Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Rumah Kedua
    Tidak mudah menjadikan surga sebagai rumah dan perhentian kita satu-satunya. Dulu kita menganggap surga menjadi rumah kedua, itu cukup, dan itu sudah menunjukkan kesetiaan kita kepada Tuhan. Tetapi ternyata, orang Kristen yang memiliki dua rumah adalah orang Kristen yang tidak memiliki kesetiaan yang sejati. Sebab kalau kita masih memiliki dua rumah, itu berarti masih ada percintaan dunia atau berarti masih ada keberhalaan. Kedengarannya ini berlebihan, tetapi inilah yang benar. Orang-orang yang masih mendua hati adalah orang-orang yang tidak setia. Ketika Tuhan Yesus berkata, “di mana ada hartamu, di situ hatimu berada,” jelas sekali pesan di balik kalimat Matius 6:21 ini. Kita hanya boleh memiliki satu rumah, kita hanya boleh memiliki satu harta, kita hanya boleh memiliki satu tempat di mana kita berlabuh dan menjadi tempat perhentian. Sudah jelas, kalau seseorang memandang surga sebagai rumah kedua, berarti ia tidak menghargai Rumah Bapa secara patut. Sebab, masih ada rumah lain. Sama seperti kalau di dunia ini seseorang punya dua rumah, maka ia tidak terlalu berharap menikmati rumah yang kedua, atau tidak terlalu berharap menikmati rumah yang satu. Di ayat lain Tuhan berfirman, “kamu tidak dapat mengabdi kepada dua tuan,” itu berarti hati kita tidak boleh terbagi, walaupun Tuhan mendapat bagian 95%. Yang dikehendaki Tuhan adalah 100%, atau tidak usah sama sekali.
    Orang-orang yang menjadikan surga sebagai rumah kedua berarti juga memiliki rumah di bumi. Orang seperti ini pasti tidak memiliki kesetiaan yang benar sesuai standar Allah. Ini bukan berarti kita tidak boleh memiliki rumah di bumi atas nama kita. Tetapi maksudnya adalah kita jangan merasa feel at home; jangan merasa betah di bumi. Kita harus menaruh seluruh pengharapan, sukacita, kebahagiaan kita di Rumah Bapa. Orang yang menganggap surga sebagai rumah kedua, pasti tidak menghargai Rumah Bapa secara benar. Padahal, demi Rumah Bapa atau demi surga yang dapat dimiliki manusia, Allah Bapa mengutus Putra-Nya. Ia memberikan Putra Tunggal-Nya mati di kayu salib, demi rumah itu. Jadi, harga rumah itu adalah pengurbanan Tuhan Yesus. Orang yang tidak menghargai Rumah Bapa secara patut, orang yang pasti juga tidak menghargai Bapa sebagai Pemilik Rumah itu. Jangan berpikir kita masih memiliki kesempatan untuk bertobat dan berubah. Kita harus selesaikan sedini mungkin.
    Ada masalah besar yang tidak disadari banyak orang. Padahal, hal itu sebenarnya masalah yang sangat mengerikan. Yaitu ketika kita meremehkan Allah, dan Allah sering tidak bereaksi seperti yang kita harapkan. Kita berharap, Tuhan menegur dengan lembut, atau kadang-kadang lebih keras. Tetapi, Tuhan diam. Dan kalau seseorang tetap bersikeras meremehkan Allah, Allah membiarkan. Kalau melihat kisah hidup Yudas yang memang suka mencuri, Tuhan tidak menegur terus terang dengan keras. Tuhan mengingatkan dengan firman-Nya, “jangan terikat oleh mamon,” tapi tidak terus terang menunjuk, “Yudas, kamu mencuri uang!” Tuhan tidak menegurnya di depan umum supaya Yudas malu dan bertobat.
    Apakah Yesus dengan ma’rifat-Nya tidak tahu ketika Yudas mengadakan perjanjian dengan imam-imam kepala untuk menjual Yesus? Yesus mengingatkannya pada waktu perjamuan terakhir, “Orang yang mencelupkan tangannya di pinggan bersama dengan Aku, dialah orangnya,” dan itu Yudas. Tetapi murid-murid-Nya pun masih tidak menyadari hal itu. Lalu Yesus berkata, “Lakukan apa yang kamu harus lakukan.” Murid-murid-Nya pun pikir Yesus menyuruh Yudas membeli sesuatu, karena dia bendahara. Ini perkara besar dan mengerikan. Coba kita bercermin pada pengalaman hidup kita masing-masing, bagaimana Tuhan sering seperti membiarkan kita dalam kebodohan dan kesalahan, sampai kita benar-benar menyadarinya dan bertobat.
