Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Mencari Tuhan
    Firman Tuhan mengatakan “carilah Tuhan.” Apa sebenarnya yang dimaksud dengan mencari Tuhan itu? Mencari Tuhan artinya berusaha untuk mengalami Tuhan di dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata, serta berjalan bersama dengan Dia setiap hari. Jadi, mencari Tuhan itu usaha kita untuk mengalami Tuhan dalam perjumpaan dengan Tuhan yang hidup, Tuhan yang nyata, serta berjalan dengan Tuhan setiap hari. Dalam hal mencari Tuhan, pada dasarnya sama dengan berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan rencanakan untuk kita lakukan dan kita penuhi dalam hidup ini. Tentu kehendak dan rencana Allah dalam hidup masing-masing kita itu berbeda. Maka, setiap orang, setiap individu harus menemukan apa kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing, dan apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita masing-masing untuk kita penuhi.
    Sejatinya, Tuhan tidak pernah hilang; Ia selalu ada. Manusialah yang hilang karena memilih jalannya sendiri, tidak hidup menurut jalan Tuhan. Banyak orang tidak memedulikan apa artinya mengalami perjumpaan dengan Tuhan dan berjalan bersama Dia, tidak peduli akan kehendak Allah dan rencana-Nya untuk dilakukan dan dipenuhi. Manusia yang terhilang adalah manusia yang tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, dan tidak berjalan bersama dengan Tuhan setiap hari. Tentu orang-orang seperti ini tidak mengerti kehendak Allah dalam hidupnya dan rencana Allah dalam hidupnya untuk dipenuhi. Jadi, ketika kita hidup dalam kehendak dan rencana kita sendiri dan kita tidak merasakan tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, sejatinya kita sedang terhilang.
    Roh Kudus pasti mengingatkan, menegur agar kita bertobat. Sebab tanpa kekudusan, tidak seorangpun melihat Allah. Tetapi kalau peringatan dan teguran Roh Kudus diabaikan, tidak dipedulikan, orang itu akan benar-benar terhilang sampai selama-lamanya. Jadi kalau Firman Tuhan mengatakan, “jangan sampai matahari terbenam sementara kau masih marah,” artinya marah itu bisa saja, tetapi harus dilokalisir, lalu diselesaikan. Itulah sebabnya firman Tuhan mengatakan, “Carilah Tuhan selama Ia berkenan ditemui.” Jadi, kalau kita serius mau hidup selalu ada di hadirat Tuhan, kita harus selalu memeriksa diri. Kalau ada sesuatu yang salah, kita langsung minta ampun. Dan kebiasaan itu, akan membuat kita memiliki naluri hidup bersih. Jadi kalau kita salah, kita mudah tertuduh, sejahtera kita akan hilang. Karena kita telah keluar dari lingkaran hadirat Allah, maka kita sadar dan kita tersiksa.
    Bagaimana cara kita mencari Allah? Pertama, kita harus sungguh-sungguh setiap hari menyediakan waktu untuk berjumpa dengan Tuhan dalam jam doa, dalam saat teduh. Betul-betul kita memang menyediakan waktu untuk bertemu Tuhan. Kita punya waktu bertemu dengan orangtua, punya waktu bertemu dengan pasangan hidup, punya waktu bertemu dengan anak-anak, dengan keluarga, ada waktu untuk jalan-jalan dengan keluarga. Pada waktu kita datang ke hadirat Allah, itu harus kita anggap sebagai prime time kita, lebih dari semua waktu yang kita gunakan. Di sini, akan tampak keseriusan kita memercayai Allah yang tidak kelihatan; memercayai Allah yang tidak tampak. Bisa berminggu-minggu kita seakan-akan bicara ke udara kosong. Tetapi kita harus setia, tekun terus mencari wajah Tuhan sampai kita menemukannya. Ada pengalaman-pengalaman luar biasa yang nanti kita akan alami di situ. Kalau kita tidak memulai sekarang, kita tidak akan pernah memiliki jam pertemuan dengan Tuhan. 
    Kedua, kita harus menemukan kebenaran melalui Alkitab. Hal ini bisa melalui pembacaan Alkitab, buku-buku rohani, atau khotbah. Untuk ini, kita harus selektif. Siapa yang harus kita dengar, buku mana yang harus kita baca. Ketiga, kita harus memperhatikan setiap kejadian yang kita alami, karena itu merupakan cara Allah mendewasakan. Dalam hal ini, dewasa itu sama dengan suci. Suci itu bukan hanya berarti bersih, tetapi memiliki pikiran dan perasaan yang tajam, sehingga semua kehendak kita yang dilahirkan dari pikira...
    0 min
  • Temukan dan Selesaikan
    Mari kita benar-benar serius memikirkan satu hal yang pasti akan kita alami, yaitu ketika kita menghadap Tuhan. Masalahnya, apakah kita sudah menyelesaikan tugas yang Tuhan percayakan kepada setiap orang? Tuhan pasti menyediakan atau memberi tugas atau pekerjaan kepada masing-masing individu, khususnya kita sebagai anak-anak Allah, dimana kita telah ditebus oleh darah Tuhan Yesus, dan semua kita menjadi anak-anak tebusan yang sama menjadi pelayan atau hamba atau budak-budak, atau hamba-hamba Tuhan Yesus. Pasti kita masing-masing ini memiliki tugas. Namun, banyak orang—jangankan menyelesaikan tugas—tugasnya apa, juga tidak tahu. Mereka tidak melakukan tugas atau pekerjaan yang Allah percayakan kepadanya atau Allah sediakan baginya, karena tidak tahu tugasnya itu apa. Ini benar-benar sangat mengerikan! Jangan kita memandang hal ini seperti hal yang remeh. Kelak, kita akan berada di hadapan takhta pengadilan dan gemetar ketakutan kalau kita tidak menyelesaikan tugas yang diberikan.
