Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Bersih Hati, Bersih Pikiran
    Firman Tuhan mengatakan di dalam Amsal 4:23, “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Kalau kita biasa bersih di dalam pikiran, bersih di dalam perasaan, bersih dalam perilaku, maka ketika kita berbuat salah, kita akan kehilangan damai sejahtera. Kita merasa tidak nyaman, jiwanya terganggu ketika sudah berbuat sesuatu yang salah, sekecil apa pun itu. Tetapi ada orang yang memang nyaman dengan kebencian, dendam, pikiran kotor dan perilaku yang tidak patut. Dia tidak peduli orang rugi atau tidak rugi. Dia tidak peduli orang sakit hati atau tidak. Dia masa bodoh saja. Dan dia nyaman dengan keadaan itu. Kita harus membangun hidup kita dengan naluriah yang bersih. Tentu hal ini merupakan sebuah pembiasaan dan latihan dari waktu ke waktu, dari hari ke hari, sampai kita memiliki naluriah yang kudus. Di ayat yang lain dikatakan, “Hiduplah sebagai anak-anak yang taat, dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu. Tetapi hendaklah kamu menjadi di dalam seluruh hidupmu, sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu.” (1Ptr. 1:14). Karena ini menentukan nasib kekal kita, maka jangan kita jemu dengan teguran seperti ini. Dan hal ini tidak dimulai dari hal-hal yang bersifat mistik, tapi natural. Kita periksa, apakah keinginan kita ini sesuai dengan kehendak Allah atau tidak.
    Kalau kita melihat kekristenan yang dimiliki banyak orang Kristen, sebenarnya jauh dari standar. Ladang hidupnya itu kotor; ruangan hatinya itu kotor. Mestinya ruang hati kita itu hanya diisi oleh Tuhan dan kehadiran Roh Kudus. Kalau ruangan hati kita diisi oleh Tuhan, maka kalau ada barang-barang tertentu atau keinginan-keinginan di dalam hati kita yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, kita tidak merasa sejahtera, Tuhan pun tidak nyaman. Jika kita membuka hati kita hanya untuk Tuhan dan belajar membuang segala keinginan yang tidak sesuai keinginan Tuhan—bersih hati, bersih pikiran—maka kita akan akrab dengan keharuman Tuhan. Jika ada sesuatu yang bukan kehendak Allah ada dalam diri, pikiran, dan keinginan, kita terganggu. Kita harus punya perasaan dan kepekaan tersebut. Oleh sebab itu, kita pasti tidak bisa bersahabat dengan orang-orang yang tidak takut akan Allah. Boleh berteman dalam batas-batas tertentu, karena kita memang harus bersosialisasi. Jangan kita mengasingkan diri atau mengisolasi diri, nanti kita malah dipandang sombong, arogan, egois, dan kita gagal menjadi berkat di antara mereka. Kita tetap hadir, tetapi hadir bukan untuk dipengaruhi, namun untuk memengaruhi. Di satu sisi, kita harus bergaul dengan orang-orang yang takut akan Allah. Karena sejatinya kita pun tidak akan betah hidup bersama dengan orang yang tidak takut akan Allah.
    Hal menjadi suci itu tidak dibuat-buat. Bukan hanya melakukan hukum, tapi menjadi karakter. Kesucian itu menjadi karakter; menjadi kodrat. Dan inilah yang dikatakan dalam 2 Petrus 1:3-4 sebagai “kodrat ilahi.” Kalau sampai kita bisa berubah, yang Alkitab katakan berkodrat ilahi, itu lebih dari segala sukses, lebih dari segala keberhasilan, lebih dari segala keuntungan dan kelebihan. Itu adalah harta abadi. Jika kita membaca Alkitab, Tuhan Yesus tidak pernah minta ampun kepada Bapa di surga. Mengapa? Karena Ia tidak pernah berbuat salah, artinya dalam segala hal Ia hidup suci. Kita harus punya karakteristik tersebut, yakni tidak berbuat salah. Kita harus hidup dalam kesucian dan kekudusan. Bagaimana mungkin? Apakah kita bisa sampai tidak berbuat salah? Bisa! Punya masalah atau tidak punya masalah, ini adalah rahasia hidup. Orang yang masuk Kerajaan Surga itu bukan hanya orang yang tidak berbuat salah, tetapi orang yang memiliki kodrat tidak bisa berbuat salah. Biar kita miskin, dikhianati, dibuang oleh orangtua, mertua, suami, anak—tidak punya apa-apa dan siapa-siapa—asalkan kita kalau punya keadaan hati yang bersih, pikiran yang bersih, cukup. Kalau keberadaan kita—sifat, karakter, pikiran,
    0 min
  • Kepantasan
    Surga adalah tempat orang-orang berkualitas; orang-orang yang sejak di bumi ini sudah tampak kepatutannya. Ini yang semestinya menjadi pergumulan berat hidup kita. Melihat hidup kita sekarang ini, apakah kita memiliki kepatutan atau kepantasan untuk masuk Kerajaan Surga untuk masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah? Kita mesti jujur dengan diri kita sendiri. Jangan hanya “yakin-yakin saja.” Sebab kalau “yakin,” itu masih bersifat spekulatif. Kita harus benar-benar tahu. Tahu dari pengalaman, tahu dari realita hidup. Setelah kita melewati perjalanan panjang hidup sebagai orang Kristen, apalagi sebagai orang yang mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan, kita baru mengerti bahwa faktor usia itu penting. Jadi, makin mendekati tua—pada umumnya—kita menyadari bahwa faktor usia menumbuhkan kesadaran akan singkatnya hari hidup kita, kedahsyatan kekekalan, baik kengerian masuk neraka atau kedahsyatan kemuliaan di surga. Hal itulah yang membuat kita mau mempersiapkan diri dengan baik, mempersiapkan diri dengan saksama, bagaimana kita memiliki hidup yang layak masuk dalam Kerajaan Surga. Akan tetapi, kalau kita ikut hanyut dengan segala kesibukan yang dilakukan manusia di sekitar kita, akhirnya kita kehilangan kesempatan membenahi diri. Kita hanyut dengan rutinitas, langsam, yang akhirnya berhenti. Orang yang tidak mempersiapkan diri dengan saksama, ujung hidupnya pasti sangat mengerikan.