    Kalau kita percaya rumah kita di surga dan kita bukan berasal dari dunia ini, hati kita tidak mungkin mendua. Orang Kristen yang tidak percaya ia berasal dari atas—rumahnya di surga,
    8 min
  • Hilangnya Kesempatan
    Sejatinya, sebelum kita ditelan oleh dunia, biarlah kita memberi diri ditelan oleh Tuhan. Artinya, sekarang ini adalah kesempatan untuk kita menunjukkan dan membuktikan bahwa kita mengasihi Allah dan memilih Dia sebagai satu-satunya pilihan. Paulus dalam suratnya menyatakan pilihannya dengan tulisan, “Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah supaya aku memperoleh Kristus.” Ini pilihan, dan sesungguhnya ini adalah standar. Tindakan memilih harus disertai dengan kesediaan melepaskan segala sesuatu. Jadi kalau kita belum melepaskannya, berarti kita belum memilih Tuhan. Sebenarnya tindakan Paulus ini sebagai realisasi dari ucapan atau tulisannya sebelumnya. Di Filipi 2:6-8 Paulus mengatakan, “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
    Yesus sebenarnya bisa saja menikmati dunia ini ketika Ia ditawari keindahan dunia di awal pelayanan-Nya, namun Yesus memilih menyembah dan hanya berbakti kepada Allah saja. Tuhan Yesus mengajar bahwa kita harus menikmati Kerajaan Allah sejak kita hidup di bumi ini. Itulah sebabnya selagi masih ada kesempatan, kita harus menghadirkan pemerintahan Kerajaan Allah untuk kita nikmati. Kerajaan Allah bukan soal makan dan minum, melainkan damai sejahtera, sukacita, dan kebenaran oleh Roh Kudus. Dengan demikian, kita tidak terikat oleh dunia seperti manusia pada umumnya. Kehidupan Yesus ini adalah model dari kehidupan Anak Allah yang harus kita kenakan. Prinsip dan filosofi-Nya jelas. Di antaranya Yesus berkata, “Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak memiliki tempat untuk meletakkan kepala-Nya.” Inilah kehidupan yang hanya difokuskan kepada Allah dan Kerajaan-Nya. Maka di Yohanes 4:34 Tuhan Yesus berkata, “Makanan-Ku adalah melakukan kehendak Bapa dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.” Memang kehidupan yang diperagakan oleh Yesus adalah kehidupan yang tidak wajar di mata dunia. Tetapi, inilah yang kita harus kenakan. Kita tidak bisa menghindari, karena memang itulah kehidupan seorang anak Allah.
    Jadi, kita seperti bangun tidur dan baru menemukan kekristenan yang sejati. Tuhan mematangkan pengertian kita dengan berbagai persoalan hidup, badai-badai yang membuat kita terbang lebih tinggi dan melihat tragisnya hidup. Coba perhatikan, orang yang prinsip hidupnya menggunakan kesempatan untuk menikmati kesenangan dunia, adalah orang yang berpikir bahwa selalu masih ada kesempatan nanti untuk bertobat dan berubah. Itulah juga yang sudah meracuni kita selama puluhan tahun. Sebaliknya, orang yang memiliki prinsip hidup seperti Paulus, yaitu hidup untuk mengabdi dan melayani Tuhan, akan lebih cenderung berpikir bahwa tidak akan ada lagi kesempatan untuk bertobat dan berubah. Karenanya, di dalam tulisannya di Efesus 5:16-18 Paulus mengatakan, “Gunakan waktu yang ada untuk mengerti kehendak Allah, supaya kamu bijaksana.” Kita harus benar-benar berkemas-kemas, artinya siap berangkat.
    Mari kita membayangkan diri kita berada di hadapan takhta pengadilan Allah—supaya kita selalu waspada—masih adakah dosa atau kesalahan yang kita lakukan? Masih adakah pekerjaan yang belum kita tunaikan? Sekecil apa pun, sehalus apa pun dosa dan kesalahan, harus dibereskan. Manusia lain tidak perlu tahu. Di pengadilan Tuhan nanti, baru kita gelar perkara. Dalam gelar perkara di dunia, sering terjadi ketidakjujuran. Tetapi kalau gelar perkara di hadapan Allah, pasti sempurna. Karena Allah Mahatahu, Allah juga Mahaadil.
    9 min
  • Tidak Memilih
    Kalimat “selagi masih ada kesempatan” bisa memiliki pengertian yang berbeda dari dua kelompok besar manusia yang memiliki perbedaan prinsip atau filosofi hidup. Kalimat “selagi masih ada kesempatan” dapat dilihat dari dua sudut pandang atau dua perspektif yang berbeda. Sudut pandang pertama, “selagi masih ada kesempatan” berarti kesempatan untuk menikmati kehidupan di bumi ini semaksimal mungkin. Ini fakta yang tidak bisa dibantah. Pada umumnya atau hampir semua manusia berfilosofi atau berprinsip hidup ini. Sedangkan sudut pandang kedua, “selagi masih ada kesempatan” artinya kesempatan untuk sepenuhnya mengabdi dan melayani Tuhan; sepenuhnya mempersembahkan hidup bagi Tuhan. Pandangan yang kedua hanya diikuti oleh sedikit orang. Ironis, hampir semua manusia memiliki cara pandang yang salah, yaitu yang pertama. Hal ini disinggung oleh Paulus dalam 1 Korintus 15:32, “Kalau hanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan manusia saja, aku telah berjuang melawan binatang buas di Efesus. Apakah gunanya hal itu bagiku? Jika orang mati tidak dibangkitkan, maka marilah kita makan dan minum sebab besok kita mati.” Ini filosofi hidup hampir semua manusia, “Marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati.”
    Jika berdasarkan perilaku, cara hidup, gaya hidup manusia pada umumnya atau manusia kebanyakan, Paulus juga dapat menggunakan kesempatan untuk menikmati kesenangan-kesenangan hidup seperti kebanyakan manusia pada umumnya. Jadi, jangan kita berpikir Paulus tidak memiliki kesempatan. Ia ada di dalam ladang pelayanan pekerjaan Tuhan, tetapi kesempatan itu ada. Jangan berpikir kalau orang sudah memberi diri sepenuh waktu untuk pekerjaan Tuhan, masuk Sekolah Tinggi Teologi, memasuki pendidikan seminari Alkitab, menjadi pendeta, lalu kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup seperti kebanyakan manusia lain tertutup. Tidak. Kalau dulu waktu masih muda, ada lagu yang mengatakan “membuang diri ke ladang Tuhan.” Rasanya kalau sudah membuang diri ke ladang Tuhan, jauh dari dunia. Itu pikiran yang keliru. Sebab walaupun seseorang ada di ladang Tuhan, memberikan hidup sepenuh waktu, istilah yang kita sering dengar “fulltimer,” itu bukan berarti menikmati kesenangan hidup seperti yang dinikmati manusia pada umumnya tertutup.
