Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menghargai Kesempatan
    Tidak ada kedewasaan tanpa pengalaman dengan Allah; tidak ada kedewasaan tanpa proses mengalami Tuhan. Karena, justru pengalaman dengan Tuhan di dalam kehidupan itulah yang mendewasakan. Tuhan memakai keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan menyakitkan, untuk mendewasakan kita. Ini sangat bertolak belakang dengan harapan banyak orang, bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Orang beragama supaya lancar jalannya, banyak berkahnya, enteng rezekinya, nyaman, aman, dilapangkan jalannya. Tetapi ternyata, Allah yang benar tidaklah demikian. Allah menggunakan keadaan-keadaan yang sulit, yang tidak menyenangkan untuk mendewasakan kita. Dari hal itu, kita bisa mengerti hubungan dengan Allah sebagai Bapa, dan kita anak; hubungan antara kita dengan Allah sebagai Gembala dan kita domba-Nya. Justru melalui pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan itu, kita dapat menemukan relasi atau hubungan yang benar, yang proporsional antara kita dengan Allah. Dalam Mazmur 73 akhirnya kita temukan puncak pengenalan pemazmur akan Allah, yang ditandai dengan pengakuan: “Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ini pengakuan yang luar biasa.
    Sejatinya, bagi Allah, kita adalah segalanya. Yang karenanya, Bapa rela memberikan Putra Tunggal-Nya untuk kita. Kalau Allah menjadikan kita biji mata-Nya, anak-Nya, kekasih-Nya, mestinya kita juga memperlakukan Allah demikian; Allah segalanya bagi kita, yang ditandai dengan pengakuan seperti yang pemazmur tuliskan dalam Mazmur 73:25-26. Ketika seseorang masih menaruh pengharapan dan perlindungannya kepada sesuatu—materi dunia, penghiburan dunia—berarti ia belum bisa menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya harta. Sulit bicara ini kepada orang muda atau orang tua yang sudah lama hidup dengan tidak menjadikan Tuhan sebagai harta kekayaan satu-satunya. Tetapi kalau hari ini kita menyadari bahwa kita belum menjadikan Tuhan harta kekayaan satu-satunya dalam hidup, kita masih diberi kesempatan untuk berubah dan mengubah diri. Orang yang mengalami pengalaman seperti ini adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Dan orang tidak bisa mengasihi Tuhan dalam waktu sekejap. Jadi pemazmur ini bisa berkata, “sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya,” setelah ia melewati proses, dan prosesnya menyakitkan.
    Pada waktu seorang Kristen mengalami pertobatan awal, banyak kita yang mengalami yang disebut “cinta mula-mula.” Kelihatannya orang yang mengalami cinta mula-mula ini mengasihi Allah dengan menggebu-gebu. Tetapi, kasih dari orang Kristen yang baru itu belumlah kasih yang dewasa. Cinta mula-mula harus disertai pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Seiring dengan kedewasaan rohani, maka seseorang mengasihi Tuhan secara dewasa. Kasih yang dewasa membangun hubungan yang harmonis dan proporsional dengan Allah; hubungan yang dewasa dengan Allah. Allah menghendaki hubungan yang dewasa dengan anak-anak-Nya, dan hubungan yang dewasa tersebut ditentukan oleh kedewasaan kasih seseorang kepada Allah. Jika seseorang mengasihi dengan tulus dan terus terbimbing melalui perjalanan waktu, kasihnya itu menjadi dewasa.
    Maka, kalau seseorang mengisi hatinya dengan berbagai kesenangan tanpa batas, tiada henti, ia bisa sampai pada level tidak akan pernah bisa mengasihi Allah dengan benar. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terlatih mengasihi dunia; bukan manusia surgawi. Jadi, sejatinya orang sudah bisa mempertimbangkan, apakah dia masuk surga atau neraka. Kalau kita mulai sadar bahwa ternyata kita belum mengasihi Allah secara benar, kita harus mulai berjuang untuk mengasihi Allah. Tidak ada kata yang bisa menggantikan keadaan dimana seseorang menjadi kekasih Allah, menjadi anak-anak Allah yang dewasa, dimana hubungan antara orang percaya dengan Allah itu harmoni, dan Allah bisa menikmatinya.
    Mengasihi Allah itu bukan karunia, tapi buah dari perjuangan dalam kehendak bebas masing-masin...
    0 min
  • Nasib di Kekekalan
    Kata ‘takdir’ ini tidak asing bagi telinga kita, bahkan akrab di mulut banyak orang di sekitar kita. Menanggapi suatu realita yang dialami seseorang, mereka biasa menggunakan kata ini. Kata ‘takdir’ dalam pemahaman umum biasanya mendapat isi atau dimengerti sebagai penentuan Ilahi. Kata ‘takdir’ biasanya disejajarkan maknanya dengan kata ‘nasib.’ Kata ‘takdir’ sangat populer di lingkungan orang-orang beragama, karena kata ini bertalian dengan “oknum” yang diakui sebagai yang berkuasa menentukan apa yang terjadi atas hidup masing-masing individu manusia secara mikro, dan atas alam semesta ini secara makro. Oknum yang menentukan segala peristiwa dalam kehidupan tersebut adalah Tuhan. Dalam hal ini, mereka memercayai segala sesuatu telah ditentukan atau ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga, di balik kata ‘takdir’ diisyaratkan jelas adanya penentuan Ilahi dalam setiap kejadian atau peristiwa. Jadi, ‘takdir’ dimengerti sebagai penentuan suatu peristiwa atau kejadian yang berlangsung dalam hidup manusia berdasarkan kedaulatan, kebebasan kehendak, dan kebijaksanaan Tuhan yang mutlak atau absolut.
