Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Teracuni
    Harga mengenakan kebenaran Firman adalah segenap hidup. Bukan asal-asalan, sehingga kita tidak pernah mengalaminya. Pada umumnya, banyak orang Kristen hanya sampai level pemenuhan kebutuhan jasmani; secara primer, sekunder, dan tersier. Cara berpikir yang salah ini membutakan mata kita terhadap nafas, jantung, inti kebenaran Injil. Jadi kita mengerti mengapa di dalam Lukas 16:11 dikatakan, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?” Jangan kita memiliki mata, tapi tidak memiliki penglihatan. Memiliki telinga, tapi tidak memiliki pendengaran. Tapi kita merasa melihat dan kita merasa mendengar. Buktinya? Mudah tersinggung, masih marah untuk apa yang tidak perlu marah, masih melakukan hal-hal yang tidak patut—walaupun tidak melakukan pelanggaran moral besar, tapi tidak patut di mata Tuhan.
    Allah mau kita menjadi anak-anak-Nya. Jikalau kita menjadi anak-anak-Nya, prinsip-prinsip hidup kita harus persis seperti yang Tuhan Yesus kenakan. Tidak boleh bergeser sedikitpun. Kalau hanya mendengar khotbah, kita tidak akan sampai ke tujuan. Tapi kita harus sampai menemukan Tuhan dan mengalami pimpinan Roh Kudus dalam hidup kita. Allah itu hidup, Ia bisa ditemui; Dia pasti berbicara. Maka, supaya kita bisa mendengar suara Roh Kudus, jangan kita “diracuni” oleh film, tontonan, pergaulan, percakapan yang merusak pikiran kita. Apalagi kalau tercengkerami oleh keinginan-keinginan tertentu. Bahkan sebelum tidurpun, kita sudah mulai berdoa. Dan waktu tidur, sebelum terlelap, kita bisa berdialog dengan Tuhan. Jangan berpikir apa yang Tuhan tidak mau kita berpikir. Jangan sampai Tuhan menghardik dengan kalimat, “kamu memikirkan apa yang dipikirkan oleh manusia, bukan apa yang dipikirkan oleh Allah.” Kita diam, nunggu apa yang Tuhan mau katakan.
    Allah merancang manusia untuk mewarisi Kerajaan Allah; kemuliaan bersama-sama Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Ironis, banyak orang tidak sanggup berpikir lagi. Sudah terlalu earthly, worldly; duniawi, materialisme; sudah terlalu terpengaruh oleh cara berpikir duniawi. Sejujurnya, kita juga sadar begitu. Maka, marilah kita terus menggerus gairah dunia dalam diri agar kita meraih kemuliaan yang Bapa janjikan. Sebagai orangtua, kita tentu mengerti bagaimana memberi yang terbaik untuk anak-anak kita; sekolah yang terbaik, pakaian yang baik, kendaraan yang baik. Bapa di surga sudah memberikan Putra Tunggal-Nya. Apa lagi yang kita ingnkan? Apa yang Bapa tidak rela berikan? Firman-Nya mengatakan bahwa kita akan dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Sedikit sekali orang yang tertarik dengan hal ini karena dipandang masih samar dan belum pasti.
    Jangan sampai kita menyesal di ujung hidup dimana sudah tidak ada lagi kesempatan. Maka kalau Alkitab berkata, “Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah,” itu bukan berarti kita tidak butuh fasilitas yang lain. Maksudnya adalah kita tidak boleh fokus kepada apa pun dan siapapun selain Tuhan dan Kerajaan-Nya. Yang lain adalah penunjang untuk mencapai target kita; yaitu dimuliakan bersama Tuhan Yesus. Kita harus memandang sebagai berkat yang berharga dan merasa sudah mewah, ketika bisa makan dan minum. Karena kemewahan kita adalah kemuliaan yang kita akan peroleh. Sejatinya, itu sudah kita miliki sejak di bumi, kalau kita terus bertumbuh. Menemukan kemuliaan tidak dapat ditunda nanti, melainkan sekarang. Kita harus bersih dan mulia sejak dini. Jadi, bagi orang percaya, kemewahan orang percaya ada di balik kehidupan sekarang ini, yaitu dimuliakan bersama Yesus. Sekarang yang harus kita perkarakan adalah bagaimana kita memiliki gaya hidup-Nya Tuhan Yesus yang mulia, sehingga kita layak dimuliakan. Karena faktanya, sedikit orang yang hidup sebagai anak-anak Allah, sedikit orang yang mau berjuang. Di kalangan jemaat, rata-rata mereka menganggap gampangan saja hal masuk surga. Tapi bagi orang Kristen yang dewasa, program kita itu bukan masuk surga saja, melainkan dimuliakan bersama Yesus.
    9 min
  • The Voice of God
    Matius 6:19-21 mengatakan, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Kita sudah merasa mengerti sekali akan ayat ini. Tetapi sesungguhnya kita hanya melihat itu secara kognitif atau pengetahuan; sebagai the word of God, tapi kita belum melihatnya sebagai the voice of God. Ketika ayat ini menjadi suara Allah dan kita menerimanya serta mengenakannya, maka seperti kabut yang tertiup angin, kita melihat dimensi hidup yang lain. Apalagi bagi kita yang bertugas sebagai jurubicara-Nya Tuhan; jangan sampai kita hanya bisa menyampaikan word of God—Firman dalam bentuk pengetahuan—tetapi tidak menjadi penyambung lidah Allah yang menyampaikan the voice of God. Sulit untuk menjelaskan hal ini, kecuali mengalaminya sendiri di dalam batin. Namun demikian, orang-orang dekat di sekitar kita akan tahu nanti, karena mereka pasti merasakan perubahan kita.
