Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Kebutuhan Hidup yang Sejati
    Yesus datang untuk memberikan roti untuk kehidupan kekal tersebut, dan roti itu adalah diri-Nya. Yesus mati untuk menebus dosa manusia. Yesus memberi contoh kehidupan seseorang yang memiliki hidup kekal. Dan orang yang mau memiliki hidup kekal harus mengerti apa yang Yesus ajarkan dan memahami bagaimana mengenakan cara dan gaya hidup-Nya. Orang-orang pada waktu itu mencari Tuhan Yesus karena roti jasmani. Mereka kelihatan bersemangat, tapi mereka tidak punya dimensi hidup yang benar. Mereka menyembah Allah, diberkati di dunia, nanti mati dapat pahala, yaitu boleh masuk surga. Surga itu rumah kita, bukan pahala. Bicara soal pahala atau upah, itu nanti bicara soal kedudukan yang masing-masing kita akan miliki, yang digambarkan oleh Alkitab ada yang mendapat 10 kota, 5 kota, dan lain sebagainya, seberapa Tuhan akan memercayakan kepada kita pemerintahan bersama dengan Tuhan. Seakan Tuhan berkata, “Bekerjalah bukan untuk makanan yang akan dapat binasa. Kamu sibuk dari pagi sampai malam. Dari minggu ke minggu, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun untuk apa yang kemudian lenyap. Mengapa kamu tidak mencari sesuatu yang memiliki nilai abadi, bernilai kekal?”
    Jadi, batasnya tipis antara kekristenan dengan keberagamaan. Kekristenan yang sejati menemukan maksud Allah menciptakan kehidupan, yaitu menyukakan hati Allah. Mau menikah, mau tidak menikah; mau punya anak mau tidak; mau pria, wanita; mau kaya atau miskin; mau bakatnya A atau B atau C atau D, pokoknya menyukakan hati Allah. Dan setiap orang harus menggumuli hal ini. Maka, orang harus benar-benar bersentuhan dengan Allah dan mengerti betul apakah dia menyenangkan hati Allah atau belum. Sebab, Dia bukan Pribadi yang mati. Dia Allah yang hidup, Allah yang hadir. Itu yang harus kita persoalkan dengan serius. Jangan sampai kita menutup mata, tapi belum tahu dalam kepastian apakah kita sudah menyenangkan Allah atau belum. Ironis, hari ini banyak orang yang belum memiliki kepastian, namun merasa tenang-tenang saja. Dunia kita hari ini yang semakin materialistis. Orang makin tidak menyadari kebutuhan hidup yang sejati. Kebutuhan hidup yang sejati itu apa? Menjadi manusia yang menyukakan Allah.
    Sejatinya, hal itu harus diperkarakan karena itu adalah kebutuhan utama. Dalam menggumuli hal ini, mungkin kita sampai merasa letih dan lelah dan berbeban berat. Mengapa? Karena kita melawan kodrat dosa di dalam diri kita, dan gaya hidup yang sudah bertahun-tahun melekat. Kuasa kegelapan telah membutakan banyak mata pengertian orang, sehingga mereka tidak mampu memandang hidup dengan dimensi yang benar; dimensi hidup kekekalan. Manusia adalah makhluk kekal, jangan main-main. Kalau kita sudah menghayati realitas kekekalan, kita pasti akan berusaha mendekat kepada Allah—untuk bukan saja meyakini kekekalan itu ada atau yakin masuk surga—untuk memperoleh kepastian apakah kita sudah menjadi makhluk yang memuaskan hati-Nya atau belum. Yohanes 6:63, firman Tuhan mengatakan, “Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup.” Maksud perkataan Tuhan Yesus ini adalah bahwa segala sesuatu yang diajarkan oleh Yesus, berorientasi pada hal-hal rohani, hal-hal kesucian, hal-hal kehidupan kekal semata-mata. 
    Maka Tuhan pun berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal.” Maksud makan daging dan minum darah Tuhan adalah menyatu dengan gairah, hidup, perasaan, pikiran Tuhan Yesus. Itulah maksud Allah menciptakan manusia dan kehidupan itu. Keberagamaan tidak mengerti sedalam ini. Mereka datang kepada Tuhan hanya untuk urusan jodoh, urusan belum punya anak, urusan belum punya rumah, urusan makan minum dan lainnya. Tuhan bisa memberi, karena tidak ada yang mustahil bagi Dia. Tapi tujuan kita bukan itu.
    10 min
  • Menghayati Kehadiran Allah
    Satu hal yang kita harus selalu ingat bahwa Allah tidak pernah meninggalkan kita. Allah selalu mendampingi kita, menyertai kita, di dalam dan melalui Roh Kudus. Allah memimpin kita, menyertai kita dalam segala hal yang kita lakukan. Oleh sebab itu, hari ini mari kita mulai mengingatkan kepada diri kita sendiri, “Allah menyertaiku.” Di satu sisi, penyertaan Tuhan membuat kita kuat menghadapi segala keadaan, karena semua atau segala sesuatu yang terjadi di dalam kontrol Allah. Semua ada di dalam kendali Allah, tidak ada yang luput dari kendali-Nya. Jangan kita merasa Allah hanya bertakhta di tempat yang Mahatinggi, jauh dan tidak tahu menahu, tidak terkait dengan kehidupan kita saat ini. Tuhan yang berjanji di dalam Injil Matius 28:18-20 berkata, “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” Firman Tuhan juga mengatakan, “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan Engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau” (Ibr. 13:5).
