Truth Daily Enlightenment

Truth Daily Enlightenment

Download on the App Store

Truth Daily Enlightenment episodes

  • Respons yang Memadai
    Unsur keempat dalam keselamatan adalah respons individu. Ini penting sekali. Keselamatan dapat dimiliki atau terwujud dalam hidup seseorang, bukan sepihak tindakan Tuhan melainkan menuntut respons individu yang memadai. “Yang memadai.” Ini kalimat sering tidak diikutsertakan, lalu orang suka-suka, membuat harga sendiri. Ini masalahnya. Karena keselamatan adalah proses dimana seseorang dikembalikan ke rancangan Allah semula, yaitu lewat proses bertahap, maka kita harus memberi diri menerima penggarapan Allah yang memadai. Ibrani 12:2 bicara mengenai iman yang sempurna, bahwa Tuhan menghendaki kita bertumbuh memiliki iman yang sempurna. Ayat 5-9 bicara mengenai Bapa yang mendidik. Kalau orangtua di dunia mendidik anak-anaknya dalam waktu yang pendek berdasarkan apa yang dipandang baik oleh orangtua, Bapa di surga mendidik kita supaya kita hidup dan mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Dan “memadai” di situ harus dalam standar Tuhan, bukan suka-suka kita. Ironis, banyak orang Kristen berpikir “ya sudah, selamat karena percaya.” Percaya yang dia bangun sendiri menurut versinya. Dulu semua kita begitu, tapi kita tidak mau salah lagi. 
    Jadi, dalam keselamatan ada perjuangan yang melibatkan seluruh hidup. Kalau tidak seluruh hidup, kita tidak bisa selamat. Tidak bisa dikembalikan ke rancangan semula, atau menerima didikan Bapa untuk mengambil bagian dalam kekudusan-Nya. Maka, orang yang mau selamat harus mempertaruhkan segenap hidupnya. Yesus menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; menebus kita, untuk dibawa kepada Bapa. Kita tidak punya lagi apa-apa kecuali memberi diri untuk diubah. Ketika Yesus ditanya, “Sedikit sajakah orang yang selamat, Tuhan?” Tuhan menjawab, “Sedikit. Maka berjuanglah kamu, jangan hanya ingin. Berjuang.” Yaitu melalui perjuangan yang melibatkan seluruh kehidupan dimana orang yang mau menerima keselamatan, harus mempertaruhkan segenap hidupnya demi keselamatan itu. Dulu kita merasa sudah berjuang dalam pelayanan; korbankan uang, tenaga, pikiran. Tetapi kita tidak kunjung sempurna, sebab ternyata kita belum mempertaruhkan segenap hidup. Masih ada yang kita tahan. 
    Kita tidak bisa mengalami dan memiliki keselamatan kalau pertaruhannya hanya sebagian hidup. Ini harga aslinya. Barangsiapa tidak rela kehilangan nyawa, tidak punya nyawa. Tapi orang yang kehilangan nyawa, memperoleh nyawa. Yang melepaskan segala sesuatu, bisa diubah jadi murid. Tidak melepaskan segala sesuatu, tidak bisa. Kita bisa memahami kata “percaya” dengan benar kalau prinsip-prinsip keselamatan ini kita pahami. Bahwa “percaya” punya tiga dimensi. Pertama, terkait dengan pengakuan Allah itu ada. Kedua, terkait dengan pengenalan akan Allah. Dan yang ketiga, terkait dengan keselamatan. Harus ditegaskan bahwa percaya kepada Tuhan itu bukan hanya menyangkut aktivitas pikiran. Jelas, kita harus percaya Allah itu ada, jelas. Kita jelas harus memahami siapa Allah Bapa itu. Lalu yang kedua, baru kita harus mengenal siapa Yesus. Percaya itu bukan sekadar keyakinan yang terkait dengan Allah dan tindakan-tindakan yang kita yakini. Percaya adalah tindakan atau perilaku perbuatan kita, yang melibatkan seluruh hidup kita di dalam mengisi percaya kita. Jadi bukan hanya percaya Allah begini, begitu. Percaya itu juga tindakan atau perilaku kita untuk mewujudkan percaya kita. 
    Etimologi dari kata “percaya” dalam bahasa Yunani pisteuo, artinya menyerahkan diri kepada objek yang dipercayai. Dan kalau objek itu Tuhan, kita menyerahkan diri kepada Tuhan Yesus. Kalau kita berkata, “Aku percaya kepada-Mu, Tuhan Yesus,” artinya “aku menyerahkan diriku kepada-Mu, Tuhan.” Dulu kita merasa sudah menyerahkan diri untuk Tuhan, apalagi bagi yang menjadi pendeta fulltimer. Dan itu menjadi kebanggaan banyak fulltimer juga. Menyerahkan diri itu bukan begitu. Menyerahkan diri itu artinya hidup kita diisi oleh hidup-Nya. Alkitab jelas mengatakan agar kita memiliki pikiran, perasaan Kristus (Flp. 2:5-7); agar kita serupa dengan Yesus,
    13 min
  • Bukan Kualitas Rendah
    Penciptaan manusia berbeda dengan makhluk lain. Makanya standar hidup kita tidak seperti binatang. Kalau binatang, makan-minum, besok mati, selesai. Hari ini hidup, besok mati, dikubur, selesai. Penciptaannya berbeda dengan manusia. Karena manusia waktu diciptakan, Allah menaruh nafas-Nya, meniup nishmat chayyim ke dalam hidung. Dan manusia menjadi makhluk hidup, artinya makhluk yang memiliki kesadaran kekal. Maka tidak heran, kalau manusia menjalani hidupnya tanpa menghayati kekekalan, maka mereka memiliki kualitas hidup tidak jauh beda dengan binatang. Tentu manusia berakhlak, lebih santun, lebih beretika, dan manusia tentu berbudaya karena memiliki rasio. Tetapi kesewenang-wenangan terhadap sesama, tidak berbelaskasihan, tidak beda dengan binatang, atau beda sedikit. Maka ada istilah homo homini lupus; manusia menjadi serigala bagi sesamanya. 