    Melihat orang yang sedang berjuang di ujung maut merupakan pengalaman yang menegangkan, terlebih atas mereka yang tidak siap meninggal dunia. Ketika dia memandang wajah istri dan anak-anaknya dengan begitu sendu, begitu pilu, begitu sedih, dia ada dalam ketakutan hebat. Rasanya kita bisa membaca apa yang di dalam hatinya, seakan dia mau mengatakan, “Saya takut, saya takut.” Coba seandainya dia mengisi hari hidupnya di tengah-tengah kepadatan dan kesibukan, namun tetap menempatkan hal mempersiapkan diri untuk kehidupan kekekalan sebagai hal utama, maka kematian itu mestinya menjadi momentum yang membahagiakan. Karena ada pengharapan dan layak memiliki pengharapan itu. Ironis, banyak orang Kristen yang berkata, “Saya lebih baik meninggal dunia, saya lebih baik mati daripada begini. Lebih baik saya mati saya bersama Tuhan.” Sejujurnya, apakah benar dia akan mati bersama Tuhan? Dari cara bicara, dari kualitas hidupnya menentukan apakah ia layak mengatakan itu. Pengharapan itu hanya layak dimiliki oleh orang-orang yang telah mengisi hidupnya dengan benar. Jadi sekarang, jangan kita punya keinginan apa-apa, jangan lagi hanyut dengan berbagai persoalan atau tenggelam dengan berbagai persoalan. Justru itu menjadi pemicu kita untuk melihat kenyataan bahwa memang dunia bukan tempat kita berlabuh. Dunia bukan tempat kita berlabuh, dunia tempat kita singgah sementara. Pelabuhan kita di Kerajaan Surga, bukan di bumi ini. Jangan hanyut oleh persoalan-persoalan sehingga fokus kita tidak tertuju kepada Tuhan. Tapi juga jangan hanyut dengan berbagai kesenangan dan kelimpahan. Nyaman, terhormat dengan anak-anak, menantu, cucu-cucu yang menjunjung tinggi, mengasihi, dan melindungi. Kita menjadi seperti raja atau ratu dalam lingkungan besar keluarga dan kerabat. Ingat, Tuhan menghendaki agar kita bisa sungguh-sungguh hanya fokus ke Tuhan.
    Orang yang tidak bisa mengatakan “Kucinta Kau, Tuhan,” dari hati yang benar, tidak layak masuk Kerajaan Surga. Sekarang yang harus kita usahakan adalah bagaimana kita fokus mempersiapkan diri menghadapi kekekalan kita dengan mengubah cara berpikir dan gaya hidup kita yang salah. Nanti Roh Kudus akan menolong kita. Jangan tenggelam dengan persoalan-persoalan yang masih menyusahkan hidup kita. Menjadi kekhawatiran yang sebenarnya adalah ketika kita belum siap bertemu Tuhan. Karena kita telah menghabiskan panjang waktu umur hidup hanya untuk sibuk dengan segala hal. Kita menyaksikan sendiri, rasanya waktu ini berjalan dengan cepat. Tapi sekarang, kalau masih ada sisa waktu,
    0 min
  • Lupa Mempersiapkan Diri
    Kita sering mendengar orang berkata dan kita juga mungkin yang berkata dan merasakan bahwa waktu begitu cepat berlalu. Rasanya baru kemarin hari Minggu, sekarang sudah Minggu lagi. Rasanya baru kemarin bulan baru, sekarang sudah menginjak bulan baru lagi, dan seterusnya. Sejatinya, perjalanan waktu itu konstan, artinya waktu tidak berjalan lebih cepat atau lebih lambat. Waktu berjalan seperti tahun-tahun sebelumnya, seperti abad-abad sebelumnya. Satu menit masih 60 detik, satu jam masih 60 menit, satu hari masih 24 jam. Jadi, yang membuat kita merasa seakan-akan waktu ini cepat berlalu, karena kesibukan manusia yang bertambah banyak, tugas-tugas yang bertambah padat, dan orang di sekitar kita terus gopoh-gopoh dalam segala kegiatan hidup, sehingga kita sendiri ikut terbawa; ikut tergopoh-gopoh. Bagi kita yang sudah usia di atas 60 tahun, ketika mulai melihat cucu, rasanya, baru kemarin anak-anak masih sekolah, kita hantar sekolah. Sekarang mereka sudah dewasa, sudah punya pasangan hidup, dan sudah memiliki keturunan. Kita hanyut dalam perjalanan waktu.
