Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Perjalanan Hidup
    Di tengah-tengah kesibukan manusia pada waktu itu, Nuh sibuk membangun bahtera. Tentu, bahtera yang dibangun sesuai dengan pattern atau pola yang Allah kehendaki. Nuh tidak boleh buat bahtera suka-suka sendiri. Nuh tetap membuat bahtera, walaupun dia dianggap sinting atau tidak wajar. Dia tidak perlu mendengar nasihat atau saran orang lain, karena polanya dari Allah sendiri, sebagaimana hidup kita pun standarnya Allah yang menentukan. Dan itu diperjuangkan oleh Yesus, sampai menemukan standar itu. Maka, tidak heran Ia berhak menghakimi. Pertanyaan bagi kita sekarang adalah pola atau standar apa yang kita kenakan saat ini? Perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan untuk menjadi semakin serupa dengan Yesus. Artinya, memiliki pikiran dan perasaan seperti Dia. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan adalah perjalanan menempuh jarak, tetapi kalau perjalanan hidup orang percaya adalah perjalanan perubahan manusia batiniah. Jadi, bisa dimengerti kalau Yesus menguji batin. Bila perjalanan orang percaya benar, maka ia semakin serupa dengan Yesus.
    Bapa mendidik melalui Roh Kudus agar kita memiliki keberadaan sebagai anak-anak Allah. Maka, di Ibrani 12:1 dikatakan bahwa “Perlombaan yang wajib itu serupa dengan Yesus. Dan untuk bisa melakukan perlombaan yang wajib dengan baik, kita harus menanggalkan beban dan dosa.” Memiliki pasangan, anak, dan kekayaan adalah hal-hal yang tidak wajib. Tapi hal menjadi serupa dengan Yesus adalah perlombaan yang wajib, dimana kita memiliki iman yang sempurna. Iman yang sempurna artinya ketaatan kepada Bapa. Kalau seseorang tidak mempersoalkan hal ini, ia tidak akan mengenal dirinya. Itulah sebabnya fokus hidup kita ini harus benar-benar tertuju kepada Allah.
    Jadi, ingat bahwa agenda satu-satunya kita adalah berjuang menjadi anak-anak Allah, artinya berkeberadaan sebagai anak-anak Allah, yaitu serupa dengan Yesus. Dalam Matius 22:11-13, perumpamaan mengenai raja yang mengadakan pesta, kita membaca ada seorang yang datang di pesta itu, tidak memakai pakaian pesta. Raja menegur orang yang tidak memakai pakaian pesta itu. Bagaimana ia bisa masuk tanpa memakai pakaian pesta? Ia tidak bisa bicara, karena ia tidak punya alasan. Karena, semestinya dia bisa mempersiapkan pakaian pesta tersebut. Demikian juga kita. Tidak ada seorangpun yang bisa beralasan. Dalam Matius 7:21-23, ketika orang berkata: “Bukankah kami sudah mengusir setan demi nama-Mu, mengadakan banyak mukjizat dan bernubuat?” Tuhan berkata: “Aku tidak kenal kamu, kamu yang melakukan kejahatan. Kamu yang tidak melakukan kehendak Bapa.” Dia tidak bisa beralasan dengan mengatakan tidak mengetahui standar yang Bapa kehendaki. 
    Jadi, tidak ada orang yang bisa beralasan: “Tuhan, hidup suci itu tidak bisa, mustahil.” Kalau orang yang tidak memakai pakaian pesta tadi, tidak bisa beralasan karena memang dasarnya ia bersalah. Ini mengajarkan kepada kita bahwa tidak ada perintah yang tidak bisa dilakukan. Perintah Tuhan, “Kuduslah kamu sebab Aku kudus,” adalah hal yang bisa kita lakukan. Maka, kalau kita berpandangan tidak bisa kudus, kita memandang Tuhan berbohong. Tuhan pasti memberi perintah yang kita bisa lakukan. Pada intinya, ketika Tuhan berkata, “kamu harus serupa dengan Yesus,” berarti kita harus selalu melihat diri kita dalam kesadaran, apakah dengan berpikir demikian, dengan berperasaan demikian, berkehendak demikian, sesuai dengan kehendak Allah, atau tidak? Seandainya Yesus hidup pada zaman sekarang, Dia melakukan ini, tidak? Sejujurnya, dulu kita tidak memikirkannya dengan serius. Yang penting kita senang, yang penting kita untung. Karena sering berbuat salah, jadi akhirnya tidak tahu apa yang baik dan tidak bisa melakukan apa yang baik.
    Namun, ada kabar baik yang Alkitab katakan yaitu bahwa kita bisa serupa dengan Yesus. Bagaimana caranya? Begitu bangun tidur, kita mulai hati-hati dengan apa yang kita pikirkan, kita rasakan, kita ucapkan. Bisa satu jam, dua jam, tiga jam kita lewati dengan baik.
    10 min
  • Menabur Ala Kadarnya
    Pada umumnya, semua orang sudah tahu bahwa apa yang ditabur, itu juga yang akan dituainya. Secara eksplisit, kita tahu bahwa orang akan memperoleh hasil dari segala perbuatannya, baik itu perbuatan baik atau perbuatan jahat. Secara implisit, hukum tabur tuai juga mengisyaratkan bahwa sebanyak apa yang telah kita tabur, sebanyak itu pula yang kita akan tuai. Juga terkait dengan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus di Kerajaan Bapa di surga nanti. Sesuai firman Tuhan di dalam Roma 8:17, bahwa kita yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus, akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Di dalam banyak bagian di dalam Alkitab, tercatat ada upah yang akan diterima oleh orang percaya. Ini tentu ada yang besar, ada yang tidak. Karena Tuhan mengatakan, “Upahmu besar;” berarti ada yang besar. Kemuliaan bersama dengan Tuhan tentu tidak ternilai. Sangat mahal, sangat mulia, sangat agung. Nilainya tidak dapat dipadankan dengan apa pun yang ada di bumi ini. Jangankan kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus. Kita tidak binasa saja, sudah lebih nilainya dari seluruh harta di dunia ini; “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia kalau jiwanya binasa?”
