Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Menyambut Yesus dalam Hidup
    Kalau kita membaca Injil Matius 19:21-23, kita menemukan orang kaya yang mau mengikut Yesus, tetapi akhirnya gagal karena tidak mau memenuhi apa yang Tuhan perintahkan; “Jual segala milikmu, bagikan kepada orang miskin. Datanglah ke mari, ikutlah Aku.” Ia tidak mengalami perubahan karena menolak apa yang diperintahkan Tuhan. Tetapi perhatikan ketika Yesus memanggil Petrus dan Yohanes, “tinggalkan jala dan perahumu.” Atau ketika Yesus berkata kepada Lewi yang kemudian bernama Matius, “ikut Aku,” dia tinggalkan meja cukainya seketika itu juga. Keberanian-keberanian seperti ini harus dibayar. Perlu dikhawatirkan jika kita sudah tidak pernah mendengar bahwa ada harga yang harus dibayar untuk percaya dan mengikut Yesus. Apalagi yang memang Kristen keturunan; dari kecil sudah Kristen, atau karena agama pasangan hidup. Tidak apa-apa kalau itu menjadi langkah pertama. Tetapi setelah itu, kita harus berhadapan dengan Tuhan secara langsung, dan menyatakan diri mengikut Yesus. 
    Kalau kita membaca kisah Zakheus di Lukas 19, sudah pasti Zakheus tahu bahwa mengikuti Yesus itu berisiko. Dan ketika Yesus berkata, “Zakheus, hari ini Aku akan menumpang di rumahmu.” Zakheus turun dari pohon ara menyambut Yesus. Harganya adalah ia berubah. Dia tidak boleh menjadi seperti Zakheus sebelumnya. Jadi, ia bukan hanya menyambut Yesus menginap di rumahnya, tetapi menyambut Yesus untuk masuk di dalam kehidupannya. Banyak orang Kristen yang menyambut Yesus dalam “rumah,” tapi tidak menyambut Yesus di dalam hidupnya. Menarik, ketika Yesus berkata, “hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang ini pun anak Abraham.” Kalau Yesus hanya datang ke rumahnya, maka tidak ada keselamatan. Kenapa disebut anak Abraham? Bukan karena dia keturunan secara darah daging sebagai orang Yahudi, melainkan karena perilakunya seperti Abraham. 
    Abraham dipanggil sebagai bapak orang percaya. Dia membayar percayanya dengan seluruh kehidupannya. Ironis, kekristenan hari ini sudah dipoles; telah berubah menjadi kekristenan yang sebenarnya tidak orisinal atau palsu, tidak murni lagi. Kristen yang sejati harus kita temukan lagi. Orang kalau bicara “kembali ke Alkitab,” maka tokoh-tokoh teologi yang dikemukakan. Dan kalau tidak seperti pandangan teologi tertentu, maka dianggap sesat. Itu benar-benar naif. Back to the Bible, berarti harus secara harfiah kembali ke Bible; Alkitab. Jadi, kita harus memeriksa diri. Jangan sampai kita merasa sudah menerima Yesus, tapi sebenarnya hanya kulit luarnya saja yang Kristen. Menyambut Yesus di rumah, ada gambar salib, pakai kalung salib atau dalam wujud nama Kristen; itu semua tidak menyelamatkan.
    Jangan sampai kita berkeadaan belum atau tidak selamat, tapi merasa selamat. Perubahan radikal dan drastis yang kita alami, yang jika itu terus berproses, menjadikan kita tidak serupa dengan dunia; benar-benar mengalami keselamatan. Ketika Saulus menjadi buta, ia melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan. Jadi perubahan yang dialami oleh Saulus yang kemudian menjadi Paulus, bukan secara supranatural atau mistik. Memang perjumpaan Paulus dengan Yesus terjadi cukup spektakuler. Yesus mendatanginya ketika sedang dalam perjalanan, sehingga ia rebah. Lalu ada teolog-teolog yang mengatakan “memang Paulus dipilih. Maka, ia dipaksa menjadi Kristen. Sedangkan Nikodemus tidak.” Jangan salah, Nikodemus itu munafik. Mengaku Yesus berasal dari Allah, namun diam-diam mendatangi-Nya tengah malam karena takut dilihat orang. 
    Kalau Paulus jelas, ia tidak mengaku Yesus dari Allah. Dia membela Yahweh karena menganggap Yesus dan pengikut-Nya sesat. Dia membela Yahweh dengan segenap hatinya. Beda dengan Nikodemus yang munafik. Maka, Tuhan menjumpai Saulus. Jadi, bukan tanpa alasan kalau Tuhan itu bertindak. Sama dengan Tuhan mengeraskan hati Firaun. Hanya orang gila yang mengeraskan hati orang tanpa alasan. Firaun memang jahat, dan Tuhan juga berkata dia tidak akan melepaskan bangsa Israel dari Mesir. Itulah penyebabnya. Jadi,
    12 min
  • Kemungkinan Berbuat Dosa
    Orang Yahudi punya tatanan; tatanan ekonomi, sosial, dan politik. Semua ada di dalam hukum mereka. Jadi, hukum Tuhan itu menyatu dengan hukum negara, karena hukum negara itulah hukum-hukum yang lahir dari Taurat, apalagi khususnya pada zaman Yesus. Maka, ada pemerintahan imam-imam yang tidak kalah dominannya dengan pemerintahan politik. Sehingga sering terjadi benturan antara pemerintahan keagamaan dengan pemerintahan kekaisaran Roma. Ada konflik yang ditimbulkan akibat sistem pemerintahan yang demikian. Bagi orang-orang Yahudi yang ultra ortodoks atau garis keras, jangan coba-coba ada restoran yang menyajikan menu daging babi, misalnya. Tempat makan tersebut bisa dibakar. Pada hari Sabat pun, tidak boleh ada orang Yahudi yang bekerja. Jadi kalau kita melihat ada orang-orang beragama yang ketat dengan agamanya, orang Yahudi “lebih gila” dari itu. Sampai orang mau naik lift saja, tidak boleh menekan tombolnya. Mereka punya hukum. 