    Ada bahaya yang tidak kita sadari. Di derap perjalanan waktu ini, kita tidak mempersiapkan diri menyongsong kehidupan kekal; kehidupan di balik kematian. Ini bukan hanya untuk mereka yang usia lanjut, tetapi juga untuk semua orang. Yang pasti, suatu hari nanti jantung kita akan berhenti berdetak dan nadi kita akan berhenti berdenyut. Masalahnya adalah dengan padatnya tugas, banyaknya kesibukan, orang bisa lupa mempersiapkan diri menghadapi kematiannya. Kita yang tidak memiliki tugas, ikut terbawa oleh suasana seperti itu. Padahal, kita tidak tahu saat akhir kehidupan kita. Firman Tuhan dalam 1 Petrus 1:3 mengatakan, “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Kita bersyukur karena kita adalah anak-anak Allah yang boleh memiliki hidup yang penuh pengharapan. Tetapi pengharapan yang dimaksud di sini bukanlah pengharapan sebelum kuburan, tetapi setelah kubur. Setelah jantung kita berhenti berdetak, setelah nadi kita berhenti berdenyut, di sanalah pengharapan itu menantikan kita, dan kita menantikan memperoleh apa yang kita harapkan. “Untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan tidak dapat layu, yang tersimpan di surga bagi kamu.” Ayat seperti ini bukanlah ayat yang asing kita dengar. Tetapi tidak pernah dipersoalkan, siapa yang berhak memiliki pengharapan itu. Ibarat seorang siswa atau mahasiswa yang tidak sungguh-sungguh belajar, dia tidak layak memiliki pengharapan untuk diwisuda. Beda dengan mahasiswa yang memenuhi tugas belajarnya dengan baik, ia berhak memiliki pengharapan lulus dan diwisuda. Kita tidak akan pernah berhak memiliki rumah tangga yang bahagia kalau kita tidak menjaga mulut, tidak sabar terhadap pasangan hidup, apalagi tidak setia.
    Demikian pula kita dengan pengharapan kehidupan di balik kubur. Ironis, banyak orang berani berkata, “Saya percaya nanti saya masuk surga.” Apa alasan kamu berpengharapan masuk surga? Biasanya dijawab dengan kata “percaya.” Percaya yang bagaimana? Sejujurnya, mereka tidak mengerti. Percaya itu bukan hanya kegiatan, aktivitas pikiran kita. Percaya itu tindakan. Kalau kita percaya, kita taat kepada Bapa di surga. Kalau kita percaya, kita mengikuti jejak hidup Tuhan Yesus. Perhatikan ayat berikutnya, “Yaitu kamu yang dipelihara dalam kekuatan Allah karena imanmu, sementara kamu menantikan keselamatan yang telah tersedia untuk dinyatakan pada zaman akhir. Bergembiralah akan hal itu sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai pencobaan.” (1Ptr. 1:5) Jadi, yang memiliki pengharapan itu adalah orang-orang yang mengalami berbagai pencobaan karena kesetiaan ikut Yesus. Jangan lupa, bahwa pada zaman itu orang Kristen teraniaya hebat. Termasuk Petrus sendiri,
    0 min
  • Perjuangan yang Paling Berat
    Kalau kita percaya bahwa Allah itu hidup, Allah itu realitas atau nyata, maka seharusnya kita benar-benar mengalami Dia. Dan untuk benar-benar mengalami Allah yang hidup membutuhkan perjuangan yang lebih berat dari segala perjuangan. Jangan karena kita berpikir bahwa Allah itu Mahabaik, Mahamurah, lalu kita menganggap Allah itu murahan. Hanya orang yang sungguh-sungguh menghormati Allah yang akan mengalami Allah. Allah lebih dari sekadar memiliki harga diri; Dia Mahamulia, Dia tidak perlu menghargai diri-Nya sendiri atau dihargai siapa pun karena Allah sangat berharga dan mulia. Jangan menyamakan Allah dengan manusia yang membutuhkan harga diri atau penghargaan. Tetapi kita bersyukur kalau kita menjadi makhluk yang bisa menghargai Allah, menghormati Allah secara patut. Oleh sebab itu, kita harus mengerti bahwa mengalami Allah adalah perjuangan yang paling berat. Harga pertaruhannya adalah segenap hidup kita. Artinya, kita harus menjadikan Dia sebagai satu-satunya yang berharga. Bukan hanya yang terindah, bukan hanya terbaik, bukan hanya termulia; tetapi satu-satunya yang indah, satu-satunya yang mulia, satu-satunya yang berharga.
    Pertaruhan untuk ini adalah segenap hidup. Artinya, kita tidak boleh menganggap ada yang berharga, selain Dia. Jadi, kalau ada sesuatu menjadi berharga, apa pun, itu karena Dia; bagi kesenangan dan kemuliaan Allah. Sejujurnya, tidak mudah untuk memiliki pengalaman dengan Allah itu. Pola berpikir yang menyesatkan banyak orang hari ini adalah ketika mereka merasa dengan pengetahuan yang mereka miliki tentang Allah berarti mereka sudah masuk wilayah Allah dan sudah mengalami Allah. Ini yang membuat rusak para teolog dan pendeta. Sebaliknya, tidak jarang jemaat yang tidak berteologi tinggi tetapi memiliki sikap yang benar bisa mengalami Tuhan, aman selamat sampai surga. Faktanya memang begitu. Di Alkitab, ada orang-orang yang sudah berprestasi dalam pelayanan mengusir setan, mengadakan banyak mukjizat, namun ditolak oleh Allah (Mat. 7:21-23).
    Siapa pun kita, jangan main-main dengan Tuhan. Pertaruhkan segenap hidup kita tanpa batas bagi Dia. Dia bukan hanya paling berharga, terindah dalam hidup; tetapi satu-satunya yang berharga dan indah. Pertaruhannya segenap hidup kita. Selain memandang Dia satu-satunya yang berharga, satu-satunya harta kita; kita juga harus berani untuk benar-benar bersih dari segala dosa dan kesalahan. Dari perkara kecil sampai perkara besar. Soal kecil saja, kita akan merasa salah, misalnya ketika kita berdusta. Jangan menaruh kebencian, dendam, atau kemarahan. Apa pun, jangan sampai kita masih memberi ruangan pada keinginan-keinginan di luar kehendak Bapa atau nafsu-nafsu yang menyakiti hati Bapa. Supaya kita dapat mengalami Tuhan. Allah yang Mahakudus dan bergaul dengan anak-anak-Nya yang hidup kudus. Mengalami Tuhan itu lebih dari mendapatkan warisan; berapa pun besarnya warisan itu. Bayangkan seandainya kita mendapatkan warisan dari seorang konglomerat sebanyak 2 triliun. Suatu jumlah yang sangat besar. Tetapi itu tidak ada artinya dibanding dengan mengalami Tuhan karena Tuhan adalah kekayaan kita satu-satunya. Maka, kita harus sampai pada satu pengalaman, yaitu merasa menjadi begitu kuat dan bahagia karena memiliki Allah yang hidup. Bagaimana merasa begitu bahagia dan kuat karena memiliki Allah yang hidup? Perasaan itu bisa meledak atau perasaan itu bisa muncul atau membara, khususnya pada waktu kita berdoa.
