Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Opsi Lain
    Allah Bapa mempunyai banyak anak dengan kepribadian yang berbeda-beda. Tetapi ada satu prinsip yang sama, yaitu tidak memiliki hasrat keinginan yang bertentangan dengan Allah. Maka yang harus dipahami oleh setiap individu agar dipergumulkan atau diperjuangkan, dan bagi gereja selaku komunitas orang percaya yang menjadi representasi Tuhan adalah bagaimana membuat lukisan indah batiniah kita. Tetapi fakta yang kita bisa lihat dan alami, seakan-akan Tuhan itu membuka peluang untuk opsi lain; karena memang Tuhan tidak memaksa kita untuk memilih opsi-Nya. Sehingga, kita tidak berani fokus pada satu arah tersebut. Maka terjadilah yang namanya pasivitas rohani. Sibuk dalam gereja, sibuk pelayanan, sibuk kegiatan pelayanan gereja, tapi tidak mengalami progresivitas yang berarti. Jadi, lukisan batinnya itu tidak indah. Apalagi kalau sebelum aktif di gereja sudah berkarakter buruk/rusak; terbiasa tidak jujur, membalas kejahatan dengan kejahatan, dan lain sebagainya.
    Ketika firman mengatakan—terkait dengan Yohanes Pembaptis—persiapkan jalan bagi Tuhan, lalu mereka harus memberi diri dibaptis (umat Israel) demi mempersiapkan kebenaran Injil yang mereka akan dengar, maka di sini moral umum seseorang harus benar terlebih dulu. Tidak boleh ada kejahatan-kejahatan. Menjadi anak-anak Allah harus berkenan, tidak boleh setengah berkenan. Kalau kita benar-benar menghormati Tuhan dan memercayai Dia dan mengasihi Dia, kita mau berjuang. Masalahnya, banyak orang yang tidak percaya. Tuhan itu seperti ada tidak ada. Lalu? Tidak menghormati Tuhan. Lalu? Tidak mengasihi Tuhan. Maka, kehidupannya tidak mengalami perubahan yang berarti seperti yang Allah kehendaki. Kolose 3:3 menulis, “Kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Inilah alasannya. Karena alasan ini, maka “pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” Maka, setiap anak-anak Allah pasti memiliki karakter ini: yang pertama, setiap anak Allah itu harus berkenan. Yang kedua, setiap anak Allah itu memang diproyeksikan untuk dimuliakan. Dimuliakan bersama dengan Yesus. Kalimat lain yang dapat kita temukan di Alkitab: akan duduk sebagai raja-raja. Kita tidak berambisi untuk mendapatkan takhta itu, namun kita merindukan untuk bersama selamanya dengan Tuhan.
    Tetapi karena Allah Bapa memproyeksikan kita untuk menjadi mempelai Tuhan Yesus dan bersama Yang Mulia memerintah di Kerajaan Surga, kita tidak boleh memiliki opsi lain. Seseorang yang punya opsi lain, berarti ia tidak percaya kepada Tuhan. Sangat dangkal dan miskin kalau percayanya itu hanya diisi dengan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Percayanya kepada Tuhan Yesus harus diisi dengan perjuangan untuk sempurna seperti Bapa. Ini adalah standar kebenaran. Tapi tidak mudah percaya akan hal ini. Bangsa Israel dari Mesir dibawa ke Kanaan, tidak ada opsi tempat lain, harus ke Kanaan. Dan untuk itu, mereka harus memberikan respons terhadap pimpinan Tuhan. Namun mereka menolak, berarti tidak percaya bahwa Tuhan sanggup membawa mereka keluar ke tanah yang berlimpah susu dan madu. Maka Tuhan memiliki pertimbangan. Kalau melewati negeri Filistin yang jaraknya pendek, mereka cepat sampai di Kanaan, tetapi mereka akan menyesal karena ternyata di situ musuhnya besar-besar seperti raksasa, dan mereka kecil-kecil seperti belalang. Maka Tuhan buat mereka berputar-putar agar dipersiapkan menjadi bangsa yang beradab, yang kuat. Sementara itu, mereka diajar mengenal Taurat di sepanjang perjalanan, yang membuat mereka menjadi bangsa yang berbudaya, dengan budaya sesuai dengan tuntunan Allah di dalam Taurat yang luar biasa.
    Mereka dibuat Tuhan berputar-putar agar siap memasuki tanah Kanaan. Mereka harus dewasa, menaklukkan sendiri. Ini sama dengan kita, bahwa kita ini tidak punya opsi lain, selain menjadi sempurna. Kita harus mengusahakannya dengan serius. Tetapi banyak orang Kristen tidak mengerti bahwa itu adalah sebuah kemutlakan. Karena banyak opsi lain dan mereka merasa boleh memilih....
    8 min
  • Mediokritas
    Satu hal yang kita harus mengerti dan benar-benar kita hayati dan kita terima—yang mana menjadi goresan di dalam jiwa kita—bahwa menjadi anak-anak Allah itu berarti harus menjadi pribadi yang berkenan kepada Allah. Kita tidak boleh menjadi anak-anak Allah dengan standar hidup biasa-biasa saja atau mediokritas. Kita harus benar-benar unggul; yaitu keunggulan di dalam kodrat, dimana setiap orang percaya harus bisa mengenakan kodrat ilahi, harus mengalami perubahan. Bukan hanya dari orang jahat menjadi baik, atau dari orang baik menjadi sangat baik, tetapi menjadi orang yang berkodrat ilahi. Inilah yang dimaksud Tuhan Yesus di Matius 5:48, “sempurna seperti Bapa.” Yaitu memiliki kemampuan untuk bertindak selalu sesuai dengan kehendak Allah. Di dalam pikiran dan perasaan, searah dengan pikiran dan perasaan Allah. Tentu saja ini merupakan pergumulan yang sangat berat. Tetapi kita tidak diberi opsi lain, walaupun manusia boleh atau bisa memilih opsi lain. Ini adalah opsi satu-satunya yang harus dipilih orang percaya. Seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan, “kamu ini buatan Allah dalam Kristus Yesus.” Itulah sebabnya kita harus membuka diri untuk digarap Tuhan tiada henti sampai kita menutup mata. Ingat, kita ini bukan sekadar sebuah organisasi, melainkan organisme hidup; artinya organisme rohani yang harus terus mengalami perubahan.