    Bagi orang Kristen yang sejak lahir menjadi Kristen, percaya Yesus itu otomatis. Bukan merupakan suatu hal yang sulit. Andai saja tengah malam ada yang mengagetkan kita, membangunkan kita lalu menyuruh kita “percaya Yesus,” maka tidak perlu pikir panjang, bisa kita lakukan. Ini dianggap sebagai jalan yang mudah. Mereka sudah merasa telah memiliki iman atau percaya yang benar tanpa usaha, tanpa perjuangan sama sekali. Dan sejujurnya di antara kita banyak dari berbagai suku bangsa yang memang nenek moyangnya sudah beragama Kristen. Jika kita secara turun-temurun berasal dari keluarga Kristen, biasanya tidak perlu berjuang untuk percaya Yesus. Itu sudah langsung dengan sendirinya atau secara otomatis terjadi. Jika kita beragama Kristen hanya karena faktor keturunan, besar kemungkinan kita tidak mengerti apa itu percaya yang benar. Kita pikir percaya itu mudah—yaitu mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, sudah selamat—beratri kita menyamakan konsep percaya yang dilakukan dalam agama Yahudi. Syahadat saja plus hukum dan semua tatanan serta sanksi-sanksinya. 
    Aneh bukan, jika kita bisa menyatakan percaya Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat tanpa tatanan? Oleh sebab itu, pasti ada tatanan. Tapi, banyak orang tidak mengerti dan tidak mau mengerti hal ini. Banyak orang Kristen merasa telah memiliki iman atau percaya benar, tanpa usaha, tanpa perjuangan sama sekali. Mungkin sebagian kita juga begitu. Kita tidak bisa membedakan antara keyakinan terhadap status Yesus yang sebenarnya tidak menyelamatkan, dengan percaya yang benar yang memberi keselamatan. Keyakinan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, baru keyakinan terhadap status-Nya. Keyakinan atau percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat, itu baru penerimaan kita terhadap status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Memercayai status Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat belum berarti sudah memercayai pribadi-Nya. 
    Banyak orang merasa sudah percaya kepada Yesus, tetapi baru memercayai status-Nya, belum memercayai pribadi-Nya, belum memercayai diri-Nya; He, himself. Ini iman yang tidak menyelamatkan. Malangnya, banyak orang Kristen merasa sudah memiliki percaya yang benar dengan mengakui dan menerima status Yesus tersebut. Ditambah lagi dengan “percaya Yesus telah mati di kayu salib menebus dosa-dosa kita,” itu baru iman sejarah. Iman yang benar adalah kesediaan untuk bukan hanya percaya status Yesus Tuhan dan Juruselamat, bukan hanya meyakini dan menerima dan memercayai karya-karya-Nya 2000 tahun yang lalu, lahir di kota Betlehem, mati di kayu salib dan bangkit. Tetapi percaya itu melibatkan seluruh kehidupan kita, terkait dengan status Yesus dan karya keselamatan yang dikerjakan 2000 tahun yang lalu. Ketertundukan orang percaya ditunjukkan dengan kesediaan untuk sungguh-sungguh mengakui Dia Tuhan. Pengakuan itu bukan hanya di mulut. Namun pada kenyataannya, jangankan tunduk, mengenal Dia juga tidak. Jika kita merasa sudah mengenal karena membaca Alkitab atau mendengar khotbah, itu baru mengenal secara pikiran kognitif.
    8 min
  • Teologimu, Perilakumu
    Di dalam Matius 7:21-23 Tuhan berkata, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” Dengan kalimat lain Tuhan seakan berkata, “Mengapa kamu memanggil aku ‘Tuhan, Tuhan’ tapi kamu tidak melakukan kehendak Bapa?” Sebab jika kita hanya memercayai Allah itu ada, untuk apa? Allah tidak membutuhkan hanya diyakini bahwa Dia ada, Dia esa. Iman bukan hanya menyangkut keyakinan tentang keberadaan Allah, melainkan juga relasi atau hubungan antara subjek, kita yang percaya, dengan Allah, objek yang kita percayai. Roh-roh jahat juga percaya, dan mereka gemetar. Tetapi relasinya sebagai oposan; musuh. Tetapi kita submit, tunduk seperti Abraham yang disuruh apa pun, dia lakukan. 
    Jadi kalau sekarang kita menyerahkan diri kepada Yesus, artinya kita memberi hidup, kita memperagakan hidup-Nya. Maka di Alkitab dikatakan kita harus sepikiran, seperasaan dengan Dia (Flp. 2:5-7) agar kita menjadi serupa dengan Yesus (Rm. 8:28-29). Kita tidak lagi mengenakan diri kita, tapi Kristus yang hidup di dalam diri kita; hidupku bukan aku lagi, tapi Kristus yang hidup di dalam aku. Kolose 3:1-4 mengatakan kita sudah mati dan hidup kita tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Dengan demikian, pada intinya hidup kekristenan itu perjuangan untuk terus-menerus mengalami perubahan agar kita mengenakan dan memperagakan kehidupan Yesus. Jadi kita jangan tergoda, terjebak dalam perdebatan Yesus 100% Allah, 100% manusiakah? Di sejarah gereja, ini sudah didebatkan. Yang dianggap salah, dikucilkan bahkan sampai dibakar. Yang penting, kita mengenal dengan benar siapa Tuhan Yesus, karena kita harus meneladani hidup-Nya. Kita mau debatkan Dia itu Allah, sejajar dengan Allah atau tidak, tapi kalau kita tidak mengenal Yesus, siapa dan bagaimana Dia untuk kita teladani, percuma. 