    “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua ditambahkan kepadamu,” juga merupakan ayat yang sudah begitu akrab di telinga kita. Tapi apakah kita sudah benar-benar melakukan, menerapkan, dan mengenakannya dalam hidup? Faktanya, mungkin yang lain yang kita utamakan dan Kerajaan Allah hanya sebagai tambahan. Di ayat yang lain, Tuhan Yesus berkata, “Jangan takut, hai kawanan kecil, karena Bapamu berkenan memberi Kerajaan ini kepadamu” (Luk. 12:32). Sejatinya, kalau kita benar-benar menghayati bahwa kita adalah penerima warisan Kerajaan, kita dapat merasakan betapa mahalnya kesempatan tersebut. Tapi mengapa orang tidak senang? Pasti ada yang salah dengan semangatnya. Surga bukan hal yang menarik baginya. Tentu tidak ada seorangpun yang mau ke neraka, tapi sebenarnya juga tidak mau ke surga. Bagi orang-orang yang mempunyai komitmen, “Aku mencintai Engkau, Tuhan. Segalanya bagi-Mu,” dengan tulus, Tuhan pasti menggarapnya. Tidak heran apabila Tuhan menghajar, supaya level kita naik. Tuhan mengajar kita untuk memindahkan kita dari filosofi hidup anak dunia ke prinsip-prinsip kebenaran Alkitab.
    Hidup itu tragis. Namun ini tidak membuat kita jadi pesimis dan kurang bahagia di dalam Tuhan. Kita memang pesimis menghadapi dunia, dimana dunia tidak bertambah baik dan menjanjikan. Lalu kita melihat dampak COVID yang belum membuat sembuh perekonomian kita, demikian juga dengan krisis ekonomi global. Maka kalau kita tidak sungguh mengikut Tuhan Yesus, apa yang akan kita lakukan? Kekayaan, kebahagiaan, dan kepuasan bagaimanapun tidak dapat menyaingi kemuliaan yang Tuhan janjikan. Itulah sebabnya Paulus menyatakan, “asal ada makanan, pakaian, cukup” (1Tim. 6:8). Prinsip ini tidak selaras dengan prinsip hidup yang dimiliki orang pada umumnya. Tapi ini juga yang diterapkan oleh Tuhan Yesus, karena Tuhan berkata “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (Luk. 9:58). Ini pernyataan Tuhan Yesus pada waktu orang berkata, “Tuhan, aku mau ikut Tuhan ke manapun Engkau pergi.” Menjadi pertanyaan untuk kita renungkan, kalau kita hidup pada zaman Tuhan Yesus, apakah kita akan mengikut Tuhan pada waktu Ia ditangkap? Pada waktu Ia diadili di rumah imam besar, di pengadilan Pilatus, pada waktu menghadap raja Herodes? Jangan-jangan kita seperti Petrus yang menyangkal. Lebih konyol kalau seperti Yudas. 
    Hari ini tidak sedikit orang Kristen yang seperti Petrus. Memang tidak menyangkal dengan kata-kata, tapi menyangkal dengan perbuatan. Atau seperti Yudas, itu pun tidak sedikit. Memang tidak menjual secara harfiah, tetapi tindakan hidupnya menyatakan bahwa ia “menjual” Tuhan. Orang seperti itu pasti ketakutan ketika menghadap takhta pengadilan Tuhan nanti. Tetapi hal ini kiranya tidak membuat kita jadi kendor.
    9 min
  • Jenjang Kebutuhan Hidup
    Dalam kehidupan ini kita mengenal tiga jenis kebutuhan, dan itu sudah diterima oleh hampir semua orang. Sulit menyangkali adanya kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan utama manusia yang tidak dapat ditunda pemenuhannya, agar kehidupan bisa berjalan dengan baik. Kebutuhan ini harus dipenuhi karena berkaitan dengan kelangsungan hidup setiap hari. Kebutuhan primer ini antara lain sandang, artinya pakaian; pangan, artinya makanan; dan papan, yaitu tempat tinggal. Adapun kebutuhan sekunder adalah kebutuhan yang tidak mendesak, dan untuk memenuhinya dapat dilakukan setelah kebutuhan primer terpenuhi. Kendaraan, hiburan, termasuk televisi, ini semua kebutuhan yang dianggap sekunder. Setelah kebutuhan primer dan sekunder ini terpenuhi, biasanya orang masuk pada kebutuhan tersier; kebutuhan terhadap barang yang dikategorikan mewah; misalnya: perhiasan, wisata. Jenjang kebutuhan ini pada umumnya membelenggu manusia. Kalau kebutuhan primer terpenuhi, lalu pasti masuk kebutuhan sekunder. Setelah kebutuhan sekunder terpenuhi, pasti masuk kebutuhan tersier.
    Manusia pada umumnya memburu semua hal tersebut. Pemburuan tersebut dipandang sebagai kewajaran hidup. Sadar atau tidak, kita juga ikut terpengaruhi dengan pola dan gaya hidup dunia yang kita warisi dari nenek moyang, orangtua, dan pengaruh lingkungan kita. Jita menggulirkan hari hidup dalam pola hidup seperti yang orang lain juga lakukan. Pada akhirnya, tidak bisa dibantah; jarang orang yang puas walaupun telah terpenuhinya tiga jenis kebutuhan tersebut. Mereka seperti orang yang selalu haus untuk meneguk lebih banyak yang dapat dimiliki dari dunia ini. Orang akan selalu haus untuk dapat meneguk semua kesenangan yang dunia sediakan. Dengan cara ini sebenarnya kuasa gelap membelenggu manusia dan menggiringnya ke dalam kegelapan abadi.  Pola hidup seperti ini juga ada dalam kehidupan para rohaniwan.
