Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Masih Terhilang
    Perumpamaan mengenai anak yang terhilang di Lukas 15:11-32 menggambarkan sosok anak yang tidak menyukai hidup dalam dominasi orangtua. Ia ingin bebas di luar pengawasan orangtua, dan bebas menggunakan harta milik yang diklaim sebagai miliknya. Menjadi kesukaan kalau bisa memboroskan hartanya untuk apa yang dipandangnya sebagai kesenangan atau kebahagiaan. Model sosok anak seperti ini kita jumpai di kehidupan banyak orang Kristen, termasuk mereka yang rajin ke gereja. Tentu saja mereka tidak merasa sebagai anak yang terhilang, sebab menurut konsep mereka, anak atau orang yang terhilang adalah mereka yang meninggalkan gereja dan hidup dalam pelanggaran moral. Jadi, kalau mereka sudah ada di gereja, berarti sudah bertobat. Banyak orang Kristen yang merasa sudah bertobat dan berbalik kepada Tuhan seperti anak bungsu, hanya karena mereka datang ke gereja dan meninggalkan cara hidup yang bertentangan dengan norma hukum dan etika umum. Mereka yang tadinya terlibat dalam perjudian, tidak berjudi lagi. Mereka yang tadinya hidup dalam perzinaan, tidak lagi hidup dalam perzinaan, dan lain sebagainya. Mereka merasa sudah berbalik seperti anak bungsu, sehingga merasa tidak perlu lagi mengalami atau melakukan pertobatan lagi.
    Padahal, pertobatan yang dikehendaki oleh Tuhan lebih dari itu. Tidak hanya berhenti melakukan praktik hidup yang melanggar norma umum dan mulai datang ke gereja, tetapi harus sungguh-sungguh memberi diri hidup dalam penguasaan Tuhan sepenuhnya. Selama seseorang masih hidup dalam pemerintahan diri sendiri, berarti ia masih tergolong terhilang. Memang secara lahiriah orang-orang Kristen tersebut tidak ada di luar gereja. Mereka adalah orang-orang Kristen yang setiap Minggu datang ke gereja. Tetapi sejatinya, mereka tidak bersedia hidup dalam pengawasan dan kontrol atau kendali Tuhan. Ciri dari orang yang terhilang seperti anak bungsu, antara lain: masih hidup dalam kendali diri sendiri, yaitu apa yang mereka ingini, mereka usahakan untuk diperoleh, mereka menggunakan waktu, tenaga, uang, dan apa yang mereka miliki sesuka hati sendiri karena merasa berhak menggunakannya sesuai dengan selera mereka.
    Pertobatan adalah kesediaan untuk datang kepada Bapa dan bersedia hidup dalam kekuasaan atau dominasi Bapa. Si Bungsu yang bertobat menyatakan: “… jadikanlah aku sebagai salah seorang upahan bapa.” Pernyataan si Bungsu ini menunjukkan kesediaannya untuk tidak menggunakan haknya sebagai anak dan rela diperlakukan sebagai hamba. Hal ini menunjukkan bahwa pertobatan yang benar ditandai dengan kesediaan untuk melepaskan semua haknya dan menyediakan diri dengan rela menjadi hamba yang hidup dalam kekuasaan Tuhan sebagai Majikan. Si bungsu tetap pada pendiriannya untuk bertobat dengan kerelaan melepaskan haknya. Walau ketika sampai di rumah, orangtuanya menyambutnya dengan sangat meriah, ia tidak diperlakukan sebagai orang upahan tetapi sebagai anak, tetapi ia tetap dalam pendiriannya seperti ketika masih di perantauan bahwa ia rela menjadi orang upahan, bukan lagi sebagai anak. Ini bukti dan tanda pertobatan yang benar, bersedia hidup dalam dominasi bapanya.
    Betapa malangnya, banyak orang Kristen merasa sudah ada di dalam Rumah Bapa, sehingga tidak termasuk orang yang perlu pertobatan. Keadaan ini sama seperti anak Sulung yang tidak menerima cara ayahnya menerima kepulangan adiknya. Si Sulung marah terhadap apa yang dilakukan ayahnya. Si Sulung unjuk perasaan atau demonstrasi dengan sikap serta tindakan tidak mau masuk rumah. Tentu saja hal ini mempermalukan orangtuanya. Memang si Bungsu juga pernah secara tidak langsung mempermalukan orangtuanya, tetapi si Sulung ternyata secara langsung mempermalukan ayahnya di depan para pembantu serta seisi rumah ayahnya. Hal ini menunjukkan bahwa si Sulung tidak memiliki pikiran dan perasaan yang sama dengan ayahnya. Sampai pada akhir kisah, tidak ditunjukkan bahwa si Sulung bertobat. Orang seperti si Sulung ini bisa berkeadaan lebih parah dari si Bungsu.
    0 min
  • Kesempatan Melayani
    Ada suatu tatanan yang Tuhan telah tetapkan bahwa setiap orang memiliki kesempatan. Kita memiliki kesempatan untuk bertumbuh di dalam kekudusan dan kesucian, bertumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan atau membahagiakan Tuhan. Tetapi di aspek lain, Tuhan membatasi kesempatan. Dalam Ibrani 12:16, firman Tuhan mengatakan, “Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau yang mempunyai nafsu yang rendah seperti Esau, yang menjual hak kesulungannya untuk sepiring makanan. Sebab kamu tahu, bahwa kemudian, ketika ia hendak menerima berkat itu, ia ditolak, sebab ia tidak beroleh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, sekalipun ia mencarinya dengan mencucurkan air mata.” Kesempatan bagi Esau untuk mempertahankan hak kesulungannya telah habis akibat dari kecerobohannya sendiri. Demikian juga kita membaca perumpamaan mengenai lima gadis yang bijaksana dan lima gadis yang bodoh. Kesepuluh gadis tersebut mendapat kesempatan untuk mempersiapkan pelita mereka dan memiliki ruangan, waktu untuk menanti mempelai. Namun, lima gadis bodoh tersebut tidak mempersiapkan minyak, sehingga pada akhirnya mereka ditolak.
