Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Hidup Memuat Pilihan
    Efesus 4:27 mengatakan, “dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” Ayat ini hendak mengingatkan kita dengan berbagai jenis perilaku yang biasa terjadi dalam kehidupan manusia, khususnya dalam kehidupan orang percaya. Misalnya, pada waktu kita berkendara di jalan ada orang yang memotong jalan kita, lalu kita bereaksi dengan memaki dan memotong jalannya juga; hal itu berarti kita memberi kesempatan kepada Iblis yang kemudian mendukakan Roh Allah. Ketika kita dihina orang, direndahkan orang—apakah itu kolega bisnis, teman, atasan, bawahan—lalu kita tergoda untuk membalas dendam, kita bereaksi keras, di sini kita memberi kesempatan kepada Iblis. Tapi kalau kita berdiam diri, kita menyenangkan hati Allah. Inilah kondisi dimana kita harus memilih. Hal seperti ini bisa terjadi atas semua kita.
    Ironis, banyak orang yang telah tercengkeram oleh kuku-kuku kuat kuasa gelap, sehingga tindakan-tindakan yang bertentangan dengan spirit/gairah Allah itu dilakukannya setiap hari. Bukannya mengalami perubahan, mengenakan hidup baru, semakin diperbaharui dalam Tuhan, malah semakin rusak. Tetapi Iblis tentu cakap untuk bisa membalut kejahatan tersebut dengan tindakan-tindakan yang kelihatannya mulia. Sehingga ia tidak menyadari dirinya sedang ada dalam kekuasaan kuasa gelap. Apalagi kalau orang tersebut sudah rajin ke gereja, ikut mengambil bagian dalam pelayanan, menjadi aktivis gereja, bahkan menjadi pendeta. Ia tetap berpotensi untuk dikuasai oleh Iblis sehingga tertipu oleh diri sendiri. Seorang hamba Tuhan yang berkhotbah di mimbar sambil membuka Alkitab, tidak berarti kebal terhadap Iblis. Pada waktu ia berkhotbah lalu muncul sesuatu dalam pikirannya untuk menunjukkan dirinya hebat, membanggakan diri—baik terselubung maupun terang-terangan—di situlah Iblis masuk. 
    Hidup ini adalah satu pembelajaran terus-menerus. Banyak di antara mereka yang telah yakin dan merasa sebagai hamba Tuhan yang benar, padahal belum tentu diakui sebagai hamba Tuhan oleh Tuhan. Ini menjadi persoalan kita. Maka, pertanyaannya adalah apakah Allah mengakui kita sebagai hamba-Nya? Kita mengaku sebagai anak-anak Allah; masalahnya, apakah Allah mengakui kita sebagai anak-anak-Nya? Pengakuan sebagai hamba Tuhan harus berangkat dari Allah, bukan dari manusia, juga bukan dari sinode. Seseorang bisa disahkan sebagai pendeta atau pejabat sinode, dan dengan lantang mengakui diri sebagai hamba Allah. Tetapi, apakah Allah memberi pengakuan tersebut? Untuk ini, kita harus sungguh-sungguh memperkarakannya. Supaya kelak ketika kita meninggal dunia, Tuhan menerima kita sebagai anak-anak dan hamba-hamba-Nya. Terus terang, ini bukan merupakan suatu hal yang sepele. Maka kita harus selalu memeriksa diri, apakah kita ini hamba Tuhan yang benar atau tidak? Sejatinya, semua orang percaya adalah hamba Tuhan.
    Setiap peristiwa yang kita alami dalam setiap hari pasti memuat pilihan. Harus diselidiki dengan serius bagaimana reaksi kita terhadap suatu peristiwa yang terjadi dalam hidup? Pada waktu orang minta tolong kita, bagaimana reaksi kita? Waktu kita dipuji, disanjung, dihormati orang, bagaimana reaksi kita? Waktu kita disakiti, dihina, direndahkan, difitnah, bagaimana reaksi kita? Semua itu adalah proses pembelajaran. Proses pembelajaran itu harus dilakukan tanpa henti. Jangan puas kalau kita sudah menjadi seorang yang terhormat, diakui rohani, hamba Tuhan, pendeta. Jangan puas sampai di situ. Kita harus memiliki hati yang tulus seperti kristal. Kristal tidak dapat dilunturkan atau dirusak dengan lumpur. 
    Dengan mengingini sesuatu, maka hati kita terarah kepada apa yang kita ingini tersebut, dan dia menjadi majikan. Banyak orang Kristen tanpa sadar menjual diri kepada kuasa gelap ketika memikirkan apa yang Allah tidak pikirkan. Jadi, kita harus belajar memikirkan apa yang Allah pikirkan. Kalau hidup kita hanya melihat dunia fana ini, kita akan melihat ini sebagai suatu hal yang sulit bahkan mustahil. Tapi kalau kita melihat kekekalan,
    0 min
  • Kebiasaan
    Kalau selama ini kita mendengar hal orang kerasukan setan, pengertian kita mengenai itu adalah orang yang manifestasi dari kerasukan dalam bentuk berteriak, menjerit, mata mendelik, mengamuk, hilang kesadaran sama sekali; layaknya orang gila. Tetapi Alkitab menunjukkan sesuatu yang berbeda, sebagaimana tertulis dalam injil Matius 16:21-28. Dalam perikop tersebut dijabarkan bagaimana orang yang kerasukan setan tidak harus bermanifestasi ekstrem seperti persepsi orang selama ini. Ketika Tuhan Yesus menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga, Petrus menarik Yesus ke samping—artinya menjauhi orang-orang yang kepada mereka Tuhan Yesus berbicara—dan menegur Yesus, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Dari pernyataan ini timbul dua kesan.
