atau tidak di Kerajaan-Nya, kita harus menggunakan ukuran keberkenanan di hadapan Bapa. Ukuran keberkenanan tersebut kita peroleh ketika kita melakukan kehendak-Nya. Masalah utamanya sekarang adalah: bagaimana kita tahu kehendak-Nya? Mulailah dari melakukan apa yang kita pandang baik. Yang kita pandang tidak baik, jangan dilakukan. Mencuri, tidak menghormati orangtua, membunuh, berzina, menyakiti orang, pasti salah, bukan? Jangan lakukan. Dimulai dari hal sederhana tersebut. Tetapi harus didasari oleh kesetiaan, dan kerelaan melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Kalau dari hal-hal yang kelihatan saja kita tidak s...
    0 min
  • Berani Mengambil Risiko
    Kita tidak menemukan sesuatu yang berharga dalam hidup ini, kecuali kita berani mengambil risiko memercayai kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru, dan mengarahkan diri sepenuhnya kepada kehidupan yang akan datang itu. Tidak ada gairah yang berarti di dalam hidup ini kalau kita hanya bermain di area yang kecil. Jika demikian, kita tetap ada di dalam “kemiskinan” dan menyia-nyiakan potensi yang luar biasa yang ada pada kita. Sejatinya, kita memiliki potensi yang luar biasa untuk membangun hidup di dalam kekekalan. Tetapi kalau area berpikir kita hanya kepada area kecil atau sempit, bermain untuk hal-hal yang kecil, maka kita tidak memiliki gairah yang berarti. Namun, inilah yang dilakukan hampir semua manusia, termasuk hampir semua orang Kristen. Tapi banyak orang tidak menyadari karena konsep kemiskinan maupun konsep kekayaan yang dipahami oleh orang pada umumnya adalah hal-hal bendani atau hal-hal duniawi. Faktanya, tidak banyak orang yang mengarahkan diri pada kehidupan yang akan datang karena memang tidak berani memercayai hal itu sebagai realita yang pasti segera kita masuki, dan masih mencintai dunia.
    Hal ini berisiko, karena kita tidak boleh terikat dengan dunia. Seseorang baru menemukan gairah yang bernilai, seiring, atau seimbang dengan potensi yang ada pada manusia. Karena manusia makhluk kekal, gairahnya harus gairah yang berarti, bukan pada perkara kecil. Sangat disayangkan kalau manusia sebagai makhluk kekal hanya mengarahkan diri kepada hal-hal fana. Sesungguhnya, satu hal yang paling mendesak dalam hidup kita ini adalah apakah kita ini memiliki area beraktivitas hidup di bumi atau sudah benar-benar memfokuskan pada kehidupan yang akan datang? Dalam Kolose 3:1-3 dikatakan, “Carilah perkara yang di atas, bukan di bumi. Pikirkan perkara yang di atas, bukan di bumi.” Tuhan Yesus berkata di Matius 6:19-20, “kumpulkan harta di sorga, bukan di bumi.” Sejatinya, ini masalah yang bukan saja sangat penting, tetapi juga mendesak dan harus dipandang selalu mendesak. Kalau bisa, ini adalah satu-satunya masalah hidup kita. Yang lain, itu bisa relatif. Tinggal di rumah besar atau rumah kecil; rumah pribadi atau rumah kontrak, itu relatif. Tidur di atas kasur empuk atau di atas dipan atau kayu keras, itu relatif. Makan makanan yang mahal atau yang tidak mewah, yang penting bukan makanannya, tapi sehatnya dan nikmatnya. Jadi, relatif.