    Penghayatan kita akan keberadaan Allah yang hidup akan membuat kita merasa bahagia dan kuat sekali menghadapi hari-hari esok. Dan penyembahan kita kepada Tuhan itu bisa meledak di atas, artinya bukan hanya meledak di dada kita tetapi kita bawa sampai di hadapan Bapa di surga. Ironis, banyak orang yang hanya emosi hanya tenggelam dengan perasaannya, tetapi tidak membawanya ke hadirat Allah. Hati kita akan pecah. Benar. Kalimat-kalimat penyembahan atau syair-syair penyembahan yang biasanya tidak membuat kita hancur hati.
    0 min
  • Membuat Warna di Hadapan Takhta Bapa
    Semua orang Kristen bisa mengatakan ‘haleluya,’ semuanya juga bisa menyanyikan lagu-lagu rohani. Tetapi tidak semuanya memiliki kualitas yang sama. Allah pasti bisa membedakan dan sekaligus merasakan serta menikmati yang bisa dinikmati. Semua bisa berkata ‘haleluya,’ menyembah Tuhan, tetapi tidak semua memiliki kualitas yang baik, tidak semua manis terdengar di hadapan Tuhan. Bahkan malaikat-malaikat juga bisa merasakan; apakah penyembahan seseorang itu berkualitas tinggi atau berkualitas baik di mata Allah; yang dirasakan oleh Allah Bapa dan dinikmati oleh Allah Bapa. Kalau seseorang menyembah Tuhan dengan hati yang benar-benar mengasihi Tuhan, hidupnya bersih, tidak memiliki keinginan apa pun kecuali mau menyenangkan hati Allah, ia akan membuat warna di hadapan takhta Allah. Dan sebaliknya, jika ada seseorang yang menaikkan penyembahan namun hatinya masih terikat dunia, maka penyembahannya berwarna gelap dan tidak akan masuk/tembus sampai takhta Allah.
    Pertanyaan untuk kita semua adalah apakah kita mau menjadi orang yang menaikkan penyembahan, doa, yang bisa membuat warna di hadapan Bapa di surga? Kita menyembah Tuhan dengan hati yang mengasihi Dia disertai tekad, komitmen, ikrar, janji, nazar untuk hidup suci, untuk tidak menginginkan apa pun selain menyenangkan hati Allah, berlindung hanya kepada Tuhan, mohon belas kasihan Dia; dan itu bisa membuat warna di hadapan takhta Allah. Tetapi, kalau hanya ngomong saja (Ing. lip service), maka penyembahan kita tidak tembus. Karena yang nyanyi hidupnya hitam—karena banyak keinginan, mencari kepuasan dan kesenangan sendiri, gila hormat, suka orang lain terlukai—ini orang-orang jahat yang tidak akan bisa membawa persembahan yang bisa membuat warna di hadapan takhta Allah Bapa. Oleh sebab itu, karena ini pilihan, mari kita berusaha memiliki kehidupan yang berkenan kepada Tuhan setiap saat.
    Tuhan menguji setiap hati kita. Seperti yang dikatakan di dalam Wahyu 2:23, “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui, bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang, dan bahwa Aku akan membalaskan kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” Mengerikan, ini! Jangan sampai Tuhan memukul anak-anak kita karena perbuatan kita yang melukai hati-Nya. Oleh karenanya, kita harus sungguh-sungguh memiliki hati yang bersih. Kalau kita pernah melewati tahun-tahun dimana kita tidak memiliki hati yang bersih, sekarang kita belajar memiliki hati yang benar-benar bersih. Hati yang bersih adalah hati tidak ada kebencian terhadap orang, tidak ada dosa, keinginan kita hanya menyenangkan hati Allah, maka pasti Tuhan memberikan perlindungan atau proteksi yang khusus kepada kita masing-masing. Di sini kita bisa berjalan dengan Tuhan. Menjadi kerinduan kita bukan hanya pada waktu kita berdoa kita merasakan hadirat Tuhan, ada kelekatan dengan Allah, tetapi di sepanjang menit, jam, hari-hari kita terus kita hidupi hadirat Allah, hidup di hadapan Tuhan; memberi warna. Ini perjuangan, karena ini adalah pilihan. Hanya kita yang bisa mengoreksi diri kita. Sebab, kesucian adalah sesuatu yang natural, bukan mistik. Dari setiap gerak pikiran, perasaan yang muncul; kalau itu tidak patut, harus kita buang. Jangan memikirkannya sampai ada landasan (Yun. Topon) di dalam pikiran kita. Ketika kita melihat orang punya barang tertentu, kita baru saja mau mengingini, kita lupakan jika itu bukan kehendak Allah dan kebutuhan kita. Kita ingat orang yang merugikan kita dalam bisnis, orang yang mengkhianati kita, memfitnah kita, orang yang menyakitkan kita, orang yang merugikan kita. Baru mau mengingatnya, segera kita buang. Kita mengampuni, semua kita anggap sudah selesai; kita tidak berhak menghakimi orang, biar Tuhan yang menjadi Hakim dan menyelesaikannya.
    Kita jaga pikiran kita, kita jaga mulut kita. Tidak perlu bercanda yang berlebihan, jangan ucapkan kata-kata yang tidak perlu; jaga perbuatan-perbuatan, apalagi kalau itu menyangkut Tuhan; jangan main-mai...