    Percaya kepada Yesus berarti serupa dengan Dia. Tidak serupa dengan Yesus, berarti belum percaya. Yesus itu 100% manusia yang dalam segala hal disamakan dengan kita (Ibr. 2:17). Kalau Ia tidak dalam segala hal disamakan dengan kita, maka kita tidak bisa meneladani Dia. Maka yang penting adalah bagaimana kita bisa mengenali dan mengenakan perilaku Yesus di dalam hidup kita. Sampai kita bisa berkata, “seandainya Yesus hidup sekarang di tengah-tengah kita, Dia seperti ini.” Karena kita sudah sering melihat diri kita gagal untuk hidup di dalam ketaatan kepada Bapa, belum lagi kita dicemari dengan banyak ajaran yang membuat kita bermental blok, kita tidak berani mengatakan itu. Sekarang sebelum kita meninggal dunia, mumpung masih ada kesempatan, kita usahakan. Usaha untuk mengenakan perilaku Yesus tidak boleh dan memang tidak bisa digantikan dengan mengisi pikiran dengan ilmu teologi. Kita bukan sedang kepahitan dengan para teolog. Karena para teolog ini adalah panglima Tuhan yang berdiri di gugus depan, mengajar. Namun, kita melihat bangkrutnya kekristenan di Eropa dan di banyak negara. Padahal, yang ada di depan mereka adalah para lulusan Sekolah Tinggi Teologi, bukan orang-orang awam. Mau tidak mau, kita harus mencari kausalitasnya. Dan kenyataannya, prinsip mengenakan perilaku Yesus digantikan dengan mengisi pikiran dengan ilmu teologi. 
    Sejatinya, jika ajarannya benar, maka hal itu dibuktikan dengan perilaku yang benar. Dan perilaku yang benar itu ditunjukkan dengan tutur kata, sikap, perbuatan. Dengan sikap yang salah seperti itu, tanpa mereka sadari, mereka menyesatkan orang. Dengan mengisyaratkan bahwa dengan mengikuti ajaran mereka, berarti sudah jadi Kristen sejati. Perhatikan orang-orang seperti ini. Pertama,
    9 min
  • Saldo Dosa
    Pada umumnya atau sebagian besar manusia setiap hari atau dalam beberapa hari tertentu melihat saldo uangnya. Apalagi bagi orang-orang bisnis yang memang fokusnya adalah dagang, dimana mereka harus mengatur cash flow, maka mereka selalu memeriksa saldo uangnya. Pada umumnya begitu. Kalau saldonya tambah besar, hati lebih senang, wajah lebih ceria. Kalau saldonya rendah atau makin kurang, hati susah, kurang senang, wajah bisa kusut. Pasti jarang orang yang serius melihat saldo hidupnya bertambah atau berkurang, terkait dengan perkenanan di hadapan Bapa, nilai diri kita di mata Tuhan. Mazmur 139:23-24 mengingatkan, “Selidikilah aku ya Allah, kenalilah aku.” Artinya, “Tuhan beritahu aku berapa tabunganku?” Juga di Matius 6:19-20 Yesus mengatakan, “Kumpulkan harta di surga.” Nah, sudah berapa banyak investasi kita di hadapan Allah? Berapa besar saldo kita? Mari, mulai hari ini kita memperhatikan tabungan harta kekal kita di hadapan Allah.
    Apakah masih ada dosa di sana? Masih ada kesalahan yang kita perbuat, atau tindakan kita, keadaan kita, yang tidak membuat Tuhan nyaman? Kalau benar-benar mengasihi Tuhan, maka kita akan selalu memperhatikan saldo hidup kita; masih ada saldo dosa atau tidak? Kalau terkait dengan uang, orang mau saldonya sebesar mungkin. Tapi kalau bicara mengenai kesucian, saldo dosa kita makin berkurang, makin habis. Harus selalu dikuras habis, dan jika muncul lagi, dikuras lagi, muncul lagi, dihabisi lagi. Sehingga kita memiliki irama hidup yang benar-benar berkenan di hadapan Allah. Jangan anggap ini sesuatu yang mudah. Ini bukan sesuatu yang mudah. Ini lebih sukar dari karier, mencari nafkah, atau studi. Jangan anggap remeh dan tidak didahulukan. 
    Karenanya, di Matius 6:33 firman Tuhan mengatakan, “Carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya.” Kita punya banyak masalah dan kebutuhan. Tetapi lebih dari semua masalah yang dihadapi, dan kebutuhan yang kita rasa mendesak, kebutuhan kita yang selalu mendesak adalah selalu menghabisi saldo dosa yang masih tersisa di dalam hidup kita. Makanya betapa berartinya saat-saat kita berdoa bersama atau doa pribadi masing-masing di mana kita mengoreksi diri. Hal ini akan membawa kita kepada satu pengalaman, yaitu menjadikan Tuhan sebagai kebahagiaan. Kalau kita menyisakan saldo dosa, kebiasaan buruk atau kesenangan—sesuatu yang kita anggap bisa menyenangkan dan membahagiakan—berarti kita ada dalam bahaya. Kita tidak mau meleset lagi. Kita benar-benar rindu agar memiliki harta di surga yang banyak. Kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. 
    Tuhan Yesus berkata, “Jangan bekerja untuk roti yang dapat binasa, tapi bekerjalah untuk roti yang tak dapat binasa.” Apa itu roti yang tak dapat binasa? Yaitu karakter kesempurnaan kita di hadapan Allah. Dan sejujurnya, karena kita sudah merekam banyak keinginan yang dulu kita nikmati di dalam daging dan jiwa, maka hal itu sering menuntut muncul di dalam pikiran kita, menuntut untuk dipuaskan. Selera kita sudah rusak selama belasan bahkan puluhan tahun, sehingga kita tidak sungguh-sungguh haus dan lapar akan Tuhan sebagai satu-satunya kebahagiaan. Maka bagi yang masih muda, jangan membangun kebahagiaan dengan apa pun dan siapa pun. Tetapi bangun kebahagiaanmu hanya di dalam Tuhan. Jangan melakukan sesuatu yang salah, yang kau pandang akan membahagiakan, menyenangkan hatimu, sebab itu malah membuat engkau merekam banyak hal yang tidak patut dan membangun menciptakan selera jiwa yang salah. 