    Tetapi, masalah kekekalan tidak relatif. Manusia dalam kebodohannya mengutamakan yang relatif, tetapi tidak mengutamakan yang mutlak. Yang mutlak itu perkara-perkara di atas itu. Kenapa dikatakan mendesak? Karena, kalau aktivitas kita terus-menerus terfokus pada masalah-masalah fana dunia ini, kita tidak akan mampu mengangkat kepala melihat perkara-perkara yang di atas. Banyak orang tidak memandang ini sebagai hal yang mendesak, dan memang kuasa gelap akan bermanuver menghujani seseorang dengan berbagai kesenangan, kesibukan, cita-cita, obsesi, dan passion-passion yang lain atau gairah-gairah yang lain. Puncaknya, ketika orang Kristen berpikir surga tidak perlu dipikirkan sekarang, bisa ditunda nanti. Biasanya hal ini terkait dengan pengajaran atau doktrin yang memang tidak mengajarkan bahwa keselamatan itu harus direspons secara bertanggung jawab. Banyak orang berpikir bahwa selalu masih ada kesempatan, sehingga masih bisa ditunda untuk mengutamakan Allah. Padahal, Alkitab jelas memperingati kita lewat kasus Esau yang tidak mempunyai kesempatan lagi memperoleh hak kesulungannya, walaupun dengan air mata. Yang membuat banyak orang Kristen tertipu adalah ketika ia merasa bahwa mereka tidak bermaksud mengkhianati Tuhan dan tidak mengingini masuk neraka, dan itu sudah dianggap sebagai kontribusi yang berarti di mata Allah. Ini tentu keliru.
    Tidak ada orang yang sengaja bermaksud masuk neraka dan tidak ada juga orang beragama yang bermaksud mengkhianati Tuhan. Tapi ketika seseorang menunda langkah yang seharusnya dilakukannya sekarang—yaitu memproyeksikan diri pada kehi...
    0 min
  • Upah
    Seseorang memiliki kematian yang bermartabat atau tidak, tergantung kepada masing-masing individu. Dalam hal ini jelas, bahwa setiap orang memiliki kehendak bebas. Dari kehendak bebas ini, seseorang menentukan keadaan kekalnya. Yang pertama, apakah ia merespons keselamatan atau menolaknya. Ini tergantung dari individu. Respons kita terhadap realitas hidup ini, respons kita terhadap keselamatan yang Tuhan berikan, respons kita terhadap kesempatan pelayanan yang Tuhan berikan. Hal itu sudah dapat dilihat dari perjuangan seseorang bagi pekerjaan Tuhan hari ini. Yang kedua, setelah ia merespons keselamatan, apakah ia terus mau bertumbuh sampai memiliki karakter Yesus, menderita seperti Yesus. Maka, upah di kekekalan masing-masing orang itu berbeda (Why. 11:18). Kalau keselamatan ditentukan sepihak oleh Allah, seberapa jauh penentuan itu? Apakah sampai pada tingkat upah? Ada yang duduk bersama dengan Tuhan, semeja dengan Tuhan; tapi ada yang tidak. Ada yang besar upahnya, ada yang menerima mahkota, dan tidak. Nyatanya, masing-masing orang harus mempertanggungjawabkan; itu berarti ada kehendak bebas. Jangan sampai kita kehilangan keselamatan atau menyia-nyiakan keselamatan, karena kita tidak merespons keselamatan dengan benar.
    Setiap orang mendapat upah sesuai dengan jerih lelah yang dilakukannya selama hidup di bumi. Suatu hari, banyak orang akan menyesal karena telah menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk mengumpulkan harta di surga. Sekarang ini kita belajar untuk membayangkan penyesalan itu; penyesalan yang sangat dalam. Cobalah berperkara dengan Tuhan. Kita harus sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi pengadilan Tuhan. Sebab, ada perhitungan untuk nasib kekal kita nanti. Kalau ada ajaran yang mengatakan bahwa Tuhan secara sepihak menentukan orang selamat sekaligus juga menentukan upah, itu benar-benar salah. Ayat firman Tuhan mengatakan bahwa masing-masing individu harus mempertanggungjawabkan apa yang diperbuat, baik atau jahat. Jadi, ada yang bisa berbuat baik, ada yang bisa berbuat jahat. Semua akan diadili berdasarkan pilihannya. Adalah sesat kalau dikatakan, “Jika seseorang berbuat baik, itu karena Allah yang menentukan; sedangkan jika ia berbuat jahat, hal itu karena dia sendiri yang menentukan.” Itu tidak adil. 