    0 min
  • Tuhan Tahu
    Ketika kita tidak tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan, berarti kita tidak layak menjadi mempelai Tuhan. Sebab, kalau kita benar-benar menjadi mempelai Tuhan Yesus, kita akan sungguh-sungguh merindukan Dia. Kita harus jujur memeriksa diri kita; apakah kita sungguh-sungguh merindukan Tuhan, atau tidak? Kalau kita tidak merindukan Tuhan, berarti hati kita belum bulat, belum utuh untuk Tuhan. Ada bagian dalam hidup kita yang sebenarnya kita berikan untuk yang lain. Rasanya, setiap kita memiliki pengalaman hidup seperti ini; kita tidak sungguh-sungguh merindukan Tuhan. Walaupun kita berkata bahwa kita merindukan Tuhan, padahal hati kita tidak merindukan Tuhan sepenuhnya. Belum tentu ada 50%; jangan-jangan hanya 10%, jangan-jangan hanya 15%. Karena ruangan hati ini kita isi dengan yang lain; ada keinginan-keinginan, ada hasrat-hasrat untuk yang lain, dan biasanya hidup kita tidak benar-benar bersih. Memang kita tidak melakukan pelanggaran moral—seperti mencuri, membunuh, berzina dalam ukuran/standar umum—tetapi kita tidak benar-benar memiliki hati yang bersih, hati yang tulus, hati yang mengasihi Allah, mengasihi orang lain dengan setulus-tulusnya. Kita diam-diam masih senang dipuji, dianggap penting, puas bisa membalas dendam; walaupun dalam bentuk-bentuk kecil yang kadang-kadang juga tidak kelihatan di mata manusia.
    Kalau kita mau benar-benar bisa merindukan Tuhan dan sekaligus menjadi anak kesukaan Tuhan, kita harus berani berkomitmen untuk hidup suci, untuk hidup tidak bercacat, tidak bercela. Jadi, kita harus berani nekat. Ibarat kita disuruh melompat tembok setinggi 2meter, padahal kita hanya bisa melompat setinggi 40cm atau 50cm atau paling tinggi 1meter. 2meter kita harus melompat, kita lompati. Kita berkata kepada Tuhan, “Tuhan, jangankan 2 meter; kalau ini 3meter pun, saya akan melompat.” Tuhan tahu kita tidak bisa, Tuhan tahu kita tidak mampu. Tetapi ketika kita bersedia, maka di sini Tuhan akan menolong kita. Asalkan kita tidak memberi ruangan lagi untuk kesenangan-kesenangan apa pun. Namun ironis, banyak orang yang tidak bersedia. Karena mereka menganggap ini adalah hal yang tidak waras, ini berlebihan, ini kesombongan. Sejujurnya, kalau tidak begini kita mau apa? Hidup ini singkat, kita bisa meninggal dunia setiap saat. Kalau pun tidak meninggal dunia, kita mau menyenangkan Tuhan selama kita hidup di bumi; tidak menunggu nanti meninggal di surga baru mau menyenangkan Tuhan. Justru di bumi ketika kita mendapat begitu banyak godaan untuk berbuat salah—dari pengaruh dunia sekitar kita, dari dorongan nafsu di daging kita, dari dorongan/ambisi di dalam jiwa kita—tetapi kita memilih untuk melakukan apa yang Allah kehendaki, apa yang Allah ingini.
    Kita harus bertekad, berjanji, dan bernazar kepada Tuhan. Tekad, janji, dan nazar tersebut menjadi seperti pagar yang memagari kita menyimpang. Jadi, ketika ada impuls atau rangsang dosa, kita bisa mengingat janji/nazar kita kepada Tuhan, “Aku sudah berjanji.” Pada waktu kita disakiti orang, kita mau membalas, kita ingat “aku sudah berjanji tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.” Ketika orang mendebat kita dan kita tahu kalau dilanjutkan bisa jadi berantem, maka kita memilih diam, “aku sudah berjanji untuk diam.” Ini akan lebih memberi kekuatan kepada kita untuk tidak banyak bicara, untuk tidak melakukan kesalahan. Apalagi kesalahan-kesalahan lain yang lebih besar, kita bisa lebih menahan. Sehingga, jika proses itu berlangsung terus-menerus, kebiasaan itu akan menjadi karakter kita. Pada akhirnya, kita tidak perlu menahan diri karena sudah otomatis kita bisa menjadi (being) sesuai dengan apa yang Allah kehendaki.
    Maka, tidak heran kalau kita yang diproses untuk menjadi seperti Yesus akan pasti menghadapi banyak hal yang tidak kita sukai; hal-hal yang tidak menyenangkan. Tetapi, di situlah letak berkat Tuhan dimana Tuhan mau membereskan keadaan diri kita. Kalau kita mata duitan,
    0 min
  • Langkah Ofensif
    Kalau kita terus bertumbuh dewasa dalam hubungan dengan Tuhan, maka kita dapat memiliki langkah-langkah ofensif (langkah-langkah aktif), seperti langkah-langkah menyerang. Bukan dalam arti negatif, tapi dalam arti positif. Kalau kita biasanya selama bertahun-tahun berprinsip yang penting kita tidak berbuat salah, dan dengan cara itu cukup membuat kita benar di hadapan Allah dan berkenan, sebenarnya ini masih langkah defensif (langkah bertahan). Namun, kalau kita bertumbuh dewasa, kita harus memiliki langkah ofensif. Kita bukan saja tidak melakukan dosa atau melakukan pelanggaran—yang memang itu harus kita lakukan—melainkan juga memiliki langkah ofensif; yaitu kita mengejar, kita menyerang, kita yang bertanya kepada Tuhan, “Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus aku perbuat, Tuhan?” Kita mempertanyakan kepada Bapa di surga, “apa yang harus aku lakukan; apa yang harus aku perbuat.” Jadi, kita yang mempersoalkan atau mempertanyakan. Jelas kita sudah tidak boleh berbuat salah lagi. Jelas, itu tidak boleh, tetapi kita bukan hanya tidak berbuat salah, melainkan kita juga sungguh-sungguh mau mencari apa yang Tuhan kehendaki; apa yang Tuhan mau kita lakukan.
