Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Satu-satunya Dunia
    Dari menit pertama kita bangun pagi, kita harus punya kewaspadaan. Kita harus mulai berjaga-jaga, memetakan hari. Jangan berbuat sesuatu yang salah. Ketika kita berbuat sesuatu yang salah, maka menit dan jam berikutnya bisa rusak, sebab dosa sekecil apa pun dapat merusak bangunan hidup kita. Kita tidak boleh membiarkan satu dosa, sekecil apa pun. Begitu dia masuk, harus “dibunuh.” Artinya, kalau kita punya kesalahan, kita minta ampun dan serius untuk tidak mengulangi lagi kesalahan tersebut. Dari apa yang kita ucapkan salah, sadari dan mohon ampun untuk itu. Jangan berpikir “nanti masih ada waktu buat bebenah.” Ini yang membuat rusak hidup kekristenan kita. Kita harus sungguh nekat. Bersyukur dengan banyak kejadian dan proses hidup yang kita jalani, kita dapat menemukan dan mengalami Elohim Yahweh; menemukan Allah yang menciptakan langit dan bumi. Terus terang, dulu kita memanggil Allah Bapa, biasa saja. Tapi, sekarang ada kegentaran. Memandang Yang Mulia Tuhan kita, Yesus Kristus, dengan lebih hormat.
    Kita tidak boleh membuka hidup kita untuk siapa pun dan apa pun. Sebab satu-satunya dunia yang kita miliki adalah Tuhan. Adapun pekerjaan kita sehari-hari harus tetap kita kerjakan, karena pasti tidak akan mengganggu pencarian kita akan Dia. Tapi Tuhan menjadi pusat hidup kita. Kita melakukan semua ini untuk kesenangan Tuhan. Kalau ibu-ibu di rumah mengurus anak, menyapu, masak, mempersiapkan makan untuk suami atau kirim untuk orangtua, semua untuk Tuhan. Tapi ingat, pertobatan kita sama sekali tidak boleh ditunda. Jauh-jauh hari, dari menit pertama, jam pertama. Di sini baru kita bisa menghayati apa yang dimaksud oleh Paulus, “aku sudah mati, hidupku tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Namun, hampir tidak ada orang bisa menjalani hidup seperti ini. Tapi, kita bisa karena Alkitab berkata begitu. Hanya, jangan ditunda, karena kita tidak tahu kapan kita meninggal. Terutama kita yang merasa diri kuat, kaya, terhormat, jangan main-main dengan kematian. Andaikan sekarang ini masih ada kesempatan, jangan-jangan ini adalah kesempatan terakhir. Kesempatan peringatan yang Tuhan berikan. Pandanglah bahwa tidak ada lagi waktu kita setengah-setengah.
    Bukan sesuatu yang bernilai menjadi ketua sinode yang banyak anggota gereja lokalnya, menjadi ketua STT, atau pendeta besar. Sudah tidak perlu kita menjadi gusar karena hal-hal semacam itu. Kita semua bebenah diri, itu pun juga untuk mematikan kedagingan kita, tidak mudah. Kita harus berubah dalam Tuhan begitu rupa hari ini, dan mengajak sebanyak-banyaknya orang untuk berdiam di Kerajaan Surga. 
    Tapi yang menjadi masalah hari ini adalah bagaimana membuka pikiran orang-orang untuk melihat kehidupan yang akan datang, yang dijanjikan oleh Tuhan Yesus? “Supaya di mana Aku ada, kamu ada.” Banyak orang tidak sanggup lagi, karena dunia mengondisikan mereka untuk memperhatikan apa yang kelihatan saja. Sementara Paulus berkata, “kami memperhatikan apa yang tidak kelihatan.” Teruslah bergerak menuju langit baru bumi baru. Untuk itu, berubahlah sesuci-sucinya dan sekudus-kudusnya. Jangan terikat dunia, dan fokuslah untuk menyenangkan hati Bapa di surga. Pahami apa yang bisa menyenangkan hati Bapa. Kenalilah proyek pekerjaan yang Bapa percayakan kepada kita masing-masing untuk kita penuhi. Dengan cara demikian, sejatinya kita telah mempersiapkan diri ke surga.
    Masalahnya, ada banyak orang Kristen yang merasa kalau sudah percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pengaminan akali, yakin saja bahwa Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa-dosanya, dia sudah punya tiket masuk surga. Ini penyesatan. Dosa-dosa kita memang diampuni, yaitu perbuatan-perbuatan kita yang salah. Dulu, sekarang, atau nanti kemungkinan melakukan kesalahan. Tetapi kodrat dosa di dalam diri kita, itu yang harus kita selesaikan. Yang di masa penampian ini, yang jahat bertambah jahat, tetapi yang kudus bertambah kudus. Artinya, mengondisikan orang yang sungguh-sungguh kodrat dosanya di...
    9 min
  • Waspada
    Dunia kita hari ini adalah dunia yang menyempurnakan kejahatan melalui berbagai sarana. Tetapi keadaan seperti ini juga keadaan dimana orang percaya dikondisikan untuk penyempurnaan kesuciannya. Tetapi ini sedikit sekali. Hampir tidak ada. Bukan pura-pura suci atau kelihatan suci; benar-benar suci. Siapa yang dapat mengetahuinya? Kita tidak bisa meneropong orang lain, dan tidak perlu juga meneropong orang lain. Tetapi suatu hari nanti di pengadilan Tuhan, akan dibuka. 
    Jadi kalau orang benar-benar telah berjuang di jalan Tuhan—artinya hidup sesuci-sucinya, terlepas dari ikatan dunia—maka ia akan bergairah untuk membahagiakan hati Tuhan. Dan Tuhan akan memberi kepekaan untuk mengerti apa yang bisa membahagiakan hati Tuhan, lalu bisa berpikir seperti Allah berpikir. Ini bukan sesaat, melainkan bisa sepanjang waktu hidupnya. Allah akan memercayakan proyek-proyek pekerjaan-Nya di akhir zaman ini. Orang-orang seperti ini akan disempurnakan kekudusannya dan kesuciannya. Tapi, kelompok ini sedikit sekali, bahkan hampir tidak ada. Jika dibandingkan dengan jumlah orang yang disempurnakan kejahatannya, jumlah orang yang dimurnikan ini sangat sedikit.