    Ketika kita berada di rumah duka, apalagi pada waktu di pemakaman, akan ada perasaan tertentu; perasaan gentar terhadap kematian. Apalagi kalau ada anggota keluarga yang tidak rela, jerit tangisnya luar biasa menyayat. Suasana seperti itu adalah suasana yang mencekam, betapa dahsyatnya, dan suasana seperti itu bisa sangat kondusif untuk berpikir tentang kekekalan. Masalahnya, manusia hanya tercekam sesaat, setelah itu lupa. Tapi, kiranya memilih untuk mengingat terus. Kita harus membawa suasana kematian itu dalam hidup kita setiap saat, dan itu tidak berlebihan. Karena memang kematian bisa menjumpai kita setiap saat. Belum lagi ketika kita melihat orang sekarat di ujung maut. Suasana yang juga mengerikan. Bagi yang masih hidup saja itu mengerikan, mencekam, apalagi bagi yang sedang menjalaninya. Suasana yang begitu kritis, krisis, mengerikan itu, hanya bisa diantisipasi kalau seseorang setiap hari membiasakan diri berpikir, merenungkan tentang kematian, mempersiapkan diri dengan baik. Hidup tidak bercela, mengabdi melayani Tuhan, sampai titik kopos, barulah kita bisa mengantisipasi suasana itu.
    Kita harus memanfaatkan kesempatan yang ada; seberapa kita all-out? Apakah kita masih mencari keuntungan diri sendiri atau untuk keluarga kita dalam pelayanan? Orang-orang yang mengerjakan pekerjaan Tuhan sebagai kawan sekerja Allah atau utusan Allah adalah orang-orang yang bermartabat. Tentu saja, selama mengerjakan pekerjaan tersebut, ia lakukan dengan tulus, benar-benar untuk kepentingan Tuhan tanpa mencari keuntungan bagi dirinya sendiri atau keluarganya. Yang penting kita cukup. Orang yang tidak melayani Tuhan dengan benar berarti tidak menempatkan diri sebagai kawan s...
    0 min
  • Ini Aku, Tuhan
    Orang percaya yang benar pasti hidup tidak bercacat, tidak bercela, dan rela menderita bagi Tuhan. Penderitaan itu dialami karena melakukan apa yang Bapa inginkan. Namun, beberapa orang membenarkan diri dengan berkata, “Saya bukan tidak mau melakukan. Saya tahu saja, tidak.” Mengapa mereka sampai tidak tahu? Pertama, karena hidupnya belum bersih. Mereka masih hidup dalam kompromi dengan dosa. Yang kedua, masih terikat dengan percintaan dunia; hidup dalam kewajaran seperti anak dunia. Kedua hal ini bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, seseorang harus mematikan kedagingannya dahulu. Maka di Lukas 18:8 Tuhan Yesus berkata, “Kalau Anak Manusia datang, apakah Dia menjumpai iman di bumi?” Artinya, menjumpai orang Kristen dalam standar yang benar seperti ini; hampir tidak ada. Bukan berarti tidak ada sama sekali, namun sedikit. Dan di antara yang sedikit itu, kiranya Tuhan temukan kita sebagai orang-orang yang berani berkomitmen memelihara iman kita. Roma 8:17, “Dan jika kita adalah anak,” kata firman Tuhan, “…maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus.”
    Jadi, Allah Bapa sendiri memberi janji kepada Anak-Nya, akan memberikan kekuasaan dan kemuliaan. Tuhan Yesus akan menerimanya bersama-sama dengan kita. Jelas, “yang akan menerimanya, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Lalu ayat berikutnya, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Rm. 8:18). Ini yang menjadi kebahagiaan kita. Kalau ada kebahagiaan lain selain ini, pasti kita berkhianat kepada Tuhan dan tidak akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Dalam Mazmur 126:5 dikatakan, “Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai.” Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata—kopos—ini pasti lelah dan menyakitkan, namun ia akan menuai dengan bersorak-sorai.