    Ketika masih menjadi pendeta yang jemaatnya kecil, kebutuhan primernyalah yang dikejar. Setelah jemaat lebih banyak, uang lebih banyak, kebutuhan sekundernya dipenuhi. Setelah kebutuhan sekunder dipenuhi, menjadi pendeta yang uangnya banyak karena jemaatnya banyak, atau undangan khotbah sana-sini, masuk ke jenjang tersier. Sebab pada dasarnya, filosofi hidup seperti yang dikenakan orang pada umumnya juga kita kenakan. Kalau bicara hal ini kepada orang yang memang tidak memiliki niat untuk berkenan di hadapan Tuhan, sulit. Tetapi kalau kita bicara kepada orang yang sadar betapa singkatnya waktu hidup kita, bahwa hidup kita akan berlanjut di kekekalan, bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini menentukan nasib kekal, prestasi abadi, maka pasti mereka mau mendengar dan jujur melihat diri mereka masing-masing. Sebagai anak-anak Allah yang dewasa, mestinya kebutuhan kita adalah sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, agar kita layak dimuliakan. Yang untuk zaman sekarang, nyaris tidak bisa dikenakan karena berat, karena: Pertama, gaya hidup tersebut nampak tidak wajar di mata dunia. Yang kedua, karena lingkungan sekitar kita makin jauh dari kebenaran Injil yang sejati.
    Tetapi kalau kita mau mencapai keselamatan dan tahan berdiri di hadapan Anak Manusia, kita harus berani untuk berubah. Jadi kebutuhan kita adalah bagaimana kita menjadi sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Sebab firman Tuhan mengatakan kalau kita anak Allah, kita adalah Allah waris. Dalam kalimat tersebut terdapat isyarat yang jelas: “kita adalah anak Allah.”  Maka, jangan merasa sudah menjadi anak-anak Allah, karena status sebagai Anak Allah itu sebuah keberadaan. Kita harus mencapai keberadaan hidup sebagaimana yang diakui sebagai anak-anak Allah, yakni kehidupan Yesus sendiri. “Seperti Yesus” adalah sesuatu yang abstrak dan perlu dijelaskan lebih lanjut. Akan tetapi pada intinya setiap orang harus mencapai tahap apa pun yang dia ingini tidak bertentangan dengan keinginan Allah. Ketika keinginan seseorang selaras dengan Allah,
    9 min
  • Level Pergumulan
    Kita harus mengukur nilai pencapaian kemuliaan kita. Sehingga kalau kita memeriksa diri kita dengan saksama, kita akan bisa mengerti. Karena bagi orang yang mengasihi Tuhan, ia pasti diproses Tuhan. Di setiap masa dan periode ada pergumulan yang dialami untuk membentuk manusia batiniahnya. Pasti dia memiliki pergumulan sesuai dengan levelnya. Kalau level yang masih ringan, biasanya seseorang menghadapi orang yang membuang muka. Level yang lebih tinggi, dia akan menghadapi orang yang membuang ludah. Tapi level yang lebih tinggi, dia diludahi. Pasti masing-masing kita akan memiliki level. Di sini kita harus bisa menyelesaikannya, agar kita memiliki karakter Ilahi yang permanen. Jadi, ketika kita berkata, “Aku minta kepada-Mu, ya Bapa, hati mengasihi-Mu seperti Yesus,” kita akan dikejar untuk digarap. Lalu kalau kemudian kita bertanya, “Bapa, mengapa aku mengalami ini?” Maka Bapa di surga akan menjawab, “Kamu yang minta, anak-Ku.”
    Kita pasti mengalami proses jatuh bangun, sampai akhirnya dalam titik tertentu kita bernazar, kita berjanji kepada Tuhan untuk hidup suci. Kalau pada kenyataannya nanti kita masih berbuat salah, kita minta ampun, tapi jelas kita tidak memiliki niat sama sekali untuk berbuat salah. Tuhan pasti melihat dan menilai orang yang sungguh mengasihi-Nya. Namun jangan kita kaget jika ada orang yang menilai kita sombong. Dalam hal ini kita tidak usah berdebat, mereka tidak akan mengerti, karena mereka belum selesai. Hidupnya belum selesai; belum selesai dengan dirinya sendiri. Untuk itu, mari kita periksa hidup kita—pergaulan hidup, hubungan dengan orang di sekitar kita—ternyata kita masih banyak cacatnya; apakah itu kesombongan terselubung, ketidaktulusan dan sikap-sikap lain yang kita pandang remeh. Tapi kalau kita belajar untuk benar-benar hidup suci, kita akan melihat kesalahan-kesalahan “remeh” itu. Ketika ada rangsang berbuat dosa, kita ingat bahwa kita sudah berjanji tidak berbuat dosa, maka kita akan menjadi lebih kuat. Kita tidak perlu peduli apa kata orang tentang kita. Kita akan lebih merindukan ada di hadapan takhta pengadilan Kristus, di mana semua keadaan kita akan dibuka, dan akan jelas nyata siapa kita masing-masing.
    Jadi Tuhan Yesus datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa manusia, artinya manusia harus diubah sesuai rancangan Allah semula, dimana Allah menciptakan manusia untuk segambar dan serupa dengan Allah. Namun pada umumnya, orang berpikir dengan kematian Yesus di kayu salib, persoalan dosa sudah selesai. Tuhan Yesus memang berkata, “sudah selesai,” tapi “sudah selesai” untuk tugas yang harus ditunaikan oleh Tuhan Yesus. Dia menyediakan pengampunan dosa, pembenaran. Tetapi proses perubahan yang harus terjadi di dalam kehidupan setiap individu, itu belum selesai. Maka setelah Tuhan Yesus bangkit dari kubur, Tuhan Yesus berkata, “Jadikan semua bangsa murid-Ku.” Yang sama dengan: “Jadikan semua orang untuk dikembalikan ke rancangan semula. Yaitu mereka yang menjadi umat pilihan untuk menemukan kemuliaan Allah yang hilang.” Jadi, surga yang mulia hanya akan dimasuki oleh orang-orang yang sudah mulia; orang yang akan dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Tuhan Yesus akan dimuliakan, karena Tuhan Yesus mulia.
