Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Revolusi Pengertian
    Pada awal pengiringan, murid-murid Yesus tidak mengerti apa maksud keselamatan yang Tuhan Yesus kerjakan, yang karenanya Ia datang ke dunia. Sama dengan kebanyakan orang-orang Yahudi. Mereka membutuhkan seorang pembebas dengan kekuatan supranatural dari Allah, yang dapat membebaskan mereka dari penjajahan bangsa asing dan memberikan mereka kemakmuran. Itulah sebabnya murid-murid mau meninggalkan pekerjaan mereka, meninggalkan profesi mereka, meninggalkan keluarga mereka, demi harapan hari esok. Tuhan Yesus mengerti motivasi di dalam hati murid-murid itu yang tidak berbeda dengan kebanyakan orang-orang Yahudi. Tetapi Tuhan Yesus tidak bisa menjelaskan dalam waktu singkat, tidak bisa mengubah pikiran mereka yang salah dalam sekejap. Tuhan Yesus dengan sabar menyampaikan kebenaran demi kebenaran. Itupun belum cukup. Setelah kebangkitan-Nya, murid-murid pun masih bertanya yang juga merupakan tuntutan, “Kapan Tuhan memulihkan kerajaan bagi Israel?” (Kis. 1:4-6). Ketika Roh Kudus dicurahkan, pengertian mereka menjadi lengkap. Roh Kudus menuntun mereka kepada seluruh kebenaran.
    Di dalam 1 Petrus 1:13, Petrus menulis, “Letakkanlah seluruh pengharapanmu pada penyataan kedatangan Tuhan.” Selanjutnya dalam 1 Petrus 1:3-4 Petrus mengingatkan bahwa kita memiliki harta—bukan di bumi—yang tersimpan di surga. Jadi ada sebuah revolusi atau perubahan pengertian, sehingga cara mereka memandang hidup atau dimensi pandang mereka berubah. Kalau kita membaca Matius 16:21-23, Petruslah yang menghalangi Yesus pergi ke Yerusalem, Petruslah yang menegur Yesus menggunakan nama Allah supaya Yesus tidak ke Yerusalem. Maksudnya agar jangan mati, sebab mereka mengharapkan Yesus menjadi seorang yang nanti akan berkuasa secara lahiriah. Dan tentu saja Petrus dan murid-murid yang lain, yang selama itu dekat dengan Tuhan, pasti akan mendapat bagian. Coba bayangkan kalau kita adalah murid-murid Yesus pada waktu itu. Mungkin kita sama seperti murid-murid itu yang ikut Yesus demi harapan hari esok di bumi ini. Padahal, Tuhan Yesus menyediakan hari esok di belakang langit biru. Revolusi pengertian yang dimiliki oleh para murid, kiranya juga menjadi revolusi pengertian kita.
    Dalam Matius 6:21 Tuhan Yesus sudah mengatakan, “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada;” “Kumpulkan harta di surga, bukan di bumi.” Tapi murid-murid-Nya masih belum mengerti. Mereka masih berkelahi satu dengan yang lain, dan memperebutkan siapa yang akan terkemuka di dalam Kerajaan Yesus. Namun pada akhirnya, mereka mengalami revolusi pengertian. Pernahkah kita mengalami revolusi ini? Kita sudah hidup dengan pengertian yang salah selama bertahun-tahun dimana kita belum memindahkan hati kita secara utuh. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kita mulai memahami bahwa di dalam Kerajaan Surga nanti ada pemerintahan, ada masyarakat, ada orang-orang yang akan memerintah bersama-sama dengan Tuhan Yesus, yang akan dimuliakan bersama-sama dengan Tuhan Yesus. Surga itu bukan upah atau pahala kita. Surga itu hidup kita, negeri kita, tanah air kita, rumah kita. Upah atau pahala itu adalah jabatan atau kedudukan atau strata yang diberikan kepada kita masing-masing nanti.
    Persoalan-persoalan yang sangat berat yang kita hadapi dan kekecewaan-kekecewaan, membuat kita mengerti bahwa kekristenan yang sejati pasti bukan seperti yang dikenakan oleh banyak orang Kristen hari ini. Paulus mengatakan dalam Kolose 3:1-4 agar kita memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi; yang sama dengan “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Seharusnya, kita sudah tidak memikirkan lagi hal-hal yang menurut pertimbangan umum—yang juga dulu menjadi pertimbangan kita—yaitu sesuatu yang membahagiakan atau memberi nilai diri. Itulah sebabnya di Matius 16:21-23, ketika Petrus menghalangi Yesus ke Yerusalem, Yesus menghardik: “Enyah, Iblis! “Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.
    10 min
  • Dimensi Hidup yang Berubah
    Dalam Yohanes 6:27 Yesus berkata, “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu.” Adapun maksud pernyataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa hendaknya orang percaya dapat melihat tanda (Yun. semeion) atau petunjuk arah, bagaimana mereka dapat mengerti maksud kehidupan diberikan kepada manusia dan sampai pada tujuan itu. Di dalam Injil Matius Tuhan Yesus berkata, “manusia hidup bukan saja dari roti,” artinya bukan hanya mengurusi pemenuhan kebutuhan jasmani, “tetapi hidup oleh Firman yang keluar dari mulut Allah.” Dari pernyataan-pernyataan Tuhan Yesus ini dapat disimpulkan, secara tidak langsung Tuhan Yesus mengarahkan orang percaya agar memiliki cara memandang kehidupan dengan benar. Sejak zaman Yesus mengenakan tubuh daging di Palestina 2000 tahun yang lalu, banyak orang yang tidak mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan. Padahal, ini sangat prinsip. 