    Sekarang, mestinya kita mencari pekerjaan Bapa yang mana dan yang bagaimana yang membuat kita sampai kopos. Kalau hanya jadi pendeta, pengkhotbah, tidak sampai mencucurkan air mata, tidak sulit. Tapi belum sampai seperti yang dikatakan Alkitab, kopos. Belum sampai grief, wailing, lamentation. Dalam hal ini, hanya Tuhan dan dirinya sendiri yang mengetahuinya. Galatia 6:7 katakan, “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.” Kalau kita menabur pengabdian kepada Tuhan sampai kopos, kita baru memiliki kemuliaan bersama Tuhan, dan kematian kita itu kematian yang bermartabat. Tapi akan sangat sedikit orang yang mau mencari kehidupan dimana ia melayani Tuhan sampai ratapan ini. Miliki gairah seperti yang Tuhan Yesus katakan: “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa, dan menyelesaikan pekerjaan-Nya; serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” Kita mau mencari tempat pelayanan, pengabdian kepada Tuhan sampai kopos; ada grief, ada ratapan. Ini adalah penderitaan yang dalam. Ini adalah martabat tertinggi. Sebab, martabat tertinggi seseorang adalah kalau ia menjadi kawan sekerja Allah. Menjadi kawan sekerja presiden di bumi ini saja, sangat terhormat. Apalagi menjadi kawan sekerja Raja di atas segala raja.
    Jadi, jangan merasa minder karena kita miskin secara ekonomi, rendah dalam pendidikan, atau rendah dalam tingkat sosial ekonomi. Kalau kita bisa menemukan tempat di mana kita mengabdi kepada Tuhan sampai pada ratapan, itu adalah kehormatan; martabat tertinggi. Makanya dalam pelayanan, kita tidak boleh memiliki agenda pribadi. Hari ini, Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk bertobat dan merubah diri agar kita layak menjadi kawan sekerja-Nya. Dan jika Tuhan Yesus bertanya,
    0 min
  • Kopos
    Sesungguhnya, ketika kita berani melepaskan semua kebahagiaan dan menjadikan Tuhan satu-satunya kebahagiaan kita, kita baru dapat merasakan kemerdekaan yang sejati dan kita akan menjadi sangat kokoh. Selama hidup di bumi ini dengan tubuh daging seperti kita, prinsip Yang Mulia Tuhan Yesus Kristus adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan yang Bapa tugaskan. Jadi, ketika Tuhan Yesus berkata, “serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” maksudnya adalah Ia hidup hanya untuk bekerja bagi Bapa; tidak ada tempat untuk beristirahat dan nyaman di bumi ini. Orang-orang yang mengikut Tuhan Yesus harus memiliki gaya hidup hanya bagi Bapa, sehingga dapat menghidupi ayat ini “Berbahagialah orang yang mati di dalam Tuhan, supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka” (Why. 14:13). “Jerih lelah;” kopos (κόπος), artinya grief with beating the breast; orang yang berduka sambil memukul dada (lamentation, wailing). Orang yang mengalami penderitaan, tentu penderitaan untuk pekerjaan Tuhan. Seperti Tuhan Yesus menderita sampai mati di kayu salib.
    Inilah orang-orang yang memiliki kematian yang bermartabat. Kalau kita tidak pernah berjerih lelah dengan penderitaan yang dalam, yang sungguh-sungguh, kita tidak pernah memiliki kematian yang bermartabat. Kematian orang yang bermartabat adalah kematian orang-orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Dan Tuhan Yesus mengatakan dalam Lukas 22:28-30, “Kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami. Dan Aku menentukan hak-hak Kerajaan bagi kamu, sama seperti Bapa-Ku menentukannya bagi-Ku,” sebagaimana hak Kerajaan diberikan kepada Tuhan Yesus oleh Bapa, demikian juga Tuhan Yesus akan memberikannya kepada kita. Ini tidak untuk semua orang, tetapi orang-orang yang dikatakan dalam ayat ini “tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan.” Dalam Roma 8:17, dikatakan sebagai orang-orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan.