    Maka kita juga tidak boleh merasa puas dengan level atau tingkatan rohani yang telah kita capai. Kita harus selalu haus dan lapar akan kebenaran, selalu mempertimbangkan adanya ketidaktepatan di dalam diri kita. Baik yang sudah kita lakukan, maupun yang belum kita lakukan. Jadi, masih menjadi potensi yang bisa membuahkan atau melahirkan ketidaktepatan. Siapapun kita, jangan kita merasa sudah begitu hebatnya berteologi, memiliki sederetan gelar, lalu kita merasa selalu benar. Sebaliknya, kita harus selalu mempertimbangkan adanya penyesatan di dalam diri kita. Artinya, sesuatu yang tidak tepat (Yun. Skandalon). Adanya manusia lama yang mau beraktivitas. Maka, kalau kita mau hidup benar-benar bersih, kita harus selalu mengisi pikiran kita dengan Tuhan. Kita harus menghayati bahwa Allah itu hidup dan hadir. Harus untuk mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dalam setiap situasi dan kondisi yang ada. Melaluinya, Tuhan mau kita ini membuktikan cinta kita kepada-Nya.
    Allah itu memiliki hakikat, dan dari hakikat-Nya diciptakan tatanan-tatanan. Tentu tatanan yang keluar dari hakikat Allah: adil, kasih, cerdas, dan sempurna. Setiap orang memiliki kesempatan untuk membuktikan apakah ia berdiri di pihak Allah, atau berdiri di pihak yang lain. Sering kali kesempatan itu tidak bisa diulang. Kalau sampai diulang, pasti kualitasnya sudah beda dari kesempatan pertama. Kalau Tuhan sudah mengambil kesempatan itu, maka tidak ada yang bisa memberi atau mengembalikannya. Jadi, kalau kita memilih untuk mengisi pikiran kita dengan kebenaran, sejatinya itu tidak akan membuat etos kerja kita menjadi rusak atau berantakan. Itu tidak membuat kita jadi fanatik buta yang konyol dan bodoh. Bahkan kita akan menjadi bijaksana. Dan yang luar biasa, kita bisa takut akan Allah dengan benar. Setiap keputusan atau tindakan akan kita pertimbangkan dengan pertimbangan apakah hal ini menyenangkan hati Tuhan atau tidak? Sampai kita bisa mengerti apa artinya mendengar suara Tuhan. Sehingga kita mengarahkan parabola hati kita ke Tuhan, dan tidak menerima siaran yang lain.
    Oleh karenanya dikatakan dalam Roma 8:28-29 bahwa Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan, dan kebaikan itu adalah serupa dengan Yesus. Tidak ada opsi lain. Bukan setengah serupa, seperempat serupa, bukan juga tigaperempat serupa. Pilihannya adalah serupa atau tidak sama sekali. Tidak ada kawasan netral atau mediokritas. Setiap kita harus diberi kebebasan dan harus mengambil keputusan. Kita tidak akan menyesal kalau mau mengambil keputusan ini, walaupun tentu kita akan menghadapi begitu banyak serangan.
    8 min
  • Berharga di Mata Allah
    Mazmur 116:15 mengatakan, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Ayat ini di luar biasa, di dalamnya mengandung kebenaran dan kekayaan yang tidak terbatas. Kata “berharga,” di dalam bahasa Inggrisnya precious; yang dalam bahasa Ibrani yaqar (יָקָר), yang artinya “bernilai tinggi” atau sinonim dengan kata “mulia.” Orang yang kematiannya berharga di mata Allah adalah orang yang hidupnya pun pasti berharga di mata Allah. Tidak mungkin orang yang hidupnya tidak berharga di mata Allah, lalu kematiannya menjadi berharga. Itulah sebabnya keselamatan dalam Yesus Kristus benar-benar mau mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah yang semula. Supaya manusia kembali memiliki kemuliaan Allah yang hilang (Rm. 3:23), karena semua orang telah berdosa atau jatuh dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah. Sebab memang sejak semula Allah menciptakan manusia agar berkeadaan mulia seperti Allah. Sebenarnya kata atau kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di Mazmur 5:48: “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” sama maknanya dengan “kamu harus menemukan kembali kemuliaan Allah.” Bukan kemuliaan manusia. Manusia bisa mengembangkan diri dalam berbagai aspek, dalam berbagai bidang hidup, dan dirinya menjadi berharga. Manusia memiliki kesanggupan untuk berjuang dan berusaha mencapai penemuan, pencapaian yang tinggi sehingga membuat dirinya itu bernilai atau berharga. Tetapi manusia tidak mungkin bisa mencapai nilai, harga, kemuliaan seperti yang dimaksud oleh Allah atau yang sesuai dengan rancangan Allah semula tanpa Tuhan Yesus.
