Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Gagal Fokus
    1 Petrus 5:7-9 mengatakan, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia Allah yang memelihara kamu. Sadarlah dan berjaga-jagalah. Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum dan mencari orang yang dapat ditelannya. Lawanlah dia, Iblis, dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Adalah kekhawatiran terhadap sesuatu yang membuat seseorang fokus kepada apa yang dia pandang mengancam, dia pandang membahayakan, dia pandang bisa mencuri kenyamanan dan damai sejahteranya, sehingga ia tidak waspada terhadap musuh utama yang lebih bisa merusak. “Jangan khawatir,” artinya kita jangan fokus kepada apa yang kita pandang membahayakan dan mengancam hidup kita, karena sesungguhnya ada yang lebih mengancam. Maka, sekarang kita tahu bahwa kekhawatiran membuat seseorang gagal fokus. Mestinya fokus kita pada peperangan; pergumulan melawan Iblis yang bisa membinasakan hidup kita.
    Kekhawatiran yang membuat seseorang fokus kepada hal-hal yang minor—tidak penting, tidak prinsip—membuat ia gagal fokus pada hal mayor. Kegagalan fokus ini diusahakan oleh kuasa kegelapan, sehingga seseorang menjadi tidak waspada dan tidak berhati-hati terhadap musuh yang lebih kejam dari segala ancaman. Lebih kejam, lebih mengerikan, lebih membahayakan dari kemiskinan, dari kegagalan-kegagalan apa pun dalam hidup ini. Kegagalan memang menyakitkan, namun lebih menyakitkan kalau kita gagal memiliki hidup kekal bersama dengan Allah. Gagal fokus mengakibatkan seseorang tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga. Sebab kalau orang gagal fokus, ia pun gagal mengenali siapa lawannya.
    Banyak orang berpikir musuh yang sungguh menakutkan adalah kemiskinan, sakit-penyakit, kegagalan karier, kegagalan berumah tangga, dan berbagai kegagalan lain. Padahal, musuh utama kita itu Iblis. Jika tidak ditaklukkan, ia malah menaklukkan. Dan kalau Iblis bisa menaklukkan seseorang, ia akan digiring ke dalam api kekal atau kebinasaan. Harus diingat, musuh ini tidak pernah tidur. Iblis memang selalu aktif berusaha untuk menarik orang masuk dalam persekutuan dengan kerajaan gelap supaya terhilang selamanya. Dia mengaum, mencari orang yang dapat ditelannya. Berarti orang tersebut bisa ditelan atau memberi diri ditelan. Jangan sekali-kali berpikir bahwa Allah sengaja memberi umpan manusia kepada Iblis. Kalau Firman Tuhan berkata agar kita waspada dan berjaga-jaga, maksudnya kita bisa menghindarkan diri dari cengkeraman singa, Iblis itu. Dengan demikian, apakah seseorang akan dapat ditelan oleh Iblis atau tidak, tergantung masing-masing individu.
    Tuhan memberi kesanggupan setiap orang untuk menang terhadap Iblis jika ia berjalan dalam iman yang benar, namun Tuhan juga tidak akan bisa menolong orang itu kalau orang itu tidak berjalan dengan Tuhan. Tuhan mencari domba-domba yang hilang. Tetapi kalau dombanya memang tidak mau diselamatkan, tidak bisa. Maka Tuhan mengingatkan, “Lawanlah dia dengan iman yang teguh.” Iman yang teguh artinya kesungguhan untuk berusaha mengerti kehendak Allah dan melakukannya. Kita melawan setan dengan mencari kehendak Allah, mengerti kehendak Allah, melakukan kehendak Allah. Maka firman Tuhan mengatakan, “tunduklah kepada Allah, Iblis lari daripadamu.” Dengan kebenaran Firman, kita dikuduskan, hasrat-hasrat kita disucikan, hidup kita bersih. Dalam hal ini, setiap orang dapat memilih, apakah berjalan dalam iman atau tidak berjalan dalam iman. Ini pergumulan. Seseorang bisa memiliki iman yang teguh atau tidak, itu tergantung masing-masing orang. Setiap orang harus memilih dengan sadar dan sengaja untuk memiliki iman yang teguh. Kualitas iman dalam arti penurutan terhadap kehendak Allah ini, tergantung masing-masing individu melakukannya. Menghadapi musuh yang satu ini, tidak cukup hanya dengan iman dalam arti keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, tetapi juga kesediaan untuk sungguh-sungguh mengerti kehendak Allah dalam segala hal yang menyangku...
    8 min
  • Perjuangan Pendewasaan
    Kehidupan bangsa Israel telah menjadi gambaran yang paralel dengan kehidupan orang percaya. Sebagaimana mereka dilepaskan Tuhan dari perbudakan bangsa Mesir dan harus melangkah menuju Kanaan, kita sebagai orang percaya juga dilepaskan dari belenggu kuasa gelap oleh penebusan darah Tuhan Yesus Kristus, dan kita harus keluar dari tanah perbudakan—yaitu dunia ini—dan benar-benar mengarahkan diri ke dalam Kerajaan Surga. Seiring perjalanan waktu, orang akan makin terikat kepada sesuatu sampai tidak bisa lepas. Seperti ikatan sarang laba-laba, yang makin hari makin tebal, makin kuat. Lebih konyol lagi kalau orang berpikir bahwa menjadi Kristen tidak perlu berlebihan seperti demikian. Padahal, logika rohani orang percaya itu mestinya harus dalam perjalanan menuju langit baru bumi baru. Kalau bangsa Israel, perjalanannya secara fisik. Tetapi bagi orang percaya, itu secara rohani, yaitu bagaimana karakternya makin dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga, dan hatinya makin terlepas dari ikatan dunia ini.