    Kalau kita mengingat kisah Saul, ada kepedihan dalam hati, dimana pada mulanya Saul adalah seorang yang cakap perawakannya dan memiliki kemampuan dalam berperang—selalu menang dalam peperangan—tetapi akhirnya ia menjadi kecil hati menghadapi Goliat. Dan bukan hanya itu, dia menjadi jahat sehingga ditolak menjadi raja dan digantikan oleh Daud. Setelah melewati perjalanan waktu dan pengalaman dalam hidup, kita menemukan orang-orang yang sudah kehilangan kesempatan. Padahal, mereka adalah orang-orang yang belum tua, tapi sudah begitu rusak, sampai tingkat sudah tidak bisa diperbaiki lagi. Sejatinya, kalau orang terus-menerus berbuat salah dengan ketegaan yang tinggi, dia tidak bisa diperbaiki. Dia sudah kehilangan kesempatan. Misalnya, orang yang sering menahan miliknya, tidak suka berbagi kepada orang lain, pelit. Sampai tingkat tertentu, dia tidak akan pernah membelah hidupnya untuk orang lain. Hingga akhir hayatnya, dia akan menggenggam hartanya terus, walaupun dia akan melepaskannya.
    Kalau kita sudah kehilangan kesempatan, kita tidak akan pernah bisa mengambil kesempatan itu kembali. Sejatinya, setiap kita dirancang Tuhan untuk hal yang baik; menjadi alat di dalam tangan Tuhan. Karena setiap orang Kristen harus menjadi anak yang berkenan dan dirancang untuk dimuliakan bersama Yesus. Namun yang dimuliakan bersama dengan Yesus harus orang yang menderita bersama-sama dengan Dia (Rm. 8:17). Orang yang menderita bersama-sama dengan Tuhan Yesus itulah orang yang menjadi alat di dalam tangan Tuhan. 
    Tuhan memberi kesempatan kepada setiap kita untuk berkarya bagi Tuhan. Tuhan pasti akan memakai kita sebagai alat-Nya untuk maksud-maksud-Nya. Dalam suratnya kepada Timotius, Paulus mengatakan, “Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia” (2Tim. 2). Kita adalah salah satu perkakas-Nya. Memang, ada yang terbuat dari emas, perak, kayu, atau tanah. Tentu kualitas perkakas tersebut tidak ditentukan oleh Tuhan dengan semena-mena; pasti Tuhan melihat respons masing-masing individu. Namun ingat, Tuhan tidak memakai orang sembarangan; Tuhan memakai orang-orang yang layak dipakai-Nya.
    Bagi anak-anak muda, kita harus melihat dengan iman bahwa kita memiliki kesempatan besar, kesempatan yang luar biasa ke depan, dan itu adalah sebuah kepastian. Memang, kalau kita tidak percaya Allah itu hidup dan nyata, kita pasti melihat masa depan yang gelap. Bagi kita yang sudah tidak muda lagi, harus disadari bahwa kesempatan yang ada tinggal sedikit. Ironis, jika kita mengingat apa yang telah terjadi, ada kesempatan-kesempatan yang telah berlalu yang kita telah sia-siakan. Mungkin ada penyesalan di hati kita, tetapi kita masih punya waktu yang di dalamnya masih ada kesempatan dan jangan...
    0 min
  • Kesempatan untuk Berubah
    Mencari Tuhan artinya berusaha untuk mengalami Tuhan di dalam perjumpaan dengan Allah yang hidup dan nyata itu, serta berjalan bersama dengan Dia setiap hari. Dalam hal mencari Tuhan, pada dasarnya sama dengan berusaha untuk mengerti apa yang Tuhan kehendaki dan apa yang Tuhan rencanakan untuk kita lakukan dan kita penuhi dalam hidup ini. Tentu kehendak dan rencana Allah dalam hidup masing-masing kita itu berbeda. Maka, setiap orang harus menemukan apa kehendak Allah dalam hidup kita masing-masing, dan apa yang Allah rencanakan dalam hidup kita masing-masing untuk kita penuhi. Jadi, ketika kita hidup dalam kehendak dan rencana kita sendiri dan kita tidak merasakan tidak mengalami perjumpaan dengan Allah, kita sebenarnya terhilang. Walaupun kita ada di lingkungan pelayanan, namun kalau kita tidak mengerti apa kehendak Allah untuk kita lakukan, tidak mengerti apa rencana Allah untuk kita penuhi, dan kalau kita tidak mengalami perjumpaan dengan Tuhan, tidak berjalan bersama dengan Dia, sejatinya kita itu terhilang.
    Sangatlah berbeda antara menemukan pengetahuan mengenai Tuhan dan menemukan Tuhan. Tetapi selama ini banyak orang merasa kalau sudah menemukan pengetahuan mengenai Tuhan, seakan-akan sudah menemukan Tuhan sendiri. Itulah sebabnya, banyak orang sudah merasa puas ketika bisa berbicara mengenai Tuhan. Semakin banyak pengetahuannya mengenai Tuhan, ia merasa semakin puas dan semakin sudah menemukan Tuhan. Biasanya orang-orang yang belajar teologi merasa lebih menemukan Tuhan dibanding mereka yang tidak belajar teologi, karena mereka merasa semakin banyak ilmu teologinya, berarti semakin menemukan Tuhan. Ini adalah pikiran picik, seakan-akan Tuhan cukup dibungkus dengan kotak teologinya dan merasa sudah menemukan dan memilikinya. Memang diyakini bahwa Tuhan Mahahadir, Tuhan sangat dekat, bahkan dikatakan lebih dekat daripada nafas kita sendiri. Tuhan hanya sejauh doa, dan lain sebagainya, tetapi kalau jujur, tidak banyak orang telah benar-benar menemukan Dia atau memiliki pertemuan dengan Dia. Bahkan, tidak sedikit orang beragama—termasuk orang Kristen—yang sebenarnya belum menemukan Tuhan. Tetapi, mereka merasa cukup nyaman dengan keadaan tersebut, sebab mereka merasa sudah percaya.