    Sederhana, tapi tidak sederhana; simpel, tapi sebenarnya kompleks. Sebab memercayai Allah yang hidup, yang nyata, yang Mahahadir, itu tidak mudah. Tetapi Allah yang hidup benar-benar akan memenuhi apa yang Dia katakan. Kita harus mulai menghayati kehadiran Allah; Allah yang hidup, Allah yang tidak meninggalkan kita. Ingatlah terus bahwa Allah beserta kita. Banyak hal yang harus kita hadapi hari ini. Tetapi ingat, kita ada di dalam penyertaan Tuhan. Segala sesuatu dalam kendali Allah. Jadi di satu aspek, keyakinan akan penyertaan Tuhan membuat kita kuat, membuat kita lebih teguh. Dia bukan Allah yang mati; Dia Allah yang hidup dan Mahahadir. Tetapi di aspek lain, mengakui dan memercayai penyertaan Allah, menuntut kita harus menjaga hidup kita dari segala sesuatu yang bisa mendukakan dan melukai hati Allah. Jadi, kita harus menghayati kehadiran-Nya, dan dengan kehadiran-Nya itu kita menjaga perasaan Allah; jangan melukai Dia. 
    Dengan kita belajar menghayati kehadiran Allah dan kita berusaha untuk tidak menyakiti hati-Nya, iman kita akan bertambah. Ini benar-benar satu hal yang akan kita alami. Makin kita meyakini kehadiran-Nya, hati kita makin kuat dan teguh menghadapi segala situasi; tapi di sisi lain, kita semakin hidup suci tak bercacat, tak bercela. Jika ini berjalan beriringan terus, kita akan mengerti apa yang Allah kehendaki dalam hidup kita untuk kita lakukan. Namun, mengapa orang tidak peduli dengan apa yang Allah kehendaki untuk dilakukan? Mengapa banyak orang tidak mau tahu apa yang Allah kehendaki untuk dia lakukan? Jawabnya adalah karena mereka tidak menghayati kehadiran Allah. Satu sisi, pasti mereka tidak hidup dalam kesucian Allah. Dan di sisi yang lain, pasti mereka sering ditekan oleh berbagai rasa khawatir. Maka, mari kita perintahkan syaraf-syaraf kita, kita perintahkan diri kita untuk meyakini dan menghayati bahwa Allah hidup, Allah hadir, Allah nyata. 
    Supaya di satu sisi kita menjadi kuat menghadapi segala keadaan, dan di sisi yang lain kita menjadi orang yang hidup di dalam kesucian dan kekudusan Allah; hidup tak bercacat dan tak bercela. Akhirnya kita akan berusaha untuk mengerti apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan dan rencana Allah untuk kita genapi dalam hidup ini. Semua ini akan mengantar kita di hadapan Allah nanti menjadi anak-anak yang berkenan kepada-Nya. Allah bukanlah satu Sosok yang cukup dipercakapkan, cukup diyakini, melainkan Allah adalah Sosok yang harus kita rasakan, benar-benar kita alami.
    Maka, kita harus menghidupi Allah yang hidup, Allah yang hadir dalam hidup manusia, Allah yang sudah eksis dari kekal sampai kekal dan hadir dalam tokoh-tokoh iman yang dikisahkan di Alkitab. Allah yang juga kita alami, kita hidupi di dunia kita sekarang dalam persoalan kita. Dia tidak hanya Allah yang membelah Kolsom 3500 tahun yang lalu, Dia bukan hanya Allah yang mengurapi Putra Tunggal-Nya, Yesus Kristus, yang mengubah air menjadi anggur, yang membangkitkan orang mati,
    9 min
  • Takhta Allah Kekal Selamanya
    Jika kita memperhatikan awan, kita bisa dapati bahwa tidak ada bentuk awan yang sama. Dan ketika diterpa angin, awan tersebut akan bergerak dan berlalu. Seperti juga manusia, tidak ada seorang manusia pun yang sama dengan yang lain. Lewat, berlalu. Betapa dahsyat Allah itu. Di sisi lain, hidup ini sangat tragis dan rentan. Baru selesai satu masalah, muncul masalah yang baru. Apalagi nanti? Namun, satu perkara yang harus kita ingat dan percayai bahwa takhta Allah tetap selamanya. Maksudnya bahwa Allah memerintah jagat raya ini, dan mengendalikan segala sesuatu. Ketika hati kita menjadi kecut, kecil hati, kita menyinggung perasaan Bapa. Karena sejatinya, di situ kita tidak mengakui kebesaran-Nya, kita tidak mengakui kedahsyatan-Nya, bahkan kita tidak mengakui pemerintahan-Nya. Mari kita bayangkan, bagaimana Allah di surga memperhatikan bangsa Israel yang tertindas, bagaimana Allah melepaskan mereka dari perbudakan Mesir, bagaimana Allah membelah laut Kolsom, bagaimana Allah menunjukkan keperkasaan-Nya dalam sejarah Kerajaan Allah yang ditulis Alkitab (Ibr. 1:8; 1Taw. 17:14; 1Taw. 22:10).
    Sejujurnya, kita telah menjadi manusia yang sebenarnya tidak ber-Tuhan dengan benar. Kalau kita percaya ada Allah yang hidup, Allah yang berkuasa, yang memiliki takhta dan pemerintahan, seharusnya kita harus sungguh-sungguh mengakui itu, bukan hanya dengan perkataan, melainkan juga dengan sikap. Mestinya kita tidak menjadi khawatir apa pun yang terjadi, sebab Dia hidup dan tetap hidup dan Dia berkuasa. Begitu cakapnya kita berbicara tentang Tuhan dalam berbagai perspektif teologis, namun kadang kita lupa untuk mengakui keberadaan-Nya, bahwa Dia punya takhta tetap. Mari kita renungkan kebenaran ini, bahwa di surga ada kesibukan pemerintahan. Mikhael, Gabriel, dengan semua penghulu-penghulu malaikat yang kudus, sibuk. Allah Bapa mengatur pekerjaan. Dan kalau Tuhan berkata, “Aku menyertai kamu sampai kesudahan zaman,” itu berarti gerak kehidupan orang percaya juga menggerakkan kegiatan dalam Kerajaan Surga. Jadi kita bisa membayangkan bagaimana Maharaja kita sibuk memperhatikan jagat raya ini, dan khususnya memperhatikan anak-anak-Nya, serta mau menggenapi rencana-Nya di muka bumi ini.