    Pertama, seakan-akan Tuhan Yesus menyampaikan sesuatu yang salah; yang bukan berasal dari Allah. Kedua, Petrus menyatakan diri lebih benar, lebih pintar, lebih cakap sehingga ia menegur Tuhan Yesus. Petrus yakin sekali apa yang dia lakukan itu benar. Petrus menggunakan nama Allah, seakan-akan ia mewakili Allah untuk menegur Tuhan Yesus. Petrus yakin sekali apa yang dilakukan itu benar atas nama Tuhan.  Tetapi, apa reaksi Yesus? Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus, “Enyahlah, Iblis! Engkau suatu batu sandungan bagiku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Ternyata Petrus bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, tetapi memikirkan apa yang dipikirkan manusia. Apa yang dipikirkan Petrus itu adalah pikiran manusia, bukan pikiran Allah. Pikiran tersebut menjadi batu sandungan atau menghambat, atau bisa menggagalkan rencana Allah. Padahal, Petrus merasa bahwa dirinya benar-benar sepaham dengan Allah. Bahwa apa yang dikatakan itu sesuai dengan kehendak dan rencana Allah.
    Jadi, Iblis ada di dalam pikiran, di dalam ide, di dalam hasrat, di dalam keinginan Petrus. Karena seperti murid-murid lain, Petrus menginginkan agar Yesus menjadi Raja seperti Herodes; raja versi manusia, juruselamat versi manusia. Juruselamat politis yang membebaskan bangsa Israel dari kekuasan Roma. Padahal, Tuhan Yesus datang ke dunia bukan untuk itu. Memang Dia Raja, tetapi raja versi Allah. Dia adalah Juruselamat, tetapi juruselamat versi Allah. Membebaskan manusia dari belenggu dosa. Dia memang Juruselamat dunia, tetapi bukan “juruselamat duniawi.” Sama seperti ketika suatu hari ada seorang berkata kepada Tuhan Yesus, “Tuhan, suruh saudaraku supaya dia berbagi warisan dengan aku,” (Luk. 12:13) Yesus berkata, “Siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?” Apakah Yesus bukan hakim? Mengapa Dia menolak? Jelas, Dia adalah Hakim. Semua kita akan berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Tetapi bukan “hakim” versi manusia, melainkan Hakim versi Allah.
    Bicara soal versi ini memang tidak sederhana. Banyak orang memiliki konsep, asumsi yang salah tentang Allah. Jika konsep dan asumsi tentang Allah salah, maka konsep dan asumsinya tentang hal-hal yang dia lakukan, berpotensi salah pula. Dia merasa tindakannya benar, padahal tidak benar. Bahkan ia merasa bahwa ini kehendak Allah, padahal belum tentu demikian. Dalam hal ini kita harus sangat hati-hati di sini. Sebab, kalau kita melakukan hal-hal di luar kehendak Allah dan membiasakan diri melakukan hal-hal di luar kehendak Allah, berarti kita telah hidup dalam keadaan tidak memiliki atau kehilangan kemuliaan Allah. Jadi, kemuliaan Allah itu dimiliki oleh seseorang ketika, ia melakukan segala sesuatu sesuai dengan kehendak Allah, dalam gairah Allah. Kalau kita membiasakan hal itu, ketika kita melakukan sesuatu di luar gairah atau spirit Allah, kita akan merasa sakit, merasa sangat terganggu; jiwa kita terganggu.
    Sebaliknya,
    0 min
  • Manusia Hari Esok
    Hidup hari ini di dunia yang semakin rusak sangat susah, namun jangan nanti kita mati masuk neraka atau dibuang oleh Tuhan. Kita harus memberi diri dipersiapkan oleh Allah, diubah untuk menjadi seseorang yang pasti akan mendapat bagian dalam dunia yang akan datang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Kalau kita bangun pagi dan berdoa, biasanya gairah kita untuk menjadi lebih baik dari kemarin kuat sekali. Tapi gairah itu sering tidak berkobar secara konstan dan permanen. Siangnya, oleh karena satu dan lain hal, bisa kendor juga. Lalu Iblis dengan kelicikannya membuat kita bisa meleset. Makanya pada malam hari kita menyesali ketidaktepatan yang kita lakukan hari itu. Kita memang tidak berzina, tidak mencuri, tidak membunuh, tetapi ada kemelesetan-kemelesetan yang itu menunjukkan tidak mulianya kita. Dan itu karena kelicikan kita; kita meliciki diri sendiri, meliciki orang lain, kita mau menjatuhkan orang dengan kata-kata. 
    Untuk ini, seseorang harus memilih, apakah mau menjadi manusia hari ini atau menjadi manusia hari esok; manusia masa depan yang harus berkeadaan mulia. Dalam arti setiap keputusan yang kita buat adalah tepat; bukan sesuatu yang tersembunyi atau bukan sesuatu yang bersifat abu-abu, apalagi gelap. Ini bukan satu hal yang sederhana. Jangan dibodohi oleh pemikiran, “jangan-jangan nanti kita bisa berkenan walaupun sekarang kita berantakan,” karena tidak mungkin. Demikian pula dengan kesucian hidup, kesempurnaan. Kita harus meraih kemuliaan itu sejak sekarang, dan hal itu kita tahu. Kekudusan Allah adalah kesempurnaan kebenaran dalam seluruh hakikat-Nya yang tidak terbatas. Di dalam kekudusan Allah, Ia tidak menolerir pelanggaran sekecil apa pun. Allah berkata “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Standar kekudusan kita adalah standar Allah. 