    Percaya bahwa Allah itu ada, sudah cukup membuat mereka merasa tidak menciderai Tuhan seperti orang ateis yang tidak memercayai Tuhan. Dengan memercayai identitas-Nya tersebut, mereka merasa sudah menjadi umat Tuhan yang sudah selamat. Orang-orang seperti ini berpikir sudah cukup menjadi orang beragama yang baik dan bertuhan. Jika demikian keadaannya, mereka tidak akan mengisi hidupnya dengan mencari Tuhan. Mereka akan menghabiskan umur hidupnya menemukan banyak hal dalam hidup ini, tetapi tidak pernah menemukan Tuhan. Betapa jahatnya gereja jika mengesankan pula bahwa mereka sudah menemukan Tuhan dan tidak perlu khawatir menghadapi hidup di bumi ini serta kekekalan nanti. Memang mereka bukan menjadi orang jahat, juga bukan orang yang tidak peduli kegiatan sosial atau pelayanan gereja, tetapi mereka gagal menjadi manusia Allah yang berstandar anak-anak Allah seperti Tuhan Yesus. Ini berarti keselamatan tidak terealisasi dalam kehidupan mereka. Harus dimengerti bahwa kekristenan memiliki tujuan menjadikan manusia berkodrat ilahi, yang telah diperagakan oleh Tuhan Yesus semasa hidup-Nya di bumi. Masalahnya, kalau keadaan mereka berlarut-larut demikian, mereka tidak akan pernah mengerti isi karya salib secara utuh. Hati mereka menjadi buta terhadap kasih karunia Allah yang sangat luar biasa, yang menyediakan anugerah dimana seseorang dapat menjadi anak-anak Allah yang berkodrat ilahi seperti Bapa di surga.
    Mereka pun akhirnya tidak tertarik sama sekali menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Mereka berharap dengan kualitas hidup yang mereka miliki, nanti mereka dilayakkan masuk Rumah Bapa. Padahal yang Tuhan kehendaki adalah sempurna seperti Bapa di surga. Untuk ini, Allah sudah menyediakan fasilitas keselamatan-Nya.
    0 min
  • Hidup adalah Pilihan
    Hidup adalah pilihan. Kalimat ini pasti sudah tidak asing lagi bagi kita; kita sudah sering mendengarnya atau kita sendiri juga mengucapkannya. Tapi yang menjadi masalah adalah apa isi pilihan tersebut. Itulah yang kita harus bedah dengan jelas. Tentu saja pilihan yang biasa dimengerti oleh orang adalah bidang studi, pekerjaan atau profesi, jodoh, tempat domisili, dan banyak lagi. Sedangkan bagi kita, pilihannya hanya dua, yaitu: Tuhan atau dunia. Menjadi Kristen bukan berarti sudah memilih Tuhan. Apalagi kalau seseorang sudah menjadi Kristen sejak kecil, sejatinya dia tidak pernah memilih; otomatis Kristen. Ironis, banyak orang yang hidup masih di level ini. Mereka belum menemukan hidup dalam iman yang benar dan banyak orang berlabuh atau berparkir di level kekristenan semacam itu, dan itu palsu. Itu semu.
    Hidup penuh dengan pilihan seperti; bila salah memilih akan berakibat fatal. Pilihan-pilihan dalam perkara sederhana atau kecil pun bisa berdampak besar. Sering kita sebagai manusia gagal untuk memilih mana yang terbaik dalam kehidupan ini, sementara waktu tidak pernah bisa diputar kembali. Jika kita memilih untuk lunak kepada diri kita, maka kehidupan akan keras kepada kita; tapi jika kita memilih keras pada diri kita, kehidupan akan lunak pada kita. Dan bukan keadaan yang menentukan keberhasilan atau kegagalan hidup kita, melainkan pilihan atau keputusan hidup kita. 
    Jika kita pelajari dalam Alkitab, ada beberapa tokoh yang pernah salah mengambil keputusan/menentukan pilihan dan berakibat fatal, antara lain: Adam dan Hawa. Pilihan mereka pada akhirnya menjerumuskan Adam dan Hawa ke dalam dosa. Allah benar-benar murka dan kecewa karena ciptaan-Nya tidak mengikuti perintah-Nya. Murka dan kecewa Allah berakibat pada diusirnya manusia dari Eden. Kelanjutan dari cerita Adam dan Hawa tidak berakhir sampai di situ saja, tapi terus berlanjut hingga hari ini dimana seluruh keturunannya harus bekerja keras untuk mendapatkan nafkah hidup dan merasakan sakit bersalin.
    Demikian juga dengan Abraham. Ia dikenal sebagai “bapa orang percaya.” Namun ia dan Sara, istrinya, tidak sabar menunggu janji Tuhan bahwa mereka akan mendapatkan seorang anak. Hingga akhirnya, Abram menyetujui usul Sara untuk mengambil Hagar sebagai istri keduanya. Anak dari Hagar, Ismael, masih meninggalkan masalah hingga sekarang. Alkitab juga menceritakan tentang Esau. Ia adalah cucu Abraham dari Ishak yang menjual hak kesulungannya kepada Yakub. Bukan karena Esau sangat baik hati sehingga memberi dengan begitu saja hak kesulungannya, tapi karena pada saat itu ia sangat merasa lelah hingga hampir mati. Esau tidak berpikir panjang ketika ia menjual hak kesulungannya dengan sedikit roti dan sup kacang merah. Ia lebih tergiur melihat sup kacang merah hasil olahan Yakub daripada hak kesulungannya. Pada akhirnya, Esau harus menyesali kebodohannya seumur hidup.