    Ibrani 5:7-9, “walaupun Dia Anak, Dia belajar taat dari apa yang diderita-Nya.” Setelah mencapai kesalehan-Nya—kesalehan yang sempurna—Ia dibangkitkan dari antara orang mati, karena Dia saleh. Kata “saleh” itu sama dengan “suci.” Itu berarti setelah Dia bisa mencapai kemuliaan, menjadi manusia yang meraih kemuliaan, Ia dibangkitkan. Kalau Yesus tidak taat sampai mati, tidak bisa dibangkitkan. Tidak mulia, tidak mungkin dibangkitkan. “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut. Dan karena kesalehan-Nya, Ia didengar.” Bukan mentang-mentang Dia Anak Allah, lalu Allah membangkitkan Dia. Itu di luar tatanan Allah.
    9 min
  • Mengoreksi Diri
    Pada dasarnya, kemuliaan Allah adalah watak Allah, karakter Allah, sifat Allah. Jadi kalau dalam Matius 5:48 Tuhan Yesus berkata “kamu harus sempurna seperti Bapa,” itu sama maksudnya “kamu harus menemukan kemuliaan Allah yang hilang; kamu harus memenuhi dirimu dengan kemuliaan seperti rancangan Allah semula.” Hal itu juga sama dengan yang ketika firman Tuhan mengatakan dalam Filipi 2:5-7, “kamu harus serupa dengan Yesus,” artinya kamu harus menemukan kemuliaan yang hilang atau kurang itu, karena inilah standar kemuliaan Allah. Manusia menjadi segambar dan serupa dengan Allah. “Segambar” artinya memiliki pikiran dan perasaan seperti Allah. Hal menjadi segambar, sudah; karena semua manusia memiliki pikiran dan perasaan. Tetapi manusia juga memiliki keserupaan, yaitu pikiran dan perasaan yang bisa selalu selaras dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga seluruh kehendaknya selalu sesuai dengan kehendak Allah. Jadi, kemuliaan Allah pada dasarnya adalah keberadaan diri untuk bisa selalu sepikiran dan seperasaan dengan Allah, sehingga bisa membuahkan atau memproduksi kehendak yang selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah.
    Pertanyaannya adalah ketika kita mengalami apa yang dialami oleh Tuhan Yesus, reaksi kita terhadap keadaan itu bagaimana? Jujur harus kita akui bahwa dulu kita sering bereaksi salah. Akhirnya ketika sudah usia sudah senja, karakter mengalah tidak pernah terbentuk, karena terbiasa reaksi melawan. Tapi kalau kita belajar mengalah dan diam, maka ketika dapat lagi persoalan yang serupa dan kita tetap mengalah dan diam, maka karakter Kristus akan permanen menjadi karakter kita. Sampai kita tidak bisa menjahati dan menyakiti orang lagi. Maka firman Tuhan mengatakan, “Allah bekerja dalam segala sesuatu” artinya Allah membutuhkan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian untuk mengembalikan umat pilihan-Nya kepada gambar dan rupa Allah; tselem dan demuth Allah. Tidak semua orang menjadi umat pilihan Allah. Ini adalah hak prerogatif Allah. Tidak semua orang memiliki anugerah ini (Ef. 1:4-5), hanya orang yang dipilih. Jadi, memang kita juga tidak boleh mengenakan ukuran kita kepada orang lain; ukuran kita adalah Tuhan Yesus.
    Maka, kita tidak boleh membandingkan diri dengan orang lain—sesama orang Kristen—apalagi dengan orang yang bukan umat pilihan. Karena tidak semua orang mengasihi Allah. Perhatikan, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang yang mengasihi Dia.” Bagi mereka yang tidak mengasihi Tuhan, maka reaksinya terhadap peristiwa-peristiwa yang yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidupnya adalah reaksi yang salah; yang akhirnya mengkarakter seperti anak dunia. Kita pun kalau tidak jujur, tidak tulus, tidak memberi diri diubah, tidak rendah hati, maka makin tua akan makin munafik, walaupun kita bisa tidak kelihatan orang bejat atau tidak melakukan hal-hal yang melanggar moral secara umum. Tetapi, kita tidak pernah terbentuk menjadi manusia yang agung, tidak pernah terbentuk menjadi manusia yang mulia. Maka, kalau kita serius meraih kemuliaan, kita harus mengoreksi diri kita dengan setulus-tulusnya, sedetil-detilnya, sedalam-dalamnya dan sejujur-jujurnya. Dulu kita kalau sudah tidak berbuat salah, kita sudah merasa nyaman saja. Tetapi sekarang kita tidak boleh merasa puas diri kalau kita tidak melakukan perbuatan-perbuatan salah. Kita harus melihat kemungkinan, potensi dosa yang belum hilang. Belum, karena belum ada rangsang. Belum ada satu aksi, dimana belum ada reaksi dari pihak kita.
    Jadi beranjak dari niatan, kita harus memeriksanya dengan jujur. Untuk mengujinya, Tuhan mengizinkan kejadian-kejadian yang terjadi. Maka, mengasihi Tuhan dan memiliki komitmen untuk hidup bagi-Nya memerlukan proses yang luar biasa. Kita harus berani seakan-akan kita memberi nilai terhadap diri kita sendiri. Roh Kudus akan menolong  dan menuntun kita senantiasa. Karena seiring dengan perjalanan waktu mengenal kebenaran, kita akan diajar Tuhan untuk melihat satu profil atau potret d...