    Langkah ofensif kita harus disertai dengan tekad kita untuk tidak melakukan kesalahan lagi yang mungkin bisa kita perbuat. Kita akan berani berkata, “Aku berjanji, Tuhan, untuk hidup suci. Aku berjanji, Tuhan, untuk tidak menyentuh apa pun yang bisa mendukakan hati-Mu.” Sejujurnya, kita sering takut mengucapkan janji-janji seperti itu, karena kita takut berbuat dosa, lalu kita akan dikutuk karena sudah janji. Jadi, lebih baik tidak janji, sehingga kalau berbuat salah, tidak apa-apa karena tidak janji, lalu minta ampun. Jadi, rasanya tidak terlalu besar kesalahan yang dilakukan, karena tidak ada janji. Kesalahan tetap kesalahan, nilai kesalahan tetap sama. Kalau kita berani berjanji, berkomitmen, bernazar, bertekad di hadapan Allah untuk hidup suci—memang bukan berarti kita lalu tidak pernah salah, bisa salah juga, bukan tidak mungkin—tetapi kita tidak pernah menolerir kesalahan itu. Kita tidak bermaksud melakukan kesalahan itu. Dengan ikrar, dengan janji itu kita menjaga hidup kita dari menit ke menit, dari jam ke jam, dari hari ke hari untuk hidup lebih benar. Dan itu bisa memberikan kita kekuatan, potensi untuk lebih tidak melakukan suatu kesalahan.
    Dengan tekad, janji, nazar itu, maka ketika ada kesempatan berbuat salah, kita diingatkan bahwa kita sudah berjanji tidak melakukan kesalahan. Ketika ada kemarahan, ketika ada dendam, ketika ada kebencian mau meluap, kita berkata, “aku sudah berjanji.” Dan ternyata, itu sangat efektif untuk membawa kita menjadi lebih berkenan di hadapan Tuhan. Itu adalah langkah ofensif kita. Kita berani bertekad, berani berjanji, berani bernazar. Lalu, kita berusaha untuk mencari apa yang dapat menyenangkan Tuhan. Jadi, setiap menit yang kita jalani menjadi menit yang berharga, karena di situ kita memperoleh kesempatan untuk menyenangkan hati Allah, menyukakan hati Allah. Bukan hanya bertahan tidak berdosa, tetapi tekad untuk tidak berbuat dosa sama sekali, dan kita mau melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Inilah yang membuat kita benar-benar berkemas-kemas, ini yang membuat kita benar-benar mempersiapkan hari kematian kita. Dengan demikian, hidup kita akan terbelenggu, kita akan terikat oleh tekad, ikrar, janji, komitmen, nazar kita itu. Kita membawa diri kita kepada keadaan dimana kita terbelenggu oleh janji tekad kita tersebut. Dan komitmen untuk setiap menit, setiap jam, setiap hari kita menyenangkan hati Allah saja.
    Inilah kehidupan yang Allah kehendaki. Ini yang dimaksud dengan “menyembah Allah dalam roh dan kebenaran;” bukan hanya menyanyi, ikut doa, lalu kita menyembah-nyembah kepada Tuhan, melainkan di setiap saat hidup kita, kita menyenangkan Dia. Itulah lagu, pujian, dan penyembahan kita. Kehidupan seperti ini adalah kehidupan yang akan berlanjut nanti di kekekalan. Kita akan bisa mengalami hal-hal yang luar bias...
    0 min
  • Tidak Ada Kata “Tidak Bisa”
    Ibrani 3:13, “Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini,’ supaya jangan ada di antara kamu yang memiliki tegar hatinya karena tipu daya dosa.” Artinya, selama masih ada kesempatan—dan kesempatan itu hari ini—karena besok belum tentu ada; atau kalau kita menundanya, kita bisa menjadi tegar hati karena tipu daya dosa sehingga tidak bisa berubah lagi. Masalahnya, kita menunda karena kita takut kita kurang bahagia, atau kita takut kita tidak dapat melakukannya. Kalau kita menghormati Tuhan dan mengasihi Dia, tidak ada kata “tidak bisa.” Karena sudah begitu merosotnya kekristenan yang sejati, sehingga pesan seperti ini dianggap hiperbola dan hanya untuk pendeta saja. Padahal, mestinya semua kita harus seperti ini. Jadi kita mendeklarasikannya, sementara masih ada monster yang belum mati total dalam daging kita. Waktu hari-hari kita jalani, kita harus mengingat bahwa kita sudah memiliki komitmen, dan jangan menunda untuk memenuhi apa yang kita katakan.
    Dalam 1 Korintus 10, di situ tertulis “semua ini menjadi peringatan bagi kita;” kita, orang Kristen. Jadi, mereka yang adalah umat pilihan pun, tidak pasti masuk tanah Kanaan. Ketika mereka mengeraskan hati, ketika mereka tidak setia, mereka tewas di padang gurun. Sama dengan yang ditulis di Roma 11, “Kalau carang asli saja dipotong, apalagi kamu carang liar yang dicangkokkan,” artinya kalau Israel saja dipotong, dibuang, apalagi kamu, bukan Israel. Oleh sebab itu, “asal saja kita teguh.” Ibrani 13:18 mengatakan, “Dan siapakah yang telah Ia sumpahi bahwa mereka takkan masuk ke tempat perhentian? Bukankah mereka yang tidak taat?” Sejatinya, kita harus gentar dengan fakta ini, sebab tidak jaminan karena kita adalah orang percaya, maka kita pasti berkenan dan pasti masuk surga. Kalau kita masih terikat dengan sesuatu, itu menunjukkan keras kepala, tegar tengkuk kita, ketidaktaatan kita.