    Jadi, keselamatan yang sejati itu tidak ternilai. Apalagi kalau kita dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Pertanyaannya adalah apakah kita pantas? Apakah kita layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus? Seberapa besar kita telah menabur sehingga kita layak memperoleh yang tidak ternilai tersebut? Kesalahan yang telah kita lakukan selama bertahun-tahun adalah kita merasa bahwa kemuliaan bersama dengan Tuhan Yesus atau upah besar di surga bisa kita raih dengan taburan “ala kadarnya.” Secara eksplisit, jelas bahwa kita akan memperoleh seimbang dengan apa yang telah kita tabur; pasti sepadan. Tetapi banyak orang Kristen menabur ala kadarnya, asal-asalan, dan ia tidak pernah memikirkan hasil dari tuaiannya nanti. Tidak heran kalau orang menunda untuk mempertaruhkan hidupnya sebanyak-banyaknya, sebesar-besarnya, tanpa batas untuk Tuhan. Menunda. Bahkan yang lebih mengerikan, yaitu menunda bertobat dan hidup suci.
    Kita harus berpikir bahwa sebenarnya kita belum maksimal berbuat sesuatu untuk Tuhan. Mestinya kita mempersoalkan yang bisa kita lakukan, lebih dari yang sekarang sudah kita lakukan. Kecuali memang kita tidak pernah mempertimbangkan perasaan Allah, dan tidak pernah memperkarakan apa yang kita tuai nanti. Tapi kalau kita mempersoalkan, mempertimbangkan perasaan Allah hari ini, dan benar-benar memperkarakan apa yang akan kita tuai nanti, maka kita akan bersedia untuk mengoreksi diri untuk bertanya, “di bagian mana dalam hidupku yang belum kupersembahkan? Apalagi yang dapat aku buat untuk Tuhan?” Mestinya begitu. Kita tidak boleh mempertahankan apa yang kita miliki. Sebagaimana jika kita mengasihi seseorang, kita akan bertanya, “Apa yang kamu ingin kulakukan supaya kamu bahagia?” Mengapa kita tidak mempertanyakan itu kepada Tuhan? Padahal, kita mengaku benar-benar percaya bahwa Allah itu ada, hidup, dan berperasaan. Kecuali kita menganggap Allah itu tidak nyata, tidak hidup, tidak berperasaan, tidak memiliki rencana dan kehendak, seperti patung. Sejatinya, Allah tidak demikian. Percayalah, suatu hari banyak orang akan menyesal ketika ada di hadapan Allah, ternyata dia tidak buat apa-apa. Dan lebih mengerikan kalau yang dilakukan itu melukai hati Tuhan, menyakiti hati Allah.
    Mari kita serius mempersoalkan ini, karena Allah itu Allah yang hidup. Selain kita selalu mengoreksi diri, “Apakah masih ada yang salah yang kulakukan di hadapan Allahku?” Lalu yang berikut, “Apakah masih ada yang harus kulakukan untuk lebih menyenangkan hati Bapa?” Maka, kita akan menghidupkan Allah dalam hidup kita. Kita akan lebih mengalami Allah yang nyata, Allah yang hidup. Kadar orang mengalami Tuhan itu beda-beda. Jangan terintimidasi oleh siapapun. Yang penting adalah penilaian Tuhan terhadap kita. Mari, selagi kita masih memiliki kesempatan untuk itu, karena pasti suatu hari nanti,
    9 min
  • Standar Kualitas Batin
    Apakah kita dapat mengetahui sejauh mana kita sudah serupa dengan Yesus, atau sejauh mana prestasi dari keadaan pertumbuhan ketidaksempurnaan kita? Mestinya bisa, karena Roh Kudus menuntun kita kepada seluruh kebenaran. Maksudnya, Roh Kudus mengajarkan kebenaran yang terkait dengan hidup kita masing-masing, dan sejauh mana kita telah melakukan kebenaran itu. Yesus berkata: “Akulah kebenaran.” Jadi, kalau kita mengenal kebenaran, berarti kita mengenal apa yang Allah Bapa kehendaki, yang pernah diperagakan oleh Tuhan Yesus. Apa artinya pengetahuan mengenai kebenaran, pengetahuan mengenai Tuhan, jika tidak kita peragakan? Kebenaran bukan hanya untuk pengetahuan semata-mata. Kebenaran yang murni pasti mendesak untuk diperagakan. Dan itu bisa terjadi kalau Roh Kudus menuntun kita. Kalau tidak ada petunjuk sama sekali untuk mengetahui sudah seberapa kita serupa dengan Yesus, maka jika kita tidak serupa, kita tidak bisa disalahkan. Tetapi kalau hal serupa dengan Yesus bisa kita ketahui dalam hidup kita namun kita tidak berusaha untuk mengenali dan menggumulinya, maka kita bersalah.
    Di dalam Wahyu 2:23 firman Tuhan mengatakan, “Aku yang menguji batin.” Pernahkah kita mempersoalkan apa ukuran Tuhan Yesus dalam menguji batin? Tentu ukuran atau standarnya adalah diri Yesus sendiri, yaitu apakah orang percaya mengikuti jejak-Nya dan memiliki kualitas manusia batiniah seperti Dia. Allah adalah Allah yang tertib. Allah memberikan ukuran untuk ciptaan-Nya; terukur. Allah terukur dalam melakukan suatu tindakan, walaupun tentu kita tidak bisa mengukur Allah. Kehidupan orang percaya pasti juga memiliki standar; standar manusia Kerajaan Allah atau standar anak Allah. Itulah sebabnya dikatakan di dalam firman Tuhan bahwa suatu hari nanti kita akan menghadap takhta pengadilan Kristus (2Kor. 5:9-10). Hal ini menunjukkan atau mengisyaratkan bahwa Yesuslah yang akan menghakimi kita, karena Yesus telah mati di kayu salib, menebus kita, dan memiliki kita. Dia berhak menghakimi kita. Dia sudah lulus sebagai manusia yang sempurna. Dia menang, sehingga diri-Nya menjadi standar atau ukuran. Yang pasti akan dipersoalkan adalah apakah kita mengikuti Dia atau mengikuti jejak-Nya atau meneladani hidup-Nya.