    Oleh sebab itu, sejak sekarang ini, sejak kita masih hidup di bumi—artinya sejak kita masih memiliki kesempatan—kita harus menemukan tugas bagian kita, pekerjaan yang dipercayakan Allah kepada kita masing-masing secara pribadi, yang tidak sama dengan tugas yang Allah berikan kepada yang lain. Jadi, setiap kita pasti memiliki pekerjaan, tugas, misi yang khusus, dan itu harus kita temukan. Masalahnya, mengapa orang tidak mengetahui tugas yang dipercayakan kepadanya? Banyak penyebabnya. Di antaranya, orang sibuk dengan persoalan hidupnya sendiri karena tidak mengerti tujuan hidup ini. Kalau seseorang tidak mengerti alasan dia hidup, ia tidak akan mungkin bersentuhan, berinteraksi, bergaul, atau berjalan dengan Allah. Orang seperti itu pasti memiliki hidup yang sama dengan anak-anak dunia yang adalah anak-anak asuh kuasa gelap atau anak-anak setan yang dipersiapkan untuk menuju kegelapan abadi. Memang mereka bukan orang-orang biadab, bukan orang-orang jahat. Mereka bisa merupakan orang-orang yang kelihatannya baik-baik, santun, taat hukum, warga negara yang baik di mata dunia. Tetapi, mereka tidak mengerti apa kehendak Bapa di dalam hidup mereka, karena mereka memiliki dunia sendiri.
    Mestinya, kita sebagai anak-anak Allah memiliki kawasan lain, yaitu kawasan ilahi. Namun kalau seseorang sudah terlalu sibuk dengan kesenangan sendiri, dengan cara berpikir anak dunia, ia tidak akan bisa mengerti kawasan hidup sebagai anak-anak Allah, sehingga tidak akan mengerti apa rencana Allah, kehendak Allah baginya. Banyak orang tidak mau teliti akan setiap hal yang ia harus jalani seperti yang Allah Bapa kehendaki. Mereka juga tidak terlalu peduli., asalkan mereka masih berpredikat baik, santun, tidak melanggar hukum, tidak melakukan skandal-skandal yang membuat malu atau reputasi rusak, mereka merasa cukup. Sejatinya, banyak kemelesetan dari apa yang kita ucapkan, kita lakukan. Walaupun di mata manusia wajar, tetapi itu meleset dari kehendak Allah. Kemelesetan-kemelesetan ini membuat mata kita kabur, telinga kita tuli, sehingga kita tidak melihat, dan kita tidak mendengar apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan di setiap harinya. Hal ini membuat kita tidak akan bisa mengerti proyek yang Allah percayakan kepada kita.
    Ironis sekali, jika kita ada di ladang Tuhan—melakukan pelayanan misi, penginjilan, dan sebagainya—tetapi kita tidak tepat melakukan apa yang sebenarnya menjadi bagian kita. Atau, bisa saja itu menjadi bagian kita atau menyentuh bagian kita, tetapi kita melakukannya tanpa mengerti perasaan Allah atau kita tidak melakukan dalam kesadaran yang benar—karena pasti di situ banyak agenda pribadi kita—maka, masih terjadi kemelesetan di situ. Tapi oleh berkat dan belas kasihan Tuhan, Tuhan memperbarui cara kita berpikir. Mulailah dengan melakukan kehendak Allah dari hal-hal sederhana dan kecil, seperti dari ketepatan berbicara, ketepatan bertindak, ketepatan berpikir, berperilaku. Dari hal itu, jangan muluk-muluk.
    0 min
  • Menjadi Kekasih Tuhan
    Kita harus terus bertumbuh dalam pengertian akan kebenaran, dan bertumbuh dalam pengalaman berjalan dengan Tuhan, sampai akhirnya kita mengerti dan menghayati bahwa satu-satunya kebutuhan kita adalah Tuhan. Makna yang terkandung di balik kalimat ini—bahwa satu-satunya kebutuhan kita adalah Tuhan—jauh dari dugaan banyak orang, termasuk sebagian kita. Ternyata, tidak mudah untuk memercayai bahwa Allah itu adalah Allah yang hidup. Pada waktu seseorang ada di dalam keadaan krisis—di ujung maut—pada waktu itulah ia bisa menghayati dengan benar, dengan utuh, bahwa kebutuhan kita itu hanya Tuhan saja. Tetapi seharusnya kita jangan menunggu ada dalam situasi krisis dan kritis, baru bisa menghayatinya. Itu tidak proporsional dan tidak natural. Mestinya, justru ketika kita tidak dalam keadaan bahaya, tidak dalam keadaan terancam, tidak dalam keadaan kritis dan krisis, kita sudah mengatakan, “Hanya Engkau yang kuperlukan, Tuhan.”
    Kegagalan hidup—studi, rumah tangga, karier, sakit, dalam kemiskinan—seakan-akan membuat langit hidup kita rubuh, dan biasanya kita lebih bisa lebih menghayati bahwa Allah itu hidup, hanya Dialah kebutuhan kita. Sejatinya, kita harus berani berkomitmen bahwa yang kita butuhkan itu hanya Tuhan. Di sini, kita baru bisa memuja Tuhan dengan benar. Jikalau ini ditujukan kepada Tuhan, kita beruntung sekali karena kita akan menjadi kekasih Tuhan. Bapa orang percaya, Abraham, ketika diperintahkan menyembelih anak satu-satunya kesayangannya, dia melakukannya demi Allah. Hal ini mengisyaratkan bahwa tidak ada yang lebih berharga dalam hidup Abraham selain Tuhan. Ketaatan Tuhan Yesus sampai mati di kayu salib juga menunjukkan tidak ada yang lebih berharga dari diri-Nya selain Allah Bapa. Ada banyak tokoh iman dalam Alkitab yang menjadi kekasih Tuhan; Ayub, Nuh, Yusuf, Daniel, Daud. Orang-orang percaya di abad mula-mula juga kekasih Tuhan yang rela menderita demi imannya, sehingga Tuhan Yesus berkata kepada Saulus, “Saulus, Saulus mengapa engkau aniaya Aku?”