    Dan kalau kita membaca kisah kehidupan umat pilihan bangsa Israel, mereka pun juga belum mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan ini, sehingga mereka belum mengerti apa sebenarnya kebutuhan hidup yang sejati. Agama samawi yang waktu itu adalah agama Yahudi, belum tahu. Walaupun mereka berurusan dengan Allah yang benar, dengan Elohim Yahweh, tapi mereka belum tahu. Karena mereka memang tidak akan mampu tahu. Harus ada kebenaran, yaitu Injil. Allah harus mengutus Putra Tunggal-Nya untuk membuka rahasia yang tersimpan berabad-abad itu. Hal ini dapat dimengerti, sebab selama mereka dalam agama samawi yang cara berpikirnya, orientasi hidupnya adalah kehidupan di dunia ini. Kehidupan di surga adalah pahala, tempat perhentian kalau sudah mati. Tetapi bagi orang percaya, kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan yang akan datang, bukan pahala. 
    Adapun bagi kita, pahala atau upah adalah posisi dalam Kerajaan Allah, yaitu jika kita mengerti apa maksud Allah menciptakan kehidupan, dan kita menjalani kehidupan itu. Yesus datang untuk mengajar agar manusia, khususnya umat pilihan, dapat mengerti maksud kehidupan diberikan. Yesus memberi sarana. Yang pertama, Dia mati di kayu salib. Dia menebus dosa-dosa manusia supaya manusia bisa dibenarkan dan dipertemukan dengan Allah. Kemudian, Yesus mengajarkan Injil untuk membuka rahasia kebenaran Allah. Hukum Taurat diberikan Musa, tetapi kebenaran diberikan oleh Yesus. Yesus datang menebus dosa manusia, memikul dosa manusia, lalu Tuhan Yesus mengajar, memberitakan atau mengajarkan Injil. Dan di dalam apa yang diajarkan tersebut, Yesus menampilkan kehidupan seorang yang menemukan tujuan hidup itu. Yesus menampilkan kehidupan sesuai dengan rancangan Allah semula. Yesus menampilkan kehidupan yang Allah kehendaki. Itulah yang dimaksud dengan hidup kekal. 
    Dan memang pada mulanya, Allah merancang seperti ini. Itu rencana awal semula Allah yang rusak karena pemberontakan manusia. Sehingga Alkitab mengatakan, “tidak ada yang benar. Seorangpun tidak ada yang benar.” Tidak ada yang benar, dalam konteks standar kehidupan yang dirancang Allah. Kalau di Perjanjian Lama kita menemukan Ayub, Nuh, dan orang-orang yang dianggap benar oleh Allah, itu benar dalam standar hukum; standar umat Perjanjian Lama. Tetapi benar dalam standar umat Perjanjian Baru, hanya Yesus yang mencapai pada mulanya. Oleh sebab itu, kalau kita benar-benar belajar Injil yang murni, kita dipimpin Roh Kudus, dimensi hidup kita akan berubah; cara kita pandang hidup akan berubah. Orang-orang pada waktu itu hanya fokus mencari makanan untuk kehidupan sementara, kehidupan fana, termasuk murid-murid-Nya. Yang mereka cari adalah “Diberkatilah usahaku, menangkan kami melawan musuh-musuh di sekitar kami, jauhkan dari malapetaka marabahaya. Kami menyembah-Mu.” Itu bahasa agama. 
    Dan bahasa agama ini ternyata masih dibawa oleh banyak orang Kristen hari ini. Mereka tidak mengerti apa maksud kehidupan diberikan.
    7 min
  • Perubahan Kodrat
    Dalam Matius 11:29b Tuhan berkata, “… belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Belajar apa? Belajar hidup sebagai anak-anak Allah. Ketenangan atau kelegaan dalam hal apa? Bukan lega dapat jodoh, bukan lega karena mendapatkan kesembuhan dari sakit, bukan lega karena ekonomi membaik, melainkan lega karena kita memperoleh kepuasan daripada-Nya, dari hasil belajar itu. Kita bertahun-tahun berantakan. Mungkin kita berkata begini, “Tuhan, kenapa aku berantakan? Tuhan, bagaimana hidup suci?” Sejatinya, itulah orang yang terbeban, yang lebih lesu, yang mau dididik. Kalau kita tidak menyadari kebutuhan rohani, maka kita pasti tidak belajar dari Tuhan. Jadi, ajakan ayat ini adalah untuk orang yang menyadari kebutuhan rohani. 
    Tuhan berkata dalam Matius 5:6, “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Kalau seseorang tidak lapar dan haus akan kebenaran, bagaimana dipuaskan? Kuk (Yun. Sugon) adalah alat yang biasanya dipakaikan kepada sapi supaya tidak liar, supaya bisa diarahkan. Jadi, kuk itu lambang pendidikan, pembinaan, pendewasaan, sekaligus simbol atau lambang perbudakan. Kita adalah orang-orang yang sudah dilahirkan dari dunia yang rusak, dibesarkan di lingkungan yang rusak. Kita sudah menjadi raja untuk diri sendiri. Padahal kita diciptakan untuk Tuhan, dan hidup untuk Tuhan. Kalau kita sadar bahwa kita masih egois, maunya dilayani, gampang tersinggung, masih suka dendam. Berarti kita adalah orang yang letih lesu dan berbeban berat. 