    Sepanjang kehidupan ini, akan ada begitu banyak pilihan hidup. Setiap pilihan yang kita ambil pasti memiliki kesulitan, rintangan, tantangan yang harus kita hadapi dan akan kita hadapi. Setiap kita berhasil melewatinya, bukan berarti bahwa segala sesuatunya telah selesai, namun akan ada kesulitan baru, rintangan dan tantangan yang baru, dan akan seperti itulah seterusnya. Namun, jika kita bisa memecahkan setiap persoalan tersebut dan memilih dengan tepat setiap pilihan yang terbentang di hadapan kita, kita akan menjadi lebih besar dan kuat dari sebelumnya. Pilihan kita hari ini menentukan masa depan kita, bukan saja di bumi, tapi sampai di kekekalan. Ini berlaku dalam seluruh aspek kehidupan kita, baik kehidupan jasmani maupun rohani. Adalah sebuah kenyataan yang tak terbantahkan bahwa kita memiliki Allah yang hidup, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang kasih-Nya tak berkesudahan, yang kuasa-Nya tidak terbatas. Tetapi kita tidak bisa menyangkali juga bahwa Ia adalah Allah yang Mahaadil. Ia berlaku adil kepada semua orang. Keadilan-Nya dinyatakan dengan cara membalaskan kepada semua...
    0 min
  • Konsep Perjalanan Waktu
    Sering kita mendengar orang berkata bahwa “bukan awal perjalanan yg menentukan, melainkan akhir perjalanan.” Pernyataan ini sudah sangat populer. Hampir semua orang setuju dengan pernyataan tersebut, maka banyak orang Kristen pun ikut-ikutan setuju dan menerimanya sebagai suatu kebenaran. Apakah benar bahwa akhir perjalanan hidup seseorang yang menentukan takdir hidupnya di kekekalan? Pernyataan di atas bisa mengesankan atau membangun pemikiran bahwa hanya saat-saat terakhir hidup seseorang yang menentukan nasib kekalnya. Kecerobohan ini mengakibatkan beberapa hal, antara lain:
    Pertama, seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga yang benar. Ia berharap suatu hari nanti, ketika ada di ujung maut sebelum meninggal, akan bertobat terlebih dahulu. Biasanya orang-orang seperti ini mengacu pada penjahat di samping salib Tuhan Yesus yang bertobat sebelum mati, dan seketika itu juga begitu mudah diterima di Firdaus. Harus diingat bahwa kasus itu sangat khusus. Hampir tidak pernah kasus itu terjadi lagi pada orang lain. Dan kalau kita perhatikan ucapan-ucapannya, menunjukkan dia orang yang “tahu” siapa Yesus. Kita tidak boleh menyamakan diri kita dengan orang lain. Setiap orang memiliki pergumulannya sendiri. Ketika seseorang tidak memiliki sikap berjaga-jaga, maka ia akan menjadi mangsa kuasa gelap (1Ptr. 5:8). Oleh sebab itu, Tuhan Yesus menasihati kita agar selalu berjaga-jaga (Mat. 25:13).
    Kedua, tidak memanfaatkan waktu dan kesempatan untuk bertumbuh dalam kedewasaan. Biasanya orang seperti ini menunda apa yang seharusnya dilakukan dengan segera atau pada waktunya. Ia selalu berpikir bahwa masih ada kesempatan, padahal kesempatan yang diberikan kepada masing-masing individu selalu terbatas. Itulah sebabnya Paulus menasihati jemaat untuk menggunakan waktu yang ada (Ef. 5:16).
    Ketiga, ia tidak akan berjuang dengan sungguh-sungguh. Jadi sekalipun dia berjaga-jaga dan berjuang untuk bertumbuh, tapi tidak maksimal. Membaca perumpamaan dalam Matius 25:1-13 mengenai 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana menimbulkan suatu perasaan duka karena tragisnya peristiwa yang digambarkan tersebut. Tetapi, sebenarnya ketragisan dalam perumpamaan ini belum mewakili secara penuh ketragisan dari keadaan yang sebenarnya ketika seseorang ditolak oleh Allah. Pada waktu itu orang akan benar-benar menyadari apa arti keselamatan yang sangat berharga. Keselamatan ini kalau disia-siakan akan mengakibatkan penolakan Allah atas orang yang menyia-nyiakan keselamatan tersebut (Ibr. 2:1-3). Mereka bukannya tidak menantikan mempelai tersebut, tetapi mereka tidak memiliki persediaan minyak. Ini berarti mereka tidak melakukan penyambutan sesuai dengan prosedur yang benar. ‘Minyak’ yang dikemukakan Tuhan Yesus dalam perumpamaan ini sebagai suatu gambaran dari sikap berjaga-jaga.
    Dalam perumpamaan tersebut, ditunjukkan bagaimana gadis-gadis yang bodoh tidak berkesempatan mencari minyak agar pelitanya menyala. Ini berarti minyak tersebut harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Ini adalah sikap berjaga-jaga. Banyak orang memang tidak bermaksud mengkhianati Tuhan atau tidak bermaksud meninggalkan-Nya, tetapi hanya menunda memiliki pertobatan dan perubahan hidup menjadi sempurna seperti yang Tuhan kehendaki. Mereka sibuk dengan banyak urusan, sehingga mereka tidak memperhatikan pembaruan batin yang Tuhan targetkan. Sikap berjaga-jaga berarti suatu hubungan harmonis dengan Tuhan yang selalu dibangun setiap hari. Tentu kehidupan orang yang memiliki hubungan yang harmonis dengan Tuhan akan terpancar dan dirasakan oleh orang lain.