    Dalam hal ini, Tuhan dipandang sebagai penyusun takdir atas segala sesuatu, baik yang hidup, apalagi bagi benda mati. Tidak ada yang luput dari penentuan-Nya. Maka memahami pengertian takdir, pada umumnya orang berasumsi bahwa manusia tidak memiliki kedaulatan sama sekali dalam menentukan keadaan hidupnya, sebab Tuhan telah mempersiapkan segala kejadian yang akan dialami atau dilaluinya dalam hidup. Manusia hanya menerima saja yang disediakan baginya; bahkan surga atau neraka pun, Tuhan yang menentukan. Pemahaman di atas ini pada akhirnya bisa membangun pandangan bahwa pertimbangan rasio manusia untuk mengambil keputusan menjadi sia-sia atau tidak diperlukan. Akhirnya, anjuran untuk menemukan peran dan tempat di hadapan Tuhan menjadi panggilan untuk percaya dan menerima saja setiap peran yang ditemukan secara otomatis. Dengan demikian, manusia juga tidak perlu memiliki integritas dan personalitasnya sendiri. Ini pandangan yang sangat keliru, sebab sesungguhnya manusia adalah makhluk yang harus menuai apa yang ditaburnya (Rm. 14:12; Gal. 6:7; 2Kor. 5:9-10).
    Sejatinya, adalah satu hal yang sulit dimengerti kalau seseorang menerima konsep takdir, sementara juga menyerukan pertobatan dan berbagai panggilan serta seruan untuk hidup di jalan Tuhan. Adam dan Hawa diciptakan sebagai makhluk yang berkehendak bebas. Apakah kita bisa menutup mata terhadap realitas adanya pilihan tersebut? Ketika Tuhan melarang manusia pertama untuk tidak makan pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat tetapi Ia tidak menyembunyikan pohon tersebut, sejatinya hal tersebut merupakan signal yang jelas akan adanya kebebasan memilih. Di dalamnya, Tuhan menghargai keputusan yang diambil oleh manusia, baik benar maupun salah, baik penurutan maupun pemberontakan. Dengan demikian, dapat ditegaskan bahwa manusia harus menentukan keadaannya sendiri, khususnya menyangkut keselamatan kekalnya. Hal ini akan membuat seseorang menyikapi hidup dengan sikap dewasa dan bertanggung jawab. Hidup adalah perjuangan antara membawa diri kepada kehidupan kekal atau kebinasaan kekal. Inilah risiko kehidupan bagi manusia yang diciptakan menurut rupa dan gambar Allah (Kej. 1:26-27). Keserupaan tersebut juga menyangkut kehendak bebasnya.
    Pandangan salah di atas dapat melahirkan pemikiran bahwa manusia hanya menjadi objek, bukan subjek. Konsep ini tidak benar. Sikap ini sebenarnya justru merupakan sebuah sikap menciderai Allah. Memang harus diakui adanya “takdir mati” yang harus kita terima sebagai penentuan Allah; misalnya jenis kelamin, suku bangsa, dan orangtua kita. Merespons penentuan yang tidak dapat diubah dan dibatalkan ini, kita harus bersikap positif. Dalam hal ini, kita harus mengucap syukur atas apa yang Tuhan kehendaki terjadi dalam hidup kita. Kita harus percaya bahwa porsi yang Tuhan berikan kepada kita adalah penerjemahan kedaulatan Allah yang bijaksana, adil,
    0 min
  • Kesempatan Belajar
    Orang percaya yang menyadari bahwa ia menumpang di bumi ini akan berusaha menggunakan momentum-momentum yang berharga untuk meraih perkara-perkara surgawi. Momentum-momentum itu bisa berupa pengajaran-pengajaran Firman Tuhan yang membuka pikiran untuk mengenal Tuhan. Momentum-momentum ini adalah anugerah bertahap yang harus diterima secara berkesinambungan. Seperti tali yang harus bersambung terus dan dijaga agar tidak putus. Sayangnya, banyak hal yang dianggap lebih menarik dibanding dengan kebenaran Firman Tuhan. Dengan sikap ini, sejatinya mereka melecehkan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Mereka sudah merasa puas dengan pengetahuan Alkitab yang mereka miliki. Orang yang merasa sudah puas diri dengan pengetahuan Alkitab yang mereka miliki tersebut juga merasa bahwa dirinya sudah hidup benar di mata Tuhan.
    Oleh sebab itu, kita harus berkomitmen dengan teguh untuk menggunakan setiap kesempatan untuk belajar kebenaran Firman Tuhan, supaya kita membawa diri kita kepada kebenaran Tuhan. Kenyataan yang kita lihat sekarang ini, banyak orang yang menggunakan waktunya untuk berbagai hal yang sia-sia. Banyak waktu yang digunakan sekadar mengumpulkan harta, meraih cita-cita duniawi seperti pangkat prestasi, gelar, dan lain sebagainya. Juga menggunakan waktu untuk memuaskan hasrat daging dan berbagai kesenangan, seolah-olah hidup ini adalah kesempatan sekali-kalinya bagi manusia untuk memiliki kesadaran. Ia lupa bahwa hidup ini sekarang baru permulaan dari sebuah kesadaran abadi. Kita hanya menumpang di sini. Di balik kehidupan hari ini, masih ada kehidupan panjang yang Allah sediakan, yaitu kehidupan di keabadian. Inilah yang dinanti-nantikan oleh tokoh-tokoh iman (Flp. 3:10-11).
    Sesungguhnya, kita diperhadapkan kepada saat-saat yang sangat berarti bagi hidup kita di kekekalan. Sebab, saat-saat ini menentukan keadaan hari esok kita di kekekalan. Semua yang kita tabur di bumi ini akan kita tuai di kekekalan. Kalau kita memperlakukan Tuhan sebagai Raja yang memerintah, kita harus bersikap tidak ceroboh menjalani hidup ini. Hidup ceroboh di sini adalah hidup tanpa mengerti kehendak Tuhan dengan tepat dan pasti. Kalau kita belum mengerti kehendak Tuhan dengan tepat dan pasti, kita harus berusaha untuk mengerti dan melakukan dengan segala kemampuan yang ada. Dan kalau Alkitab berbicara mengenai hukum tabur tuai, sesungguhnya tekanannya bukan pada berkat jasmani, melainkan bagaimana mempersiapkan diri untuk menuai kemuliaan bersama Kristus suatu hari nanti dalam Kerajaan-Nya, dengan menabur kehidupan yang sesuai dengan kehendak Allah.