    8 min
  • Dirancang untuk Meraih Kemuliaan
    Firman Tuhan mengatakan di Injil Matius 1:19-21, malaikat Tuhan menampakkan diri dalam mimpi kepada Yusuf, ketika Yusuf diam-diam hendak meninggalkan Maria. Ia seorang yang tulus hati, ia tidak mau mencemarkan istrinya di muka umum sehingga mau memikul beban yang dipandang merupakan kesalahan Maria yang hamil di luar pernikahan dengan dirinya. Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksudnya untuk meninggalkan Maria, malaikat Tuhan datang kepadanya dan berkata, “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki, dan engkau akan menamakan dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” Kalimat ini sudah sangat akrab bagi kita, bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan umat dari dosa mereka. Orang sering berpikir tidak perlu dijelaskan lagi karena sudah sangat jelas.
    Tetapi sejatinya, banyak orang Kristen belum tahu maksud “menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”  “Dosa” di situ bukan hanya dalam arti perbuatan yang telah kita lakukan, yang oleh pengurbanan Yesus di kayu salib, dosa kita diampuni, dihapus, atau dianggap tidak pernah ada, tidak pernah terjadi. Oleh darah Tuhan Yesus tersebut, kita dibenarkan di hadapan Allah. Tetapi bukan hanya itu, dosa juga menyangkut kodrat, natur, karakter, sifat yang sudah menyatu di dalam diri seseorang. Jadi kalau Yesus datang menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka, itu bukan hanya berarti Tuhan Yesus mengampuni segala perbuatan salah yang dilakukan, tetapi Tuhan Yesus hendak mengubah manusia dari karakter dosa di dalam diri manusia tersebut menjadi seorang yang kudus; yang berkarakter ilahi.
    Penyelesaian itu harus dilakukan sejak hidup di dunia. Banyak orang tidak mengerti. Mereka tidak tahu bagaimana dengan keadaan keberdosaan atau karakter dosa di dalam dirinya. Sehingga tanpa sadar orang berpikir bahwa seakan-akan Allah menutup mata. Apa pun keberadaan orang tersebut, yang penting Yesus telah mati di kayu salib memikul dosa-dosa, maka sudah selesai. Padahal, Firman Tuhan jelas mengatakan bahwa mereka yang masuk ke dalam surga adalah orang-orang yang kudus, yang tidak bercacat dan tidak bercela. Itu berarti penyelesaian dosa manusia bukan hanya pada perbuatan salah yang telah diselesaikan oleh kurban Tuhan Yesus, tetapi juga keberadaan dosa yang ada pada mereka yang harus diubah; dari kodrat dosa menjadi seorang yang berkodrat ilahi. Dan itu harus sudah berlangsung atau terjadi sejak hidup di dunia.
    Roma 3:23 mengatakan, “karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Artinya semua orang telah berkeadaan berkodrat dosa dan telah kurang kemuliaan Allah; tidak mencapai standar seorang yang memiliki kemuliaan Allah. Jadi, kita adalah orang-orang pilihan Tuhan yang dirancang untuk meraih kemuliaan Allah yang hilang itu. Kita harus mempersoalkan hal ini dengan serius. Semestinya, tidak ada hal yang lebih penting dari persoalan memperoleh atau meraih kemuliaan Allah ini. Mendengar kata “kemuliaan Allah,” juga selama ini pasti orang memandangnya abstrak, tidak jelas. Jangan kita menjadi seperti orang fasik di Mazmur 73 yang pada akhir hidupnya Tuhan katakan, “rupa mereka Kau pandang hina.” Itu sebenarnya sama dengan “mereka tidak memiliki kemuliaan.” Karena mereka biasa membangun kemuliaan di atas materi, kekayaan, pangkat, gelar, kehormatan, sanjungan manusia, dan lain sebagainya. Seiring berjalannya waktu dan proses pembentukan Tuhan, baru kita bisa mengerti dan baru benar-benar mempersoalkan hal meraih kemuliaan Allah yang luar biasa ini.
    Jadi jangan berpikir bahwa kita yang sekarang masih gampang tersinggung, masih mata duitan, masih genit, masih menyenangi dunia ini, lalu ketika mati Tuhan terima, karena Tuhan sudah memikul semua dosa-dosa kita di kayu salib, dan menganggapnya sudah selesai. Jika demikian, maka surga akan dihuni oleh orang-orang yang masih bisa tersinggung,
    9 min
  • Masalah Utama
    Kita memang mungkin tidak berbuat salah, mungkin tidak berbuat dosa, tetapi berkeberadaan kita sebagai pemberontak yang tidak memiliki kemuliaan Allah; karena potensi dosa itu masih ada. Selama ada potensi dosa berarti kita adalah pemberontak. Jangan mempermainkan Tuhan dengan berbuat dosa, minta ampun, selesai. Bersyukur, Bapa tetap mau menerima kita walau kita ini punya hati bejat, pemberontak. Bapa ingat dan melihat darah Yesus yang mengampuni dan membenarkan kita. Lusifer belum berbuat salah nyata-nyata, ia hanya berkata “aku ingin!” Apakah Lusifer lalu bisa menggeser takhta Allah? Tidak. Ia belum punya takhta, ia baru “ingin.” Ini potensi. Jadi, kalau kita memiliki Injil, kebenaran Firman, dan Roh Kudus, kita berjuang memanfaatkan potensi atau kuasa Allah itu. Kuasa Allah itu luar biasa. Sayangnya, tidak banyak orang yang mengalami kuasa Allah ini, karena fokus hidupnya tidak pada masalah utama yang benar.