    Dalam pernyataan Paulus tadi hendak ditunjukkan bahwa ia juga memiliki kesempatan atau bisa menggunakan kesempatan untuk menikmati kehidupan seperti manusia pada umumnya. Tetapi, Paulus memilih yang lain; memilih yang berbeda. Itulah sebabnya di Filipi 1:21 Paulus mengatakan, “Bagiku hidup adalah Kristus.” 2 Korintus 5:14-15, “kalau Yesus sudah mati untuk kita semua,” begitu kesimpulannya, “kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri tetapi untuk Dia.” 2 Timotius 4:7-8, Paulus sudah menyelesaikan pertandingan akhir. Darahnya pun ditumpahkan, rela dicurahkan untuk pengabdian pelayanannya bagi Tuhan. Ini adalah kehidupan standar sebagai pengikut Kristus atau sebagai orang percaya. Oleh karenanya, Paulus bisa mengatakan dalam 2 Tesalonika 3:7-9, “kami harus menjadi teladan.” Di dalam ayat yang lain ia mengatakan, “Ikutilah teladanku seperti aku ikut teladan Kristus.” Kalau kita membaca surat Paulus dimana kita menemukan prinsip-prinsip atau filosofi-filosofi hidupnya, di situ kita menemukan standar hidup orang percaya. Standar hidup ini tidak boleh dikurangi atau direduksi sedikit pun.
    Semua kita adalah orang-orang yang telah diwarnai. Tentu yang pertama oleh orangtua kita, lingkungan keluarga, dan gen yang kita terima dari orangtua. Kemudian, kita juga diwarnai oleh pengaruh dunia sekitar kita dengan filosofi-filosofi atau prinsip-prinsip hidup. Di kalangan orang Kristen, prinsip hidup yang kita warisi itu kebanyakan seperti ini: menikmati dunia selagi masih hidup, dan nanti setelah mati, baru menikmati surga. Walau tidak diucapkan, tetapi itulah warna hidup yang dimiliki oleh kita. 
    Walaupun seseorang telah menjadi pendeta, dosen Sekolah Tinggi Teologi, filosofi hidup tersebut sudah mengakar di dalam ji...
    9 min
  • Dinikmati Tuhan
    Kita harus mengalami proses kesempurnaan seperti Bapa atau keserupaan dengan Yesus, agar kita dapat melakukan kehendak Bapa. Sebab, hanya orang yang melakukan kehendak Bapa yang akan masuk dalam Kerajaan Surga. Dalam konteks ini, menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Ingat, ada kalimat dalam Matius 7:21-23, “Aku tidak mengenal kamu,” artinya “Aku tidak dapat menikmati kamu. Kamu tidak menyukakan hati-Ku. Kamu tidak menyukakan hati Allah Bapa.” Kata ‘mengenal’ di ayat ini menggunakan kata ginosko, yang sejajar dengan kata yada di dalam bahasa Ibrani (Kej. 4:1). Kiranya kita bisa dinikmati oleh Tuhan. Ini harus menjadi ambisi kita yang kuat. Hal ini harus kita tegaskan sebagai peringatan, kalau kita masih gagal menghayati bahwa dunia bukan rumah kita—yang ditandai dengan tidak adanya kerinduan terhadap Kerajaan Surga, tidak ada kerinduan pulang ke Rumah Bapa—berarti kita sesat. Rasanya tidak ada seorang pun yang ingin masuk neraka. Semua ingin masuk surga, tapi tidak merindukannya. Orang yang sesat adalah orang yang tidak tahu di mana rumahnya dan tidak menginginkan pulang. Di Lukas 15 mengenai anak terhilang, anak itu tidak suka rumahnya. Berarti, ia juga tidak suka bapaknya. Kita harus menangisi, meratapi diri kita, kalau kita tidak merindukan pulang ke surga.
    Maka, jangan heran jika Tuhan menghajar kita dengan banyak kepedihan hidup. Kepedihan hidup itulah yang dapat membuat kita terangkat. Kita dikejutkan atau seperti badai. Supaya ibarat rajawali kena badai, dia akan terbang tinggi. Jadi kalau sekarang kita hidup dalam badai, itu agar kita bisa terbang tinggi. Keadaan sulit, kekecewaan, kepedihan hati membuat kita memandang surga. Anak yang terhilang di Lukas 15:18 mengatakan, “Aku akan bangkit dan pergi kepada bapakku dan berkata kepadanya: Bapak, aku telah berdosa terhadap surga dan terhadap bapak.” Ketika seorang Kristen tidak mengingini surga, tidak merindukan sungguh-sungguh, sejatinya ia mengkhianati Bapa. Kenapa? Karena pasti ada ikatan percintaan dunia. Masalahnya, kekristenan yang kita warisi adalah kekristenan yang sebenarnya sudah berubah warna, yang esensinya berbeda dari Kristen awal yang diajarkan Yesus. Coba perhatikan, bagaimana orang-orang Kristen mula-mula rela kehilangan apa pun.