    Mengapa kita takut kehilangan kebahagiaan? Mengapa kita takut ada sesuatu terjadi? Kalau kita menyerah sepenuhnya kepada Tuhan, ia pasti akan beserta dengan kita. Maka kita tidak boleh setengah-setengah ikut Tuhan. Kalau sekarang Tuhan sudah memberikan kita berbagai fasilitas, hal itu hanya untuk supaya kita bisa menjalankan hidup dalam pengabdian kepada Tuhan dan proses belajar kebenaran Firman agar kita dewasa. Sudah banyak ikatan dalam jiwa kita, baik keinginan daging atau keinginan-keinginan memiliki fasilitas yang ada di bumi ini. Hal ini susah dijelaskan kepada mereka yang sudah lama hidup duniawi. Jangan membuka diri untuk kesenangan-kesenangan dunia. Bahkan hal-hal yang sepele. Kalau kita bisa melepaskan hal-hal tersebut, maka kita dapat terbang tinggi. Tidak ada yang mengikat kita. Makin kita lepaskan dosa, kesenangan dan kebahagiaan duniawi, semakin kita merentangkan sayap untuk terbang.
    Jadi, kalau kita menunda sementara waktu hidup kita itu singkat, kita menyia-nyiakan kesempatan mengerti Firman lebih banyak, kita membuang kesempatan untuk terbang lebih tinggi dalam kemuliaan Allah. Jangan main-main, dan jangan berpikir tidak berdampak. Apa yang kita remehkan dengan berpikir bahwa hal tersebut tidak terlalu berdampak, justru akan berdampak besar dalam hidup kita. Dampak tersebut tidak tanggung-tanggung, yakni masalah kekekalan. Karena sering kali tanpa sadar, kita masih menunda. Ada yang kita tunda, walau mungkin hanya sebagian kecil. Menunda untuk menjaga kesucian perkataan, menepati janji, dan berbagai hal lain yang terlihat ‘kecil’. Akan tetapi itu tetap berarti kita tidak menghormati Tuhan. Penundaan sering membuat kita meleset. 
    Oleh karenanya, kita harus berpikir bukan tidak mungkin hari ini adalah hari terakhir kita. Dengan berpikir bahwa hari ini mungkin hari terakhir, kita dapat dengan sungguh melakukan apa yang Tuhan kehendaki, mulai dari yang kecil sampai yang besar dalam persekutuan dengan-Nya. Justru keindahan kekristenan itu baru betul-betul dinikmati, persekutuan dengan Tuhan benar-benar bisa dinikmat...
    0 min
  • Tidak Ada Alasan untuk Menunda
    Kalau kita sungguh-sungguh percaya dan menghormati seseorang, maka apa pun yang diperintahkan orang itu, pasti kita lakukan. Bukan hanya kita lakukan, tapi juga segera. Apalagi kalau orang yang kita hormati tersebut memerintahkan agar kita sekarang juga melakukannya, pasti kita tidak akan menundanya. Demikian pula kita terhadap Tuhan Yesus. Jika kita sungguh-sungguh menghormati Tuhan dan mengasihi Tuhan, kita bukan hanya melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tetapi kita juga melakukan segera perintah itu sesuai dengan waktu dimana kita harus melakukannya. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan murid-murid pertama—Petrus dan saudaranya, Yohanes—Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” maka saat itu juga Alkitab mencatat mereka meninggalkan jala dan perahunya. Ketika Tuhan Yesus bertemu dengan Matius yang sebelumnya berprofesi sebagai pemungut cukai, saat itu juga Matius meninggalkan meja cukainya.
    Bagaimana dengan perintah Tuhan yang harus kita penuhi saat ini juga? Ketika Tuhan mengatakan agar kita melepaskan segala sesuatu, kapan kita memenuhi perintah tersebut? Tuhan tidak berkata “nanti.” Tuhan berkata, saat kita mendengar perintah itu, baiklah kita segera melakukannya. Tetapi kenyataannya, hampir semua orang menunda. Tentu dengan berbagai alasan. Jangan kita merasa Tuhan akan maklum dengan penundaan karena kita punya kelemahan dan kekurangan, orang lain juga melakukan hal yang sama, bahkan lebih buruk. Ingat! Tuhan tidak akan menerima penundaan dengan alasan apa pun sebab hal itu merupakan sikap tidak menghormati Tuhan, sikap tidak menjunjung tinggi Tuhan, dan sikap tidak mengasihi Dia. Kapan kita melepaskan genggaman? Apakah menunggu kita sekarat? Pasti kita terlambat. Melepaskan apa yang ada dalam genggaman kita itu bukan nanti, tapi ketika Tuhan memberikan perintah itu kepada kita. Dan inilah seharusnya yang membuat kita bertanya kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar telah melepaskan segala sesuatu yang ada di dalam genggaman?
    Mari kita memeriksa diri kita masing-masing. Ini masalah besar, besar sekali. Sebab, meninggalkan segala sesuatu atau melepaskan segala sesuatu, mengosongkan diri, tidak menoleh ke belakang, hidup sepenuhnya bagi Kristus dan mati adalah keuntungan bukan hal yang sederhana. Ini berat. Banyak orang masih menunda karena masih mau menikmati dunia. Kenyataannya, kalau demi kepuasan—entah kepuasan diri sendiri atau karena mau memuaskan orang lain—seseorang berani bunuh diri. Bagaimana dengan kita? Demi cinta kita kepada Tuhan, demi menjadi berkat bagi orang lain, beranikah kita menyangkal diri? Apakah masih ada sesuatu yang membuat kita merasa lengkap dan bahagia—yang tanpa sesuatu itu kita tidak bahagia? Ini ikatan dan belenggu yang harus dilepaskan. Ikatan dan belenggu inilah yang membuat seseorang tidak dapat menjadi perawan suci. Pengertian “perawan suci” adalah seorang yang tidak terikat dengan percintaan dunia. Apakah masih ada yang kita sisakan? Ketika kita berani melepaskan segala belenggu atau ikatan dunia, kita akan menikmati kebahagiaan yang tidak pernah kita alami sebelumnya. Kita akan mendapatkan hikmat-hikmat surgawi dalam menangani segala masalah. Ketenangan dan keteduhan menghadapi berbagai pergumulan dan persoalan, seiring kita mengalami pertumbuhan kesucian yang sangat signifikan.