    Kalau Alkitab menyatakan bahwa hari-hari adalah jahat, Tuhan mengingatkan kita bahwa dunia yang jahat mencenderungkan manusia menabur apa yang jahat, agar manusia menjauh dari berkat Tuhan (Ef. 5:14-17). Maka, kalau seseorang mau menggunakan kesempatan untuk belajar berkenan di hadapan Tuhan, Tuhan akan menggarap orang itu secara intensif. Kalau kita mau menerima mahkota abadi, kita harus berjuang dalam perjuangan iman yang benar (Rm. 8:17; 2Tim. 4:8). Banyak perjuangan yang dilakukan orang Kristen yang hanya untuk pemuasan hasrat ambisi dan kesenangan dunia, bukan untuk meraih kecemerlangan iman seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus, yaitu berkenan kepada Bapa di surga. Oleh sebab itu, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan berharga selagi kita masih hidup menumpang di bumi ini. Kalau seseorang menyia-nyiakan kesempatan ini, selamanya ia tidak akan memiliki kesempatan menabur yang baik.
    Jadi, kalau sekarang Tuhan masih memberi kesempatan untuk bertobat dan diperbaharui oleh Firman-Nya, kita harus menghargai kesempatan ini. Jika tidak, seseorang akan kehilangan kesempatan itu untuk selama-lamanya. Kalau Tuhan memberi kesempatan seseorang untuk bertumbuh sempurna dan melayani pekerjaan-Nya tetapi tidak menghargainya, maka akan menjadi rusak dan melayani Iblis dalam kerajaan gelap. Memilih untuk tinggal dalam Kerajaan Terang atau kerajaan gelap dimulai sejak sekarang, hari ini, di sini,
    0 min
  • Kehendak Bebas yang Bertanggung Jawab
    Kehendak adalah dorongan dalam diri manusia untuk meraih atau mengharapkan sesuatu. Dengan kehendak ini, manusia bisa menciptakan berbagai cita-cita dan harapan yang ditujukan kepada sesuatu atau seseorang. Inilah keistimewaan manusia yang melebihi dari semua ciptaan Allah yang lain. Sebagaimana Allah yang adalah gambarnya memiliki kehendak, demikian pula manusia diciptakan dengan keberadaan yang sama. Kehendak ini juga dimiliki oleh makhluk Lusifer. Itulah sebabnya, ia memiliki keinginan untuk mendirikan takhtanya sendiri dan mengatasi Allah. Dalam Alkitab, makhluk ini mengatakan: “aku ingin atau aku hendak…” Dengan keberadaan sebagai mahkluk yang memiliki kehendak atau keinginan—baik Lusifer, malaikat maupun manusia—berarti bertanggung jawab menentukan takdirnya.
    Selain itu, dalam relasinya dengan Tuhan, manusia harus bisa menempatkan dirinya dengan benar di hadapan Tuhan dan menempatkan Tuhan secara pantas. Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Suatu kehormatan yang tiada tara kalau manusia diberi kebebasan untuk menempatkan diri di hadapan Tuhan dengan benar, dan hal ini harus dilakukan dengan kerelaan, bukan dengan paksaan. Hal ini menunjukkan bahwa dirinya memilih Tuhan; yaitu mengasihi, menghormati, dan dengan segenap hidup mengabdi kepada-Nya. Dengan hal ini, manusia digolongkan sebagai makhluk ilahi atau makhluk rohani. Tidaklah heran kalau manusia disebut sebagai anak-anak Allah. Tentu sebutan ini bukan sekadar sebutan. Di balik sebutan ini terdapat fakta bahwa keberadaan manusia sangat luar biasa. Manusia diciptakan menurut rupa dan gambar Allah. Manusia sebagai anak-anak Allah, dilengkapi dengan berbagai elemen yang juga ada di dalam diri Allah, sehingga manusia dapat mengambil keputusan dengan tepat bijaksana seperti Allah sendiri.
    Dalam kehendak bebasnya, manusia dapat memilih untuk taat kepada Allah atau memberontak kepada-Nya. Berbicara mengenai mengasihi atau menghormati Allah, ini adalah bagian terdalam dari diri manusia, yaitu di dalam hati dan perasaannya. Tentu saja ini adalah bagian atau wilayah manusia yang tidak diintervensi oleh siapa pun, bahkan oleh Allah sendiri. Kalau Allah berintervensi di dalamnya, manusia secara total atau mutlak menjadi boneka yang kehilangan integritas dan personalitinya (kepribadian), sebab memang tidak membutuhkan integritas dan personaliti lagi. Sejatinya, kehendak bebas bisa didefinisikan sebagai konsep yang menyatakan bahwa keadaan perilaku manusia tidak mutlak ditentukan oleh kausalitas di luar dirinya, tetapi merupakan akibat atau hasil dari keputusan dan pilihan yang dibuat melalui sebuah aksi dan reaksi dari diri sendiri. Keputusan dan pilihan tersebut ditentukan oleh komponen dalam diri manusia, yaitu pikiran dan perasaannya. Dari pikiran dan perasaan ini, seseorang memiliki kemampuan mempertimbangkan sesuatu. Dari hasil pertimbangannya tersebut, seseorang dapat mengambil keputusan atau memilih.