    Dari kisah perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, diperoleh pelajaran bahwa ada tatanan yang harus ditegakkan, dan Allah menegakkannya. Tatanan ini tidak bisa tidak harus dituruti, baik dari pihak Allah atau oleh Allah yang membuat tatanan itu, maupun dari pihak manusia. Bahwa dalam mewujudkan rencana-Nya, Allah melibatkan respons manusia. Jadi, rencana Allah menempatkan anak cucu Abraham ke negeri yang dijanjikan Allah kepada Abraham untuk keturunannya itu, juga melibatkan individu-individu bangsa Israel dan seluruh komunitasnya. Di dalam Kitab Keluaran dikatakan setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun bangsa Israel melalui jalan ke negeri orang Filistin (Kel. 13:17-18), walaupun jalan itu adalah yang paling dekat. Mengapa? Alasannya adalah bangsa Israel belum siap untuk berperang melawan bangsa Filistin. Sehingga, bisa saja mereka menyesal keluar dari Mesir, lalu mereka mau kembali ke Mesir. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau, dibawa ke tempat pembantaian. Tetapi justru di tempat pembantaian itu mereka terluput, dan mereka melihat laut Kolsom terbelah. Allah mau menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya Allah yang benar dan berkuasa.
    Dalam kebesaran dan kuasa-Nya, Allah bisa saja membuat orang Israel dengan mudah melewati musuh di sepanjang perjalanan, sehingga bangsa Israel secara mudah pula bisa menduduki tanah Kanaan atau tanah perjanjian, dan bangsa Israel tidak perlu memiliki respons sama sekali. Tetapi, ternyata Allah tidak bertindak demikian. Allah menuntut bangsa Israel memberikan respons, sehingga ada dua pihak yang bekerja sama guna mewujudkan rencana Allah. Itu tatanannya. Di dalam mewujudkan rencana-Nya, Allah menghendaki keterlibatan umat pilihan. Jadi kalau sampai sebagian bangsa Israel tidak sampai ke Kanaan, hal tersebut bukan kesalahan Tuhan. Bukan karena Allah tidak sanggup, melainkan karena orang Israel tidak memberikan respons yang memadai atau respons yang benar.
    Satu hal yang paling menyesatkan hidup orang Kristen di antara hal-hal yang paling menyesatkan dalam lingkungan gereja atau lingkungan masyarakat Kristen adalah ketika diajarkan secara langsung atau secara tidak langsung bahwa menjadi Kristen tidak perlu perjuangan berat. Makanya kita dapat melihat, banyak orang kristen tidak memiliki perjuangan berat. Perjuangannya diarahkan untuk masalah uang, masalah kesehatan, masalah jodoh, masalah karier, dan lain-lain. Bukan berarti kita tidak perlu bekerja keras. Sebagai orang yang bertanggung jawab, kita harus bekerja keras. Tapi jangan sampai kita mengarahkan fokus kita kepada banyak hal, sehingga kita tidak melakukan atau tidak menyelenggarakan perlombaan yang diwajibkan bagi kita yaitu perjuangan dalam perjalanan pendewasaan karakter. Inilah yang melumpuhkan hidup kekristenan, yaitu ketika dikesankan kekristenan tidak perlu ada perjuangan. Mengapa ada perjuangan dalam kehidupan orang Kriste...
    10 min
  • Tujuan Hidup
    Mari kita sungguh-sungguh mempersoalkan apa sebenarnya inti dan tujuan hidup kekristenan kita ini? Kedengarannya hal ini sudah sangat populer, dan rasa-rasanya kita mau menoleh ke belakang dan beranjak dari pengajaran dasar atau pengajaran mula-mula. Tetapi, inilah yang harus terus diingatkan kepada kita semua, supaya kita masing-masing tetap berjuang untuk mewujudkan maksud atau tujuan keselamatan itu, dalam hal ini secara pribadi/individu. Tetapi secara komunitas—yaitu gereja sebagai representatif atau perwakilan Tuhan untuk menjalankan pelayanannya—harus melayani dengan dan terus ada di dalam di jalur maksud tujuan kekristenan tersebut. Jangan sampai menyimpang. Kekristenan bukan agama semata-mata, melainkan jalan hidup. Bagaimana jalan hidup ini tetap dikenakan, semakin berkualitas tinggi atau semakin tepat sesuai dengan kehendak Allah, dan gereja benar-benar menggerakkan semua kegiatan untuk maksud tujuan kekristenan itu supaya semua kita, baik para hamba Tuhan, aktivis, majelis gereja, dan jemaat, hidup sesuai dengan maksud tujuan kekristenan itu diadakan atau maksud tujuan keselamatan itu diberikan.
    Orang yang tidak memahami hal ini, seperti seseorang yang mengadakan perjalanan tanpa tujuan. Jika orang tidak memahami inti dan tujuan hidup kekristenan atau pernah memahami tetapi tidak tetap hidup sesuai dengan maksud keselamatan itu diberikan, berarti hidup di dalam kesesatan. Seorang yang berkelas rasul seperti Paulus berkata dalam 1 Korintus 9:26-27, “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Memang di ayat-ayat sebelumnya Paulus berkata, “aku menjadi seperti orang Yahudi bagi orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat, aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat.” Memang di ayat 19 Paulus berusaha untuk menjadi hamba dari semua orang, “Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang,” dalam konteks supaya ia bisa diterima semua orang untuk memberitakan jalan keselamatan.