    Ada binatang-binatang kalau begitu disentuh, cakarnya keluar. Ada orang-orang yang seperti itu. Tersinggung sedikit, mengeluarkan cakarnya. Cakarnya bukan ada di tangan. Cakarnya berada di mulutnya. Jika tersinggung, bicaranya kasar, tidak memedulikan perasaan orang. Ini tidak agung. Tetapi kalau manusia menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, maka dia pasti juga sadar bahwa ia harus berkualitas serupa dengan Penciptanya; karena Penciptanya adalah Tuhan semesta alam yang sempurna, maka ia belajar untuk berakhlak sempurna. 
    Di Matius 5:48 Yesus berkata, “Kamu harus sempurna seperti Bapa di surga.” Allah menciptakan manusia sebagai makhluk kekal bukan dengan kualitas rendah. Untuk sebuah kekekalan, maka kualitas yang dimiliki harus kualitas terbaik. Dan kualitas yang mestinya dicapai oleh manusia itu sempurna seperti Bapa; must be perfect. Ini yang harus dipahami oleh setiap orang percaya. Manusia sudah rusak karena memberontak kepada Allah dan mati. Setelah mati, manusia sebenarnya punya kesempatan, apakah mengalami kematian kedua atau tidak. Kalau dia berperilaku tidak seperti manusia rancangan Allah, maka dia akan mengalami kematian kedua; terhilang selama-lamanya. Kematian kedua artinya terpisah dari hadirat Allah selama-lamanya. Tetapi kalau dia seperti Allah, dia tidak akan terhilang. 
    Mengapa ada keselamatan? Supaya manusia yang rusak diperbaiki, dan tidak terhilang selama-lamanya. Kalau tidak, akan terhilang selama-lamanya. Jadi kalau Tuhan berkata, “Kamu jangan takut kepada apa yang dapat membunuh tubuh,” Dengan kata lain Tuhan mau mengatakan, “Soal kematian jasmani, masih bukan masalah besar. Belum, bukan masalah besar. Tapi kematian kedua itu yang masalah besar.” Sungguh mengerikan. Kematian kedua itu yang lebih mengerikan. Jadi, jangan sampai kita mengalami kematian kedua. Bagaimana supaya kita tidak mengalami kematian kedua? Bertobat, sempurna seperti Bapa. Kalau tidak bertobat dan sempurna seperti Bapa, bisa terhilang selama-lamanya. Itu mengerikan. 
    Itulah sebabnya kita bisa memiliki kesadaran, apakah kita ini berkeadaan sempurna seperti Bapa atau belum. Mestinya kita bisa mengenali diri kita sendiri dengan baik. Tidak mungkin kita tidak bisa mengenali diri sendiri dengan baik, lalu nasib kekal kita itu berdasarkan spekulasi atau gambling, atau untung-untungan. Manusia diberi pikiran supaya manusia bisa mempertimbangkan sesuatu. Banyak orang yang pertimbangannya hanya dihabiskan untuk hal yang sia-sia. Ini yang mengerikan. Ini yang membuat seseorang membuang kesempatan yang begitu berharga, yang mestinya digunakan untuk mempertimbangkan sesuatu guna keselamatan kekal, tetapi hanya untuk berpikir terkait dengan masalah-masalah pemenuhan kebutuhan jasmani. 
    Kalau binatang, kecerdasannya hanya diarahkan untuk survive (bertahan) bagi pemenuhan kebutuhan jasmaninya. Memang ada binatang-binatang yang cerdik. Namun biar bagaimanapun kecerdikan binatang pasti tidak mampu membuat ia mempertimbangkan apakah dia nanti mengalami kematian kedua atau tidak, karena binatang tidak pernah memiliki kesadaran kekal. Hari ini hidup, besok mati,
    8 min
  • Tanggung Jawab Manusia dalam Keselamatan
    Sering dalam berdoa, tanpa disadari kita meminta sesuatu kepada Tuhan yang tidak perlu, atau meminta dengan pengertian yang salah, yaitu menyerahkan tanggung jawab kita kepada Tuhan dengan maksud agar Tuhan mengambil alih bagian yang sebenarnya merupakan tugas dan tanggung jawab kita. Sering tanpa kita sadari, kita mau menyerahkan tanggung jawab kita kepada Tuhan agar Tuhan mengambil alih. Cara berpikir seperti ini sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan banyak orang Kristen, termasuk kita, sehingga kita tidak dapat menjalani hidup kekristenan dengan baik, atau mengerjakan keselamatan secara benar. 
    Tanpa disadari, orang-orang yang menyerahkan tanggung jawab dan tugasnya kepada Tuhan menjadi mangsa empuk kuasa kegelapan dan menjadi tawanan kuasa kegelapan. Ingat, Tuhan tidak dapat menolong orang yang tidak menolong dirinya sendiri. Orang yang tidak mengerti tugas dan tanggung jawabnya, adalah orang yang tidak bertanggung jawab. Ia tidak menolong dirinya sendiri. Ingatkah Saudara kisah Adam dan Hawa? Tuhan tidak dapat menyelamatkan Adam dan Hawa karena mereka tidak menyelamatkan dirinya sendiri dengan tindakan menuruti keinginan sendiri; bukan menuruti kehendak Allah. Ini prinsip penting, ini tatanan. Allah membiarkan pertemuan dengan ular yang melingkar di pohon pengetahuan tentang yang baik dan jahat itu. Allah tidak menghindarkannya. Sebenarnya Adam dan Hawa bisa menghindari dialog itu. Melihat pohon itu, mestinya mereka berkata “harus dijauhi.” 