    Justru masalah-masalah hidup yang terjadi seharusnya mengarahkan kita kepada masalah utama. Memang dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah, sampai kita lupa ada masalah utama: potensi dosa. Mestinya masalah-masalah ini kita lihat dengan sudut pandang yang benar, mengarahkan kita pada masalah utama. Jadi, banyak orang Kristen yang berurusan dengan Allah karena masalah lain, bukan keberadaan dirinya. Sejatinya, apa yang kita nantikan dalam hidup ini? Ayo, kita fokus di sini. Masalah-masalah lain kita selesaikan dengan tanggung jawab. Kuasa Allah yang menyelamatkan itu dapat bekerja maksimal atas orang-orang yang dapat mengerti bagaimana menggunakan kuasa Allah tersebut untuk mengalaminya. Kuasa Allah itu dahsyat. Tapi dari 1000 (istilah nominal angka), apakah kita mengalami 100? Jangan-jangan cuman 1-2. Tidak signifikan mengubah kita. Karena fokus kita itu ke mana-mana; bias.
    Seperti Daud yang mewakili bangsanya melawan Goliat dari bangsa Filistin. Dengan siasat perang yang baru, bangsa Filistin menampilkan Goliat dan menantang bangsa Israel untuk menampilkan seorang pahlawannya. Saul menjadi ketakutan, padahal dia adalah seorang pendekar perang. Tidak ada orang yang berani melawan Goliat pada zaman itu, karena melihat fisik Goliat yang tinggi besar. Tapi Daud tahu bagaimana menggunakan kuasa Allah, sehingga ia dapat merobohkan Goliat. Ini bisa menjadi ilustrasi terkait dengan apa yang kita bicarakan. Kita sering kali ingin menyerah menghadapi dosa dalam diri kita. Melihat rekam jejak hidup kita yang lalu—ketika bersalah dan bersalah lagi—rasanya kita jadi pesimis untuk bisa menjadi benar. Kita menghadapi Goliat di dalam diri kita. Kalau kita menyerah, kita terus dalam cengkraman “Goliat dosa” di dalam diri kita. Tapi kita percaya Allah lebih besar dari kuasa dosa itu, karena ada kuasa yang menyelamatkan. Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan; dan kita percaya. Kita tidak boleh lari dari keadaan keberdosaan kita dan harus berani menghadapinya. Kita mau menjadi seperti Daud yang mengalahkan Goliat; kita mengalahkan potensi dosa.
    Ibrani 12:3-4 mengatakan, “dalam pergumulan kamu melawan dosa, kamu belum sampai mencucurkan darah. Jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.” Jadi memang menghadapi kodrat dosa ini berat. Sikap keliru dalam kehidupan ini juga dapat membuat kita tidak berdaya. Sikap keliru itu membuat kita tidak berdaya, dan kuasa Allah tidak berdaya guna. Tidak berdaya guna dalam hidup kita. Padahal kuasa itu luar biasa. Oleh karenanya, setiap kita harus fokus. Jangan seperti Simson yang memiliki kekuatan yang tak terbatas, tapi tidak fokus pada pekerjaan Tuhan sehingga ia jatuh cinta pada perempuan asing yang tidak baik. Ketika Simson sadar akan keadaannya dan bertobat, maka Simson bisa menggunakan kuasa Allah tersebut dan berkarya besar. Kita juga bisa. Ketika kita sadar ada kuasa Allah yang bisa menyelamatkan kita dari dosa, maukah kita menggunakannya agar kita menjadi manusia yang merdeka dari potensi dosa.
    Lalu, sikap bagaimanakah yang harus kita miliki? Yang pertama,
    0 min
  • Komoditas
    Berbicara mengenai kuasa Allah, hendaknya kuasa Allah tidak dipahami secara mistik atau hanya dikaitkan dengan hal-hal spektakuler, seperti mukjizat. Kuasa Allah ini harus dikaitkan dengan kemampuan Allah untuk menyelesaikan masalah dosa, dan itu harus berkelanjutan. Namun, rata-rata kalau bicara soal kuasa Allah selalu dikaitkan dengan masalah-masalah hidup yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan jasmani. Ini merupakan sebuah penyimpangan. Dalam bahasa aslinya, kata “kuasa” adalah dunamis; yang artinya sesuatu yang menggerakkan. Hanya Allah yang memiliki kuasa ini, yang dapat menyelesaikan masalah potensi dosa ini. Dalam hal ini, kita bergantung sepenuhnya kepada Allah dan kita memang harus berurusan dengan Allah. Jadi, jangan jadikan agama sebagai komoditas untuk memberikan kontribusi atau bantuan bagi masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. Sebab kalau menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani, kuasa kegelapan juga dapat memfasilitasinya.
    Jadi kalau Injil hanya dikaitkan dengan pemenuhan kebutuhan jasmani yang dipahami sebagai kabar baik, dan kuasa Allah hanya dikaitkan dengan penyelesaian masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani, maka pemahamannya akan bersifat mistisis—hal-hal yang terkait dengan mukjizat dan hal-hal spektakuler—sehingga gereja mengalami penyesatan, penyimpangan. Kalau pikiran orang Kristen dipenuhi oleh masalah-masalah dunia fana yang oleh karenanya melibatkan Tuhan dan kuasa-Nya itu, ini menjadi batu sandungan bagi Tuhan dalam menggarap orang percaya. Sebagaimana Tuhan Yesus pernah menghardik Petrus di Matius 16:23, “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” Orang Kristen yang memikirkan perkara-perkara dunia tidak akan pernah dapat diubah oleh Allah. Tidak bisa. Harus diakui bahwa melepaskan percintaan dunia itu berat. Tapi kalau kita tidak mulai selangkah demi selangkah, maka tidak bisa; harus lewat proses. Tapi, komitmennya harus sudah ada, dan tekad itu kuat, tidak boleh lemah. Harus di-update setiap hari.