    Ada kesenjangan antara apa yang kita lakukan dengan apa yang kita ucapkan. Ini bisa terjadi atas semua kita. Dari 100 kata yang kita ucapkan, dulu melesetnya 90 atau 80 kata. Seiring dengan perjalanan umur, dari 100 kata maka yang meleset tinggal 35 kata saja. Namun lama-lama tidak meleset satu kata pun; tepat. Dan itu kita tahu, bukan tidak tahu. Kita harus sadar bahwa masih meleset, munafik. Tapi lambat laun kita tidak meleset atau munafik lagi. Selanjutnya kita akan berkeinginan yang kuat untuk cepat-cepat berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, di mana kehidupan kita masing-masing akan dibuka. Jadi sebelum dibuka di sana, kita harus memeriksa diri kita sendiri dulu hari ini. Jadi, ketika kita mendengar kata “suci” atau “kudus seperti Bapa,” “hidup tak bercacat, tak bercela,” kita tidak lagi memandang sebagai hal yang terlalu berat atau kita jadi resisten. Sebaliknya, kita makin menerima, karena ini adalah sebuah keniscayaan. Bukan hal yang tidak mungkin kita kenakan. 
    Akhirnya, kita merindukan menjadi seseorang yang berharga di mata Allah. Tanah liat itu berharga di tangan penjunan. Tapi kalau tanah liat sudah tidak bisa dibentuk, akhirnya dibuang. Kita mau jadi tanah liat yang dibentuk, lalu jadi bejana. Bejana yang indah, yang kemudian nanti akan ditaruh di Rumah Bapa menjadi hiasan. Coba renungkan, siapa sih kita yang karena kemurahan dan kasih-Nya menjadikan kita anak-anak Allah Yang Mahaagung, Mahamulia, Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi. Luar biasa, bukan? Ini adalah kesempatan yang berharga. Maka selagi kita hidup, kita harus meraih kemuliaan itu. Dan kita harus tahu bahwa kita sudah meraihnya atau belum. Kita masih bercacat atau sudah tidak bercacat. Kita harus sadar itu. Maka, pergumulan seberat apa pun, jangan sampai mengganggu pergumulan kita untuk meraih kemuliaan. 
    Di tengah-tengah masyarakat, sering kali kita menghadapi bullying dari orang-orang yang tidak ramah terhadap Injil, yang mencela Tuhan Yesus, lalu juga mencela kita. Sebagai anak-anak Allah yang sedang belajar sempurna, jangan tanggapi dengan negatif. Tidak apa-apa, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.
    0 min
  • Powerless
    Kita harus selalu menyadari dan mempertimbangkan adanya potensi dosa yang belum selesai di dalam diri kita. Belum selesai, karena belum ada impuls atau rangsang. Tuhan mau menyelesaikan keburukan kita, keruhnya bejana hati kita dengan membuat banyak hal. Karena Tuhan mau kita mulia. Jadi jangan kita berpikir waktu di dunia tidak mulia, nanti mati lalu ada proses dibersihkan, lalu masuk. Kalau seseorang tidak mulia sejak hidup di bumi, dia tidak bisa berkeadaan mulia di hadapan Allah. Sebab keadaan seseorang di hadapan Allah, itu hasil akhir dari apa yang diperjuangkan sejak di bumi. Jadi kalau kita tidak berkeadaan mulia sejak di bumi, kita tidak akan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Di sini keselamatan bukan hanya keyakinan, tetapi realitas yang dihadapi. 
    Kita tidak perlu pamer bahwa kita sudah mulia, nyatanya kita memang belum sempurna. Dasar karakter kita buruk, tapi kita mau berubah terus; dan ini harus menjadi agenda kita satu-satunya dalam hidup. Seseorang bisa tidak menikah, bisa tidak memiliki kekayaan, tapi jangan sampai ia tidak memiliki kemuliaan. Kita harus memeriksa diri, apakah kita sudah berkeadaan mulia. Kita itu sering tanpa sadar berusaha untuk menampilkan bahwa kita ini seseorang; dan itu sangat merusak. Lebih baik kita diam. Sebaliknya, biarlah kita memeriksa diri, apakah masih ada potensi dosa di dalam diri kita. Sebab orang-orang yang nanti masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah adalah mereka yang tidak berpotensi sama sekali berbuat sesuatu yang bertentangan dengan pikiran dan perasaan Bapa. Tidak berpotensi sama sekali; powerless. 
    Kadang-kadang kita memang diam, tapi ada ganjalan di hati. Hal ini tetap tidak boleh. Maka, kita mau belajar terus, mau terus diubah. Jika kita berjuang sungguh-sungguh di sini, kita bisa merasakan kerinduan pulang ke surga. Kita merasa lelah, bukan karena masalah hidup, melainkan lelah dalam menanggulangi daging dan manusia lama kita. Perasaan tersebut muncul bersamaan dengan proses yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup kita. Kita mendapat begitu banyak tekanan, tapi kita terus berjuang untuk tidak bersalah. Kadang-kadang ketika masalah itu datang, kita masih limbung, reaksi kita masih salah. Tapi seiring waktu, kita mulai tenang. Tuhan menolong kita untuk merubah natur atau kodrat dalam diri kita. 
    Kalau kita jujur melihat diri kita sekarang ini, apakah kita sudah layak untuk menginjak surga? Sejujurnya, kita harus akui kalau kita belum mulia. Tapi jangan hanya sampai pada pengakuan “aku belum mulia.” Tanggulangi apa yang membuat kita tidak mulia di mata Allah. Apakah itu candaan yang tidak patut, pikiran yang tidak bersih, ucapan yang tidak tulus, dan lainnya. Di situ kita benar-benar harus belajar. Maka Tuhan akan menolong dan membentuk kita. Bapa akan mewarnai kita. Inilah cara kita meraih kemuliaan. Natur kita diubah melalui pergumulan hidup. Dengan proses ini, maka di surga nanti tidak akan pernah terjadi pemberontakan seperti yang pernah terjadi pada zaman Iblis waktu masih di surga. Karena orang yang masuk surga sudah melalui seleksi; yaitu selama umur hidupnya di bumi ini. Jadi, sudah tidak berpotensi untuk berbuat dosa karena sudah diubah naturnya melalui proses panjang kehidupan. 
    Mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita sudah lebih mulia dari kemarin, dan kita berharap besok kita lebih mulia dari hari ini. Makanya di 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan, “kalau kamu memanggil Allah itu Bapa, hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia,” memang, selama kamu menumpang di dunia, kamu hidup dalam ketakutan. Tapi bukan takut karena kita mau dihukum, melainkan karena kita tidak ingin melukai hati Bapa. Seperti seorang anak yang tidak naik kelas, yang membuat dukacita orangtua bukan hanya tidak naik kelasnya, tapi potensi rendah yang dimiliki anak itu. Mau jadi apa nanti? Jadi, kalau kita berbuat salah bukan hanya kesalahan itu yang mendukakan Allah,
    0 min
  • Menanggulangi Potensi Dosa
    Di dalam Kitab Roma 3:23, firman Tuhan mengatakan “karena semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, oleh karena telah berbuat dosa.” Dosa membuat manusia kehilangan kemuliaan Allah. Di sini kita akan melihat, yang pertama, “dosa” di dalam perspektif Kristen adalah ketidaktepatan atau kemelesetan. Kemelesetan, dari kata dalam bahasa Yunani, hamartia. Bukan hanya melanggar hukum, tetapi tidak melakukan tepat seperti yang Allah kehendaki. Konsep dosa di dalam Perjanjian Lama adalah pelanggaran terhadap hukum. Orang yang tidak melanggar hukum, belum tentu meleset. Memang secara hukum yang tertulis, ia tidak melanggar. Tetapi kalau ditinjau dari ketepatan bertindak, ia masih meleset. Dosa ini membuat manusia kehilangan kemuliaan. Jadi, “kemuliaan” yang dimaksud di sini adalah keadaan dimana manusia tidak meleset; keadaan dimana manusia memiliki batin yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Seiring dengan menanggulangi kemelesetan ini, seiring dengan keberhasilan menyelesaikan kemelesetan ini, maka kemuliaan juga diperoleh. Semakin tidak meleset, semakin seseorang mulia.
    Jadi kita tidak boleh memandang bahwa kemuliaan itu hanya nanti, setelah kita meninggal dunia. Kalau di dalam Roma 8:17 firman Tuhan mengatakan bahwa kita akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus, artinya kita akan menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus, itu adalah “kita akan memperoleh jabatan, keagungan, bersama-sama dengan Tuhan Yesus.”  Yesus akan dimuliakan. Setiap lutut bertelut dan lidah mengaku bahwa Yesus adalah penguasa; kurios, Tuhan bagi kemuliaan Allah. Oleh karenanya sejak di bumi kita juga sudah harus mulia, kemelesetan sudah harus ditanggulangi di sini. Semakin dosa ditanggulangi, semakin kita memiliki kemuliaan. Maka, kalau orang tidak mulia sejak hidup, ia tidak akan dimuliakan di kekekalan. Jadi, kemuliaan seseorang atau keagungan seseorang itu bukan pada kekayaan, kedudukan, gelar, penampilan, atau apa pun, tetapi kemuliaan seseorang terdapat pada ketepatan dia bertindak, ketepatan dia berperilaku. Makanya kita belajar untuk berhati-hati terhadap apa yang kita pikirkan, berhati-hati terhadap apa yang kita ucapkan, berhati-hati atas setiap keputusan, atas setiap pilihan, rencana, keinginan, ambisi, dan lain sebagainya. Karena di situlah letak kehormatan kita, letak keagungan kita, letak kemuliaan kita. 
    Pada umumnya manusia telah sesat. Membangun kemuliaan di atas kekayaan, kehormatan, kedudukan dan kekuasaan, penampilan, dan lain sebagainya. Bahkan ketika kita ada di lingkungan pelayanan, kita masih mengharapkan ada kehormatan di dalam pelayanan tersebut, dan itu tidak kita sadari. Ada ambisi-ambisi yang kita sendiri tidak sadari, yang mengarahkan kita di dalam bertindak, dalam mengambil keputusan. Kita telah bersalah di situ. Setelah kita sadar, kita mau bertobat dan berubah meskipun tidak mudah. Karena kita sudah terlalu lama hidup dengan irama yang salah tersebut. Perlu diingat bahwa seseorang itu tidak bisa baik mendadak; sebaliknya juga, tidak bisa menjadi jahat mendadak. Hanya dunia kita akan lebih mudah membuat orang menjadi jahat. Jadi, mungkin kita merasa sudah mulia karena kehormatan yang kita sandang—gelar, kedudukan, kekayaan dan lain sebagainya—tetapi sebenarnya jika ditinjau dari mata Allah, kita tidak mulia. 
    Mudah kita mengatakan di gereja atau pada waktu kita kebaktian, “Bapa, aku mau indah di mata-Mu dan mulia dalam pandangan-Mu.” Itu hanya ucapan saja, tetapi kita tidak sungguh-sungguh mau bergumul untuk mencapai atau meraih kemuliaan itu. Sejatinya, tanpa sadar kita mempermainkan Tuhan. Sebab pada waktu kita menjalani hari-hari hidup, kita tidak sungguh-sungguh mau menyelesaikan keadaan diri kita yang tidak mulia itu. Sembarangan dengan apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan. Makanya kalau kita berbuat salah, sesungguhnya yang menjadi persoalan bukan kesalahan atau dosa itu sendiri, tetapi adanya potensi dosa yang masih ada dalam diri kita yang bisa membuahkan ata...
    0 min
  • Berkualitas Tinggi
    Wahyu 2:23, “Dan anak-anaknya akan Kumatikan dan semua jemaat akan mengetahui bahwa Akulah yang menguji batin dan hati orang. Dan bahwa Aku akan membalas kepada kamu setiap orang menurut perbuatannya.” 