    Maka, jangan membuka percakapan yang akhirnya memberi tempat kepada Iblis masuk dalam pikiran. Harus diingat dengan baik, Firman Tuhan mengatakan, “jagalah dirimu,” itu berarti kitalah yang harus menjaga diri kita, bukan Tuhan. Ini bukan berarti kita tidak membutuhkan penjagaan Tuhan. Ada yang menjadi bagian kita yang harus dipenuhi, karena itu tugas dan tanggung jawab kita yang tidak akan diambil alih oleh Tuhan. Tetapi ada bagian yang kita tidak mampu tanggulangi, sebab kita terbatas, dan hanya Tuhan yang dapat melakukannya. Jadi, ada bagian yang Tuhan tidak akan sentuh karena itu tugas dan tanggung jawab kita. Tetapi ada bagian yang tidak bisa kita lakukan; itu bagian Tuhan. Yang pasti, Tuhan akan penuhi walaupun tidak kita minta. Jadi kalau kita berkata, “Lindungi aku, Tuhan,” artinya “aku sudah harus melindungi diriku sendiri, dan aku bersedia berkolaborasi dengan diri-Mu untuk mengerjakan keselamatan ini.” Tuhan tidak akan memenuhi bagian-Nya kalau kita tidak memenuhi bagian kita. 
    Ingat, dalam penaklukan Kanaan oleh bangsa Israel, Tuhan berbicara kepada Yosua agar ia meneguhkan dan menguatkan dirinya. Dengan meneguhkan dan menguatkan dirinya, Yosua, yang satu dari dua mata-mata bersama Kaleb yang mengatakan, “Kita maju.” Sementara yang lain mengatakan, “Kita mati melawan orang-orang Kanaan yang besar-besar seperti raksasa, dan kita seperti belalang-belalang.” Maka, menangislah bangsa itu mendengar ujaran mata-mata yang tidak berkapasitas sebagai orang yang layak ditolong juga disertai Tuhan, dan menjadi bangsa yang besar. Tetapi Yosua dan Kaleb berkata, “Kita maju, kita bisa.” Banyak orang tidak berkapasitas menjadi orang-orang yang disertai Tuhan, karena dia tidak menyertai dirinya sendiri. Dia tidak membakar gairahnya, atau semangatnya. 
    Bukan Tuhan yang menguatkan Yosua, tapi Yosua harus menguatkan dirinya sendiri. Dan ketika Yosua menguatkan dirinya sendiri, dia bisa angkat senjata. Dengan gagah perkasa melawan bangsa Kanaan, selanjutnya yang menjadi bagian Tuhan, akan dipenuhi.  Allah bekerja dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Allah. Siapa yang mengasihi Allah? Orang yang berniat mengasihi-Nya. Allah tidak memberikan api cinta, lalu orang itu bisa mengasihi Allah dengan sendirinya atau otomatis. Yang lain tidak diberi api cinta kepada Tuhan, jadi tidak bisa mencintai Tuhan, lalu mencintai setan. Salah siapa kalau demikian? Lalu yang apinya cintanya kepada Tuhan dinyalakan, masuk surga. Yang tidak,
    9 min
  • Hidup dalam Pengharapan
    Orang yang menghayati bahwa dirinya adalah makhluk kekal, pasti ia akan berurusan dengan Allah agar karakternya menjadi baik; makin sempurna seperti Bapa, menjadi serupa dengan Yesus. Walaupun penampilan tidak cantik di mata manusia, pendidikan rendah, ekonominya lemah, tidak masalah. Tapi manusia batiniahnya cantik dan mulia, dan bisa diperhitungkan kaya di hadapan Allah. Yang berikut, selain karakter diubah, orang yang menghayati kekekalan, hidup di dalam pengharapan. Pengharapan kita itu apa? Manusia itu hanya menunggu tiga hal: satu, masalah. Dua, sakit atau rentan, makin tua. Tiga, mati. Mau bagaimanapun, kita tidak bisa menghindari ketiga hal tersebut. Makanya kita harus selalu ingat bahwa hidup ini tragis. Namun sejatinya, ini tidak akan mengurangi kebahagiaan kita, karena kita memiliki pengharapan bahwa hidup di bumi ini akan berlanjut nanti di kekekalan. 
    Jadi kalau di bumi ini kita tidak mengalami apa yang orang lain alami—rumah bagus, mobil mewah, perhiasan dan lainnya—sementara kita tidak memiliki apa-apa, tidak apa-apa. Yang ada, kita bisa nikmati. Menjadi nikmat itu bukan ditentukan oleh sesuatu yang dinikmati, melainkan manusianya yang menikmati. Misalnya, orang makan steak mahal. Kalau lidahnya tidak merasa nikmat, tetap saja tidak bisa menikmati. Jika kita makan dalam keadaan kesal, marah, steak mahal pun tidak terasa enak. Tapi kalau hati kita senang, jangankan steak. Ketoprak pinggir jalan yang harganya 10 ribu saja juga bisa menjadi enak. Jadi, semua akan kita rasa enak. Dan percayalah, meskipun kita memiliki uang, bisa membeli steak istimewa, tapi kalau hatinya susah, karakternya jelek, dendam menguasai pikirannya, jadi tidak enak. 
    Kita mungkin menghadapi banyak persoalan, tapi ternyata persoalan-persoalan berat yang kita hadapi itu membuat kita semakin meletakkan pengharapan di kehidupan yang akan datang. Kita hidup bukannya di bumi ini, karena di bumi ini hanya sementara. Kita akan hidup lagi nanti di kekekalan, di keabadian. Dalam 1 Petrus 1:13 firman Tuhan mengatakan, “Letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.” Mengapa harus kita taruh di sana? Sebab kita akan menerima bagian seperti yang ditulis dalam ayat selanjutnya, 1 Petrus 1:4, “Karena kamu menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar, dan yang tidak layu, yang tersimpan di surga bagi kamu.” 