    Manusia bisa mendidik diri dengan budi pekerti yang baik, mengasah moralnya dengan filosofi atau filsafat-filsafat, menciptakan atau membuat agama agar dirinya menjadi baik dan mulia. Kita pun sudah melihat kemajuan teknologi manusia yang begitu pesat, tak terkendali. Tetapi tidak mungkin bisa mencapai kemuliaan yang Allah maksud, sebab hanya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang bisa mencapainya. Inilah yang Alkitab katakan sebagai “Kabar Baik.” Benar-benar baik, kalau Injil itu mengubah manusia. Bukan hanya bisa mencapai level kebaikan, level budi pekerti yang baik, tetapi bisa menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang. Di satu titik, kita akan bisa memahami betapa masih jauhnya kita dari standar yang Allah kehendaki, yaitu mengenakan dan memiliki kemuliaan Allah. Makin kita mengerti kebenaran dan seiring itu pula kita jujur melihat diri kita sendiri, maka kita akan makin menyadari betapa agung dan indahnya kemuliaan Allah tersebut dan betapa jauhnya keadaan kita dari kemuliaan Allah itu. Kesadaran ini akan membuat kita lebih haus, lebih lapar akan kebenaran, sehingga kita menjadi tidak tertarik terhadap apa pun. Kita akan lebih tertarik kepada Tuhan, tertarik kepada kebenaran-kebenaran-Nya; bagaimana kita bisa lebih memahami kebenaran-kebenaran Allah untuk bisa memahami kemuliaan Allah dan mengenakannya di dalam hidup ini.
    Jadi baik yang orisinil, baik yang sesungguhnya adalah seperti Allah sendiri. Tidak ada yang baik selain Allah; hanya kemuliaan Allah. Bersyukur kita sadar akan hal ini, dan bersyukur kita masih memiliki kesempatan untuk berlomba meraih kemuliaan tersebut di sisa umur hidup kita ini. Orang yang kematiannya berharga di mata Tuhan adalah orang yang hidupnya berharga di mata Tuhan. Hidupnya agung di mata Tuhan, bernilai tinggi. Kita semua sudah terlanjur sesat oleh cara berpikir anak dunia. Karena yang kita pahami sebagai mulia, agung, berharga, bernilai adalah pangkat, gelar, kedudukan, penampilan cantik atau ganteng, kehormatan, pujian manusia, kedudukan, pangkat, posisi. Manusia telah menghabiskan tahun-tahun umur hidupnya dan mengerahkan semua potensi, tenaga yang tidak terbatas untuk hal tersebut. Yang tentu tragisnya setelah ia meraih semua itu, ternyata semua akan lepas. Masalahnya sekarang adalah seberapa kita mau bertobat? Kita harus bertobat dari cara pikir kita yang sesat dan salah tersebut. Miliki langkah-langkah konkret untuk keluar dari ir...
    8 min
  • Berani Mempertaruhkan
    Jadi ketika dikatakan dalam Roma 3:23 bahwa semua manusia telah kehilangan kemuliaan Allah, sejatinya hal itu hendak mengatakan bahwa mestinya kita memiliki kemuliaan itu. Dan kalau Tuhan Yesus Kristus datang menyelamatkan kita, mestinya menemukan kemuliaan itu. Dan Tuhan Yesus menawarkannya. Namun masalahnya sekarang, apakah kita ikut jejak Adam dan Hawa yang meragukan Allah atau setia mengikut Tuhan Yesus? Dulu kita ragu-ragu untuk menjadi Kristen yang benar-benar militan. Kita takut menjadi orang Kristen yang ekstrem dan fanatik. Maka kita menjadi orang Kristen yang mengalami “penghalusan;” tidak menjadi Kristen orisinal. Kristen yang “dihaluskan,” dalam arti Kristen yang telah menjadi Kristen palsu. Jadi pendeta, terhormat, ia bisa mengalami penghalusan. Padahal, seorang pelayan Tuhan harus melayani. Jangan sampai kita meninggal dunia, tapi kita tidak dibentuk, tidak digarap oleh Allah, karena mengalami penghalusan tadi.
    Kita harus belajar untuk mengalami perubahan tersebut. Jangan sampai kita meragukan Tuhan. Mungkin kita mengaku bahwa kita tidak meragukan Tuhan. Kalau benar kita tidak ragu, apa yang berani kita pertaruhkan? Artinya, seberapa kita telah berinvestasi dalam perjuangan menjadi anak-anak Allah? Bapa itu baik. Kebaikan-Nya jangan diukur dengan anak-anak yang sehat, lulus dari perguruan tinggi, mendapat pekerjaan yang baik. Itu berkat Tuhan, tapi jangan mengukur kebaikan Tuhan hanya di situ. Jangan mengukur kebaikan Tuhan hanya pada mukjizat, walaupun kita memerlukan mukjizat. Tapi mari kita melihat kebenaran Firman Tuhan bahwa Allah baik dimana Allah berkenan menjadikan kita anak-anak Allah. Allah semesta alam yang menciptakan langit dan bumi, Allah yang Mahamulia berkenan dipanggil “Bapa.”
    Sejatinya, menjadi kekhawatiran kita ketika kita tidak mampu menghayati identitas diri kita sebagai anak-anak Allah karena kita tidak berjalan bersama Tuhan dengan benar. Menjadi anak Allah adalah kesempatan luar biasa. Kebaikan Allah dibuktikan dengan mengutus Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus, memikul dosa kita, membenarkan kita di hadapan Allah, melengkapi kita dengan Roh Kudus, menyediakan Injil Kerajaan Allah yang berkuasa menyelamatkan kita atau yang membebaskan kita. Seberapa kita bertaruh dan memberikan respons terhadap karya Allah ini? Namun faktanya, hampir semua orang berlaku demikian; tidak melihat bahwa proses keselamatan yang mau mengembalikan kita ke rancangan Allah semula untuk menemukan kemuliaan Allah itu sebagai hal yang bernilai sangat tinggi. Akibatnya, banyak orang Kristen tidak berani mempertaruhkan hidupnya sepenuh untuk itu. Jangan jadi Kristen sejak kecil, tapi kita tidak berubah, tidak bertumbuh sebagai anak-anak Allah yang menemukan kemuliaan Allah. Maka mari kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Seberapa saya telah menemukan kemuliaan itu?”