    Suatu saat nanti kita akan ditelanjangi di hadapan Allah. Jadi seharusnya sebelum kita telanjang di hadapan Allah, kita menelanjangi diri sendiri dulu sekarang dengan meminta pimpinan Roh Kudus. Roh Kudus seperti senter yang menerangi nurani kita. Sampaikan kepada Tuhan untuk menyelidiki hati kita dengan kerinduan untuk benar-benar menyenangkan Allah. Perlu diperhatikan bahwa “sempurna” dan “tidak bercela” itu berbeda. Dulu kita berpikir bahwa sempurna itu berarti tidak bercela. Ternyata tidak sama. Tidak bercela artinya tidak dijumpai kesalahannya, tapi belum tentu sempurna. Misalnya, anak sekolah yang mendapat soal 100, dan dia bisa menyelesaikannya, itu tidak bercela. Tapi belum tentu sempurna. Mengapa? Karena masih ada soal lain yang bisa diberikan. Ketika anak tersebut mendapat nilai 100 pada kelas 3 SMP, maka ia belum tentu memperoleh nilai yang sama pada kelas 1 SMA berhubung soal yang diberikan berbeda pada kedua jenjang tersebut. Kapan sempurnanya? Bagi manusia, ia dikatakan sempurna ketika ia menutup mata. Ketika seseorang diludahi dia tidak membalas, dia tidak bercela. Tapi belum sempurna. Di sinilah Tuhan menguji batin. Siapa yang tahu batin kita? Allah lebih tahu dari kita. Maka ada proses terus. Ini bisa terjadi atas orang-orang yang teosentris atau berpusat pada Allah. 
    Makanya kalau Tuhan berkata, “jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin, datang kemari ikutlah Aku,” berarti semua keinginannya dilucuti. “Ikut Aku,” kata Tuhan Yesus, “Aku itu hidup hanya untuk melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Tuhan akan membawa kita kepada pertumbuhan, progresivitas, Saudara. Progresivitas agar kita sempurna seperti Bapa, artinya segala sesuatu yang kita lakukan selalu sesuai dengan kehendak Allah. Sampai kita mati, kita didapati bersih; sesuai dengan kadar “yang diberi banyak, dituntut banyak.” Kalau Tuhan memberikan kita soal 1000, misalnya, umur 50 tahun sudah 600 kita jawab. Umur 60 tahun sudah 600 dan masih tersisa 400. Kalau usia yang tersisa adalah 20 tahun, apakah masih dapat diselesaikan? Ingat, Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. 
    Menguji batin itu bukan sekadar batinnya ada kebencian atau dendam; itu tahap-tahap bagi yang masih belum matang. Dendam sudah tidak ada, karena memang tidak dijahati orang dan tidak bisa dendam. Mau dendam kepada siapa? Tidak pernah disakiti dan tidak pernah dilukai. Tidak ada dendam, tidak bercela, bukan? Tapi belum sempurna. Kebersihan hati dari dendam hanya bisa terjadi ketika seseorang memiliki kesempatan untuk mendendam atau menjahati orang. Di sini proses berlangsung.. Kalau di dunia, mata ganti mata, gigi ganti gigi, kita beda. Tetapi bagi anak Allah, sentralnya adalah perasaan Allah. Maka, yang penting yang harus kita jaga adalah agar hati Tuhan tidak terganggu; hati Tuhan nyaman, hati Tuhan tidak terlukai, cukup itu. Sejujurnya, kita kadang-kadang menjaga perasaan orang, tapi tidak menjaga perasaan Tuhan. Kita menjaga dan memanjakan perasaan sendiri, tapi tidak memanjakan perasaan Allah. 
    Tanpa sadar sering orang berpikir bahwa yang dibenci Tuhan itu dosa-dosa dalam arti perbuatan, sehingga setiap kali berbuat dosa, maka seseorang datang kepada Tuhan untuk menyelesaikan dosanya dengan mohon pengampunan. Lalu kalau sudah mengaku dosa, Tuhan mengampuni segala dosa, ia merasa “Tuhan juga sudah lega, sudah mengampuni dosaku yang sudah kuakui.” Tidak sekadar demikian. Tuhan mau batin kita berkualitas tinggi yang bisa membuahkan keinginan-keinginan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Jadi kalau kita mempunyai kesalahan, kita minta ampun, itu bukan berarti sudah selesai masalahnya. Karena kualitas batiniah kita ini belum selesai; akan dan harus ditingkatkan terus.
    0 min
  • Kita Bisa
    Ketika kita menghadap Allah, kita meminta ampun atas suatu dosa atau kesalahan, seharusnya fokus kita bukan lagi pada kesalahan itu yang kita pandang sebagai kesalahan, tetapi kita ia melihat perasaan Allah. Seperti seorang anak yang melakukan kesalahan, ketika dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan orangtuanya, yang menjadi pertimbangan adalah perasaan orangtuanya. Dia telah melukai orangtua. Jadi, ketika kita mempersoalkan dan menangani masalah dosa, hal itu bukan hanya masalah yang ada di pihak kita—”aku masih punya kesalahan”—melainkan juga yang kita harus kita pikirkan adalah perasaan-Nya yang terlukai. Sampai ketika kita akan melakukan suatu kesalahan, kita gentar dan gemetar. Ini adalah tingkat yang paling tinggi. Dengan demikian, biasanya kita akan terhindar dari kesalahan itu. Ada suara dalam hati, “Jangan-jangan keadaanku belum benar di mata Allah.” Ini bukan berarti lalu kita kehilangan damai. Kita tetap ada di dalam damai, namun waspada terhadap kesalahan yang dapat terjadi.