    Dan sebagai orang-orang yang sudah berumur, kita harus benar-benar kerja keras untuk menguras saldo dosa, saldo kesalahan dan kebiasaan yang Tuhan tidak kehendaki dan saldo percintaan dunia yang masih bersisa karena melekat di dalam diri kita. Perjuangan kita menjadi lebih berat dibanding dengan orang muda yang belum dicemari oleh banyak hal. Untuk itu, mari kita mempersempit dunia kita. Tidak melakukan apa yang tidak perlu—studi, karier, bekerja,
    9 min
  • Bukan sebagai Jerat
    Kepedulian terhadap dunia ini akan membuat seseorang terhanyut, sehingga tidak lagi memedulikan hal-hal rohani atau perkara-perkara yang di atas. Kita harus memilih, kepada apa atau siapa hidup kita diarahkan. Kita harus memilih, apakah sungguh-sungguh 100% mempersiapkan diri untuk kehidupan yang akan datang, atau mengurangi? Tidak boleh dan tidak bisa kurang dari 100%. Kita harus memilih. Dulu kita kurang berani tegas seperti itu. Kenapa tidak tegas? Kita sendiri juga takut, mau hidup model apa kalau menuruti yang disampaikan ini? 
    Firman Tuhan mengatakan, “supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Maksudnya apa? ‘Hari Tuhan’ memang bisa berbicara mengenai kedatangan Tuhan Yesus kedua kali: akhir zaman. Tapi, ‘hari Tuhan’ juga bisa merupakan penjemputan Tuhan kepada seseorang, apakah dia pulang ke surga atau dibuang ke neraka. Hari Tuhan adalah hari akhir kehidupan atau akhir sebuah masa. Tapi di konteks ini hari Tuhan itu menunjukkan hari Tuhan datang kembali, atau orang itu meninggal. Akhir kehidupan; bisa kehidupan dunia ini, berarti kiamatnya dunia, tapi juga akhir kehidupan individu. Berarti tamatnya, kiamatnya hidup seseorang. 
    “Supaya hari Tuhan jangan tiba-tiba jatuh ke atas dirimu seperti suatu jerat.” Mengapa hal itu bisa terjadi, “Seperti suatu jerat?” Kalau seseorang tidak mempersiapkan diri menghadapi atau menyongsong kedatangan Tuhan, atau tidak mempersiapkan diri menghadapi hari kematiannya, maka hari Tuhan itu menjadi seperti suatu jerat. Seperti lima gadis bodoh tidak mempersiapkan minyak untuk pelitanya, sehingga ketika mempelai datang, ia tidak bisa menyambut sebab pelitanya mati. Karena pelitanya mati, dia harus pergi mencari minyak untuk pelitanya. Akhirnya, ia tidak mendapat kesempatan masuk ke dalam pesta perjamuan. Kasihan. 
    Dalam teks aslinya, kata “jerat” itu tidak ada. Kata “jerat” itu sebenarnya aiphnidios (αἰφνίδιος), yang artinya unexpected, unaware, atau suddenly. Hal ini menunjuk bahwa hari Tuhan tersebut tidak diharapkan; unexpected, unaware. Tidak diharapkan, kemudian tiba-tiba datang, tidak diharapkan; suddenly. Ini pasti orang yang tidak berjaga-jaga. Lalu bagaimana supaya hari Tuhan jangan menjadi jerat? Baik hari Tuhan dalam arti kiamat dunia, atau kiamat masing-masing, kiamat individu. Bagaimana supaya tidak menjadi jerat? Nantikan hari kedatangan itu. Bukan unexpected, tapi expected. Kita mau expect; berharap. 
    Hari Tuhan tidak menjadi suatu jerat bagi seseorang, kalau ia menantikan dan merindukan hari itu. Sehingga, hari Tuhan bukan sesuatu yang tidak diharapkan, tetapi justru diharapkan. Bagi orang yang mengharapkan hari Tuhan, pasti ia menanti-nantikan dan tidak terkejut menghadapi hari itu, bahkan dia sukacita. Makanya, kita harus menjaga diri dari pesta pora, kesenangan-kesenangan dunia, kemabukan; keracunan, dan kepedulian terhadap hidup. Merimnais biotikais; anxiety of this life atau of this world, itu harus kita lakukan sejak dini, sampai kita benar-benar mengharapkan hari kematian kita. 
    Mana ada orang yang senang mati? Hampir tidak ada. Tapi kita justru harus senang menyambut kematian, walaupun tidak mau buru-buru mati. Karena, pekerjaan Tuhan masih harus kita emban, dan tunaikan. Kita memburu, bagaimana bisa menjadikan hari kematian kita bukan sebagai suatu jerat. Kita nantikan hari itu. Kalau mau jujur, orang yang takut mati itu belum beres hidupnya. Belum memenuhi standar. Kalau umur sudah lanjut tapi masih takut mati atau tidak ingin mati, kenapa? Ada kenyamanan, kenikmatan yang masih dinikmati di dunia. Sering orang tidak bisa membedakan antara melakukan sesuatu untuk Tuhan demi tugas, atau demi kesenangannya sendiri. 
    Dunia bukan rumah kita. Kita harus kerja keras, studi, harus maksimalkan diri untuk Kerajaan Allah. Supaya hari Tuhan jangan datang menjadi suatu jerat. Yang kita khawatirkan, atau takutkan itu orang-orang sekitar kita belum selamat. Segala sesuatu bisa terjadi.