    Daniel 12:10, “banyak orang akan disucikan dan dimurnikan dan diuji, tetapi orang-orang fasik akan berlaku fasik. Tidak seorangpun dari orang fasik itu akan memahaminya.” Walaupun dia Kristen, aktivis, pendeta, ataupun teolog, ia tidak akan memahaminya karena ia fasik. Jaketnya Kristen, dalamnya fasik. “Fasik” artinya tidak takut Tuhan, tidak peduli kehendak-Nya. Yang penting keinginannya tercapai. Dia takut kalau kurang terhormat atau tidak suka kalau kurang terhormat; tidak suka kalau uangnya sedikit; tidak suka kalau dianggap tidak penting. Tetapi orang-orang bijaksana akan memahaminya. Tentu bijaksana bukan karena kecerdasan intelektual, melainkan bijaksana karena mengerti kehendak Allah. 
    Kita harus sadar bahwa masa penuaian sekarang terus mengalami penurunan atau sudah memasuki selesainya, dan sedang menuju masa penampian. Ibarat orang menampi beras, diguncang untuk memisahkan antara kulit dan bulir beras; untuk memisahkan antara gandum dan kulitnya. Kita harus bisa merasakan guncangan ini. Walaupun kita ada di lingkungan gereja atau pelayanan, kita bertekad untuk hidup benar dan hidup suci, serta tetap merasakan guncangan itu.
    Dunia ini sedang diguncang oleh Allah. Lagipula, Iblis tahu siapa saja orang-orang yang mau menjadi istimewa di mata Allah. Orang-orang ini pasti membahayakan bagi kerajaan gelap, dan oleh karenanya mereka menjadi target. Maka, Petrus memberikan nasihat, “jangan kamu heran, seakan-akan ada sesuatu yang luar biasa yang terjadi atas kamu,” karena imanmu diuji. Iblis itu mendapat semacam hak untuk pengujian ini, dan ini sudah menjadi semacam mekanisme; mekanisme di dalam realita hidup, seperti yang dialami Ayub. Kisah Ayub menunjukkan kepada kita bahwa Iblis itu bisa memiliki hak untuk melakukan pengujian. Pengujian untuk menjatuhkan, dan yang dimaksudkan untuk merusak. Tetapi Allah menjadikan itu sebagai pemurnian. 
    Seorang dosen atau guru tahu bahwa mahasiswa A pasti lulus. Akan tetapi, tidak bisa tidak, ia harus tetap diuji. Harus ada pengujian dan pembuktian. Iblis memiliki kesempatan itu. Maka Tuhan Yesus mengatakan, “Petrus, Iblis menuntut untuk menampimu.” Itu memang mekanisme kehidupan di alam rohani. Yudas dibujuk Iblis, diseret melakukan kesalahan. Di dalam firman Tuhan dikatakan, “maka berbisiklah Iblis kepada Yudas;” Iblis masuk dalam diri Yudas. Memang dari 12 murid, ada satu yang akan berkhianat, tetapi itu tidak harus Yudas. Bisa Petrus, Yohanes, dan lain-lain. Dan ternyata, memang Yudas.
    Orang yang sungguh-sungguh akan dituntut untuk dicobai, dan Tuhan mengizinkannya. 1 Petrus 4:12-14 mengatakan, “Saudaraku yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya,
    13 min
  • Memperkarakan Kekekalan
    Kita tidak tahu kapan Tuhan Yesus datang, dan kita juga tidak tahu kapan kita menjumpai ajal kita. Itu adalah keadaan yang benar-benar dahsyat. Kita tidak boleh memandang remeh hal ini. Ketika seseorang ada di ujung maut, ia baru bisa mengerti bahwa semua persoalan hidup yang dialaminya ternyata kecil, tidak ada artinya. Apalagi kalau sudah ada di hadapan pengadilan Tuhan. Orang yang mampu mengerti atau menghayati hal ini adalah orang yang sungguh-sungguh telah memperkarakan kekekalannya. Ditambah lagi dengan pengalaman hidup dimana seseorang berkali-kali melihat orang ada di ujung maut, atau dirinya sendiri ada di ujung maut. Baru dia bisa mengerti bahwa ketika seseorang di ujung maut mendekati ajal, itu suasana yang sangat mencekam. “Dahsyat,” karena memang tidak ada hal yang lebih mencekam dari keadaan ketika seseorang ada di ujung ajal atau di ujung mautnya. Terlebih lagi kalau ada di hadapan takhta pengadilan Allah. Bahwa ternyata segala sesuatu yang dilakukan selama hidup di dunia ini, semua diperhitungkan.
    Tetapi bersyukur, orang yang sudah jauh-jauh hari panik, jauh-jauh hari mempersiapkan diri menghadapi keadaan itu, yaitu dengan berusaha untuk benar-benar hidup tidak bercacat dan tidak bercela. Kata “suci,” kata “kudus” bukan sesuatu yang asing, bukan sesuatu yang jauh, yang dipandang terlalu sakral sampai tidak tersentuh. Tetapi kata “suci” dan “kudus” adalah sesuatu yang sudah menyatu di dalam hidupnya. Ditambah lagi dengan keterlepasannya dari ikatan-ikatan dunia atau kesenangan-kesenangan dunia, membuat seseorang ketika ada di dalam kondisi sangat mencekam tersebut, dia tidak merasa itu situasi yang menakutkan. Tidak berlebihan, justru itu momentum atau saat yang dinanti, saat yang ditunggu. Jika kita belum mencapai tahap, level, atau stadium itu, berarti ada sesuatu yang masih salah atau belum tepat di dalam hidup kita. Ketika kita ada di pembaringan terakhir, itulah saat yang kita tunggu. Karena, saat itulah saat Tuhan pasti akan mengutus malaikat-Nya yang kudus menjemput kita.