    Orang yang menemukan kemuliaan Allah memiliki ciri yang berbeda dengan dunia. Makanya kalau kita mau memeriksa diri kita—apakah kita sudah menemukan kemuliaan Allah yang hilang itu atau belum—kita dapat membandingkan diri dengan cara berpikir anak dunia, gaya hidup anak dunia, obsesi, hasrat, cita-cita, dan gaya hidupnya. Apakah masih terdapat kemiripan? Kalau masih ada, berarti kita kemuliaan Allah yang ada pada kita masih rendah atau bahkan belum sama sekali. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan dalam Roma 12:2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini.” Ayat ini dengan sangat tegas mengatakannya, lalu apakah kita mau menguranginya karena sudah begitu lama mengalami penghalusan? Kita tidak berani head-to-head dengan ayat ini secara sungguh-sungguh, bahwa kita tidak boleh serupa dengan dunia ini. Maka, kita harus jujur dengan diri kita sendiri; kita serupa dengan dunia ini, atau serupa dengan Tuhan Yesus yang adalah Anak Manusia yang telah menemukan kemuliaan Allah? Ingat, itu keniscayaan. Kita dipanggil sejak semula untuk serupa dengan Dia, untuk menemukan kemuliaan itu.
    Jangan serupa dengan dunia ini,
    10 min
  • Kebaikan Allah
    Kita sering mengatakan, kita juga sering mendengar bahwa Allah itu baik, sungguh baik, dan sangat baik. Apa ukuran kebaikan yang kita pahami mengenai Allah tersebut? Kebaikan Allah yang luar biasa telah dimulai sejak Allah menciptakan manusia. Allah menciptakan manusia sebagai anak-Nya. Itulah sebabnya Alkitab mencatat bahwa Adam adalah anak-anak Allah. Tentu seharusnya sesuai dengan rancangan Allah, semua manusia menjadi anak-anak Allah. Inilah kebaikan Allah, dimana makhluk ciptaan yang disebut manusia ini diciptakan sebagai anak-anak Allah, dan dikehendaki memiliki kemuliaan-Nya. Allah tidak berkeberatan makhluk ciptaan ini memiliki kemuliaan-Nya, keagungan Allah, atau nilai yang tinggi dari Allah sendiri. Jadi kalau di dalam Roma 3:23 dikatakan manusia kehilangan kemuliaan, di situ tersirat bahwa memang pada mulanya manusia itu dikehendaki oleh Sang Khalik, yaitu Bapa di surga, untuk memiliki kemuliaan Allah.
    Kita membaca di dalam Alkitab bahwa rancangan dari Sang Khalik adalah agar manusia ini memiliki kemuliaan Allah, namun itu tidak diraih dengan mudah atau tidak diberikan dengan cuma-cuma. Allah memberikan perangkatnya, komponennya untuk meraih hal itu, dan itu sebuah keniscayaan; bukan sesuatu yang tidak mungkin dicapai. Allah memberikan pikiran dan perasaan yang dari pikiran dan perasaan itu manusia dapat melahirkan kehendak. Jikalau manusia setia kepada Bapa, dimana ia mengisi pikiran dan perasaannya dengan kebenaran, maka ia bisa mencapai kemuliaan yang Allah sediakan yang bisa dikenakan manusia dan menjadi milik abadi atau milik kekal. Tetapi di dalam sejarah perjalanan hidup manusia pertama di Kejadian 3, manusia curiga terhadap Allah. Ketika iblis menawarkan opsi atau pilihan untuk mengkonsumsi buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat, hal itu memikat hatinya. Yang karenanya perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Lagipula, pohon itu menarik hati karena memberi pengertian, sehingga manusia memetiknya.
    Kisah kejatuhan adalah kisah yang paling tragis. Seandainya mereka tidak makan buah itu, tidak dapat dibayangkan betapa agung dan mulianya manusia. Tidak terbayang juga bagaimana bumi yang sungguh amat baik dan dikelola oleh orang-orang yang memiliki keagungan dan kemuliaan Allah. Peta kehidupan yang berubah total dapat kita saksikan hari ini, dan kita juga rasakan, serta kita alami. Sakit-penyakit, kemiskinan, penderitaan, dan kematian, belum lagi bayang-bayang kebinasaan, dimana manusia terpisah dari Allah. Tetapi Allah yang baik, tetap sangat baik. Allah mengembalikan kemuliaan itu, karena memang itu rancangan Allah semula. Dan itu bisa terwujud atau terealisasi kalau Allah sendiri yang berintervensi. Allah hanya punya satu kali kesempatan untuk itu. Itulah sebabnya dikatakan bahwa Yesus Anak Tunggal. Itulah sebabnya juga dikatakan bahwa Yesus adalah Adam terakhir. Itu menyiratkan bahwa kesempatan terakhir. Sehingga kita bisa membayangkan betapa berat tanggung jawab dan beban Yesus dalam memikul tanggung jawab penyelamatan manusia, agar kemungkinan manusia kembali memperoleh kemuliaan itu dapat terwujud.
    Ketika kita membaca dalam Injil, Yesus yang kita panggil Tuhan, berhasil menyelesaikan tugas penyelamatan. Setelah Ia menerima segala kuasa di surga dan di bumi, Dia memberi amanat kepada murid-murid-Nya: “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Sebenarnya kalimat itu sama artinya dengan: jadikan semua bangsa—yang tentu menjadi umat pilihan—untuk menemukan kembali kemuliaan yang hilang, yang selama ini tidak teraih oleh manusia. Yesus, Anak Manusia yang kita panggil Tuhan adalah manusia pertama yang menemukan, mengenakan kemuliaan Allah tersebut. Hanya orang-orang tertentu yang diberi kesempatan untuk menemukan kemuliaan itu, yaitu orang-orang yang menjadi anak-anak Allah. Semua anak-anak Allah adalah orang-orang yang harus berkenan, yang dirancang pasti dimuliakan bersama dengan Yesus, maka juga harus menemukan kemuliaan Allah yang hilang tersebut.