    Kalau saat ini kita mau mengambil keputusan untuk berkomitmen menjadikan Tuhan itu satu-satunya yang kita butuhkan, kita akan diajar Tuhan banyak hal, dan kita akan benar-benar diistimewakan Tuhan. Tetapi, di sisi lain, Iblis akan menyerang habis-habisan. Iblis tidak takut orang menjadi Kristen, menjadi aktivis, menjadi pendeta, menjadi ketua sinode, ketua STT, tapi Iblis tidak mau kita menjadi kekasih Tuhan. Maka, dia akan berusaha menggunakan segala cara untuk merusak pikiran, merusak hati, merusak kehidupan kita dengan segala cara agar kita jangan menjadi kekasih Tuhan. Tetapi kalau kita berkomitmen lebih teguh lagi, pencobaan serangan Iblis tidak akan membuat kita jatuh, sebaiknya, membuat kita naik. Hal ini tergantung niat, tekad kita. Dan kalau kita menjadi kekasih Tuhan, Tuhan pasti pedulikan semua kebutuhan kita. Tuhan juga pasti akan melindungi kita dari segala ancaman dalam hidup kita. Pertama, dari kuasa gelap. Kedua, dari diri kita sendiri/kedagingan kita yang bisa membinasakan kita. Ketiga, dari pengaruh dunia kita yang jahat. Keempat, dari bencana dan malapetaka. Dan terakhir, dari orang-orang yang bermaksud jahat terhadap kita. Pasti Tuhan melindungi kalau kita menjadi kekasih Tuhan. Dan luar biasa, orang-orang yang kita kasihi, juga dikasihi Tuhan. 
    Jadi, kita bisa melindungi orang-orang yang kita kasihi dengan cara kita menjadi kekasih Tuhan; pasangan hidup, anak, menantu, cucu, teman, sahabat, dan lainnya. Mari kita berlomba untuk ini. Seperti ayat firman Tuhan di dalam Mazmur 42:5, “Inilah yang hendak kuingat, sementara jiwaku gundah gulana; bagaimana aku berjalan maju dalam kepadatan manusia, mendahului mereka melangkah ke rumah Allah dengan suara sorak-sorai dan nyanyian syukur, dalam keramaian orang-orang yang mengadakan perayaan.” Kiranya seperti pemazmur, mari kita mendahului mereka mencari Tuhan dan menjadi kekasih Tuhan. Untuk itu, bulatkan tekad hati kita untuk menjadi kekasih Tuhan.
    0 min
  • Kontrak Perjanjian
    Kalau tidak mulai sekarang kita memindahkan hati di dalam Kerajaan Surga, kita tidak akan pernah bisa memindahkan hati. Maka, kita harus bertekad untuk memindahkan hati kita di dalam Kerajaan Surga. Di dalam Kolose 3:3-4 dikatakan, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Sejatinya, sebagai orang percaya, kita sudah menandatangani kontrak perjanjian dengan Tuhan, yaitu ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Ada kontrak perjanjian bahwa hidupnya sudah mati tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Artinya, kita sudah tidak boleh lagi memiliki cita-cita, keinginan, dan ambisi apa pun. Kalau kita memiliki keinginan, cita-cita, ambisi, hal itu harus lahir dari hati Allah yang ditaruh di dalam hati kita, sehingga keinginan kita benar-benar merupakan keinginan Tuhan. Ini memang sulit. Bahkan, kalau bisa dikatakan, ini mustahil. Tetapi Tuhan akan memimpin kita; “Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.”
    Alkitab menceritakan bahwa orang kaya di Matius 19 itu tidak bersedia menjual segala miliknya dan membagikannya kepada orang miskin. Mengapa? Karena di dalam kekayaan, di dalam kehidupan yang dia jalani, dia masih bisa menyalurkan keinginan, cita-cita, dan ambisi. Kalau dia menyerahkan seluruh hartanya dan membagikannya kepada orang miskin, dia seperti orang yang dikubur, seperti orang yang dieksekusi hukuman mati. Tetapi sejatinya, itulah kontrak perjanjian orang percaya dengan Tuhan. Kiranya kita makin menyadari, bahwa di hari-hari terakhir ini, kita sering melanggar kontrak perjanjian kita kepada Tuhan. Kita masih menikmati kesenangan-kesenangan yang menurut kita membuat hidup kita lengkap dan bahagia. Mestinya hidup kita lengkap dan bahagia hanya di dalam Tuhan. Ini yang harus kita latih terus, yaitu bagaimana memindahkan hati di Kerajaan Surga, bahwa hidup kita telah mati hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, tidak ada yang kita harapkan lagi dari dunia ini. Ini akan menjadi hal yang sangat sulit, dan bahkan mustahil. 
    Dalam kehidupan umum, kita melihat orang-orang yang sudah sangat sulit berubah, bahkan mungkin tidak bisa berubah lagi. Mereka bukan orang-orang jahat, mereka bukan orang-orang yang berada di luar lingkungan gereja dan pelayanan. Mereka adalah orang-orang yang ada di dalam kegiatan pelayanan dan memiliki kedudukan di dalam pelayanan. Entah sebagai aktivis, pengerja gereja, bahkan gembala sidang atau gembala gereja; tetapi sudah tidak mampu memindahkan hatinya ke dalam Kerajaan Surga. Hal ini bisa kita lihat dari gejala jiwa yang terekspresi dalam sikap dan tindakannya. Jadi, gejala jiwa yang terekspresi dalam tindakan-tindakan yang itu menunjukkan kita sudah atau belum memindahkan hati di Kerajaan Surga. Kebanggaan-kebanggaan terhadap sesuatu, ucapan yang mau menonjolkan diri, kata-kata sembarangan yang ditujukan kepada seseorang, teganya kita melukai dan mengkhianati sesama, itu merupakan gejala jiwa dari orang-orang yang belum memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Ini yang menjadi keprihatinan kita.