    Kita adalah makhluk kekal yang memiliki pengharapan untuk menikmati kebahagiaan sempurna di kekekalan. Dan ini yang membuat kita bisa merasa bahagia, yang membuat kita merasa benar-benar bahagia. Dan jika ada kebahagiaan melebihi ini, berarti ada sesuatu yang salah. Pasti ada sesuatu yang keliru. Sebab, kebahagiaan kita harus sepenuhnya kita taruh di pengharapan itu. Tidak boleh kita taruh di tempat lain. Kita harus taruh pengharapan kita sepenuhnya di langit baru bumi baru. Itulah sebabnya Tuhan Yesus berkata di Matius 6:21, “Di mana ada hartamu, di situ hatimu berada.” Artinya, pindahkan hatimu. 
    Kalau kita merasa bahagia karena memiliki jabatan tinggi, bercita-cita membeli rumah mewah, ingin jalan-jalan ke luar negeri menikmati hidup, sebenarnya kita berkhianat kepada Tuhan. Kita tentu boleh menikmati apa yang Tuhan berikan kepada kita hari ini, tetapi apa pun yang kita dapat nikmati, jangan sampai kita tidak memiliki kebahagiaan di langit baru bumi baru. Hamparan hijau yang tidak bertepi itu harus menjadi kebahagiaan kita. Maka, kita periksa diri, apakah ada yang masih kuharapkan dalam hidup ini? Artinya, apa aku masih mengharapkan ada kebahagiaan dalam hidup ini? Mestinya tidak ada lagi. 
    Kita adalah makhluk kekal. Pengharapan kita harus seluruhnya kita taruh di kehidupan yang akan datang. Jangan kita menaruh kebahagiaan di bumi ini. Walaupun kita juga masih bisa menikmati apa pun yang Tuhan berikan, tapi kita tidak ngotot. Tidak makan daging mewah, steak mewah, ketoprak pun enak. Tidak naik mobil mewah, mobil sedang,
    8 min
  • Serius Mencari Wajah Tuhan
    Kalau manusia bisa mempersiapkan diri menghadapi hari esok—misalnya untuk masalah kesehatan, mobil, pabrik yang bisa terbakar, rumah yang terkena musibah—dengan ikut apa yang kita kenal dengan sebutan “asuransi,” mengapa kita tidak lebih mempersiapkan diri dalam kepastian bahwa kalau segala sesuatu terjadi—apakah itu perang, gempa, huru-hara, atau kematian—kita sudah memiliki kepastian bahwa kita aman di dalam tangan Tuhan? Banyak orang tidak serius mencari wajah Tuhan karena merasa hal itu tidak terlalu dibutuhkan atau merasa tidak membutuhkan. Tidak ada persoalan berat, kebutuhan yang mendesak, serta ancaman, maka tidak merasa membutuhkan; tidak sangat membutuhkan Tuhan. Sampai pada titik merasa tidak membutuhkan Tuhan sama sekali. Mengapa negara-negara maju yang makmur seperti Eropa, gereja-gereja sepi, atau kalau boleh diistilahkan “bangkrut?” Karena mereka merasa tidak memerlukan Tuhan. Masyarakatnya begitu makmur, kehidupan bisa berjalan dengan baik. 
    Kalau orang merasa tidak membutuhkan Tuhan, tidak mencari Tuhan, maka ia tidak punya alasan untuk berdoa dan membaca Alkitab. Tidak sungguh-sungguh mau membuktikan bahwa Allah itu ada, dan tidak memperkarakan apakah dirinya itu dinilai oleh Tuhan baik atau tidak. Pada umumnya, bagi orang-orang di Timur, kalau sudah memiliki masalah berat, persoalan rumit, ancaman dan ada kebutuhan yang mendesak, baru mencari Tuhan. Sebenarnya pada dasarnya dia tidak mencari Tuhan. Sebenarnya yang dicari adalah berkat-Nya. Ini adalah orang-orang yang mau memanfaatkan Tuhan, mengeksploitasi, menjadikan Tuhan itu hanya alat atau sarana semata; hal ini melukai hati-Nya. Mestinya pada waktu kita tidak memiliki kebutuhan yang mendesak, persoalan-persoalan berat, atau dalam ancaman, kita sudah mencari Dia. 
    Ketika orang sedang ada dalam persoalan berat, ada ancaman atau kebutuhan yang mendesak lalu baru ia mencari Tuhan, pasti ia tidak mempersoalkan tentang karakter—apakah dirinya dinilai Tuhan baik atau tidak—dan orangseperti ini tidak mungkin menghormati Tuhan secara patut. Sejatinya, ketika kita tidak punya masalah berat, persoalan, dalam ancaman, atau kebutuhan yang mendesak, kita tetap mencari wajah Tuhan; “Aku memerlukan Kau, Tuhan. Bukan karena aku ada masalah. Bukan karena ada ancaman atau ada dalam bahaya. Bukan karena ada kebutuhan yang mendesak. Kuperlu Kau, Tuhan. Kau yang kuperlukan. Sebab aku menghadapi kuasa kegelapan dan dunia yang sedang bergoncang ini di masa penampian.” Kita harus mencari wajah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mempersoalkan kekekalan, karena inilah yang Tuhan kehendaki. 
    Orang yang tidak biasa mencari wajah Tuhan, nanti kalau tiba-tiba datang masalah, dia tidak akan mudah menemukan wajah Tuhan, dan mungkin tidak akan pernah menemukan. Tiba-tiba perang datang, baru berdoa cari Tuhan. Doa tersebut tentu saja tidak akan bisa menembus. Dia tidak akan menemukan Tuhan. Yang ada hanyalah rasa ketakutan dan kekhawatiran. Mestinya kita mencari Tuhan dari jauh-jauh hari, supaya bukan saja memiliki iman yang bisa menyentuh hadirat Allah, melainkan juga kita sudah di pihak Tuhan, dan Tuhan di pihak kita. Jangan menunggu sampai ada masalah berat, baru kita mencari Tuhan. Ingat, kita hanya menunggu hari sisa. Keadaan dunia tidak bisa terprediksi. Oleh sebab itu, dibutuhkan ketekunan. Dan pada waktu kita bertekun di dalam Tuhan, memang seakan-akan kita dengan mereka tidak ada bedanya. Seakan-akan tidak ada faedahnya, tidak ada dampaknya. Di situ kita belajar untuk setia.