    Maka Tuhan berkata, “Belajarlah pada-Ku. Ku ajari bagaimana kamu menjadikan Allah Bapa sebagai Majikan. Maka hidupmu akan seperti Aku; makanan-Ku melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Kalau orang masih gila hormat, gila takhta, masih mau menjadi raja bagi dirinya sendiri, ia tidak belajar dari Tuhan; dia belajar dari setan. Dia tidak merasa keletihan, tidak merasa lesu, tidak merasa beban berat. Juga Tuhan berkata di Lukas 13:23-24, “Berjuanglah.” Ini sama dengan Filipi 2:12-13, “Kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar.” Tuhan ingin kita melakukan kehendak-Nya, Tuhan ingin kita ini menjadi anak-anak kesukaan-Nya, tetapi Tuhan tidak memaksa. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri. Kalau kita tidak keras terhadap diri kita sendiri, dunia akan keras kepada kita dan kita diseret ke neraka oleh setan. Waktu kita di kantor, kita menghadapi orang-orang yang melukai, merugikan kita, tetapi kita harus paksa diri untuk diam dan mengampuni. 
    Kita bersyukur punya Tuhan yang mengurus kita soal kekekalan. Bukan allah, ilah, dewa yang hanya membuat perut kita kenyang, baju bagus, rumah bagus. Tapi Tuhan yang mau kita memiliki karakter seperti diri-Nya dan menjadikan kita anak-anak Allah; jadi pangeran-pangeran Kerajaan Surga, putri-putri Kerajaan Surga yang akan tinggal di istana Bapa di surga. Kiranya masing-masing kita serius berpikir bagaimana membuat kita benar-benar bisa mati sebelum mati. Jadi selama kita masih hidup, kita kerja, kita penuhi tanggung jawab kita, tapi hati kita sudah di surga. Masalah besar jadi kecil, karena hati kita sudah kita pindahkan. Kita bukan orang sempurna, bukan orang hebat, tetapi kiranya kita jadi orang nekat; kita nekat untuk berhenti berbuat semua kesalahan dan dosa, dan hidup suci sesuci-sucinya, terbang setinggi-tingginya, lari secepat-cepatnya. 
    Memang semua memerlukan proses. Tapi sejujurnya, kita tidak paksa sehingga kita tidak sesuai dengan target yang Tuhan inginkan. Karena kita buat tahapan sendiri dengan 1001 alasan. Paksa diri lari secepat-cepatnya, terbang setinggi-tingginya. Manusia telah jatuh dalam dosa. Manusia telah membangun dirinya sendiri dengan bangunan yang salah. Mau menjadi majikan bagi dirinya, sehingga manusia menjadi pemberontak, tidak mengabdi kepada Allah. Tuhan kita, Yesus, adalah manusia sempurna yang menjadi sosok manusia sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia itu.
    11 min
  • Menjual Nyawa
    Ketika Tuhan Yesus berkata di dalam Injil Matius 5:48, “Kamu harus sempurna seperti Bapa,” sebenarnya secara implisit di balik apa yang Tuhan Yesus kemukakan tersebut terdapat kenyataan yang luar biasa, yaitu bahwa manusia dimungkinkan untuk memiliki kodrat ilahi. Dengan sebutan itu, kita bisa mengerti mengapa orang percaya bisa mengenakan atau mengambil bagian dalam kodrat ilahi tersebut. Ini adalah kabar baik yang benar-benar menggembirakan. Kita bisa memasang gelar di depan atau di belakang nama kita, atau kita juga bisa mengenakan baju mewah, melingkarkan arloji mahal di tangan kita, atau apa pun yang dianggap nilai lebih di mata manusia, namun semua itu tidak ada artinya sama sekali. Yang memiliki nilai dan arti yang sesungguhnya adalah ketika seseorang bisa mengenakan kodrat ilahi. Ini adalah sebuah keniscayaan; sebuah kemungkinan. Dan ini merupakan kabar baik, karena kita adalah manusia berdosa—yang telah kehilangan kemuliaan Allah, telah berstatus sebagai pemberontak—diperkenankan mengenakan kodrat ilahi. Ini sungguh luar biasa. 
    Di dalam 2 Petrus 1:3-4 firman Tuhan mengatakan, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu, Tuhan Allah telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya oleh-Nya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari awan nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” Hanya orang-orang yang mengenakan kodrat ilahi yang yang layak menjadi anak-anak Allah, yang diperkenan masuk Yerusalem Baru, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Dan ini yang harus menjadi kerinduan kita karena inilah satu-satunya kehormatan kita. Jadi, mari kita bersukacita karena hal ini, bahwa kita diperkenankan untuk mengambil bagian. Di dalam teks aslinya, koinonoi (κοινωνοὶ) adalah bentuk plural. Dalam bentuk tunggalnya, koinonos (κοινωνός), artinya “yang mengambil bagian.” Ini menunjukkan person atau oknum yang mengambil bagian. 
    Keberadaan manusia yang luar biasa ini memungkinkan manusia bisa menjadi rekan, sekutu, sahabat, atau kawan sekerja Allah. Inilah yang membedakan manusia dengan hewan, yang tidak akan dapat bisa menjadi rekan, sekutu, sahabat, dan kawan sekerja Allah. Jadi kalau manusia tidak menjadi sekutu Allah—padahal dia diberi kesempatan untuk itu—memang lebih baik ia tidak pernah jadi manusia. Celaka sekali. Bayangkan manusia yang hidup suka-suka sendiri; mau buat apa, buat; melakukan apa, lakukan; mau berpikir apa, berpikir; apa yang dia sukai untuk dipikirkan; merasakan apa yang dia senang, dirasakan; mengucapkan kata kalimat yang dia suka, kata-kata yang dia ucapkan, dia membuat berita di gadget-nya apa saja yang dia mau tulis, dia melayani diri sendiri. Model manusia seperti ini pasti tidak mengambil bagian di dalam kodrat ilahi. Maka, ketika hati kita terfokus kepada sesuatu, sejatinya kita menghamba kepada sesuatu itu. Dan ingat, Allah sudah memperingati kita, “Jangan ada padamu Allah lain di hadapan-Ku.” Itu sama dengan “jangan fokus kepada yang lain.” Sebab bagi orang percaya, standarnya adalah “baik kamu makan, baik kau minum, atau melakukan segala sesuatu, lakukan semua untuk kemuliaan Allah.” 