    “Yesus menguji batin,” artinya Yesus memeriksa apakah kita memiliki keadaan batin seperti diri-Nya. Dan ketika setiap orang percaya menghadap takhta pengadilan Kristus, kita tidak bisa berkata: “Saya tidak bisa seperti Engkau, Yesus, sebab Engkau berbeda dengan manusia pada umumnya.” Ibrani 2:17 mengatakan, “dalam segala hal, Dia disamakan.” Jadi tidak ada orang yang nanti bisa beralasan tidak bisa ikut Yesus, tidak bisa meneladani Yesus karena Yesus manusia istimewa. Yesus mengatakan: “Ikutlah Aku,” itu berarti kita bisa mengikut jejak-Nya. Jangan dipelintir, dinaifkan, disempitkan dengan pengertian “yang penting jadi Kristen, itu berarti mengikut Yesus.” Bukan. Ikut Yesus berarti mengikut jejak-Nya; berpikir seperti Yesus berpikir. Terkait dengan hal ini, firman Tuhan mengajarkan kepada kita agar kita selalu mengalami pembaharuan pikiran, agar kita bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna (Rm. 12:1-2). Hal ini sebenarnya sama maksudnya dengan mengetahui bahwa kita sudah memiliki pikiran, perasaan Kristus, atau belum; mengerti apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Tentu melalui proses. Maka Ibrani 5:7-9 mengatakan bahwa “Yesus belajar taat dari apa yang diderita-Nya.”
    Ada proses, perjuangan, pergumulan sampai Ia mencapai kesempurnaan dan menjadi pokok keselamatan. Artinya, menjadi teladan, contoh yang harus dipatuhi. Agar proses ini berlangsung dengan baik, harus ada mekanismenya. Di dalam Roma 12:1 dikatakan, “Persembahkan tubuhmu sebagai korban yang hidup, kudus, dan yang berkenan kepada Allah: itu ibadahmu yang sejati.” Kalau dalam teks aslinya, kata “ibadah” ini latreia, kata kerjanya latreuo, artinya pelayanan. Ini pelayanan yang sungguh, yang benar. Jadi,
    10 min
  • Peremukan
    Tuhan sering melindungi orang-orang yang dikasihi-Nya dengan membawa orang-orang tersebut dalam keadaan sulit. Jadi, keadaan sulit—keadaan yang tidak menyenangkan, bahkan bisa menyakitkan—adalah cara atau bentuk Tuhan untuk melindungi orang-orang yang Dia kasihi, untuk memberkati orang-orang yang dikasihi-Nya. Sekilas, keadaan sulit itu seperti kemalangan atau keadaan sial, tetapi sebenarnya itu adalah berkat abadi; berkat kekal yang Allah berikan. Keadaan sulit yang dialami orang tulus membuat dirinya bisa menerima nasihat dari Tuhan, dan membawanya ke dalam kemuliaan. Kemuliaan tersebut tentu diperoleh bukan hanya nanti setelah meninggal dunia. Sejak di bumi, ia sudah memiliki kemuliaan. Hanya, tentu tidak banyak orang yang bisa melihat, namun Tuhan melihat. Setelah proses kesulitan, pencobaan, penderitaan yang dialami, dia bisa menerima tuntunan Tuhan secara benar, secara proporsional, yang membawanya kepada kemuliaan. Dan akhirnya, dia hanya mengingini Tuhan saja.
    Di dalam kitab Kolose 3:2-4, firman Tuhan mengatakan: “pikirkanlah perkara yang di atas bukan yang di bumi, sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus yang adalah hidup kita menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Siapa yang tahu kita ini mengenakan kehidupan Kristus atau tidak? Siapa yang bisa menilai? Tapi, tentu Tuhan selalu menilai. Karena seperti yang firman Tuhan katakan, “Ia menguji batin manusia.” Suatu hari nanti, baru menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan. Seseorang sungguh-sungguh mencari perkara yang di atas—walau kelihatannya hari ini semua orang Kristen sama, semua pendeta sama—suatu hari kelak, akan tampak perbedaannya. Tidak ada yang tahu apakah seseorang sudah mati dan hidupnya tersembunyi bersama dengan Kristus atau tidak. Karena selain perlu proses, ini pun sangat rahasia. Hal ini misteri hidup masing-masing individu. Jangan sampai kita yang kelihatan baik-baik, ternyata tidak baik. Tapi orang yang pernah rusak, ternyata bisa lebih baik karena diproses Tuhan.
    Jadi, kesulitan yang dialami seseorang itu bisa membawanya kepada kematian bagi dunia, dan hidup bagi Allah. Tapi terus terang, ini hanya dialami orang yang benar-benar memiliki komitmen untuk mengasihi Tuhan. Maka, Tuhan meremukkan dia. Bisa sampai Getsemani, mengalami peremukan, lalu bisa sampai ke salib. Sampai ia mati bersama Tuhan, mati bagi dunia; hidup bagi Tuhan Yesus. Maka, kita ikut Tuhan Yesus jangan hanya pada waktu Tuhan membuat air jadi anggur, orang buta melihat, mukjizat-mukjizat terjadi, limpah berkat materi. Tapi ikutlah Tuhan dalam segala keadaan. Orang-orang yang punya komitmen untuk menjadi seperti Yesus itu pasti ditindas. Allah yang menindas. Allah yang menggerus, Allah yang meremukkan. Yang tidak bersedia, tidak akan, karena Tuhan tidak akan mengingkari Firman-Nya. Allah berkata bahwa Ia bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi. Kalau tidak mengasihi, Allah tidak bekerja dalam segala hal dalam hidupnya. Tetapi kalau seseorang tidak mau berubah, ya tidak bisa berubah. Harus mau ada dalam keadaan terjepit ini.