    Ketika seorang seorang gembala sidang berambisi memiliki gereja besar, itu saja menunjukkan bahwa dia belum memindahkan hatinya di Kerajaan Surga. Tidak salah punya gereja besar, tidak salah aktif untuk memajukan gereja. Tetapi kalau indikasinya adalah karena mau menjadi seseorang yang terhormat, itu salah. Masalahnya, jarang orang mau jujur melihat diri sendiri. Lebih banyak orang terbiasa untuk meliciki dirinya sendiri. Kebanggaan terhadap barang-barang yang kita miliki, kesenangan kita tampil di depan umum, punya kedudukan, orang yang masih mencari panggung sekecil apa pun, sependek apa pun panggung itu. Dia belum memindahkan hatinya di dalam Kerajaan Surga. Kalau di lingkungan gereja saja tidak sedikit orang-orang yang seperti ini,
    0 min
  • Rencana Tuhan dalam Hidup Kita
    Cerita tentang ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita, tentu tidak asing lagi. Ketika ketidakadilan seakan-akan memperoleh kemenangan, dan orang baik tertindas, serta kehilangan hak-haknya secara proporsional, kita bermaksud hendak menegakkan keadilan, tetapi kita tidak berdaya sama sekali. Kita hanya bisa menjadi marah, dan tidak tahu apa yang harus kita lakukan. Inilah dunia; di manapun, dunia dipenuhi orang-orang jahat yang melakukan berbagai ketidakadilan. Ketika ketidakadilan seakan-akan memperoleh kemenangan, sesungguhnya inilah saat dimana kejahatan manusia sedang dimatangkan. Kejahatan sedang “disempurnakan,” agar para pelaku ketidakadilan semakin pantas mendapatkan hukuman. Sebaliknya, kita harus memasuki proses dimatangkannya kesucian kita. Keadaan dunia yang jahat dan tidak adil ini menginspirasi kita agar kita tidak ikut terjerembab ke dalam lubang yang sama. Harus selalu kita ingat bahwa pengadilan Tuhan akan digelar, dan pasti berlangsung dengan adil.
    Sebagai orang yang ber-Tuhan, kita harus dapat membuktikan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang benar. Untuk itu, kelakukan kitalah yang membuktikannya. Sebab, pembelaan kita bagi Tuhan bukanlah dengan tindakan kekerasan yang menggunakan kekuatan fisik, melainkan dengan perilaku yang agung seperti perilaku Tuhan Yesus yang kita sembah. Salah satu tokoh iman Perjanjian Lama yang bisa kita teladani adalah Yusuf. Arti nama ‘Yusuf’ adalah to save, savior; menyelamatkan. Terkait dengan nama Yosua, Yasa. Oleh karena Yusuf lahir dari istri yang paling dicintainya, Rahel, maka Yusuf pun menjadi anak kesayangan Yakub. Yusuf diperlakukan sangat baik oleh ayahnya, lebih dari anak-anaknya yang lain.
     Sejak muda, Yusuf sudah dipilih Allah. Allah merancang Yusuf sebagai penyelamat, sesuai dengan arti namanya. Rencana Allah yang besar diberitahukan kepada Yusuf melalui mimpi (Kej. 37:5-11). Mimpi yang diceritakan kepada saudara-saudaranya membuat mereka marah dan iri kepada Yusuf, sehingga Yusuf diperlakukan sewenang-wenang, nyaris dibunuh, dan kemudian dijual sebagai budak di Mesir. Masa depan Yusuf suram, gelap tertutup awan. Tapi Yusuf mengerti bahwa Allah membangun harapan dalam ketiadaan harapan. Yusuf menjadi budak di rumah Potifar. Yusuf dirancang untuk menjadi seorang besar, tetapi ia harus masuk dalam penderitaan. Tuhan terlebih dahulu membuat Yusuf seakan-akan tidak punya masa depan. Untuk menggenapi rencana Allah dalam hidup seseorang, harus ada proses. Kejadian 39:1-20 mencatat proses pembentukan Allah terhadap Yusuf.
    Allah pun memiliki rencana bagi setiap individu. Namun demikian, tanggung jawab dan respons individu agar tergenapinya rencana Allah itu berperan sangat penting, karena manusia bukan robot yang di remote control. Manusia diberi kehendak bebas. Maka, apakah seseorang memenuhi rencana Allah atau tidak, tergantung dirinya. Kalau kita lihat di ujung akhir zaman ini, kita harus berjuang untuk kehidupan yang benar-benar berkenan kepada Allah, dan kita harus benar-benar menggenapi rencana Allah. Maka, kita mempersiapkan diri untuk menyongsong kedatangan Tuhan, untuk menghadapi kenyataan kita menghadap takhta pengadilan Allah. Persiapan diri itu tidak akan membuat kita rugi, karena persiapan kita tidak akan pernah hilang, persiapan kita menjadi harta abadi.
      Ketika Yusuf digoda oleh istri Potifar, dengan berani ia menolak ajakan berbuat dosa dengan mengatakan: “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” Lihat bagaimana Iblis mau menyimpangkan fokus Yusuf yang mau menjadi alat dalam tangan Tuhan. Posisi Yusuf makin gelap ketika ia difitnah oleh istri Potifar. Yusuf dimasukkan ke dalam penjara. Pada akhirnya hidupnya, Yusuf menjadi raja di Mesir. Dari perjalanan hidupnya, kita dapat satu pelajaran penting, yaitu ketika kita hidup dalam kesucian dan ketaatan kepada Tuhan—walau masa depan kita seperti makin suram, makin redup, makin gelap—Tuhan pasti akan mewujudkan rencana-N...