    Jangan kita menunda. Jangan berpikir melakukan hari ini sama dengan besok. Penundaan akan berdampak untuk kedewasaan rohani. Sebab, kalau kita masih terikat dengan sesuatu, hubungan kita dengan Tuhan tidak mungkin bisa harmonis. Karena kalau kita masih terikat dengan percintaan dunia, kita tidak akan dapat mengerti kebenaran. Merasa mengerti, tapi sebenarnya tidak mengerti. Apa bedanya orang yang mengerti dengan benar, dan orang yang mengerti dengan tidak benar? Sama-sama secara logika bisa mengerti, tetapi ada orang yang mengerti dengan benar akan berdampak dalam perilakunya. Kebenaran yang dipahami itu akan hidup dan akan membuat perubahan yang signifikan terus.
    0 min
  • Tangan yang Telah Kosong
    Filipi 3:7-8, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus, bahkan segala sesuatu kuanggap tidak bernilai ketika mengenal Kristus Yesus yang lebih mulia dari segala sesuatu. Oleh karena Yesuslah, aku telah melepaskan semuanya dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus.” Ini terbalik dengan orang dunia—jabatan sebagai anggota Sanhedrin, kekayaan, jaminan yang dimiliki Paulus—dianggap tidak bernilai dibanding dengan pengenalannya akan Kristus. Tidak bisa tidak, ada barter. Masalahnya banyak orang tidak merasa perlu barter. Demikian juga kalau kita membaca Matius 13:44-46, di situ ada barter juga. Petani yang menjual seluruh hartanya demi ladang yang di dalamnya ada harta kekayaan; atau seorang pedagang yang menemukan mutiara yang indah, dia merusak prinsip ekonomi, dia menjual seluruh hartanya demi membeli mutiara. Dunia mengajarkan untuk menggunakan modal seminimal mungkin, dan memperoleh keuntungan semaksimal mungkin. Ini dilanggar oleh pedagang tersebut. Pedagang ini melepaskan segala sesuatu.
    Kita tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Surga kalau kita tidak melepaskan segala sesuatu hanya untuk Dia, sebab Allah itu terlalu besar, agung, dan mulia. “Serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang, Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya,” merupakan jawaban Tuhan Yesus kepada orang yang menyatakan mau ikut Dia. Tuhan Yesus tidak menjawabnya dengan kata “ya,” “boleh,” atau “tidak.” Dengan jawaban seperti itu, berarti Tuhan sudah tahu isi hatinya, ada sesuatu yang orang ini harapkan dengan menjadi pengikut Tuhan Yesus. Padahal, untuk bisa ikut Tuhan Yesus, ia harus melepaskan segala sesuatu. Dalam 1 Timotius 6:7-8 dikatakan, “Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah.” Kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia, dan kita pun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Artinya, memang kita tidak boleh punya keinginan. Dulu kita merasa kita berhak punya keinginan, paling tidak punya hobi. Mestinya apa yang kita beli, apa yang kita miliki, semua menunjang pertumbuhan iman kita atau menunjang pelayanan. Jika tidak demikian, berarti kita tidak sepenuhnya mengabdi kepada Tuhan.
    Mungkin dulu kita masih memiliki banyak keinginan diri sendiri, namun Tuhan berkata bahwa kita telah dibeli dengan harga yang lunas dibayar, kita bukan milik kita sendiri. Waktu kita meninggal dunia, Tuhan akan bertanya, “Apa yang kau lakukan dengan tanganmu, apa yang kau lakukan dengan matamu, apa yang kau lakukan dengan telingamu, apa yang kau lakukan dengan tubuhmu, apa yang kau lakukan dengan uangmu, apa yang kau lakukan dengan kesempatan-kesempatanmu?” Kalau seseorang dalam hitungan umur rohani masih berumur kanak-kanak memiliki hobi tertentu, kita bisa maklum. Tapi kalau sudah makin tua, tidak boleh ada sesuatu yang kita miliki atau kita kerjakan yang tidak menunjang pertumbuhan iman kita pribadi dan tidak menunjang pekerjaan Tuhan. Harus segenap hidup kita persembahkan kepada Tuhan tanpa batas. Jadi, semestinya ketika kita pulang menghadap Bapa, tangan kita sudah kosong, tidak ada lagi yang kita genggam, karena semua sudah kita lepaskan. Kalau kita menjadi anak-anak Allah, kita benar-benar tidak lagi memusingkan segala hal, kecuali menyenangkan hati Bapa.
    Sebab kalau kita masih memegang sesuatu, berarti kita tidak menghargai Allah sepantas dan sepenuhnya. Orang yang menghargai Allah secara pantas, akan menganggap tidak ada yang bernilai selain Tuhan, sehingga ia berani melepaskan segala sesuatu. Abraham, teladan orang percaya, melepaskan segala sesuatu demi menggenapi panggilan Allah dalam hidupnya. Ishak—anak yang dinanti selama 25 tahun—pun dipersembahkan, padahal Allah berjanji bahwa dari keturunannya, bumi akan dipenuhi. Abraham tidak mempertanyakan hal itu, dia hanya taat atas apa pun yang Allah perintahkan. Jangan ada yang masih kita genggam.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…