    Diremukkan, dan sekaligus peremukan itu sebagai ujian bahwa kita setia. Tidak mungkin orang menjadi kekasih Allah, menjadi mempelai Tuhan Yesus, masuk menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah kalau belum diremukkan. Harus diremukkan, tetapi ini jarang terjadi. Sebab, pada umumnya orang tidak mau. Tersinggung sedikit, marah. Merasa harga dirinya disentuh, sudah tidak rela. Oleh karenanya, ia lambat mengalami perubahan. Sampai kemudian, ia harus menyerah kepada Tuhan. Ketika Petrus dewasa, dia memberi tangannya untuk diikat, dibawa ke tempat yang ia tidak suka, dan ia disalib juga. Bahkan menurut tradisi gereja, dia disalib dengan kepala di bawah. Pertanyaannya sekarang adalah apakah kita masih mau jadi Petrus muda yang mengikat pinggang, pergi ke mana suka, atau menjadi Petrus tua?
    10 min
  • Jejak Tuhan
    Orang yang memiliki hati yang bersih atau tulus, ditandai dengan tidak melukai atau mengupayakan penderitaan dan kerugian orang lain, baik di depan maupun di belakang orang tersebut. Kebalikan dari orang yang tidak tulus, kita dapati dalam Mazmur 73:6-8, “Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati.” Kata “pemerasan” dalam teks aslinya adalah osheq (עשֶׁק), yang artinya tekanan atau tindasan. Tuhan Yesus mengajar kita memiliki ketulusan yang standarnya sempurna seperti Bapa dengan pernyataan, “Kasihilah musuhmu, jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Bahkan ketika pipimu yang sebelah kanan ditampar, beri pipi yang sebelah kiri.” Maka, jangan kita anggap remeh, karena ini menentukan keselamatan kita.
    Jadi, orang yang tulus hati pasti mengupayakan kebaikan bagi orang lain. Itulah sebabnya orang tulus di Mazmur 73:15 mengatakan, Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. Maksud pernyataan orang tulus ini adalah kalau ia menolak didikan Allah atau bahkan menyalahkan Allah, maka tidak ada warisan yang baik bagi generasi berikut. Tidak ada berkat bagi orang di sekitarnya. Maka, ia berusaha menerima penderitaan yang ia alami sebagai cara Allah memperindah karakternya. Sehingga, kehidupannya dapat menjadi berkat, dan pengenalan akan Allah yang benar dapat dilestarikan atau diwariskan bagi generasi mendatang, walaupun pemazmur ini pada mulanya berkata, “Percuma aku mempertahankan hati yang bersih, percuma aku tulus.” Dengan demikian, orang yang tulus dapat memperkenalkan siapa dan bagaimana Allah yang benar itu. Kalau hari-hari ini kita sering melihat, mendengar orang Kristen menyanyi: “Allah sungguh baik, sangat baik,” baik yang bagaimana?
    Jangan sampai kita salah memandang Allah kita. Sebab, seseorang tidak akan bisa menyembah Allah kalau hidup sehari-harinya tidak kudus, tidak berkenan di hadapan Allah. Dia pun pasti salah memahami Allah. Jangan berpikir kalau seseorang hartanya banyak, pertanda diberkati. Belum tentu. Tetapi selama ini kalau orang memiliki kelimpahan harta, sukses dalam karier, dalam jenjang kepangkatannya, lalu orang berkata, “dia orang yang diberkati,” penekanannya pada berkat jasmani, dan itu sudah membudaya. Konsep banyak orang Kristen begitu, dan ini sesat sebenarnya. Orang yang tulus juga memiliki beban bagi keselamatan jiwa orang lain. Itulah sebabnya, orang yang tulus memiliki kepedulian terhadap orang lain. Perjalanan hidup orang-orang seperti ini, yang peduli terhadap orang lain, pasti memuat jejak Tuhan. Mestinya atau seharusnya, setiap kita sungguh-sungguh ber-Tuhan; dimana kita memiliki pengalaman dengan Tuhan, yang di dalamnya menunjukkan siapa dan bagaimana Allah kita.
    Kenyataannya, banyak orang yang terkesan atau seakan-akan membela Tuhan dengan berdebat, seakan-akan membela ajaran Kristen. Dalam perdebatannya, mereka tidak memancarkan kelemahlembutan. Bisa jadi didorong oleh kemarahan dan sakit hati, karena Tuhan Yesus dan Alkitab dinista. Bukan tidak boleh membela iman Kristen. Namun, pembelaan kita kepada Tuhan itu adalah ketika kita memancarkan kehidupan pribadi Allah. Maka, seharusnya setiap kita memiliki cerita kehidupan, yang di dalamnya jejak Tuhan dapat dilihat oleh orang di sekitar kita dan diwariskan kepada anak cucu kita. Seperti misalnya sejarah hidup Nuh yang taat kepada kehendak Allah, sehingga meluputkan anak cucunya dari bencana, sekaligus mewariskan teladan kehidupan iman. Jadi, orang melihat jejak Tuhan dalam hidup kita, keturunan kita melihat jejak Tuhan dalam hidup kita.