    Kita telah dilatih begitu rupa oleh dunia sekitar kita ini menjadi orang-orang yang cerdik. Cerdik dan licik. Cerdik untuk memperoleh pujian, sanjungan, keuntungan, untuk menikam, menyakiti orang lain, mencari keuntungan, dan lain sebagainya. Maka kalau kita mau memiliki kesucian hidup, hal itu harus merupakan perjuangan kita hari ini. Jangan berpikir mistik mengenai perjuangan hidup. Dari setiap pesan yang kita tulis di gadget, Instagram, Facebook, YouTube, semua itu harus kita lakukan dalam pertimbangan: apakah ini berkenan atau sesuai dengan kehendak Allah? Memang ini memiliki berbagai tahapan dan bersifat batiniah. Hari demi hari, kita tidak melakukan kesalahan lagi, tetapi kita tetap gemetar dan gentar di hadapan Allah. Kenapa? Karena kita mau tahu apakah perasaan Allah dipuaskan oleh hidup kita setiap hari, yang mungkin kita merasa tidak punya kesalahan apa pun, tapi mungkin belum tepat benar. Biasanya kemudian Tuhan juga mengizinkan kita diuji dengan keadaan-keadaan tertentu, dan yang penting adalah bagaimana reaksi kita terhadap keadaan-keadaan tersebut. 
    Hal ini mengarahkan kita kepada kehidupan yang disebut teosentris. Kalau dulu kita minta pengampunan, kita puas dan yakin bahwa Tuhan sudah mengampuni, hati kita sudah dibersihkan dari dosa. Hal itu benar adanya. Tapi setelah kita beranjak dewasa, pernahkah kita mempersoalkan bagaimana perasaan Allah terhadap keadaan kita hari ini? Kalau kita bisa diangkat sebagai anak Allah Bapa, itu luar biasa. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi berkenan menjadikan kita anak. Sebagai anak, perbuatan kita pasti membangkitkan reaksi Bapa. Itulah sebabnya dalam 1 Petrus 1:17 firman Tuhan mengatakan, “kalau kita memanggil Allah sebagai Bapa, hendaknya kita hidup dalam ketakutan selama menumpang di dunia.” Di sini kita melihat bedanya agama dengan kekristenan. Mudah seseorang menyadari suatu kesalahan, kalau kesalahan itu terukur oleh hukum. Seperti bangsa Israel memiliki hukum Taurat dan terukur. Misal, membunuh adalah menghabisi nyawa orang; berzina ditandai dengan melakukan hubungan seks di luar nikah dengan yang bukan pasangannya. Tapi sangat sulit disadari kalau dosa tersebut menyangkut sikap hati; sikap batin dan cara berpikir. Kalau seseorang belum dewasa, mereka masih “akusentris,” tapi kalau orang sudah mendekati dewasa—apalagi sudah mendekati hari kematian—ia sudah harus teosentris 100%.  
    Pertanyaannya, apakah hal itu bisa kita lakukan? Tuhan Yesus melakukannya. Orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, harus juga melakukannya sebagaimana Tuhan Yesus telah lakukan. Semua kita belum ada yang sempurna, tetapi kita sedang berjuang ke arah itu. Jadi kalau Tuhan berkenan memberi kita umur panjang, kita ingin bisa melakukan seperti yang Yesus lakukan. Tetapi karena irama hidup kita sudah salah selama puluhan tahun, maka hari ini masih saja ada melesetnya. Tapi hari demi hari, lambat laun kita bisa menemukan kehidupan selalu ada di hadirat Allah...
    0 min
  • Kemuliaan Kekal
    Keagungan atau kemuliaan yang dimiliki seseorang yang memiliki nilai kekal dan berharga di mata Allah adalah keberadaan diri yang berjalan seiring dengan Tuhan dalam segala hal. Keberadaan diri ini ditandai dengan kehendak seseorang yang berjalan seiring dengan kehendak Allah. Di sini tidak dituntut atau tidak dibutuhkan pendidikan tinggi atau memiliki karunia khusus. Tidak ada syarat-syarat duniawi yang dibutuhkan. Tetapi yang dibutuhkan adalah syarat-syarat rohani, artinya berangkat dari standar yang Allah kehendaki. Kalau kita bersedia memiliki keberanian untuk membayar berapa pun harganya; keberanian dari kesediaan yang tulus membayar berapa pun harganya untuk bisa hidup berkenan di hadapan Tuhan, untuk bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Allah, maka Tuhan akan menuntun kita bagaimana mencapai hal tersebut. Jadi jangan berpikir bahwa menjadi berkenan kepada Tuhan itu sesuatu yang tidak bisa dicapai. Bisa, tetapi memang sulit; berarti dibutuhkan pergumulan atau perjuangan. 
    Tuhan Yesus sendiri mengatakan bahwa untuk masuk Kerajaan Surga itu sulit; banyak orang berusaha, tetapi tidak bisa masuk. Maka Tuhan berkata, “Berjuanglah.” Jadi, hal mencari Allah untuk hidup berkenan itu lebih sulit daripada mencari uang. Namun, kalau orang sungguh-sungguh mencari Tuhan, maka ia akan menemukan, walaupun itu bukan sesuatu yang mudah. Sama dengan orang mencari uang. Memang ada orang yang mudah mendapatkan uang karena keluarga memang sudah kaya, memberikan warisan, atau memiliki peluang-peluang istimewa. Tapi pada umumnya, mencari uang bagi sebagian besar orang adalah hal yang sulit. Dari 1000 orang, mungkin hanya 10 orang yang bisa berkata “mencari uang itu gampang,” tetapi selebihnya akan mengatakan “sulit.” Faktanya memang demikian. Bahkan, orang-orang kaya yang sudah menjalani hidup sulit dalam perjalanannya, bisa mengatakan mencari uang itu sulit. 