    Namun di ayat ke-23, Paulus menjelaskan alasannya, “Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya.” Selanjutnya di ayat 24, ia bicara mengenai seorang atlet dalam gelanggang pertandingan. Semua turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah. Maksudnya adalah kompetisi yang begitu berat. Dan ayat 25 lebih tegas lagi berbicara mengenai mahkota abadi. Sudah tidak lagi bicara mengenai diterima atau tidaknya oleh orang. Ia bahkan tidak peduli diterima rasul-rasul atau tidak. Paulus tidak peduli ada saudara-saudara palsu yang tidak menerima dia. Tetapi yang ia perhatikan ialah agar jangan sampai ia ditolak oleh Allah. Memang kenyataannya, hari ini banyak orang Kristen yang sebenarnya hidup di dalam kesesatan tanpa mereka sadari. Betapa celakanya kalau gereja yang mestinya sebagai perwakilan Tuhan, juga menjadi sesat karena tidak mengerti inti dan tujuan hidup kekristenan. Begitu banyak kegiatan, tetapi tidak mengarahkan umat untuk hidup sesuai dengan tujuan keselamatan diberikan.
    Allah Bapa, Elohim Yahweh, Allah Israel, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub; Allah yang menemui Musa di padang Median, adalah Allah yang sangat baik. Allah menghendaki agar umat Israel yang adalah keturunan Abraham—yaitu keturunan yang benar sebagai anak perjanjian dari Ishak dan Yakub—dikehendaki untuk menemukan negeri yang berlimpah susu dan madu. Karenanya, Allah mau mereka meninggalkan Mesir yang disebut sebagai tanah perbudakan. Kegagalan mereka sampai Tanah Kanaan, itu bukan karena kesalahan Tuhan, juga bukan karena ketidaksanggupan Tuhan membawa mereka sampai ke Tanah Kanaan. Kegagalan mereka itu disebabkan karena mereka sendiri.
    9 min
  • Mengendalikan Hati
    Manusia diciptakan menurut gambar Allah. Salah satu komponen yang dimiliki manusia yang juga dimiliki Allah adalah perasaan (dalam konteks ini, kata “perasaan” kita sebut “hati”). Hati manusia tidak dapat dimiliki oleh siapa pun, kecuali manusia itu sendiri. Di dalam hati itulah ada kedaulatan manusia. Allah bisa mengarahkan hati, tetapi Allah tidak akan pernah mengendalikannya. Oleh sebab itu, jangan sampai hati kita dimiliki oleh “pihak” lain. Kita yang harus mengendalikan hati kita. Kalau ibarat parabola, kita harus mengarahkan parabola hati kita itu dengan benar atau ke arah yang benar. Karena, dunia juga berusaha mengarahkan hati kita kepada arah yang dikehendaki oleh kuasa kegelapan. Hati kita harus kita arahkan kepada Allah dengan kesadaran, dan ini bisa kita lakukan dengan prinsip yang kita harus tahu bahwa tidak ada orang yang bisa melarang kita mengarahkan hati kita ke mana kita mau. Tidak ada subjek yang bisa mengarahkan hati kita, kecuali diri kita sendiri. Jadi kalau kita bermaksud mengasihi Allah, itu bisa. Sangat bisa. Tergantung dari kita. Sebaliknya, kalau kita tidak bermaksud mengasihi Allah, juga bisa.
    Kalau kita terus-menerus mengarahkan parabola hati kita kepada Tuhan, nanti akan permanen terarah ke Tuhan dan tidak terarah ke yang lain. Kalau orang sudah terbiasa mengarahkan parabola hatinya ke dunia, ia akan permanen juga, dan tidak akan pernah terarah kepada Tuhan. Percayalah, orang yang paling beruntung dalam kehidupan ini—di bumi maupun di kekekalan—adalah orang yang mengarahkan parabola hatinya kepada Allah atau yang mengasihi Allah. Selagi kita masih bisa mengarahkan parabola hati kita kepada Allah, mari kita arahkan. Kita terus bertekun, bertahan, dan teguh dalam integritas mengarahkan parabola hati kita kepada Tuhan. Sampai kita tidak bisa menarik cinta kita. Kita tidak bisa menarik cinta kita kepada Tuhan sebab hati kita hanya terarah kepada Tuhan. Tuhan pasti menolong kita untuk itu, kalau memang kita berhasrat untuk itu. Dan ini harus kita lakukan sekarang. Sebab makin kita tua, kelenturannya makin berkurang.
    Jangan sampai kita terlanjur mengasihi dunia atau objek apa pun dan siapa pun, sehingga kita tidak mengarahkan, artinya tidak dapat mengarahkan hati kita kepada Tuhan. Kita tidak mampu lagi mengasihi Allah. Dan Iblis mengupayakan supaya orang tidak bisa mengasihi Allah karena terkunci atau terbelenggu atau terpasung mengasihi dunia atau materi atau kekayaan. Seperti orang kaya di Matius 19 yang tidak bisa lagi meraih hidup kekal, karena hatinya telah terpasung oleh kekayaannya. Menjadi kaya tentu bukan sebuah kesalahan. Tetapi yang bermasalah adalah keterikatan dengan kekayaan tersebut. Keterikatan semacam ini mendatangkan kebinasaan bagi manusia. 