    Hal ketulusan menunjuk kepada keadaan batiniah secara individu yang berkualitas baik. Keadaan batiniah ini bersumber dari diri sendiri karena kehendak bebasnya. Tentu saja hal ini terbangun dalam waktu yang lama,
    11 min
  • Hidup yang Menjadi Berkat
    Banyak allah, banyak ilah yang diperkenalkan dan dipromosikan oleh banyak orang dan oleh banyak agama di dunia ini. Menurut Alkitab yang kita percayai, Allah yang benar adalah Allah Israel yang dinyatakan dalam Mazmur 73, yang menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, yang nama-Nya Yahweh. Tidak semua umat pilihan atau orang yang diberi kesempatan mendengar Injil itu pasti masuk surga. Alkitab jelas mengatakan banyak yang dipanggil, tetapi tidak semua masuk surga. Ada orang-orang yang menyebut Yesus sebagai Tuhan, tetapi ditolak. Mengapa? Karena tidak melakukan kehendak Bapa. Umat pilihan dipersiapkan untuk dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah yang akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus di langit baru bumi baru. Karenanya, kita tidak boleh dan memang tidak bisa membanding-bandingkan kehidupan umat pilihan yang diproyeksikan sebagai anak-anak Allah yang dimuliakan bersama Yesus, dengan mereka yang bukan umat pilihan. 
    Jadi, sejatinya kita dapat membuat orang yang bukan umat pilihan Allah mengenal kebenaran melalui perilaku kita, sehingga walaupun mereka tidak menjadi umat pilihan, mereka tidak memusuhi Tuhan Yesus. Jangan membuat mereka sampai menista Yesus karena perbuatan kita. Tapi sebaliknya, biarlah mereka “memuliakan Tuhan;” tidak menyerang dan tidak memusuhi. Sebab, orang yang tidak memusuhi kita, ada di pihak kita. Tuhan yang berkata, “orang yang tidak melawan kamu, di pihak kamu.” Kita harus membuat orang di pihak kita, dengan perbuatan baik. Sehingga, mereka bisa menjadi manusia yang mengasihi sesamanya seperti diri sendiri, karena kita menunjukkan kasih kita kepada orang yang tidak seagama. Hal ini memungkinkan mereka bisa masuk surga sebagai anggota masyarakat Kerajaan Surga. 
    Coba kita renungkan, apa artinya seorang Kristen yang menyerang agama lain dengan menunjukkan bahwa Allah yang disembahnya lebih atau paling benar, tapi kelakuan orang Kristen tersebut tidak menunjukkan keagungan sebagai anak-anak Allah; tidak menunjukkan keagungan Allah yang disembah? Mestinya hidup kita benar-benar menjadi khotbah di manapun kita berada, agar kita dapat menjadi berkat di tengah-tengah masyarakat. Ironis, kadang-kadang jangankan kepada orang non-Kristen, kepada sesama orang Kristen pun banyak yang berlaku bengis. Di sini kita menemukan betapa jauh melesetnya banyak doktrin yang kelihatannya sudah final, baku, dan benar, padahal tidak sesuai dengan ajaran Tuhan Yesus sendiri. Buktinya, banyak orang Kristen yang hidupnya wajar seperti anak dunia, tidak seperti Yesus. Jangankan jemaat, teolog dan para pendetanya juga hidup wajar-wajar saja. Sekarang kita sadar, kita mau berubah, kita mau bertobat. 
    Banyak orang Kristen berusaha membela agama Kristen, tetapi tidak menempatkan diri sendiri secara proporsional dengan membangun perilaku yang kudus dan tidak bercela, murah hati kepada orang lain. Orang-orang seperti ini pada dasarnya hanya mau mempermalukan atau merusak nama baik kekristenan, dengan kebengisannya membela kekristenan dengan kata-kata yang kadang-kadang kurang pantas. Bahkan, sering perdebatan dengan orang yang beragama lain, atau membela ajaran yang dipandangnya benar terhadap orang Kristen yang tidak sepaham dengan kata-kata yang tidak patut, hanya untuk mengangkat diri, bukan untuk kesenangan hati Allah. Sejatinya, kalau kita mau membela Tuhan, caranya adalah dengan berbuat baik, hidup tidak bercela, membuat orang bisa berdecak kagum atas perbuatan kita. Inilah wujud pembelaan kepada Tuhan yang benar, bahwa Allah yang benar adalah Allah Israel, dan Yesus Kristus adalah utusan-Nya untuk menebus dosa. 
    Tunjukkan itu dengan perilaku (perbuatan dan perkataan) yang menjadi bukti kebenaran ajaran dan Allah yang disembahnya. Jelas, Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, berkata, “dari perbuatanmu, kota yang terletak di atas bukit atau Kerajaan Surga dapat dikenali orang.” Hal ini menunjukkan siapakah Allah yang benar,
    11 min
  • Ekstrem Terhadap Allah
    Seseorang yang benar-benar mengenal Allah, bergaul dan bersentuhan dengan Allah, tidak mungkin dia tidak menjadi ekstrem terhadap Allah. Orang yang mengenal Tuhan dengan benar dan terus bertumbuh, tidak mungkin dia tidak menjadi ekstrem. Ekstrem artinya, pertama, ia akan berusaha untuk hidup suci, dia akan berperang hebat dengan dagingnya, dengan nafsu-nafsu di dalam dagingnya. Ia akan berperang hebat dengan jiwanya yang telah banyak diracuni oleh pengaruh dunia sekitarnya. Kedua, ia akan bersedia untuk melakukan apa pun yang Allah kehendaki. Ketiga, ia tidak akan merasa memberi sesuatu kepada Tuhan. Ia akan menyadari bahwa Allah yang menciptakan langit dan bumi, yang menciptakan dirinya, yang memelihara dirinya, layak menerima semua yang ada padanya. Keempat, orang yang mengenal Allah dengan benar, bersentuhan dengan Allah setiap hari dan bertumbuh di dalam kedewasaan rohani dan bertambah dalam pengalaman dan kekayaan bersama dengan Tuhan, akan rela mengorbankan apa pun demi kehendak dan rencana-rencana Allah. Dan yang luar biasa dia akan mengarahkan matanya ke atas.