    Hidup dalam kesucian itu lebih sulit dari mencari uang. Tetapi sebelumnya kita harus mengerti apa itu kesucian. Kesucian itu memiliki dua aspek besar yang masing-masing bisa dijelaskan. Pertama, kesucian itu bicara mengenai integritas; dimana seseorang tidak terpengaruhi oleh dunia ini. Maka firman Tuhan dalam kitab Roma 12:2 memperingati kita, “jangan kamu serupa dengan dunia ini.” Kata “kudus” atau qadosh dalam bahasa Ibrani artinya “dipisahkan dari yang lain;” separate from common condition. Dipisahkan dari keadaan umum untuk dipakai. Jadi, harus berbeda. Maka kalau di Perjanjian Lama, ketika Allah mau menguduskan seseorang atau benda-benda di bait Allah, Allah berkata, “pisahkan dari yang lain.” Sedangkan kata “kudus” dalam Bahasa Yunani adalah hagios; memiliki arti “berbeda dari yang lain; tidak sama.” 
    Yang kedua, bicara mengenai kepekaan. Selanjutnya, tentu seseorang harus memiliki kerelaan bertindak. Kepekaan di sini bicara mengenai kemampuan untuk mengerti apa yang Allah kehendaki agar kita lakukan. Sejatinya, itu tidak mudah. Ini merupakan sebuah perjuangan. Jadi kalau orang mengatakan kesucian itu sulit, bisa berarti orang tersebut memang tidak kudus. Tetapi juga bisa berarti orang itu telah melewati tingkat-tingkat kekudusan dan mengerti bahwa perjuangan itu sulit. Semua kita juga belum sempurna. Tetapi orang yang berjuang untuk memiliki kekudusan itu mengerti betapa tidak mudahnya kesucian itu. 
    Kehormatan kita adalah jika kita bisa membuahkan kehendak yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Yang pada tingkat kedewasaan penuh, kita tidak merasa perlu punya keinginan apa pun, kecuali keinginan Tuhan yang diimpartasikan dalam diri kita. Seperti yang dikatakan dalam Alkitab, “Aku datang untuk melakukan kehendak-Mu, bukan kehendak-Ku.” Tentu ini tingkat penyangkalan diri yang sukses. Seperti puncak pergumulan Tuhan Yesus di taman Getsemani, “bukan kehendak-Ku yang jadi, Bapa, kehendak-Mu.” 
    Sekarang coba bayangkan, suatu saat kita ada di hadapan Allah, Elohim Yahweh, di dalam hadirat-Nya yang dahsyat.
    0 min
  • Perbuatan Baik
    Di dalam Injil Matius 22, ketika Tuhan Yesus mengemukakan hukum yang terutama atau hukum kasih agar kita mengasihi Tuhan, Allah kita, dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi, dan mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, lalu Tuhan mengucapkan kalimat: “Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Orang yang tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, tidak akan dapat mengalami dan memiliki keselamatan. Memang, bukan karena perbuatan baik kita selamat. Sebab, perbuatan baik menurut standar Allah tidak akan dapat dilakukan oleh manusia. Dan Allah juga tidak akan menuntut apa yang tidak dapat dilakukan manusia dengan kekuatannya sendiri. 
    Perbuatan baik menurut standar Allah adalah kesempurnaan seperti Bapa. Yesus pernah mengucapkan kalimat di dalam Lukas 18:18, “Tidak ada yang baik selain Allah.” Kata “baik” yang dimaksud oleh Yesus adalah kebaikan menurut standar Allah. Kemudian, Tuhan Yesus menambahkan pernyataan-Nya di Injil Matius 19:21-23, agar dia melepaskan diri dari segala ikatan atau belenggu, sehingga proses untuk menjadi baik menurut Allah dapat berlangsung. Dengan kalimat lain, ia harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan. Bagaimana proses manusia (dalam hal ini umat pilihan) untuk bisa mencapai kebaikan menurut standar Allah itu? Perbuatan baik menurut standar Allah hanya dapat terjadi atau terwujud di dalam kehidupan manusia, jika ia telah ditebus oleh darah Yesus, kemudian dibenarkan di hadapan Allah atau dianggap benar walaupun belum benar. Kemudian, Tuhan memberikan meterai Roh Kudus, dan Roh Kudus menuntun orang itu kepada segala kebenaran. Artinya, Roh Kudus yang akan menolong seseorang mengerti Injil, sebab Injil itu yang menyelamatkan (Rm. 1:16-17). Selanjutnya, Allah bekerja dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan; kebaikan guna serupa dengan Yesus.
    Hal itu bisa terjadi hanya kepada orang-orang yang mengasihi Allah (Rm. 8:28). Hanya dengan mengasihi Allah secara benar, seseorang dapat merespons keselamatan yang dikerjakan Roh Kudus dalam hidupnya. Roh Kudus tidak bisa menggarap orang yang setengah-setengah. Umat pilihan, pada mulanya hanya dituntut untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, akal budi, dan kekuatan. Walaupun berkeadaan belum sesuai dengan rancangan Allah semula; masih rusak, masih berkodrat dosa, belum memiliki kemuliaan Allah. Tetapi, bisa mengasihi Allah. Kalau bagi bangsa Israel, mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan diwujudkan dengan melakukan hukum, tapi bagi umat Perjanjian Baru—tentu sudah melakukan hukum dulu—dengan memberi diri digarap oleh Roh Kudus untuk bisa dikembalikan ke rancangan Allah semula.
    Sehebat apa pun seseorang, kalau ia tidak menemukan kemuliaan Allah yang hilang, ia pasti menyesal. Lukas 14:33, “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat jadi murid-Ku.” Artinya, tidak bisa menerima penggarapan Tuhan. Tuhan Yesus pun tidak mendadak jadi sempurna. Dia belajar taat agar mencapai kesempurnaan. Tuhan Yesus bergumul. Maka, Tuhan tahu bagaimana mengosongkan diri (Flp. 2:5-7). Jadi, orang yang mau diubahkan oleh Allah, haruslah yang mengasihi Allah lebih dari mengasihi siapa pun dan apa pun. Tuhan tidak bisa memuridkan atau mengubah orang yang tidak mengasihi Dia dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan.