    Ini sama dengan orang yang terlalu lama dalam kebiasaan hidup yang tidak sesuai kehendak Tuhan, akan terpasung di situ. Jadi yang bisa membelenggu, mengikat, memasung hati orang bukan hanya uang, melainkan juga kebiasaan-kebiasaan hidup yang tidak sesuai dengan kehendak Allah, tidak sesuai dengan kesucian Allah. Kalau orang misalnya tidak jujur, terus-menerus tidak jujur, sampai tidak bisa jujur. Dan Iblis sering mengondisi orang di keadaan seperti itu. Makanya kita bisa menemukan orang-orang Kristen di dalam gereja yang tidak pernah bisa mengerti kebenaran, karena memang sudah terbiasa jahat terhadap sesamanya. Jadi, walaupun kita menjadi orang yang rajin ke gereja, menjadi aktivis, bahkan pendeta, namun kalau kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita miliki tidak kita lumatkan, tidak kita binasakan, tidak kita gerus, tidak kita buang, itu akan membuat kita binasa. Karena Alkitab berkata orang dihakimi menurut perbuatan, bukan menurut iman. Ya, karena perbuatannya itu menunjukkan imannya.
    Jadi kalau orang mengaku percaya Yesus tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan kehendak Allah, berarti ia tidak percaya. Yang percaya, yang selamat. Yang tidak percaya, binasa. Jiwa kita sudah dipengaruhi dunia ini,
    9 min
  • Tidak Merindukan Rumah Bapa
    Allah mau mendandani kita. Tapi, apakah kita mau didandani? Jika mau, maka kita harus memperbaharui diri, memperbesar kapasitas diri; harus bermoral baik. Menjalani jalan keselamatan yang diberikan oleh Allah, itu sama dengan kesediaan didandani oleh Allah agar seseorang layak menjadi anak Allah. Kita harus selalu mengingat dua kebenaran penting, yaitu: Pertama, Allah tidak memiliki anak yang tidak berkenan kepada-Nya. Jadi, semua orang Kristen yang menjadi anak-anak Allah, harus berkenan. Maka Tuhan Yesus berkata, “kamu harus sempurna.” Yang kedua, semua anak-anak Allah akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Jadi, bukan hanya masuk surga, melainkan juga sampai kepada Bapa, bersama dengan Bapa, dalam persekutuan dengan Bapa, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Kalau kita sudah tidak merindukan Rumah Bapa, tidak memandang bahwa kebersamaan dengan Allah Bapa di Kerajaan-Nya itu menarik, kita harus mulai curiga ada yang salah dalam hidup kita.
    Dan kadang-kadang itu bisa terjadi. Ada saat dimana kita tidak merindukan suasana itu. Maka, Tuhan membawa kita kepada keadaan-keadaan yang sulit, atau kita melihat begitu banyak penderitaan—baik penderitaan kita maupun penderitaan orang lain—sehingga kemudian kita merindukan pulang ke surga. Sudah saatnya kita menjadi orang Kristen yang benar-benar serius. Semua orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus dan bersedia menjadi anak-anak Allah, harus berjuang untuk menjadi manusia yang berkenan kepada Allah. Harus berjuang. Perjuangan ini harus menjadi agenda tunggal. Ini masalahnya: kita sudah terbiasa memiliki banyak agenda dan kita menganggap itu normal. Padahal, itu tidak normal. Agenda hidup kita hanya satu, yaitu berjuang untuk menjadi manusia yang berkenan kepada Allah, supaya kita ini bisa menjadi anak-anak kesukaan Bapa yang bersekutu dengan Bapa.
    Kalau hal ini benar-benar bisa berlangsung dan seseorang mengalami perubahan secara benar dan signifikan, maka orang tersebut barulah pantas dan layak menjadi anak-anak Allah dan layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Jadi, bagi orang percaya, proyeksi hidupnya bukan hanya masuk surga, melainkan juga dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus (Rm. 8:17). Maka, sekarang kita harus belajar untuk hidup di dalam kedaulatan Allah; artinya hidup sesuai dengan maksud Allah menciptakan kita, hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Adalah tragis apabila kita sudah melayani sedemikian rupa, namun kita sendiri tidak berubah, tidak menjadi anak kesukaan Bapa, dan kita juga tidak menjadi berkat untuk sesama. Mereka juga tidak menjadi kesukaan Bapa. Tentu setiap kita memiliki tuntutan yang berbeda-beda dari Allah.
    Makanya, orang Kristen yang benar itu imannya bukan iman menerima atau iman menuntut—mengklaim janji Tuhan—melainkan iman memberi. Kita malah harus berani berkata, “Apa yang belum aku serahkan kepada-Mu ya, Tuhan? Ambillah, Tuhan.” Jadi, memang inilah rencana kekal Bapa. Bapa itu memberi diri-Nya untuk disukakan hati-Nya oleh orang-orang yang memiliki model seperti yang Allah mau, yang serupa dengan Dia. Maka kalimat “kamu harus sempurna seperti Bapa,” merupakan perintah untuk kita jalani dan alami sejak di bumi, bukan menunggu nanti di kekekalan. Hal menjadi sempurna sebenarnya bukan sesuatu yang mistik atau sesuatu yang melampaui pikiran kita. Ketika kita dijahati orang tapi kita tidak membalas, kita sempurna, dan itu membuat Bapa itu senang. Jikalau kita terus melakukannya, maka itu mengarakter dalam diri kita. Suatu keberuntungan jika seseorang belajar sempurna seperti Bapa dan makin sempurna.
    Lalu mengapa ada orang Kristen yang tidak berusaha menjadi anak-anak Allah yang berkenan? Jawabnya adalah karena ia tidak mengasihi Bapa. Setiap orang tentu memiliki masa lalu yang kelam. Tapi jika mengasihi Allah, kita berusaha untuk berkenan. Banyak orang tidak berusaha mengasihi Allah karena memang tidak mengasihi Allah. Orang-orang seperti ini, tidak akan pernah mengasihi Allah sampai mati.
