Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Tanggung Jawab Membangun Diri
    Kalau kita tidak semakin seperti Tuhan Yesus, kita tidak mungkin merindukan Dia. Ketika kita memiliki sifat-sifat yang semakin seperti Allah, kita seperti ditarik, maka baru kita sadar bahwa “dunia bukan rumahku.” Kita baru mengerti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus, “Kamu bukan dari dunia ini.” Itulah sebabnya seseorang tidak bisa memaksa diri merindukan Tuhan, tidak bisa memaksa diri menghayati dunia bukan rumahnya kalau sifat-sifatnya masih sifat-sifat dunia. Manusia dapat memiliki sifat-sifat Allah, tetapi tidak otomatis. Maka, manusia bertanggung jawab untuk membangun dirinya. Dan sejak manusia diciptakan, ia sudah memiliki tanggung jawab itu. Sebab kalau kita tidak berjuang untuk memiliki sifat-sifat Allah, kita akan memiliki sifat-sifat yang lain. Agama mengajarkan hukum; kekristenan mengajarkan perubahan kodrat. Itulah sebabnya Allah menciptakan manusia segambar dengan diri-Nya. Tetapi keserupaan dengan Allah—artinya sifat-sifat seperti Allah—menjadi tanggung jawab manusia itu. Tentu untuk memiliki sifat-sifat Allah, manusia tidak bisa mengusahakannya sendiri. Roh Kudus akan memimpin.
    Dalam Kejadian 1:27 dikatakan, “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” Allah menciptakan manusia tanpa bahan, artinya idenya dari Allah. Bara; menciptakan gambar (Ibr. tselem). Tetapi rupa (Ibr. demuth)—yang memuat sifat-sifat Allah—harus diusahakan oleh manusia itu sendiri; tentu dalam pimpinan Allah. Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, artinya Allah menaruh jiwa, pikiran, dan perasaan di dalam manusia—sama seperti Allah sendiri yang juga punya pikiran dan perasaan. Tetapi kualitas dari pikiran, perasaannya diusahakan oleh manusia itu sendiri, dalam pimpinan Allah. Ketika Tuhan Yesus mengatakan, “Berikan kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan. Tapi kepada Allah, apa yang wajib kamu berikan.” Apa yang wajib diberikan kepada kaisar? Uang dinar. Kenapa? Karena di uang dinar itu ada tulisan dan gambar kaisar. Lalu apa yang harus diberikan kepada Allah? Sesuatu yang ada gambar dan tulisan Allah. Manusia inilah yang ada tulisan, ada ukiran gambar Allah (Ibr. tselem).
    Jadi, kualitas batiniah kita tergantung diri kita masing-masing. Itu tatanan sejak semula. Desain awal, memang manusia harus bertanggung jawab. Maka, harus tahu tiga kata yang berarti mencipta, yaitu: yang pertama, bara (Kej. 1:27, menciptakan tanpa bahan). Yang bisa menciptakan jiwa—dimana ada pikiran, perasaan—hanya Allah yang bisa; tidak ada yang bisa. Kata kedua, yatsar, yang artinya “membentuk” (Kej. 2:7). Yang ketiga, asah. Seperti yang kita dapati dalam Yeremia 18:4, tukang periuk yang membentuk tanah liat. Jadi, sejak semula Allah memang mendesain manusia untuk membangun dirinya sendiri. Allah memberi jiwa, dimana terdapat pikiran dan perasaan. Tapi kualitasnya, tergantung manusia itu sendiri. Manusia sudah jatuh dalam dosa, rusak. Matius 9:12 mengatakan, “Yesus mendengarnya dan berkata: ‘Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit.’” Namun betapa celaka orang yang tidak sadar dirinya sakit. 
    Iblis membuat banyak mainan, kesenangan, persoalan, pergumulan, sehingga manusia gagal fokus dan tidak lihat dirinya. Banyak wanita “sakit” karena belum punya jodoh. Banyak pasangan suami istri “sakit” karena merasa belum punya keturunan. Ada banyak orang “sakit” karena belum punya mobil, rumah, dan lain-lain. Merasa “sakit” karena hal itu. Salah. Dan orang seperti ini pasti tidak mencari Tuhan. Kita sakit karena kita tidak segambar dengan Allah.
    Diperlukan perubahan. Dan ini tergantung kita masing-masing; mau berobat atau tidak. Kenali di mana sakitmu, Tuhan sembuhkan. Kita tidak bisa datang ke dokter lalu berkata, “Dok, saya sakit apa?” Justru dokter yang akan bertanya apa yang kita keluhkan. Sakit batin kita juga begitu. Selidiki dan ketahui yang mana, maka Tuhan akan menggarapnya. Namun, kita juga harus ikut membereskan.
    10 min
  • Media Penyempurnaan Karakter
    Kalau kita menunda atau membatalkan keinginan-keinginan yang tidak sesuai kehendak Allah, berarti kita melakukan suatu hal yang positif. Karena kita hidup di dunia yang sudah rusak, sudah jatuh, dan pengaruh dunia begitu jahat. Kalau kita mengikuti kehendak dunia (1Yoh. 2:15-17; keinginan daging, keinginan mata, keangkuhan hidup yang bukan berasal dari Allah), sejatinya kita sedang membinasakan diri. Pertanyaannya, “Apakah kita tidak boleh punya keinginan?” Allah memberikan kita pikiran dan perasaan supaya kita punya keinginan. Tidak mungkin manusia tidak punya keinginan. Allah tidak menghendaki kita tidak punya keinginan. Tetapi kita menunda apa yang menjadi keinginan kita sendiri sejak kita di dunia. Kita menyalibkan diri. Oleh sebab itu, kita harus berani fokus. Yang sering tanpa disadari menyesatkan adalah ketika orang memisahkan antara hamba Tuhan dan jemaat; pendeta dan awam. Ini menyesatkan. 