    Mari kita membayangkan bagaimana Petrus, Yohanes, Yakobus, dan para murid lain meninggalkan rumah, meninggalkan keluarga mereka, meninggalkan perahu, jala,  dan kewajaran hidup mereka untuk mengikuti seorang Guru yang dianggap sesat oleh orang Farisi dan tokoh-tokoh agama. Tidak ada jaminan masa depan mengikut Yesus. Tetapi, murid-murid ini berani mempertaruhkan hidupnya. Jadi, tidak heran kalau murid-murid Yesus berkata, “Kami sudah meninggalkan segala sesuatu. Apa yang akan kami peroleh?” Ini adalah penderitaan yang luar biasa; meninggalkan pekerjaan, keluarga, masa depan tidak jelas. Kemudian setelah Yesus naik ke surga, mereka dikejar-kejar seperti penjahat; mati dipancung, dijadikan umpan binatang buas, dengan kematian yang tidak bermartabat. Tetapi Alkitab mengatakan dalam Roma 8, “kamu lebih dari orang-orang menang,” maksudnya “kamu lebih dari orang-orang Romawi yang menang secara ekonomi, politis, dan berbagai bidang. Kamu tidak punya apa-apa, tapi tidak ada yang bisa memisahkan kamu dari kasih Kristus.”
    Apa pun yang kita lakukan yang membuat hati Tuhan senang adalah pelayanan. Di samping itu, pasti juga mendatangkan keteduhan bagi sesama, dan tidak melukai orang. Tidak perlu menjadi pendeta atau mencapai gelar kesarjanaan teologi. Orang-orang seperti inilah yang bermartabat; yang layak menerima mahkota kebenaran. Jadi kalau selama ini kita sering mendengar orang berkata, “Kita lebih dari pemenang,” apa maksudnya? Menang dari apa atau siapa? Ayat ini sering dikacaukan oleh orang-orang yang tidak mengerti maksudnya. Kita melihat banyak orang, jangankan mencurahkan darahnya untuk Tuhan, hidup sehari-hari dalam perkenanan Tuhan saja tidak, karena diracuni ajaran yang salah. Ayat ini ditulis untuk jemaat Roma yang secara ekonomi, kedudukan, pangkat tidak ada apa-apanya, namun mereka tetap bertahan dalam iman percaya mereka,
    0 min
  • Membekali Diri Sendiri
    Dunia hari ini penuh dengan kepalsuan. Kita sebagai orang yang mengaku ber-Tuhankan Yesus Kristus, kiranya dihindarkan dari sikap kepalsuan. Martabat orang percaya adalah melakukan kehendak Bapa atau menjadi seorang yang memiliki pengakuan dari Allah Bapa sebagai anak kesukaan Bapa dan berkenan kepada-Nya. Acara pemakaman sehebat apa pun tidak membekali yang meninggal pulang ke rumah kekal; entah ke surga atau ke neraka. Makam hanyalah tempat jasad yang dimakan tanah dan cacing. Seseorang dapat memiliki pemakaman yang baik, bahkan pemakaman keluarga yang terkumpul pada satu lokasi. Hal ini tidaklah keliru, tetapi harus disadari bahwa itu tidak memiliki nilai dalam kekekalan. Sebab, tempat yang dibutuhkan adalah rumah kekal, atau untuk roh dan jiwa; rumah yang kekal yang dibutuhkan. Oleh sebab itu, membekali orang menghadapi kematian harus dimulai dari diri sendiri. Setelah itu, barulah kemudian kita menjadi alat dalam tangan Tuhan untuk membekali orang lain, misalnya untuk orangtua. Dimana kita harus memancarkan kehidupan rohani yang baik untuk orangtua yang sudah mendekati hari kematian. Kita mempersiapkan orangtua kita memiliki kematian yang bermartabat.