    9 min
  • Akses
    Dengan hati yang mengasihi Allah, pasti kita berperilaku indah. Pasti kita hidup kudus; tidak bercacat, tidak bercela, dan pasti kita akan mengasihi sesama kita, seperti kasih Allah. Sehingga, kita bisa menjadi wakil Tuhan; representasi Tuhan untuk menyentuh, menjamah orang di sekitar kita. Dengan hati yang mengasihi Allah, kita bersedia untuk terus berproses guna mengalami perubahan. Dengan hati yang mengasihi Tuhan, kita akan merespons anugerah Tuhan, yaitu dengan menyediakan hidup kita ini sepenuhnya. Belajar Firman, menyediakan waktu berdoa, menyangkal diri, dan kita melakukan apa pun yang Tuhan kehendaki di dalam hidup kita. Maka, hanya orang yang benar-benar mengasihi Tuhan yang dapat memiliki dan mengalami keselamatan. Ingat, bahwa keselamatan itu diubahnya manusia kepada rancangan semula; atau dikembalikannya manusia ke rancangan semula. Dan ini harus ada proses yang dijalani, dan proses itu bisa berlangsung kalau seseorang mengasihi Allah. Sebab, kalau tidak mengasihi Allah, pasti mengasihi dunia.
    Yesus berkata, “Akulah jalan.” Dalam bahasa aslinya, hodos. Yesus adalah jalan. Tentu “jalan” itu harus dijalani agar sampai ke tujuan. Keselamatan yang Allah sediakan tidak membuat otomatis seseorang selamat, tetapi Allah menyediakan jalan dimana manusia dapat dikembalikan ke rancangan Allah semula. Kalau seseorang menjalani jalan itu, maka keselamatan yang Allah sediakan bisa dialami dan dimiliki. Jika tidak, maka tidak akan terwujud. Jadi kalau Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan,” maksudnya adalah Yesus sebagai sarana untuk mencapai apa yang akan dituju. Namun, seseorang harus menjalani jalan kehidupan Yesu, baru bisa mengalami dan memiliki keselamatan. Jangan seperti sekelompok masyarakat yang bereuforia, bergembira merayakan dibangunnya jalan dan jembatan yang menghubungkan desa mereka dengan kota. Masyarakat tersebut hanya bereuforia merayakan dibukanya jalan tersebut, tetapi tidak melintasi atau menjalaninya. Mereka tidak pernah melihat karena tidak sampai ke kota. Kalau hanya mengakui dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, itu belum menjalani jalan tersebut. Inilah yang mengakibatkan banyak orang Kristen tidak mengalami dan tidak memiliki keselamatan.
    Ingat, ketika Tuhan Yesus berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku,” (Yoh. 14:6), ini yang dituju Bapa. Bukan hanya diperkenankan masuk surga, melainkan sampai kepada Bapa, artinya hidup dalam persekutuan dengan Bapa sebagai anak-anak Bapa. Yang standarnya seperti yang dikatakan Tuhan Yesus, “Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa ya, Bapa, tetapi juga untuk orang-orang yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka, supaya mereka menjadi satu sama seperti Engkau ya, Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita. Supaya dunia percaya bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Secara komunitas, tetapi juga pasti secara individu, ada persekutuan dengan Bapa. Keselamatan adalah jalan dimana anak terhilang dapat menemukan kembali persekutuan dengan Bapa. Keselamatan dalam Yesus Kristus memberi akses untuk menemukan kembali persekutuan dengan Bapa. Seperti anak terhilang di Lukas 15:11-24, sang bapak sangat mengharapkan anaknya pulang, agar dapat kembali bersekutu dengan dirinya. Tetapi masalahnya, apakah anaknya memiliki kerinduan kepada bapaknya?
    Kalau anak yang terhilang mengasihi bapaknya, ia pasti merindukan suasana rumah bapaknya, dan tentu pusatnya adalah bapaknya. Maka, ia melakukan apa pun untuk bisa bertemu dengan bapaknya. Allah Bapa merindukan anak-anak yang terhilang untuk pulang kembali. Kalau tidak ada kurban dari Tuhan kita, Yesus Kristus, tidak ada akses, tidak ada jalan. Seandainya Adam tidak jatuh dalam dosa, Adam bisa bersekutu dengan Bapa. Bapa sebenarnya bisa tidak membutuhkan siapa-siapa, apalagi manusia. Tetapi kalau Allah berkenan menciptakan makhluk yang disebut manusia, yang bisa serupa dengan Dia,
    9 min
  • Hati yang Dapat Dinikmati
    Lebih dari apa pun yang dapat kita berikan kepada Allah, Bapa kita, sejatinya hanya hati kita yang diingini oleh Allah, bukan suatu barang. Kalau kita memberikan sesuatu dalam bentuk barang, itupun karena sikap dan dorongan hati yang benar. Hati yang mengasihi Allah adalah satu-satunya persembahan yang dapat dinikmati oleh Allah. Kita bisa menyanyi, menari, atau melakukan segala sesuatu yang kelihatannya saleh, baik, rohani. Tetapi kalau hati kita tidak berkenan di hadapan Allah, hati kita tidak berwarna seperti yang Allah kehendaki, maka Allah tidak disukakan. Itu berarti percuma semua yang kita lakukan. Dalam pertemuan bersama, kita mengikuti liturgi, kita menyanyi, kita menyembah dengan kata-kata. Namun semua percuma kalau ternyata sikap hati kita tidak menyenangkan hati Allah, Bapa kita. Mari kita berjuang, berusaha untuk memiliki hati yang dapat dinikmati oleh Allah, Bapa kita. Kesempatan ini hanya berlangsung selama kita hidup. Kesempatan yang benar-benar sangat terbatas. Kalau kita tidak segera memberi diri digarap oleh Allah, hati kita tidak pernah menjadi hati yang bisa menyukakan hati Allah, dan itu berarti kengerian.