    Kita semua memiliki standar yang sama. Tidak ada awam, tidak ada imam. Semua kita adalah imam-imam; imamat yang rajani. Tidak ada standar ganda; standar pendeta harus A, standar jemaat B, tidak. Semua kita harus seperti Kristus. Semua harus sempurna seperti Bapa; memiliki kemampuan yang memproduksi, membuahkan keinginan atau kehendak yang selalu sesuai dengan Allah. Dan untuk itu, seseorang harus berani fokus. Dimensi berpikir kita harus dimensi kekekalan, dimensi surgawi. Kalau kita tidak memiliki komitmen yang jelas dan tegas, kita akan terus menjadi seorang yang diombang-ambingkan oleh keadaan, gagal fokus, bias, dan tidak akan pernah menjadi anak-anak Allah yang berstandar atau berkualifikasi anak Allah. Mari kita bertobat. Tujuan hidup kita hanya satu: sempurna seperti Bapa. Artinya, kemampuan untuk bisa berpikir, berperasaan sekualitas dengan Allah Bapa, supaya membuahkan kehendak, memproduksi keinginan-keinginan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. 
    Dan kita yang menentukan diri kita. Kalau kita mengonsumsi apa yang dunia sediakan, kita tidak akan pernah memiliki kecerdasan rohani, logika rohani. Makanya sekarang kita harus fokus. Jangan menonton yang tidak perlu ditonton. Ketika kita membuka gadget, ada yang tidak boleh ditonton, tidak perlu kita tonton. Itu merusak. Jadi, waktu kita yang singkat ini harus kita gunakan sebaik-baiknya untuk membangun rupa Allah di dalam diri kita. Dari hal-hal praktis, teknis, kita merajut “otot-otot kodrat ilahi,” merajut “saraf-saraf kodrat ilahi.” Memang, kemelesetan masih bisa kita lakukan. Dan kalau kodrat ilahi kita tidak kunjung sembuh, itu karena kita sering menolerir. Tapi Tuhan menyediakan ‘media penyempurnaan karakter.’ Dalam Roma 8:28 dikatakan, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan,” itu merujuk pada media penyempurnaan.
    Ketika kita bertemu pelayan restoran yang entah karena kurang profesional atau karena kesalahan tidak melayani kita dengan baik, mertua yang cerewet sekali, pasangan yang tidak sempurna, semua itu adalah media yang Tuhan sediakan untuk menyempurnakan kita. Jadi, Allah itu mau memproses kita. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, itu adalah media. Percayalah, kalau kita bisa dipercayai Tuhan, Tuhan tidak suka membuat kita susah atau miskin berkepanjangan. Kalau kita miskin, kita tidak bisa membalas kebaikan orangtua, tidak bisa menolong saudara, tidak bisa mendukung pekerjaan Tuhan. Makanya diperbaiki dulu karakter kita. Tuhan tahu kalau kita banyak duit, kita tenggelam. Maka Tuhan cegah. Tapi bersyukur kalau sampai Tuhan menakar berkat kita, karena itu menyelamatkan. Daripada dipuas-puaskan sebanyak-banyaknya, tapi mati masuk neraka. 
    Jadi, mari kita bertanggung jawab mulai hari ini, demi keselamatan kita sendiri. Karena maksud keselamatan itu hanya itu: sempurna seperti Bapa. Supaya kita berkeadaan mulia, dan orang yang berkeadaan mulia layak dimuliakan bersama dengan Tuhan Yesus. Apa pun yang kita usahakan dalam hidup ini, apa pun, suatu hari harus kita lepaskan. Lenyap, tiada bekas.
    10 min
  • Nalar Logika
    Setiap kita harus menyediakan waktu untuk ada di hadapan Allah dan memohon agar kita bisa merasakan kegentaran akan Dia, dimana seakan-akan kita sudah ada di hadapan Allah di kekekalan. Namun, sesungguhnya Allah yang hidup bisa hadir di ruangan kita, dan kita bisa menemui-Nya, sehingga kita menghayati kegentaran kedashyatan Allah itu. Kita bisa mengalaminya. Carilah wajah Tuhan, sediakan waktu, hayati kedahsyatan Allah, dan minta kepada Tuhan hati yang gentar dan takut akan Dia sebagaimana mestinya. Dan pengalaman pada waktu doa pribadi adalah pengalaman riil yang bisa kita alami untuk merasakan kedahsyatan Allah di dalam kehadiran-Nya yang luar biasa. Dan di situ kita bisa mengerti apa artinya iman terhadap Allah yang hidup. Kita sering menggunakan nalar logika kita. Nalar logika kita bisa memikirkan tentang Allah, merumuskan tentang Allah, mengurai kalimat-kalimat pengajaran mengenai Allah, tetapi nalar logika kita tidak mampu menyentuh Allah. 
    Meyakini Allah yang tidak kelihatan sebagai Allah yang nyata, sebagai Allah yang ada, bukan hal yang mudah. Karena kita sudah terbiasa memiliki nalar logika bahwa yang diyakini adalah sesuatu yang kelihatan, yang bisa dibuktikan atau diverifikasi secara ilmu pengetahuan, dan yang bisa diurai dengan logika. Adapun Allah, tidak bisa diurai dengan logika. Karenanya, kita harus bisa menembus batas, sehingga kita bisa melihat apa yang tidak dilihat oleh mata manusia pada umumnya. Di sini kita bisa melatih iman kita, yaitu pada waktu kita menghayati kedahsyatan Allah tersebut. Coba lakukan itu sampai kita bisa benar-benar merasakan kegentaran akan Allah, dan kita benar-benar bisa gemetar. Tentu kita tidak boleh terjebak dengan emosi yang kadang-kadang membuat hadirat Allah palsu. 