    Sementara di bagian lain Tuhan juga berfirman, “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, segenap kekuatan.” Segenap, berarti jika kurang dari itu, tidak bisa. Allah itu absolut dan pantas untuk dicintai, dihormati dengan segenap hati, jiwa, akal budi, dan kekuatan kita. Maka Tuhan Yesus berkata, “kamu tak dapat mengabdi kepada dua tuan.” Sepenuhnya Tuhan, atau tidak usah sama sekali. Dulu kita sering berkata munafik, “Aku mengasihi Engkau, Yesus.” Padahal Tuhan tahu bahwa kita hanya menginginkan kuasa-Nya, mukjizat-Nya, berkat-Nya, perlindungan dari-Nya, tapi kita tidak mengingini diri-Nya. Betapa kurang ajarnya! Dulu kita tidak sadar. Sekarang, kita mulai sadar dan lebih sadar. Maka, jangan berbuat salah lagi. Coba bayangkan, saat kita menghadap Allah, keadaan tersebut pasti dahsyat sekali dan membuat kita gemetar. Pada waktu itulah kita akan bisa mengerti bahwa memang Allah itu absolut. Cinta kita harus bulat sepenuhnya bagi Dia. Betul-betul kita harus mengingini Dia dan merindukan Kerajaan Allah. 
    Mari, kita kobarkan cinta kita kepada Tuhan. Firman Tuhan mengatakan, “Terkutuklah orang yang tidak mengasihi Tuhan.” Ini adalah standar yang harus kita capai. Jangan kompromi. Kita dikejar oleh diri kita sendiri. Kita belajar untuk berperkara dengan daging kita sendiri. Ada manusia lama yang bisa menjadi pangkalan setan di dalam daging kita, di dalam jiwa kita ini. Kita berurusan dengan ini, dan harus serius. Dalam hal ini, jangan terlalu memikirkan apa kata orang. Kita berbenah diri. Nanti semuanya akan dibuka, tidak ada yang tersembunyi. Makanya kita sekarang diam, diam, dan diam. Hati kita harus bersih, jangan ada dendam atau kebencian. Jangan ada dosa yang disimpan.
    10 min
  • Terjebak
    Salah satu ciri dari kekristenan yang sudah tidak asli adalah kekristenan yang tidak merindukan Kerajaan Surga. Kekristenan yang palsu, yang berubah warna ini, membuat orang-orang Kristen tidak merindukan Rumah Bapa, tidak merindukan pulang ke surga. Sesungguhnya, kalau kita menjadi orang Kristen yang sejati, maka kehidupan kita adalah kehidupan yang meneladani Yesus; makin serupa dengan Yesus. Kehidupan Yesus benar-benar rohani; tidak ada unsur duniawinya sama sekali. Fokus-Nya hanya Kerajaan Bapa, melakukan kehendak Bapa, menyelesaikan pekerjaan yang Bapa berikan. Sering kali kita merasa bahwa berhubung kita ini manusia, maka kita boleh sedikit duniawi atau agak duniawi atau masih berunsur duniawi, lalu kita menolerir hal itu. Padahal, inilah yang membuat banyak orang Kristen terjebak dalam kehidupan wajar anak dunia. Jikalau seseorang terjebak dalam kehidupan anak dunia—yang kompromi dengan hal-hal wajar seperti yang dijalani orang-orang di luar umat pilihan—pasti tidak akan bisa memikirkan hal kekekalan atau Kerajaan Surga. Pastinya ia tidak akan merindukan Kerajaan Allah dan tidak bisa menghayati bahwa dirinya bukan berasal dari dunia ini. Padahal Yesus berkata, “Aku bukan dari dunia, kamu juga bukan dari dunia.”
    Oleh karenanya, kalau kita mau menjadi orang percaya yang benar, kita harus sungguh-sungguh mengikut Yesus. Tidak boleh membuka celah unsur-unsur keduniawian masuk dalam hidup kita. Kalau keberagamaan, mereka masih membuka pintu untuk menikmati dunia seperti anak-anak dunia menikmatinya. Tetapi kekristenan yang sejati tidak memiliki celah sama sekali, tidak memberi pintu sekecil apa pun bagi unsur-unsur duniawi untuk masuk. Seseorang bisa dikatakan rohani, kalau ia benar-benar serupa dengan Yesus. Ukuran rohani kita adalah serupa dengan Yesus. Betapa rusaknya gereja kalau yang namanya rohaniwan itu pendeta; sementara jemaat, bukan rohaniwan. Padahal ukuran rohani tidaknya seseorang adalah keserupaan dengan Yesus. Setiap orang Kristen harus serupa dengan Yesus. Jadi, setiap orang Kristen harus menjadi rohaniwan, dan seorang yang patut disebut rohaniwan adalah orang yang fokusnya adalah Kerajaan Allah; sudah memindahkan hati di Kerajaan Surga.
    Orang yang tidak memindahkan hatinya di Kerajaan Surga, tidak merindukan Rumah Bapa. Orang yang tidak merindukan Rumah Bapa, tidak mengadakan perjalanan menuju Rumah Bapa. Orang yang tidak mengadakan perjalanan ke Rumah Bapa, pasti tidak memiliki kemajuan dalam kehidupan rohaninya atau tidak makin rohani. Kalau perjalanan bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan adalah perjalanan menempuh jarak, tetapi kalau perjalanan orang Kristen menuju langit baru adalah penyempurnaan; kesempurnaan, kesucian. Orang di luar Kristen juga bisa mengalami perubahan mental dimana mereka menjadi semakin bijaksana, semakin sabar, semakin mengendalikan diri. Orang-orang di luar umat pilihan, banyak yang baik dan unggul dalam hal tersebut. Tetapi, kekristenan adalah perjalanan menuju langit baru bumi baru dimana seseorang harus berstatus melakukan kehendak Bapa. Kalau tidak melakukan kehendak Bapa, seperti yang ditulis Matius 7:21-23, Tuhan akan berkata kepada mereka: “Aku tidak kenal kamu.”