    0 min
  • Menolak
    Dalam kisah Nuh, Tuhan bukan hanya berniat menyelamatkan keluarga Nuh, tetapi juga orang-orang yang mau masuk ke dalam bahtera, namun mereka menolaknya (Kej. 6-8). Pada zaman Nuh, orang sibuk makan dan minum, kawin dan dikawinkan sampai tidak memedulikan keselamatan. Dalam Alkitab, Nuh disebut sebagai pemberita kebenaran (2Ptr. 2:5). Tentu Nuh sudah berusaha mengajak orang-orang untuk ikut “proyek penyelamatan,” tetapi ternyata tidak ada yang mau. Dikatakan pula dalam 1 Petrus 3:20, bahwa Tuhan dengan sabar menantikan mereka untuk bertobat, sementara Nuh membuat bahtera. Bertahun-tahun Nuh memberitakan kebenaran atau seruan pertobatan dan Tuhan dengan sabar menunggu mereka untuk mengubah hati agar ikut proyek keselamatan bersama Nuh, tetapi mereka tetap mengeraskan hati. Sehingga, Tuhan membinasakan mereka semua. Penolakan manusia pada zaman Nuh tentu bukan rekayasa Tuhan atau Tuhan telah membuat mereka tidak dapat menerima pertolongan Tuhan.
     Bahtera itu adalah jalan keselamatan agar keluarga Nuh, dan semua orang yang mau masuk ke dalam bahtera tersebut terhindar dari malapetaka. Bahtera itu adalah kasih karunia Tuhan untuk manusia pada waktu itu. Tetapi, mereka menolaknya. Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak mengubah hati seseorang secara mistis sehingga membuat seseorang dapat menerima atau menolak pemberian-Nya. Tuhan menyediakan segala sesuatu yang baik bagi semua orang tanpa diskriminatif. Kalau ada orang yang menolak apa yang disediakan dan diberikan Tuhan kepadanya, itu adalah risiko dan tanggung jawab individu. Fakta mengenai kisah Nuh ini penting bagi orang percaya di zaman Perjanjian Baru. Itulah sebabnya, Tuhan Yesus memunculkan fakta ini dalam pengajaran-Nya (Luk. 17:26-27). Tuhan Yesus menunjukkan pola hidup manusia akhir zaman yang sama seperti manusia pada zaman Nuh, yang tidak memedulikan keselamatan jiwanya. Dalam pernyataan Tuhan Yesus, jelas tertulis: “Dan sama seperti terjadi pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada hari-hari Anak Manusia.” Pernyataan Tuhan ini jelas menunjukkan kesejajaran keadaan manusia pada zaman Nuh dengan zaman kita hari ini.
    Hal tersebut sama dengan Tuhan yang juga memberi kesempatan manusia hari ini untuk bertobat dan diselamatkan. Tuhan dengan sangat serius berusaha menyelamatkan manusia agar tidak binasa. Tuhan tidak hanya berusaha menyelamatkan sebagian manusia dengan memberi kasih karunia kepada sebagian orang dan mengunci mereka supaya tidak dapat menolak kasih karunia-Nya, tetapi Tuhan tidak menghendaki seorang pun binasa (2Ptr. 3:9). Memang faktanya sebagian besar manusia menolak. Hal ini menunjukkan bahwa manusia hari ini memang memiliki kesempatan dan hak untuk menolak anugerah. Kebinasaan itu bukan penentuan Tuhan, melainkan pilihan masing-masing individu.
    Kegagalan sebagian bangsa Israel mencapai tanah Kanaan pun bukan karena kesalahan Tuhan, juga bukan karena memang sebagian dari antara mereka ditentukan Tuhan untuk gagal mencapai tanah Kanaan. Jika Tuhan bertindak demikian, berarti Tuhan kejam dan jahat bagi mereka yang ditentukan tidak sampai tanah Kanaan, sebab mereka telah susah payah keluar dari Mesir dan bermimpi bisa memiliki sebuah negeri yang berlimpah susu dan madu ,serta tidak dalam tindasan bangsa lain. Ia bukan saja pasti tidak mengupayakan kecelakaan bagi umat pilihan-Nya, tetapi Ia juga tidak akan membiarkan mereka celaka. Kalau ternyata pada akhirnya ada sebagian bangsa Israel yang gagal mencapai tanah Kanaan, hal itu disebabkan oleh keputusan dan pilihan mereka sendiri. Dalam Ibrani 3:7-11 dikemukakan bahwa bangsa Israel mengeraskan hati, tidak mau taat kepada Allah walaupun selama 40 tahun mereka telah melihat perbuatan-perbuatan ajaib dan luar biasa dari Tuhan, dan Tuhan dengan sangat penuh perhatian telah menuntun mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kegagalan mereka sampai tanah Kanaan disebabkan karena mereka keras kepala dan tidak tunduk kepada Tuhan.
    Berkenaan dengan hal ini,
    0 min
  • Berkuasa atas Dosa
    Hal kesucian pasti menyangkut integritas. Jadi, jangan berpikir kalau di tengah-tengah hidup di dunia yang jahat ini, kita tidak bisa hidup suci. Kesucian harus dibangun secara natural dan proporsional. Sebab, kesucian itu bukan sesuatu yang kita peroleh secara otomatis, melainkan dibangun dari benturan-benturan. Dan dalam hidup keseharian kita, pasti kita dapati banyak—paling tidak, pasti ada—benturan. Sebagaimana dalam Amsal 27:17 dikatakan, “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.” Dan Tuhan akan mengizinkan benturan-benturan dalam hidup supaya kita menjadi orang yang antibenturan. Maka, agar kita dapat memperoleh bagian dalam kekudusan Allah, kita harus memiliki ketahanan hidup.