    Terus terang, banyak orang yang pandai menciptakan liturgi yang dapat mengangkat nuansa emosional dengan musik dan tata panggung menawan, sehingga cakap membuat hadirat palsu. Dengan nyanyian, alunan musik, doa, kita bisa menciptakan frekuensi jiwa seakan-akan Allah hadir, dan kita seakan-akan bersentuhan, tapi ternyata kita bermain di area perasaan karena kita ada di nalar logika. Kita belum keluar dari nalar logika, kita belum menembus batas. Mata rohani kita belum terbuka. Tuhan mau menghancurkan nalar logika kita dan mengajari kita iman yang benar, pandangan menembus batas lewat keadaan-keadaan yang terjepit, yaitu situasi-situasi dimana kita benar-benar tidak berdaya, benar-benar hanya Tuhan yang bisa menolong. Bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena apa yang akan kita lakukan untuk keluar dari masalah bisa bertentangan dengan kehendak Allah. 
    Misalkan suatu kali kita terjepit oleh kebutuhan keuangan dalam jumlah besar, lalu kita punya kesempatan untuk mendapatkan uang dengan cara yang salah, apakah itu korupsi, atau mungkin berutang. Tapi dalam masalah ini, Tuhan tidak menghendaki kita berutang, apalagi korupsi. Maka, di situ Tuhan mau menghancurkan nalar logika kita dan mengajar kita untuk mengandalkan Tuhan. Situasi-situasi seperti ini adalah situasi-situasi yang benar-benar konstruktif untuk membangun iman dan menghancurkan nalar logika kita. Tuhan menjadi andalan kita satu-satunya. Nalar logika kita dipatahkan supaya iman yang sejati menembus batas meyakini dengan benar, menerima dengan benar keberadaan Allah. Allah mengizinkan situasi-situasi sulit itu agar nalar logika kita bisa dipatahkan dan iman kita dibangkitkan, menembus batas. 
    Ibrani 11:6 mengatakan, “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.” Jadi, orang yang mencari Allah harus yakin bahwa Allah itu ada dan Allah akan memberikan upah pada orang yang mencari Dia. Namun, sadari bahwa memiliki iman yang menembus batas itu tidak mudah. Buktinya apa? Buktinya, sering kita masih mengandalkan manusia, masih berharap dunia menyenangkan dan membahagi...
    8 min
  • Dimensi Hidup Yesus
    Banyak orang yang sampai hari tuanya tidak berhasil mengubah dimensi hidupnya; dimensi yang benar sebagai anak-anak Allah. Atau memang karena tidak ada usaha, sehingga kita tidak bisa mengatakan ia tidak berhasil, tetapi ia tidak mengubah dimensi hidupnya. Orang-orang yang dipilih oleh Allah mendengar Injil, yang juga disebut sebagai umat pilihan, dikehendaki Allah untuk memiliki dimensi hidup yang berbeda dengan dimensi orang yang bukan umat pilihan. Dimensi hidup orang percaya yang sesuai dengan kehendak Allah, berbeda sekali dengan dimensi hidup orang yang bukan umat pilihan Allah, yang tidak menjadi anak-anak Allah. Dimensi hidup kita sebagai anak-anak Allah, dimensi hidup yang tidak dikenal oleh cara berpikir dan logika manusia. Kalau kita memperhatikan dimensi hidup Yesus ketika Ia menjadi manusia, itulah seharusnya dimensi hidup kita. Kurang dari itu, hidup kekristenan kita salah, berarti bukan anak-anak Allah. Kalau Tuhan Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” itu jauh dari sekadar: “Jadilah orang Kristen,” atau “jadilah aktivis gereja, rajinlah kebaktian, jadilah pendeta.” 
    Sejatinya, ketika Yesus berkata, “Ikutlah Aku,” artinya kita harus memiliki dimensi hidup seperti dimensi hidup yang dijalani oleh Tuhan Yesus. Paulus memahami hal ini. Maka, dalam Filipi 1:21 ia berkata, “bagiku hidup adalah Kristus.” Yang berarti “bagiku hidup adalah mengenakan dimensi hidup-Nya Yesus.” Di dalam bagian lain, Paulus mengatakan, “Ikutilah teladanku sama seperti aku mengikut Dia.” Dan ditegaskan dengan pernyataannya yang mengatakan, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku.” Lalu yang lebih tegas lagi dinyatakan dalam Kolose 3:4, “Apabila Kristus yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” Sejatinya, inilah dimensi hidup yang normal, yang wajar sebagai anak-anak Allah. Tuhan Yesus juga berkata dalam Yohanes 17:21, “… supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” Jadi, ada satu kesatuan. Tentu kita yang larut di dalam Tuhan, bukan Tuhan yang larut di dalam kita. Kita yang larut mengikut jejak Tuhan Yesus. 
    Murid-murid Yesus disebut ‘Kristen’ karena mereka memiliki gaya hidup yang tidak sama seperti masyarakat pada waktu itu. Mereka mengenakan hidup-Nya Kristus. Maka kalau Alkitab mengatakan, “Kristus tinggal di dalam aku,” bukan pribadi Yesus tinggal di dalam diri kita. Jika demikian, berarti kita berpribadi ganda. Melainkan cara berpikir-Nya, gaya hidup-Nya, paradigma-Nya, dimensi hidup-Nya menjadi dimensi hidup kita; dimensi hidup Anak Manusia yang diurapi. Jadi, ketika orang Kristen abad mula-mula teraniaya, mereka justru melestarikan kekristenan yang sejati. Mereka mempertahankan kekristenan yang sejati; kehidupan sebagai orang-orang yang diurapi. Namun sebaliknya, ketika kekristenan menjadi agama negara, para uskup, pemimpin-pemimpin gereja, dan orang-orang Kristen “seakan-akan memperoleh kemenangan,” justru kekristenan mengalami kemerosotan. Perjuangan mempertahankan iman menjadi keributan mempertahankan doktrin. Begitu sejarah gereja mencatat. Cela-mencela, saling mengasingkan, sampai pada bunuh-membunuh. Dan itu terjadi selama berabad-abad. 