    0 min
  • Warisan di Kekekalan
    Banyak orang meninggalkan warisan yang baik, sehingga namanya menjadi nama jalan, dijadikan nama gedung, nama perpustakaan, nama bandara atau diabadikan dalam bentuk lainnya. Pencipta lagu yang menghasilkan karya yang bagus, akan dibukukan atau digubah ulang, agar dapat meninggalkan legacy atau warisan yang abadi. Tetapi pernahkah kita memikirkan, betapa ironis kalau di surga ternyata dia tidak diakui? Ia boleh meninggalkan legacy yang baik di mata manusia, tapi kalau ternyata waktu di kekekalan ia tidak diakui, maka itu adalah hal yang paling celaka. Siapa orang yang bisa meninggalkan legacy yang mulia? Hanya orang yang mengosongkan bejana hatinya, sehingga dapat diisi oleh Tuhan, sehingga karya-karyanya  merupakan “karya Roh Kudus.” Pasti itu dihargai di dalam Kerajaan Surga. Jadi, tubuh kita ini menjadi bait Roh Kudus, bukan hanya sebuah pernyataan, tetapi melalui tubuh kita ini hidup kita digerakkan untuk melakukan banyak hal yang berdampak untuk orang lain, yang meninggalkan warisan.
    Nama kita tidak terukir di gedung-gedung, di bandara, juga mungkin tidak ditulis di jalan-jalan; tetapi nama kita terukir di Kerajaan Surga. Untuk itu kita harus membayar harga untuk menjadi seorang yang memiliki warisan di kekekalan. Karena firman Tuhan mengatakan bahwa segala perbuatan mereka mengikuti mereka. Jadi, perbuatan kita menjadi catatan abadi. Jadi, jangan ragu-ragu bahwa apa yang kita lakukan itu tidak sia-sia. Alkitab mengatakan, “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan sejak sekarang ini. Sungguh, kata Roh, supaya mereka boleh beristirahat dari segala jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka” (Why. 14:13). Maka harus selalu diingat bahwa Iegacy kita itu bukan di bumi, tapi di kekekalan. Tapi jangan sampai orang berpikir dengan memberi uang berarti ia sudah mengukir namanya di kekekalan. Padahal yang penting bukan uangnya saja, tapi ketulusan hati dan segenap hidup kita.
    Orang-orang yang membawa karya-karya hidupnya yang berkenan, pasti dimuliakan. Maka jangan miskin karya dan jangan merasa yang aktif di gereja sebagai pendeta atau aktivis. Belum tentu semua itu memperkenan Tuhan. Kalau motifnya tidak lurus karena belum mengosongkan bejana hatinya, dia masih tetap miskin. Sebab dia melakukan itu untuk dirinya sendiri, bukan untuk Tuhan. Orang yang hidupnya dipersembahkan penuh bagi Tuhan, kerinduannya untuk bertemu Tuhan itu besar sekali. Yang ditinggalkan banyak: harta, kekayaan, perusahaan, aset dengan puluhan miliar, ratusan milyar, bahkan triliun. Orang yang memilih tidak meninggalkan semua itu mungkin akan terlihat berhasil di mata manusia. Bahkan namanya diabadikan dalam berbagai bentuk; nama gedung, nama universitas, nama bandara, dan lain-lain. Tapi waktu mati, miskin, tidak ada penjemputan. Karena miskin karya, tidak berkarya bagi Tuhan. Berbeda dengan orang yang berkarya bagi Tuhan, dijemput malaikat-malaikat. Malaikat-malaikat senang menjemputnya, karena orang ini banyak karya bagi Kerajaan Allah. Orang ini yang membuat Bapa di surga senyum terus.
    Mari sekarang kita jujur melihat apa yang masih kita cintai, yang tidak mau kita lepaskan, sebab itu adalah berhala. Apalagi kalau itu kebiasaan-kebiasaan yang mendukakan hati Tuhan, karena melanggar kesucian Tuhan. Termasuk watak, karakter kita yang buruk; yang mudah tersinggung, mudah cemburu, yang senang membalas dendam, suka melihat orang lain menderita, senang orang lain dipermalukan. Ayo, kita tinggalkan semua itu. Kita mau membangun Iegacy; warisan yang baik. Di bumi ini tentunya, karena kita memberikan warisan iman kepada orang-orang yang kita tinggalkan di bumi, dan di surga dicatat. Orangtua-orangtua harus meninggalkan Iegacy yang baik untuk anak-anaknya. Pendidikan yang diberikan, berguna sekali, uang yang diberikan juga bisa bermanfaat. Tetapi semua warisan tersebut bisa menjadi sia-sia, bahkan tidak jarang yang malah menjadi penyebab utama atau kausalitas prima dari kehancuran anak-anak.
    9 min
  • Keriangan
    Seseorang baru benar-benar memiliki yang namanya keriangan—riang, kebahagiaan, sukacita—ketika ia memiliki keringanan; tidak ada yang membebani. Adapun yang membuat kita tidak bisa riang, yang membuat kita tidak bisa sukacita dan bahagia di dalam Tuhan, karena memiliki banyak beban. “Beban” di sini terjadi bukan hanya persoalan-persoalan berat, masalah-masalah yang rumit, yang sukar, yang menyusahkan hati, melainkan bisa berupa sukacita dan bahagia oleh karena fasilitas dunia. Orang yang hidupnya dalam sukacita dan kegirangan karena fasilitas dunia adalah orang yang terbelenggu; orang yang terikat. Kalau seseorang masih hidup dalam ikatan-ikatan kesenangan dunia ini, maka orang-orang seperti itu pasti tidak memiliki keringanan, dan pasti tidak memiliki keriangan di dalam Tuhan. Karena, terang tidak bisa dipersatukan dengan gelap; orang tidak dapat mengabdi kepada dua tuan. Orang harus memilih: sukacita dari Tuhan atau sukacita dari dunia. Seseorang yang hanya memiliki kesenangan dari dunia dan tidak memiliki sukacita dari Tuhan, dia bisa menikmati semaksimal mungkin kebahagiaan dan kesenangan dari dunia ini, tapi tidak bisa menikmati keriangan, sukacita di dalam Tuhan.