    Oleh karenanya, bersyukur kita masih disadarkan untuk mencari Allah. Kalau kita menyadari takhta Bapa dan pemerintahan Allah, maka pertama, kita tidak berani berbuat salah, sekecil apa pun kesalahan itu. Yang kedua, kita menjadi tidak takut menghadapi segala keadaan. Yang ketiga, agar kita menemukan apa rencana Allah atas hidup kita masing-masing dan untuk dunia. Kita adalah pangeran-pangeran Kerajaan Surga. Makanya kita harus sungguh-sungguh bersikap sebagai pangeran, bersikap sebagai putri-putri Kerajaan Allah. Sebelum kita meninggal dunia, kita harus benar-benar menemukan keadaan kita, apa penilaian Allah terhadap kita. Apakah kita sudah layak disebut sebagai putra-putri atau pangeran dan putri-putri Kerajaan Surga atau belum. Fokus kita harus hanya Tuhan. Sebab apa yang menjadi fokus kita, begitulah diri kita. Apa yang menjadi fokus diri kita, itu yang mewarnai jiwa kita. Kalau kita fokus dunia, kita jadi materialistis. Kalau fokus kita penampilan, kecantikan, kita jadi pamer. Tapi kalau fokus kita adalah Tuhan, kita menjadi pangeran-pangeran dan putri-putri Kerajaan Allah. Semua kegiatan kita itu harus mendukung fokus kita. 
    Ironis, banyak orang tidak berani fokus sepenuh kepada Allah. Karena mereka membeda-bedakan. Kalau rohaniwan, fokusnya Tuhan saja, pelayanan saja, surga saja. Sedangkan kalau jemaat, tidak perlu seperti itu. Ini adalah pemahaman yang salah. Semua kita adalah hamba Tuhan di bidang kita masing-masing dan kita harus punya fokus yang sama, yaitu Tuhan dan Kerajaan-Nya. Kita harus sangat ekstrem di sini. Hidup bisa kita lewati dari hari ke hari, yang penting kita bisa makan, masih memiliki pakaian yang pantas. Kita semua tentu memiliki persoalan, tetapi kita bisa melewati dari hari ke hari,
    11 min
  • Memuliakan Allah dengan Sikap Hati
    Satu hal yang harus kita imani adalah Allah yang disembah oleh Musa adalah Allah yang hadir dan ada di bumi yang sama; di bumi di mana Musa pernah hidup. Apa yang ditulis di dalam Alkitab, bukan dongeng dari sebuah negeri entah berantah. Bukan seperti cerita dongeng yang ditulis oleh H.C. Andersen atau penulis buku-buku fiksi lain. Alkitab ditulis oleh orang-orang yang mengalami Tuhan dengan pimpinan Roh Kudus. Maka di tengah-tengah banyaknya tekanan berat yang kita alami dalam hidup ini, kita tetap memiliki prinsip, yaitu diam, mengandalkan Tuhan, dan menjaga kesucian; kesucian pikiran, kesucian perkataan, kesucian seluruh aspek hidup; walau ini memang tidak mudah. Jangan marah kepada Tuhan, jangan memberontak kepada Tuhan, jangan menyalahkan orang lain. 
    Jadi kalau kita menghadapi masalah—dengan orangtua, anak, pasangan hidup, rekan sekerja, atasan di kantor atau bawahan—baiklah kita berprinsip begini: “Kalau Tuhan mengizinkan semua itu terjadi, siapa kita yang bisa melawan dan mempertanyakan ‘mengapa?’” Hal itu akan membuat kita menerima apa pun yang terjadi, sehingga dengan pikiran jernih kita bisa mengambil hikmah pelajaran rohani, pendewasaan yang Tuhan kerjakan di dalam hidup kita. Di tengah-tengah situasi seperti itu, yang pertama Tuhan mengingatkan bahwa takhta-Nya tetap, tidak bergerak, tidak bergeser. Dia Allah yang memerintah, yang berkuasa, yang mengontrol dan mengendalikan segala sesuatu. Yang kedua, bahwa Dia Allah yang berkuasa di bumi yang sama; bumi di mana Musa pernah hidup, dengan segala keajaiban yang dirasakan oleh bangsa Israel dan Musa sendiri. 
    Hal itu dimaksudkan agar kita menjadi kuat bahwa ada pemerintahan yang masih terus berlangsung, pemerintahan yang kekal, yaitu pemerintahan Elohim Yahweh. Dan agar kita percaya, jika kita benar-benar hidup tidak bercela di hadapan Allah—kita memberikan hidup kita untuk melayani Dia, mengabdi kepada-Nya—maka Tuhan yang menjadi Pembela kita. Jadi, kita tidak boleh sedikitpun takut. Kalau ada ketakutan atau kekhawatiran, itu menunjukkan bahwa kita tidak memercayai Dia. Kalau Dia ada, kita percaya Dia menyertai kita. Allah kita kuat. Jangan ada sedikitpun ketakutan atau kekhawatiran. Memang sebagai manusia bisa muncul ketakutan dan kekhawatiran dalam menghadapi dunia kita hari ini, menghadapi hari esok. Tetapi, percayalah bahwa Dia hidup, Dia hadir, dan Dia berkuasa. Muliakanlah Allah dengan sikap hatimu. 