    Sampai kemudian orang-orang Kristen—yang dipelopori oleh para pemimpinnya—mendeklarasikan perang salib, yang pasti tidak diajarkan oleh Tuhan Yesus. Dan itu menjadi luka; luka yang tidak pernah kering. Menjadi kenangan pahit bagi dua agama besar di dunia: Kristen dan Islam. Perang salib dikatakan sebagai perang terlama di dunia. Tidak pernah juga diajarkan bahwa kita boleh memaksa orang beragama Kristen. Kekaisaran Roma, ketika dipimpin oleh kaisar-kaisar yang masuk Kristen, memaksa semua warga di bawah kekuasaan kekaisaran Roma beragama Kristen. Yang hasilnya adalah begitu besar jumlah orang ramai-ramai menjadi Kristen,
    8 min
  • Berkat atau Kutuk
    Dari sejarah kehidupan bangsa Israel, kita memperoleh banyak pelajaran rohani yang sangat berharga dan berguna bagi kehidupan kita, orang percaya saat ini. Seperti misalnya perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, bisa menjadi gambaran kehidupan orang percaya yang juga ada dalam perjalanan dari dunia ini ke langit baru bumi baru; Kanaan Surgawi. Dalam 1 Korintus 10:11 tertulis, “semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh, dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu dimana zaman akhir telah tiba.” Dituliskan “untuk menjadi peringatan bagi kita,” artinya apa yang mereka alami, itu mengandung pelajaran kehidupan untuk kita. Apa yang Allah lakukan untuk mereka, itu juga bisa Allah lakukan untuk kita. Karenanya, kita patut sungguh-sungguh memperhatikan fakta sejarah, fakta empiris dari kehidupan bangsa Israel ini. Setelah tiba di tanah Kanaan, banyak peristiwa yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel yang juga bisa menjadi pelajaran rohani bagi kita. Salah satu pelajaran rohani yang dapat kita petik adalah mengenai ketidaktaatan bangsa Israel yang mengakibatkan mereka tidak hidup di dalam kelimpahan Allah. 
    Allah memang berjanji menyertai bangsa itu. Memberikan sebuah tanah yang berlimpah susu dan madu, memberikan kemakmuran dan kejayaan. Tetapi fakta yang terjadi dari pengalaman yang ada atau fakta empiris menunjukkan bahwa sering kali bangsa Israel hidup dalam penderitaan. Panen yang gagal karena berbagai penyebab, seperti adanya belalang pelahap. Mereka juga ditimpa berbagai bencana, ditindas oleh bangsa asing, dan berbagai penderitaan lainnya. Dan puncaknya adalah ketika bangsa Israel terusir dari tanah perjanjian, terserak di seluruh dunia, yang dikenal sebagai diaspora. Dan itu terjadi sekitar 600 tahun sM. Negeri terakhir mereka—Yehuda, yang berkedudukan di Yerusalem—runtuh oleh Babel. Dan sejak itu, bangsa Israel tidak pernah memiliki kerajaan. Sesaat, orang-orang Yahudi yang dipimpin oleh anak-anak Makabe di abad 2 sM, juga mau membangun sebuah pemerintahan, tetapi digilas habis oleh kekaisaran Romawi. Dan itu juga bagian dari terseraknya bangsa Israel ke seluruh dunia. 
    Di perantauan pun mereka mengalami penderitaan yang sangat berat. Kisah sekitar Holocaust yang dikenal dengan Shoah di dalam perang dunia ke-2 dari tahun 1939 sampai tahun 1945, dan khususnya usaha genosida—yaitu pemunahan suatu suku bangsa dengan cara membunuh bangsa itu—terjadi atas Israel di tahun 1941-1945, dimana 6 juta orang Yahudi dibantai. Sejarah kehidupan bangsa itu tragis. Memberi pelajaran yang sangat mahal bagi kita, orang percaya, yang hidup pada zaman ini. Penderitaan yang sangat mengerikan ini membuat kita bisa takut dan gentar terhadap Allah. Oleh sebab itu, jangan main-main dengan Allah. Jangan sembarangan terhadap Allah yang hidup. Namun, mengapa bencana itu terjadi atas bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah? Jawabnya yang tepat adalah karena mereka tidak dengar-dengaran kepada Allah. Mereka tidak taat, mereka tidak hidup menurut jalan yang Allah tunjukkan. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kepada mereka perintah yang tegas mengenai kenyataan adanya berkat dan kutuk (Ul. 28). Kalau mereka hidup dalam ketaatan, mereka akan diberkati, dan semua janji Allah akan terpenuhi. Tetapi kalau mereka tidak hidup dalam ketaatan, maka kutuklah yang akan menimpa mereka.
    Ayat-ayat firman Tuhan ini mestinya membuat kita gentar, takut akan Yahweh Elohim yang Mahakudus, yang kedaulatan-Nya sempurna. Dan Allah menegakkan tatanan dalam kedaulatan-Nya secara konsekuen dan konsisten. Jadi kalau dilanggar, Allah sendiri tidak bisa menghindarkan kutuk dan hukuman atas orang-orang yang sebenarnya Allah kasihi. Itulah kedaulatan Allah dalam tatanan-Nya. Tidak ada kompromi dengan siapa pun dan apa pun. Dan hal ini mestinya menggetarkan jiwa kita. Membuat kita benar-benar gentar dan takut akan Allah dengan segala kehormatan. Dalam hidup ini, kita benar-benar berhadapan dengan Pribadi Mahaagung yan...