    Semua kita mewarisi kodrat dosa, semua kita telah terjerat oleh keinginan, kesenangan dunia dengan segala hiburan dan keindahannya. Tetapi kalau kita bertumbuh terus dalam pengenalan akan Allah dan mengalami Tuhan, kita pasti akan dibuat menjadi ekstrem. Kita akan menjadi ekstrem dan gairah ekstrem kita itu akan mengalahkan daging dan jiwa kita yang keruh. Tentu orang-orang seperti ini akan menjadi orang-orang yang hidupnya seperti tidak wajar, tidak normal. Ia akan semakin tidak normal di mata manusia di sekitarnya. Orang-orang di sekitarnya—baik itu orang Kristen atau orang non-Kristen sendiri—akan terheran-heran, akan bingung dan berkata, “mengapa orang ini menjadi seperti ini?” Mengapa bisa? Ada orang lain atau kelompok lain mengatakan, “keterlaluan yang begini ini, boleh sungguh-sungguh tapi tidak begitu juga?” Kalau Tuhan berkenan berbicara kepada orang-orang yang tidak mengerti itu, Tuhan bisa berkata begini, “Kalau kamu tahu apa yang disediakan bagi orang-orang yang mengasihi Aku seperti orang-orang ini, orang-orang yang ekstrem itu, kalau kalian tahu apa yang Aku sediakan untuk orang-orang yang mengasihi Aku seperti mereka, kamu akan berusaha untuk memiliki tempat seperti mereka sejak di bumi.”
    Akan ada sukacita besar bagi kita yang terus belajar untuk mengenal Allah, yang terus berusaha belajar memahami pikiran, perasaan, dan kehendak Allah; bagi kita yang sungguh-sungguh mau terus mengalami Tuhan di dalam Kerajaan-Nya; kita tidak akan menduga bahwa apa yang Allah sediakan bagi kita jauh melampaui dari yang kita duga, jauh melampaui dari apa yang kita pikirkan—yaitu kemuliaan kekal. Sebaliknya, betapa menyesalnya orang-orang yang menghabiskan umur hidupnya sejak di bumi dengan hidup wajar seperti manusia pada umumnya. Kita adalah anak-anak Allah yang bagi kita tersedia Rumah Bapa yang penuh dengan kemuliaan dan keindahan yang tak terbayangkan. Jadi kalau kita mengaku percaya Allah yang hidup, Allah yang baik, kita juga meyakini bahwa apa yang Allah sediakan jauh lebih baik dari apa pun yang bisa kita miliki di dalam dunia ini.
    Maka, ketika kita berkata percaya Tuhan Yesus, kita bukan hanya percaya dan yakin bahwa Diri-Nya adalah Juruselamat dan Tuhan kita, tetapi kita juga meyakini, memercayai bahwa Ia menyediakan tempat bagi kita. Kita menyerahkan hidup kita untuk rencana-Nya di mana Yesus Tuhan kita pergi menyediakan tempat bagi kita. Dan kalau Tuhan Yesus sudah menyediakan tempat bagi kita, Dia akan datang kembali dan menjemput kita. Masalahnya siapa “kita” yang dimaksud di sini? Kita yang hidup wajar seperti anak dunia atau kita yang mau memilih hidup ekstrem? Kita mau memilih ekstrem, walaupun sekarang ini antara mereka yang benar-benar ekstrem dengan Tuhan—artinya sangat mengasihi Tuhan, sangat mencintai Tuhan, mengasihi sesama—dengan mereka yang tidak ekstrem dengan Tuhan,
    0 min
  • Hikmat Manusia atau Hikmat Roh?
    Manusia—termasuk orang Kristen—punya banyak alasan untuk membela perilaku dan tindakan mereka. Dalam konteks anak-anak Allah, kita juga punya alasan terhadap perilaku kita yang pada intinya tidak akan dilakukan oleh Tuhan Yesus kalau Tuhan Yesus hidup pada zaman sekarang. Tapi mengapa kita masih melakukan? Jawabannya dapat kita lihat dalam 1 Korintus 2:1-3, “Demikianlah pula, ketika aku datang kepadamu, Saudara-saudara, aku tidak datang dengan kata-kata yang indah atau dengan hikmat untuk menyampaikan kesaksian Allah kepada kamu.” Tentu “hikmat” di sini maksudnya adalah hikmat atau kecerdasan yang dia miliki sebagai teolog. “…sebab aku telah memutuskan untuk tidak mengetahui apa-apa di antara kamu selain Yesus Kristus, yaitu Dia yang disalibkan. Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar.” Kemampuannya, kecerdasannya, kecakapan berbicaranya tidak akan berguna dalam menyampaikan kesaksian Allah, maka dia takut dan gentar. Maksudnya bahwa apa yang ia kerjakan itu tidak bisa dia kerjakan dengan kekuatannya, maka dia takut dan gentar. Selanjutnya di ayat ke-4, “Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan. Tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh.”
    Ini adalah sebuah rahasia penting yang membuat seseorang memiliki iman yang benar. Orang seperti ini tidak akan pindah agama dan terpengaruh dunia, sehingga tidak lagi berkarakter anak dunia. Namun kenyataan berbicara, ada pendeta pindah agama, anak pendeta pindah agama, tokoh Kristen, anak tokoh Kristen pindah agama, orang-orang Kristen yang berperilaku tidak lebih baik dari orang non-Kristen. Ternyata masalahnya adalah ketika pemberitaan kebenaran Firman tidak disertai dengan kerendahan hati, tidak dengan takut dan gentar, tidak dengan keyakinan akan kekuatan Roh—namun disampaikan dengan kata-kata hikmat manusia yang meyakinkan—maka hasilnya adalah orang-orang Kristen yang tidak kokoh, tidak tangguh, tidak kuat. Sebab imannya bergantung pada hikmat manusia, bukan pada kekuatan Allah. Tetapi Paulus menyampaikannya dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar, sebab dia tahu bahwa dia tidak bisa melakukan itu dengan kekuatannya sendiri.