    Mari kita muliakan Allah dengan sikap hati kita dan percaya bahwa Dia menyertai kita. Apa pun yang terjadi, itu semua dalam kontrol Allah yang hidup. Apa pun yang terjadi. Di sini kita harus juga dipersenjatai dengan pikiran bahwa kalau Allah menghendaki sesuatu terjadi, siapa kita yang berani melawan. Seperti Daud yang dikutuk oleh Simei; dihujat, dilempari batu. Pada waktu Daud melarikan diri dari serangan Absalom, anaknya. Hulubalang Daud mau memenggal kepala Simei, Daud berkata kepada hulubalang itu, “Apa urusan kamu dengan aku, biarlah dia mengatakan itu kalau Tuhan suruh dia begitu, siapa yang berhak bertanya dan mengapa kau lakukan itu?” Kalau memang Tuhan menghendaki kita harus mengalami semua pergumulan itu—entah pekerjaan, usaha, ekonomi dan lain-lain—kita percaya Tuhan dalam pemerintahan-Nya mengontrol, mengendalikan semuanya. Ketakutan, kekhawatiran kita itu sebenarnya sikap tidak meninggikan Tuhan; sikap melecehkan. 
    Percayalah, Allah yang membelah Laut Kolsom, Allah yang menurunkan manna, Allah yang sama yang akan mengurai kekusutan hidup ini. Kiranya ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi kita. Tunggu saja waktu-Nya dan lihat bagaimana Tuhan mengurai kekusutan-kekusutan hidup kita. Kalau kita memercayai Allah itu berkuasa, biar Allah yang bertindak. Ingat ini! Ini akan menjadi kekuatan bagi kita sekalian. Tenang, tenang, tetap tenang. Waktu akan membuktikan. Kalau kita memang salah, Tuhan penggal kepala kita, artinya Tuhan menghukum kita. Dipenggal ketenangan hidup kita, ekonomi, karier dan lainnya.
    8 min
  • Manusia yang Berkualitas
    Hidup kita akan menjadi lebih berkualitas kalau kita menjadi manusia-manusia yang menyembah Allah. Manusia yang menyembah Allah itu bukan hanya bisa berbahasa roh. Ingat, banyak bahasa roh palsu. Manusia yang berkualitas itu bukanlah seseorang yang cakap menyanyi, hafal syair lagu-lagu rohani, bisa mengucapkan kalimat penyembahan dengan fluktuasi nada. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang benar-benar mencintai Allah. Rindukah kita menjadi manusia yang mencintai Allah? Sampai Bapa itu merasa bahwa kita mencintai Dia. Betapa beruntungnya menjadi orang yang mencintai Allah melebihi cinta kita kepada siapa pun dan apa pun. Sesuai dengan firman-Nya dalam Matius 22:37-40, “Kasihlah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan.” Apalagi jika ini dikaitkan dengan identitas kita sebagai anak-anak Allah yang juga mempelai wanita Tuhan Yesus, seperti yang dikatakan dalam 2 Korintus 11:2b, “… karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.”
     Kalau sampai kita bisa mencintai Dia lebih dari mencintai apa pun dan siapa pun dan Allah merasakannya, sungguh luar biasa. Kita tidak perlu mengeluh minta ini itu, Bapa tahu apa yang kita butuhkan, Allah tahu apa yang kita perlukan. Namun tanpa kita sadari, sering kita membawa diri kita berada di luar pagar, di luar rumah, tidak di dalam rumah. Mestinya kita ada dalam rumah dan masuk ke dalam hati Allah. Kita boleh dan bisa punya banyak masalah, tetapi kalau kita datang kepada Tuhan, jangan kita hanya sibuk membawa masalah hidup, tetapi sibuklah memperkarakan bagaimana kita bisa masuk di hati Tuhan. Ini merupakan sebuah pengalaman nyata, bukan fantasi yang diteorikan, bukan hanya sesuatu yang dipercakapkan. Menjadi mempelai Kristus adalah sebuah realitas dimana kita bisa memiliki hubungan dengan Dia. 
    Kita bisa tidak memiliki siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa, tetapi kalau kita menjadi mempelai Tuhan Yesus, kita punya pegangan. “Punya pegangan” itu bukan hanya beragama Kristen, ke gereja, menjadi aktivis, atau menjadi seorang pendeta, melainkan hati yang melekat sehingga nama kita diukir di telapak tangan Tuhan (Yes. 49:16, “Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku”). Kalau sampai nama kita terukir di telapak tangan Tuhan, mau apa lagi? Siapa yang bisa melawan Tuhan? Tetapi nama kita tidak pernah terukir di telapak tangan Tuhan kalau kita memiliki banyak kekasih, kalau kita membangkitkan kecemburuan di hati Allah karena kita menghargai harta, pangkat, kehormatan lebih dari menghargai Tuhan. Orang seperti ini tidak akan pernah merasa cukup dengan apa yang ada padanya. 
    Sebaliknya, seseorang yang menjadi kekasih Tuhan, akan berkata, “Yesus cukup bagiku.” Mungkin ada di antara kita yang berpikir bahwa dirinya tidak dipedulikan Tuhan. Mereka tidak terus terang marah kepada Tuhan, tapi mereka mulai kurang ajar, mereka menganggap Tuhan itu tidak ada atau tidak perlu ada. Dan biasanya mereka jadi sembarangan hidup, tidak benar-benar mau hidup suci, bergantung pada kekuatan manusia. Semua kita pernah mengalami kebodohan-kebodohan seperti itu. Sekarang jangan lagi. Kita tidak mau sama seperti kemarin. Oleh sebab itu, kualitas hidup kita tergantung dari sedalam apa kita mengasihi Allah. Dengan hati yang mengasihi Allah, kita akan bisa menemukan hubungan sebagai kekasih, sebagai mempelai, dan kita bisa hidup suci. Bukan karena terpaksa, melainkan karena itu adalah suatu kebutuhan. Sampai kita bisa merasakan bahwa kita membutuhkan Tuhan lebih dari membutuhkan oksigen yang kita hirup, lebih dari darah yang mengalir di tubuh kita, lebih dari air yang kita minum. 
    Kalau kita mencintai Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita bisa meledakkannya di dalam diri kita, bisa kita goreskan dalam diri kita, kita bisa berkata, “Aku mencintai Engkau Tuhan, aku mau mencintai Engkau Tuhan.” Ledakkan itu, dan kita tidak akan sama lagi.