    10 min
  • Bersikap Sepantasnya
    Sebenarnya sulit untuk menemukan satu kata yang patut digunakan untuk menunjukkan sikap kita yang seharusnya terhadap Tuhan. Biasanya kata yang digunakan adalah “ekstrem.” Kita harus ekstrem, harus fanatik, harus memiliki intimacy (keintiman), nekat, sepenuh hati, segenap hati, dan lain sebagainya. Sejatinya, kata-kata itu sebenarnya tidak cukup mewakili bagaimana sikap kita seharusnya terhadap Allah. Suatu hari nanti, ketika kita menghadap Allah, kita baru bisa mengerti sepenuhnya bahwa Dia yang Empunya segala kuasa, kemuliaan, dan kerajaan. Bahwa hanya Dia yang layak dimuliakan, ditinggikan, dan diagungkan. Bahwa Dia yang menciptakan segala sesuatu, berhak memiliki segala sesuatu, dan semua yang diciptakan hanya bagi Dia. Dia adalah Allah Israel, Elohim Yahweh, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus, Allah dan Bapa kita semua. 
    Berbahagialah orang-orang yang pada waktu menghadap Allah Bapa, telah selesai dengan dirinya sendiri. Artinya, orang yang telah mempersembahkan hidupnya tanpa batas kepada Allah. Kata “tanpa batas” ini juga mewakili kata ekstrem, fanatik, radikal, nekat, dan lain sebagainya. Pada saat itulah seseorang baru akan menyadari betapa layak dan pantasnya segala sesuatu bagi Dia. Karena memang segalanya dari Dia, oleh Dia, dan bagi Dia. Namun sejujurnya, kita sudah terlanjur memiliki irama hidup yang salah. Kita sudah terlanjur memiliki gaya dan cara hidup yang egosentris dan antroposentris dimana manusia sebagai pusat, bukan Teosentris. Tetapi kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat. Kita masih memiliki kesempatan untuk mengubah diri. Oleh sebab itu, mari kita belajar untuk bersikap sepantasnya kepada Allah. 
    Dalam Alkitab, kita menemukan orang-orang yang benar-benar ekstrem, fanatik, nekat mengasihi Dia. Seperti Abraham, hidupnya dirampas sepenuhnya oleh Allah. Bahkan tersirat bagaimana Abraham tidak berhak memiliki apa yang tersayang dalam hidupnya, kecuali Allah sendiri. Dia harus meninggalkan kampung halaman dan keluarga. Dia harus keluar dari negerinya, dan dia tidak boleh kembali. Dia harus melewati tahun-tahun yang panjang dalam kesepian, tanpa anak yang akan mewarisi kekayaannya. Sampai, sempat dia menjadi tawar hati dan mau menyerahkan warisannya kepada salah satu hambanya, Eliezer. Bahkan ketika dia sudah memiliki anak, Allah pun mau renggutnya. Tetapi Abraham bersedia. Demikian pula dengan Musa. Hidupnya juga dirampas untuk memenuhi panggilan memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir. Dan yang paling kita kagumi adalah Tuhan kita, Yesus Kristus, yang prinsip-Nya “makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya” (Yoh. 4:34). Dan kemudian Rasul Paulus, serta murid-murid yang lain, juga menunjukkan kehidupan seperti itu.
    Kata “percaya” yang ditulis Alkitab untuk orang pada zaman itu terkait dengan perbuatan. Jadi kalau orang berani percaya kepada Tuhan Yesus, berarti nyawa, keluarga, harta, seluruh hidupnya dipertaruhkan. Itu tidak sama dengan percaya yang dimiliki orang di abad-abad berikut ketika sudah tidak ada penganiayaan. Sangat jauh berbeda dengan percaya orang pada zaman ini. Para teolog merumuskan kata “percaya” di atas kertas, dan dipahami secara nalar. Hal ini menjerumuskan banyak orang Kristen dalam fantasi berteologi, fantasi berdoktrin, dan berdebat dalam ajaran. Padahal, percaya adalah tindakan. Seperti Abraham, tindakan Abrahamlah yang membuat dia disebut sebagai bapa orang percaya. Jadi kalau dikatakan “dibenarkan oleh iman,” berarti dibenarkan oleh tindakan berdasarkan apa yang Allah kehendaki, bukan sekadar perbuatan baik.
    Untuk bisa memercayai Yesus sebagai Anak Allah, itu juga bukan sekadar meyakini dalam pikiran, jika kata “percaya” tersebut dikenakan pada zaman itu. Percaya kepada Tuhan Yesus menjadi konyol di mata manusia di sekitarnya. Anak tukang kayu yang dicap pemberontak oleh kekaisaran Roma, yang dicap menghujat Allah oleh jurubicara resmi dari para pemimpin dan pemuka agama—mala...
    10 min
  • Tuhan Tersakiti
    Agama Kristen lahir di Palestina, tetapi hari ini, mayoritas orang-orang di sekitar daerah itu bukanlah orang-orang Kristen. Gereja-gereja pada umumnya hanya menjadi objek wisata. Kalaupun ada kebaktian-kebaktian kecil, itu dilakukan oleh mereka yang berziarah, para turis, atau kelompok-kelompok komunitas Kristen yang datang dari seluruh belahan dunia. Tetapi, tidak ada jemaat di sekitar daerah itu yang signifikan memiliki komunitas gereja. Yang juga menyedihkan adalah kota Cappadocia, Efesus, Cartago, dan banyak kota-kota yang disinggahi Paulus, dimana nyaris juga orang-orang Kristen punah. Istanbul sendiri yang dulu bernama Bynzantium—yang merupakan pusat dari gereja Timur, pusat gereja Timur di seluruh dunia, sehingga di sana ada gereja Hagia Sophia yang artinya “hikmat suci”—sekarang tidak lagi menjadi wilayah Kristen. Tujuan surat yang ditulis oleh Yohanes di pulau Patmos yang sekarang ada di wilayah Turki, juga hanya tinggal puing-puing. Dan yang lebih menyedihkan hari ini adalah Eropa. Agama lain bisa berkembang dan bertumbuh, sementara gereja-gereja kosong, dan gereja-gereja megah hanya menjadi tempat wisata. Tidak ada kekristenan di situ. 