    Hal ini sebenarnya sulit atau tidak bisa dijelaskan kalau orang tidak mengalaminya. Tetapi walaupun tidak mengalami, kalau rendah hati mau mendengar, dia akan bisa paling tidak mengerti, dan Roh Kudus akan menolong dirinya, bahwa ada sukacita yang bersifat adikodrati; di luar kodrat. Ini sukacita yang bisa dikatakan transempiris; di luar pengalaman. Karena Tuhan Yesus sendiri yang berbicara, bahwa damai sejahtera yang diberikan Tuhan Yesus tidak sama seperti yang diberikan oleh dunia ini (Yoh. 14:27 “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu”). Sukacita seseorang karena menjadi pemimpin, memiliki posisi, memiliki kehormatan, memiliki panggung yang tinggi, dapat menjadi berhala dan merusak hubungannya dengan Tuhan. Sukacita di dalam Tuhan, pasti membuat kita bisa menikmati tanggung jawab kita sebagai pemimpin. Tetapi menjadi pemimpin yang dihormati manusia itu bukanlah landasan dan sumber sukacita kita. Oleh belas kasihan anugerah Tuhan, seiring dengan perjalanan waktu, kita pasti bisa lebih mengerti. Sehingga kalimat, “Tuhan, aku rela melepaskan semua keinginan, semua hasrat di dalam diri ini,” baru bisa kita jalani dengan lebih konkret, lebih nyata, lebih penuh sampai Tuhan memenuhi bejana hati kita dengan gairah surgawi.
    Dan ini semua merupakan fakta yang harus terjadi, harus berlangsung dalam hidup kita, dan kita benar-benar bisa mengalaminya. Inilah dimensi hidup kekristenan yang sejati. Tidak bisa dirumuskan dengan kata-kata atau kalimat. Kalaupun bisa, sangat terbatas. Penjelasan definisi-definisi mengenai hal ini sangatlah terbatas, karena hal ini merupakan fakta yang harus dialami. Sukacita, damai sejahtera Tuhan yang dikatakan “Kutinggalkan bagimu” tidak bisa hanya dirumuskan dalam simbol kalimat dan kata, namun harus dialami. Jika bandingkan peristiwa Sadrakh, Mesakh, Abednego dengan orang-orang Kristen perdana (Kristen mula-mula) maka kita dapat menemukan sebuah perbedaan. Sadrakh, Mesakh, Abednego berkata, “Kalau Allah yang kami sembah sanggup menolong kami, Dia akan menolong. Kalau tidak, kami tetap percaya.” Perlu ditegaskan di sini bahwa Allah bukan tidak sanggup membebaskan mereka dari dapur api, tapi Allah tidak menolong. Jadi ketika api dipanaskan tujuh kali lipat, Sadrakh, Mesakh, Abednego tidak terbakar. Tidak ada satu helai rambutnya yang terbakar. Bahkan ada sosok lain di dapur perapian tersebut, sehingga mereka bertanya-tanya, “Siapakah orang itu?”
    Berbeda dengan orang Kristen perdana pada abad mula-mula. Waktu mereka dibakar, betul-betul mati dibakar. Tidak ada pendampingan, tidak ada mukjizat, tidak ada pertolongan dalam bentuk fisik. Seperti Tuhan Yesus di kayu salib,
    8 min
  • Pikul Salib
    Pada umumnya, tidak ada orang yang mau menderita atau bisa menderita sementara ia masih memandang ada sesuatu yang bernilai di dalam hidupnya. Sebab kalau orang masih memandang ada sesuatu yang bernilai dalam hidupnya, penderitaannya pun pasti bukanlah penderitaan yang proporsional. Orang yang tidak menganggap ada sesuatu yang bernilai dalam hidup ini kecuali Tuhan dan Kerajaan-Nya, baru bisa hidup maksimal bagi Tuhan. Maka kalau orang masih terikat dengan dunia, tidak mungkin dimuliakan, sebab yang dimuliakan adalah mereka yang menderita bersama-sama dengan Dia. Mereka yang menderita bersama-sama dengan Dia adalah orang-orang yang memikul salib sesuai dengan standar yang Tuhan Yesus taruh. Bukan salib sendiri karena kesalahan pribadi, Tuhan yang menaruh salib itu. Maka Tuhan berkata, “pikullah kuk yang Kupasang,” Jika kita tidak menerima kuk dari Tuhan, maka dunia yang akan memberi kuk.  Kuk dari dunia adalah kuk yang nyaman dan bebas. Tapi sejatinya, kuk tersebut adalah kebebasan yang membelenggu. Waktu mati, baru kita mengetahui bahwa itu adalah kuasa kegelapan yang menggiring kita ke api kekal. Akan tetapi, kuk Tuhan menjerat kita, membelenggu, dan membatasi kita kepada kemerdekaan yang sesungguhnya.