    Bahaya besar yang tidak disadari oleh banyak orang adalah menunda bersikap benar terhadap keselamatan yang Tuhan berikan, sesuatu yang seharusnya dilakukan dengan segera dan terus-menerus. Dalam Ibrani 12:16-17, diungkapkan kegagalan Esau menikmati atau memanfaatkan hak kesulungannya. Ia kehilangan hak kesulungannya karena tidak bersikap benar terhadap hak kesulungan yang semestinya menjadi haknya.
    0 min
  • Menghitung Waktu
    Kita harus menyadari bahwa kita sungguh-sungguh sedang hidup di penghujung dari akhir zaman. Perubahan dunia semakin cepat tidak terprediksi. Oleh sebab itu, kita harus memahami bahwa gereja sekarang adalah gereja yang dipersiapkan untuk menyambut kedatangan Tuhan. Maka, gereja harus menjadi gereja yang tak bercacat seperti mempelai wanita yang siap dipertemukan dengan mempelai pria. Untuk itu, setiap individu dalam jemaat harus menjadi orang Kristen yang sungguh-sungguh, yaitu menjadi orang Kristen yang selalu membenahi diri. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang Kristen benar-benar belajar kebenaran Firman Tuhan dengan serius, lebih dari waktu-waktu sebelumnya. Maka perlu kita sadari bahwa satu hal yang Tuhan berikan kepada kita semua adalah waktu. Kita masing-masing memiliki 24 jam setiap harinya. Bagaimana kita mengisi 24 jam itu adalah peran dari kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada kita. Masalahnya adalah waktu itu berjalan terus, tidak bisa diputar kembali dan kita tidak tahu kapan jarum jam kehidupan kita akan berhenti.
    Dalam hal ini, ada tiga tipe orang berkenaan dengan peluang atau kesempatan dalam hidup ini. Pertama, orang yang tidak menyadari bahwa ada peluang baginya. Kedua, orang yang mengetahui adanya peluang, tetapi tidak mampu memanfaatkannya; mungkin karena ia takut mengambil risiko atau malas, baik secara fisik maupun intelektual. Ketiga, orang yang bukan saja jeli melihat peluang yang baik, melainkan juga berani mengambil risiko untuk memanfaatkan serta mengembangkannya. Bahkan, orang tipe ini mampu menciptakan peluang, atau dari menggarap satu peluang, ia menciptakan peluang-peluang baru, baik bagi dirinya maupun bagi orang lain. Dalam proses pendewasaan dalam sekolah kehidupan, waktu harus digunakan dengan benar. Sebab di dalam waktu, ada momentum-momentum yang berharga dimana kita diperhadapkan kepada pilihan, mengarahkan hidup ke surga atau neraka; ke Tuhan atau kuasa lain. 
    Paulus telah menasihati kita dalam Efesus 5:15-17, “Karena itu, perhatikanlah dengan seksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” Kata ‘waktu’ dalam teks aslinya adalah kairos (yang berarti kesempatan atau momentum). Bagaimana cara mempergunakan waktu yang benar? Hanya dengan merelakan dan membuang atau meninggalkan semua kesibukan dan pertemanan yang tidak mengarahkan hidup kita pada kedewasaan rohani atau pertumbuhan iman ke arah kesempurnaan seperti Kristus. Waktu yang tidak kita pergunakan untuk kepentingan kehidupan kekal berarti kita sedang membuang anugerah yang tidak ternilai dalam kehidupan yang singkat di bumi ini. Penyesalannya tidak dapat digambarkan dengan apa pun juga. Dalam hal ini, yang penting adalah niat yang kuat dan komitmen. Kehendak bebas kita harus diarahkan kepada arah yang jelas, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Hal ini akan membangun diri menjadi bijaksana. Bijaksana artinya mengerti kehendak Tuhan. Jadi, 70 tahun umur hidup kita merupakan sekolah kehidupan untuk mengerti kehendak Tuhan. Itulah sebabnya Alkitab menasihati: “Jangan seperti orang bebal (bodoh dan tidak bijaksana), tetapi harus menjadi bijaksana.”
    Orang percaya harus menghargai waktu yang Tuhan anugerahkan kepadanya. Setiap detik, menit, dan jam yang berlalu tidak dapat diputar ulang. Semua itu merupakan harta yang sangat mahal dan tidak terbeli (priceless). Itulah sebabnya pemazmur menaikkan doa kepada Tuhan, agar ia dapat menghitung hari-hari hidupnya yang singkat (Mzm. 90:12). Sebenarnya, begitu kita membuka mata kita pada pagi hari, kita harus dapat menghayati keajaiban yang Tuhan berikan kepada kita. Kata ‘menghitung’ dalam teks aslinya adalah limnowt dari akar kata manah; bukan hanya berarti menghitung (enumerate), tetapi juga memiliki beberapa pengertian, seperti membagi menurut ukuran beratnya (to weigh out); menjad...
    0 min
  • Hal-hal Sederhana
    Entah kita sadar atau tidak, bisa menerima atau tidak, sebenarnya kehidupan yang kita jalani saat ini merupakan hasil dari rangkaian keputusan yang pernah kita ambil di masa lalu. Sayangnya, kita tidak bisa kembali ke masa lalu untuk memperbaiki semua keputusan keliru yang pernah kita ambil. Dengan berlalunya waktu, penyesalan karena masa lalu merupakan hal yang tidak bisa kita hindari. Tetapi masih ada yang bisa kita lakukan di sini dan sekarang, yaitu kita harus bertindak hati-hati karena kita masih memiliki masa depan. Maka, pertimbangkan baik-baik bahwa keputusan yang kita ambil saat ini akan memengaruhi kehidupan di masa depan kita, bahkan kekekalan. Untuk itu, setiap hal yang akan kita lakukan, harus dipertanyakan atau dipersoalkan terlebih dahulu; apakah itu menggiring kita semakin mengerti kehendak Tuhan atau tidak. Tentu ini hanya berlaku bagi orang yang benar-benar mau selamat. Kalau seseorang tidak memiliki niat yang bulat untuk terhindar dari api kekal, maka hal ini bukan sesuatu yang dianggap penting.