    Dan ketika kita ada di hadapan pengadilan Allah, justru itulah saat yang kita tunggu. Sebab ibarat pembukuan, baru dibuka. Seseorang baru melihat keadaan hidup yang sesungguhnya dari jerih lelah perjuangannya selama bertahun-tahun. Oleh sebab itu, kita harus jauh-jauh hari memiliki perasaan panik dan krisis ini, supaya kita tidak melakukan kesalahan, sekecil apa pun kesalahan itu, sehalus apa pun kesalahan itu. Kita memiliki kegentaran yang benar. Kegentaran yang tulus kepada Allah. Sehingga, kita bisa melihat hati kita bukan seperti kaca yang rusak atau berkabut, melainkan kaca yang bening. Kita bisa melihat wajah kita, seberapa wajah kita memiliki keelokan atau kecantikan. Kalau kita berusaha bagaimana hidup sebersih-bersihnya dan sesuci-sucinya, kita akan bisa melihat wajah batin kita jernih dan bersih. Serta, terus diimbangi dengan perasaan takut akan Allah. Kalau kita melakukan kesalahan, kita akan sangat menyesal, seakan-akan kita bisa merasakan luka dan sakit hati-Nya Tuhan. 
    Yang benar adalah bahwa hanya Tuhan yang menjadi kebahagiaan kita. Dan kalau Tuhan menjadi kebahagiaan kita, sungguh-sungguh kita melakukan hal itu, Tuhan juga akan bukakan mata pengertian kita untuk lebih mengerti apa yang bisa membahagiakan Dia. Kalau kita semakin mengerti apa yang bisa membahagiakan hati Tuhan, kita akan diajar Tuhan berpikir seperti Dia berpikir. Tidak ada yang kita pikirkan yang bukan Allah pikirkan. Tidak ada proyek-proyek di dalam hidup kita selain pekerjaan Tuhan yang kita harus tunaikan. Tentu kita harus bekerja, mengurus rumah tangga, dan menunaikan semua tugas dan tanggung jawab hidup. Tetapi semua kesibukan itu pun kita lakukan dalam rangka menyenangkan Tuhan. Tentu kita tidak bisa menyukakan hati Tuhan hanya dengan berdiam di dalam kamar, berlutut berdoa sepanjang hari, atau tinggal dalam gua untuk bermeditasi, semedi, atau bertapa. Kita harus ada di dalam kesibukan hidup; studi, karier, mencari nafkah,
    9 min
  • Gaya Hidup yang Berbeda
    Kita harus melatih diri untuk tidak memiliki dosa sekecil apa pun di dalam diri kita. Dengan melatih ini, keyakinan bahwa Allah itu ada, akan bertambah. Kita harus dalam keadaan terus berurusan dengan Allah. Itulah sebabnya, kita bisa menjadi kokoh di tengah badai yang menerpa hidup kita. Kita bisa menjadi kokoh karena kita yakin ada Allah yang hidup. Dan kita juga percaya bahwa kita dibela Allah, karena Allah di pihak kita. Jangan ada sesuatu yang kita lakukan yang melukai hati Tuhan. Kehidupan seseorang yang melatih diri meyakini ada Allah adalah kehidupan yang pasti menjadi berbeda dengan orang lain. Mengapa bisa berbeda? Karena ia hidup di dalam pemerintahan Allah. Di balik pemerintahan manusia, di balik pemerintahan suatu negara, ada pemerintahan Allah di dalam hidup kita. Dan pemerintahan Allah itulah yang membuat kita memiliki gaya hidup yang berbeda dengan gaya hidup orang yang tidak hidup dalam pemerintahan Allah. Gaya hidup seseorang yang ada dalam pemerintahan Allah, berbeda dengan orang yang tidak hidup di dalam pemerintahan Allah.
    Maka jangan heran kalau orang yang berjalan dengan Allah itu bisa dianggap tidak wajar. Karena, kita sepertinya susah dimengerti. Kita sibuk dengan apa yang orang tidak sibuk. Ini bisa membingungkan orang di sekitar kita. Jadi, kita seperti hidup di bawah ketidakwajaran, dengan perilaku yang tidak bisa dimengerti orang lain. Firman Tuhan mengatakan di dalam Roma 12:2, “janganlah serupa dengan dunia ini, berubahlah oleh pembaharuan budimu.” Dengan kata lain, kita harus memiliki cara hidup yang berbeda. Yang untuk itu, kita harus terus mengalami perubahan. Pertobatan bukan hanya sekali, melainkan setiap kali kita melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Allah, sekecil apa pun kesalahan itu, harus diakui dan minta ampun kepada Tuhan. Perubahan terus-menerus menjadikan seseorang paranoia, paranoid. Kita bisa paranoid, tapi bukan kepada manusia, melainkan terhadap dosa. Kita dianggap nyentrik. Orang lain korupsi, kita tidak korupsi; orang bercanda jorok, kita tidak bercanda jorok. Orang disakiti membalas menyakiti, kita disakiti namun tidak membalas.
    Sekarang, pasti kita banyak memiliki persoalan atau mungkin sedang terancam oleh suatu bahaya tertentu. Tapi percayalah, ada Allah yang hidup. Cobalah merapat kepada Tuhan, percayalah bahwa Tuhan adalah Tuhan yang hidup dan Tuhan pasti menolong. Tidak mungkin Tuhan tidak menolong. Sebab, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Tuhan pasti selalu menyertai kita. Dan kita tidak boleh menjadi takut. Kalau kita takut, kita khawatir, kita seperti melecehkan Allah. Kita seperti menghina dan meremehkan kekuasaan Allah, karena Allah itu kuat dan berkuasa. Kalau kita adalah anak-anak Allah yang baik—yang hidup suci, hidup berkenan di hadapan Allah—Allah pasti membela kita. Masalahnya, bagaimana kita tahu bahwa Allah di pihak kita atau tidak? Jawabannya, “Kita ada di pihak siapa sekarang?” Kalau kita tidak di pihak Allah, jangan harap Allah di pihak kita. Tetapi kalau kita hidup di pihak Allah, Allah pasti di pihak kita.
    Pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana kita bisa hidup di pihak Tuhan?” Pertama, hidup suci, hidup tidak bercacat, tidak bercela. Yang kedua, lakukan apa yang Allah kehendaki untuk kita lakukan. Seperti misalnya: anak-anak menghormati orangtua, orangtua mengasihi anak-anak, suami mengasihi istri dan sebaliknya, hormati mertua, mertua sayang menantu dengan tulus. Dan Tuhan pasti akan mengirimkan orang-orang yang kita harus tolong. Di situ Tuhan mengajar kita untuk ada di pihak Tuhan. Bersyukurlah kalau Tuhan sering membawa kita kepada keadaan-keadaan dimana kita “direpotkan,” bertemu orang-orang yang menyusahkan. Dulu mungkin kita sering mengeluh, tapi sekarang kita mulai mengerti bahwa ada maksud Tuhan di balik semua ini. Karena, ternyata Tuhan memberi kesempatan kita menyenangkan hati Dia.
    Yang ketiga, berusaha membuat orang lain menjadi seperti kita, yang takut akan Allah, mengasihi Tuhan,
    9 min
  • Kekhawatiran yang Tidak Perlu
    Banyak orang mengatakan percaya kepada Allah, tetapi tindakannya tidak menunjukkan bahwa dia benar-benar percaya Allah itu ada. Bagaimana kita bisa mengukur bahwa kita masih ragu-ragu atau kurang yakin Allah itu ada? Yaitu ketika kita ada di dalam kekhawatiran dan ketakutan yang tidak perlu. Sebaliknya, kalau seseorang percaya bahwa Allah itu ada, ia akan memiliki ketakutan yang kudus atau kekhawatiran yang benar, yang tentunya berangkat dari takut akan Allah. Takut akan Allah harus berangkat dari sikap hormat dan kasih kita akan Allah. Tuhan Yesus sendiri berkata, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh tetapi yang tidak berkuasa membuang jiwa dan tubuh ke dalam neraka.” Juga dalam Lukas 12:5, “Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kamu takuti. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, takutlah akan Dia.” Kalau seseorang benar-benar yakin Allah itu ada, pasti ia takut akan Allah. Tidak bisa tidak, dia akan takut akan Allah karena Allah itu dahsyat. Jika seseorang menghayati keberadaan Allah dan menghayatinya dengan benar, akan ada kegentaran dan kegemetaran yang luar biasa di dalam diri kita. Itulah yang membuat kita takut terpisah dari Dia.
    Oleh karenanya, kita berusaha untuk tidak melakukan apa yang melukai hati Tuhan, yang bisa mengakibatkan seseorang itu terbuang dari hadirat Allah. Inilah yang disebut ketakutan atau kekhawatiran yang positif. Ini sama seperti seorang siswa atau mahasiswa yang ceroboh, dimana mereka tidak takut tidak naik tingkat. Jika seorang siswa atau mahasiswa memiliki sikap hidup yang benar, dia akan kuatir tidak naik tingkat, sehingga belajar dengan rajin. Dia bisa mengesampingkan hal-hal yang tidak perlu dilakukan. Kita harus takut akan Allah sehingga kita menata hidup kita hari ini sebaik-baiknya, supaya ketika nanti kita meninggal dunia, di ujung maut, kita tidak takut. Ketika kita dihadapkan pada pengadilan takhta Kristus, kita pun tidak takut karena kita sudah biasa menjalani hidup dengan baik. Ini bukan hal sederhana. Mengaku percaya Allah ada tapi kita khawatir dengan banyak hal yang tidak perlu, adalah salah.
    Maka, kita harus memerintahkan jiwa dan saraf-saraf kita untuk meyakini ada Allah yang hidup, yang mata-Nya melihat seluruh perilaku dan perbuatan kita. Orang yang meyakini Allah itu ada, tidak takut menghadapi keadaan apa pun, karena Allah itu lebih besar dari segala sesuatu. Kita memang masih belajar. Kadang-kadang dalam menghadapi keadaan-keadaan sulit yang mengancam kita, hati kita bisa menjadi kecut dan kecil hati, lalu bisa mulai meragukan—apakah Allah mau campur tangan di sini—karena Allah seakan-akan tidak ada. Bahkan kadang-kadang Tuhan seperti membiarkan masalah kita tetap terkatung-katung, berlarut-larut. Tetapi sebenarnya semua itu merupakan ujian, apakah kita meyakini bahwa Allah itu benar-benar ada. Dan kita yakin bahwa Allah yang besar dan dahsyat adalah Allah yang bisa mengatasi segala sesuatu.