    Pada umumnya, semakin orang percaya diri, semakin orang memiliki pengalaman banyak—apalagi punya gelar, punya prestasi—semakin ia tidak mengandalkan kekuatan Roh, namun mengandalkan kekuatannya sendiri. Iman orang yang mendengar firman yang bergantung pada hikmat manusia—bukan pada hikmat Allah—tidak memiliki relasi dengan Tuhan. Hikmat Allah maksudnya adalah penempatan kata dan sikap yang tepat sesuai dengan apa yang Allah kehendaki untuk disampaikan. Tapi masalahnya, bagaimana orang bisa memiliki pemberitaan yang disertai kekuatan Roh, kalau ia tidak berjalan dengan Tuhan setiap hari? Tidak ada koneksi antara pikiran orang itu dengan Allah. Semua terformat dalam kalimat atau menjadi perbendaharaan di dalam pikiran. Bisa khotbah 60 menit, satu jam setengah pun bisa; bukan tidak bisa. Memang ia terlatih untuk itu. Tapi apakah dilatih untuk memiliki keyakinan akan kekuatan Roh? Untuk itu, seseorang tiap hari harus berjalan dengan Tuhan.
    Bagi para orangtua, coba perhatikan, mengapa nasihatmu kepada anak-anakmu seperti angin lalu? Dianggap ringan. Sama seperti pembicara Firman tadi, karena kita mengandalkan kekuatan diri sendiri; merasa telah memiliki pengalaman hidup dan hikmat manusia. Namun apabila kita mengandalkan kekuatan Roh—di dalamnya ada kekuatan Allah—pasti nasihat kita akan bergema lebih kuat. Di sisi lain, banyak orangtua yang pada saat berbicara kepada anak seperti senapan mesin—banyak kata dan tidak ada jeda–namun anak-anak tidak merasa tersentuh. Maka dalam hal ini, kita tidak boleh bicara sembarangan lagi. Kalau tidak perlu diucapkan, jangan diucapkan. Termasuk apa yang kita sampaikan melalui medsos atau gadget. Kalau tidak perlu membuat kalimat untuk orang tertentu, maka tidak perlu menulis sesuatu.
    9 min
  • Menjaga Perasaan-Nya
    Kehidupan seseorang yang berharga di mata Tuhan pasti berbau harum. Bukan menjijikkan seperti sampah yang tidak bisa dinikmati. Ia menjadi keharuman bagi Tuhan sejak hidup di dunia. Kalau ibarat musik, menjadi simfoni yang indah yang Allah dengar. Maka Allah menghendaki orang-orang seperti ini ada di dalam Rumah Bapa. Menjadi pertanyaan bagi kita masing-masing, apakah kita sudah berbau harum di hadapan Allah? Apakah aku sudah menjadi seperti simfoni yang indah? Dan kalau kita sungguh-sungguh memperkarakan hal ini, kita akan tergetar. Kita tidak akan berbuat salah lagi, kita akan berhati-hati dengan setiap gerak pikiran kita, kita akan berhati-hati dari setiap kata yang kita ucapkan, kita berhati-hati dengan perbuatan dan perilaku kita. Karena kita adalah anak-anak Allah dan disertai oleh Dia, maka semua yang kita lakukan pasti membangkitkan respons atau reaksi dari Allah. Ironis, irama hidup manusia pada umumnya tidak peduli dengan perasaan Allah. Apa yang memuaskan hatinya, memuaskan dirinya untuk dipikirkan dan direnungkan, itu semua yang dilakukan. Apa yang memuaskan dan menyenangkan hatinya, kuucapkan dan kulakukan. Ini adalah sikap tidak menghormati Allah, padahal firman Tuhan mengatakan, “Barangsiapa menghormati Aku, Kuhormati.”
    Orang lebih mencari kehormatan manusia daripada kehormatan Allah. Jadi, kalau kita sungguh-sungguh takut akan Allah, menghormati Allah dengan menjaga perasaan Allah, firman Tuhan mengatakan, “Kuhormati dia.” Maka tidak heran kalau kematian orang yang dikasihi itu berharga, karena sejak di dunia dia menghormati Allah. Seberapa kita sudah menghormati Allah? Bersyukur kita sadar dan berbalik. Kita akan mengerti dan menghayati ini dengan lebih lengkap, ketika kita nanti menghadap Allah. Bahwa Dialah yang layak menerima hormat, pujian, dan sanjungan dengan segenap hidup dan hati kita. Oleh sebab itu, kita harus menghayati keberadaan Allah. Dia menyertai kita, dan konsekuensinya adalah kita harus menjaga perasaan-Nya. Untuk itu, jangan takut berjanji hidup suci; tak bercacat, tak bercela, hanya mengingini Tuhan saja. Jangan takut, karena tidak ada pilihan lain yang lebih baik dari ini. Mestinya ini satu-satunya pilihan kita. Supaya hidup kita ini menjadi keharuman yang Tuhan cium.
    Pernahkah kita membayangkan orang yang dijatuhi hukuman mati? Dimana tidak ada kesempatan lagi untuk naik banding. Orang tersebut pasti sangat menyesal dan berpikir, “seandainya waktu itu saya berkata ‘tidak;’ seandainya waktu bisa diputar balik, saya akan menolak permintaan itu. Tapi sekarang sudah terlanjur.” Seandainya waktu bisa diputar ke belakang, dan dia menolak tawaran itu, maka ia masih ada di luar bersama dengan anak-anak dan bisa melihat cucu yang akan segera lahir. Tapi waktu tidak bisa diulang. Kalau hanya hukuman mati di dunia, semua orang juga akan mati. Kalau hanya hukuman 15 tahun, nanti bisa dapat remisi dan lain-lain. Tapi kalau masuk neraka, kita tidak bisa memutar ulang waktu dan itu sangat mengerikan. Jadi bersyukur kalau kita sekarang menghadapi banyak masalah yang membuat kita bisa melihat kemuliaan Allah atau mengerti kemuliaan Allah atau bisa menghayatinya. Karena kalau kita tidak punya masalah, kita sangat mungkin tidak melihat kemuliaan Allah, karena kita menikmati Firdaus yang lain di dalam hidup kita. Orang yang terpaku memandang kemuliaan dunia, pasti tidak dapat memandang kemuliaan Kerajaan Surga.