    Itu sama dengan apa pun yang kau ingini, jadikan semua untuk kemuliaan Allah. Jadi kalau orang mengingini dunia—apa pun yang ada di dalamnya—seseorang sebenarnya ia sedang membawa diri untuk mengabdi kepada kuasa lain, bukan kepada Tuhan. Dan ini mengerikan. Ironis, kebenaran seperti ini sudah hampir tidak pernah didengar, karena adanya kompromi; konformisme atau penyesuaian dengan dunia. Seakan-akan ada suara yang berkata, “Jangan berlebihan. Jangan bicara soal kesucian, itu hanya Tuhan yang suci. Jangan bicara soal kesempurnaan, sebab sempurna itu hanya nanti di surga.” Ini yang membuat seseorang gagal fokus atau salah fokus.
    10 min
  • Dua Kepribadian
    Menjadi anak-anak Allah bukanlah suatu hal yang sederhana. Bertahun-tahun—belasan, bahkan puluhan tahun—kita mungkin menjadi orang Kristen yang tidak mengerti bagaimana menjadi anak-anak Allah. Jangan-jangan, banyak pendeta juga belum menyadarinya secara penuh. Walaupun kita sering mendengar bahwa menjadi anak Allah itu bukan sekadar status melainkan keberadaan, namun pada waktu kita mendengarnya, pengetahuan kita tentang kebenaran terkait dengan hidup sebagai anak-anak Allah belumlah lengkap. Makanya kita masih saja sering meleset atau lebih banyak melesetnya. Untuk menjadi anak-anak Allah, kita harus menemukan kebenaran yang membangun gambaran hidup bagaimana menjadi anak-anak Allah itu. Menemukan kemuliaan, keagungan, kesucian, keluhuran anak-anak Allah. Sejatinya, pasti Tuhan nanti akan menolong kita. Roh Kudus pasti tolong kita menemukan sosok itu. Itulah Sosok Kristus, sosok yang diurapi.
    Dengan menemukan kebenaran ini, kita bisa mengerti gambaran sosok anak-anak Allah—yang tentunya gambaran itu akan terus progresif atau bertumbuh makin jelas—sekaligus kita juga akan menemukan sosok manusia lama kita, yaitu kita sendiri. ‘Si aku’ yang dibangun sejak kecil oleh lingkungan, oleh dunia; dengan segala keinginan, hawa nafsu, dan berbagai kehausannya. Kita harus bisa melihat dengan jelas dua sosok yang berbeda ini. Dimulai dari setiap keinginan yang muncul di dalam hati dan pikiran kita. Baik keinginan yang berangkat dari daging kita, atau pun dari jiwa kita yang sudah diasuh oleh dunia. Di sisi lain, kita juga menemukan keinginan-keinginan yang dibangun oleh kebenaran. Di situ terjadi friksi (benturan).
    Di dalam Roma 7, firman Tuhan mengatakan bahwa, “tidak mungkin orang yang hidup dalam daging itu berkenan kepada Allah.” Jadi, selama kita masih mengikuti keinginan-keinginan ‘si aku’ ini, tidak mungkin kita berkenan dan tidak mungkin kita bisa menjadi anak-anak Allah. Maka, kita harus mengikuti kehendak Roh. Dan Paulus mengatakan di dalam Roma 8:12, “kita berhutang untuk hidup menurut Roh karena kita sudah dibeli dengan harga yang lunas dibayar.” Demikian pula dalam 1 Korintus 6:19-20, “Bahwa kita bukan milik kita sendiri kita harus hidup menurut Roh bukan menurut daging, kalau menurut daging kita tidak akan berkenan, dan tidak pernah kita menjadi anak Allah.” Memang, kita berkenan bukan oleh kekuatan kita sendiri melainkan oleh kekuatan Tuhan. Untuk itu, kita harus menemukan perangkat agar kita berkenan di hadapan Tuhan sebagai berikut:
    Pertama, oleh darah Yesus. Kita adalah orang berdosa, jelek, jahat, pemberontak. Tetapi oleh kurban Yesus, kita diampuni, kita berkenan di hadapan Allah. Tetapi kita belum benar-benar berkenan dalam arti keadaan kita ini belum berkenan. Kita dibenarkan, dianggap benar, karena darah Yesus. Tetapi keadaan kita yang benar-benar benar, harus kita perjuangkan.
    Kedua, oleh Firman atau Injil yang menyelamatkan; Firman itu menguduskan. Bagaimana caranya? Kalau kita membaca dan kita menaatinya, maka itu membentuk, membangun karakter kita. Sebab dengan mengenal kebenaran, kita bisa menemukan satu sosok bagaimana menjadi anak-anak Allah, yaitu keagungan, kemuliaan, keluhuran, kesucian anak-anak Allah. Maka ada firman yang mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu.” Artinya ubah dirimu, tentu oleh anugerah Allah, yaitu Roh Kudus dan Firman. Dan Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan. Mungkin kita memang tidak terlibat dalam dosa-dosa besar atau kejahatan moral, tetapi ada kesombongan terselubung, ada kehausan untuk dipuaskan; pujian, sanjungan, kehormatan, yang kalau dilukai membalas dendam, menuntut minta dipuaskan. Belum lagi seks, kedudukan, kuliner, dan lain sebagainya. 
    Masalahnya, kalau orang sudah keburu tua, susah berubah. Ibarat raksasa, sudah kawakan, sudah tua, sudah mencengkeram, sukar ditumbangkan. Tetapi bisa. Kalau kita sudah melihat jelas dua sosok ini, baru kita bisa memilih; Tuhan atau dunia.