    9 min
  • Gagal Memahami
    Kebenaran yang paling prinsip dalam hidup kekristenan adalah bahwa keselamatan ditentukan oleh percaya kepada Tuhan Yesus, atau diperoleh karena percaya kepada Tuhan Yesus. Percaya; hal yang sangat dan bisa dikatakan paling prinsip dalam hidup kekristenan, sebab hanya dengan percaya kepada Tuhan Yesus, seseorang dapat diselamatkan. Penyesatan yang diusahakan dan dilakukan oleh kuasa kegelapan untuk menggagalkan keselamatan agar tidak dialami dan tidak dimiliki oleh seseorang adalah mengajarkan percaya yang tidak tepat. Supaya orang tidak memiliki keselamatan, maka pengertian mengenai percaya itu, disesatkan. Namun pada kenyataannya, sebenarnya banyak orang Kristen yang belum mengalami dan belum memiliki keselamatan karena mereka belum percaya kepada Yesus secara benar. Ini bukan sesuatu yang bersifat hiperbola atau bluffing. Tetapi malangnya, mereka merasa sudah percaya kepada Yesus secara benar, sudah menjadi anak-anak Allah, dan telah memiliki keselamatan. 
    Kita harus mengerti bahwa kuasa kegelapan tidak mungkin berhenti bermanuver. Di surga saja, oknum ini dengan malaikat-malaikat yang dihasutnya bermanuver untuk memberontak melawan Allah, Pemilik surga dan jagat raya. Tentu di bumi ia juga akan terus bermanuver, bergerak untuk menyesatkan banyak orang. Dan oknum ini adalah penipu. Ia terus berusaha menipu. Banyak orang Kristen yang tertipu sehingga mereka melakukan kesalahan ini; merasa sudah percaya padahal belum percaya, merasa dan mengaku anak-anak Allah, padahal belum memiliki keselamatan. Kesalahan ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang Kristen awam, melainkan juga oleh aktivis gereja, majelis gereja, bahkan teolog-teolog Kristen, yang di antara mereka tidak sedikit menjadi pendeta. Dan inilah, hasil dari pekerjaan kuasa kegelapan yang cerdik. 
    Oleh sebab itu, sangat penting kita mengerti dengan benar apa dan bagaimana percaya yang benar, yang dimaksudkan Alkitab atau yang dikehendaki oleh Tuhan. Pernahkah kita berpikir kalau suatu hari bertemu dengan Tuhan, kita berkata, “Tuhan, aku percaya pada-Mu. Tuhan, aku percaya pada-Mu.” Lalu Tuhan menjawab, “Aku tidak merasa kalau kamu sudah percaya pada-Ku.” Apakah percaya kita benar atau tidak harus dinilai dari apa yang Tuhan rasa, dari perspektif Tuhan, bukan dari perspektif kita. Makanya kita harus kembali ke Alkitab. Jangan terkecoh oleh pandangan para teolog-teolog yang di antaranya hanya asumsi. Karena pada kenyataannya, kita dapati tidak sedikit teolog yang memang hanya sekolah, memiliki banyak referensi buku, lalu merumuskan doktrin atau pengajaran yang implikasi konkret dalam hidup manusia atau orang percayanya tidak jelas. Setiap ajaran yang benar, doktrin yang benar, pasti menuntut orang untuk melakukan atau memperagakannya. Jadi bukan hanya sekadar rumusan yang dinalar dan diakui benar. 
    Membicarakan hal percaya seakan-akan kita baru mulai menjadi orang Kristen. Tetapi ini yang harus kita lakukan, berhubung dengan kesalahan yang telah terjadi selama berabad-abad. Sebagai buktinya, kita melihat di dalam sejarah gereja, gereja diwarnai dengan perdebatan-perdebatan teologi, kutuk-mengutuk, kucil-mengucilkan, bahkan memberikan hukuman bakar bagi yang dianggap salah; hukuman mati. Dalam sejarah gereja juga terjadi bunuh-membunuh antara orang Kristen. Ini pasti tidak diajarkan Tuhan; itu yang setan ajarkan. Kalau orang Kristen memiliki percaya yang benar, tidak mungkin melakukan hal yang menyakiti sesama. Ini kebodohan yang berabad-abad telah mencengkeram banyak orang Kristen. Kebodohan ini merupakan cara kuasa kegelapan untuk mengurung atau membelenggu orang Kristen dalam penjaranya, sehingga mereka tidak pernah dientaskan sebagai anak-anak Allah atau menjadi mempelai yang layak bagi Kristus. Tentu mereka juga tidak layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah. Kalimat “sempurna seperti Bapa, kudus seperti Allah, serupa dengan Yesus,” makin jauh dan makin dianggap mustahil. Padahal, itu prinsip Kristen yang paling mendasar.
    12 min
  • Sembarangan Hidup
    Orang yang tidak memahami pertanggungan jawab dan tidak memahami adanya pengadilan Tuhan adalah orang yang sembarangan hidup. Mereka berpikir hidup ini gratis. Kita, orang percaya, dipanggil untuk mengenal Juruselamat yang benar, mengenal Allah satu-satunya yang benar yaitu Yahweh Elohim atau Allah Yahweh. Kita mendapat tuntutan yang lebih tinggi dari siapa pun, sebab kepada kita Tuhan berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa.” Maka, kita harus memiliki pikiran dan perasaan Kristus. Nanti di pengadilan-Nya, Bapa akan mengukur kita dengan ukuran ini, apakah kita sudah menjadi serupa dengan Putra-Nya atau belum. Bukan sekadar baik; sudah menolong orang, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzina, melainkan harus sempurna. Maka terus terang, ini genting. Kita tidak tahu kapan waktu kita selesai. Di pengadilan itu, kita harus memberi pertanggungan jawab, padahal kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Seorang bayi yang baru lahir pun, sejatinya sudah mendapat eksekusi hukuman mati. Kapan pelaksanaan eksekusinya? Tidak tahu. Maka, ada bayi umur 8 hari meninggal, ada yang 3 bulan, ada anak umur 6 tahun meninggal, ada yang sampai usia 30, dan sebagainya. 