    Pilihan dan keputusan yang dapat dilakukan manusia seperti di atas ini tidak ditentukan oleh penyebab di luar dirinya, namun ditentukan oleh motif dari diri sendiri, yaitu hasil dari pertimbangan nalar atau rasio yang dimilikinya. Adapun kemampuan manusia mempertimbangan sesuatu yang menghasilkan sebuah keputusan dan pilihan, tergantung kemampuan berpikir. Adapun kemampuan berpikir atau berlogika yang dimiliki seseorang sangat ditentukan oleh apa yang masuk ke dalam pikirannya melalui jendela mata dan telinganya atau panca inderanya, serta segala sesuatu yang dialaminya. Memang ada faktor-faktor di luar diri pribadi manusia itu sendiri dalam mengambil keputusan, seperti misalnya pimpinan Roh Kudus di dalam diri manusia itu. Tetapi pada akhirnya, keputusan akhir ada di tangan setiap individu. Keputusan akhir mengakibatkan atau membuahkan segala tindakan yang dapat dilakukan atau yang terwujud.
    Kehendak bebas harus dipahami sebagai pemberian Tuhan yang sangat berharga atau tak ternilai dari Tuhan, dimana manusia diberi kemampuan mempertimbangkan ...
    0 min
  • Taat
    Banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa keselamatan tidak dapat dialami dan dimiliki dengan mudah; harus lewat sebuah perjuangan. Karena mereka tidak tahu bahwa keselamatan itu adalah sebuah proses berat; proses dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Itu berarti manusia harus menjadi sempurna seperti Bapa; menjadi manusia segambar dan serupa dengan Allah, sesuai dengan rancangan Allah semula ketika menciptakan manusia (Kej. 1:26-27). Kita bersyukur bahwa proses itu bisa kembali berlangsung karena Yesus memberi anugerah. Namun, Yesus pun memperjuangkan hal itu, bukan otomatis. Dalam Yohanes 1:14 firman Tuhan mengatakan, “Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.” Yesus adalah manusia yang menjadi pelaku Firman Allah, sehingga Ia memancarkan kemuliaan Allah. Kehidupan Yesus adalah kehidupan Firman. Tetapi untuk mencapai kehidupan mengenakan Firman hingga sempurna, Yesus sendiri harus berjuang.
    Alkitab jelas menulis, “… dan karena kesalehan-Nya, Ia telah didengarkan oleh Allah Bapa. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar taat dari apa yang telah diderita-Nya.” Hal ini memberikan kepada kita sebuah pengertian bahwa untuk menjadi taat itu tidak mudah. Taat itu penderitaan. Jadi, umat pilihan yang mendapat kesempatan untuk dikembalikan ke rancangan semula Allah, harus belajar. Artinya, berjuang seperti Dia telah berjuang, untuk memiliki kehidupan seperti kehidupan yang dicapai Yesus; mengenakan Firman. Itulah sebabnya, Yesus dikatakan sebagai pokok keselamatan. Kata “sulung” dalam Roma 8:28 itu jelas menunjukkan bahwa pergumulan yang dialami oleh Yesus, juga pergumulan yang dialami orang percaya. Dengan kata lain, orang percaya harus mengalami pergumulan yang juga dialami oleh Yesus.
    Harus ditegaskan bahwa Yesus dalam segala hal disamakan dengan manusia. Jika tidak demikian, Yesus tidak bisa dikatakan yang sulung. Dikatakan “sulung” karena Dia mengalami pergumulan sama seperti pergumulan yang dialami oleh orang percaya. Dengan keadaan ini, Yesus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh manusia, sehingga Ia menjadi Imam Besar dan dapat menolong orang yang ada dalam pergumulan. Kalau konsep ini salah dimengerti, maka kekristenan kita jadi berantakan. Sebab, tidak ada yang bisa kita teladani. Kehadiran Yesus mengubah manusia yang telah diwarnai dunia untuk menjadi manusia sesuai rancangan semula. Manusia melukis dirinya sendiri dan tidak segambar dengan Allah, maka Allah yang harus memberi warna supaya manusia dapat memiliki model seperti model yang Allah kehendaki. Oleh karenanya, Yesus datang untuk mengubah manusia.
    Wahyu 21:7 mengatakan, “barangsiapa menang, ia akan memperoleh semuanya ini, dan Aku akan menjadi Allahnya, dan ia akan menjadi anak-Ku.” Pernyataan Tuhan bahwa orang percaya harus menang menunjukkan adanya kemungkinan seseorang menang, tapi juga kalah. Secara tidak langsung dikemukakan adanya tuntutan terhadap orang percaya untuk memperebutkan kemenangan seperti Yesus memperebutkannya. Paulus juga mengatakan kepada Timotius, “bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar, dan rebutlah hidup yang kekal.” Hidup kekal mesti direbut. Kemenangan yang diraih Yesus bukan anugerah, melainkan hasil ketaatan dalam perjuangan-Nya. Pencobaan dari Iblis untuk menggagalkan pencapaian hidup-Nya sebagai Anak Allah yang menemukan kemuliaan Allah adalah supaya Yesus gagal dan tidak memikul dosa manusia. Maka, Ia ditawari dunia.