    Jadi kalau kita khawatir, ada dua kemungkinan; pertama, kita tidak memercayai kuasa Allah, atau kedua, karena kita masih memiliki kehidupan yang belum berkenan. Kalau seseorang hidupnya belum berkenan di hadapan Tuhan, ia tidak bisa memiliki iman yang kokoh karena tidak biasa meyakini Allah itu ada. Kalau seseorang yakin Allah itu ada, dia pasti berusaha untuk tidak melukai hati Tuhan dengan hidup suci. Berjuang, berusaha untuk hidup berkenan di hadapan Allah. Sehingga kalau sudah demikian, imannya bertambah kokoh. Dia sudah membiasakan diri menghayati Allah yang hidup dan hadir. Penghayatan itu dibuktikan atau ditunjukkan dengan kehidupan yang tidak bercacat, tidak bercela. Imannya pasti akan semakin kokoh. Iman yang kokoh ini—yang meyakini akan keberadaan dan kehadiran Allah—membuat ia menjadi kuat menghadapi segala kesulitan dan kesukaran. Dia tidak memiliki rasa takut terhadap apa pun. Jadi kalau kita masih merasakan ketakutan terhadap sesuatu,
    9 min
  • Percaya akan Penyertaan-Nya
    Hidup kita ini seperti telur di ujung tanduk, artinya kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Tetapi, jiwa kita bisa teduh dan tenang karena kita memiliki Allah yang hidup. Di sini, diuji seberapa murni iman yang kita miliki. Tidaklah sulit kalau kita berbicara mengenai Allah, berkhotbah mengenai Dia, memberikan seminar mengenai Allah, menulis buku, membuat jurnal ilmiah mengenai Allah. Tetapi mengalami Allah, sesuatu yang berbeda. Mengalami Allah tidak cukup hanya dengan mengenal Dia melalui buku atau tulisan. Allah ingin dialami oleh orang percaya, tetapi orang percaya tidak boleh percaya setelah melihat atau mengalami bukti-bukti secara fisik. Orang percaya harus percaya walau tidak melihat, seperti yang dikemukakan oleh Tuhan Yesus dalam Yohanes 20:29, “Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya, Tomas. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya.” Ini yang Tuhan inginkan. Ini mekanisme percaya. Memang ada orang yang melihat secara supranatural atau mengalami secara supranatural keberadaan Allah, baru percaya. Tetapi kita sebagai anak-anak Allah yang dewasa, jangan ikut-ikutan.
    Kita harus belajar percaya. Kapan? Ketika kita dalam keadaan terjepit. Alkitab juga menunjukkan ada orang-orang yang belajar percaya melalui keadaan-keadaan yang terjepit. Abraham bisa dikatakan sebagai bapa orang percaya setelah ia melewati tahapan-tahapan hidup. Keluar dari Ur-Kasdim, yang katanya Allah akan menunjukkan negeri yang ia akan warisi, tetapi tidak pernah Abraham melihat negeri itu secara fisik sampai dia mati. Allah menjanjikan anaknya akan banyak seperti pasir di lautan dan seperti bintang di langit. Tapi ternyata, Abraham tidak kunjung memiliki anak. Bahkan, di perjalanan dia menjumpai kenyataan-kenyataan yang pahit. Ketika ia mengalami kekeringan yang hebat, ia pergi ke Mesir. Di Mesir, istrinya nyaris diambil oleh Firaun. Abraham harus menunggu 24-25 tahun, baru memiliki anak. Ketika sudah punya anak, Allah memberi perintah untuk mempersembahkannya sebagai kurban bakaran. Abraham lakukan semua itu. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi ke depan, namun ia meyakini bukan saja Allah itu hidup dan ada, tetapi juga semua yang diperintahkan oleh-Nya itu baik adanya.
    Tuhan mengizinkan kita dalam keadaan terjepit. Ketika kita tidak melihat jalan keluar dari berbagai sumber, Tuhan bisa membawa kita dalam keadaan seperti ini. Kita dikondisikan oleh Tuhan di dalam keadaan yang begitu pahit, di dalam keadaan yang begitu krisis dan kritis. Pada saat-saat seperti itu, kita diajar untuk menaruh percaya kita kepada Tuhan. Percaya kepada Allah yang hidup bukan suatu hal yang mudah. Bangsa Israel telah melihat 10 tulah yang ditimpakan Yahweh ke atas bangsa Mesir. Tetapi ketika mereka ada di seberang laut Kolsom menghadapi keadaan yang begitu mencekam dimana Firaun dengan tentaranya datang untuk membunuh mereka, mereka ketakutan. Mereka mempersalahkan Musa. Tetapi dalam keadaan yang terjepit, Allah menyatakan kuasa-Nya. Keadaan-keadaan yang sulit yang kita alami merupakan kondisi dimana Allah mengajar kita menaruh percaya kepada-Nya, bahwa Dia bukan saja Allah yang hidup, melainkan juga Allah yang baik, penuh kasih, bertanggung jawab memelihara dan menjaga anak-anak-Nya.
    Percaya bukan berarti lalu kita tidak bertanggung jawab. Jangan berkata, “percaya Tuhan akan cukupi,” tapi kita malas. Tidak bisa. Tanggung jawab tidak boleh diabaikan. Kita harus memenuhi bagian kita. Misalnya, kalau kita bekerja di satu perusahaan, mungkin ada kata-kata kasar yang menyakitkan, jangan tersinggung. Tetap teduh, kerja keras. Mengalah, jangan banyak bicara, tunduk kepada pimpinan. Jangan sirik, cemburuan, dan jahat terhadap orang. Roh Kudus pasti akan menolong kita untuk memiliki karakter yang baik. Kita punya bagian yang harus kita penuhi, yaitu kita bekerja keras. Orang-orang muda harus memaksimalkan potensi. Jangan berkata, “percaya, Allah akan mencukupi kebutuhan kita. Hari esok Tuhan genggam,
    10 min
  • Percaya Walau Tidak Melihat
    Satu hal yang kita, sebagai makhluk ciptaan, harus sadari dan terima ialah bahwa kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Setiap saat, setiap menit, setiap detik, keadaan bisa berubah. Kita ini orang-orang yang digambarkan seperti telur di ujung tanduk. Kita berkendara mobil baik-baik, namun di belakang mobil ada truk/trailer besar yang dikendarai oleh sopir yang mengantuk, dan bisa saja menabrak kita setiap saat. Atau karena menginjak sesuatu, kita terpeleset, kepala terbentur benda keras, sehingga mengalami gegar otak. Itu juga bisa terjadi. Belum lagi banyak orang yang malam harinya tidur nyenyak,n amun besok paginya ternyata sudah menjadi mayat. Ini semua fakta empiris atau kejadian; realitas nyata yang dialami atau bisa dialami setiap orang. Dengan melihat kondisi hidup seperti ini, kita butuh perlindungan. Kita butuh naungan. Tidak ada naungan yang lebih kuat dari Allah sendiri yang menciptakan langit dan bumi. Namun masalahnya, kita harus mengenali siapa Allah yang benar itu, karena banyak allah di dalam dunia yang dipromosikan oleh pengikutnya dan tokoh-tokohnya sebagai allah yang benar. Semua agama mengklaim allahnya allah yang benar, termasuk orang Kristen mengklaim bahwa Allahnya Allah yang benar.