    Allah kita yang Mahabesar pantas dipercayai walau tidak ada tanda-tanda kehadiran-Nya. Bahkan ketika kita dalam masalah, dan tidak ada tanda-tanda pertolongan-Nya, atau bukti-bukti kehadiran-Nya. Namun, Dia pantas untuk kita percayai. Inilah saatnya kita melatih diri, sebelum kondisi itu memburuk. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Masakan kita menunggu perang terjadi, harga barang-barang menjadi naik, kemudian orang memperebutkan barang di supermarket,
    9 min
  • Hubungan yang Ideal
    Keselamatan merupakan usaha Tuhan dalam proses yang bertahap untuk mengembalikan umat pilihan, karena tidak semua orang mendapat kesempatan menjadi umat pilihan. Dikembalikan ke rancangan Allah semula, dimana dalam proses yang bertahap itu, umat pilihan harus memberi respons yang memadai. Jadi, di dalam keselamatan terdapat unsur-unsur penting yang harus kita pahami. Unsur pertama dalam keselamatan adalah tindakan Tuhan memberi anugerah kepada manusia melalui penebusan oleh darah Yesus, supaya manusia itu dibenarkan walaupun belum benar; justificatio, justification. Dianggap benar, dibawa kepada Allah. Hanya oleh darah Yesus. Tidak ada cara lain untuk itu. Darah binatang hanya simbolik. Itu tindakan profetik, artinya tindakan nubuatan. Darah yang sesungguhnya adalah darah Yesus. 
    Unsur kedua, meterai Roh Kudus. Sejak inilah proses keselamatan baru berlangsung. Jangan berhenti. Sayangnya, banyak orang Kristen yang merasa sudah selamat berhenti sampai di pengakuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat. Padahal, justru sejak inilah orang Kristen harus berjuang. Namun, harus kita tegaskan dulu bahwa prinsip keselamatan hanya dalam Kristus itu mutlak. Tidak ada keselamatan di luar Kristus. Tidak ada. Ini kemutlakan yang tidak bisa ditawar. Tentu “keselamatan” di sini maksudnya dikembalikannya manusia ke rancangan Allah semula. Di dalam Alkitab, kita menemukan ayat-ayat yang jelas menunjukkan bahwa tidak ada keselamatan di luar Kristus, dan itu harga mati (Kis. 14:12; Yoh. 14:16). Tidak seorang pun bisa menjadi anggota keluarga Kerajaan Allah, tidak seorang pun bisa menjadi anak-anak Allah, tidak seorang pun bisa menjadi serupa seperti Yesus, kecuali melalui Yesus. Makanya Tuhan berkata, “Aku datang untuk memberi zoe; hidup, supaya mereka memiliki dalam kelimpahan.” Kelimpahan bukan dalam arti banyak, bukan dalam arti kuantitas, melainkan dalam arti kualitas; very high in quality. Keselamatan manusia berangkat dari inisiatif Allah. Ini mutlak. 
    Unsur ketiga dalam keselamatan adalah proses bertahap. Keselamatan itu bukanlah suatu peristiwa sekejap. Keselamatan tidak boleh digambarkan sebagai suatu titik, melainkan seperti garis panjang; linear. Proses yang bertahap, sebuah progresivitas, perkembangan atau pertumbuhan seperti organisme hidup. Sebab kita adalah organisme hidup yang terus mengalami proses. Makanya ada pemuridan, ada transformasi; iman itu bertumbuh, sampai pada kesempurnaan (Ibr. 12:2). Keselamatan juga pada umumnya dipahami sebagai dipulihkannya hubungan antara Allah dan manusia. Apakah salah? Tidak. Tapi jangan berhenti di situ. Hubungan dengan Allah merupakan relasi yang bertumbuh bertahap. Tuhan mengingini hubungan kita dengan Allah terjalin secara ideal. Dimana kita mengerti apa yang menjadi beban hati Tuhan, dan kita ikut memikulnya. 
    Namun perlu diingat bahwa Tuhan tidak mungkin berjalan dengan orang yang tidak bersih hidupnya. Marah sedikit, keluar kata-kata yang tidak patut. Tersinggung sedikit, dendam. Tapi kalau ia seorang Kristen baru, maklum. Tapi kalau kita sudah bertahun-tahun ikut Tuhan Yesus, tidak begitu. Kita mendapat perlakuan orang yang menjahati, kita diam, bahkan kita bisa menangisi mereka. Dulu kita tidak bisa. Diam, tapi dendam. Tapi lambat laun seiring dengan kita bertumbuh, dan menghayati kesucian Tuhan. Apalagi kalau kita banyak berdoa, puasa, duduk diam di kaki Tuhan, dan menghayati kesucian Tuhan, kita mampu. Sampai kita bisa berkata, “Seberapa sih salah orang terhadap diriku? Salahku lebih besar, Tuhan mengampuni.” Jadi jangan kita memandang kejahatannya, tapi kita memandang bahwa ada jiwa yang perlu diselamatkan. Dan lagi, kalau kita mendapat perlakuan jahat orang, di baliknya ada berkat kekal. Karena kalau kita mau menjadi seperti Yesus, kita harus mengalami apa yang dialami Yesus. 
    Maka, kita harus bertumbuh supaya kita bisa benar-benar mengimbangi Allah. Kita sering berkata, “Tuhan beserta kita,” tapi apakah kita beserta Tuhan?