    Kita harus ingat apa yang firman Tuhan katakan bahwa kewargaan kita adalah di dalam surga. Kita harus ingat bahwa kita dalam perjalanan. 1 Korintus 10:5-6 mengatakan bahwa semua itu menjadi contoh bagi kita. Semua yang mana? Kegagalan orang-orang Israel; dimana sebagian besar mereka tidak sampai Tanah Kanaan. Mengapa? Karena mereka tidak dengar-dengaran. Ini berarti tidak semua orang Kristen akan menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah; tidak semua orang Kristen akan masuk surga. Kita harus menjaga diri agar jangan sampai gagal, karena Matius 7:21-23 jelas mengatakan ada orang-orang yang tertolak walaupun mereka sudah berprestasi dalam pelayanan. Harus disadari bahwa musuh Allah—yaitu kuasa kegelapan dengan semua anteknya dan malaikat-malaikat yang jatuh—berusaha untuk menggagalkan perjalanan ora...
    11 min
  • Kompromi
    Fokus hidup Yesus sepenuhnya adalah Kerajaan Surga. Semua yang dikerjakan-Nya hanya untuk kepentingan Kerajaan Allah. Tidak ada sedikit pun ke arah bumi ini, dan kita harus mencontoh itu. Banyak orang merasa bahwa berhubung dirinya adalah manusia—dalam konteks orang Kristen—jadi “sedikit duniawi” bisa ditolerir. Tanpa disadari, hal ini membuat kita melakukan kompromi-kompromi, konformisme, sehingga kita terus-menerus duniawi, tidak pernah menjadi rohani. Rohani artinya menjadi seorang yang selalu memikirkan hal-hal kekekalan atau hal-hal Kerajaan Surga. Tentu hidupnya mengarah ke langit baru bumi baru. Ironis, tanpa sadar kita hidup dalam kompromi atau penyesuaian dengan dunia sekitar, kita punya tali yang mengikat kita untuk tidak bisa terbang. Karena kita sudah lama ada dalam “kesalahan fokus” tersebut, sehingga mengembalikan fokus sepenuhnya ke Kerajaan Allah begitu sulitnya, bahkan bisa menjadi semakin mustahil.
    Gereja yang mengalami kemerosotan telah menjadi gereja duniawi yang tidak lagi bergerak menuju atau mengarahkan hidup ke langit baru bumi baru. Para pimpinannya sibuk berdebat, berkonflik, bertikai doktrin, sehingga jemaat menjadi rusak. Tetapi selagi masih ada kesempatan, yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah asal kita mau betul-betul bertobat. Alkitab jelas berkata bahwa kita harus serupa dengan Yesus. Alkitab juga mengatakan bahwa kita harus sampai pada pengakuan dan kenyataan hidup, “hidupku bukan aku lagi tapi Kristus.” Kalau kita merenungkan bahwa Yesus ini benar-benar rohani, tidak ada duniawinya sama sekali, kita pun harus benar-benar rohani, tidak ada duniawinya. Jadi, kita tidak boleh memberi kesempatan atau peluang, yang akhirnya akan melebar terus. Bukan hanya bocor, tapi kita membuka pintu selebar-lebarnya bagi pengaruh dunia untuk masuk dalam hidup kita. Mungkin kita bisa berkhotbah, membuat seminar, membuat tulisan-tulisan buku rohani, tapi kita tidak sepenuhnya memindahkan hati di Kerajaan Surga. Kristen yang kita kenakan selama ini memang kekristenan yang baik—baik menurut keberagamaan, tapi itu Kristen palsu jika ditinjau dari Injil yang sejati.
    Maka, ketika para murid mendengar khotbah Tuhan Yesus yang mengatakan bahwa tubuh-Nya benar-benar makanan dan darah-Nya benar-benar minuman, mereka berkata, “Keras. Tidak mudah.” Mengenakan perasaan-Nya dan memperagakan hidup-Nya adalah hal yang sulit, bahkan mustahil. Tetapi kalau kita tidak begitu, kita tidak makan roti yang turun dari surga, kita tidak hidup selama-lamanya. Maka kemudian mereka berkata, “Tuhan, apa yang harus kulakukan untuk memperoleh roti itu?” Kemudian Yesus menjawab, “Percayalah kepada Dia yang diutus oleh Allah.” Percaya artinya mengenakan hidup-Nya atau gairah-Nya; itulah roti hidup. Nenek moyang bangsa Israel makan roti di padang gurun, dan mereka mati. Karena itu adalah roti jasmani. Tapi yang Yesus tawarkan adalah roti dari surga. Namun sejujurnya, kita tidak mau makan roti dari surga karena ada roti dunia yang “menyenangkan.”
    Orang Kristen yang benar-benar rohani pasti dapat menghayati bahwa dirinya adalah anggota keluarga Kerajaan Allah, dan ini akan mendorong seseorang berperilaku agung, suci, tak bercacat dan tak bercela, walau itu adalah hal yang sulit. Tapi karena tidak memiliki pilihan lain, maka ia berani punya komitmen, tekad, dan sumpah dengan Allah. Perhatikan, kalau seseorang punya niat jahat—karena memang hatinya bengkok—maka dalam level stadium tertentu, dia mengadakan perjanjian dengan kuasa kegelapan. Kemudian, pasti ada niat-niat jahat yang terselenggara, dan itu pasti merugikan, menyakiti, melukai orang lain, sesama, dan terlebih menyakiti Tuhan. Tapi sebaliknya, kalau seseorang ada niat hidup suci—walaupun banyak kekurangan dan kelemahan, namun ia memiliki tekad, janji, sumpah, komitmen untuk hidup benar—maka dia mengadakan perjanjian dengan Allah. Maka, Tuhan akan memenuhi apa yang dikatakan Roma 8:28, “Allah bekerja dalam segala hal mendatangkan kebaikan bagi orang yang ...