    Kita telah menghabiskan tahun-tahun umur hidup kita dengan hidup suka-suka kita sendiri. Berapa banyak waktu yang sudah kita berikan kepada-Nya? Jangan kaget jika nanti Tuhan berkata, “Berapa banyak kesempatan yang kamu peroleh? Mengapa begini saja modelnya?” Apalagi kalau kita tidak serupa dengan Yesus; malah serupa dengan dunia. Padahal yang Allah kehendaki adalah perubahan; agar kita serupa dengan Tuhan, bukan serupa dengan dunia. “Berubahlah oleh pembaruan budimu, supaya kamu tidak serupa dengan dunia.” Maka, kita belajar. Jangan memperhitungkan apa kata orang. Lebih baik kita jadi hewan yang hidup tanpa pertanggungan jawab daripada jadi manusia tapi hidup suka-suka sendiri. Manusia lain hidup suka-suka sendiri, tapi kalau kita, suka-suka Tuhan. Jangan anggap sepele hal ini. Inilah inti Kristen yang sebenarnya. Bukan sekadar ke gereja, nyanyi, liturgi. Itu agamani. Sedangkan, kekristenan itu jalan hidup; jalan-Nya Allah, pikiran perasaan Allah. 
    Hukum kita adalah Tuhan sendiri. Kalau hukum kita Tuhan sendiri, kita harus punya pikiran dan perasaan-Nya supaya kita bisa berbuat segala sesuatu selalu sesuai dengan pikiran dan perasaan Allah. Inilah perubahan yang terus kita lakukan secara teknis. Dari soal menjaga mulut, pikiran, mata, dan perilaku, sampai kodrat kita diubahkan. Itu pekerjaan Roh Kudus yang luar biasa. Makanya, orang tidak boleh terikat dunia lagi. Namun jangan kita berpikir kalau tidak terikat dunia, lalu jadi miskin. Kita harus hidup bertanggung jawab dalam mencari nafkah. Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita. Hanya satu yang kita perlukan, yaitu Tuhan. Apakah ini artinya kita tidak boleh menikah? Kalaupun kita menikah, itu karena Tuhan menghendaki kita menikah. Kalaupun cari uang—tentu memang mesti mencari uang—itu semua kita lakukan karena Tuhan. Kalaupun memiliki dan segala fasilitas, itu juga karena Tuhan. 
    Jangan sampai kita kehilangan kesempatan. Mengerikan. Kita sudah terkontaminasi, terpapar cara berpikir dan prinsip-prinsip hidup yang salah, yang kalimatnya adalah “hidup ini gratis.” Dia tidak sadar siapa yang menciptakan dia. Dia tidak tahu untuk apa dia diciptakan. Makanya kita belajar apa alasan kita hidup. Kehidupan ini adalah milik Tuhan, bukan milik kita. Tapi Tuhan memercayakan kehidupan itu kepada kita. Di dalam kehidupan yang Tuhan percayakan, ada hak dan kewajiban. Hak itu anugerah, tapi kewajiban juga anugerah, kita jalani. Jadi Tuhan memberikan kehidupan kepada kita untuk kita jalani, tentu di dalam tatanan. Makanya kita belajar Alkitab. Bagi umat Perjanjian Baru, Alkitab itu tidak mengajari hukum “dilarang begini, dilarang begitu; boleh begini, boleh begitu; ini halal, ini haram,” tidak. Yang diajarkan adalah pengertian-pengertian. Makanya orang tidak bisa mendengar khotbah hanya sekali. 
    8 min
  • Takut Berpisah
    Kita harus memiliki perasaan krisis melihat dunia yang menuju kegelapan. Sebab, api kekal dan keterpisahan dari Allah sangat mengerikan. Dan itulah yang harus paling kita takuti. Seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus dalam Matius 10:28, “Jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa atau membunuh tubuh dan membuangnya ke dalam neraka.” Kita harus memiliki perasaan takut terhadap realitas ini. Jangan ada yang kita takuti lebih dari ini. Sebab, kalau kita takut terhadap sesuatu yang lebih dari terpisah dari Allah, lebih dari terbuang ke neraka, pasti kita tidak setia kepada Allah. Tidak mungkin kita menghormati Allah secara patut. Tidak mungkin kita mengasihi Allah lebih dari mengasihi segala sesuatu. Apa yang paling kita takuti dalam hidup memberikan peran besar terhadap sikap kita kepada Allah. Jadi kalau Tuhan mengatakan di Matius 6:25, “jangan takut,” sebenarnya di balik pernyataan “jangan takut” tersebut, Tuhan Yesus mengatakan takutlah akan satu Pribadi yang patut kamu takuti. Jangan khawatir atas apa pun, tapi khawatirlah terhadap kenyataan keadaan kalau sampai kita terpisah dari hadirat Allah.
    Ironis, kenyataan yang kita jumpai di dalam kehidupan ini, banyak orang lebih takut terhadap sesuatu atau seseorang daripada kepada Tuhan. Dulu, sering kali kita khawatir kalau tidak punya uang, takut kalau nama baik dirusak, takut kalau kedudukan digeser, takut kalau ada apa-apa, dan sebagainya. Inilah yang kemudian membuat kita menjadi tidak setia kepada Tuhan, tanpa kita sadari. Kita merasa bahwa tidak masalah—namanya juga manusia—wajarlah jika kita memiliki perasaan takut dan gentar terhadap sesuatu. Tetapi kalau ditinjau dari kebenaran Firman Tuhan, tidak boleh. Masalahnya banyak orang yang tidak takut akan Allah karena Allah tidak kelihatan, sedangkan masalah-masalah hidup ada di depan mata. Sejatinya, yang kita harus takuti adalah kalau kita terpisah dari hadirat Allah. Orang yang takut akan Allah itu otomatis pasti takut berpisah dari Dia. Kalau seseorang mengasihi Allah, dia tidak ingin terpisah dari Allah.