    12 min
  • Potret Pengikut Kristus
    Kalau kita membaca tulisan rasul-rasul yang dikenal sebagai “surat pastoral,” terutama tulisan Rasul Paulus, kita dapat menemukan dan melihat dengan jelas prinsip-prinsip hidup dan filosofi-filosofi mereka, disertai dengan kesaksian-kesaksian hidupnya. Maka, kita dapat melihat potret atau wajah kehidupan para pengikut Kristus ini. Namun kalau kemudian kita membandingkannya dengan kehidupan orang-orang Kristen hari ini, atau dengan hidup kita, betapa jauh berbeda. Seakan-akan mereka berada dalam keberagamaan yang berbeda dengan kita. “Kita” maksudnya mewakili banyak orang Kristen. Ironisnya, “kita” atau banyak orang Kristen tersebut adalah mereka yang mengambil beberapa pernyataan mereka dalam ayat-ayat Alkitab dan membangun doktrin, membangun ajaran. Maka, terbangunlah suatu doktrin, sistematika teologi.
    Sejujurnya, prinsip-prinsip hidup mereka tidak tersentuh oleh kita. Atau dengan kalimat lain, kita tidak menyentuh prinsip-prinsip hidup mereka. Herannya, hal itu dianggap bukan suatu masalah. Misalnya firman atau pernyataan mereka yang berkata, “Bagiku hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan.” Itu prinsip hidup. “Asal ada makanan, pakaian, cukup.” “Yesus sudah mati untuk kita, kita semua sudah mati. Jadi, kalau kita hidup, kita tidak lagi hidup untuk diri kita sendiri, tapi kita hidup untuk Dia yang sudah mati dan dibangkitkan untuk kita.”
    Atau di ayat yang lain Paulus mengatakan, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan. Saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Secara tidak langsung, Paulus mengatakan, “Aku merindukan kedatangan Dia, karena aku sudah mencurahkan darahku sebagai persembahan. Dan saat kematianku sudah dekat,” dan ini kemungkinan ditulis pada hari-hari terakhir sebelum Paulus dipancung.
    Paulus memiliki prinsip-prinsip hidup berupa kesaksian-kesaksian hidup, dimana kita juga bisa melihat potret dan wajah kehidupan pengikut-pengikut Kristus ini yang dengan yakin berkata, “Telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil pada hari-Nya. Tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Namun pada kenyataannya, banyak orang tidak merindukan kedatangan Tuhan, tidak mencurahkan darahnya sebagai persembahan, tidak melakukan pertandingan dengan baik. Tetapi ketika meninggal dunia, ayat ini ditaruh. Ini adalah penipuan dan kebohongan. Kita pasti sudah sering membaca di media sosial, di kolom berita kematian, di mana ayat ini ditulis: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik.” Betapa jauhnya keadaan orang-orang Kristen sekarang ini—bisa termasuk kita—dengan prinsip-prinsip hidup para tokoh iman pengikut Yesus, yang merupakan standar iman Kristen yang benar.
    Kalau kita membaca di dalam Alkitab, misalnya di Roma 8:18, “Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Sebagai orang Kristen, apakah kita mengalami penderitaan? Penderitaan karena Kristus. “Penderitaan zaman sekarang ini;” zaman waktu Paulus hidup, “tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Jika kita membaca ayat sebelumnya, “Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah.” Janji apa? Yaitu kemuliaan bersama dengan Kristus. “Yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia.” 
    Sejujurnya, apakah kita ikut menderita? Ada tidak, penderitaan yang kita alami seperti yang dialami Paulus; penderitaan versi Paulus? Penderitaan karena pemberitaan Injil. Ia bersusah payah membuat kemah.
    9 min
  • Penyesatan dalam Beragama
    Salah satu penyesatan atau pembodohan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap adalah membuat banyak orang Kristen menganggap bahwa percaya kepada Yesus itu sesuatu yang mudah. Hal ini juga tentunya terjadi selain dalam khotbah-khotbah dan pengajaran yang tidak sesuai dengan kebenaran orisinal Alkitab, juga akibat pengaruh dari berbagai ajaran di sekitar Kristen yang tidak berdasarkan Alkitab Perjanjian Baru. Bangsa Israel memiliki agama yang namanya agama Yahudi, atau sering juga dikenal sebagai Judaism; atau juga disebut sebagai agama Musa. Ini adalah agama samawi pertama. Agama samawi artinya agama yang percaya kepada Allah yang Esa, yang menciptakan langit dan bumi, meyakini Allah mewahyukan hukum, dan suatu saat akan menuntut pertanggungjawaban, serta pada suatu hari Ia akan menghakimi. Ada orang-orang yang akan diperkenankan masuk surga, dan ada orang-orang yang dibuang ke dalam neraka. 
    Bagi bangsa Israel yang beragama samawi, asal mereka mengaku bahwa Allah yang bernama Elohim Yahweh adalah Allah yang Esa, maka mereka sudah merasa menjadi umat pilihan dan menganggap itu keberimanan yang benar; jadi dianggap sudah sebagai orang beriman. Mereka memiliki syahadat yang berbunyi: shema yisrael Adonai Eloheinu, Adonai ehad. Yang artinya: “dengarlah Israel, Yahweh itu TUHAN kita Esa, Yahweh itu Esa.” Pada zaman itu, mengucapkan syahadat ini, bagi orang Yahudi berarti sudah menjadi umat beriman. Dan keberimanan seperti itu sudah dianggap cukup. Dengan demikian, mereka pun dapat menjalankan hidup keberagamaan mereka. Terdengar cukup sederhana, bukan? 
    Sejatinya tidaklah sesederhana itu, sebab hidup mereka dikawal oleh hukum. Selain memiliki syahadat, mereka memiliki hukum; hukum dengan sanksi-sanksinya. Misalnya, mencuri hukumnya adalah jarinya dipotong; berzina, hukumannya adalah dirajam. Mereka memiliki tatanan hukum dalam kehidupan mereka setiap hari. Dan hukum-hukum kehidupan keberagamaan mereka tertulis dengan sangat rinci dan detil. Dengan demikian, hidup keberagamaan mereka bisa berlangsung dengan tertib. Ini sangat berbeda dengan orang Kristen. Orang Kristen tidak memiliki hukum-hukum dan sanksi-sanksinya. Tidak ada tatanan hukum seperti itu bagi orang Kristen. Oleh sebab itu, sangatlah keliru kalau kita menyamakan kekristenan dengan agama samawi semacam itu. 