    Melalui hal-hal yang sederhana setiap hari, Tuhan membuka peluang kepada kita untuk melakukan kehendak Bapa. Hal-hal sederhana itu bisa berupa tantangan-tantangan ringan untuk dilakukan. Bila seseorang membiasakan diri melakukan kehendak Bapa dari hal-hal sederhana, ia akan dapat melakukan kehendak Bapa untuk hal-hal yang besar. Adalah tidak mungkin seseorang bisa melakukan kehendak Tuhan dalam hal-hal yang melibatkan pikiran, perasaan, tenaga, dan hal lain secara besar kalau tidak memulai dari hal-hal yang sederhana dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan ini, ada hal-hal sederhana yang Tuhan izinkan terjadi guna mengubah kita. Tetapi juga ada hal-hal yang besar yang menguras tenaga, perasaan, dan sebagainya dalam kehidupan ini, yang “terpaksa” harus diizinkan Tuhan untuk mengubah kita. Tanpa hal yang besar tersebut, sulit seseorang berubah. Hal-hal sederhana terjadi tanpa menguras tenaga perasaan dan lain sebagainya, tetapi bisa berdaya guna mengubah seseorang kalau orang itu dengan sendirinya mau berubah. Tetapi kalau melalui hal sederhana seseorang tidak mau berubah, maka Tuhan harus menggunakan hal yang tidak sederhana untuk mengubah seseorang. Kalau dengan pukulan kecil seseorang meremehkan Tuhan, maka Tuhan bisa memberi pukulan yang lebih keras.
    Kesalahan banyak orang adalah mereka berpikir bahwa hal-hal sederhana yang dianggap kecil tidak memiliki arti dalam kehidupannya. Itulah sebabnya ia membiarkan dirinya dikalahkan dalam hal-hal yang sederhana. Yang dimaksud dengan hal-hal sederhana, misalnya tidak memberi kesempatan mobil yang sedang buru-buru melintas, sikap kita sewaktu antri lift atau di toilet, tidak jujur berkenaan dengan uang kecil, canda-canda yang tidak kudus, dan lain sebagainya. Dalam sekolah kehidupan, hal-hal tersebut merupakan mata pelajaran yang harus diperhatikan dengan serius. Hal-hal tersebut tidak boleh dianggap sebagai sesuatu yang sepele atau remeh. Harus diingat, bahwa perkara-perkara besar dimulai dari hal-hal kecil atau yang sederhana. Surga atau neraka seseorang dimulai dari hal-hal sederhana yang terjadi setiap hari. Sebab, nasib kekal seseorang merupakan akumulasi atau penumpukan atau pengumpulan dari semua tindakan hidup seseorang. Dalam hal ini, kita mengerti mengapa Tuhan Yesus berkata: “Kumpulkan harta di surga” (Mat. 6:19-20). Di sini, seseorang tidak bisa ke surga mendadak atau neraka mendadak. Perjalanan ke surga adalah perjalanan panjang, sepanjang hidup seseorang di bumi ini.
    Dengan demikian, tidak ada waktu di mana seseorang berhenti berjalan menuju Kerajaan-Nya. Setiap waktu adalah kesempatan yang berharga untuk mengumpulkan harta di surga, yaitu bertumbuh dalam kesempurnaan. Oleh sebab itu, kehidupan kita hari ini harus dirancang dengan serius. Firman Tuhan menasihati kita agar kita memperhatikan dengan saksama bagaimana kita hidup atau berkebiasaan (Ef. 5:15). Kata ‘hidup’ dalam teks aslinya adalah peripateo,
    0 min
  • Jangan Takut Berbeda
    Kesempatan-kesempatan berharga yang Tuhan berikan kepada kita harus kita penuhi. Kalau Abraham menolak mempersembahkan Ishak, selamanya tidak pernah ia dikatakan sebagai sahabat Tuhan. Mari sekarang kembali kita bayangkan Petrus yang begitu semangat berjanji untuk setia, tapi pada akhirnya menyangkal Tuhan Yesus. Betapa tragisnya keadaan saat itu. Guru yang dia harapkan akan menjadi raja, malah ditangkap, dihina, diludahi, sehingga harapannya pupus. Jadi, bisa dipahami kalau dia berkata, “aku tidak kenal Dia.” Selain takut, bisa juga karena ia sangat kecewa. Kita mungkin pernah berada pada keadaan seperti itu, atau saat ini kita sedang dalam keadaan takut dan kecewa seperti yang Petrus alami. Kita sudah serius, tapi seakan-akan Tuhan tidak menghargai dan tidak menolong kita, kita juga merasa sendirian.
    Ingatkah kita dengan kisah Stefanus ketika ia diadili oleh Mahkamah Agama? Dalam Kisah 7:55 dikatakan, “Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” Dalam keadaan terjepit karena imannya dipersalahkan, Stefanus melihat Yesus berdiri. Yesus hanya berdiri, seakan-akan tidak berbuat apa-apa untuk menolong dia, bahkan sampai akhirnya ia mati dilempari batu. Ketika seakan-akan Tuhan diam dan tidak menolong kita—ketika seakan-akan semua keadaan memojokkan kita—justru di situlah Tuhan sedang memercayai kita, yaitu Ia tahu bahwa kita sanggup melewatinya. Demikian juga Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Ketika mereka menolak menyembah patung Nebukadnezar, mereka diancam akan dimasukkan ke dalam dapur api yang panasnya tujuh kali lipat dari biasanya (Dan. 3:17-18). Apakah mereka menyerah? Tidak! Apakah kita bisa sekonsisten mereka? Sanggupkah kita sekarang berkata: “sekalipun Tuhan tidak menolong aku, aku tetap percaya kepada-Nya.” Memang mudah menyuarakan kalimat itu pada saat semua keadaan baik, sesuai dengan harapan. Namun, justru pada saat terjepit seperti mereka, iman kita teruji.