    Apa bekalnya? Bekalnya adalah berkenan kepada Allah. Kalau kita menjadi manusia yang makin hari makin berkenan, kita pasti menulari orang lain; menulari bagaimana hidup berkenan kepada Allah. Kita harus mengajak orangtua untuk berkemas-kemas pulang ke LB3 (langit baru bumi baru). Dalam percakapan dengan orangtua, kita harus mulai mengarahkan orangtua pada perkara-perkara yang di atas. Bekali orangtua kita dengan hal-hal rohani. Jangan setelah meninggal, baru membuat upacara semegah-megahnya. Itu bukan bekal untuk orangtua masuk dalam kehidupan abadi. Harus diingat bahwa kematian bisa menjumpai siapa pun, tidak tergantung usia. Demikian juga persiapan kita untuk anak-anak, dimana kita juga harus memikirkan hal-hal yang menyangkut kekekalan. Banyak orangtua takut berbicara mengenai surga dan kematian kepada anak-anak. Hendaknya, kita tidak merasa tidak terlalu dini untuk mengajarkan hal surga dan neraka serta kematian kepada anak-anak. Tentu kita harus berbicara dalam bahasa anak-anak, dalam kapasitas yang bisa diterima oleh anak-anak. Kematian bisa menjumpai siapa saja. Sejak dini, orangtua harus mengajarkan kebenaran, dan bisa benar-benar menampilkan teladan hidup orang yang menghidupi kebenaran. Ini adalah warisan yang terbaik yang tidak pernah binasa, yang dapat diberikan orangtua. Dengan demikian, anak-anak dibekali dengan bekal yang baik untuk pulang ke surga. Dan kalau orangtua memiliki kerinduan yang kuat terhadap langit baru bumi baru, pasti tertular ke anak. 
    Kematian orang yang bermartabat adalah orang yang berjerih lelah selama hidup di dunia. Tadi sudah kita baca, “Berbahagialah orang-orang mati yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,” kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.” Dalam bahas aslinya, kata “jerih lelah” (Yun. kopos, κόπος) artinya menangis atau meratap dengan memukul dada; (Ing. grief with beating the breast, lamentation, wailing). Bukan hanya berduka, tapi orang yang menderita; orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan. Pada waktu itu, penganiayaan sangat hebat. Harga mengikut Tuhan Yesus adalah segenap hidup mereka. Mereka mempertaruhkan nyawa. Bagaimana dengan kita yang hidup di zaman ini? Kita mempertaruhkan kesenangan. Sampai kita bisa mengatakan, “Bahagiaku hanya diri-Mu.” Beranikah kita membayar harganya? Orang-seperti inilah yang baru berani betul-betul kehilangan segala sesuatu. Orang yang kebahagiaannya hanya Tuhan, rela berbuat apa pun. Kematian menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu, Tuhan pun menantikan. Indah sekali. Ia tidak takut mati. Mati itu bahagia, karena ketemu dengan yang menjadi kebahagiaannya. Inilah kematian orang yang bermartabat. 
    Jadi kalau kita membaca kitab Wahyu 14,
    0 min
  • Martabat
    “Martabat,” kata yang pada umumnya memiliki konotasi positif, walau tidak selalu demikian. Kata “martabat” bersinonim dengan kata derajat, gengsi, harga diri, dan harkat. Pada dasarnya, martabat adalah nilai yang diperoleh seseorang dari keberadaan orang tersebut. Martabat juga sering dipahami sebagai hak seseorang untuk mendapatkan kehormatan. Hampir semua manusia berusaha untuk memiliki martabat, sekecil apa pun martabat tersebut. Artinya, semua manusia ingin memiliki derajat, gengsi, harkat sekecil apa pun; tentu di lingkungan masing-masing, sesuai dengan kelasnya. Tidak heran kalau seseorang bisa melakukan apa saja—berbuat nekat—demi martabat ini. Tentu kita bisa setuju dan memang kita melihat realita ini, yaitu hampir semua manusia ingin memiliki martabat yang baik; manusia yang sehat jasmani rohaninya. Sayangnya, martabat yang dibangun oleh banyak orang bukan berdasarkan landasan yang benar. Ini terjadi karena manusia sudah sesat, tidak mengenal Allah dengan benar, dan tidak mengenal dirinya sendiri dengan benar juga. 