    Jadi yang menderita bersama-sama dengan Tuhan adalah mereka yang salibnya berat; sesuai dengan ukuran berat yang Tuhan sudah rancang untuknya. Tuhan Yesus memikul salib di sepanjang Via Dolorosa. Ia jatuh bangun, sampai harus dibantu oleh Simon dari Kirene. Kalau belum berat, berarti penderitaan yang dipikul bersama Tuhan belum proporsional. Dalam salah satu pernyataan-Nya, Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “Kamu yang bersama-sama dengan Aku dalam segala penderitaan, kamu akan duduk bersama-sama dengan Aku.” Ini adalah hal yang sangat indah dan mulia. Maka, semestinya kita khawatir kalau kita tidak mendapatkan tempat itu karena kita sibuk dengan diri kita sendiri. Kita memikul salib, tapi salib buatan sendiri; tidak sampai berat, tidak sampai menderita. Namun seharusnya kita memikul salib sampai menderita; pasti berat, pasti melelahkan. Kadang, rasanya ingin menghindari Lazarus-lazarus yang Tuhan kirim. Belum lagi ketika ada suara yang mengatakan, “Memang orang ini menyusahkan. Jangan dibantu. Sudah, jangan dibalas.” Tapi ada suara lain yang mengatakan, “Kamu kehilangan kesempatan.” Di sini kita sering gagal. Gagal studi, gagal karier, mungkin gagal rumah tangga, gagal dalam kesehatan, atau gagal yang lain belumlah kegagalan yang sesungguhnya. Kegagalan yang sesungguhnya adalah kalau kita tidak dipermuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Padahal, paket anugerah kita adalah paket anugerah keselamatan itu dimuliakan bersama Tuhan Yesus.
    Dalam konteks ini, ketika kita ingin dimuliakan bersama Tuhan Yesus bukan berarti kita mengingini kedudukan yang sama dengan Tuhan Yesus. Sampai kapan pun kita tidak akan dapat menyamai kedudukan dan kemuliaan Yesus sebagai Tuhan. Mengingini kemuliaan di sini maksudnya adalah kemuliaan karakter seperti yang dimiliki oleh Tuhan Yesus sendiri. Apa yang kita pikirkan, rasakan, dan lakukan, semuanya seturut dengan keagungan dan keluhuran Tuhan Yesus selama menjadi manusia di bumi. Kita tidak mengikuti “kemuliaan; keagungan” versi dunia dengan memiliki harta banyak, popularitas, relasi yang kuat, dan berbagai fasilitas mewah lainnya. Sebaliknya, kita rela menanggalkan seluruhnya untuk memperoleh keserupaan dengan karakter Yesus. Dengan memiliki karakter Yesus, di situ kita mewarisi kemuliaan yang Bapa janjikan. Oleh karenanya jelas bahwa yang menjadi perburuan kita satu-satunya adalah kembali memiliki kemuliaan dalam karakter kita yang ditandai dengan keserupaan dengan-Nya.
    Maka perhatikan ini,  keselamatan adalah dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula; menjadi segambar, serupa dengan Bapa; berkenan. Jadi kalau tidak berkenan, berarti kita gagal menerima keselamatan itu. Dan kalau gagal menerima keselamatan, gagal menerima kemuliaan bersama dengan Tuhan Yes...
    8 min
  • Dimuliakan
    Kalau seseorang memiliki obsesi menjadi orang kaya—memiliki rumah besar, apartemen mewah, villa di pinggir pantai, misalnya—maka ia akan berusaha untuk mendapatkan banyak uang. Bagi seorang pelajar yang berambisi menjadi lulusan terbaik, maka ia akan berusaha untuk bisa mencapai prestasi tertinggi; sumacumlaude. Lalu mengapa kita tidak berusaha untuk mendapat penilaian dari Allah: “berkenan?” Kalau kita bisa memiliki gairah ini, betapa beruntungnya. Sejatinya, kita bisa menyalakan gairah itu di dalam diri kita. Tergantung kita. Jangan dibodohi oleh diri sendiri—dengan catatan itu pikiran Iblis—yaitu: “Saya tidak mungkin bisa berkenan. Urusan itu nanti saja, sekarang tidak bisa, belum bisa, tidak mungkin bisa dengan keadaan seperti saya hari ini.” Dengan pemikiran seperti itu, kita dikunci dalam kebodohan. Sebagai manusia yang memiliki godaan-godaan, kita mungkin saja sudah menyerah terhadap godaan-godaan tersebut, lalu kalah. Kalau ditanya atau kita memperkarakan itu dengan diri sendiri, maka jawaban kita: “masih proses.” Setuju, memang kita harus melalui proses untuk menjadi berkenan. Tetapi, progresif tidak? Ada kemajuan tidak?
    Kalau tidak ada kemajuan, berarti kita tertambat atau diam. Lalu mengapa kita bisa tenang, damai, nyaman? Di setiap harinya, pertama-tama kita harus membawa diri kita di hadapan Tuhan, dan memperkarakan apakah kita sudah berkenan atau belum. Kalau belum, selidiki bagian mana yang Tuhan belum berkenan? Tuhan pasti memberi tahu. Selanjutnya kita mulai lepaskan satu demi satu. Kita akan sangat menyesal ketika kita meninggal dunia dan berdiri di hadapan takhta pengadilan Kristus, namun kita belum memiliki predikat “berkenan di hadapan Allah.” Dalam Roma 8:17 dikatakan, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.” Kira-kira kalau karakter seseorang masih berantakan, layakkah ia tidak disebut ahli waris yang dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus?
    Secara implisit, dalam kalimat “dipermuliakan bersama-sama dengan Dia” termuat kebenaran bahwa kita harus punya karakter, moral serupa dengan Dia. Kita harus seimbang dengan Tuhan Yesus. Maka, kalau karakter kita masih berantakan, kita tidak akan bisa dimuliakan bersama dengan Kristus. Memang tidak banyak orang yang serius merenungkan hal ini. Untuk itu, kenali diri kita sendiri. Kira-kira apakah orang seperti kita  layak tidak menerima janji-janji Allah bersama-sama dengan Kristus?  Mari kita persoalkan dan pikirkan dengan serius dengan serius. Ini penting sekali. Ini lebih penting dari hal menikah, lebih penting dari hal punya anak, lebih penting dari kebutuhan rumah, mobil, dan lain sebagainya. Ini lebih penting, yaitu menjadi anak yang berkenan, dan yang layak menjadi ahli waris, layak memiliki hak, menerima janji-janji Allah yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus. Maka Paulus mengatakan di 2 Korintus 11:2-3 bahwa kita ini orang-orang yang disebut sebagai mempelai wanita, dan Kristus adalah mempelai pria, itu pun secara implisit (secara tidak terang-terangan) menunjukkan bahwa kita harus seimbang dengan Tuhan. Jadi masalahnya sekarang adalah bagaimana kita bertumbuh dewasa sehingga kita layak menjadi mempelai? Kata “mempelai” itu sudah mengisyaratkan bahwa kita harus cantik, mengimbangi kegantengan, keelokan Tuhan Yesus.