    12 min
  • Sepenuhnya
    Jika kita mempelajari Injil dalam pimpinan Roh Kudus, maka kita dapat menemukan kenyataan bahwa kekristenan yang dikenakan oleh banyak orang Kristen hari ini adalah kekristenan yang jauh dari kebenaran Injil yang diajarkan oleh Tuhan Yesus. Kekristenan telah mengalami kemerosotan yang sangat parah, sehingga kehilangan esensi atau inti dari kekristenan yang diajarkan oleh Yesus. Sebenarnya, kekristenan yang murni tidak bisa merosot. Kekristenan yang telah merosot ini adalah Kristen palsu; fake Christianity. Sejak Kristen menjadi agama negara pada abad ke-3 atau menjelang abad ke-4, kekristenan telah berubah menjadi keberagamaan seperti agama-agama pada umumnya. Hal ini yang mengakibatkan kehidupan Kristen, orang-orang Kristen, kehilangan atau melepaskan inti kebenaran Injil. Kehidupan Kristen yang sejati digantikan kegiatan liturgi, dengan perdebatan-perdebatan teologi dimana para pimpinan gereja saling bertikai terus-menerus sampai hari ini. Namun ketika masa penganiayaan berlangsung, pimpinan-pimpinan gereja bisa bergandengan tangan bersatu, dan jemaat melihat kebersamaan tersebut walaupun tentu ada perbedaan. Tapi setelah tidak ada penganiayaan, baju-baju lusuh yang dipakai para pimpinan gereja dan uskup, digantikan baju-baju sutra; baju-baju kebesaran yang didesain begitu rupa untuk pantas duduk di samping kaisar atau di samping para petinggi kerajaan. 
    Kekristenan mengalami kemerosotan. Ini semua adalah pekerjaan kuasa kegelapan yang membelokkan perjalanan hidup orang percaya yang mestinya menuju langit baru bumi baru, namun kemudian terparkir di bumi ini. Kebenaran Injil yang mestinya membangun kekristenan yang sejati—yaitu kehidupan orang Kristen yang mengenakan kehidupan Kristus—telah menjadi agamawi dengan atribut-atribut keagamaan seperti liturgi, terfokus pada pendidikan moral etika, tetapi lepas dari kebenaran yang bisa merubah cara berpikir. Sejujurnya, justru atribut-atribut itulah yang membuat orang-orang Kristen semakin jauh dari kebenaran Injil sejati yang diajarkan oleh Yesus. Salah satu ciri penyesatan yang sukses dari kuasa kegelapan adalah ketika orang-orang Kristen berhenti mengadakan perjalanan menuju langit baru bumi baru, atau tidak lagi sepenuhnya fokus kepada langit baru bumi baru. Mereka telah membagi hati kepada dunia, sesuai dengan firman yang mengatakan, “Di mana ada hartamu berada, di situ hatimu berada.” 
    Sejatinya, ketika seseorang mengambil keputusan menjadi orang Kristen atau mengikut Yesus, maka seluruh arah perjalanan hidupnya haruslah ke Rumah Bapa. Tuhan Yesus tegas mengatakan ketika Khotbah di Bukit dalam Injil Matius 6:19-21, ”Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.” Dalam suratnya, Paulus juga mengatakan di Kolose 3:1-4, “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.”
    Jadi, kita harus hidup dengan gairah hidup atau prinsip hidup yang dikenakan oleh Yesus, sehingga kita menjadi orang-orang yang mengenakan Kristus di dalam diri kita. Maka, jangan kita hanya setuju dan merasa sudah tahu akan hal ini, tetapi mari kita sungguh-sungguh memindahkan fokus hidup kita sepenuhnya ke Kerajaan Surga atau ke Rumah Bapa. Kata “sepenuhnya” ini penting. Bukan “setengah” atau “sebagian.” Ironis, kita sering merasa sedang atau bahkan sudah memindahkan, tapi belum sepenuhnya. Bersyukur kalau kita seperti burung yang asyik makan padi,
    8 min
  • Menyentuh Hati Allah
    Allah menciptakan manusia agar manusia itu bisa melakukan apa yang Allah kehendaki. Allah menghendaki manusia yang bisa menyukakan hati-Nya. Di dunia manapun, orang jahat atau orang bengis akan berakhir tragis. Kalau tidak di bumi, di kekekalan. Tetapi orang yang mengasihi sesama seperti diri sendiri, pasti Tuhan berkati. Bagi kita orang percaya, kita berpotensi untuk menyenangkan hati Allah lebih dalam lagi. Kita bisa menjadi penghiburan bagi Allah, seperti Nuh di Kejadian pasal 6. Ketika hati Allah pilu, pedih melihat kejahatan manusia, Nuh menjadi anak penghiburan. Ia bukan hanya menghibur manusia—justru manusia tidak ada yang mau mendengar suaranya, kecuali keluarganya sendiri—tapi Allah terhibur. Kita mau menjadi manusia-manusia akhir zaman yang menyentuh bagian terdalam di dalam perasaan Allah. Kita bisa menyenangkan hati-Nya di tengah-tengah dunia kita yang semakin jahat (2Tim. 3:1-5; Mat. 24:12-13). 
    Kita kobarkan hati kita untuk mencintai Allah; hati yang membara mencintai Allah, yang meninggalkan percintaan dunia. Menjadikan Tuhan sebagai harta satu-satunya, menjadikan Allah sebagai kehormatan. Allah akan terhibur oleh orang-orang seperti ini. Kita harus sadar bahwa kita ini sedang dalam perjalanan. Jangan salah alamat dan berhenti di tengah jalan. Kita sedang menuju langit baru bumi baru. Seperti bangsa Israel dari Mesir ke Kanaan, kita dari dunia ini ke langit baru bumi baru. Siapakah orang yang mau terus bergerak, yang mau terus mengadakan perjalanan dan fokus? Tentu mereka yang mengasihi Allah, yang tidak mencintai dunia. Mereka yang mau berbenah diri supaya didapati tak bercacat, tak bercela di hadapan Allah. Orang-orang seperti ini yang akan menjadi kesukaan hati Allah. Kita bukanlah orang yang sudah sempurna dan merasa lebih baik dari orang lain; kita juga bukan orang hebat, tetapi kita mau nekat, punya fokus langit baru bumi baru, tidak terikat dengan keindahan dunia. Bertumbuh terus menjadi manusia yang sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Kristus, karena itulah inti kekristenan. Jika tidak demikian, percuma. 