    Maka, jangan sampai kita terlanjur mengasihi dunia atau objek apa pun dan siapa pun lebih dari Tuhan, sehingga kita tidak akan pernah bisa digarap oleh Allah dengan baik, untuk mengalami dan memiliki keselamatan. Iblis itu cerdik, pengalamannya bermilyar atau bertrilyun tahun. Iblis mengupayakan orang-orang Kristen yang mestinya menjadi umat pilihan ini untuk menunda bertobat dan mengambil keputusan untuk mengasihi Tuhan. Sehingga, mereka bisa terkunci dalam belenggu atau ikatan,
    0 min
  • Menjaga Hati
    Memercayai bahwa Allah itu Pribadi yang hidup dan nyata, tidaklah mudah. Mudah mengatakan percaya, tetapi percaya dalam arti yang benar, tidak mudah. Sejatinya, tidak banyak orang yang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada. Sebab, banyak orang beragama yang mengaku percaya kepada Allah, tetapi sebenarnya belum percaya atau tidak percaya. Hal itu tampak dari kehidupannya. Kalau kita memeriksa kehidupan kita dulu, kita tahu benar apa yang dikemukakan ini. Kita mengatakan kita percaya Tuhan, tetapi kita ada dalam cengkeraman ketakutan dan kekhawatiran. Padahal, kita mengatakan Allah itu Mahakuasa, Allah itu baik, Allah itu menjaga. Itu tidak menunjukkan bahwa kita percaya. Mulut mengatakan percaya kepada Tuhan, tetapi kita sembarangan menggunakan mulut yang sama. Sembarangan dalam berpikir, apalagi dalam perilaku, seakan-akan Allah tidak ada. Ini adalah cara dan gaya hidup manusia pada umumnya, atau hampir semua manusia berlaku seperti itu. Mungkin dulu kita juga begitu.
    Sekarang, kalau kita berkata bahwa kita memilih untuk percaya bahwa Allah itu ada, Allah itu hidup, Allah itu nyata dan kita menunjukkan hormat kita kepada Allah, maka kita buktikan dengan hidup tak bercacat, tak bercela. Setiap kali kita melakukan sesuatu—baik apa yang kita pikirkan, kita renungkan, atau kata-kata yang kita mau ucapkan, apalagi perbuatan, kelakuan—baiklah kita selalu berpikir bahwa Allah yang hidup, Allah yang Mahahadir melihat segala sesuatu yang kita lakukan. Dan jika kita mempertimbangkan hal ini dengan benar, dengan serius, pasti kita tidak akan berani sembarangan berbuat sesuatu. Kita tidak akan ceroboh. Kita berhitung dengan sungguh-sungguh bahwa segala sesuatu yang kita lakukan dapat melukai hati Allah. Bukan hanya kelakuan, melainkan juga perkataan-perkataan kita. Bukan hanya ketika kita di depan orang, tetapi di belakang orang lain yang kita percakapkan, kita juga harus sangat berhati-hati.
    Sejujurnya, kita sering meleset. Kalau kita memeriksa hidup kita di hadapan Allah, masih ada kesalahan yang masih saja kita lakukan. Baik melalui pikiran, maupun perasaan kita yang tidak terlihat orang. Dalam hal ini, tidak ada pihak mana pun yang dapat menjaga kita. Tanggung jawab menjaga diri terdapat pada diri kita sendiri. Tuhan memberikan Roh Kudus. Tetapi kalau kita tidak merespons dengan benar, Roh Kudus tidak memaksa. Pilihan itu ada di tangan kita. Kita jaga pikiran, kita jaga perasaan, kita jaga mulut, kita jaga seluruh anggota tubuh kita. Semua bersumber di hati. Sebab, suatu saat kita akan ada di pengadilan Tuhan. Kalau kita tidak hidup benar-benar bersih, kita tidak akan tahan berdiri di hadapan kesucian Allah. Kita mau mempersiapkan diri untuk berdiri di hadapan takhta pengadilan-Nya, agar kita juga layak masuk Rumah Bapa. Allah adalah Pribadi yang luar biasa, yang agung. Allah yang besar, yang kebesaran-Nya, kemuliaan-Nya, dan keagungan-Nya melampaui apa yang kita pikirkan. Oleh sebab itu, kalau kita berurusan dengan Allah yang hidup, kita tidak boleh sembarangan.
    Allah Mahakudus, karenanya di dalam 1 Petrus 1:16 firman Tuhan mengatakan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Ini semua tergantung pada kita, bukan pada orang lain, maupun Tuhan. Kalau kita memilih untuk percaya, kita bisa. Kita bisa bebas dari kekhawatiran dan ketakutan. Tetapi memang tidak mudah, karena Allah tidak kelihatan. Sedangkan, masalah-masalah kita sering mengancam di depan kita secara langsung dan kelihatan nyata. Tetapi kalau kita terus belajar kebenaran Firman yang membangun bangunan berpikir yang benar, kalau kita menyediakan waktu bertemu dengan Tuhan dalam doa seperti saat ini, pastilah kita bisa bertumbuh dalam takut akan Allah, bertumbuh dalam kasih, cinta kepada Tuhan yang tidak kelihatan itu. Jika kita berurusan dengan Dia, harus benar-benar tak bercacat, tak bercela, kudus, tidak menghargai dunia seperti anak dunia, tidak terikat dengan keindahan dunia ini. Barulah kita dapat bertumbuh untuk kokoh, tabah,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…