    Maka timbul pertanyaan: Mengapa wilayah-wilayah yang dulu Kristen, sekarang tidak? Jawaban yang bisa kita peroleh adalah: “Untuk apa menjadi Kristen, kalau tidak menjadi seseorang sesuai dengan kehendak-Ku? Apa artinya menjadi Kristen; apa artinya gereja kalau tidak sesuai dengan yang Kuingini?” Kekristenan telah menjadi komunitas orang beragama. Itu masalahnya. Benar-benar meleset dari maksud tujuan kekristenan itu diadakan; meleset dari maksud keselamatan itu diberikan. Padahal, yang pertama, Tuhan menghendaki agar orang Kristen menjadi manusia-manusia yang sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Menjadi manusia yang ajaib, yang berbeda dengan manusia lain. Jangan mengubah ini. Harus menjadi manusia yang sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus. Hal ini tidak bisa ditawar, karena Tuhan Yesus pun berkata, “kamu harus sempurna.” Tetapi ketika kekristenan melembaga menjadi agama, orang Kristen menjadi ‘manusia normal.’ 
    Yang kedua, orang percaya harus menghayati bahwa dunia bukan rumahnya. Jadi ketika keberagamaan—dalam hal ini Kristen—membuat manusia wajar dan tidak memindahkan hatinya di Kerajaan Surga, untuk apa kekristenan? Karena itu adalah pengkhianatan terhadap Allah. Maksud Allah menciptakan manusia pada mulanya adalah agar manusia segambar, serupa dengan diri Allah. Yang kemudian Tuhan Yesus menegaskan di Matius 5:48, “kamu harus sempurna.” Dan Yesus memberi teladan, contoh dari manusia yang sempurna seperti Bapa itu. Jadi, menjadi Kristen itu harus seperti Yesus atau serupa dengan Yesus. Kalau tidak, percuma. Mau menjadi Kristen, aktivis, majelis, pendeta, atau tokoh agama Kristen setinggi apa pun, percuma. Komunitas Kristen jadi mengecewakan kalau mereka hidup wajar seperti manusia lain. Kemudian menjadi sesat ketika tidak menginginkan Kerajaan Surga dan tidak menghayati dunia bukan rumahnya. 
    Sejatinya, Tuhan tidak butuh orang-orang yang beragama Kristen. Tuhan malah tersakiti oleh orang-orang yang mengaku beragama Kristen, tapi tidak menjadi manusia sesuai dengan maksud Allah menciptakan manusia. Tujuan keselamatan itu demikian, bukan sekadar menghadirkan agama yang namanya agama Kristen, lalu orang punya komunitas, lalu mengadakan seremonial, membangun gereja yang megah-megah. Ibadah yang benar adalah dalam roh dan kebenaran. Entah di bawah pohon, entah di dalam gubuk, tidak masalah. Yang penting, hidup kesehariannya serupa dengan Yesus. Dalam seluruh perilaku, dalam seluruh perbuatan. Jadi ketika “serupa dengan Yesus” digantikan dengan gelar akademis, kekristenan rusak. Proses pemuridan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus, digantikan Sekolah Tinggi Teologi. Bukan tidak boleh adanya Sekolah Tinggi Teologi, tetapi jangan berpikir bahwa dengan gelar itu, ia menggantikan maksud keselamatan yaitu serupa dengan Yesus...
    10 min
  • Tatanan Allah
    Mari kita hayati bahwa sejatinya, Allah yang Mahacerdas dan bijaksana tidak mungkin menciptakan kehidupan bagi makhluk yang segambar dengan diri-Nya dalam keadaan spekulatif, dalam keadaan untung-untungan, seperti orang bermain lotere. Allah memiliki tatanan, dan manusia sebagai makhluk ciptaan yang segambar dengan Allah, harus memahami tatanan itu. Sebab itu, ia harus menentukan nasibnya, menentukan dirinya, memetakan hidupnya. Maka, manusia harus melakukan apa yang benar; sesuai dengan kehendak Allah agar dapat hidup di dalam kelimpahan-Nya. Sebab, Allah tidak pernah merancang yang buruk bagi makhluk ciptaan-Nya. Allah tidak menghendaki kerusakan, kehancuran, kebinasaan, dan penderitaan. Tetapi manusia harus menentukan keadaannya, karena Allah yang cerdas dan bijaksana itu memberikan aturan main, hukum, tatanan pada manusia yang berkeadaan segambar dengan Allah. Yang oleh karenanya, manusia memiliki pikiran dan perasaan untuk mempertimbangkan sesuatu. 
    Kalau kita membaca di dalam kitab Kejadian 3:6, perempuan itu melihat bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya. Bagaimana ia bisa tahu? Ia mempertimbangkan. Mestinya dia menundukkan pertimbangannya itu kepada apa yang Allah katakan, “Jangan makan buah ini. Karena pada hari kau makan buah ini, mati kamu!” Tetapi ia punya pertimbangan sendiri, dan itu yang membuat celaka. Dalam Kejadian 1:2 ditulis, “bumi belum berbentuk, dan kosong gelap gulita menutupi samudera raya.” Hal ini menunjukkan bahwa keadaan dunia kacau balau secara materi. Kemudian Allah mengubah dan menyusun keadaan kacau-balau tersebut menjadi bumi yang berkeadaan tertib, teratur, indah. Yang kemudian Allah mengatakan setelah mengevaluasinya, “sungguh amat baik.” Kemudian Allah juga menciptakan manusia untuk mendiaminya. Manusia ditempatkan di bumi yang berkeadaan sangat tertib, teratur, dan indah. 