    Bagi kita yang serius dan punya komitmen, Tuhan akan garap. Ibarat ayam, sebelum digoreng harus terlebih dahulu dirontokkan bulunya, kemudian dimasukkan ke dalam air panas, dipotong-potong, barulah digoreng, agar jadi ayam goreng. Kalau hidup kita mau mau dinikmati Tuhan, harus bersedia ‘digoreng’ oleh-Nya. Tapi ayam yang masih banyak bulunya tidak bisa digoreng. Ketika Yesus mengosongkan diri, Ia pun dirontokkan semua. Sejujurnya, tidak ada orang yang mau direndahkan, diinjak-injak, dihina. Tapi kalau tidak begitu, kita tidak pernah dirontokkan. Kalau kita sudah tidak rindu Tuhan, pasti ada yang lain yang dirindukan. Ada perselingkuhan dengan sesuatu di luar Tuhan. Jadi, kebenaran-kebenaran Firman ini akan mengubah kita. Jangan diganti dengan sistematika dogmatika, yang memang diwariskan dari generasi ke generasi. Kalau hanya menjadi rumusan dogmatika, maka Firman Tuhan menjadi huruf-huruf mati yang tidak berkuasa mengubah manusia. Orang percaya tidak akan mampu menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tipu daya kuasa gelap. Jadi, kuasa Allah adalah Firman dan Roh Kudus.
    Gereja hari ini membutuhkan pewahyuan-pewahyuan dari kebenaran Firman yang dapat mencerahkan pikiran dan memberikan kecerdasan rohani, untuk menghadapi perubahan zaman yang begitu cepat dan tipu muslihat atau tipu daya kuasa kegelapan. Gereja bukan hanya membutuhkan orang-orang yang memiliki kualifikasi akademis, tetapi gereja membutuhkan orang-orang yang haus dan lapar akan kebenaran. Yaitu orang-orang yang rela meninggalkan dunia dengan segala kesenangannya, berkomitmen untuk hidup kudus; tidak bercacat dan tidak bercela. Orang-orang yang memburu Tuhan untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagi generasi sekarang ini. Tentu mereka adalah orang-orang yang hidup hanya untuk menyenangkan perasaan Allah. Kepada orang-orang seperti inilah Tuhan mewahyukan kebenaran-kebenaran Firman yang dibut...
    0 min
  • Potensi Dosa
    Dalam Roma 1:16-17 firman Tuhan mengatakan bahwa Injil adalah kuasa Allah yang menyelamatkan. Ayat ini sudah sangat populer; sering diperdengarkan atau dikhotbahkan. Apa sebenarnya maksud kalimat ini? Injil artinya kabar baik. Kuasa Allah artinya kemampuan atau kekuatan Allah. Jadi, kabar baik adalah kemampuan atau kekuatan Allah yang menyelamatkan. Menyelamatkan artinya membebaskan manusia dari dosa. Tentu dosa di sini harus dimengerti bukan hanya menyangkut perbuatan yang dilakukan, tetapi potensi melakukan perbuatan itu yang harus selalu kita ingat. Seseorang yang tidak berbuat salah bukan berarti hidup dalam ketidakbersalahan. Seseorang yang tidak berbuat dosa bukan berarti tidak ada keberdosaan. Yang mau diselesaikan ini adalah keberdosaan atau keberadaan salah karena adanya potensi dosa di dalam diri seseorang.
    Kalau Injil hanya menyelamatkan manusia dari perbuatan dosanya, maka tidak perlu ada kebenaran yang diajarkan dalam Injil, dan juga tidak perlu Roh Kudus. Tuhan Yesus juga tidak perlu tiga setengah tahun memberitakan kebenaran dan menjadi teladan. Jika Dia datang menjadi anak tukang kayu, namun tidak dibaptis dan tidak disalib berarti Dia hanya menyelesaikan akibat perbuatan dosa, tetapi tidak menyelesaikan potensi dosa atau kodrat dosa di dalam diri manusia. Justru kebenaran Injil dan Roh Kudus merupakan kuasa Allah untuk menyelesaikan masalah keberadaan manusia yang berpotensi memberontak kepada Allah. Sebab selama masih ada potensi dosa berarti masih ada potensi memberontak.
    Hal kebersalahan dan keberdosaan itu bukan hanya ditentukan dengan perbuatan dosa yang dilakukan, tetapi potensi dosa di dalam dirinya. Jadi kalau kita mau masuk surga, apalagi menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, kita harus menerima penggarapan Allah supaya potensi dosa di dalam diri kita dihancurkan. Inilah kabar baik itu. Kabar baik terkait dengan kuasa Allah yang menyelamatkan. Jadi, jangan diisi dengan pengertian lain. Kabar baik adalah kuasa dari Allah yang bisa menyelesaikan masalah keberdosaan manusia. Bukan hanya menyelesaikan akibat perbuatan dosa, tetapi potensi dosa itu. Kata “baik” tentu harus diisi dengan pengertian yang benar. Dalam sejarah gereja sampai hari ini, telah terjadi banyak penyimpangan terhadap pengertian Injil. Kata “baik” sering diartikan sebagai “cara mudah masuk surga.” Makanya orang-orang Kristen yang naif sering berbangga diri memiliki Yesus, karena merasa sudah memiliki cara mudah masuk surga.