    11 min
  • Laboratorium Tuhan
    Kalau kita mengatakan bahwa Allah tidak berubah dan kita percaya Allah yang ditulis di dalam Alkitab—baik di dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru—adalah Allah yang sama, Allah yang tidak berubah, maka mestinya kita juga dapat mengalami apa yang dialami oleh tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama. Mungkin kasusnya tidak sama persis, tetapi esensi dari kasus itu sama, esensinya sama. Mereka pernah ada di dalam bahaya, dalam ancaman. Kita juga bisa dalam keadaan bahaya dan ancaman. Mereka bisa mengalami pertolongan Tuhan dalam keadaan kritis dan krisis. Kita mestinya juga mengalaminya. Memercayai Allah dalam pikiran itu sangat mudah. Membicarakan mengenai Allah dengan perkataan dan dalam tulisan, juga sangat mudah. Membuat rumusan, definisi mengenai Allah dan tindakan-tindakan-Nya dalam ucapan lisan dan tulisan, itu mudah. Tetapi untuk mengalami sungguh-sungguh Allah yang ditulis di dalam Alkitab, bukan sesuatu yang mudah.
    Karenanya jangan tergoda, terpancing bicara, menulis apa pun yang sia-sia semata. Berbicara, menulis hanya karena mau dianggap ‘someone,’ dianggap tahu, mengerti, pintar, bergelar. Itu kesombongan, dan Allah menentang orang sombong. Jangan banyak bicara baik secara lisan maupun tulisan, yang itu ternyata hanya sebuah usaha untuk mengangkat diri. Kita semua memiliki godaan seperti itu. 
    Mengalami Allah itu indah sekali dan luar biasa. Kalau kita benar-benar mengasihi Tuhan dan punya komitmen mengasihi Tuhan, serta kita benar-benar ingin bertumbuh dalam pengenalan akan Allah—seperti yang dikatakan dalam firman Tuhan agar kita bertumbuh dalam pengenalan akan Allah—maka Allah akan mengizinkan kita mengalami berbagai persoalan yang menjadi sarana Allah dimana Allah mau kita mengalami Dia. Jadi, pertumbuhan pengenalan akan Allah tidak cukup dengan membaca buku atau membaca Alkitab. Membaca Alkitab itu sudah mesti, mutlak, absolut. Tapi lebih dari sekadar membaca, yang kita baca dalam Alkitab, harus kita alami. 
    Memang tidak semua pengalaman yang dialami tokoh-tokoh iman di dalam Alkitab kita alami, tetapi pasti ada pengalaman hidup kita yang mirip atau bersentuhan dengan mereka. Dan bagi kita yang benar-benar mengasihi Allah, kita harus bertumbuh dalam pengenalan akan Dia. Tuhan menyediakan ruangan untuk itu; Tuhan menyediakan laboratoriumnya. Laboratoriumnya adalah pengalaman-pengalaman hidup yang kita alami dalam hidup kita. Jadi kalau kita mau bertumbuh dalam pengenalan akan Allah, bersiaplah untuk dimasukkan ke dalam laboratorium Tuhan, yaitu pengalaman-pengalaman hidup. Kalau kita mau mengikut jejak Tuhan Yesus dan mau menjadi seperti Yesus, tidak bisa tidak, kita harus mengalami apa yang juga dialami oleh Tuhan Yesus. Firman Tuhan mengatakan, “Bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita Yesus Kristus, bagi-Nya kemuliaan sekarang dan sampai selama-lamanya” (2Ptr. 3:18). 
    Jadi apa yang kita alami hari ini adalah berkat. Itu laboratorium Tuhan untuk kita yang mengalami proses perubahan. Sebab, pengenalan akan Allah yang bertumbuh akan meningkatkan kualitas kehidupan rohani kita, meningkatkan spiritualitas, meningkatkan kesucian, meningkatkan keberkenanan di hadapan Allah. Jadi bukan hanya sekadar kita tahu hal ikhwal mengenai Allah, melainkan kita juga harus sampai bisa membedakan roh; apakah kita berbicara dalam kesombongan dan kebencian, atau berbicara dengan kasih untuk memberkati orang yang mendengarnya. Tentu itu berbeda. Maka, sekarang yang penting adalah bagaimana kita menerima setiap proses perubahan yang Allah berikan kepada kita. Melalui pengalaman hidup yang merupakan ruangan itu, yang merupakan media itu, yang merupakan laboratorium Tuhan itu, kita diubah untuk mengenal Allah. Tolong kita ingat ini, bahwa mengenal Allah tidak cukup dengan membaca Alkitab. Membaca buku belum cukup; secakap, seteliti, sedetail, sehebat apa pun buku itu. 
    Bahkan membaca Alkitab pun tidak cukup kalau hanya membaca dan mengetahui.
    9 min
  • Memaksa Diri Berubah
    Kita masih merasakan ketegangan karena kurva COVID yang belum juga berakhir. Banyak bahaya yang mengancam hidup kita: bencana alam, perang, dan berbagai bahaya mengancam kita. Manusia adalah makhluk yang rentan, sangat rentan. Orang yang tadinya sehat, tiba-tiba meninggal dunia. Hidup ini pun rentan. Mengemukakan hal ini bukan bermaksud menakut-nakuti atau mengancam. Kita harus berpikir logis, realistis, dan berakal sehat. Dan kita harus selalu dalam keadaan berkenan di hadapan Allah. Sebab, kita tidak tahu kapan kita menghembuskan nafas kita yang terakhir. Kita harus selalu memeriksa diri dan berjaga-jaga, supaya setiap saat kalau kita meninggal dunia, kita didapati benar-benar berkenan. Dan itu bisa kita usahakan. Bukan sesuatu yang tidak bisa kita capai. Ini bukan sesuatu yang bersifat spekulatif atau gambling. Ini sesuatu yang pasti bisa kita capai, kalau kita berjuang dan berusaha dengan sungguh-sungguh. 