    Itulah sebabnya pada kesempatan ini, kita menjadikan Tuhan satu-satunya alasan hidup. Lebih baik aku mati daripada aku tidak membuat Tuhan senang. Lebih baik kita tidak pernah ada daripada ada tetapi tidak menjadi keharuman bagi Tuhan. Kita akan memasuki fase-fase kehidupan yang berbeda dari fase-fase hidup yang pernah kita jalani sebelumnya. Kita itu bisa mati setiap saat. Mazmur 73 mengingatkan kita bagaimana orang tulus dihajar Tuhan, tetapi akhirnya dia bisa berkata, “Siapa gerangan ada padaku di surga, selain Engkau? Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.
    8 min
  • Berharga di Mata Allah
    Mazmur 116:15 mengatakan, “Berharga di mata Tuhan kematian semua orang yang dikasihi-Nya.” Ayat ini di luar biasa, di dalamnya mengandung kebenaran dan kekayaan yang tidak terbatas. Kata “berharga,” di dalam bahasa Inggrisnya precious; yang dalam bahasa Ibrani yaqar (יָקָר), yang artinya “bernilai tinggi” atau sinonim dengan kata “mulia.” Orang yang kematiannya berharga di mata Allah adalah orang yang hidupnya pun pasti berharga di mata Allah. Tidak mungkin orang yang hidupnya tidak berharga di mata Allah, lalu kematiannya menjadi berharga. Itulah sebabnya keselamatan dalam Yesus Kristus benar-benar mau mengembalikan manusia ke dalam rancangan Allah yang semula. Supaya manusia kembali memiliki kemuliaan Allah yang hilang (Rm. 3:23), karena semua orang telah berdosa atau jatuh dalam dosa, dan kehilangan kemuliaan Allah. Sebab memang sejak semula Allah menciptakan manusia agar berkeadaan mulia seperti Allah. Sebenarnya kata atau kalimat yang diucapkan Tuhan Yesus di Mazmur 5:48: “kamu harus sempurna seperti Bapa di surga,” sama maknanya dengan “kamu harus menemukan kembali kemuliaan Allah.” Bukan kemuliaan manusia. Manusia bisa mengembangkan diri dalam berbagai aspek, dalam berbagai bidang hidup, dan dirinya menjadi berharga. Manusia memiliki kesanggupan untuk berjuang dan berusaha mencapai penemuan, pencapaian yang tinggi sehingga membuat dirinya itu bernilai atau berharga. Tetapi manusia tidak mungkin bisa mencapai nilai, harga, kemuliaan seperti yang dimaksud oleh Allah atau yang sesuai dengan rancangan Allah semula tanpa Tuhan Yesus.
    Manusia bisa mendidik diri dengan budi pekerti yang baik, mengasah moralnya dengan filosofi atau filsafat-filsafat, menciptakan atau membuat agama agar dirinya menjadi baik dan mulia. Kita pun sudah melihat kemajuan teknologi manusia yang begitu pesat, tak terkendali. Tetapi tidak mungkin bisa mencapai kemuliaan yang Allah maksud, sebab hanya keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus yang bisa mencapainya. Inilah yang Alkitab katakan sebagai “Kabar Baik.” Benar-benar baik, kalau Injil itu mengubah manusia. Bukan hanya bisa mencapai level kebaikan, level budi pekerti yang baik, tetapi bisa menemukan kembali kemuliaan Allah yang hilang. Di satu titik, kita akan bisa memahami betapa masih jauhnya kita dari standar yang Allah kehendaki, yaitu mengenakan dan memiliki kemuliaan Allah. Makin kita mengerti kebenaran dan seiring itu pula kita jujur melihat diri kita sendiri, maka kita akan makin menyadari betapa agung dan indahnya kemuliaan Allah tersebut dan betapa jauhnya keadaan kita dari kemuliaan Allah itu. Kesadaran ini akan membuat kita lebih haus, lebih lapar akan kebenaran, sehingga kita menjadi tidak tertarik terhadap apa pun. Kita akan lebih tertarik kepada Tuhan, tertarik kepada kebenaran-kebenaran-Nya; bagaimana kita bisa lebih memahami kebenaran-kebenaran Allah untuk bisa memahami kemuliaan Allah dan mengenakannya di dalam hidup ini.
    Jadi baik yang orisinil, baik yang sesungguhnya adalah seperti Allah sendiri. Tidak ada yang baik selain Allah; hanya kemuliaan Allah. Bersyukur kita sadar akan hal ini, dan bersyukur kita masih memiliki kesempatan untuk berlomba meraih kemuliaan tersebut di sisa umur hidup kita ini. Orang yang kematiannya berharga di mata Tuhan adalah orang yang hidupnya berharga di mata Tuhan. Hidupnya agung di mata Tuhan, bernilai tinggi. Kita semua sudah terlanjur sesat oleh cara berpikir anak dunia. Karena yang kita pahami sebagai mulia, agung, berharga, bernilai adalah pangkat, gelar, kedudukan, penampilan cantik atau ganteng, kehormatan, pujian manusia, kedudukan, pangkat, posisi. Manusia telah menghabiskan tahun-tahun umur hidupnya dan mengerahkan semua potensi, tenaga yang tidak terbatas untuk hal tersebut. Yang tentu tragisnya setelah ia meraih semua itu, ternyata semua akan lepas. Masalahnya sekarang adalah seberapa kita mau bertobat? Kita harus bertobat dari cara pikir kita yang sesat dan salah tersebut. Miliki langkah-langkah konkret untuk keluar dari ir...
    8 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…