    Allah menciptakan segala sesuatu secara sangat teratur dengan segala tatanan dan hukumnya. Belum lagi setiap planet memiliki kekuatan magnet tertentu, dan mereka beredar sesuai dengan orbitnya. Allah memberikan oksigen yang melimpah kepada bumi. Air diserap matahari di atas, diturunkan lagi. Itu semua tatanan. Maka dikatakan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya. Demikian pula dalam kehidupan manusia secara rohani. Allah juga menciptakan atau menyusun atau membangun tatanan, demi keteraturan. Kalau benda, tidak usah diperintahkan, mereka teratur sendiri. Berbeda manusia; diberi tatanan, tetapi bisa dilanggar atau dipatuhi. Manusia yang harus menentukan, apakah dia hidup di dalam tatanan itu, atau tidak.
    Maka, manusia yang memiliki pikiran dan perasaan mestinya bertumbuh dewasa, memiliki kecerdasan seperti Allah, kebijaksanaan seperti Allah, sehingga sempurna seperti Bapa. Dan segala sesuatu yang dilakukan selalu sesuai dengan pikiran, perasaan Allah. Tetapi manusia telah jatuh dalam dosa, kehilangan kemuliaan Allah, artinya tidak sanggup mengikuti aturan yang orisinil itu. Keselamatan dalam Yesus Kristus, Allah Bapa mau mengembalikan kita pada tatanan semula itu. Jadi, tatanan harus tergelar dan manusia harus memahami. Jika tidak demikian, kehidupan ini menjadi kekacauan yang tidak memiliki kepastian. Di dalam tatanan yang Allah ciptakan tersebut, manusia harus mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan pertimbangan sendiri, apakah mau mengikuti kehendak Allah yang adalah standar tatanan itu, atau mengikuti standar sendiri. Hidup di bumi ini, kita tidak bisa mengharapkan Firdaus; kenyamanan yang ideal, yang sempurna. 
    Karenanya, kita hanya mau mempersiapkan diri untuk masuk kehidupan yang sesungguhnya, yang Allah rancang di langit baru bumi baru seperti rancangan semula ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Oleh karenanya, kita harus menjadi ciptaan sesuai rancangan Allah semula, untuk mendiami negeri yang sempurna di langit baru bumi baru. Jadi dalam tatanan tersebut, manusia harus mengambil keputusan: mengikuti tatanan Tuhan atau tidak.
    11 min
  • Ingin Kaya?
    Menjawab pertanyaan yang merupakan pergumulan semua orang percaya, “mengapa sulit mengalami pertumbuhan untuk menjadi sempurna seperti Bapa atau serupa dengan Yesus?” Ternyata jawabannya bisa kita peroleh dari Lukas 16:11. Karena seseorang masih “mencintai dunia,” yang di dalam bahasa Indonesia kita ditulis: “tidak setia dalam hal mamon yang tidak jujur.” Artinya, bersikap keliru terhadap kekayaan dunia. Mamon menunjuk harta dunia atau materi atau sesuatu yang dipandang sebagai berharga atau bernilai, untuk bisa menjadi andalan atau tumpuan harapan. Celaka kalau manusia menggantungkan harapannya kepada materi atau kekayaan dunia. Tuhan Yesus mengingatkan agar kita berjaga-jaga dan waspada terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidak tergantung daripada kekayaan itu. Hari ini, hampir semua manusia telah tertipu oleh mamon. Pada umumnya, manusia memandang harta kekayaan sebagai yang bernilai, yang berharga, yang dapat diandalkan dan menjadi tumpuan harapan. Dan ini tidak bisa dibantah. Di dunia kita hari ini, harta kekayaan dunia, uang, sangat berkuasa dan berguna dalam menjalani hidup wajar sebagaimana manusia pada umumnya. Maka, tidak heran banyak orang yang terbelenggu di sini.
    Termasuk orang-orang Kristen, juga tertipu oleh mamon. Kelak mereka baru menyadari adanya penipuan atau penyesatan itu, setelah melihat kekekalan yaitu ketika sudah ada di balik kuburnya, baru sadar ternyata ini mamon yang tidak jujur. Namun, keadaan tersebut sudah terlambat. Jangan sampai kita berkeadaan seperti itu. Kita tidak menutup mata terhadap kenyataan kebutuhan uang untuk berbagai fasilitas hidup. Kita mengerti, dan memang kita harus bekerja keras, memaksimalkan potensi untuk memperoleh uang. Tetapi, jangan kita berpikir kalau uang banyak, lebih aman; sangat banyak, sangat aman. Yang penting, kita bisa menjalani hidup dari hari ke hari. Kenyataannya, tidak sedikit di antara kita yang sebenarnya tidak memiliki kepastian hidup secara materi. Kontrak rumah, uang sekolah anak, bahkan kadang-kadang untuk makan pun kita gali lubang, tutup lubang. Namun, kadang ada orang-orang Kristen yang mau melempar tanggung jawab kepada Roh Kudus untuk membuat mukjizat. Itu yang menjadi keliru.
    Jadi, jangan sampai kita terbelenggu oleh percintaan dunia. Dunia harus kita tinggalkan. Kebahagiaan kita hanya di dalam Tuhan, kita lewati dari hari ke hari, sambil menatap kehidupan yang akan datang di langit baru bumi baru. Dalam kitab Wahyu, digambarkan bahwa percintaan dunia ini adalah pelacur besar. Keindahan dunia ini, materi, dan mamon merupakan pelacur besar yang disampaikan Yohanes dalam kitab Wahyu (Why. 17:1-2). Ini bukan percabulan secara seks umum. Ini adalah percabulan rohani. Ini menunjuk keadaan dunia akhir zaman, dimana manusia menjadi sangat materialistis. Mulai dari bangsawan, penguasa, pemimpin-pemimpin masyarakat, politisi-politisi, semua terbelenggu oleh harta. Jadi, tidak heran kalau grafik korupsi di manapun terus meningkat. Orang menjadi kejam, tidak memiliki belas kasihan terhadap sesama karena uang. Zaman sekarang ini adalah zaman dimana manusia pada umumnya hidup dalam pelacuran dengan dunia. Kalau sampai kita ikut terjebak dalam pelacuran ini, kita tidak pernah menjadi perawan suci di hadapan Allah. Jadi, apakah salah jika kita ingin kaya? Kita harus melihat konteksnya. Ingin kaya karena cinta uang, atau ingin kaya karena cinta Tuhan? Kalau ingin kaya karena Tuhan, maka pasti semua dipersembahkan bagi pekerjaan Tuhan. Bukan berarti menyerahkan semua ke gereja. Tetapi dalam pimpinan Roh Kudus, bagaimana mengelola harta yang Tuhan percayakan kepada kita.