    Hampir semua orang mencari martabat di mata manusia, yang didasarkan pada kedudukan, kekuasaan, gelar, pangkat, penampilan, harta kekayaan, atau sesuatu yang dikenakan seperti pakaian, arloji, perhiasan, dan sejenisnya. Tanpa disadari, gairah untuk memperoleh nilai kehormatan atau martabat dari manusia ini telah menguasai hampir semua manusia. Jangan-jangan, kita telah terbawa atau terpengaruh. Ironisnya, hampir tidak ada orang yang serius mencari kehormatan dari Allah. Sejak zaman Yesus, ternyata banyak orang lebih mencari kehormatan manusia daripada kehormatan dari Allah, “orang lebih mencari kehormatan dari manusia daripada dari Allah (Yoh. 12:43). Padahal, Tuhan menghendaki orang percaya mencari penghormatan dari Allah (1Ptr. 1:7). Karena gairah mencari kehormatan sudah menjadi irama hidup, maka segala sesuatu bisa dijadikan sarana untuk memperoleh martabat, demi kehormatan tersebut. Misalnya acara resepsi pernikahan, bagaimana acaranya dibuat megah; seremonialnya, gedungnya, musiknya, makanannya, dekornya. Hari ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, kelulusan sekolah, ucapan syukur pembukaan kantor, perayaan tahun baru, perayaan Natal, dan sebagainya, bisa diadakan demi memperoleh kehormatan dan menaikkan derajat atau martabat. 
    Intinya, sarana apa pun bisa digunakan untuk mengangkat derajat. Ironis sekali, kematian dari anggota keluarga pun sering dijadikan sarana untuk bisa memperoleh kehormatan demi menaikkan martabat dari manusia. Tidak salah kalau menaruh jenazah di ruangan besar dengan berbagai aksesoris, kalau memang tuan rumah atau keluarga memiliki porsi itu. Tidak keliru kalau menaruh jenazah di peti yang harganya mahal, jika memang kelas dan porsinya demikian. Tidak salah kalau berusaha menampilkan acara yang megah untuk menunjukkan kasih dan penghormatan kepada yang meninggal, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Tetapi menjadi salah kalau hal itu dilakukan untuk bisa membangun kehormatan demi martabat di mata manusia, demi mengangkat martabat. Namun, kita sebagai orang yang hanya melihat, jangan menghakimi lalu menilai secara sembarangan. Jangan kita anggap itu selalu salah. Menjadi tidak salah kalau memang kelas dan porsinya. Tetapi bagi si keluarga atau si pelaku yang menyelenggarakan itu, hati-hati, jangan mencari kehormatan demi menaikkan martabat dengan hal itu; sikap hati kita harus benar. Kalau kita pelakunya, kita harus memeriksa diri, apakah dengan mengadakan pesta ini, patut bagi diriku? Apakah kendaraan ini patut untuk kugunakan? 
    Kematian yang bermartabat artinya kematian yang terhormat atas orang percaya yang berkenan kepada Allah. Maksud “terhormat” di sini adalah terhormat di mata Allah. Karena kematian adalah transisi dari kefanaan menuju kekekalan, dan bicara mengenai “kekekalan,” ini pasti wilayah Allah. Jadi, kalau bicara soal kematian yang bermartabat, ini bermartabat di mata Allah dan bernilai kekal.