    Itulah sebabnya, kita harus memberi waktu untuk berdoa, datang ke gereja mendengar Firman. Tujuannya agar kita menjadi manusia sesuai yang dikehendaki Allah. Jangan ada dosa yang disimpan. Jangan ada kebencian, dendam, sakit hati. Kita bisa mengenali keadaan kita, kalau kita sungguh-sungguh mau mengenali. Dan Roh Kudus pasti memberi kita pengertian. Allah tidak memaksakan kehendak-Nya kepada kita untuk kita lakukan. Allah menghendaki kehendak-Nya dilakukan, tetapi Allah tidak memaksa. Kita masing-masinglah yang harus memaksa diri kita sendiri untuk hidup seturut kehendak Allah secara terus-menerus. Kita yang harus memaksa diri kita sendiri untuk berkeadaan berkenan di hadapan Tuhan secara terus-menerus, dan akhirnya nanti secara otomatis kita dapat melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Allah, sebab sudah menjadi irama hidup kita. Selama belum menjadi irama hidup kita, belum menyatu dalam diri kita, kita yang harus memaksa diri kita. Paksa diri kita untuk tidak berbuat salah dalam hal apa pun. 
    Jadi, apa kata orang tentang kita, baiklah kita diam. Karena kita semua akan ada di pengadilan Tuhan. Tidak perlu membela diri. Yang nuraninya baik, bisa tahu ini benar atau salah. Yang nuraninya bengkok, pasti tidak punya kepekaan membedakan roh. Kita ini berjuang untuk benar. Tidak mudah. Kita harus memaksa diri kita untuk benar. Memaksa diri kita untuk berkenan di hadapan Tuhan. Memaksa diri kita untuk hidup suci. Memaksa diri kita untuk hidup tak bercacat, tak bercela, yang nantinya menjadi irama yang otomatis. Hidup kita harus begitu: memaksa diri. 
    Kesucian itu mestinya bisa jadi irama. Melakukan kehendak Allah itu jadi irama. Tapi yang pertama, kita harus memaksa diri dulu. Dan tujuan keselamatan kita itu sebenarnya adalah perubahan hidup agar kita bisa berpikir, berperasaan, berperilaku sebagai anak-anak Allah. Dari kodrat dosa ke kodrat ilahi, yang secara otomatis berpikir, berperasaan seperti Tuhan, dan selalu sesuai dengan kehendak Tuhan. Ini namanya benar-benar berstatus sebagai anak-anak Allah atau anggota keluarga Kerajaan Allah. 
    Seharusnya kita tidak melakukan hukum karena perintah. Memang pada mulanya dipaksa begitu, tetapi lama-lama jadi irama. Kalau di dalam Injil diistilahkan sebagai ‘perubahan cara berpikir.’ Ini yang perlu kerja keras supaya benar-benar bisa mengalami perubahan kodrat. Sampai secara otomatis, kita bisa mengampuni musuh; otomatis tidak marah yang tidak perlu; otomatis tidak bisa genit lagi; otomatis tidak tertarik dunia. Tapi hari ini kita masih berkata, “dunia bagus sekali, ya.” Atau ketika melihat barang bagus, kita berkata dalam hati, “Kalau punya ini, pasti menyenangkan.” Tapi kita harus jujur dan sadar bahwa kita selama bertahun-tahun sudah terbiasa dengan cara berpikir, gaya hidup dengan segala hasrat dan nafsu-nafsunya yang meleset. Walaupun bukan pelanggaran moral yang memalukan, tapi tidak di dalam ketepatan standar kesucian Allah. Tidak mudah; bukan sesuatu yang mudah untuk mengubah karakter atau kebiasaan hidup ini. 
    9 min
  • Pikiran Iblis
    Segala sesuatu yang menghambat kita bertumbuh sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, adalah pikiran Iblis. Walaupun itu keluar dari pikiran manusia. Karena, standarnya itu serupa dengan Yesus, sempurna seperti Bapa. Supaya semua yang kita kehendaki selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. , semua pikiran yang tidak membuat kita bisa sempurna seperti Bapa, berasal dari setan. Dulu kita menilai apa yang kita pikir itu normal. Namun ternyata kita salah menetapkan standar. Kenapa dikatakan berasal dari Iblis? Karena menjadi batu sandungan. Yesus mengatakan itu ketika Petrus mencegah-Nya pergi ke Yerusalem (Mat. 16:21-23). Padahal, Yesus ke Yerusalem supaya rencana Allah terpenuhi. Dia pertaruhkan nyawa-Nya. Yesus berkata, “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” 
    Maka, semua yang membuat rencana Allah tidak digenapi, yang membuat kita tidak sempurna seperti Bapa dan tidak serupa dengan Yesus, berasal dari setan. Semua pencapaian kita—gelar, pangkat, materi, dan lainnya—menjadi sampah kalau kita tidak semakin seperti Yesus. Ini bukan berarti kita tidak perlu sekolah tinggi atau bekerja menghasilkan banyak uang. Tapi semua pencapaian itu merupakan sarana untuk kita menjadi semakin sempurna. Maka, kalau kita mau dimuliakan bersama Yesus, kita harus menderita bersama dengan Dia. Untuk menderita bersama dengan Tuhan, kita harus sepikiran dan seperasaan dengan Dia. Kalau tidak, maka tidak akan sefrekuensi dengan-Nya. Dan kalau kita menderita untuk Tuhan, kita akan dimanjakan oleh Tuhan. Tapi, kalau mau dimanjakan Tuhan, pikul salib. Setan memberi kita roti, mahkota fana, kesenangan dunia, kekayaan, kehormatan, panggung, pangkat. Tetapi Tuhan Yesus memberi kita salib. Itu cara kita dimanjakan oleh Tuhan. 