    Hal ini sama sebenarnya seperti ketika Tuhan memberi izin kepada setan untuk mencobai Ayub; Ayub bisa gagal. Nyatanya, memang Ayub pada akhirnya minta maaf kepada Tuhan. Sampai dia berkata, “kucabut semua perkataanku.” Namun kemenangan Ayub terbukti ketika ia berkata, “Allah tahu jalan hidupku. Kalau Ia menguji aku, aku akan muncul seperti emas.” Apa pun yang kita alami, pasti di dalam kontrol Allah. Namun,
    0 min
  • Membangun Diri
    Proses menjadi tua berlangsung secara otomatis, tetapi menjadi dewasa rohani atau menjadi sempurna adalah tanggung jawab yang harus diperjuangkan. Hal ini berlaku bagi semua manusia keturunan Adam dan Hawa. Kalau Adam dan Hawa sukses menjadi dewasa, sempurna, segambar, serupa dengan Allah, maka keturunannya tidak akan mengalami proses penuaan dan kematian. Tetapi, ternyata Adam dan Hawa gagal. Sebagai akibatnya, ia harus mengalami proses penuaan dan kematian. Juga semua manusia keturunannya, mengalami proses yang sama; penuaan, kematian, bahkan kebinasaan; artinya terpisah dari Allah. Manusia ada di bawah bayang-bayang maut atau kebinasaan. Manusia hidup di luar persekutuan dengan Allah. Manusia hidup dikuasai kodrat dosa, dan semua keturunannya telah menjadi manusia yang tidak sesuai dengan maksud manusia itu diciptakan. Semua manusia terjual di bawah kuasa dosa. Di dalam tanggung jawab, Allah memberikan manusia kemampuan untuk membangun dirinya. Yang dimaksud dengan “diri” bukan hanya fisik, melainkan moral karakter, kualitas batiniahnya. Hal ini dimaksudkan agar manusia dapat menjadi makhluk yang dapat bersekutu dengan Allah.
    Di balik pernyataan Allah di dalam Kejadian 2:16-17, ada sesuatu yang harus ditangkap secara implisit. Allah bermaksud agar manusia tidak gagal menjadi manusia sesuai rancangan Allah semula. Jadi, terwujudnya realisasi rancangan Allah di dalam kehidupan manusia juga ditentukan oleh peran manusia itu sendiri. Allah memiliki bagian, manusianya juga memiliki bagian. Manusia dirancang Allah bukan membangun dirinya di atas dasar apa yang baik dan jahat, tetapi harus dibangun di atas dasar apa yang diinginkan atau dikehendaki oleh Allah. Bukan pengetahuan yang baik dan jahat, tetapi kehidupan. Dalam hal ini, hukumnya bukan tatanan baik dan jahat dari sumber lain, tetapi tatanan-Nya Allah sendiri. Dengan kalimat lain, apa yang baik dan jahat tidak boleh berdasarkan perspektif mana pun, tetapi harus dari Allah yang adalah sumber kehidupan. Jadi, pohon kehidupan adalah simbol dari kebenaran Allah. Sedangkan pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah simbol dari ukuran baik dan jahat bukan berdasarkan Allah. Adanya pohon pengetahuan yang baik dan jahat menunjukkan bahwa Allah mengizinkan Iblis ada di dalam taman. Allah membiarkan setan mencobai manusia.
    Menjadi pertanyaan yang lama berkumandang: “Mengapa Allah mengizinkan oknum itu ada di dalam taman sehingga menggoda Adam dan Hawa?” Jawabnya adalah karena Allah menghendaki makhluk yang diciptakan—yang disebut manusia—menghormati Allah dengan rela tanpa paksaan, secara natural, dan bisa berjalan seiring dengan Allah berdasarkan kodratnya. Dengan demikian, jelas ditunjukkan bahwa memang sejak semula Allah tidak menentukan segala sesuatu secara sepihak, artinya Allah tidak membuat Adam dan Hawa itu seperti robot yang diatur remote control atau dibuat programnya. Jadi, sejak semula, manusia pertama sudah menghadapi dua suara, dimana manusia harus memilih, apakah menuruti suara Allah atau suara yang lain? Apakah manusia bertumbuh ke arah Allah agar menjadi segambar dan serupa dengan Allah atau ke arah yang lain? Makna yang terkandung di dalamnya, kalau orang mendengar suara yang bukan dari Allah, menerima apa yang bukan dari perspektif atau sudut pandang Allah, ia tidak akan mencapai menjadi manusia segambar, serupa dengan Allah. Di zaman anugerah, umat pilihan memiliki kesempatan mencapai tataran atau tahap sempurna seperti Bapa. Sebab, manusia yang menjadi umat pilihan—yang ditebus oleh darah Yesus—mendapat pembenaran, bisa berinteraksi dengan Allah, diberi Roh Kudus, dan memiliki Injil kebenaran.
    Hukum diberikan kepada manusia agar manusia menjadi tertib. Tertib dalam ukuran kebaikan manusia yang relatif. Relatif sesuai dengan hukum yang dipahami. Di tempat A, berbuat ini salah; di tempat B, bisa tidak salah. Tapi kesediaan menaati hukum itu tetap dinilai baik. Jadi, manusia bisa mencapai kebaikan yang relatif. Artinya,
    0 min
  • Kebutuhan Primer
    Dalam kehidupan ini, kita mengenal tiga jenis kebutuhan, dan itu sudah diterima oleh hampir semua orang; yaitu kebutuhan primer, sekunder, dan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama manusia yang tidak dapat ditunda pemenuhannya agar kehidupan bisa berjalan dengan baik. Kebutuhan ini harus dipenuhi, karena berkaitan dengan kelangsungan hidup setiap hari. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang tidak mendesak, dan untuk memenuhinya, dapat dilakukan setelah kebutuhan primer terpenuhi. Setelah kebutuhan primer dan sekunder ini terpenuhi, biasanya orang masuk pada kebutuhan tersier; kebutuhan terhadap barang yang dikategorikan mewah. Jenjang kebutuhan ini pada umumnya membelenggu manusia. Tidak bisa tidak. Karena, manusia pada umumnya memburu itu semua. Dan itu kewajaran hidup. Sadar atau tidak, banyak orang percaya yang terpengaruhi juga dengan pola hidup seperti itu. Kita semua sudah biasa memiliki irama hidup seperti ini, sadar atau tidak sadar. Itu kita warisi dari nenek moyang, dari orangtua, dan pengaruh lingkungan kita. Dan kita menggulirkan hari hidup kita dalam pola hidup seperti yang orang lain juga lakukan.