    Dalam Kejadian 4:6-8 dikatakan, “Firman TUHAN kepada Kain, “Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Kata Kain kepada Habel, adiknya: “Marilah kita pergi ke padang.” Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.” Dosa datang, karena Kain tidak melakukan apa yang baik dan benar di mata Tuhan. Hatinya menjadi murka, karena iri melihat bagaimana persembahan Habel (adiknya) diterima Tuhan, sedangkan persembahannya sendiri tidak diindahkan oleh Tuhan. Karena itu hatinya menjadi panas, mukanya menjadi muram. Ini benturan atau gesekan yang dialami Kain. Tahukah kita bahwa ini adalah kondisi yang sangat disukai oleh dosa? Hati yang panas karena iri. Hati yang sedang murka, mudah sekali untuk dipengaruhi.
    Iri hati adalah salah satu sikap mementingkan diri sendiri, namun lebih sulit untuk dideteksi. Dampak terburuk dari iri hati adalah hilangnya kebahagiaan. Karena iri hati membuat kita terlalu berfokus pada berkat-berkat yang hadir dalam kehidupan orang lain, sehingga kita buta jika melihat berkat-berkat dalam hidup kita sendiri. Ujung-ujungnya, kita lupa bersyukur yang sejatinya adalah kunci dari kebahagiaan. Jadi, penyebab iri hati adalah fokus kepada kenyamanan kehidupan orang lain. Kain iri pada keberhasilan Habel dalam hal mempersembahkan persembahan kepada Yahweh.
    Kalau kita memperhatikan ayat di atas, dosa sebetulnya belum masuk ke dalam hati Kain, baru mengintip di depan pintu. Mencari-cari jalan untuk bisa masuk dan dosa itu sangat menggoda. Namun, Tuhan memperingati Kain: “Tetapi engkau harus berkuasa atasnya.” Artinya, dosa masih bisa dikuasai dan harus dikuasai di depan pintu hati, sebelum ia masuk dan berbuah. Dengan kata lain, waktu yang paling baik untuk mengalahkan dosa adalah di depan pintu. Jangan sampai kita membiarkan dia masuk. Sebab kalau kita buka pintu sedikit saja, dosa tidak akan ragu untuk segera masuk ke dalam. Apa pintu masuk dalam hidup kita? Yaitu mata dan telinga. Itulah pintu menuju ke dalam hati kita. Iblis menggoda lewat mata lalu mencari-cari celah untuk dapat masuk ke dalam pikiran. Kita lihat, bagaimana dosa begitu berkuasa atas manusia. Itu sebabnya, bersyukur atas apa yang Yesus sudah buat untuk kita semua. Dia sudah mengalahkan dosa dan maut (1Kor. 15:55-58).
    Namun, meskipun dosa sudah dikalahkan, bukan berarti bahwa dosa itu tidak berdaya. Dosa masih tetap melakukan apa yang biasa dia lakukan, yaitu mengintip di depan pintu, mencari peluang untuk bisa masuk. Terutama apabila kondisi hati kita tidak baik. Itu sebabnya, kita harus memagari pikiran kita dengan perisai iman. Dengan kekuatan kita sendiri, kita tidak mampu melawannya. Tapi Tuhan telah memberikan Roh Kudus tinggal dalam hidup kita untuk memimpin kita dalam seluruh kebenaran, dan mengingatkan kita akan dosa (1Kor. 6:19-20). Masalahnya, maukah kita mendengarkan suara Roh Kudus dan menurutinya? Semakin kita mau taat kepada Dia, semakin kita mau berserah kepada Dia, semakin Dia akan memimpin kita. Atau, malah kita tidak mendengar suara-Nya? Lalu,
    0 min
  • Bejana Hancur
    Kita harus merenungkan bahwa di jagat raya ini tidak ada dua orang yang sama persis, apalagi tiga, apalagi empat. Setiap individu memiliki keberadaan yang benar-benar unik dan sangat istimewa, karena tidak ada duanya. Kalau hal ini kita mengerti dan kita benar-benar menghayatinya, akan membangkitkan kekaguman kita terhadap tangan Sang Khalik yang hebat. Jadi, tidak mungkin tidak ada Tuhan. Di dalam kebijaksanaan-Nya dan kemampuan-Nya membuat variasi dari keberadaan masing-masing individu, menunjukkan kecerdasan dan kebijaksanaan-Nya. Dengan mengerti hal ini, kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain. Sebab, setiap kita tidak ada bandingannya. Orang yang berusaha membandingkan dirinya dengan orang lain adalah orang yang tidak mengerti dan tidak menerima kebesaran serta keagungan Allah yang menciptakan setiap kita dengan keunikan dan keistimewaan masing-masing.
    Perhatikan bagaimana orang berusaha untuk selalu memakai barang yang up to date, yang dasarnya adalah ingin menjadi seseorang yang lebih dari orang lain agar bisa membanggakan diri. Padahal, tanpa sesuatu yang bersifat materi tersebut, keadaannya sendiri sudah unik. Di situ, dia memuat rancangan Allah yang harus dipenuhi. Jadi, bukan hanya mereka yang memiliki kelebihan harus memikirkan hal ini, tapi siapa pun kita dengan keadaan unik dan istimewa itu harus menyadari bahwa kita memikul tanggung jawab yang harus kita penuhi. Jadi kalau kita mengerti bahwa masing-masing kita ini istimewa, unik, kita tidak akan membandingkan diri kita dengan orang lain untuk menjadi sombong atau merendahkan atau menghina orang lain, sebab Tuhan memberikan kepada kita masing-masing porsi yang benar-benar sempurna menurut pertimbangan dan kebijaksanaan-Nya. Karena masing-masing kita memiliki keadaan yang unik, kita harus membawa keadaan diri kita kepada Tuhan untuk memperkarakan: dengan manusia model ini, apa yang Kau kehendaki harus kulakukan, Tuhan? Dengan keadaan seperti ini, sebenarnya apa rancangan-Mu dalam hidupku?