    Di dalam Injil Matius 22:37-40 firman Tuhan mengatakan, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Dan hukum yang kedua yang sama dengan itu, ialah: kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Inti hukum Taurat adalah kasih kepada Allah dan kasih kepada manusia. Ini hukum yang ketika manusia masih ada di dalam kodrat dosa, harus dituntun Taurat menjadi tutor atau pembimbing yang diharapkan kemudian hukum itu dapat menjadi kodrat di dalam dirinya, menjadi being di dalam dirinya. Jadi, hukum bukan tidak dibutuhkan. Selama kita di dunia, dibutuhkan. Yesus juga berkata bahwa Taurat tidak akan lenyap. Memang kita tidak menjalankan Taurat seperti yang dijalankan oleh bangsa Israel dengan segala pernik-perniknya, yang jumlahnya ratusan. Tetapi kita menemukan intinya, dan bagaimana menerjemahkan inti tersebut di dalam hidup, menyuarakannya di dalam perilaku, yaitu mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan mengasihi sesama seperti diri sendiri. Kebenaran ini menunjukkan bahwa tidak ada orang yang tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan sesama seperti diri sendiri yang masuk surga. Dalam konteks ini, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, sebab ini untuk umat Perjanjian Baru.
    Jadi, semua yang menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, yang masuk Yerusalem Baru dan menjadi anak-anak Allah, harus mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan sesama seperti diri sendiri. Tidak ada orang yang menyebut diri anak Allah atau diakui sebagai anak Allah oleh Bapa di surga, dalam keadaan tidak berkenan. Tetapi kebenaran ini dirusak oleh konsep yang salah mengenai “keselamatan bukan karena perbuatan baik.” Keselamatan bukan karena perbuatan baik, itu kalimat yang benar, tidak salah. Tetapi kalau memahaminya salah, dikonsepkan salah, jadi menyesatkan. Jangan kita terjebak oleh kebodohan, hanyut dalam kehidupan wajar seperti manusia lain sehingga kita tidak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Kita adalah umat pilihan yang harus berstandar “berkenan kepada Allah.”
    Sejatinya, betapa mengerikannya hidup kita ini, tidak disadari oleh banyak orang. Ketika suatu saat orang menghadap takhta pengadilan Tuhan, ternyata ia tidak memperlakukan Allah secara patut—artinya tidak mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi—betapa mengerikan. Ini khusus bagi anak-anak Allah, bagi kita. Jadi ketika Allah memberikan hukum Taurat kepada bangsa Israel, bangsa Israel hidupnya dibuat tertib. Karena manusia yang jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah, belum kehilangan kemuliaan manusia. Tuhan Yesus datang menggenapi hukum Taurat. “Aku datang bukan meniadakan,
    9 min
  • Mesin Anugerah
    Tidak ada kedewasaan tanpa pengalaman dengan Allah; tidak ada kedewasaan tanpa proses mengalami Tuhan. Karena, justru pengalaman dengan Tuhan di dalam kehidupan itulah yang mendewasakan. Memang Tuhan tidak selalu membuat kita menderita. Tetapi, Tuhan memakai keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan, keadaan-keadaan yang menurut kita tidak nyaman, bahkan menyakitkan, untuk mendewasakan kita. Keadaan tersebut merupakan “mesin anugerah” Tuhan bagi semua orang percaya. Ini sangat bertolak belakang dengan harapan banyak orang, bertentangan dengan pemikiran banyak orang. Orang beragama atau ber-Tuhan supaya lancar jalannya, banyak berkahnya, enteng rezekinya, nyaman, aman, dilapangkan jalannya. Tetapi, ternyata Allah yang benar tidaklah demikian. Allah menggunakan keadaan-keadaan yang sulit, yang tidak menyenangkan, untuk mendewasakan kita. Dari hal itu, kita bisa mengerti hubungan dengan Allah sebagai Bapa, dan kita anak; hubungan antara kita dengan Allah sebagai Gembala dan kita domba-Nya. Justru melalui pengalaman-pengalaman yang tidak mengenakkan itu, kita dapat menemukan relasi atau hubungan yang benar, yang proporsional antara kita dengan Allah.
    Kalau Allah menjadikan kita biji mata-Nya, anak-Nya, kekasih-Nya, mestinya kita juga memperlakukan Allah demikian. Allah segalanya bagi kita, yang ditandai dengan pengakuan: “yang kuingini Engkau saja. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya.” Ketika seseorang masih menaruh pengharapan dan perlindungannya kepada sesuatu, ketika seseorang berharap materi dunia, penghiburan atau hiburan-hiburan dunia membahagiakan dirinya, belum bisa menjadikan Tuhan sebagai kekuatan hidupnya. Sulit bicara ini kepada orang muda atau orang tua yang sudah lama hidup tidak menjadikan Tuhan sebagai harta kekayaannya. Orang-orang yang mengalami pengalaman seperti ini adalah orang-orang yang mengasihi Tuhan. Kalau tidak mengasihi Tuhan, tidak bisa. Seseorang tidak bisa mengasihi Allah dalam waktu pendek atau dalam waktu sekejap. Mengasihi Allah harus dibangun melalui perjalanan waktu yang panjang.