    Betapa mengerikan keadaan saat itu, ketika mamon tidak dapat menolong, dan manusia diseret ke dalam api kekal bersama-sama dengan Iblis dan roh-roh jahat. Pernahkah kita membayangkan bahwa kalau kita tidak bertobat, tidak meninggalkan percintaan dunia, kita akan bersama dengan makhluk-makhluk yang buruk rupa, mengerikan, kejam,
    9 min
  • Kehilangan Kesempatan
    Tuhan memberi kita kesempatan untuk terus membenahi diri, dan harganya sangat mahal. Sebab ketika kita meninggal dunia, tidak ada kesempatan lagi. Harus diingat bahwa kematian setiap kita tidak dapat diprediksi. Oleh sebab itu, selagi kita masih memiliki kesempatan seperti sekarang ini, kita harus sungguh-sungguh memfokuskan diri kepada Tuhan untuk diubah. Kita harus membuka diri seluas-luasnya untuk diperiksa oleh Allah, dan kita mau sungguh-sungguh mengenali diri kita seperti Allah mengenali kita. Supaya jika ada sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah dari dalam hidup kita, dapat segera kita sadari dan perbaiki.
    Penyesalan akan kesempatan yang tidak ada lagi, adalah penyesalan yang sangat mengerikan. Sejak dini, Tuhan pasti telah memperingatkan setiap orang percaya untuk berbenah. Jika ada unsur-unsur yang bukan dari Allah di dalam diri kita, pasti Tuhan memberitahunya, sebab Roh Kudus ada di dalam diri kita. Ketika seseorang terus diperingatkan Tuhan namun selalu mengabaikan peringatan tersebut, Allah tidak memandang muka. 1 Petrus 1:17 mengatakan “Allah menghakimi semua orang tanpa memandang muka,” tetapi memandang perbuatan. Jadi, betapa kita harus menundukkan diri di hadapan Allah dan memohon nasihat-Nya. Masalah terbesar kita bukan masalah kesehatan, sakit-penyakit, masalah ekonomi, utang-piutang, masalah rumah tangga, atau apa pun. Masalah terbesar kita adalah pengaruh kuasa kegelapan yang bisa mencengkeram dan menguasai hidup, sehingga seseorang mengikuti kehendaknya sendiri.
    Itulah sebabnya dikatakan di dalam Efesus 4:27, “Jangan memberi kesempatan kepada Iblis.” Di dalam bahasa aslinya, kata “kesempatan” itu topon; artinya tempat berpijak; foothold (Ing.); pangkalan. Firman Tuhan itu ditujukan kepada jemaat Tuhan, bukan untuk orang kafir, bukan orang yang tidak mengenal Tuhan. Bukan orang di luar Kristen, melainkan orang-orang Kristen. Dengan demikian, jelas bahwa orang Kristen itu masih bisa memberi pangkalan kepada Iblis dalam hidupnya. Banyak orang merasa dan percaya bahwa diri mereka sudah menjadi anak-anak Allah, lalu tenang-tenang saja karena sudah menjadi anak Allah. Padahal, mereka tidak hidup sebagai anak-anak Allah. Di dalam Roma 8:12-14, firman Tuhan mengatakan: “jadi saudara-saudara, kita adalah orang berhutang. Tetapi bukan kepada daging supaya hidup menurut daging, sebab jika kamu hidup menurut daging. Kamu akan mati, tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah.”
    Bapa mendidik kita, menghajar kita supaya kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, artinya supaya kita menjadi anak-anak-Nya yang sah. Kalau seseorang hidup menurut daging, ia menjadikan dirinya nothos; anak yang tidak sah. Allah memberi kita penebusan, diangkat-Nya kita dari keadaan bukan anak Allah, dan diberi peluang menjadi anak Allah. Tetapi untuk menjadi anak Allah yang sah atau tidak, kita harus memberi respons yang memadai terhadap peluang tersebut, dengan hidup melakukan kehendak-Nya. Ingat, dalam Matius 7:21-23 Tuhan Yesus mengatakan: “Aku tidak kenal kamu… karena kamu tidak melakukan kehendak Bapa.” Orang yang tidak melakukan kehendak Bapa, bukan anak Bapa.
    Kepada orang-orang pada zaman-Nya, Yesus berkata: “Bapamu bukan Allah,” walaupun mereka berkata: “kami anak-anak Allah.” Kehidupan mereka tidak menunjukkan kehidupan yang dipimpin oleh Roh Allah. Hidup menurut Roh atau dipimpin Roh, artinya kehidupan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Inilah karakteristik dari kehidupan Yesus, ciri dari anak Allah, yakni berjalan sesuai dengan Roh. Untuk memiliki kehidupan seperti ini, dibutuhkan perjuangan dimana setiap orang harus menaklukkan dirinya sendiri di bawah pimpinan Roh. Ia harus menyesuaikan diri terhadap kehendak Allah. Dan ini harus berangkat dari diri sendiri. Harus ada tekad, komitmen, niat yang sungguh-sungguh. Kalau tidak, kita tidak akan bisa mencapainya,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…