    0 min
  • Tetelestai
    Sebagai orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dan menerima penebusan-Nya, kita harus menjadi benar. Kalau tidak, berarti kita tidak mau diselamatkan. Makanya kita harus dimuridkan agar hidup kita bisa menghasilkan buah pertobatan. Sebab Alkitab mengatakan, “semua orang dihakimi berdasarkan perbuatannya.” Tidak berdasarkan agama, bahkan tidak berdasarkan iman, melainkan berdasarkan perbuatan. Lalu, iman artinya apa? Iman itu tindakan. Jadi kalau kita mengaku sebagai orang Kristen, berarti kita harus sempurna seperti Bapa di surga dan serupa dengan Yesus; tentu diukur dengan ukuran yang berbeda dengan mereka yang bukan umat pilihan. Kebenaran kita harus melebihi ahli Taurat dan orang Farisi. Untuk itu, kita belajar kebenaran, kita melakukan kebenaran, supaya mendapatkan mahkota kebenaran. Ketika Paulus mengatakan bahwa ia telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir, ditambahkan ayat-ayat sebelumnya bahwa darahnya sudah siap ditumpahkan bagi korban. Hal ini menunjukkan bahwa pada waktu itu, Paulus sudah punya firasat atau keyakinan bahwa itulah adalah hari-hari terakhirnya. Memang pada waktu itu Paulus sudah ada dalam penjara, dan surat Timotius ini ditulis sekitar tahun 50-60 M, ini adalah masa gencar-gencarnya penganiayaan terhadap orang Kristen, khususnya di Roma. Dan tahun-tahun itulah Paulus meninggal dengan cara dipancung di kota Roma. 
    Hal ini menggenapi apa yang diucapkan Paulus di Miletus, ketika ia berpamitan kepada tentara penatua di Efesus, “Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah.” (Kis. 20:22-24). Dari Yerusalem, kita membaca bagaimana Paulus terus melalui perjalanan panjang sampai kota Roma, dan mati di sana. Dari pernyataan ini menunjukkan bahwa pertandingan yang diselesaikan oleh Paulus dengan baik itu adalah pelayanan kepada Tuhan. Kebenaran yang dia miliki, dia hidup dalam kebenaran atau melakukan kehendak Bapa, dan hidupnya yang dipersembahkan sampai darahnya dicurahkan, ia mencapai garis akhir. Paulus menjadi teladan bagi kita hari ini, dimana Paulus pun mencontoh Guru dan Tuhannya yang menyelesaikan pekerjaan Bapa (Yoh. 4:34). Akhirnya, Paulus juga bisa berkata seperti Yesus, Guru dan Tuhannya, “Sudah selesai; tetelestai.” “Aku sudah mengakhiri, sudah tetelestai.” 
    Hanya orang yang di akhir hidupnya bisa mengatakan tetelestai adalah orang yang kematiannya bermartabat. Orang-orang seperti ini akan memperoleh mahkota kemuliaan atau mahkota kehidupan. Jadi, betapa naifnya kalau seseorang belum atau tidak melakukan pertandingan seperti yang dilakukan Paulus, lalu ketika meninggal dunia, berita kematiannya disertai dengan kalimat: “Telah menyelesaikan pertandingan yang baik,” padahal dia tidak buat apa-apa. Mahkota kebenaran hanya untuk orang yang melakukan kebenaran. Pertandingan bisa berakhir, yaitu ketika seseorang sampai akhir setia, sampai tuntas. Paulus berkata, “Aku tahu apa tugasku, dan aku telah menyelesaikannya.” Maka tulisan “Telah pulang dengan damai ke Rumah Bapa” dan “Telah menyelesaikan pertandingan yang baik” dikembalikan kepada harga yang sesungguhnya. Itu bukan murahan. Jangan kalimat ini menjadi murahan; dengan mudahnya dikenakan kepada sembarang orang. Kalimat ini hanya pantas diberikan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh telah memiliki pertandingan yang baik seperti Paulus. Kematian Paulus ini kematian yang bermartabat, sebab Paulus telah mengisi hari-harinya dengan perjuangan hidup, yaitu hidup dalam kebenaran dan menyelesaikan pekerjaan Bapa. Tidak heran dia memiliki kepastian akan menerima mahkota kebenaran.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…