    Asal sudah mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, berarti sudah menjadi anak-anak Allah dan pasti masuk surga. Di sini Iblis menyesatkan kita. Salah satu penyesatan yang berhasil dilakukan oleh kuasa gelap ialah ketika orang Kristen berpikir bahwa percaya Yesus itu mudah. Mengaku Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, otomatis sudah menjadi anak-anak Allah, lalu masuk surga. Ini sama dengan mengucapkan syahadat, lalu sudah jadi orang beriman. Padahal sebenarnya berbeda. Kalau orang-orang Yahudi atau orang-orang beragama samawi lainnya, ada hukum dan sanksi-sanksinya. Hidup mereka diatur oleh hukum dan sanksi-sanksinya itu. Lalu, bagaimana dengan kekristenan? Kita melihat Alkitab, Yakobus 2:19 mengatakan, “Engkau percaya bahwa hanya ada satu Allah saja, itu baik. Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan gemetar.” Konteks Yakobus ini berbicara kepada orang Kristen, dan di antaranya juga mantan orang Yahudi atau mantan orang beragama Yahudi atau agama Musa atau Judaism. “Kamu percaya Allah itu Esa, ada? Setan juga percaya Allah itu ada dan Esa.” 
    Dengan kalimat lain, Yakobus hendak mengatakan, “Iman bukan hanya keyakinan dan pengakuan bahwa Allah itu ada dan Esa, tetapi iman itu menunjuk hubungan.” Bagi orang beragama samawi seperti agama Yahudi, mereka bukan hanya mengaku Allah itu ada dan Esa, namun mereka juga punya hukum dan sanksi-sanksinya. Mereka punya ikatan perjanjian dengan Allah. Bagi orang Yahudi, kalau mau jadi umat Allah, satu, disunat. Jadi, tidak ada orang Yahudi yang tidak disunat. Makanya bagi orang Yahudi kalau menyebut “orang kafir” berarti orang yang tidak bersunat. Kalau kita berbicara soal “sunat,
    10 min
  • Ikatan Perjanjian
    Roma 3:4 mengatakan, “Sekali-kali tidak. Sebaliknya, Allah adalah benar, dan semua manusia pembohong. Seperti ada tertulis: supaya engkau ternyata benar dalam segala firman-Mu, dan menang jika Engkau dihakimi.” Kata “pembohong” di dalam bahasa aslinya adalah pseustēs (ψεύστης), yang artinya seorang yang tidak setia, atau juga bisa berarti seorang yang merusak; break, membatalkan, mengkhianati perjanjian. Ketika Adam dan Hawa diciptakan, memang tidak tertulis secara eksplisit—tetapi secara implisit—ada perjanjian bahwa manusia diciptakan untuk melakukan kehendak Allah. Manusia menerima perintah atau mandat untuk mengelola bumi ini, dan memenuhi bumi dengan keturunannya. Ada mandat budaya, dimana manusia harus mengeksplorasi bumi dengan segala kekayaannya, dan ada mandat prokreasi dimana manusia harus berkembang biak dan memenuhi bumi. 
    Tetapi manusia tidak boleh makan buah yang terlarang. Sebab kalau manusia makan buah yang terlarang untuk dikonsumsi itu, manusia akan mati. Ketidaksetiaan nenek moyang kita, Adam dan Hawa, merusak perjanjian dan membuat semua manusia jadi pembohong. Manusia, siapa pun, dalam keadaan tidak memiliki perjanjian dengan Allah. Maka, betapa hebat keselamatan di dalam Yesus Kristus, karena Allah mau membuat kembali perjanjian dengan manusia. Manusia dibenarkan untuk menjadi anak-anak Allah, hendak dikembalikan ke rancangan Allah semula, supaya tidak berkeberadaan rusak. Hendak dikembalikan kepada rancangan Allah semula sebelum Adam memberontak kepada Allah atau mengingkari perjanjian tersebut. 
    Maka keselamatan adalah usaha Tuhan mengembalikan manusia ke rancangan Allah semula. Allah kembali mau mengadakan perjanjian dengan manusia. Dimulai dari pemanggilan Abraham yang akan menurunkan keturunan yang akan menjadi umat pilihan. Perjanjian pertama adalah semua keturunan Abraham harus disunat. Maka, Allah hampir-hampir membunuh Musa karena Musa tidak memenuhi perjanjian ini. Yang kedua, Israel tidak boleh hidup seperti bangsa-bangsa di luar orang Israel—yang mereka kenal sebagai goyim, artinya orang yang bukan umat pilihan—karena mereka memiliki Taurat. Tindakan Allah di Perjanjian Lama dengan sejarah kehidupan umat pilihan merupakan tindakan nubuatan, tindakan profetik untuk umat Perjanjian Baru. Allah mengadakan perjanjian dengan sunat dan pemberian hukum Taurat. 
    Bagi umat Perjanjian Baru, juga ada ikatan perjanjian bahwa sejak seseorang menjadi orang percaya, ia tidak lagi memiliki dirinya sendiri (1Kor. 6:19-20; Flp. 1:21; 2Kor. 5:14-15). Yesus telah mati untuk kita, kita semua sudah mati. Jadi kalau kita hidup, kita hidup untuk Dia. Kita menjadi umat pilihan. Kita sudah mati bersama dengan Kristus, tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah. Jadi, kita hanya memikirkan perkara-perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Jadi jangan merasa orang Kristen tidak punya ikatan perjanjian. Percayanya orang Kristen itu bukan hanya dalam keyakinan pikiran, melainkan dalam tindakan juga, dimana orang percaya harus memenuhi ikatan perjanjiannya dengan Allah. 