    Memang pada umumnya dalam kehidupan ini manusia itu adalah makhluk yang ada dalam proses meniru. Dari generasi ke generasi, proses ini berlangsung secara otomatis. Pola pikir dan gaya hidup seseorang pada umumnya meniru apa yang dilakukan orang sebelumnya. Apa yang dia lihat dari lingkungannya, dan ini yang disebut “cara hidup yang kita warisi dari nenek moyang” (1Ptr.1:18-19). Tapi ketika kita dipanggil menjadi anak-anak Allah, kita harus keluar dari cara hidup yang sia-sia itu, yang tidak sesuai dengan rancangan dan kehendak Allah. Kita harus membawa diri kita kepada Tuhan dan membawa hidup kita, dan memperkarakan apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup kita dengan keadaan kita seperti ini. Karena kita telah terbawa oleh proses meniru, yang terjadi adalah banyak orang membangun gambar diri yang salah. Kita dilahirkan dengan keadaan orisinal, jangan mati dalam keadaan imitasi.
    Mungkin kita pernah mengambil keputusan yang salah. Banyak dosa yang telah kita lakukan, banyak tindakan yang benar-benar keliru telah kita ambil. Kita sudah menjadi manusia tidak seperti yang Allah kehendaki. Kita rusak, tetapi berbahagialah orang yang menyadari keadaannya yang rusak itu dan memberi diri dibentuk kembali, karena Sang Penjunan bisa mengubah kita. Dia masih bisa memberi kesempatan tanah liat yang hancur, berubah menjadi bejana yang indah. Oleh sebab itu, kita tidak memiliki pilihan lain. Kita harus menjadikan Tuhan dan Kerajaan-Nya sebagai satu-satunya tujuan hidup kita. Hari ini, kalau kita berkeadaan seperti ini, maka: Pertama, kita menerima seluruh rangkaian yang ditetapkan Tuhan, yang merupakan hak prerogatif Tuhan. Kedua, menerima semua keadaan yang disebabkan oleh keputusan atau pilihan yang salah. Kita berterima kasih kepada Tuhan. Oleh kesabaran-Nya, Ia menuntun hidup kita sehingga kita sampai ada dalam keadaan seperti hari ini. Ketiga, jangan menuntut apa yang bukan bagian kita.
    Ingat, kita tidak bertanggung jawab kepada manusia mana pun,
    0 min
  • Kesempatan Terakhir
    Alkitab mengatakan, “Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot untuk maksud yang mulia, dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia” (2Tim. 2:21). Tuhan ingin memakai kita menjadi alat di dalam tangan-Nya kalau kita layak dipakai. Ini bukan spekulasi, untung-untungan, atau takdir. Tetapi, ini tergantung dari tekad dan kesungguhan kita. Semua kita pasti memiliki jejak rekam. Coba kita bertanya kepada diri kita sendiri, “Apa yang sudah saya lakukan selama ini? Apa dampak yang saya lakukan untuk keluargaku, untuk keluarga besarku, untuk masyarakat sekitar, untuk gereja yang saya layani?” 
    Kalau sampai hari ini rasanya kita belum berdampak, jangan putus asa. Tuhan berkemurahan atas kita, Ia masih memberikan kita kesempatan untuk berubah. Untuk itu, mari kita lihat sejarah Simson. Kehidupan Simson dimulai dengan pemberitahuan akan kelahirannya. Seorang pria dari suku Dan yang bernama Manoah, yang menikah dengan wanita yang mandul (Hak. 13:2). Kitab Hakim-Hakim menceritakan kejadiannya ketika Simson hendak mencari istri. Ia ingin menikahi seorang wanita Filistin meskipun orangtuanya menentang, dan bertolak belakang dengan hukum Allah yang melarang perkawinan dengan kaum berhala. Ibu dan ayahnya menemani Simson ke Timna dan mengatur pernikahannya. Dalam perjalanan Simson, seekor singa menyerang Simson. “Pada waktu itu berkuasalah Roh TUHAN atas dia, sehingga singa itu dicabiknya seperti orang mencabik anak kambing–tanpa apa-apa di tangannya” (Hak. 14:6). Di Gaza, Simson menghampiri seorang pelacur. Pada malam itu, ketika penduduk Gaza mendengar bahwa Simson sedang berada di kota mereka, mereka menanti kesempatan membunuhnya ketika fajar. Namun, Simson bangun pada tengah malam, “dipegangnya kedua daun pintu gerbang kota itu dan kedua tiang pintu, dicabutnyalah semuanya beserta palangnya, diletakkannya di atas kedua bahunya, lalu semuanya itu diangkatnya ke puncak gunung yang berhadapan dengan Hebron” (Hak. 16:3). Begitu hebatnya kekuatan yang dimiliki Simson.
      Namun ia lengah. Karena memiliki kekuatan tersebut, ia merasa dirinya dapat melanggar hukum mana pun. Pelanggaran Simson yang terus-menerus dilakukan telah mencapai titik akhirnya. Sebagai akibatnya, “Orang Filistin itu menangkap dia, mencungkil kedua matanya dan membawanya ke Gaza. Di situ ia dibelenggu dengan dua rantai tembaga dan pekerjaannya di penjara ialah menggiling” (Hak. 16:21). Orang Filistin ingin merayakan kemenangan mereka atas Simson, dan para penguasa berkumpul di kuil Dagon, dewa mereka, untuk memujinya karena telah menyerahkan Simson pada mereka (Hak. 16:23). Pada pesta itu, mereka mengeluarkan Simson dari penjara untuk mengoloknya. Dengan bersandar pada tiang-tiang penyangga kuil itu, “berserulah Simson kepada TUHAN, katanya: ‘Ya Tuhan ALLAH, ingatlah kiranya kepadaku dan buatlah aku kuat, sekali ini saja, ya Allah, supaya dengan satu pembalasan juga kubalaskan kedua mataku itu kepada orang Filistin'” (ay. 28). Allah mengabulkan permintaan Simson. “Membungkuklah ia sekuat-kuatnya, maka rubuhlah rumah itu menimpa raja-raja kota itu dan seluruh orang banyak yang ada di dalamnya. Yang mati dibunuhnya pada waktu matinya itu lebih banyak dari pada yang dibunuhnya pada waktu hidupnya” (ay. 30).