    Orang Kristen hari ini meminta berkat, hidup lancar, tidak memikirkan apa rencana Allah dalam hidupnya: sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus, dan menderita bagi Dia. Matius 16:21 mengatakan, “Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.” Petanya jelas: menderita, lalu dibangkitkan. Alkitab juga memberi petunjuk yang lengkap. Tidak hanya pikul salib, titik. Tidak sampai di situ. Tapi, pikul salib, kemudian ada mahkota yang disediakan. Tidak hanya menderita bagi Tuhan, pikul salib, tapi juga ada mahkota kemuliaan. Jangan sampai kita seperti Petrus yang ingin Yesus memperoleh kemuliaan, namun menghindarkan-Nya dari penderitaan. “Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, ‘Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu, hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” 
    Sejujurnya, kita juga sering kali seperti Petrus. Menghindari penderitaan yang harus diderita, namun berharap memperoleh kemuliaan bersama dengan Tuhan di kekekalan. Sejatinya, tiada mahkota tanpa salib. Itulah mengapa Tuhan berkata, “setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku,”. Setiap kita harus melalui jalan salib untuk mencapai jalan kemenangan. Untuk itu, semua naluri manusiawi untuk berbuat dosa harus kita buang. Ayat selanjutnya mengatakan, “Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Mat.16:25). Dengan kata lain, “barangsiapa berani ‘bunuh diri,’ ia akan memperolehnya.” 
    Oleh karenanya, mari kita sederhanakan prinsip hidup ini. Jangan diperluas. Target kita menjadi sempurna seperti Bapa, serupa dengan Yesus. Entah kita menikah atau tidak menikah; punya anak atau tidak; kaya atau miskin, kita mau sederhana saja. Tidak ada yang mutlak di dunia ini selain menjadi seperti Dia. Masing-masing kita menyelesaikan tugas yang Bapa percayakan kepada kita. Masa lalu yang buruk,
    7 min
  • Meningkatkan Kawasan Rohani
    Allah Bapa menghendaki agar setiap hari kita mengalami pertumbuhan iman yang benar. Yang digambarkan seperti naik terus dan masuk ke satu kawasan; kawasan rohani yang lebih tinggi. Memang Allah hadir di mana-mana, tetapi tidak semua orang percaya sungguh-sungguh mengalami Allah. Dan tidak semua orang Kristen juga mengalami pertumbuhan untuk terus memasuki kawasan Allah. Allah itu nyata, riil, bukan dongeng, bukan mitos, bukan fantasi, Allah Mahahadir. Tetapi faktanya, Allah seperti tidak ada. Dan banyak orang sebenarnya ateis. Walaupun dia mengaku beragama dan mulutnya mengaku percaya Tuhan, tetapi nyatanya mereka ateis praktis. Lebih menyedihkan kalau mereka adalah orang Kristen yang sudah belajar teologi, cakap bicara tentang Tuhan, tetapi ateis. Hal itu jelas dari perilakunya yang kejam, yang bengis terhadap sesama; sejatinya, ini menunjukkan bahwa dia tidak peduli perasaan Allah. Dan tidak sedikit manusia yang berlaku seperti hewan, mencabik-cabik orang lain dengan semena-mena. Orang-orang seperti ini, suatu kali akan dicabik-cabik juga dibuang ke dalam neraka, api kekal. Sungguh mengerikan. 
    Dari kejahatan orang, ketegaan terhadap sesamanya, kita melihat bahwa neraka tidak mungkin tidak ada. Tetapi surga juga pasti ada untuk mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Allah, yang berbuat baik terhadap sesama, walaupun kebaikannya tidak ada yang melihat atau tidak mendapat balasan, tetapi Allah memperhitungkan. Ada orang-orang yang terus bertumbuh di dalam iman di lingkungan orang Kristen dengan harga mahal yang harus ia bayar untuk meningkatkan kawasan hidup rohaninya. Meningkatkan dengan cara apa? Tentu tidak ada cara lain kecuali pikiran yang bersih, mulut yang bersih, perilaku yang benar; yang kita sebut sebagai kesucian. Sementara itu, hatinya harus semakin terlepas dari ikatan-ikatan dunia. Tidak boleh ada sesuatu yang mengikat yang menjadi kesenangan dan kebahagiaan. Kita butuh rumah, mobil, uang, dan fasilitas lain. Tentu sesuai dengan kelas masing-masing orang. Mewah atau tidak, itu tergantung kelasnya. Di kampung, motor juga sudah jadi barang mewah. Tetapi, bagi orang yang penghasilannya bisa beberapa miliar, mobil yang berharga 15 miliar itu tidak ada apa-apanya. 
    Yang penting, jangan ada ikatan karena kita pasti mati dan pulang. Masalahnya, kita pulang ke mana? Ini tergantung kita, mau pulang ke neraka atau ke surga. Karena kita akan menuai apa yang kita tabur. Yang menabur dalam daging, menuai kebinasaan; yang menabur dalam roh, akan menuai kemuliaan bersama Tuhan. Untuk meningkatkan kawasan rohani, hidup kita harus suci, harus tidak terikat dengan dunia. Harus meledakkan hati, membuat membara hati kita mencintai, mengasihi Allah, dan menghormati Allah. Dan tidak ada yang bisa melarang kita mengasihi Allah. Bahkan diri kita sendiri tidak boleh melarang kita mengasihi Allah. Daging kita, diri kita, manusia lama kita sering menarik kita untuk tidak mengasihi Allah. Tetapi kita harus berani mengasihi Allah, menghormati Allah lebih dari apa pun dan siapa pun. 