    Demikian pula kehidupan orang percaya terhadap Allah. Cinta mula-mula harus disertai pertumbuhan dan kedewasaan rohani. Seiring dengan kedewasaan rohani, maka seseorang mengasihi Tuhan secara dewasa. Kasih yang dewasa, oleh seorang anak Allah yang dewasa, ditandai dengan membangun hubungan yang harmonis dan proporsional dengan Allah; hubungan yang dewasa dengan Allah. Allah tidak membutuhkan proses pendewasaan. Kita yang membutuhkan. Allah menghendaki hubungan yang dewasa dengan anak-anak-Nya, dan hubungan yang dewasa tersebut ditentukan oleh kedewasaan kasih seseorang kepada Allah. Jika seseorang mengasihi dengan tulus dan terus terbimbing melalui perjalanan waktu, kasihnya menjadi dewasa.
    Maka, kalau orang mengisi hatinya dengan berbagai kesenangan tanpa batas, tiada henti, ia akan sampai pada level tidak akan pernah bisa mengasihi Allah dengan benar. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang terlatih mengasihi dunia; orang-orang duniawi yang tidak pernah masuk surga, karena mereka bukan manusia surgawi. Sebab, yang mau masuk surga itu manusia surgawi. Jadi, orang itu sudah bisa mempertimbangkan apakah dia masuk surga atau tidak. Kalau kita mulai sadar bahwa ternyata kita belum mengasihi Allah secara benar, kita harus mulai berjuang untuk mengasihi Allah. Tidak ada kata yang bisa menggantikan keadaan dimana seseorang menjadi kekasih Allah, menjadi anak Allah yang dewasa, dimana hubungan antara orang percaya dengan Allah itu harmoni, dan Allah bisa menikmatinya.
    Mengasihi Allah itu bukan karunia, melainkan buah perjuangan dari kehendak bebas masing-masing individu. Jadi, kalau orang mengasihi yang lain, pasti dia tidak bisa mengasihi Allah karena orang tidak bisa mendua hati. Jadi, seorang Kristen bisa mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan kekuatan,
    9 min
  • Tenang dalam Ancaman
    Di banyak bagian Alkitab, kita menemukan bahwa kedudukan atau posisi kita sebagai umat pilihan adalah kedudukan dan posisi yang sangat luar biasa. Di dalam Alkitab, kita menemukan beberapa istilah untuk menggambarkan relasi atau hubungan kita dengan Allah, yang mana itu menunjukkan bahwa hubungan kita dengan Allah adalah hubungan yang benar-benar sangat istimewa. Seperti misalnya hubungan sebagai Bapa dan anak; Allah sebagai Bapa, kita sebagai anak; Allah sebagai Gembala, dan kita domba. Bahwa Allah memandang kita ini biji mata-Nya. Allah menyebut kita sebagai kekasih-kekasih-Nya. Dalam hubungan dengan Putra Tunggal-Nya, kita berposisi sebagai mempelai; Tuhan Yesus mempelai pria, kita mempelai wanita. Tetapi masalahnya adalah apakah kita benar-benar telah menghayati hubungan itu dan mengalaminya secara penuh? Sebab, kalau hanya di dalam pengertian dan belum penghayatan dari pengalaman konkret, itu sia-sia. Allah kita adalah Allah yang hidup, Allah yang nyata. Relasi ini tidak boleh menjadi fantasi semata, tetapi harus menjadi realitas yang benar-benar kita alami. Mungkin sejak Sekolah Minggu kita sudah tahu hal ini, tetapi belum sepenuhnya dalam penghayatan yang benar melalui pengalaman konkret.
    Kita harus rendah hati dan jujur, bahwa sering keyakinan di dalam pikiran kita itu hanya keyakinan, belum pengalaman. Dan ini menyedihkan, kalau kita merasa bahwa keyakinan itu sudah merupakan pengalaman. Ada kesenjangan yang kita harus tahu, antara pengertian nalar kita yang menjadi keyakinan, dan pengalaman konkret. Ada rentang yang jauh, dan itu harus kita satukan lewat perjalanan hidup, sepanjang umur hidup kita. Tentu dari dulu kita mengatakan, dan kita juga menyanyikan syair lagu bahwa kita biji mata Allah. Tetapi, apakah kita mengalaminya sehingga kita memiliki keteduhan yang hebat sebagai biji mata Allah? Kalau kita menjadi kekasih, sahabat, teman dari pejabat tinggi yang berkuasa, itu pasti memiliki sedikit ketenangan atau keamanan atau kenyamanan, terutama ketika kita berada dalam masalah. Kalau Allah adalah Bapa kita—kita biji mata Allah—seberapa kita tenang menghadapi segala tantangan, ancaman, dan guncangan?
    Banyak orang jahat, kejam, bengis, tidak berbelas kasihan terhadap sesama, tidak peduli kehancuran yang dialami orang lain. Lebih jahatnya, tidak peduli dengan kehancuran pekerjaan Tuhan. Kita jadi terpukul. Namun, kita harus mengalah dan diam. Bukan kita tidak mampu. Kita mampu, tapi Tuhan tidak berkenan kalau kita menggunakan kekuatan-kekuatan itu. Kita memuliakan Tuhan bukan hanya dengan nyanyian syair lagu, tapi dengan sikap. Ketika kita di lembah kekelaman, seberapa kita teduh, tenang, dan menaruh harap kita kepada Tuhan? Bapa akan tersanjung kalau kita memercayai Dia dengan benar. Tetapi, maukah kita memercayai bahwa Gembala itu tidak pernah meninggalkan kita? Kita bisa melewatinya nanti, karena di luar sana, orang-orang non-Kristen pun juga mengalami banyak masalah, dan mereka bisa melewatinya. Tapi tentu ada bedanya, yaitu kita melewati masalah dengan pelajaran rohani yang kita dapat, sehingga kita semakin dewasa dan hubungan dengan Tuhan makin melekat. Jadi, masalah bukan hanya datang, dapat jalan keluar, lalu selesai. Ada berkat abadi di balik masalah-masalah itu.