    Ingat, ada firman Tuhan mengatakan ada hamba-hamba yang jahat, yang tidak melakukan apa yang diperintahkan tuannya. Mereka dibuang ke dalam api kekal, disamakan dengan orang-orang berdosa. Jangan sampai kita disamakan dengan orang-orang berdosa. Kalau kita hanya menjadi seorang yang beragama Kristen, tidak ada nilainya. Tapi kita mau sempurna seperti Bapa dan serupa dengan Yesus. Di sini dibutuhkan perjuangan. Namun dalam kehidupan ini, ada orang-orang yang memiliki kesibukan dan kesenangan sampai tenggelam dengan kesibukan dan kesenangannya. Dan itu menjadi dunianya, seakan-akan dia memiliki hidup dalam dimensi yang berbeda dari orang-orang di sekitarnya. Kita memiliki Allah yang hidup yang berfirman, “Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka, dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan menjadi umat-Ku. Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa” (2Kor. 6:16-18). 
    Kita memiliki Sesembahan, Allah yang menjadi Bapa kita, yang berkenan bersama-sama dengan kita. Mestinya inilah yang membuat kita benar-benar memiliki keasyikan, kesibukan dunia kita sendiri yang berbeda dengan orang lain. Inilah yang seharusnya membuat kita memiliki dimensi hidup yang berbeda. Ini benar-benar anugerah yang sangat besar, karena kita diperkenan untuk berjalan dengan Allah yang hidup. Tetapi kita harus hidup tidak bercacat, tidak bercela. Tuhan bukan menjadi tambahan dalam hidup, ibarat sesuatu yang kita konsumsi untuk kesehatan tubuh. Tuhan bukan semacam suplemen. Dia adalah segalanya, Dia kehidupan kita, Dia lebih dari sekadar obat, tetapi Dia nafas kita, hidup kita.
    9 min
  • Mengukir Sejarah Kehidupan
    Pasti ada di antara kita yang pernah atau sedang menyesali perjalanan hidup masa lalunya. Ada orang-orang yang sempat disadarkan. Dan Bapa sangat menginginkan untuk bisa menggarap kita menjadi orang-orang yang bernilai. Allah tidak menciptakan seseorang dengan segala keunikannya untuk menjadi orang yang tidak bernilai dan dibuang ke neraka. Allah tidak menghendaki demikian. Allah mengingini setiap orang dengan personalitinya masing-masing—yang tidak ada duanya—menyelesaikan pekerjaan Allah yang dipercayakan kepadanya, menerima pengurapan Roh Kudus, dan membuat sejarah hidup yang menyenangkan hati Allah. Allah menghendaki demikian. Allah tidak menghendaki manusia yang diciptakan Allah dengan begitu unik dan pasti memiliki keluarbiasaan, ditunggangi oleh kuasa gelap, sehingga sepak terjang hidupnya, petualangan hidupnya adalah petualangan hidup yang mendukakan hati Allah.
    Menjadi pertanyaan bagi kita semua, apakah selama ini petualangan hidup kita sudah merupakan petualangan hidup anak-anak Allah? Kuasa gelap membuat hidup kita menjadi tidak jelas, kabur. Sebenarnya kalau kita berurusan dengan Tuhan sungguh-sungguh, kita bisa. Setiap kita harus berurusan dengan Allah, harus bersentuhan dengan Allah. Sebab Allah mau menggarap kita secara khusus. Hanya dengan bersentuhan dengan Allah melalui Roh Kudus, kita bisa mengukir sejarah kehidupan sebagai anak-anak Allah. Tetapi sayangnya, kita melihat satu penyimpangan yang terjadi selama berabad-abad. Petualangan hidup dengan Allah digantikan dengan ilmu tentang Tuhan. Pengalaman dengan Tuhan secara pribadi digantikan dengan teologi. Dan ironisnya, hal itu dipelopori oleh para teolog. Mereka merasa bahwa dengan belajar tentang Tuhan, itu akan menentukan kualitas hidup kekristenannya.
    Coba kita perhatikan orang yang ingin memiliki kuasa supranatural, dia pergi ke tempat-tempat keramat, ke gua-gua, ke gunung-gunung yang dianggap memiliki kekuatan gaib, ke kuburan-kuburan. Mereka berpuasa dan melakukan berbagai ritual supaya memiliki kekuatan. Lalu, mengapa kita tidak mencari Allah seperti itu? Kenapa untuk Tuhan, kita tidak mencari segiat itu? Apalagi di dunia modern ini, Tuhan menjadi tidak laku. Dengan begitu banyak racun yang telah merusak pikiran, Tuhan dianggap tidak ada atau tidak perlu ada. Bahkan, sampai tidak percaya bahwa Tuhan itu ada. Carilah terus sampai kita mengalami Tuhan. Tidak usah kita menyusun skripsi, tesis, jurnal ilmiah, atau buku. Kita bisa bertemu langsung dengan Tuhan. Kalau kita berjalan dengan Tuhan, orang pasti akan menemukan Yesus dalam hidup kita. Tentu dengan mengatakan ini, bukan berarti kita antiteologi, anti-STT. Tetapi teologi dan STT tidak menjamin seseorang memiliki hidup yang berkualitas sebagai orang yang diurapi. Itu masalahnya. 