    Pada akhirnya, tidak bisa dibantah, jarang ada orang yang puas walaupun telah terpenuhinya tiga jenis kebutuhan tersebut. Mereka seperti orang yang selalu haus untuk meneguk lebih banyak yang dapat dimiliki dari dunia ini. Orang akan selalu haus, ingin meneguk semua kesenangan yang dunia sediakan. Dengan cara ini, sebenarnya kuasa gelap membelenggu manusia dan menggiringnya ke dalam kegelapan abadi. Ironisnya, pola hidup seperti ini juga ada dalam kehidupan para rohaniwan. Kalau kita membicara hal ini kepada orang yang tidak memiliki niat untuk berkenan di hadapan Tuhan, sulit. Tetapi, kita harus memperkarakan hal ini kepada orang yang sadar betapa singkatnya waktu hidup kita, bahwa hidup kita akan berlanjut di kekekalan, bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini menentukan nasib kekal, agar mereka dapat dengan jujur menilai kehidupannya masing-masing. Sebab, mestinya kebutuhan primer kita adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, agar kita layak dimuliakan.
    Maka, fokus orientasi hidup kita harus benar-benar sesuai dengan cara hidup yang Tuhan Yesus ajarkan dan Tuhan Yesus kenakan. Yang untuk zaman sekarang, nyaris tidak bisa dikenakan karena berat. Beratnya karena memang mengenakan gaya hidup itu sendiri. Yang kedua, karena manusia di sekitar kita itu makin jauh dari kebenaran Injil yang sejati. Tetapi kalau kita mau selamat, mau aman di kekekalan, kalau kita mau tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, di hadapan takhta pengadilan Tuhan Yesus, kita harus berani untuk berubah. Kehidupan Yesus adalah pusat hidup kita. Memang, untuk menjadi “seperti Yesus” itu abstrak, tapi setiap orang harus menemukannya karena ini sifatnya pribadi. Maka jangan sampai pikiran, perasaan kita dirusak oleh tontonan, film, pergaulan yang salah, sehingga lahir keinginan-keinginan atau kehendak-kehendak yang tidak sesuai dengan karena Allah. Bagi orang yang mengasihi Tuhan, yang sudah punya komitmen yang kuat, Tuhan pasti garap. Kalau tidak, tidak bisa. Karena hanya orang yang mengasihi Allah yang melalui segala keadaan, Allah menjadikan dia serupa dengan Yesus. Jadi, kita dihajar Tuhan sampai kita pindah, dan menemukan dimensi yang baru dalam hidup.
    Kalau kita benar-benar menghayati bahwa kita penerima waris Kerajaan Allah, maka kita pasti bersedia untuk digarap oleh Tuhan. Oleh karena itu, mulai sekarang kita harus memindahkan prinsip atau filosofi hidup anak dunia, ke prinsip kebenaran Alkitab. Roh Kudus pasti akan memberi kita pengertian; dimana kita akan mulai menghayati singkatnya hidup ini, tragisnya hidup. Namun ketragisan hidup ini tidak membuat kita jadi pesimis dan kurang bahagia. Hidup ini tragis, maka kalau kita tidak memaksa diri untuk ikut Tuhan Yesus, apa yang mau kita cari? Itulah sebabnya Paulus mengatakan, “asal ada makanan, pakaian, cukup” (1Tim. 6:8).
    0 min
  • Berkat Pembentukan-Nya
    Bagi orang percaya, kesempatan hidup yang hanya sekali di dunia yang sangat singkat ini adalah proses belajar, yang sama dengan sekolah kehidupan. Sekolah kehidupan kita dimulai dari hal-hal sederhana yang terjadi dalam kehidupan kita setiap hari. Itulah sebabnya, kita tidak boleh menganggap remeh setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita setiap hari. Tuhan menyatakan bahwa rambut di kepala kita pun terhitung (Mat. 10:30). Dalam teks bahasa Inggris versi King James diterjemahkan: But the very hairs of your head are all numbered. Kata ‘dihitung’ atau ‘diberi nomor’ artinya Tuhan menandai setiap lembar rambut kita. Pernyataan ini hendak menunjukkan betapa teliti Tuhan terhadap kita. Tuhan memedulikan kita lebih dari kita memedulikan diri sendiri. Oleh sebab itu, hendaknya kita tidak berpikir bahwa Tuhan kurang peduli terhadap keadaan kita. Kalau ada masalah hidup yang berat yang sedang kita hadapi, kita harus jujur memeriksa apakah hal itu akibat kesalahan kita atau bukan. Kalaupun kita mengalami kesulitan bukan akibat kesalahan kita, kita bersyukur karena di balik semua peristiwa kehidupan, Tuhan hendak menjuruskan kita kepada kesucian Tuhan dan kesempurnaan-Nya.
    Dengan demikian, setiap hari setiap jam, setiap menit, dan detik, Tuhan menyediakan berkat pembentukan-Nya yang nilainya tidak terbatas. Semua hal tersebut mengerjakan harta abadi yang tidak akan dapat diperoleh di kesempatan lain. Dalam setiap keadaan, Tuhan mendatangkan kebaikan bagi kita. Tentu selama kita mengerti maksud Tuhan di balik semua kejadian yang kita alami. Dalam kenyataan hidup ini, hanya ada satu bencana, yaitu kalau seseorang terpisah dari hadirat Tuhan selama-lamanya. Itulah sebabnya, sering Tuhan mengizinkan masalah berat kita alami, agar kita terhindar dari bencana abadi. Kalau seseorang mengerti hal ini, tidak ada lagi persungutan; sebaliknya, yang ada adalah ucapan syukur. Kalaupun tidak diucapkan, tetapi ucapan syukur tersebut menghiasi jiwanya. Inilah yang dimaksud dengan menaruh percaya kepada-Nya. Orang yang menaruh percaya kepada Tuhan adalah orang-orang yang peduli terhadap apa yang dipedulikan oleh Tuhan. Tentu yang dipedulikan oleh Tuhan adalah kesempurnaan hidup kita ini. Untuk itu, dengan sangat teliti Tuhan menggarap kita melalui pendidikan sekolah kehidupan, guna kesempurnaan kita.
    Pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 10:30 mengisyaratkan bahwa Tuhan sangat teliti memperhatikan kita. Ketelitian Tuhan nyata dalam tindakan-Nya menyeleksi setiap peristiwa yang diizinkan-Nya terjadi dalam hidup kita. Tuhan menaruh jaring di depan kita agar kita terhindar dari kejadian yang tidak perlu kita alami. Jadi, semua kejadian yang kita alami telah melalui seleksi Tuhan. Tuhan mengontrol dan mengendalikan segala keadaan. Dengan demikian, Tuhan membentuk kita melalui segala peristiwa yang terjadi dalam kehidupan ini, termasuk masalah-masalah sederhana yang terjadi dalam kehidupan ini. Tuhan turut bekerja dalam segala hal (Rm. 8:28). Persungutan adalah sikap tidak menghargai kebijaksanaan Tuhan dan sikap penolakan terhadap penggarapan Tuhan. Orang yang suka bersungut-sungut adalah orang yang berhenti bertumbuh atau sukar bertumbuh. Anak sekolah yang baik adalah anak yang suka menerima tugas. Sebab, tugas tersebut membuat dirinya bertambah maju dan cerdas. Kehidupan ini menjadi menarik kalau kita menyukai perubahan, yaitu perubahan ke arah kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Memang hanya untuk itulah kita hidup.
    Hidup di dunia ini adalah masa persemaian atau pembibitan. Bibit yang buruk tidak akan ditanam Tuhan di Taman Abadi-Nya. Kalau orang tidak menyadari ini, maka filosofi hidupnya adalah: “Mari kita makan dan minum sebab besok kita mati” (1Kor. 15:32). Inilah pertimbangan hidup manusia pada umumnya, sebab mereka tidak tahu atau tidak mau tahu bahwa hidup di dunia ini hanya masa persemaian. Masa persemaian yang singkat ini adalah waktu sangat berharga, karena menentukan apakah ia akan menjadi bibit yang terbuan...
    0 min
  • Berjalan dengan Iman
    Firman Tuhan mengajarkan agar kita memindahkan hati ke surga. Dengan demikian, mata hati kita akan selalu terarah kepada janji kedatangan-Nya. Memang hidup dengan meyakini janji kedatangan Tuhan dan pemerintahan Allah yang akbar nanti, akhirnya menjadikan kita seperti pemimpi-pemimpi. Orang-orang di sekitar kita memandang hal tersebut sebagai omong kosong. Diam-diam, dalam hati mereka mengolok-olok atau mencemooh kita. Jadi, kita mengerti mengapa orang mengolok-olok Nuh tatkala memberitakan berita keselamatan. Juga Lot, ketika mengajak orang-orang keluar kota Sodom. Tetapi, mimpi kita bukanlah sesuatu yang kosong. Mimpi kita adalah nubuatan Alkitab yang akan digenapi. Itulah visi. Seperti Abraham memiliki mimpi dan hidup di atas mimpi tersebut, kita pun belajar demikian (Ibr. 11:8,10,16). Itulah yang namanya berjalan dengan iman, bukan dengan penglihatan (2Kor. 5:7). Nuh berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bertahun-tahun berjalan dengan iman. Dengan iman, bukan dengan penglihatan. Nuh menggerakkan diri dan keluarganya untuk berjuang membuat bahtera. Hal ini menjadi inspirasi kita. Hal yang sama juga kita lakukan dengan menujukan pikiran kita pada kedatangan pemerintahan Kerajaan Surga nanti. Kedatangan Tuhan dan pemerintahan teokrasi yang dijanjikan Tuhan menjadi peragaan hebat yang sangat menakjubkan, yang akan kita saksikan dan alami nanti.
    Kita harus berani memercayai apa yang Tuhan katakan atau janjikan. Orang-orang zaman Nuh tidak akan menduga bahwa mereka akan mengalami bencana yang begitu dahsyat. Sementara, Nuh dan keluarganya tidak menduga betapa nyamannya bahtera hasil kerja keras mereka selama bertahun-tahun. Calon menantu Lot tidak akan menduga bumi mereka dijungkirbalikkan Tuhan, dan api belerang membakar kota mereka. Sebaliknya, ketika Lot keluar dari Sodom dan Gomora, ia baru mengerti betapa beruntungnya keluar dari kota itu. Pada waktu masih di Sodom, Lot masih ada sedikit keraguan untuk meninggalkan kota Sodom. Itulah sebabnya mereka berlambat-lambat. Kemudian, malaikat menarik mereka keluar dari Sodom. Setelah menyaksikan kedahsyatan api dan belerang membumihanguskan kota Sodom dan Gomora, barulah Lot dan anak-anaknya menyadari betapa bersyukurnya terhindar dari penghukuman Tuhan. Betapa mengerikan seandainya Lot dan anak-anaknya menolak keluar dari kota Sodom. Puji Tuhan, mereka mengikuti jejak para malaikat, sehingga terhindar dari bencana.