    Allah kita adalah Allah yang disembah juga oleh orang-orang Israel, karenanya Allah kita itu menyebut diri sebagai Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub; Allah Israel, Elohim Yahweh. Elohim Yahweh, ini Allah yang benar. Satu-satunya Allah yang benar. Allah kita tidak provokatif, tidak terang-terangan menyatakan diri secara fisik bahwa Dialah Allah yang benar. Allah yang benar membiarkan semua agama berkembang dan eksis. Bahkan kita melihat dewa-dewa yang disembah oleh suku-suku bangsa bisa menunjukkan kehadiran, keperkasaan, dan kekuatannya. Kita tidak dapat membantah itu. Jadi, tidak heran kalau banyak keyakinan yang umurnya bisa ribuan tahun, bukan ratusan tahun, dan mereka juga mendapatkan verifikasi atau pembuktian bahwa allah yang mereka sembah itu allah yang benar, berkuasa, dan bisa diandalkan menjadi sumber pertolongan.
    Bagaimana sikap kita terhadap Allah yang kita sembah yang bernama Yahweh; Elohim Yahweh atau Allah Yahweh, yang kita panggil “Bapa?” Dia adalah Allah dan Bapa dari Tuhan kita, Yesus Kristus, atau Bapa kita semua. Apakah kita juga seperti banyak orang yang berusaha untuk membuktikan bahwa Allahnya itu Allah yang benar, Allah yang berkuasa dengan mengalami secara fisik kehadiran dari Allah yang kita sembah? Tidak tertutup kemungkinan Allah yang kita sembah akan menyatakan diri dalam hidup kita secara fisik dengan kekuatan dan keperkasaan-Nya, tetapi tidak selalu begitu. Ingat ketika Tomas tidak mau percaya kepada Yesus atas kebangkitan-Nya. Dia berkata kepada murid-murid yang lain bahwa ia tidak percaya sebelum mencucukkan jarinya ke lubang bekas paku di tangan Yesus dan bekas tombak di lambung Tuhan Yesus. Yesus kemudian menampakkan diri dan memanggil Tomas. Tuhan Yesus berkata, “berbahagialah orang yang percaya, walau tidak melihat.” Pernyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa kita tidak boleh menantikan atau mengharapkan Allah menyatakan diri secara fisik terlebih dahulu, baru kita percaya. Kita harus percaya walau tidak melihat, walau tidak ada bukti tanda-tanda fisik.
    Kita percaya bahwa satu-satunya Allah yang benar adalah Allah yang bernama Yahweh; Elohim Yahweh, Allah Israel yang menyatakan diri sebagai Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Dialah Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Percaya, titik. Percaya itu tidak harus didasarkan pada bukti-bukti fisik atau lahiriah. Percaya harus didasarkan pada kesediaan mengakui bahwa Allah itu hidup, Allah itu nyata, dan sekaligus meyakini bahwa Dia baik. Tidak boleh kita meragukan-Nya. Allah yang Mahabesar, Allah yang Mahamulia patut dipercayai dengan keyakinan seperti ini. Yakin bahwa Allah itu hidup dan nyata, walaupun tidak ada dasar-dasar secara lahiriah atau fisik yang membuat kita percaya.
    10 min
  • Memercayai Pribadi-Nya
    Seberapa hebat seseorang dapat menalar Allah kalau tidak dengan rendah hati mencari wajah Tuhan untuk mengalami-Nya? Ingat, ada Alkitab yang bisa memberikan pencerahan dalam pimpinan Roh Kudus, sehingga seseorang bisa mengenal Allah dengan benar dan bisa mengimplementasikan kebenaran Alkitab dalam kehidupan riil. Jadi, kita yang tidak pernah duduk di bangku STT atau seminari, jangan merasa bahwa kita tidak akan pernah mengenal Allah dengan benar. Pengenalan akan Allah tidak dimonopoli oleh mereka yang duduk di STT atau seminari. 
    Kita harus optimis bahwa kita bisa mengenal Allah. Allah itu hidup, nyata, Mahahadir. Jadi intinya, kita bisa serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa, sehingga layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Namun, kita harus menyediakan diri untuk mengenal Allah, karena ini satu-satunya tujuan hidup kita menjadi orang percaya. Menyediakan waktu untuk mengenal Allah, tentu melalui membaca Alkitab, doa, memperhatikan setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup, karena melalui hal itu Tuhan mau berbicara. Sekarang, kita mesti sudah serius menemukan Tuhan. Hidup sebersih-bersihnya, sesuci-sucinya, mencintai Tuhan sedalam-dalamnya. Kalau kita benar-benar rindu mengalami Allah, kita pasti menemukan Dia.
    Setelah mempelajari definisi iman yang pertama—lewat pengalaman hidup—maka kita masuk dalam definisi iman yang kedua, mengenal Allah dan memercayai pribadi-Nya. Inilah yang menentukan relasi atau hubungan antara individu dengan Allah. Firman Tuhan mengatakan dalam Hosea 4:6, “umat-Ku binasa karena tidak mengenal Aku.” Bagi kita, Allah bisa kita kenali melalui Alkitab. Dalam Alkitab, kita menemukan jejak-jejak Tuhan dimana kita bisa mengenali sifat, hakikat, dan karakter-karakter-Nya. Tentu kita bisa mengerti isi Alkitab dengan pimpinan Roh Kudus dan jika kita tidak mencintai dunia (Luk. 16:11, “Jadi, jikalau kamu tidak setia dalam hal Mamon yang tidak jujur, siapakah yang akan mempercayakan kepadamu harta yang sesungguhnya?”). Kita harus dalam pimpinan Roh Kudus dan hidup dalam kesucian, maka baru pikiran kita dibukakan.