    Kita harus berani menyatakan bahwa kita membutuhkan Tuhan, Allah Bapa kita. Kita membutuhkan Tuhan kita Yesus Kristus lebih dari oksigen yang kita hirup, lebih dari udara yang kita hirup, yang karenanya kita bernafas. Kita membutuhkan Tuhan lebih dari darah kita, lebih dari air yang kita minum. Dan Allah tahu kalau kita benar-benar mengasihi Dia, menghormati Dia, dan memerlukan Dia. Allah juga tahu ketika kita tidak membutuhkan Dia, ketika kita membutuhkan Allah hanya karena kuasa-Nya, tangan-Nya yang kuat untuk meraih dunia bagi keinginan kita. Ini kurang ajar. Kita membutuhkan Allah karena memang Dia adalah kebutuhan utama hidup kita, bukan yang lain.
    Orang-orang seperti itu baru bisa benar-benar memuja Allah. Seperti seorang pria yang jatuh cinta kepada seorang wanita atau seorang wanita jatuh cinta kepada pria, wanita ini tidak bisa hidup dengan pria manapun. Jadi ketika kita berkata, “Aku memuja-Mu, aku mengasihi-Mu, ya, Bapa,
    9 min
  • Bunuh Diri
    Keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Sepertinya, kalimat ini sederhana dan mudah dipahami secara logis di dalam nalar. Tetapi di dalam perjalanan hidup yang kita jalani, ternyata hal ini bukan sesuatu yang sederhana. Benar-benar kompleks dan rumit. Karena di dalam proses dikembalikan ke rancangan Allah semula itu, kita harus memiliki pikiran dan perasaan yang selalu seiring dengan pikiran dan perasaan Allah, sehingga kehendak kita selalu sesuai dengan kehendak Allah. Betapa rumitnya, ketika hal ini diimplementasikan di dalam hidup. Karena kita, khususnya yang sudah terlanjur berusia lanjut, sudah membangun cara berpikir, gaya hidup, selera, nafsu, ambisi yang tidak sesuai dengan standar kesucian Allah. Walaupun melalui pendidikan budi pekerti, lingkungan yang baik, seseorang bisa baik, tetapi standar yang Allah kehendaki itu adalah kesucian-Nya. Kesucian Allah itu bukan dalam bentuk hukum-hukum, aturan-aturan, atau tatanan-tatanan moral, melainkan berangkat dari perasaan Allah sendiri.
    Kita harus mengerti apa yang Dia rancang untuk kita lakukan dalam hidup ini. Inilah keselamatan itu, yang jika tidak diperjuangkan, tidak akan dialami. Banyak orang berusaha, tetapi tidak masuk. Itulah sebabnya di Filipi 2:5-7 firman Tuhan mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus…” Dan itu menunjuk Yesus yang telah berhasil memiliki pikiran, perasaan Allah. Sehingga segala sesuatu yang dilakukan itu hanya untuk memenuhi apa yang Allah kehendaki dan menyelesaikan apa yang Bapa percayakan kepada Yesus untuk diselesaikan atau dikerjakan (Yoh. 4:34). “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Artinya tidak bersyarat. Lalu ayat yang ke-12, “… karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar…” itu.
    Maka, menjadi Kristen adalah perjuangan yang berat. Hidup kekristenan adalah perjuangan yang lebih berat dari segala perjuangan yang dilakukan oleh manusia. Jadi ketika berbondong-bondong orang mau mengikut Tuhan Yesus di Lukas 14:25-35, Tuhan Yesus berkata, “hitung dulu anggarannya,” artinya ini tidak mudah. Tetapi ironisnya hari ini, kekristenan ditawarkan sebagai jalan mudah masuk surga; cara mudah memperoleh keselamatan. Itu benar-benar dari kuasa kegelapan, menyesatkan. Padahal, menjadi Kristen berarti memasuki perjuangan yang berat. Dengan kata lain, kalau seseorang tidak berani “bunuh diri,” ia tidak bisa menjadi orang Kristen yang sejati. Dalam hal ini, yang dibunuh bukan dagingnya, melainkan nafsunya. Yang dibunuh ambisi, cita-cita, keinginan-keinginan daging seseorang. Ada orang yang bisa ‘terbang’ tinggi, yaitu orang yang hidupnya benar-benar bersih dan hatinya tidak terikat oleh kesenangan apa pun. Mulutnya bersih, tidak ada percintaan dunia. Sudah sepantasnya kita bersyukur memiliki Allah yang benar. Satu-satunya Allah yang benar, yang menciptakan langit dan bumi. Tapi kita tidak akan sampai ke sana kalau tidak benar-benar bersih. Jadi sejatinya, kekristenan yang kita pahami selama ini, bukan Kristen yang orisinil. 
    Di Matius 19:21-23, orang muda yang ingin mengikut Tuhan Yesus tidak menyanggupi syarat yang Tuhan ajukan. Padahal dengan menyanggupi syarat seperti tersebut, meski terkesan seperti “bunuh diri,” itu akan menghidupkannya. Tidak ada kematian yang indah seperti ini, sebab ini menghidupkan. Dan tidak ada kehidupan tanpa kematian. Lalu di Lukas 9:57-62, ada orang berkata: “Tuhan, aku akan ikut Engkau ke manapun Engkau pergi.” Tuhan berkata: “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Ini gaya hidup normal yang Tuhan kehendaki kita jalani. Tuhan sering membuat kita sadar melalui pukulan,
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…