    9 min
  • Membangun Kesucian
    Ada kata penting dalam kehidupan manusia yang juga dalam kehidupan manusia pertama, Adam dan Hawa. Kata itu adalah “tanggung jawab.” Tuhan jelas tegas berkata, “Jangan makan buah yang ada di tengah taman ini, yaitu buah pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Kamu boleh makan, atau mestinya harus makan semua buah yang ada di taman ini, termasuk buah dari pohon kehidupan. Tetapi buah dari pohon yang satu ini, yaitu buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat, kamu jangan makan. Karena pada hari kamu makan buah ini, kamu mati.” Pelajaran rohani yang sangat mahal dapat kita peroleh dari fragmen nyata mengenai kejatuhan manusia ke dalam dosa ini. Tanggung jawab. Tanggung jawab untuk tidak mengonsumsi apa yang Allah larang untuk dikonsumsi. Suara Tuhan kepada manusia pertama, juga suara Tuhan untuk kita. Itulah sebabnya di dalam Roma 12:2, firman Tuhan mengatakan, “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini,” artinya jangan mengonsumsi apa yang dari dunia, sehingga kita menjadi serupa dengan dunia. 
    Sebab apa yang kita konsumsi, yang masuk dalam pikiran dan yang mewarnai jiwa, itulah yang menjadikan kita sebagai apa. Kalau kita mengonsumsi apa yang dunia sediakan, kita menjadi serupa dengan dunia. Selanjutnya, “… berubahlah oleh pembaharuan budimu,” artinya konsumsilah apa yang mestinya kita konsumsi untuk atau supaya kita mengalami perubahan. Dan dari perubahan itu, kita bisa mengerti kehendak Allah; apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Sebab, apa yang kita konsumsi itu yang mewarnai jiwa kita, membangun dan membentuk diri kita. Tentu yang Allah kehendaki, kita menjadi anak-anak Allah yang mampu membedakan apa yang baik, yang berkenan, dan yang sempurna. Ringkasnya, supaya kita bisa melakukan segala sesuatu selalu sesuai dengan kehendak Allah. Jika kita melatih terus hal ini dari hal kecil sampai hal besar, maka terbangunlah kodrat ilahi di dalam diri kita. Kesucian harus berangkat dari hati. Jika bicara mengenai kesucian, jangan kita berpikir secara mistik. 
    Sebab, pada umumnya bicara mengenai hal-hal yang bersifat sakral, bersifat suci atau kudus, selalu dikaitkan dengan hal yang bersifat mistik, bersifat adikodrati, yang supranatural. Ini keliru. Kesucian adalah hal yang praktis dan bisa teknis. Tetapi ingat, harus didorong dari batin yang benar. Ketika kita mendapat kesempatan untuk membicarakan orang yang tidak ada di situ tapi kita tidak menggunakan kesempatan tersebut; kita menutup mulut untuk tidak ikut membicarakan mengenai keadaan seseorang yang tidak ada di situ, sejatinya kita sedang membangun kesucian. Ketika kita memiliki kesempatan untuk marah dan balas dendam, kita menolak melakukan hal itu, itulah kesucian. Kesucian kita terbangun ketika kita mendapat kesempatan untuk korupsi, kita menolak. Kita membangun kesucian. Prinsip dunia: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi kalau bagi orang percaya: ditampar pipi kanan, beri pipi kiri; mendoakan orang yang menyakiti, melukai kita, dan lain sebagainya. Itu menjadi tanggung jawab kita. 
    Tetapi tanpa disadari oleh sebagian besar orang—dalam konteks ini sebagian besar orang Kristen—setiap hari mereka mengonsumsi apa yang tidak patut dikonsumsi. Dan dunia ini sekarang telah ditaburi banyak racun dari suasana pergaulan; dari lagu-lagu, dari tontonan, dari apa yang disajikan di gadget. Dan kita menganggap sah-sah saja, tidak mengganggu, tidak merusak, tidak membuat kita berdosa. Itu salah. Tanpa kita sadari, kita telah meracuni diri kita dengan apa yang tidak perlu kita konsumsi. Kita bertanggung jawab membangun rupa Allah di dalam diri kita. Allah menciptakan; (Ibr.) bara; gambar; (Yun.) tselem di dalam diri kita. Kita memiliki apa yang juga ada pada Allah, yaitu pikiran dan perasaan. Tetapi bagaimana kualitas pikiran dan perasaan kita yang bisa membuahkan, melahirkan, memproduksi kehendak yang sesuai dengan Allah, itu tergantung kita. 
    Ketika Tuhan Yesus berkata di Matius 5:48, “kamu harus sempurna seperti Bapa,
    8 min
  • Jangan Bergantung pada Kekuatan Manapun
    Dalam pergumulan hidup menghadapi berbagai masalah, sering kita menjadi kecut dan tawar hati, atau mencoba mencari jalan keluar sendiri tanpa minta petunjuk Tuhan. Karena kita merasa bahwa kalau kita tidak bertindak sendiri, kita tidak akan aman atau tidak akan selamat. Ini yang membuat kita bisa bersalah kepada Tuhan; berdosa kepada Tuhan. Kita harus percaya bahwa Allah itu hidup. Benar-benar hidup, benar-benar hadir. Ironis, banyak orang berbicara tentang masalah, tentang problem, tentang ancaman hidup dan lain-lain, dan mereka berbicara seakan-akan Tuhan itu tidak ada. Selain rasa khawatir, mereka juga berusaha untuk menyelesaikan masalah dengan kekuatan sendiri. Kita jangan bergantung kepada kekuatan manapun, kecuali memang Tuhan menggerakkan orang untuk menolong kita. Tetapi jangan kita yang menggerakkan diri kita sendiri mencari perlindungan dan naungan dari orang lain.