    Maka Tuhan Yesus berkata di Lukas 18:8, “Apakah kalau Anak Manusia datang, Dia mendapati iman di bumi?” Artinya, orang Kristen yang sesuai standar iman yang Allah kehendaki. Maka, kita harus mau periksa diri. Sebab, sebagian besar orang tidak peduli akan buku hidupnya. Sebelum menghadap takhta pengadilan Tuhan, gambar-gambar yang buruk kita minta Tuhan hapus—kalau kita sungguh-sungguh bertobat. Ini kabar baik. Allah mengampuni, Allah melupakan. Kita membuat lembar hidup yang baru. Hidup kita akan diubah. Jangan beri kesempatan kepada manusia lama kita. Firman Tuhan dalam Efesus 4:22-24 mengatakan, “… yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu…” Siapa yang menanggalkan manusia lama? Kita sendiri. Itu harus dari kita, harus usaha kita. Menanggalkan manusia lama, supaya kita dibaharui di dalam roh dan pikiran kita. 
    Efesus 4:24, “dan mengenakan manusia baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” Iman dalam Anak Allah, artinya penurutan seperti yang Yesus lakukan.
    10 min
  • Bintang yang Bercahaya
    Di antara kita pasti ada yang pernah belajar atau pernah membaca ilmu perbintangan mengenai tata surya alam semesta. Ada matahari yang dari kejauhan menyala seperti bintang. Ada juga bulan yang merupakan planet yang disinari matahari, lalu memantulkan cahaya. Ada bintang-bintang yang bisa dilahirkan atau muncul, tapi juga ada bintang-bintang yang padam atau bintang-bintang yang mati. Ini yang bisa kita lihat di alam semesta ini. Dan ini bisa menjadi gambaran kehidupan manusia. Paulus, dalam Filipi 2:15 mengatakan, “Supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia.” Kita harus menjadi seperti bintang-bintang yang bercahaya. Bukan menjadi bintang yang mati, melainkan bintang yang hidup. Masalahnya, bagaimana kita bisa menjadi bintang-bintang yang bercahaya?
    Tentu tidak semua orang bisa menjadi bintang; tidak semua orang Kristen bisa menjadi bintang. Hanya orang-orang yang sungguh-sungguh mencari wajah Tuhan, meninggalkan percintaan dunia dengan segala keindahan serta hiburannya, dan yang benar-benar hidup tidak bercacat, tidak bercela yang dapat bercahaya seperti bintang. Tentu ini kualitasnya tinggi, namun Allah sanggup membuat kita menjadi bintang yang bercahaya. Dan Allah menginginkan kita itu bercahaya seperti bintang-bintang di di jagat raya ini. Oleh sebab itu, kita memeriksa diri apakah di mata Allah, kita sudah terkualifikasi atau digolongkan sebagai bintang yang bercahaya? Ini menjadi tantangan kita. Pasti Allah menghendaki kita menjadi bintang yang bercahaya. Hanya, jika kita memiliki kesucian hidup standar Allah, kita baru bisa bercahaya. Bertahun-tahun kita tidak sungguh-sungguh berambisi untuk ini. Karena ambisi kita, kita bagikan untuk banyak hal. 
    Tetapi hari ini, kita katakan kepada Tuhan, “Lebih baik kita tidak bernafas, lebih baik tidak hidup daripada aku hidup tetapi tidak berkenan di hadapan Allah. Lebih baik aku tidak bernafas, lebih baik aku tidak hidup daripada hidup tetapi tidak hidup di dalam kesucian.” Ini kelihatannya berlebihan, tetapi ini standar. Karena Allah sendiri, Bapa kita yang berkata dalam 1 Petrus 1:16, “kuduslah kamu sebab Aku kudus.” Kita bisa berani nekat untuk pendidikan, untuk uang, untuk karier, untuk pangkat, untuk gelar, namun mengapa untuk kesucian, kita tidak nekat? Maka, kita harus mempersempit hidup kita supaya tidak bias dan banyak fokus. Kita mempersempit hidup kita untuk satu titik. Kita harus dapat fokus, dan fokus kita hanya satu:, kesucian hidup; hidup tidak bercacat, tidak bercela. Maka, kita harus meninggalkan percintaan dunia. Dulu kita berpikir bahwa ini adalah hal yang tidak mungkin. Sulit, lalu kita menunda, menunda, menunda, menunda menunda, dan kita tidak pernah memiliki kesucian hidup. Tetapi sekarang, mari kita menggerakkan satu gerakan di dalam diri kita yang namanya holiness movement. 
    Pasti ada saja orang yang menganggap kita sombong, berlebihan, dan menilai kalau kita mau menutupi dosa. Memang kita orang-orang berdosa, sangat berdosa. Tetapi kita mau mengakhiri sisa hidup kita dengan baik, hidup di dalam kesucian, hidup yang tidak bercacat, tidak bercela. Jangan sampai fokus kita tercuri untuk hal lain. Kita tetap bekerja, berkarier, studi, sebagai ibu rumah tangga mengurus rumah tangga, sebagai orangtua bertanggung jawab atas anak, sebagai anak bertanggung jawab untuk memaksimalkan potensi yang suatu hari harus mengurus orangtua. Saatnya kita menjadi manusia yang bertanggung jawab dalam segala hal, yang memang menjadi tanggung jawab kita: kesehatan, studi, karier, rumah tangga, dan lain-lain. 
    Tetapi semua itu harus membawa kita fokus ke satu titik, yaitu bagaimana kita hidup berkenan di hadapan Allah. Dan melalui semua kegiatan hidup, melalui semua tanggung jawab yang kita kerjakan, kita melakukan apa yang sesuai kehendak Allah,
    7 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…