    Kalau kita menyadari bahwa semua berkat yang diberikan adalah sebagai suatu kepercayaan, maka kita tidak akan menggunakan berkat Tuhan dan kelebihan-kelebihan yang kita miliki tersebut untuk kesenangan sendiri. Kita akan menggunakannya secara benar dan bertanggung jawab. Banyak gereja dan pendeta hanya mendoakan jemaat agar diberkati berlimpah-limpah, dan mengajar jemaat meminta berkat Tuhan agar sukses dan berhasil dalam bisnis dan kariernya, tetapi tidak mengajar mereka untuk menjadi orang kepercayaan Tuhan. Sehingga, banyak jemaat yang tidak pernah menjadi dewasa. Berani mengaku sebagai anak Abraham, berarti berani memiliki penglihatan ke depan seperti yang dimiliki Abraham, yaitu kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah sendiri. Anak-anak Abraham oleh iman harus mempersoalkan hal-hal surgawi, bukan perkara-perkara duniawi, yaitu keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus.
    Jangan karena Abraham kaya secara materi, maka orang Kristen boleh mengklaim bahwa mereka bisa menjadi kaya secara materi seperti dia. Tuhan memberkati Abraham dengan berkat materi, sebab Tuhan harus melindungi “sosok” Abraham ini secara khusus demi rencana besar Tuhan menyelamatkan dunia. Kalau seseorang hidup dalam ambisi dan keinginannya sendiri atau tidak dewasa rohani kemudian menuntut “berkat Abraham” yaitu berkat materi, betapa kurang ajar sikap ini terhadap Tuhan. Tuhan sangat ingin kita ada di samping-Nya selalu. Tapi untuk menjadi sahabat bagi Tuhan yang selalu berada di samping-Nya, ada satu syarat, yaitu hidup hanya untuk kepentingan Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kalau seseorang memikul rencana Allah bagi penyelamatan dunia ini, pasti Tuhan memberi proteksi-Nya secara khusus.
    Memasuki kehidupan menjadi sahabat Tuhan, kita harus berani melepaskan semua kesenangan hidup; walau tentu kita harus melewati tahapan-tahapan. Kita harus benar-benar bergumul untuk bertumbuh dan mengerti apa artinya menjadikan Tuhan sebagai sahabat jiwa kita.
    0 min
  • Menentukan Kekekalan
    Dalam setiap masa, Tuhan memiliki rencana dan semua rencana-Nya pasti mengarah pada dibangunnya Kerajaan Surga, di mana Tuhan Yesus menjadi Rajanya. Dalam melaksanakan rencana-Nya tersebut, Tuhan memakai orang-orang yang dapat dipercayai-Nya. Tentu orang-orang yang dipercayai Tuhan adalah orang-orang yang memenuhi kualifikasi sebagai alat dalam tangan Tuhan untuk melaksanakan kehendak dan rencana-Nya. Mereka bukan orang sembarangan seperti kebanyakan orang. Siapakah orang yang berkualifikasi demikian ini? Mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki kesediaan untuk meninggalkan kepentingan sendiri dan mempertaruhkan hidup untuk kepentingan Tuhan secara penuh. Dalam Alkitab, kita menemukan tokoh-tokoh yang berani bertindak demikian; seperti Abraham, Daud, Daniel, Maria, Yusuf, Petrus, Paulus, dan lain sebagainya. Mereka adalah orang-orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri, sudah tidak memikirkan tentang “si aku.” Tentu Pribadi paling mengagumkan yang menggenapi rencana Bapa adalah Tuhan Yesus Kristus sendiri. Jadi, orang yang dipercayai oleh Tuhan adalah orang yang mana Tuhan berkenan melibatkannya untuk ikut mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya, yaitu menyelamatkan jiwa-jiwa. Kepercayaan Tuhan kepada masing-masing orang berbeda-beda. Tetapi pada intinya, mereka ikut serta dalam penyelamatan jiwa-jiwa.
    Kalau orang Kristen hanya diajar untuk percaya kepada Tuhan tetapi tidak diajar bagaimana dipercayai oleh Tuhan, maka ia tidak pernah menjadi orang yang berkenan kepada Tuhan. Ia akan tetap menjadi orang Kristen yang tidak dewasa, alias orang Kristen yang kanak-kanak. Ini adalah orang Kristen yang hanya meminta, meminta, dan meminta, serta tidak menjadi orang Kristen yang memberi atau berkorban bagi Tuhan. Hubungan yang terjalin hanya sebatas hubungan antara peminta dan objek yang dimintai; antara si pemberi dan si penerima. Memang tidak keliru kalau hal ini terjadi dalam kehidupan anak-anak Tuhan yang belum dewasa. Ini adalah konsep agama-agama pada umumnya. Itulah sebabnya, doa sering dimengerti sebagai meminta. “Berdoalah,” artinya “mintalah.” Padahal, berdoa artinya berdialog dengan Tuhan. Jadi, berdoa bukan hanya meminta, tetapi berinteraks; suatu hubungan timbal balik.
    Yang menjadi pertanyaan penting hari ini adalah apakah kita sudah berstatus sebagai sahabat bagi Tuhan? Menjadi anak-anak Tuhan yang sudah diajak sepenanggungan dengan Tuhan, memikul beban yang dipikul Tuhan? Itulah salib yang dimaksud oleh Tuhan Yesus (Mat. 10:38). Untuk itu, kita harus belajar dari Paulus, hamba Tuhan yang luar biasa. Dalam hidupnya, ia menjadi orang yang dapat dipercayai oleh Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kepercayaan yang besar dalam pelayanan pekerjaan Tuhan. Dalam tulisannya ia berkata, “Demikianlah hendaknya orang memandang kami: sebagai hamba-hamba Kristus, yang kepadanya dipercayakan rahasia Allah. Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian ialah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai” (1Kor. 4:1-2). Kalau seseorang tidak menjadi pelayan Tuhan, berarti menjadi pelayan setan. Oleh sebab itu, semua orang yang telah diselamatkan harus melayani Tuhan. 