    Tuhan yang tahu apakah kita melakukan hal ini, yaitu berlindung kepada Tuhan atau kepada manusia. Suatu hari di pengadilan Tuhan tidak ada yang tersembunyi, semua rahasia dibuka. Dan pada waktu itu, kita akan melihat kesucian orang atau kejahatan orang; kualitas hidup rohani seseorang akan terbuka, karena semua orang harus memberi pertanggungan jawab. Terkait dengan masalah yang sekarang sedang kita hadapi, kita harus berpegang pada Mazmur 124:8, “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN yang menjadikan langit dan bumi.” Dan kita orang Indonesia dari berbagai suku bangsa—Ambon, Manado, Tionghoa, Jawa, Batak atau Tapanuli—kita ini bukan umat pilihan secara darah daging, karena kita bukan keturunan Abraham. Tetapi di dalam iman kita termasuk warga Israel; Israel rohani. Bukan Yahudi, bukan Zionis; tetapi kita Israel rohani. Karena nama Israel itu sebenarnya nama diri Yakub. Pada mulanya bukan nama suku bangsa, tapi nama diri Yakub yang artinya pahlawan Allah; juga berarti ‘telah bergumul dengan Allah dan menang;’ Israel.
    Kita adalah Israel rohani, bukan Israel Yahudi atau Zionis yang sekarang ini secara harfiah menjadi suatu bangsa. Kita adalah orang-orang non-Yahudi, tapi menjadi umat pilihan yang boleh memiliki Sesembahan bernama Yahweh. Jika Yesus tidak mati di kayu salib menebus kita, menjadikan kita bagian dari umat pilihan yang menjadikan kita Israel rohani, kita tidak bisa memanggil Yahweh sebagai Bapa. Jadi, dalam nama Tuhan Yesus Kristus kita boleh menerima berkat, kuasa, keselamatan, perlindungan, pemeliharan dari Allah semesta alam. Allah semesta alam itu menjadi Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub. Karena Abraham, Ishak, dan Yakub adalah manusia khusus yang dipanggil oleh-Nya, menjadi nenek moyang dari umat pilihan secara jasmani. Tentu Allah tidak bisa memilih semua bangsa menjadi umat pilihan yang melaluinya Allah mau menyatakan diri dan meninggalkan atau menyimpan atau memuat pengenalan akan Dia dan tindakan-tindakan-Nya. Allah memilih Abraham. Dari Abraham lahir Ishak, Yakub; Israel.
    Tetapi di Perjanjian Baru, oleh karena kurban Yesus Kristus di kayu salib, kita menjadi anak-anak Allah. Jadi kita bisa minta berkat dari Allah Bapa, dalam nama Yesus Kristus. Karena melalui Tuhan Yesus Kristus kita mendapat berkat dari Elohim Yahweh. Jadi kalau di Perjanjian Lama belum datang Yesus, belum datang Anak Allah, maka pertolongan kita ini—di konteks Perjanjian Lama waktu itu—dalam nama Tuhan yang menjadikan langit dan bumi, dan konteksnya ini umat Israel; bukan orang Jawa atau orang Manado, atau orang Batak, atau orang Ambon. Kita yakin Allah itu hidup. Satu kalimat yang harus kita ingat dan yakini bahwa Dia, Tuhan yang kita sembah adalah Yahweh; Allah yang hidup di bumi, yang sama dengan bumi yang diinjak Musa. Jadi Musa tidak hidup di bumi yang lain, tapi di bumi ini. Kita memercayai Allah yang hidup di bumi yang sama, yang hari ini memerintah.
    Dengan demikian, seharusnya tidak ada sosok atau sesuatu yang kita bergantung padanya. Orang percaya yang menghayati bahwa Allah Israel yang sama,
    9 min
  • Petualangan Hidup
    Kita hanya memiliki satu kali kesempatan hidup. Kita tidak memiliki dua buku kehidupan; kita hanya memiliki satu buku yang akan menuliskan, menggoreskan sejarah perjalanan hidup kita selama di bumi ini. Mencatat petualangan hidup selama kita ada di bumi. Tidak ada petualangan hidup yang lebih indah dan yang lebih berharga dari petualangan hidup sebagai anak-anak Allah yang mengikut jejak Yesus. Ini lebih dari petualangan seorang akademisi yang berhasil menyandang banyak gelar. Lebih dari petualangan seorang pejabat tinggi yang menduduki jabatan tinggi dan terhormat di suatu lembaga. Petualangan hidup pengikut Yesus yang sejati adalah perjalanan hidup seorang yang disertai oleh Allah sebagai Bapa; Allah Pencipta alam semesta. Ada jejak Allah, ada “tanda tangan” Allah di dalam hidup orang-orang yang mengikut Yesus. Dan ini yang harus benar-benar kita persoalkan pada kesempatan ini. Kita perkarakan dengan sungguh-sungguh, apakah petualangan hidup kita ini adalah perjalanan hidup sebagai anak-anak Allah yang benar-benar mengikut jejak Yesus atau tidak?
    Ketika Paulus berkata, “hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku,” secara implisit hendak dikemukakan di situ bahwa perjalanan hidup Paulus adalah perjalanan seorang yang diurapi Kristus. Ini bukan perjalanan seorang teolog Yahudi yang juga adalah seorang anggota Sanhedrin; pemuka, pemimpin masyarakat Yahudi. Tetapi “Kristus yang hidup di dalam aku” seperti yang dikemukakan dalam Galatia 2:20, “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Bukan berarti di dalam diri Paulus ada dua pribadi; pribadi Paulus, juga pribadi Kristus atau pribadi Yesus. Bukan. Di dalam diri sosok yang diberi nama Paulus, ada kehidupan seorang Yang Diurapi (Kristus artinya “Yang Diurapi”). 