    Pengalaman langsung dengan Allah—dari pengalaman tokoh-tokoh iman—itulah yang ditulis Alkitab, dan yang menjadi dasar dan acuan iman kita. Apa yang kita bisa teladani dari tokoh-tokoh iman, kekasih-kekasih Allah, sahabat-sahabat Allah itu? Pengalaman hidup mereka. Memang kasus-kasus yang kita hadapi tidak sama, tetapi intinya pelajaran rohani yang terkandung di dalam peristiwa-peristiwa itu bisa kita serap, kita alami. Bukan di logika semata, melainkan harus dialami. Orang yang hanya belajar teori mengenai Allah dari Alkitab, dari buku-buku atau pendidikan formal, mereka itu seperti orang yang belajar bengkel atau mesin, tetapi hanya belajar di ruangan kursus dan tidak pernah praktik.
    Maka, kita harus memiliki usaha atau perjuangan yang sungguh-sungguh untuk menghadirkan Allah yang ditulis Alkitab itu; meng-update Allah dalam hidup kita. Bagaimana Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub; Allahnya Musa, Allahnya Daniel, Allah kita yang hadir dalam hidup ini. Sekarang, kita harus membangun teologi yang berbasis pada penerapan konkret kehidupan. Jangan hanya berbasis pada buku-buku yang ditulis. Sayangnya, banyak teologi yang lebih pada olah nalar, dan tidak memiliki indikasi konkret dalam kehidupan ini, yaitu indikasi untuk mengarah pada penerapannya. Ini yang membuat teologi semakin jauh dari realitas hidup. Jikalau teologi yang dipahami orang makin jauh dari realitas hidup, maka makin jauh pula kehidupan orang itu dari serupa dengan Yesus dan sempurna seperti Bapa. Tidak heran, masyarakat Kristen seperti itu akhirnya makin seperti orang tidak beragama, dan gereja menjadi kosong.
    Kita harus meminta kepada Tuhan untuk mengalami Tuhan. Allah yang hadir dalam kehidupan tokoh-tokoh iman adalah Allah yang sama yang hadir dalam hidup kita hari ini. Ia tidak berubah. Takhta pemerintahan-Nya tetap kekal selama-lamanya. Ia memerintah aktif dari dulu, sekarang,
    11 min
  • Pengalaman Hidup
    Tindakan berdasarkan iman adalah segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemuliaan Allah. Atau dengan kalimat lain, segala sesuatu yang kita lakukan untuk kemuliaan Allah adalah tindakan iman. Di luar itu, dosa. Jadi, sebenarnya tidak mudah hidup di dalam keberimanan kepada Tuhan atau hidup dalam percaya yang benar kepada Tuhan itu. Segala sesuatu yang kita lakukan harus berdasarkan iman. Apa itu iman? Yang pertama, iman itu terkait dengan pengakuan terhadap keberadaan Allah. Yang kedua, iman terkait dengan pengenalan akan Allah dan penerimaan kita terhadap pribadi-Nya. Kita harus mengenal siapa dan bagaimana Allah yang kita sembah; hakikat, sifat, dan karakter-karakter-Nya, agar kita bisa menempatkan diri benar di hadapan Allah, dan menempatkan Allah secara benar serta patut. Yang ketiga, iman atau percaya terkait dengan keselamatan dalam Yesus Kristus. Ini sangat khusus. Memercayai keberadaan Allah bahwa Allah itu ada, bukan sesuatu yang mudah. Kalau seseorang dari kecil Kristen, biasanya sudah otomatis ia merasa telah memiliki iman yang benar. Ia telah mengakui bahwa Allah itu ada.
    Kalau seseorang benar-benar percaya Allah itu ada, pasti ia tidak memiliki rasa takut, cemas, dan khawatir. Kekhawatiran adalah bahasa orang yang tidak menghormati Allah. Kalau seseorang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada, yang kedua, pasti dia hidup di dalam kesucian dan kebenaran, tidak mungkin bersikap sewenang-wenang terhadap sesama. Orang yang benar-benar memercayai bahwa Allah itu ada, pasti melayani Dia. Terakhir, kalau orang benar-benar percaya bahwa Allah ada, ia pasti percaya bahwa surga juga ada. Karenanya, orang-orang seperti ini tidak takut meninggal dunia. Dan baginya, kematian menjadi momentum yang dinantikan. Oleh sebab itu, kita hendaknya selalu ada di lingkungan orang-orang yang memercayai bahwa Allah itu ada. Kalau orang hidup di lingkungan masyarakat yang nihilistis—orang yang tidak percaya Allah ada atau menganggap Allah tidak perlu ada—maka atmosfer nihilistis dan ateisme itu bisa meracuni pikiran dan merusak keberimanan kita. 
    Kita harus melakukan langkah-langkah untuk bisa benar-benar mengalami Allah. Allah bukan hanya diyakini di dalam pikiran—yang saya sebut pengaminan akali atau persetujuan pikiran—tetapi Allah harus dialami. Jadi kalau sudah memercayai bahwa Allah itu ada di dalam nalar, lebih lagi bisa membuat penjelasan, uraian tentang Allah, ia merasa sudah meyakini bahwa Allah itu ada. Padahal, belum tentu. Pengalaman dengan Tuhan itu tidak dipandang sebagai hal yang bermutu atau berkualitas, sehingga digantikan dengan menalar Allah yang dituliskan dalam buku atau jurnal ilmiah. Bayangkan kalau lulusan STT atau seminari seperti ini, lalu berkhotbah kepada jemaat. Keberimanan yang miskin dan dangkal itu ditularkan kepada jemaat, sehingga jemaat juga menjadi orang-orang yang tidak pernah mengalami Allah, karena merasa tidak perlu mengalami Allah. Semua serba teori dan fantasi. Akhirnya, lambat laun banyak jemaat tidak lagi memercayai Allah, dan akhirnya meninggalkan agama Kristen.