    Suasana dunia hari ini—suasana dunia dari manusia yang tidak takut akan Allah, tidak takut terpisah dari hadirat Allah—memengaruhi kita. Dalam kapasitas yang besar, menyangkut hal-hal besar, sampai menyangkut hal-hal sederhana atau hal-hal kecil dalam kehidupan. Neraka sudah jarang disebut-sebut sekarang. Di kalangan orang beragama saja, menyebut “neraka” rasanya sudah mulai asing. Orang-orang Kristen jarang juga menyebut hal neraka, karena mereka percaya nanti kalau mati masuk surga, sebab sudah meyakini Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Padahal, keyakinan atau pengaminan akali seperti itu belum menyelamatkan. Ini termasuk tipuan dari kuasa kegelapan. Jadi, kepercayaan kepada Yesus hanya dirumuskan dengan kata dan kalimat, sehingga kepercayaan itu hanya fantasi, hanya di atas kertas, dan tidak ada implikasi konkretnya. Inilah yang membunuh iman orang-orang Kristen. Kekristenan hanya di atas kertas, menjadi liturgi, dan menjadi teologi atau ilmu. Kekristenan hanya menjadi fantasi. Jika kekristenan bangkrut dan moral manusia menjadi rusak, banyak orang tidak peduli masuk neraka atau tidak.
    Oleh sebab itu, mari kita membangun perasaan takut dan gentar terhadap realitas terpisah dari hadirat Allah, karena ini adalah sebuah keniscayaan. Jangan berkata “nanti saja,” lalu kita menundanya. Penundaan untuk bertobat dan membenahi diri bisa menjadi sikap membatalkan. Ini mengerikan. Harus sedini mungkin kita merenungkan realitas kekekalan api kekal, realitas terpisah dari hadirat Allah. Jangan sampai ketika Tuhan berkata, “Aku tidak kenal kamu,” yang ditulis di Matius 7:21-23, baru kita berpikir. Ini bukan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Jangan main-main. Makanya, mulai sekarang kita harus serius memikirkan hal ini. Ini masalah terbesar dalam hidup kita. 
    Tuhan Yesus berfirman, “Apa gunanya orang beroleh segenap dunia, kalau jiwanya binasa?
    11 min
  • Media Pembuktian
    Bagaimana seseorang bisa membuktikan kesuciannya kepada Tuhan; bagaimana seseorang bisa membuktikan kesetiaannya kepada Tuhan? Melalui persoalan hidup. Jadi kalau seseorang mau mencari perkenanan Tuhan lalu pergi ke tengah hutan, semedi atau bertapa, sejatinya dia tidak menggunakan media yang ada untuk betul-betul menjadi anak kesukaan Allah, menjadi seorang yang berkenan kepada Allah, seorang yang terbukti mencintai Tuhan dan menghormati Dia. Sebab, medianya adalah masalah. 
    Kita diberi oleh Tuhan persoalan-persoalan berat, kesempatan-kesempatan berbuat dosa, kesempatan-kesempatan untuk membalas dendam, yang ternyata semua itu adalah media untuk kita membuktikan kesetiaan kita, cinta kita kepada Tuhan, dan kesucian hidup kita. Jadi kalau kita harus menghadapi masalah-masalah hari ini, puji Tuhan. Karena masalah itu sebenarnya menjadi media kita untuk membuktikan bahwa kita ini mengasihi Dia. Jadi, kita bersyukur kalau Tuhan membawa kita kepada situasi-situasi yang kadang-kadang membuat kita merasa berat hidup. Tapi di situlah Tuhan mau kita menggunakan media tersebut untuk membuktikan kita mengasihi Dia.
    Bagaimana kesetiaan bisa teruji kalau tidak ada godaan? Maka, harus ada godaan dulu. Ketika kita diperhadapkan kepada banyak pilihan, kita bisa berkata, “aku memilih-Mu, Tuhan.” Bagaimana kita bisa membuktikan kalau kita itu mencintai Tuhan? Ketika banyak opsi yang bisa dipilih. Di situ kita menjadi manusia surgawi yang benar. Ketika kita menghadapi berbagai pergumulan dan persoalan, itu adalah media. Media dimana kita menunjukkan, membuktikan, sekaligus berlatih untuk meningkat ke level yang lebih tinggi. Menunjukkan cinta kasih kita kepada Tuhan; hormat, pengabdian, dan kesucian kita di hadapan Tuhan. Jadi kalau kita mau suci dengan cara tidak pernah keluar kamar, itu tidak tepat. Kita harus hidup di tengah-tengah masyarakat dengan segala persoalannya. Karena, justru persoalan-persoalan itu menjadi media kita untuk membuktikan cinta kita kepada Tuhan.
    Di sini kita harus memilih. Kita tidak bisa berkata, “ya, mengalir saja.” Memilih Tuhan atau tidak; memilih Kerajaan Surga atau dunia ini. Kalau kita memperhatikan kehidupan yang berjalan, dalam hati kita bertanya, “Sampai kapan semua ini berlangsung?” Semua pasti akan berakhir. Lalu coba kita berpikir, berapa banyak orang yang menyadari bahwa rumah mereka itu hanya dihuni sesaat? Berapa banyak mereka yang menyadari bahwa suatu hari semua ini akan berakhir. Dan kalau berakhir, apakah mereka siap menghadap takhta pengadilan Tuhan? Makanya, kalau di antara mereka ada anak kita, pasangan kita, saudara kita, kerabat kita, kita harus merebut mereka dari dunia ini. Dengan kebenaran firman, dengan lawatan Tuhan dalam doa bersama, dan dengan keteladanan, kita rebut mereka untuk Kerajaan Surga. Maka, jangan hidup dengan kebiasaan hidup seperti manusia pada umumnya. Dunia ini pasti berakhir, dan kita pasti menghadap takhta pengadilan Allah. Sudahkah kita memilih Tuhan? Sudahkah kita meninggalkan gemerlap dunia? Kalau belum, ini sangat berbahaya. Dunia bisa setiap saat berubah. Belum lagi kalau kita dengar kemungkinan-kemungkinan terjadinya bencana alam; tsunami, gempabum, dan sebagainya. 