    Di jagat raya ini, hanya ada satu sosok manusia yang tidak pernah sama dengan manusia lain. Setiap kita adalah sosok yang benar-benar unik; tidak ada duanya. Bahkan, renungkan ini: di kekekalan, tidak ada pribadi dengan sejarah kehidupan yang sama. Tidak ada. Jadi, betapa berharganya setiap individu itu. Yang didesain Allah dengan keunikannya, dan tentu dengan keadaan luar biasa. Tetapi keunikan dan luar biasanya seseorang tidak ada artinya kalau tidak diurapi; kalau tidak hidup sebagai anak-anak Allah. “Serupa dengan Yesus atau seperti Yesus” maksudnya serupa dengan Yesus dalam ketaatan; dengan ketaatan yang tidak bersyarat (Flp. 2:2-8). Apa pun yang harus ditempuh, apa pun yang harus dijalani, keadaan apa pun yang berlangsung di dalam hidup-Nya, Yesus taat. Itu keserupaan yang dimaksud. Menuruti apa yang Allah kehendaki untuk dituruti. Masing-masing kita ini memiliki kepribadian yang berbeda-beda, dan memiliki perjalanan hidup yang khusus, yang unik, yang tidak sama dengan yang lain. 
    Tetapi apa pun, bagaimanapun kepribadian kita, apa pun dan bagaimanapun jalan hidupmu, kita harus hidup dalam ketaatan kepada Bapa di surga. Hidup dalam iman kepada Anak Allah; artinya penurutan-Nya. Jadi, Allah memiliki anak-anak—kita semua ini—dengan personaliti yang berbeda-beda, dengan kepribadian yang berbeda-beda, dengan perjalanan hidup yang berbeda-beda. Tetapi apa pun kepribadian atau personaliti masing-masing kita, apa pun dan bagaimanapun perjalanan hidup kita, haruslah perjalanan hidup orang Yang Diurapi: Kristus. Hidup di dalam penurutan terhadap kehendak Allah. Dan nanti kalau sejarah hidup kita dicatat dalam satu buku, itu catatan kehidupan seorang anak Allah yang diurapi. Berbeda-beda, tapi punya kesamaan: diurapi Allah, hidup dalam ketaatan kepada Bapa di surga. Kita harus sungguh-sungguh memperkarakannya, sebelum lembar hidup kita berakhir. Kalau sudah berakhir, kita tidak bisa menggoreskan kisah hidup apa-apa lagi. Dan itu mengerikan. 
    9 min
  • Legalitas dari Allah
    Setiap kita harus memiliki ambisi yang kuat dan mestinya menjadi satu-satunya ambisi di dalam hidup kita, yaitu bagaimana menjadi anak kesukaan Bapa. Sampai kita bisa menerima pengakuan bahwa kita adalah anak yang berkenan di hadapan Allah. Kebaikan kita di mata manusia—nilai baik kita di mata manusia—bukanlah legalitas pengakuan dari Allah. Jangan kita takabur, jangan kita sombong, jangan sampai kita lupa diri bahwa penilaian manusia itu bukanlah legalitas yang kita cari. Kita sering lupa bahwa seakan-akan dengan penilaian baik dari manusia, kita ini sudah benar-benar baik. Di sini kita tertipu oleh diri kita sendiri. Jadi kita harus punya ambisi yang sekuat-kuatnya. Dan kalau kita mau benar-benar menghormati Allah, menghargai Allah, maka tidak boleh memiliki ambisi apa pun selain ini: “bagaimana bisa menjadi anak kesukaan Allah yang setiap saat, dalam segala hal, menyenangkan Dia.” Mungkin akan ada banyak yang menilai kita sebagai orang benar-benar tidak waras. Tetapi ini adalah kebahagiaan yang luar biasa. Dan suatu hari nanti, kita pasti akan menuai mahkota dengan keindahan yang tiada tara.
    Jadi pengakuan orang bagi kita—dipandang suci, dipandang saleh, dipandang rohani, dipandang lebih baik dari orang lain—itu bukan legalitas sama sekali di hadapan Allah. Itu bahkan sering malah menipu kita. Kalau kita dianggap suci, dianggap kudus, lalu kita lupa diri sehingga kita merasa sudah punya legalitas yang baik. Itu belum tentu. Bukan tidak; belum tentu! Tetapi kalau kita menjadi benar-benar saleh di mata Allah, maka orang-orang di sekitar kita yang juga memiliki Roh Kudus, akan mengakui itu. Kalau kita menjadi orang saleh Tuhan, maka orang-orang yang rohani bisa menilai kita secara benar; tapi orang duniawi pasti salah menilai. Tentu hal ini ada dalam konteks sesame orang Kristen. Kita harus memaksakan diri kita. Jadi kalau ada keinginan-keinginan sesuatu yang muncul, kita harus buang. Ada pikiran-pikiran yang tidak patut—kebencian, dendam, kemarahan dan lain-lain—segera kita buang. Karena itu bisa merusak kerinduan atau ambisi kita untuk menjadi anak kesukaan Allah.
    Kita harus fokus ke hal ini. Ini tidak akan mengganggu kinerja kita, etos kerja kita. Bahkan kita akan bersemangat bekerja, bersemangat olahraga, bersemangat menjaga kesehatan, bersemangat memaksimalkan potensi, karena kita melakukan semua itu untuk kemuliaan Allah. Mari kita benar-benar membuat diri kita membara dalam ambisi untuk menjadi anak kesukaan Allah. Dan itu harus sudah kita capai sebelum kita menutup mata. Jadikan ini sebagai suatu kebutuhan yang mendesak. Jangan sampai hasrat kita terarah, terfokus kepada yang lain. Jangan sampai hati kita tercuri oleh sesuatu atau seseorang atau apa pun, sehingga gairah kita untuk menjadi anak kesukaan Allah menjadi lemah, kecil, surut. Harus membara dan menjadi satu-satunya yang menjadi kebutuhan kita.