    Gambaran yang jelas mengenai penyesalan karena tidak bertobat, dapat kita temukan di Lukas 16:19-25. Peristiwa ini cermin dari kehidupan manusia. Banyak orang tidak sadar, betapa dahsyatnya kengerian api kekal, tetapi juga tidak menyadari betapa beruntungnya ada di “pangkuan Abraham.” Memercayai Tuhan juga berarti masuk ke dalam apa yang dijanjikan Tuhan di waktu mendatang. Masuk ke dalam apa yang Tuhan janjikan, artinya mulai sekarang hidup kita diarahkan kepada kehidupan nanti. Inilah yang namanya berjalan dengan iman. Air bah belum melanda bumi, tetapi keluarga Nuh sudah memasuki kehidupan yang Tuhan janjikan. Ini juga berarti hidup dalam janji Bapa. Yang paling mengagumkan adalah kehidupan Abraham. Seluruh kehidupannya adalah kehidupan untuk masa depan. Walau ia tidak mengalami, tetapi sampai mati ia percaya (Ibr. 11:13). Sampai mati, Abraham tidak mengalami apa-apa yang dijanjikan Tuhan, tetapi imannya tidak pudar. Abraham adalah sosok manusia yang hidup untuk masa depan. Inilah kehidupan yang Tuhan kehendaki. Inilah yang dimaksud Tuhan dengan “mengumpulkan harta di surga” (Mat. 6:19-24). Di bumi, ngengat dan karat merusak, pencuri dapat mencuri serta membongkarnya. Harta surgawi kekal.
    Hendaknya, kita tidak menjadi keras kepala seperti bangsa Israel yang menolak apa yang Tuhan katakan, bahwa di Kanaan mereka akan menjumpai tanah yang berlimpah susu dan madu. Bangsa Israel sudah terikat dengan Mesir. Hal ini sejajar dengan nasihat: “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku.
    0 min
  • Dimulai dari Sekarang
    Menempatkan diri sebagai sahabat Tuhan, sejatinya harus dimulai dari sekarang. Ini adalah pilihan yang harus diambil secepatnya. Dalam banyak hal atau dalam segala hal, boleh tidak ada kepastian. Tetapi untuk menjadi sahabat Tuhan, haruslah sebuah kepastian. Kepastian ini harus dirajut atau dibangun mulai sekarang, dalam kesengajaan dan kesadaraan dalam situasi konkret setiap hari. Hal ini harus menjadi prioritas utama hidup. Inilah yang dimaksud dengan mendahulukan Kerajaan Surga (Mat. 6:33). Ini bukan sebuah pekerjaan sederhana. Tuhan Yesus berbicara mengenai hal ini dalam Yohanes 6:26-29. Tuhan berkata agar kita bekerja untuk roti yang tidak dapat binasa. Membuktikan percaya kepada Tuhan adalah sebuah pergumulan. Menjadi orang percaya berarti hanya hidup untuk mempersiapkan diri menghadapi kekekalan. Percaya kepada Tuhan memiliki konsekuensi. Kalau seseorang berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan, berarti ia harus membuktikan percayanya atau mengerjakan percayanya tersebut, seperti Abraham disebut sebagai bapa orang percaya setelah mengerjakan percayanya dengan benar. Ternyata, percayanya kepada Tuhan menyita seluruh kehidupannya. Pada zaman Yesus, kalau seseorang berkata “percaya,” maka percayanya tersebut memiliki konsekuensi. Hari ini, setelah kekristenan menjadi agama, seseorang menunjukkan percayanya hanya dengan datang ke gereja atau mengaku sebagai orang Kristen. Seharusnya pengakuan percayanya terbukti ketika ia tidak sama dengan dunia sekitarnya (Rm. 12:2).
    Jika persahabatan dengan Tuhan dimulai sekarang, maka permusuhan dengan Tuhan juga dimulai sekarang. Seseorang seharusnya sudah dapat memperhitungkan dengan pasti apakah ia akan selamat atau binasa di api kekal. Ini bukan sebuah keyakinan semata-mata, tetapi sebuah penghayatan hidup. Jadi, kalau belum memiliki penghayatan yang benar dari bukti nyata (sebuah kehidupan yang berjalan dengan Tuhan), jangan yakin pasti selamat. Ini menyesatkan. Keyakinan bahwa ia selamat tanpa bukti adalah keyakinan buta. Keyakinan keselamatan bukan sesuatu yang abstrak tidak berdasar, tetapi sesuatu yang konkret terbukti, sebagaimana iman ada buktinya. Seperti contohnya Paulus, ia yakin memperoleh mahkota abadi, bukan untung-untungan (2Kor. 4:6-8). 
    Pada umumnya, orang berpikir bahwa hari-hari yang dijalaninya menuju suatu titik akhir yang tragis. Itulah sebabnya, orang mencoba mempertahankan kehidupan di bumi ini selama mungkin. Kematian baginya suatu momok yang menakutkan. Mereka memandang hidup di dunia ini sebagai satu-satunya kehidupan yang indah; yang tidak boleh diakhiri buru-buru, tetapi dipertahankan selama mungkin dan dikembangkan sedemikian rupa, supaya bisa meraih sebanyak-banyaknya yang disediakan dunia ini bagi manusia.
    Seandainya kita dapat menikmati kebahagiaan hidup paling sempurna dalam dunia ini, tetapi hanya selama 70 tahun dan tidak memiliki kepastian bagaimana nasib di kekekalan, bahkan kemungkinan dibuang ke dalam kegelapan abadi, mungkinkah kita dapat menikmati kebahagiaan itu? Pasti tidak bisa. Menyikapi fakta ini, kita harus memiliki kepastian bahwa kalau kita meninggal dunia dan berdiri di hadapan takhta Tuhan, apakah kita didapati berkenan di hadapan Tuhan dan diperkenan masuk ke dalam Kerajaan-Nya? Kepastian ini haruslah kepastian yang benar, bukan fantasi. Kepastian keselamatan bukan dibangun dari keyakinan di dalam pikiran, tetapi dibangun dari kenyataan pengalaman hidup berjalan dengan Tuhan. Untuk itu, harus diperhatikan: Kita tidak boleh merasakan apa yang kita yakini, tetapi merasakan apa yang kita alami. Paulus menunjukkan keseriusannya mempersiapkan hari esoknya dengan berkata, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1Kor. 9:26-27). Apa yang kita kejar hari ini, itulah yang kita akan peroleh.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…