    Jangan kita dibodohi oleh orang-orang yang bicaranya pintar tentang Tuhan. Jika seseorang tidak mengalami Tuhan, dia tidak akan mengubah orang. Di lingkungan para teolog itu, mereka memandang pengalaman pribadi dengan Allah sebagai suatu subjektivitas yang membahayakan iman Kristen dan tidak bisa dimasukkan dalam sistematika teologi yang disusun dalam kurikulum. Memang ada pengalaman-pengalaman pribadi yang subjektif dan tidak bisa menjadi landasan iman orang lain. Ada kesaksian-kesaksian yang dihiperbolakan, dilebih-lebihkan, betul. Tetapi jangan kemudian pengalaman pribadi jadi dianggap tidak penting. Allah itu hidup, harus dialami. 
    Belajar mengenai Allah setinggi dan sehebat apa pun, kalau tidak dialami, nol. Biasanya kelompok akademisi teologi ini memandang orang-orang yang menekankan pengalaman dengan Tuhan sebagai orang yang kurang memiliki atau tidak memiliki dasar-dasar sistematika teologi yang bai...
    9 min
  • Mengandalkan Tuhan
    Percayanya banyak orang tentang keberadaan Allah, sering kali hanyalah fantasi. Ketika seseorang diperhadapkan kepada persoalan-persoalan hidup, reaksinya dalam bertindak dan mengambil keputusan, baru tampak apakah ia benar-benar memiliki iman atau tidak; imannya asli atau palsu. Salah satu bukti dari ketidakpercayaan seseorang bahwa Allah itu ada adalah perasaan takut. Takut terhadap sesuatu yang seharusnya dia tidak perlu takut. Maka di dalam Kitab Wahyu, urutan pertama orang yang masuk neraka itu penakut. Allah besar, Allah ada, mengapa takut? Lalu mengapa kita harus khawatir dan cemas untuk sesuatu yang kita tidak perlu takutkan, khawatirkan, dan cemaskan? Ini bukan hal yang mudah. Tetapi lewat perjalanan waktu, kita mulai mengerti bagaimana mengandalkan Tuhan. Sebab, mengandalkan Tuhan itu tidak mudah, karena Tuhan tidak kelihatan. Kalau kita percaya Allah itu hidup, andalkan Dia. Kita tidak akan pernah memiliki otot-otot yang kuat, kalau tidak mengalami latihan.
    Tuhan mau bukti seberapa kita menghormati Allah dengan mengandalkan Dia dan memercayai bahwa Allah itu ada. Hal ini akan jelas ketika kita ada di ujung maut, dimana akan sangat berbeda antara orang yang sudah biasa mengalami Tuhan karena mengandalkan Dia, dengan yang tidak. Jadi sekarang kalau kita menghadapi masalah-masalah berat, ingatlah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub. Bagaimana mereka ditolong oleh Elohim Yahweh yang takhta-Nya tetap sama. Dia tidak berubah. Buktikan bahwa Allah itu ada. Jadi ketika kita takut, cemas, khawatir, sejatinya kita melecehkan kebesaran Tuhan. Memang, sering rasanya Tuhan tidak membela kita sesuai dengan skenario kita. Bahkan Tuhan sering seakan-akan tidak ada dan tidak peduli. Sejatinya, Tuhan punya jadwal dan cara yang tidak bisa kita atur. Coba bayangkan, bagaimana orang Israel di seberang Teberau. Tuhan sengaja membuat Firaun dan tentaranya memburu mereka, lalu mereka ada di pinggir laut Teberau yang kanan dan kirinya bukit. Tetapi Tuhan berkata, “Acungkan tanganmu, Musa. Ada Aku.”
    Persoalan kita tidak sama dengan persoalan tokoh-tokoh iman Perjanjian Lama, tetapi karakter Allah tidak berubah. Allah pasti akan menunjukkan sifat, karakter, hakikat-Nya; yaitu tidak pernah meninggalkan kita. Saat ini mungkin kita sedang ada dalam kondisi paling kritis. Tentu kita harus berusaha maksimal untuk menyelesaikan masalah yang ada. Namun, kita tidak perlu merasa takut. Sebab keadaan terburuk apa pun, itu baik. Inilah yang dinamakan memercayai pribadi Allah. Bukti ketidakpercayaan terhadap keberadaan Allah adalah kehidupan yang tidak benar atau tidak suci. Berbicara, berpikir, dan bertindak sembarangan. Dulu mungkin kita seperti itu, tapi sekarang jangan. Kita mau berkompetisi untuk bisa hidup sekudus-kudusnya. Supaya kalau kita ada di hadapan Allah, kita tahan berdiri. Memang, iman itu segala sesuatu yang kita lakukan yang selalu sesuai dengan kehendak Allah. Maka, baiklah mulai sekarang kita merajut hidup kita menit ke menit, agar hidup kita menjadi menarik. Jangan lakukan apa yang tidak patut.
    Orang yang bersikap sembarangan hidup terutama terhadap orang lain, mendatangkan kecelakaan bagi sesamanya; bermaksud mempermalukan, merugikan, menyakiti, pasti dia tidak percaya bahwa Allah itu ada. Sebaliknya, kalau kita berada di pihak yang disakiti, kita tidak boleh membalas. Kita harus diam, kalau kita percaya ada pemerintahan Allah yang hidup dan Ia memerintah. Jadi kalau ada ibu-ibu diperlakukan tidak adil oleh suami, pegawai-pegawai diperlakukan tidak adil oleh atasan atau mau disingkirkan oleh kolega, dikhianati oleh rekan bisnis, jangan membalasnya, sebab ada Allah yang hidup. 
    Tapi ingat, pengaturan waktu dan caranya, tergantung Allah. Hal penting lainnya adalah jangan sampai kita mengharapkan kecelakaan sesama. Seseorang yang menghayati keberadaan Allah, ketika ia menghadapi kesucian Allah, dosa sekecil apa pun yang dia lakukan jadi begitu besar. Sebaliknya, ketika ia melihat kesalahan orang,
    11 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…