    Kehidupan Simson mengajar kita akan pentingnya mengandalkan kekuatan Allah, bukan kekuatan pribadi kita; mengikuti kehendak Allah, bukan kemauan kita yang keras kepala; dan mencari hikmat Tuhan, bukan pengertian pribadi kita. Yang menjadi penghiburan kita adalah di dalam kegagalannya itu, Simson mencari Tuhan dan memohon belas kasihan Tuhan agar diberi kesempatan satu kali lagi. Dan di kesempatan terakhir itu, Simson bisa membunuh lebih banyak orang daripada yang pernah dia bunuh selama ini. Jadi, ia masih punya kesempatan untuk berkarya. Lalu bagaimana keadaan kita?
    0 min
  • Menjadi Manusia yang Indah
    Di dalam Mazmur 73, ditunjukkan kepada kita dua jenis manusia. Pertama, manusia fasik; dan yang kedua, manusia yang tulus atau manusia yang benar yang ditandai dengan penderitaan. Manusia fasik artinya orang yang tidak takut Tuhan dan tidak peduli hukum-Nya. Pasti manusia seperti ini juga manusia yang tidak menghargai nilai-nilai rohani, nilai-nilai kekekalan. Hidupnya ditandai dengan kesenangan dalam kelimpahan harta, dan banyak orang yang mengikut dia atau menjadi kerabatnya; sahabat dan handai taulannya (Mzm. 73:4-12). Ini bukan berarti orang yang sehat, gemuk, dan kaya atau yang banyak harta (harta dunia) berarti fasik. Tetapi di sini hendak dikemukakan bahwa keadaan orang fasik yang makmur ini, bukanlah ukuran berkat Tuhan. Biasanya, gereja-gereja yang mengajarkan ajaran seperti ini selalu berbicara mengenai berkat-berkat jasmani sebagai kelimpahan yang diharapkan dari Tuhan. Kelimpahan materi bukanlah ukuran berkat Allah. Justru bagi umat Perjanjian Baru, berkat Allah adalah kuasa hidup yang mempersiapkan kita ada di dalam Kerajaan-Nya. Sebab, Allah yang benar tidak akan memberikan berkat materi tanpa usaha atau kerja keras.
    Bagaimanapun, kita tidak dapat menghindari kesulitan hidup yang juga dialami oleh manusia pada umumnya. Jangan berpikir karena kita Kristen, kita akan terhindar dari penderitaan yang dialami oleh manusia pada umumnya. Malah dengan berpikir secara realistis dari aspek ini, kita bisa diarahkan oleh Tuhan untuk menujukan fokus kita kepada kehidupan yang akan datang. Aspek yang lain, kita harus berpikir serta secara realistis juga. Yang ini istimewa, sebagai orang percaya, bahwa ada kehadiran Allah dalam kehidupan ini melalui segala peristiwa yang kita alami, yang membawa kita kepada Kerajaan-Nya, dengan menggarap kita agar menjadi orang percaya atau anak-anak Allah yang layak masuk Kerajaan-Nya. Oleh sebab itu, kita tidak perlu mempermasalahkan, apakah yang kita alami hari ini menyenangkan atau tidak menyenangkan. Tapi yang harus kita persoalkan adalah apakah yang kita alami membuat kita bertumbuh menjadi manusia yang indah di mata Allah, atau tidak?
    Menurut penilaian umum, orang fasik yang diceritakan di Mazmur 73 adalah ciri dari orang yang diberkati Tuhan. Sehat, tidak pernah sakit, senang selamanya, gemuk. Sebaliknya, orang yang hidupnya menderita seperti orang tulus ini, dipandang tidak hidup dalam berkat Tuhan. Tetapi ternyata, kalau kita meneliti pasal ini, justru orang yang penuh penderitaan tersebut adalah orang yang diberkati Tuhan. Dari kebenaran ini, kita belajar untuk mengisi hari hidup kita dengan benar. Sulit menerima fakta ini, karena kita mungkin sudah terlanjur rusak. Banyak orang Kristen yang terlanjur rusak, dan gereja yang mengalami kemerosotan tanpa sadar selama ratusan bahkan ribuan tahun. Pemazmur juga sempat bingung, “Nyaris aku terpeleset, sebab aku cemburu kepada pembual-pembual kalau aku melihat kemujuran orang fasik,” lalu di ayat 13, dia mengatakan, “sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih dan membasuh tanganku tanda tak bersalah.” Mari kita belajar memercayai Tuhan walau kita ada dalam situasi yang mengecewakan.
    Kita dapat membandingkan perbedaan kedua orang tersebut: orang fasik dan orang tulus. Yang pertama, orang fasik tidak berurusan dengan Tuhan, tapi berurusan dengan dunia, yaitu dengan kesenangan hidup dan orang-orang di sekitarnya. Tapi orang tulus berurusan dengan Tuhan. Kita pun seharusnya bisa. Ini yang kita harus persoalkan. Apa artinya kita punya gelar, kekayaan, kalau kita tidak belajar mengenal Allah? Terimalah realitas, kita hidup di dunia yang sudah rusak. Kita ikut mengalami kesulitan. Kalau dunia kita mengalami resesi ekonomi, kita pun ikut terbawa. Kalaupun kita tidak miskin seperti orang lain, kita akan ikut terbawa dampak kemiskinan lingkungan. Tapi masalahnya bukan soal senang atau tidak senang, melainkan apakah keadaan ini mendatangkan penggarapan Allah bagi kita atau tidak? Lalu,
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…