    Masing-masing kita harus bertanya, “Apa yang harus saya lakukan di sisa umur hidup saya ini, sebelum saya meninggal dunia dan menghadap Allah?” Jangan sampai ada yang belum kita kerjakan. Dengan demikian, kita mempersiapkan diri sungguh-sungguh untuk Kerajaan Surga; untuk kekekalan. Maka, jangan tenggelam dengan banyak masalah. Walau kita punya banyak masalah, tapi jangan sampai kita gagal fokus untuk kekekalan. Kita harus takut akan Allah. Kalau orang tidak takut akan Allah, itu karena dia tidak pernah berurusan dengan Allah. Kalau kita berurusan dengan Allah, kita pasti memiliki perasaan takut akan Allah; takut karena mengasihi Dia, takut dengan hormat kepada Allah. Allah yang punya kuasa, kerajaan, dan kemuliaan. Tetapi kalau seseorang tidak memeriksa diri dengan saksama,
    8 min
  • Masalah Hari Ini
    Satu hal yang pasti akan kita alami adalah suatu hari nanti kita akan menghadap Tuhan. Ini adalah hal yang tidak mungkin tidak terjadi. Pernahkah kita sungguh-sungguh membayangkan jika kita bertemu dengan Tuhan, bagaimana keadaan waktu itu? Bagaimana perasaan kita? Jangan kita berkata “itu urusan nanti.” Ini adalah cara pandang yang salah; pemikiran yang benar-benar sesat. Bagaimana keadaan kita di hadapan Tuhan nanti—bagaimana surga neraka atau kekekalan kita—adalah masalah hari ini. Justru bukan lagi masalah nanti. Jika kenyataan berhadapan dengan Allah terjadi, maka keadaan tersebut ditentukan oleh sikap kita hari ini, langkah kita hari ini. 
    Sebagai orangtua, tentu kita tahu apa artinya mempersiapkan hari esok anak-anak kita. Orangtua sudah memiliki jangkauan yang panjang. Maka, kita dorong mereka untuk sekolah, kuliah, ikut kursus; kita dorong mereka untuk belajar mencari nafkah, yang semua itu untuk kehidupan nanti. Tetapi anak-anak yang keras kepala biasanya berkata: “itu urusan nanti, Ma. Itu urusan nanti, Pa.” Anak-anak seperti itu tidak mengerti bahwa untuk menjadi manusia yang berkualitas baik, harus dimulai sedini mungkin. Tidak sedikit anak-anak seperti itu. Yang nantinya setelah dewasa, baru mengerti bahwa kehidupan yang sembarangan di masa muda menghasilkan atau membuahkan malapetaka. Baru mereka sadar ketika melihat realitas. Tetapi, sering kali itu sudah terlambat.
    Begitu pula dengan kekekalan. Surga neraka bukan masalah nanti, melainkan masalah hari ini. Jadi kalau hari ini seseorang tidak mempersoalkan surga dan neraka, dapat dipastikan neraka menjadi tempat abadinya. Sebab, seseorang yang tidak mempersiapkan nasib kekalnya, pasti akan sembarangan hidup. Orang yang berusaha baik saja, belum tentu jadi baik. Apalagi yang tidak berusaha, yang dibawa oleh lingkungannya ke arah hidup yang tidak jelas. 
    Dunia ini semakin jahat. Roh Kudus akan membuka mata pengertian kita untuk bisa memahami, bisa mengerti keadaan kita yang sebenarnya. Pasti Roh Kudus akan berbicara dan menuntun kita. Jadi, kalau kita masih memiliki kesalahan, dosa yang kita pelihara, dan kita tidak melepaskannya, bahaya sekali. Tuhan tidak ingin ada kebencian, dendam, sakit hati di dalam batin kita. Tuhan mau hati kita bersih. Ini yang Allah kehendaki. Seharusnya sebelum kita menghadap Allah, kita sudah benar-benar menyelesaikan dengan diri sendiri. Artinya, membunuh semua nafsu-nafsu rendah di dalam daging kita. Ambisi-ambisi pribadi kita harus disalibkan; dimatikan. Hanya orang-orang yang telah menyalibkan dagingnya inilah yang akan dapat menghadap Tuhan dengan keberanian.
    Firman Tuhan mengatakan di dalam Galatia 5:24-25, “barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, dia sudah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsunya,” dan itu satu hal yang harus dilakukan. Itulah yang dimaksud oleh Paulus dalam Roma 8:12-14 bahwa kita adalah orang-orang yang berutang. Berutang bukan untuk hidup menurut daging, melainkan hidup menurut Roh. Masalahnya, kita ini orang-orang yang sudah terbiasa hidup untuk memuaskan keinginan daging, keinginan jiwa, atau ambisi-ambisi kita. Bagaimana kita bisa lolos dari keadaan ini? Jangan tercengkerami oleh cara berpikir, gaya hidup yang salah seperti itu. Harus betul-betul membersihkan diri dari semua dosa, sekecil apa pun dosa itu. Melepaskan diri dari keterikatan, sekecil apa pun keterikatan tersebut. Sebab Tuhan menghendaki ketika kita menghadap-Nya, Ia menemukan kita bersih di hadapan Tuhan. 
    Oleh sebab itu, setiap hari kita harus menyediakan waktu menghadap Tuhan. Harus, setiap hari. Kita menyembah, kita memeriksa diri, minta Roh Kudus membuka pikiran kita untuk mengerti keadaan kita. Biasanya kalau kita merasa diri kita sudah baik, kita lantas berpuas diri. Kita tidak mempersoalkan apa pandangan Tuhan dan penilaian Tuhan terhadap diri kita. Ini jarang orang persoalkan. Jujur saja, banyak orang lebih mempersoalkan apa penilaian manusia lain terhadap dirinya daripada penilaian Tuhan.
    10 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…