    Saat ini kita harus memiliki perasaan krisis; dimana “jangan-jangan hari ini aku akan menghadap Tuhan.” Jadi kita serius sekali membenahi diri. Kita serius untuk menyelesaikan keadaan kita yang berantakan, yang belum beres ini. Kalau dulu tidak seperti ini, karena kita merasa selalu “masih ada waktu.” Di sini kita ceroboh. Padahal, seandainya memang masih ada waktu namun karena kita selalu menunda, maka kita tidak pernah menjadi bentuk seperti yang Bapa rancangkan.
    0 min
  • Berkenan
    Dari banyak kebenaran hal yang kita pelajari, ada hal yang sangat memikat hati, yaitu pertama, bahwa menjadi anak Allah itu berarti hidup berkenan kepada Bapa. Jadi, tidak ada orang yang menjadi anak Allah lalu tidak berkenan. Semua anak Allah harus berkenan kepada Bapa. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa,” artinya apa pun yang Bapa kehendaki, apa pun yang Bapa ingini, harus kita lakukan. Atau, segala sesuatu yang kita ingini harus sesuai dengan keinginan Bapa. Lebih tepat lagi: hidup dan jiwa kita harus menjadi bejana di mana keinginan dan kehendak Bapa dicurahkan, sehingga hidup kita hanya melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya. Yang kedua, semua yang menjadi anak Allah akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Menjadi anak Allah bukan beroleh kesempatan masuk surga, tapi juga dimuliakan. Berarti kita akan duduk bersama-sama dengan Tuhan Yesus di dalam pemerintahan Kerajaan Surga, Kerajaan Allah Bapa, yang dipercayakan, baik kepada Tuhan Yesus maupun kepada orang-orang percaya.
    Itulah sebabnya di dalam Roma 8:17 dikatakan bahwa kita akan menerima janji-janji yang diberikan, baik kepada Tuhan Yesus, juga kepada kita. Betapa luar biasa posisi anak-anak Allah yang bisa dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Hal ini harus selalu diingat. Dulu kita pikir kita bisa menjadi orang Kristen biasa-biasa saja yang mengaku sebagai anak Allah, tetapi tidak sungguh-sungguh memperkarakan, tidak sungguh-sungguh mempersoalkan kita itu berkenan kepada Bapa atau tidak. Setiap hari kita harus memperkarakannya: apakah kita sudah berkenan di hadapan Bapa? Bawa diri kita di hadapan Tuhan setiap hari, perkarakan di hadapan Tuhan setiap hari, lalu temukan jawabnya. Sudahkah kita berkenan di hadapan Tuhan? Jangan merasa damai sejahtera, jangan merasa aman sebelum kita tahu pasti kita ini berkenan di hadapan Bapa atau belum. Kalau belum, kita tanyakan apa yang membuat kita tidak berkenan di hadapan Bapa. Kita harus ngotot untuk bisa mengetahui keadaan kita yang sebenarnya di mata Allah Bapa.
    Jikalau kita sungguh-sungguh memperkarakan ini, Bapa pasti menjawab. Ingat firman Tuhan berkata, “Berbahagialah orang yang haus dan lapar akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Ini bertalian. Orang tidak mungkin dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus kalau tidak berkenan di hadapan Bapa. Jadi sebenarnya semua anak-anak Allah ini harus seperti Tuhan Yesus. Matius 3:17, Bapa menyampaikan bahwa Tuhan Yesus adalah Anak yang berkenan, dan semua orang percaya harus seperti Yesus. Sering orang memahami perihal kesempurnaan dengan Yesus dengan pikiran yang pendek. Seperti Yesus digambarkan sebagai pribadi yang tidak suka marah, bahkan tidak boleh marah. Padahal marah itu perlu jika memang digunakan dengan tepat dan benar; bahkan harus bisa. Tapi bagaimana seseorang mengekspresikan kemarahan, itu masalahnya. Ada marah yang merusak atau destruktif, dan ada marah yang kudus atau konstruktif.
    Apakah seperti Yesus berarti harus lemah lembut? Apakah orang yang bicaranya lembut berarti lemah lembut? Kita tidak hidup bersama dengan Tuhan Yesus. Sedangkan para murid sendiri tiga setengah tahun bersama dengan Tuhan Yesus. belum tentu bisa menjawab kalau ditanya perihal apa itu seperti Yesus? Setiap individu harus memperkarakan bagaimana menempatkan diri seperti Yesus di mata Bapa, di mata Tuhan kita, Yesus Kristus. Tuhan Yesus Kristus pasti menuntun kita bagaimana kita memiliki keberadaan karakter, moral manusia batiniah atau innerman kita seperti Dia, seperti Tuhan Yesus. Ini tidak bisa ditawar. Coba kita renungkan baik-baik hal ini. Tidak boleh tidak, kita harus menjadi seperti Yesus. Maka, betapa berharganya waktu yang Tuhan berikan, momentum-momentum atau peristiwa-peristiwa hidup yang Allah Bapa izinkan kita alami, yang melaluinya kita dibentuk untuk menjadi seperti Yesus. Momentum mendengarkan khotbah, momentum berdoa, momentum menghadapi suatu masalah, dan lain sebagainya.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…