    Banyak orang Kristen naif yang mencibir perbuatan baik lalu berkata, “Kamu berbuat baik apa pun tidak akan selamat, karena keselamatan bukan karena perbuatan baik.” Tetapi itulah yang diajarkan secara implisit, bahwa keselamatan tidak perlu disertai perjuangan. Perjuangan dipandang sebagai sikap tidak menghargai anugerah; seakan-akan perjuangan dipandang sebagai menyangsikan kasih karunia yang diberikan Allah. Perbuatan baik sering dicurigai sebagai usaha mendapatkan keselamatan dengan cara sendiri. Dikesankan pula bahwa dalam anugerah, manusia hanya menerima apa saja yang ditentukan oleh Allah. Bagi orang Kristen pada umumnya, Allah sudah menentukan mereka masuk surga. Ironinya, pemikiran ini sudah terpola menjadi premis dan landasan berpikir yang kuat. Cara berpikir seperti ini dikaitkan dengan kabar baik sebagai cara mudah masuk surga tanpa perjuangan.
    Kesalahan ini telah diwarisi dari tahun ke tahun. Bahkan sebenarnya dari abad ke abad, sehingga telah membangun landasan berpikir atau premis bahwa keselamatan itu sudah otomatis dimiliki orang Kristen yang mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Sejatinya, ini adalah kemelesetan cara berpikir terbesar yang membuat banyak orang Kristen tidak pernah mengalami dan memiliki keselamatan. Sebab penyelesaiannya hanya penyelesaian akibat perbuatan dosa, tetapi tidak benar-benar menyelesaikan potensi dosa itu. Padahal, Alkitab berkata, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Ironis, akibat salah pengertian terhadap kekristenan te...
    0 min
  • Menjual Diri
    Hidup ini adalah perjuangan untuk menjadi berkenan yang harus dimulai dari dalam diri kita sendiri. Allah menyediakan sarana untuk proses pendewasaan atau penyempurnaan. Ada banyak peristiwa, banyak kejadian yang Tuhan izinkan kita alami, dimana kita harus memilih: apakah hidup menurut Roh, atau hidup menurut daging. Kalau kita membiasakan diri hidup menurut Roh, maka ketika ada peristiwa yang menyakitkan, kita akan dapat berkata, “ya, sudahlah;” “semua bisa dilewati.” Justru hal ini membentuk kita memiliki karakter Kristus, membentuk kelemahlembutan yang permanen. Bukan lemah lembut yang terpaksa; karena menghadapi orang yang lebih kuat, kita mengalah; tapi menghadapi orang lebih lemah, kita injak. Itu bukan lemah lembut yang benar. Lemah lembut yang benar adalah akumulasi dari gairah demi gairah yang benar sampai membangun karakter lemah lembut permanen. Jadi, jangan kita menjual diri kepada kuasa gelap hanya untuk kesenangan sesaat.
    Terkadang kita lebih takut manusia daripada Tuhan. Demikian juga mengenai keinginan kita, dimana kalau kita membiasakan diri selalu memuaskan diri untuk memperoleh apa yang kita ingini—walaupun yang kita ingini itu bukan sesuatu yang melanggar moral umum, tetapi Allah tidak menghendakinya—ini juga merupakan pelanggaran. Kita merasa sah-sah saja dengan semua keinginan tersebut. Tapi jujur saja, di balik apa yang kita ingini, sering kali termuat kepuasan diri, atau kehormatan atau nilai diri. Kita harus ingat bahwa ketika kita menerima penebusan oleh Tuhan Yesus, berarti segenap hidup kita—termasuk pikiran, perasaan yang melahirkan kehendak—telah dimiliki oleh Tuhan. Bila yang kita ingini tidak sesuai dengan keinginan Tuhan, berarti kita menolak melayani Tuhan. Menolak melayani Tuhan bukan hanya berarti kita tidak mau mengambil bagian dalam kegiatan pelayanan gereja. Tetapi ketika kita menolak apa yang Allah ingini, kita menolak Tuhan.
    Galatia 5:24-25 mengatakan, “Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh.” Jadi, kita tidak berhak mengingini sesuatu yang tidak dikehendaki atau tidak diingini oleh Tuhan. Tapi kita ini sudah banyak meleset, dan merasa sah-sah saja punya keinginan apa. Dengan mengingini sesuatu, maka jiwa hati kita terarah kepada sesuatu itu, dan kita menghamba kepadanya. Kita berpikir, kita tidak menghamba kepada Iblis, padahal sejatinya kita menghamba kepada Iblis, karena Iblis diwakili oleh “sesuatu” itu. Seperti di Lukas 4:5-8 Iblis berkata, “Kuberikan dunia ini kepada-Mu kalau Kau menyembah aku.” Dengan kita memfokuskan diri pada kekayaan dunia, kita sedang menyembah Iblis.
    Menyembah Iblis di sini sama dengan menjual diri kepada kuasa kegelapan. Orang yang menjual diri kepada kuasa kegelapan dapat nampak normal secara lahiriah. Mereka tetap bekerja, menjalankan aktivitas, berkeluarga, bahkan bisa dihormati oleh masyarakat umumnya. Bahkan sebagian besar di antara mereka memiliki harta dan pengaruh di masyarakat. Bisa jadi mereka juga orang yang dipandang bermoral dan agamis di masyarakat. Namun secara batiniah sebenarnya mereka terjual pada kuasa kegelapan. Mereka tidak pernah mengalami penyempurnaan untuk semakin seperti Kristus. Mereka diparkir untuk menjadi manusia yang santun dan bermoral, tetapi tidak pernah menjadi seperti yang Allah kehendaki. Dengan demikian, mereka tidak memenuhi rancangan Allah semula dan menjadi bilangan orang-orang yang mengakhiri perjalanan kuasa kegelapan.
    Sejatinya, setiap orang percaya dipanggil bukan hanya untuk percaya, tetapi mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Hal ini sama dengan pernyataan Paulus dalam Filipi 1:29, Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia. Menderita untuk Tuhan paralel dengan menjaga hidup dalam kesucian yang bermuara pada keserupaan dengan Tuhan Yesus.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…