    Kalau Anak Tunggal-Nya saja diberikan, apalagi yang lain. Satu aspek, kita bersyukur atas kedudukan dan posisi ini, istimewa. Sebab dengan kedudukan dan posisi tersebut; sebagai anak, sebagai domba, biji mata Allah, kekasih Allah, mempelai Tuhan, kita memiliki privilege; hak-hak istimewa yang tidak dimiliki oleh mereka yang bukan umat pilihan. Tetapi di aspek yang lain, kita memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengisi hubungan kita dengan Allah, Bapa kita. Hubungan sebagai anak, hubungan sebagai biji mata Allah, hak istimewa/privilege kita adalah: yang pertama, penyempurnaan karakter (Rm 8:28). Kedua, agar kita dimuliakan bersama-sama dengan Putra Tunggal-Nya, Tuhan Yesus Kristus (Rm. 8:17).
    9 min
  • Dua Sudut Pandang
    Tuhan melindungi orang-orang yang Dia kasihi dengan cara membawanya kepada keadaan sulit; mengalami kesulitan. Melalui hal itu, orang-orang yang dikasihi Tuhan mendapat kemuliaan. Artinya, kehidupannya diubah; kemuliaan di mata Allah. Ia menjadi seorang yang hanya mengingini Tuhan, berarti mati bagi dunia dan hidup bagi Allah. Keadaan sulit yang kita alami dalam hidup, bisa seperti ombak atau seperti gelombang besar yang tidak hanya bisa membawa kita ke lautan yang lebih dalam, namun juga bisa membawa kita ke pantai. Jadi, mestinya dengan berbagai kesulitan hidup yang kita alami, kita sampai pada apa yang juga dialami oleh pemazmur yaitu mengingini Tuhan saja. Berkomitmen untuk hidup suci dan tidak mencintai dunia. Kita harus berani membelenggu, mengikat diri kita dengan komitmen.
    Di sini kita sangat bisa mengerti kalau gereja perdana atau gereja mula-mula pada abad pertama dibawa Tuhan kepada penganiayaan. Kalau mereka tidak mengalami penganiayaan, sangatlah mudah bagi mereka meninggalkan iman yang murni. Di samping itu, mereka merindukan kekekalan, yaitu Rumah Bapa. Merindukan dimuliakan bersama Yesus. Jadi, penganiayaan yang dialami oleh orang-orang Kristen mula-mula atau Kristen perdana ini mengondisi mereka lebih mengumpulkan harta di surga. Penganiayaan menjadi berkat abadi bagi mereka. Itu bentuk pemeliharaan Allah atau bentuk dari perlindungan Tuhan atas kehidupan iman mereka. Memang mereka kehilangan ketenangan dan kesejahteraan hidup di bumi, tetapi mereka mendapat ketenangan dan kesejahteraan yang lebih atau yang sangat sempurna di kekekalan. Itu yang harus kita suarakan dalam jiwa kita. Demi melindungi iman atau keselamatan kekal kita, Tuhan mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan hidup kita di bumi.
    Oleh sebab itu, kita harus memandang hidup ini dengan segala fenomenanya dari sudut pandang yang benar; benar menurut Alkitab. Mestinya kita memandang segala sesuatu dengan sudut pandang berdasarkan: pertama, terkait dengan perasan Allah dan kehendak Allah. Kedua, pertimbangan kekekalan. Sudut pandang ini artinya apa pun yang terjadi dalam hidup kita, harus kita anggap tidak masalah, selama itu dalam kehendak Allah dan berguna untuk kekekalan kita. Dengan sudut pandang ini, kita bisa menerima apa pun yang Allah izinkan terjadi dalam hidup kita. Tapi kita mengerti betapa sulitnya mengubah cara berpikir seseorang untuk dapat memiliki sudut pandang ini. Karena cara berpikirnya sudah salah, selera jiwanya sudah menyimpang. Mengapa begitu? Karena percintaan dunia sudah sangat kuat mengikat. Percintaan dunia adalah kesenangan hidup yang dibangun dari fasilitas materi dunia dan segala hiburannya, sehingga orang tidak lagi berkerinduan pulang ke Rumah Bapa. Karena hal tersebut, banyak orang Kristen tidak memiliki pertimbangan terkait dengan kehendak Allah atau perasaan Allah dan kekekalan ini.
    Dalam Alkitab, kita membaca ucapan Yang Mulia Tuhan Yesus ketika melihat Yerusalem, menangisi Yerusalem, “Wahai, jika engkau tahu apa yang perlu bagi sejahteramu. Wahai, betapa baiknya kalau kamu tahu apa yang perlu untuk damai sejahteramu.” Tetapi Yerusalem tidak mengerti. Mereka mengelu-elukan Tuhan Yesus dengan kata “Hosana, hosana” dengan maksud supaya Yesus memenuhi keinginan mereka, yaitu membebaskan mereka dari perbudakan politik. Padahal, Tuhan Yesus mau membebaskan mereka dari perbudakan dosa. Mereka tidak memiliki frekuensi yang sama dengan Tuhan. Maka, jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang berbeda frekuensi. Jadi, ketika kita menghadapi kesulitan-kesulitan hidup, kita menemukan ternyata Tuhan memang menghendaki demikian supaya Ia dapat memperbaiki hidup kita, demi kekekalan kita.
    Jadi, betapa berbahayanya di lingkungan gereja dalam kehidupan para pembicara, kalau terjadi pergeseran. Dari kebenaran Firman Tuhan yang seharusnya mengarahkan cara berpikir guna membangun sudut pandang yang benar untuk menjadikan orang Kristen sebagai pelaku kehidupan anak Allah,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…