    Dalam sejarah Alkitab, selalu saja dapat kita jumpai orang-orang yang dipilih Tuhan untuk menggenapi rencana-Nya. Orang-orang itu sebenarnya pada mulanya adalah orang-orang biasa. Tetapi melalui proses dalam kehidupan ini, mereka menjadi orang-orang yang luar biasa dan memiliki prestasi yang hebat sebagai orang-orang kepercayaan Tuhan. Jadi, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melayani Tuhan.
    Dalam Injil Matius 26:30-35, kita membaca kisah Petrus yang berani berjanji bahwa ia pasti tidak akan menyangkal Yesus, apa pun yang terjadi. Tetapi kenyataannya, Alkitab mencatat bahwa Petrus menyangkal Yesus sebanyak tiga kali. Petrus tidak konsisten dengan janjinya untuk setia. Tetapi pada akhirnya, Petrus menyadarinya dan ia menyesal. Pasti tidak ada seorang pun di antara kita yang berniat untuk berkhianat kepada Tuhan.
    0 min
  • Bekal Kekal
    Dalam Mazmur 73:25, pemazmur berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi.” Pemazmur hidup di zaman Perjanjian Lama yang belum mengenal Injil seperti kita. Tetapi dari ungkapan yang ditulisnya di ayat ini, menunjukkan pemahamannya mengenai hidup kekekalan yang luar biasa. Ketika pemazmur berkata, “siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau,” artinya “hanya Engkau yang bisa menjadi bekal perjalananku di kekekalan.” Lalu, ketika ia berkata, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” artinya “aku harus mempersiapkan bekal itu sejak di bumi.” Kita tidak mendadak langsung memiliki bekal itu kalau mati. Banyak orang, termasuk orang Kristen, yang berpikir bahwa nanti begitu mati, dia bertemu Tuhan, lalu Tuhan sudah bisa menjadi bekalnya. Ini sesat. Pasti orang-orang seperti itu tidak dikenal oleh Tuhan. Orang yang dikenal oleh Tuhan adalah orang-orang yang sejak di bumi “mengingini Engkau sebagai satu-satunya kebutuhan.” “Selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi,” berarti “hanya Engkaulah yang menjadi kebutuhanku, yang menjadi kesukaanku.”
    Untuk menjadikan Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan, hati kita tidak boleh dan memang tidak bisa terikat dengan dosa atau percintaan dunia. Tuhan adalah Allah yang Mahamurah, benar. Tapi bukan Tuhan yang murahan. Tuhan menghendaki agar kita bisa memiliki Tuhan. Maka, kalau kita benar-benar mau punya keinginan seperti itu, kita tidak boleh menaruh keinginan untuk hal yang lain, sehingga kita bisa memiliki Dia. Ketika kita benar-benar tidak memiliki kesenangan apa pun, tapi kesenangan kita hanya Tuhan dan Kerajaan-Nya, di situ kita merasa tidak memiliki tempat lain di mana kita merasa nyaman dan tenang selain hadirat Tuhan. Hal ini juga yang membuat kita tahan berdoa lama. Walaupun mungkin banyak yang kita miliki, tapi kita merasa tidak memiliki apa-apa dan merasa tidak memiliki siapa-siapa. Kita memang punya orangtua, punya anak, punya pasangan hidup, tapi kalau sudah berurusan dengan Tuhan, kita harus berkata, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Oleh karenanya Tuhan berkata, “kalau kamu tidak membenci ayahmu, ibumu, saudaramu laki-laki, saudaramu perempuan, bahkan nyawamu sendiri, kamu tidak layak bagi-Ku.” Memang kalau sudah urusan dengan Tuhan, yang lain menjadi tidak berarti. Karena cinta kita kepada Tuhan lebih dari cinta kita kepada siapa pun dan apa pun, sampai kita bisa merasa tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki siapa-siapa, kita baru bisa betah lama di kaki Tuhan.
    Kita bisa mengingini Tuhan sebagai satu-satunya kebutuhan, kalau kita benar-benar mengarahkan diri kepada-Nya. Kalau kita ingin masuk Kerajaan Surga dan diterima sebagai anggota keluarga Kerajaan Allah, sadari bahwa tidak ada yang bisa kita bawa. Apa pun dan siapa pun, selain Tuhan. Untuk itu, ingini dan miliki Tuhan. Untuk mengingini dan memiliki-Nya, kita harus bersedia melepaskan segala ikatan. Tetapi pada umumnya, seseorang tidak akan bisa berkata begitu di ujung mautnya kalau memang hari demi harinya tidak sungguh-sungguh mengagendakan ini, “selain Engkau, tidak ada yang kuingini di bumi.” Segala yang kita kerjakan dan bisa kita raih selama kita hidup di bumi, kita lakukan dan persembahkan untuk Dia. Hidup seperti ini yang dikatakan sebagai “berjalan dengan Tuhan.” Dimana keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa berjalan dengan Dia. Allah itu hidup, Allah itu nyata, Allah itu bisa dijalani. Berurusan dengan Tuhan itu bukan seperti masuk ruang museum. Kalau seseorang masuk ruang museum, dia melihat senapan yang pernah dibawa oleh Jendral Sudirman, maka ia hanya sampai tahap mengagumi dan tidak berbuat yang lain. Tetapi kalau kita berurusan dengan Tuhan, kita bertemu dengan Pribadi yang hidup. Dimana Ia berkenan menggoreskan sejarah bersama dengan kita. Kita masih terlibat dalam rencana Allah yang sama, yang belum usai hari ini. Mengagumkannya, kita adalah bagian dari rencana-Nya tersebut.
    0 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…