    Orang-orang Yahudi tidak mengenal Kristus karena memang belum ada Injil. Atau setelah ada Injil, banyak mereka yang memang mengeraskan hati. Tetapi jangan lupa, mereka itu memiliki hukum. Mereka berusaha juga melakukan hukum. Sementara agama Kristen itu bukan agama hukum. Kalau agama-agama samawi lain itu memiliki hukum dan sanksi-sanksinya, bahkan hukum yang mengatur ekonomi, syariah ekonomi, politik, sehingga mereka dapat membangun masyarakat keberagamaan berdasarkan hukum-hukum yang mereka miliki atau tatanan yang ada. Tetapi, Kristen bukan agama hukum. Lalu apakah berarti orang Kristen tidak memiliki hukum sehingga boleh liar? Tidak. Orang Kristen memiliki tatanan—ikatan perjanjian dengan Allah—yaitu sunat batin, dan meterai Roh Kudus. Tatanan kita adalah Allah sendiri; “Kuduslah kamu sebab Aku kudus.” 
    Roh Kudus pasti memimpin orang percaya untuk hidup dalam standar kesucian Allah. Maka,
    10 min
  • Perubahan
    Menjadi utang yang harus kita bayar bahwa kita harus menjadi manusia yang mencapai keadaan yang berkenan di hadapan Allah. Terutama bagi pelayan jemaat, ada utang yang harus dipenuhi, yaitu mengantar jemaat menjadi orang-orang yang berkenan kepada Allah, yang siap menghadap takhta pengadilan Kristus, dan Allah memutuskan bahwa jemaat tersebut layak menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Pelayan jemaat harus bekerja keras, fokus pada orientasi dan tujuan pelayanan ini, lebih dari masalah mukjizat kesembuhan, pemenuhan kebutuhan jasmani, dan segala sukses yang dipahami dan dimengerti oleh manusia pada umumnya. Para pelayan jemaat harus melayani hingga jemaat bisa dilayakkan menjadi anggota keluarga Kerajaan Surga. Betapa bersyukurnya dan berbahagianya kalau di kekekalan kita dibawa kepada kemuliaan ini. Tidak ada hal lain yang kita boleh anggap besar, mulia, dan bernilai selain hal ini. 
    Kita sedang menyongsong dunia yang tidak jelas, tidak terprediksi, tidak teramalkan. Maka kita harus benar-benar mengalami perubahan sampai menjadi manusia yang benar-benar berkenan di hadapan Allah. Dengan mengusahakan ini di dalam pelayanan, kita juga akan memaksa diri untuk mengalami perubahan. Jika pemimpin jemaat tidak mengalami perubahan, jemaat di dalam nuraninya pasti bisa merasakan. Waktu berdoa, menyanyi, atau berkhotbah, apakah ada perubahan yang positif dan benar di dalam hidup, yang dapat dirasakan dan berdampak di dalam hidup jemaatnya. Karena di mimbar akan tampak ketulusan atau ketidaktulusan; kesombongan atau kerendahan hati; hiperbola atau natural. 
    Ini proyek besar; proyek yang berdampak kekekalan. Bagaimana setiap kita diubah menjadi simfoni yang indah, yang didengar oleh Elohim Yahweh, Bapa di surga. Bagaimana hidup kita benar-benar menjadi keharuman. Jika belum, berarti pelayanan kita gagal, menipu, main-main, dan sembarangan. Siapa yang akan dihukum? Tentu para pelayan Tuhan. Dalam Injil kita menemukan kesaksian mengenai orang-orang yang dipanggil Yesus sebagai pengikut-Nya. Mereka selalu mengalami perubahan yang sangat radikal, bahkan drastis. Berbeda dari keadaan sebelum dipanggil. Petrus, misalnya; Yohanes dan saudara-saudaranya, benar-benar bisa meninggalkan jala dan perahu ikannya. Bahkan Petrus sendiri meninggalkan keluarganya untuk mengikuti Yesus. 
    Di Alkitab, kita juga menemukan Lewi yang kemudian berganti nama menjadi Matius. Ia harus meninggalkan meja cukainya; jabatan, pekerjaan yang mendatangkan banyak keuntungan materi, secara finansial, atau uang. Tetapi Lewi bersedia meninggalkan meja cukainya, yaitu jabatan dan pekerjaan tersebut, untuk mengikut Yesus. Seorang yang berprofesi sama dengan Lewi adalah Zakheus. Zakheus memang tidak menjadi murid yang bersama-sama dengan Yesus seperti murid-murid Yesus. Tetapi perjumpaan Zakheus dengan Yesus membuat dia mengalami perubahan yang radikal dan drastis. Perubahan Zakheus benar-benar tidak dimengerti oleh masyarakat pada zamannya. Misalnya, bagaimana Zakheus membagi separuh hartanya kepada orang miskin. Dan bila ada orang yang pernah dia peras, dikembalikannya 4 kali lipat. Satu hal yang tidak bisa dimengerti saat itu. Tetapi perubahan ini fakta historis, kenyataan sejarah. Fakta empiris; kenyataan pengalaman. 
    Saulus yang kemudian berganti nama menjadi Paulus, setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus di tengah perjalanan ke kota Damsyik, ketika ia hendak menganiaya dan membunuh orang-orang Kristen. Saulus meninggalkan jabatan sebagai pemuka agama Yahudi dengan sederetan kehormatan yang dia miliki. Bisa jadi dia adalah anggota Sanhedrin, lembaga yang paling terhormat dalam kehidupan orang-orang Yahudi. Tetapi setelah itu, hidup Saulus diubah. Ia menjadi misionaris yang menjungkirbalikkan dunia kekafiran, khususnya Eropa. Ini baru segelintir nama-nama yang tertulis dalam Alkitab. Kisah mengenai orang-orang yang diubahkan Tuhan secara radikal, dan drastis akibat perjumpaan dengan Yesus. Perubahan mereka itu sukar dimengerti; di luar nalar...
    9 min

About Truth Daily Enlightenment

From the publisher's feed

Renungan harian berisi intisari pengajaran aplikatif yang disampaikan oleh Pdt. Dr. Erastus Sabdono, dengan tujuan melengkapi bangunan berpikir kita mengenai Tuhan, kerajaan-Nya, kehendak-Nya dan…