    Oleh sebab itu, kita harus melipat gandakan jam-jam doa kita. Setiap hari ada waktu untuk bertemu dengan Tuhan dan lipat gandakan waktunya selama tidak mengganggu pekerjaan, tugas-tugas yang harus kita tunaikan. Kita gandakan waktu kita mendengar Firman. Percaya bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan. Ketidakmustahilan tersebut termasuk mengubah kita menjadi pribadi yang baru seperti Dia. Dalam Kolose 3:10 Paulus katakan, “… dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.” Bagi manusia, perubahan seperti ini tampak mustahil. Bagaimana mungkin seorang manusia yang penuh cela dengan masa lalu yang kelam bisa menjadi seperti gambaran Khaliknya? Bagi manusia ini mustahil, namun bagi Allah tidak.
    Allah dalam kedaulatan-Nya dapat mengubah manusia menjadi anak kesukaan-Nya. Menjadi anak kesukaan-Nya sama dengan memiliki karakter Sang Putra Tunggal. Untuk ini, Allah akan mengajarkan berbagai kebenaran dalam hidup orang percaya dalam bentuk pengalaman hidup yang mendewasakan.
    10 min
  • Hati yang Dipindahkan di Kerajaan Surga
    Pikirkan apa yang Allah ingini untuk kita pikirkan. Dan itu harus serius kita lakukan. Untuk itu, kita rindu kita bisa mendengar suara Roh Kudus lebih banyak. Jadi, mari kita persoalkan bagaimana kita bisa memiliki ma’rifat. Jadi yang tidak perlu dipikirkan, jangan dipikirkan. Sadarkah kita bahwa gadget kita itu penuh dengan hal yang memenuhi pikiran kita yang tidak perlu kita pikirkan? Banyak rasa ingin tahu yang tidak perlu. Untuk apa? Nanti Roh Kudus akan mengajar kita untuk tidak memikirkan apa yang dipikirkan manusia. Tentu kalau kita bidangnya teknik, kita berpikir tentang teknik; atau bisnis kita restoran, kita memikirkan tentang restoran. Karena kita melakukan segala sesuatu—baik kita makan atau minum atau melakukan sesuatu yang lain—kita lakukan semua untuk kemuliaan Allah. Baca Alkitab, renungkan Firman Tuhan, pikirkan Tuhan, pikirkan Firman-Nya. Kita akan sangat menyesal kalau tidak melakukan ini. Begitu kita berada di ujung maut, sekarat, apalagi di hadapan Tuhan, kita tidak mengalami proses pertumbuhan iman yang berarti lagi. 
    Waktu kita yang singkat, jangan disia-siakan. Jangan sampai di hadapan takhta pengadilan Tuhan, ternyata hati kita belum dipindahkan dan tangan kita masih menggenggam banyak hal. Maka, sedini mungkin kita harus melepaskan semua. Kalau hati ini kita pindahkan ke surga, kita bisa membuat wewangian setiap hari. Waktu kita berkata” “haleluya, haleluya,” dengan hati yang diangkat mencintai Tuhan, Tuhan mencium harum. Kalau dulu persembahan dalam bentuk binatang yang dipotong-potong, tapi sekarang dalam roh dan kebenaran. Jangan sampai kita meninggal dunia, kita tidak pernah membuat kurban yang berbau harum. Ini adalah sebuah kehormatan, dimana kita bisa membuat persembahan yang berbau harum. Itu bukan karena kita cakap bernyanyi, vokal kita bagus, melainkan hati yang bersih, yang hari demi hari tidak dikotori oleh percintaan dunia atau dosa atau kebencian atau dendam.
    Coba kita pikirkan dengan jujur, apa yang Tuhan butuhkan dari kita? Perpuluhan? Kolekte? Kita memang seyogyanya harus ikut mengambil bagian dalam mendukung pelayanan, tetapi apa yang Tuhan kehendaki sebenarnya? Tuhan tidak memerlukan apa-apa. Dan sebenarnya Tuhan juga tidak butuh siapa-siapa. Tapi kalau sampai Tuhan bisa disenangkan oleh kita, mengapa kita tidak gunakan kesempatan ini? Banyak orang mau menjadi ‘pelayan Tuhan,’ karenanya mereka sekolah pendeta dan menjadi aktivis. Di mana letak senangnya Tuhan? Jika kesenangan Tuhan sebatas kita mengambil bagian dalam kegiatan gereja, maka betapa banyak orang yang tidak bersentuhan dengan kegiatan pelayanan gereja. Tetapi semua kita bisa membuat keharuman. Jadi yang Tuhan mau adalah hati yang dipindahkan di Kerajaan Surga. Maka, mengapa kita tidak gunakan kesempatan ini? Pikirkan apa yang Allah pikirkan. Makanya kalau kita dibawa orang ke percakapan-percakapan yang tidak perlu, tidak usah ikut. Kita diam saja.
    Hidup kita tidak lama. Apalagi yang kita cari? Kita bisa menjadi berkat, namun kita harus berani beda. Pikirkan apa yang Allah pikirkan. Kalau kita tidak memikirkan apa yang Allah pikirkan, walaupun itu kelihatannya baik dan tidak melanggar etika, namun pasti akan menghambat pertumbuhan rohani kita, tidak membuat kita mencapai puncak. Kita bakar hati kita untuk mencintai Tuhan. Makanya kita tidak boleh terikat dengan hal-hal duniawi. Apa yang kita sudah memiliki, kita syukuri. Yang perlu kita beli untuk satu kebutuhan, silahkan kita beli. Tapi kalau kita tidak perlu, tidak usah kita miliki. Kita harus bisa berdialog dengan Tuhan terus-menerus. Oleh karenanya, mari kita belajar bagaimana pikiran kita harus bersih. Jangan dicemari oleh hal-hal yang tidak perlu. Menyangkal diri itu bukan hanya sikap menolak perbuatan dosa, melainkan segala sesuatu yang bisa mengganggu pertumbuhan kita untuk memiliki pikiran yang dibaharui, agar kita bisa memindahkan ke Kerajaan Surga. Penyangkalan diri ada dalam seluruh aspek hidup kita.
    Dalam Matius 16:25,
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…